Di Bawah Kolong Langit Jeddah yang Pucat

Cerpen Mashdar Z. Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karena saban hari merangkak mengambah alas Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran daunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benarbenar merindukannya. Beberapa tahun lalu, sebelum kau melesat terbang untuk meraih serpihan rizqi di bawah langit kota Jeddah yang jauh, kau tak pernah bisa lepas dari nenekmu. Kau hidup berdua saja dengannya. Ibumu keracunan ketuban saat melahirkanmu, biaya persalinan yang pas-pasan tidak memungkinkanya untuk memperoleh tindakan cepat, maka setiap nenekmu bercerita perihal kelahiranmu, kau seperti menyayat luka yang terpatri di wajahmu. Tak cuma itu, berselang satu setengah tahun terpaut usiamu, ayahmu mangkat karena sengatan paru-paru basah yang sama sekali tak tersentuh tangan medis, selain kehendak Tuhan tentu saja karena alasan klasik yang klise: biaya. Itulah mengapa kau

pantang bagiku membalik arah. biarpun besar gelombang. agar tetap bisa menjagainya di usia senja. Kau layaknya manik permata yang selalu di elu-elukannya. nenekmu menyarankanmu untuk bertebaran ke negeri jauh. *** Asing sekali ketika kakimu menapak negeri bertanah gurun itu. itu lebih baik daripada memutar haluan pulang. Merawat perempuan pikun dan balita. seusai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas. Dengan gaji tujuh ratus real yang tak pernah sampai ke tanganmu. Akhirnya kau pun berangkat. layar robek. Awalnya kau bersikeras untuk tetap tinggal menemani nenekmu. Tahun pertama kau bekerja. tak pernah kau bayangkan kau akan melayarkan bahtera seorang diri. Kau tahu. kemudi patah.begitu benci dengan kemiskinan. gerak lakumu jujur dan lugu. Namun air mata tua nenekmu telah meluluhkan keras kepalamu. Di sebuah rumah yang megahnya seperti masjid itu kau bekerja. Maka. “Jika perahu telah kukayuh ke tengah. Sayyidah Fatat yang bermata lebar dan bercelak tebal itu selalu mengawasi gerak-gerikmu. Pikiranmu bergejolak. Barangkali ia tak mau melihatmu bermalas-malasan. Wajahmu cantik. jauh ke tengah samudera kehidupan yang luas tak beranah tepi. kau hidup seperti budak tawanan perang. Ia tak mau jika kau menjadi lekang dan rapuh hanya karena pengaruh pergaulan di kampungmu yang mulai menyisihkan nilai-nilai ketimuran seorang gadis. . nenekmu begitu menyayangimu. Ketika itulah. kau rasakan pertama kali betapa birunya warna perpisahan. Tentu kau masih ingat dengan Eli. menjemput berkah yang telah disebar Gusti Allah di muka bumi. teman sekelasmu yang mati bunuh diri gara-gara tak kuasa menanggung aib yang menggembung di perutnya.” Bisikmu. Di usiamu yang baru belasan tahun itu. Kemiskinan telah merenggut orang-orang yang kau cinta sebelum kau sempat mematri raut wajah mereka dalam benakmu.

Malam itu bisa kau rasakan. mulai berani mencolek-colek pinggulmu. akibatnya kau pun mendapat satu tamparan keras di pipi kananmu. kau seperti ayam kecil yang terperangkap dalam liang musang. mengelap air liurnya. kau pun tak bisa berbuat apa-apa. orang-orang berkulit hitam dan berambut kriting. Maka kau bisa apa? Bahkan ketika Sayyid Junaid. Kakimu gemetar melihat keramaian yang begitu mencekam. atau kalau lebih buruk lagi menimpal bekas kotorannya. Nasi samin yang kau tanak semalam suntuk. baginya adalah sama halnya membuang dirham. Sayyid Junaid mulai merayumu. tapi lama semakin lama kau menjadi sangat terbiasa. Kau bayangkan wanita tua itu nenekmu dan semuanya menjadi lebih mudah kau lakukan. Benarlah. suami Sayyidah. bersama nenek pikun dan Sayyid Junaid yang tatapan matanya seperti hendak menerkam. Orang-orang berhidung panjang dan bercambang tebal. Menyuapinya saat makan. dan tamu-tamu pulang. Kau merawat perempuan pikun itu seperti merawat cicitnya. Kau menolaknya. Sayyidah pergi mengantarkan saudara jauhnya dan mungkin kembali esok lusa. Sampai datanglah suatu ketika yang celaka. Awalnya kau merasa jijik dan hendak muntah. Tinggalah kau seorang. Malam itulah. Seluruh tenagamu dikurasnya. ketika tiba-tiba Sayyid Junaid memintamu ke kamarnya untuk memijtnya. menyeka tubuhnya yang lemir. perempuan renta yang melata di kursi roda itu pun selalu menyusahkanmu. Jaddah Raisyah. Tahun berganti tahun kau jalani. Mereka menyatap kambing guling dan ikan sadil ‘arab seperti serigala lapar. Seusai pesta. Kau . mereka berkumpul melebur dalam tahniah dan tari-tarian. tandas oleh perut mereka.Melihatmu duduk tanpa melakukan sesuatu. kau juga tak bisa menolak. Sayyidah menggelar sebuah pesta besar-besaran di rumahnya. Kau merangkak membereskan sisa-sisa pesta yang berantakan. Kebosanan yang merestan di kepalamu kini telah lumat oleh ketidakberdayaan. Dari balik gorden dapur kau lihat para tamu yang mengagungkan pesta dan kesenangan. Dekat sekali kau rasakan campur tangan Tuhan atas skenario yang kau perankan sekarang ini. dapat kau rasakan lembaran demi lembaran hidupmu yang datar dan buram tanpa warna.

Kabarnya ia kabur .” Cercaumu. Lihatlah! Di tanah gharib itu kau jadi gelandangan. melumatmu dalam tarian-tarian menyeramkan. Kau turun lewat balkon samping dengan beberapa utas kain yang kau kaitkan jadi temali. Sempurna sudah apa kau cemaskan sejak pertama kali menginjak tanah terik berdebu itu. Bisa kau tilik bekas luka memar di jidadnya. Hingga sampailah langkahmu pada bangunan kardus di bawah jembatan Waladhaek yang gagah itu. Luka ini terlampau mendarah daging. Seperti lolongan rase gunung. Tak kau pikirkan.berontak. Semua terkunci rapat. Kau melanglang serupa orang terusir. Ayunan langkahmu selalu gontai musabab lututmu yang selalu gemetar menahan beratnya beban yang kau pikul seorang diri. pilu. juga bekas luka bakar yang menghitam di lengan kirinya. setiap malam kau memperpanjang tangismu sambil mencakar wajahmu sendiri. malammalam tua telah menjadi seteru yang menyematkan luka abadi dalam lubuk dadamu. *** Petang itu. Kau cek setiap penjuru pintu. Berteman baik dengan trotoar-trotoar dan rasa lapar. hendak berlari darinya. mereka memang sengaja memasungmu. Kau benar-benar sudah tak tahan. Kau sudah seperti buronan yang hendak kabur dari bui. gadis 17 tahun asal Jombang. barangkali gejolak badai di batinmu mengalahkan rasa lapar. Kepalamu berat bukan main. “Telah tersemat ribuan jarum dalam ketubanku. Lantas musti bagaimana aku meneruskan mimpi. Kau pun tak pendek akal. Kau berjingkat membawa beberapa helai pakaian yang kau bungkus dalam kain jarit milik nenekmu. ketika rumah Sayyidah sepi kau berjingkat meninggalkan perempuan tua yang tergolek di kasur bersama kotorannya sendiri itu. Aku musafir asing yang kehilangan kaki. Ini memang tak lebih sakit dari mati. tapi ini lebih buruk dari mati. kau tak membawa bekal atau uang sepeserpun. dengan cekatan pula lelaki arab bernafsu kuda itu merengkuhmu. Ngilu. Semenjak itu. Kau berpikir. Kau mulai suka terbatuk-batuk. Ah. Di sana kau bertemu dengan Suryani. Perutmu juga terasa melilit dan panas. rasanya waktu pun tak akan mampu menyembuhkannya. yang bernasib sama denganmu atau barangkali lebih buruk.

Beberapa kali Nunung tampak mengeluhkan rasa perih di ulu hati dan sekujur tubuhnya. Lihat saja Nunung. Sepanjang siang dan malam yang dilakukanya hanya termenung dan menangis. ingin bertemu dengan ibu-bapak dan sanak keluarganya di kampung halaman. Dunia memang angkuh. dan Jumiati. nyeri di kepalamu kambuh.” Bisikmu lembut seperti kabut yang menguapkan aroma racun yang kental. tampaknya dia yang paling rapuh menahan beban. Ah. haruskah semua ini berakhir memar. Ah. “Mengapa manusia harus lahir ke muka bumi. Jangan biarkan aku mati dalam keterasingan. Beberapa kali ia menyalahkan Tuhan yang telah sempurna menyengsarakan hidupnya. sampai rasa kantuk yang indah menjemputmu untuk singgah ke alam bawah sadar. “Tuhan… kalau memang aku harus mati waktu dekat ini. Begitulah. bagimana dengan kisahmu sendiri? Sama mirisnya dengan kisah mereka. Ini salah siapa? Tak ada yang salah. Badanmu terasa semakin ringkih dan kedinginan. Pucat masih tampak di wajahnya meski hampir seluruh kulitnya dipenuhi bintil-bintil merah yang berminyak dan mengelupas. jika ia tak memiliki hak untuk hidup selayaknya manusia. Saling bertukar kata dan saling menghibur. Ada juga Dwi. Kau usap perutmu yang kian hari kian menggembung. Izinkan aku mati di pangkuan nenekku. Alam di mana mimpi buruk menjadi .karena tak tahan oleh siksaan majikannya. Nunung tak tampak lagi sampai kau menemukanya terjuntai kaku di tiang rangka jembatan dengan lilitan tambang di lehernya. itulah yang kau makan. Ia menangis tak henti-henti. Tapi apa boleh buat. Di sana juga ada Nunung asal Tasikmalaya yang sengaja dibuang majikannya karena memiliki penyakit kulit menjijikkan yang konon menular. Apa yang mereka makan. Semua memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Kau terisak menahan bongkah cadas di dadamu. selalu saja. hari-hari kalian. Setelah menangis panjang itu. Fauziah. Tak hanya Suryani yang jadi penghuni kolong jembatan angkuh itu.” Kau terus terisak sampai suaramu serak dan habis. Demi memikirkan semua itu. Badanya kurus karena tak pernah mau makan. di kampung halamanku. Tapi. Di kolong jembatan itu kau hidup bersama mereka seperti keluarga. ada yang pahit yang membaur bersama hari-harimu.

Ah. tiba-tiba dadamu penuh sesak. begitu pula kepalamu terasa sangat nyeri dan berat. Kau tersenyum menyapa bintang-gemintang yang kesepian. kau rasakan badanmu menggigil bukan main. *** Kau gagap terbangun di akhir sepertiga malam. perasaanmu tidak enak. warnanya merah pekat. tapi perutmu sangat mual. Matamu menyimpan cermin yang dapat mengundang kupu-kupu yang terpasung rembulan di atas sana. Kau beranjak dari rumah beratap jembatan itu. Sepi. Ah. 5 September 2009 . Kau merebahkan tubuhmu di atas hamparan rumput kering yang mengembun. kau terbatuk-batuk lagi. Teman-temanmu masih pada terlelap. Ada apa lagi dengan tubuh rapuh ini? Beberapa jenak. dan tiba-tiba nenekmu datang dan membenarkan letak selimutmu.* *Malang. Entah mengapa. Kedua gigimu bergemeletak menahan dingin. perutmu terasa sangat mual. Kau semakin menggigil. Kau berusaha mengingat seperti apa warna langit di kampung halamanmu. Kehidupan selalu begitu. semakin dalam. Kau tatap rembulan pucat yang berlayar ke utara menghindari arakan mendung gelap.hal yang lebih indah. terpasung gelap. tenggorokanmu sangat perih dan sesak bagai tercekik. bahkan kau terbatuk-batuk dalam. Dunia selalu begitu. pada detik itu. Kemudian nenekmu akan membangunkanmu untuk mengambil air wudhu. semua mengalir saja seperti air. kampung halamanmu. Sama kah? Di kampungmu. Tak kau pedulikan. Mungkin kau terlalu merindukan nenekmu. kau akan mendengar alunan tarhim seperti eufoni kramat yang melengking dari petala langit. Perlahan kau merasa ada yang meleleh dari lubang hidungmu. Kau menyentuhnya. Kau mendapati cairan kental. Sekali lagi kau tengadahkan wajah ke langit lepas. Rasanya kau ingin tertidur lagi. Tiba-tiba kau merasa seperti tertidur di pangkuan nenekmu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful