EKSISTENSIALISME SOREN KIERKEGAARD DALAM NOVEL “JATUH” KARYA ALBERT CAMUS Nama : Nensy Megawati Simanjuntak

A. Pendahuluan Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun. Novel berasal dari bahasa Italia, yaitu novella „berita‟. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perobahan nasib pelaku. lika roman condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus. Eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat dewasa ini yang pengaruhnya sangat luas. Aliran ini berhasil meninggalkan menara gading filsafat sendiri dan meresapi banyak bidang di luar filsafat seperti: psikologi, seni lukis, sastra, drama, dan sebagainya.

Eksistensialisme muncul setelah Perang Dunia II. Di antara para tokohnya, dapat disebutkan nama-nama seperti: Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Nietzche, Kierkegaard, Sartre, dan lain-lain. Di antara mereka, kita masih membeda-bedakan macam-macam eksistensialisme (religius-humanis, kristiani, ateis). Pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret, lokal, dan bukan manusia abstrak, konseptual, universal, sebagaimana dimengerti oleh filsafat abad-abad yang silam. Perang Dunia membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan konkret. Oleh karena itu, permenungan rasionalitas Descartes yang menegaskan “Saya berpikir maka saya ada” segera dibalikkan oleh para pemikir eksistensialis dengan pernyataan “Saya ada, maka saya berpikir. Menurut Iqbal dalam bukunya yang berjudul Eksistensialisme, eksistensi manusia ditunjukkan dalam kegiatan pengambilan keputusan manusia. Sebuah kegiatan yang merupakan tindakan yang amat menentukan, memungkinkan merasakan sesuatu secara mendalam (eksistensi). Suatu peristiwa tatkala manusia harus memilih beriman atau tidak beriman menyadarkan bahwa manusia itu sendiri yang harus menentukan pilihan dan bukan karena instuisi agama yang menghendakinya atau rasionalitas yang menghendakinya, bahkan Tuhan sekali pun, melainkan “aku” sendiri menghendakinya: “Kesenangan-kesenangan saya, kepedihan-kepedihan saya dan kehendak-kehendak saya adalah kepunyaan saya semata-mata (eksklusif), merupakan bagian dari yang tak terpisahkan dari diri pribadi saya sendiri. Perasaan-perasaan saya, kebencian-kebencian saya, kecintaan-kecintaan saya, pertimbangan-pertimbangan, dan keputusan-keputusan saya adalah kepunyaan saya semata-mata. Tuhan sendiri tidak dapat merasakan, mempertimbangkan, dan memilih saya bilamana lebih dari satu jalan bertindak ada terbuka buat saya” (Iqbal Muhammad, 2003:32-33).

B. Eksistensialisme Soren Kierkegaard Soren Kierkegaard (1813-1855), yang dikenal sebagai Bapak Eksistensialisme, menekankan pembahasannya pada peran individu yang otonom dan menolak segala bentuk pengelompokan masyarakat. Tekanan pada pribadi sangat menonjol dalam pemikiran Kierkagaard, sehingga dia dianggap sebagai orang pertama yang merumuskan

eksistensialisme dengan tepat. Eksistensi manusia, dalam pemikiran Kierkegaard, digambarkan sebagai proses “kebelumselesaian” dan perjuangan keberadaan manusia: manusia sedang dalam perjalanan menuju keberadaanya yang sejati ddan otentik. Menurutnya, setiap orang wajib memutuskan sendiri mengenai “cara” bereksistensi. Eksistensi bukanlah sesuatu yang sudah selesai, tetapi suatu proses yang terus-menerus melalui tiga tahap, yaitu dari tahap eksistensi estetis kemudian ke tahap eksistensi etis, dan selanjutnya melakukan lompatan ke tahap eksistensi religious sebagai tujuan akhir manusia. Dalam hal ini William Rubben mengatakan: “Tahap akhir dari eksistensi Kierkegaard adalah tahap ketiga dari kehidupan spiritual yang ia alami, seperti halnya dialami oleh manusia religious lainnya: tahap estetik, tahap etis, dan tahap religious”. Dilihat dari kondisi manusia, menurut Kierkegaard, jiwa manusia berada dalam pengasingan yang permanen dari Tuhan. Jika mempelajari jiwa manusia, katanya, akan ternyata bahwa manusia merana oleh karena pengasingan dari Tuhan dan karena terjerumus ke dalam kehinaan. Manusia mendapatkan dirinya di dunia yang bukan buatannya. Dia menemukan dirinya terpisah dari kekuasaan atau prinsip yang melahirkan dunia dan oleh karena itu merasa diasingkan. Menurut Kierkegaard, pengasingan ini tidak dapat disembuhkan dengan jalan perubahan social. Dia tidak menentang peerubahan-peerubahan sosial, tetapi itu bukan hal yang terpenting.

Pengasingan insar berakar dalam dirinya sendiri. Kalau ia melihat dunia, ia tidak akan merasa senang di dalamnya sampai ia dapat melahirkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan ia akan menderita suatu rasa kecemasan, suatu rasa angst, suatu rasa putus asa yang sedemikian dalam, sehingga tidak mungkin disembuhkan dengan analisis apa pun, apakah dengan analisis logis atau dengan psikoanalisis dan psikologis, karena ia merupakan suatu kehausan metafisik yang harus dipersatukan lagi dengan sumber dari kepribadian orang dengan melalui tiga tahap eksistensi. Manusia bisa hidup dalam alam keindahan, hidup demi keindahan, dan berusaha mengatur kehidupannya untuk mengejar keindahan. Menurut Kierkegaard hal ini tidaklah cukup, tidak serius; dan orang-orang demikian akan menjadi orang yang suka main saja. Hidup dalam tahap ini bagaikan hidup dalam impian dan tidak bisa memuaskan kehausan metafisik karena ia harus mengambil keputusankeputusan. Jika manusia harus mengambil keputusan, ia hidup dalam dunia yang nyata, ia hidup dalam alam pengalaman, yaitu alam etik. Dalam alam ini manusia akan berusaha mengerjakan perbuatan yang benar dan mencoba menjalankan kehidupan dengan baik. Tetapi, sekalipun ia berusaha melakukan hal yang benar dan ia bertanya pada diri sendiri mengapa ia hidup demikian, maka apa pun penjelasan tentang prinsip moral, ia tidak puas. Ia tidak menemukan dasar dari pengalamanya. Akhirnya, kata Kierkegaard, hanya jika seseorang melompat ke dalam alam mutlak bila ia berusaha kembali ke Tuhan, ia akan bisa membebaskan diri dari rasa pengasingan itu. Tetapi, bila ia melompat kembali ke Tuhan, ia tidak dapat membenarkannya atas dasar logika atau atas dasar kecerdasan. Sebaliknya, jika ditanyakan padanya mengapa ia harus hidup atas dasar kecerdasan, ia juga tidak bisa membenarkannya. Pada akhirnya, jika seseorang memutuskan untuk hidup atas dasar kecerdasan atau hidup dengan cara lain atau bila ia memutuskan untuk menerima suatu pandangan keagamaan, maka ia tidak akan bisa memberikan suatu dasar yang objektif. Puncak pertualangan pemikiran Kierkegaard berakhir

pada Zat Yang Mutlak, yaitu Tuhan. Tuhan baginya merupakan tempat untuk menyerahkan segala kesejatian dan hidupnya.

C. Eksistensialisme Jean-paul Sartre dalam Novel “Jatuh” Karya Albert Camus

Novel yang berjudul Jatuh karya Albert Camus adalah novel terakhir yang beliau hadirkan ke kehidupan masyarakat. Awalnya, Beliau hanya ingin merangkainya ke dalam bentuk cerita pendek atau cerpen, namun dengan sedikit sentuhan lembut dari beliau maka terciptalah sebuah prosa baru atau novel. Sebuah novel yang di dalamnya terdapat banyak keunikan, salah satunya menggunakan subjek “Saya” dan “Anda”. Hampir pada setiap karyanya, Camus menunjukkan eksistensisnya sebagai manusia. Banyak penghargaan yang telah diperoleh beliau melalui karya-karyanya. Cerita yang dibuat sungguh menarik, bahkan dibutuhkan keahlian khusus dalam membacanya. Karya-karya Camus tidak dapat dibaca secara ekstensif namun harus dibaca secara intensif. Pada kali ini, kajian eksistensi akan secara khusus diperbincangkan dalam karyanya yang berjudul Jatuh. Bukti-bukti kajian eksistensi pada novel “Jatuh” antara lain: 1. “Saya adalah seorang pengacara di Paris. Saya seorang pengacara yang cukup ternama. Tentu saja sekarang ini saya tidak memberitahukan nama asli saya pada Anda”. (kutipan teks novel halaman 19) Pada kutipan di atas, sebagai pembuka, Camus menggambarkan subjek “Saya” dalam ceritanya sebagai seorang pengacara yang cukup ternama, namun ia enggan mengutarakan identitasnya. Seakan-akan ia membuat pembaca bertanya mengapa harus ditutupi, toh katanya pengacara ternama? Sebuah awal dimana subjek “Saya” bercerita tentang dirinya, namun belum secara gamblang.

2. “Saya curahkan segenap hati saya dalam bekerja. Orang-orang benar menyangka bahwa keadilan tidur bersama saya setiap malam”. (kutipan teks novel halaman 20) Pada bagian ini, subjek “Saya” mengungkapkan bahwa dirinya bekerja dengan segenap hati, sampai-sampai ia berhasil memikat hati orang-orang di sekitarnya. Ia berhasil membangun sebuah pemikiran mengenai dirinya di hati orang-orang di sekitarnya. Orang-orang berpikir bahwa keadilan ada dalam dirinya. 3. “Keadaan saya membuat orang lain sangat iri”. (kutipan teks novel halaman 22) Melalui kutipan di atas, subjek “Saya” secara gamblang menyatakan bahwa orang lain iri dengan keadaannya. Keadaan seperti apa yang dimaksud? Akan dijelaskan pada kutipan berikutnya. 4. “Anda dapat menilai kepuasaan hati saya. Saya menikmati sifat asli diri saya dan kita semua tahu bahwa itulah hakikat kebahagiaan....”. (kutipan teks novel halaman 23) Dari kutipan ini, subjek “Saya” mulai memunculkan eksistensinya sebagai manusia. Ia menyatakan bahwa dirinya menikmati sifat asli yang ada pada dirinya. Tak hanya itu saja, ia juga merumuskan bahwa itulah hakikat kebahagiaan, dimana seseorang menikmati sifat-sifat asli yang melekat pada dirinya. 5. “Untunglah profesi saya yang dulu dapat memuaskan hasrat pada tempat di puncak itu. Profesi ini menghilangkan dari diri saya segala kepahitan yang berkenaan dengan sesama manusia yang terhadapnya saya selalu merasa ikut bertanggungjawab. Padahal sebenarnya itu semua sama sekali tidak pernah sungguh-sungguh merupakan tanggungjawab”. (kutipan teks novel halaman 30) Pada bagian ini, subjek “Saya” memuaskan hasrat di tempat pekerjaannya dulu, yakni sebagai pengacara. Ia juga menyatakan bahwa melalui pekerjaannya, ia dapat menghilangkan

kepahitannya dengan sesama. Dengan kata lain, ia muak dengan sesama manusia. Hal ini terbukti adanya eksistensi diri yang kuat dalam diri subjek “Saya”. Subjek “Saya” menginginkan hanya ada satu subjek dalam kehidupannya, yakni dirinya saja. Ia tidak mau ada subjek lain dalam kehidupannya selain dirinya, bahkan ia juga tidak mau dijadikan objek dalam kehidupan orang lain. Dalam teori eksistensi Sartre, hubungan dengan sesama bersumber pada tatapan pengobjekan yang mengandung konflik. 6. “... hidup dalam kewenangan langsung? Itulah hidup saya”. (kutipan teks novel halaman 32) Tidak hanya itu saja, subjek “Saya” menginginkan kebebasan yang luar biasa. Ia menggambarkan bahwa ia hidup dalam kewenangan yang ia ciptakan sendiri. Kerajaan yang dibangun olehnya dan dipimpin oleh dirinya sendiri. Ia eksis dalam dunia yang ia ciptakan. Disinilah hukum eksistensi mulai berlaku. 7. “Saya akan berhenti agar Anda tidak curiga saya melebih-lebihkan diri sendiri”. (kutipan teks novel halaman 33) Subjek “Saya” mengatakan bahwa ia akan berhenti agar pembaca tidak curiga bahwa ia sedang melebih-lebihkan dirinya. Namun, apa yang terjadi subjek “Saya” tidak pernah berhenti mengeksiskan dirinya, ia terus bercerita tentang dirinya, tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang dirinya, yang ia tahu ia hidup dengan konsep yang ia ciptakan. Seakan-akan kehidupan ini hanya berisi tentang dirinya. 8. “Ya, sedikit sekali manusia yang lebih alamiah dibandingkan saya. Persetujuan saya dengan kehidupan telah total. Saya menerimanya apa adanya, dari atas sampai ke bawah, tanpa sama sekali menolak ironi-ironinya, keagungannya, maupun ikatanikatannya, terutama berupa daging, materi, atau dalam satu kata, fisik, yang membuat

sekian banyak orang kebingungan atau putus asa, baik dalam asmara ataupun kesendirian. Bagi saya, tubuh memberi kebahagiaan yang seimbang, tanpa memperbudak saya. Dari situlah datangnya keselarasan dalam diri saya....”. (kutipan teks novel halaman 53) 9. “Dengan rendah hati saya perlu akui, Sobat, bahwa saya senantiasa terlalu bangga. Aku-Aku-Aku, itulah reffrain hidup saya yang indah dan tersebar di semua perkataan saya. (kutipan teks novel halaman 58) Melalui dua kutipan di atas, yakni kutipan nomor sembilan dan sepuluh, kita dapat menarik kesimpulan bahwa eksistensi telah terjadi pada subjek “Saya”. Ia bangga dengan dunia yang ia ciptakan sendiri. Bahkan ia berkata bahwa reffrain kehidupannya berisi hanya tentang Aku-Aku-dan Aku. Sebuah ritem yang sesuai dengan pola eksistensis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful