AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN

Banjarmasin, 17 Februari 2007
Godang P. Panjaitan
1

2

Agenda Hari Ini
01 Dasar-dasar 02 Pajak kini 03 Rekonsiliasi fiskal 04 Menghitung pajak tangguhan 05 Ilustrasi: beda temporer penyusutan dan SGU 06 Ilustrasi: beda temporer dan beda tetap 07 Ilustrasi: pajak tangguhan dari rugi fiskal 08 Penilaian kembali aktiva pajak tangguhan 09 PPh Final dan lain-lain 10 Pengukuran dan penyajian
3

Pajak Tangguhan ???

4

Daftar Pustaka

• IAI, PSAK No. 46: Akuntansi Pajak Penghasilan. • IAI, Modul Akuntansi Pajak Penghasilan • Intermediate Accounting, 11th ed.,Kieso, Weygandt, and Warfield • Accounting, 21st Edition, Warren Reeve Fess

5

Terima Kasih …

6

DASAR-DASAR

7

Bagaimana menghitung pajak penghasilan sebelum PSAK 46?
Memilih salah satu dari dua metode berikut:
1. Mengakui beban atau kewajiban pajak penghasilan berdasarkan laba fiskal (SPT). Mengakui beban atau kewajiban pajak penghasilan berdasarkan laba akuntansi dan selisihnya dengan beban pajak menurut SPT dicatat sebagai “pajak penghasilan yang ditangguhkan” dalam kelompok aktiva lain-lain yang selanjutnya dialokasikan pada beban pajak tahun-tahun mendatang.
8

2.

Apakah laba akuntansi sama dengan laba fiskal ?

9

Topik Utama Akuntansi Pajak Penghasilan
Bagaimana mempertanggungjawakan konsekuensi pajak pada periode berjalan dan periode mendatang?

Pajak kini

Pajak tangguhan

10

Pengertian Dasar
Pajak kini= Pajak terutang (tax payable) atas penghasilan
kena pajak dalam satu periode Beban pajak = Beban/penghasilan pajak (tax expense/ income) yang diakui dalam laporan keuangan Beban pajak = Pajak kini + Pajak tangguhan

11

Pajak Kini

12

Ilustrasi Formulir SPT PPh Badan

13

Pajak Kini

15 April, Perusahaan membayar angsuran pajak PPh Pasal 25 sebesar Rp2 juta
Apr. 15 Pajak dibayar di muka – PPh Ps. 25
Kas Mencatat pembayaran angsuran
PPh Pasal 25 bulan April

2 juta
2 juta

14

Pajak Kini
Sesuai SPT pajak terhutang tahun ini Rp 45 juta, sebelumnya Perusahaan telah mencicil Rp 26 juta

15

Pajak Kini
Pajak Dibayar di Muka
PPh Psl. 22 2.500 PPh Badan 45.000

PPh Psl. 23
PPh Psl. 25 Fiskal LN

7.500
14.000 2.000 26.000

PPh Psl. 29

19.000
45.000 45.000 45.000 2.500 7.500 14.000 2.000 19.000

Dr: Beban pajak kini Cr: Pajak dibayar di muka - PPh Psl. 22 Cr: Pajak dibayar di muka - PPh Psl. 23 Cr: Pajak dibayar di muka - PPh Psl. 25 Cr: Pajak dibayar di muka - Fiskal LN Cr: Hutang PPh Psl. 29

16

Jenis Pajak Kini

Objek
1. Psal 4 (2) 2. Pasal 22 3. Pasal 23 4. Pasal 24 5. Pasal 25/29 Penghasilan Transaksi Penghasilan Penghasilan Penghasilan

Tarif
Macam2 Macam2 Macam2 Ps. 17

Tatacara .
Pemotongan Pungut Pemotongan Pungut & ST

LN/Max Ps. 17 LN

17

Rekonsiliasi Fiskal

18

Bagan Rekonsiliasi Fiskal

Dokumen Sumber

Jurnal transaksi

Buku Besar

Neraca saldo

Laporan Keuangan (Laba Rugi)

Rekonsiliasi Fiskal

SPT Tahunan PPh Badan

Koreksi Fiskal

Perbedaan temporer (koreksi positif/negatif)

PSAK 46

Perbedaan permanen (koreksi positif/negatif)

19

Pengertian Beda Temporer
Perbedaan yang timbul sebagai akibat perbedaan waktu dan metode pengakuan penghasilan dan beban tertentu menurut akuntansi dan fiskal. Beda temporer tidak mengubah atau mengurangi jumlah pajak yang dibayar tetapi hanya mempengaruhi kapan waktunya pajak dibayar. Jenis beda temporer, yaitu: • • • penyisihan/akrual vs realisasi penyusutan dan amortisasi; aktiva sewa guna usaha dengan hak opsi vs sewa menyewa biasa.

VS
GAAP

20

Beda Temporer
Saldo menurun ganda (penyusutan fiskal) Garis lurus (penyusutan akuntansi)

Total

21

Beda Temporer Pengakuan Pendapatan
Laporan Keuangan
Akui Nanti

Pengakuan Pendapatan

Laporan Fiskal (SPT)
Akui Sekarang

Contoh: Pembayaran Ketika kas di depan Menjadi Hak

Ketika Diterima

22

Beda Temporer Pengakuan Beban
Laporan Keuangan
Kurangkan Sekarang

Beban yang dikurangkan
Contoh: Beban jaminan/garansi

Laporan Fiskal (SPT)
Kurangkan Nanti

Ketika Ditaksir
Kurangkan Perlahan

Ketika Dibayar
Kurangkan Cepat

Contoh: Penyusutan aktiva

Metode Garis Lurus

Metode SMG
23

Pengertian Beda Tetap
Pendapatan/ beban Pendapatan/ beban

dicatat di buku (akuntansi) tidak pernah dicatat di buku

tapi tdk dicatat di SPT (fiskal) tapi dicatat di SPT (fiskal)

Tidak ada pajak tangguhan dari beda tetap
24

Jenis Beda Tetap

• Penghasilan yang telah dipotong PPh Final; • Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak; • Pengeluaran yang termasuk dalam non deductible expenses (Pasal 9 ayat 1 UU PPh); • Pengeluaran yang tidak termasuk dalam deductible expenses (Pasal 6 ayat 1 UU PPh).

25

Tabel Rekonsiliasi Fiskal
Komersial Penjualan Harga pokok penjualan Laba kotor Beban penjualan, umum, dan administrasi Laba usaha 1.125.000 (750.000) 375.000 (190.000) 185.000 20.000 (10.000) 10.000 (5.000) Beda Tetap Beda Sementara Fiskal 1.125.000 (745.000) 380.000 (180.000) 200.000

Beban lain-lain
Laba sebelum pajak Pajak kini (30%) Pajak tangguhan (30%) Beban pajak Laba bersih

(55.000)
130.000

5.000
35.000 (15.000)

(50.000)
150.000 (45.000) (4.500) (49.500)

26

Menghitung pajak tangguhan

27

Aturan Dasar
Kalau, prinsip akuntansi (GAAP) = peraturan pajak, maka beban pajak = jumlah pajak terhutang, sehingga tidak ada pajak tangguhan.
Tetapi, karena beban pajak dihitung berdasarkan laba sebelum pajak (GAAP), sehingga beban pajak # jumlah pajak terhutang, akibatnya muncul pajak tangguhan. Pajak tangguhan berasal dari (1) beda temporer dan (2) rugi fiskal yang dikompensasikan ke masa yg akan datang.
28

Pajak Tangguhan dari Beda Temporer
Beda Temporer Nilai Buku Akuntansi dengan Pajak

Beda temporer kena pajak (taxable temporary differences)

Beda temporer yg boleh dikurangkan (deductible temporary differences) Menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang

Menimbulkan suatu jumlah kena pajak dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang

Kewajiban Pajak Tangguhan

Aktiva Pajak Tangguhan

29

Nilai Buku Aktiva Akuntansi VS Pajak
Nilai menurut Akuntansi
Ya

Nilai menurut Pajak
Lebih besar
Tidak

Beda temporer kena pajak
tarif pajak

Beda temporer yg boleh dikurangkan
tarif pajak

Kewajiban pajak tangguhan (DTL)

Aktiva pajak tangguhan (DTA)
30

Nilai Buku Kewajiban Akuntansi VS Pajak
Nilai menurut Akuntansi
Ya

Nilai menurut Pajak
Lebih besar
Tidak

Beda temporer yg boleh dikurangkan
tarif pajak

Beda temporer kena pajak
tarif pajak

Aktiva pajak tangguhan (DTA)

Kewajiban pajak tangguhan (DTL)
31

Ilustrasi: Beda Temporer Penyusutan dan SGU

32

Beda Temporer Penyusutan
Akuntansi: Dialokasikan secara sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus mencerminkan pola pemanfaatan keekonomian aktiva oleh perusahaan.

Fiskal: Sesuai dengan peraturan pajak.

Kelompok Harta Berwujud I. Bukan bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 II. Bangunan Permanen Tidak Permanen

Masa Manfaat 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun 20 tahun 10 tahun

Tarif penyusutan Metode saldo Metode garis lurus menurun 25% 12,5% 6,25% 5% 5% 10% 33 50% 25% 12,5% 10%

Beda Temporer Amortisasi
Akuntansi: Dialokasikan secara sistematis berdasarkan perkiraan terbaik dari masa manfaatnya. Pada umumnya tidak akan melebihi 20 tahun sejak tanggal aktiva siap digunakan. Fiskal: Sesuai dengan peraturan pajak. Tarif penyusutan Metode garis lurus 25% 12,5% 6,25% Metode saldo menurun 50% 25% 12,5%

Kelompok Harta Tak Berwujud Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

Masa Manfaat 4 tahun 8 tahun 16 tahun

Kelompok 4

20 tahun

5%

10%
34

Ilustrasi 1 - 1
PT XYZ melaporkan laba akuntansinya sebesar Rp400.000 setiap tahun mulai 2003-2006 sedangkan penghasilan kena pajaknya sebesar Rp200.000 untuk tahun 2003-2005 dan Rp1.000.000 untuk 2006. Perbedaan antara akuntansi dan fiskal hanya disebabkan penyusutan aktiva tetap komputer. Secara akuntansi PT XYZ menyusutkan komputer (nilai perolehan Rp2.400.000) berdasarkan metode garis lurus tanpa nilai residu dengan masa manfaat 4 tahun. Secara fiskal metode penyusutannya juga garis lurus tanpa nilai residu dengan masa manfaat 3 tahun. Ditanya: – Hitunglah beban pajak yang dilaporkan menurut laba akuntansi dan laba fiskal? – Berapakah beban pajak yang seharusnya diakui pada laporan keuangan?

35

Ilustrasi 1 - 2
PT XYZ BEBAN PAJAK - LABA AKUNTANSI KOMPARATIF 2003-2006 (dalam Rupiah) 2003 Pendapatan Beban usaha Laba akuntansi Beban pajak (30%) 1.000.000 (600.000) 400.000 120.000 2004 1.000.000 (600.000) 400.000 120.000 2005 1.000.000 (600.000) 400.000 120.000 2006 1.000.000 (600.000) 400.000 120.000 1.600.000 480.000 Total

PT MBR BEBAN PAJAK – LABA FISKAL KOMPARATIF 2003-2006 2003 Pendapatan Beban usaha Penghasilan kena pajak Beban pajak (30%) 1.000.000 (800.000) 200.000 60.000 (dalam Rupiah) 2004 1.000.000 (800.000) 200.000 60.000 2005 1.000.000 (800.000) 200.000 60.000 2006 1.000.000 0 1.000.000 300.000 1.600.000 480.000 Total

36

Ilustrasi 1 - 3
PT XYZ Beban PPh (Akuntansi) VS Hutang PPh (SPT) 2001 Beban PPh (30%) Hutang PPh (30%) Selisih 120.000 60.000 60.000 (dalam Rupiah) 2002 120.000 60.000 60.000 2003 120.000 60.000 60.000 2004 120.000 300.000 (180.000) Total 480.000 480.000 0

PT XYZ Pajak Kini dan Tangguhan (dalam Rupiah) 2003 Beban pajak kini Beban/(pendapatan) pajak tangguhan Beban pajak Saldo hutang pajak tangguhan 60.000 60.000 120.000 60.000 2004 60.000 60.000 120.000 120.000 2005 60.000 60.000 120.000 180.000 2006 300.000 (180.000) 120.000 Total 480.000 480.0000 -

37

Beda Temporer Sewa guna usaha dengan hak opsi VS sewa
Akuntansi: Transaksi SGU dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa SGU sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha. Selama masa SGU setiap pembayaran dialokasikan dan dicatat sebagai angsuran pokok dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban. Fiskal: Transaksi SGU diperlakukan sebagai sewamenyewa biasa sampai dengan penyewa guna usaha melaksanakan hak opsinya. Seluruh pembayaran selama masa SGU dicatat sebagai beban sewa. Penyewa guna usaha tidak boleh menyusutkan aktiva tetap tersebut sampai dengan pelaksanaan hak opsi.

38

Ilustrasi 2 - 1
PT SAY membeli kendaraan dengan nilai Rp10.000 dengan cara sewa guna usaha untuk masa 3 tahun dengan hak opsi untuk memiliki pada akhir masa sewa guna usaha. Jadwal angsuran selama masa sewa guna usaha adalah: Angs. 1 2 3 Pokok 3.500 3.850 2.650 Bunga 1.000 650 265 Jumlah 4.500 4.500 2.915 Saldo Pokok 10.000 6.500 2.650 -

Aktiva tetap tersebut mempunyai umur ekonomis 4 tahun dan disusutkan dengan metode garis lurus tanpa nilai sisa. PT SAY memperoleh pendapatan dari penggunaan aktiva tersebut sebesar Rp10.000 per tahun dan mengeluarkan tambahan biaya lain sebesar Rp1.500 per tahun. – Hitunglah untuk seluruh tahun beban pajak menurut akuntansi dan SPT PPh Diminta: Badan? – Buatlah rekonsiliasi fiskal untuk seluruh tahun? – Buatlah ayat jurnal untuk seluruh tahun atas pengakuan pajak kini dan 39 pajak tangguhan?

Ilustrasi 2 - 2
PT SAY LABA AKUNTANSI KOMPARATIF 20X1-20X4 20X1 20X2 20X3 Pendapatan Penyusutan Beban bunga Beban lain Laba sebelum pajak (akuntansi) Beban PPh (30%) 10.000 (2.500) (1.000) (1.500) 5.000 1.500 10.000 (2.500) (650) (1.500) 5.350 1.605 10.000 (2.500) (265) (1.500) 5.735 1.720

20X4 10.000 (2.500) (1.500) 6.000 1.800

Total 40.000 (10.000) (1.915) (6.000) 22.085 6.625

Pendapatan Penyusutan Beban sewa Beban lain Penghasilan kena pajak Hutang PPh (30%)

PT SAY PENGHASILAN KENA PAJAK KOMPARATIF 20X1-20X4 20X1 20X2 20X3 10.000 10.000 10.000 (4.500) (4.500) (265) (1.500) (1.500) (1.500) 4.000 4.000 8.235 1.200 1.200 2.470

20X4 10.000 (2.650) (1.500) 5.850 1.755

Total 40.000 (2.650) (9.265) (6.000) 22.085 6.625

40

Ilustrasi 2 - 3
PT SAY Beban PPh (Akuntansi) VS Hutang PPh (SPT) 20X1 20X2 20X3 Beban PPh (30%) Hutang PPh (30%) Selisih 1.500 1.200 300 1.605 1.200 405 1.720 2.470 (750)

20X4 1.800 1.755 45

Total 6.625 6.625 0

PT SAY Pajak Kini dan Tangguhan 20X1 Beban pajak kini Beban/(pendapatan) pajak tangguhan Beban pajak (Akuntansi) Saldo hutang/(aktiva) pajak tangguhan 1.200 300 1.500 300 20X2 1.200 405 1.605 705 20X3 2.470 (750) 1.720 (45) 20X4 1.755 45 1.800 Total 6.625 6.625 -

41

Ilustrasi 2 - 4
PT SAY Rekonsiliasi Fiskal 20X2 5.350 2.500 (3.850) (1.350) 4.000 (1.200) (405) (1.605)

20X1 Laba sebelum pajak (akuntansi) Koreksi fiskal – beda temporer: Penyusutan Angsuran pokok SGU Jumlah beda temporer Penghasilan kena pajak Beban pajak kini (hutang PPh) Pendapatan/(beban) Pajak tangguhan Beban pajak (Akuntansi) 5.000 2.500 (3.500) (1.000) 4.000 (1.200) (300) (1.500)

20X3 5.735 2.500 2.500 8.235 (2.470) 750 (1.720)

20X4 6.000 (150) (150) 5.850 (1.755) (45) (1.800)

Total 22.085 7.350 (7.350) 22.085 (6.625) (6.625)

42

Ilustrasi 2 - 5
PT SAY Ayat Jurnal 20X1 Dr: Beban pajak kini 1.200 20X2 1.200 20X3 2.470 20X4 1.755 Total 6.625

Cr: Hutang pajak

1.200

1.200

2.470

1.755

6.625

Dr: Beban pajak tangguhan Dr: Aktiva/(hutan) pajak tangguhan Cr: Pendapatan pajak tangguhan Cr: Hutang pajak tangguhan

300

405 750 750

45

750 750 750

300

405

45

750

43

Ilustrasi: Beda Temporer dan Beda Tetap

44

Ilustrasi 3-1

Laporan keuangan komersial PT Dian pada tahun 2003 menunjukkan rugi sebelum pajak sebesar Rp28.750. Anda diminta untuk membuat laporan keuangan yang akan dilampirkan dalam SPT PPh Badan, membuat rekonsiliasi fiskal dan membuat ayat jurnal penyesuaian di pembukuan perusahaan untuk mencatat pajak kini dan pajak tangguhan, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

Perhitungan Laba/(Rugi) Penjualan

Saldo Akuntansi 900.000

Harga pokok penjualan

(750.000)

Laba kotor Beban penjualan Gaji Beban pajak PPh Ps. 21 Penyusutan Penyisihan piutang tak tertagih Penyisihan persediaan usang Beban lain-lain Jasa giro Rugi penjualan aktiva tetap Laba sebelum pajak

150.000 (35.000) (85.000) (7.500) (6.250) (3.000) (2.000) (20.000) 5.000 (25.000) (28.750)

Metode dan tarif penyusutan menurut akuntansi dan fiskal berbeda (lihat lampiran); Beban-beban yang tidak dapat dikurangkan: entertainment: Rp9.375; beban pajak PPh ps. 21 ditanggung perusahaan: Rp7.500; sumbangan: Rp1.000; Perusahaan menjual kendaraan dengan nilai buku Rp90.000 seharga

45

Ilustrasi 3 - 2
AKUNTANSI Aktiva Tetap Meto de % Harga Perolehan Ak. Penyusutan Nilai Buku Meto de % FISKAL Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku

Saldo awal: Mesin Peralatan kantor Kendaraan Jumlah Penambahan/(pengurangan): Mesin Peralatan kantor Kendaraan Jumlah Saldo akhir Mesin Peralatan kantor Kendaraan Jumlah GL GL GL 10 12,5 10 250.000 50.000 150.000 450.000 45.000 12.500 30.000 87.500 205.000 37.500 120.000 362.500 GL GL SMG 12,5 12,5 25 250.000 50.000 150.000 450.000 56.250 25.000 65.625 146.875 193.750 25.000 84.375 303.125 GL GL GL 10 12,5 10 50.0000 (100.000) (50.000) 25.000 6.250 (10.000) 15.000 36.250 GL GL SMG 12,5 25 25 (100.000) (50.000) 50.000 31.250 12.500 (25.000) 28.125 46.875 GL GL GL 10 12,5 10 200.000 50.000 250.000 500.000 20.000 6.250 25.000 51.250 180.000 43.750 225.00 448.750 GL GL SMG 12,5 25 25 200.000 50.000 250.000 500.000 25.000 12.500 62.500 100.000 175.000 37.500 187.500 400.000

46

Ilustrasi 3 - 3
PT DIAN REKONSILIASI FISKAL
Saldo Akuntansi 900.000 (750.000) 150.000 (35.000) Beda Tetap 9.375 Beda Sementara (19.375) Saldo Fiskal 900.000 (760.000) 140.000 (35.000) Entertainment: Rp9.375; Penyusutan alat-alat produksi: (Rp19.375) Keterangan

Perhitungan Laba/(Rugi)
Penjualan Harga pokok penjualan Laba kotor Beban penjualan

Gaji
Beban pajak PPh Ps. 21 Penyusutan Penyisihan piutang tak tertagih Penyisihan persediaan usang Beban lain-lain

(85.000)
(7.500) (6.250) (3.000) (2.000) (20.000) 1.000 7.500 (6.250) 3.000 2.000

(85.000)
0 (12.500) 0 0 (19.000) Pajak PPh Ps. 21 yang ditanggung perusahaan Penyusutan peralatan kantor: (Rp6.250) Estimasi kerugian piutang tak tertagih Estimasi kerugian persediaan usang Sumbangan: Rp1.000

Jasa giro
Rugi penjualan aktiva tetap Laba sebelum pajak Pajak kini Pajak tangguhan Laba bersih

5.000
(25.000) (28.750) 0 4.762 (23.988)

(5.000)
15.000 12.875 (5.625)

0
(10.000) (21.500)

Telah dikenakan pajak final
Rugi penjualan AT dengan dasar nilai buku fiskal

Beda sementara: (Rp1.688); Rugi fiskal: Rp6.450

47

Laba akuntansi VS Laba fiskal
Laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.
LABA RUGI TAHUN 2003 Penjualan Harga pokok penjualan 900.000 (750.000) LABA/(RUGI) FISKAL TAHUN 2003 Rugi sebelum pajak Perbedaan tetap: (28.750)

Laba kotor
Beban penjualan, umum, dan administrasi Laba usaha Beban lain-lain Rugi sebelum pajak

150.000
(138.750) 11.250 (40.000) (28.750)

Jasa giro, jamuan, natura kpd direksi, sumbangan
Perbedaan sementara: Penyusutan AT, penyisihan beban piutang tak tertagih, penyisihan persediaan usang, aktiva SGU Rugi pajak

12.875

(5.625) (21.500)

Rugi akuntansi

Rugi fiskal

48

Perhitungan Pajak Tangguhan
Beda Temporer Aktiva tetap – Akuntansi Aktiva tetap – Fiskal Beda temporer NB Awal 448.750 400.000 48.750 Koreksi Fiskal Positif/(Negatif) 36.250 46.875 (10.625) NB Akhir 362.500 303.125 59.375 (17.812) (3.188) Akt./(Kew.) PT Pend. / (Beban) PT

Piutang - Akuntasi Piutang - Fiskal

30.000 30.000

3.000 -

47.000 50.000

Beda temporer
Persediaan – Akuntasi Persediaan – Fiskal Beda temporer

-

3.000

(3.000)

900

900

25.000 25.000 -

2.000 2.000

38.000 40.000 (2.000) 600 600

Jumlah

(5.625)

(16.312)

(1.688)

Rugi fiskal Jumlah

6.450 (9.862)

6.450 4.762

49

Penyajian di Catatan atas LK

31 Des. 20X1 Uraian Penyusutan aktiva tetap Penyisihan piutang tak tertagih Penyisihan persediaan usang Rugi fiskal yang dapat dikompensasikan Jumlah (14.624) 0 0 0 (14.624)

Dibebankan ke Laba/rugi 20X2 (3.188) 900 600 6.450 4.762

31 Des. 20X2 (17.812) 900 600 6.450 (9.862)

Dr: Aktiva pajak tangguhan Dr: Beban pajak tangguhan – penyusutan aktiva tetap Cr: Pendapatan pajak tangguhan – penyisihan piutang tak tertagih Cr: Pendapatan pajak tangguhan – penyisihan persediaan usang

4.762 3.188 900 600 6.450

Cr: Pendapatan pajak tangguhan – rugi fiskal yang dapat dikompensasikan

50

Rekonsiliasi Fiskal - Neraca
PT DIAN REKONSILIASI FISKAL
Saldo Akuntansi 37.500 47.000 38.000 15.000 362.500 50.000 550.000 (59.375) 3.000 2.000 Beda Tetap Beda Sementara Saldo Fiskal 37.500 50.000 40.000 15.000 303.125 50.000 495.625 Perbedaan tarif dan metode penyusutan Penyisihan piutang tak tertagih: Rp3.000 Penyisihan persediaan usang: Rp2.000 Keterangan

Neraca Kas dan setara kas Piutang Persediaan Beban ditangguhkan Aktiva tetap Aktiva lain-lain Jumlah aktiva

Hutang usaha Hutang lain-lain Hutang bank Kewajiban PT Jumlah kewajiban Modal saham Laba ditahan Jumlah ekuitas Jumlah kewajiban dan ekuitas

40.000 30.000 120.000 9.862 199.862 200.000 150.138 350.138 550.000 (44.513) (9.862)

40,000 30.000 120.000 0 190.000 200.000 105.625 305.625 495.625 Kewajiban pajak tangguhan

51

Ilustrasi: Pajak tangguhan dari rugi fiskal

52

Aturan kompensasi rugi fiskal
Tahun fiskal 2001 2002 Rugi 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Kompensasi rugi 5 tahun ke depan s.d. 2007

Akui dampak fiskal di sini

Diharapkan akan ada pengurangan pajak di sini
53

Pajak Tangguhan dari Rugi Fiskal
Bagaimana, jika ??? • Jumlah laba/(rugi) fiskal menurut laporan keuangan (audited) tidak sama dengan SPT; • Terbit SKP dengan jumlah laba/(rugi) fiskal yang berbeda dengan laporan keuangan; • Diperkirakan jumlah laba fiskal masa yang akan datang tidak memadai untuk menutupi jumlah rugi fiskal; • Masa kompensasi rugi fiskal telah habis; • Seluruh atau sebagian penghasilan perusahaan dikenakan pajak yang bersifat final.

54

Ilustrasi 4 - 1
Laba/(rugi) fiskal PT YANG untuk 6 tahun pajak terakhir adalah sebagai berikut: Tahun Rp juta 20X0 20.000 20X-1 20.000 20X-2 (40.000) 20X-3 (25.000) 20X-4 (30.000) 20X-5 (50.000) Pada tahun berjalan (20X0), PT Yang menerima surat ketetapan pajak atas SPT PPh Badan tahun 20x-3 yang menetapkan bahwa rugi fiskal untuk tahun tersebut adalah Rp20.000 juta.

Diminta:
Buatlah ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut? Apakah PT Yang membayar PPh Badan untuk tahun 20x0, jika ya berapa jumlahnya?

55

Ilustrasi 4 - 2
RUGI FISKAL Tahun Rupiah 20X-4 20X-3 20X-2 KOMPENSASI KERUGIAN 20X-1 20X0 (tahun berjalan) Rugi fiskal yg tidak digunakan /dikoreksi Rugi fiskal yg dapat dikompens asi ke periode y.a.d. Keterangan

20X0 20X-1

20.000 20.000

20X-2
20X-3 20X-4 20X-5 Jumlah

(40.000)
(25.000) (30.000) (50.000) (105.000) 20.000 20.000 20.000 20.000 6.000 10.000 15.000 4.500 5.000

(40.000)
(20.000) (30.000) 0 (90.000) Koreksi SKP

Beban/(pendapatan) PT Aktiva PT Dr: Beban pajak tangguhan – kompensasi rugi fiskal tahun 20x-5 Dr: Beban pajak tangguhan – koreksi jumlah rugi fiskal (SKP)

27.000 6.000 1.500

Dr: Beban pajak tangguhan – rugi fiskal tahun 20X-5 expired
Cr: Aktiva pajak tangguhan

3.000
10.500

56

Penilaian Kembali Aktiva Pajak Tangguhan

57

Penilaian Kembali Aktiva Pajak Tangguhan
Aktiva adalah manfaat ekonomis masa depan yang diperoleh atau dikendalikan suatu entitas sebagai akibat dari transaksi atau kejadian masa lalu.
Aktiva pajak tangguhan diakui apabila laba fiskal pada masa yang akan datang akan tersedia untuk pemulihannya. Realisasi manfaat ekonomis aktiva pajak tangguhan dicatat dengan mengakui beban pajak (tax expense) yang lebih kecil dari pada kewajiban pajak yang dilaporkan di SPT. Pada setiap tanggal neraca entitas menilai kembali jumlah aktiva pajak tangguhan yang dapat diakui.

58

Ilustrasi 5 - 1

PT INUL, berdiri tahun 2003 mengalami kerugian yang terus menerus sejak pendiriannya dan diperkirakan baru akan dapat memperoleh break even sejak tahun ke-8. Di samping itu Perusahaan juga memiliki beda temporer terkurangkan dari penyisihan pesangon, penyisihan piutang tak tertagih, dan penyusutan. Berdasarkan pengalaman, Perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi syarat untuk membebankan biaya piutang tak tertagih di SPT.
Apakah kondisi tsb mempengaruhi penilaian aktiva pajak tangguhan? 59

Ilustrasi 5 - 2

Uraian Penyisihan pesangon Penyisihan piutang tak tertagih Penyusutan Rugi fiskal yang dapat dikompensasikan 2003 2004 Penyisihan penilaian Aktiva pajak tangguhan - bersih

31 Des. 2004
22.378 1.094.090 103.272

Dibebankan ke Laba/rugi 2005
75.618 (687.764) 102.749

31 Des. 2005
97.996 406.326 206.021

1.063.180 1.358.909

(1.063.180) (570.050)

788.859

3.641.829
(3.516.179) 126.560

(2.142.627)
2.320.994 178.367

1.499.202
(1.195.185) 304.107

60

Ayat Jurnal pada Tahun 2005

Dr: Aktiva pajak tangguhan

178.367

Dr: Beban pajak tangguhan – penyisihan piutang
Dr: Beban pajak tangguhan – rugi fiskal 2003 Dr: Beban pajak tangguhan – rugi fiskal 2004

687.764
1.063.180 570.050

Cr: Pendapatan pajak tangguhan – penyisihan pesangon
Cr: Pendapatan pajak tangguhan – penyusutan Cr: Pendapatan pajak tangguhan – pemulihan penyisihan

75.618
102.749 2.320.994

61

PPh Final dan lain-lain

62

PPh Final – PPh ps 4 ay. 2
I. PENGHASILAN DARI TRANSAKSI SAHAM DAN SEKURITAS LAINNYA DI BURSA EFEK (PP No. 41 Thn 1997)

II. PENGHASILAN DARI HADIAH UNDIAN (PP No. 132 Thn 2000) III. PENGHASILAN DARI BUNGA DEPOSITO DAN TABUNGAN SERTA DISKONTO SBI (PP No. 131 Thn 2000) IV.. PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN (PP No. 48 Thn 1994 DAN PP No. 27 Thn 1996) V. PENGHASILAN DARI PERSEWAAN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN (PP No. 29 Thn 1996) VI. PENGHASILAN BERUPA ATAU DISKONTO OBLIGASI YANG DIJUAL DI BURSA EFEK (PP No. 139 Thn 2000)

VII.PENGHASILAN DARI USAHA JASA KONSTRUKSI UNTUK PENGUSAHA KECIL & KONTRAK < 1 MILYAR DAN JASA KONSULTAN (PP No. 140 Thn 2000)

63

Pajak Penghasilan Final
• Pajak Penghasilan Final adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. • Tidak terdapat perbedaan temporer sehingga tidak diakui adanya aktiva atau kewajiban pajak tangguhan. • Atas penghasilan yang telah dikenakan PPh Final, beban pajak diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan. • Selisih antara jumlah PPh Final yang terhutang dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini diakui sebagai Pajak Dibayar Dimuka dan Pajak yang Masih Harus Dibayar. • Akun Pajak penghasilan final dibayar di muka harus disajikan terpisah dari pajak penghasilan final yang masih harus dibayar.

64

Penggabungan Usaha - Akuisisi
Nilai wajar aktiva dan kewajiban teridentifikasi pada tanggal akuisisi

Harga Peroleh an
Goodwill

• Goodwill diamortisasi (tidak boleh lebih dari 20 tahun) • Amortisasi goodwill bukan merupakan pengurang dalam penghitungan pajak (penyesuaian ke nilai wajar tidak diperkenankan untuk tujuan fiskal) • Perusahaan tidak mengakui pajak tangguhan yg berasal dari goodwill 65

Surat Ketetapan Pajak
• Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan dalam SKP harus dibebankan sebagai pendapatan dan beban lain-lain pada Laporan Laba Rugi periode berjalan. • Apabila dilakukan keberatan atau banding pembebanan tambahan pokok dan denda dapat ditangguhkan pengakuannya.

66

Transaksi yg Dibukukan ke Ekuitas
• Pajak kini dan pajak tangguhan harus langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas apabila pajak tersebut berhubungan dengan transaksi yang langsung dikreditkan atau dibebankan ke ekuitas. • Contoh transaksi tersebut adalah:  Revaluasi aktiva tetap;  Penyesuaian saldo laba awal periode yang berasal dari perubahan kebijakan akuntansi yang diterapkan secara restrospektif atau dari koreksi kesalahan mendasar, sesuai dengan PSAK 25;  selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing.

67

Pengukuran dan Penyajian

68

Pengukuran
• Kewajiban pajak kini (tax payable) diakui sebesar jumlah pajak terutang yang dihitung berdasarkan tarif pajak (peraturan pajak) yang berlaku atau yang telah secara substantif berlaku pada tanggal neraca. • Aktiva pajak kini (tax receivable) untuk periode berjalan dan periode sebelumnya diakui sebesar jumlah restitusi pajak yang dihitung berdasarkan tarif pajak (peraturan pajak) yang berlaku atau yang telah secara substantif berlaku pada tanggal neraca. • Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan harus mencerminkan konsekuensi pajak untuk pemulihan nilai tercatat aktiva atau penyelesaian kewajiban yang diharapkan perusahaan pada tanggal neraca. • Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan tidak boleh didiskonto .

69

Penyajian
• Unsur-unsur utama beban atau penghasilan. • Jumlah pajak kini dan pajak tangguhan yang dibebankan ke ekuitas. • Aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan harus dibedakan dari aktiva pajak kini dan kewajiban pajak kini. • Aktiva (kewajiban) pajak tangguhan tidak boleh disajikan sebagai aktiva (kewajiban) lancar. • Aktiva pajak kini harus dikompensasi (offset) dengan kewajiban pajak kini dan jumlah netonya harus disajikan pada neraca.

70

IMBALAN PASCA KERJA sesuai PSAK 24 (Revisi 2004) dan UU No. 13 Tahun 2003
KAP Heliantono & Rekan 16 November 2005 Godang P. Panjaitan
71

Apa yang dimaksud dengan imbalan kerja?
Imbalan kerja adalah seluruh bentuk imbalan yang diberikan atas jasa yang diberikan oleh pekerja. Cakupan PSAK 24: • Imbalan kerja jangka pendek, seperti: upah, gaji, bonus, bagian laba, cuti (terutang dalam waktu 12 bulan dari tanggal neraca). Imbalan pasca kerja, seperti: pensiun, imbalan pensiun lainnya, asuransi jiwa pasca kerja, imbalan kesehatan pasca kerja. Imbalan kerja jangka panjang lainnya, seperti: cuti besar, bagian laba, bonus dan kompensasi yang ditangguhkan (terutang seluruhnya lebih dari 12 bulan dari tanggal neraca). Pesangon pemutusan kontrak kerja. Imbalan berbasis ekuitas.

• •

72

Jenis Program Imbalan Pasca Kerja
1. Program iuran pasti

Program yang mewajibkan perusahaan membayar sejumlah iuran tertentu kepada entitas (dana) terpisah, sehingga perusahaan tidak mempunyai kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif untuk membayar iuran lebih lanjut jika entitas tersebut tidak memiliki aktiva yang cukup untuk membayar seluruh imbalan pasca kerja yang timbul dari jasa pekerja periode berjalan dan periode sebelumnya.

2. Program imbalan pasti Program imbalan pasca kerja yang bukan merupakan program iuran pasti.
73

Program Iuran Pasti

Pengakuan dan Pengukuran: – Diakui sebagai beban dan kewajiban saat pekerja telah memberikan jasa. – Jika iuran tidak jatuh tempo seluruhnya dalam 12 bulan didiskonto.

Pengungkapan: Jumlah yang diakui sebagai beban untuk program iuran pasti.

74

Kewajiban Konstruktif
Definisi: Kewajiban yang timbul berdasarkan praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasikan, atau pernyataan spesifik yang telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa perusahaan akan menerima tanggung jawab tertentu. Akibatnya perusahaan menimbulkan ekspektasi kuat dan sah kepada pihak lain bahwa perusahaan akan melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Contoh:

75

Imbalan Pasca Kerja Sesuai UU NO. 13 Tahun 2003
Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.

76

Pesangon (P) dan Penghargaan Masa Kerja (PMK)
Pasal 156: Pesangon MK (tahun) P (bl upah) Pasal 156: PMK MK (tahun) PMK (bl upah)

MK <1
MK >=1 MK >=2 MK >=3

1
2 3 4

MK < 3
MK >= 3 MK >= 6 MK >= 9

0
2 3 4

MK >=4
MK >=5 MK >=6 MK >=7 MK >=8

5
6 7 8 9

MK >= 12
MK >= 15 MK >= 18 MK >= 21

5
6 7 8

MK >= 24

10
77

Uang Penggantian Hak (UPH)

a. Cuti tahunan yang belum diambil atau belum gugur; b. Biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ke tempat di mana diterima; c. Pengganti perumahan serta pengobatan dan perawatan sebesar 15% dari uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja; d. Hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja sama.

78

Dasar Perhitungan Upah
UU No. 13 Tahun 2003, Pasal 157: Komponen upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan, terdiri atas: a. upah pokok; b. segala macam bentuk tunjangan yang bersifat tetap.

79

Jenis PHK dan besarnya manfaat pasca kerja
Jenis PHK Pensiun (Psl 167) Meninggal dunia (Psl 166) Mengundurkan diri (Psl 162) Melakukan kesalahan (Psl 158) Melakukan tindak pidana sehingga ditahan oleh yang berwajib (Psl 160) Melakukan pelanggaran atas perjanjian kerja atau peraturan perusahaan (Psl 161) Perubahan status hukum perusahaan, penggabungan, peleburan atau perubahan kepemilikan perusahaan (Psl 163) Perusahaan tutup karena rugi terus menerus atau force majeur (Psl 164 ay. 1) Perusahaan melakukan efisiensi (Psl 164 ay. 3) Perusahaan pailit (Psl 165) Sakit berkepanjangan (Psl 172) Manfaat Kerja 2 P + 1 PMK + UPH 2 P + 1 PMK + UPH UPH UP + UPH 1 PMK + UPH 1 P + 1 PMK + UPH 2 P + 1 PMK + UPH

1 P + 1 PMK + UPH 2 P + 1 PMK + UPH 1 P + 1 PMK + UPH 2 P + 2 PMK + UPH

80

Terdapat program pensiun (dengan pendanaan)
Pengusaha mengikutsertakan buruh/pekerja dalam program pensiun: – – Iurannya dibayar penuh oleh pengusaha Iurannya dibayar oleh pengusaha dan buruh/pekerja

Apabila iurannya dibayar oleh pengusaha dan buruh/pekerja, maka yang diperhitungkan dengan uang pesangon yaitu uang pensiun yang iuran/preminya dibayar pengusaha.

Apabila besarnya manfaat pensiun yang diterima sekaligus lebih kecil dari 2 P + 1 PMK + UPH, maka selisihnya dibayar oleh pengusaha.

81

Tidak terdapat program pensiun (tanpa pendanaan)
Apabila tidak terdapat program pensiun, maka pengusaha wajib memberikan kepada pekerja pada saat pensiun: uang pesangon 2x Pasal 156 (2), uang penghargaan masa kerja 1x Pasal 156 (3), dan uang penggantian hak sesuai Pasal 156 (4).b

82

Program Imbalan Pasca Kerja
1. Program iuran pasti: Kewajiban perusahaan terbatas pada jumlah yang disepakati sebagai iuran pada entitas (dana) terpisah; Risiko aktuarial (yaitu imbalan yang diterima lebih kecil dari pada yang diperkirakan) dan risiko investasi (yaitu aktiva yang diinvestasikan tidak cukup untuk memenuhi imbalan yang diperkirakan) ditanggung pekerja.

2. Program imbalan pasti:
Kewajiban perusahaan menyediakan imbalan yang dijanjikan, dan Risiko aktuarial dan risiko investasi menjadi tanggungan perusahaan.
83

Proses akuntansi program imbalan pasti
i. Membuat estimasi jumlah imbalan yang menjadi hak pekerja sebagai pengganti jasa mereka pada periode kini dan periode lalu; ii. Mendiskontokan imbalan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit untuk menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti dan biaya jasa kini; iii. Menentukan nilai wajar aktiva program; iv. Menentukan jumlah keuntungan dan kerugian aktuarial dan selanjutnya menentukan jumlah yang harus diakui; v. Menentukan besarnya biaya jasa lalu ketika suatu program diterapkan pertama kali atau diubah; vi. Menentukan besarnya keuntungan atau kerugian ketika suatu program diciutkan (curtailment) atau diselesaikan. PSAK 24 (Revisi 2004) menganjurkan penggunaan jasa aktuaris untuk menghitung kewajiban imbalan pasti.
84

Metode Projected Unit Credit
– –

Satu-satunya metode yang diperkenankan; Imbalan yang diakru diperhitungkan secara prorata atau jumlah imbalan yang akan diterima dibagi tahun jasa; Mengasumsikan setiap periode jasa akan menghasilkan satu unit tambahan imbalan (manfaat).

0

1

2

3

4
85

Jumlah Kewajiban Imbalan Pasti
– –
– –

Nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal neraca; Ditambah keuntungan aktuarial (dikurangi dengan kerugian aktuarial) yang tidak diakui; Dikurangi biaya jasa lalu yang belum diakui; Dikurangi nilai wajar aktiva program pada tanggal neraca (jika ada) yang akan digunakan untuk penyelesaian kewajiban secara langsung.

86

Jumlah Kewajiban Imbalan Pasti
Apabila jumlahnya negatif (=AKTIVA), maka tentukan yang lebih rendah: – – Jumlah pada slide sebelumnya; dan Jumlah bersih dari:


Akumulasi kerugian aktuarial bersih + biaya jasa lalu yang belum diakui; dan Nilai tunai manfaat ekonomi dalam bentuk pengembalian dana atau pengurangan iuran di masa depan.

87

Asumsi Aktuaria sesuai PSAK 24 (Revisi 2004)
a) Asumsi demografis (karakteristik masa depan pekerja dan mantan pekerja), terdiri dari: – – – – mortalitas; tingkat perputaran pekerja, cacat dan pensiun dini; proporsi dari peserta program dan tanggungannya yang berhak atas yang berhak atas imbalan, dan; tingkat klaim program kesehatan.

b) Asumsi keuangan, terdiri dari:
– – – – tingkat diskonto; tingkat gaji dan imbalan masa depan; jaminan kesehatan dan biaya kesehatan masa depan, dan; tingkat hasil yang diharapkan atas aktiva program.
88

Asumsi yg Relevan sesuai UU No. 13 Tahun 2003
Faktor-faktor yang menyebabkan besarnya manfaat kerja berbeda (dengan asumsi karyawan pensiun) dan tidak bertentangan dengan asumsi “going concern”:
Asumsi demografis: – Mengundurkan diri (UPH) – Melakukan kesalahan (Uang Penghargaan + UPH) – Melakukan tindak pidana sehingga ditahan yang berwajib (1PMK + UPH) – Pekerja melakukan pelanggaran atas perjanjian kerja sama (1P + 1PMK + UPH) – Sakit berkepanjangan (2P + 2 PMK + UPH) 1 Asumsi keuangan: – – – Tingkat diskonto Tingkat kenaikan gaji Tingkat hasil yang diharapkan atas aktiva program
89

Penggantian

Jika pihak lain akan mengganti pengeluaran bagi kewajiban manfaat pasti:

Perusahaan mengakui bagiannya dalam penggantian tersebut sebagai aktiva terpisah. Jumlah penggantian dinilai berdasarkan nilai wajar dan diperlakukan seperti aktiva program.
Dalam laporan laba rugi: beban imbalan pasti disajikan secara neto setelah dikurangkan dengan penggantian.

90

Ilustrasi Imbalan Pasca Kerja Tanpa Pendanaan
Sejak tahun 2004 PT KUAT menerapkan standar akuntansi PSAK 24 (Revisi 2004) tentang Imbalan Kerja. Berikut ini data karyawan PT KUAT:
No. 1 2 A B Jumlah Nama T_Lahir 31-Des-58 31-Des-68 Umur 46 36 T_Masuk 31-Des-83 31-Des-94 Gaji_Sekarang 2.500.000 5.000.000 7.500.000

Usia pensiun Peningkatan gaji per tahun (@) Suku bunga/ diskonto (!) Faktor demografi (#)

55 8% 8% 1,00000

Diminta: Hitunglah jumlah kewajiban imbalan kerja yang harus disajikan PT Kuat di neraca pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, jumlah yang dibebankan dalam laba rugi tahun 2004 dan 2003, dan jumlah yang dibebankan pada saldo laba ditahan tanggal 1 Januari 2003.

91

Estimasi jumlah imbalan pada saat pensiun
(i) Tentukan jumlah gaji pada saat mencapai usia pensiun (55 tahun): Nama A B Jumlah U_Masuk 25 26 MK_Lalu 21 10 Sisa_MK 9 19 MK 30 29 Gaji_Pensiun 4.997.512 21.578.505 26.576.017


 

Masa Kerja Lalu (MK_Lalu) = Umur Tanggal Hitung – Umur Masuk (U_Masuk)
Sisa Masa Kerja (Sisa_MK) = Usia Pensiun – MK_Lalu Gaji Pensiun (Gaji_Pensiun) = Gaji_Sekarang*(1+@)^Sisa_MK

92

Estimasi jumlah imbalan pada saat pensiun
PV = 2.500 0 • • • • • FV = 4.998 9

Perhitungan Matematis: FV = PV (FVIF i, n ) FV = 100 (FVIF.06, 5 )(gunakan tabel FVIF, atau) FV = PV (1 + i)n FV = 100 (1.06)5 = $133.82
93

Estimasi jumlah imbalan pada saat karyawan pensiun
(ii) Tentukan besarnya imbalan yang harus dibayarkan ketika karyawan pensiun: Manfaat Nama A B Jumlah       MK 30 29 P 9 9 PMK 10 10 U_P 89.955.208 388.413.095 478.368.304 U_PMK 49.975.116 215.785.053 265.760.169 U_PH 20.989.549 90.629.722 111.619.271 MYAD 160.919.872 694.827.871 855.747.743

P = Faktor pesangon yang dibayarkan ketika pensiun (Pasal 156 ayat 2) PMK = Faktor penghargaan masa kerja yang dibayarkan ketika pension (Ps 156 ay. 3) Uang Pesangon (U_P) = 2 * P * Gaji_Pensiun Uang Penghargaan Masa Kerja (U_PMK) = PMK * Gaji_Pensiun Uang Penggantian Hak (U_PH) = 15% * (U_P + U_PMK) Manfaat Masa Yang Akan Datang = U_P + U_PMK + U_PH

94

Diskontokan imbalan berdasarkan metode projected unit credit
(i) Tentukan satuan unit manfaat, beban jasa kini dan kewajiban masa lalu:
Nilai Kini

Manfaat
Nama A B MYAD 160.919.872 694.827.871

Satuan
Unit Manfaat 5.363.996 23.959.582

Beban
Jasa Kini 2.683.333 5.551.724

Kewajiban
Masa Lalu 53.666.667 49.965.517

Jumlah
  

855.747.743

29.323.577

8.235.057

103.632.184

Satuan Unit Manfaat = Manfaat MYAD/Masa Kerja Beban Jasa Kini = Nilai Tunai Satuan Unit Manfaat Kewajiban Masa Lalu = Beban Jasa Kini * (MK_Lalu – 1)

95

Diskontokan imbalan berdasarkan metode projected unit credit
(ii) Tentukan jumlah beban manfaat pasca kerja dan jumlah kewajiban manfaat pasca kerja pada tahun 2004: Nilai Kini Beban Nama A B Jumlah Jasa Kini 2.683.333 5.551.724 8.235.057 Kewajiban Masa Lalu 53.666.667 49.965.517 103.632.184 Bunga 4.508.000 4.441.379 8.949.379 Beban Kini 7.191.333 9.993.103 17.184.437 Nilai Kini Kewajiban Awal 53.666.667 49.965.517 103.632.184 Nilai Kini Kewajiban Akhir 60.858.000 59.958.621 120.816.621

   

Bunga = Suku bunga diskonto * (Beban Jasa Kini + Kewajiban Masa Lalu) Beban Kini = Beban Jasa Kini + Bunga Kewajiban Awal = Kewajiban Masa Lalu Kewajiban Akhir = Beban Kini + Kewajiban Masa Lalu
17.184.437 103.632.184 120.816.621

Ayat jurnal sebagai berikut: Dr: Beban manfaat pasca kerja Dr: Laba ditahan Cr: Kewajiban manfaat pasca kerja

96

Biaya Jasa Lalu

a. b.

c.

d.

Biaya jasa lalu adalah nilai kini kewajiban imbalan pasti atas jasa pekerjaan pada periode-periode lalu; Biaya jasa lalu terjadi ketika perusahaan menerapkan pertama kali program imbalan pasti atau mengubah imbalan terhutang pada program imbalan pasti yang ada; Biaya jasa lalu dibebankan (amortisasi) dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi hak vested; Apabila imbalan tersebut vested segera setelah program imbalan pasti diperkenalkan atau program tersebut diubah, perusahaan harus mengakui biaya jasa lalu pada saat itu juga.

97

Hak Vested

Hak Vested adalah imbalan kerja yang telah menjadi hak atau tidak tergantung pada aktif atau tidaknya pekerja pada masa yang akan datang.

Apakah biaya jasa lalu atas penerapan pertama kali PSAK 24 (Revisi 2004) terkait dengan pelaksanaan program imbalan pasca kerja sesuai UU No. 13 Tahun 2003 harus dibebankan sekaligus atau diamortisasi?

98

Penerapan Pertama Kali PSAK 24 (Revisi 2004)
Penerapan pertama kali PSAK 24 (Revisi 2004): • • Merupakan perubahan kebijakan akuntansi, Penerapannya harus dilakukan retroaktif (PSAK No. 25: “Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi”).

99

Penerapan Pertama Kali PSAK 24 (Revisi 2004)
Jumlah beban manfaat karyawan dan kewajiban manfaat karyawan yang harus diakui dalam laporan keuangan tahun 2003 (yang disajikan kembali), sebagai berikut:

Gaji
Tanggal Nama A B Jlh Hitung 2.314.815 4.629.630 6.944.444

Satuan
Unit Manfaat 5.363.996 23.959.582 29.323.577 Beban Jasa Kini 2.484.568 5.140.485 7.625.053

Nilai Kini
Kewajiban Masa Lalu 47.206.790 41.123.883 88.330.673 Bunga 3.975.309 3.701.149 7.676.458 Beban Kini 6.459.877 8.841.635 15.301.511

Nilai Kini
Kewajiban Akhir 53.666.667 49.965.517 103.632.184

 

Asumsi (keuangan dan demografi) yang digunakan tahun 2003 sama dengan tahun 2004. Jumlah gaji yang digunakan pada tanggal 31 Desember 2003 adalah gaji pada tanggal 31 Desember 2004 yang didiskonto selama 1 tahun dengan tingkat bunga 8%.
15.301.511 88.330.673 103.632.184

Ayat jurnal sebagai berikut: Dr: Beban manfaat pasca kerja Dr: Laba ditahan Cr: Kewajiban manfaat pasca kerja

100

Keuntungan atau Kerugian Aktuarial
Timbul dari penyesuaian akibat (i) perbedaan antara asumsi aktuarial dan kenyataan dan (ii) perubahan asumsi aktuarial. Contoh: – – – Perubahan estimasi tingkat perputaran pekerja, pensiun dini, kematian atau kenaikan gaji, atau biaya kesehatan di masa depan; Perubahan tingkat diskonto; Perbedaan antara hasil aktual aktiva program dan prakiraan hasil aktiva program.

101

Pengakuan Keuntungan Atau Kerugian Aktuarial
Perusahaan harus mengakui sebagian keuntungan atau kerugian aktuarial apabila akumulasi keuntungan atau kerugian aktuarial bersih yang belum diakui pada akhir periode pelaporan sebelumnya melebihi jumlah yang lebih besar di antara kedua jumlah berikut: – – 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal tersebut (sebelum dikurangi aktiva program), dan 10% dari nilai wajar aktiva program.

Bagian yang diakui adalah kelebihan seperti yang ditetapkan di atas, dibagi dengan prakiraan rata-rata sisa masa kerja karyawan. Perusahaan dapat menggunakan metode sistematis lain yang menghasilkan pengakuan keuntungan dan kerugian yang lebih cepat.
102

Ilustrasi Perubahan Asumsi Aktuaria
Pada tahun 2005 suku bunga diskonto berubah menjadi 10%. Hitunglah besarnya beban manfaat pasca kerja dan kewajiban pasca kerja tahun 2005.
Satuan Unit No. a. Nama B Manfaat s=r/j Beban Jasa Kini t=s/(1+!)^I*# Kewajiban Masa Lalu u=t*(h-1) Bunga v=!*(t+u) Beban Kini w=t+v Kewajiban Awal X

1
2

A
B Jlh

5.363.996
23.959.582 29.323.577 Rugi/(Laba)

2.502.344
4.309.341 6.811.685 Kewajiban Koridor z=u+w 60.556.715

52.549.216
43.093.414 95.642.629 10% Kew. Koridor aa=10%*z 6.055.672

5.505.156
4.740.276 10.245.431 R/L Aktuaria Diakui ab=y+aa (2.253.113)

8.007.500
9.049.617 17.057.116 Kewajiban Akhir ac=w+x+ab 66.612.387

60.858.000
59.958.621 120.816.621

No. a. 1

Nama b A

Aktuaria y=u-x (8.308.784)

2

B
Jumlah

(16.865.207)
(25.173.991)

52.143.031
112.699.746

5.214.303
11.269.975

(11.650.904)
(13.904.017)

57.357.334
123.969.721

Ayat jurnal sebagai berikut: Dr: Beban manfaat pasca kerja Cr: Laba aktuaria Cr: Kewajiban manfaat pasca kerja

17.057.116 13.904.017 3.153.099 103

Aktiva Program

Aktiva program terdiri dari: – – Aktiva yang dimiliki oleh dana pensiun, dan Polis asuransi yang memenuhi syarat.

Tidak termasuk aktiva program: – – Iuran yang masih harus dibayar oleh pemberi kerja kepada dana terpisah; Instrument keuangan pemberi kerja yang tidak dapat dialihkan dan dikuasai oleh dana terpisah.

104

Ilustrasi Imbalan Pasca Kerja dengan Pendanaan
Pada tanggal 31 Desember 2004 PT TEKUN memiliki tiga orang karyawan A, B dan C. A lahir tanggal 31 Des 58, mulai bekerja 31 Des 83 dan gaji sebesar Rp5.500.000. B lahir tanggal 31 Des 68, mulai bekerja 31 Des 94 dan gaji sebesar Rp6.600.000. C lahir tanggal 1 Juli 50, mulai kerja 2 Mar 80 dan gaji sebesar Rp11.000.000. Mereka semua akan pensiun pada usia 55 tahun, tingkat kenaikan gaji 10% per tahun, tingkat diskonto 8% dan diperkirakan seluruh pegawai akan tetap bertahan di perusahaan sampai dengan pensiun. PT TEKUN membentuk dana pensiun dengan program defined benefit plan. Berdasarkan peratuan dana pension seluruh iuran dibayarkan oleh perusahaan dengan perhitungan final earning pension plan, dengan rumus: Manfaat Pensiun: 10% * Past Service * Final Earning

105

Ilustrasi Imbalan Pasca Kerja dengan Pendanaan
Tahun 2004, PT KUAT melakukan pendanaan dengan menyetor sebesar Rp50.000.000. Nilai wajar aktiva dana pensiun pada tanggal 1 Januari 2004 sebesar Rp500.000.000, akumulasi laba aktuaria yang belum diakui sampai dengan tahun 2003 sebesar Rp18.000.000 dan ekspektasi hasil investasi dana pensiun tahun 2004 sebesar Rp50.000.000. Berdasarkan laporan investasi dana pensiun, nilai wajar aktiva dana pensiun tanggal 31 Desember 2004 sebesar Rp625.000.000. Hitunglah besarnya beban manfaat pasca kerja dan jumlah kewajiban manfaat pasca kerja yang diakui dalam laporan keuangan tahun 2004, serta buatlah ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut?

106

Estimasi Jumlah Imbalan Pada Saat Karyawan Pensiun
Gaji Gaji Manfaat

No.
a.

Nama
b

T_Lahir
C 31-Des-58 31-Des-68

Umur
d 46 36

T_Masuk
e 31-Des-83 31-Des-94

T.Hitung
m 5.500.000 6.600.000

Pensiun
n=m(1+@)^I 12.968.712 40.365.000

MYAD
r=o+p+q 417.592.536 1.299.752.990

1 A 2 B

3 C
Jumlah

01-Jul-50

55

02-Mar-80

11.000.000
23.100.000

11.000.000
64.333.712

354.200.000
2.071.545.526

107

Diskontokan Imbalan berdasarkan Metode Projected Unit Credit
Satuan Unit Beban Nilai Kini Kewajiban Nilai Kini Kewajiban

No.
a. 1 A 2 B

Nama
b

Manfaat
s=r/j 13.919.751 44.819.069

Jasa Kini
t=s/(1+!)^I*# 6.963.341 10.385.119

Masa Lalu
u=t*(h-1) 139.266.823 93.466.070

Bunga
v=!*(t+u) 11.698.413 8.308.095

Akhir
y=w+x 157.928.578 112.159.284

3 C
Jumlah

14.168.000
72.906.820

14.168.000
31.516.460

340.032.000
572.764.893

0
20.006.508

354.200.000
624.287.862

Kewajiban imbalan pasca kerja:

Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja, 1 Januari 2004
Biaya jasa kini Biaya bunga Rugi/(laba) aktuaria

572.764.893
31.516.460 20.006.508 -

Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja, 31 Desember 2004

624.287.862 108

Menentukan Nilai Wajar Aktiva Program
Aktiva program: Nilai wajar aktiva dana pensiun, 1 Januari 2004 Ekspektasi hasil aktiva dana pension Iuran dana pension Manfaat yang dibayar Laba/(rugi) aktuaria Nilai wajar aktiva dana pensiun, 31 Desember 2004 500.000.000 40.000.000 50.000.000 35.000.000 625.000.000

109

Menentukan Laba/(Rugi) Aktuaria dan Jumlah yang Diakui
Laba aktuaria tahun 2003 Laba aktuaria tahun 2004 10% * Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja, 31 Des. 2004 Selisih lebih kecil dari koridor (tidak diakui) Akumulasi laba aktuaria yang tidak diakui 18.000.000 35.000.000 53.000.000 62.428.786 (9.428.786) 53.000.000

110

Jumlah Kewajiban yang Diakui Dan Ayat Jurnal
Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja 624.287.862

Nilai wajar aktiva dana pensiun
Akumulasi laba aktuaria yang tidak diakui Nilai kewajiban imbalan pasca kerja yang diakui

(625.000.000)
53.000.000 52.287.862

Ayat jurnal Dr: Biaya jasa kini imbalan pasca kerja Dr: Biaya bunga imbalan pasca kerja Dr: Kewajiban kini imbalan pasca kerja Cr: Kas Cr: Ekspektasi hasil aktiva dana pension 31.516.460 20.006.508 38.477.032 40.000.000 50.000.000

111

Ilustrasi Pembayaran Pensiun

Pada tanggal 30 Juni 2005, C pensiun dan mendapatkan imbalan sebesar yang ditentukan dalam UU No. 13 Tahun 2003.
Tahun 2005, PT KUAT melakukan pendanaan dengan menyetor sebesar Rp50.000.000 dan imbalan hasil investasi yang diharapkan sebesar Rp70.000.000. Berdasarkan laporan investasi dana pensiun, nilai wajar aktiva dana pensiun tanggal 31 Desember 2005 sebesar Rp350.380.000. Hitunglah besarnya beban manfaat pasca kerja, jumlah kewajiban manfaat pasca kerja yang diakui dalam laporan keuangan tahun 2005 dan jumlah yang dibayarkan kepada C pada saat pensiun, serta buatlah ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut?

112

Diskontokan Imbalan berdasarkan Metode Projected Unit Credit
Estimasi jumlah manfaat pada saat karyawan pensiun sama dengan perhitungan pada tabel sebelumnya.

Satuan Unit No. a 1 A 2 B 3 C Jumlah Nama b Manfaat s=r/j 13.919.751 44.819.069 14.168.000 72.906.820 Beban Jasa Kini t=s/(1+!)^I*# 7.520.408 11.215.928 0 18.736.337

Nilai Kini Kewajiban Masa Lalu u=t*(h-1) 157.928.578 112.159.284 0 270.087.862 Bunga v=!*(t+u) 13.235.919 9.870.017 0 23.105.936

Nilai Kini Kewajiban Akhir y=w+x 178.684.905 133.245.230 0 311.930.134

113

Menentukan Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasca Kerja
Pada saat pensiun C telah mempunyai masa kerja 25 tahun sehingga sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003 berhak atas: Pesangon = 2 * 9 * Rp11.000.000 = Rp198.000.000 PMK = 10 * Rp11.000.000 = Rp110.000.000 UPH = 15% * (Rp198.000.000 + Rp110.000.000) = Rp 46.200.000 Jumlah Rp354.200.000 Kewajiban imbalan pasca kerja: Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja, 1 Januari 2004 Biaya jasa kini 624.287.862 18.736.337

Biaya bunga
Manfaat yang dibayar Rugi/(laba) aktuaria Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja, 31 Des. 2004

23.105.936
(354.200.000) 311.930.134 114

Menentukan Nilai Wajar Aktiva Program
Aktiva program: Nilai wajar aktiva dana pensiun, 1 Januari 2004 Ekspektasi hasil aktiva dana pensiun Iuran dana pensiun Manfaat yang dibayar Laba/(rugi) aktuaria Nilai wajar aktiva dana pensiun, 31 Desember 2004 625.000.000 70.000.000 50.000.000 (354.200.000) (5.000.000) 385.800.000

115

Menentukan Laba/(Rugi) Aktuaria dan Jumlah yang Diakui
Laba aktuaria tahun 2003 Laba aktuaria tahun 2004 Rugi aktuaria tahun 2005 18.000.000 35.000.000 (5.000.000) 48.000.000 10% * Aktiva program, 31 Desember 2004 38.580.000

Selisih di atas koridor (diakui sebagian)
Laba aktuaria diakui (Selisih/ Rata-rata sisa masa kerja) Akumulasi laba aktuaria yang tidak diakui

9.420.000
724.615 47.275.385

Rata-rata sisa masa kerja = (Sisa MK A + Sisa MK B)/2 = 13 tahun

116

Jumlah Kewajiban/(Aktiva) Imbalan Pasca Kerja
Nilai kini kewajiban imbalan pasca kerja Nilai wajar aktiva dana pensiun Akumulasi laba aktuaria yang tidak diakui Nilai kewajiban/(aktiva) imbalan pasca kerja yang diakui 311.930.134 (385.800.000) 47.275.385 (26.594.481)

117

Menentukan Sumber Pembayaran Imbalan kepada C yang Pensiun
Imbalan pasca kerja sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003 Uang yang dibayarkan dana pensiun (10% * 25 * 12 * Rp11.000.000) Sisa imbalan kerja yang dibayarkan oleh perusahaan (354.200.000)

330.000.000
(24.200.000)

118

Ayat Jurnal
• Pengakuan beban imbalan kerja, pembayaran iuran dana pensiun dan hasil aktiva program Dr: Biaya jasa kini imbalan pasca kerja Dr: Biaya bunga imbalan pasca kerja Dr: Kewajiban kini imbalan pasca kerja Cr: Kas Cr: Ekspektasi hasil aktiva dana pensiun Cr: Laba aktuaria 18.736.337 23.105.936 78.882.342 50.000.000 70.000.000 724.615

Pembayaran kekurangan imbalan pasca kerja kepada C
Dr: Beban imbalan pasca kerja Cr: Kas 24.200.000 24.200.000

119

Pengungkapan
     Kebijakan akuntansi perusahaan dalam mengakui keuntungan dan kerugian aktuarial; Gambaran umum jenis program; Rekonsiliasi aktiva dan kewajiban yang diakui dalam neraca; Jumlah yang termasuk dalam nilai wajar aktiva program; Rekonsiliasi yang menunjukkan mutasi nilai bersih kewajiban (aktiva) selama suatu periode di neraca;

120

Pengungkapan
   Total beban yang diakui di laporan laba rugi untuk beberapa hal dan jumlah yang dilaporkan dalam laporan laba rugi; Hasil aktual dari aktiva program, sama baiknya dengan hasil aktual atas hak penggantian yang diakui sebagai aktiva; Asumsi aktuarial utama.

121

DISKUSI, YOK!!

122

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful