SEMIOTIK PIERCE DALAM KUMPULAN PUISI “DALAM RAHIM IBUKU TAK ADA ANJING” KARYA AFRIZAL MALNA Nama

: Nensy Megawati Simanjuntak

A. Pendahuluan Perpuisian Indonesia modern sejak kelahiran dan pertumbuhannya mengenal pelbagai pencapaian estetika yang ditunjukkan oleh Muhammad Yamin, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, dan lain-lain. Pencapaianpencapaian estetika itu merepresentasikan tanggapan penyair atas realitas dan memberi pengaruh terhadap penyair-penyair lainnya. Kehadiran Afrizal Malna sebagai seorang penyair menjadi suatu legitimasi bahwa wacana sastra dan perpuisian Indonesia modern tumbuh dengan dinamis. Toda (1998: 112) menilai bahwa puisi-puisi Afrizal Malna dari periode tahun 1980-an berada dalam alur pencapaian estetika Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri. Afrizal Malna dalam pencapaian estetikanya sanggup memberi artikulasi dan konstruksi lain dari pengaruh-pengaruh perpuisian Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri. Pencapaian estetika Afrizal Malna adalah konsep estetika massal, pembentukan dunia benda-benda, penggeseran aku-lirik menjadi aku-massa, rekayasa semiotika, dan jejaring seni multimedia. Pencapian estetika itu menjadi bukti posisi penting dan pembaharuan Afrizal Malna dalam perpuisian Indonesia modern. Proses kreatif Afrizal Malna sejak tahun 1980-an dalam perumusan dan konkretisasi konsep-konsep estetikanya menjadi perhatian besar dalam

pertumbuhan puisi Indonesia modern. Rampan (2000b: xl-xli) menilai bahwa estetika massal Afrizal Malna yang unik dalam sejarah sastra Indonesia menunjukkan bahwa sumber keindahan itu berada di tengah massa. Afrizal Malna menghadirkan bahan dan bentuk yang orisinal dalam tataran estetika yang berbeda dengan Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri. Afrizal Malna menghadirkan puisi-puisi dengan keunikan dan kekuatan berbeda dari konvensi puisi lirik dan eksperimental yang ditekuni penyair-penyair pada tahun 1970-an sampai 1990-an. Proses kreatif Afrizal Malna dimanifestasikan dalam buku puisi Abad yang Berlari (1984), Yang Berdiam dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1998), dan Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002). Sarjono (2001: 185) menyebut Afrizal Malna sebagai penyair autentik dan menarik selama tahun 1980-an dan 1990-an yang banyak ditiru dan dibicarakan, tetapi kurang dianalisis dan dibahas dengan semestinya. Legitimasi terhadap Afrizal Malna sebagai pemimpin literer puisi dan sastra dalam Angkatan 2000 yang ditunjukkan Rampan (2000b: xxxviii) membuktikan bahwa Afrizal Malna melakukan pencapaian estetika baru dalam perpuisian Indonesia modern. Pencapaian estetika Afrizal Malna itu memberikan pengaruh yang kuat pada penyair-penyair lain yang disebut debgai fenomena puisi Afrizalian. Afrizal Malna menyadari bahwa dalam proses kreatif menulis puisi sebagai praktik semiotika dipengaruhi oleh cara berpikir dengan gambar dan pengolahan kata untuk pembebasan dari konvensi bahasa. Proses kreatif Afrizal Malna menjadi realisasi tanggapan kritis terhadap kondisi modernitas yang dipengaruhi oleh pemikiran posstrukturalis dan posmodernisme. Pencapaian estetika Afrizal Malna menjadi bukti posisi dan relasi puisi dengan arus modernitas.

Pembacaan semiotik terhadap puisi-puisi Afrizal Malna mengungkapakan makna kritik modernitas yang meliputi persoalan: (1) Urbanisasi dan Utopia; (2) Kapitalisme dan Kecemasan; (3) Asia dan Ekspansi Kapitalisme; (4) Kapitalisme dan Eksploitasi (Tubuh) Perempuan; (5) Kapitalisme, Konsumerisme, dan Gaya Hidup; (6) Kolonialisme dan Ekspansi Kapitalisme; (7) Rumah dan Citraan Modern; (8) Identitas, Budaya Massa, dan Kapitalisme; (9) Modernitas dan Eksistensi Manusia; (10) Perempuan, Tradisi, dan Modernitas; (11) Komunikasi dan Alienasi; (12) Bunuh Diri dan Televisi; (13) Peradaban dan Praktik Teknologi Modern; (14) Kota, Pembangunan, dan Kapitalisme Kata Kunci: kritik modernitas, semiotika, kapitalisme

B. Semiotik Pierce Semiotik Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti „tanda‟ atau „sign‟ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotics is usually defined as a general philosophical theory dealing with the production of signs and symbols as part of code systems which are used to communicate information. Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (all signs or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses) as they form code systems which systematically communicate information or massages in literary every field of human behaviour and enterprise. (Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan

produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda- tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia). Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda yang disebutnya sebagai representamen haruslah mengacu (atau: mewakili) sesuatu yang disebutnya sebagai objek (acuan, ia juga menyebutnya sebagai designatum, denotatum, dan dewasa ini orang menyebutnya dengan istilah referent). Jadi, jika sebuah tanda mewakili acuannya, hal itu adalah fungsi utama tanda itu. Misalnya, anggukan kepala mewakili persetujuan, gelengan kepala mewakili ketidaksetujuan. Agar berfungsi, tanda harus ditangkap, dipahami, misalnya dengan bantuan suatu kode (kode adalah suatu sistem peraturan dan bersifat transindividual). “Sesuatu” yang dipergunakan agar sebuah tanda dapat berfungsi disebutnya sebagai ground. Proses pewakilan tanda terhadap acuannya terjadi pada saat tanda itu ditafsirkan dalam hubungannya dengan yang diwakili. Hal itulah yang disebutnya sebagai interpretant, yaitu pemahaman makna yang timbul dalam kognisi (penerima tanda) lewat interpretasi. Proses pewakilan itu disebut semiotik atau semiosis. Semiotik adalah suatu proses di mana suatu tanda berfungsi sebagai tanda, yaitu mewakili sesuatu yang ditandainya (Hoed, 1992: 3). Sesuatu tak akan pernah menjadi tanda jika tidak (pernah) ditafsirkan sebagai tanda. Jadi, proses kognisi merupakan dasar semiotik, karena tanpa hal itu semiotik tak akan terjadi. Proses semiotik yang menuntut kehadiran bersama antara tanda, objek, dan interpretant itu oleh Peirce disebut sebagai triadik. Proses semiotik dapat terjadi secara terus-menerus sehingga sebuah interpretant menghasilkan tanda baru yang mewakili objek yang baru pula dan akan menghasilkan interpretant yang lain lagi.

Dalam karyanya, Afrizal Malna selalu menggunakan tanda-tanda tertentu untuk mengungkapkan sesuatu yang terselubung. Bahkan tanda-tanda tersebut berbeda jauh dari kenyataan atau sesuatu yang dimaksud. Dalam bukunya yang berisi kumpulan puisi dengan judul “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”, Malna menggunakan banyak sekali simbol. Sebuah lambang atau simbol yang memiliki makna tertentu dan makna tersebut sangat berarti terhadap kandungan isi puisi. Dalam teori Semiotik aliran Peirce, ada tiga tahap untuk mengemukakan pemaknaan suatu tanda. 1. Kepertamaan (firstness) Secara sekilas, ketika melihat judul buku kumpulan puisi karya Afrizal Malna yakni “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”, kita akan berpikir bahwa buku yang berisi kumpulan puisi ini akan bercerita tentang rahim dan anjing. Kita akan berpikir apa hubungan rahim dengan anjing, dari judul tersebut kita akan berlogika bahwa tidak mungkin ada anjing dalam rahim ibu kita. Sebuah makna belum ditemukan pada tahap pertama ini.

2. Tahap kekeduaan (secondness) Pada tahap ini, tanda dimaknai secara individu. Ketika orang awam membaca judul buku yang berisi kumpulan puisi ini, mereka pasti akan berpikir seperti pemikiran pada tahap pertama. Namun hal itu tidak berlaku bagi orang yang pernah atau telah belajar tentang bahasa dan puisi. Secara pribadi ketika saya membaca judul buku yang berisi kumpulan puisi itu “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”, saya akan berpikir bahwa Ibu dan Anjing memiliki makna khusus bukan makna sebenarnya. Proses pencarian makna khusus tersebut harus melalui tahap ketiga, makna akan dicari pada tahap ketiga.

3. Tahap keketigaan (thirdness) Pada tahap ini, tanda dimaknai secara kovensi, yang artinya sebuah makna yang disepakati oleh pembaca dengan karya sastra, atau karya sastra dengan pengarang, bahkan pembaca dengan pengarang. Sebuah kesepakatan yang dibangun guna menciptakan sebuah keutuhan makna. Sebuah keutuhan yang tidak bisa ditawar lagi oleh pihak lain, sebuah kesepakatan yang disepakati oleh semua pihak. Dalam tahap ini, pembaca telah membaca naskah drama secara intensif guna menemukan sebuah pemahaman yang mendalam. Pada tahap ketiga, sebuah makna khusus telah tercapai lewat proses membaca intensif. Pembaca mulai mengerti makna dari setiap simbol yang digunakan pengarang dalam membangun puisinya.

C. Semiotika Kumpulan Puisi “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing” karya Afrizal Malna Dalam bukunya yang berjudul “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”, Afrizal Malna mencoba mengungkapkan banyak hal. Bahkan ungkapan-ungkapan tersebut merupakan kritikan terhadap keadaan kehidupan politik dan sosial. Banyak sekali simbol yang digunakan oleh Malna dalam mendirikan bangunan puisinya. Gaya bahasa yang digunakan juga beraneka ragam, irama bahasa cukup menarik dengan melibatkan beberapa majas dalam penyajian pusinya. Dalam kesempatan kali ini, penulis akan menyajikan ulasannya mengenai kumpulan puisi Afrizal Malna lewat salah satu bukunya yang berjudul “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing”.

1. Kutipan Puisi yang Berjudul “Enam Paragraf dari Ibu‟, Paragraf 1: Sekolah Telah Terbakar (Halaman 1) Pada puisi ini terdapat kata-kata yang menarik, yakni “bangsa yang menyimpan gergaji di lehernya”. Makna “gergaji” pada kalimat tersebut bukan merupakan alat untuk memotong kayu, atau mengergaji bahan bangunan lainnya, akan tetapi makna gergaji dalam kalimat tersebut adalah luapan emosi, keadaan yang membuat masyarakat Indonesia merasa mati dalam kehidupan, merasa digergaji kehidupannya oleh kaum kuat, kaum kaya, kaum yang memiliki kewenangan. 2. Kutipan Puisi yang Berjudul “Enam Paragraf dari Ibu‟, Paragraf 2: Awas Tombol Listrik Negara (Halaman 1) Pada puisi yang berjudul “Awas Tombol Listrik Negara”, terdapat kalimat yang menarik, yakni: “Perusahaan listrik negara sedang melahirkan seorang raksasa buta dalam sebuah tombol”, “rakyat menjadi api”, “tangisannya menjadi api”. Makna dari kata “raksasa buta”, “api”, “sebuah tombol” bukan makna sebenarnya, itu semua hanya simbol yang digunakan pengarang dalam

membangun puisnya. Raksasa buta merupakan pejabat pemerintahan yang tidak bisa melihat bagaimana keadaan rakyatnya, yang ia tahu hanya bagaimana membesarkan dirinya hingga tampak seperti raksasa, seorang raksasa yang mampu menindas hak-hak rakyat demi memperoleh keuntungan individu semata. Tombol merupakan cerminan sebuah tradisi bangsa kita, dimana memilih seorang pemimpin layaknya hanya menekan tombol, sebuah tombol yang merupakan lambang dari nepotisme, korupsi. Tombol yang dihasilkan bukan dari kejujuran, melainkan tombol yang bergantung pada siapa yang akan menekannya. Api

merupakan lambang dari amarah, letupan emosi rakyat yang tak mampu tersampaikan, rakyat hanya bisa diam meratapi kehidupannya dalam api kesedihan. 3. Kutipan Puisi yang Berjudul “Manajemen Kota dari Telur Busuk” (Halaman 12). Puisi ini mneceritakan mengenai pembangunan kota yang berasl dari telor besok. Di dalam puisi ini ada kalimat menarik, yakni “Sebuah manajemen kota dari telor busuk, setiap hari meleleh dari mulutmu”. Makna dari telor busuk adalah pejabat atau aparat pemerintahan yang membangun kota bukan untuk kesejahteraan rakyat melainkan untuk kesejahteraannya sendiri. Pembangunan kota yang dilandasi dengan berbagai macam unsur kebusukan, kebusukan yang baunya benar-benar tidak bermoral. Kerusuhan terjadi dimana-dimana, rakyat terpanggang dengan segala macam bentuk kerusuhan, ketidakadilan, kekuasaan, dan tipu muslihat yang menyiksa. 4. Kutipan Puisi yang Berjudul “Kereta yang Berjalan di Atas Tempat Tidur” (Halaman 9) dan kutipan puisi yang berjudul “Bebek dan Angsa Bermainmain di Punggungku” (Halaman 41). Ada beberapa dari sejumlah puisi Malna yang isinya mengenai perempuan, lebih tepatnya lagi eksploitasi perempuan, diantaranya ada “Kereta yang Berjalan di Atas Tempat Tidur” dan “Bebek dan Angsa Bermain-main di Punggungku”. Puisi- puisi tersebut bercerita mengenai perilaku lelaki terhadap kaum wanita. Perilaku lelaki yang tidak memperlakukan wanita seenak mereka, semena-mena dan tidak berperikemanusiaan. Dalam puisi yang berjudul “Kereta yang Berjalan di Atas Tempat Tidur” terdapat kalimat “hari ini tubuhnya berwarna biru, besok merah jambu...”. Kalimat tersebut menjelaskan ada bebeapa karakter lelaki yang

suka melakukan tindakan kekerasan kepada perempuan. Lelaki yang hanya menganggap wanita sebagai tempat atau ajang pelampiasan nafsu mereka. Setelah dipakai, mereka dipukul atau dibuang begitu saja. Makna keret, bebek, dan angsa merupakan lambang dari kaum pria, sedangkan makna tempat tidur dan punggungku merupakan lambang dari kaum wanita. 5. Kutipan Puisi yang Berjudul “Pembunuh Rumah” (Halaman 28). Pada puisi yang berjudul “Pembunuh Rumah” ada sebuah kalimat yang dinyatakan berulang kali, seakan-akan kalimat itu ingin ditegaskan oleh pengarang kepada pembaca, kalimat itu adalah “Tapi masih adakah rumah dalam rumahmu”. Bila kita telusuri dan baca dengan seksama, puisi ini berisi mengenai televisi. Hal ini dapat dibuktikkan melalui kalimat “Aku nyalakan tv, seperti menyalakan tombol diktator yang memiliki seluruh diriku”. Makna dari diktator disini adalah televisi itu sendiri. Banyak sekali anak-anak yang terkapar di tangan diktator, mereka hanyut dengan dunia televisi sehingga banyak sekali kebiasaan baik dari diri mereka yang direnggut akibat seringnya melihat televisi. Tidak hanya anakanak, orang dewasa juga banyak yang jadi korban akibat iklan, kata-kata, atau tontonan yang televisi tawarkan. Bimbingan orang tua saja tidak cukup dalam menangani masalah ini, diperlukan kesadaran yang tinggi bagi para pengusaha televisi, ahli iklan, sutradara, atau lembaga yang berhubungan dengan

pertelevisian dalam mengudar atau mengurai hasil karya, aturan yang mereka sepakati. Penikmat televisi juga harus pandai-pandai dalam menyaring tontonan yang akan mereka tonton. Pengarang ingin menyampaikan kritikannya terhadap kehidupan politik dan sosial melalui puisi-puisi yang dibuatnya .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful