P. 1
Rc05-Pembinaan Akhlakul Karimah Anak Mellaui Kehidupan Keluarga Yang Sakinah

Rc05-Pembinaan Akhlakul Karimah Anak Mellaui Kehidupan Keluarga Yang Sakinah

|Views: 3,356|Likes:
Published by kudho

More info:

Published by: kudho on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • D. Metode Penelitian
  • E. Sistematika Penulisan
  • 1. Pengertian Akhlakul Karimah
  • 2. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah
  • 3. Manfaat Akhlakul Karimah
  • A. Pengertian Keluarga Sakinah
  • B. Ciri-ciri Keluarga Sakinah
  • B. Cara Membina Keluarga Sakinah
  • A. Pembinaan Akhlak pada Anak
  • B. Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak
  • A. Kesimpulan

KATA PENGANTAR

ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt, atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan, namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, terutama kepada Bapak Drs. Khalimi, M Ag. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1. Kepada ayahanda dan Ibunda, H. Mucharor AM.,dan Hj. Sumiyati, yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya, baik dikala siang maupun di

iv

tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 2. Ibu Dra. Zikri Neni Iska ,M.SPi., penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis. 3. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. 6. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. 7. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. 8. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta, yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. 9. Teruntuk Hj. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-, yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. Semoga Allah selalu meridhai. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. Kepada teman-teman dan sahabatku, A. Dimyati, Yordan Sebastian, A. Dedi Muhdi, Syukri Rifa’i, Khusnun, Hafiz, Ari, Aji, Fauzi, Rohidin, Umar, Didin,

v

Syukur, Widi dan The C Mania Lainnya, dan juga kepada Eka Triwahyuningrum, keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini. yang yang telah

Jakarta, 12 November 2006

Penulis

vi

sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan. 1 Rafi’udin. Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. iii 1 1 . Cet. 2001).BAB I PENDAHULUAN A. yaitu akhirat. sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. seks bebas. Ke-1. h. perkelahian antar pelajar. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). (Semarang: Intermasa.

Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak.2 Terkait dengan hal di atas. pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya.3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga). seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa.2 Dalam konteks psikologi pendidikan. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.

2001). Dalyono. Ke-2. Cet. Op Cit. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. 21 3 . h. h. Itu artinya orang 2 M. 20 Rafi’udin.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta.

memaafkan kesalahan orang lain. Ke-1. keterbukaan. suka menolong.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). dan jujur. yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. pengertian dan keakraban terhadap anak.4 4 Yusak Burhanudin. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. misalnya menghargai hak milki orang lain. h. selalu berkata terang. perlindungan. di antaranya: pemenuhan kasih sayang. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. (Bandung: CV Pustaka Setia. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. 1999). penyalahgunaan narkoba. benar. Dalam bukunya Drs. Cet. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah). Kesehatan Mental. dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. 86 . dan sebagainya. seperti seks bebas/seks di luar nikah. yaitu manusia yang bertakwa. rasa aman. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik.

Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. Selain itu. yaitu kasih sayang orang tua. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas. dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. . menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. Namun. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik. Oleh karena itu.5 Menurut para ahli jiwa. Bila hal tersebut terjadi. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi.

(Semarang: Intermasa.h.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya. h. Ke-1. (Jakarta: Akafa Press. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh. 18 Athiyah Al-Abrasyi.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak.” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. bangsa dan negara. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. Ke-7. 1997). yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah. yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. Cet.” 8 Rafi’udin. Cet. agama. tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). Dalam hal ini. 2001). 133 7 6 . Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam.

h. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman.6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). bahagia. setiap anggotanya merasakan suasana damai. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. Cet. dan sejahtera lahir dan batin. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2004). aman. 8 Ke-2. Allah swt. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. h. 7 10 . serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan. Cet. yaitu orang beriman. h. dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. Ke-12. (Jakarta: Eska Media).26 9 8 Zaitunah Subhan.. Membina Keluarga Sakinah. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. Ibid.9 Di samping itu. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara).

Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya. Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai. Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Allah Ta’ala berfirman: . Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah.7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS.

8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak. penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. 2. B. Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan.

Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. yakni: 1. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. . 2. maka perlu adanya perumusan masalah. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. C. 2.9 a. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak. b. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Oleh karena itu. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. peneliti memakai jenis penelitian library research. D. baik sifatnya primer maupun sekunder. tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini. maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini. .

manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. yaitu: BAB I. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah . bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. BAB III. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. ciri-ciri keluarga yang sakinah. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. cara membina keluarga yang sakinah. pembatasan dan perumusan masalah.11 E. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. tujuan dan kegunaan penelitian. BAB II. dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. BAB IV. metode penelitian dan sitematika penulisan. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah.

bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis. sebagai penutup.12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak. .

Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan agama Islam pada Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. namun berkat bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. M Ag.. penulis dapat menyelesaikan penyuunan skripsi yang berjudul “ PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELLAUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH”. baik dikala siang maupun di iv .KATA PENGANTAR ϢϴΣή˷΍ϦϤΣήϟ΍Ϳ΍ϢδΑ ϟ Puji syukur kehadirat Allah swt. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada : 1.dan Hj. Kepada ayahanda dan Ibunda. sebagai pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan arahan yang sangat berharga kepada penulis. beserta keluarga dan sahabatnya. terutama kepada Bapak Drs. H. Mucharor AM. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tidak lepas dari keterbatasan. taufik dan hidayah-Nya. Sumiyati. yang telah mendidik dan membesarkan dengan kasih sayang dan memberi dorongan semangat serta doa yang tidak henti-hentinya. atas rahmat. maka skripsi ini dapat diselesaikan. Khalimi. Shalawat dan alam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw.

2. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan benih-benih pengetahuan kepada penulis. yang turut mencarikan buku-buku rujukan kepada penulis dan turut juga mendo’akan penulis dalam menyelesaikan studi ini. yang tidak jemu-jemu dan bosannya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. “‘Asallaahu laa Yufarriquna” 10. Zikri Neni Iska . Ari. Dedi Muhdi. Semoga Allah selalu meridhai. Kepada seluruh kakak-kakakku dan adikku tercinta. Hafiz. Umar.tengah keheningan malam bagi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi ini. Syukri Rifa’i. 8. 5. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah. Kepada teman-teman dan sahabatku. 9. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Didin. penasehat akademik yang telah banyak memberikan waktunya dan masukan-masukan yang sangat berharga buat penulis.SPi. A. 3. Ibu Dra.M. Dimyati. Yordan Sebastian. 7. Aji. A. Ida Rosyida –sang “mumtazah”-. Fauzi. dan juga kepada keluarga besarnya di Cinagara. v . Khusnun. 4. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta.. Rohidin. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Teruntuk Hj. 6.

Widi dan The C Mania Lainnya.Syukur. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan doa semoga Allah SWT. keluarga Istana dan H Risdiyanto menyumbangkan saran-sarannya serta doa kepada penulis. dan juga kepada Eka Triwahyuningrum. yang yang telah Jakarta. 12 November 2006 Penulis vi . Memberikan ganjaran pahala yang berlipat kepada mereka yang turut membantu dalam menyelasaikan skripsi dan studi ini.

...................... B............................. C. D.............. Cara Membina Kaluarga Sakinah ............................................................................................................................... C........... iv vii 1 9 10 10 11 BAB II HAKIKAT PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH A.............................................. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah ................................ Latar Belakang Masalah ......................... Pengertian Keluarga Sakinah ...................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................ BAB I PENDAHULUAN A........ Tujuan dan Manfaat Penelitian . 13 18 21 23 BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A......... Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah .. Metode Penelitian ........................................................ Ciri-ciri Keluarga Sakinah ............................................................................. D............................................................................... B....... Pembatasan Masalah ..................... 29 33 40 47 vii ........................ B.. C..... D.. E............................................. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akhlakul Karimah ............. DAFTAR ISI ......................................................................................... Manfaat Akhlakul Karimah ............... Sistematika Penulisan .............. Pengertian Akhlakul Karimah .....................................

............. 88 DAFTAR PUSTAKA .................... 79 E........ 73 D...... C................... 82 BAB V PENUTUP A....... 90 LAMPIRAN viii ................................... 87 B......................... Implikasi Positif Pembinaan dalam merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) .......... Pembinaan Akhlak Pada Anak .............................................................................................. Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah .......... 54 B.................. Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak ........................................ Kesimpulan .............. Saran ..................................................................... 70 Aspek-aspek yang Dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak .........................................................................BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A...............

2001). (Semarang: Intermasa. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya. justru karena sibuknya orang tua dalam mencari dan mengumpulkan harta benda. Ke-1. Hal ini ditandai semakin banyaknya terjadi dikalangan remaja perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kriminalitas. yaitu akhirat. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. korban narkoba dan dekadensi moral lainnya. sehingga mengesampingkan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. sehingga melalaikan kehidupan yang lebih kekal. seks bebas. Mereka mengira dengan uang dan materi akan mampu membahagiakan mereka. 1 Rafi’udin. di mana setiap manusia kini tengah disibukkan dengan urusan duniawi. perkelahian antar pelajar. Kenakalan remaja pun semakin meningkat. Mendambakan Keluarga Tentram ( Keluarga Sakinah). Oleh karena itu timbullah gejala-gejala kemerosotan moral akhlak yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan.BAB I PENDAHULUAN A. antara lain dengan bertambahnya aneka sumber kemaksiatan secara mencolok. iii 1 1 . h. Cet.

sehingga lambat laun akan membentuk watak serta kepribadian anak ketika dia beranjak dewasa.2 Dalam konteks psikologi pendidikan. seorang anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilihat atau dialami pada lingkungannya (behaviorisme/empirisme) di mana semua memori kejadian akan tersimpan dalam pikiran alam bawah sadarnya. Ini artinya keluarga mempunyai peran yang sangat sentral di dalam membentuk kepribadian dan akhlak anak. pada realitasnya berdasarkan intensitas waktu seorang anak selama satu hari misalnya.2 Terkait dengan hal di atas. maka yang terjadi adalah anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan di luar sekolahnya (keluarga). Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.3 Hal ini bisa dilihat dari fiman Allah Swt : ϢϳήΤΘϟ΍.

Itu artinya orang 2 M. 21 3 . Ke-2. At-Tahrim: 6) Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Islam memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita agar tidak terjerumus ke dalam jurang nista dan dosa yang akan mendorong kita dan keluarga masuk ke dalam api neraka. h.΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. Cet. Dalyono. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta. h. 2001). Op Cit. 20 Rafi’udin.

ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. perkelahian antar pelajar dan perbuatan-perbuatan lain yang mengarah kepada kriminalitas. (Bandung: CV Pustaka Setia. Dalam bukunya Drs. 86 . selalu berkata terang. keterbukaan. Yang dimaksud pendidikan agama di sini adalah penanaman jiwa agama sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka untuk melakukan sifat-sifat dan kebiasaan yang baik. dan jujur. perlindungan. dan sebagainya. Kesehatan Mental. Cet. Dan hal ini hanya dapat diperoleh dari keluarga yang sakinah. Ke-1. Dari keluarga yang sakinah inilah akan lahir generasi-generasi tumpuan bangsa. yang jauh dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang. penyalahgunaan narkoba. 1999). memaafkan kesalahan orang lain. h.4 4 Yusak Burhanudin. yaitu manusia yang bertakwa. suka menolong. seperti seks bebas/seks di luar nikah. dan dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang sejahtera. misalnya menghargai hak milki orang lain. rasa aman. benar.3 tua mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan contoh yang nyata berupa suritauladan kepada anak-anaknya agar mereka hidup selamat dan sejahtera. di antaranya: pemenuhan kasih sayang. Yusak Burhanudin yang berjudul “Kesehatan Mental” dikatakan tentang penyebab timbulnya kenakalan remaja atau anak-anak adalah salah satunya kurangnya pendidikan agama yang diberikan di dalam keluarga (orang tua). pengertian dan keakraban terhadap anak. Untuk dapat sampai ke arah sana (dalam membentuk keluarga yang sakinah).

dapat dilakukan dengan mudah pada anak apabila ia mendapatkan contohcontoh dari orang dewasa disekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. Bila hal tersebut terjadi. Orag tua yang tidak memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya disibukkan dengan 5 Ibid. . Oleh karena itu. sehingga mereka terperosok dalam kelakuan yang tidak baik. menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian si anak. Namun.5 Menurut para ahli jiwa. Apabila kepribadiannya dipenuhi nilai-nilai agama.4 Penanaman kebiasaan yang baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu. maka si anak akan memiliki hati nurani yang lemah dan dirinya menjadi kosong dari nilai-nilai yang baik. Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama. maka mereka akan terhindar dari kelakukan-kelakuan yang buruk. Sebagai orang tua haruslah benar-benar memperhatikan hal ini agar penyesalan di kemudian hari tidak menimpa dirinya. orang tua hendaknya mendorong anak-anaknya untuk memahami ajaran agama. yaitu kasih sayang orang tua. anak yang lahir itu membutuhkan kebutuhan pokok kejiwaan yang mana kebutuhan tersebut haruslah dipenuhi. Selain itu. tidak semua orang tua memahami ajaran agama tersebut bahkan memandang rendah ajaran agama itu. si anak tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah karena pelajaran agama dianggap kurang penting dan tidak mempengaruhi kenaikan kelas.

bangsa dan negara. Dasar-dasar Pokok Pendiidkan Anak dalam Islam. di samping juga dapat menyebabkan si anak kehilangan pegangan. Ke-7. Ke-1. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hafiz Ibrahim yang dikutip oleh Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam”. 2001).” 7 Hal ini juga seiring dengan suatu nasihat yang mengatakan bahwa “Jika kau mendidik seorang pria berarti kau mendidik seorang manusia. 133 7 6 . tetapi bila kau mendidik seorang wanita berarti kau mendidik seluruh keluarga. Cet. Dalam hal ini. agama. (Semarang: Intermasa. 18 Athiyah Al-Abrasyi.5 urusan duniawi semata akan menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya. Mendambakan Kelaurga Tentram (Keluarga Sakinah). Cet. 1997). yaitu: Ύ˱ ͋ ˴ Ύ˱ ˸ό˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴Ύ˴ ˴ ˸Ω˴ ˸ϋ˴΍˴ ˶˲ ˴ ˴ ˸Ϊ˴ ͊ ˵ ˴ Βϴσ Β η Ε Ϊ ΍ ϬΗ Ϊ ΍ Ϋ΍ Δγέ ϣ ϡϷ΍ Artinya: “Ibu adalah suatu sekolah. peran ibu sangat penting dalam membentuk karir keberhasilan anaknya sebagai anak yang berguna bagi keluarga. (Jakarta: Akafa Press.” 8 Rafi’udin.h. h. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk pembentukan serta pembinaan kepribadian anak secara utuh.6 Oleh karena itu hendaklah orang tua harus dapat menciptakan suasana yang nyaman yang penuh kasih sayang di dalam keluarga demi terciptanya akhlakul karimah terhadap anak. yang bila engkau persiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat.

(Jakarta: Eska Media).6 Dalam keluarga yang harmonis (sakinah). bahagia. aman. yaitu fitrah sebagai hamba Tuhan yang baik dan fitrah sebagai khalifah fil ardhi. Membina Keluarga Sakinah. setiap anggotanya merasakan suasana damai. Ke-12. Cet. Dua kemampuan dasar fitrah kemanusiaan dalam keluarga yang harmonis (sakinah) berkembang menjadi tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan SangPencipta. Janganlah menikahi orang musyrik karena hal itu sangat dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya: Nur Aeni Iskandar. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. h.9 Di samping itu. h. yaitu orang beriman. dan sejahtera lahir dan batin. 8 Ke-2. dan dengan sesama manusia serta lingkungan10 Dalam hal ini hendaknya perlu disadari bawa pembinaan kehidupan keluarga yang sakinah itu haruslah dimulai sejak memilih pasangan atau jodoh.. 7 10 . h. Ibid. keluarga sakinah dapat memberi setiap anggotanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaan.26 9 8 Zaitunah Subhan. Sedangkan kesejahteraan batin adalah bebas dari kemiskinan iman. Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. 2004). (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Allah swt. Cet. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara).

maka salah satu pihak kembali ke agama yang dipeluknya. Al-Baqarah: 221) Di dalam kehidupan masyarakat kita sering melihat atau setidak-tidaknya melalui berita atau surat kabar diberitakan bahwa kasus yang sulit untuk didamaikan adalah kasus sengketa suami istri yang berbeda agama.7 ˸Ϯ˴˴ ˳ ˴ ˶ ˸θ˵ ˸Ϧ˶ ˲ ˸ϴ˴ ˲ ˴ ˶ ˸Ά˵ ˲ ˴ ˴˴˴ ͉ ˶ ˸Ά˵ ϰ͉ ˴ ˶ Ύ˴ ˶ ˸θ˵ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ˶ ˸Ϩ˴ Ύ˴˴ ϟϭ Δϛή ϣ ϣ ή Χ ΔϨϣ ϣ Δϣ΄ϟϭ Ϧϣ ϳ ΘΣ Ε ϛή Ϥ ΤϜ Η ϟϭ ˸Ϣ˵ ˸Θ˴ ˴ ˸ϋ˴ Ϝ ΒΠ ΃ Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…(QS. Bekalilah diri dan juga mereka dengan ketakwaan kepada Allah. Di sini akan ditemui jalan buntu dalam upaya mencari jalan damai. Kemudian agar pembinaan keluarga itu dapat mengoptimalkan pembinaannya kepada si anak sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Allah Ta’ala berfirman: . Pada saat berlangsungnya pernikahan kedua mempelai atau salah satunya mengikrarkan diri ke dalam agama yang sama. Namun kenyataannya setelah pernikahan tersebut berjalan dalam waktu yang relative lama (bertahun-tahun) dan telah dikaruniai anak. Maka hebatnya Islam dan ajarannya yang jauh-jauh sebelumnya telah membekali umatnya agar jangan menikah dengan pria atau wanita yang tidak seiman. Islam telah mengajarkan agar kita jangan meninggalkan generasi yang lemah.

8 ΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴ Ύ˱ Ύ˴ ˶ ˱ ͉ ͋ ˵ ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴ ˸Ϧ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴ ϘΘϴ ϓ Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat di mana jika unit terkecil itu rusak (keluarga) maka rusak pula masyarakat itu. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. 2. An-Nisa: 9) Dari uraian di atas. penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk menyusun skripsi dengan judul “PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH ANAK MELALUI KEHIDUPAN KELUARGA YANG SAKINAH” Adapun alasan penulis memilih judul di atas adalah sebagai berikut: 1. B. Pembatasan masalah Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas. Dan jika masyarakat itu rusak maka sudah dipastikan bahwa bangsa itu pun akan rusak. maka permasalahan dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut: . Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” ( QS. Karena banyaknya gejala-gejala kemerosotan moral akhlak anak remaja yang telah sampai pada titik yang sangat mencemaskan.

b. Untuk mengetahui cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga. . 2. Akhlakul karimah yang dimaksud adalah akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Untuk mengetahui sejauhmana keluarga yang harmonis dalam mempengaruhi akhlakul karimah anak.9 a. maka perlu adanya perumusan masalah. C. meliputi usaha-usaha keluarga berupa cara-cara yang ditempuh dalam pembinaan akhlakul karimah anak. Keluarga sakinah dalam mempengaruhi pembentukan akhlakul karimah terhadap anak. Perumusan masalah Agar permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini jelas dan terarah. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dilakukan di dalam lingkungan keluarga. yakni: 1. Cara mendidik anak secara secara Islami dalam keluarga 2. 2. Tujuan dan Manfaat Penelitian Ada pun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

D. Oleh karena itu. hadits dan karangan para ahli dan cendikiawan yang ada hubungannya dengan pembahasan dalam skripsi ini. maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya. Buku-buku yang dijadikan bahan rujukan adalah Kitab Suci Al-Qur’an. . tesis dan disertasi yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidatatullah Jakarta tahun 2002. Metode Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah ini. baik sifatnya primer maupun sekunder. Dan secara praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran dalam pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya dalam lingkungan keluarga. secara teoritis untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.10 Mengenai manfaat dari penelitian ini. jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi. peneliti memakai jenis penelitian library research.

manfaat akhlakul karimah dan faktorfaktor yang mempengaruhi akhlakul karimah. pembatasan dan perumusan masalah. yaitu: BAB I. bab ini terdiri dari latar belakang masalah. peran keluarga sakinah dalam pembinaan akhlak. bab ini mendeskripsikan tentang eksistensi keluarga sakinah yang terdiri dari pengertian keluarga sakinah. dasar-dasar pembinaan akhluklul karimah. BAB IV. BAB II. dan keniscayaan lingkungan yang kondusif (sakinah) dalam membina akhlakul karimah .11 E. yang terdiri dari pembinaan akhlak pada anak. aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembinaan akhlak terhadap anak. metode penelitian dan sitematika penulisan. ciri-ciri keluarga yang sakinah. dan contoh keluarga sakinah dalam bingkai sejarah. cara membina keluarga yang sakinah. yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan. dalam bab ini dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan akhlakul karimah yang terdiri dari pengertian akhlakul karimah. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab. dalam bab ini akan dipaparkan mengenai pembinaan akhlakul karimah pada anak. BAB III. tujuan dan kegunaan penelitian.

bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis. . ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul kariamah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak.12 serta implikasi positif pembinaan dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) BAB V. sebagai penutup.

Hakikat Pembinaan Akhlakul Karimah 1. maka keadaannya disebut akhlak yang buruk.BAB II AKHLAKUL KARIMAH A. Jika yang ditimbulkan kebalikan dari itu. maka ia tidak disebut dengan akhlak. maka keadaannya disebut akhlak yang baik. Pengertian Akhlakul Karimah Akhlakul karimah merupakan keadaan jiwa yang kokoh. Sinonimnya etika dan moral. Etika dari bahasa latin etos yang berarti 13 . Dengan pengertian akhlak secara etimologis berasal dari bahasa Arab ( ϕϠ ΍ ˲ Ύ˴˸Χ˴ ) bentuk jamak dari mufrodnya ϖϠΧ ˲ ˵˵ ) yang berarti “Budi Pekerti”. Untuk itu akhlak bisa dihasilkan dengan latihan dan perjuangan pada awal hingga akhirnya menjadi watak. Apabila keadaan itu tidak mantap dalam jiwa. Maka dari itu penulis akan memberikan pengertian tentang akhlakul karimah. Bilamana perbuatan-perbuatan yang timbul dari jiwa yang baik. dari mana timbul berbagai perbuatan dengan mudah tanpa menggunakan pikiran dan perencanaan.

dan sebagainya dan tentang prinsip-prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya terhadap sesuatu. Dan moral berasal dari bahasa latin juga. “wrong”. 1984).. Cet.”1 Dalam kamus ilmiah. Artinya: “Ilmu akhlak adalah studi yang sistematik tentang tabi’at dari pengertian-pengertian nilai “baik”.1994). Skripsi Pendidikan. 4 2 3 4 Nurfarida.2 Ismail Thaib mengatakan bahwa dalam pengertian sehari-hari perkataan “akhlak” umumnya disamakan dengan sopan santun atau kesusilaan. Ke-1. 1996). (Jakarta: Perpustakaan UIJ. 4 Adapun pengertian akhlak menurut terminology (istilah) dapat disebutkan berikut beberapa pengertian dari pada ahli ilmu. Cet. also called “ moral philosophy”. 26 Pius A Partanto. Menurut Imam Ghazali ˶ Ύ˴ ˸ϓ˴ ˸΍ ˵ ˵ ˸μ˴  Ύ˴ ˸Ϩ˴  ˲ ˴ ˶ ΍˴  ˶ ˸ϔ͉ ϟ΍ ϰ˶  ˳ ˴ ˸ϴ˴  ˸Ϧ˴  ˲ ˴ Ύ˴ ˶ ϝ ˵ ό ϻ έΪ Η Ϭ ϋ ΔΨγ έ β Ϩ ϓ ΔΌ ϫ ϋ Γέ Βϋ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˵ ˸ϴ˴ ˳ ˸δ˵ ˴ ˳ ˴˸Ϯ˵ ˵ ˶ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ή ϳϭ Δϟ ϬδΑ 1 Rahmat Djatmika. right”. ini juga disebut “filsafat moral”. (Jakarta: Pustaka Panjimas. h. 1. Kamus Ilmiah Populer. “buruk”. et. “good. Cet. Ke-3. “seharusnya”. “bad”. (Surabaya: Arkola. 14 Ismail Thaib. 11 . “salah”.14 kebiasaan. akhlak diartikan budi pekerti. and of the general principles which justify us inappliying them to anything. “ought”. etc. Bina Usaha. 2000). (Yogyakarta: CV. “:benar”. Mores berarti “kebiasaan. h. tingkah laku atau perangai seseorang. Sistem Ethika Islam. h. h. Ke-1. Risalah Akhlak. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”.3 Di dalam Ensyiklopedia Britannica: “Ethis is the syistimatic study of the nature of value concept.el.

Ethika (Ilmu Akhlak). Ahmad Amin menyebutkan bahwa : “Setengah dari mereka mengartikan akhlak ialah kebiasaan kehendak. 1972). h. Berarti kehendak itu apabila membiasakan sesuatu maka disebut akhlak. Ibnu Maskawaih merumuskan akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa dipikir dan diteliti. 56 Ibrahim Anis. (Semarang: Wicaksana. Ahklak Seorang Muslm.. Op. Ke-2. h.7 4.”8 5 6 7 Al-Ghazali. h. baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”5 2. (Mesir: Darul Ma’arif.15 Artinya: “Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Cet. 1975). 62 8 .Cit. Al-Mu’jam Al-Wasith.”6 3. (Jakarta: Bulan Bintang. 1985). h. 81 Nurfarida. Menurut Ibrahim Anis ˳ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˵ Ύ˴ ˸ϋ˴ ˸΍Ύ˴ ˸Ϩ˴ ˵ ˵ ˸μ˴  ˳ ˴ ˸΅˵ ˴ ˲ ˴ ˶ ΍˴ ˶ ˸ϔ͉ ˶ϟ˲ Ύ˴ ή Χ ϣ ϝ Ϥ Ϸ Ϭ ϋ έΪ Η Δϳ έϭ ΔΤγ έ β ϨϠ ϝ Σ ˳ ˴ ˶ ˵ ˴ ˳ ˸Ϝ˶ ϰ˴˶˳ ˴ Ύ˴ ˶ ˸ϴ˴ ˸Ϧ˶ ˷ ˴ ˸ϭ˴ Δϳϭέϭ ή ϓ ϟ΍ ΔΟ Σ ή Ϗ ϣ ˳ η ΍ ή Artinya: “ Sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan.12 Ahmad Amin.

16 Kehendak itu sendiri itu adalah beberapa keinginan manusia setelah bimbang. Etika terhadap Nabi . maka arti akhlakul karimah adalah perilaku manusia yang mulia atau perbuatan- perbuatan yang dipandang baik atau mulia yang dibiasakan dan perbuatan yang dipandang baik atau mulia oleh akal serta sesuai dengan ajaran Islam (syara’) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. di antaranya adalah: 1. Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwa akhlak adalah suatu keadaan atau kebiasan atau kehendak seseorang yang dapat mendorong melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk tanpa berpikir terlebih dahulu. Di dalam Al-Qur’an kata-kata akhlakul karimah mengandung beberapa pengertian. yakni akhlak yang bagus atau baik. Menyampaikan amanat 3. gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan yang lebih besar inilah yang bernama “akhlak”. Ihsan 2. Etika terhadap Allah 4. Jadi kalau pengertian akhlak digabungkan dengan pengertian karimah yang artinya mulia. sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga melakukannya. Akhlak ini disebut akhlak mahmudah atau hasanah. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan itu mempunyai kekuatan.

Mendahulukan kepentingan orang lain 10. Sabar 21. Berserah diri (tawakal) 15. Lapang dada 30. Berbuat baik 12. Istiqamah 6. Menjaga rahasia 19.17 5. Mengadu kepada Allah 31. Hikmah 20. Mematuhi pemimpin . Zuhud 28. Rendah hati dan khusyuk 13. Ridha 26. Kasih sayang 25. Takwa 16. Infaq 9. Mendamaikan 7. Bersyukur 32. Cinta karena Allah 18. Malu 22. Ketenangan 29. Menyempurnakan takaran dan timbangan 11. Barharap (raja’) 24. Bersabar 33. Tawadhu’ 17. tolong-menolong 14. Lemah lembut 27. Inabah (taubat) 8. Jujur 34. Takut kepada Allah 23.

Menjaga kehormatan diri 37. Dasar-dasar Pembinaan Akhlakul Karimah Dalam agama Islam yang menjadi dasar atau alat pengukur yang menyatakan bahwa sifat-sifat seseorang itu dapat dikatakan baik atau buruk adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. com. Memuliakan dan menerima tamu 40. Adil 36. Sebaliknya apa yang buruk menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti itu tidak baik dan harus dijauhi. Nasihat 44. 2004. Ditanyakan orang kepada ‘Aisyah: “Apakah akhlak Nabi Muhammad saw. Memaafkan yang bersalah 38.18 35. alqur’an digital. Waspada 43. Akhlak-akhlak di dalam Al-Qur’an mengatur perbuatan manusia 9 buka www. Menurut pendapat Mahmud Yunus bahwa: “Pokok-pokok akhlak dalam Islam ialah Al-Qur’an. Apa yang baik menurut Al-Qur’an atau asSunnah itulah yang biak untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan seharihari. Siaga 42.9 2. Keyakinan. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an . Kepuasan (qana’ah) 39.. pujian 41.? Jawabnya akhlak Nabi Muhammad saw ialah AlQur’an.

t. Ali Hasan. 2000).19 terhadap dirinya sendiri dan perbuatan manusia terhadap orang lain atau masyarakat. jiwa yang bersih. cita-cita yang benar.10 Menurut Athiyah Al-Abrasyi.12 Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. Skripsi Pendidikan. harus dinilai dengan norma-norma yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. “Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Aktifitas Pengajian Sekolah”. (Jakarta: Bulan Bintang. 14 M. Nurfarida. Begitu juga sahabat-sahabat beliau yang selalu mempedomani Al-Qur’an. tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya. menghormati hak-hak yang tinggi. 1983). kemauan yang keras. kalau sesuai terus dipupuk dan dikembangkan. 13. dan tahu membedakan yang baik dan yang buruk. Tuntunan Akhlak. (Jakarta: Perpustakaan UIJ.11 Jika ada orang yang menjadikan dasar akhlak itu adat kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat maka untuk menentukan atau menilai baikburuknya adat kebiasaan itu. h. 10 11 Ibid .3. akhlak yang tinggi. 11 12 . h. Ke. dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw dalam kesehariannya dengan demikian kita pun patut mematuhi ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. beliau mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral. Cet.d. dan kalau tidak harus ditinggalkan. h. baik laki-laki maupun perempuan.

ialah Kitab Allah Sunnahku.R. Dengan demikian dasar akhlakul karimah adalah ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dari keterangan hadits di atas jelaslah. Berkata: Rasulullah saw bersabda: Aku tinggallkan untuk kamu dua hal yang kamu tidak akan sesat sesudahnya. karena keduanya adalah kitab undang-undang yang paling sempurna memuat petunjuk-petunjuk praktis untuk menjadi pedoman bagi umat Islam. Hakim). .20 Nabi Muhammad saw bersabda: ˵ ΍ϰ͉˴ ˶ ΍˵ ˸Ϯ˵ ˴ ˴ Ύ˴ ˴ Ύ˴ ˵ ˸Ϩ˴ ˵ ΍˴ ˶ ˴ ˴ ˴ ˸ϳ˴ ˵ ˸ϲ˶ ˴˸Ϧ˴ Ϳ Ϡλ Ϳ ϝ γέ ϝ ϗ ϝ ϗ Ϫ ϋ Ϳ ϲοέ Γή ήϫ Α΍ ϋ ˶ ΍ ˴ Ύ˴ ˶  Ύ˴ ˵ ˴ ˸ό˴  ΍˸Ϯ͊˶ ˴  ˸Ϧ˴ ˶ ˴ ˴ ˸ϴ˴   ˸Ϣ˵ ˸ϴ˶  ˵ ˸ϛ˴ ˴  ˴ ͉˴ ˴  ˶ ˸ϴ˴˴ Ϳ Ώ Θϛ ϤϫΪ Α ϠπΗ ϟ ϦϴΌ η Ϝ ϓ Ζ ήΗ ϢϠγϭ Ϫ Ϡϋ ϰΘ͉ ˵ ˴ Ϩγ ϭ Artinya: “Dari Abu Hurairah RA.” (H. bahwa yang menjadi dasar ideal bagi seluruh aktifitas manusia dalam kehidupannya adalah Al-Qur’an dan AsSunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam hubungan kepada Allah maupun sesama makhluk.

” 13 Al-Imam Al-Ghazali. Kata Fudhail ra. Imam Ghazali dalam bukunya “Mukasyafatul Qulub” menyatakan bahwa: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw. h. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Apabila akhlaknya baik maka bangsanya akan baik pula dan sebaliknya bila akhlak telah hancur maka hancur pula bangsa itu. (terj. 283 13 . dan bertanya: “Apa yang disebut agama. : Ia berkata kepada Nabi saw. Sebab suatu bangsa akan maju atau hancur sangat tergantung dari akhlak masyarakatnya. Rahasia Ketajaman Mata Hati. Manusia yanmg telah tiada sifat kemanusiaannya adalah sangat berbahaya daripada binatang buas. dari judul asli Mukasyafatul Qulub. ya Rasul!?” Nabi saw menjawab : “Akhlak yang mulia”. (Surabaya: Terbit Teran). Akhlak merupakan sesuatu yang penting dan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.21 3. Ke-1.” Nabi saw. Cet. : “Sesungguhnya si fulan berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Manusia tanpa akhlak yang mulia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai mahluk Allah yang paling mulia dan meluncur turun kepada martabat hewani. dan dia termasuk penghuni neraka.) Fatihuddin Abdul Yasin. Manfaat Akhlakul Karimah Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang paling penting sekali. namun dia wanita yang akhlaknya jelek. bersabda : “Untuk dia tidak ada kebaikan. yang selalu menyakiti tetangga dengan mulutnya.

4. Keberuntungan atau manfaat lain dari akhlakul karimah di antaranya adalah: 1.173-175 . maka kehancuran pun akan segera datang.22 Kutipan tersebut di atas dengan jelas berisikan manfaat dan pentingnya akhlakul karimah (akhlak mulia) yang dalam hal ini melakukan amal saleh disertai dengan keimanan dijanjikan oleh Allah swt. Hal ini menggambarkan bahwa manfaat dari akhlakul karimah itu adalah keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Menghilangkan kesulitan. yakni akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakan. Raja Grafindo Persada. Penyair Syauqi Bei mengatakan: ΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϣ˵ ˵ ˴ ˸Χ˴΍˸Ϯ˵ ˴ ˴ ΍˸Ϯ˵ ˵ ˸ϥ˶˴ ˸Ζ˴ ˶ ˴ Ύ˴ ˵ ˴ ˸Χ˴ ˸˴˴ ˵ ˴ ˵ ˸΍Ύ˴ ͉ ˶ ΒϫΫ Ϭϗϼ ΍ ΒϫΫ Ϥϫ ΍ϭ ϴϘΑ ϣ ϕϼ ϻ΍Ϣϣϻ Ϥϧ΍ 14 Abudin Nata. Cet. begitu juga suatu masyarakat atau bangsa akan mengalami proses kehancuran bila akhlak mulia telah tiada. 2003). Selamat hidup di dunia dan akhirat.14 Sebaliknya jika akhlak yang mulia itu sirna dan berganti dengan akhlak yang tercela (akhlak madzmumah). yaitu pahala yang berlipat ganda dan kehidupan yang lebih baik. Akhlak Tasawuf. Memperkuat dan menyempurnakan agama. Ke-5. (Jakarta: PT. 2. Mempermudah perhitungan amal di akhirat 3. h. Pribadi seseorang tidak punya arti jika akhlak karimah telah sirna dari dirinya.

dan bagi siswa sudah barang tentu termasuk lingkungan sekolah. dalam hal ini akhlak tidak bisa lepas dari 2 faktor di atas.23 Artinya: “Hanya saja bangsa itu kekal. b. “Pembinaan Akhlak Melalui Aktivitas Pengajian Sekolah”. Skripsi Pendidikan. Oleh karena itu pembinaan akhlak anak harus dilaksanakan secara terus-menerus dan dilakukan sedini mungkin. Faktor dari dalam yakni yang dibawa sejak lahir dan ini merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir. selama berakhlak mulia. Baik disaat ada dalam lingkungan keluarga.”15 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pembinaan Akhlak Perbuatan dan kelakuan yang berbeda di antara manusia pada prinsipnya ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor: a. t. Di atas telah diuraikan bahwa akhlakul karimah merupakan perbuatan atau perilaku seseorang yang menggambarkan budi pekerti baik. Nurfarida.d. atau lingkungan sekolah. 17. lingkungan tempat ia bermain. Faktor dari luar misalnya pengaruh lingkungan keluarga. maupun di lingkungan di mana dia bermain. yakni keluarga. 15 . (Jakarta: Perpustakaan UIJ 2000). bila akhlak mulia telah lenyap punahlah bangsa itu. Anak akan memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik apabila dididik atau mendapat pendidikan budi pekerti yang baik atau diberi contoh yang baik. h. dan yang sangat dominan dalam pembentukan dan pembinaan akhlak adalah pengaruh dari luar.

dengan uraian sebagai berikut:. .24 Terutama penanaman pendidikan budi pekerti yang harus ditanamkan sejak dini (sejak kecil) seperti halnya Luqmanul Hakim berwasiat pada putranya: Surat Luqman ayat13: ˴ ˸ή͋ ϟ΍ ͉ ˶ ˶ ͉ϟΎ˶  ˸ϙ˶ ˸θ˵  Ύ˴ ͉ ˴ ˵ Ύ˴  ˵ ˵ ˶ ˴  ˴ ˵ ˴  ˶ ˶ ˸ΑΎ˶ ˵ Ύ˴ ˸Ϙ˵ ˴ Ύ˴  ˸Ϋ˶˴  ϙ θ ϥ· ϪϠ Α ή Η ϟ ϲϨΑ ϳ Ϫψόϳ Ϯϫϭ ϪϨ ϟ ϥ Ϥ ϟ ϝ ϗ ·ϭ . hanya kepada-Ku-lah kamu kembali. dan pendidikan. keturunan. “Hai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. Luqman:14) Maka dari ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa akhlak (budi pekerti yang baik) pada anak bisa dimiliki melalui pendidikan yang baik. Ϣ ψϋ Ϣ ψϟ ˲ ϴ˶ ˴ ˲ ˸Ϡ˵ ˴ Artinya: “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya. Adapun yang dapat mempengaruhi akhlak adalah insting (naluri).” (QS.” (QS. azam/kemauan yang keras. ή μϤ ϲϟ· Ϛ Ϊϟ Ϯϟϭ ϟ Ϝ ϥ΃ Ϧ ϣ ϋ ˵ ϴ˶ ˴ ˸ϟ΍͉ ˴˶˴ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶˴ ϲ˶˸ή˵ ˸η΍˶ ˴˶ ˸ϴ˴ Ύ˴ Artinya: “Dan Kami perintahkan pada manusia berbuat baik kepada dua orang tua ibu dan bapaknya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Luqman:13) Dan di dalam Firman Allah Ta’ala yang lain: ϲ˶  ˵ ˵Ύ˴ ˶ ˴  ˳ ˸ϫ˴  ϰ˴˴  Ύ˱ ˸ϫ˴  ˵ ͊ ˵ ˵ ˸Θ˴˴ ˴  ˶ ˸ϳ˴ ˶΍˴ ˶  ˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍ Ύ˴ ˸ϴ͉ ˴ ˴ ϓ Ϫϟ μϓϭ Ϧ ϭ Ϡϋ Ϩ ϭ Ϫϣ΃ Ϫ ϠϤΣ Ϫ Ϊϟ ϮΑ ϥ δ Έ Ϩ λϭϭ . beryukurlah pada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.

17 2. Diponogoro. bangun tengah malam. minum minuman keras. h. h. berjodoh. 57 Ibid. Ke-6. Ethika Islam. (Bandung: CV. Yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan-perbuatan yang selalu diulang-ulang sehinga menjadi mudah dikerjakannya contoh: merokok. berjuang dan naluri bertuhan. 1993). instink suatu kepandaian yang dimilki mahluk Tuhan tanpa belajar. Menurut Hamzah Ya’qub sudah merupakan sunnatullah yang berlaku pada alam ini sehingga dapat diketaui bahwa cabang itu menyerupai pokoknya dan pokok menghasilkan 16 Hamzah Ya’qub. yang merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir dan lebih lanjut Hamzah Ya’qub menerangkan bahwa naluri yang ada pada manusia adalah pendorong tingkah laku. 61 17 . Di antara naluri satu dan yang lainnya berbeda dan mengakibatkan daya pendorong dan daya kesanggupan berbeda. di antaranya naluri makan. Sedangkan menurut Hamzah Ya’qub bahwa instink adalah “Setiap kelakuan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (instink). Instink (Naluri) Instink menurut Rahmat Djatmika termasuk salah satu hidayah yang ada pada manusia. ke-ibu-bapak-an. Keturunan Keturunan adalah cabang yang menyerupai pokok atau yang menyebabkan anak menyerupai orang tuanya. mengerjakan shalat tahajud. Cet.25 1.16 Menurut Hamzah Ya’qub salah satu faktor penting di dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan atau adat kebiasaan. Contoh tersebut di atas dapat memberi kesan bahwa segala pekerjaan jika dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kegemaran akan menjadi kebiasaan.

3. 46 19 . Selain itu Hamzah Ya’qub menyatakan bahwa kemauan atau kehendak ini merupakan faktor penting di dalam akhlak karena kehendak yang mendorong manusia berkelakuan dan berakhlak. Azam/Kemauan Kemauan atau azam merupakan kekuatan atau dorongan yang menimbulkan manusia bertingkah laku.18 Lingkungan pergaulan menurut Hamzah Ya’qub adalah lingkungan keluarga. lingkungan sekolah. hewan dan pada manusia itu sendiri.26 yang serupa atau hampir serupa dengannya hal ini terjadi pada sejumlah mahluk. h. h. Menurut Rachmat Djatmika kekuatan kemauan dapat mengarah kepada melaksanakan sesuatu atau juga mengarah kepada menolak atau meninggalkan sesuatu. lingkungan kehidupan ekonomi dan lingkungan pergaulan yang bersifat umum dan bebas. Demikian faktor lingkungan yang dipandang cukup menentukan pematangan watak dan tingkah lau seseorang. lingkungan organisasi. misalnya tumbuh-tumbuhan.19 18 Ibid. 66 Ibid. dari kehendak itulah menjelma niat yang baik dan yang buruk yang selanjutnya akan menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. lingkungan pekerjaan.

Pendidikan merupakan tuntunan dan pengajaran yang diterima seseorang dalam membina kepribadian. bahkan naluri dan bakat seseorang dapat disalurkan atau diarahkan dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. h. 86 21 . Op. Cet. M.10 Hamzah ya’qub. H.27 4.”20 Pendidikan yang pada dasarnya adalah upaya pembinaan jasmani dan rohani kepada anak menuju terbentuknya kepribadian yang utama. hal ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena dengan pendidikan. Ke-5. h. non formal dan informal. Ilmu Pendidikan Islam. Arifin yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” dikatakan bahwa “Pendidikan adalah latihan mental. Cit. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak karena pendidikan turut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang lazim diterima meliputi pendidikan formal. 2000). Pendidikan Dalam bukunya Prof. seseorang akan mengetahui perbuatan baik dan perbuatan buruk. (Jakarta: Bumi Aksara. Sementara itu pergaulan dengan orang-orang baik dapat dimasukkan sebagai pendidikan tidak langsung karena pengaruh pula terhadap kepribadian.21 Dari keterangan tersebut di atas dapat diketahui bahwa dalam proses pembinaan akhlak itu terkait dengan dengan hal-hal di atas baik itu datangnya 20 M. moral dan fisik (jasmaniah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi. Arifin.

dan dilakukan secara kontinue (terusmenerus) agar dapat melekat pada setiap individu terutama pada saat usia prasekolah dan masa-masa usia sekolah .28 dari diri sendiri atau pun dari luar.

75 29 . Cet. 2004). istri dan anak-anak. Pengantar Sosiologi (Semarang: Ramadany. Pengertian Keluarga Sakinah 1.1 Sedangkan menurut Abu Ahmadi dalam bukunya “Pengantar Sosiologi” mengatakan bahwa “keluarga adalah suatu persekutuan hidup terkecil yang terdiri dari suami. Membina Keluarga Sakinah ( Yogyakarta: Pustaka Pesantren. kemudian berkembang dengan lahirnya anak. yaitu : “Keluarga adalah susunan terkecil dari masyarakat kita yang pada mulanya terdiri dari dua manusia. yang hidup dalam ikatan pernikahan. h. Ke-2. yaitu kesatuan kemasyarakatan (sosial) berdasarkan hubungan perkawinan atau pertalian darah. 1975).” 1 Zaitunah Subhan. guna membangun rumah tangga yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian.BAB III KONSEPSI KELUARGA SAKINAH A. yaitu pria dan wanita. Pengertian Keluarga Kata “Keluarga” (Ensiklopedi Indonesia) menurut makna sosiologi (family Inggris).”2 Sedangkan Ali Akbar memberikan pengertian keluarga lebih luas lagi. h. 1 2 Abu Ahmadi.

Sanak saudara. c. c. suami-istri. ibu). batih. Dalam kehidupan sehari-hari kata keluarga dipakai dengan pengertian antara lain: a. Beberapa sanak saudara dengan anak-anaknya yang rumah tangga. . Keluarga inti atau keluarga batih (primary group) terdiri atas bapak.Cit. misalnya. matrilineal artinya menurut garis ibu. artinya menurut orang tua (bapak. dan patrilineal artinya menurut garis bapak. Pasangan yang menikah maupun tidak. keluarga Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. kaum kerabat. e. Orang yang ada dalam naungan organisasi atau sejenisnya. Kelompok anak yang ditinggalkan orang tua. tanpa anak. di sana terjalin hubungan kekeluargaan. dan anak.30 Dr. Op. Kelompok yang terdiri dari seorang bapak dan ibu yang menikah atau tidak.4 3 Zaitunah Subhan. Masyarakat terkecil berbentuk keluarga atau lainya. Zaitunah Subhan menyimpulkan pengertian keluarga menjadi: a. d. d.. Orang seisi rumah. b.3 Dalam pertalian keluarga atau keturunan dapat diatur secara parental atau belateral. yang cerai ataupun yang ditinggal mati bersama anakanaknya. anak. h. 2 . b. ibu. Hj. Susunan kekeluargaan ini bertalian dengan hakikat kedudukan perkawinan dalam tatanan masyarakat.

surat AtTaubah: 26 dan 40. h. Ke-2. tidak akan ada masyarakat bila tidak ada keluarga.5 Sedangkan Dr. 2004). surat Al-Fath: 4. masyarakat merupakan kumpulan keluarga-keluarga. et. 2.18. Zaitunah Subhan mengatakan kata sakinah yang berasal dari bahasa Arab mempunyai arti “ketenangan dan ketentraman jiwa”. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Pengertian Sakinah Kata sakinah berarti tentram. Baik dan buruknya suatu masyarakat adalah tergantung pada baik buruknya masyarakat kecil itu (keluarga). h.el. Membina Keluarga Sakinah. Jadi kesejahteraan dan kebahagian suatu masyarakat berpangkal pada masyarakat terkecil itu. Kamus Ilmiah Populer. Cet. ketenangan. damai. 689 Zaitunah Subhan. yang penulis maksud keluarga di sini adalah keluarga yang terdiri dari ayah. ibu dan anak. Hj. Ke-1.6 4 Ibid. dan 26. h. 3 5 Pius A Partanto. (Surabaya: Arkola. dengan kata lain. yaitu surat Al-Baqarah: 248. Cet. Kata ini disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an. dan makna keluarga di sini juga mempunyai arti adalah unit terkecil dari masyarakat. 3 6 . 1994).31 Dari beberapa definisi tersebut.

Menurut Al-Jurjani (ahli bahasa). 21. cobaan. dan merupakan keyakinan berdasarkan (ain al-yaqin). Menurut Rasyid Ridha. 3-4 . rintangan. h. sebagai berikut: a. dan sejahtera lahir dan batin serta tidak gentar ketika mengahadapi badai ujian yang terjadi di dalam rumah tangga atau keluarga. Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud keluarga sakinah itu adalah keluarga yang tenang..32 Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa sakinah itu didatangkan ke dalam hati para nabi dan orang-orang yang beriman agar tabah dan tidak gentar dalam menghadapi tantangan. maka muncul beberapa pengertian.. Al-Isfahani (ahli fiqh dan tafsir) mengartikan sakinah dengan tidak adanya rasa gentar dalam menghadapi sesuatu. c. bahagia. tentram. Firman Allah dalam Surat Ar-Ruum. ataupun musibah.7 b. sakinah adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak diduga. Sehingga sakinah dapat juga dipahami dengan “sesuatu yang memuaskan hati”. berbunyi: 7 Ibid. sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari kegoncangan batin dan kekalutan. Dari sejumlah ungkapan yang diabadikan dalam Al-Qur’an tentang sakinah . Dan munculnya istilah keluarga sakinah adalah berdasarkan Firman Allah Surat Ar-Ruum: 21. yang menyatakan bahwa tujuan dari pernikahan itu adalah mencari ketenangan dan ketentraman yang Allah tanamkan dalam jiwa suami istri itu akan mawaddaah wa rahmah (cinta dan kasih sayang). ujian. dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketentraman pada yang menyaksikannya.

d. Dialah menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri. dan sejahtera lahir dan batin. saling beradaptasi (menyesuaikan diri). Ar-Ruum: 21) Dalam keluarga sakinah. dan dijadikannya di antara kamu rasa kasoih dan saying. 7 . Terwujudnya kesadaran akan kewajiban sebagai suami-istri Kewajiban-kewajiban suami-istri antara lain adalah: a. setiap anggota merasakan suasana tentram. Saling pengertian serta bergaul secara baik. c. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. di antaranya adalah: 1. bahagia. 8 Ibid. Sejahtera lahir adalah terbebas dari kemiskinan harta dan tekanan-tekanan penyakit jasmani. supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya.8 B. damai.(QS. serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Sedangkan sejahtera batin adalah bebas dari kemiskinan iman.33 Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Saling menghormati dan mengembangkan sikap sopan santun. b. Memupuk rasa cinta dan kasih sayang. Ciri-ciri Keluarga Sakinah Ada beberapa hal yang menjadi ciri-ciri atau tanda-tanda terbentuknya karakteristik keluarga sakinah. Menghormati orang tua serta keluarga kedua belah pihak. h. bersikap setia sekata.

Saling pengertian b. Saling menyesuaikan diri f. Saling berpartisipasi untuk kemajuan bersama d. 7 . h. Saling memaafkan c. Ke-1. Sabar serta ridha terhadap kekurangan dan kelemahan kedua belah pihak. Senantiasa melaksanakan musyawarah untuk kepentingan bersama. Saling menerima kenyataan g. 6 10 9 Ibid. h. Selalu bermusyawarah10 Rafi’udin. (Semarang: Intermasa. Cet. g.9 2. 2001). Terwujudnya hubungan suami-istri secara harmonis Agar hubungan antara suami istri dapat berjalan secara harmonis diperlukan usaha-usaha antara lain seperti: a. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). f. Bertindak secara matang serta penuh pemikiran dan tidak terbawa emosi dalam menghadapi serta memecahkan masalah. Saling memlihara kepercayaan dan menyembunyikan rahasia kedua belah pihak. h.34 e. Saling mencintai e.

35

3. Terwujudnya hubungan yang baik antara anggota keluarga serta lingkungan Secara makro, keluarga itu tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, akan tetapi juga menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar, yaitu hubungan antara keluarga maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Adapun tentang hubungan antar anggota keluarga, hubungan tersebut haruslah terjalin secara baik, yaitu hubungan baik terhadap famili kedua belah pihak, memelihara hubungan baik, terhadap famili ini sesuai dengan yang diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya :

Artinya : “Bertakwalah kamu semua kepada Allah yang kamu selalu meminta kepada-Nya, dan peliharalah hubungan famili (silaturahim)”. (QS. An Nisaa’ : 1) Sedangkan hubungan dengan lingkungan masyarakat, merupakan keharusan dan haruslah secara baik pula. Perlu diketahui bahwa masyarakat, khususnya tetangga, adalah orang-orang yang terdekat dan umumnya para tetangga itu adalah orang-orang yang pertama kali mengetahui serta dimintai pertolongan. Oleh karena itu dianggap aneh apabila hubungan dengan tetangga ini tidak mendapatkan perhatian serius.

Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˸Ϣ˵ ˸ϴ˴˴ ˴ Ύ˴ ˴ ͉ϟ΍͉ ˶˴ Ύ˴ ˸έ˴˸ϟ΍˴ ˶ ˶ ˴ Ϯ˵˴ Ύ˴ ˴ ϱ˶ ͉΍˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ΍˴ Β ϗέ Ϝ Ϡϋ ϥ ϛ ϪϠ ϥ· ϡ Σ ΄ ϭ ϪΑ ϥ ϟ˯ δΗ άϟ ϪϠ ϘΗ ϭ

36

4. Terciptanya nilai-nilai agama dalam keluarga Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang benar-benar

memperhatikan nilai-nilai ke-Islaman di dalam keluarga. Salah satu yang termasuk di dalam lingkup tersebut adalah mengenai makanan, minuman serta kebutuhan lain yang diperoleh secara halal. 11 Di samping itu dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, dalam hal makanan juga harus diperhatikan gizinya. Makanan yang bergizi dapat menyehatkan seluruh anggota keluarga. Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar masing-masing keluarga mewariskan keturunan yang baik serta sehat. 12 Hal ini sesuai denga firman Allah: 

˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ΍Ϯ˵ Ύ˴  Ύ˱ Ύ˴ ˶  ˱ ͉ ͋ ˵  ˸Ϣ˶ ˶ ˸Ϡ˴  ˸Ϧ˶  ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Ϯ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ψ˴ ˸ϟ˴  Ϭ Ϡϋ ϓ Χ ϓ όο ΔϳέΫ Ϭϔ Χ ϣ ϛήΗ ϟ Ϧ άϟ ζ ϴ ϭ ΍˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱˸Ϯ˴ ΍Ϯ˵Ϯ˵ ˴ ˸ϟ˴ ˴ ͉ϟ΍΍Ϯ˵ ͉ ˴ ˸Ϡ˴ Ϊ Ϊγ ϟ ϗ ϟ Ϙϴ ϭ ϪϠ ϘΘϴ ϓ
Artinya : Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang (sesudah) mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka

11

Rafiudin, Op. Cit., h. 10
12

Ibid

37

bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(QS. An Nisaa: 9) Selayaknya juga seorang ayah membiasakan anaknya untuk tidak berlebihan dalam hal ini, di samping juga mengajarkan kepada mereka untuk tidak terlalu sedikit makan. Hal ini karena kebanyakan makan akan menyebabkan dispepsi (kerusakan alat pencernaan). Sedangkan terlalu sedikit makan menyebabkan hal yang lebih berbahaya daripada dispepsi.13 5. Terciptanya keakraban orang tua dengan anak Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dengan Al-Qur’an sebagai dasarnya dan hadits sebagai penjelasannya, telah memberi pedoman jelas kepada orang tua sepanjang zaman tentang langkah dan cara yang praktis dan mudah untuk membina keakraban orang tua dan anak. Ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keakraban antara orang tua dan anak. a. Langkah orang tua 1. Memberi salam 2. Menyambut anak kedatangan anak dengan senang hati 3. Memanggil dengan panggilan kesayangan

Abdul Hakam Ash-Sha’idi, Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2001), Cet. Ke-1, h. 122

13

7-9 14 . h. Cet Ke-1. 43 Langkah Mengakrabkan orang tua dengan anak.14 Hj. Mengunjungi orang tua sakit c. Menyenangkan orang tua 4. Langkah anak 1. Zaitunah Subhan membagi keluarga sakinah menjadi 4 kriteria yang sesuai Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah sesuai dengan SK Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No. 2001). Menegur dan membetulkan kesalahan dengan lembut 7. Berkata santun dan dengan suara rendah 3. b. saling mengunjungi. Langkah bersama 1. Memanggil orang tua dengan sebutan keayangan 2. Makan bersama 2. Memberi hadiah. Mengajak berdialog 5. (Bandung: Irsyad Baitus Salam. D/71/1999 Pasal Muhammad Thalib. Melibatkan diri dalam permainan anak 6. Berjalan bersama-sama 3.38 4.

yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil secara minimal. ketakwaan. 2. yang terdiri dari keluarga Pra Sakinah. dan sebagainya. Keluarga Sakinah II. wakaf. puasa.39 4. 3. menabung. amal jariyah. seperti keimanan. pangan. Keluarga Sakinah I. Tetapi belum mampu mengahayati nilai-nilai keimanan. 4. ketakwaan. seperti kebutuhan akan pendidikan. Keluarga Sakinah III. shalat. fitrah. dan kesehatan. Keluarga Sakinah I. tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil (basic need) secara minimal. dan sosial psikologis. . yaitu keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. yaitu keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dan juga mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta mampu mengadakan interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. dan akhlak mulia. tetapi belum mampu menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. sandang. zakat. Keluarga Sakinah II. dan belum mampu mengikuti interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. dan Keluarga Sakinah III plus: 1. serta pengembangan keluarganya. yaitu keluarga-keluarga yang dibentuk melalui perkawinan yang sah. Keluarga Sakinah III. Keluarga Pra Sakinah. infak. bimbingan keagamaan dalam keluarga. tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. papan.

tetapi titik berat penilaian itu adalah kepada masalah-masalah moral (akhlak) atau pergaulan sehari-hari dengan orang-orang yang sekitarnya. yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan. B. rumah yang indah dengan segala peralatannya. 11-12 . ketakwaan. serta dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. ketakwaan. karena keduanya (suami dan istri) merupakan mitra sejajar dalam mencapai cita-cita keluarga sakinah. pendidikan masyarakat. dan akhlak mulia melalui pendidikan keluarga. dan akhlak mulia secara sempurna. 2004) h. dan pengembangannya. baik laki-laki maupun perempuan. Corak atau bentuk suatu masyarakat itu adalah merupakan cerminan secara watak kepribadian anak setelah 15 Zaitunah Subhan. misalnya. dapat diketahui peningkatan upaya masyarakat dalam pengamalan nilainilai keimanan. Membina Keluarga sakinah. kebutuhan sosial psikologis. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren.15 Dengan ciri-ciri atau kriteria program pembinaan keluarga sakinah di atas. Cara Membina Keluarga Sakinah Rumah tangga yang baik menurut Islam bukan hanya dinilai dari segi materil saja. Keluarga Sakinah III plus. dan pendidikan formal untuk mencapai kemakmuaran dan keadalian yang merata bagi seluruh bangsa Indonesia.40 5.

41

dewasa sangat tergantung kepada pembinaan orang tua (ayah dan ibu) dalam rumah tangga masing-masing. 16 Dalam membina keluarga yang sakinah sehingga terwujudnya generasi yang baik di tengah-tengah masyarakat, ada beberapa hal yang harus diterapkan atau ditumbuhkan dalam anggota keluarga rumah tangga antara lain sebagai berikut: 1. Orang tua (ayah dan ibu) hendaknya membina sikap keterpaduan dan selalu memberikan contoh suri tauladan yang baik terhadap anak-anaknya, baik dalam segi kejiwaan atau kepribadian, tentang pengamalan ajaran agama, maupun di segi sosial bermasyarakat dan lain-lain sebagainya. 2. Untuk Pembinaan keperibadian anak-anak itu harus dilandasi dengan kasih sayang dan disiplin yang sesuai dengan perkembangan anak-anak. 3. Jangan selalu memanjakan anak karena kemanjaan itu akan membuat perkembangan atau pertumbuhan yang kurang baik dan tidak sehat di kemudian hari. Anak yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya kurang kreatif (pemalas), karena ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan dari orang tuanya, dengan kata lain; anak manja hanya tahu apa adanya saja.17

Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah), (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet Ke-2, h. 35
17

16

Ibid, h. 35-36

42

Dalam bukunya Abdul Latif bin Wahab Al-Ghamidy yang berjudul “100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim” yang beliau petik kiat-kiat ini dari bumi realita dan pengalaman hidup beliau, kiat-kiat itu adalah: 1. Meningkatkan kelimuwan mereka Allah Ta’ala berfirman:

Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴
Artinya: “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Dalam meningkatkan keilmuwan mereka (anak-anak atau istri) dapat dilakukan dengan cara: a. Membuat jadwal rutin-minimal-harian atau setiap pecan untuk belajar bersama dengan semua anggota keluarga. b. Mengahafal bebrapa surat Al-Qur’anul Karim c. Menghafal hadits-hadits Rasulullah saw., dan memilihkan hadits-hadits yang cocok dan yang sangat dibutuhkan oleh mereka. d. Mengahadiri pengajian-pengajian umum yang diadakan di masjid-masjid maupun tempat-tempat kegiatan dakwah.Mengakrabkan mereka kepada para ulama-ulama yang alim dan ahlu ilmu yang amanah.

43

e. Menyediakan papan tulis yang kemudian ditulisi dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi keluarga., khususnya doa-doa dan dzikir.18 2. Membina amalan mereka a. Memerintahkan (kepada keluarga) supaya mengerjakan ibadah, seperti mendirikan shalat dan lain sebagainya. b. Mengerjakan puasa bersama, tidak hanya puasa yang wajib, tetapi juga puasa yang sunnah, seperti puasa senin dan kamis, dan lain sebagainya. c. Pergi bersama-sama keluarga untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang disyari’atkan secara berjama’ah, seperti shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. d. Melatih mereka supaya gemar bersedekah, berkorban di jalan Allah Ta’ala, dan memberi fakir miskin dan sebagian harta yang telah Allah berikan kepadanya. e. Menganjurkan mereka agar membaca dzikir-dzikir harian denngan sempurna (baik dzikir yang umum maupun yang terikat dengan waktu, tempat, bilangan dan tata cara) f. Ikut serta membantu tetangga dikala mereka susah atau senang. g. Memperingatkan mereka supaya menjauhi hal-hal yang haram.
18

Abdul Latif bin Wahhab Al-Ghamidy, 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim, (Solo: AtTibyan), Cet Ke-1, h.50-68

i. h.19 3. j. Membiasakan mereka supaya selalu bersegera tidur (sehabis shalat Isya’) dan memperingatkan mereka supaya jangan begadang malam serta membiasakan mereka selalu bersegera bangun tidur sebelum shalat fajar untuk mengerjakan shalat witir dan beristigfar. Mungkin bisa dengan cara memanfaatkan kemampuan mereka dan mendidiknya supaya ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai macam kegiatan dakwah. 19 Ibid. Mengikut sertakan keluarga dalam dakwah a.44 h. Memotivasi mereka untuk menulis makalah-makalah yang ringkas lagi bermanfaat sepuatar aktifitas mereka di sekolah-sekolah.102 . membatasi tanggungjawab-tanggungjawab masing-masing. Membagi pekerjaan-pekerjaan rumah di antara mereka. membiasakan mereka saling bekerjasama dalam pekerjaan-pekerjaannya. b. sangat membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan mengobrol setelahnya. Meningkatkan kreativitas dan hobi-hobi mereka yang bermanfaat serta menghubungkannya dengan syari’at Islam. Melibatkan mereka dalam acara-acara dakwah yang diadakan oleh kepala keluarga. sebab rasulullah saw. 69.

b. Menasihati secara empat mata kepada salah satu di antara mereka yang melakukan kesalahan.20 Dari kiat-kiat di atas jelaslah bahwa dalam membina keluarga sakinah perlu adanya kesadaran antara setiap anggota keluarga tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. dan Islam mengajarkan kepada umatnya dengan detail melalui firman-Nya maupun utusan-Nya (Rasulullah saw. sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an surat Ar Ruum: 21. caranya dengan membiasakan mengerjakan perbuatan yang mulia itu di depan mereka.) bagaimana cara membina kelaurga sakinah mawaddah warahmah. 20 Ibid. Berkunjung ke rumah-rumah keluarga miskin. 112-121 .45 c. h. Menanamkan dalam hati sanubari mereka kegemaran beramar ma’ruf dan nahi mungkar. memeriksa kondisi dan keadaan mereka serta ringan tangan dalam membantu mereka. 4. Memperbaiki jiwa dan meluruskan kepribadian mereka a. Mengunungi kerabat atau tetangga yang menderita sakit c.

pembentukan pribadi secara utuh sangat menentukan. Membina Keluarga sakinah. maka pasti siapa yang membangun keluarga pijakannya adalah ridha Allah dan mencontoh keluarga Rasulullah. tidak diragukan lagi bahwa keluarga itu adalah keluarga yang sakinah 21 Zaitunah Subhan. yaitu: a. Zaitunah Subhan menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang mendukung terwujudnya kehidupan keluarga yang sakinah. 42. Pengamalan amar makruf nahi mungkar c. Pembentukan jiwa agama bagi anak-anak.46 Hj. Ayah dan ibu adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas pembinaan keagamaan di dalam keluarga. h.21 Aspek keagamaan ini adalah sangat penting dan mutlak harus ada dan dilaksanakan oleh anggota keluarga. Pembinaan keluarga dalam hal ini meliputi beberapa objek sasaran.48 . Pembinaan agama bagi ayah dan ibu b. karena agama merupakan pijakan dasar dalam membangun sebuah keluarga sakinah. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2004). antara lain: 1. Aspek Agama Untuk mendukung terwujudnya keluarga sakinah. bagaimana tidak yang kita jadikan tolak ukur adalah kepemimpinan Rasulullah dalam membangun sebuah keluarga.

Rasulullah saw. Kondisi keuangan sebuah keluarga bisa dikatakan stabil apabila terdapat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. bersabda: “kadangkadang kefakiran itu menjadikan kekufuran”. seseorang minimal harus mampu merencanakan anggaran belanja rumah tangga. Karena itu. Dalam hal ini. Agar dapat menyeimbangkan kebutuhan dan pendapatan. Tidak sedikit kasus kegagalan menciptakan keluarga sakinah.22 22 Ibid. terjadi karena kedaaan ekonomi keluarga yang kurang stabil. dan meningkatkan pendapatan.51-52 . Aspek Ekonomi Kestabilan ekonomi merupakan salah satu penunjang terwujudnya keluarga sakinah. menambah semangat kerja. h. dan bahkan menjadi retak dan berantakan. keluarga perlu memperhatikan kestabilan ekonomi untuk mencapai predikat keluarga sakinah.47 2. Bahkan persoalan ekonomi ini juga sering kali mempengaruhi kadar keimanan seseorang.

Beliau saw adalah seorang pribadi. et. tetapi Rasulullah mampu mengatakan dalam sabdanya: 23 Ridha Salamah. tentu saja bukan sebatas persoalan ibadah ritual.23 Keluarga Nabi Muhammad saw merupakan keluarga istimewa. (Ciputat: Wadi Press. ayah. 28 24 .yang menjadi teladan semua manusia hingga hari kiamat. Di dalamnya menyatu secara sempurna antara fungsi internal dan seksternal sebuah keluarga. 27 Ibid. h. Inilah realisasi dari kesaksian bahwa Muhammad saw. Contoh Keluarga Sakinah dalam Bingkai Sejarah 1. adalah Rasulullah pembawa risalah Islam yang paripurna rahmat dan petunjuk untuk seluruh alam.48 D. Keluarga Nabi Muhammad Saw Mencontoh dan meneladani Nabi saw. Interaksi antara Nabi saw sebagai suami dengan para isteri Beliau saw beserta seluruh anak-anak benar-benar terlaksana hanya karena perintah Allah SWT dan mencari ridho-Nya. pemimpin keluarga dan sekaligus pemimpin negara. Itulah keluarga yang benar-benar sakinah yang penuh kasih sayang. Bangunan Keluarga Dambaan. h.el. suami. Kewajiban meneladaninya mencakup seluruh aspek kehidupannya yang utuh sebagai sosok manusia yang hidup secara normal dalam masyarakat.24 Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah dalam membina keluarganya adalah dalam rumah yang sangat sederhana. 2005)..

berpikir untuk menikah lagi.49 ˸ϲ˶ ͉ ˴ ˸ϲ˶ ˸ϴ˴ ΘϨΟ Θ Α Artinya :”Rumah tanggaku adalah laksana surga bagiku” Dari hadits ini menunjukkan bukti bahwa rumah tangga Nabi merupakan rumah tangga yang penuh ketenangan dan keharmonisan walaupun kita tahu bahwa isteri Nabi itu lebih dari satu.a. Abu Bakar r. Padahal poligami saat itu merupakan adat bangsa Arab yang menunjukkan kemuliaan. saat beliau berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.25 Pernikahan Nabi dengan para isteri-isteri beliau merupakan pernikahan yang agung dalam rangka mendukung perjuangan dakwahnya. sedang 25 Ibid .a. bukan sekedar memenuhi hasrat seksual dan melahirkan keturunan. Juga bukan untuk memenuhi keinginan akan harta benda dan kedudukan. tetapi belum tinggal serumah kecuali sesudah hijrah ke Madinah. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Nabi hanya satu menikahi wanita yang masih gadis.. puteri sahabatnya yang terdekat dan terpercaya. Pada saat Khadijah wafat maka beliau Nabi saw. Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Nabi saw menikahi Khadijah r.a. Kemudian beliau meminang dan menikahi ‘Aisyah r. Sejak menikah dengan Khadijah beliau belum pernah berpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain.

dan pendidik bagi anak-anaknya juga sebagai pejuang yang berperan untuk memajukan masyarakat. Walaupun semua isterinya siap membantu dan melayani semua kebutuhannya.26 Demikian pula peran anak-anak Nabi saw. Keluarga yang telah sukses dunia akhirat dalam mewujudkan visi dan misinya baik secara internal maupun eksternal. Beliau bisa mengurus berbagai keperluannya sendiri. Mereka telah berperan sebagi isteri pendamping suami. Dari keluarga nabi saw yang istimewa itu wajib dicontoh tentang bagaimana beliau mengelolanya. ibu. Isteri-isteri beliau juga adalah para pejuang. Nabi Muhammad saw telah menjalin hidup penuh kemandirian dengan semua isterinya. beliau lebih suka menjahit baju robeknya dengan kedua tangannya sendiri. Fatimahlah yang membersihkan tubuh Nabi ketika Abu Jahal meletakkan isi perut kambing pada saat Nabi shalat. karena beliaulah yang menjadi 26 Ibid. 27 Inilah sosok keluaga sakinah yang sesungguhnya. h. 33 Ibid.50 yang lainnya adalah kebanyakan para janda yang ditinggal oleh suaminya karena meninggal dalam peperangan yang suci. 27 . Sepanjang hidup Nabi Muhaamad saw adalah perjuangan di jalan Allah. Keluarga paling mulia dan bahagia dalam naungan Rahmat Allah SWT.

Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Hafshah binti Umar Ummul Mukminin selain Umar sendiri. Dalam keluarga Abu Bakar yang istimewa tentu saja antar suami. Keluarga Sahabat-sahabat Nabi Saw. 38 Ibid. Bahkan ketika dia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar r. Bahkan untuk menenangkan kakeknya.a seoarang sahabat utama yang telah mendapat kabar gembira untuk masuk surga. Asma’ binti Abu Bakar menyimpan kerikil di tempat penyimpanan uang ayahnya. a. maka terlihat betapa seorang Umar dapat berkarya dan melayani rakyat tanpa hambatan apapun dari keluarganya. Isterinya dan anaknya mendukung sepenuhnya tindakan ini. adalah orang pertama yang berinfaq dengan seluruh hartanya. 28 b. Keluarga Umar bin Khathab r.51 rujukan umatnya dalam berbagai segi kehidupan beliau dan beliaulah adalah uswah hasanah (tauladan baik) dalam membina sebuah keluarga.a. adalah sebuah rumah bahagia yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar di panggung sejarah. h. Orang-orang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga istimewa. ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ‘Asma’ binti Abu Bakar isteri Zubeir bin Awwam r.a.29 28 Ibid. Dan kakeknya yang buta itupun merasa tenang ketika merabanya. Perhatikanlah betapa Umar bisa berperan aktif dalam mendampingi Nabi saw di samping tetap mencari nafkah. Keluarga Abu Bakar As Shiddiq Ketika Nabi saw mengumumkan himbauan untuk berinfak di jalan Allah maka Abu Bakar r. Dia termasuk pedagang yang cukup sukses.a. Umar bin Khathab r. 2. isteri dan anak-anaknya saling mendukung bukan saling menghalangi. Nampak jelas produk rumah bahagia ini adalah dua wanita mulia. Tentu saja Abu Bakar telah memlihara dan menafkahi kelaurganya dengan sangat baik.a. 29 .

. Anak-anak Umar menempel di punggungnya dan Umar merayap. apa yang engkau lakukan di rumahmu? Al-Aqra’ menjawab. sehingga ia (Umar) berani memecat seorang kepada daerah hanya karena ia merupakan orang yang otoriter terhadap keluarganya.: Amirul Mukminin.a. Maka Al-Aqra’ diperintahkan Umar untuk segera dipecat dari jabatannya sebagai kepala daerah saat itu.a. Thalhah bin Ubaidillah r.a. anak yang sedang berdiri cepatcepat duduk.”30 Dari kisah di atas menunjukkan bahwa keluarga Umar bin Khathab merupakan keluarga yang harmonis yang penuh kasih sayang dan keakraban terhadap anak-anak dan anggota keluarganya. h. Namun tidak ada satu pun yang pernah saya cium”. Ia menemukan Umar sedang bermain dengan anak-anaknya. dan keluarga seluruh sahabat yang mulia. Lebih jelas kisahnya adalah: “Alkisah ada seorang yang bernama Al-Aqra’ bin Habis menemui Amirul Mukminin.a. Menggapai Hidayah dari Kisah (Kumpulan Kisah dari Buku-buku AlGhazali). 2005).. Umar berkata: “Kalau begitu engkau tidak pantas menjadi pemimpin kaum Muslimin”. (Bandung: Hasyimi. Begitu pula para sahabat wanita yang telah lahir menjadi tokoh-tokoh yang turut berkiprah untuk membangkitkan masyarakat di samping tetap berperan sebagai isteri Isyan Basya. : “Jika saya pulang ke rumah. Demikian pula dengan keluarga Utsman bin Affan r. Sa’ad bin AbiWaqash r. Saya mempunyai anak sebanyak sepuluh orang. Ali bin Abi Thalib r. Umar bin Khathab. Zubeir bin Awwam r. anak yang sedang berbicara mendadak terdiam.. 75 30 . Cet Ke-1. dan anak yang sedang tidur-tiduran mendadak bangun.. apakah seperti itu engkau lakukan bersama anak-anakmu? Umar bangun dan balik bertanya. Al-Aqra’ berkata.a.52 Al-Imam Al-Ghazali mengisahkan tentang sakinahnya keluarga Sayyidina Umar bin Khathab dan keakrabannya terhadap anak-anak dan anggota keluarganya.

Cit. Ummu Sulaim.. et.53 dan ibu. Lihatlah manusia mulia seperti Ummu Kultsum binti Uthbah. Op. el. Ummu Aiman. Ummu Athiyah serta para isteri dan anak-anak Nabi saw sendiri. 39 . h.31 31 Ridha Salamah..

Pembinaan Akhlak pada Anak Pembinaan kata dasarnya adalah “bina” yang mempunyai arti bangun (membina. sikap dan cara hidup mereka. Kesehatan Mental dalan Keluarga. Ke-16. membangun) dan dapat juga diartikan bentuk (membentuk)1. 1993). merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh itu. (Jakarta: Pustaka Antara. 2003). menumbuhkan. teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan. Menurut Zakiah Daradjat bahwa : “Pembinaan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara terarah. Ke-3. (Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. meningkatkan dengan mengembangkan ke arah terciptanya martabat. 41 2 1 Zakiah Daradjat. mengambangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang utuh dan selaras. h. (Jakarta: Bulan Bintang. 1993). Cet. pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat. 66 54 . Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jadi yang dimaksud dengan pembinaan adalah mempertahankan sesuatu yang sudah baik dan berusaha untuk mengembangkannya.3. 36 3 Zakiyah Daradjat.”2 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa orang tua (keluarga) adalah Pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. keingan serta prakarsa sendiri menambanh. Cet. Cet. h. Kepribadian orang tua. Ilmu Jiwa Agama. Ke.BAB IV PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH PADA ANAK A. dan pribadi yang mandiri. h. mutu dan kemampuan manusia yang optimal.3 Muhammad Ali.

karena keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama. Akhlak atau budi pekerti tidak mungkin terwujud tanpa melalui proses pembinaan pada seseorang yang dapat memberikan perubahan pribadi seseorang di antaranya adalah pengaruh lingkungan bagi seorang anak sudah barang tentu yang pertama kali atau berpengaruh pada kepribadian adalah pengaruh lingkungan keluarga. keluarga. masyarakat bahkan berbangsa dan bernegara. Begitu pula anak akan memiliki budi pekerti yang baik apabila lingkungan keluarganya menanamkan akhlak yang baik. Nasrani atau Majusi. Bukhari) . maka tergantung ibu bapaknyalah akan jadi Yahudi.55 Pembinaan akhlak di sini mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia baik secara pribadi. sedikitnya akan mengikuti ucapan atau prilaku orang tua (keluarga) sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˸ϭ˴˶ ˶ ΍˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ΍˴ ˴ ˴˴ ˶ ˴ ˸τ˶ ˴΍ϰ˴˴ ˵ ˴˸Ϯ˵ ˳ ˸Ϯ˵˸Ϯ˴ ͊ ˵ ΍ Ϫϧ ή˶ ϨΑ ΍ Ϫϧ Ω˶ Ϭϳ ϩ ϮΑ΄ϓ Γή ϔϟ Ϡϋ Ϊϟ ϳ Ω ϟ ϣ Ϟϛ μ Ϯ Ϫϧ δ˶ Ϥϳ ˶ ˶ Ύ˴ ˷ ˴ ˵ Π Artinya: “Setiap bayi yang lahir ada dalam keadaan suci.” (HR. karena baik buruk seseorang atau keluarga dapat dilihat dari prilaku kesehariannya dari kepribadiannya yang menggambarkan budi pekerti yang ada pada dirinya.

Cit. Raja Grafindo Persada. h. Akhlak Tasawuf. dan proses pembinaannya harus secara terus menerus baik melalui agama atau memberikan contoh perilaku yang baik. dengan demikian pendidikan akhlak pada awal usia sekolah tingkat SD dirasakan akan lebih muda diterima. Itulah sebabnya orang tua. yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan. 2001). teman di mana ia bermain akan banyak memberikan pengaruh pada prilaku anak khususnya akhlak (perilaku budi pekerti). Ke-5. 169 5 Zakiyah Daradjat. h. Op.56 Hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan anak adalah kedua orang tua.4 Kemudian pendidikan akhlak pada anaknya yang selanjutnya setelah lingkungan keluarga adalah lingkungan masyarakat yakni teman bergaulnya di mana anak memilki lingkungan bermain. Cet. khususnya ibu mendapat gelar madrasah. (Jakarta: PT.5 4 Abudin Nata. Pada usia sekolah lingkungan sekolah pun memberikan pada anak warna. 129 . maka pendidikan yang diberikan oleh guru pada anak di masa awal ini akan mudah diterima.

Cit. misalnya ketika si anak mulai suka bermain dengan teman sebayanya. perkembangan kecerdaannya belum sampai kepada kemampuan menangkap hal yang maknawi (abstrak). Op. maka ia akan menjadi orang yang jahat. pembiasaan dan percontohan. Untuk anak-anak umur Taman Kanak-kanak (3-5 tahun). seyogyanya ia dilatih untuk suka meminjamkan mainannya kepada temannya ketika bermain. h. 162 . Pendidikan akhlak terhadap anak dilakukan dengan memanfaatkan kecerdasan si anak..”6 Pribadi manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembinaan atau pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat. sebaliknya bila manusia membiasakan dirinya dengan cara yang bertingkah laku yang mulia maka ia dapat membentuk pribadi yang mulia. maka pendidikan akhlak pada umur tersebut menurut Zakiah Daradjat dengan latihan.57 Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlak ini adalah dengan “Pembiasaan” yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Pembinaan akhlak pada usia ini diperlukan dan dibutuhkan perhatian. Pembinaan akhlak pada usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) sudah dapat dilakukan secara langsung melalui petunjuk dan nasihat yang sederhana yang 6 Abudin Nata.

h.7 Pembinaan akhlak pada usia ini dapat pula memanfaatkan bakat. h. Maka pembinaan akhlak pada usia ini diberikan penjelasan dan keterangan yang rasional tentang kaidah-kaidah akhlak dan setiap masalah akhlak yang penting dijelaskan secara analisa yang tepat disertai manfaat dan hikmahnya dalam kehidupan anak masa sekarang dan masa yang akan datang. 93 Ibid. petunjuk dan penjelasan tentang berbagai hal yang baik. Hendaknya setiap ucapan yang baik dan perbuatan yang baik yang dilakukan oleh anak usia ini diberi pujian dan didorong untuk mempertahankan kebaikan yang telah dicapainya. dan percontohan. 7 8 Zakiyah Daradjat. bisa juga dengan cara diskusi atau tanya jawab. 69 . kebiasaan.58 sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan daya pikirnya. misalnya suka meniru.. melakukan identifikasi terhadap kata-kata perbuatan. Dalam hal ini dapat digunakan syair dengan lagu yang menarik. Lalu mereka didorong untuk memilih mana yang baik dan menjauhi yang tidak baik.8 Pembinaan akhlak pada usia SMA atau yang sejenisnya (16-19 tahun) sangat penting dan tidak mudah terutama bagi mereka yang pada tahap sebelumnya mendapatkan bimbingan pembinaan akhlak secara tepat. Pembinaan pada usia SMP (13-16 tahun) dapat dilakukan dengan cara langsung nasihat. Pembinaan akhlak pada usia sekolah dasar ini masih tetap menekankan pada latihan. Op. naluri dan kecerdasan anak. Cit. gerakan dan sikap diam pada orang-orang yang sering berhubungan dengan mereka. merusak dan membahayakan. serta digairahkan atau diberi semangat untuk memperbaiki kekurangannya. bermanfaat serta hal yang buruk.

Cet. Menurut Abudin Nata bahwa: “Pembinaan akhlak dapat ditempuh dengan cara memberikan keteladanan”. instruksi dan larangan akan tetapi memerlukan pendidikan yang panjang dan pendekatan yang baik. Ahmad Amin dalam bukunya :”Ethika (ilmu Akhlak)” menyebutkan cara yang ditempuh dalam membina akhlak yaitu: 9 Ibid.59 Dalam mendidik akhlak anak pada usia ini perlu dikaitkan dengan ajaran agama karena mereka telah sampai pada umur baligh artinya bahwa mereka bertanggung jawab langsung kepada Allah serta perlu dikaitkan pula dengan perundang-undangan yang berlaku. Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. dr. Dengan pengungkapan masalahnya dan mendapat tanggapan dari orang tuanya atau saudara-saudaranya akan menyebabkan anak yang bersangkutan lebih memahami persoalan yang dideritanya. 165 10 . h.9 Dalam diskusi. 93 Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada). remaja mendapat kesempatan untuk mengungkap perasaan dan masalah yang dihadapinya.10 Dalam pembinaan akhlak tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran. h. Ke-5. Menurut Prof.

1996). Berkawan dengan orang yang terpilih 1. Membaca dan menyelidiki perjalanan para pahlawan dan orang yang berpikir luar biasa 2. Membersihkan pribadi dengan ilmu dan perbuatan itulah yang membawa kita kepada kebahagiaan. Akhlak Muslim. (Bandung: Aksara. h. Cet. dan akan menjadikan kebahagiaan yang luar biasa jika kemudian ilmu pengetahuan yang ada itu diimbangi dengan amal perbuatan.11 Sedangkan menurut Oemar Bakrie yang menjelaskan hal ini lebih luas lagi mengatakan bahwa dalam mendidik seseorang supaya berakhlak yang baik. 11-20 12 .60 1. Meluaskan wawasan berpikir 2. Cukup banyak contoh dalam sejarah bahwa akal pikran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) menjadikan berbudi pekerti yang luhur. Ke-6. h. Etika (Ilmu Akhlak). 1986). Mengisi akal pikiran dengan ilmu pengetahuan Akal pikiran seseorang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupannya. (Jakarta: Bulan Bintang. Ke-1. Memberi dorongan untuk berbuat baik bagi masyarakat umum 3. yaitu12: 1. Akal pikiran yang sempit dan buntu akan menjadikannya menempuh jalan yang sesat. Akan tetapi sebaliknya akal pkiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) akan menjadi obor penerang bagi kehidupannya. ada banyak cara yang dapat dilakukan. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Akal pikiran yang sehat (berisi ilmu pengetahuan) itu akan tetap menuntun seseorang ke jalan yang benar. 63. 11 Ahmad Amin.66 Oemar Bakrie. Cet.

Teman yang suci hatinya maka cahaya iman pasti menerangi jiwanya dan ini dapat menjadi teladan bagi teman bergaulnya. sehingga ada baiknya jika dalam bergaul kita memilih teman yang baik. Akan tetapi jika bergaul dengan orang penakut maka membawa ia menjadi penakut. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pergaulan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan karakter pada diri seseorang. Teman yang baik dapat ditiru dan diteladani amal perbuatannya. (QS. Dan sesungguhnya merugilah (sengsaralah) siap yang mengotori dirinya (dengan tindak laku yang jahat).61 Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ Ύ˴ ˸Ϊ˴ ˴  () Ύ˴ Ύ͉ ˴ ˸Ϧ˴ ˴ ˴˸ϓ˴˸Ϊ˴ ϫ γΩ ϣ Ώ Χ ϗϭ ϫ ϛί ϣ ΢Ϡ ΃ ϗ Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah (menanglah dunia akhirat) orang yang membersihkan dirinya (dari sifat yang jahat). Bergaul dengan orang-orang yang baik Sudah menjadi sifat yang alami jika manusia suka meniru atau mencontoh hal-hal yang dilakukan oleh orang lain dalam kehidupan di masyarakat. bergaul dengan orang berani maka menjadikan ia seorang yang pemberani pula. Dalam pergaulan di masyarakat. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an: . Asy-Syamsu: 9-10) 2.

” (QS. Luqmanul Hakim memberi nasihat kepada anaknya: ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴  ˴ ͉ ˴ ˵  ˸ϥ˴ ˴ ΍ ˶ ͉˶ ˸Ϣ˶ ˶ ˴ ˵  ˴ ˴  ˴ Ύ͉ ˴ ˸ϟ΍ ˶ ˶Ύ˴ ˵  ˴  ͉ ˴ ˵ Ύ˴ Ϭ Ϡϋ ϝΰϨϳ ΍ Ϳ ϖΗ΍ ϬθϤΗ ϻϭ έ Π˵ βϟ ΠΗ ϻ ϲϨΑ ϳ ϔ ˴ Ύ˴ ˴˵ ˸ϟ΍˴  ˶ ˴ ˴ ˵ ϟ΍˸ ˶ ˶Ύ˴ ˴  ˸Ϣ˵ ˴ ˴  ˴ ˵ ˸ϴ˶ ˵ ˴  ˶ Ύ˴ ͉ ϟ΍ ˸Ϧ˶  ˲ ΍˴ ˴ ˯ ϤϠό ϭ ˴ ϼπϔ βϟ Οϭ Ϭόϣ ϚΒ μϴϓ ˯ Ϥδ ϣ Ώ άϋ ˯ ˴ ˸έ˴ ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  Ύ˴ ˴  ˶ ˴˸ϴ˶ ˴ ˴Ύ˶  ˴ ˴ ˸ϴ˴ ˸ϟ΍ ˴ ˸Ϯ˵˵ ˸ϟ΍ ϰ˶ ˸Τ˵  ˴ ΍ ͉ ˶˴ ν ϻ ϴ ϳ Ϥϛ ΔϠ πϔϟ Α ΔΘ Ϥ Ώ ϠϘ ϴ ϳ Ϳ ϥΈϓ ήτϤ ϞΑ ϮΑ ˶ ˴ ˴ ˸ϟ΍˶ ˶ ΍˴ ˶ Artinya: “Wahai anakku! Janganlah sekali-kali kamu bergaul dengan orang-orang yang jahat. jelaslah bagi kita bahwa dalam memilih teman hendaknya dicari orang orang-orang yang selalu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Takutilah azab yang akan menimpa kamu. Selanjutnya berkenaan dengan pemilihan teman dalam bergaul. orang-orang yang mati syahid (pejuang yang jadi korban dalam kebenaran). para shiddiiqiin. dan mereka itulah yang sebaik-baiknya. yaitu Nabi-nabi. Bergaullah dengan orang-orang yang baik dan berilmu. Dengan pergaulan yang baik itu Allah akan menghidupkan hati- .62 ˴ ˶ ˸Ϣ˶ ˸ϴ˴˴ ˵ ͉ϟ΍˴ ˴ ˸ϧ˴˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˴ Ϯ˵ ͉ ϟ΍˴ ˴ ͉ϟ΍˶ ˶ ˵ ˸Ϧ˴ ˴ Ϧϣ Ϭ Ϡϋ ϪϠ Ϣό ΃ Ϧ άϟ ϊϣ ϚΌϟ ΄ϓ ϝ γή ϭ ϪϠ ϊτϳ ϣϭ Ύ˱ ϴ˶ ˴ ˴ ˶ ˴ϭ˵˴ ˵ ˴ ˴ ˴ ϴ˶ ˶Ύ͉ ϟ΍˴ ˶ ΍˴ ˴ ͊ ϟ΍˴ ˴ ϴ˶ ϳ͋ ͋ ϟ΍˴ ˴ ϴ͋ ˶ ͉ϟ΍ Ϙ ϓέ ϚΌϟ ΃ ϦδΣϭ Ϧ Τϟ μ ϭ ˯ ΪϬθ ϭ Ϧ Ϙ Ϊμ ϭ Ϧ ϴΒϨ Artinya: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya. An-Nisa: 69) Berdasarkan ayat di atas. dan orang-orang yang saleh. Jangan bersama mereka. karena mereka akan menjadi teman yang bisa membimbing ke arah jalan-jalan yang memang telah digariskan oleh Allah swt. mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah.

Ia akan menjadi orang baik. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya. sehingga menurut hemat penulis dapat disimpulkan bahwa dalam mencari teman harus dilakukan dengan hati-hati sekali. orang yang giat bekerja. jangan sekali-kali memilih teman yang justru menggiring kita kepada kehancuran dan kesesatan. berguna kepada nusa. An Nisa : 69 dan apa yang disampaikan oleh Luqmanul Hakim kepada anaknya. merusak kesehatan. Semua organ tubuh menjadi lesu. Sebaliknya. 3. Meninggalkan sifat pemalas Sifat pemalas dan duduk-duduk berpangku tangan tanpa amal. Pada akhirnya cenderung untuk melamun melakukan perbuatan yang tidak baik. cenderung untuk tidak mempunyai waktu merenungi perbuatan-perbuatan yang jahat. perlu dijadikan pedoman (pegangan) dalam mencari dan memilih teman. seseorang dapat terhindar dari segala perbuatan jahat. Dengan bekerja keras. 16 . berjuang dengan ulet untuk mencapai cita-cita yang diinginkannya. yaitu: 13 Ibid.13 Nasihat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya dalam memilih teman ternyata sejalan dengan ketentuan yang telah disebutkan dalam QS. h. Karena apa yang diatur dalam QS.63 hati yang mati sebagaimana hujuan menghidupkan tanah yang tandus dengan tumbuh-tumbuhan. bangsa dan agama. tidak berdaya dan akan tampak seperti orang bodoh. An Nisa: 69.

64 .

. Walaupun bagaimana berat dan sulitnya meninggalkan kebiasaan lama. ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ͉˶  . ˶ ˸Β͉ ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ͋ ˴ ˸ϟΎ˶ ΍˸Ϯ˴ ΍˴ ˴ ˴ ˶ Ύ˴ ˶Ύ͉ ϟ΍΍Ϯ˵˶ ˴ ˴ ή μ Α λ ϮΗϭ ϖΤ Α λ ϮΗϭ Ε Τϟ μ ϠϤϋϭ Artinya: “Demi masa. Untuk meninggalkannya perlu kemauan keras dan tekad yang kuat serta kesadaran yang mendalam. yaitu: a. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merubah tabiat buruk. Biasanya tabiat atau kebiasaan buruk yang telah mendarah daging akan sulit dipisahkan. 4. akan tetapi harus dicoba untuk melupakannya. sesungguhnya manusia tetap selalu dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (giat bekerja). Jangan sekali-kali meninggalkan perbuatan baik yang baru dicoba sebagai penggganti tingkah laku jahat yang baru ditinggalkan. Al-‘Ashr: 1-3 menurut penulis adalah suatu seruan yang diberikan oleh Allah swt bahwa manusia harus saling berjuang (giat bekerja) dalam kehidupan ini. Al-‘Ashr: 13) Salah satu intisari yang terdapat di dalam QS. karena kalau tidak maka manusia akan berada dalam kerugian yang disebabkan oleh kemalasannya sendiri. wasiat-mewasiati dalam kebeneran dan dan kesabaran.” (QS. Merubah kebiasaan buruk Sesuatu perbuatan yang sudah dilakukan seringkali ia akan menjadi tabiat dan sulit sekali untuk merubahnya.

˳ ˸δ˵ ϲ˶ ˴˴ Ύ˴ ˸ϧ˶˸ϟ΍͉ ˶  .

 ˶ ˸μ˴ ˸ϟ΍˴ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϟ· ή Χ ϔϟ ϥ δ Έ ϥ · ή ό ϭ .

14 Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Oemar Bakry. Akhlak Muslim. jangan menunggununggu. Jilid 2. spiritual dan sosial.1 15 . saintikal. (Bandung: Asy-Syifa’. Tinggalkan kebiasaan yang jahat sesegera mungkin. Diperlukan kemauan yang keras untuk meninggalkan kebiasaan jahat yang telah sekian lama dilakukan. Dengan munculnya kesadaran dan keyakinan tersebut penulis yakin bahwa proses penghentian kebiasaan buruk tersebut akan jauh lebih mudah. Dalam mendidik anak haruslah terus mencari metode yang lebih efektif. (Bandung: Aksara. hendaknya perlu ditanamkan keyakinan dan kesadaran yang kuat bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak baik. Cet. h.15 14 Oemar Bakrie.16 Abdullah Nashih Ulwan. penulis berpendapat bahwa untuk menghentikan (menghilangkan) perbuatan buruk. c. Ke-1. dilarang oleh Allah swt atau perbuatan tersebut merugikan orang lain. 1988). Ke-1. Tanamkan keberanian untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan buruk yang pernah dilakukan. dan mencari kaidah-kaidah pendidikan yang influentif dalam mempersiapkan anak secara mental dan moral. sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). h.65 b. Apabila ada keinginan untuk berubah maka lakukan itu dengan segera. Cet. 1986).

lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. atau seorang ayah yang jarang 16 Ibid. Anak yang terlahir dari ayah dan ibu yang tidak komunikatif cenderung membentuk pribadi si anak menjadi pemalu. Pendidikan dengan memberikan perhatian e. Dalam mendidik anaknya. Pendidikan dengan adat kebiasaan c.66 Kaidah-kaidah atau metode-metode pendidikan yang influensif dalam membentuk anak ini adalah tersimpul dalam lima masalah di bawah ini: a. 2 . h.16 Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa proses pembinaan akhlak pada anak khususnya haruslah sejalan antara keluarga. Penddikan dengan nasihat d. Pendidikan dengan keteladanan b. Sehingga ketika dewasa dapat memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. hendaknya orang tua dapat mengerti tentang ilmu pendidikan atau pengetahuan dalam mendidik anak. hal ini bertujuan agar tidak ada kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak yang akan berakibat buruk bagi perkembangannya pada masa yang akan datang. Pendidikan dengan memberikan hukuman.

Mengomentari anak dengan komentar yang justru menghalanginya kembali berprilaku baik 9. Hal ini menjadikan anak selalu mengaharapkan imbalan ketika melakukan sesuatu.17 Di antara Kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Tidak menghukum perilaku salah yang muncul dari anak 17 Retno. Sikap orang tua yang menerima persyaratan yang diajukan anak. Batasan strategi yang diterapkan dalam berinteraksi dengan anak tidak berubah meskipun perilakunya telah berubah 3. 49 . Sikap orang tua yang enggan menerapkan kedisiplinan pada anak 4. bisa jadi.67 mengajak buah hatinya bertutur kata. Paras. Memerintahkan anak dengan tanpa menjelaskan alasan pentingnya menunaikan perintah tersebut 2. Para pendidik tidak berusaha memahami berbagai faktor yang mendorong anak melakukan perilaku yang salah 6. 36 (September. h. 7. Tidak menyikapi kesalahan-kesalahan anak dengan ekstra 5. jangan salahkan anak semata. Jadi. 2006). orang tualah faktor pemicunya. Berlebihan dalam memberikan janji yang berulang kepada anak 8. Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. adalah: 1. si anak cenderung menarik diri.

Mengikuti pola pandang negatif dalam berinteraksi dengan anak. Tidak memenuhi kebutuhan anak dalam memperoleh kasih sayang. cinta. Tidak menempuh tahapan-tahapan dalam berinteraksi dengan anak 17. mengejek. Kontradiktif dalam menerapkan sistem pendidikan anak 13. dan kelembutan 14.68 10. (Jakarta: Pustaka AlKautsar. Tidak memberikan sprit yang positif pada diri anak 11. Ke-1.18 Muhammad Rasyid Dimas. 2005). 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. Tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam memberikan hukuman fisik ketika mendidik anak 15. Tidak adanya kesepakatan antara kedua orang tua dalam hal metode pendidikan yang seragam 19. Membandingkan secara tidak proporsional dengan anak-anak lain 12. Tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan individual dalam mendidik anak 16. h. 11-13 18 . dan membeda-bedakan dalam mendidik anak 18. Cet. Meremehkan. Tidak menyertakan anak dalam menetapkan kaidah-kaidah yang berlaku 20.

Maka ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi. Puisi itu adalah: Jika anak dibesarkan dengan celaan. dan ingin dibawa ke mana si anak adalah tidak terlepas dari peran orang tua sebgai pendidik yang pertama dan utama. et.19 Syahminan Zaini. Maka ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan penghinaan. sehingga baik baruknya anak. Ke-3. Maka ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan dorongan..69 Perlu penulis cantumkan ada puisi yang sangat indah yang berasal dari Dorothy Nolt yang berkaitan tentang pengaruh orang tua yang sangat sentral dalam mendidik anak. 2004).el. Maka ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan dengan sebaik-baiknya perlakuan. Maka ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan cemoohan. Pendidikan Anak dalam Islam ( Jakarta: Kalam Mulia. Maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya. Maka ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan dengan kasih sayang. Cet. h. 37 19 .

No. baik sebagai mahluk individu atau sebagai mahluk sosial. Oleh karena itu orang tua mempunyai peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. sebagaimana yang tercantum dalam GBHN Tap. sebab keluarga merupakan lembaga pendidian dasar utama bagi seorang anak. Keluarga sebagai satu kesatuan terkecil dari suatu masyarakat memliki peranan penting dalam pembinaan manusia. Bagi seorang anak .70 Dari puisi di atas dapat kita pahami bahwa dalam baik dan buruknya pendidikan anak adalah banyak ditentukan oleh kedua orang tuanya (keluarga). Sebagai lembaga pendidikan bagi anak. agar dapat terbina secara optimal dan maksimal. karena dari keluarga sakinah-lah akan muncul generasi-generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman pada era globalisasi ini. Di antara peranan keluarga sakinah itu adalah sebagai berikut: a. untuk itu orang tua harus dapat memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan si anak.II/MPR/1983. Keluarga merupakan suatu lembaga yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam tercapai atau tidak suatu tujuan pendidikan anak yang selanjutnya. B. Peran Keluarga Sakinah dalam Pembinaan Akhlak Keluarga yang sakinah memliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan pembinaan akhlakul karimah anak.

Lingkungan yang dapat menciptakan hubungan yang serasi antara sesama anggota keluarga. yaitu hubungan orang tua dengan anaknya yang mengarah kepada sikap mendidik. Sebagai sumber kasih sayang Pelaksanaan tugas dan peran keluarga sehari-hari tentunya dilakukan tanpa menghilangkan unsur kasih sayang sebagai segalanya di antara anggota keluarga. Karena nilai-nilai pendidikan tersebut akan dijadikan bekal bagi seorang anak yang akan menjadi generasi penerus di masa yang akan datang. Termasuk juga pengaruhnya setelah anak memasuki lembaga pendidikan formal. maka sifat saling mengerti. Setiap orang tua berusaha untuk menjaga keluarga. Peranan orang tua juga dituntut dalam mengembangkan nilai-nilai pendidikan sedini mungkin.71 sebelum ia mengetahui dunia luar secara lebih luas. maka lingkungan keluargalah yang pertama ia jumpai. yang akan membawa perkembangan positif bagi perkembangan psikis anak-anaknya. b. menyayangi dan menghormati harus terwujud secara . sehingga terjadi hubungan yang khas. Keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya. Orang tua sebagai penganggung jawab dalam lingkungan keluarga berperan penuh dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. menghargai.

akan tetapi melalui proses yang panjang. keterampilan dan kreatifitas pada anak. . Motivasi belajar pada anak dapat dikembangkan sedini mungkin melalui usaha di antaranya. Dengan usaha tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan atau motivasi bagi anak untuk belajar dengan penuh kesungguhan.72 nyata dan dapat dirasakan adanya rasa kasih sayang dalam keluarga tersebut sejak lahir. hal ini didasarkan pada latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. Di sekolah sering kita jumpai motivasi belajar pada anak yang bervariasi. Sebagai sumber motivasi Motivasi belajar pada anak biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. emosi. yang dimulai sejak anak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. Adanya rasa kasih sayang dalam keluarga akan memberikan rasa tentram. sehingga anak-anak betah berada di dalam lingkungan keluarga. Keinginan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tua pada umumnya akan mempengaruhi motivasi belajar pada anak. yaitu: memberikan permainan yang mengandung unsur edukatif (pendidikan) untuk merangsang penalaran. c.

Dengan turut sertanya orang tua dalam mematuhi setiap peraturan yang dibuat akan memberikan penilaian bagi anak terhadap orang tuanya. Orang tua hendaknya menerapkan tentang aspek-aspek yang .73 d. Keteladan yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam rumah tangga akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa anak dibanding melalui nasihat. Mereka akan menjadikan orang tua sebagi figur teladan bagi anak-anaknya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun orang tua dituntut untuk mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di dalam keluarga. Orang tua adalah panutan yang selalu ditiru dan dicontoh oleh anaknya dalam setiap tingkah lakunya. Islam mengajarkan kepada setiap orang tua yang dalam hal ini adalah keluarga agar mengetahui tentang aspek-aspek yang dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah terhadap anak. Sebagai sumber teladan bagi anak Orang tua memilki peranan yang sangat penting dan memilki tanggung jawab terhadap semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya. Aspek-aspek yang dibutuhkan dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Terhadap Anak Dalam membina akhlakul karimah anak. D.

38 21 . Menanamkan nilai-nilai agama Islam telah mengajarkan bahwa dalam membina akhlak anak haruslah dilakukan sedini mungkin.. 21 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak mutlak diperlukan dan itu dimulai sedini mungkin agar kelak setelah dewasa anak dapat terbiasa dengan nilai-nilai agama yang diberikan orang tuanya. 20 Syahmini Zaini. (Jakarta: Kalam Mulia. mulai pasangan suami istri melakukan kebersamaan (persetubuhan) untuk mengucapkan doa yang telah diajarkan Rasulullah saw. Dan ajaran Islam itu sangatlah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa pendidikan itu dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. 24 Ke-3. et. di antaranya adalah:20 1. h. 2004) Cet Ibid. Pendidikan Anak dalam Islam.74 dibutuhkan dalam proses pembinaan akhlakul karimah anak. Hal ini karena orang tua terutama ibu mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian anak yang masih berada di dalam kandungan ibu. dan mempraktekkannya dalam kehidupannya. agar dijauhkan dalam kebersamaan suami-istri itu dari godaan dan campur tangan setan. h.el.

Dengan demikian berarti mendidik manusia adalah juga dengan memberikan keteladanan. bersabda: “Biasakanlah anak dengan shalat apabila ia telah dapat membedakan antara tangan kanan dan kiri (HR. sebab dia merasa telah dibohongi. Abu Daud dan Baihaqi). Pembiasaan Nabi Muhammad saw. apalagi kalau mengerjakannya berlawanan dengan yang disuruhnya. Ada hukum yang menyatakan: “Sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. sedang ia sendiri tidak mengerjakannya. Adat yang diulangulang akan menjadi sifat. puncaknya anak akan menajdi pemberontak.75 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak hendaknya orang tua dapat melakukan hal ini kepada anak: a. maka anak paling tidak akan menjadi bingung. Sifat hanya akan terbentuk dengan pembiasaan. .” b. Memberikan teladan Nabi dikirim Allah ke bumi ini adalah untuk mendidik manusia. Kalau orang tua menyuruh anaknya berbuat sesuatu. Kebiasaan yang diulang-ulang akan menjadi adat. untuk diteladani haruslah terlebih dahulu mempunyai budi pekerti yang baik.

e. bercerita dan lain sebagainya. Memberikan pengertian ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. diskusi. d. Tanya jawab. Memberikan penghayatan Memberikan penghayatan di sini adalah memberikan maknamakna apa dibalik perbuatan ini harus dilakukan dan perbuatan ini harus ditinggalkan. Orang tua dalam hal ini hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman mereka ataupun pengalaman orang-orang sebelum mereka kepada anaknya. agar kelak anaknya dapat memetik pelajaran dari pengalaman orang tuanya atau pengalaman orang lain yang diceritakan oleh kedua orang tuanya.76 c. . Seperti ceramah. Tetapi juga harus diingat pemberian pengertian ini harus disesuaikan dengan perkembangan akalnya. Seperti puasa adalah untuk menghayati rasa lapar yang sering dirasakan oleh orang-orang miskin. Memberikan pengertian Berikanlah pengertian kepada anak terhadap setiap tingkah laku dan ajaran Islam yang harus dikerjakan. Pengalaman Pengalaman adalah guru terbaik.

mengajarkan membaca doa ketika akan atau setelah melakukan aktifitas. hendaklah mereka diajak bermusyawarah untuk menyelesaikannya. h. Musyawarah Setiap persoalan yang dihadapi yang berhungan dengan anak tersebut. Pendidikan Anak dalam Islam. anak perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan. Dengan demikian si anak akan merasa dihargai dan merasa bertanggung jawab. mengingatkan akan pentingnya beriman dan bertaqwa kepada Allah. karena itu mereka akan siap untuk memikulnya walaupun berat dan penuh resiko. Pengetahuan Dalam membina akhlakul karimah. 2. mengajarkan untuk mencintai Rasulullah saw. melazimkan membaca Al-Qur’an setelah shalat maghrib atau shalat shubuh. karena dengan pengetahuan seseorang dapat mengetahui hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.77 f. 40-43 22 . Ke-3. (Jakarta: Kalam Mulia. 2004) Cet. baik itu pengetahuan agama ataupun pengetahuan umum. Ilmu adalah “Nur” (cahaya) yang akan menerangi seseorang kepada jalan yang Syahminan Zaini. dan lain sebagainya. mengajarkan untuk dapat istiqamah dalam hal kebaikan. et al.22 Dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak juga bisa dilakukan dengan mengajaknya pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.

Oleh karena itu. sedang orang yang tidak berilmu akan terkena paku-paku kehidupan yang membawanya kepada kesesatan dan kemaksiatan sehingga akan menimbulkan kemerosotan moral bagi orang yang tak berilmu. Dengan ilmu seseorang akan mengetahui dengan jelas paku-paku kehidupan yang akan mencelakakan dia. Dan Nabi Muhammad saw telah menegaskan dalam sabdanya: ˶ Ύ˴˸Χ˴ ˸΍˴ ˶ Ύ˴ ˴ ˴ ˷ ˴ ˵ ˵ ˸Θ˶ ˵ Ύ˴ ͉ ˶ ϕ Ϡ ϻ ϡέ Ϝϣ Ϣ˶ Η˶ Κ όΑ Ϥϧ΍ Ϥϻ Artinya : “Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak. maka hendaknya orang tua memperhatikan hal ini dan menyadari akan pentingnya menanamkan keilmuwan kepada anak agar kelak ia mempunyai akhlakul karimah pada kehidupannya. sedang ilmu umum akan membawanya kepada kebahagiaan di dunia. maka adalah dengan ilmu”. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah saw : “Siapa yang ingin mendapatkan dunia.78 lurus yang diridhai Allah. maka adalah dengan ilmu. Ilmu agama akan membawa dia kepada derajat yang tinggi dan kehidupan yang bahagia di hari kiamat nanti. dan siapa yang ingin mendapatkan keduanya.” Orang tua juga dalam hal ini mempunyai kewajiban agar anaknya mempunyai dan menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu . maka adalah dengan ilmu. dan siapa yang ingin mendapatkan akhirat.

(Jakarta: Rineka Cipta. el.79 dan mendalami ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan. 99 Wasty Soemanto. et.24 Chatibul Umam. serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula. dan masyarakat atau tempat bermainnya dan lain sebagainya. dan faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi yang berasal dari luar. yaitu faktor internal dan ekternal. h. 80 24 23 . mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut. h. Cet. 1996). Ke-1. (Jakarta: Menara Kudus. Faktor internal adalah faktor yang dibawa sejak lahir. agar kemudian setelah mereka selesai dapat kembali ke masyarakat. Keniscayaan Lingkungan yang Kondusif (Sakinah) dalam Membina Akhlakul Karimah Pada hakikatnya perbuatan atau kelakuan seseorang adalah ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pempinan Pendidkan). 23 b. Dalam buku Drs. Wasty Soemanto yang berjudul “Psikologi pendidikan” dikatakan bahwa “Lingkungan adalah yang mencakup segenap stimulasi.1990). seperti keluarga. Qur’an Hadits (Untuk Madrasah Aliyah Kelas III). Ke-3. interaksi dan kondisi dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain”. Cet.

1991) Cet. Ia masih menerima segala apa yang digoreskan kepadanya dan canderung kepada setiap hal yang ditunjukkan kepadanya. el. Hal ini menunjukkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak berdaya dan 25 Ibid. Ke-1.. karena anak merupakan amanat yang Allah berikan kepadanya. Anak lahir dalam keadaan suci. 81 Zainuddin. lingkungan ikut memberi andil bagi proses pertumbuhan.26 Lebih lanjut Al-Imam Ghazali mengatakan bahwa tanggung jawab keluarga yakni kedua orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi dua macam alasan. oleh sebab itu hendaknya orang tua dapat memberikan seluruh kemampuannya dalam mendidik anaknya. et. Orang yang tidak pandai menjaga amanat adalah termasuk orang yang khianat.89 26 . (Jakarta: Bumi Aksara.80 Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan pisik. Al-Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa anak adalah suatu amanat Tuhan kepada orang tuanya.25 Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa keluarga (orang tua) merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan akhlak anak. yaitu: 1. Sejak individu berada dalam konsepsi. dan orang yang khianat adalah termasuk kategori orang munafik. hatinya suci bagaikan juhar yang indah sederhana dan bersih dari segala goresan dan bentuk. h. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. h. bersih dan sederhana.

seks bebas. Hal yang semacam ini adalah karena gagalnya sebuah keluarga dalam mendidik anak-anaknya dan tidak menanamkan nilai-nilai dan batasan-batasan yang telah agama atur di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kelahiran anak di dunia adalah merupakan akibat langsung dari perbuatan kedua orang tuanya. perjudian. maka tentu akan lahir generasi-generasi yang tidak kita harapkan. 89. sehingga akan banyak muncul tindakantindakan yang negatif bahkan dapat kepada tindakan yang kriminal dan anarkis. seperti tawuran antar pelajar. yaitu bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya sebagi amanat Tuhan yang wajib dilaksanakan. narkotika dan lain sebagainya. Orang tua (keluarga) adalah tempat menggantungkan diri dan tempat berlindung anak secara wajar berdasarkan atas adanya hubungan antara anak dan kedua orang tua. Dari generasi-generasi yang seperti inilah yang akan melahirkan masyarakat yang tidak berakhlak. . perampokan. jika keluarga itu tidak ada ketenangan dan kesejahteraan serta tidak ada penanaman nilai-nilai agama dan pengetahuan di dalamnya. sehingga masih sangat menggantungkan diri pada orang lain yang lebih dewasa. hal ini karena keluarga adalah pendidikan pertama dan yang utama bagi seorang anak. 2. Oleh karena itu kedua orang tua sebagai orang yang telah dewasa harus menanggung segala resiko yang timbul sebagai akibat perbuatannya. pemerkosaan. . 27 Ibid.27 Dari keterangan di atas dapat jelas kita pahami bahwa lingkungan (keluarga) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan akhlakul karimah anak. h.81 belum dapat berbuat apa-apa.

h. Tidak akan ada masyarakat tanpa keluarga. dan rusaknya masyarakat adalah menandakan rusaknya keluarga di dalamnya. 14 .(QS. Firman Allah Ta’ala: ΍˱ Ύ˴ ˸Ϣ˵ ϴ˶˸ϫ˴˴ ˸Ϣ˵ ˴ ˵ ˸ϧ˴΍Ϯ˵ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ έ ϧ Ϝ Ϡ ΃ϭ Ϝδϔ ΃ ϗ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ Artinya: “Jagalah/peliharalah neraka….82 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. 2005). Al-Mujadilah.” (QS. 11) 28 Abdullah Gymnastiar.28 Ketika keluarga atau orang tua itu menyakini dan mengamalkan di dalam keluarga itu tentang firman Allah SWT : ˳ Ύ˴ ˴ ˴ ˴ ˸Ϡ˶ ˸ϟ΍΍Ϯ˵ ϭ˵˴ ϳ˶ ͉΍˴ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴ ˴ ϳ˶ ͉΍˵ ͉ϟ΍˶ ˴ ˸ή˴ Ε ΟέΩ Ϣ ό Η ΃ Ϧ άϟ ϭ Ϝ ϣ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ ϪϠ ϊϓ ϳ Artinya :“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan dan orangorang yang berilmu itu beberapa derajat. Membangun Keluarga. Oleh karena itu Allah berfirman agar kita menjaga diri kita dan keluarga kita agar tidak jatuh dalam jurang kehancuran dan kenistaan. Publishing. Cet. Dan baiknya masyarakat menandakan baik pula keluarga di dalamnya. At-Tahrim: 6) dirimu dan keluargamu dari api E. Implikasi Positif Pembinaan dalam Merespon Perkembangan Ilmu Pengetahuan & Tekhnologi (IPTEK) Keluarga yang sakinah merupakan keluarga yang dapat menjadikan di dalamnya sebagai pusat ilmu. (Bandung: MQS. Ke-2.

Orang tua yang mampu membina rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah. kesejahteraan (sakinah). seperti orang yang main film atau sinetron tetapi tidak mengenal skenario. Orang yang tidak mempunyai ilmu. yakni tentang keimanan dan keilmuwan. dan meluaskan ilmu. Ibarat orang memasuki rimba belantara tetapi tidak . orang tua mampu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak. adalah kekayaan yang teramat berharga. Semuanya itu tidak akan terwujud bila dalam keluarga itu tidak mempunyai manejemen yang baik dalam rumah tangganya. kenyamanan. Kegigihan sebuah rumah tangga dalam menuntut. Hendaknya orang tua dapat menjadikan di dalam keluarganya sebagi pusat ilmu terhadap anak-anaknya.83 Maka orang tua akan menyadari tentang kewajiban untuk membina anaknya agar tidak hanya matang dalam bidang keagamaan tetapi juga matang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam keluarga yang sakinah. memperkaya. Ilmu pengetahuan akan menjadikannya generasigenerasi yang mampu menghadapi tantangan zaman di kemudian hari. dan salah satu nilai-nilai agama yang harus ditanamkan kepada anak adalah tentang firman Allah Ta’ala pada surat Al-Mujadilah :11. sedang manajemen yang baik hanya ada pada keluarga yang terdapat di dalamnya ketentraman. akan mampu menanamkan pada anaknya tentang pentingnya ilmu pengetahuan.

17 Ibid 30 Rafi’udin. perlu adanya strategi yang intensif dan terarah. 2001) Cet. (Semarang: Inetrmasa. seperti orang yang masuk ke dalam lorong gua tanpa mengenali jalan-jalannya.29 Keluarga yang semacam ini adalah sepanjang waktu diselimuti oleh kegelisahan. yakni memberikan stimulus dan motivasi kepada anak-anaknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. h. 31 Oleh karena itu.30 Rafiu’din dalam bukunya “Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah)” mengatakan bahwa dalam pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak.84 membawa peta. Ke-1. 65 31 .. Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). Perlunya strategi untuk membina ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut adalah dalam rangka mengikis krisis IPTEK di kalangan umat Islam. baik 29 Ibid.h. Musibah dan fitnah akhirnya menjadi akrab dengan rumah tangga tersebut. sebuah keluarga yang dalam hal ini adalah orang tua mempunyai kewajiban dalam mengembangkan strategi yang intensif dan terarah kepada anak-anaknya. yaitu strategi yang dapat mengembangkan atas kerja dan etos IPTEK berdasarkan AlQur’an dan Sunnah Rasul.

Bangunan Keluarga dambaan. Ajaran Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi yang terbelakang dan tertinggal dengan umat yang lain. Orang-orang yang besar hanya akan lahir dari asuhan keluarga yang istimewa (sakinah). Ke-1. berapa banyak ayat AlQur’an dan hadits Nabi saw yang menyatakan akan pentingnya ilmu dan keutamaannya. dari keluarga inilah lahir tokoh-tokoh besar di panggung sejarah. (Jakarta: Wadi Press. et.. Cet. Hal ini seperti keluarganya Sayyidina Umar bin Khathab ra. ataupun memasukkannya ke sokolah-sekolah yang berkualitas.el. h. dari keluarga semacam inilah akan tumbuh dan berkembang pemudapemuda yang dapat mengejar ketertinggalan umat Islam dalam bidang keilmuwan dan teknologi. Hal ini karena keluarga sakinah adalah keluarga yang menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi.32 Dari keterangan di atas. 38 . dan berapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw yang 32 Ridha Salamah.85 dengan mengajarkannya langsung di rumah. 2005). yakni keluarga yang memilki cita-cita besar untuk menata dunia. maka jelaslah bahwa keluarga sakinah mempunyai dampak yang positif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kepada anak-anaknya.. Perhatikanlah orang-orang sekaliber Abdullah bin Umar dan Ummu Hafshah binti Umar Ummul Mukminin.

akan mampu menjadikan umat Islam sebagai umat yang maju dan terdepan. Dengan ilmu dunia dan akhirat dapat diperoleh. dan dengan ilmu manusia berbeda dengan hewan.86 menyatakan ruginya orang yang tidak mempunyai ilmu. bukan umat yang tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi . karena itulah manusia Allah bekali dengan akal agar manusia dapat mempelajari ayat-ayat Allah yang tertulis dan yang tidak tertulis (alam semesta). Keluarga yang di dalamnya terdapat pengetahuan tentang agama dan mampu menanamkan nilai-nilainya khususnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya.

2. sebagai berikut: 1. 87 . yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini.BAB V PENUTUP A. hukuman. keteladanan. Untuk itu. Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. latihan. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga.

2. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. kesejahteraan. ketenangan. cara Nabi membina keluarga. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. di antara saran-saran itu adalah: 1. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. keakraban. agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga.88 B. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.

Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Bagi pihak guru atau pendidik. hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. 4. 3. Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. . tidak hanya pada keluarganya sendiri.89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu. Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”.

Peranan orang tua (keluarga) yang di dalamnya penuh kasih sayang. 2. sebagai berikut: 1. latihan.BAB V PENUTUP A. Cara mendidik anak secara Islami dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan. keteladanan. yang berguna bagi kehidupannya di dalam maupun di luar keluarga. Keberhasilan dan suksesnya orang tua dalam membangun keluarga yang sakinah akan membawa keluarga tersebut berhasil dan sukses di luar keluarga. 87 . Kesimpulan Uraian yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembinaan Akhlakul Karimah Melalui Kehidupan Keluarga yang Sakinah telah membawa penulis pada bagian akhir dari skripsi ini. Untuk itu. dan pemberian ganjaran yang sesuai dengan prinsip-pinsip Islam. hukuman. penulis akan berupaya menyimpulkan pembahasan tersebut. keakraban terhadap anak-anaknya atau anggota keluarga akan mudah mendidik anak-anaknya untuk dapat menjadi muslim yang berkualitas yang senantiasa berkarya dalam kehidupannya. Begitu juga sebaliknya kegagalan di dalam keluarga akan membawa kegagalan di luar keluarga.

Dalam membina keluarga tentu yang dijadikan pegangan dan contoh adalah keluarga Nabi Muhammad saw. membaca buku-buku yang berkaitan dengan keluarga Sakinah. di antara saran-saran itu adalah: 1. keakraban. 2.88 B. atau membaca sejarah tentang keluarga Nabi saw. Kepada para orang tua agar kiranya dapat menciptakan kenyamanan. penulis tunjukkan saran ini kepada pihakpihak yang mempunyai andil dalam membangun sebuah keluarga dan yang mempunyai andil dalam pembinaan akhlak seorang anak. dan kasih sayang di dalam keluarga serta dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada anggota keluarga. Orang tua juga hendaknya memperhatikan tentang perkembangan anak-anaknya dalam hal menjalankan ajaran agama dan juga . agar tercipta keluarga yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. cara Nabi membina keluarga. kesejahteraan. karena Nabi merupakan uswah (tauladan) dalam segala aspek kehidupan kita. Hendaknya kepada para pemuda dan pemudi yang belum menikah atau yang akan menikah agar mengutamakan wanita/laki-laki yang patuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. ketenangan. Saran-saran Dalam memberikan saran-saran. dan juga dapat mempersiapkan keluarganya nanti menjadi keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang (Sakinah Mawaddah Warahmah) dengan mengambil pelajaran dari keluarga orang tuanya atau keluarga orang lain.

tidak hanya pada keluarganya sendiri. Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. tetapi keluarga-keluarga yang ada di masyarakat juga ia perhatikan demi terwujudnya masyarakat madani yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur”. hendaknya dapat memahami hal ini agar kelak ketika di sekolah para pendidik dapat bekerja sama dengan para orang tua murid tentang kendala-kendala yang dihadapi anak di sekolah. Bagi pihak guru atau pendidik. Kepada para segenap aparat pemerintah atau tokoh masyarakat agar mempunyai peranan dalam hal ini. yang bila keluarga itu rusak maka rusak pula masyarakat itu. 3. Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan kesejahteraan keluarga yang ada di bawah naungan. .89 memperhatikan tentang keilmuan mereka baik yang sifatnya sementara (dunia) ataupun yang akan datang (akhirat). Dan ini harus dilakukan sedini mungkin agar kelak nanti si anak akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik di kemudan hari. 4.

Ethika (Ilmu Akhlak). Ke-1 Bakri. Cet. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Cet.el. 1975 Ali. Jakarta: Penasehat Pustaka Amami. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. H. Pius.. Bandung: Aksara. 1986. Abu. Kesehatan Mental. Cet. Mesir: Darul Ma’arif. Partanto.. Cet. H. 1999. Athiyah. Ke-2 Basya. 1972 A. Cet..DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an al-Karim Abrasyi. Ke-7 Ahmadi. Al-Mu’jam Al-Wasith. Jakarta: CV. Prof. 1996. Pengantar Sosiologi. Ahmad. Bandung. M. Muhammad. Akhlak Muslim. dr. Ke1 90 . Ibrahim. Ke-1 Anis. Yusak. 2000. Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Ghazali. Semarang: Ramadany. 1994. Prof. Ke-5 Bakrie. Ke-1 Burhanudin. Cet. Ke-1 Arifin. Hasyimi. 1993. Sidiq Nazar. Cet.Ed. . Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: Pustaka Setia. Drs. Muhammad. Cet. et. 2004. 1975. Pedoman Ilmu Jaya. Drs. Kamus Ilmiah Populer. Jakarta: Bulan Bintang. Kunci Keutuhan Rumah Tangga (Keluarga yang Sakinah). Isyan. 1993 Amin. Al. Oemar. Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya: Arkola.

20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. Jakarta: Bulan Bintang. 1983. Cet. Jakarta: Bulan Bintang. 2003. Deddy. Publishing. Fadhlullah. Abdullah. 2001. Ke-4 Hasan. Zakiyah. Bandung: MQS. Psikologi Pendidikan. Muhammad Rasyid. Cet. Nur ‘Aini. Semarang: Wicaksana. Ke-5 . Cet. Ke-2 Daradjat. . 2001. Ke-12 Mulyana. Ke-16 ____________.. Cet. Mukasyafatul Qulub  (Rahasia Ketajaman Mata hati). Muhamamd. Ke. Cet. Cet. Ke-3 Ghazali. Ke-1 Djatmika. Cet. 2004. Bandung: Pustaka Hidayah. DR. Jakarta: Pustaka Panjimas. Muhammad.˶ Al. Prof. Jakarta: Rineka Cipta. Membangun Keluarga. 2005. Ke-1 Ghazali. 1995 Gymnastiar. Abudin. The Wise Word (Kumpulan Kata-kata Mutiara). Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. 1996. Kesehatan Mental dalan Keluarga. HJ. Sistem Ethika Islam. Cet. Tuntunan Akhlak. Akhlak Tasawuf. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1993. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Rahmat.3 Nata. Ke. Ilmu Jiwa Agama. Surabaya: Terbit Terang. RajaGrafindo Persada. Al. Ke-2 Ha’iri. Akhlak Seorang Muslim. Jakarta: Pustaka Antara.91 Dalyono. 2003. Cet. Cet. Cet. Syekh. Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku. Jakarta: PT.3 Iskandar.Ali. Imam. (Kata-kata Mutiara ‘Ali bin Abi Thalib. Ke-3 Dimas. (Alih Bahasa: Fatihuddin Abul Yasin). 2005. M. Jakarta: Eska Media. Cet.

Mendambakan Keluarga Tentram (Keluarga Sakinah). DR. Abdullah Nashih. . 2004. Membina Keluarga Sakinah. Ciputata: Wadi Press. 100 Kiat Membina Rumah Tangga Muslim. Cet. 1990.. Ke-1 Soemanto.al. 1988. Yogyakarta: CV. Teis dan Disertasi IAIN Syarif Hidayatullah. Cet. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.Ag. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan). 1984. Ismail. 36 (September. Jawa Tengah: Menara Kudus. Ke-1 Umam. Zaitunah. 2002 Ulwan. 1996. Drs. Drs.92 Rafiu’din. Menuju Keluarga Sakinah. Cet. Bangunan Keluarga Dambaan (Panduan Membangun keluarga). Jakarta: PT: Hikmat Syahid Indah. Tarbiyatul Aulad (Pedoman Pendidikan dalam Islam). 2005.. Ke-2 Thaib. Cet. 2006) Sha’idi. Muhammad. Mengubah Anak pemalu Menjadi Pemberani. Ke-1 Retno. Ke-1 Thalib. Cet. Jakarta: Rineka Cipta. S. 2001. Ke-1 Salamah.. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. Qur’an Hadits (Kelas 3). Ke-1 Wahhab. Paras. Hj. et. Risalah Akhlak. Cet. Bandung: Irsyad Baitus Salam. 2001. Pedoman Penulisan Skripsi. 43 langkah Mengakrabkan Orang Tua dengan Anak. Dr. Abdul Hakam.. Chatibul. Ridha. Semarang: Inermasa. Solo: At-Tibyan . Ke-3 Subhan. Prof. Ke-1 UIN Syarif Hidayatullah. Abdul Latif. Wasty. H. Cet.. Cet. Bandung: Asy-Syifa’. Bina Usaha. 2001.. Cet. al. et...

H. al.. Drs. Jakarta: Bumi Aksara. Drs. Pendidikan Anak Dalam Islam. Cet. com. Cet. Ke-3 Zainudin. Ethika Islam.. 1993. Ke-1 . 1991. Hamzah. 2004... Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. tentang akhlakul karimah menurut Al-Qur’an Ya’qub. et.93 WWW. qur’an digital. 2004. Cet. Bandung: CV. Jakarta: Kalam Mulia. Diponogoro. Ke-6 Zaini. Syahmini..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->