TINJAUAN YURIDIS Dalam interaksi sesama manusia, konflik atau sengketa adalah hal yang lumrah terjadi.

Ditinjau dari konteks hukum internasional publik, sengketa dapat didefinisikan sebagai ketidaksepakatan salah satu subyek mengenai sebuah fakta, hukum, atau kebijakan yang kemudian dibantah oleh pihak lain. Berbagai metode penyelesaian sengketa telah berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Metode penyelesaian sengketa dengan kekerasan, misalnya perang, invasi, dan lainnya, telah menjadi solusi bagi negara sebagai aktor utama dalam hukum internasional klasik. Cara-cara kekerasan yang digunakan tersebut akhirnya direkomendasikan untuk tidak digunakan lagi semenjak lahirnya The Hague Peace Conference pada tahun 1899 dan 1907, yang kemudian menghasilkan Convention on the Pacific Settlement of International Disputes 1907. Namun karena sifatnya yang rekomendatif dan tidak mengikat, konvensi tersebut tidak mempunyai kekuatan memaksa untuk melarang negara-negara melakukan kekerasan sebagai metode penyelesaian sengketa. Seiring dengan perkembangan yang terjadi, muncul kemudian beberapa perjanjian internasional, baik secara khusus mengatur maupun memuat beberapa tentang penyelesaian sengketa. Perjanjian-perjanjian tersebut dibuat oleh negara-negara, baik secara multilateral ataupun melalui lembaga intergovernmental, diantaranya : 1. The Convention for the Pacific Covenant of the League of Nations 1919; 2. The Statute of the Permanent Court of International Justice 1921; 3. The General Treaty for the Renunciation of War 1928; 4. The General Act for the Pacific Settlement of International Disputes 1928; 5. Piagam PBB dan Statuta Mahkamah Internasional 1945; 6. Deklarasi Bandung 1955; 7. The Manila Declaration on Peaceful Settlement of Disputes between States 1982.; Kelahiran League of Nations (LBB) yang menjadi lembaga intergovernmental pasca terjadinya Perang Dunia I (PD I), tidak mampu mencegah terjadinya penyelesaian sengketa dengan kekerasan antar negara. Karena LBB terbukti tidak dapat melakukan tindakan preventif untuk mencegah terjadinya Perang Dunia II (PD II). Dari kondisi seperti itulah, negara-negara yang terlibat dalam PD II kemudian membentuk United Nations (PBB) sebagai pengganti dari LBB. Kelahiran PBB diharapkan dapat mencegah terjadinya hal serupa PD I dan II.

Mediasi. Konsiliasi e. negara-negara anggota PBB membutuhkan panduan dalam melaksanakan tujuan PBB tersebut. c. Yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara hukum adalah arbitrase dan judicial . Arbitrase f. Penyelesaian sengketa secara damai ini. Negosiasi. PBB telah menjadi organisasi intergovernmental yang besar. and for the suppression of acts of aggression or other breaches of the peace. and in conformity with the principles of justice and international law. Organisasi-organisasi atau Badan-badan Regional. Pencantuman penyelesaian sengketa secara damai di dalam Piagam. yaitu penyelesaian sengketa secara hukum dan secara politik/diplomatik. Selain karena PBB bertujuan untuk menjaga kedamaian dan keamanan internasional. Dengan keanggotaan sebanyak itu. Penyelesaian Sengketa dalam Piagam PBB Tujuan dibentuknya PBB. UN Charter (Piagam) telah dijadikan sebagai rujukan utama oleh banyak negara untuk menyelesaikan sengketa dengan damai. g. Enquiry atau penyelidikan. memang mutlak diperlukan. Judicial Settlement atau Pengadilan.Dalam praktek hubungan antar negara pada saat ini. and to that end: to take effective collective measures for the prevention and removal of threats to the peace. kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam pasal 33 Piagam yang mencantumkan beberapa cara damai dalam menyelesaikan sengketa. dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. yang berbunyi : “To maintain international peace and security. yang ditegaskan dalam pasal 2 ayat (4) Piagam. yaitu menjaga kedamaian dan keamanan internasional tercantum di dalam pasal 1 Piagam. d. adjustment or settlement of international disputes or situations which might lead to a breach of the peace” Kedamaian dan keamanan internasional hanya dapat diwujudkan apabila tidak ada kekerasan yang digunakan dalam menyelesaikan sengketa. b. diantaranya : a. and to bring about by peaceful means. Dari tujuh penyelesaian sengketa yang tercantum dalam Piagam.

mediasi. negosiasi memiliki dua bentuk utama. Dalam pelaksanaannya. Yang pertama adalah negosiasi ketika sengketa belum muncul. dan konsiliasi. yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara diplomatik adalah negosiasi. kelebihan. tidak ada tata urutan yang mutlak mengenai penyelesaian sengketa secara damai. negara-negara biasanya memilih untuk memberikan prioritas pada prosedur penyelesaian secara politik/diplomatik. yaitu bilateral dan multilateral. Dengan kebebasan dalam memilih prosedur penyelesaian sengketa. a) Negosiasi Negosiasi merupakan cara penyelesaian sengketa secara damai yang cukup lama dipakai. Penyelesaian sengketa ini dilakukan secara langsung oleh para pihak yang bersengketa melalui dialog tanpa ada keikutsertaan dari pihak ketiga. . Pada dasarnya. Sedangkan yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara diplomatik adalah negosiasi. ataupun cara diplomatik lainnya. karena penyelesaian secara politik/diplomatik akan lebih melindungi kedaulatan mereka. enquiry atau penyelidikan. Penyelesaian Sengketa secara Diplomatik Seperti yang telah dijelaskan di atas. enquiry. dan kekurangan masing-masing. 1. Sampai pada permulaan abad ke-20. negosiasi menjadi satu-satunya cara yang dipakai dalam penyelesaian sengketa. PBB tidak memaksakan prosedur apapun kepada negara anggotanya. Hukum internasional publik juga mengenal good offices atau jasa-jasa baik yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara diplomatik. lebih dikenal dengan konsultasi.settlement. mediasi. daripada mekanisme arbitrase atau badan peradilan tertentu. Sampai saat ini cara penyelesaian melalui negosiasi biasanya adalah cara yang pertama kali ditempuh oleh para pihak yang bersengketa. mediasi. Negosiasi dapat dilangsungkan melalui saluran diplomatik pada konferensi internasional atau dalam suatu lembaga atau organisasi internasional. Dalam praktek negosiasi. Kelima metode tersebut memiliki ciri khas. tanpa harus melalui mekanisme negosiasi. ada dua bentuk prosedur yang dibedakan. Para pihak dalam sengketa internasional dapat saja menyelesaikan sengketa yang terjadi di antara mereka ke badan peradilan internasional seperti International Court of Justice (ICJ/Mahkamah Internasional). Dan yang kedua adalah negosiasi ketika sengketa telah lahir. dan good offices atau jasa-jasa baik. konsiliasi.

Dalam beberapa kasus.  Para pihak mengawasi dan memantau secara langsung prosedur penyelesaiannya. sehingga dapat diterima dan memuaskan kedua belah pihak b) Enquiry atau Penyelidikan J. antara lain :  Para pihak memiliki kebebasan untuk menentukan penyelesaian sesuai dengan kesepakatan diantara mereka.  Para pihak mencari penyelesaian yang bersifat win-win solution. badan yang bertugas untuk menyelidiki fakta-fakta dalam sengketa internasional dibuat oleh PBB. Fakta-fakta yang ditemukan ini kemudian dilaporakan kepada para pihak. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut. c) Mediasi & Good Offices Ketika negara-negara yang menjadi para pihak dalam suatu sengketa internasional tidak dapat menemukan pemecahan masalahnya melalui negosiasi.Keuntungan yang diperoleh ketika negara yang bersengketa menggunakan mekanisme negosiasi.. Namun dalam konteks ini. pihak ketiga memberikan saran kepada kedua belah pihak untuk melakukan negosiasi ulang. Intervensi yang dilakukan oleh pihak ketiga ini dapat dilakukan dalam beberapa bentuk. Pihak ketiga yang melaksanakan mediasi ini tentu saja harus bersifat netral dan independen. Misalnya. akan bergantung pada penguraian fakta-fakta para pihak yang tidak disepakati. atau bisa saja pihak ketiga hanya menyediakan jalur komunikasi tambahan. para pihak kemudian membentuk sebuah badan yang bertugas untuk menyelidiki fakta-fakta yang terjadi di lapangan. sehingga para pihak dapat menyelesaikan sengketa diantara mereka. yang kemudian diteruskan pada tahun 1907.G.  Dapat menghindari perhatian publik dan tekanan politik dalam negeri. enquiry yang dimaksud adalah sebuah badan yang dibentuk oleh negara yang bersengketa. Sehingga dapat memberikan saran yang tidak memihak salah satu negara pihak sengketa. Untuk menyelesaikan sengketa ini. Enquiry telah dikenal sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan sengketa internasional semenjak lahirnya The Hague Convention pada tahun 1899. intervensi yang dilakukan oleh pihak ketiga adalah sebuah cara yang mungkin untuk keluar dari jalan buntu perundingan yang telah terjadi dan memberikan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.Merrills menyatakan bahwa salah satu penyebab munculnya sengketa antar negara adalah karena adanya ketidaksepakatan para pihak mengenai fakta. .

Pada prakteknya." Pada pelaksanaan di lapangan. Dalam menjalankan tugasnya. yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. d) Konsiliasi Sama seperti mediasi. Sedangkan jasa baik politis adalah jasa baik yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional yang berupaya menciptakan suatu perdamaian atau menghentikan suatu peperangan yang diikuti dengan diadakannya negosiasi atau suatu kompetensi. Namun keputusan yang diberikan oleh komisi konsiliasi ini tidak mengikat para pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat saja terlembaga atau bersifat ad hoc. penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi menggunakan intervensi pihak ketiga. UN Charter. Menurut pendapat Bindschedler. Pihak ketiga yang melakukan intervensi ini biasanya adalah negara. The European Convention for the Peaceful Settlement of Disputes. Jasa baik teknis adalah jasa baik oleh negara atau organisasi internasional dengan cara mengundang para pihak yang bersengketa ikut serta dalam konferensi atau menyelenggarakan konferensi. dan jasa baik politis (political good offices). namun bisa juga sebuah komisi yang dibentuk oleh para pihak. Karena dalam konsiliasi ada .Jasa-jasa baik adalah cara penyelesaian sengketa melalui bantuan pihak ketiga. Pembedaan yang dapat diketahui dari kedua cara ini adalah konsiliasi memiliki hukum acara yang lebih formal jika dibandingkan dengan mediasi. Mediator dapat menggunakan asas ex aequo et bono untuk menyelesaikan sengketa yang ada. mediator tidak terikat pada suatu hukum acara tertentu dan tidak dibatasi pada hukum yang ada. jasa baik dapat dibedakan dalam dua bentuk. yang dikutip oleh Huala Adolf. Tujuan dari jasa baik teknis ini adalah mengembalikan atau memelihara hubungan atau kontak langsung di antara para pihak yang bersengketa setelah hubungan diplomatik mereka terputus. yaitu jasa baik teknis (technical good offices). Pelaksanaan mediasi dalam penyelesaian sengketa internasional diatur dalam beberapa perjanjian internasional. Pihak ketiga berupaya agar para pihak yang bersengketa menyelesaikan sengketanya dengan negosiasi. antara lain The Hague Convention 1907. jasa baik dapat didefinisikan sebagai berikut: "the involvement of one or more States or an international organization in a dispute between states with the aim of settling it or contributing to its settlement. proses penyelesaian sengketa melalui konsiliasi mempunyai kemiripan dengan mediasi.

Meskipun dianggap sebagai penyelesaian sengketa internaisonal melalu jalur hukum. Namun yang menjadi keuntungan penyelesaian sengketa jalur hukum adalah kekuatan hukum yang mengikat antara masing-masing pihak yang bersengketa. International Criminal Court. PCA menggunakan UNCITRAL Arbitration Rules 1976. yaitu penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi. yaitu Permanent Court of Arbitration (PCA). terdapat sebuah badan arbitrase internasional yang terlembaga. International Tribunal on the Law of the Sea. keputusan yang dihasilkan oleh badan arbitrase tidak dapat sepenuhnya dijamin akan mengikat masing-masing pihak.beberapa tahap yang biasanya harus dilalui. Para pihak yang ingin bersengketa dengan menggunakan metode arbitrase dapat menggunakan badan arbitrase yang telah terlembaga. dan cara ini telah diterima oleh umum sebagai cara penyelesaian sengketa yang efektif dan adil. atau badan arbitrase ad hoc. 2. Dalam menjalankan tugasnya sebagai jalur penyelesaian sengketa. lembaga lain yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan sengketa internasional melalui jalur hukum adalah pengadilan internasional. meskipun sifat putusan arbitrase pada prinsipnya adalah final dan mengikat. Pada saat ini ada beberapa pengadilan internasional dan pengadilan internasional regional yang hadir untuk menyelesaikan berbagai macam sengketa internasional. Misalnya International Court of Justice (ICJ). dan lainnya. Penyelesaian Sengketa Secara Hukum Penyelesaian sengketa melalui jalur hukum atau judicial settlement juga dapat menjadi pilihan bagi subyek hukum internasional yang bersengketa satu sama lain. bersengketa melalui jalur hukum seringkali menimbulkan kesulitan. . a) Arbitrase Hukum internasional telah mengenal arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa. kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak. baik dalam urusan birokrasi maupun besarnya biaya yang dikeluarkan. Bagi sebagian pihak. Pada saat ini. European Court for Human Rights. b) Pengadilan Internasional Selain arbitrase. dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan usulan penyelesaian sengketa.

yaitu melalui Permanent Court of International Justice (PCIJ). . maka tugas dari PCIJ diteruskan oleh ICJ sejalan dengan peralihan dari LBB kepada PBB. maka para pihak akan mendapatkan putusan yang mengikat masing-masing pihak yang bersengketa. Karena tidak ada lagi keleluasaan yang dimiliki oleh para pihak. Penyelesaian sengketa internasional melalui jalur hukum berarti adanya pengurangan kedaulatan terhadap pihak-pihak yang bersengketa. Namun seiring dengan bubarnya LBB pasca Perang Dunia II. memilih hukum dan hukum acara yang digunakan. Tetapi dengan bersengketa di pengadilan internasional.Kehadiran pengadilan internasional sesungguhnya telah dikenal sejak eksisnya Liga Bangsa-Bangsa. misalnya seperti memilih hakim.

. meminta OKI berkontribusi dalam penyelesaian masalah Suriah.PEMBAHASAN Upaya penyelesaian sengketa di Suriah melalui jalur Diplomatik 1. Liputan 6 – Kam.Technical good politics Jasa baik politis adalah jasa baik yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional yang berupaya menciptakan suatu perdamaian atau menghentikan suatu peperangan yang diikuti dengan diadakannya negosiasi atau suatu kompetensi. AS. 1 Mar 2012 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 2. "Intinya bagaimana negara-negara OKI lebih meningkatkan peranan dalam masalah-masalah ini." kata Menlu Marty. Tujuan dari jasa baik teknis ini adalah mengembalikan atau memelihara hubungan atau kontak langsung di antara para pihak yang bersengketa setelah hubungan mereka terputus. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menjelaskan hal ini ketika ditemui seusai mendampingi menerima Sekjen OKI Ekmeleddin Ihsanoglu dan Komisi HAM OKI di Kantor Presiden Senin (20/2) siang. Mediasi . --------------------------------------------------------------------------------------------------------------Pemerintah Indonesia meminta Organsiasi Kerja Sama Islam (OKI) lebih meningkatkan peranannya dalam menangani berbagai masalah dunia. Annan membuat pernyataan tersebut pada konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di New York.Technical good offices Adalah jasa baik oleh negara atau organisasi internasional dengan cara mengundang para pihak yang bersengketa ikut serta dalam konferensi atau menyelenggarakan konferensi. pada Rabu waktu setempat. Presiden SBY. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Mantan Sekretaris Jenderal PBB dan utusan khusus PBB tentang krisis Suriah Kofi Annan akan mengunjungi Suriah secepat mungkin untuk melakukan mediasi. Mediasi . Hal tersebut dilakukan guna mendesak pemerintah negara itu dan pasukan oposisi secepatnya berdamai. misalnya.

Libya dan Suriah. melalui Menlu Marty. "Kalau kita lihat sekarang perkembangan di Timur Tengah dan Afrika Utara --Tunisia. Mesir." Marty menjelaskan. Hal ini dimaksudkan agar HAM dan demokratisasi menjadi bagian utama dari kerjasama OKI. Bagaimana OKI bisa lebih memainkan peranannya dalam menghadapi masalah-masalah di kawasan saat ini. Indonesia juga pernah memprakarsai terbentuknya komisi serupa di ASEAN. Indonesia melihat kondisi Suriah tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. 2012-02-20 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- . kurangnya pembangunan dari negara-negara itu. "Tentu OKI memiliki potensi sebenarnya untuk lebih menyuarakan pandangannya dan menjadi bagian dari solusi. www. agar OKI mengadakan persidangan khusus mengenai masalah Suriah." Menlu menambahkan. Terkait dipilihnya Jakarta sebagai tempat pertemuan pertama Komisi Indiependen Permanen HAM OKI di Jakarta. Menlu menilai hal ini merupakan cermian pentingnya Indonesia dalam ruang OKI. beberapa waktu lalu mengirimkan surat kepada Menlu Kazakhstan Yerzhan Kazykhanov sebagai Ketua OKI pada tingkat Menlu sekarang. lambat laun kita harus mengembangkan institusi dan kapasitas demokrasi. yakni Komisi HAM ASEAN. 20-24 Feberuari. ini semua merupakan wujud adanya defisit demokrasi. Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar di antara anggota OKI. "Jadi suka atau tidak suka.Pemerintah." Marty menjelaskan.jackcity. malah sebaliknya.com.

. 7. 6. Prinsip keadilan dan hukum internasional. hanya dikenal penyelesaian sengketa secara poliis dimana penyelesaian sengketa tersebut dilakukan dalam kerangka kerjasama Liga Negara-Negara Arab sehingga perdamaian dan keamanan internasional serta keadilan tidak terancam. 3. Prinsip penyelesaian sengketa internasional secara damai didasarkan pada prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku secara universal dan dimuat dalam Deklarasi mengenai Hubungan Bersahabat dan Kerjasama Antar Negara tanggal 24 Oktober 1970 (A/RES/2625/XXV) serta Deklarasi Manila tanggal 15 November 1982 (A/RES/37/10) mengenai penyelesaian sengketa internasional secara damai. Prinsip itikad baik dalam hubungan internasional. 2. Sementara dalam tataran kerjasama Liga Negara-Negara Arab bila terjadi suatu sengketa. Prinsip non-intervensi dalam urusan dalam negeri dan luar negeri suatu negara. 5. kedaulatan dan integritas territorial suatu negara. 4. atau menggunakan cara-cara lainnya yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan Perserikatan Bangsa Bangsa. Prinsip persamaan hak dan menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa. Prinsip bahwa negara tidak akan menggunakan kekerasan yang bersifat mengancam integritas territorial atau kebebasan politik suatu negara. Jadi pada prinsipnya semua cara penyelesaian sengketa internasional yang terdapat dalam Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa menetapkan bahwa anggota Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa harus menyelesaikan sengketa internasional dengan jalan damai melalui penyelesaian sengketa secara politik dan penyelesaian sengketa secara hukum. yaitu sebagai berikut : 1. Prinsip persamaan kedaulatan negara. Prinsip hukum internasional mengenai kemerdekaan.KESIMPULAN Seperti dinyatakan dalam pasal 2 ayat (3) Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa : seluruh anggota Perserikatan Bangsa Bangsa harus menyelesaikan persengketaan internasional dengan jalan damai sehingga perdamaian tidak terancam.

UPAYA ALTERNATIF PENYELESAIAN KASUS SURIAH (Paper dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah KSHI) OLEH : GRANA ZAKI ARDHI .0810110028 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS HUKUM MALANG 2012 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful