P. 1
Detektor

Detektor

|Views: 328|Likes:
Published by Stevani Gulmann

More info:

Published by: Stevani Gulmann on Mar 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2014

pdf

text

original

Detektor Tabung photomultiplier adalah detektor yang biasa digunakan dalam UV-Vis spektroskopi.

Ini terdiri dari katoda photoemissive (katoda yang memancarkan elektron ketika terkena foton radiasi), dynodes beberapa (yang memancarkan elektron beberapa elektron untuk setiap memukul mereka) dan anoda. Sebuah foton radiasi memasuki tabung katoda menyerang, menyebabkan emisi elektron beberapa. Elektron ini dipercepat menuju dynode pertama (yang 90V lebih positif dari katoda). Elektron menyerang dynode pertama, menyebabkan emisi elektron beberapa elektron untuk setiap insiden. Elektron ini kemudian dipercepat menuju dynode kedua, untuk menghasilkan lebih banyak elektron yang dipercepat menuju dynode tiga dan sebagainya.Akhirnya, elektron dikumpulkan di anoda. Pada saat ini, setiap foton asli telah menghasilkan 106-107 elektron. Arus yang dihasilkan diperkuat dan diukur. Photomultipliers sangat sensitif terhadap radiasi UV dan tampak. Mereka memiliki waktu respon yang cepat. Intens cahaya kerusakan photomultipliers, mereka dibatasi untuk mengukur radiasi daya yang rendah. Array photodiode linier adalah contoh dari detektor foton multichannel.Detektor ini mampu mengukur seluruh elemen sinar radiasi tersebar secara bersamaan. Sebuah array terdiri dari dioda dioda linier silikon banyak kecil terbentuk pada sebuah chip silikon tunggal. Ada dapat antara 64-4096 elemen sensor pada sebuah chip, yang paling umum adalah 1024 foto dioda. Untuk setiap dioda, ada juga kapasitor penyimpanan dan switch. Dioda-kapasitor sirkuit individu dapat secara berurutan dipindai. Dalam penggunaannya, array fotodioda diposisikan pada bidang fokus dari monokromator (setelah elemen pendispersi) sehingga spektrum jatuh pada array dioda. Mereka berguna untuk merekam UV-Vis. penyerapan spektrum sampel yang cepat melewati sebuah sel aliran sampel, seperti di detektor HPLC. Charge-Coupled Device (CCD) mirip dengan detektor array dioda, tapi bukannya dioda, mereka terdiri dari berbagai photocapacitors.

Besaran yang Diukur
Radiasi merupakan suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu. Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang khas:
 

tidak dapat dirasakan secara langsung dan dapat menembus berbagai jenis bahan.

oleh karena itu untuk menentukan ada atau tidak adanya radiasi nuklir diperlukan suatu alat, yaitu pengukur radiasi, yang digunakan utuk mengukur kuantitas, energi, atau dosis radiasi. Kuantitas radiasi

maka energi radiasinya bergantung pada tegangan anoda (kV). Gambar di atas menunjukkan bahwa jumlah radiasi yang mencapai titik pengukuran (kuantitas radiasi) merupakan hanya sebagian saja dari semua radiasi yang dipancarkan oleh sumber. pada suatu titik pengukuran. Kuantitas radiasi ini berbanding lurus dengan aktivitas sumber dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak (r) antara sumber dan sistem pengukur. Jenis radionuklida Cd-109 Cs-137 Co-60 Energi 88 keV 662keV 1173 keV dan 1332 keV Probabilitas 3. Bila sumber radiasi berupa radionuklida maka tingkat energi yang dipancarkan tergantung pada jenis radionuklidanya.adalah jumlah radiasi per satuan waktu per satuan luas. Energi radiasi (E) merupakan ‘kekuatan’ dari setiap radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi.70% 85% 99% dan 100% Dosis radiasi . Tabel berikut menunjukkan contoh energi radiasi dari beberapa radionuklida. Kalau sumber radiasinya berupa pesawat sinar-X.

Peristiwa ini dapat terjadi secara langsung oleh radiasi alpha atau beta dan secara tidak langsung oleh radiasi sinar-X. Nilai dosis sangat ditentukan oleh kuantitas radiasi. gamma dan neutron. Sebenarnya terdapat banyak mekanisme yang terjadi di dalam detektor tetapi yang sering digunakan adalah proses ionisasi dan proses sintilasi. . Dalam bidang proteksi radiasi nilai ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan efek yang ditimbulkan radiasi pada tubuh manusia. per jam Mekanisme Pendeteksian Radiasi Detektor radiasi bekerja dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan oleh penyerapan energi radiasi oleh medium penyerap. Proses Ionisasi Ionisasi adalah peristiwa lepasnya elektron dari ikatannya karena menyerap energi eksternal. per tahun atau 25 µSv.Dosis radiasi sering diartikan sebagai jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh materi termasuk tubuh manusia. jenis dan energi radiasi serta jenis materi yang dikenainya. Terdapat batasan nilai akumulasi dosis tahunan (NBD) yang diizinkan serta turunannya per jam yaitu:   50 mSv.

Semakin besar energi radiasi yang diserap maka semakin banyak percikan cahayanya. Bila terdapat medan listrik maka elektron akan bergerak menuju ke kutub positif sehingga dapat menginduksikan arus atau tegangan listrik. Kekosongan tersebut dapat disebabkan oleh lepasnya elektron (proses ionisasi) atau loncatnya elektron ke lintasan yang lebih tinggi ketika dikenai radiasi (proses eksitasi). Proses Sintilasi Proses sintilasi adalah terpancarnya percikan cahaya ketika terjadi transisi elektron dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah di dalam detektor. energi radiasi diubah menjadi pancaran cahaya tampak. Dalam proses sintilasi ini. bila terdapat kekosongan elektron pada orbit yang lebih dalam. . Dalam proses ionisasi. Semakin besar energi radiasinya maka arus atau tegangan listrik yang dihasilkannya juga semakin besar pula.Jumlah elektron lepas ( N ) sebanding dengan jumlah energi yang terserap  E dibagi dengan daya ionisasi materi penyerap ( w ). energi radiasi diubah menjadi pelepasan sejumlah elektron (energi listrik).

Cara pulsa Setiap radiasi yang mengenai alat ukur akan dikonversikan menjadi sebuah pulsa listrik. radiasi yang memasuki detektor tidak dikonversikan menjadi pulsa listrik secara satu per satu. melainkan rata-rata dari akumulasinya dalam konstanta waktu tertentu dan dipresentasikan . Untuk meng "konversi" kan sebuah radiasi menjadi sebuah pulsa listrik dibutuhkan waktu tertentu. Tampilan sistem pengukur dengan cara pulsa biasanya berupa angka seperti gambar berikut. seperti survaimeter dan monitor radiasi biasanya menerapkan cara arus (current mode) sedangkan dalam kegiatan aplikasi dan penelitian menerapkan cara pulsa (pulse mode). Bila kuantitas radiasinya semakin tinggi maka jumlah pulsa listrik yang dihasilkannya semakin banyak. Bila terdapat dua buah radiasi yang datang secara berurutan dengan selang waktu lebih cepat daripada waktu konversi detektor. Informasi yang dihasilkan dengan cara pulsa adalah  jumlah pulsa (cacahan)  tinggi pulsa listrik.Cara Pengukuran Radiasi Terdapat dua cara pengukuran radiasi yaitu cara pulsa (pulse mode) dan cara arus (current mode). baik dengan mekanisme ionisasi maupun sintilasi. maka radiasi yang terakhir tidak akan tercacah. Cara Arus Pada cara arus. Sedangkan semakin besar energinya semakin tinggi pulsanya. yang sangat dipengaruhi oleh jenis detektornya. Sistem pengukur yang digunakan dalam kegiatan proteksi radiasi.

detektor sintilasi. akan semakin besar arusnya. detektor isian gas.sebagai arus listrik. serta berisi gas di antara kedua elektrodanya. Karena proses konversi pada cara arus ini tidak dilakukan secara individual maka cara ini tidak dapat memberi informasi jumlah pulsa (cacahan) maupun tinggi setiap pulsa. Sebenarnya terdapat banyak jenis detektor. Semakin banyak kuantitas atau energi radiasi per satuan waktu yang memasuki detektor. Tampilan sistem pengukur dengan cara arus biasanya berupa jarum penunjuk seperti gambar berikut. Sebagai contoh. positif dan negatif. yang dihubungkan ke kutub negatif. tetapi di sini hanya akan dibahas tiga jenis detektor yaitu. Jenis Detektor Radiasi Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi. yang bila dikenai radiasi akan menghasilkan tanggapan mengikuti mekanisme yang telah dibahas sebelumnya. yang dihubungkan ke kutub listrik positif. detektor radiasi gamma belum tentu dapat mendeteksi radiasi neutron. sedangkan elektroda negatif disebut sebagai katoda. Detektor Isian Gas Detektor isian gas merupakan detektor yang paling sering digunakan untuk mengukur radiasi. dan detektor semikonduktor. Informasi yang dihasilkan cara pulsa ini adalah intensitas radiasi yang sebanding dengan perkalian jumlah pulsa dan tingginya. Elektroda positif disebut sebagai anoda. Perlu diperhatikan bahwa suatu bahan yang sensitif terhadap suatu jenis radiasi belum tentu sensitif terhadap jenis radiasi yang lain. Detektor ini terdiri dari dua elektroda. Kebanyakan detektor ini berbentuk .

Jumlah ion yang akan dihasilkan tersebut sebanding dengan energi radiasi dan berbanding terbalik dengan daya ionisasi gas. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan pulsa atau arus listrik. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut akan memberikan kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik.silinder dengan sumbu yang berfungsi sebagai anoda dan dinding silindernya sebagai katoda sebagaimana berikut. . Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak menuju elektroda yang sesuai.d. Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan ion-ion positif dan ion-ion negatif (elektron). Pergerakan ion tersebut di atas dapat berlangsung bila di antara dua elektroda terdapat cukup medan listrik. Daya ionisasi gas berkisar dari 25 eV s. 40 eV.

sangat rendah. . Bila medan listrik di antara dua elektroda semakin tinggi maka jumlah ion yang dihasilkan oleh sebuah radiasi akan sangat banyak dan disebut proses ‘avalanche’. detektor proporsional. Oleh karena itu. jumlah ion yang dihasilkan di daerah proporsional ini lebih banyak sehingga tinggi pulsanya akan lebih tinggi. Detektor Proporsional Dibandingkan dengan daerah ionisasi di atas.Bila medan listriknya semakin tinggi maka energi kinetik ion-ion tersebut akan semakin besar sehingga mampu untuk mengadakan ionisasi lain. Keuntungan detektor ini adalah dapat membedakan energi yang memasukinya dan tegangan kerja yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Terdapat tiga jenis detektor isian gas yang bekerja pada daerah yang berbeda yaitu detektor kamar ionisasi. biasanya. jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini relatif sedikit sehingga tinggi pulsanya. pengukuran yang menggunakan detektor ionisasi menerapkan cara arus. Detektor Kamar Ionisasi (ionization chamber) Sebagaimana terlihat pada kurva karakteristik gas di atas. dan detektor Geiger Mueller (GM). Ion-ion yang dihasilkan oleh ion primer disebut sebagai ion sekunder. Bila akan menggunakan detektor ini dengan cara pulsa maka dibutuhkan penguat pulsa yang sangat baik. bila menerapkan pengukuran model pulsa. Detektor ini lebih sering digunakan untuk pengukuran dengan cara pulsa.

tidak perlu menggunakan rangkaian penguat. Detektor Sintilasi Detektor sintilasi selalu terdiri dari dua bagian yaitu bahan sintilator dan photomultiplier. yang akan menghasilkan percikan cahaya bila dikenai radiasi pengion. karena berapapun energinya jumlah ion yang dihasilkannya sama dengan nilai saturasinya. jumlah ion atau tinggi pulsa yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh tegangan kerja dan daya tegangan untuk detektor ini harus sangat stabil. cair maupun gas. karena dari segi elektonik sangat sederhana. sehingga pulsanya relatif tinggi dan tidak memerlukan penguat pulsa lagi. Detektor Geiger Mueller (GM) Jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini sangat banyak. Sebagian besar peralatan ukur proteksi radiasi. Mekanisme pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu : proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan cahaya di dalam bahan sintilator dan proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam tabung photomultiplier Bahan Sintilator . sehingga detektor ini dapat membedakan energi radiasi. Photomultiplier digunakan untuk mengubah percikan cahaya yang dihasilkan bahan sintilator menjadi pulsa listrik. terbuat dari detektor Geiger Mueller. Bahan sintilator merupakan suatu bahan padat. Kerugian utama dari detektor ini ialah tidak dapat membedakan energi radiasi yang memasukinya. yang merupakan suatu kerugian.Terlihat pada kurva karakteristik di atas bahwa jumlah ion yang dihasilkan sebanding dengan energi radiasi. Detektor ini merupakan detektor yang paling sering digunakan. yang harus bersifat portabel. mencapai nilai saturasinya. Akan tetapi.

Kristal NaI(Tl) Kristal ZnS(Ag) Kristal LiI(Eu) Sintilator Organik Sintilator Cair (Liquid Scintillation) Detektor ini sangat spesial dibandingkan dengan jenis detektor yang lain karena berwujud cair. terdapat kemungkinan bahwa energinya akan terserap oleh beberapa elektron di pita valensi. Beberapa saat kemudian elektron-elektron tersebut akan kembali ke pita valensi melalui pita energi bahan aktivator sambil memancarkan percikan cahaya. Berikut ini adalah beberapa contoh bahan sintilator yang sering digunakan sebagai detektor radiasi. seluruh elektron berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Di dalam kristal bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang dinamakan sebagai pita valensi dan pita konduksi yang dipisahkan dengan tingkat energi tertentu. Jumlah percikan cahaya sebanding dengan energi radiasi diserap dan dipengaruhi oleh jenis bahan sintilatornya. Ketika terdapat radiasi yang memasuki kristal.Proses sintilasi pada bahan ini dapat dijelaskan dengan Gambar 4. Percikan-percikan cahaya ini kemudian ‘ditangkap’ oleh photomultiplier. Pada keadaan dasar. Sampel radioaktif yang akan diukur dilarutkan dahulu ke dalam sintilator cair ini sehingga sampel dan detektor menjadi satu kesatuan larutan yang homogen. ground state. Secara . Semakin besar energinya semakin banyak percikan cahayanya. sehingga dapat meloncat ke pita konduksi.

Photokatoda yang ditempelkan pada bahan sintilator. Semakin pekat konsentrasi sampel maka akan semakin buruk tingkat transparansinya sehingga percikan cahaya yang dihasilkan tidak dapat mencapaiphotomultiplier.geometri pengukuran ini dapat mencapai efisiensi 100 % karena semua radiasi yang dipancarkan sumber akan ‚ditangkap‛ oleh detektor. akan . sehingga dapat diolah lebih lanjut sebagai pulsa / arus listrik. Bila bahan sintilator berfungsi untuk mengubah energi radiasi menjadi percikan cahaya maka tabung photomultiplier ini berfungsi untuk mengubah percikan cahaya tersebut menjadi berkas elektron. Tabung Photomultiplier Sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Tabung photomultiplier terbuat dari tabung hampa yang kedap cahaya dengan photokatoda yang berfungsi sebagai masukan pada salah satu ujungnya dan terdapat beberapa dinode untuk menggandakan elektron seperti terdapat pada gambar 5. setiap detektor sintilasi terdiri atas dua bagian yaitu bahan sintilator dan tabung photomultiplier. Masalah yang harus diperhatikan pada metode ini adalah quenching yaitu berkurangnya sifat transparan dari larutan (sintilator cair) karena mendapat campuran sampel. Metode ini sangat diperlukan untuk mengukur sampel yang memancarkan radiasi b berenergi rendah seperti tritium dan C14.

karena terbuat dari zat padat. Dinode tersebut akan memancarkan beberapa elektron sekunder bila dikenai oleh elektron. Elektron-elektron sekunder yang dihasilkan dinode pertama akan menuju dinode kedua dan dilipatgandakan kemudian ke dinode ketiga dan seterusnya sehingga elektron yang terkumpul pada dinode terakhir berjumlah sangat banyak. Dengan sebuah kapasitor kumpulan elektron tersebut akan diubah menjadi pulsa listrik. Hal ini disebabkan semua elektronnya berada . bahan isolator dan bahan semikonduktor tidak dapat meneruskan arus listrik. Detektor ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu lebih effisien dibandingkan dengan detektor isian gas. yang diketemukan relatif lebih baru daripada dua jenis detektor di atas. dengan perbedaan potensial. menuju dinode pertama.memancarkan elektron bila dikenai cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai. Detektor Semikonduktor Bahan semikonduktor. Pada dasarnya. serta mempunyai resolusi yang lebih baik daripada detektor sintilasi. terbuat dari unsur golongan IV pada tabel periodik yaitu silikon atau germanium. Elektron yang dihasilkannya akan diarahkan.

Tambahan elektron dan hole inilah yang akan menyebabkan terbentuknya pulsa atau arus listrik. Sebaliknya. Bila ada radiasi pengion yang memasuki lapisan kosong muatan ini maka akan terbentuk ion-ion baru. Kutub positif dari tegangan listrik eksternal dihubungkan ke tipe N sedangkan kutub negatifnya ke tipe P seperti terlihat pada Gambar 7. energi radiasi diubah menjadi energi listrik.di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Sambungan semikonduktor dibuat dengan menyambungkan semikonduktor tipe N dengan tipe P (PN junction). sehingga terbentuk (depletion layer) lapisan kosong muatan pada sambungan PN. Dengan adanya lapisan kosong muatan ini maka tidak akan terjadi arus listrik. Oleh karena daya atau energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ion-ion ini lebih rendah dibandingkan dengan proses ionisasi di gas. Energi radiasi yang memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh bahan sehingga beberapa elektronnya dapat berpindah dari pita valensi ke pita konduksi. perbedaan tersebut relatif kecil pada bahan semikonduktor ( < 3 eV ) sehingga memungkinkan elektron untuk meloncat ke pita konduksi bila mendapat tambahan energi. Hal ini menyebabkan pembawa muatan positif akan tertarik ke atas (kutub negatif) sedangkan pembawa muatan negatif akan tertarik ke bawah (kutub positif). Perbedaan tingkat energi antara pita valensi dan pita konduksi di bahan isolator sangat besar sehingga tidak memungkinkan elektron untuk berpindah ke pita konduksi ( > 5 eV ) seperti terlihat di atas. yang akan bergerak ke kutub-kutub positif dan negatif. Bila di antara kedua ujung bahan semikonduktor tersebut terdapat beda potensial maka akan terjadi aliran arus listrik. maka jumlah ion yang dihasilkan oleh energi yang sama akan lebih . elektron dan hole. Jadi pada detektor ini.

Keunggulan . kemampuan ini mutlak diperlukan. Akan tetapi untuk keperluan lain. Sebenarnya. Sedang detektor semikonduktor untuk radiasi gamma biasanya mempunyai resolusi 2 keV. Terdapat beberapa karakteristik detektor yang membedakan satu jenis detektor dengan lainnya yaitu efisiensi. Kelemahan dari detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal. kemampuan untuk membedakan energi tidak terlalu diperlukan dalam pemakaian di lapangan. pemakaiannya harus sangat hati-hati karena mudah rusak dan beberapa jenis detektor semikonduktor harus didinginkan pada temperatur Nitrogen cair sehingga memerlukan dewar yang berukuran cukup besar. Efisiensi detektor adalah suatu nilai yang menunjukkan perbandingan antara jumlah pulsa listrik yang dihasilkan detektor terhadap jumlah radiasi yang diterimanya. artinya.banyak. misalnya untuk menentukan jenis radionuklida atau untuk menentukan jenis dan kadar bahan. kecepatan dan resolusi.Kelemahan Detektor Dari pembahasan di atas terlihat bahwa setiap radiasi akan diubah menjadi sebuah pulsa listrik dengan ketinggian yang sebanding dengan energi radiasinya. detektor sintilasi untuk radiasi gamma biasanya mempunyai resolusi sebesar 50 keV. Nilai efisiensi detektor sangat ditentukan oleh bentuk geometri dan densitas bahan detektor. Hal tersebut merupakan fenomena yang sangat ideal karena pada kenyataannya tidaklah demikian. Bentuk geometri sangat menentukan jumlah radiasi yang dapat 'ditangkap' sehingga semakin . misalnya untuk melakukan survai radiasi. Sebagai gambaran. detektor ini dapat membedakan energi dari dua buah radiasi yang memasukinya bila kedua radiasi tersebut mempunyai perbedaan energi lebih besar daripada 50 keV. Jadi terlihat bahwa detektor semikonduktor jauh lebih teliti untuk membedakan energi radiasi. Hal inilah yang menyebabkan detektor semikonduktor sangat teliti dalam membedakan energi radiasi yang mengenainya atau disebut mempunyai resolusi tinggi.

Suatu detektor diharapkan mempunyai resolusi yang sangat kecil (high resolution) sehingga dapat membedakan energi radiasi secara teliti. efisiensinya semakin tinggi. Aspek lain yang juga menjadi pertimbangan adalah konstruksi detektor karena semakin rumit konstruksi atau desainnya maka detektor tersebut akan semakin mudah rusak dan biasanya juga semakin mahal. Resolusi detektor disebabkan oleh peristiwa statistik yang terjadi dalam proses pengubahan energi radiasi. Resolusi detektor adalah kemampuan detektor untuk membedakan energi radiasi yang berdekatan. Tabel berikut menunjukkan karakteristik beberapa jenis detektor secara umum berdasarkan beberapa pertimbangan di atas. Sedangkan densitas bahan detektor mempengaruhi jumlah radiasi yang dapat berinteraksi sehingga menghasilkan sinyal listrik. serta ketidak-stabilan kondisi pengukuran. Kecepatan detektor berinteraksi dengan radiasi juga sangat mempengaruhi pengukuran karena bila respon detektor tidak cukup cepat sedangkan intensitas radiasinya sangat tinggi maka akan banyak radiasi yang tidak terukur meskipun sudah mengenai detektor. detektor . noise dari rangkaian elektronik. Pemilihan detektor harus mempertimbangkan spesifikasi keunggulan dan kelemahan sebagaimana tabel di atas. Bahan detektor yang mempunyai densitas lebih rapat akan mempunyai efisiensi yang lebih tinggi karena semakin banyak radiasi yang berinteraksi dengan bahan. Kecepatan detektor menunjukkan selang waktu antara datangnya radiasi dan terbentuknya pulsa listrik.luas permukaan detektor. Sebagai contoh.

TLD dan dosimeter saku. Alat ukur proteksi radiasi dibedakan menjadi tiga  dosimeter perorangan  surveimeter  monitor kontaminasi. atau Sievert.yang digunakan pada alat ukur portabel (mudah dibawa) sebaiknya adalah detektor isian gas. Penggunaan Alat Ukur Radiasi Berdasarkan kegunaannya. Sedangkan sistem pencacah dan spektroskopi digunakan untuk melakukan pengukuran intensitas radiasi dan energi radiasi secara akurat. Sistem pencacah lebih banyak digunakan di fasilitas laboratorium. misalnya selama satu bulan. Dosimeter perorangan digunakan untuk ‚mencatat‛ dosis radiasi yang telah mengenainya secara akumulasi dalam selang waktu tertentu. Alat Ukur Proteksi Radiasi Sebagai suatu ketentuan yang diatur dalam undang-undang bahwa setiap pengguna zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya harus memiliki alat ukur proteksi radiasi. nilai yang ditampilkan dalam satuan dosis radiasi seperti Rontgent. Surveimeter digunakan untuk mengukur laju dosis (intensitas) radiasi secara langsung. sedangkan detektor pada sistem spektroskopi untuk menganalisis bahan sebaiknya detektor semikonduktor. Contoh dosimeter perorangan adalah film badge. detektor yang digunakan pada alat ukur untuk radiasi alam (intensitas sangat rendah) sebaiknya adalah detektor sintilasi. Surveimeter mutlak diperlukan dalam setiap pekerjaan yang menggunakan zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya agar setiap pekerja mengetahui atau dapat memperkirakan dosis radiasi yang akan diterimanya setelah melaksanakan kegiatan . Setiap pekerja radiasi diwajibkan menggunakan dosimeter perorangan. rem. alat ukur radiasi dapat dibedakan menjadi  alat ukur proteksi radiasi  sistem pencacah dan spektroskopi Alat ukur proteksi radiasi digunakan untuk kegiatan keselamatan kerja dengan radiasi.

Salah satu contoh penggunaan sistem pencacah adalah pada aplikasi pengukuran tebal kertas. Sebagai contoh aplikasi thickness gauging untuk mengukur tebal lapisan. Monitor kontaminasi digunakan untuk mengukur tingkat kontaminasi zat radioaktif. level gauginguntuk menentukan batas permukaan fluida. Surveimeter harus bersifat portabel.tersebut. kaki atau badan pekerja. Sistem Pencacah dan Spektroskopi Sistem pencacah dan spektroskopi digunakan untuk aplikasi yang memanfaatkan zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya. mudah dibawa dalam kegiatan survei radiasi di segala medan. Peralatan ini mutlak diperlukan bagi fasilitas yang menggunakan zat radioaktif terbuka. Sistem pencacah digunakan untuk mengukur kuantitas (jumlah) radiasi yang mengenai detektor. sebagaimana gambar berikut. . dan sebagainya. baik di udara. misalnya untuk keperluan teknik perunut menggunakan zat radioaktif. di tempat kerja. XRF untuk menentukan jenis dan kadar material. maupun yang melekat di tangan.

Sehingga jenis unsur atau isotop yang terkandung di dalam suatu bahan dapat ditentukan bila spektrum energinya dapat diukur. Posisi atau tingkat energu tersebut disebut sebagai puncak energi (energy peak). .Metode di atas dapat digunakan untuk pengukuran lapisan bahan yang lain. misalnya plastik atau bahkan lapisan logam. Sistem spektroskopi mempunyai prinsip yang sangat berbeda dengan pencacah karena alat ini mengukur energi dari setiap radiasi yang mengenai detektor. Spektrum energi radiasi yang ditandai oleh puncak-puncak energinya merupakan karakteristik dari setiap unsur atau zat radioaktif. Tentu saja untuk setiap jenis bahan diperlukan pengaturan jenis sumber radiasi dan detektor yang berbeda. Hasil pengukuran alat ini berupa spektrum distribusi energi radiasi sebagaimana contoh pada gambar berikut. Terlihat dari contoh spektrum di atas bahwa terdapat beberapa tingkat energi yang menghasilkan cacahan relatif lebih tinggi dari pada daerah lain.

.Salah satu contoh aplikasi yang harus menggunakan sistem spektroskopi adalah penentuan jenis dan kadar unsur yang menerapkan metode XRF (X ray fluresence) dan metode NAA (neutron activation analysis).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->