P. 1
Slide Presentasi Refleksi Kasus

Slide Presentasi Refleksi Kasus

|Views: 266|Likes:
Published by Dhania_Jayanti_3732

More info:

Published by: Dhania_Jayanti_3732 on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2014

pdf

text

original

REFLEKSI KASUS FORENSIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Resume kasus
KORBAN:  Almarhum : Nn. X  Jenis Kelamin : Perempuan

 Umur : Sekitar tujuh belas sampai dua puluh tahun
 Pekerjaan : Belum diketahui  Agama : Belum diketahui  Alamat : Belum diketahui

sandal jepit yang warnanya berbeda ( putih dan biru ). jenazah dalam keadaan memakai kain jarik dan sarung. PEMERIKSAAN LUAR  Keadaan Jenazah : Jenazah tak bermaterai. . Pada mantel plastik warna merah didapatkan bungkus-bungkus makanan. baju berlapis-lapis dan memakai gelang kawat di pergelangan tangan kanan. rambut gimbal. I. Dibungkus/ditutup dengan kantong mayat hitam bertuliskan BPBD PROV JATENG  Bungkus dibuka. baju bermotif batik warna ungu. terletak di atas meja porselen putih.

dari pangkal hidung ke belakang dengan jarak 11cm . Ukuran Jenazah : Panjang: 163 cm  Kepala : a. panjang tiga puluh sentimeter. mudah dicabut. Rambut :  Gimbal warna hitam ada rambut yang beruban. dari telinga kanan ke atas dengan jarak 8cm. dalam keadaan sudah terlepas b. Bagian yang tertutup rambut :  Hematom (memar) ukuran 6x3cm  Di bagian kepala.

 Mata kanan. tdk menjulur keluar. mata kiri dan hidung sudah tidak ada  Mulut :  Dalam keadaan terbuka 5cm. terdapat 1 gigi (6 gigi terlepas)  Lidah tdk tergigit. terdpt adanya tanda2 pembusukan. dlm mulut terisi tanah & belatung (pada lidah) .

Luka-luka pada perut sebelah kanan berjarak lima sentimeter dari tulang panggul. bentuk oval. Pusat datar. mudah dicabut . Telinga : Daun telinga kanan tidak utuh.  Jenis Kelamin : Perempuan. ukuran 7x4. kiri utuh (tertutup tanah)  Leher : Terdapat adanya luka sobek di kulit leher sebelah kanan. panjang tiga setengah sentimeter.5cm dibawah payudara kanan. Pada perabaan terdapat retak tulang pada iga kelima sebelah kanan  Perut : Permukaan sama tinggi dengan permukaan dada.  Dada : Terdapat adanya luka. keriting. rambut kelamin warna hitam.

fraktur  Kiri : tdk ditemukan adanya kelainan   Anggota Gerak Bawah Kanan : Paha : didapatkan patah tulang pada sepertiga paha bawah Kaki : didapatkan patah tulang pada jari keempat  Kiri : tdk didapatkan adanya kelainan     Punggung : Didapatkan belatung Pantat : Didapatkan lebam mayat dan belatung  Dubur : Tampak usus keluar dari dubur .Anggota Gerak Atas Kanan : Lengan atas : persendian bahu lepas Lengan bawah : persendian siku lepas Tangan : pangkal jari pertama. ke2. ke3 dan ke4 patah. luka. terdapat gelang kawat dengan diameter 7cm Lengan atas : tidak didapatkan hematom (memar).

PEMERIKSAAN DALAM  Setelah kulit dada dibuka. Tulang iga kiri ke5 sampai ke8 patah. tulang dada patah setinggi tulang iga ke2. terdapat retak tulang pada tulang iga ke3 kanan sampai ke10. tulang iga kanan ke1 dan ke2 lepas dr persendian.  Tulang dada bagian dalam : seluruh organ dalam (paru-paru dan jantung) hancur  Dalam rongga dada : sudah tidak dapat dinilai karena sudah terjadi pembusukan .II.

ke4. ke8. Tulang iga kiri yang patah . ke7.  Perkiraan saat kematian sekitar 7 hr yg lalu dihitung dr saat pemeriksaan. ke7. ke5. . ke6. tulang iga ke3. perkiraan umur didapatkan dr adanya gigi geraham ke3 kanan dan gigi geraham ke3 kiri yg blm tumbuh. ke6. KESIMPULAN  Korban seorang perempuan. umur sekitar 17-20thn.  meninggal karena perdarahan dalam rongga dada akibat tertusuknya organ paru-paru kanan dan kiri oleh tulang iga yang patah (tulang iga kanan yang patah . tulang iga ke5. ke8).

Latar belakang/alasan pemilihan kasus  Jenazah ditemukan tanpa identitas  Jenazah sudah ditemukan dlm keadaan membusuk  Sebab kematian pasti belum terlalu jelas  Cara kematian (wajar atau tidak wajar) belum jelas .

Refleksi dari aspek etika moral  Dokter spesialis kedokteran forensik/yg bergerak dlm bidang forensik membangun keyakinan profesinya dengan cara mengedepankan objektivitas fakta medik. .

keterikatan pd dasar ilmu pengetahuan hukum & kedokteran) Profesionalitas atau kemempuan dialogis etika interprofesional dgn norma utama kejujuran ilmiah .    Perilaku dokter spesialis forensik bersandar pada etika kedokteran forensik.suatu kekhususan etika kedokteran yg mentitikberatkan pd prinsip berikut: Imparsialis (dlm prosedural & penyajian fakta ilmiah forensik) Pengabdian khusus utk penegakkan keadilan Obyektifitas medikolegal (berbasis fakta.

 semua data yg ditemukan dlm otopsi harus dibuat laporan secara tertulis yg objektif sesuai dgn fakta.  Penentuan identitas korban dg baik dan kemudian mengembalikan jasad korban kpd keluarga adl tindakan yg beradab & menghormati hak2 individu sbg bagian dr HAM . dilakukan identifikasi forensik dlm upaya menentukan identitas jenazah.Refleksi dari aspek medikolegal  Berdasarkan kasus penemuan jenazah.cara kematian. serta saat kematian. sebab kematian.

dari S.1973 No. Karlinah P.tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya” (Kesimpulan NY.350 pasal 1 dan pasal 2).A Soebroto SH. Semua data tersebut dibuat ke dalam Visum et Repertum. .  Dibuat oleh dokter atas perintah polisi. dimana pengertian secara hukum adalah  “surat keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah/janji (jabatan/khusus).

 Beberapa peraturan perundang-undangan yg mengatur pekerjaan dokter dalam membantu peradilan  Pasal 133 KUHAP ayat 1 : “Dalam hal penyidikan untuk kepentingan peradilan mengenai seorang korban baik luka. keracunan ataupun mati yg diduga karena peristiwa yg merupakan tindak pidana. ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kpd ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya” .

Setiap orang yg diminta pendapatnya sbg saksi ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan . Pasal 179 KUHAP : 1.

 Memperlakukan mayat dg baik  pasal 133 KUHAP ayat 3 : “mayat yg dikirim kpd ahli kedokteran kehakiman atau dokter pd RS harus diperlakukan baik dg penuh penghormatan thd mayat tsb dan diberi label yg memuat identitas mayat diberi cap jabatan yg dilekatkan pd ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat“ .

Shahih) . sama seperti mematahkan tulangnya di kala hidup. Ibnu Habban 776. Ahmad 6/58.” (Riwayat Abu Daud 2/69. Ibnu Majah 1/492.Refleksi dari aspek keislaman  “Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mukmin yg sudah meninggal.

Otopsi utk belajar ilmu kedokteran /anatomi . 1. Otopsi utk mengetahui sebab kematian (kriminalitas)/forensik 2. Utk mengetahui wabah penyakit/klinis 3.47 tgl 20/08/1396 H ttg diperbolehkannya otopsi. Berdasarkan fatwa hai’ah khibarul ulama no.

2. Menurut risalah Islam dlm sidang di Mekkah pada 17 Oktober 1987  bila otopsi bertujuan utk pembelajaran maka harus mengaju pd hal2 di bawah ini : 1. Mayat wanita tdk boleh diotopsi kecuali hanya oleh dokter wanita kecuali bila kondisi tdk memungkinkan  Wajib dlm segala keadaan utk menguburkan . Melakukan otopsi dlm kadar yg minimal 3. Bila jasad beridentitas maka dibutuhkan izin (keluarga atau dirinya sebelum meninggal).

hendaknya diteliti terlebih dahulu agama dr jenazah yg ditemukan. blm dilakukan identifikasi scr mendetail thd jenazah. serta blm diketahui apa agamanya. Jika mayoritas penduduk di tempat itu adalah muslim.Berdasarkan kasus. . Cara mengurus jenazah yg blm diketahui agamanya :  Jika mungkin.  Jika sulit dilakukan penelitian. Shg blm dpt diketahui siapa jenazah itu. maka hukum thd mayat itu diambil berdasarkan mayoritas penduduk di tempat mayat ditemukan. maka kita wajib memperlakukannya sbg muslim. supaya kemudian dpt dilakukan tindakan yg cocok dan sesuai dg agama si mayat.

Terima Kasih .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->