http://www.duniaguru.com/index.php?

option=com_content&task=view&id=314&Itemid=58 Pengantar KTSP Written by Hendra Widiana - PPPG Teknologi Bandung Feb 05, 2007 at 07:26 PM Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dariitu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian. Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP. Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi. Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk : 1. 2. 3. 4. 5. belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, belajar untuk memahami dan menghayati, belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

A. Landasan 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2).

kebutuhan. (2). (3). kalender pendidikan. pengetahuan dan keterampilan 5. Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP. penilaian. kegiatan pembelajaran. (2). isi. SMP/MTs/SMPLB. Pengertian Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum. (3). Pasal 17 ayat (1). (3). (4). (4). Standar Isi SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. (7). Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran. (6). (5). indikator. (2). (14). dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. (3). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Pasal 11 ayat (1). Relevan dengan kebutuhan kehidupan 5. Pasal 6 ayat (6). KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. adalah Pasal 1 ayat (5). B. teknologi dan seni 4.2. sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. (8). Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. 23 Tahun 2006. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pasal 8 ayat (1). materi pokok/pembelajaran. (4). D. (2). (3). Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pasal 7 ayat (1). struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan. (2). (3). Tujuan Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB. (2). Menyeluruh dan berkesinambungan . Pasal 20. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi. Pasal 5 ayat (1). SMA/MA/SMALB. Pasal 10 ayat (1). Beragam dan terpadu 3. 3. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. (4). (2). perkembangan. kompetensi dasar. Pasal 16 ayat (1). 22 Tahun 2006. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Berpusat pada potensi. (3). dan silabus. (2). Standar Kompetensi Lulusan SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap. (15). 2. (5). Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi . 4. dan sumber/bahan/alat belajar. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. (13). (3). C. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. (2). serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. kegiatan pembelajaran. Pasal 18 ayat (1). 6. Pasal 13 ayat (1). dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP . (2). dan SMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan. alokasi waktu. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan. Pasal 14 ayat (1).

Ini berarti satuan-satuan pendidikan harus mampu mengembangkan komponen-komponen dalam kurikulum (baca KTSP). Belajar sepanjang hayat 7.. Pengembangan kurikulum tingkat sekolah/satuan pendidikan menghendaki adanya perubahan persepsi peran guru dari peran sebagai penerima-pasif ke arah peran pengambilan keputusan kurikulum. . rentang aktivitasnya mencakup seleksi (pilihan dari sejumlah alternatif kurikulum).Guru di SMPN 4 Pagaden dan Sekretaris Umum MGMP Bahasa Inggris. silabus sampai pada rencana pelaksanaan pembelajaran. 2007 at 05:53 PM Pemerintah pusat sebelum ini menguasai wewenang pengembangan kurikulum secara penuh. Oleh karena itu. Dominasi kepala sekolah yang berlebihan atas keputusan pengembangan kurikulum dapat menghambat keberhasilan pengembangan kurikulum. Partisipasi semua staf sekolah dalam pengambilan keputusan sangatlah diperlukan dalam pengembangan kurikulum. Kedua. Tentunya keberadaan struktur pendukung yang membantu guru-guru dan warga sekolah lainnya ini sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum berbasis sekolah/satuan pendidikan. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Tantangan KTSP. Ketiga. Pertama. adaptasi (modifikasi kurikulum yang ada). maka pengembangan kurikulum berbasis sekolah sukar terwujud apalagi sampai mencapai taraf yang standar. partisipasi keseluruhan atau sebagian staf sekolah. struktur dan muatan. pelaksanaan SBCD di Australia ternyata bukanlah tanpa hambatan. misi. pengembangan KTSP ini mirip dengan konsep school based curriculum development (SBCD) di Australia yang mulai ditetapkan pertengahan tahun 1970-an. SBCD atau “pengembangan kurikulum berbasis sekolah” ini muncul diawali dengan wacana yang berkembang di kalangan pelaksana pendidikan sekolah dalam hal ini guru-guru di Australia dan negara-negara lainnya pada awal 1970an.6. perpindahan tanggung jawab dari pemerintah pusat (bukan pemutusan tanggung jawab). Guru-guru terkadang kekurangan informasi dan juga stimulus mengenai pengembangan kurikulum berbasis sekolah. dan ketersediaan struktur pendukung (untuk membantu guru maupun sekolah). perubahan dalam persepsi peran guru terhadap pengembangan kurikulum.Pd. Ada sejumlah faktor yang bila tidak ditangani dengan baik dapat menghambat pelaksanaan SBCD di negeri Kanguru tersebut. Faktor-faktor ini tampaknya perlu kita perhatikan berkenaan dengan pelaksanaan KTSP di negeri kita. ketentuan-ketentuan berkenaan dengan pengambilan keputusan yang menarik partisipasi semua staf di sekolah perlu ada dan dilaksanakan. SBCD memiliki beberapa karakteristik yang secara umum mirip dengan pengembangan KTSP di Indonesia. Jika persepsi terhadap peran guru ini tidak berubah. Setelah hampir dua dekade. Jika guru-guru tidak memperoleh informasi yang memadai dan tidak mendapat stimulus yang sesuai. Saat ini satuan-satuan pendidikan tersebut diberikan wewenang langsung untuk mengembangkan kurikulum sendiri. proses berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Jika dilihat dari semangat pemberian kekuasaan/wewenang pengembangan kurikulum ke satuan-satuan pendidikan (devolution). Subang Mar 16. BABAK aksi baru pendidikan di negara kita telah dimulai dengan di-gong-kannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 ini. Kab. Komponen yang dimaksud mencakup visi. dan tujuan tingkat satuan pendidikan. adanya partisipasi guru. dan kreasi (mendesain kurikulum baru). yakni sampai tahun 1990-an. keberadaan struktur-struktur pendukung pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah. Yaitu. Wacana tersebut pada intinya adalah tuntutan lebih banyak kebebasan dalam menentukan kurikulum di sekolah oleh warga sekolah. S. Belajar dari Negeri Kanguru Written by ENDO KOSASIH. kalender pendidikan. struktur pengambilan keputusan yang mendukung pelaksanaan pengembangan kurikulum.

Kesiapan guru . membiasakan pola berbudi pekerti. ketika usai mengikuti sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta Mar 14. menerapkan hak asasi manusia. yaitu jumlah bahan mengajar dikurangi supaya siswa dapat meneliti secara mendalam. perlu disadari bahwa kurikulum bukanlah satu-satunya unsur yang penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Akan tetapi. Ternyata. menawarkan ketuntasan belajar. karena masih menyisakan sebuah paradoksal. Siswa tak diburu waktu. disiplin. muatan pelajaran dan jam pelajaran ditentukan seragam untuk seluruh negara. Dalam kerangka less is more." Itulah ungkapan kekecewaan sebagian guru sebuah SMA di Yogyakarta. mengantar kemunculan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa selalu terjadi kesenjangan antara kurikulum yang direncanakan atau diidealkan dengan pelaksanaannya di lapangan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22/2006 tentang Standar Isi Pendidikan dan Permendiknas No 23/2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan. Pertanyaan saya. pelaksanaan pengembangan kurikulum akan dapat dilaksanakan dengan mudah dan tanpa kesulitan berarti. menyajikan kurikulum pilihan yang sesuai dengan kemampuan sumber daya daerah. menyediakan materi terapan yang dapat digunakan siswa untuk meningkatkan mutu kehidupannya. Setiap satuan pendidikan dasar dan menengah diberikan peluang mengembangkan dan menetapkan KTSP. benarkah pembaruan kurikulum hanya sebatas perubahan administratif? Mestinya. tetapi mempunyai kesempatan untuk berpikir kritis dan berefleksi. Pengurangan jumlah bahan pelajaran dilakukan agar siswa mempunyai banyak waktu luang untuk lebih mendalami bahan itu (Suparno. yakni keharusan menempuh ujian nasional. persoalan keahlian pengembangan kurikulum warga sekolah. Keempat.pengembangan kurikulum model ini tidak akan pernah berhasil. kewajiban serta kepedulian sosial. saya menilai KTSP akan mendorong upaya kontekstualisasi pendidikan. Kritik terhadap kesenjangan implementasi kurikulum di lapangan lebih banyak ditujukan kepada guru. dkk. KTSP Menuju Kurikulum "Less Is More" Written by St Kartono . Keleluasaan dan kebebasan itu memang belum sepenuhnya mewarnai peluncuran KTSP. Sebagai guru. KTSP dapat dielaborasi oleh daerah dan/atau sekolah sesuai kondisi dan kepentingan daerah atau sekolah. Jika warga sekolah memiliki sejumlah pengalaman dan pengetahuan yang memadai tentang pengembangan kurikulum. peranan orangtua. 2002). biaya. dan siswa sendiri. sebuah kurikulum baru menghadirkan refleksi yang positif pada praksisnya. pengelolaan persekolahan. Meski dihadang ujian nasional. administrasi. Secara sentralistis. yang namanya sosialisasi kurikulum baru oleh para pengawas dari Dinas Pendidikan hanyalah bicara hal-hal administratif belaka. guru.kurangnya ada komunikasi-dengan sesama guru pengampu mata pelajaran serumpun dalam satu sekolah. Masih ada buku pelajaran. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang berlangsung selama ini dinilai sebagian kalangan sebagai overloaded dan para siswa dibawa untuk "tahu sedikit tentang hal yang banyak". Elaborasi oleh daerah atau sekolah dapat berupa silabus yang cocok dengan kondisi serta kepentingan daerah atau satuan pendidikan. Model kurikulum less is more adalah menghilangkan substansi pelajaran yang berulangulang. Kecenderungan KTSP mengarah pada kurikulum pendidikan yang menekankan less is more. toh ada semangat pembaruan terhadap kurikulum sebelumnya. menghilangkan pokok bahasan yang tak esensial yaitu pokok bahasan yang sekadar "kosmetik". tertib. Sekolah tak dilarang mengembangkan kurikulum sendiri. 2007 at 04:19 PM "Aku pikir mereka akan berbicara tentang semangat baru sebuah kurikulum dan berbagai pendekatan kepada siswa. penting ada kerja sama-sekurang.

Ia perlu mengetahui karakteristik siswa-siswi sebagai orang yang belajar beserta lingkungan mereka. Permendiknas KTSP ditandatangani pada 23 Mei 2006 dan berlaku bagi sekolah standar nasional maupun sekolah nasional berstandar internasional. Satu hal yang perlu dilakukan adalah kontekstualisasi materi pelajaran. dan mulai tahun ajaran 2006/2007 diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). yang bisa diisi dengan apa saja baik yang wajib atau muatan lokal. dan indikator-indikatornya sendiri. lebih dari sekadar materi dalam buku pelajaran.harus. mendesak untuk para guru dikembangkan sikap "kekinian" terhadap kurikulum. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Kurikulum 2004. Guru mesti memerhatikan kompetensi dasar minimum yang disyaratkan para siswanya. baik mengenai pemikiran pedagogis maupun arus zaman di sekitar siswa. 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. standar sarana dan prasarana. KTSP menganut prinsip fleksibilitas.Ketika KTSP bergulir. Pertama. Guru diandaikan memiliki penguasaan bahan pelajaran. Namun fleksibilitas ini mesti diimbangi dengan potensi sekolah masing-masing serta pemenuhan standar isi seperti digariskan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Kini masing-masing sekolah bisa membuat silabus. Karakteristik siswa dan lingkungan perlu dijadikan pertimbangan dalam menyusun proses belajar mengajar. sekadar menunggu petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan. Kepala sekolah mesti mendorong para guru untuk mempertimbangkan penjabaran materi dengan mendahulukan materi yang sangat esensial. Hal ini bisa berdampak negatif dan menjadikan guru sekadar robot dalam pelaksanaan kurikulum. bahkan kepala dinas tidak boleh ikut campur dalam pengembangan KTSP sekolah. tanpa diperhitungkan profesionalitasnya. Standar nasional itu meliputi delapan hal. standar pembiayaan. standar pendidik dan tenaga kependidikan. saya pasti akan terjebak dalam arus kebiasaan sosialisasi atau seminar kurikulum baru. Memang. Kebijakan ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. tapi setelah dikonfrontasikan dengan pelaksanaan di lapangan terbukti ada kesenjangan asumsi pengembang kurikulum pusat dengan situasi riil para pelaksana. ujung. standar kompetensi lulusan. Kurikulum 1994. yang ingin saya temukan adalah semangat apa yang dihadirkannya? Kalau tidak demikian. Kurikulum 1984. Standar adalah kualitas minimum yang mesti dicapai.Penulis. Penyesuaian materi secara kuantitatif memungkinkan memberi perhatian pada dimensi nilai-nilai kehidupan yang ada pada setiap pelajaran. standar pengelolaan. dan standar penilaian pendidikan. guru acap kali dihadapkan pada bahasa kedinasan yang serba. Pelaksananan KTSP secara penuh diharapkan mulai tahun ajaran 2007. Betapa mudah para penatar dalam sosialisasi mengatakan seharusnya begini atau seharusnya begitu. Sumber: Harian Kompas Tafsir Konstruktif atas KTSP Written by A. standar proses. Mar 04. potensi adalah tersedianya SDM dan (pra)sarana yang memadai untuk menyelenggarakan . Jadi. yaitu standar isi.ujungnya sibuk dengan urusan administratif perubahan kurikulum. mendesak untuk disampaikan kepada para kepala sekolah dan guru di lapangan agar terus-menerus berani mencoba dan kreatif dalam mengimplementasikan KTSP. kurikulum. Perlu ditegaskan bahwasanya standar pendidikan tidak sama dengan kurikulum. Jika demikian yang terjadi. CHAEDAR ALWASILAH . Pada tahun 2010 seluruh sekolah harus sudah melaksanakan KTSP. Dosen Universitas Pendidikan Indonesia. Setiap sekolah diberi kebebasan menambah empat jam pelajaran tambahan per minggu. Beberapa ciri terpenting dari KTSP adalah sebagai berikut. lantas membawa segepok dokumen ke sekolah. Kurikulum 1975. Sementara itu. dan Peraturan Menteri No. 2007 at 11:17 AM APA kurikulum yang pernah berlaku selama ini adalah Kurikulum 1968.

KTSP dikembangkan melalui beberapa hal. sehingga selama ini belum jelas langkah korektif pemerintah sebagai respons terhadap hasil UN yang sangat beragam dari kota ke kota. Keempat. antara lain sesuai dengan satuan pendidikan. Fungsi pertama dan kedua selama ini belum betul-betul dilaksanakan dalam penyelenggaraan UN. yakni membeda-bedakan kelompok siswa demi penentuan kebijakan yang layak ditempuh. bahkan dari sekolah ke sekolah. tetapi juga rutinitas akademis. nelayan. kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungan. relevan dengan kebutuhan dan kehidupan. kondisi sosial budaya masyarakat setempat. ujung-ujungnya ada ujian nasional (UN) juga. lokal kabupaten/kota. KTSP tanggap terhadap perkembangan iptek dan seni. Kelima. (2) diferensiasi. KTSP menggabungkan keduanya. yakni untuk mengetahui sejauh mana materi ajar dikuasai siswa. KTSP sejalan dengan konsep desentralisasi pendidikan dan manajemen berbasis sekolah (school-based management). Para pemangku peran ini lazimnya lebih merasakan tantangan dunia sekitar yang memerlukan respon kurikuler. Ini perlu waktu lama. namun berdasarkan kenyataan di lapangan. Dengan demikian. Kurikulum 1994 menghendaki guru lebih kreatif. Dalam semangat desentralisasi pendidikan. kurikulum menjadi lunglai mengahadapi teknologi yang serba canggih ini. Wajar jika mereka yang belum sempat melaksanakan KBK mendapat kesulitan dalam melaksanakan KTSP. seperti industri. melalui KTSP diharapkan adanya keseimbangan antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Ada anggapan bahwa apa pun kurikulumnya. dan peserta didik. selama guru. Biarkan sekolah menentukan kriteria kelulusan masing-masing. Artinya. siswa dituntut lebih kreatif. dan organisasi atau profesi lainnya. Tafsir konstruktif Niat pemerintah lewat BSNP memang luhur dan cerdas. yakni dengan menggabungkan hasil UN dengan ujian sekolah masing-masing. KTSP berpusat pada potensi. dan mestinya sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat. guru kreatif dan siswa aktif. sekolah akan berperan sebagai makelar kearifan lokal. Seyogyanya tidak ada persoalan bagi sekolah karena yang diujikan adalah kompetensi dasar. Sementara dalam Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). namun aktivitas guru sebatas mengajarkan apa yang sudah ditetapkan dalam kurikulum. KTSP beragam dan terpadu. dan (3) uji kompetensi. Kedua. padahal masing-masing daerah berbeda potensinya. Walaupun sekolah diberi otonomi dalam pengembangannya. Guru harus bisa "memaksa" siswa untuk memberi feedback dalam setiap pembelajaran. antara lain: (1) diagnosis. KTSP membutuhkan pemahaman dan keinginan sekolah untuk mengubah kebiasaan lama yakni kebergantungan pada birokrat. menyeluruh dan berkesinambungan. Sekolah dapat bermitra dengan berbagai pemangku peran (stakeholders) pendidikan. yakni untuk mengetahui 'penyakit' yang diderita anak didik untuk menentukan resep yang paling mujarab. petani. perkembangan. dan pengembang kurikulumnya . Ketiga. Inilah tantangan abad sekarang ini. Ketujuh. UN penting demi pemetaan kemampuan. tidaklah mudah untuk memberdayakan para guru lewat KTSP ini. karena selama ini sekolah terbiasa diatur oleh pemerintah. Tanpa antisipasi cerdas terhadap perkara ini. Selama ini guru patuh pada petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan yang disiapkan oleh birokrat Depdiknas. Keenam. Walhasil. bukan penentu kelulusan siswa. dalam kurikulum ini standar isi dan standar kompetensi lulusan yang dibuat BSNP itu dijabarkan dengan memasukkan muatan lokal. Kegagalan kurikulum selama ini antara lain karena penyeragaman dari Sabang sampai Merauke. KTSP dikembangkan dengan menganut prinsip diversifikasi. dan lokal sekolah. sekolah. yakni lokal provinsi. kerajinan. Dengan kata lain. Komite sekolah kini harus 'turun gunung' bersama guru dalam mengembangkan kurikulum. pariwisata. potensi daerah. sehingga kurikulum nasional tidak operasional. Perlu ditegaskan bahwa ada sejumlah fungsi UN. Peluang bagi sekolah untuk mengurus sendiri tidak hanya untuk manajemen sekolah.pelajaran tambahan itu.

penilaian pembelajaran siswa dilakukan secara terintegrasi dalam pengajaran dan dilakukan lewat observasi guru terhadap proses belajar siswa dalam kelompoknya dan dengan mencermati portofolio siswa. yakni antara lain dengan kepandaian menerjemahkan lingkungan sekitar sehingga dapat dipahami siswa. kurikulum itu tidak akan berdampak besar. di mana guru mencari jawaban yang benar untuk memvalidasi pembelajaran siswa. guru mengajar secara interaktif. Mekanisme ini berbeda dengan pendidikan tradisional yang memisahkan penilaian dari pembelajaran. Ketujuh. Kedua. Keenam. menyebabkan kreativitas guru kurang terpupuk.*** KTSP Membuat Guru Kreatif Feb 05. karena mereka dituntut harus mampu merencanakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Dengan begitu. guru. Jadi. Kebiasaan guru untuk mengejar target kurikuler sesuai dengan GBPP jelas tidak sejalan dengan prinsip konstruktif.berpikiran tradisional. Artinya. Dalam konteks KTSP. guru berpegang pada tujuan instruksional umum atau TIU. dan tidak terjebak oleh hal-hal kecil. Ini berbeda dengan kelas tradisional yang cenderung menempatkan siswa sebagai 'botol kosong' untuk diisi informasi oleh guru. Pengembang kurikulum menggonggong. atau tujuan instruksional khusus atau TIK. keberadaan UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa memang tidak relevan dengan semangat konstruktif. . Keempat. Ini berbeda dari guru tradisional yang cenderung berlagak didaktik dalam menyebarkan informasi kepada siswa. Bila siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil. kegiatan kurikuler mengandalkan sumber-sumber data primer dan juga materimateri buatan yang bermakna. Justru dalam kelompoklah mereka bersosialisasi dan berkolaborasi. dan terlembaga secara formal lewat tes. kreativitas guru bisa berkembang. Keberanian siswa untuk bertanya dan berdebat adalah indikator keberhasilan belajar. Ini berbeda dari kelas tradisional. bukunya yang ada saja. sebab sebuah informasi belum tentu materi ajar yang bermakna (meaningful) dan terajarkan (teachable). pemahaman guru akan standar kompetensi dan standar isi adalah sebuah niscaya. atau keterampilan-keterampilan dasar. sehingga secara kolektif memperoleh pencerahan lewat social reconstructivism. kurikulum disajikan secara utuh. Kelima. Pembelajaran konstruktivis membangun ketersambungan antara pelajaran sebelumnya dengan pelajaran selanjutnya. jika KTSP tidak mesyaratkan adanya buku teks baru. Ini berbeda dari kelas-kelas tradisional di mana siswa belajar secara mandiri. siswa. siswa bekerja dalam kelompok. tetapi dengan KTSP. Aliran konstruktif menawarkan solusi untuk menyulap suasana belajar secara 'berani' dan mendobrak kejumudan kurikulum lewat tujuh ayat pendidikan sebagai berikut. Singkatnya. guru dan pengembang kurikulum pun berkolaborasi dengan para pemangku peran dalam merumuskan KTSP. untuk KTSP. Dan ini hanya mungkin jika guru mengetahui sudut pandang siswa. guru-guru berlalu dengan kulturnya. guru mencari tahu sudut pandang siswa untuk memahami kadar pengetahuan siswa saat ini untuk dijadikan pijakan bagi pelajaran yang akan datang. Ketiga. Alam sekitar adalah data-data primer yang memiliki potensi untuk dibermaknakan. SMP dan SMA. lalu diikuti konsepkonsep kecil. Jadi wajar. siswa diperlakukan sebagai 'pemikir' muda yang belajar merumuskan teorinya sendiri ihwal dunia (baca: materi ajar). yakni menekankan konsep besar. akan membuat guru semakin pintar. Kurikulum yang selama ini dibuat dari pusat. buku teks tidak lagi menjadi sumber utama sebagimana terbiasa pada kurikulum tradisional. Dengan demikian. 2007 at 09:31 AM Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di setiap sekolah setingkat SD. bahkan manajemen sekolah mengamalkan ajaran social reconstructivism. Pertama.

dan untuk itu tiap guru yang akan mengajar di kelas dituntut memiliki kemampuan menyusun kurikulum yang tepat bagi peserta didiknya. Kurikulum harus disesuaikan dengan satuan pendidikan. pemda belum melakukan evaluasi pendidikan yang baik dan benar. sebab sekolah diberikan otonomi untuk berdiskusi terkait dengan standar kompetensi yang dikembangkan. dan disusun sebagai kurikulum operasional sekolah berdasarkan standar isi dan kompetensi lulusan yang dikembangkan dengan prinsip diversivikasi. Dikatakan Karnadi. sekolah memiliki kewenangan menentukan muatan lokal. pekan lalu mengatakan. padahal. sehingga penerapan KTSP pun bisa melambat. harus tetap mengacu pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). dengan semangat otonomi dan desentralisasi. dan sekolah tinggal menggunakannya.Demikian pendapat dari pakar kurikulum. Lebih lanjut dijelaskannya. Misalnya. KTSP yang dibuat sekolah itu. pemda sebaiknya agresif dalam melakukan percepatan penerapan KTSP. "Ini artinya. potensi daerah. Menurutnya. KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004. Hal ini berkaitan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktur dan kini menjadi fasilitator pembelajaran. ''Belum lagi mengingat kualitas guru yang kurang merata di setiap daerah. KTSP menghadapi kendala daya kreativitas dan beragamnya kapasitas guru untuk membuat sendiri kurikulum. penerapan KTSP memberikan peluang bagi setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri. termasuk evaluasi guru. acuan tetap pada BSNP sesuai standar isi dan kompetensi lulusan. Hanya saja. "Meski sekolah memiliki kewenangan luas. yang dapat ." katanya. menurut Prof Ansyar seperti dilansir Antara. "Ini yang kerap terjadi. yakni kurikulum yang dibuat dari pusat. selama ini guru sudah terbiasa mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah. pemberdayaan guru belum dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah daerah (pemda). Karnadi yang ditemui Pembaruan di Jakarta. mulai dari rumah. KTSP sebenarnya positif. Karena itu. implementasi KTSP sebenarnya membutuhkan penciptaan iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru." tuturnya. Namun. pemberdayaan guru dalam KTSP ini akan lebih baik. yang sebelumnya masih disusun pemerintah pusat. maupun di masyarakat. kata dia. penerapan KTSP tersebut berimplikasi pada bertambahnya beban bagi guru." katanya. Karnadi menambahkan. setelah selama ini hanya mengajar sesuai kurikulum yang diturunkan pusat. Pendapat kedua pakar itu dilontarkan berkaitan dengan munculnya KTSP 2006 sebagai pengganti kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004. sebagian besar guru belum terbiasa untuk mengembangkan model-model kurikulum. Dalam KTSP. di sekolah. Penerapan KTSP mengandaikan guru bisa membuat kurikulum untuk tiap mata pelajaran." katanya. KTSP memberi keleluasaan sekolah untuk mengembangkan kurikulum sendiri. karena guru harus memikirkan perencanaan penyampaian materinya. Minggu (28/1). dan peserta didik. Beban Bertambah Karnadi mengakui. Selama ini mereka diperintah untuk melaksanakan kewajiban yang sudah baku. Dr Karnadi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Prof Dr Ansyar dari Universitas Negeri Padang (Unan). "Guru dapat melakukan upaya-upaya kreatif serta inovatif dalam bentuk penelitian tindakan terhadap berbagai teknik atau model pengelolaan pembelajaran yang mampu menghasilkan lulusan yang kompeten.

Meski demikian. Jumat (13/10). dan 24 Tahun 2006 mengenai KTSP atau Kurikulum 2006 ini tidak hanya menyempurnakan kurikulum sebelumnya. namun memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada daerah untuk mengembangkan pendidikan yang kontekstual. tambah Furqon. sebetulnya. sekolah tidak perlu lagi kebingungan mencari ”celah” untuk memasukkan mulok LH ini ke dalam kurikulum masing-masing. KTSP memberi hak penuh pada sekolah-sekolah untuk menentukan sendiri kurikulumnya. "Setiap guru butuh banyak pengetahuan untuk penyempurnaan kurikulum yang disusunya. KTSP coba memberi ruang lebih luas bagi otonomi sekolah. Tetapi. namun standar kompetensi dan isinya harus sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. harus didukung sejumlah sarana dan fasilitas seperti ketersediaan buku teks yang beragam. keluarnya Peraturan Mendiknas Nomor 22. "Dengan KTSP ini. tentunya kan tidak ujug-ujug demikian. setiap satuan tingkat pendidikan menambah jam pelajaran maksimal empat jam per minggunya.” ucap ahli pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini. Terbuka. Jam pelajaran ini bisa diisi pelajaran apa saja. dan indikatorindikatornya sendiri. kata Bambang. namun pada 2009 seluruh sekolah harus sudah memakai KTSP. Sementara itu. untuk mengoptimalkan pemberdayaan guru dalam menyusun kurikulum tersebut. masing-masing sekolah bisa membuat silabus. mengenai opsi penggunaan jatah jam pelajaran pengembangan diri yang marak diwacanakan sebelumnya. sehingga tercipta kompetisi antarsekolah. Kurikulum baru ini mengatur. Termasuk. . Melainkan. Jadi. bisa saja empat jam waktu tambahan ini diisi mulok LH sekaligus. Pemerintah hanya menetapkan standar minimal kurikulum yang harus dipenuhi. 2007 at 09:29 PM Peluang dimasukkannya materi lingkungan hidup sebagai pelajaran muatan lokal sangat dimungkinkan dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP." katanya." katanya. Kontekstual Karnadi juga menjelaskan. pemberlakuannya tetap harus diimbangi dengan potensi sekolah masingmasing serta pemenuhan standar minimum isi seperti yang telah digariskan BSNP. Termasuk. ”Materi lingkungan hidup sebaiknya masuk di sini.” ujar anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Furqon. Kepala Pusat Informasi dan Humas Bambang Wasito Adi mengatakan. dalam hal pemilahan kurikulum wajib maupun lokal.dijadikan satu keunggulan sekolah itu sendiri. Peluang Muatan Lokal Lingkungan Hidup dalam KTSP Feb 05. kurikulum. dan memerlukan banyak sumber seperti buku. Sesuai prinsip fleksibilitas KTSP. Meski menentukan silabus sendiri. Permendiknas (Permendiknas Nomor 22 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan) memperbolehkan. harus diimbangi dengan potensi dan kebutuhan masing-masing sekolah. Tujuannya adalah agar potensi tiap-tiap sekolah dapat menonjol. "Sebagai pembaruan kurikulum. Namun. jam pelajaran tambahan ini berlaku baik untuk satuan tingkat pendidikan dasar maupun menengah. dan internet. selebihnya bergantung pada masing-masing sekolah. setiap satuan tingkat pendidikan atau sekolah diberi kebebasan menambah empat jam pelajaran tambahan per minggu. 23. Menurut Furqon. baik yang wajib atau sifatnya hanya muatan lokal." katanya. Bambang menambahkan meski masih dibebaskan memakai kurikulum lama. tiap-tiap sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri. ”Jadi.

tentunya tidak lucu jika sekolah sendiri tidak menyediakan tong sampah yang mendukung. Saya yakin. pola pembiasaan cinta lingkungan ini harus mulai digalakkan sejak tingkat sekolah. ia mengingatkan. Meski demikian. efektivitas pendidikan lingkungan hidup nantinya tidaklah terlepas dari upaya mewujudkan budaya sekolah yang berperspektif lingkungan. Serta. Anak jadi dibiasakan betah di sekolah.” ujar Kepala SMAN 7 Kota Bandung yang pernah mendapatkan penghargaan penerapan manajemen sekolah berwawasan lingkungan ini. secara tidak langsung ini bakal mendorong prestasi akademik siswa. Pokoknya. alokasi jam pengembangan diri ini khusus dipergunakan hal-hal yang sifatnya konsuler. ”Komitmen ini sangat penting.” ucapnya kemudian. diperlukan komitmen dan kesadaran seluruh stakeholder sekolah maupun orangtua siswa. mengenai penyediaan sarana mulai dari tong sampah. Misalnya. Ketua Musyarawarah Kerja Kepala Sekolah SMP Negeri se-Kota Bandung. . setidaknya dengan mewujudkan lingkungan hidup yang sehat di sekitar sekolah. bakat maupun perencanaan pengembangan studi siswa. Nandi Supriyadi. Sebabnya. yaitu tentang penelusuran minat. ”Kebijakan ini merupakan hal yang paling kami tunggu-tunggu. Berbicara tentang pemilahan sampah.Penggunaan opsi yang disebut terakhir ini dikhawatirkan justru berpotensi bermasalah. Budaya sekolah Secara terpisah. menyambut gembira rencana diberlakukannya mulok LH di Kota Bandung. Keberadaan mulok LH diyakini bakal lebih komprehensif meningkatkan pengetahuan maupun pengalaman siswa tentang permasalahan lingkungan hidup. Untuk mewujudkannya. banyak contoh lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful