P. 1
ILMU PELAYARAN DATAR

ILMU PELAYARAN DATAR

4.33

|Views: 3,779|Likes:
Published by ariatman
JIKA INGIN MENDOWNLOAD FILE INI..SILAHKAN MASUK DI BLOG: " http://ariatmancool.blogspot.com/2012/03/ilmu-pelayaran-datar-ilmu-pelayaran.html "
SILAHKAN COMENTAR..NNTI SAYA ENABLE DOWNLOADNYA..TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG...
JIKA INGIN MENDOWNLOAD FILE INI..SILAHKAN MASUK DI BLOG: " http://ariatmancool.blogspot.com/2012/03/ilmu-pelayaran-datar-ilmu-pelayaran.html "
SILAHKAN COMENTAR..NNTI SAYA ENABLE DOWNLOADNYA..TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG...

More info:

Published by: ariatman on Mar 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

11/08/2015

BAB I PENDAHULUAN

Ilmu Pelayaran ialah suatu ilmu pengetahuan yang mengajarkan cara untuk melayarkan sebuah kapal dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan selamat aman dan ekonomis. Disebabkan pengaruh laut, misalnya ombak, arus, angin, maka jarak yang terpendek belum tentu dapat ditempuh dalam waktu yang tersingkat. Dapat saja terjadi bahwa jarak yang panjang adalah pelayaran yang baik ditempuh dalam waktu yang lebih singkat karena dalam pelayarannya mendapat arus dari belakang. Jadi, didalam menentukan pelayaran yang akan ditempuh, kapal haruslah diperhatikan faktor faktor cuaca, keadaan laut, sifat sifat kapalnya sendiri, dan faktor lainya sehingga diperoleh suatu rencana pelayaran yang paling ekonomis dan cukup aman. Secara garis besar ilmu pelayaran dapat dibagi atas : - Ilmu Pelayaran Datar, yaitu Ilmu Pelayaran yang menggunakan benda benda bumiawi (Pulau, Gunung, Tanjung, Suar, dlsb), sebagai pedoman dalam membawa kapal dari satu tempat ketempat lain, - Ilmu Pelayaran Astronomis, Yaitu Ilmu Pelayaran yang menggunakan benda benda angkasa (Matahari, Bulan, Bintang,dlsb), sebagai pedoman dalam membawa kapal dari satu tempat ketempat lain, Navigasi Electronics, Yaitu Ilmu Navigasi yang berdasarkan atas alat alat

elektronika seperti radio pencari arah (RDF). RADAR, LORAN, DECCA, dlsb Namun pada Makalah ini bersifat khusus hanya membahas tentang Ilmu Pelayaran Datar saja.

1

BAB II ILMU PELAYARAN DATAR
A. UKURAN DAN BENTUK BUMI  UKURAN BUMI Ukuran bumi yang berbentuk bulat itu adalah mudah disebut dengan derajat, menit, dan detik ukuran mana lazim dipergunakan untuk mengukur sudut atau panjang busur suatu derajah di bumi. Tetapi dipermukaan bumi untuk pekerjaan sehari-hari juga diperlukan ukuran panjang seperti Kilometer, meter dan sebagainya. Dari hal tersebut diatas maka sangat penting untuk mengadakan hubungan ukuran “lengkung” dan ukuran “memanjang” satu sama lain seperti derajat dan meter, jadi jelasnya mengukur 10 dengan ukuran meter.Pekerjaan tersebut dilakukan dengan menggunakan cara : 1. Penentuan tempat dengan penilikan Astronomis adalah menentukan ? li antara dua buah titik pada derajah yang sama, 2. Pengukuran jarak secara langsung atau cara triangulasi (pengukuran segitiga). Maka pada bumi yang berbentuk bola, dapat dihitung : ? li : 3600 = jarak : keliling Jadi keliling derajah =

BENTUK BUMI Bahwa bumi berbentuk bulat dapat dibuktikan dari keadaan keadaan sebagai

berikut: a. Sebuah kapal berlayar yang datang mendekat, mula mula akan terlihat tiang tiangnya terlebih dahulu, baru nampak anjungannya, kemudian seluruh badan kapalnya, b. Adanya perbedaan waktu dan adanya siang dan malam,

2

c. Jikalau orang berjalan lurus dengan arah yang tetap, maka ia akan tiba kembali ditempat semula, d. Pada waktu terjadi gerhana bulan, terlihat bahwa batas bayangan Bumi di Bulan berbentuk lingkaran, e. Dari hasil-hasil pemotretan satelit, ternyata memang bumi berbentuk bulat. f. Bagian permukaan bumi yang nampak ini menjadi semakin besar, jika penilik berada semakin tinggi.

Gambar 1.1 Bentuk Bumi

3

B. LINTANG DAN BUJUR  LINTANG Lintang adalah busur derajah yang melalui tempat tertentu, dihitung mulai dari katulistiwa sampai jajar tempat tersebut (busur ba). (Lihat gambar 1.3.b.) Jika melihat (gambar 1.3.a) maka dapat disimpulkan bahwa : - Tiap titik di katulistiwa mempunyai nilai Lintang = 00 - Kutub-kutub mempunyai Lintang = 900 - Terdapat dua Lintang yaitu Lintang Utara dan Lintang Selatan yang dihitung dari 0o – 900 - Semua titik pada suatu jajar mempunyai lintang yang sama sebabsemua titiktitik tersebut terletak sama jauhnya dari katulistiwa. Jadi pengukuran lintang harus selalu dimulai dari katulistiwa dan berakhir pada jajar tempat tersebut.

Gambar 1.3.a Lingkaran Besar dan Kecil Bumi

4

Gambar 1.4.b Lintang dan Bujur Pada suatu derajah kita dapat juga mengukur perbedaan lintang dari dua tempat tertentu.(Lihat gambar 1.3.b.) Perbedaan Lintang atau ? li adalah busur derajah, dihitung dari jajarn titik yang satu sampai jajar titik yang lain. Perbedaan lintang disebut juga perubahan lintang. Lintang senama dan tidak senama - Jika dua titik dibumi keduanya terletak di setengah belahan bumi bagian Utara ataupun kedua titik tersebut juga berada di belahan bumi bagian selatan maka lintangnya disebut Lintang senama. (Lihat gambar.1.4.) - Jika dua titik terletak pada setengah belahan bumi yang berbeda artinya satu titik terletak di belahan bumi bagian Utara dan yang satu titik terletak di belahan bumi bagian Selatan maka lintangnya disebut Lintang tidak senama. (Lihat gambar.1.4.)

Gambar 1.4 Perbeaan Lintang

5

Penjelasan Lintang Senama dan Lintang Tidak Senama. Jika dua tempat (titik A dan B) di bumi mempunyai Lintang yang senama misalkan Lintang Utara (LU) maka menghitung perbedaan lintangnya (?li) diperoleh dengan mengurangkan kedua lintangnya satu sama lain. Kemudian jika kedua tempat (titik A dan B) di bumi mempunyai Lintang tidak senama artinya satu tempat/titik A terletak di Lintang Utara (LU) dan yamg tempat/titk B terletak di Lintang Selatan (LS) maka menghitung perbedaan Lintangnya (? li) diperoleh dengan menambahkan kedua Lintangnya. Contoh Perhitungannya. Tempat A = 020 20‟ LU Tempat B = 050 30‟ LU _____________________ _____________________ + ? li = 030 10‟  ? li = 070 50‟ Tempat A = 020 20‟ LU Tempat B = 050 30‟ LS

BUJUR Bujur adalah busur terkecil pada katulistiwa dihitung mulai dari derajah

nol sampai derajah yang melalui tempat itu. Dalam gambar.1.3.b. Busur o-b adalah bujur tempat itu dan semua titik pada derajah nol (derajah yang melalui Greenwich Mean Time (GMT) mempunyai Bujur = 00 Bujur Timur (BT) dan Bujur Barat (BB) Cara menentukan besarnya nilai derajat bujur Timur dan Barat dimulai dari titik perpotongan antara derajah nol (derajah yang melewati Gr.) dan katulistiwa kemudian dititik itu kita berdiri menghadap ke Utara, maka tempattempat yang berada disebelah tangan kanan mempunyai Bujur Timur (BT) dan disebelah tangan kiri mempunyai bujur Barat (BB). Semua titik pada derajah yang sama mempunyai bujur yang sama. Tempat-tempat pada bujur 1800 T = bujur 1800 B. Perbedaan bujur atau ? Bu adalah busur kecil pada katulistiwa dihitung dari derajah titik yang satu sampai derajah titik yang lain. Perbedaan bujur disebut juga perubahan bujur.

6

Bujur senama dan tidak senama - Jika bujur kedua tempat adalah senama, perbedaan bujur (? Bu) Diperoleh dengan mengurangkan kedua bujurnya satu sama lain. - Jika bujurnya tidak senama di dekat derajah nol, maka untuk memperoleh ? Bu kita harus menambahkan kedua bujurnya. - Jika bujurnya tidak senama di dekat bujur 1800 maka ? Bu dapat ditentukan dengan dua cara adalah sebagai berikut : 1. Jumlahkan kedua bujur tersebut dan kurangkan hasilnya dari 3600. 2. Kurangkan tiap bujur dari 1800 dan jumlahkan kedua hasilnya.(Lihat gambar.1.5.) Contoh Perhitungannya : Tempat A1 = 0600 20‟ T Tempat B1 = 0670 50‟ T a. ? Bu = 70 30‟ Tempat A3 = 1780 40‟ T Tempat B3 = 1770 30‟ T c. ? Bu = 30 50‟ Tempat A2 = 020 10‟ T Tempat B2 = 030 30‟ B + b. ? Bu = 50 20‟

Gambar 1.5 Perbedaan Bujur

7

Pada contoh ke 3 perhitungannya dijabarkan sebagai berikut : Cara I : 1780 40‟ + 1770 30‟ = 356010‟ 3600 - 3560 10‟ = 30 50‟ Cara II : 1800 - 1780 40‟ = 10 20‟ 1800- 1770 30‟ = 20 30‟ 1020‟ + 20 30‟ = 30 50‟ Pada penunjukan lintang dan bujur harus selalu diingat bahwa : Lintang dan perbedaan lintang (? li) dapat dibaca pada setiap derajah, tetapi bujur dan perbedaan bujur (? Bu) dapat dibaca hanya pada katulistiwa saja.

8

C. DEVIASI DAN VARIASI  DEVIASI Deviasi adalah sudut yang dibentuk antara utara Magnet dan utara pedoman. Besarnya deviasi dipeta dipengaruhi oleh besi-besi diatas kapal dan sangat tergantung dari haluan pedoman magnet yang dikemudikan. Nilai deviasi dapat diperoleh dari daftar deviasi yang ada diatas kapal Contoh daftar deviasi :

VARIASI Variasi adalah sudut yang dibentuk antara Utara sejati(true north) dan utara

magnet (manetic north). Nilai variasi suatu tempat dibumi dapat dicari : 1. Peta laut 2. Peta variasi 3. Buku kepanduan bahari Besarnya nilai variasi tergantung dari : 1. Tempat 2. Tahun Perubahan nilai variasi sangat lambat dari tahun ke tahun dan nilai perubahan ini dapat kita lihat pada mawar pedoman dipeta :

9

Var‟n 150 W (1970) decreasing about 10΄ annually Var‟n 100 E (1970) decreasing about 5΄ annually Decreasing artinya berkurang dan increasing artinya bertambah Contoh : Var‟n 150 W (1970) decreasing about 10΄ annually . Hitunglah nilai variasi tahun 2008. Jawab :  150 W - { (2008 – 1970) x 10 „ }  150 W - {38 x 10 „}  150 W – 380 „  150 W – 60 20‟  80 W 40‟ Contoh Nilai variasi pada peta laut pada gambar berikut :

Pada mawar pedoman (compass rose) , dimana terdapat 2 buah lingkaran didalam mawar pedoman tersebut. Pada lingkaran bagian luar menunjukkan arah utara sejati sedangkan lingkaran bagian dalam menunjukkan utara magnet Nilai variasi (+)/East apabila utara magnet berada disebelah timur dari utara sejati Nilai variasi (-)/West apabila utara magnet berada disebelah barat dari utara sejati

10

D. PENENTUAN POSISI KAPAL Penentuan posisi kapal dapat dilakukan dengan : 1. Menggunakan satelit navigasi (GPS, SATNAV, LORAN) 2. Menggunakan baringan : a. Baringan benda-benda darat (termasuk benda yang dilaut) 1) Satu benda dibaring sekali : Baringan dengan jarak

-

Baringan dengan peruman

11

2) Satu benda dibaring dua kali Baringan dengan geseran

-

Baringan sudut berganda Baringan empat surat Baringan istimewa

3) Dua benda dibaring Baringan silang

-

Baringan silang dengan geseran Baringan dengan pengukuran sudut dalam bidang datar

12

4) Tiga benda dibaring Baringan silang dan baringan pemeriksa

5) Baringan benda-benda angkasa Azimuth dan arah garis tinggi (agt)

13

E. ESTIMASI TIBA ( Estimate Time Arrival ) MENGHITUNG ESTIMATE TIME ARRIVAL Untuk menghitung ESTIMATE TIME ARRIVAL (ETA) harus diperhatikan halhal sebagai berikut : 1. Estimate time departure (ETD) 2. Total Jarak (Total distance) 3. Kecepatan rata-rata Kapal (Average speed Kapal) 4. Perbedaan waktu antara pelabuhan tolak dan pelabuhan tiba. Informasi ETD kapal dapat diperoleh dari Nahkoda, agen atau Kepanduan, sedangkan Total jarak dapat diperoleh dari data-data passage planning yang telah dibuat. Dalam menentukan kecepatan rata- rata kapal harus diperhitungkan faktor lain diantaranya arus, angin maupun keadaan cuaca yang akan dialami selama pelayaran. Untuk memperoleh keterangan penggunaan waktu standard time dari tiap-tiap Negara (pelabuhan tujuan) dapat menggunakan buku-buku diantaranya: a. Guide to port entry b. Almanac nautika c. Admiralty List of radio Signals Untuk menyeragamkan waktu yang digunakan dilaut oleh kapal-kapal maka digunakan Uniform time system yaitu berdasarkan area (150) yang dibatasi oleh garis-garis bujur hal ini bertujuan agar ada kesamaan antara waktu yang digunakan dikapal dengan waktu didarat pada area yang sama. Pembagian waktu didunia ini dibagi menjadi 24 zone time. Dimulai dari zone 0 sebagai pusatnya adalah Garis Greenwich meridian (Zone 0 = 7.50 W s/d 7.50 E)

14

BAB III PENUTUP
 KESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat disimpulkan bahwa:

Ilmu Pelayaran Datar, yaitu Ilmu Pelayaran yang menggunakan bendabenda bumiawi (Pulau, Gunung, Tanjung, Suar, dlsb), sebagai pedoman dalam membawa kapal dari satu tempat ketempat lain  SARAN
Saran saya sebagai penulis mudah-mudahan dengan adanya makalah ini selain sebagai sumber informasi tentang Ilmu Pelayaran Datar juga sebagai bahan tambahan referensi bagi para pembaca agar pembuatan makalah selanjutnya jauh lebih baik lagi.

15

DAFTAR PUSTAKA     Modul : “Ilmu Pelayaran Datar” oleh Balai Pendidikan Dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Buku Jilid 1 : “Nautika Kapal Penangkap Ikan” oleh D. Bambang Setiono Adi, dkk Search Google : “Ilmu Pelayaran Datar” http://www.maritimeworld.web.id/2011/06/ilmu-pelayaran-datar.html

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->