PENDAHULUAN Sebelum industri benih berkembang petani umumnya memperoleh benih untuk bahan tanamannya melalui beberapa cara

: secara barter antar petani, menyiapkan benih dari tanamannya sendiri, dan membeli pada pedagang di pasar-pasar terdekat, sehingga dari ketiga cara tersebut masih belum menjamin terhadap mutu benihnya baik secara fisik, fisiologis, maupun mutu genetisnya, akan tetapi perbenihan saat ini sudah berkembang sangat pesat. Pasca pencapaian swasembada beras tahun 1984, laju peningkatan produksi padi nasional hingga tahun 2000 rata-rata hanya 2% per tahun, lebih rendah dibanding dengan laju produksi padi dalam periode 1970-1983 yang mencapai 5,2% per tahun. Hal ini menunjukan telah terjadi pelandaian (levelling off) produksi padi dalam dua dekade terakhir terutama pada lahan sawah irigasi yang dikelola secara intensif. Pelandaian tingkat hasil padi saat ini tidak terlepas dari peran vital dari benihnya. Sampai saat ini sebagian areal pertanaman padi masih didominasi oleh varietas IR64 dan varietas unggul yang baru belum berkembang secara menyeluruh walaupun potensi dan kualitas hasilnya relatif menyamai IR64. Selain juga lambatnya inovasi teknologi, termasuk pengembangan varietas unggul baru dan perbanyakan benihnya, serta ketidakseimbangan hara dan degradasi bahan organik di tanah sawah diduga merupakan salah satu penyebab dari fenomena pelandaian produksi padi yang terjadi. Berdasarkan pada fenomena tersebut maka perlunya penerapan komponen teknologi termasuk pula perbanyakan/produksi benihnya guna memenuhi kebutuhan benih secara optimal, baik kuantitatif maupun kualitatifnya.

PRODUKSI BENIH 1. Beberapa pengertian / batasan tentang benih adalah : a. Batasan struktural : secara anatomi struktural biji sama dengan benih, yakni merupakan suatu bentuk tanaman mini (embrio) yang perkembangannya masih terkekang. b. Batasan fungsional : fungsi benih berbeda dengan fungsi biji, yakni benih adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan budidaya/bahan tanam. c. Batasan agronomi : benih merupakaan sarana produksi disamping sarana produksi yang lainnya, sehingga benih sebagai komponen produksi harus memiliki kualitas tinggi untuk menjamin produksi maksimal. d. Batasan teknologi : perlakuan teknologi sangat penting bagi keamanan dan keselamatan benih sehingga mutunya tetap terjaga secara maksimal, sehingga produksi benih sekaligus menggambarkan/indikator kemajuan teknologinya.

Secara struktural biji terdiri dari 3 bagian vital yakni : 1. Embrio, terdiri dari calon akar (radikula), calon batang (hipokotil), dan keping biji (kotiledon). 2. Jaringan penyimpan cadangan makanan (endosperm, kotiledon) 3. Bagian pelindung biji (kulit biji). 2. Faktor-factor yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan benih bermutu antara lain : sifat tanaman, keadaan tanaman, dan lokasi pertanaman perbenihannya. Semua factor tersebut sangat menentukan pencapaian terhadap kualitas dan kuantitas hasil benihnya. a. Sifat tanaman, adalah sifat-sifat tanaman yang membantu tanaman untuk dapat memberikan hasil benih yang secara kuantitatif dan kualitatif yang baik seperti cara penyerbukannya, morfologi dan biologi bunga serta kepekaan tanaman terhadap pengaruh lingkungan. b. Keadaan tanamannya, benih diharapkan berasal dari tanaman yang memiliki kondisi pertumbuhan optimal, tidak menunjukkan tercekam oleh faktor biotik maupun abiotik serta kualitas dan kuantitas bijinya baik. c. Lokasi tanaman untuk benih harus memenuhi syarat secara optimal, yakni tidak merupakan daerah endemik bagi hama atau penyakit utama, tidak mengalami cekaman seperti kekeringan, kebanjiran salinitas dsb, sehingga diharapkan dari lokasi pertanaman ini dihasilkan benih-benih yang berkualitas baik dalam jumlah yang cukup. d. Kultur Teknis, diharapkan tanaman yang diperuntukkan untuk benih dalam penanamannya memenuhi persyaratan kultur teknis yang direkomendasikan, seperti jarak tanam, jumlah tanaman tiap rumpunnya, cara penanamannya (larikan, tandur legowo), pemeliharaan tanamannya (pengendalian hama/penyakit, pengairan dan pemupukkan) e. Lokasi untuk perbenihan, harus memenuhi persyaratan sehingga mendukung kelancaran serta dapat menjamin kualitas dan kuantitas hasil benihnya, faktor serta persyaratan tersebut meliputi : faktor lingkungan (suhu, cahaya, kelembaban, slope, ketinggian tempat, pengairan) dan tenaga kerja dan ketersediaan saprodi.

PERAN BENIH DALAM USAHA PENINGKATAN PRDUKSI PADI Salah satu pemecahan masalah untuk mengatasi pelandaian produksi padi oleh Balitpa dikembangkan model Pengelolaan Tanaman Terpadu padi sawah melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) dan sebagai penciri model PTT, ada 6 komponen teknologi yang perlu diterapkan secara bersamaan yaitu : 1. benih bermutu (kemurnian dan daya kecambah) 2. varietas unggul baru yang sesuai lokasi

3. 4. 5. 6.

bibit muda (< 21 HSS) bila kondisi lingkungan mendukung 1-3 bibit per rumpun pemupukan N berdasarkan bagan warna daun ( BWD ). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah / pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi.

Jika dilihat dari enam komponen tersebut, empat komponen berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi benihnya, sehingga pengkajian dan pemahaman terhadap teknologi perbanyakan benihnya perlu dilakukan. Benih Penggunaan benih terkait dengan cara tanam (jarak tanam, sistem tanam/ tegel atau jajar legowo), jumlah tanaman / rumpun / lubang, penggunaan benih oleh petani peserta pengembangan model PTT di 20 Kabupaten contoh berkisar antara 15 kg/ha (empat kabupaten), hingga lebih dari 40 kg/ha (satu kabupaten), 16-20 kg/ha (dua kabupaten) dan sisanya yang terbanyak adalah penggunaan benih 30 kg/ha (tiga belas kabupaten). Penanaman bibit 1-3 batang per rumpun dapat menghemat penggunaan benih tanpa menurunkan tingkat hasil, hal ini dirasakan oleh petani yang sebelumnya terbiasa menggunakan benih hingga 100 kg/ha, seperti di kabupaten Bima misalnya petani biasanya menggunakan benih sebanyak 50-100 kg / ha, dalam model PTT penggunaan benihnya hanya 15-40 kg/ha. Varietas Komponen teknologi yang mudah diadopsi dan sangat diharapkan petani adalah varietas unggul baru berdaya hasil tinggi, tahan hama / penyakit, rasa nasi sesuai dengan selera petani dan permintaan pasar, sehingga keragaan penggunaan varietas antar kabupaten / daerah tampak berbeda. Bibit Muda Keragaan penggunaan bibit muda pada 19 kabupaten peserta pengembangan model PTT, 13 di antaranya menerapkan teknologi bibit muda (umur < 21 HSS) dan sisanya masih menggunakan umur bibit lebih tua (> 21 HSS) karena beberapa pertimbangan.

MUTU BENIH Bidang perbenihan merupakan usaha yang menekankan pada kualitas hasil / produknya, sehingga semua tahapan kegiatan dalam bidang perbenihan diarahkan pada aspek kualitas hasilnya, karena apabila kualitas dari suatu benih tidak dapat dijamin, maka produk ini bahkan tidak layak dipasarkan sebagai benih.

Ada tiga aspek mutu benih yakni mutu fisik, mutu fisiologis, dan mutu genetis, dan masing-masing aspek mutu tersebut meliputi : a. Mutu fisik suatu benih berkaitan erat dengan kondisi fisik benihnya yang meliputi validitas / cacat tidaknya fisik benihnya, kenormalan ukurannya sesuai dengan kondisi deskripsinya, keutuhan benihnya, yakni benihnya tidak mengalami pecah, retak, patah, atau lecet pada bagian vital dari benih, bentuk dan warnanya sesuai dengan standar deskripsinya. b. Mutu fisiologis suatu benih berkaitan erat dengan kondisi fisiologis benihnya yang meliputi : daya tumbuhnya, kecepatan tumbuh, keadaan vigornya, keseragaman tumbuhnya dan tingkat abnormalitas kecambahnya. c. Mutu genetis suatu benih berkaitan erat dengan kesesuaian dengan deskripsi sifat-sifat dari, keseragamannya, kemurniannya tinggi (bebas dari percampuran varietas lain maupun off-type), dan sifat-sifatnya sesuai dengan kelas benihnya. Penetapan Mutu Benih. Untuk tercapainya ke tiga aspek mutu benih tersebut maka dalam memproduksi benih seperti benih padi harus sesuai dengan standar penetapan mutu dalam sertifikasinya yang meliputi beberapa persyaratan : 1. Persyaratan Tanah Untuk Sertifikasi. Tanah yang akan digunakan untuk memproduksi benih bersertifikat diusahakan bekas tanaman lain atau tanah bera. Apabila areal yang digunakan bekas tanaman padi maka areal tersebut dapat bekas varietas yang sama atau bekas varietas lain yang sifat-sifat fisiknya mudah dibedakan dengan varietas yang ditanam a. Pihak produsen mau dan mampu mengerjakan pengolahan lanah dan rouging secara intensif. b. Sistem tanam harus secara tandur jajar. c. Persemaian dilakukan pada areal yang bebas voluntir. 2. Isolasi a. Pertanaman padi yang disertifikasi harus jelas terpisah dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling sedikit 3 m. b. Apabila ada dua varietas yang berbeda dan bloknya berdampingan, maka tanggal tanam diatur sedenikian rupa sehingga saat berbunganya berbeda ±30 hari. Dengan demikian tidak terjadi persilangan. 3. Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan.

Pemberitahuan untuk pemeriksaan lapangan harus sampai di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih selambat-lambatnya satu minggu sebelum waktu pemeriksaan 4. Pemeliharaan Tanaman Sebelum Pemeriksaan Lapangan a. Pada masa pertanaman aktif membentuk anakan (fase vegetatif) harus dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (rouging) terhadap varietas lain dan tipe simpang sebelum pemeriksaan lapangan pertama dilakukan. b. Pembersihan dan seleksi (roguing) harus pula dilakukan pada waktu pertanaman mulai berbunga (sebelum peneriksaan lapangan kedua) c. Apabila pada pemeriksaan lapangan pertama atau kedua ternyata pertanaman tidak memenuhi standar kemurnian lapangan, maka seleksi (rouging) harus pula dilakukan setelah pemeriksaan tersebut selesai. Kesempatan mengulang ini hanya diberikan satu kali dan jika pada pmeriksaan lapangan ulangan tersebut tidak memenuhi standar, maka proses sertifikasinya tidak dilanjutkan. d. Roguing harus dilakukan pula sebelum pemeriksaan lapangan terakhir. e. Hal-hal yang diperhatikan pada waktu seleksi (roguing) adalah : tipe pertumbuhan, kehalusan daun, warna helai daun, warna lidah daun, warna tepi daun, warna pangkal batang, bentuk/tipe malai, bentuk gabah, bulu pada ujung gabah, warna ujung gabah, warna gabah, dan sudut daun bendera. 5. Pembersihan Peralatan/Perlengkapan. Alat penanam/penabur benih, gerobak, alat panen, silo dan perlengkapan lain yang akan digunakan dalam memproduksi benih harus bersih dan bebas dari kemungkinan campuran dengan varietas lain. 6. Pemeriksaan Alat Pengolahan. Benih yang akan disertifikasi harus diolah dengan peralatan yang telah diperiksa dan disahkan mengenai kebersihannya oleh BPSB. 7. Contoh Benih Untuk Pengujian. a. Contoh benih yang mewakili untuk diuji di laboratorium akan diambil dari setiap kelompok benih yang telah selesai diolah guna sertifikasi. b. Contoh benih yang diambil dari bulk benih sebelum pengolahan hanya diijinkan untuk pengujian daya tumbuh. c. Pengawas benih akan mengambil contoh benih resmi atas permintaan produsen. 8. Pengambilan Contoh Benih.  Kelompok benih.

a. tiap kelompok benih tidak boleh lebih dari 20 ton. b. wadah-wadah dari suatu kelompok benih harus disusun dalam satu susunan sedemikian rupa sehingga jumlahnya dapat dihitung dengan tepat dan memudahkan pengambilan contoh benihnya.  Pengambilan contoh.

a. pengambilan contoh benih dilakukan sesuai dengan peraturan/pedoman yang dikeluarkan oleh Subdirektorat Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih. b. Dari tiap-tiap kelompok benih harus diambil paling sedikit 1.000 gram 9. Label Masa berlakunya label diberikan paling lama 6 bulan sejak tanggal selesainya pengujian dan paling lama 9 bulan setelah tanggal panen. Selama masa berlakunya label harus diadakan pengujian ulang untuk pengecekan. 10. Standar a. Standar lapangan.

b. Standar pengujian laboratorium.

PENYIMPANAN BENIH 1. Tujuan penyimpanan - Untuk mengawetkan cadangan makanan dari musim ke musim - Mempertahankan viabilitas benih - Melindungi benih dari penyebab kemunduran viabilitas benih

- Penyimpanan benih bermakna ekonomis / saat pemasaran yang tepat - Perkembangan teknologi genetika, penyimpanan jangka panjang (bank plasma) semakin penting, contohnya di Fort Collins (Colo), Hiratsuka (Jepang), Braunschweig (Jerman), Bari (Italia), Izmir (Turki), prinsip penyimpanan jangka panjang sama seperti penyimpanan jangka pendek. - Kerugian bila penyimpanan benih kurang baik (daerah panas, lembab, subtropika dan tropika jadi kurang efisien; kerugian dari aspek pemuliaan tanaman, perniagaan benih secara internasional / nasional) 2. Benih Organisme Hidup Yang Lemah / Rapuh - Dalam benih merupakan organisme dormant - Benih terdiri dari embrio, cadangan makanan/endosperm, pelindung / kulit benih dan beberapa alat tambahannya (bulu, duri, sayap dll). - Posisi embrio terkait dengan daya tahan benih / perlindungannya 3. Saat panen hingga saat tanam - Sejak panen sampai tanam benih mengalami prosesing, tiap tahapan berpengaruh terhadap daya simpannya. - Kondisi benih saat dipanen berpengaruh terhadap daya simpannya - Kondisi selama prosesing, transportasi, penyimpanan 4. Menurunnya viabilitas dan matinya benih - matinya atau hilangnya viabilitas benih ( kelompok ) - kematian individu benihnya - kemunduran benih hanya dihambat / tidak dapat dihentikan - proses kematian benih antar individunya tidak sama dan berlangsung secara lambat tetapi kontinyu. - benih masak setelah capai bobot maksimum / masak fisiologis - Moore (1955), periode peralihan dari benih masak sampai mati secara bertahap ini tergantung pada : jenis benihnya, berat kerusakan dan posisinya, kelembaban dan suhu lingkungan penyimpanan di lapangan, waktu panen, dan waktu dalam prosesing dan lamanya kondisi buruk yang dialami oleh benihnya. - Selama penyimpanan benih mengalami perubahan-perubahan : Daya kecambah benih, vigor dan potensi panen, aberasi kromosom, perubahan biokimia, aktivitas enzim, serta metabolisme. Faktor yang mempengaruhi umur simpan benih

a. Pengaruh Genetik - Variasi Antar spesies (tidak sama antar spesies anaman). Benih umur panjang (kulit tebal dan impermeabel). - Harrington (1972), Albizia (umur 147 tahun), Cassia (158 tahun), Goodia (105 tahun), Trifolium (100 tahun) semuanya tergolong Leguminosae (memproduksi benih keras). Benih yang berumur lebih dari 500 tahun seperti Canna, Lotus, Lupinus. - Benih yang umurnya pendek : Selada, bawang, kacang tanah, dari kelompok serealia (Rye), Barley dan Oats umurnya panjang dan jagung dan gandum umurnya di tengah-tengah. - Haferkamp dkk. (1953) : benih barley, 32 tahun daya kecambahnya mencapai (96,80 dan 72 %) dan benih oat, 32 tahun (84, 66 dan 55 dan 5 % ). - Perbedaan masa simpan antar kultivar. Mis. Barley sp. Oderbruker lebih tahan/daya simpanya dibandingkan galur-galur lainnya (Shands dkk, 1967). - Toole dan Toole (1954) kacang galur Black Valentine lebih lama dari Brittle Wax. - James (1967), masa simpan berbeda antar kacang, mentimun, kapri, jagung manis, dan semangka. - Pada galur murni jagung lebih mampu bertahan viabilitasnya apabila disimpan pada suhu rendah dibandingkan dengan galur-galur lainnya (Neal dan Davis, 1956). - Lindstrom ( 1942 dan 1943 ) beberapa lini murni jagung disimpan 12 tahun dengan kondisi alami di Iowa (AS), masih berkecambah 90 % padahal semua galur murni lainnya telah mati, masa hidup jagung galur murni tampaknya bersifat dominan; sifat masa hidup tampaknya dapat dimasukkan melalui silang balik (Backcross). Weiss dan Wents ( 1937) bahwa gen luteus2 dan luteus 4 pada kromosom 10 bertanggung jawab atas pendeknya masa hidup jagung dan rendahnya vigor benih jagung. Umur simpan / masa hidup / daya simpan benih adalah tenggang waktu yang dibutuhkan dari saat terbentuk hingga mati atau jangka waktu yang dibutuhkan benih untuk tetap hidup. - Pada kondisi penyimpanan sama antar jenis / spesies tanaman tidak sama umur simpannya. Berdasarkan umur simpannya, benih ada 3 kelompok : (1) Mikro Biotik (Umur benih / masa simpan benih pendek). (2) Meso Biotik (Umur benih / masa simpan benih sedang). (3) Makro Biotik (Umur benih / masa simpan benih panjang) bahkan ada yang mencapai ratusan tahun. b. Pengaruh Kondisi Sebelum Panen

- Erat kaitannya dengan kondisi lingkungan tumbuh / lapangan selama perkembangan benih ( suhu, intensitas cahaya, curah hujan, kelembaban, unsur hara, cekaman biotik / abiotik ) pengaruhnya terhadap umur / penyimpanan benih. - Tingkat kemasakan benih / optimal (cadangan makanan, kesehatan, viabilitas benihnya) - Viabilitas awal benih, sangat berpengaruh terhadap umur/masa simpan benihnya. - Kondisi benih waktu masih di lapangan, selama prosesing, cara dan tempat penyimpanan semuanya berpengaruh terhadap umur / masa simpan benihnya. c. Pengaruh tempat asal benih, dalam hubungannya dengan umur / masa simpan benihnya. d. Pengaruh iklim terhadap umur / masa simpan benih - faktor lingkungan yang paling dominan pengaruhnya - cuaca berpengaruh terhadap kondisi fisik benihnya (pecah, luka dan kerapuhan bagian pelindung / kulit benihnya). - Pengaruh iklim terhadap proses perkembangan / pemasakan benihnya - Hujan sebelum panen dapat memacu perkecambahan

SYARAT PETUMBUHAN Iklim 1. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. 2. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. 3. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur 22-27C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperatur 19-23C. 4. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan. 5. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.

Media Tanam  Padi gogo

1. Padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus, struktur remah dan cukup mengandung air dan udara. 2. Memerlukan ketebalan tanah 25 cm, tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus < 50%. 3. Keasaman tanah bervariasi dari 4,0 sampai 8,0.  Padi sawah

1. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah. 2. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm. 3. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral. Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral. Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus. Ketinggian Tempat Tanaman dapat tumbuh pada derah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.

PEDOMAN BUDIDAYA Pembibitan Syarat benih yang baik: a) Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang. b) Warna gabah sesuai aslinya dan cerah. c) Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya. d) Daya perkecambahan 80%. Penyiapan Benih

Benih dimasukkan ke dalam karung goni dan direndam 1 malam di dalam air mengalir supaya perkecambahan benih bersamaan. Teknik Penyemaian Benih a) Padi sawah Untuk satu hektar padi sawah diperlukan 25-40 kg benih tergantung pada jenis padinya. Lahan persemaian dipersiapkan 50 hari sebelum semai. Luas persemaian kira-kira 1/20 dari aeral sawah yang akan ditanami. Lahan persemaian dibajak dan digaru kemudian dibuat bedengan sepanjang 500-600 cm, lebar 120 cm dan tinggi 20 cm. Sebelum penyemaian, taburi pupuk urea dan SP36 masing-masing 10 gram/meter persegi. Benih disemai dengan kerapatan 75 gram/meter persegi. b) Padi Gogo Benih langsung ditanam di ladang. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 5 cm. Semprotkan pestisida pada hari ke 7 dan taburi pupuk urea 10 gram/meter persegi pada hari ke 10. Pemindahan benih Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 25-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit. Pengolahan Media Tanam a) Bersihkan saluran air dan sawah dari jerami dan rumput liar. b) Perbaiki pematang serta cangkul sudut petak sawah yang sukar dikerjakan dengan bajak. c) Bajak sawah untuk membalik tanah dan memasukkan bahan organik yang ada di permukaan. Pembajakan pertama dilakukan pada awal musim tanam dan dibiarkan 2-3 hari setelah itu dilakukan pembajakan ke dua yang disusul oleh pembajakan ketiga 3-5 hari menjelang tanam. d) Ratakan permukaan tanah sawah, dan hancurkan gumpalan tanah dengan cara menggaru. Permukaan tanah yang rata dapat dibuktikan dengan melihat permukaan air di dalam petak sawah yang merata. e) Lereng yang curam dibuat teras memanjang dengan petak-petak yang dibatasi oleh pematang agar permukaan tanah merata. Pengolahan Lahan Padi Gogo

Waktu yang tepat adalah di akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan. Cara pengolahan tanah adalah sebagai berikut: a) Lahan dibersihkan dari tanaman penggangu dan rumput sambil memperbaiki pematang dan saluran drainase. b) Tanah dibajak dua kali pada kedalaman 25-30 cm, tanah dibalik. c) Pemupukan organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak 20 ton/ha. d) Untuk menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan. e) Tanah dibiarkan sampai hujan turun. Teknik Penanaman  Pola tanam

Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun menanam padi. Untuk meningkatkan produktivitas lahan, seringkali dilakukan tumpang sari dengan tanaman semusim lainnya, misalnya padi gogo dengan jagung atau padi gogo di antara ubi kayu dan kacang tanah. Pada pertanaman padi sawah, tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacangkacangan.  Penanaman Padi Sawah

Bibit ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25 cm, 22 x 22 cm atau 30 x 20 cm tergantung pada varitas padi, kesuburan tanah dan musim. Padi dengan jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih lebar. Pada tanah subur jarak tanam lebih lebar. Jarak tanam di daerah pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit ditanam pada kedalaman 3-4 cm.  Penanaman Padi Gogo

Penanaman dilakukan pada awal musim hujan setelah dua atau tiga kali turun hujan di bulan Oktober-November. Penanaman dilakukan dengan cara: a) Di dalam lubang tanam Kedalaman lubang 3-5 cm dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Satu lubang diisi dengan 5-7 butir benih dan ditutup dengan pupuk kandang dan abu, debu atau tanah halus.

b) Di dalam larikan Terlebih dahulu dibuat alur tanam dengan bantuan kayu berujung runcing dengan jarak antar aluran 60 cm dan kedalaman 3 cm. Benih ditaburkan ke dalam aluran. Pemeliharaan Tanaman  Penjarangan dan Penyulaman Padi Sawah

Penyulaman tanaman yang mati dilakukan paling lama 14 hari setelah tanam. Bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibit cadangan pada persemaian bibit.  Penyiangan Padi Sawah

Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan sekaligus dengan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat berumur 3 dan 6 minggu dengan menggunakan landak (alat penyiang mekanis yang berfungsi dengan cara didorong) atau cangkul kecil.  Pengairan Padi Sawah

Syarat penggunaan air di sawah: a) Air berasal dari sumber air yang telah ditentukan Dinas Pengairan/ Dinas Pertanian dengan aliran air tidak deras. b) Air harus bisa menggenangi sawah dengan merata. c) Lubang pemasukkan dan pembuangan air letaknya bersebrangan agar air merata di seluruh lahan. d) Air mengalir membawa lumpur dan kotoran yang diendapkan pada petak sawah. Kotoran berfungsi sebagai pupuk. e) Genangan air harus pada ketinggian yang telah ditentukan. Setelah tanam, sawah dikeringkan 2-3 hari kemudian diairi kembali sedikit demi sedikit. Sejak padi berumur 8 hari genangan air mencapai 5 cm. Pada waktu padi berumur 8-45 hari kedalaman air ditingkatkan menjadi 10 sampai dengan 20 cm. Pada waktu padi mulai berbulir, penggenangan sudah mencapai 20-25 cm, pada waktu padi menguning ketinggian air dikurangi sedikit-demi sedikit.  Pemupukan Padi Sawah

Pupuk kandang 5 ton/ha diberikan ke dalam tanah dua minggu sebelum tanam pada waktu pembajakan tanah sawah. Pupuk anorganik yang dianjurkan Urea=300 kg/ha, TSP=75-175 kg/ha dan KCl=50 kg/ha.

Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam. Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari sebelum tanam dengan cara disebarkan dan dibenamkan. Pupuk KCl diberikan 2 kali yaitu pada saat tanam dan saat menjelang keluar malai.  Penyiangan dan Pembumbunan Padi Gogo

Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai.  Penyulaman Padi Gogo

Dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam.  Pemupukan Padi Gogo a) Pupuk organik Berasal dari tanaman pupuk hijau seperti Crotalaria juncea yang berumur 46 bulan atau dari pupuk kandang yang telah matang. Pupuk organik dibenamkan ke tanah dengan dosisi 10-30 ton/ha. b) Pupuk anorganik Pupuk yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha TSP dan 50 kg/ha KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan urea pada 3-4 minggu dan 8 minggu setelah tanam. Waktu Penyemprotan Pestisida Penyemprotan pestisida dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dari intensitas serangan.

PANEN Ciri dan Umur Panen Padi siap panen: 95 % butir sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air gabah 21-26 %, butir hijau rendah. Cara Panen Keringkan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong pangkal batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi. Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper binder, panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar

sedangkan dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar. Perkiraan Produksi Dengan penanaman dan pemeliharaan yang intensif, diharapkan produksi mencapai 7 ton/ha. Saat ini hasil yang didapat hanya 4-5 ton/ha.

PASCA PANEN a) Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60 jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar) dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok, waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen. b) Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %. c) Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14 %. Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman. d) Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (huller).

STUDI KASUS 1. PRODUKSI BENIH PADI NON HIBRIDA Untuk dapat mengelola produksi benih padi bersertifikat terdapat beberapa proses yang harus dilakukan dengan seksama dan teliti. a. Persyaratan Lahan Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan yang diberakan, dapat bekas tanaman padi, asalkan varietas yang ditanam sama dengan varietas yang ditanam sebelumnya, Ketinggian lahan disesuaikan dengan daya adaptasi varietas tanaman, umumnya padi beradaptasi di dataran rendah, Lahan relatif subur, Ph 5,4-6, dan memiliki lapisan keras sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering. b. Benih Sumber Benih sumber yang digunakan hendaknya dari kelas yang lebih tinggi. Kebutuhan benih sumber per hektar diperkirakan sebanyak 10 kg benih penjenis

untuk menghasilkan benih dasar, 25 kg benih dasar untuk menghasilkan benih pokok; dan 25 kg benih pokok untuk menghasilkan benih sebar. Varietas yang ditanam hendaknya selain disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, memperhatikan pula aspek kecocokan lahan, umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama serta penyakit. c. Penyemaian Ukuran bedeng pesemaian umumnya 5% dari luas lahan penanaman. Misalnya, lahan penanaman direncanakan seluas satu hektar maka bedengan persemaian yang diperlukan sekitar 500m2. d. Penyiapan lahan dan penanaman Penanaman padi menghendaki tanah sawah yang berstruktur lumpur dengan kedalaman sekitar 15-30 cm. untuk memperoleh struktur tanah demikian, lahan beberapa kali direndam dengan air. Kegiatan selanjutnya yaitu pengaturan jarak tanam jarak tanam dibuat 22 cm x 22 cm bila penanaman pada musim kemarau dan 30 cm x 15 cm bila penanaman pada musim hujan. Sebelum ditanam, bibit dipotong kira-kira 20 cm dari pangkal batang. Tujuannya untuk mengurangi penguapan agar bibit tidak lekas layu. Penanaman bibit sebaiknya 2-4 tanaman per rumpun sedalam ± 2-3 cm. e. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan meliputi pemupukan, penyulaman, penyiangan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit serta rouging yaitu melakukan penyeragaman dengan cara membuang bagian tanaman yang berbeda. f. Pemanenan dan perlakuan pasacapanen Pemanenan padi untuk benih dilakukan setelah pemeriksaan lapangan terakhir dan telah dinyatakan lulus oleh BPSB. Waktu panen ditentukan jika umur berbunga telah mencapai optimal. g. Perlakuan Pasca Panen Padi yang telah dipanen masih ada beberapa tahap perlakukan agar siap digunakan sebagai benih. Perlakuan tersebut antara lain perontokan, pengeringan, pengolahan, serta penyimpanan. Proses pengolahan benih merupakan proses yang cukup kritis. Jika saat di lahan, orientasi produksi maksimal merupakan tujuan utama, maka pada proses pengolahan benih, orientasi mutu maksimal merupakan prioritasnya. Jika produksi di lapang harus lulus standar lapang maka proses pengolahan benih pun harus lulus standar laboratorium. Benih yang telah kering dan bersih dikemas dalam karung atau kemasan siap salur dan kemudian disimpan di dalam ruang penyimpanan. Ruang penyimpan benih diusahakan mempunyai ventilasi yang baik agar kualitas benih dapat terjaga. Lama penyimpangan benih hendaknya

memperhatikan masa berlakunya label benih. Masa berlakunya label benih padi 6 bulan sejak selesainya pengujian dan paling lama 9 bulan setelah tanggal panen. Sebelum disimpan, pada umumnya benih diberi berbagai perlakuan pelapisan benih (seed coating),kemudian benih-benih tersebut akan diuji dengan berbagai peralatan modern. 2. PRODUKSI BENIH PADI HIBRIDA Pada prinsip rangkaian proses produksi benih padi hibrida sama dengan produksi benih padi bersetifikat. Perbedaan terdapat pada tahapan penyiapan galur induk jantan dan betina yang berasal dari jenis yang berbeda sifat genetiknya. Sebagai contoh adalah jantan mempunyai sifat genetik produksinya tinggi (diatas 5 ton per hektar) sedangkan induk betina mempunyai sifat genetik enak rasanya. Pada umumnya persilangan kedua galur jantan dan betina ini sudah diuji berulang kali melalui penelitian yang panjang. Teknologi produksi benih hibrida sangat berbeda dari varietas non hibrida. Benih hibrida harus diproduksi setiap musim tanam, dan dipertahankan kemurnian genetiknya hingga lebih dari 98% agar dicapai hasil yang memuaskan. Benih padi hibrida dihasilkan ketika sel telur dari induk betina buahi oleh serbuk sari dari anther varietas yang berbeda atau galur yang digunakan sebagai induk jantan. Hasil persilangan kedua induk tersebut disebut sebagai First Generation atau turunan generasi pertama atau first filial generation dan dikenal dengan istilah (F1) yang merupakan hasil penyilangan antara dua varietas padi yang berbeda secara genetik. Padi hibrida pada umumnya memberi peluang hasil produksi yang lebih tinggi. Menurut IRRI (2006) Benih padi hibrida F1 menghasilkan keuntungannya sekitar 10-15% dibandingkan dengan varietas yang dihasilkan melalui persilangan sendiri. Penguasaan informasi tentang standar kualitas benih dapat memudahkan pengelolaan proses kegiatan di lapangan budidaya. Sebagai contoh untuk standar kemurnian benih padi hibrida adalah 98%, artinya penangkar benih harus melakukan roguing dengan sangat seksama jangan sampai ada varietas lain yang tumbuh selain 2 varietas induk jantan dan induk betina yang direncanakan untuk disilangkan agar menghasilkan benih padi hibrida. Contoh kedua adalah tentang standar kadar air maksimal 14%. Dengan adanya pengetahuan tentang informasi standar benih padi tersebut, maka penangkar benih akan melakukan kegiatan pengeringan benih sampai dengan kadar airnya ≤14%.

Sumber http://agribisnis.web.id/web/diperta-ntb/main.htm http://anggi-87.blogspot.com/2010/03/produksi-benih-padi-non.html http://www.warintek.net/

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful