KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA EKSTRAK BIJI, KULIT BUAH , BATANG DAN DAUN TANAMAN JARAK PAGAR

(Jatropha curcas L.)

Oleh OVI YULIANTI NURMILLAH F34052822

2009 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA EKSTRAK BIJI, KULIT BUAH , BATANG DAN DAUN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh OVI YULIANTI NURMILLAH F34052822

2009 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA EKSTRAK BIJI, KULIT BUAH , BATANG DAN DAUN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh OVI YULIANTI NURMILLAH F34052822

Dilahirkan pada tanggal 26 April 1987 di Tasikmalaya Tanggal Lulus : 9 November 2009 Menyetujui Bogor, November 2009

Dr. Ir. Dwi Setyaningsih, MSi Pembimbing Akademik

lemak.23%) dan ekstrak heksan (41. Rata-rata diameter zona penghambatan terhadap bakteri . sedangkan pelarut heksan dapat melarutkan senyawa non polar seperti lilin. dan moluska sehingga berpotensi sebagai antimikroba. aureus.64%). anti alergi dan antioksidan. Besarnya aktivitas antimikroba dengan metode difusi sumur ini ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona penghambatan bakteri. terhadap bakteri E.75%). Kandungan senyawa-senyawa aktif pada tanaman jarak perlu diketahui dengan benar sehingga dapat menjadi dasar pengembangan produk-produk turunan senyawa aktif berbasis jarak pagar. kulit buah.98%) dan non polar (32.96%).40%. etil asetat. begitu juga dengan kulit buah jarak banyak mengandung senyawa polar (5. jarak pagar (Jatropha curcas L. ekstrak etil asetat (42.27%).9 dan sebesar 14. dan heksan.83 terhadap S. stigmasterol. Kulit Buah. 2009. curcin. F34052822. obat-obatan serta produk perlindungan tubuh.) menjadi salah satu tanaman penghasil bahan bakar nabati yang cukup pesat perkembangannya. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata persen peredaman DPPH dari ketiga sampel yaitu ekstrak metanol (79.1-diphenyl-2-picrylhidrazil) menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari biji jarak pagar memiliki nilai aktivitas antioksidan terbesar dibandingkan sampel lainnya dengan persen peredaman terhadap radikal bebas DPPH yaitu sebesar 93. (2002). batang dan daun jarak pagar serta untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan aktivitas antimikroba dari bagian . Ekstraksi dilakukan terhadap tiga sampel yaitu biji. pelarut etil asetat dapat melarutkan senyawa semi polar seperti alkaloid dan aglikon.).Ovi Yulianti Nurmillah. 2006). Kajian Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Ekstrak Biji. Curcin bersifat antimikroba yang dapat melawan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (Tim Jarak Pagar RNI. Batang dan Daun Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L. Tanaman jarak mengandung senyawa-senyawa aktif seperti β-sitosterol.19%). fungi. kulit buah serta campuran batang dan daun jarak pagar dengan tiga jenis pelarut yaitu pelarut metanol. Menurut Hodek et al. flavonoid dan 12-deoksil-16-hidroksiforbol (forbol ester). coli yaitu sebesar 11. RINGKASAN Saat ini. Hasil analisis aktivitas antimikroba dengan metode difusi sumur menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari biji jarak pagar memiliki nilai aktivitas antimikroba terbesar dibandingkan dengan sampel lainnya. Dari hasil penelitian terhadap perhitungan rendemen ekstrak diperoleh bahwa biji jarak pagar banyak mengandung senyawa semi polar (35. jarak pagar juga berpotensi dalam pengembangan produk di bidang pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rendemen ekstrak yang terkandung pada berbagai bagian tanaman jarak pagar yang terdiri dari biji. flavonoid yang tekandung dalam ekstrak kulit batang jarak memiliki aktivitas biologi seperti antimikroba. Hasil analisis aktivitas antioksidan dengan metode efek peredaman terhadap radikal bebas DPPH (1. Pelarut metanol dapat melarutkan senyawa polar seperti fenolik. gula dan tanin. campuran batang dan daun jarak banyak mengandung senyawa polar (9. Dibawah bimbingan Dwi Setyaningsih. Selain pemanfaatan sebagai bioenergi. dan terpenoid. Ekstrak pelarut forbol ester memiliki kemampuan membunuh serangga.bagian tanaman tersebut.

coli (5.24 mm) serta ekstrak heksan terhadap bakteri E. coli (0. . ekstrak etil asetat terhadap bakteri E. aureus (6.uji dari ketiga sampel yaitu ekstrak metanol terhadap bakteri E. aureus (10.93 mm) dan bakteri S.47 mm) dan bakteri S. coli (9.06 mm) dan bakteri S. aureus (1.48 mm) sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini aktivitas antimikroba pada ekstrak metanol > ekstrak heksan > ekstrak etil asetat.19 mm).

They were methanol. aureus. (2002). ethyl acetate and hexane. ethyl acetate extract for E. The result analysis of antioxidant activity with scavenging effect on DPPH radical (1.1-diphenyl-2-picrylhidrazil) method showed that methanol extract from Jatropha curcas L’s seed had the highest value of antioxidant than other samples with percent value of scavenging effect on DPPH radical was 93. aureus (6. SUMMARY Nowadays. 2009.19 mm). aureus (10.24 mm) and hexane extract for E. Supervised by Dwi Setyaningsih. coli and 14. fat and terpenoid. and hexane solvent could dissolve non polar compounds like wax. Forbol ester extract can kill insect.47 mm) and S. curcin. sugar and tannin. F34052822. coli (9. antioxidant and antimicrobial activity from seed.23%) and hexane extract (41. Jatropha curcas L is one of biofuel source. stigmasterol. Curcin also potentials as antimicrobial agent. rind.64%). stembark extract contain flavonoid. coli (0. coli (5. Jatropha curcas L contain some bioactive agents such as β-sitosterol. medicines and body protection products. blend of stem and leaves contained a lot of polar compounds (9.9 mm for the bacteria E.83 mm for bacteria S. flavonoid and 12-deoksil-16-hidroksiforbol (forbol ester). stem and leaves of Jatropha curcas L.40%. It can be useful to developed the derivative active compound product of Jatropha curcas L. Jatropha curcas L also great potential for the development of agricultural products. Stem and leaves of Jatropha curcas L. It can kill Staphylococcus aureus and Escherichia coli (Tim Jarak Pagar RNI.48 mm) so could be concluded that in this research antimicrobial activity in methanol extract > hexane extract > ethyl acetat extract. Average value of inhibition zone diameter from three samples were methanol extract for E. ethyl acetate extract (42. rind and blend of stem and leaves were extracted with three type solvents.93 mm) and S. . Seed. Ethyl acetate solvent could dissolve semi polar compounds like alkaloid and aglikon. From the research showed that percent average value of scavenging effect on DPPH radical from three samples were methanol extract (76. It has biological activities such as antimicrobial.Ovi Yulianti Nurmillah. The purpose of this research were to determine the yield extract. Study of Antioxidant and Antimicrobial Activity in Seed.27%). Antimicrobial activity with well diffusion method showed that methanol extract from Jatropha curcas L’s seed had the highest value of antimicrobial activity than other samples and it could be seen from the bacterial inhibition zone diameter of 11. We need to know the bioactive agent in Jatropha curcas L. Methanol solvent could dissolve polar compounds like phenolic group. 2006).75%) and Jatropha curcas L’s rind contained a lot of polar compounds too (5. Rind. fungi and molusca so it potentials as antimicrobial agent. Beside as a bioenergy utilization.06 mm) and S. According Hodek et al. aureus (1.19%).96%). From the research of yield extract could be concluded that seed of Jatropha curcas L contained a lot of semi polar compounds (35.98%) and non polar compounds (32. anti-allergic and antioxidant.

November 2009 Penulis. Kulit Buah. Bogor. Batang dan Daun Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L. Nama NRP Departemen Fakultas Universitas : Ovi Yulianti Nurmillah : F34052822 : Teknologi Industri Pertanian : Teknologi Pertanian : Institut Pertanian Bogor Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi dengan judul “Kajian Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Ekstrak Biji. (Ovi Yulianti Nurmillah) F 34052822 .SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini.)“ merupakan karya tulis saya pribadi dengan bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing. kecuali yang dengan jelas disebut rujukannya. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa tekanan dari siapapun.

Institut Pertanian Bogor. Ir. Garudafood Group Jelly Division. Dwi Setyaningsih. Garudafood Group Jelly Division.)” dibawah bimbingan Dr. Batang dan Daun Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L. Penulis melakukan penelitian dengan judul “Kajian Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Ekstrak Biji. Triteguh Manunggal Sejati. . Pada tahun 2005. Msi.R. selain mengikuti kegiatan akademis Penulis juga berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian serta berbagai kepanitiaan. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN Jatiwaringin Asri I pada tahun 1993-1999. Penulis dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 26 April 1987.RIWAYAT HIDUP Penulis adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Rohimat dan Euis Y. Selama perkuliahan. Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama di SLTPN 06 Bekasi pada tahun 1999-2002. Pada tahun 2008 penulis melaksanakan kegiatan praktek lapang di PT. Tangerang dengan topik Mempelajari Aspek Proses Produksi dan Pengawasan Mutu di PT. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Teknologi Pertanian. Penulis melanjutkan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). dan Pendidikan Lanjutan Tingkat Atas di SMAN 1 Tambun Selatan pada tahun 20022005. Kulit Buah. Triteguh Manunggal Sejati.

karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Kajian Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Ekstrak Biji. Teh Titin. Batang dan Daun Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L. Mamah tercinta yang tak pernah lelah dalam mengurus dan mendidik penulis. MSi sebagai dosen pembimbing atas pengetahuan. MSi dan Ibu Dr. penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis selama masa perkuliahan hingga skripsi ini selesai. Bapak Drs. kesabaran. perhatian dan motivasi yang telah diberikan selama ini.). mas Saeful dan Otto. Dalam kesempatan ini. 5. nasehat. kebersamaan dan semangat yang begitu berharga bagi Penulis. Purwoko. i . Pa’e dan Bu’e terima kasih atas kasih sayang. saran dan kritik yang membangun demi perbaikan karya ini 4. Terima kasih untuk kasih sayang. 6. 3. Dr. Empah tercinta di surga yang menjadi motivasi terbesar bagi penulis dalam melaksanakan seluruh kewajiban Penulis. Kulit Buah. Dwi Setyaningsih. You are the best in my heart. Ir. dukungan. 2. Mochammad Kaddafi yang selalu ada di hati penulis. perhatian dan dukungan yang telah diberikan. Mas Hari. Laboran-laboran SBRC. doa. terima kasih atas kesabaran dan keikhlasannya dalam membantu Penulis selama penelitian. Teh Reni. Endang Warsiki selaku dosen penguji atas kesediaan. Mas Dodi yang telah berjuang keras untuk Penulis. diantaranya : 1. Laboran-laboran departemen Teknologi Industri Pertanian yang banyak membantu selama masa-masa perkuliahan hingga menyelesaikan penelitian ini.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. 7. Seluruh staff pengajar departemen Teknologi Industri Pertanian yang telah memberikan banyak bekal ilmu yang sangat bermanfaat.

Mba Wiwin. Ajeng. dan Muti. doa dan kebersamaannya selama ini. terima kasih atas dukungan dan doanya. Uli. Mbak Ami. penulis menyadari skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Puput. sahabat-sahabat terbaik yang begitu berharga bagi penulis. tawa. terima kasih atas keceriaan. sukses untuk kita semua. Seperti kata pepatah Tiada Gading yang Tak Retak. Kepada pihak-pihak yang belum disebutkan namanya. Semoga persahabatan dan persaudaraan ini dapat terus terjalin sampai kapanpun. Ninda. semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang kalian berikan. Nana. 11. 9. Amri dan Ahsan. penulis mengucapkan terima kasih. dukungan. teman-teman seperjuangan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membacanya. terima kasih atas motivasi dan doa yang diberikan. I love u all and don’t forget me my bestfriends. 10. November 2009 Penulis ii . 12. suka dan dukanya selama ini.8. Hesti. Bogor. Seluruh keluarga besar TIN 42 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. terima kasih atas canda.

....................................................................... 3 B.......................................................................................................... RANCANGAN PERCOBAAN ........................................................................................... KARAKTERISTIK BAKTERI UJI (Staphylococcus aureus dan Escherichia coli) ................. EKSTRAK BIJI............. EKSTRAKSI ................................................................................. i DAFTAR ISI ....................... 16 B.............. iii DAFTAR TABEL ............................................................................................................ LATAR BELAKANG .................................................................... 27 C.............................. 36 DAFTAR PUSTAKA ............... 23 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............. 9 D.... 14 BAB III METODOLOGI........ vi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. SARAN ................. 7 C.................................. v DAFTAR LAMPIRAN ........... TANAMAN JARAK PAGAR DAN KANDUNGAN SENYAWA AKTIF .......................................................................................................................................................... BATANG+DAUN DAN KULIT BUAH JARAK PAGAR ........................... AKTIVITAS ANTIMIKROBA ...................................................................................... 24 A.............................. KESIMPULAN ........................................................................................ 37 LAMPIRAN .... SENYAWA ANTIMIKROBA ... 1 B............................................................... 3 A......................... 36 B................................................................ 24 B. 1 A.................................................................................................. ANTIOKSIDAN ................................................. 16 A................................... 16 C...................................... METODE PENELITIAN ............................................................. 36 A.......................... BAHAN DAN ALAT ......... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................................................ 42 iii ........... vi BAB I PENDAHULUAN .............. TUJUAN .............. 30 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................... AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ....................... 12 E..............

..................... batang+daun dan kulit buah jarak pagar..................................................... Uji karakterisasi biji..................... Rendemen ekstrak ............ 9 2.....DAFTAR TABEL Halaman 1............... 26 iv ...................... 24 3.................. Tingkat toksisitas beberapa pelarut organik ..........

............................. Histrogram Hasil Uji Antioksidan ..................................................... 22 5............... Reaksi antara DPPH (1.................................................................... Skema Penelitian ....................................... 28 6..... 12 2...............................................DAFTAR GAMBAR Halaman 1........................................ 31 7.................. 20 3... Contoh zona penghambatan ekstrak terhadap bakteri uji ............................ Diagram Alir Proses Pembuatan Ekstrak ..................................................... 21 4....................... 32 v .......... Histrogram Diameter Zona Penghambatan terhadap Bakteri Uji ............ Diagram Alir Uji Difusi Sumur...........1-diphenyl-2-picrylhidrazil) dengan senyawa peredam radikal bebas (antioksidan)..............

..................................... 50 9........................................ Hasil Analisis Annova Aktivitas Antiokasidan .... Hasil Analisis Annova Aktivitas Antimikroba E......................... 48 7....... 42 2. Aureus .............................. Coli ..DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1................................. 47 6................................................ Nilai Diameter Zona Penghambatan terhadap Bakteri Escherichia coli . 44 3............... 52 11................................. Hasil Uji Karakterisasi Masing-Masing Bahan................... 45 4..... 51 10............................................... 55 vi ........... Beberapa Mineral yang Terkandung Pada Sampel .......................................... Prosedur Uji Karakterisasi Bahan Baku .........1-diphenyl-2-picrylhidrazil) ........................................................... Hasil Analisis Anova Aktivitas Antimikroba S....................................... 53 12........... Nilai Diameter Zona Penghambatan terhadap Staphylococcus aureus .............. Prosedur Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode Efek Peredaman terhadap Radikal Bebas DPPH (1... 46 5................................................................. 54 13.......................................... Nilai Aktivitas Antioksidan Masing-Masing Sampel Ekstrak ...... Prosedur Perhitungan Rendemen Ekstrak ............. Hasil Analisis Annova Rendemen Ekstrak .. Nilai Rendemen Ekstrak Masing-Masing Sampel Ekstrak ......................................... 49 8...............

daun. stigmasterol. obat-obatan serta produk perlindungan tubuh. pereda panas. Berkaitan dengan pengembangan jarak pagar di Indonesia sebagai bahan baku BBN. Daun jarak pagar di sejumlah daerah di Indonesia secara tradisional telah digunakan untuk penyembuh batuk. Pada penelitian ini akan dikaji mengenai aktivitas antioksidan dan antimikroba dari beberapa bagian tanaman jarak pagar yaitu biji. fungi. Kajian mengenai kandungan senyawasenyawa aktif pada tanaman jarak perlu diketahui dengan benar sehingga dapat menjadi dasar pengembangan produk-produk turunan senyawa aktif berbasis jarak pagar. Senyawa tersebut secara spesifik ditemukan pada beberapa bagian tanaman seperti akar. anti alergi dan antioksidan. maka potensi senyawa aktif pada jarak pagar perlu mendapatkan perhatian karena berpotensi untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi manusia. buah. batang dan daun jarak pagar. PENDAHULUAN A. Ekstrak forbol ester memiliki kemampuan membunuh serangga. obat gusi bengkak. flavonoid dan 12-deoksil-16-hidroksiforbol (forbol ester). obat cacing. biji serta minyak hasil pengepresan. anti ketombe dan lain-lain. kulit buah. batang. Menurut Hodek et al. curcin. pereda kembung. Tanaman ini merupakan tanaman tropis yang dapat beradaptasi dengan baik pada lahan kering. mudah dibudidayakan serta memiliki kandungan minyak yang tinggi dan memiliki ciri yang sesuai untuk bahan bakar. Tanaman jarak mengandung senyawa-senyawa aktif seperti βsitosterol. zat antiseptik setelah melahirkan.I. Perkebunan jarak pagar serta industri turunan berbasis jarak pagar sudah mulai bermunculan dengan berbagai skala usaha. 1 . dan moluska sehingga berpotensi sebagai antimikroba. Selain pemanfaatan sebagai bioenergi. LATAR BELAKANG Pengembangan jarak pagar sebagai salah satu tanaman penghasil Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia cukup pesat. flavonoid yang tekandung dalam ekstrak kulit batang jarak memiliki aktivitas biologi seperti antimikroba. (2002). pada jarak pagar juga terdapat potensi yang besar untuk pengembangan produk di bidang pertanian.

kulit buah. kulit buah. 2 . batang dan daun jarak pagar. TUJUAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui aktivitas antioksidan dan antimikroba pada bagian tanaman jarak pagar yang terdiri dari biji. batang dan daun jarak pagar.B. 2. Mengetahui rendemen ekstrak yang terkandung pada bagian tanaman jarak pagar yang terdiri dari biji.

Bagian terpenting tanaman jarak pagar meliputi daun.II. 7-keto. meningkatkan kesuburan tanah dan sebagai tanaman pagar. Buah tanaman jarak pagar berupa buah kotak berbentuk bulat telur dengan diameter 2-4 cm. kampesterol. batangnya berkayu. Tanaman ini merupakan tanaman semak atau pohon yang tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh pada area dengan curah hujan rendah sampai tinggi (200-1500 mm per tahun). Buah jarak terbagi menjadi 3 ruang. Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1-7 m. Senyawa curcin dan forbol ester yang merupakan senyawa racun dan antinutrisi paling banyak ditemukan pada bagian biji. silindris. suatu senyawa protein 3 . Biji berbentuk bulat lonjong dan berwarna cokelat kehitaman.βsitosterol. 1999). TINJAUAN PUSTAKA A. akar serta biji jarak mengandung berbagai macam senyawa kimia. Buah berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi hijau kekuningan dan cokelat atau kehitaman ketika masak. India dan Afrika (Gubitz et al. bunga dan buah jarak. Asia Tenggara.. bagian daun dan ranting mengandung senyawa flavonoid (Naengchomnong et al. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah dan saat ini banyak dibudidayakan di Amerika Selatan dan Tengah. β-sitosterol. beberapa diantaranya merupakan senyawa-senyawa aktif. Tanaman ini dapat digunakan untuk mencegah atau mengontrol erosi. TANAMAN JARAK PAGAR DAN KANDUNGAN SENYAWA AKTIF Jarak pagar termasuk famili Euphorbiaceae. batang. reklamasi lahan. 1994) Bagian biji jarak merupakan bagian yang paling banyak dikaji mengandung senyawa aktif. Jarak pagar berpotensi untuk memperbaiki lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup penduduk pedesaan di negara tropis karena pemanfaatannya yang sangat beragam. Daun. Senyawa kimia yang terisolasi dari bagian daun dan ranting jarak pagar meliputi siklik triterpene stigmasterol. Bungkil sisa pengepresean jarak mengandung curcin. bercabang tidak teratur. Selain itu.. dan bila terluka mengeluarkan getah. masing-masing ruang berisi satu biji sehingga dalam setiap buah terdapat 3 biji. Panjang buah 2 cm dengan ketebalan sekitar 1 cm. ranting.

Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena umumnya berikatan dengan gula sebagai glikosida (Harborne. dan triterpenoid (Harborne. Senyawa yang termasuk senyawa fitokimia antara lain senyawa fenol. 2002). alkaloid. Lectin pertama kali ditemukan pada tahun 1888 oleh Stillmark pada ekstrak biji jarak. senyawa-senyawa yang dihasilkan dari sintesis tanaman kebanyakan merupakan senyawa aktif yang memiliki fungsi fisiologi bagi tubuh. polifenol memiliki kemampuan untuk berikatan dengan metabolit lain seperti protein. 1987). Curcin adalah sejenis racun lectin yang terdapat pada tanaman jarak pagar. Curcin dapat diinaktifkan dengan menggunakan pemanasan dalam suasana basa pada suhu 121°C selama 30 menit (Aregheore et al. 2001). 1987). tanin. Kacang-kacangan mengandung campuran beberapa senyawa fenol yang dapat berfungsi sinergis dengan komponen lain dan berfungsi sebagai antioksidan dan pencegahan berbagai penyakit (Meskin et al. sehingga tidak dapat digunakan sebagai pakan. Senyawa fenol diantaranya adalah senyawa fenol sederhana seperti monofenol dengan satu cincin benzen yang banyak ditemukan pada kacang-kacangan. Menurut Mukhopadhiay (2000). steroid. flavonoid dan glikosidanya (katekin. dan flovonol) dan tanin yang merupakan senyawa fenol yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi (Johnson. 2003). proantosianin.. flavonoid. senyawa tersebut dinamakan senyawa fitokimia. grup asam hidroksi sinamat (asam ferulat dan kafeat). hasil penelitian mengenai ekstrak kulit batang jarak pagar menunjukkan bahwa kulit batang jarak pagar mengandung senyawa fitokima yang terdri dari saponin. dan flavonoid. Menurut Igbinosa (2009). steroid. tanin. glikosida. Menurut Lin (1994). Curcin terdapat pada fraksi bungkil setelah pemerahan minyak dan dapat menyebabkan iritasi pada mata. alkaloid. lemak. dan karbohidrat membentuk 4 3 .yang sangat toksik. Senyawa fenol meliputi berbagai senyawa yang berasal dari tumbuhan yang memiliki ciri yang sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Senyawa fitokimia potensial mencegah berbagai penyakit degeneratif dan kardiovaskuler. antosianidin.

garam flavilium. Menurut Meskin et al. dan antioksidan. senyawa flavonoid dapat mencegah penyakit kardiovaskuler dengan menurunkan oksidasi Low Density Protein (LDL) (Johnson. flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol. Flavonoid memiliki spektrum aktivitas antimikroba yang luas dengan mengurangi kekebalan pada organisme sasaran (Naidu. (2002).senyawa kompleks yang stabil sehingga menghambat mutagenesis dan karsinogenesis. flavon. anti alergi. aktivitas antioksidan dari senyawa fenol berhubungan dengan struktur senyawa fenol. dan striknin adalah alkaloid yang memiliki pengaruh fisiologis dan psikologis. Tanin dapat bersifat sebagai antioksidan karena kemampuannya dalam menstabilkan fraksi lipid dan keaktifannya dalam penghambatan lipoksigenase (Zeuthen dan Sorensen.. Alkaloid pirolizidin diketahui memiliki aktivitas antikanker (Mukhopadhiay. Keberadaan grup hidroksil atau metoksi pada posisi orto atau para dari turunan asam benzoat. 5 . dan grup metoksi pada posisi orto atau para adalah elektron donor yang efektif dalam menstabilkan radikal bebas yang terbentuk. Senyawa alkaloid memiliki aktivitas fisiologi sehingga banyak digunakan dalam bidang pengobatan. Menurut Harborne (1987). 1987). 2000). flavonoid yang tekandung dalam ekstrak kulit batang jarak memiliki aktivitas biologi seperti antimikroba. Keberadaan dua grup hidroksil pada posisi orto atau para dapat menghasilkan struktur quinoid yang stabil. kalkon. antosianidin. Kuinin. 2002). flavanon. Flavonoid sangat efektif digunakan sebagai antioksidan. 2001). flavonol. Jenis utama flavonoid yang terdapat dalam tanaman antara lain dihidrokalkon. Tanin merupakan salah satu senyawa fenol kompleks yang terdapat pada kacang-kacangan (Meskin et al. morfin. 2000). (2002). Senyawa alkaloid umumnya mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen sebagai bagian dari sistem siklik (Harborne. dan auron. leukoantosianidin. Polifenol memiliki sifat antioksidan dan antitumor. katekin. Menurut Hodek et al. 2003). sehingga meningkatkan aktivitas dari senyawa fenol. penilpropanoid atau flavonoid (isoflavon) diketahui dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dari senyawa fenol.

dan glikosida (Harborne. Steroid alami berasal dari berbagai transformasi kimia dua triterpen yaitu lanosterol dan sikloartenol. dan vitamin D. Senyawa steroid dapat digunakan sebagai dasar untuk pembuatan obat. steroid. insektisida. Senyawa ini berstruktur siklik yang relatif rumit. Menurut Hogiono dan Dangi (1994). senyawa steroid dapat diklasifikasikan menjadi steroid dengan atom karbon tidak lebih dari 21 (steroid sederhana) dan steroid dengan atom karbon lebih dari 21 seperti sterol. steroid tumbuhan berasal dari sikloartenol. senyawa ini memiliki pengaruh biologis yang menguntungkan yaitu bersifat sebagai hipokolesterolemik dan antikarsinogen serta dapat meningkatkan sistem imun (Meskin et al. Efek utama saponin 6 . Steroid merupakan golongan dari senyawa triterpenoid (Harborne. aldehida atau asam karboksilat. alkaloid steroid. 1987). Salah satu golongan terpenoid yang berpotensi sebagai antimikroba adalah triterpenoid. kebanyakan berupa alkohol. berfungsi sebagai antifungus. dan kampesterol. Senyawa terpenoid dapat digunakan untuk pengobatan dan terapi (Goldberg.sitosterol). Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang dihasilkan dari grup steroid atau triterpen yang berikatan dengan gula. Pada kacang-kacangan seperti kacang kedelai terdapat senyawa triterpenoid yaitu sitosterol dan stigmasterol. Triterpenoid termasuk senyawa yang merupakan komponen aktif dalam tumbuhan obat yang telah digunakan untuk penyakit gangguan kulit. Senyawa triterpenoid yang terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi adalah fitosterol yang terdiri dari sitosterol (β. antibakteri atau virus (Robinson. 1995). 1987). Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik. Pada umumnya. saponin. yaitu skualena (Harborne. stigmasterol. 2002).Terpenoid merupakan senyawa yang terbentuk dari satuan isoprena dan salah satu perannya adalah sebagai pelindung dari serangan serangga. Saponin menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba dengan cara berinteraksi dengan membran sterol.. Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang-kurangnya empat golongan senyawa yaitu triterpena sebenarnya. sapogenin. 2003). 1987).

tahap ekstraksi dan tahap pemekatan larutan ekstrak. 7 . Dengan cara tersebut akan tercapai kesetimbangan antara zat terlarut dan pelarut. Pengeluaran bahan aktif dari serbuk bahan tergantung kepada laju difusi subtansi dari serbuk bahan ke dalam pelarut. (1981). Menurut Purseglove et al. 1991). Pertama adalah tahapan persiapan bahan dan pelarut. sebelum memulai ekstraksi. suhu dan tipe pelarut yang digunakan. EKSTRAKSI Ekstraksi merupakan metode pemisahan satu atau lebih senyawa yang diinginkan dari larutan atau padatan yang mengandung campuran senyawasenyawa tersebut secara fisik maupun kimiawi (Hunt. 1988). 1996). yaitu penanganan pendahuluan. Dalam proses ekstraksi. terjadi peristiwa difusi pelarut ke dalam sel bahan. (1981).tehadap bakteri adalah pelepasan protein dan enzim dari dalam sel-sel (Zablotowicz et al. tahap pembuatan serbuk bahan dengan ukuran tepat sesuai keperluan ekstraksi. Selain itu. Prinsip dari cara ini adalah tercapainya kesetimbangan konsentrasi bahan dalam pelarut pada batas yang diinginkan. B. Pelarut yang masuk ke dalam sel bahan tersebut akan melarutkan senyawa bila kelarutan senyawa yang diekstrak sama dengan pelarut. tahapan proses ekstraksi adalah sebagai berikut. Tujuan dari metode ekstraksi tersebut adalah mengeluarkan senyawa yang diinginkan dari sel–sel tanaman dengan proses difusi. Bahan yang akan diekstrak sebaiknya berukuran seragam untuk mempermudah kontak antara bahan dengan pelarut. ada beberapa fakor yang mempengaruhi kecepatan ekstraksi. dilakukan persiapan bahan baku yang mencakup pengeringan bahan sampai kadar air tertentu dan penggilingan bahan untuk mempermudah proses ekstraksi. ekstraksi zat aktif dari tumbuhan dengan pelarut cair tergolong sebagai jenis ekstraksi padat-cairan (solid-liquid extraction). Menurut Bernardini (1982). Menurut Bombardelli (1991). tingkat kemudahan ekstraksi bahan kering masih ditentukan oleh ukuran partikel bahan. lama ekstraksi. waktu kontak dan laju pelarut menembus serbuk bahan (Bombardelli. Menurut Purseglove et al.

tidak meninggalkan residu. 1989). Tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sampai batas tertentu sehingga pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme dapat dihentikan (Winarno. dan sifat pelarut yang digunakan. Pengeringan secara mekanis dilakukan dengan menggunakan alat yang suhu dan kelembaban udaranya dapat diatur (Karmas. 1982). Semakin rendah suhu ekstraksi. sifat komponen yang akan diekstrak. masing-masing pelarut mempunyai efesiensi yang berbeda-beda. Pengeringan oven merupakan salah satu pengeringan secara mekanis yang menggunakan udara sebagai medium pemanas. Menurut Ketaren (1985). proses ekstraksi akan semakin lama. skala ekstraksi. dan tidak mudah meledak (Swern. 1991). Beberapa metode umum yang biasa dilakukan adalah ekstraksi dengan pelarut. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu maka daya larut bahan yang diekstrak akan semakin tinggi (Gunstone dan Norris. Metode ekstraksi yang dilakukan tergantung pada beberapa faktor antara lain tujuan ekstraksi. aman. pengepresan mekanik. distilasi. Jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi akan mempengaruhi jenis bahan yang akan terekstrak.Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan dan menghilangkan sebagian air dari bahan dengan menggunakan energi panas. tidak korosif. 1988). Prinsip ekstraksi menggunakan pelarut adalah bahan yang akan diekstrak kontak langsung dengan pelarut selama selang waktu tertentu dan komponen yang akan diekstrak akan terlarut dalam pelarut (Hougton dan Raman. dan sublimasi. Pelarut yang mempunyai gugus hidroksil (alkohol) dan karbonil (keton) termasuk pelarut polar. Pelarut yang digunakan pada saat ekstraksi harus memenuhi syarat tertentu yaitu tidak toksik. metode yang banyak dilakukan adalah distilasi dan ekstraksi menggunakan pelarut. 1995). Diantara metode-metode tersebut. harganya murah. Kelarutan suatu senyawa dalam pelarut tergantung dari gugus-gugus yang terikat pada pelarut tersebut. 1998). sedangkan hidrokarbon termasuk ke dalam non polar (Marcus. Pelarut yang dipanaskan pada saat ekstraksi akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pelarut dingin. Pemilihan pelarut harus didasarkan pada sifat 8 .

dan terpenoid yang bersifat non polar (Houghton dan Raman. Menurut Halliwell dan Gutteridge (1989). Pelarut etil asetat merupakan pelarut semi polar yang dapat melarutkan alkaloid dan aglikon (Rahayu. Konsep ini sangat berguna jika komponen yang akan diekstrak sudah diketahui kepolarannya. nilai kepolaran pelarut harus sedekat mungkin dengan kepolaran sampel. lemak. Sifat radikal bebas yang sangat labil dan elektron yang tidak berpasangan dapat dianggap sebagai perebut 9 . ANTIOKSIDAN Karsinogenik Benzen Karbon tetraklorida Kloroform Dimetil formadida Radikal bebas adalah sebuah molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbital kulit terluarnya dan terbentuk melalui dua cara yaitu : (1) secara endogen. stabilitas. 1999). (2) secara eksogen. Konsep like dissolves like merupakan konsep yang menjelaskan adanya fenomena dalam proses ekstraksi. Tingkat toksisitas beberapa pelarut organik Tingkat Toksisitas Tinggi Asetonitril Karbon disulfida Tetrahidrofuran Toluen Rendah Aseton Diklorometan Dietil eter Dimetil sulfoksida Etanol Etil asetat Heksan Metanol Pentana Petroleum eter Isopropil alkohol Sumber : Pasto et al. Pelarut non polar akan melarutkan senyawa seperti lilin. 1995). pencernaan. sebagai respon normal dari peristiwa biokimia dalam tubuh. 1998). dan harga.polaritas. injeksi dan penyerapan kulit (Supari. radikal bebas didapat dari polusi yang berasal dari luar tubuh dan bereaksi didalam tubuh melalui pernafasan. Tabel 1. radikal bebas adalah molekul atau senyawa yang mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan dan dapat menimbulkan kerusakan pada biomolekul. (1992) C.

vitamin C (asam askorbat). β-karoten. Antioksidan sintetik yang umumnya digunakan dalam produk pangan antara lain BHA (butylate hidroxyanisole). antioksidan digolongkan menjadi antioksidan primer (chain breaking antioxidant) dan antioksidan sekunder (preventive antioxidant). Antioksidan adalah zat yang dapat melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk sebagai hasil dari metabolisme oksidatif yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses metabolik yang terjadi dalam tubuh (Goldberg. penangkapan oksigen dan penguraian hidroperoksida menjadi produk-produk non radikal (Gordon. yaitu antioksidan sintetik (antioksidan yang diperoleh dari hasil sintesa reaksi kimia) dan antioksidan alami (antioksidan hasil ekstraksi bahan alami). BHT 10 . Radikal bebas ini dapat berbentuk anion superoksida (O2•). Pada dasarnya tujuan antioksidan sekunder (preventive antioxidant) adalah mencegah terjadinya radikal yang paling berbahaya yaitu radikal hidroksil (Taher. 2003). Antioksidan sekunder berfungsi sebagai antioksidan pencegah yaitu menurunkan kecepatan inisiasi dengan berbagai mekanisme. asam askorbat. glutation. radikal lipid peroksida (LOO•) (Bast et al. 2003). 1990). seperti melalui pengikatan ion-ion logam. radikal nitrit oksida (NO•). Contoh antioksidan sekunder antara lain turunanturuna asam fosfat. 1991). dan sistein (Taher.elektron dari molekul lain yang terdapat di sekitarnya maupun yang berjarak jauh untuk memenuhi keganjilan elektronnya. Senyawa yang termasuk dalam kelompok antioksidan primer (chain breaking antioxidant) adalah vitamin E (tokoferol). Berdasarkan sumbernya antioksidan dapat dibagi dalam dua kelompok. Antioksidan primer dapat bereaksi dengan radikal lipid dan mengubahnya menjadi bentuk yang lebih stabil. 2003). radikal hidroksil (OH•). sterol dan fosfolipid (Gordon. 1990). Jenis antioksidan sangat beragam. senyawa karoten. Sebuah senyawa dapat disebut sebagai antioksidan primer apabila senyawa tersebut dapat mendonorkan atom hidrogennya dengan cepat ke radikal lipid dan radikal antioksidan yang dihasilkan lebih stabil dari radikal lipid atau dapat diubah menjadi produk lain yang lebih stabil (Gordon. Berdasarkan mekanisme kerjanya. 1990). Menurut Karyadi (1997).

dan yang paling umum adalah flavonoid (flavonol. 1988). Pada metode DPPH free radical scavenging activity.1-diphenyl-2- picrylhydrazine. katekin. turunan asam sinamat. Antioksidan alami banyak terdapat dalam tanaman pada seluruh bagian dari tanaman seperti akar. isoflavon.(butylated hydroxytoluena). dan sebagainya. metanol digunakan sebagai pelarut. 1996) Menurut Miller et al. flavonon). Menurut Pratt dan Hudson (1990). daun. 11 . Perubahan serapan yang dihasilkan oleh reaksi ini menjadi ukuran kemampuan antioksidan dari bahan tersebut (Hatano et al. Jika senyawa ini masuk ke dalam tubuh manusia dan tidak terkendalikan dapat menyebabkan kerusakan fungsi sel. peroksil radikal.. biji.1-diphenyl-2-picrylhydrazil) digunakan sebagai model radikal bebas.. polifenol. Vitamin C dapat melindungi biomembran dari kerusakan peroksidasi dan merupakan substrat bagi askorbat peroksidase yang merupakan enzim penting dalam menghilangkan H2O2 dalam kloroplas (Nabet.2002). bunga. DPPH (1. DPPH (1.1diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH) sebagai senyawa pendeteksi. flavon. tokoferol. antioksidan dalam rempah-rempah akan bereaksi dengan DPPH dan mengubahnya menjadi 1. senyawa-senyawa yang umumnya terkandung dalam antioksidan alami adalah fenol. singlet oksigen dan berperan dalam regenerasi vitamin E. dan asam organik polifungsi. dan TBHQ (tert- butylhydroxyquinone). Asam askorbat merupakan antioksidan alami yang terdapat dalam berbagai jenis buah-buahan dan sayuran. (2000). OH•. Senyawa ini secara aktif menangkap O2•.1diphenyl-2-picrylhydrazil) adalah senyawa radikal bebas yang dapat bereaksi dengan atom hidrogen yang berasal dari suatu antioksidan membentuk DPPH tereduksi (Simanjuntak et al. batang. Antioksidan ini larut dalam air dan menjadi pertahanan pertama ROS dalam plasma. metode DPPH merupakan salah satu metode aktivitas antioksidan yang sederhana dengan menggunakan 1. Dalam uji ini. PG (propil galat).

1990). Antioksidan 1. Radikal antioksidan (R•) yang terbentuk pada reaksi tersebut relatif stabil dan tidak mempunyai cukup energi untuk dapat bereaksi dengan molekul lain membentuk radikal baru. Menurut Fardiaz (1992). bakteristatik (menghambat pertumbuhan bakteri).1-diphenyl-2-picrylhidrazil) diubah menjadi 1. Reaksi antara DPPH (1. 12 .Reaksi antara DPPH dengan senyawa peredam radikal bebas dapat dilihat pada gambar. Sebaliknya. dan dalam hal ini berasal dari senyawa antioksidan. Suatu senyawa dapat digunakan sebagai peredam radikal bebas yang bermanfaat apabila setelah bereaksi dengan radikal bebas akan menghasilkan radikal baru yang stabil atau senyawa bukan radikal (Gordon. Terjadinya reaksi DPPH dengan atom H• menyebabkan radikal bebas DPPH (1. senyawa antimikroba adalah senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan atau aktivitas mikroba.1-diphenyl-2picrylhidrazine Radikal antioksidan Gambar 1. senyawa antimikroba dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri). SENYAWA ANTIMIKROBA Menurut Jay (1992).1-diphenyl-2picrylhidrazine yang stabil. peredam radikal bebas atau antioksidan yang kehilangan H• menjadi radikal baru yang lebih stabil dibandingkan radikal DPPH. D.1-diphenyl-2-picrylhidrazil) dengan senyawa peredam radikal bebas (antioksidan) Senyawa antioksidan akan melepaskan atom H•. H• adalah atom hidrogen yang mengandung satu proton dan satu elektron yang merupakan contoh sederhana dari radikal bebas. Radikal-radikal antioksidan dapat saling bereaksi membentuk produk non radikal.

Senyawa fenolik bermolekul besar mampu menginaktifkan enzim esensial di 13 . senyawa kimia yang memiliki sifat sebagai antimikroba adalah senyawa fenolik. (6) Senyawa amonium kuarterner : mendenaturasi protein. (2) Alkohol : mendenaturasi protein. detergen. Senyawa – senyawa tersebut dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuh mikroba dengan mekanisme kerja sebagai berikut : (1) Senyawa fenolik : merusak sel mikroba dengan mengubah permeabilitas membran sitoplasma. mendenaturasi enzim yang bertanggung jawab terhadap germinasi spora atau berpengaruh terhadap asam amino yang terlibat dalam proses germinasi. dan bromin adalah pengoksidasi kuat dan perusak organel yang penting dari sel mikroba. (3) Halogen : terdiri dari yodium. menyebabkan kebocoran bahan-bahan intraseluler. Menurut Pelczar et al. (2) mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran zat nutrisi dari dalam sel. (3) denaturasi protein sel. alkohol. dan senyawa amonium kuartener. halogen. Senyawa ini juga mendenaturasi dan menginaktifkan protein seperti enzim. protein merusak sel dan menembus Komponen dinding fenol sel. mekanisme kerja dari senyawa antimikroba ada beberapa cara yaitu : (1) merusak dinding sel sehingga menyebabkan terjadinya lisis.fungisidal (membunuh kapang). (4) Logam berat : menginaktifkan protein seluler. Mekanisme senyawa fenol sebagai zat antimikroba adalah dengan cara meracuni protoplasma. mengganggu proses metabolisme dan merusak membran sitoplasma. (5) Detergen : merusak membran sitoplasma dan menyebabkan kebocoran bahan intraseluler. juga serta dapat mengendapkan mikroba. Menurut Prindle (1983). dan (4) merusak metabolisme sel dengan cara menghambat kerja enzim intraseluler. klor. merusak struktur lemak dan membran sel mikroba.(1993). logam berat. fungistatik (menghambat kapang) dan germisidal (menghambat germinasi spora bakteri).

Niche ekologinya sangat luas hampir bisa diketemukan di lingkungan manapun termasuk . Menurut Prindle (1983). air. dan per (spiral). Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik). 1995). 1983). Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. tanah. KARAKTERISTIK Escherichia coli) BAKTERI UJI (Staphylococcus aureus dan Bakteri adalah mikrooganisme prokariot bersel tunggal yang hanya dapat dilihat morfologinya dengan bantuan mikroskop. batang (bacillus). Selain itu. air mendidih. minyak atsiri dan senyawa terpenoid dalam menghambat bakteri diduga karena senyawa non polar dapat menyebabkan perubahan komposisi membran sel dan terjadinya pelarutan membran sel. komponen non polar juga dapat berinteraksi dengan protein membran yang menyebabkan kebocoran isi sel (Sikkema et al. Berdasarkan penampakan morfologinya. bakteri dikelompokkan ke dalam bentuk . sehingga membran sel mengalami kerusakan. senyawa fenol mampu memutuskan ikatan peptidoglikan dalam usahanya menerobos dinding sel. dasar laut. senyawa fenol akan menyebabkan kebocoran nutrien sel dengan cara merusak ikatan hidrofobik komponen membran sel (seperti protein dan fospolipida) serta larutnya komponen-komponen yang berikatan secara hidrofobik yang berakibat meningkatnya permeabilitas membran. Bakteri ada yang bersifat merugikan disebut sebagai 14 . dan bahkan dalam tubuh kita (Suwanto. Setelah menerobos dinding sel. 1995) E.dalam sel mikroba meskipun pada konsentrasi yang sangat rendah (Prindle. aerobanaerob. lipopolisakarida. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar. Kemampuan senyawa non polar seperti trigliserida. Terjadinya kerusakan pada membran sel mengakibatkan terhambatnya aktivitas dan biosintesa enzim – enzim spesifik yang diperlukan dalam reaksi metabolisme. kawah gunung berapi. koma (vibrio).

4 (Blackburn dan McClure. 2002) S. Bakteri ini dapat tumbuh optimum pada suhu 35400C.5% NaCl. bakteri patogen ini merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia.0 mikron dan lebar 1. aureus tumbuh secara anaerobik fakultatif. 1983). Escherichia coli Bakteri E. Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang termasuk dalam genus Staphylococcus. Salah satu contoh bakteri patogen antara lain Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. 2002). bersifat motil atau non motil (Fardiaz. 1983).6.0-8. rambut. Bakteri E. Bakteri ini berbentuk kokus dengan suhu optimal pertumbuhan 37-40 0C. coli termasuk bakteri gram negatif yang berukuran panjang 2. E. Staphylococcus aureus merupakan mikroba flora normal yang terdapat pada permukaan kulit. S.5 mikron. 15 ii . tidak motil dan tidak membentuk spora.1 – 1.0 dan aktivitas air (aw) minimum 0. mulut. Kumpulan sel-selnya menyerupai buah anggur. Bakteri ini dapat tumbuh pada aktivitas air (aw) minimum 0. dan tenggorokan. pH optimum 6. hewan. tidak berkapsul. S. Bakteri ini memproduksi enterotoksin yang dapat menyebabkan keracunan (Fardiaz. Bakteri ini ditemukan dalam bentuk tunggal atau berpasangan. 1. dan tumbuhan. aureus dapat menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keracunan makanan (Blackburn dan McClure. coli bersifat aerobik dan fakultatif anaerobik.0 .coli merupakan bakteri gram negatif yang termasuk dalam famili Enterobacteriaceae.95 dan pH optimum 4. hidung. 2. 1992).86 (Jay.bakteri patogen. aureus juga tahan garam dan tumbuh baik pada medium yang mengandung 7.

METODOLOGI A. batang pengaduk. erlenmeyer. bahan kimia yang diperlukan antara lain larutan Luff Schoorl.III. larutan Natrium thiosulfat (Na2S2O3) 0. kultur mikroba Escherichia coli dan Staphylococcus aureus untuk uji aktivitas antimikroba. kulit buah. etil asetat. Alat-alat yang digunakan untuk uji aktivitas antimikroba antara lain inkubator. heksan. aquademineralisasi. buret. Dalam penelitian ini. Setelah itu masing-masing bahan dihancurkan dengan menggunakan blender sehingga diperoleh partikel bahan yang lebih halus. bahan yang digunakan merupakan tanaman jarak pagar yang siap panen. Alat yang digunakan untuk uji aktivitas antioksidan terdiri dari tabung reaksi. gelas piala. nutrient agar (NA). B. batang dan daun jarak pagar. autoklaf. Alat-alat yang digunakan pada penelitian antara lain oven. Selain itu. spektrofotometer dan kuvet. dan larutan kanji. batang dan daun jarak pagar dipotong kecil-kecil selanjutnya dikeringkan di dalam oven 48°C selama 1 hari. mikropipet beserta tipnya dan bunsen. kulit buah. KI. gelas ukur. pipet. neraca analitik. hot plate. tanur. Adapun bahan-bahan kimia yang diperlukan antara lain pelarut metanol. DPPH (1. NaOH. cawan petri. blender. kertas saring dan soxhlet. dan daun jarak pagar.1 N. ose. HCl. BAHAN DAN ALAT Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah biji. Indocement. Biji. Persiapan sampel Bahan utama jarak pagar diperoleh dari PT. termometer. kulit buah. batang dan daun jarak dicampurkan (batang+daun) dengan perbandingan 3:1 dimana 16 . batang. METODE PENELITIAN 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). metanol pa. DEA. vitamin C untuk uji aktivitas antioksidan. H2SO4. Untuk analisis proksimat. tabung pengencer. nutrient broth (NB). Adapun bagian tanaman jarak pagar yang akan diteliti terdiri dari biji.

Kemudian setelah diperoleh ekstrak murni. Alat soxhlet disiapkan. setelah persiapan sampel dilakukan uji karakterisasi bahan baku dengan mengacu pada SNI 01-2891-1992 yang terdiri dari uji kadar air. Prosedur pengujian karakterisasi bahan baku dapat dilihat pada Lampiran 1. penangas dinyalakan dan suhu yang digunakan yaitu 70-80°C. Bahan yang telah dihaluskan ditimbang sebanyak 20 gram. dan heksan sebagai pelarut yang bersifat non polar. 2. kadar abu. Uji karakterisasi bahan baku Pada tahap awal. 3. dihitung besarnya rendemen ekstrak yang dihasilkan. selanjutnya dilakukan pemekatan ekstrak dengan cara menguapkan pelarut melalui pemanasan dengan menggunakan hot plate dimana suhu yang digunakan disesuaikan dengan titik didih masing-masing pelarut sehingga akan diperoleh ekstrak murni. Prosedur perhitungan rendemen ekstrak dapat dilihat pada Lampiran 2. 17 . selongsong yang telah berisi bahan dimasukkan ke labu soxhlet dan pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sebanyak 150 ml dimasukkan ke dalam labu lemak. Setelah proses ekstraksi selesai. kemudian dimasukkan kedalam selongsong yang telah dibuat sebelumnya. etil asetat sebagai pelarut yang bersifat semi polar. kadar karbohidrat dan kadar lemak.besarnya perbandingan tersebut telah diperhitungkan berdasarkan proposi banyaknya batang dan daun pada tanaman jarak. Ekstraksi Metode ekstraksi yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstraksi menggunakan pelarut. Ekstraksi dilakukan sebanyak 5 kali ekstraksi untuk masing-masing bahan dan setiap bahan diekstraksi dengan ketiga jenis pelarut tersebut. Pelarut yang digunakan terdiri dari metanol sebagai pelarut yang bersifat polar.

Diameter penghambatan adalah selisih antara lebar areal bening dengan diameter sumur. dibiarkan membeku lalu di ambil sebanyak 0. kemudian dituang ke cawan petri steril. Setelah waktu inkubasi selesai.. Dibuat nutrient agar sebanyak 700 ml. Pada metode ini senyawa antioksidan diuji efektivitasnya dalam meredam aktivitas DPPH (1. untuk ekstrak hasil ekstraksi dengan pelarut etil asetat dan heksan ditambahkan DEA (dietanolamida) sebagai emulsifier agar ekstrak dapat larut dalam aquades sehingga dapat berdifusi pada agar.1-diphenyl-2-picrylhidrazil) (Liyana et al. dibuat lubang atau sumur menggunakan alat pembuat sumur.000 ppm. diamati zona atau diameter penghambatan berupa areal bening disekitar sumur. Ekstrak dilarutkan dengan konsentrasi 10. Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode Efek Peredaman terhadap Radikal Bebas DPPH (1. Pada masing-masing sampel dilakukan pengujian aktivitas antimikroba terhadap dua jenis bakteri uji yaitu Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.4. Setelah itu.1 ml dari kultur yang telah disegarkan dan disebarkan ke dalam agar tersebut dengan menggunakan batang penyebar. Uji difusi sumur ini dilakukan pada ekstrak hasil ekstraksi yang telah dilarutkan dalam aquades. semakin 18 . 1993) Uji aktivitas antimikroba pada penelitian ini dilakukan melalui uji difusi sumur. Pada pengujian ini setiap cawan dibuat 4 lubang atau sumur dan diisi dengan sampel. 5. Uji Aktivitas Antimikroba (Garriga et al. Cawan uji difusi sumur kemudian disimpan dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 48 jam.. Prosedur pengujian antioksidan dapat dilihat pada Lampiran 3. Kultur uji yang akan digunakan untuk uji difusi sumur disegarkan terlebih dahulu dengan cara diambil satu ose. Areal bening disekitar koloni bakteri menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan bakteri uji.1-diphenyl-2-picrylhidrazil). Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode Scavenging Effect on DPPH Radical (efek peredaman terhadap radikal bebas DPPH). 2005). lalu ditumbuhkan pada media pertumbuhan NB 5 ml dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam.

Untuk menentukan Fe dan Mn.luas areal bening menunjukkan semakin tinggi aktivitas antimikroba dari sampel tersebut. Perhitungan konsentrasi dapat dinyatakan dalam miligram per liter dengan mengacu pada kurva kalibrasi atau membaca langsung konsentrasi logam dari output alat dan apabila sampel diencerkan maka dikalikan dengan faktor pengenceran yang sesuai. 19 . 6. dilakukan perhitungan konsentrasi masing-masing ion logam. siapkan kurva kalibrasi. campurkan 100 ml sampel dengan 10 ml larutan lanthanum. Setelah analisis selesai. Analisis Kandungan Mineral Pada Sampel (APHA. Dipilih sedikitnya tiga konsentrasi dari setiap larutan logam standar untuk mengukur konsentrasi logam di dalam sampel dan catat nilai absorbansinya. Persiapkan alat yang akan digunakan. 1998) Lakukan preparasi atau persiapan sampel sesuai dengan jenis logam yang akan diukur. campurkan 100 ml sampel dengan 25 ml larutan Ca. untuk alat yang sudah dilengkapi dengan output nilai konsentrasi logam langsung maka tidak perlu dibuat kurva kalibrasi. Untuk menentukan kadar Ca atau Mg.

Skema Penelitian 20 . dan penghancuran) Uji karakterisasi bahan Ekstraksi dengan soxhlet (5 kali putaran) Pemekatan ekstrak Ekstrak metanol Ekstrak etil asetat Ekstrak heksan .Bahan baku (Biji.Uji aktivitas antioksidan Gambar 2. batang dan daun jarak) Persiapan masing-masing bahan (Pemotongan.Uji aktivitas antimikroba . pengeringan. kulit buah.Rendemen ekstrak .

Diagram Alir Proses Pembuatan Ekstrak 21 .20 gram sampel Dimasukkan ke dalam selongsong dan disumbat dengan kapas Dimasukkan ke dalam alat soxhlet Diekstrak dengan 150 ml pelarut metanol selama 5 kali ekstraksi pada suhu 70-80°C Diekstrak dengan 150 ml pelarut etil asetat selama 5 kali ekstraksi pada suhu 70-80°C Diekstrak dengan 150 ml pelarut heksan selama 5 kali ekstraksi pada suhu 70-80°C Pemekatan ekstrak pada suhu 70-80°C Pemekatan ekstrak pada suhu 70-80°C Pemekatan ekstrak pada suhu 70-80°C Ekstrak metanol Ekstrak etil asetat Ekstrak heksan Gambar 3.

Diagram Alir Uji Difusi Sumur 22 .1 ml kultur yang telah disegarkan Disebarkan ke dalam cawan petri yang telai berisi media agar Dibiarkan beku dan dibuat lubang / sumursampel Dipipet sebanyak 0.Diambil 1 ose kultur mikroba Ditumbuhkan pada 5 ml media pertumbuhan NB Diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam Dipipet 0.1 ml sampel dan dimasukkan ke dalam lubang / sumur Diinkubasi pada suhu 37°C selama 48 jam Diamati dan diukur diameter penghambatan tiap sumur Gambar 4.

RANCANGAN PERCOBAAN Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model rancangan faktorial 2 faktor dengan dasar rancangan acak lengkap (RAL).C. Jenis bahan : A1 = Biji jarak pagar A2 = Batang dan daun jarak pagar A3 = Kulit buah jarak pagar Jenis Pelarut : B1 = Pelarut metanol B2 = Pelarut etil asetat B3 = Pelarut heksan 23 . εijk = Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi pada perlakuan ij. = Pengaruh taraf ke-i dari faktor jenis bahan = Pengaruh taraf ke-j dari faktor jenis pelarut (AB)ij = Pengaruh interaksi taraf ke-i faktor jenis bahan dan taraf ke-j faktor jenis pelarut. Yijk = µ + Ai + Bj + (AB)ij +εijk Dimana : Yijk = Nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-k yang mendapat kombinasi perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor jenis bahan dan taraf ke-j dari faktor jenis pelarut) µ Ai Bj = Nilai tengah populasi (rata-rata sesungguhnya).

pengeringan. Untuk mengetahui karakteristik bahan baku dilakukan uji karakterisasi pada masing-masing bahan yang telah dikeringkan dan dihancurkan. ketiga sampel setelah pengeringan memiliki kadar air dibawah kadar air maksimum yang disyaratkan untuk proses ekstraksi.49%). Hasil uji karakterisasi dari masing-masing bahan dapat dilihat pada Tabel 2.IV.31%).31 7. Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. batang+daun dan kulit buah jarak pagar Karakterisasi Bahan Bahan Kadar Air (%b/b) Biji jarak pagar Batang dan daun jarak pagar Kulit buah jarak pagar 6.53 Dalam proses ekstraksi.75%). BATANG+DAUN DAN KULIT BUAH JARAK PAGAR Persiapan bahan baku mencakup pemotongan bahan.19 1.45 2. batang+daun jarak (10.58%) dan kulit buah jarak (20.73%). EKSTRAK BIJI. kondisi lahan yang 24 .73 9.58 20.38 Kadar Karbohidrat (%b/b) 9. Kadar abu ada hubungannya dengan kandungan mineral suatu bahan.49 Kadar Abu (%b/b) 4. maksimum kadar air yang disyaratkan agar proses ekstraksi dapat berjalan lancar yaitu sebesar 11% (Setyowati. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Menurut Safuan (2005). dan penghancuran bahan menggunakan blender.75 10.88 20.38%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya kadar abu untuk biji jarak (4. Uji karakterisasi biji. Pada batang+daun jarak dan kulit buah jarak memiliki nilai kadar abu yang cukup tinggi. batang+daun jarak (9. hal ini diduga dikarenakan kondisi lahan pada penanaman jarak pagar yang digunakan sedikit berkapur.62 Kadar Lemak (%b/b) 34.04 18. Tabel 2. dan kulit buah jarak (7. Hal ini menunjukkan bahwa sampel memiliki kadar air yang cukup baik untuk dilakukan proses ekstraksi karena semakin rendah nilai kadar air bahan maka semakin memudahkan pelarut untuk mengekstrak komponen senyawa aktif yang diinginkan. 2009). Dari hasil penelitian. untuk biji jarak pagar (6.

53%). kadar lemak pada biji jarak lebih besar dari batang+daun serta kulit buah jarak.62%). Ca. Menurut Hambali.45%). (2007). dan lain sebagainya sehingga mempengaruhi kandungan mineral pada tanaman tersebut. fruktosa dan galaktosa atau juga disakarida seperti sukrosa dan laktosa. karbohidrat utama yang disimpan pada sebagian besar tumbuhan adalah pati dan selulosa. Si. sedangkan contoh dari karbohidrat kompleks adalah pati (starch). Karbohidrat dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. glikogen (simpanan energi di dalam tubuh). Al. ekstrak etil asetat yang bersifat semi polar dan ekstrak heksan yang bersifat non polar. et al. selulosa. biji jarak pagar merupakan bagian tanaman jarak pagar yang memiliki kandungan minyak cukup tinggi yaitu sekitar 30-50%. Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon. batang+daun dan kulit buah jarak pagar dilakukan untuk mendapatkan tiga komponen ekstrak dari masing-masing bahan yaitu ekstrak metanol yang bersifat polar.berkapur memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi seperti Fe. batang+daun jarak (20. batang+daun. Mg. serta kulit buah jarak. Pada lampiran 5 dapat dilihat beberapa kandungan mineral yang terdapat pada biji. Oleh karena itu. Hasil penelitian menunjukkan besarnya kadar lemak biji jarak (34. Intensitas cahaya yang tinggi terjadi pada siang hari yang panjang saat musim panas dapat menyebabkan terjadinya penimbunan satu atau lebih butir pati di kloroplas. hidrogen dan oksigen. Contoh dari karbohidrat sederhana adalah monosakarida seperti glukosa. Ekstraksi biji. batang+daun jarak (2. Masing-masing komponen ekstrak 25 . Hasil penelitian menunjukkan besarnya kadar karbohidrat untuk biji jarak (9.19%) dan kulit buah jarak (1.04%) dan kulit buah jarak (18. 2007). Menurut Dwidjoseputro (1990). Pati atau amilum banyak terdapat pada kloroplas daun yang merupakan tempat proses fotosintesis. dan serat (Irawan. Zn. K. Kadar lemak menunjukkan banyaknya kandungan trigliserida dalam bahan. Batang+daun jarak memiliki nilai kadar karbohidrat tertinggi karena pada bagian tersebut terutama pada kloroplas daun terkandung amilum yang tinggi.88%).

75 5. dan aktivitas antimikrobanya.91 0.27%.96 Etil asetat 35. Tabel 3.98 %. Hasil perhitungan rendemen ekstrak dapat dilihat pada Tabel 3. etil asetat juga dapat mengekstrak fosfolipid pada bahan.62 Berdasarkan hasil analisis statistik dengan ANNOVA (Lampiran 7) pada tingkat kepercayaan 95% (α=0. (2007). 1992). Menurut Hambali et al. rendemen ekstrak tertinggi diperoleh dari ekstrak etil asetat yaitu sebesar 35. diduga bahwa dalam ekstrak etil asetat tersebut terkandung senyawa non polar mengingat akumulasi kandungan minyak atau trigliserida pada biji yang cukup tinggi.20 9. Tingginya rendemen ekstrak metanol dapat juga diartikan bahwa komponen senyawa yang terkandung dalam batang+daun jarak 26 .diukur rendemen ekstrak.27 0. Pada biji jarak. Tingginya rendemen ekstrak etil asetat pada biji jarak ini dapat dikarenakan kemampuan pelarut etil asetat yang bersifat semi polar yang dapat melarutkan senyawa polar dan non polar dimana dari hasil perhitungan juga menunjukkan bahwa rendemen ekstrak heksan yang mengandung senyawa non polar pada biji memiliki nilai rendemen ekstrak yang cukup tinggi yaitu sebesar 32. Rendemen ekstrak Sampel Biji jarak Batang + daun jarak Kulit buah jarak Rendemen ekstrak (%bk/bk) Metanol 8.75%. Fosfolipid ini merupakan golongan lipida yang memiliki gugus polar dan non polar (Patterson.80 Heksan 32. Ekstrak metanol ini merupakan ekstrak yang bersifar polar. Oleh karena itu. rendemen ekstrak tertinggi diperoleh dari ekstrak metanol yaitu sebesar 9. Selain itu.05) menunjukkan bahwa sampel ekstrak yang dihasilkan berpengaruh nyata terhadap nilai rendemen ekstrak dan hasil uji lanjut Duncan terhadap rendemen ekstrak sampel menunjukkan bahwa sampel ekstrak biji jarak dengan pelarut semi polar memiliki nilai rendemen ekstrak terbesar dan berbeda nyata dengan sampel lainnya. Pada batang+daun jarak. biji jarak merupakan bagian dari tanaman jarak yang memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi yaitu sekitar 30-50%.35 0. aktivitas antioksidan.98 1.

Vitamin C digunakan sebagai kontrol atau referensi terhadap aktivitas antioksidan sampel. besarnya nilai peredaman suatu senyawa terhadap radikal bebas dinyatakan dalam persen. dan dalam hal ini berasal dari senyawa antioksidan. Menurut Gordon (1990). rendemen ekstrak tertinggi juga diperoleh dari ekstrak metanol yaitu sebesar 5. Pada kulit buah jarak. Pengukuran absorbasi dilakukan pada masing-masing sampel dan jika sampel yang ditambahkan pada larutan DPPH memiliki aktivitas antioksidan maka nilai absorbansinya akan semakin turun. H• adalah atom hidrogen yang mengandung satu proton dan satu elektron yang merupakan contoh sederhana dari radikal bebas. Dalam penelitian ini.91%. pada pengujian dengan larutan DPPH akan memberikan pemucatan warna pereaksi DPPH (berwarna ungu) menjadi kuning. aktivitas antioksidan dengan metode DPPH diujikan pada ekstrak metanol. Hasil perhitungan persen peredaman terhadap radikal bebas DPPH dari masing-masing sampel dapat dilihat pada Gambar 5. Hal ini menunjukkan bahwa komponen dalam kulit buah jarak sebagian besar merupakan senyawa polar. Terjadinya reaksi DPPH dengan atom H• menyebabkan radikal bebas DPPH (1. Untuk mengetahui berapa besar daya peredamannya maka dilakukan pengukuran absorbansi dengan menggunakan spektrofotometer.1diphenyl-2-picrylhidrazine yang stabil. hal ini terlihat dari rendemen ekstrak heksan yang rendah yaitu sebesar 0. kulit buah dan batang+daun jarak. Apabila suatu senyawa mempunyai kemampuan sebagai peredam radikal bebas. senyawa antioksidan akan melepaskan atom H•. 27 .96% dan rendemen ekstrak terendah diperoleh dari ekstrak heksan yaitu sebesar 0. Senyawa non polar pada batang+daun jarak jumlahnya sangat sedikit.sebagian besar merupakan senyawa polar. ekstrak etil asetat dan ekstrak heksan dari masing-masing sampel yaitu biji. B.62%.1-diphenyl-2-picrylhidrazil) diubah menjadi 1. AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Pengukuran antioksidan dilakukan dengan metode Scavenging Effect on DPPH Radical (efek peredaman terhadap radikal bebas DPPH).

96 93. Histrogram Hasil Uji Antioksidan Berdasarkan hasil penelitian pada masing-masing sampel menunjukkan bahwa persen peredaman DPPH yang menunjukkan aktivitas antioksidan terbesar terdapat pada ekstrak metanol namun tidak melebihi aktivitas antioksidan dari vitamin C.05) menunjukkan bahwa sampel ekstrak yang dihasilkan berpengaruh nyata terhadap nilai aktivitas antioksidan dan hasil uji lanjut Duncan terhadap aktivitas antioksidan sampel menunjukkan bahwa sampel ekstrak biji jarak dengan metanol memiliki nilai persen peredaman (inhibisi) DPPH terbesar dan berbeda nyata dengan sampel lainnya dan persen peredaman (inhibisi) DPPH sampel ekstrak kulit buah dengan pelarut heksan memiliki nilai terkecil dan berbeda nyata dengan sampel lainnya.00 110. B1: Metanol. Menurut Houghton dan Raman (1998).00 0.97 53. Adanya aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol ini diduga dapat disebabkan karena terdapatnya senyawa fenolik pada sampel yang merupakan komponen bioaktif dan umumnya bersifat polar sehingga larut dalam metanol. B2: Etil asetat. Sampel ekstrak kulit buah dengan pelarut heksan memiliki nilai terkecil (13. A3: Kulit buah jarak.10 74.00 Pr dm (ni i i DP ( ) eea a i h s) PH% n b 100.97 Vi t C A1B1 A1B2 A1B3 A2B1 A2B2 A2B3 A3B1 A3B2 A3B3 Sampel Ket : A1: Biji jarak .42 71.00 10.00 97.40 82.40%) dan berbeda nyata dengan sampel lainnya.00 70.00 50. Sampel ekstrak biji jarak dengan metanol memiliki nilai peredaman DPPH terbesar (93.00 20.00 80.97%) dan berbeda 28 .62 23. B3: Heksan.42 21.00 90. senyawa fenol mengandung banyak gugus OH sehingga cenderung bersifat polar. Vit C: Kontrol/referensi Gambar 5.16 13.00 40. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan ANNOVA (Lampiran 9) pada tingkat kepercayaan 95% (α=0.09 55.120.A2 : Batang+daun jarak.00 60.00 30. Hal ini diduga dikarenakan sampel tersebut mengandung senyawa polar yaitu flavonoid yang sangat berperan sebagai antioksidan.

(2002).nyata dengan sampel lainnya dikarenakan ekstrak non polar pada sampel tersebut tidak banyak mengandung senyawa antioksidan sehingga aktivitas antioksidannya sangat kecil. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa biji kedelai memiliki aktivitas antioksidan dikarenakan terdapat kandungan senyawa isoflavon didalamnya. dan flavonoid (Igbinosa. tanin. alkaloid. Menurut Hodek et al. Flavonoid kedelai yang terisolasi dan teridentifikasi adalah isoflavon (Pratt. flavonoid yang tekandung dalam ekstrak kulit batang jarak memiliki aktivitas biologi seperti antimikroba. Senyawa fenolik ini dapat menghambat proses oksidasi dengan cara memberikan atom H yang akan mengikat radikal bebas menghasilkan senyawa yang lebih stabil. Ada beberapa senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan telah berhasil diisolasi dari kedelai. dan antioksidan. biji serta minyak hasil pengepresan (Gubitz et al. glikosida. Kemampuan senyawa fenolik sebagai antioksidan telah dibuktikan oleh Yuli pada tahun 2003 dalam penelitiannya terhadap aktivitas antioksidan biji kedelai. Senyawa tersebut secara spesifik ditemukan pada beberapa bagian tanaman seperti akar. steroid. salah satunya adalah flavonoid. Hal ini dikarenakan pelarut etil asetat bersifat semi polar sehingga masih dapat mengekstrak senyawa polar yang berpotensi sebagai antioksidan 29 . flavonoid dan 12-deoksil-16-hidroksiforbol (forbol ester). Senyawa fitokimia pada kulit batang terdiri dari saponin. 2009). Kandungan senyawa flavonoid pada ekstrak metanol inilah yang menjadi salah satu senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan dimana flavonoid ini merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol. 1999). curcin. daun. Tanaman jarak mengandung senyawa-senyawa aktif seperti βsitosterol. anti alergi. Bagian biji jarak merupakan bagian yang paling banyak dikaji mengandung senyawa aktif sehingga biji jarak memiliki nilai aktivitas antioksidan terbesar dikarenakan diduga banyak mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan. 1992 ) Ekstrak etil asetat untuk sampel biji dan kulit buah jarak memiliki nilai persen peredaman DPPH yang lebih besar dibandingkan dengan ekstrak heksan. buah. batang.

pertumbuhan bakteri pada agar dihambat oleh antimikroba yang ada dalam sumur sehingga diperlukan suatu jumlah antimikroba yang relatif sedikit dan mempunyai aktivitas yang besar agar pengaruh penghambatannya dapat terlihat dengan jelas. hidung. Pada metode difusi sumur. Akan tetapi. Oleh karena itu. coli dan S.1 untuk metanol dan 4. C.23%) dan ekstrak heksan (41. Hal ini dapat disebabkan sedikitnya kandungan senyawa polar dalam sampel. aureus yang cukup banyak dan tersebar pada tubuh manusia seperti usus.19%). dan tenggorokan. mulut. 1969). Terbentuknya areal bening di sekitar koloni bakteri menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan bakteri uji. Penggunaan kedua bakteri tersebut didasarkan pada keberadaan bakteri E. Senyawa terpenoid seperti stigmasterol dan β-sitosterol ini juga berpotensi sebagai antioksidan sehingga aktivitas antioksidan ekstrak heksan pada batang+daun lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak etil asetat.mengingat beda indeks polaritas antara metanol dan etil asetat yang tidak terlalu jauh yaitu 5. kulit. 2002). aktivitas antimikroba yang diujikan diharapkan memiliki kemampuan untuk menghambat bakteri patogen dari kedua jenis bakteri tersebut (bakteri gram positif dan gram negatif). Pada batang+daun jarak pagar diduga banyak terkandung senyawa terpenoid yang mudah diekstrak dengan pelarut non polar.64%). persen peredaman DPPH ekstrak etil asetat pada sampel batang+daun lebih rendah dibandingkan ekstrak heksan. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata persen peredaman terhadap radikal bebas DPPH dari ketiga sampel yaitu ekstrak metanol (79. rambut. keduanya merupakan bakteri patogen yang dapat menganggu kesehatan manusia (Blackburn dan McClure. AKTIVITAS ANTIMIKROBA Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi sumur terhadap dua jenis bakteri yaitu Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri gram positif dan Escherichia coli yang merupakan bakteri gram negatif.4 untuk etil asetat (Briger. Semakin luas areal bening menunjukkan semakin 30 . ekstrak etil asetat (42.

coli (11.48 mm). dan ekstrak kulit buah jarak dengan pelarut metanol dengan diameter hambat terhadap bakteri E. Air: Kontrol Gambar 6. aureus (7.88 mm) dan bakteri S. Dari gambar 3.13 7. B2: Etil asetat.9 mm) dan bakteri S. coli (7.5 A1B3 A2B1 0.35 mm).9 9.83 mm).tinggi aktivitas antimikroba ekstrak. coli dan S. coli (8.28 0.25 0. Histrogram Diameter Zona Penghambatan terhadap Bakteri Uji Menurut Nostro et al.1 7.13 mm) dan terhadap bakteri S.A2 : Batang+daun jarak.05) menunjukkan bahwa sampel ekstrak yang dihasilkan berpengaruh nyata terhadap nilai aktivitas antimikroba dan hasil uji lanjut Duncan terhadap aktivitas antimikroba sampel 31 .35 A2B3 A3B1 A3B2 2. Hasil analisis aktivitas antimikroba pada sampel uji dapat dilihat pada Gambar 6.15 0 0 A2B2 A3B3 Air E. ekstrak batang+daun jarak dengan pelarut metanol dengan diameter hambat terhadap bakteri E. aureus Ket : A1: Biji jarak . aureus (8. diameter hambat minimum yang menunjukkan adanya aktivitas antimikroba adalah ≥ 6 mm. 18 16 14. (2000).15 7. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan ANNOVA (Lampiran 11 dan 13) terhadap diameter hambat bakteri E. aureus (7. B1: Metanol.48 8. ekstrak biji jarak dengan pelarut heksan dengan diameter hambat terhadap bakteri E.88 8. coli S.25 mm). A3: Kulit buah jarak.95 7.10 mm) dan bakteri S. aureus (9. B3: Heksan.83 D eter H bat (m ) iam am m 14 12 11.15 mm) dan bakteri S. aureus (14.43 7. ekstrak batang+daun jarak dengan pelarut heksan dengan diameter hambat terhadap bakteri E. dapat dilihat bahwa sampel yang memiliki aktivitas antimikroba adalah ekstrak biji jarak dengan pelarut metanol dengan diameter hambat terhadap bakteri E.43 0. coli (7.95 mm).93 1.35 10 8 6 4 2 2 0 A1B1 A1B2 2. coli (7. aureus oleh sampel ekstrak pada tingkat kepercayaan 95% (α=0.

hal ini dikarenakan pada sampel ekstrak etil asetat pada kulit buah tidak banyak mengandung senyawa antimikroba seperti senyawa fenol yang terdapat pada ekstrak metanol dan senyawa terpenoid yang terdapat pada ekstrak heksan sehingga pada sampel tidak menunjukkan adanya aktivitas antimikroba. coli (0.menunjukkan bahwa sampel ekstrak biji dengan pelarut metanol memiliki aktivitas antimikroba terbesar dan berbeda nyata dengan kedelapan sampel yang lain.28 mm) dan bakteri S. senyawa fenol yang terdapat pada biji jarak ini adalah flavonoid sehingga flavonoid inilah yang diduga berpotensi sebagai senyawa antimikroba pada biji jarak.83 mm) serta berbeda nyata dengan kedelapan sampel yang lain. coli (11.9 mm) dan bakteri S. Sampel ekstrak kulit buah dengan pelarut etil asetat memiliki nilai diameter hambat terkecil serta dibawah diameter hambat minimum untuk aktivitas antimikroba yaitu terhadap bakteri E. aureus (0. Hal ini dikarenakan biji merupakan bagian yang banyak dikaji mengandung senyawa aktif dan pelarut metanol akan mengekstrak senyawa polar seperti senyawa fenol yang berpotensi sebagai antimikroba. aureus (14.35 mm). Contoh zona penghambatan ekstrak terhadap bakteri uji 32 . Sampel ekstrak kulit buah dengan pelarut etil asetat memiliki nilai diameter hambat terkecil dan tidak berbeda nyata dengan sampel ekstrak batang dan daun dengan pelarut etil asetat tetapi berbeda nyata dengan ketujuh sampel lainnya Sampel ekstrak biji dengan pelarut metanol memiliki aktivitas antimikroba terbesar yaitu terhadap bakteri E. Sumur Zona Gambar 7.

halogen. senyawa kimia yang memiliki sifat sebagai antimikroba adalah senyawa fenolik. 2000). Terjadinya kerusakan pada membran sel mengakibatkan terhambatnya aktivitas dan biosintesa enzim – enzim spesifik yang diperlukan dalam reaksi metabolisme. (1993).Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari masing-masing sampel memiliki nilai diameter hambat terbesar terhadap kedua jenis bakteri uji. senyawa fenol mampu memutuskan ikatan peptidoglikan dalam usahanya menerobos dinding sel. β-sitosterol. stigmasterol. Menurut Pelczar et al. logam berat. merusak dan menembus dinding sel. Menurut Prindle (1983). seperti senyawa fenolik. dan senyawa amonium kuartener. Tanaman jarak mengandung senyawa-senyawa aktif seperti flavonoid. curcin. Mekanisme senyawa fenol sebagai zat antimikroba adalah dengan cara meracuni protoplasma. Senyawa fenolik bermolekul besar mampu menginaktifkan enzim esensial didalam sel mikroba meskipun pada konsentrasi yang sangat rendah. 2006). senyawa fenol akan menyebabkan kebocoran nutrien sel dengan cara merusak ikatan hidrofobik komponen membran sel (seperti protein dan fospolipida) serta larutnya komponen-komponen yang berikatan secara hidrofobik yang berakibat meningkatnya permeabilitas membran. dan forbol ester. detergen. Komponen fenol juga dapat mendenaturasi enzim yang bertanggung jawab terhadap germinasi spora atau berpengaruh terhadap asam amino yang terlibat dalam proses germinasi. flavonoid. Hal ini dikarenakan pelarut metanol melarutkan senyawa polar. alkohol. Curcin bersifat antimikroba yang dapat melawan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (Tim Jarak Pagar RNI. Adanya senyawa fenol seperti flavonoid inilah yang diduga menyebabkan ekstrak metanol dari ketiga sampel memiliki aktivitas antimikroba. serta mengendapkan protein sel mikroba. Senyawa fenolik inilah yang diduga berperan sebagai antimikroba. 33 . Flavonoid memiliki spektrum aktivitas antimikroba yang luas dengan mengurangi kekebalan pada organisme sasaran (Naidu. Adanya aktivitas antimikroba pada ekstrak heksan dari bagian tanaman jarak dapat disebabkan karena adanya senyawa curcin yang dapat menghambat sintesis protein. Setelah menerobos dinding sel.

coli (0. coli (5.93 mm) dan bakteri S. aureus (10. aureus (1. komponen non polar juga dapat berinteraksi dengan protein membran yang menyebabkan kebocoran isi sel (Sikkema et al. β-sitosterol dan stigmasterol.48 mm) sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini aktivitas antimikroba pada ekstrak metanol > ekstrak heksan > ekstrak etil asetat.19 mm). E. aureus (6. Senyawa cursin dan forbol ester banyak terdapat pada bagian biji jarak. sedangkan pada kulit buah jarak diduga sedikit mengandung komponen senyawa antimikroba sehingga kurang berpotensi sebagai antimikroba.Selain itu terdapat juga senyawa terpenoid yang berpotensi sebagai antimikroba seperti forbol ester.24 mm) dan ekstrak heksan terhadap bakteri E. Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif dimana selnya sebagian besar (90%) terdiri dari lapisan peptidoglikan dan lapisan tipis asam teikoat (Fardiaz. Selain itu. β-sitosterol dan stigmasterol banyak terdapat pada batang dan daun jarak pagar. Dari hasil penelitian.47 mm) dan bakteri S. 1995). Ketahanan bakteri terhadap senyawa antimikroba berhubungan erat dengan struktur dinding selnya. coli adalah bakteri gram negatif dimana dinding selnya lebih kompleks dibandingkan dengan bakteri gram positif. Asam teikoat menyebabkan permukaan sel bakteri gram positif bersifat polar dan mempunyai muatan negatif. Sifat ini akan mempengaruhi laju penetrasi molekul-molekul ke dalam sel yang akhirnya dapat menyebabkan kebocoran sel. Selain itu. sehingga membran sel mengalami kerusakan. 1989). coli (9. Kemampuan senyawa non polar dalam menghambat bakteri karena senyawa non polar dapat menyebabkan perubahan komposisi membran sel dan terjadinya pelarutan membran sel. Bakteri gram positif hanya mempunyai satu lapisan membran yang mengandung peptidoglikan sedangkan bakteri gram negatif mempunyai membran dalam dan membran luar. rata-rata diameter zona penghambatan terhadap bakteri uji dari ketiga sampel yaitu ekstrak metanol terhadap bakteri E. secara umum hasil pengujian aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa bakteri uji dari golongan bakteri gram positif lebih sensitif terhadap senyawa antimikroba dibandingkan bakteri gram negatif.06 mm) dan bakteri S. ekstrak etil asetat terhadap bakteri E. Lapisan membran luar (outer 34 .

wall layer) mengandung fosfolipid, lipopolisakarida, dan lipoprotein. Lapisan ini bersifat impermeabel terhadap molekul besar tetapi dapat melalukan molekul kecil. Lipopolisakarida dan peptidoglikan merupakan saringan bagi berbagai ukuran molekul, sedangkan plasma membran bersifat impermeabel bagi molekul yang ukurannya jauh lebih kecil (Lay dan Hastowow, 1992).

35 ii

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terhadap rendemen ekstrak, pada biji jarak pagar rendemen ekstrak tertinggi terdapat pada rendemen ekstrak etil asetat yaitu sebesar 35,98%. Pada batang+daun jarak pagar rendemen ekstrak tertinggi terdapat pada rendemen ekstrak metanol sebesar 9,75%, begitu juga pada kulit buah jarak pagar rendemen ekstrak tertinggi terdapat pada ekstrak metanol sebesar 5,96%. Hasil uji antioksidan menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan terbesar terdapat pada sampel ekstrak metanol dari biji jarak pagar dengan persen peredaman (inhibisi) terhadap radikal bebas DPPH yaitu sebesar 93,40%. Berdasarkan hasil uji antimikroba dengan metode difusi sumur terhadap bakteri uji E. coli dan S. aureus menunjukkan bahwa sampel yang memiliki aktivitas antimikroba dengan diameter penghambatan ≥ 6 mm yaitu ekstrak biji jarak dengan pelarut metanol dan heksan, ekstrak batang+daun jarak dengan pelarut metanol dan heksan serta ekstrak kulit buah jarak dengan pelarut metanol. Ekstrak biji jarak pagar dengan pelarut metanol memiliki diameter hambat terbesar yaitu terhadap bakteri E. coli (11,9 mm) dan bakteri S. aureus (14,83 mm).

B. SARAN Untuk mengetahui secara pasti komponen senyawa aktif yang terkandung pada bagian tanaman jarak pagar, perlu dilakukan penentuan senyawa aktif dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Pemanfaatan ekstrak tanaman jarak pagar sebagai antioksidan dan antimikroba perlu dikaji sifat toksisitasnya agar produk yang dihasilkan dapat memberikan manfaat yang besar dan tidak membahayakan manusia.

36

DAFTAR PUSTAKA APHA. 1998. Direct Air-Acetylene Flame Method. Ed. 20th 3111B. Aregheore, E.M., Becker, K., Makkar, H.P.S. 2003. Detoxification of a toxic variety of Jatropha curcas using heat and chemical treatments, and preliminary nutritional evaluation with rats. S. Pac. J. Nat. Sci. 21, 50-56. Bast, A., Haena, G. R. M and Doelman, C. J. A. 1991. Oxidant and Antioxidant. State of The Art, Am J. Med (91) = 3c – 4s. Bernardini, E. 1982. Vegetables Oil and Fats Processing. Vol. 1. Interstamps. Rome. Blackburn, C. W. dan McClure, P. J. 2002. Foodborne Pathogens Hazard, Risk Analysis and Control. CRC Press, New York. Bombardelli, E. 1991. Technologies for The Processing of Medicinal Plants. In : R. O. B. Wijesekera (ed). 1991. The Medicinal Plant Industry. CRC Press, Boca Raton. Briger. 1969. A Laboratory Manual for Modern Organik Chemistry. Harver and Row Publiser, New York. Dwidjoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta

Fardiaz, S. 1983. Keamanan Pangan Jilid I. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Fardiaz, S. 1989. Analisis Mikrobiologi Pangan. Petunjuk Laboratorium. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Garriga, M., M. Hugas, T. Aymerich dan J. M. Monfort. 1993. Bacteriocinogenic Activity of Lactobacili from Fermentation Sausage. Journal of Applied Microbiology, 7 : 142-148. Goldberg, G. 2003. Plants : Diet and Health. I Owa State Press, Blackwell Publishing Company, 2121 State Avenue, USA. Gordon, M. H. 1990. The Mechanism of Antioxidant Action in Vitro. In : Hudson, B.J.F (ed). Food Antioxidants. Elsevier Applied Science. London-New York.

37

Gubitz.R. Trelil P..pssplab..H. Karbohidrat. Prawitasari. J. dan A. Stiborova M. M. Soerawidjadja. M.J. 1983. Universitas Airlangga. Aiyegoro. Igbinosa. P. 4th Ed. T.. Igbinosa E. M. 3 (2). 2009.H. 1992. Two New Flavonoids and Other Constituents. Institut Teknologi Bandung. Longman Group Ltd. Norris. Prakoso dan Wahyu Purnama.. C. Exploitation of the tropical oil seed plant Jatropha curcas L.M. London. pp. T. Yasuhara and I. O. Bandung. Jurusan Biologi. 38 . Modern Food Microbiology. Gunstone. London. Clarendon Press. O. T. dan M. H. 058-062. A. 1988. F. Hasim .com Jay. Hunt. London. S. 1998 . Intern. Hodek. Metode Fitokimia. A. Hambali. T. Oxford. Dan F. Hogiono dan Dogi. Jakarta. G. Antimicrobial Activity and Phytochemical Screening of Steam Bark Extracts from Jatropha curcas (Linn).Potent and Versatile Biologically Active Compounds Interacting with Cytochrome P450. Iman . Bioresource Technology 67: 73-82. Kagawa.. Lipid in Foods Chemistry. Penebar Swadaya. Gutteridge. 1989. M. In : Licorice Roots : Their relative Astringency and Radical Scavenging Effect. Houghton. 139 (1): 1-21. 1994. Hatano. www. 2002. Mittelbach. The Encyclopedia Dictionary of Science. 2007. Chapman and Hall. Equinox (Oxford) Ltd. Wayne State University. P. Okuda. Hariyadi. B. Tjitrosemito. Raman. P. Flavonoids. Dadang. Suryadarma. 1987. African Journal of Pharmacy and Pharmacology Vol. Harborne. Chemico-Biol. Halliwell. O.. Laboratory Handbook for The Fractionation of Natural Extract. 2090-2097. dan J. Irawan. T. 1988. A. USA. Erliza. B. C. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Peningkatan Nilai Tambah Tanaman Hortikultura yang Berpotensi Sebagai Bahan Dasar Sintesis Obat-Obatan Steroid. J. Ihsanur. Free Radicals in Biology and Medicine. Oxford. T. M. And O. Surabaya. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Mira Rivai.K. 1999. 2007. Ani Suryani. Trabi.

R. Y. [ 20 Agustus 2009 ]. S and Robert. 1996. Thebtaranonth. Marcus. Florence O. 2001. Marcel Dekker. L. Zat Gizi Antioksidan Penangkal Senyawa Radikal Pangan dalam Sistem Biologis. Natural Extract Using Supercritical Carbon Dioxide.. Kanter. Balai Pustaka. Cambridge. Mikrobiologi. Jakarta. Masika. Fruits and Vegetables. New York. 2002. J. Davies. Antioxidant Properties of the Methanol Extracts of the Leaves and Stems of Celtis Africana. A. I. 19. J. CRC Press. CRC Press. Antioxidant and Antitumour Properties.htm. F. Rajawali Press. Rigelholf. M. Inc. In : Journal.indomedia. S. 39 . Lay. Food Chem. Meskin. W. Miller. Natural Food Antimicrobial System. Pathiranan..Johnson. of Thail. http://www. Kerjasama Pusat Studi Pangan dan Gizi dan Kedutaan Besar Prancis. England. F. Resep Sehat dan Umur Panjang. 1994. 2008.. S.Agric. B. of the Sci. W dan S. Phytochemicals and Antioxidant. Karmas. (+)-marmesin. Antioxidant activity of commercial soft and hard wheat (Triticum aestivum L) as affected by gastric pH conditions. (+)Jatropha. S. S. M. Karyadi. 2000. Chapman & Hall. B. CRC Press. 2433-2440. 2000. E. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Journal of The American Collage of Nutrition. 53. F. South Africa. London. Naidu. M.New York. Prakash. Principles of Solubility and Sollution. CRC Press. Liyana. 1992. London. 1997. Phytochemicals in Nutrition and Health. A.Jimoh. 1992. 3125-3195. A. 2000. Shahidi (2005). Anthony J. E. Nabet. T. Hatowo. Adeolu A. No. Lin. Institut Teknologi Bandung. H. 3. Bandung. Evaluasi Nilai Gizi. Ketaren. Adedapo. Antioxidant Content of Whole Grain Breakfast Cereal. Afolayan and Patrick J. London-New York. Antioksidan. Jakarta. dan Y. 20: 73-83. Bidlack. Mukhopadhyay. Soc. USA.com/intisari/1997/Juni/antioks. W. E. B. 1994. 1985. Marquart. 1989. T. Omaye. Jakarta. J. propacin and jatrophin from the roots of Jatropha curcas (Euphorbiaceae). Naengchomnong. Tarnchompoo.. Vol.

. S. 1693-1831. Phenolic Compounds. A. DC. Institut Teknologi Bandung. Longman Inc. 40 . New Jersey. W. Faculty of Pharmacy. E. 1992. F.org Sikkema. Extraction Methods and Bioautobiography for Evaluation of Medicinal Plant Antimicrobial Activity. Microbiology Concepts and Application. W. New York. La Ode. C. D. Germano. Bogor. Diakses pada tanggal 15 September 2009. Patterson.. Philadelphia.. Bandung. American Chem Soc. 1995. Experients and Technique in Organic Chemistry. 1981. 2. S. Vol.Nostro. Sterilization. 1. Murwani. and M. Lea and Febiger. Cannatdli. Illionis. Kajian Aktivitas Antimikroba Ekstrak dan Fraksi Rimpang Lengkuas (Alpina galanga) Terhadap Mikroba Patogen dan Perusak Pangan . ed. and Krieg. D. A.. Inc. L. Washington. Elsevier applied Science. Disertasi Program Pasca Sarjana Fakultas Teknologi Pertanian.W. M. Prentice Hall. D. E. Unit Corn Mill. Dan B. Inc. T. and Preservation. S. Hudson. Miller. Spices. Natural Antioxidant from Plant Material. E. 59 : 70. Parwati. 1993. Poolman. Scrulla oortiana (Kort) Danser (Loranthaceae). Hal 197-210. Mc Graw-Hill. Institut Pertanian Bogor. 2009. D. Setyowati. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia ISSN. De Bont. J. R. (eds). Penterjemah: Kosasih Padmawinata. E. A. New York. No. J. University of Messina. M. Pasto. 1. A. L. P. Bleaching and Purifying Fats and Oils Theory and Practice. C. and B. H. In : Block. S.Vol. R. Tamat.E. Brown. Simanjuntak. Prindle. J. 1992. N.. R. Robins.B. Rev. American Oil Chemist’s Society. Pengapuran Tanah. P. Marino. Lenny. Green. V. P. Italy. Rahayu. 2004. Chan. Disinfection. www. Suparni. Champaign.. Natural Antioxidants Not Exploited Commercially. New York. 2005. T.F. Pelczar. Microbiol. Robinson. Pratt. Johnson and M. 1995. Mechanism of Membran Toxicity of Hydrocarbons. Pratt. Safuan. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi.J. 1983. 1992.chem-is-try. R. 1999. 1990. G. J.. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Antioksidan dari Ekstrak Benalu Teh. J. Purseglove. Angelo. C. 3rd. S. 2000.

Taher.SNI 01-2891. Kerjasama Pusat Studi Pangan dan Gizi dan Kedutaan Besar Prancis. Food Preservation Techniques. 2006. 41 . 1992. F. 1995. Zeuthen. 2003. Bogor. Balay’s Industrial Oil and Fats Product. R. Jhon Wiley and Son. P. A. CRC Press. 1995.com Swern. F. Cara Uji Makanan dan Minuman. Supari. S. Winarno. M. Jakarta. PT. Sorensen. England. http://amsiku. D. Jakarta.. Wagner. 1996. Gramedia. Bakteri dan Filosfer. Peran Fitoestrogen Kedelai Sebagai Antioksidan dalam Penanggulangan Aterosklerosis. Tim Jarak Pagar RNI. Tesis. Kimia Pangan dan Gizi. Badan Standarisasi Nasional. Suwanto. USA. Effect of Saponin on The Growth and activity of Rizophere Bacteria. E. Cambridge. 1982. CRC Press. Hoagland. G. Jakarta. B. New York. Vol (1) : 308-309. Jarak Pagar Pemicu Kesejahteraan.multiply. C. R. Kalam Indonesia. Radikal Bebas dan Patofisiologi Beberapa Penyakit. 1996. Zablotowitcz. and L. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. 2003.

.

botol timbang dilengkapi dengan pengaduk dan pasir kwarsa/kertas saring berlipat. ulangi pekerjaan ini hingga diperoleh bobot tetap . Sulingkan heksan dan keringkan ekstrak lemak dalam oven pengering pada suhu 105°C. dalam gram b. Prosedur Uji Karakterisasi Bahan Baku a. Ekstrak dengan heksan atau pelarut lemak lainnya selama kurang 6 jam. Perhitungan : Kadar air = w1 – w2 w1 Ket : w1 : Bobot sampel awal. Didinginkan dalam desikator. dalam gram w2 : Bobot sampel akhir setelah dikeringkan. Timbang. kemudian masukkan kedalam alat soxhlet yang telah dihubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya. Kadar Abu (SNI 01-2891-1992) Timbang dengan seksama 2-3 g contoh ke dalam sebuah cawan porselin yang telah diketahui bobotnya. lalu timbang sampai bobot tetap. Keringkan pada oven suhu 105°C selama 3 jam. Sumbat selongsong kertas berisi contoh tersebut dengan kapas. Arangkan diatas nyala pembakar. lalu abukan dalam tanur listrik pada suhu maksimum 550°C sampai pengabuan sempurna (sesekali pintu tanur dibuka sedikit. 42 . Kadar Lemak (SNI 01-2891-1992) Timbang seksama 1-2 g contoh. Untuk contoh berupa cairan. agar oksigen bisa masuk).Lampiran 1. dalam gram : Bobot cawan kosong. Perhitungan : Kadar Abu = w1 – w2 w ket : w w1 w2 : Bobot contoh sebelum diabukan. keringkan dalam oven pada suhu tidak lebih kurang satu jam. dalam gram x 100% x 100% c. masukkan ke dalam selongsong kertas yang dialasi dengan kapas. Kadar Air (SNI 01-2891-1992) Timbang dengan seksama 1-2 g cuplikan pada sebuah botol tertutup yang sudah diketahui bobotnya. Dinginkan dalam desikator. dalam gram : Bobot contoh + cawan setelah diabukan.

Setelah sedikit asam. Karbohidrat (%) = At x ft x 0. ulangi pengeringan ini hingga tercapai bobot tetap.5%. dalam gram d. dan ditambahkan sedikit CH3COOH 3% agar suasana larutan sedikit asam. dalam gram : Bobot labu lemak dan ekstrak. Perhitungan : % Lemak = Ket : w w1 w2 w2 − w1 x100% w : Bobot contoh.90 g dimana : At : Angka tabel Luff Schoorl ft : Faktor pengenceran g : Bobot contoh (mg) x 100 % 43 . Kemudian titar secepatnya dengan larutan thiosulfat (Na2S2O3) 0. dalam gram : Bobot labu lemak kosong. setelah itu didinginkan dan netralkan dengan larutan NaOH 30% (dengan lakmus atau fenolftalin). Kadar Karbohidrat (SNI 01-2891-1992) Timbang seksama lebih kurang 5 g cuplikan ke dalam erlenmeyer 500 ml.Dinginkan dan timbang. Setelah dingin ditambahkan 15 ml KI 20% dan 25 ml H2SO4 25% perlahan-lahan. didihkan selama 3 jam dengan pendingin tegak. dididihkan terus selama tepat 10 menit (dihitung dari saat mulai mendidih dan gunakan stopwatch) kemudian cepat didinginkan dalam bak berisi es. Usahakan agar larutan dapat mendidih dalam waktu 3 menit (gunakan stopwatch). Kadar karbohidrat dihitung dengan menggunakan rumus : K. tambahkan 25 ml larutan Luff Schoorl (dengan pipet) dan beberapa butir batu didih serta 15 ml air suling. Kemudian campuran tersebut dipanaskan dengan nyala yang tetap. pindahkan isinya ke dalam labu ukur 500 ml dan impitkan hingga tanda garis kemudian disaring. Pipet 10 ml saringan ke dalam erlenmeyer 500 ml.1 N dan sebagai indikator digunakan larutan kanji 0. Kemudian ditambahkan 200 ml larutan HCl 3%.

Prosedur Perhitungan Rendemen Ekstrak Ekstrak sampel yang telah dipekatkan kemudian ditimbang.Lampiran 2. Rendemen dihitung berdasarkan % berat kering dengan perhitungan sebagai berikut : Rendemen ekstrak (%) = Berat ekstrak (g) x 100% Berat bahan (g) 44 .

. Setelah itu disimpan diruang gelap pada suhu ruang selama 30 menit. Peredaman (inhibisi) DPPH (%) = Abscontrol – Abssampel x 100% Abscontrol 45 .1-diphenyl-2picrylhidrazil) (Liyana et al. 2005).05 g ekstrak. Prosedur Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode Efek Peredaman terhadap Radikal Bebas DPPH (1. kemudian diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 517 nm.Lampiran 3. 1 ml DPPH 0. Ascorbic acid digunakan sebagai pembanding.135 mM dalam metanol dicampurkan dengan 1 ml ekstrak dalam metanol yang berisi 0.

47 2.28 Rata-rata(%b/b) 6.75 ± 0. Kadar lemak Sampel Biji jarak pagar Ulangan 1 2 1 Batang dan daun jarak pagar 2 1 Kulit buah jarak pagar 2 1. Kadar air Sampel Biji jarak pagar Ulangan 1 2 1 Batang dan daun jarak pagar 2 Kulit buah jarak pagar 1 2 9.58 ± 0.17 Rata-rata(%b/b) 34.45 ± 0. Kadar abu Sampel Biji jarak pagar 2 1 Batang dan daun jarak pagar 2 1 Kulit buah jarak pagar 2 20.21 1.73 20.82 10.93 19.08 20.55 Ulangan 1 Kadar abu (%b/b) 4.74 10.42 2.19 ± 0.49 ± 0.50 Kadar karbohidrat (%b/b) 9. Kadar karbohidrat Sampel Biji jarak pagar Ulangan 1 2 1 Batang dan daun jarak pagar 2 1 Kulit buah jarak pagar 2 18.04 20.75 Rata-rata(%b/b) 4.53 Kadar air (%b/b) 6.73 ± 0.34 7.15 2. Hasil Uji Karakterisasi Masing-Masing Bahan a.31 ± 0.23 Rata-rata(%b/b) 9.04 ± 1.62 c.Lampiran 4.38 ± 0.53 ± 0.74 34.03 1.94 4.64 9.04 7.61 19.45 7.06 b.08 46 .13 9.01 10.14 18.82 9.59 Kadar lemak (%b/b) 34.62 ± 0.82 6.88 ± 0.84 18.16 d.

37 2.26 Batang+daun jarak pagar 111.50 1.75 2.52 19.Lampiran 5.63 0.68 39. Beberapa Mineral yang Terkandung Pada Sampel Bahan mineral Besi (Fe) Seng (Zn) Calsium (Ca) Kalium (K) Magnesium (Mg) Satuan mg/kg b.74 2.26 71.60 0.44 Kulit buah jarak pagar 80.b % % % Biji jarak pagar 162.53 0.04 0.16 47 .08 0.b mg/kg b.

14 1.48 33.13 32.20 ± 0.08 8.16 0.46 0.75 ± 0.98 ± 2.11 5.06 0.62 ± 0.55 1.75 0.65 Rata-rata (% bk/bk) 8.33 9.47 37.33 9.27 ± 1.16 35.84 0.80 ± 0.04 batang+daun jarak pagar Ekstrak etil asetat batang+daun jarak pagar Ekstrak heksan batang+daun jarak pagar Ekstrak metanol dari kulit buah jarak pagar Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak pagar Ekstrak heksan dari kulit buah jarak pagar 48 .96 ± 1.31 34. Nilai Rendemen Ekstrak Masing-Masing Sampel Ekstrak Sampel Ekstrak metanol dari bji jarak pagar Ekstrak etil asetat dari biji jarak pagar Ekstrak heksan dari biji jarak pagar Ekstrak metanol dari Ulangan 1 2 1 2 1 2 1 2 dari 1 2 dari 1 2 1 2 1 2 1 2 Rendemen ekstrak (% bk/bk) 8.59 0.91 ± 0.98 6.23 1.19 0.21 31.09 0.Lampiran 6.36 10.73 5.35 ± 0.83 0.

Lampiran 7.2700 35.000 2 3 4 5 Alpha = .05.976 F 519.929 .590 Sig.1950 9.051 388.1950 8. Ket : Nilai pada subset yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata 49 .000 Subset 1 .054 .826 .9750 1.000 Uji Lanjut Duncan Sampel Ekstrak heksan dari kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak Ekstrak heksan dari batang+daun jarak Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak Ekstrak metanol dari kulit buah jarak Ekstrak metanol dari biji jarak Ekstrak metanol dari batang+daun jarak Ekstrak heksan dari biji jarak Ekstrak etil asetat dari biji jarak Sig.9050 1. Hasil Analisis Annova Rendemen Ekstrak Variabel terikat: Rendemen ekstrak Source Model Ulangan Sampel Error Total Type III Sum of Squares 5073.807 5081.221 .7950 .393 .154 1.050 379.508 .6200 .050 3033.3450 5. N 2 2 2 2 2 2 2 2 2 .930(a) . .000 .738 df 10 1 8 8 18 Mean Square 507.766 7.9600 8.7500 32.

518 0.79 Ekstrak etil asetat dari biji jarak pagar 82.195 0.952 0.10 ± 0.470 Abs control + DEA = 1.201 0.37 82.192 0.359 0.508 0.031 0.95 22.13 75.127 0.82 Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak pagar 23.518 0.15 23. Nilai Aktivitas Antioksidan Masing-Masing Sampel Ekstrak Sampel Ekstrak metanol dari bji jarak pagar Ulangan 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 Plo 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Abs 0.16 54.533 0.Lampiran 8.37 81.850 0.031 0.395 0.106 50 .69 53.472 0.10 Abs control = 1.38 Ekstrak heksan dari biji jarak pagar 55.01 97.029 Peredaman (inhibisi) DPPH (%) 91.44 13.357 0.38 Ekstrak heksan dari batang+daun jarak pagar 53.88 19.951 0.43 95.031 0.09 ± 0.43 Ekstrak heksan dari kulit buah jarak pagar 13.97 ± 1.423 0.42 ± 0.42 ± 1.96 ± 0.953 0.426 0.894 0.03 93.471 0.124 0.89 98.62 ± 0.835 0.069 0.97 ± 0.394 0.420 0.19 Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak pagar 21.471 0.029 0.71 23.891 0.425 0.61 57.32 73.067 0.06 VIT C 2 97.473 0.16 ± 2.427 0.518 0.40 ± 2.502 0.396 0.951 0.126 0.853 0.92 14.842 0.844 0.508 0.83 54.950 0.068 0.205 0.197 0.508 0.198 0.844 0.846 0.427 0.64 Ekstrak metanol dari kulit buah jarak pagar 71.22 70.354 0.07 71.951 0.92 Ekstrak metanol dari batang+daun jarak pagar 74.029 Rata-rata abs 0.887 0.855 0.870 0.

077 .4200 2 53.000 Alpha = .Lampiran 9. 2 13.895 2.000 Uji Lanjut Duncan Sampel N 1 Ekstrak heksan dari kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak Ekstrak heksan dari batang+daun jarak Ekstrak heksan dari biji jarak Ekstrak metanol dari kulit buah jarak Ekstrak metanol dari batang+daun jarak Ekstrak etil asetat dari biji jarak Ekstrak metanol dari biji jarak Sig.063 1.166 .954(a) 2.349 .6150 2 55.1000 2 1.05.000 . Ket : Nilai pada subset yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata 51 .9650 2 3 Subset 4 5 6 2 21.1600 2 23.362 1667.542 2.181 .018 Df 10 1 8 8 18 Mean Square 6650.336 19.4200 2 82.991 699.4000 1.000 .791 Sig. .383 F 2791. Hasil Analisis Annova Aktivitas Antiokasidan Variabel terikat: Aktivitas Antioksidan Source Model Ulangan Sampel Error Total Type III Sum of Squares 66508.063 66528.0850 2 74.362 13340.9650 2 71.000 93.

46 Air 2 0 52 .10 1.2 2.5 11.40 6.28 ± 0.7 12.5 0.9 0.10 ± 0.80 7.2 0.0 7.00 ± 0.75 0 0 11.57 Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak pagar 0.15 ± 0.3 6.1 6.1 8.15 1.4 0 0 0 0 Rata-rata (mm) 12.00 Ekstrak heksan dari batang+daun jarak pagar 7.9 7.25 7.50 7.90 ± 0.25 1.1 0.0 7.10 7.3 8.3 7.7 8.75 8.65 8.2 0.5 0.2 11.5 0.4 0.40 0.78 Ekstrak etil asetat dari biji jarak pagar 2 .6 7.4 0.7 6.43 ± 0.2 8.35 2. Nilai Diameter Zona Penghambatan Terhadap Bakteri Escherichia coli Sampel Ekstrak metanol dari bji jarak pagar Ulangan 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 Plo 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Diameter zona bening (mm) 12.45 11.88 ± 0.18 Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak pagar 0.32 Ekstrak metanol dari batang+daun jarak pagar 8.6 2.3 2.35 Ekstrak heksan dari biji jarak pagar 7.42 Ekstrak metanol dari kulit buah jarak pagar 7.50 ± 0.Lampiran 10.1 6.8 8.8 0.5 8.6 1.13 ± 0.00 0.75 0.55 7.50 0.5 7.18 Ekstrak heksan dari kulit buah jarak pagar 1.1 1.2 3.

765 Df 10 1 8 8 18 Mean Square 75.05.8750 7. Ket : Nilai pada subset yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata 53 .5000 kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari biji jarak Ekstrak heksan dari 2 1.840 277.577 .755 Sig.069 .Lampiran 11.000 Duncan Subset Sampel Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak Ekstrak heksan dari N 1 2 .459 11.000 Alpha = .605 277.059 .8750 2 8. coli Variabel terikat: Aktivitas Antimikroba Source Model Ulangan Sampel Error Total Type III Sum of Squares 755.755 1.000 .1500 2 .000 756. .1250 2 7.9000 1.143 .605 34.719 .1000 2 7.0000 batang+daun jarak Ekstrak metanol dari kulit buah jarak Ekstrak heksan dari biji jarak Ekstrak metanol dari batang+daun jarak Ekstrak metanol dari biji jarak Sig.542 . 2 7.612 4.765(a) .4250 2 2. Hasil Analisis Annova Aktivitas Antimikroba E.125 F 604.2750 2 3 4 5 2 .

25 ± 0.6 8.28 Ekstrak metanol dari kulit buah jarak pagar 7.8 7.67 Ekstrak etil asetat dari biji jarak pagar 2.1 1.8 8.3 7.93 ± 0.25 Ekstrak heksan dari biji jarak pagar 9.15 ± 0.35 ± 0.9 8.6 2.8 1.32 Ekstrak heksan dari batang+daun jarak pagar 7.6 14.35 Ekstrak metanol dari batang+daun jarak pagar 8.50 8.6 0.2 1.43 ± 0.8 8.75 7.48 ± 0.15 8.15 7.35 2.1 0.25 2.4 7.1 8.15 2.60 9.9 14.85 0.30 14.70 1.57 Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak pagar 0.7 6.1 9.5 7.7 2.07 Ekstrak heksan dari kulit buah jarak pagar 2.25 2.3 0.6 10.45 0.5 1.1 2.60 8.15 0 0 14.7 14.6 9.7 0.4 8.45 0.83 ± 0.00 Air 2 0 54 .7 1.65 6.95 ± 0.6 0. Nilai Diameter Zona Penghambatan Terhadap Staphylococcus aureus Sampel Ekstrak metanol dari bji jarak pagar Ulangan 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 Plo 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Diameter zona bening (mm) 15.35 ± 0.9 7.4 2.2 6.8 3.Lampiran 12.5 0.10 9.2 0 0 0 0 Rata-rata (mm) 15.04 Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak pagar 0.

Aureus Variabel terikat : Aktivitas Antimikroba Source Model Ulangan Sampel Error Total Type III Sum of Squares 1012. Ket : Nilai pada subset yang berbeda menunjukkan nilai yang berbeda nyata 55 .9250 N 1 2 .095 .9500 2 8.710 df 10 1 8 8 18 Mean Square 101.492 340.Lampiran 13.137 F 741. Hasil Analisis Annova Aktivitas Antimikroba S.4250 2 7.617(a) .466 .05.478 .3500 2 .8250 1.093 1013.193 1.2500 2 7.067 46.158 .067 371.4750 2 9.000 14.1500 2 .170 Sig.262 .3500 2 3 4 5 6 2 2.503 .730 1.000 .9500 7. . 2 2.000 Alpha = .000 Uji Lanjut Duncan Subset Sampel Ekstrak etil asetat dari kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari batang+daun jarak Ekstrak heksan dari kulit buah jarak Ekstrak etil asetat dari biji jarak Ekstrak metanol dari kulit buah jarak Ekstrak heksan dari batang+daun jarak Ekstrak metanol dari batang+daun jarak Ekstrak heksan dari biji jarak Ekstrak metanol dari biji jarak Sig.316 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.