Sains Qur’ani 101

Judul Buku (Asli) Judul Terjemahan Penulis Penerjemah Penyunting Penerbit Tebal Resentor

: The Hoy Qur‟an and Science of Nature : Filsafat Sains Menurut Al-Qur‟an : Mehdi Goslhani : Agus Efendi : Zainal Abidin : Mizan : 163 hal+xxiv : Samsuddin

Sejak didengungkan pertama kali, gagasan Islamisasi sains telah mendapat respon dan tanggapan yang beragam dari para ilmuwan Muslim. Ada yang mendukung dan adapula yang menolak bahkan skeptis terhadap ide sains berbasis Al Qur‟an ini . Berbagai buku tentang Sains Islami/Sains Qur‟ani ditulis oleh para saintis Muslim. Salah satu buku yang ditulis pada awalawal munculnya ide islamisasi sains adalah The Hoy Qur‟am and Science of Nature. Buku ini ditulis oleh Mehdi Goshani, seorang guru besar fisika di Universitas Teknologi Syarif Iran. Buku ini berawal dari kuliah yang disampaikan oeh penulis dalam empat kempat yang berbeda, yang kemudian dibukukan. Meskipuan hanya terdiri atas empat bab, tetapi buku ini telah memuat dasar-dasar filsafat sains Islam berbasis Al Qur‟an Sains dan Ummat Islam Kalau kita ingin menggambarkan Islam hanya denga satu kata, maka kata ilmu merupakan kata yang dapat mewakili seluruh nilai-nilai luhur dalam Islam itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ayat-ayat al Qur‟an dan hadits-hadits Nabawi yang berbicara tentang ilmu. Bahkan ayat yang pertama turun berisi perintah untuk membaca yang merupakan salah satu metode dan sarana mencari ilmu. Selanjutnya dalam banyak ayat Allah menyebutkan
1

(hm 7-22). Adapun mengenai ilmu fardhu kifayah para ulama dan cendekiawan Muslim berbeda pendapat. Kewaiban mempelajari imu juga disabdakan oeh Rasuluah shallallaahu „alaihi wasallam: “ Mencari ilmu wajib bagi setiap Muslim‟ Ayat dan hadist di atas menerangkan tentang kewajiban setiap Muslim untuk mencari ilmu. (hlm. Dalam ayat di atas Allah memerintahkan untuk berilmu. Ulama ummat juga sepakat bahwa ilmu yang fardhu ain untuk dicari adalah ilmu-ilmu agama yang berkaitam dengan hukum dan tatacara pelaksanaan kewajiban syariat Islam. Secara prinsip kaum Muslimin sepakat bahwa dari sisi hukum mencarinya. ilmu yang fardhu „ain dan fardhu kifayah. Persoalan ini bekenaan dengan berbagai pendapat yang diajukan sejak masa silam”. 2 .seperti ilmu apa yang harus dicari oleh seorang Muslim. ilmu tebagi dua. Oleh karena itu.keutamaan ilmu dan orang-orang berilmu. Dalam kitab tersebut beliau menyebutkan puluhan hadits-hadits Rasulullah berkenaan dengan ilmu. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. al Ashllu fiy al Amri Lilwujub. Ilmu pengantar. Asal (konsekwensi ) dari sebuah perintah adalah kewajiban. sementara dalam kaidah ushul fiqh disebutkan. Sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah dalam surah Muhammad ayat 19 berikut : Maka ketahuilah. Demikian pula dengan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu „alaihi wasallam. Hanya saja hadits tersebut di atas melahirkan pembhasan dan diskusi mengenai ilmu-ilmu apa yang harus dicari oleh setiap Muslim. tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ilmu menempati posisi yang sangat mulia dalam peradaban Islam. “Hadis “Mencari ilmu wajib bagi setiap Muslim” telah melahirkan berbabagi pembahasan . Islam mewajibkan kepada setiap pengikutnya untuk menuntut ilmu. laki-laki dan perempuan. bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan. Dalam buku ini Mehdi menulis bahwa. furu'. Dalam konteks ini Mehdi menolak pandangan Al.3). Al Imam Bukhari menulis satu kitab khusus tentang ilmu dalam bukunya yang tekenal yaitu Shohih Bukhari.Ghazali dan Kasyani yang hanya membatasi ilmu fardhu kifayah pada ilmu syar'i yang terpuji saja (Ushul. studi pelengkap).

Meningkatkan pengetahuan tentang Allah. negara-negara Muslim perlu mengambil langkah-langkah untuk melatih para spesialis-spesialis di dalam segala bidang keilmuan dan industri yang penting. 3. 4. 2. Harus ada kerjasama antar negara Muslim dalam masah riset teknlogi dan keilmuan. Isu lain yang tidak luput dari perhatian Mehdi adalah fenomena dan akibat dari kemunduran sains Islam. kita harus mempelajari seluruh ilmu yang berguna bagi orang lain. Seperti para ulama dan ilmuwan abad-abad pertama zaman Islam. dan bukanlah pencarian yang sekadarnya.32-52). Akan tetapi yang lebih menarik adalah. Kita dapat membebaskan pengetahuan ilmiah dari penafsiran materialistik Barat dan mengembalikannya ke dalam konteks pandangan dunia dan ideologi Islam. Ada dua alasan yang dikemukakan oleh beliau terkait dengan urgensi sains dalam 3 .26-28). bahwa sains termasuk ke dalam kategori ilmu yang bermanfat karena sains khsusunya sains alam dapat berperan dalam membantu manusia mengenal Allah dan mendukung stabitas dan pengembangan masyarakat Muslim (hlm. Ada lima langkah strategis yang diusulkan oleh beliau: 1. Tidak diragukan lagi. (3) Dapat membimbing orang lain . 5. (hlm. Penyelidikan ilmiah harus dipikirkan sebagai sebuha pencarian penting dan mendasar. Urgensi Ilmu-Ilmu Kealaman Menurut Islam Mehdi memandang. (2) Membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya. Untuk mencapai kemerdekaan penuh ummat Islam. Mehdi juga menyampaikan beberapa usulan terkait upaya mengembalikan sains Islam.(hlm.31-32).Selanjutnya Mehdi menyampaikan kriteria ilmu yang berguna: (1).(4) dapat memecahkan berbagai probem masyarakat Islam (hlm 21-23). bahwa sains merupakan bidang yang harus dikuasai oeh kaum Muslimin. Bentuk gabungan yang ada di antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu kealaman selama hari-hari puncak Islam harus dibangun kembali karena sebagaimana telah ditunjukkan bahwa antara titik akhir agama adan ilmu-ilmu kealaman tidak ada konflik.

“. Tapi mengapa ilmu alam. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya. maka ia semakin kenal dan semakin dekat dengan Allah. . . Tentu yang dimaksud dengan orang berilmu dalam ayat tersebut bukan hanya orang yang memiliki ilmu tentang ayat-ayat Qur‟an Tanziliyah (ilmu agama) . Oeh karean itu dalam Surah Fathir [35]: 28 Allah menyebutkan bahwa. Pertama. (QS: Fathir [35]: 27-28) Hal ini mengisyaratkan. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Menurut Mehdi sains dapat dijadikan sebagai wasilah yang dapat menambah keyakinan tentang Allah. Dan kedua. Kita dapat mengetahui tanda-tanda(ayat-ayat ) kebesaran Allah dengan bantuan ilmu sains. Pandangan ini sejalan dengan konsep metode ma‟rifatullah yang dikemukan oleh para ulama salaf seperti Syekh Muhammd bin Muhammad Abdu Wahab rahimahullah. Tetapi mencakup orang berilmu yang yang menguasai ayat-ayat Kauniyah. Tidak diragukan lagi bahwa dengan sains (ilmu-ilmu kelaman) kita dapat mengetahui dan meyakini kemahaesan Allah melalui penciptaan langit dan bumi beserta isinya. binatang-binatang melata dan binatangbinatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Allah Ta‟ala berfirman: “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya.sains alam belum melahirkan sarjana sains yang 4 . Sebab. Seharusnya para saintis Muslim termasuk menjadi orang rasa khasyah kepada Allah karena mereka telah mengenali kemahakuasaan Allah melalui ayat-ayat kauniyah-Nya.kehidupan kamu Muslimin. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya. Sebagai wasilah Mengenal Allah. Sebagai Stabilisator masyarakat Islam. Ulama Nejed ini menyebutkan bahwa cara dan wasilah mengenal Allah adalah melalui ayat-yat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. bahwa dengan mengilmui alam (sains) maka seorang akan semakin takut kepada Allah. . Sebab pada ayat sebelumnya Allah berbicara tentang ayatayat kauniyah. Ulama adalah bentuk jamak dari kata „Alim yang berarti orang yang memiki ilmu. Sains berperan mengokohkan tauhid. hanyalah ulama.semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat kauniyah. hanyalah ulama. Dan demikian (pula) di antara manusia.

“Tujuan Ummat islam adalah membangun masyarakat tauhid . Dalam menguraikan signfikansi sains sebagai wasilah mengenal Allah Mehdi mengatakan bahwa. Dalam konteks peras sains dalam stabilitas dan pengembangan masyarakat Islam Mehdi menulis. bukan dengan worldview Islam. (hlm. Karena sains yang berpijak kepada al Qur‟an akan mengukuhkan tauhid personal dan tauhid sosial. Kekuatan dan kemandirian yang dimaksud oleh Mehdi adalah penguasaan sains dan teknologi modern. Ayat berikut menguatkan hal ini: dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. Dari sini kita seharusnya semakin sadar akan pentingnya Islamisasi Sains. Nabi shallaalaahu „alaihi wasallam bersabda: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang dapat mengunggulinya”. Lebih lanjut Mehdi menulis: “Sekarang segala sesuatu berputar pada di sekitar saisn dan tekonoogi .32). agar menjadi merdeka dan mandiri.42). Aspek lain yang menjadi alasan mengapa sains penting bagi ummat Islam karena posisi dan keduduka sains sebagai stabilisator masyarakat Islam. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi.memiliki khasyah. Para Scholar Muslim belajar sains dengan wordview Barat. kebijaksanaan Islam harus memperoleh seluruh kemampuan keilmuan dan teknologi yang penting bagi kemandirian dan kemenangannya. Dengan kata lain sains berperan melahirkan pribadi-pribadi yang bertauhid dan membangun masyrakat yang bertauhid. Bahkan lahir saintis-saintis yang menolak wahyu? Karena sains yang berkembang di dunia Islam saat ini adalah sains dalam perspektif barat yang sekuler bahkan atheis. dan manusia diminta untuk dapat memikirkannya agar dapat mengenal Tuhan lewat tanda-tanda-Nya”. Oleh karena itu . 5 . (hlm. Selanjutnya ayat – ayat tersebut diklasifikasikan ke dalam delapan kategori (hlm. Kalau pada aspek yang pertama sains berperan mengokohkan aqidah seorang hamba tentang kemahaesaan Allah (tauhid). “ Di dalam A Qur‟an ada lebih dari 750 ayat yang menunjuk kepada fenomena alam. maka pada aspek yang kedua sains berperan melahirkan masyarkat tauhid yang kuat dan bermartabat.32-41). Lebih dari itu . Agar dapat membangun masyarakat semacam itu dan untuk menjaganya dari marabahaya yang diakibatkan oleh orang kafir dunia Isam harus mandiri secara penuh. di mana firman Tuhan adalah yang tertinggi: dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah.

Pandangan kedua berpijak pada ayat yang sama. Al-Syathibi menghubungkan ayat tersebut dengan kewajiban-kewajiban dan perbuatan-perbuatan ibadah dan mengidentifikasikan kata “Kitab” dalam ayat ini dengan “Lembaran-lembaran yang yang terjaga” (disebutkan di dalam [QS:85:22). masing-masing pandangan mendasarkan argumennya pada ayat-ayat al Quran dan sunnah Rasulullah shallallaahu „alaihi wasalam. (hlm. Namun. tetapi harus digunakan 6 . Beliau memandang. “Islam mendorong kaum Muslim untuk memperlengkapi diri mereka dengan sains dan teknologi. (hlm. Dimensi Keilmuan Al Qur’an Dalam memandang dimensi keilmuan Al-Qur‟an para ilmuwan Islam berbeda pendapat.” (QS:6:38). dan mencakup apa saja yang yang diperukan manusia dalam wilayah iman dan amal...46).an merupakan kitab petunjuk bagi kemajuan manusia. termasuk petunjuk tentang bagaimanaa mengilmui ayat-ayat kauniyah (kealaman). sains merupakan salah satu cabang ilmu yang wajib dipelajari oleh kaum Muslimin. ini bukan untuk mengajarkan sains.60). mempelajari sains hukumnya fardhu kifayah. tetapi memahami dengan sudut pandang yang berbeda.Ini berarti melibatkan pelatihan para spesialis tingkat tinggi dalam setiap bidang sains dan teknologi dan memperalati mereka dengan fasilitas teknik terbaik. Yang kedua beranggapan bahwa Al-Qur‟an itu semata-mata kitab petunjuk. Oleh karena itu dalam pandangan Mehdi. Pada dasarnya kedua pandangan tersebut di atas dapat dikompromikan. Benar bahwa A Qur‟an adalah kitab petunjuk.” (hlm43) Selanjutnya beliau menulis.. Hal ini nampak dengan jelas pada bagian pertama dalam buku ini.demi menjaga aspek –aspek spritual”. Pandangan pertama mengatakan bahwa Al-Qur‟an suci mencakup seluruh bentuk pengetahuan dan dan dengan demikian ia mencakup unsur-unsur dasar seluruh ilmu-ilmu kealaman. Beliau menulis. dan di dalmnya tidak ada tempat bagi ilmu kealaman .53). untuk menjamin kemerdekaan dan perkembangan masyarakat Islam. Salah satu ayat yang menjadi pijakan pandangan pertama adalah firman Allah ”Kami tidak melalaikan sesuatu pun di dalam kitab ini. “Kami yakin bahwa Al Qur. kita tidak dapat menolak bahwa Al Qur‟an mengandung rujukan-rujukan pada sebagian fenimena alam.Pada sisi lain. (hlm. Kami tidak memandangnya sebagai ensikopedi sains dan juga tidak meyakini kebenaran mencocokkan Al Qur‟an dengan teori-teori sains yang berubah-ubah itu. Madzahab kompromi (al jam‟u) inilah yang dipilih oleh Mehdi Golshani.

QS:30:8. Kedua.(hlm 72). memahami alam bukanlah usaha yang bernakna.61). (hlm71). (hlm. Menurut Golshani rujukan Al Qur‟an terhadap fenomena alam bertujuan untuk menarik perhatian manusia terhadap pencipta alam itu sendiri. QS: 6:73. Qs:13:2. Menurut beliau hal itu dapat membantu dalam meningkatkan keimanan manusia dan membawa manusia lebih dekat dengan Allah. koordinasi. Ketiga. Ayatayat tersebut menyebutkan adanya aturan .67). Mehdi juga melihat bahwa ayat-ayat Al Qur‟an terkait dengan fenomena –fenomena alam dapt diklasifikasi manjadi tiga keompok yaitun: pertama. QS:28:73. dan QS:6:97. Filsafat Sains . QS:15:19. (hlm. Ayat-ayat tersebut adalah: QS: 21: 30. misalnya. QS: 32:7-9. QS: 45: 13. QS: 21:16. dan tujuan alam. “ Dalam perspektif Al –Qur‟an. QS: 23:115. Sebuah Pendekatan Qur’ani Meksipun al Qur‟an bukanah buku teks sains . yaitu Surah Ali Imran ayat 190. Bahkan ada satu ayat. Ayat Yang berbicara tentang Asal usul dan evolusi makhluk dan fenomena.sebagai bantuan dalam menarik perhatian orang kepada keagungan Allah dan dengan begitu membawanya dekat kepada-Nya”. koordinasi dan tujuan alam sebagai bukti-bukti yang mengukuhkan eksistensi pencipta yang bijaksana dan Maha kuasa. Ayat tersebut berkenaan dengan alam. Kebanyakan ayat –ayat teresbut menyuruh manusia untuk melihat dan merenungkan kejadian berbagai fenomena alam ini. tetapi tak dapat dinafikan bahwa Al Qur‟an banyak memuat ayat-ayat yang menjelaskan fenomena Alam (menurut penulis lebih 750 ayat). QS: 55:7. QS:55:5. Dalam hal ini Mehdi menulis. Manusia dapat sampai kepada kebenaran tentang hakikat dan wujud Allah melalui tafakkur dan tadabbur 7 . dan QS:17:20. Ayat yang berbicara tentang penemuan aturan. Memahami alam dapat mengembangkan wawasan manusia bagi pengenalan Allah dan memungkinkannya untuk adapat lebih baik memamnfaatkan pemberianpemberian Allah demi kebahagiaan dan kesejahteraan dirinya”. Ayat-ayat di atas dan ayat lain yang berbicara tentang fenomena alam dan anjuran untuk memikirkannya menjadi bukti kuat bahwa manusia dapat memahami alam. QS:13:8. (hlm 69). QS:25:2. kecuali jika ia membantu kita memahami pencipta Maha Bijak dunia ini dan mendekatkan diri kepada-Nya. seperti. Qs:71: 1516. Ayat-ayat yang menerngkan bahwa alam dsiediakn oeh Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia secara sah. QS:7:10. yang menurut Rasulullah shallallaahu „alaihi wasalam sungguh celaka dan merugi orang yang membacanya lalu tidak mentadabburinya.

Karasteristik-karasteristik tersebut 8 . Orang-orang beriman. dan intelek.alam. (8) Orang-orang yang yakin.(hlm. QS: 27: 93. maka Allah tidak mungkin menganjurkan untuk mempelajarinya. perenungan. menyadari dan mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman masa lalu. (hlm 68). telinga. “ Dapat dismpulkan bhawa Ulil Albab memiliki fakutas penalaran . Dalam buku ini Mehdi menyebutkan ada sembilan kelompok manusia yang dianugrahi kemampuan oleh Allah. Beliau menulis. Orang berilmu („Alim). (6) Orang yang ingat/sadar (qaumun Yatadzakkarun) . “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Beliau mengatakan.Sebab. “ Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manusia benar-benar dapat menegatahui kebenaran mengenai alam semestadengan lebih baik”. Kemudian beliau mengoentari ayat-ayat tersebut dengan mengatakan.7 ) Akan tetapi kemampuan setiap orang dalam memanfaatkan indra-indra eksternal untuk memahami alam bertingkat-tingkat. andaikan manusia tidak dapat sampai kepada pemahaman terhadap alam. bijaksana. mampu menjauhi kepalsuan –kepalsuan ilusi. memilki wawasan.” Kemudian Mehdi mengomentari ayat tersebut.Selanjutnyapenuis mengutip beberapa ayat berkenaan dengan hal tersebut. Ulil Albablah yang mengcover semua fakultas yang dimiliki oleh kelompok yang lain. (3). dan memahami. yaitu: QS:2: 31. (hlm99102). (9) Orang-orang yang menguji kebenaran. Orang-orang yang memahami (Ulul Albab). QS: 41: 53. ketakwaan. (5). Orang Arif (Qaumun Ya‟qilun).104). Mehdi menyimpulkan bahwa dari kesembilan kelompok di atas. yaitu: (1) Para perenung (Qaumun Yatafakkaruun). (7) Orang Yang mendengarkan firman Tuhan. QS: 16:78. dan pengetahuan. menyembah Tuhan. (2). dan Dia memberi kamu pendengaran. Selanjutnya penulis mengemukakan ayat-ayat yang menunjukkan cara dan metode memahami alam diantaranya firman Allah dam QS: 16:78 . Bahkan dalam ayat lain ditrangkan bahwa Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk mengetauhui dan memahami. “ Ayat tadi mengatakan bahwa pemahaman dapat diraih lewat mata. Diantara indra-indra eksternal hanya pengihatan dan pendengaran yang disebut karena keduanya merupakan alat-alat utama yang membantu seseorang di dalam meraih pengetahuan akan dunia fisik”.(hlm. penglihatan dan hati. agar kamu bersyukur. (4). Karasteristik mereka lainnya adalah : mendengarkan kebenaran. QS: 96:5.

wahyu dan inspirasi. sebab dalam banyak ayat Aqur‟an Allah menyuruh manusia untuk mempelajari alam. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa konsep epistemologis sains Qur‟ani mencakup: a. dijumpai bahwa ada sembilan kelompok manusia yang diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat mengilmui alam. yaitu: pertama. Setiap orang diberi kemampuan yang berbeda-beda oleh Allah dalam memahami alam. b.pembaca dapat menjumpai ayat Al Qur‟an menghiasi buku ini.disimpulkan oleh Mehdi dari beberapa ayat yang dikahiri dengan Ulil Albab. Adapun secara epistemologis Mehdi merumsukan konsep epistemologis sains Qur‟ani. 9 . Kemungkinan memahami alam (sains).QS:39: 21. Dengan kata lain Ulil Albab menggabungkan dua fakultas besar. Mehdi menyimpulkan bahwa berdasarkan ayat-ayat al Qur‟an yang berbicara tentang alam. ketakwaan. Ulil Albab memadukan fakutas fikir dan fakultas dzikir. Adapua ayat –yat yang menerangkan bahwa manusia diberi kemampuan untuk mengetahui. Sementara secara aksiologis sains Qur‟ani memiliki maslahat yang luar biasa bagi ummat manusia. Ada dua maslahat ynag dapat diperoleh dari mempelajari sains (alam ) menurut a Qur‟an. Pencantuman ayat Al Qur‟an dalam buku ini bukan sekadar sebagai alat justfikasi (ayatisasi). Intelek (fu‟ad. Singkatnya. yaitu: QS: 39:18. bashirah). yang kita diperintahkan untuk merenungkan dan mengkajinya. QS: 39:9. Saluran-saluran untuk dapat memahami sains (alam) adalah: (1). Sebab Ulil Albab memiliki fakutas penalaran . c. QS: 2: 269. dan (3). perenungan. (2). dan bermartabat. Akan tetapi dari kesembilan kelompok tersebut Ulil Albablah yang mengcover semua fakultas yang dimiliki oleh kelompok yang lain. mandiri. Bahkan hampirs setiap halaman . dan kedua.meski hanya terdiri atas empat bab tetapi telah memuat dasar-dasar filsfat sains. tapi telah membahas konsep-konsep dasar filasfat sains. Dan yang men jadi nilai lebih dari buku ini adalah adanya dalil-dalil dari Al Qur‟an pada setiap ide yang dikemukakan oleh penulis. dan QS:12: 111. Indra-indra eksternal (pengihatan dan pendengaran). tetapi ayat Al Qur‟an menjadi landasan filosofis bagia setiap ide dan pokok pikiran yang dikemukakan oleh penulisnya. Buku ini. Tanggapan dan Kesimpulan Buku ini meskipun tipis. qulub. (hlm104-105). Artinya memahami alam bukanlanh sesuatu yang mustahil. Mengenal dan mentauhidkan Allah. yaitu fakultas fikir dan fakultas dzikir. QS:3:7. dan pengetahuan. Secara ontologis penulis menguraikan bahwa objek daripada sains Qur‟ani adalah alam semesta yang merupakan ciptaan Allah. Membangun masyarkat bertauhid yang kuat.

yaitu sebuah sikap husnudzan dalam melihat kesalah seorang tokoh. 10 . Akan tetapi bagi resentor kekurangan penulis dalam mencantumkan hadits yang tdiak shahih dapat diterima. Dalam tradisi keimuan Islam hal ini dekenal dengan istilah iltimas a‟dzar. Dalam kajian hadits.Namun demikian sebagai karya manusia. Sebagai sebuah karya ilmiah tentu harus memerhatikan kaidah-kaidah dan metode ilmiah dalam dalam memverifikasi sebuah informasi dan data. Menghubungkan kekurangan terebut dengan kondisi obyektif yang memaksa seorang tokoh tergelincir ke dalam kesalahan. Resentor menemukan ada beberapa hadits lemah (dha‟if) dan palsu (maudhu‟) yang dijadikan sebagai pijakan. buku ini tidak luput dari kekurangan. mengingat latar belakang keilmuan beliau sebgai fisikawan dan bukan sebagai muhaddits. Terakhir. buku ini penting dan menarik untuk dijadikan rujukan oleh siapapun yang hendak mengetahui filsafat sains Qur‟ani. para Ulama hadits telah menetapkan kaidah dan metode untuk memastika keshahihan sebuah hadits. semoga mendapat hidayah setelah embaca buku ini. Bagi para pelajar dan ilmuwan yang skeptis dengan gagasan Sains Islam atau Sains Qur‟ani. Wallaahu a‟am bishsawab. Sikap ini perlu dikembangkan dalam rangka menumbuhkan tradisi kritik dalam bingkai toleransi. terlepas dari berbagai kelebihan dan kekurangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful