BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT MARET 2012

MEKANISME KERJA OBAT ANTIDEPRESI

DISUSUN OLEH: Sarnisyah Dwi Martiani (C 111 08 101)

PEMBIMBING : dr. Fatmawati

SUPERVISOR : dr. Irma Santy, Sp.KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

1

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa :

Nama NIM

: Sarnisyah Dwi Martiani : C 111 08 101

Judul Referat : Mekanisme Kerja Obat Antidepresi Telah menyelesaikan tugas referat dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Maret 2012 Mengetahui

Supervisor

Pembimbing

(dr. Irma Santy, SP.KJ)

(dr. Fatmawati)

2

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................. Lembar Pengesahan .................................................................................... Daftar Isi ...................................................................................................... Bab I. Pendahuluan ........................................................................................ Bab II. Pembahasan ........................................................................................ A. Definisi Antidepressan .............................................................................. B. Klasifikasi Obat Antidepressan ................................................................. a. Antidepressan Trisiklik ...................................................................... b. Antidepressan Tetrasiklik................................................................... c. Penghambat Monoamin Oksidase ...................................................... d. Penghambat Pengambilan Kembali Serotonin Selektif ..................... e. Antidepressan Atipikal ....................................................................... Bab III. Obat Antidepressan ........................................................................... BAB IV. Kesimpulan ..................................................................................... Daftar Pustaka ................................................................................................ Lampiran Referensi

i ii iii 1 2 2 2 2 5 6 8 9 12 14 15

3

MEKANISME KERJA OBAT ANTIDEPRESI

BAB I Pendahuluan

Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar. The Oxford Dictionary mendefinisikan depresi sebagai keadaan “low spirits or vitality (lemah jiwa atau semangat hidup)”. Dalam kenyataannya, kebanyakan orang mengalami keadaan ini pada beberapa tahap kehidupan mereka. Namun, psikiater jarang mengaitkan perubahan mood dengan depresi hanya jika hal itu berlangsung dalam jangka waktu lama yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang. Mood depresi dapat berhubungan dengan perasaan bersalah, kecenderungan bunuh diri dan terganggunya fungsi tubuh (seperti kehilangan berat badan, hilangnya libido atau gangguan pola tidur yang ditandai dengan terbangun lebih awal) dan berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan, seringkali tanpa faktor pencetus, gangguan ini hampir selalu menghasilkan fungsi interpersonal, sosial, dan pekerjaan terganggu.1,2,3 Farmakoterapi atau terapi obat merupakan komponen penting dalam pengobatan gangguan depresif. Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan, misalnya target simptom, kerja obat, farmakokinetik, cara pemberian, efek samping, interaksi obat, sampai pada harga obat. 2 Transmitter utama yang terlibat dalam depresi adalah dopamin, norepinefrin, dan serotonin. Penelitian telah menunjukkan bahwa proses transduksi sinyal neuronal yang melampaui tingkat reseptor adalah target potensial untuk kerja antidepressan (Nestler, 1989; Racagni, 1992). Pemikiran terakhir adalah beberapa mekanisme reseptor yang berbeda memicu kaskade sinyal interseluler yang berbeda yang dapat mengaktifkan faktor transkripsi, yang pada akhirnya, meningkatkan ekspresi gen yang mengkode protein, yang berperan penting dalam pemulihan fungsi saraf yang terlibat dalam pengaturan mood. (Tardito, 2006). 4

4

BAB II Pembahasan

A. Definisi Antidepressan Penanganan depresi mengandalkan berbagai kelompok senyawa

terapeutik antidepressan, antara lain karena depresi klinis merupakan suatu sindrom kompleks dengan keparahan yang sangat beragam. Senyawa pertama yang berhasil digunakan adalah anti depressan trisiklik, yang memberikan rentang efek neurofarmakologis yang lebar, selain kerja utamanya yang diduga menghambat norepinefrin dan transpor serotonin ke ujung saraf secara tidak tetap, dengan demikian terus-menerus memfasilitasi fungsi noradrenergik dan juga kemungkinan serotonergik di dalam otak. Inhibitor monoamin oksidase yang meningkatkan konsentrasi berbagai senyawa amin di otak juga telah digunakan. Saat ini, sederet senyawa hasil penemuan baru –terutama inhibitor selektif ambilan kembali serotonin- mendominasi penanganan gangguan depresif dan digunakan secara luas untuk menangani gangguan ansietas yang parah. 5

B. Klasifikasi Obat Antidepressan Sistem klasifikasi berdasarkan mekanisme kerja dianggap lebih rensponsif untuk efek antidepressan jika dibandingkan dengan pendasaran struktur. Klasifikasi berdasarkan sistem farmakodinamik memiliki keuntungan heuristik, didalamnya terdapat teori dari patofisiologi penyakit, dapat dengan mudah menyesuaikan agen baru saat tersedia, dan menyediakan dasar yang rasional untuk pilihan pengobatan dalam praktek klinis. 4

a. Antidepressan Trisiklik (Tricyclic Antidepressant (TCA)) Antidepresan trisiklik adalah golongan antidepressan yang telah digunakan secara luas untuk pengobatan depresi. Istilah “trisiklik” mengacu pada struktur kimianya yang terdiri dari tiga cincin.6  Farmakodinamik TCA TCA setidaknya memiliki lima atau lebih obat yang terkandung didalamnya; inhibitor aktivitas pengambilan kembali serotonin, inhibitor aktivitas

5

pengambilan kembali norepinefrin, anti-muskarinik, antagonis alfa-1 adrenergik, serta anti histamin. TCA juga menghambat kanal sodium pada tingkat overdosis yang dapat menyebabkan aritmia jantung dan kejang yang berpotensi letal.5 TCA menghambat pengambilan kembali dari serotonin dan norepinefrin, dua neurotransmitter yang penting pada sistem saraf pusat, yang akan kembali ke sel otak. Neurotransmitter, seperti serotonin dan norepinefrin, adalah senyawa kimia yang diproduksi oleh sel otak yang disebut neuron yang memungkinkan terjadinya hubungan antara senyawa tersebut. Neurotransmitter dilepaskan oleh satu neuron pada ruang antara neuron yang satu dengan neuron berikutnya. Kemudian, neurotransmitter tersebut berhubungan dengan sisi spesifik pada permukaan membran neuron yang disebut reseptor. 6

Gambar 1. Mekanisme kerja antidepressan trisiklik (Diambil dari Drugs used in
affective disorders. In: Pharmacology, 4th edition. Rang HP, Dale MM and Ritter JM. Edinburgh, UK: Harcourt Publishers Ltd, 2001:550–565.)

6

Dari sana, sinyal kimia di transformasikan kedalam impuls listrik yang berjalan kembali ke neuron, yang menyebabkan pelepasan lanjutan dari neurotransmitter. Proses neurotransmitter ini berlangsung sepanjang rantai neuron. Selama proses neurotransmisi, setelah neurotransmitter dilepas dan sinyal kimia telah ditransfer ke neuron yang berdekatan, neurotransmitter akan ditangkap kembali ke dalam sel otak yang disebut dengan “reuptake” (pengambilan kembali). Dengan memblok pengambilan kembali neurotransmitter ke dalam sel otak dari tempat mereka berasal, antidepressan dapat memperkuat efek neurotransmitter.5,6,7 Kemampuan pengambilan kembali TCA bergantung dari struktur kimianya. Satu jenis obat mungkin sangat baik dalam memblock norepinefrin misalnya clomipramin, sebaliknya jenis lain lebih menonjol pada penghambatan pengambilan kembali serotonin misalnya desipramine dan maprotiline. 6,7  Farmakokinetik Kebanyakan antidepressan diabsorbsi cukup baik setelah pemberian oral. Pemberian obat trisiklik paling aman diberikan dosis tunggal. Senyawa trisiklik antikolinergik kuat dosis tinggi dapat menghambat aktivitas gastrointestinal dan waktu pengosongan lambung, sehingga menyebabkan absorbsi lebih lambat atau tidak teratur. Konsentrasi trisiklik dalam serum mencapai puncaknya dalam beberapa jam.5 Antidepresan trisiklik merupakan obat yang relatif lipofil, begitu diabsorbsi akan tersebar luas. Obat ini terikat kuat pada protein plasma dan pada konstituen jaringan, menghasilkan volume distribusi nyata yang besar. Antidepressan trisiklik dioksidasi oleh enzim mikrosomal hati, diikuti konjugasi oleh asam glukuronat.5

7

Tabel 1. Farmakokinetik antidepressan (Diambil dari Michael G. Gelder, Juan J. LópezIbor Jr, Nancy C. Andreasen New Oxford Textbook of Psychiatry.2000)

 Efek Samping Sebagian besar efek samping dari penggunaan antidepressan biasanya menghilang setelah 3-4 minggu, walaupun ini tidak selamanya terjadi. 6
-

Karena TCA menghambat neuron kolinergik pada sistem saraf, sehingga menimbulkan efek samping antikolinergik, yaitu mulut dan kulit kering, penglihatan kabur, konstipasi, dan susah buang air kecil.6

- Pasien juga dapat merasakan pusing. Pusing disebabkan oleh efek obat yang dapat menurunkan tekanan darah sehingga menyebabkan hipotensi ortostatik.6 - Kenaikan berat badan juga merupakan masalah yang lain, terutama pada penggunaan Elavil (amitriptylin), Pamelor (nortriptilin), dan sinequan (doxepin).6 - Efek samping lainnya adalah narrow-angle glaucoma, aritmia jantung (paling sering ditemukan). Pada pasien dengan riwayat kejang maka TCA harus dimonitor karena antidepressan TCA dapat menjadi pemicu terjadinya kejang.6

b. Antidepressan Tetrasiklik ( Tetracyclic Antidepressant) Mekanisme kerja mirtazapine yang jelas masih belum diketahui. Secara umum, antidepressan tetrasiklik, mirtazapine dan maprotilin, bekerja dengan 8

meningkatkan neurotransmisi, noradrenergik dan serotonergik (5-HT1). Metode pecapaian hasil akhir antara kedua jenis obat ini berbeda. Mirtazapin bekerja terutama sebagai antagonis poten pada postsinaps 5-HT2 dan 5-HT3 (serotonergik) dan pusat reseptor a-1 adrenergik (noradrenergik). Maprotilin tidak memiliki tingkat spesifitas terhadap subtipe reseptor. 11 Mirtazapin juga merupakan antagonis kuat pada reseptor histamin pusat dan perifer (H1), hal inilah yang menjelaskan efek sedatif dari obat ini. 11  Farmakokinetik Mirtazapine dengan cepat diserap setelah pemberian oral. Konsentrasi serum puncak dicapai dalam waktu 2 jam mengikuti dosis. Biovaibilitas absolut mirtazapin adalah sekitar 50% dan tidak dipengaruhi oleh makanan. 85% mirtazapin terikat dengan protein.11  Efek Samping Efek samping yang paling sering dilaporkan dari mirtazapin adalah mengantuk (54%), mulut kering (25%), konstipasi (13%), dan nafsu makan meningkat (17%), asthenia, agitasi, gelisah, bingung, atau pusing.11

c. Penghambat Monoamin Oxidase (Monoamin Oxidase Inhibitor (MAOI)) MAO merupakan suatu enzim yang mengandung flavin yang berada dalam membran-membran mitokondria yang ada di ujung saraf, hati, mukosa usus, serta organ-organ lain. (Cesura and Pletcher,1992). 5 Selama bertahun-tahun, MAOI dihindari oleh beberapa psikiater karena berbahaya atau tidak efektif. Pada kenyataannya, MAOI’s dapat menjadi obat yang aman dan efektif jika digunakan dengan cara dan pasien yang tepat. Pada dasarnya, MAOI’s yang tersedia sangat tepat untuk pasien dengan gambaran atypical dan untuk mereka yang tidak berespon dengan antidepressan klasik.8  Farmakodinamika MAOI MAO terdiri dari dua subtipe, A dan B. Bentuk A dari MAO istimewa untuk metabolisme serotonin (5-HT) dan Norepinefrin (NE), monoamin yang paling berhubungan dengan depresi. Bentuk B istimewa untuk metabolisme amine, termasuk fenetilamin. MAO-A dan MAO-B memetabolisme dopamin (DA) dan tyramin. Kedua bentuk MAO ini ditemukan di otak. Ujung saraf

9

serotonin dan norepinefrin mengandung terutama MAO-A, usus manusia; MAOA, dan platelet MAO-B.5,9

Gambar 2. Mekanisme Kerja MAO Inhibitor (Diambil dari Mycek,Mary J.
Harvey,Richard A. Champe,Pamela C.Lippincott’s Illustrated Reviews: Pharmacology, 2nd edition.America; Lippincott Williams & Wilkins. 2000)

MAO-A dalam otak harus dihambat agar kinerja maksimal antidepressan dapat berlangsung. Hal ini tidak mengherankan, karena ini adalah bentuk MAO yang memetabolisme 5-HT dan NE, dua dari tiga komponen dari neurotransmitter trimonoaminergik yang berhubungan dengan depresi dan kerja antidepressan; baik 5-HT dan NE menunjukkan peningkatan tingkatan otak setelah penghambatan MAO-A, bersama dengan MAO-B, juga memetabolisme DA, tetapi inhibisi MAO-A saja tidak menunjukkan kenaikan bermakna pada tingkat otak sejak MAO-B masih bisa memetabolisme DA. 9 Inhibisi MAO-B tidak efektif sebagai antidepressan, karena tidak terdapat efek langsung pada metabolisme baik 5-HT maupun NE, dan sedikit atau tidak adanya akumulasi DA disebabkan karena aksi lanjutan dari MAO-A. 9 10

Farmakokinetik Inhibitor MAO diabsorbsi dengan cepat jika diberikan melalui mulut dan

menghasilkan penghambatan MAO yang maksimal dalam 5 sampai 10 hari (Murphy, et.al, 1987). Informasi yang tersedia mengenai inhibitor MAO hanya sedikit. Walaupun aktivitas biologis inhibitor MAO diperpanjang akibat sifat interaksinya dengan enzim MAO, namun efikasi klinisnya tampak berkurang jika obat ini diberikan kurang dari satu kali. 5  Efek Samping Inhibitor MAO dapat menginduksi sedasi atau perangsangan perilaku dan beresiko tinggi menginduksi hipotensi postural, kadang-kadang disertai sedikit peningkatan tekanan darah diastolik berkelanjutan.5

d. Penghambat Pengambilan Kembali Serotonin Selektif (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI’s)) Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI’s) telah mengganti antidepressan trisiklik sebagai obat pilihan dalam pengobatan kelainan depresi, hal ini disebabkan karena SSRI dapat dilorensi lebih baik dan dapat digunakan dalam dosis tinggi. SSRI’s memblok pengambilan kembali serotonin (5-HTIA, 5HT2C, dan 5-HT3C) ke dalam presinaps nervus terminal, dengan demikian neurotransmisi serotonin meningkat, yang menghasilkan efek dari antidepressan.10  Farmakodinamik Seperti namanya, SSRI’s selektif menghambat transport serotonin. Hal ini menyebabkan peningkatan serotonin secara tiba-tiba terutama pada daerah somatodendritik dari neuron serotonergik. Peningkatan serotonin dalam somatodendritik dari neuron serotonin menyebabkan desensitisasi autoreseptor somatodendritik serotonin-IA.7 Sekali desensitisasi autoreseptor somatodendritik, impuls neuronal tidak lagi dihambat oleh serotonin. Dengan demikian, aliran impuls neuro teraktivasi. Hal ini menyebabkan peningkatan pelepasan serotonin dari akson terminal, yang menyebabkan desensitisasi reseptor serotonin postsinaps sebagai hasil akhir. Desensitisasi reseptor tersebut mungkin berkontribusi pada kerja terapeutik dari

11

SSRIs atau dapat bekontribusi terhadap perkembangan toleransi dari efek samping akut dari SSRIs. 5,7  Farmakokinetik

Tabel 2. Farmakokinetik antidepressan (Diambil dari Michael G. Gelder, Juan J. LópezIbor Jr, Nancy C. Andreasen New Oxford Textbook of Psychiatry.2000)

 Efek samping Stimulasi reseptor 5-HT3 diduga ikut menyebabkan efek merugikan yang menjadi ciri golongan obat ini, termasuk efek pada gastrointestinal (mual, muntah) dan seksual (orgasme lambat atau terganggu).5,7 Stimulasi reseptor 5-HT2C dapat ikut menimbulkan risiko agitasi atau kegelisahan yang kadang-kadang diinduksi oleh inhibitor ambilan kembali serotonin. 5,7

e. Antidepressan Atipikal (Atypical Antidepressant) Beberapa antidepressan atipikal semata-mata adalah penghambat pengambilan kembali, diantaranya adalah serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI’s), norepinephrine and dopamine reuptake inhibitors (NDRIs), dan norepinephrine reuptake inhibitors (NRIs). SNRIs termasuk venlafaxine (Effexor), duloxetine (Cymbalta), dan milnacipran. NDRIs termasuk bupropion (Wellbutrin). NRIs termasuk reboxetine (Edronax, Vestra). Antidepressan atipikal lainnya merupakan kombinasi dari inhibisi pengambilan kembali dan bloker reseptor. Diantaranya termasuk trazodone (Desyrel), nefazodone (Serzone), maprotiline, dan mirtazapine (Remeron). 4

12

 Farmakodinamik  Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI’s) Salah satu kelas pengobatan (SNRI) menghambat pengambilan kembali serotonin dan norepinefrin. Jenis spesifik dari kelas ini adalah venlafaxine, adalah derivat fenil bisiklik etilamin yang juga memiliki metabolit aktif.4 Efek farmakologis venlafaxine bergantung dosis. Pada dosis rendah, obat ini memiliki efek seperti SSRIs, pada dosis medium hingga dosis tinggi, inhibisi pengambilan kembali norepinefrin (NE) juga terjadi, dan pada dosis sangat tinggi inhibisi pengambilan kembali dopamin (DA) juga terjadi.7  Norepinephrine and dopamine reuptake inhibitors (NDRIs) Mekanisme utama dari bupropion (salah satu jenis NDRIs) adalah mengaktivasi dopaminergik, noradrenergik, dan jalur nikotinat dengan sedikit efek pada jalur serotonergik (Ascher, 1995). Efek dari bupropion sebagian besar adalah memblok pengambilan kembali dopamin, mungkin dengan cara menempati pompa pengambilan dopamin (Horst, 1998.)4  Norepinephrine reuptake inhibitors (NRIs) Reboxetine adalah obat antidepresi yang tidak memiliki efek pada serotonin. Obat ini selektif menghambat pengambilan kembali norepinefrin (Kent, 2000).4  Farmakokinetik  Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI’s) Venlafaxine diserap dimetabolisme di hati dengan baik untuk pada traktus metabolit digestivus aktifnya dan (O-

senyawa

desmethylvenlafaxine). Konsentrasi puncak plasma terlihat dalam waktu 2 jam. (Troy, 1995; Troy 1997).4  Norepinephrine and dopamine reuptake inhibitors (NDRIs) Bupropion di metabolisme di hati. Sekitar 85% terikat pada protein. Penelitian menjukkan bukti bahwa ginjal klirens dari bupropion mencapai 80% dan waktu paruhnya diperpanjang hingga 34 jam. 4  Norepinephrine reuptake inhibitors (NRIs)

13

Reboxetine dimetabolisme di hati. Reboxetine memiliki watu paruh 13 jam dan diekskresi sebagian besar melalui ginjal. (Kent 2000)4  Efek Samping  Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI’s) Efek samping yang sering timbul adalah,mengantuk, penambahan berat badan, mual, masalah seksual, dan efek antikolinergik yaitu mulut dan kulit kering, penglihatan kabur, konstipasi, dan susah buang air kecil.6,12  Norepinephrine and dopamine reuptake inhibitors (NDRIs) Efek samping bupropion disebabkan karena aktivitas proadrenergik yang berlebihan sehingga dapat timbul insomnia, agitasi, atau mual.7  Norepinephrine reuptake inhibitors (NRIs) Efek samping yang paling sering timbul adalah efek antikolinergik yaitu mulut dan kulit kering, penglihatan kabur, konstipasi, dan susah buang air kecil, serta gangguan seksual. 6,12

14

BAB III Obat Antidepressan

Nama Obat

Dosis Awal (mg/hari)

Dosis Pengobatan (mg/hari)

Efek Samping

Antidepressan Trisiklik - Ampitriptilin - 50-75 - 100-300 - Mengantuk, peningkatan berat badan, hipotensi ortostatik, efek antikolinergik. - Klomipramin - Doksepin - 25 - 50-75 - 100-250 - 100-300 - Mengantuk, peningkatan berat badan - Mengantuk, aritmia jantung, hipotensi ortostatik, penambahan berat badan, efek antikolinergik - Imipramin - 25-75 - 100-300 - Mengantuk, insomnia, agitasi, aritmia jantung, hipotensi ortostatik, penambahan berat badan, efek antikolinergik, distress GI - Trimipramin - 50-75 - 100-300 - Mengantuk, hipotensi ortostatik, penambahan berat badan, efek antikolinergik - Amoxapin - 50-100 - 200-500 - Mengantuk, insomnia, aritmia jantung, hipotensi ortostatik, penambahan berat badan, efek antikolinergik - Desipramin - 50-75 - 100-300 - Mengantuk, insomnia, agitasi, aritmia jantung, hipotensi ortostatik, penambahan berat badan, efek antikolinergik MAOIs - Fenelzin - 15 - 15-90 - Mengantuk, hipotensi, penambahan berat badan

15

- Tranilsipromin - Selegilin - Moclobemid - Isocarboxazid

- 20 -5 - 100 - 10

- 20-60 - 5-20 - 300-600 - 20-60

- Mengantuk, Hipotensi - Hipotensi - Tidak ada - Mengantuk, Efek antikolinergik, hipotensi, penambahan BB

SSRIs - Fluoxetine - Sertraline - Fluvoxamine - Citralopram - Paroxetine Antidepressan Atypical - Bupropion - Mirtazapin - Nefazodon - Trazodon - 100 - 15 - 100 - 50-150 - 150- 450 - 15-45 - 200-600 - 150-400 - Insomnia, agitasi, distress GI - Sedasi, penambahan berat badan - Sedasi - Mengantuk, hipotensi ortostatik, aritmia jantung, distress GI, penambahan berat badan - Venlafaxin - 37,5-75 - 150-375 - Perubahan pola tidur, distress GI, discontinuation syndrome - Mianserin - 10 - 30-120 - Sedasi, aritmia jantung, penambahan berat badan Tabel 2. Ringkasan obat antidepressan (Diambil dari Michael G. Gelder, Juan J. LópezIbor Jr, Nancy C. Andreasen New Oxford Textbook of Psychiatry.2000, Sadock,Benjamin James;Sadock, Virginia Alcott. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry; Behavioral

- 10-20 - 50 - 50 - 10 - 10-20

- 10-80 - 50-200 - 50-300 - 10-40 - 20-60

Semua jenis SSRI’s dapat menyebabkan insomnia, agitasi, sedasi, distress GI, dan masalah seksual ( kecuali Sertraline, Fluvoxamine)

Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams &Wilkins. 2007, Hardman, Joel.G; Limbird, Lee. E. Gilman, Alfred Goodman. Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi, Ed.10, Vol.1Jakarta. EGC. 2007. )

16

BAB IV Kesimpulan

Depresi

merupakan

gangguan

mood

yang

disebabkan

adanya

abnormalitas biologis. Laporan terakhir, neurotransmitter monoamin yaitu norepinefrin, dopamin, serotonin, dan histamin masih menjadi perhatian utama sebagai etiologi dari gangguan mood ini.1 Kebanyakan antidepressan melakukan kerja penting penting terhadap metabolisme neurotransmitter monoamin dan reseptornya, terutama norepinefrin dan serotonin (Buckley and waddington, 2000; Owens et.al, 1997). Keefektifan dan kerja terapeutik antidepressan, serta bukti kuat kecenderungan genetiknya, memunculkan dugaan bahwa dasar biologis gangguan mood yang parah kemungkinan melibatkan fungsi abnormal neurotransmisi monoamin. 5 Antidepressan yang digunakan sekarang memiliki prinsip kerja yang hampir sama yaitu menghambat pengambilan kembali serotonin ataupun norepinefrin serta dopamin. Sehingga memungkinkan semakin banyak

neurotransmitter yang berada pada celah sinaps. Penggolongan secara garis besar yaitu antidepressan trisiklik, antidepressan tetrasiklik, MAOIs, SSRIs, serta antidepressan atipikal.

17

DAFTAR PUSTAKA 1. Sadock,Benjamin James;Sadock, Virginia Alcott. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry; Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th

Edition. Lippincott Williams &Wilkins. 2007; p. 527,529-530,557-558. 2. Muchid,Abdul, dkk. Pharmaeutical Care untuk Penderita Gangguan Depresif. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. 2007. Hal. 9, 20. 3. Leonard, Brain. E. Fundamentals of Psychopharmacology, Third Edition. England. John Wiley & Sons Ltd. 2003. P.153. 4. Rip. Mechanism of Action Of Atypical Antidepressants. 2006. Available at http://tribes.tribe.net/. Accessed on March 12th 2012 5. Hardman, Joel.G; Limbird, Lee. E. Editor ; Gilman, Alfred,Goodman. konsultan editor. Tim alih bahasa sekolah Farmasi ITB, alih bahasa. Amalia Hanif, dkk. Editor bahasa Indonesia. Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi, Ed.10, Vol.1. In; Baldessarini, Ross J. Obat-obat dan Penanganan Gangguan Kejiwaan; Depresi dan Gangguan Ansietas. Jakarta. EGC. 2007. Hal. 437-451 6. Tricyclic Antidepressants. Available at http://www.psychatlanta.com/. Accessed on March 12th 2012. 7. Yildiz,Aysegul. Gonul, Ali Saffet. Tamam,Lut. Mechanism of Actions of Antidepressants: Beyond the Receptors.In; Turkey. Bulletin 2012.
th

of

Clinical at

Psychopharmacology,

Vol.12.

Available

http://www.psikofarmakoloji.org/. Accessed on March 13 2012. 8. Shader,Richard I. Editor. Manual of Psychiatric Therapeutics, 3rd Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2003. P.240, 250-257. 9. Stahl,Stephen M. Felker, Angela. Monoamine Oxidase Inhibitors: A Modern Guide to an Unrequited Class of Antidepressants. CNS Spectr 13:10. 2008. Available at http://www.psy-world.com/. Accessed on March 13th 2012.

18

10. Ables,Adrienne Z. Baughmand,Otis L. Antidepressants : Update on New Agents and Indications. American Family Physician. 2003. Availbale at http://www.aafp.org/afp/. Accessed on March 13th 2012. 11. Buck,Maria L. Mirtazapine : Potential Advantages in Adolescents With Depression Associated With Chronic Illness. Children’s Medical Center, University of Virginia. 2000. Available at http://www.medscape.com/. Accessed on March 13th 2012. 12. Antidepressants Clinical Guidelines for Antidepressant Use in Primary and Secondary Care. Lincolnshire Partnership. NHS Foundation Trust. 2010. Available at http://www.lincolnshire.nhs.uk/ Accessed at March 13th 2012.

19

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful