USULAN PANDUAN TATA LAKSANA PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

HIFERI CABANG JAKARTA

1

Daftar Isi

Usulan Panduan Tata Laksana.................................................................................................1 Perdarahan Uterus Abnormal...................................................................................................1 HIFERI Cabang Jakarta...........................................................................................................1 Daftar Isi ..................................................................................................................................2 .................................................................................................................................................3 Definisi dan Terminologi.........................................................................................................3 Sistem Klasifikasi (FIGO).......................................................................................................4 Pemeriksaan penunjang..........................................................................................................17 Penanganan Perdarahan Uterus Abnormal...........................................................................18 Penanganan PUA menurut strata pelayanan kesehatan.........................................................38 NON-HORMONAL...........................................................................................................40 HORMONAL.....................................................................................................................42 Daftar obat yang dapat digunakan untuk terapi PUD............................................................46 Daftar Bacaan.........................................................................................................................47

2

PANDUAN TATA LAKSANA PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL (PUA)

Definisi dan Terminologi Perdarahan uterus abnormal meliputi semua kelainan haid baik dalam hal jumlah maupun lamanya. Terminologi menoragia saat ini diganti dengan perdarahan haid banyak atau heavy menstrual bleeding (HMB) sedangkan perdarahan uterus abnormal yang disebabkan faktor koagulopati, gangguan hemostasis lokal endometrium, dan gangguan ovulasi merupakan kelainan yang sebelumnya termasuk dalam perdarahan uterus disfungsional (PUD). A. Perdarahan uterus abnormal akut didefinisikan sebagai perdarahan haid yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan yang cepat untuk mencegah kehilangan darah. Perdarahan uterus abnormal akut dapat terjadi pada kondisi PUA kronik atau tanpa riwayat sebelumnya B. Perdarahan uterus abnormal kronik merupakan terminologi untuk perdarahan uterus abnormal yang telah terjadi lebih dari 3 bulan. Kondisi ini biasanya tidak memerlukan penanganan yang cepat dibandingkan PUA akut C. Perdarahan tengah (intermenstrual bleeding) merupakan perdarahan haid yang terjadi diantara 2 siklus haid yang teratur. Perdarahan dapat terjadi kapan saja atau dapat juga terjadi di waktu yang sama setiap siklus. Istilah ini ditujukan untuk menggantikan terminologi metroragia.

PUA

A. Akut

B. Kronik

C. Perdarahan tengah (Intermenstrual bleeding)

3

Sistem Klasifikasi (FIGO)

Klasifikasi PUA (FIGO)

PALM

COEIN

A. Polip

E. Coagulopathy

B. Adenomiosis

F. Ovulatory dysfunction

C. Leiomioma

G. Endometrial

D. Malignancy and hyperplasia

H. Iatrogenik

I. Not yet classified

o

Terdapat sembilan kategori utama yang disusun sesuai dengan akronim “PALM-COEIN”

o Kelompok “PALM” merupakan kelainan struktur yang dapat dinilai
dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi

o Kelompok COEIN merupakan kelainan non struktur yang tidak
dapat dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi

4

namun hiperplasia atipik dan keganasan merupakan penyebab penting PUA Klasifikasi keganasan dan hiperplasia menggunakan sistem klasifikasi FIGO 5 . intramural dan subserosum D. Malignancy and hyperplasia (PUA-M) o o Meskipun jarang ditemukan. dengan atau tanpa hasil histopatologi B. namun pada umumnya dapat pula menyebabkan PUA Lesi umumnya jinak. serta jumlah mioma uteri o Klasifikasi o primer: ada atau tidaknya satu atau lebih mioma uteri o o sekunder: membedakan mioma uteri yang melibatkan endometrium (mioma uteri submukosum) dengan jenis mioma uteri lainnya tersier: klasifikasi untuk mioma uteri submukosum. namun sebagian kecil atipik atau ganas Diagnosis polip ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG dan atau histeroskopi. Mengingat terbatasnya fasilitas MRI. Leiomioma uteri (PUA-L) o Mioma uteri umumnya tidak memberikan gejala dan biasanya bukan penyebab tunggal PUA o Pertimbangan dalam membuat sistem klasifikasi mioma uteri: o hubungan mioma uteri dengan endometrium dan serosa o lokasi. ukuran. Polip (PUA-P) o o o Biasanya polip bersifat asimptomatik.A. pemeriksaan USG cukup untuk mendiagnosis adenomiosis o Hasil USG menunjukkan jaringan endometrium heterotopik pada miometrium dan sebagian berhubungan dengan adanya hipertrofi miometrium C. Adenomiosis (PUA-A) o o Kriteria adenomiosis ditentukan berdasarkan kedalaman jaringan endometrium pada hasil histopatologi Adenomiosis dimasukkan dalam sistem klasifikasi berdasarkan pemeriksaan MRI dan USG.

Ovulatory dysfunction (PUA-O) o Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab PUA dengan manifestasi perdarahan yang sulit diramalkan dan jumlah darah yang bervariasi o o Dahulu termasuk dalam kriteria perdarahan uterus disfungsional (PUD) Gejala bervariasi mulai dari amenorea. anoreksia atau olahraga berat yang berlebihan G.dan WHO E. obesitas. dan yang paling sering ditemukan adalah penyakit von Willebrand F. perdarahan ringan dan jarang. hiperprolaktinemia. hingga perdarahan haid banyak o Gangguan ovulasi dapat disebabkan oleh sindrom ovarium polikistik (SOPK). hipotiroid. penurunan berat badan. Coagulopathy (PUA-C) o Terminologi koagulopati digunakan untuk kelainan hemostasis sistemik yang terkait dengan PUA o Tiga belas persen perempuan dengan perdarahan haid banyak memiliki kelainan hemostasis sistemik. Endometrial (PUA-E) o Perdarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan dengan siklus haid teratur o Penyebab perdarahan pada kelompok ini adalah gangguan hemostasis lokal endometrium o Terdapat penurunan produksi faktor yang terkait vasokonstriksi seperti endothelin-1 dan prostaglandin F2α serta peningkatan aktifitas fibrinolisis o Gejala lain kelompok ini adalah perdarahan tengah atau perdarahan yang berlanjut akibat gangguan hemostasis lokal endometrium o Diagnosis PUA-E ditegakkan setelah menyingkirkan gangguan lain pada siklus haid yang berovulasi 6 .

Not yet classified (PUA-N) o Kategori not yet classified dibuat untuk penyebab lain yang jarang atau sulit dimasukkan dalam klasifikasi o Kelainan yang termasuk dalam kelompok ini adalah endometritis kronik atau malformasi arteri-vena 7 . Perdarahan sela terjadi karena rendahnya konsentrasi Pasien lupa atau terlambat minum pil kontrasepsi Pemakaian obat tertentu seperti rifampisin estrogen dalam sirkulasi yang dapat disebabkan oleh: - o Perdarahan haid banyak yang terjadi pada perempuan pengguna anti koagulan (warfarin. progestin.H. heparin. atau AKDR o Perdarahan haid di luar jadwal yang terjadi akibat penggunaan estrogen atau progestin dimasukkan dalam istilah perdarahan sela atau breakthrough bleeding (BTB). dan low molecular weight heparin) dimasukkan ke dalam klasifikasi PUA-C I. Iatrogenik (PUA-I) o Perdarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan penggunaan estrogen.

Penulisan o Kemungkinan penyebab PUA pada individu bisa lebih dari satu karena itu dibuat sistem penulisan  Angka 0: tidak ada kelainan pada pasien  Angka 1: terdapat kelainan pada pasien  Tanda tanya (?): belum dilakukan penilaian o Sistem penulisan pada pasien yang mengalami PUA karena gangguan ovulasi dan mioma uteri submukosum adalah PUA P0 A0 L1(SM) M0 – C0 O1 E0 I0 N0. O o Kelainan penyebab PUA ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG dan atau histeroskopi 8 . o Pada praktek sehari-hari gangguan di atas dapat ditulis PUA L(SM).

Other 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Intrakavum yang bertangkai < 50% intramural ≥ 50% intramural 100% intramural. Klasifikasi mioma uteri sebagai penyebab PUA 9 .Gambar 1. mencapai endometrium Intramural Subserosum ≥ 50% Subserosum <50% Subserosum yang bertangkai Lain-lain Gambar 2. Sistem penulisan PUA SM -Submukosu m O.

serta riwayat kelainan hemostasis pada pasien dan keluarganya (Rekomendasi B). gangguan toleransi terhadap dingin Penurunan berat badan. penambahan dan penurunan BB yang drastis. faktor risiko kelainan tiroid.Panduan Investigasi A. Anamnesis o Anamnesis dilakukan untuk menilai kemungkinan adanya kelainan uterus. palpitasi Riwayat konsumsi obat antikoagulan Gangguan pembekuan darah Riwayat hepatitis. fatigue. Karena itu perlu dilakukan pertanyaan untuk mengidentifikasi pil kontrasepsi penyakit perlu von Willebrand tingkat (Rekomendasi B) o Pada perempuan pengguna ditanyakan kepatuhannya dan obat-obat lain yang diperkirakan mengganggu koagulasi o Penilaian jumlah darah haid dapat dinilai menggunakan piktograf (PBAC) atau skor “perdarahan”. gangguan lapang pandang Masalah Abortus. Pemeriksaan umum o Pastikan bahwa perdarahan berasal dari kanalis servikalis dan tidak berhubungan dengan kehamilan o Perlu dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap termasuk trombosit pada kasus PUA kronik eksaserbasi akut 10 . Data ini juga dapat digunakan untuk diagnosis dan menilai kemajuan pengobatan PUA (Rekomendasi C) Keluhan dan gejala Nyeri pelvik Mual. Perlu ditanyakan siklus haid sebelumnya serta waktu mulai terjadinya perdarahan uterus abnormal o Prevalensi penyakit von Willebrand pada perempuan perdarahan haid banyak rata-rata meningkat 10% dibandingkan populasi normal. akantosis nigricans. obesitas Perdarahan pasca koitus Galaktorea. akne. banyak keringat. polip endoserviks Tumor hipofisis B. peningkatan frekuensi berkemih Peningkatan berat badan. kehamilan ektopik Hamil Hipotiroid Hipertiroid Koagulopati Penyakit hati Sindrom ovarium polikistik (SOPK) Displasia serviks. sakit kepala. ikterik Hirsutisme.

Penilaian ovulasi o Siklus haid yang berovulasi berkisar 22-35 hari o Jenis perdarahan PUA-O bersifat ireguler dan sering diselingi amenorea o Konfirmasi ovulasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan progesteron serum fase luteal madya atau USG transvaginal bila diperlukan D. Penapisan klinis pasien dengan perdarahan haid banyak karena kelainan hemostasis E.C. Penapisan kelainan hemostasis sistemik o Anamnesis terstruktur dapat digunakan sebagai penapis gangguan hemostasis dengan sensitifitas 90%. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut pada perempuan dengan hasil penapisan positif o Perdarahan uterus abnormal yang terjadi karena pemakaian antikoagulan dimasukkan ke dalam klasifikasi PUA-C1 Pertanyaan untuk menapis kelainan hemostasis pada pasien dengan perdarahan haid banyak 1 Perdarahan haid banyak sejak menars 2 Terdapat minimal 1 (satu) keadaan dibawah ini: o o 3 Perdarahan pasca persalinan Perdarahan yang berhubungan dengan operasi o Perdarahan yang berhubungan dengan perawatan gigi Terdapat minimal 2 (dua) keadaan dibawah ini:  Memar 1-2 x / bulan  Epistaksis 1-2 x / bulan  Perdarahan gusi yang sering  Riwayat keluarga dengan keluhan perdarahan Tabel 2. Penilaian endometrium o Pengambilan sampel endometrium tidak harus dilakukan pada semua pasien PUA o Pengambilan sampel endometrium hanya dilakukan pada: o perempuan umur > 45 tahun o memiliki faktor risiko secara genetik 11 .

bersamaan G. obesitas. SIS. Penilaian kavum uteri o Bertujuan untuk menilai kemungkinan adanya polip endometrium atau mioma uteri submukosum o USG transvaginal merupakan alat penapis yang tepat dan harus dilakukan pada pemeriksaan awal PUA o Bila dicurigai terdapat polip endometrium atau mioma uteri submukosum disarankan untuk melakukan SIS atau histeroskopi. transrektal dan abdominal).o USG transvaginal menggambarkan penebalan endometrium kompleks yang merupakan faktor risiko hiperplasia atipik atau kanker endometrium o Terdapat faktor risiko diabetes mellitus. Penilaian miometrium Keuntungan dalam penggunaan histeroskopi adalah diagnosis dan terapi dapat dilakukan o Bertujuan untuk menilai kemungkinan adanya mioma uteri atau adenomiosis o Miometrium dinilai menggunakan USG (transvaginal. nulipara o Perempuan dengan riwayat keluarga nonpolyposis colorectal cancer memiliki risiko kanker endometrium sebesar 60% dengan rerata umur saat diagnosis antara 48-50 tahun o Pengambilan sampel endometrium perlu dilakukan pada perdarahan uterus abnormal yang menetap (tidak respons terhadap pengobatan) o Beberapa teknik pengambilan sampel endometrium seperti D & K dan biopsi endometrium dapat dilakukan F. histeroskopi atau MRI o Pemeriksaan adenomiosis menggunakan MRI lebih unggul dibandingkan USG transvaginal 12 . hipertensi.

Jika perdarahan aktif dan banyak disertai dengan gangguan hemodinamik dan atau Hb < 10 g / dl perlu dilakukan rawat inap.Perdarahan uterus abnormal akut A. 13 .

Dapat diberikan GnRH agonis 3 siklus bersama PKK. polipektomi atau histerektomi 14 . Setelah perdarahan akut berhenti. 3x1 tab (3 hari).5 mg. PKK siklik selama 3 bulan Jika terdapat kontra indikasi PKK dapat diberikan progestin selama 14 hari. ditambah prometasin 25 mg oral. Rawat inap B. Asam traneksamat 3 x 1 gram diberikan bersamaan dengan EEK D&K jika perdarahan masih berlangsung dalam 12-24 jam. miomektomi. 2x1 tab (2 hari) dan 1x1 tab. D&K jika perdarahan masih berlangsung dalam 12-24 jam. PT. Asam traneksamat 3 x 1 gram diberikan bersamaan dengan EEK. PT. oral setiap 6 jam. 3 minggu dan 1 minggu bebas PKK. DPL. diberikan PKK 4x1 tab (4 hari). kemudian stop 14 hari. Ulangi 3 bulan. ditambah prometasin 25 mg oral atau injeksi setiap 4-6 jam. USG transvaginal / transrektal. Jika terdapat kontra indikasi PKK dapat diberikan progestin selama 14 hari. Bila terapi medikamentosa tidak berhasil atau ada kelainan organik. 3x1 tab (3 hari). TSH. aPTT. Ulangi 3 bulan. Tablet hematinik 1x1 tab J.PUA AKUT Hipotensi ortostatik atau hemoglobin < 10 g / dl atau perdarahan aktif & banyak Ya Tidak A. 2x1 tab (2 hari) dan 1x1 tab. aPTT. PKK siklik selama 3 bulan.5 mg. oral setiap 6 jam. 3 minggu dan 1 minggu bebas PKK. kemudian stop 14 hari. Setelah perdarahan akut berhenti. Rawat jalan Infus RL dan oksigen dan transfusi darah jika Hb < 7.5 g / dl EEK 2. lakukan terapi pembedahan seperti ablasi endometrium. Tablet hematinik 1x1 tab EEK 2. TSH. DPL. USG transvaginal / transrektal. diberikan PKK 4x1 tab (4 hari).

Fertilitas D. dan androgen serum) serta pemeriksaan hemostasis 15 . Pemeriksaan hormonal (jika oligo-anovulasi) F.PUA kronik > 3 bulan. Gangguan medis terkait. Anamnesis yang terstruktur B. Pemeriksaan koagulopati bawaan jika (+) indikasi Gambar 3. Evaluasi uterus C. Anamnesis dilakukan untuk menilai ovulasi. Fungsi ovulasi D. Darah perifer lengkap C. Evaluasi awal PUA kronik: Pasien mengalami satu atau lebih kondisi perdarahan yang lama dan tidak dapat diramalkan dalam 3 bulan terakhir. pemeriksaan untuk menilai gangguan ovulasi (fungsi tiroid. penggunaan obat E. prolaktin. kelainan sistemik. Pemeriksaan tambahan B. dan frekuensi perdarahan tidak dapat diramalkan Tidak PUA akut Ya Pemeriksaan awal A. jumlah. Pemeriksaan fisik B. dan penggunaan yang mempengaruhi kejadian PUA. lama. Pemeriksaan tambahan meliputi pemeriksaan darah perifer lengkap. Keinginan pasien untuk memiliki keturunan dapat menentukan penanganan selanjutnya.

Pertimbangkan MRI Gambar 3. Evaluasi Uterus. Kavum uteri normal Tidak F. Risiko hiperplasia atau neoplasia F. adanya gangguan ovulasi. Evaluasi uterus dilakukan berdasarkan anamnesis dan kondisi pasien seperti umur. Lesi target Tidak Y a PUA-LSM. SIS F. Sampel cukup Y a E. PUA-P. Biopsi endometrium berbasis office E.E. Histeroskopi + / . Hiperplasia atipik/ Kanker? Y a Tidak Tidak Tidak Y a TA dan TR F. serta faktor risiko hiperplasia endometrium atau keganasan. 16 . Curiga kelainan struktur Y a E.biopsi atau F. USG transvaginal Y a kemungkinan PUA-E atau O F. PUA-A (-) akses Tata laksana PUA-M G. Evaluasi Uterus E.

FT4) DHEAS. aPTT. Testosteron Hemostasis (PT.Pemeriksaan penunjang Primer Sekunder Tersier Prolaktin Tiroid (TSH. lainnya sesuai fasilitas) USG Pemeriksaan Penunjang USG transabdominal USG transvaginal USG transrektal SIS Penilaian endometrium Mikrokuret D&K Mikrokuret / D&K Histeroskopi Endometrial sampling (hysteroscopy guided) Penilaian serviks (bila ada patologi) IVA Pap smear Pap smear Kolposkopi 17 . D-dimer) USG transabdominal USG transvaginal USG transrektal SIS Doppler MRI Laboratorium Hb Tes kehamilan urin Darah lengkap Hemostasis (BT-CT. fibrinogen.

Penanganan Perdarahan Uterus Abnormal 1. Polip (PUA-P) o Penanganan polip endometrium dapat dilakukan dengan o Reseksi secara histeroskopi (Rekomendasi C) o o o Dilatasi dan kuretase Kuret hisap Hasil dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologi 2. reseksi atau ablasi endometrium dapat dilakukan (Rekomendasi C). Bila pasien tidak ingin hamil. Diagnosis adenomiosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG atau MRI Tanyakan pada pasien apakah menginginkan kehamilan B. Adenomiosis (PUA-A) A. Histerektomi dilakukan pada kasus dengan gagal pengobatan 18 . Adenomiomektomi dengan teknik Osada merupakan alternatif pada pasien yang ingin hamil (terutama pada adenomiosis > 6 cm) E. C. Bila pasien menginginkan kehamilan dapat diberikan analog GnRH + add-back therapy atau LNG IUS selama 6 bulan (Rekomendasi C) D.

Adenomiomektomi dengan teknik Osada E. Ingin hamil ? Ya Tidak C. Analog GnRH + add-back th/ atau LNG-IUS (6 bulan) D.A. Reseksi endometrium atau histerektomi 19 . Adenomiosis B.

Mioma uteri submukosum derajat 0 atau 1 (Rekomendasi B) Mioma uteri submukosum derajat 2 (Rekomendasi C) Bila terdapat mioma uteri intra mural atau subserosum dapat dilakukan penanganan sesuai PUA-E / O) (Rekomendasi C). Operasi E. Bila respon pengobatan tidak adekuat dapat dilakukan pembedahan. Pilihan pertama untuk mioma uteri submukosum berukuran < 4 cm D. C. Miomektomi E. Jika gagal D. Pembedahan dilakukan bila respon pengobatan tidak adekuat E. Penanganan medis (koreksi anemia) E. Embolisasi arteri uterina merupakan alternatif tindakan pembedahan (Rekomendasi A) A. Tata laksana ekspektatif E. Ingin hamil ? Ya C. Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG Tanyakan pada pasien apakah menginginkan kehamilan Histeroskopi reseksi mioma uteri submukosum dilakukan terutama bila pasien menginginkan kehamilan (Rekomendasi B).Leiomioma uteri (PUA-L) A. Operasi . Penanganan medis (lihat ke PUA-E / O) D. Histeroskopi reseksi D. Submukosum Tidak E. Histerektomi E. Leiomioma B. Intramural / Subserosum D. B. Bila pasien tidak menginginkan kehamilan dapat dilakukan pengobatan untuk mengurangi perdarahan dan memperbaiki anemia (Rekomendasi B). Konservatif: Embolisasi arteri 20 C.

Jika pasien menginginkan kehamilan dapat dilakukan D & K dilanjutkan pemberian progestin. Malignancy and hyperplasia (PUA-M) A. Diagnosis hiperplasia endometrium atipik ditegakkan berdasarkan penilaian histopatologi B. Biopsi endometrium diperlukan untuk pemeriksaan histologi pada akhir bulan ke-6 pengobatan Malignancy and hyperplasia A. Histerektomi E. Tanyakan apakah pasien menginginkan kehamilan C. Hiperplasia endometrium atipik B. Biopsi (akhir bulan ke-6) Hiperplasia atipik menetap 21 . Ingin hamil ? Ya Tidak D.4. Bila pasien tidak menginginkan kehamilan tindakan histerektomi merupakan pilihan (Rekomendasi C) D. D & K dan Progestin (6 bulan) atau LNG-IUS atau Analog GnRH C. analog GnRH atau LNG-IUS selama 6 bulan (Rekomendasi C) E.

Penanganan C. Coagulopathy B. Pengobatan estrogen-progestin dan LNG-IUS pada kasus ini memberikan hasil yang sama bila dibandingkan dengan kelompok tanpa kelainan koagulasi D. Asam traneksamat dan PKK atau LNG-IUS D. Terminologi koagulopati digunakan untuk kelainan hemostasis sistemik multidisiplin diperlukan pada kasus ini dengan asam traneksamat. progestin. Terapi multidisiplin C. LNG-IUS atau Operasi 22 .Jika terdapat kontraindikasi terhadap asam traneksamat atau PKK dapat diberikan LNG-IUS atau dilakukan pembedahan bergantung pada umur pasien (Rekomendasi B) Terapi spesifik seperti desmopressin dapat digunakan pada penyakit von Willebrand (Rekomendasi C) A. kombinasi pil yang terkait dengan PUA B.5 . Jika ada kontraindikasi D. Coagulopathy (PUA-C) A.

I. dapat dilakukan ablasi endometrium. Bila pengobatan medikamentosa gagal. J. Pemeriksaan hormon tiroid dan prolaktin perlu dilakukan terutama pada keadaan oligomenorea. lakukan pemberian PKK atau progestin dosis tinggi (naikkan dosis setiap 2 hari sampai perdarahan berhenti atau dosis maksimal). D. Hal ini diulang sampai 3 bulan siklus (rekomendasi A) Setelah 3 bulan dilakukan evaluasi untuk menilai hasil pengobatan Bila keluhan berkurang pengobatan hormonal dapat dilanjutkan atau distop sesuai keinginan pasien Bila keluhan tidak berkurang. Bila dijumpai hiperprolaktinemia yang disebabkan oleh hipotiroid maka kondisi ini harus diterapi Pada perempuan umur > 45 tahun atau dengan risiko tinggi keganasan endometrium perlu dilakukan pemeriksaan USG transvaginal dan pengambilan sampel endometrium Bila tidak dijumpai faktor risiko untuk keganasan endometrium lakukan penilaian apakah pasien menginginkan kehamilan atau tidak. Pertimbangkan tindakan kuretase untuk menyingkirkan keganasan endometrium. Ovulatory dysfunction (PUA-O) A. Perhatian terhadap kemungkinan munculnya efek samping seperti sindrom pra haid. Lakukan pemeriksaan ulang dengan USG TV atau SIS untuk menyingkirkan kemungkinan adanya polip endometrium atau mioma uteri (rekomendasi A). E. K. Tindakan ablasi endometrium pada perdarahan uterus yang banyak dapat ditawarkan setelah memberikan informed consent yang jelas pada pasien. Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab PUA dengan manifestasi klinik perdarahan yang sulit diramalkan dan jumlah darah yang bervariasi.6. F. G. dapat diberikan PKK selama 3 bulan (rekomendasi A) Bila dijumpai kontra indikasi pemberian PKK dapat diberikan preparat progestin selama 14 hari. 23 . reseksi mioma dengan histeroskopi atau histerektomi. H. kemudian stop 14 hari. Bila menginginkan kehamilan dapat langsung mengikuti prosedur tata laksana infertilitas Bila pasien tidak menginginkan kehamilan dapat diberikan terapi hormonal dengan menilai ada atau tidaknya kontra indikasi terhadap PKK Bila tidak dijumpai kontra indikasi. Pada uterus dengan ukuran < 10 minggu tindakan ablasi endometrium B. C.

merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan histerektomi (rekomendasi A). 24 .

PKK selama 3 bulan H. Pertimbangkan kelainan sistemik Ya E. Periksa hormon tiroid. Lakukan pap smear terutama bila terdapat perdarahan pasca koitus C. Bila pengobatan medikamentosa tidak berhasil pertimbangkan untuk melakukan ablasi endometrium. Progestin selama 14 hari. Perdarahan berkurang Tidak J. Biopsi endometrium untuk menyingkirkan keganasan endometrium. reseksi dengan histeroskopi atau histerektomi 25 . USG TV D. Pertimbangkan pemberian PKK atau progestin dosis tinggi. Tata laksana infertilitas F. Pertimbangkan USG TV atau SIS untuk menyingkirkan polip endometrium atau mioma uteri. Bila terdapat amenore atau oligomenore lakukan pemeriksaan prolaktin. Ingin hamil ? Tidak E. Biopsi endometrium. kemudian stop selama 14 hari. Tidak Kontra indikasi PKK Ya G. Teruskan atau stop terapi hormonal sesuai keinginan pasien K. Diulang selama 3 bulan Ya I.A. PUA-O B. Umur > 35 tahun atau risiko tinggi kanker endometrium Tidak Ya C.

H. selanjutnya pada hari pertama siklus menstruasi (rekomendasi A) I. Jika pasien memiliki kontra indikasi terhadap PKK maka dapat diberikan preparat progestin siklik selama 14 hari diikuti dengan 14 hari tanpa obat. GnRHa atau histerektomi N. Jika hasil USG TV atau SIS didapatkan ketebalan endometrium > 10 mm. Dapat dimulai pada hari apa saja.7. Jika terdapat adenomiosis dapat dilakukan pemeriksaan MRI. Pemeriksaan USG transvaginal atau SIS terutama dapat dilakukan untuk menilai kavum uteri (rekomendasi A) C. Endometrial (PUA-E) Perdarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan dengan siklus haid yang teratur Pemeriksaan fungsi tiroid dilakukan bila didapatkan gejala dan tanda hipotiroid atau hipertiroid pada anamnesis dan pemeriksaan fisik (rekomendasi C). E. G. Dapat ditawarkan penggunaan LNG-IUS J. Jika setelah 3 bulan. B. terapi dengan progestin. LNG IUS. A. K. lanjutkan ke G Nilai apakah terdapat kontra indikasi pemberian PKK PKK mampu mengurangi jumlah perdarahan dengan menekan pertumbuhan endometrium. jika tidak lanjutkan ke D Asam traneksamat 3 x 1 g dan asam mefenamat 3 x 500 mg merupakan pilihan lini pertama dalam tata laksana menoragia (rekomendasi A) Lakukan observasi selama 3 siklus menstruasi Jika respons pengobatan tidak adekuat. respons pengobatan tidak adekuat dapat dilakukan penilaian USG transvaginal atau SIS untuk menilai kavum uteri Jika dengan USG TV atau SIS didapatkan polip atau mioma submukosum segera pertimbangkan untuk melakukan reseksi dengan histeroskopi (rekomendasi B) L. Jika hasil pemeriksaan USG TV dan SIS menunjukkan hasil normal atau terdapat kelainan tetapi tidak dapat dilakukan terapi konservatif maka dilakukan evaluasi terhadap fungsi reproduksinya O. Jika pasien memerlukan kontrasepsi lanjutkan ke G. (rekomendasi A) Kemudian diulang selama 3 siklus. Jika pasien sudah tidak menginginkan fungsi reproduksi dapat dilakukan ablasi 26 . F. lakukan pengambilan sampel endometrium untuk menyingkirkan hiperplasia (rekomendasi B) M. D.

Jika pasien masih ingin mempertahankan fungsi reproduksi anjurkan pasien untuk mencatat siklus haidnya dengan baik dan memantau kadar Hb 27 .endometrium atau histerektomi.

kemudian stop selama 14 hari. USG transvaginal atau SIS N. progestin. Respon tidak adekuat K. Respon tidak adekuat K. USG TV atau SIS C. Memerlukan kontrasepsi Tidak Ya D. PKK 3 E. Observasi selama 3 siklus J. Progestin selama 14 hari. Ulang selama 3 siklus. Pertimbangkan ablasi endometrium atau histerektomi 28 . leuprolide atau histerektomi P. Hiperplasia endometrium (tebal endometrium > 10) mm) M.A. Pengambilan sampel endometrium M. Kontra indikasi PKK Tidak Ya H. Fungsi reproduksi komplit Ya O. Catat siklus menstruasi Monitor Hb O. Asam traneksamat 3 x1 g dan asam mefenamat 3 x 500 mg G. Pertimbangkan reseksi dengan histeroskopi F. Adenomiosis L. LNG IUS. Polip atau mioma submukosum L. PUA-E B. Normal atau abnormal dan tidak bisa dilakukan terapi konservatif Tidak siklus I. Tawarkan LNG IUS K. Periksa hormon tiroid. Pertimbangkan MRI.

SIS atau histeroskopi untuk menyingkirkan kelainan saluran reproduksi G. Jika efek samping berupa amenorea lanjutkan ke I I. Penanganan efek samping PUA-E disesuaikan dengan algoritma PUA-E B. Jika perdarahan sela terjadi dalam 3 bulan pertama maka penggunaan PKK dilanjutkan dengan mencatat siklus haid D. Jika tidak hamil. Jika perdarahan abnormal menetap lakukan TVS.8. bila positif berikan doksisiklin 2 x 100 mg selama 10 hari. Yakinkan pasien minum PKK secara teratur. Jika usia pasien lebih dari 35 tahun dilakukan biopsi endometrium F. lanjutkan ke E H. Perdarahan sela (breakthrough bleeding) dapat terjadi dalam 3 bulan pertama atau setelah 3 bulan penggunaan PKK C.1 . Lakukan pemeriksaan Chlamydia dan Neisseria (endometritis). naikkan dosis estrogen atau lanjutkan pil yang sama 29 . Jika pasien tidak ingin melanjutkan PKK atau perdarahan menetap > 3 bulan lanjutkan ke E E. Perdarahan karena efek samping PKK A. Pertimbangkan untuk menaikkan dosis estrogen. Jika perdarahan sela terjadi setelah 3 bulan pertama penggunaan PKK. Singkirkan kehamilan J. Iatrogenik (PUA-I) 8.

Perdarahan menetap. Tanyakan mengenai kepatuhan. Perdarahan sela (breakthrough bleeding) H. Pasien tidak ingin melanjutkan PKK atau perdarahan menetap > 3 bulan E. catat siklus haid J. Penggunaan PKK dilanjutkan. PUA-E B. Naikkan dosis estrogen . lakukan TVS. Jika berusia lebih dari 35 tahun. 3 bulan pertama penggunaan PKK G. Cek klamidia dan gonorrhea (endometritis). lakukan biopsi endometrium F. Singkirkan kehamilan C.A. Amenorea Algoritma PUA-E I. SIS atau histeroskopi untuk menyingkirkan kelainan saluran reproduksi 30 . Setelah 3 bulan pertama penggunaan PKK C. Naikkan dosis estrogen atau lanjutkan pil yang sama D.

Berikan 3 alternatif sebagai berikut: I. lanjutkan ke B B. Biopsi endometrium F.25 mg / hari selama 7 hari) yang dapat diulang jika perdarahan abnormal terjadi kembali. lanjutkan ke G.2.8. Konseling bahwa kelainan ini merupakan hal biasa C. lanjutkan ke D D. Lanjutkan kontrasepsi progestin dengan dosis yang sama Ganti kontrasepsi dengan PKK (jika tidak ada kontra indikasi) Suntik DMPA setiap 2 bulan (khusus akseptor DMPA) H. Jika usia pasien > 35 tahun dan memiliki risiko tinggi keganasan endometrium. lanjutkan ke I Berikan estrogen jangka pendek (EEK 4 x 1. jika tidak lanjutkan ke F E. Bila perdarahan tetap berlangsung setelah 6 bulan. Pertimbangkan pemilihan metoda kontrasepsi lain 31 . Jika dalam 4-6 bulan pertama pemakaian kontrasepsi. Jika efek samping berupa PUA-O. Jika tidak lanjutkan ke I G. Perdarahan karena efek samping kontrasepsi progestin A. Jika terdapat amenorea atau perdarahan bercak. lanjutkan ke E.

Pertimbangkan pemilihan metoda kontrasepsi lain 32 . PUA-O A . Menasihati pasien bahwa hal tersebut merupakan hal yang diharapkan Tidak E.suntik DMPA setiap 2 bulan (khusus akseptor DMPA) Tidak H.lanjutkan kontrasepsi . Usia diatas 35 tahun atau risiko tinggi untuk karsinoma endometrium B. Biopsi endometrium Ya F. Berikan estrogen jangka pendek (EEK 1. 4-6 bulan pertama pemakaian kontrasepsi G. Perdarahan berlanjut setelah 6 bulan I.C. . Dapat diulang jika perdarahan abnormal terjadi kembali.ganti dengan PKK .25 mg 4 x sehari selama 7 hari).Amenorea atau perdarahan bercak D.

Berikan doksisiklin 2x100 mg sehari selama 10 hari karena perdarahan pada pengguna AKDR dapat disebabkan oleh endometritis. Jika tidak dijumpai rasa nyeri dan AKDR digunakan dalam 4-6 bulan pertama. pertimbangkan untuk mengangkat AKDR C. lanjutkan ke E D. Jika tidak.8. Lanjutkan penggunaan AKDR. Jika perdarahan abnormal menetap lakukan pengangkatan AKDR.3. Berikan PKK untuk 1 siklus F. lanjutkan ke B B. Jika setelah 6 bulan perdarahan tetap terjadi dan pasien ingin diobati. Bila usia pasien > 35 tahun lakukan biopsi endometrium 33 . Jika pada pemeriksaan pelvik dijumpai rasa nyeri. Perdarahan karena efek samping penggunaan AKDR A. lanjutkan ke D. lanjutkan ke E E. Jika tidak ada perbaikan. jika perlu dapat ditambahkan AINS.

A. Nyeri pada uterus Ya B. pertimbangkan pengangkatan AKDR Ya C. Penggunaan 4-6 bulan pertama D. Lanjutkan penggunaan AKDR. Pada pasien berusia > 35 tahun lakukan biopsi endometrium 34 . Berikan PKK untuk 1 siklus D. Jika perdarahan abnormal menetap. Doksisiklin 2x100 mg sehari 10 Tidak hari. angkat AKDR. Perdarahan abnormal berlanjut setelah 6 bulan atau pasien ingin diterapi F. jika perlu dapat ditambahkan AINS Tidak E.

Manifestasi klinis perdarahan uterus abnormal PUA A. Kronik C. Perdarahan tengah (Intermenstrual bleeding) Perdarahan akut dan banyak Perdarahan ireguler = PUA-O Perdarahan haid banyak = PUA-E 35 . Akut B.

PT. kemudian lanjutkan ke D D. Jika terapi medikamentosa tidak berhasil atau ada kelainan organik. C. I. E. F. berikan progestin selama 14 hari kemudian stop 14 hari. Tindakan SIS dapat dilakukan pada keadaan endometrium yang tebal. ditambah prometasin 25 mg peroral atau injeksi IM setiap 4-6 jam untuk mengatasi mual. Stop perdarahan dengan EEK 2. periksa darah perifer lengkap (DPL) (rekomendasi C) dan fungsi hemostasis (hitung trombosit. Jika perdarahan aktif dan banyak disertai dengan gangguan hemodinamik dan atau Hb < 10 g / dl perlu dilakukan rawat inap. Jika perdarahan berhenti dalam 24 jam. 36 . untuk perbaikan hemodinamik. J. Jika perlu dapat dilakukan pemeriksaan histeroskopi “office” (rekomendasi A). perlu upaya diagnostik untuk mencari penyebab perdarahan. Untuk riwayat perdarahan berulang sebelumnya. (rekomendasi A). lakukan dilatasi dan kuretase (D&K) (rekomendasi B). berikan infus cairan kristaloid. kemudian stop 1 minggu. Lakukan pemeriksaan USG transvaginal / transrektal (rekomendasi B). Jika terdapat kontraindikasi PKK. GnRH agonis diberikan 2-3 siklus dengan interval 4 minggu. Dapat diberikan suplemen hematinik 1 x 1 tablet dan anti oksidan K.Perdarahan uterus abnormal akut B. lanjutkan dengan PKK 4 kali 1 tablet perhari (4 hari). H. Pasien rawat inap. G. injeksi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis dapat diberikan bersamaan dengan pemberian PKK untuk stop perdarahan (rekomendasi A). cukup rawat jalan.5 g / dl. Asam traneksamat 3 x 1 gram dan AINS 3 x 500 mg diberikan bersama EEK. polipektomi atau histerektomi (rekomendasi A). Ketika hemodinamik pasien stabil. maka dapat dilakukan terapi pembedahan seperti ablasi endometrium.5 mg per oral setiap 4-6 jam (rekomendasi B). Jika perdarahan tidak berhenti dalam 12-24 jam. 3 kali 1 tablet perhari (3 hari). untuk melihat adanya polip endometrium atau mioma submukosum. 2 kali 1 tablet perhari (2 hari) dan 1 kali 1 tablet sehari (3 minggu). miomektomi. dilanjutkan PKK siklik sebanyak 3 siklus (rekomendasi A). Ulangi selama 3 bulan. Jika hemodinamik stabil. aPTT dan TSH) (rekomendasi C). oksigen 2 liter / menit dan transfusi darah jika Hb < 7.

3x1 tab (3 hari). Setelah perdarahan akut berhenti. 2x1 tab (2 hari) dan 1x1 tab. 3x1 tab (3 hari). DPL. 3 minggu dan 1 minggu bebas PKK. kemudian stop 14 hari. diberikan PKK 4x1 tab (4 hari). PT.Hipotensi ortostatik atau hemoglobin < 10 g / dl atau perdarahan aktif & banyak Ya Tidak A. Bila terapi medikamentosa tidak berhasil atau ada kelainan organik. aPTT. kemudian stop 14 hari. Rawat inap B. ditambah prometasin 25 mg oral atau injeksi setiap 4-6 jam. Ulangi 3 bulan. PKK siklik selama 3 bulan Jika terdapat kontra indikasi PKK dapat diberikan progestin selama 14 hari. Setelah perdarahan akut berhenti. polipektomi atau histerektomi 37 . D&K jika perdarahan masih berlangsung dalam 12-24 jam. 3 minggu dan 1 minggu bebas PKK. ditambah prometasin 25 mg oral. lakukan terapi pembedahan seperti ablasi endometrium. Rawat jalan Infus RL dan oksigen dan transfusi darah jika Hb < 7. USG transvaginal / transrektal. USG transvaginal / transrektal. Tablet hematinik 1x1 tab J. Jika terdapat kontra indikasi PKK dapat diberikan progestin selama 14 hari. diberikan PKK 4x1 tab (4 hari). Ulangi 3 bulan. oral setiap 6 jam.5 mg. Asam traneksamat 3 x 1 gram diberikan bersamaan dengan EEK D&K jika perdarahan masih berlangsung dalam 12-24 jam. Dapat diberikan GnRH agonis 3 siklus bersama PKK. 2x1 tab (2 hari) dan 1x1 tab. PKK siklik selama 3 bulan. oral setiap 6 jam.5 g / dl EEK 2. PT. Asam traneksamat 3 x 1 gram diberikan bersamaan dengan EEK. Tablet hematinik 1x1 tab EEK 2. miomektomi. aPTT. TSH. DPL.5 mg. TSH.

LNG IUS .risiko tinggi kanker endometriu m tata laksana infertilitas D&K (bila dijumpai hiperplasia atipik  histerektomi) hiperplasia non atipik  progestin siklik tata laksana infertilitas ablasi endometrium 38 . hemodinamik tidak stabil) Primer Pasang iv line  resusitasi cairan dengan RL  rujuk Sekunder Transfusi bila Hb < 7.Agonis GnRH . harus ada persetujuan pada nona) Stop perdarahan PKK 4x1 4d PKK 3x1 3d PKK 2x1 2d PKK 1x1 21d As.Penanganan PUA menurut strata pelayanan kesehatan Manajem en Emergensi (Hb < 10.5 mg (bila tidak berhenti dalam waktu 24 jam.5 Tersier EEK 4x2.Histerektomi ingin hamil .Ablasi . lakukan D&K.D&K . traneksamat 3x1 g AINS 3x500mg Follow up regulasi haid PKK Progestin siklik Medikamentosa .Danazol Operatif .

LNG IUS .GnRH agonis . LNG-IUS = levonorgestrel intra uterine system 39 .gagal medikamen tosa ingin stop haid histerektomi ablasi endometrium . D&K = dilatasi dan kuretase.Danazol ablasi endometrium Keterangan: EEK = estrogen ekuin konyugasi. PKK = pil kontrasepsi kombinasi. AINS = anti inflamasi non steroid..

dan akan menurunkan sintesa prostaglandin pada endometrium. ulkus peptikum hingga kemungkinan terjadinya perdarahan dan peritonitis. AINS dapat mengurangi jumlah darah haid hingga 20-50 persen. dan kram uterus. (B). Asam Traneksamat Obat ini bersifat inhibitor kompetitif pada aktivasi plasminogen. Efek samping : gangguan pencernaan.Pemilihan obat-obatan pada perdarahan uterus abnormal NON-HORMONAL (A). 40 . jalur nyeri. namun tidak akan menimbulkan kejadian trombosis. perburukan asma pada penderita yang sensitif. Pemberian AINS dapat dimulai sejak perdarahan hari pertama atau sebelumnya hingga hingga perdarahan yang banyak berhenti. Obat anti inflamasi non steroid (AINS) Kadar prostaglandin pada endometrium penderita gangguan haid akan meningkat. Dosisnya untuk perdarahan mens yang berat adalah 1g (2x500mg) dari awal perdarahan hingga 4 hari. diare. Perdarahan menstruasi melibatkan pencairan darah beku dari arteriol spiral endometrium. maka pengurangan dari proses ini dipercaya sebagai mekanisme penurunan jumlah darah mens. Obat ini akan menghambat faktor-faktor yang memicu terjadinya pembekuan darah. diare dan sakit kepala. Plasminogen akan diubah menjadi plasmin yang berfungsi untuk memecah fibrin menjadi fibrin degradation products (FDPs). Efek samping : gangguan pencernaan. AINS ditujukan untuk menghambat siklooksigenase. Oleh karena itu obat ini berfungsi sebagai agen anti fibrinolitik. perdarahan uterus. Prostaglandin mempengaruhi reaktivitas jaringan lokal dan terlibat dalam respon inflamasi.

(A) Asam Traneksamat Plasmin Plasminogen Fibrin FDPs Diasil gliserol atau Fosfolipid Fosfolipase A2 Fosfolipase C2 Asam arakidonat Siklooksigen ase OAINS (B) Prostaglandin H2 PGD2 PGE2 PGF2 PGI2 TXA2 41 .

(C). (B). retensi cairan. Estrogen Sediaan ini digunakan pada kejadian perdarahan akut yang banyak. stroke dan serangan jantung.5 mg per oral 4x1 dalam waktu 48 jam.HORMONAL (A). Efek samping dapat berupa perubahan mood. faktor X . Sediaan yang digunakan adalah EEK. Efek samping berupa gejala akibat efek estrogen yang berlebihan seperti perdarahan uterus. maka obat tersebut dapat diberikan secara kontinyu. Apabila pengobatannya ditujukan untuk menghentikan haid. mual. kemudian dilanjutkan dengan pemberian pil kontrasepsi kombinasi paling tidak selama 3 bulan. mastodinia dan retensi cairan. dilanjutkan dengan 3 x 1 tablet selama 3 hari. proses agregasi trombosit dan permeabilitas pembuluh kapiler. Obat ini bekerja untuk memicu vasospasme pembuluh kapiler dengan cara mempengaruhi kadar fibrinogen. Dosis yang dianjurkan pada saat perdarahan akut adalah 4 x 1 tablet selama 4 hari. payudara tegang. sehingga estradiol akan dikonversi menjadi estron yang efek biologisnya lebih rendah dibandingkan dengan estradiol. Progestin dapat diberikan secara siklik maupun kontinyu. Mekanisme kerja obat ini belum jelas. Pembentukan reseptor progesteron akan meningkat sehingga diharapkan pengobatan selanjutnya dengan menggunakan progestin akan lebih baik. namun dianjurkan setiap 3-4 bulan dapat dibuat perdarahan lucut. kemungkinan aktivitasnya tidak terkait langsung dengan endometrium. Pemberian EEK dosis tinggi tersebut dapat disertai dengan pemberian obat anti-emetik seperti promethazine 25 mg per oral atau intra muskular setiap 4-6 jam sesuai dengan kebutuhan. deep vein thrombosis. PKK Perdarahan haid berkurang pada penggunaan pil kontrasepsi kombinasi akibat endometrium yang atrofi. dengan dosis 2. Pemberian siklik diberikan selama 14 42 . faktor IV. Progestin Obat ini akan bekerja menghambat penambahan reseptor estrogen serta akan mengaktifkan enzim 17-hidroksi steroid dehidrogenase pada sel-sel endometrium. Meski demikian penggunaan progestin yang lama dapat memicu efek anti mitotik yang mengakibatkan terjadinya atrofi endometrium. dilanjutkan dengan 2 x 1 tablet selama 2 hari. Selanjutnya bebas pil selama 7 hari. sakit kepala. dan selanjutnya 1 x 1 tablet selama 3 minggu.

Sediaan progestin yang dapat diberikan antara lain MPA 1 x 10 mg. riwayat penyakit jantung koroner atau infark miokard. Efek sampingnya dialami oleh 75% pasien yakni: peningkatan berat badan. Androgen Danazol adalah suatu sintetik isoxazol yang berasal dari turunan 17a-etinil testosteron. serta memiliki efek langsung terhadap reseptor estrogen di endometrium dan di luar endometrium. Terdapat beberapa pilihan. didrogesteron 2 x 5 mg atau nomegestrol asetat 1 x 5 mg selama 10 hari per siklus. Pemberian progestin secara kontinyu dapat dilakukan apabila tujuannya untuk membuat amenorea.hari kemudian stop selama 14 hari. jerawat dan timbul perasaan depresi (D). dosis progestin dapat dinaikkan setiap 2 hari hingga perdarahan berhenti. Obat tersebut memiliki efek androgenik yang berfungsi untuk menekan produksi estradiol dari ovarium. jerawat. rasa begah. 43 . noretisteron asetat dengan dosis 2-3 x 5 mg. Selanjutnya hitung hari pertama perdarahan tadi sebagai hari pertama. kanker hati). Danazol dapat menurunkan hilangnya darah menstruasi kurang lebih 50% bergantung dari dosisnya dan hasilnya terbukti lebih efektif dibanding dengan AINS atau progestogen oral. Pemberian dosis tinggi 200 mg atau lebih per hari dapat dipergunakan untuk mengobati perdarahan menstrual hebat. yaitu : pemberian progestin oral : MPA 10-20 mg per hari Pemberian DMPA setiap 12 minggu Penggunaan LNG IUS Efek samping : peningkatan berat badan. perdarahan bercak. Pemberian dilanjutkan untuk 14 hari dan kemudian berhenti selama 14 hari. Apabila perdarahan terjadi pada saat sedang mengkonsumsi progestin. maka dosis progestin dapat dinaikkan. demikian selanjutnya berganti-ganti. Pemberian progestin secara siklik dapat menggantikan pemberian pil kontrasepsi kombinasi apabila terdapat kontra-indikasi (misalkan : hipersensitivitas. Dengan dosis lebih dari 400mg per hari dapat menyebabkan amenorea. perubahan suara. riwayat penyakit kuning akibat kolestasis. Apabila pasien mengalami perdarahan pada saat kunjungan. payudara tegang. begitu berulang-ulang tanpa memperhatikan pola perdarahannya. kulit berminyak. dan selanjutnya progestin diminum sampai hari ke 14. kecurigaan keganasan payudara ataupun genital. sakit kepala. riwayat stroke. kelainan pembekuan darah.

namun pemberiannya dianjurkan tidak lebih dari 6 bulan karena terjadi percepatan demineralisasi tulang.(E). maka dapat diberikan tambahan terapi estrogen dan progestin dosis rendah (add back therapy). Pemberian obat ini biasanya ditujukan pada wanita dengan kontraindikasi untuk operasi. osteoporosis (terutama tulang-tulang trabekular apabila penggunaan GnRH agonist lebih dari 6 bulan). 44 . Obat ini dapat membuat penderita menjadi amenorea. Efek samping biasanya muncul pada penggunaan jangka panjang. yang akan mengakibatkan hambatan pada pelepasan hormon gonadotropin. yakni: keluhan-keluhan mirip wanita menopause (misalkan hot flushes. kekeringan vagina). Apabila pemberiannya melebihi 6 bulan. keringat yang bertambah. Dapat diberikan leuprolide acetate 3. Agonis Gonadotropine Releasing Hormone (GnRH) Obat ini bekerja dengan cara mengurangi konsentrasi reseptor GnRH pada hipofisis melalui mekanisme down regulation terhadap reseptor dan efek pasca reseptor.75 mg intra muskular setiap 4 minggu.

(E) GnRHa (D) Danazol (C) Progesti n (B) Kontrasepsi oral (A) Estroge n 45 .

2. 3. 2.625 mg / tab Progestin sintetik 1. 4. 4. Etinil estradiol Levonogestrel Etinil estradiol Siproteron asetat Etinil estradiol Drospirenone Etinil estradiol Drospirenone 30 mcg 150 mcg 30 mcg 2 mg 30 mcg 3 mg 20 mcg 3 mg “Progestin releasing IUS” 1 Levonorgestrel IUS 20 mcg / hari 46 . 2. 17-β Estradiol Estrogen ekuin konjugasi 1 & 2 mg / tab 0. 3.Daftar obat yang dapat digunakan untuk terapi PUD No Nama Generik Dosis Nama Dagang Anti fibrinolitik 1 Asam traneksamat 500 mg / tab Anti prostaglandin 2 Asam mefenamat 500 mg / tab Estrogen alamiah 1. 5 Nomegestrol asetat Medroksiprogesteron asetat Norethisteron Didrogesteron Depomedroksi progesteron asetat 5 mg / tab 10 mg / tab 5 mg 10 mg 150 mg / vial Lutenyl Pil kontrasepsi kombinasi 1.

Gondry J. 2007 3. Fraser IS. The Royal College of Obstetricians and Gynecologist. and reproductive biology. Nice Guideline. Critchley HO. Acta obstetricia et gynecologica Scandinavica. 2008 Oct. gynecology. FIGO classification system (PALMCOEIN) for causes of abnormal uterine bleeding in nongravid women of reproductive age. Munro MG. Menorrhagia: an update.113(1):3-13 2. Clinical practice guidelines on menorrhagia: management of abnormal uterine bleeding before menopause.152(2):133-7 4. 2003 May. et al. Broder MS. Golfier F.Daftar Bacaan 1. Oehler MK. Fauconnier A. 2011 Apr. Cravello L. European journal of obstetrics. Rees MC.82(5):405-22 47 . International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics. Chabbert-Buffet N. Marret H. The management of heavy menstrual bleeding .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful