You are on page 1of 12

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN ACARA IV STUDI EKOSISTEM

Disusun oleh Reno Gigih Febrianda Adik Pipit Aprilianto Kelompok Asisten :1 : Asista Bahru Rahman Putri LABORATORIUM ENTOMOLOGI TERAPAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011 11587 11589

ACARA IV STUDI EKOSISTEM I. TUJUAN


1. Menentukan tingkat deversitas tumbuhan dan hewan di ekosistem padi sawah.

2. Studi struktur dan fungsi ekosistem padi sawah. 3. Menentukan pola distribusi suatu hama di ekosistem padi sawah. II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian ekosistem pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A.G. Tansley pada tahun 1935, walaupun konsep itu bukan merupakan konsep yang baru. Sebelum akhir tahun 1800-an, pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan dengan ekosistem mulai terbit cukup menarik dalam literatur-literatur ekologi di Amerika, Eropa, dan Rusia (Odum, 1993). Ekosistem memiiki tatanan dari satuan unsur-unsur lingkungan hidup dan kehidupan (biotik maupun abiotik) secara utuh dan menyeluruh, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Ekosistem mengandung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dengan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan interaksi kehidupan dalam alam. Tingkatan organisasi ini dikatakan sebagai suatu sistem karena memiliki komponenkomponen dengan fungsi berbeda yang terkoordinasi secara baik sehingga masing-masing komponen terjadi hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik terwujudkan dalam rantai makanan dan jaring makanan yang pada setiap proses ini terjadi aliran energi dan siklus materi. suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Soemarwoto, 1983). Komponen penyusun ekosistem terdiri atas dua macam, yaitu komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah komponen yang terdiri atas makhluk hidup, sedangkan komponen abiotik adalah komponen yang terdiri atas benda mati. Seluruh komponen biotik dalam suatu ekosistem membentuk komunitas. Dengan demikian, ekosistem dapat diartikan sebagai kesatuan antara komunitas dengan lingkunagn abiotiknya. Berdasarkan caranya memperoleh makanan di dalam ekosistem, organisme anggota komponen biotik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: Produsen, yang berarti penghasil. produsen berarti organisme yang mampu menghasilkan zat makanan

sendiri karena mempunyai klorofil. Lalu yang kedua adalah Konsumen, yang berarti pemakai atau organisme yang tidak dapat menghasilkan zat makanan sendiri tetapi menggunakan zat makanan yang dibuat oleh organisme lain. Organisme yang secara langsung mengambil zat makanan dari tumbuhan hijau adalah herbivora. Oleh karena itu, herbivore sering disebut konsumen tingkat pertama. Karnivora yang mendapatkan makanan dengan memangsa herbivora disebut konsumen tingkat kedua. Karnivora yang memangsa konsumen tingkat kedua disebut konsumen tingkat ketiga dan seterusnya. Dan yang terakhir adalah dekomposer atau Pengurai yang berperan menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme yang telah mati ataupun hasil pembuangan sisa pencernaan. Sedangkan komponen Abiotik merupakan komponen tak hidup dalam suatu ekosistem. Lingkungan abiotik sangat menentukan jenis makhluk hidup yang menghuni suatu lingkungan. Komponen abiotik banyak ragamnya, antara lain: Tanah, air, udara, suhu, cahaya, iklim (Anonym, 2011). Terdapat beberapa perbedaan antara ekosistem alami dengan ekosistem pertanian, yaitu: pada ekosistem alami relatif lebih stabil dibandingkan dengan ekosistem pertanian. Pada ekosistem alami organisme yang terlibat di dalamnya lebih beragam, sedangkan pada ekosistem pertanian relatif lebih seragam. Selain itu, pada ekosistem alami materi dan energi yang terlibat dalam sistem merupakan siklus, sedangkan pada ekosistem pertanian ada sejumlah bahan yang diangkut keluar dari sistem tersebut, misalnya berupa hasil panen. Oleh karena itu prinsip dasar pengelolaan sistem pertanian berdasarkan kepada ekosistem alami agar tidak cepat terjadi kerusakan. Beberapa tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut antara lain dengan penganekaragaman jenis tanaman dalam suatu pola tanam dan penambahan bahan organik ke dalam tanah untuk menggantikan bahan organik yang hilang atau yang diambil berupa hasil panen (Yakto et al., 2008). Pada agroekosistem terdapat komponen-komponen yang dapat menunjang eksistensi agroekosistem tersebut. Komponen yang dimaksud disini adalah biodiversitas (keanekaragaman hayati). Biodiversitas secara umum dapat diartikan sebagai keanekaragaman hayati atau sumber daya hayati termasuk di dalamnya adalah flora, fauna maupun mikroorganisme. Biodiversitas lahan pertanian dikenal dengan istilah agrobiodiversitas. Secara umum agrobiodiversitas merupakan semua komponen yang terdapat di lahan pertanian termasuk di dalamnya adalah semua organisme yang hidup di lahan pertanian dan memberikan fungsinya pada proses yang terjadi di lahan pertanian tersebut. Contoh organisme yang dimaksud disini seperti mikroba tanah dan fauna,

gulma, herbivora dan karnivora yang berkoloni dan hidup sesuai dengan kondisi dan proses lingkungan yang berjalan. Habitat maupun spesies yang terdapat di luar dari kawasan lahan pertanian yang mendukung proses pertanian dan menjalankan fungsi ekologis, juga dapat dimasukkan sebagai bagian dari agrobiodiversitas. Sesuai dengan hirarki dalam ekologi maka agrobiodiversitas dapat terdiri dari; (1) genetik dan karakterstik populasi, (2) komunitas, (3) keberagaman biota dalam hubungannya dengan proses biofisik dalam ekosistem dan (4) interaksi secara luas pada tingkat ekosistem baik termasuk interaksi antara ekosistem pertanian dan non pertanian. (Katili, 2008). ekosistem merupakan suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara seluruh unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Komponen ekosistem berupa komponen biotik terdiri dari produsen dan konsumen. Produsen meliputi makhluk hidup berhijau daun, dan dikenal dengan autotrof karena mampu menyediakan kebutuhan hidupnya sendiri atau mampu membuat makanannya sendiri. Fungsi produsen adalah sebagai sumber energi bagi organisme non fotosintesis dan penghasil oksigen sebagai hasil samping fotosintesis. Sedangkan konsumen meliputi berbagai jenis hewan dan sering disebut heterotrof karena tidak mampu menyediakan kebutuhannya sendiri (Solomon, 2008). Sifat distribusi populasi hama dapat bersifat distribusi acak (random) yang terjadi akibat kepadatan hama rendah, biasa terjadi pada awal pertanaman, distribusi merata (reguler) yang terjadi pada hama yang kanibal, setiap individu berusaha menguasai wilayahnya dan distribusi mengelompok (cluster) terjadi pada pertanaman yang sudah tua. Penyebaran acak (random dispersion) juga sangat jarang terjadi dialam. Penyebaran semacam ini biasanya terjadi apabila faktor lingkunganya sangat seragam unuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat sifat untuk berkelompok dai organisme tersebut. Penyebaran secara merata terjadi apabila ada persaingan yang kuat diantara individu individu dalam populasi tersebut. Penyebaran secara berkelompok (clumped dispersion) dengan individu individu yang bergerombol dalam kelompok kelompok adalah yang paling umum terdapat di alam, terutama untuk hewan (Hastuti, 2007).

III.

METODOLOGI yang berjudul Studi

Praktikum Ekologi Hama dan Penyakit Tumbuhan acara IV

Ekosistem dilaksanakan pada Sabtu, 10 Desember 2011 di daerah persawahan PTPN X, Klaten, Yogyakarta. Pada praktikum ini yang akan menentukan deversitas flora fauna. Langkah pertama adalah dengan petak sampel ditentukan dengan ukuran seluas 1 X 1 m2, kemudian dicatat populasi tumbuhan dan hewan yang berada di petak sampel tersebut. Tumbuhan yang dicatat seperti jumlah rumpun padi, jenis gulma, hama yang terdapat pada petak sampel, selanjutnya data yang diperoleh dicatat dan dianalisis tingkat diversitas dengan rumus Shannon Wiener : H = Ni / N log Ni / N Dimana Ni = Banyaknya individu species ke i N = Total banyaknya individu tumbuhan atau hewan Langkah kedua adalah dengan studi struktur dan fungsi komunitas biotik. Dalam studi diversitas ekosistem padi sawah semua kelompok tumbuhan dan hewan yang telah dicatat, kemudian dibuat urutan trofi dari produsen, konsumen primer sampai konsumen akhir utuk analisis aliran energi. Langkah yang terakhir yakni menentukan pola distribusi suatu hama. Dalam studi diversitas tentang diversitas ekosistem padi sawah, kemudian dihitung nilai rerata populasi dan varians, selanjutnya ditentukan pola distribusi hama.

IV. HASIL PENGAMATAN

Berdasarkan praktikum yang dilakukan, maka didapatkan hasil sebagai berikut: a. Penentuan diversitas flora dan fauna kelompok 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 b. Indeks Diversitas Tumbuhan Hewan 0.258 0.540 0.374 0.604 0.349 0.260 0.345 0.413 0.808 0.553 0.474 0.178 0.302 0.447 0.478 0.526 0.446 0.458 0.591 0.410 0.637 0.606 0.420 0.000 0.556 0.555 0.463 0.000 0.686 0.461

Studi struktur dan fungsi komunitas biotik TUMBUHAN SPECIES JUMLAH (GULMA) 1 2 3 INDIVIDU 6 34 2 HEWAN JUMLAH SPECIES INDIVIDU SEMUT 2 KEPIK 3 HITAM BELALANG 9 LABA -LABA WERENG COKLAT TUMBUHAN SPECIES JUMLAH (GULMA) 1 2 INDIVIDU 50 10 1 1

ULANGAN 1

ULANGAN 2

HEWAN JUMLAH SPECIES INDIVIDU CAPUNG 1 SEMUT 1

15

LALAT KEPIK BELALANG

1 4 4

ULANGAN 3

TUMBUHAN SPECIES JUMLAH (GULMA) 1 2 3 INDIVIDU 50 13 8

HEWAN JUMLAH SPECIES INDIVIDU Belalang 5 WERENG 30 COKLAT Kepik 2

c.

Menentukan pola distribusi suatu hama Populasi hama wereng Ulangan Jumlah 1 1 2 0 3 30 Rerata 10.33 Varian 290.33 SD 17.04 II. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini tentang studi ekosistem pertanian yang dilakukan dengan penjaringan hama dengan metode saringan double sebanyak 10 kali dan petak ubinan. Hasil penjaringan diamati dan dihitung populasi flora dan spesies yang tertangkap, sedangkan petak ubinan dihitung populasi fauna dan diamati tumbuhan yang ada di dalam petak ubinan. Hal itu dilakukan untuk mengetahui diversitas flora dan fauna yang ada di ekosistem sawah. Pada dasarnya diversitas mengandung kekayaan species dan kesamaannya dalam suatu nilai tunggal yang digambarkan dengan Indeks Deversitas. Indeks diversitas mungkin hasil dari kombinasi kekayaan dan kesamaan species. Ada nilai indeks diversitas yang sama didapat dari komunitas dengan kekayaan yang rendah dan tinggi kesamaan kalau suatu komunitas yang sama didapat dari komunitas dengan kekayaan tinggi dan kesamaan rendah . Jika hanya memberikan nilai indeks diversitas, tidak mungkin untuk mengatakan apa pentingnya relatif kekayaan dan kesamaan species . Berdasarkan hasil penentuan diversitas flora dan fauna, maka dapat diketahui bahwa nilai diversitas fauna lebih tinggi dibandinngkan dengan nilai diversitas flora yang terlihat pada hasil

kelompok 3, 5, 6, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15. Hal itu menyatakan bahwa tingkat deversitas tumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan diversitas hewan pada ekosistem sawah. Oleh karena itu diketahui bahwa keanekaragaman spesies tumbuhan di ekosistem sawah lebih banyak dari pada hewan. Pada dasarnya Indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk menyatakan hubungan kelimpahan species dalam komunitas. Keanekaragaman terdiri dari 2 komponen yakni : Jumlah total spesies dan Kesamaan yaitu bagaimana data kelimpahan tersebar diantara banyak spesies itu. Untuk praktikum tentang studi struktur dan fungsi komunitas biotik, dilakukan dengan mengurutkan berdasarkan kedudukan organisme dalam ekosistem sawah. Berdasarkan hasil yang didapat, maka dapat diketahui bahwa organisme yang menduduki kedudukan sebagai produsen adalah tanaman padi dan gulma yang ada di sawah. Untuk kedudukan herbivore atau konsumen tingkat 1 di tempati oleh belalang (Oxya sp.), kepik hitam dan wereng coklat (Nilaparvata lugens). Sedangkan predator atau konsumen tingkat 2 diduduki oleh capung, laba-laba, semut dan lalat. Penempatan kedudukan tersebut didasarkan pada teori yang menyebutkan bahwa Aliran energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, ke konsumen primer (herbivora), ke konsumen tingkat tinggi, sampai ke saprobe. Selain itu juga aliran energi juga dapat diartikan perpindahan energi dari satu tingkatan trofik ke tingkatan berikutnya. Pada proses perpindahan selalu terjadi pengurangan jumlah energi setiap melalui tingkat trofik makan-memakan. Berdasarkan jumlah dari masingmasing populasi, diketahui bahwa dari tingkat produsen hingga tingkat konsumen akhir memiliki jumlah populasi yang semakin sedikit. Hal itu merupakan hokum alam yang berfunsi sebagai ketersediaan makanan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Jika hukum tersebut tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya, maka keseimbangan ekosistem akan berubah. Berdasarkan hasil praktikum penentuan pola distribusi, maka diketahui bahwa pola distribusi hama yang ada di ekosistem sawah adalah pola mengelompok. Hal itu ditunjukkan oleh nilai rerata populasi hama lebih kecil dibandingkan nilai varian dari populasi hama yang ada. Hal itu dikarenakan populasi hama di lapangan beragam, tergantung kepadatan, lama menetap dan perilaku hama Sifat distribusi populasi hama dapat bersifat distribusi acak (random) yang terjadi akibat kepadatan hama rendah, biasa terjadi pada awal pertanaman, distribusi merata (reguler) yang terjadi pada hama yang kanibal, setiap individu berusaha menguasai wilayahnya dan distribusi mengelompok (cluster) terjadi pada pertanaman yang sudah tua. Penyebaran acak (random dispersion) juga sangat jarang terjadi dialam. Penyebaran semacam ini biasanya terjadi

apabila faktor lingkunganya sangat seragam unuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat sifat untuk berkelompok dai organisme tersebut. Penyebaran secara merata terjadi apabila ada persaingan yang kuat diantara individu individu dalam populasi tersebut. Penyebaran secara berkelompok (clumped dispersion) dengan individu individu yang bergerombol dalam kelompok kelompok adalah yang paling umum terdapat di alam, terutama untuk hewan (Hastuti, 2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kelimpahan hama diantaranya adalah kondisi lingkungan, seperti : suhu, kadar air biji, sumber makanan. Selain itu juga dipengaruhi oleh potensi biotik hama seperti: masa perkembangan, ketahanan hidup dan produksi telur. Hal lain yang mempengaruhi persebaran hama adalah adanya interaksi antar individu dan antar spesies. Interaksi antar individu dalam satu spesies menentukan distribusi dan kelimpahan serangga. Pada kepadatan populasi rendah, laju pertumbuhan biasanya kecil karena kesulitan untuk menemukan pasangan seksual misalnya. Ketika populasi bertambah, laju pertumbuhan meningkat secara eksponensial karena kelimpahan sumber makanan dan kesesuaian lingkungan. Sejalan dengan pertambahan populasi yang tinggi, terjadi kompetisi/persaingan untuk makan dan perkawinan sehingga menimbulkan efek negatif bagi populasi. Untuk interaksi antar spesies mempengaruhi laju pertumbuhan suatu spesies serangga.

III. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. 2. Diversitas tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan diversitas hewan. Penyusun ekosistem padi sawah adalah padi sebagai produsen, hama (belalang, kepik dan wereng) sebagai konsumen tingkat pertama, dan predator (capung, laba-laba dan semut) sebagai konsumen tingkat 2 dan dekomposer yang menjalankan fungsinya masing-masing.
3.

Pola distribusi pada ekosistem sawah di PTPN X, Klaten, Yogyakarta adalah pola distribusi mengelompok.

DAFTAR PUSTAKA Anonym. 2011. Komponen penyusun ekosistem. <http://files.smkn2amuntai.webnode.com/ 200001133-eed00efc9e/komponen-ekosistem.pdf> diakses pada tanggal 18 desember 2011. Hastuti, Liliana. 2007. Asal Usul Domestikasi Dalam Latar Belakang Ekologi. Jurnal Ilmu Pertanian. 2(7): 34 47. Katili, Abubakar sidik. 2008. Konservasi Biodiversitas Pada Ekosistem Lahan Pertanian (agroekosistem). <journal.ung.ac.id/filejurnal/msvol3no2/msvol3no2_9.pdf> Diakses Pada Tanggal 18 Desember 2011. Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga . Gajah mada University Press. Yogjakarta. Soemarwoto, O. 1983. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta. Solomon, EP, LR. Berg, dan DW. Martin. 2008. Biology.8th ed. Thomson Brooks. USA.

Yakto, Subi dan I. G. A. A. Indrayan. 2008. Pengendalian hama kapas menggunakan mulsa jerami padi. J.perspektif vol. 7( 2):55 64.