You are on page 1of 17

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya lah sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah ini, yang berjudul : HUKUM ADAT DIPANDANG SEBAGAI SUATU GEJALA SOSIAL YANG HIDUP DI DALAM MASYARAKAT Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Adapun tujuan dari penyusunan Makalah ini adalah untuk memperoleh nilai Mid dan juga merupakan mahasiswa. Dengan pihak yang terselesaikannya telah Makalah ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih semua membantu dalam penyusunannya. Penulis menyadari bahwa isi dari Makalah ini jauh dari sempurna, penulis berharap pembaca kurikulum yang ditetapkan bagi

bersedia

memberikan

saran

yang

sifatnya

membangun demi kesempurnaan Makalah ini.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................ DAFTAR ISI....................................................... BAB I PENDAHULUAN..................................... 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang Masalah................................... Rumusan Masalah............................................ Tujuan dan Manfaat......................................... Metode Penelitian............................................ Sistematika Penulisan...................................... BAB II PEMBAHASAN MASALAH.......................
A.

Hukum Adat Pedoman Interaksi Sosial............ BAB III PEMECAHAN MASALAH......................... BAB IV PENUTUP...............................................

A.
B.

Kesimpulan...................................................... Saran DAFTAR PUSTAKA............................................ LAMPIRAN TUGAS HUKUM ADAT......................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Akhir-akhir ini terjadi banyak diskusi tentang pentingnya hukum adat dimunculkan kembali sebagai khazanah hukum dan sosial kemasyarakatan di Aceh. Walau masih banyak perdebatan di tataran konsep, namun cita-cita tersebut patut direspon. Perdebatan itu terjadi, umumnya pada dua kutub, yakni: Pertama, pemikir yang mempertanyakan apakah adat dan semacamnya itu bisa dikategorikan sebagai hukum dalam konsepnya hukum sebagai perundang-undangan. Kedua, ada sebagian orang yang berfikir bahwa hukum adat adalah hukum itu sendiri. Kelompok yang kedua, menganggap bahwa hukum tidak bisa hanya dipahami sebagai perundang-undangan semata (tertulis), karena dalam konsep hukum juga termasuk hukum adat (tidak tertulis) di dalamnya. Dalam konsep tersebut, secara otomatis, negara dengan sendirinya mengakui hukum adat sebagai hukum. Konon lagi diperkuat dengan ketentuan perundang-undangan itu sendiri, misalnya melalui Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan AdatIstiadat, dan dan Qanun Nomor 10 Taun 2008 tentang Lembaga Adat. Kita bisa mendapat beberapa konsep dalam Qanun Nomor 9 Tahun 2008, yang menyebutkan

bahwa adat adalah aturan perbuatan dan kebiasaan yang telah berlaku dalam masyarakat yang dijadikan pedoman dalam pergaulan hidup di Aceh. (Pasal 1 ayat 10). Hukum Adat adalah seperangkat ketentuan tidak tertulis yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh, yang memiliki sanksi apabila dilanggar. (Pasal 1 ayat 11). Adat-istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi pendahulu yang dihormati dan dimuliakan sebagai warisan yang sesuai dengan Syariat Islam. (Pasal 1 ayat 12). Kebiasaan adalah sikap dan perbuatan yang dilakukan secara berulang kali untuk hal yang sama, yang hidup dan berkembang serta dilaksanakan oleh masyarakat. (Pasal 1 ayat 13). Berdasarkan konsep yang demikian, tepatlah dikatakan bahwa hukum adat dengan sendirinya sudah termasuk dalam konsep hukum itu sendiri (hukum tertulis dan hukum tidak tertulis). Konsep ini tentunya masih dalam wilayah cita-cita atau harapan. Karena dalam kenyataan (law in action), hukum adat dihantui oleh berbagai aturan hukum yang membatasinya. Umumnya, tekanan terhadap adat dan hukum adat berlangsung dalam wilayah pengaturan mengenai pengelolaan sumberdaya.

Di luar konsep tersebut, ada pemahaman yang sedikit berbeda. Orang-orang yang melihat konsep hukum sebagai perundang-undangan, sekaligus mengakui bahwa hukum adat berada dalam wilayahnya sendiri. Dalam konsep ini, antara konsep

hukum (hukum positif) dilawankan dengan konsep hukum adat. Bila konsep hukum positif sebagai cermin dari masyarakat modern, maka hukum adat dipandang sebagai cermin masyarakat yang tradisional.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan apa yang dikemukakan dalam latar belakang Mengapa mengapa maka penulis menarik suatu sumber dapat dalam rumusan masalah sebagai berikut :
a.

hukum adat sebagai hukum tindakan adat sosial

hukum di masyarakat ?
b.

mempengaruhi masyarakat.

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari penelitian ini adalah agar masyarakat dapat mengetahui bahwa hukum adat dapat menimbulkan gejala sosial yang hidup dalam masyarakat. Manfaat yang diharapkan adalah sebagai bahan masukan bagi perumusan kebijakan penanganan gejala sosial yang terjadi di masyarakat khususnya keikutsertaan penanganan terkait masalah tersebut.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode studi kepustakaan. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan hukum adat ini juga peran serta masyarakat dalam gejala sosial tersebut dengan mengacu pada literatur-literatur, bacaan lain. artikel-artikel dan sumber

1.5 Sistematika Penulisan


Pada Bab I berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Pada Bab II berisi tentang pembahasan masalah yang meliputi Hukum Adat sebagai Pedoman Interaksi Sosial di masyarakat. Pada Bab III berisi tentang Pemecahan Masalah. Pada Bab IV berisikan tentang penutup yang meliputi kesimpulan dan saran untuk meringkas berbagai keterangan pembahasan diatas.

BAB II PEMBAHASAN MASALAH


A.

Hukum Adat merupakan Pedoman Interaksi Sosial

Melapi, Wakil Bupati, Drs Y Alexander, MSi, menegaskan pelaksanaan musyawarah adat istiadat dan hukum adat Dayak Taman sebagai wujud dari kehidupan sosial masyarakat. Hukum adat mengatur interaksi sosial, sehingga tercipta generasi yang berbudaya, beradab, dan bermartabat.Adat istiadat harus dijadikan pegangan maupun aturan yang dipedomani masyarakat adat dalam melaksanakan interaksi sosial sehari-hari. Baik dalam lingkungan sesamanya, maupun dengan lingkungan luar, ungkap Alexander saat membuka Musyawarah Adat Dan Hukum Adat Dayak Taman Kapuas Hulu di aula Deo Soli, Kedamin, Jumat (21/11). Menurut Wabup, hukum adat benar-benar hidup dalam kesadaran, dan hati nurani warga masyarakat dan tercermin dalam pola-pola tindakan sehari-hari. Baik dalam kehidupan sosial, maupun berbudaya. Untuk tetap eksis, peran hukum adat dalam wilayah masyarakat adat tertentu, dituntut adanya peran aktif dari berbagai elemen masyarakat adat. Peran dan fungsi adat isitiadat, dan hukum adat yang menjadi pedoman tata kehidupan masyarakat adat sehari-hari, tentu tidak terlepas dari struktur masyarakat yang masih menganut sistem paternalistik. Di mana hubungan kekerabatan sangatlah dijunjung tinggi, terang Wabup. Di samping itu, Wabup menambahkan, hukum adat dapat berperan positif dalam pembangunan daerah

Kapuas Hulu pada umumnya. Peran ini dimaksudkan, sebagai korelasi timbal balik antara pemerintah terhadap kelestarian hukum adat. Maupun sebaliknya, peran hukum adat terhadap pembangunan daerah. Dalam hal pelestarian adat istiadat dan hukum adat, pemerintah daerah berkewajiban mendorong tumbuhkembangnya peran dan fungsi lembaga adat dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan, serta pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan di Kabupaten Kapuas Hulu secara menyeluruh. Pada kesempatan ini perlu saya tekankan, bahwa keberadaan hukum adat dan lembaga adat secara umum adalah sebagai penopang dalam memperkuat ketahanan nasional, tambah Wabup. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu melalui Perda No. 10 Tahun 2007 tentang Lembaga Kemasyarakatan, merumuskan tentang keberadaan, tugas pokok, dan fungsi lembaga adat. Demikian juga hukum nasional yang memberikan pengakuan terhadap keberadaan kesatuan masyarakat, termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum, adat isitiadat dan kegiatan yang hidup di dalam masyarakat, sepanjang menunjang ketahanan dan pembangunan nasional. Ini menunjukkan adanya dukungan besar, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam rangka pelestarian adat isitiadat dan hukum adat. Untuk itu, adat isitadat dan hukum adat yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, perlu dilestarikan, dibina dan dikembangkan terusmenerus, sehingga fungsinya tidak pudar, ungkapnya. Di akhir sambutannya, Wabup mengimbau kepada para perumus revisi hukum adat istiadat, dan hukum Adat Taman untuk dapat

menghasilkan keputusan yang mampu mengakomodir nilai tradisional di satu pihak, dan mengakomodir tuntutan perkembangan dan kemajuan pembangunan di pihak lain. Selain itu, Wabup juga berharap perumusan adat istiadat dan hukum adat dapat dilakukan dengan tepat sesuai tujuan, dan benar-benar ditujukan untuk menjadi pedoman interaksi masyarakat adat. Ketua Panitia Musyawarah, Ambrosius Sadau, SH, M Si, mengatakan tujuan kegiatan tersebut adalah untuk persamaan persepsi, penafsiran, dan pandangan terhadap nilai-nilai adat istiadat, serta hukum adat seiring dengan perkembangan dalam dinamika kehidupan. Sehingga tidak ditemukan lagi suatu penafsiran hukum adat Dayak Taman secara sendirisendiri dalam wilayah kampung, desa maupun di dalam kota. Akan tetapi justru keseragaman penafsiran dan pelaksanaan adat istiadat dan hukum adat, katanya. Hasil yang diharapkan dari kegiatan musyawarah, dikatakan Sadau, adalah tersusunnya buku adat yang merupakan pemegang kedaulatan tertinggi bagi masyarakat Dayak Taman.

BAB III PEMECAHAN MASALAH


Banyak ahli hukum adat yang berpendapat bahwa dalam kacamata hukum modern, apa yang menjadi isi dari hukum adat kerap dipandang tidak masuk akal, tidak pasti, dan tidak bisa diukur. Inilah antara lain menyebabkan para ahli hukum modern menolak memandang hukum adat sebagai hukum. Dalam kacamata pemikir hukum modern, kenyataan

hukum adat di Indonesia termasuk dalam wilayah sosial dan budaya, sehingga suasana pluralisme yang terbentuk pada dasarnya bukan pluralisme hukum, melainkan pluralisme sosial dan budaya. Namun ada juga pemikir yang menolak pandangan seperti di atas, salah seorang diantaranya adalah I Nyoman Nurjaya. Dalam bukunya Pengelolaan Sumberdaya Alam dalam Perspektif Antropologi Hukum (2008) disebutkan bahwa di Indonesia dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika, berarti kebhinnekaan sosial-budaya yang menyebabkan kemajemukan normatif yang secara nyata hidup, dianut, dan dioperasikan. Masyarakat lokal di berbagai kawasan di Indonesia, terutama komunitaskomunitas masyarakat adat yang memiliki sistem hukum sendiri (self regulation) yang dikenal sebagai hukum adat. Hukum adat tersebut berdasar pada nilai-nilai masyarakat. Menurut Satjipto Rahardjo (2006), konsep living law (Eugen Ehrlich, 1862-1922) ditemukan di Indonesia. Antara lain yang membedakan antara hukum yang digunakan untuk menentukan keputusan-keputusan dan hukum sebagai peraturan tingkah laku yang dipakai oleh anggota masyarakat dalam hubungan satu sama lain. Dalam hubungan ini, Ehrlich mengajukan konsepnya tentang hukum yang hidup yang masih sering dipakai orang hingga sekarang. Hukum yang demikian itu tidak bisa ditemukan di dalam bahanbahan hukum formal, melainkan di luarnya, di dalam masyarakat sendiri. Untuk melihat hukum yang hidup, yang dipakai untuk menyelenggarakan proses-proses dalam masyarakat, orang tidak dapat hanya memandang kepada bahan-bahan dan dokumen-dokumen formal saja, melainkan perlu

terjun sendiri ke dalam bidang kehidupan yang senyatanya. (Dias, 1976). Bangsa Indonesia sendiri tidak bisa dipisahkan berbagai konsep tersebut. Pancasila sendiri menunjukkan bahwa nilai-nilai yang hendak dijadikan dasar untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara adalah nilai-nilai yang terdapat, tumbuh dan berkembang pada rakyat dan masyarakat Indonesia, seperti musyawarah, gotong royong, komunalis, dan magis religius, serta menghargai kebhinnekaan (pluralisme). (Rahardjo, 2009). Kenyataan tersebut terlihat jelas dalam Pasal 18B ayat (2) UUD NRI 1945 diatur bahwa: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. Kalimat dalam Pasal 18B ayat (2) UUD NRI 1945 menunjukkan betapa negara merasa memiliki sekalian kekuasaan dan kekuatan untuk menemukan apa yang terjadi di Indonesia ini, termasuk apakah hukum adat masih berlaku atau tidak (Rahardjo, 2006). Terlepas bagaimana proses tersebut berlangsung, yang jelas semua konsep hukum adat sering dikategorikan sebagai hukum lokal. Menurut Rikardo Simarmata (2005), istilah hukum lokal (local law) sering dipakai untuk mengganti istilah hukum rakyat (folk law). Bila istilah hukum lokal digunakan untuk keperluan melakukan perbedaan dengan hukum negara (state law), maka istilah tersebut sekaligus mengandung hukum adat, kebiasaan, dan hukum agama. Namun demikian diingatkan bahwa tidak semua hukum adat berupa

hukum tidak tertulis atau dikodifikasikan, terdapat juga hukum adat yang dituliskan seperti perintah raja dan peraturan kampung. Makanya hukum adat tidak selalu berarti customary law, karena istilah customary law selalu berarti menunjuk pada hukum tidak tertulis (unwritten law). Customary law (hukum kebiasaan) hanya salah satu elemen dalam hukum adat yang kebetulan menjadi elemen terpenting. (Simarmata, 2005). Dari berbagai penjelasan di atas, jelas bahwa hukum adat bisa disebutkan sebagai hukum lokal bila istilah tersebut digunakan dalam hal membedakannya dengan hukum negara. Dalam konteks sekarang ini, berarti tidak selalu tepat menyebut hukum adat sebagai customary law. Karena hukum adat di tempat kita sudah mulai ada gejala untuk dikodifikasikan dengan berbagai bentuknya.

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwa Hukum adat berdasar pada nilainilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Di Indonesia sendiri dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika, berarti kebhinnekaan sosial-budaya yang menyebabkan kemajemukan normatif yang secara nyata hidup, dianut, dan dioperasikan. Masyarakat lokal di berbagai kawasan di

Indonesia,

terutama

komunitas-komunitas

masyarakat adat yang memiliki sistem hukum sendiri (self regulation) yang dikenal sebagai hukum adat.

B.

Saran
Saran Saya sebagai Penulis agar menyadari

bahwa Hukum Adat tidak dapat dipisahkan oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mari kita jaga dan lestarikan budaya budaya yang telah lama mengakar di sendi sendi kehidupan bermasyarakat sehingga tidak mudah terprovokasi bahkan terpengaruh oleh arus globalisasi pada era modern ini yang dapat menghilangkan ciri khas bangsa Indonesia itu sendiri yang notabene kaya akan budaya dan adat istiadat yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

http://akta-online.com http://amirjamiluddin.blogspot.com/2010/12/bab-ipendahuluan-1.html

Black, Donald, The Behavior of Law, New York, San Fransisco,

London : Academic Press, 1976.

Bool, Mr. H.J., De Arbeidwdwergeving in de Residentie Oostkust Sumatra, dalam 0ns Tijdschrift, 1904. Booth, Anne, Sejarah Perekonomian Indonesia, Jakarta : LP3ES, 1988.

LAMPIRAN TUGAS
-

Pengertian Hukum Adat Menurut Para Ahli

Prof. Soepomo, merumuskan Hukum Adat: Hukum adat adalah synomim dari hukum yang tidak tertulis

di dalam peraturan legislative (statuary law), hukum yang hidup sebagai konvensi di badan-badan hukum Negara (Parlemen, Dewan Propinsi dan sebagainya), hukum yang hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan di dalam pergaulan hidup, baik di kota maupun di desa-desa. Prof. Soekanto, merumuskan hukum adat: Komplek adat adat inilah yang kebanyakan tidak dikitabkan, tidak dikodifikasikan dan bersifat paksaan mempunyai sanksi (dari itu hukum), jadi mempunyai akibat hukum, komplek ini disebut Hukum Adat. Prof. Soeripto: Hukum adat adalah semua aturanaturan/ peraturan-peraturan adat tingkah laku yang bersifat hukum di segala kehidupan orang Indonesia, yang pada umumnya tidak tertulis yang oleh masyarakat dianggap patut dan mengikat para anggota masyarakat, yang bersifat hukum oleh karena ada kesadaran keadilan umum, bahwa aturan-aturan/ peraturan itu harus dipertahankan oleh petugas hukum dan petugas masyarakat dengan upaya paksa atau ancaman hukuman (sanksi).

Seminar Hukum Adat dan pembinaan Hukum Nasional: Hukum adat diartikan sebagai Hukum

Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan Republik Indonesia, yang disana sini mengandung unsur agama. Sudjito Sastrodiharjo menegaskan: Ilmu hukum bukan hanya mempelajari apa yang disebut das sollen, tetapi pertama kali harus mengingat das sein. Hardjito Notopuro: Hukum Adat adalah hukum tidak tertulis, hukum kebiasaan dengan ciri khas yang merupakan pedoman kehidupan rakyat dalam menyelenggarakan tata kedilan dan kesejahteran masyarakat dan bersifat kekeluargaan. Suroyo Wignjodipuro: Hukum adat adalah suatu kompleks norma-norma yang bersumber apada perasaan keadilan rakyat yang selalu berkembang serta meliputi peraturan tingkat laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat, sebagian besar tidak tertulis, karena mempunyai akibat hukum (sanksi).