MAKALAH

FARMAKOTERAPI NYERI

Disusun oleh : Taofik Alnur Rendi Mulyadi I Jalaludin Fitria Ismail A. A 260110097002 260110097003 260110097004 260110097005 260110097006

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011 – 201

1

ada yang tumbuh dan mencapai organ target. baik serabut saraf pusat maupun perifer disebut nyeri neuropatik. Trauma atau lesi di jaringan akan direspon oleh nosiseptor dengan mengeluarkan berbagai mediator inflamasi. Akumulasi Na+ channel menyebabkan munculnya ectopic pacemaker. sedangkan sebagian lainnya tidak mencapai organ target dan membentuk semacam pentolan yang disebut neuroma. ectopic discharge. PATOFISIOLOGI Mekanisme yang mendasari munculnya nyeri neuropati adalah: sensitisasi perifer. DEFINISI Nyeri adalah suatu perasaan sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dengan disertai kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.A. B. 1986: S217). sprouting. seperti bradikinin. histamin. atau membuat nosiseptor lebih sensitif (sensitasi) secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan jaringan dapat berupa rangkaian peristiwa yang terjadi di nosiseptor disebut nyeri inflamasi akut atau nyeri nosiseptif. prostaglandin. dan disinhibisi. Di samping ion channel juga terlihat adanya molekul-molekul transducer dan reseptor baru yang semuanya dapat menyebabkan terjadinya ectopic discharge. sensitisasi sentral. Sensitasi nosiseptor menyebabkan munculnya hiperalgesia. Mediator inflamasi dapat mengaktivasi nosiseptor yang menyebabkan munculnya nyeri spontan. terutama Na+ channel. tumbuh tunas-tunas baru (sprouting). dan meningkatkan eksitabilitas membran. Tunas-tunas baru ini. Perubahan ekspresi dan distribusi saluran ion natrium dan kalium terjadi setelah cedera saraf. dan sebagainya. Pada neuroma terjadi akumulasi berbagai ion-channel. 2 . Di bagian proksimal lesi yang masih berhubungan dengan badan sel dalam beberapa jam atau hari. Trauma atau lesi serabut saraf di perifer atau sentral dapat memacu terjadinya remodelling atau hipereksibilitas membran sel. sehingga muncul aktivitas ektopik yang bertanggung jawab terhadap munculnya nyeri neuropatik spontan. atau terjadi di jaringan saraf. atau yang dikemukakan dalam pengertian kerusakan semacam itu (IASP.

Atas dasar ini jugalah maka nyeri neuropatik harus secepat mungkin di terapi untuk menghindari proses mengarah 3 . Permasalahan pada nyeri neuropatik adalah menyangkut terapi yang berkaitan dengan kerusakan neuron dan sifatnya ireversibel. Bagian dari jaras ini dimulai dari kornu dorsalis. Karakteristik sensitisasi neuron bergantung pada: meningkatnya aktivitas neuron.abnormal mechanosensitivity. Sejalan dengan berkembangnya penelitian secara molekuler maka ditemukan beberapa kebersamaan antara nyeri neuropatik dengan epilepsi dalam hal patologinya tentang keterlibatan reseptor misalnya NMDA dan AMPA dan plastisitas disinapsis. traktus spinotalamikus (struktur somatik) dan kolum dorsalis (untuk viseral). Kejadian inilah yang mendasari konsep nyeri kronik yang ireversibel pada sistem saraf. dan chemosensitivity (Devor and Seltzer. Keadaan ini memberikan gambaran umum berupa alodinia dan hiperalgesia. Sensitisasi ini pada umumnya berasosiasi dengan terjadinya denervasi jaringan saraf akibat lesi ditambah dengan stimulasi yang terus menerus dan inpuls aferen baik yang berasal dari perifer maupun sentral dan juga bergantung pada aktivasi kanal ion di akson yang berkaitan dengan reseptor AMPA/kainat dan NMDA. korteks prefrontal dan korteks insula. sampai talamus sensomotorik. immediate early gene changes. Nyeri neuropatik muncul akibat proses patologi yang berlangsung berupa perubahan sensitisasi baik perifer maupun sentral yang berdampak pada fungsi sistem inhibitorik serta gangguan interaksi antara somatik dan simpatetik. Baik nyeri neuropatik perifer maupun sentral berawal dari sensitisasi neuron sebagai stimulus noksious melalui jaras nyeri sampai ke sentral. rendahnya ambang batas stimulus terhadap aktivitas neuron itu sendiri misalnya terhadap stimulus yang nonnoksious. dan luasnya penyebaran areal yang mengandung reseptor yang mengakibatkan peningkatan letupan-letupan dari berbagai neuron. Pada umumnya hal ini terjadi akibat proses apoptosis yang dipicu baik melalui modulasi intrinsik kalsium di neuron sendiri maupun akibat proses inflamasi sebagai faktor ekstrinsik. limbik. 1990). Yang berbeda hanyalah dalam hal burst discharge secara paroksismal pada epilepsi sementara pada neuropatik yang terjadi adalah ectopic discharge. thermosensitivity.

b. MANIFESTASI KLINIK Nyeri Nosiseptif a. Hal ini menjelaskan mengapa banyak kasus nyeri intraktabel terhadap terapi. soft tissue. dan gerakan sendi) berakhir pada lapisan yang dalam. Reaksi sentral yang abnormal ini dapat disebabkan oleh faktor sensitisasi sentral. Penelitian eksperimental pada tikus menunjukkan adanya perubahan fisik sirkuit ini setelah cedera pada saraf. 2004). nyeri tajam ( peregangan kapsul organ ). Nyeri Nosiseptif Viseral Berasal dari organ internal dan hollow viseral. C. Nyeri kuarng terlokalisir dengan jelas. tajam. Eksitasi meningkat pada kedua jenis nyeri tersebut pada neyeri neuropatik dari beberapa keterangan sebelumnya telah diketahui bahwa inhibisi menurun yang sering disebut dengan istilah disinhibisi. dan hilangnya inhibisi (Woolf. Sampai saat ini belum diketahui benar apakah hal yang serupa juga terjadi pada pasien dengan nyeri neuropati. perih atau kolik. Sebaliknya. Rasa nyeri terlokalisir dengan jelas. nyeri tumpul. otot dan tulang. vibrasi. reorganisasi struktural. seperti ditekan. penyebaran nyeri ke kulit didekati organ yang terganggu. Nyeri Nosiseptif Somatik Berasal dari kulit. konstan/intermiten dengan intensitas bervariasi. tekanan. 4 . Pada beberapa minggu setelah cedera. sakit. berdenyut.ke plastisitas sebagai nyeri kronik. Rasa nyeri akibat sentuhan ringan pada pasien nyeri neuropati disebabkan oleh karena respon sentral abnormal serabut sensorik non noksious. serabut sensorik dengan ambang rendah (raba. Neuron sensorik nosiseptif berakhir pada bagian lamina paling superfisial dari medula spinalis. seperti ditikam. Disinhibisi dapat disebabkan oleh penurunan reseptor opioid di neuron kornu dorsalis terutama di presinap serabut C. terjadi pertumbuhan baru atau sprouting affreen dengan non noksious ke daerah-daerah akhiran nosiseptor. Prinsip terjadinya nyeri adalah gangguan keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi akibat kerusakan jaringan (inflamasi) atau sistem saraf (neuropatik).

lokasi/disribusi. durasi. Nyeri Neuropatik Perifer ( Deaferentasi ) Lokasi kelainan di saraf perifer ( saraf sensorik perifer. kualitas nyeri. 2010). Anamnesis Saat timbulnya. Nyeri Psikogenik Nyeri dimana faktor psikogen dominan dan tanpa adanya kerusakan jaringan atau kelainan patofisiologik sebagai penyebab ( Maskoep. Menggunakan skala nyeri : 1) skala intensitas nyeri deskritif 5 . b. obat yang faktor yang memperberat/memperingan digunakan kemungkinan faktor etiologik seperti penyakit/kondisi yang terkait (Maskoep. Nyeri Neuropatik Sentral Lokasi kelainan di susun saraf sentral ( medula spinalis. DIAGNOSIS 1. Assessment Nyeri a. penjalarannya. geli/gatal ( kesemutan ) seperti ditikam /ditusuk. seperti sengatan listrik. intensitasnya. menyebar dan menjalar. perjalanannya. 2010).Nyeri Neuropatik Terjadi akibat stimulasi pada saraf yang rusak/cidera. nyeri. D. seperti ditembak. b. a. talamus sampai korteks serebri. radiks dan ganglion dorsalis. Manifestasi klinik nyeri neuropatik adalah rasa terbakar. batang otak.

dapat mendeskripsikannya. menyeringai. dapat menunjukkan lokasi nyeri. 4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis.2) Skala identitas nyeri numerik 3) Skala analog visual 4) Skala nyeri menurut bourbanis Keterangan : 0 :Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik. tidak dapat 6 . dapat menunjukkan lokasi nyeri. dapat mengikuti perintah dengan baik. 7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan.

karakteristik dari nyeri neuropatik dapat dimasukkan dalam beberapa kriteria yakni: 1. Sensasi terbakar Intermiten Nyeri seperti disengat listrik Hipostesia atau anastesia (Kurang atau tidak dapat merasakan terhadap rangsang normal e. e. Disestesia (Abnormal dan sensasi tidak menyenangkan) Parastesia (Abnormal dan bukan sensasi yang tidak menyenangkan) 2. Kriteria diagnostik Penatalaksanaan yang sistematik bergantung kepada diagnosis yang tepat. f. Allodinia (Nyeri terhadap rangsang yang pada orang normal tidak menimbulkan nyeri) c. Diagnosis dari nyeri neuropatik mengutamakan anamnesis riwayat penyakit yang tepat dan pemeriksaan fisis yang sesuai alat diagnostik seperti DN4 atau LANSS scoring mungkin berguna. 7 . Hiperalgesia (Respon yang meningkat untuk rangsang nyeri yang normal) b. Nyeri yang dipicu oleh rangsang dari luar a. b. Spontan (stimulus yang tidak berrgantung faktor dari luar) a. 2004). memukul (Tamsuri. Nyeri Neuropatik a. Dinamis yang dipicu oleh sentuhan Statis yang dipicu oleh tekanan Allodinia dingin (nyeri yang dipicu oleh rangsang yang dingin) ?( Chen.mendeskripsikannya. tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi 10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi. c. 2007). d. d.

2007 ). Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN) Diklasifikasikan sebagai akut atau kronik. neuropatik autonom. Gejala pada pasien dengan polineuropatik sensorimotorik simetris mungkin digambarkan sebagai salah satu yang 8 . akar saraf atau kadang-kadang dari plexus. polineuropatik sensorimotorik yang simetris. Sindrom ini temasuk bagian distal. neuropatik motorik tungkai bagian proksimal yang simetris (amyotrophy). yang bersifat fokal dapat berasal dari saraf. tidak selalu merupakan indikator dalam menunjukkan asal dari nyeri tersebut. radikulopatik. hal yang mendasar pada nyeri neuropatik perifer. nyeri neuropatik sentral (medula spinalis maupun otak) juga dapat menyebabkan nyeri yang bersifat fokal.Neuropati. Kondisi akut ini terjadi oleh karena kontrol glukosa darah yang kurang baik atau perbaikan kontrol yang cepat. Di negara berkembang. 2007 ). DIAGNOSIS BANDING 1. DPN telah digunakan untuk menggambarkan besarnya penyebaran dan sindrom neuropatik fokal yang menyebabkan kerusakan dari serat saraf autonom dan somatik perifer. multifokal atau distribusi yang difuse. DPN akut merupakan kondisi yang jarang dan dapat mempengaruhi tungkai bagian bawah dan penyakit ini menyusahkan dan adakalanya menyebabkan ketidakmampuan pada penderita. dan neuropatik motorik tungkai yang asimetris. Neuralgia atau yang berasal dari radiks saraf cenderung untuk mengikuti distribusi dari dermatom dan memiliki ciri tertentu dari distribusinya. neuropatik entrapment. Adakalanya. DPN kronik didefinisikan sebagai gejala yang telah tejadi minimal 6 bulan ( Nicholson. Distribusi dari parestesia dapat menjadi indikator yang efektif dalam menunjukkan asal dari suatu lesi nyeri neuropatik ( Vranken. neuropatik kranial. kebanyakan kasus yang dijumpai adalah demyelisasi. distribusi nyeri bagaimanapun juga. dapat bersifat fokal.

Diketahui juga bahwa infeksi VZV ini dapat 9 . Tanda dan gejala sensori dari DPN sering kali muncul daripada gejala motorik. 2. Etiologi dari PHN belum diketahui secara pasti. American Academy of Neurology memberikan definisi PHN adalah rasa nyeri yang menetap lebih dari 3 bulan setelah penyembuhan ruam pada penyakit herpes zoster. karena gejala yang ada sangat bervariasi. Diperkirakan telah terjadi penyebaran partikelpartikel dari virus di tempat-tempat ini setelah tereaktivasi dan ini disertai oleh inflamasi. dan disfungsi otot wajah ( Nicholson. akan tetapi. Post Herpetic Neuralgia Merupakan nyeri yang menetap untuk jangka waktu yang lama setelah muncul ruam pada penyakit herpes zoster. Diagnosis klinik pada DPN. Pasien dengan DPN mungkin juga mengalami carpal tunnel syndrome atau meralgia paresthetica dan atau rasa nyeri yang tersebar pada saraf lateral femoral cutaneus. dan kerusakan pada saraf sensori perifer dan prosesnya. Akan tetapi belakangan terakhir mungkin terdapat penurunan refleks pergelangan kaki (Achilles) dan atau sedikit kelemahan otot bagian distal ( Nicholson. dorsal root ganglia (DRG). perdarahan. 2007 ). mulai dari nyeri yang tidak ada dengan penyakit yang mungkin digambarkan hanya oleh ulkus kaki yang tidak berasa sampai nyeri yang sangat berat. dan kornu posterior spinalis.negatif ( kehilangan rasa) atau positif (rasa nyeri terbakar atau kelemahan otot). Meskipun definisi yang ada bervariasi. 2007 ). mudah marah. terutama sekali pada pasien dengan polineuropatik sensorimotorik mungkin akan sulit. Kehilangan serat kecil yang tak bermielin pada pasien ini mungkin mempengaruhi untuk terjadinya cedera atau ulkus pada kaki. pada pasien dengan PHN telah mengalami kerusakan dari saraf sensori. dan akan menggangu tidur pasien yang menyebabkan rasa lelah. repon imun. Gejala dari DPN mungkin akan memburuk pada malam hari.

berkembang menjadi gejala-gejala PHN ( Nicholson. Pada kebanyakan pasien. 2007 ). gejala akut ini akan membaik sendiri setelah ruam yang timbul mengalami penyembuhan. dimana pasien mungkin merasakannya sering kali pada malam hari atau ketika perhatian pasien tidak terfokus pada suatu aktivitas. 2007 ) E. Gejala ini dirasakan sebagai nyeri yang terus menerus yang muncul dengan adanya stimulus dari luar. Rasa nyeri ini seringkali digambarkan seperti rasa terbakar atau rasa tersengat dan umumnya berat.menyerang korda spinalis dan SSP disertai pembuluh darah menyebabkan gejala neurologik yang meluas ( Nicholson. Tetapi sebagian kecil pasien (terutama pada usia lanjut). tetapi dapat juga terjadi pada dermatom lain. walaupun hanya dengan pakaian (allodynia). paresthesias. Pasien dengan PHN juga merasakan nyeri pada sentuhan yang ringan. Beberapa pasien dengan PHN mungkin juga mengeluhkan nyeri lancinating (nyeri hebat karena sentakan yang cepat). 2007 ). dan atau burning dysesthesias dan gatal sepanjang dermatom yang terinfeksi. Tersebar luas dalam lapisan 10 . Rasa nyeri merupakan alasan tersering yang dirasakan pasien hingga mencari pengobatan. Dermatom yang seringkali terkena adalah bagian toraks. Pasien dengan PHN mungkin datang dengan gejala yang mirip nyeri neuropatik. Nervus trigeminus bagian ophtalmicus adalah saraf kranialis yang sering terkena pada pasien infeksi ini. Gejala motorik dan autonom jarang ditemukan PHN. tetapi ada kalanya pada pasien dapat muncul nyeri tulang atau nyeri pleura atau neurogenic bladder or rectum setelah infeksi herpes zoster ( Nicholson. HASIL TERAPI YANG DI INGINKAN Sensasi nyeri diperantarai oleh reseptor nyeri sebagai ujung syaraf bebas yang hampir dijumpai pada semua jaringan tubuh. Gejala akut herpes zoster secara khas timbul dengan gejala prodromal selama 3-4 hari dan mungkin terdapat hyperesthesia.

Klien yang sangat muda dan sangat tua adalah yang sensitive terhadap pemberian analgesic ini dan hanya memerlukan dosisi yang sangat rendah untuk meringankan nyeri. Rangsangan yang menimbulkan kerusakan pada jaringan sehingga terlepasnya zat disebut mediator nyeri. yang akhirnya rangsangan ini dirasakan sebagai nyeri (Notoatmodjo. sedikit penurunan tekanan darah sangan dibutuhkan. 2000). Analgesik Narkotik Opiat merupakan obat yang paling umum digunakan untuk mengatasi nyeri pada klien. 2008). PENANGANAN i. termasuk depresi respiratori. Analgesik Lokal 11 . untuk nyeri sedang hingga nyeri yang sangat berat. Sebagian dari reaksi ini menguntungkan contoh : hemoragi. Mediator ini yang melajutkan pesan isyarat nyeri sampai ke pusat nyeri dalam otak besar. Pengaruhnya sangat bervariasi tergantung fisiologi klien itu sendiri. F.Tindakan Farmakologis Umumnya nyeri direduksi dengan cara pemberian terapi farmakologi. Nyeri ditanggulangi dengan cara memblokade transmisi stimulant nyeri agar terjadi perubahan persepsi dan dengan mengurangi respon kortikal terhadap nyeri adapun obat yang digunakan untuk terapi nyeri adalah : 1.superficial kulit dan juga dalam jaringan tertentu. Namun pada pasien hipotensi akan menimbulkan syok akibat dosis yang berlebihan (dinda. bradikardi dan mengantuk. 2. Narkotik dapat menurunkan tekanan darah dan menimbilkan depresi pada fungsi – fungsi vital lainya.

4. arthritis dan gangguan musculoskeletal yang lain. Cara ini memerlukan alat khusus untuk mencegah masuknya obat pada waktu yang belum ditentukan. Pengandalian analgesik oleh klien adalah menekan sejumlah tombol agar masuk sejumlah narkotik. 2007). krisis sel. dipasang dengan pengatur pada lubang injeksi intravena. obat obat ini bersifat antiinflamatori sebagai tambahan dari khasiat analgesik. yaitu secara intramuscular.Analgesik bekerja dengan memblokade konduksi saraf saat diberikan langsung ke serabut saraf. Tindakan Non Farmakologis Selain tindakan farmakologis untuk menanggulangi nyeri ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri terdiri dari beberapa tindakan penanganan berdasarkan : 12 . nyeri postoperative dan migraine. Prinsip kerja obat ini adalah untuk mengendalikan nyeri sedang dari dismenorea. Analgesik yang dikontrol klien ini penggunaanya lebih sedikit dibandingkan dengan cara yang standar. Pada dosis rendah obat – obat ini bersifat analgesic. Obat – obat nonsteroid Obat – obat nonsteroid antiinflamasi bekerja terutama terhadap penghambatan sintesa prostaglandin. NSAID digunakan untuk menyembuhkan nyeri ringan sampai sedang (istichomah. ii. Penggunaan narkotik yang dikendalikan klien dipakai pada klien dengan nyeri pasca bedah. Pada dosis tinggi. nyeri kanker. 3. Analgesik yang dikontrol klien Sistem analgesik yang dikontrol klien terdiri dari Infus yang diisi narkotik menurut resep.

Dengan relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap nyeri. 13 . TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar. sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Rangsangan masase otot ini dipercaya akan merangsang serabut berdiameter besar. bertujuan menyentuh titik-titik tertentu.1. Jarum – jarum kecil yang dimasukkan pada kulit. cairan injeksi dan sebagainya (Carpenito. o Akupuntur Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk mengobati nyeri. kapsul. Teknik relaksasi mungkin perlu diajarkan bebrapa kali agar mencapai hasil optimal. tergantung pada lokasi nyeri. kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve stimulation). Intervensi perilaku kognitif meliputi : o Relaksasi Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa nyeri. salah satu pemikiran adalah cara ini bisa melepaskan endorfin. Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi : o Stimulasi kulit Massase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot. o Plasebo Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai “obat” seperti kaplet. Bisa dilakukan dengan massase. sehingga mampu mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri o Stimulasi electric (TENS) Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas. mandi air hangat. 2000). yang dapat memblok transmisi nyeri ke otak. 2.

o Umpan balik biologis terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut (Potter dan Perry. distraksi sentuhan (massase. Dengan adanya evaluasi maka dapat dinilai apakah terapi yang diberikan sudah sesuai dengan tujuan terapi atau belum. Evaluasi dilakukan didasarkan rencana evaluasi yang telah disusun dengan kriteria dan parameternya. distraksi intelektual (merangkai puzzle. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren. Apabila klien mengalami kegelisahan. main catur) o Guided Imagery (Imajinasi terbimbing) meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Diantara tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan tujuan yang diharapkan. Evaluasi yang dilakukan pada kondisi nyeri punggung bawah miogenik meliputi : pengukuran derajat nyeri dengan VDS dan lingkup gerak sendi trunk dengan mid line. distraksi audio (mendengar musik). Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola). o Distraksi Mengalihkan perhatian terhadap nyeri. memegang mainan). 14 . dengan cara memasang elektroda pada pelipis. menetapkan perlu tidaknya modifikasi atau merujuk ke tenaga kesehatan lain. 1997). efektif untuk nyeri ringan sampai sedang. G.EVALUASI HASIL TERAPI Untuk mengetahui hasil terapi yang diberikan maka dilakukan perencanaan tentang suatu tindakan berupa evaluasi. o Hipnotis Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif. tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien.

15 . intra artikuler meniscus. fasia. dapat merupakan nyeri lokal (inflamasi). Diagnosa sindroma ini didasarkan pada anamnesis yang teliti. Nyeri yang berasal dari punggung bawah dapat berujuk kedaerah lain atau sebaliknya yang berasal dari daerah lain dirasakan di daerah punggung bawah/refered pain. muskulus. bursa .H. kemungkinan adanya trauma atau penggunaan berlebihan dan pemeriksaan sistemik dengan memperhatikan anatomi-fungsional otot tubuh. maupun nyeri radikuler atau keduanya. Sindroma Miofasial merupakan bagian terbesar dalam kasus nyeri pinggang. tendon. kartilago. CONTOH KASUS DAN SOLUSINYA Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang dirasakan didaerah punggung bawah. tulang ligament. Nyeri punggung bawah miogenik adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan di daerah antara vertebra torakal 12 sampai dengan bagian bawah pinggul atau lubang dubur Yang timbul akibat adanya potensi kerusakan ataupun adanya kerusakan jaringan antara lain : dermis pambuluh darah.

Pengaruh pemberian kompres terhadap perubahan skala nyeri.pdf Tamsuri.ums. Aplikasi Pada Praktek Klinik.id/. H. Nicholson B. Konsep dan penatalaksanaan nyeri. et al. A. USA.ac. Hlm 1-63 Vranken J. Pregabalin in Patients With Central Neuropathic Pain. Potter dan Perry. Chen H. 2000. Metodologi Penelitian Kesehatan. Mayo Clinic Proc Desember 2004. Priyambodo. [diakses tanggal 3 Maret 2012].com/doc/56168325/4/Manifestasi-Klinis-Nyeri-Nosiseptif (diakses tanggal 03 Maret 2012).Medicafarma. 12: S256-S262. Jakarta. Contemporary Management of Neuropathic Pain. Rineka Cipta. Dinda. [diakses tanggal 3 Maret 2012].H et al. Notoatmodjo.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Differential Diagnosis: Nociceptive and Neuropathic Pain. 79(12): 1533-1545. 2010. http://www. Analgetik narkotika. (2007). 2007. EGC. Mosby. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Low Back Pain Miogenik di RSUD Boyolali. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta etd. J Pain Juni 2007. Available online at http://p3m. Jakarta. 1997.ac. Maskoep Indriyanti Wiwiek. Jakarta : EGC.scribd.com. Diagnosa Keperawatan . Fundamental of Nursing.amikom.id/1777/2/J100050040. Istichomah. Available online at http://www.eprints. LJ. 2008. 7(4): 281-9 16 . 2008. 2002. The American Journal of Managed Care June 2006. Penangana Nyeri Pada HIV/AIDS.

and psychologic correlates.The use of topical analgesics in the treatment of neuropathic pain:mechanism of action. http://www.com (diakses tanggal 3 Maret 2012) 17 .Zeltzer L. clinical efficacy.medscape. 2004.

18 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful