P. 1
_pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal (2)

_pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal (2)

|Views: 362|Likes:
Published by IndRii Shakiieb

More info:

Published by: IndRii Shakiieb on Apr 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

pdf

text

original

PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL

SKRIPSI
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Disusun oleh:

ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008

PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Prasyarat dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Diajukan Oleh : ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008

PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL

Skripsi Yang Diajukan Oleh: ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121

Yang disetujui untuk dipertahankan Di depan penguji

Pembimbing utama Tanggal Dra. Nisa Rachmah N. A., M.Si Pembimbing Pendamping Tanggal Lisnawati Ruhaena, S. Psi., M.Si

iii

Psi.Si ________________________ Penguji Pendamping I Lisnawati Ruhaena. A.Si ________________________ Surakarta.Si iv .Si ________________________ Penguji Pendamping II Eny Purwandari. S. M.. M. Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Psikologi Dekan Susatyo Yuwono..Psi. S. S. Psi. Nisa Rachmah N. M.PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL Yang Diajukan Oleh: ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 22 Januari 2009 Dan telah dinyatakan memenuhi syarat Penguji Utama Dra. M..

” (Kahlil Gibran) “Jadilah air penyejuk dalam panasnya kehidupan” (Penulis) v .MOTTO : “Penyakit yang paling besar adalah takut Bahaya yang paling besar adalah putus asa Keagungan yang paling mulia adalah iman Rahasia yang paling besar adalah mati Harta yang paling besar adalah anak soleh Guru yang paling besar adalah pengalaman Modal yang paling besar adalah kepercayaan diri” (Ali bin Abi Thalib) “Ketahuilah Saudaraku bahwa tidak setiap orang fakir itu nista dan hina justru kadangkala kekayaan dunia ini bersemayam diantara sekerat roti dan sehelai jubah.

Adik-adikku. De’ Wahyu dan De’Diah yang selalu memberikan dukungan kepada penulis. vi .PERSEMBAHAN Karya sederhana ini penulis persembahkan untuk : Bapak dan Ibu yang telah menyayangi dan membesarkan penulis hingga menjadi dewasa. Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan keceriaan kepada penulis. Kakekku yang telah memberikan segala perhatian dan do’a selama ini. Bude Ning yang selalu memberikan semangat kepada penulis.

Ibu Lisnawati Ruhaena. Wb.Si. Nisa Rachmah Nur Anganthi. selaku pembimbing akademik yang telah banyak membimbing penulis selama studi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. puji syukur kehadirat Allah SWT. kritik dan saran selalu penulis terima dengan tangan terbuka. M. S.Si. dorongan.Psi. 3. 2. Alhamdulilahi robbil’alamin. Oleh karena itu. S. Psi.KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr.Si. penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada : 1. Terima kasih atas bimbingan. tenaga dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan masukan yang berharga bagi penulis dalam menyusun skripsi ini. M. vii . Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan-kekurangan yang dikarenakan keterbatasan penulis. Bapak Susatyo Yuwono.. M. semangat dan bantuan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung. selaku pembimbing I dalam pembuatan skripsi ini. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan karena ridha-Nya skripsi ini dapat terselesaikan. Terima kasih telah meluangkan waktu. kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. arahan. Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati. dan selaku pembimbing II dalam pembuatan skripsi ini. Ibu Dra. Skripsi ini terselesaikan atas dukungan.

Rekan-rekan di “Hek Pak Pardi”. semangat dan nasehat yang berarti. Pelo. Terimakasih atas kebersamaannya 13. Meneer. M2d. 12. 9. Bekti. doa. TRS dan ES yang telah bersedia menjadi informan penelitian. U2k. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik. Niki. Wb. Tugas. Terima kasih atas kenangannya. Roni. Wssalamualaikum Wr. Kakekku dan bude Ning terima kasih telah memberikan segala perhatian dan do’a selama ini. Bapak dan ibu tercinta. Karibku sejak SMA. 11. Surakarta. Dian. Terima kasih atas pelayanan dan kemudahan yang diberikan kepada penulis. Teteh. 6. Kurniawan. Bogel. De’ Wahyu dan De’ Diah yang selalu memberi semangat kepada penulis 8. 5. Ibu M. Santoso. Juki. Febri. Dara dan Astarika yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini 10. Teman-teman seperjuanganku di kos PTC. Terima kasih telah memberikan dukungan. Heri. Terima kasih atas dukungannya. Dedy.4. Oktober 2008 Penulis viii . 7. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu penulis baik secara moril maupun materiil. Terima kasih atas keceriannya. Teman-teman kelas C angkatan 2004. Amin ya Rabbal’alamin. Doel. W2n. Rustam. Seluruh staf Tata Usaha Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Toni. Pi2n. Y.

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN...................................................................... HALAMAN JUDUL........................................................................................ HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... HALAMAN MOTTO ..................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... DAFTAR TABEL............................................................................................ DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DARTAR LAMPIRAN ................................................................................... ABSTRAKSI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ A. Latar Belakang Masalah........................................................... B. Tujuan Penelitian .................................................................... C. Manfaat Penelitian .................................................................. BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... A. Pemecahan masalah ................................................................ 1. Pengertian masalah ............................................................ 2. Pengertian pemecahan masalah ......................................... 3. Tahapan pemecahan masalah ............................................

i ii iii iv v vi vii ix xii xiii xiv xv 1 1 5 5 6 6 6 7 10

ix

4. Aspek-aspek pemecahan masalah ..................................... 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah ... B. Wanita sebagai orang tua tunggal ........................................... 1. Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal .................... 2. Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal ............ 3. Penyebab wanita sebagai orang tua tunggal...................... C. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ... D. Pertanyaan penelitian .............................................................. BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. A. Gejala penelitian ...................................................................... B. Definisi operasional gejala....................................................... C. Informan penelitian .................................................................. D. Metode dan alat pengumpul data .............................................

13 15 18 18 19 20 28 28 29 29 29 30 32

E. Keabsahan data/ Trustworthiness ….……………………...….. 37 F. Metode analisis data………………………………………….. BAB IV LAPORAN PENELITIAN............................................................. A. Persiapan Penelitian ................................................................ 1. Orientasi lapangan.............................................................. 2. Persiapan alat pengumpul data........................................... B. Pengumpulan Data .................................................................. C. Analisis Data ............................................................................ 1. Karakteristik informan penelitian ...................................... 2. Data hasil penelitian .......................................................... 38 40 40 40 41 41 42 42 43

x

3. Tabulasi data hasil penelitian ............................................ D. Kategorisasi.............................................................................. 1. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ............................................................................... 2. Alasan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal.......................................................................... 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal .............................. E. Pembahasan.............................................................................. BAB V PENUTUP ………………………………………………………. A. Kesimpulan .............................................................................. B. Saran......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN.....................................................................................................

75 76

77

79

84 86 98 98 101 103 107

xi

.......... Tabel 5 Karakteristik Informan Penelitian ...................................................................... Tabel 3 Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal untuk wawancara dengan Significant person.................................................................. Tabel 6 Tabulasi hasil wawancara pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal................................................................................... Tabel 7 Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ................................................... 92 75 46 39 35 33 31 xii ............................................ Tabel 2 Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal................ Tabel 4 Guide observasi..........................DAFTAR TABEL Tabel 1 Karakteristik informan penelitian .........................

..................................................................................... 97 83 82 81 80 xiii ............... Gambar 3 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 3...................... Gambar 2 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 2................................. Gambar 5 Skema dinamika psikologis pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal....................................DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 1... Gambar 4 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 4...................................

................. Lampiran B Foto kopi identitas informan ................................................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Verbatim wawancara.................. 179 107 xiv ..................................................................

sedangkan tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis isi. (c) Kreatifitas. Pegawai swasta. (b) Berserah diri. pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal digolongkan menjadi 5 (lima) bentuk. Penelitian ini menunjukkan bahwa alasan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal adalah mereka berusaha mengidentifikasi masalah yang timbul kemudian mencari alternatif pemecahan masalah yang sesuai dengan kondisi yang dialami selanjutnya memilih atau menentukan salah satu alternatif yang paling sesuai dengan kondisi yang dialami dan berusaha mewujudkan alternatif yang dipilih dengan tindakan nyata. remaja. yaitu : (a) Tingkat pendidikan. dan faktor-faktor pemecahan masalah yang digunakan oleh wanita sebagai orang tua tunggal. Permasalahan yang dihadapi wanita sebagai orang tua tunggal ini memerlukan pemecahan dan penyesuaian diri yang tepat ditengah pilihan hidup yang dipilihnya. (d) Kepercayaan diri. Permasalahan yang dihadapi wanita sebagai orang tua tunggal bukan hanya dari dalam dirinya saja tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluargannya.ABSTRAKSI PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL Pemecahan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada cara-cara penyelesaian masalah secara langsung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. dan observasi. orang tua tunggal xv . dan (e) Berharap. dan dewasa awal. Informan penelitian ini adalah wanita janda yang memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. anak usia sekolah dasar. Kata kunci : pemecahan masalah. Adapun faktor-faktor yang mempangaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya ada 5 (lima) macam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan. dan (e) Lingkungan sosial. (b) Usia. belum menikah lagi dan mempunyai karakteristik pekerjaan sebagai PNS. yaitu : (a) Membutuhkan bantuan orang lain. (d) Berusaha. wanita. Janda pensiunan Polisi dan Wiraswasta adapun karakteristik usia anaknya adalah Anak balita. (c) Berfikir positif.

Sehingga menjalankan fungsi sebagai ibu serta ayah bagi anakanaknya. 2004). bahwa dalam satu keluarga ada dua fungsi yang harus dikembangkan secara khusus yaitu mendidik anak dan memproduksi makanan. Lantas bagaimana apabila seorang isteri yang harus menerima kenyataan menjadi orang tua tunggal. dalam Khoiriyah. harus mencari nafkah dan menjadi kepala keluarga. (1995) mengemukakan teorinya tentang pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah salah satu titik permulaan dari misteri kehidupan. . yaitu menjadi suami dan isteri (Ibrahim. Komitmen laki-laki dan perempuan untuk menjalani sebagian kecil dari perjalanan hidup dengan peran baru mereka. 2002). Myers. karena bercerai dengan suami ataupun suaminya meninggal. pada dasarnya telah memiliki peran yang terbagi berdasarkan jenis kelamin atau peran jenis (sex role) (Shaevitz. maka akan sangat menguntungkan apabila salah satu fungsi dalam keluarga tersebut diberikan kepada satu jenis kelamin dan fungsi lainnya kepada jenis kelamin yang lain. Peran jenis kelamin ini menurut (Swerdolf dalam Khoiriyah. Sebuah rancangan keluarga yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang wanita. 2004) diartikan sebagai peran yang dilakukan individu didasarkan perbedaan jenis kelamin. Sehingga terpaksa berpisah dari suami. Setiap pasangan.1 BAB I PENDAHULUAN A.

Isteri yang tiba tiba harus menjalankan multi peran dan mengambil tanggung jawab penuh dalam keluarga. Kenyataan dimana isteri berfungsi menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anak mereka. pendidikan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dari Trisnawati yang merupakan seorang wanita single . baik dalam bidang ekonomi. dan berusaha menguatkan anggota keluarga atas persoalan yang dihadapi.2 Jumlah janda di Indonesia lebih banyak dari pada jumlah duda. cerai dan janda. Hal ini menunjukkan bahwa janda lebih tahan untuk hidup sendiri dari pada duda. hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo. 2005). 2002 (dalam Puspitadewi. merupakan kelompok terbesar di dunia. mengemukakan bahwa perbandingan jumlah janda di Indonesia adalah 469:100 artinya jumlah duda atau pria tidak menikah berusia 60 tahun keatas jumlahnya hanya seperlima dari jumlah janda. Dikemukakan pula bahwa kelompok wanita usia 60 tahun ke atas di Indonesia yang hidup sendiri atau tidak menikah. Hal ini dianggap biasa karena di dalam kehidupan masyarakat modern karena kesetaraan gender antara pria dan wanita sudah dapat dikatakan sama. maka prosentase untuk menikah lagi lebih besar pada duda daripada janda terlebih jika sudah mencapai usia 60-an. cara mengambil keputusan yang tepat untuk kelangsungan keluarga. Panjaitan (1993) menyatakan bahwa istilah janda atau duda. Orang tua tunggal adalah suatu kenyataan dan menjadi sebuah fenomena yang makin dianggap biasa dalam masyarakat modern. sehingga Indonesia layak disebut “negara janda”. muncul disebabkan apakah itu karena kematian ataukah perceraian.

2008). suka menyendiri. Mereka lebih banyak memilih untuk mengurus anak mereka sendiri tanpa suami. Namun. (Harian Kompas.3 parent dengan satu orang anak yang telah sukses mengelola berbagai bisnis dan sekarang menduduki berbagai posisi penting di beberapa perusahaan serta menjabat sekjen DKI Jakarta Ikatan Pembauran Pengusaha Perempuan Indonesia (Tempo. Kalau saya sendiri memang dari dulu sudah siap untuk berperan ganda. Makanya jika wanita tidak siap atau tidak mau berperan ganda. Wanita sebagai orang tua tunggal melaksanakan tanggung jawab mencari nafkah. Ada yang menjadi pemarah. 15 Oktober 2001). bagi anak yang tiba-tiba mendapati orang tuanya tidak lengkap lagi akan timbul rasa belum siap menghadapi rasa kehilangan salah satu orang tuanya sehingga akan terpukul. dan lain sebagainya. membiarkan diri mereka terkucil dari persahabatan dan . pendidikan. tidak perlu memaksakan diri untuk berperan ganda. ada yang suka melamun. Adapun penyebab menjadi orang tua tunggal tersebut karena (terpaksa) mengalaminya. menginformasikan bahwa : “Banyak di antara wanita bekerja yang mengalami stress karena tidak siap dengan peran gandanya tersebut. psiko seksual. dibalik keterpaksaannya itu muncul berbagai permasalahan yang timbul diantaranya adalah permasalahan ekonomi. mudah tersinggung.” Sedangkan menurut Glasser (dalam Santoso. dan kemungkinan besar berubah tingkah lakunya. entah karena bercerai atau pasangan hidupnya meninggal. sehingga banyak diantara mereka yang mengalami stress. 2004) mempunyai kecenderungan terisolasi. ritual keagamaan dan pola asuh anak.

memasak.4 pergaulan dunia luar. dengan demikian penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana para wanita sebagai orang tua tunggal menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. dan kondisi perekonomian yang sedang dalam masa resesi. yang berpengaruh terhadap naiknya harga-harga kebutuhan pokok sehingga biaya hidup semakin mahal dan sulit untuk dijangkau. mampukah wanita sebagai orang tua tunggal tersebut mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Ditengah berbagai masalah yang timbul para wanita sebagai orang tua tunggal tersebut haruslah mempunyai strategi pemecahan masalah di dalam dirinya supaya mampu dan mau untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri karena masalah itu timbul seiring dengan kondisi biologis. Dalam rumusan ini penulis mengajukan sebuah judul penelitian “ Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal“. menjahit. Simon de Beavior (dalam Ibrahim. Berdasarkan uraian diatas jelaslah wanita sebagai orang tua tunggal hidup dengan berbagai masalah dan kesulitan. 2002) menyatakan bahwa wanita banyak mengalami penurunan tingkat rasional dan sosial akibat dari (kurungan) tugas-tugas rumah tangga seperti mengurus suami dan anak-anak. perkembangan anak. . mencuci dan sebagainya.

2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah : (1) Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. C. . Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan pada pihak-pihak yang berkepentingan antara lain sebagai berikut : 1. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. Bagi masyarakat dapat dijadikan masukan agar dapat memeberikan dukungan kepada wanita sebagai orang tua tunggal. Bagi wanita sebagai orang tua tunggal dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsekwensi pilihan hidup menjadi wanita sebagai orang tua tunggal. (2) Alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. Bagi anak yang ibunya memilih menjadi orang tua tunggal agar dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menerima secara positif dan mempersiapkan diri terhadap pilihan hidup yang dibuat orang tuanya.5 B. 3.

hambatan. 2005) mengemukakan bahwa secara umum dan hampir semua ahli psikologi kognitif sepakat bahwa masalah adalah suatu kesenjangan antara situasi sekarang dengan situasi yang akan datang atau tujuan yang diinginkan (problem is a gap or discrepancy between present state and future state or desired goal). a. Sebagian ahli membedakan masalah menurut pengetahuan seseorang. sehingga dapat digolongkan menjadi masalah yang jelas dan tidak jelas. Sebagian ahli lain membedakan masalah menurut proses-proses kognitif yang terlibat dalam pemecahan masalah. gangguan. . Masalah dapat digolongkan menjadi berbagai jenis.6 BAB II LANDASAN TEORI A. tergantung dipandang dari sudut mana. Pemecahan Masalah 1. ketidak puasan atau kesenjangan. Anderson (dalam Suharnan. Hampir setiap hari orang dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang perlu dicari jalan keluarnya. Pengertian masalah Masalah atau problem merupakan bagian dari kehidupan manusia. Masalah seringkali disebut orang sebagai kesulitan. Pengertian pemecahan masalah 1.

sehingga individu bersifat menerima. Pengertian pemecahan masalah Menurut Rakhmat (2001) berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka pengambilan keputusan. 1. Morgan (dalam Gunarsa.7 Menurut Thurstone (dalam Walgito. serta memiliki bentuk dan tingkat kerumitan yang berbeda-beda tergantung bagaimana individu dapat menghadapi dan terlibat didalam masalah yang muncul. dan menghasilkan hal yang baru (creativity). memecahkan masalah. tetapi dapat juga bersifat negatif jika masalah tersebut menimbulkan perasaan tidak enak sehingga individu bersifat menolak. 2005) akan meliputi tiga komponen yaitu : . Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Adapun proses berfikir secara normal menurut Solso (dalam Suharnan. 1990) mengemukakan bahwa masalah adalah berbagai penyimpangan dari keadaan yang belum jelas. dan di dalam situasi tersebut mengandung suatu perintang bagi seseorang dalam mencapai tujuan. Apabila ada ketidaksesuaian dalam suatu situasi antara keadaan yang sebenarnya dengan tujuan. 1991) berpendapat bahwa individu dalam mengartikan suatu masalah akan bersifat positif bila masalah tersebut menimbulkan perasaan senang. Masalah selalu muncul dalam bentuk dan tingkat kerumitan yang bermacammacam. maka akan menimbulkan permasalahan.b.

tetapi dapat disimpulkan berdasarkan perilaku yang tampak. walaupun pada dasarnya tujuan pemecahan masalah adalah sama yaitu mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi. Aktivitas berfikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah. Pemecahan masalah adalah suatu proses mencari atau menemukan jalan yang menjembatani antara keadaan yang sedang dihadapi dengan keadaan yang diinginkan (Hayes. tidak tampak. Jadi.8 a. ruang masalah (problem space) sebagai jurang atau kesenjangan sangat menentukan tingkat kemudahan atau kesulitan pencarian pemecahan. dalam Suharnan. karena setiap individu berusaha sebisa mungkin untuk melakukan pemecahan masalah yang muncul dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan pengalaman masa lalunya. Berfikir merupakan suatu proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan didalam sistem kognitif. b. c. Chaplin (2001) dalam Kamus Lengkap Psikologi menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah proses yang tercakup dalam usaha menemukan urutan yang benar dari . Berfikir adalah aktivitas kognitif yang terjadi dalam mental atau pikiran seseorang. 2005). Evans (1991) mendefinisikan pemecahan masalah sebagai suatu aktivitas yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar atau cara yang cocok bagi tindakan dan pengubahan kondisi sekarang menuju pada kondisi yang diharapkan.

yaitu proses penggunaan pengetahuan seseorang untuk mengidentifikasikan sejumlah jalan atau cara yang akan ditempuh dan dianggap menjanjikan bagi pemenuhan pemecahan masalah. belajar. Pemecahan suatu masalah dapat dilakukan dengan insight atau pemahaman dalam memecahkan masalah berpikir mutlak diperlukan (Widayatun. Pemecahan masalah merupakan proses berpikir. Jadi kemampuan menyelesaikan masalah dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan aktivitas kognitif dan kecakapan individu dalam menyelesaikan permasalahan secara efektif yang meliputi usaha individu untuk memikirkan.9 alternatif-alternatif jawaban mengarah pada satu sasaran atau ke arah pemecahan yang ideal. 1999). adalah individu yang dihadapkan pada persoalan yang mendesak dan perlu dilakukan pemecahan atau mencari solusi dengan berpikir. semua jalan keluar ditempuh atau dicari tanpa ada pengetahuan khusus. Hal ini didukung oleh pendapat Billing’s dan Moos (Susilowati. 2005) strategi penemuan jalan pemecahan dapat dibedakan menjadi dua: penemuan secara acak. Pemecahan masalah. 2004) yang menyatakan bahwa menyelesaikan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada cara-cara penyelesaian masalah secara langsung. dan penemuan melalui strategi heuristic. Sedangkan menurut Hayers (dalam Suharnan. memilih . mengingat serta menjawab atau merespon dalam bentuk pengambilan keputusan.

. 2. Lama waktru yang dibutuhkan untuk mengerti permasalahan berbedabeda bagi setiap orang. dan keakraban seseorang terhadap persoalan tersebut. b. membagi menjadi tiga tahap atau langkah dalam memecahkan suatu masalah. Tahapan pemecahan masalah Individu pada kenyataannya tidak selalu dapat menyelesaikan masalah yang datang padanya. dan memilih salah satu di antara hipotesis-hipotesis itu. Penemuan berbagai hipotesis mengenai cara pemecahan. Perbedaan ini sangat tergantung pada hakekat permasalahan terutama dalam penampakannya. seseorang harus terlebih dahulu memahami dan mengenali gambaran pokok persoalan secara jelas. yaitu: a. Dalam menghadapi masalah individu terkadang menggunakan suatu cara lain walaupun menghadapi suatu permasalahan yang sama. Setelah memahami masalah yang dihadapi kemudian seseorang memilih dan menententukan hipotesis berdasarkan dari hakekat yang permasalahan yang dihadapi. Pemahaman masalah (Problem Understanding) Agar dapat diperoleh suatu pemecahan yang benar. informasi disekitar persoalan.10 dan mempertahankan alternatif jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. Sedangkan menurut Evans (1991).

menjelaskan langkah-langkah dalam memecahkan masalah. Pengenalan masalah Suatu masalah dikenali melalui perbedaan antara apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu situasi (aktual) dan apa yang seseorang inginkan untuk terjadi (optimal). d. Pelaksanaan dan evaluasi Melaksanakan berarti melakukan atau menerapkannya tindakan. Setelah berpikir tentang area-area permasalahan ini selanjutnya memfokuskan pada satu masalah tertentu. Definisi masalah Setelah mengenali masalah maka pernyataan masalah harus spesifik. perlu dibuat dukungan hasil-hasil positif dan negatifnya. b. Menurut Monica (1998). yaitu : a. Setelah seseorang menentukan pilihan tindakan maka tindakan itu harus .11 c. Untuk setiap pilihan tindakan. c. Pilihan tindakan Pilihan tindakan masalah merupakan beberapa jalan keluar dari masalah. Menguji hipotesis Agar diperoleh pemilihan hipotesis yang terbaik maka selanjutnya seseorang harus menguji dari beberapa hipotesis yang ada kemudian dipilih untuk mendapatkan hipotesis terbaik terhadap persolan tersebut.

mengumpulkan informasi berkaitan . c. Memahami masalah Langkah pertama untuk memecahkan masalah adalah menetapkan secara tepat apa masalahnya. b. evaluasi muncul sebagai sebuah tanggung jawab dan tetap penting sampai tindakan telah selesai dilakukan. Sebelum pelaksanaan. secara umum terdapat empat langkah untuk memecahkan masalah: a. Menyeleksi solusi Setelah menentukan masalahnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan penyelesaian masalah individu akan melalui beberapa tahap antara lain : mengenali atau mengidentifikasi masalah yang dihadapi.12 dilaksanakan. Mengevaluasi hasil Yaitu meliputi pengecekan fakta baik yang menguatkan maupun yang melemahkan dari solusi masalah serta mengidentifikasi solusi yang terbaik. Memutuskan rencana d. Yaitu dengan menemukan informasi yang relevan pada masalah yang ada. kemudian merencanakan strategi dengan menyimpulkan bahwa situasi yang ada sama seperti masalah sebelumnya dan mencoba apa yang berhasil sebelumnya. Menurut Woolfolk dan Nicolich (2004).

Aspek-aspek kemampuan memecahkan masalah Menurut Rakhmat. pelaksanaan pemecahan masalah berdasar dari alternatif yang dipilih serta melakukan evaluasi. Kepercayaan dan sikap yang tepat Asumsi yang tepat terhadap kerangka rujukan yang cermat membantu efektifitas pemecahan masalah. c. Motivasi Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian. menentukan alternatif pemecahan masalah sekaligus menentukan prioritas alternatif yang baik. Fleksibilitas Keluwesan berpikir dalam melihat permasalahan dari berbagai sisi serta kritis membantu pemecahan masalah. Semakin besar keinginan dari dalam diri individu untuk segera memecahkan masalah membuat pemecahan masalah berjalan dengan baik. 3. Sifat terbuka terhadap informasi serta memahami dan mengakui kekeliruan akan mempermudah pemecahan masalah. b.13 dengan masalahnya. (2001) berhasil tidaknya suatu pemecahan masalah yang dilakukan oleh seseorang dapat diketahui dari beberapa hal. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas. . yaitu : a.

Para ahli menganjurkan pembelajaran emosi dimulai sejak kecil agar ada taraf perkembangan selanjutnya emosi terbiasa ditata dan dikontrol dalam menghadapi masalah. mencari waktu yang cukup untuk memecahkan masalah serta menentukan tujuannya. serta berpikir tentang alternatif pemecahan masalah.14 d. Sebagai manusia yang utuh tidak dapat mengesampingkan emosi. 2006) mengungkapkan adanya tiga aspek yang berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah. mengetahui sumber kekuatan di luar diri yang bisa membantu memecahkan masalah. Emosi Dalam menghadapi masalah tidak disadari emosi sering terlibat di dalamnya. tetapi bila sudah mencapai intensitas tinggi akan menimbulkan kesulitan untuk berpikir efisien yang menghambat pemecahan masalah. Berpikir positif tentang masalah yang dihadapi Yaitu diharapkan seseorang menjadi pencari masalah. b. Berpikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah Yaitu melihat diri sebagai orang yang dapat menyelesaikan masalah. yaitu: a. sehingga menyebabkan individu berpikir secara tidak objektif. . Anderson (dalam Paryanti. berpikir tentang ketidaknyamanannya dan menanyakan apa yang menyebabkan ketidaknyamanannya. Emosi bukan hambatan utama.

serta berpikir sistematis. fleksibilitas berpikir dan emosi. b. berpikir positif tentang masalah yang dihadapi dan tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. kepercayaan dan sikap yang tepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah ada sebagai berikut : a. 4. Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah yang merupakan . Inteligensi Ester (dalam Walgito. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek pemecahan masalah meliputi : motivasi. cepat atau lambatnya tergantung dari tingkat inteligensi individu yang bersangkutan. Berpikir sistematis Yaitu berhenti dan berpikir. 1991) mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. akan tetapi merencanakan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah.15 c. Usia Sejalan dengan bertambah usia maka individu akan semakin matang dan kemampuan pemecahan masalah akan semakin bertambah. Faktor inteligensi dianggap memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan pemecahan masalah. tidak dengan langsung mengambil keputusan.

Dagun (1990) berpendapat bahwa wanita diperbolehkan bersandar secara emosional pada pria. Suardiman (1992). Semakin tinggi tingkat kreativitas individu. c. 1994). Dalam konsentrasi keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan sehingga tidak diperhitungkan sekedarnya. Jenis Kelamin Pria kebanyakan lebih mampu melakukan pemecahan masalah daripada wanita. dalam Paryanti 2006). . karena pria dituntut untuk tidak tergantung pada orang lain tetapi harus bertahan. Di samping itu secara kodrati perempuan cenderung untuk menggunakan perasaannya dalam menghadapi masalah. mengatakan bahwa konsentrasi adalah pemusatan segenap kekuatan pada situasi tertentu. Pria lebih menggunakan rasio sehingga dalam pemecahan masalah dibutuhkan ketegasan dan rasionalitas dalam menghadapi masalah. Kreativitas Merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar.16 produk dari kemampuan berpikir yang lebih sempurna yang ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional (Mappiare. semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan. d. Konsentrasi Konsentrasi dalam memecahkan masalah mutlak diperlukan. e. Selanjutnya Suardiman mengatakan bahwa konsentrasi seseorang terhadap suatu masalah mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah.

. Pengalaman Thornton (dalam Shapiro. pengalaman.17 f. konsentrasi. jenis kelamin. usia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah adalah : inteligensi. 1997) menyimpulkan bahwa pemecahan masalah yang berhasil tidak begitu bergantung pada kecerdasan individu tetapi lebih kepada pengalaman mereka. kepercayaan diri dan lingkungan sosial. g. h. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. Kepercayaan diri Astono (2001) mengungkapkan bahwa tumbuhnya kepercayaan diri akan mendorong dan merangsang individu dalam mencoba dan mencari baru untuk dipecahkan. Monks. kreativitas. Lingkungan sosial Yaitu lingkungan dimana individu mengadaptasi cara-cara penyelesaian masalah melalui komunikasi dalam keluarga. dkk (2002).

Mereka mengatakan bahwa kaum ibu tidak akan mampu memainkan peran ayah. sejak kematian suami. sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya. seorang ibu sekalipun dirinya wanita harus pula menduduki posisi sang ayah dan bertanggung jawab dalam menjaga perilaku serta kedisiplinan anaknya. sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah.18 B. ia memiliki tanggung jawab yang jauh lebih sulit dan berat ketimbang sebelumnya. kini dengan tugas baru yang harus diembannya itu. niscaya anda mampu memainkan kedua peran tersebut dengan baik dan sempurna. Dalam pada itu ia akan memiliki dua bentuk sikap. Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal Menurut Qaimi (2003) seorang wanita sebagai orang tua tunggal adalah suatu keadaan dimana seorang wanita akan menduduki dua jabatan sekaligus. Disini perlu ditegaskan bahwa ketika anda mempunyai kemauan keras. Tolok ukur keberhasilan seorang wanita dalam mendidik anaknya terletak pada kemampuannya dalam menggabungkan kedua peran dan tanggung jawab tersebut. serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga. dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan tata tertib. . Tidak ada salahnya kalau disini kita membuang gambaran buruk yang melekat di masyarakat. Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal 1. Peran sebagai ayah. tanpa menjadikan sang anak bingung dan resah.

yang kemudian disepakati mulai tahun 1984 bulan Maret tanggal dijadikan hari orang tua tunggal.singleparents.20/05/08) Penetapan dan peringatan tanggal 21 Maret sebagai hari orang tua tunggal sedunia yang diadakan sejak tahun 1984. tatkala berdirinya kolaborasi sebuah organisasi “Parents Without Partners”. Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal a. Bertujuan untuk memonumentalkan hari orang tua tunggal telah ada sejak tahun 1957.htm. Perceraian. Memiliki suami tetapi tidakberdaya ketika diuji dengan suatu penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya. c.com/artikel. jika ibu tunggal muda. . muda dan berhasil juga (http/:spotnews. Keluarga Ibu tunggal cenderung dipandang prejudice.htm. (http/:spotnews. Lingkungan sekitar akan mengabaikan kalau ibu tunggal tadi selain cantik.com/artikel.19 Berdasarkan pengalaman. seorang ibu tunggal dengan dua orang anak menetapkan hari orang tua tunggal sebagai variasi dari hari ibu dan hari ayah di dalam artikel yang ditulisnya.20/05/08) 2. cantik dan berhasil dari sisi materi. yang diprakasai Janice Moglen. ternyata kaum wanita mampu memainkan kedua peran tersebut.singleparents. gosip negatif dan sinis akan melingkupi percakapan harian tentang dia di daerah tempat tinggalnya. Menurut SPOTNEWS Ibu Tunggal seringkali tidak dipandang sama dengan keluarga utuh yang lengkap dengan Ayah dan Ibu. Mencukupi kebutuhan finansial keluarga seorang diri b.

Islam tidak membenarkan kepemimpinan dalam sebuah masyarakat. hingga sebuah rumah tangga.3 Vol. dan karena apa yang mereka nafkahkan dari harta mereka…” Artinya. perceraian dan berpisah karena takdir-Nya (kematian). “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita.6. namun adakalanya . Sehingga wanita sebagai orang tua tunggal selalu menerima kenyataan menjalankan multi perannya di dalam keluarga dan selalu berusaha secara mandiri dan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan anaknya bukan hanya secara finansial saja tetapi juga karakteristik individunya. Berpisah karena takdir-Nya (kematian). ketidakberdayaan suami ketika diuji dengan suatu penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya. thn 2007) secara umum bahwa asal dari kepemimpinan dalam keluarga pada dasarnya ditangan suami. Berdasarkan uraian di atas. Penyebab wanita menjadi orang tua tunggal Menurut majalah Nikah (No. idealnya seorang suami adalah sebagai pemimpin dalam sebuah rumah tangga.20 d. bila dipegang oleh wanita. dengan keutamaan yang Allah berikan kepada sebagian mereka atas sebagian lain. Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ : 34. dapat diartikan bahwa wanita sebagai orang tua tunggal adalah pilihan hidup yang dipilih seorang ibu dengan seluruh konsekuensi yang harus diterima dan dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat. 3.

psiko seksual. tetapi mau tidak mau harus dijalani ketika seorang wanita (isteri) harus menjalankan multi peran. seorang ibu sekalipun dirinya wanita harus pula menduduki posisi sang ayah dan bertanggung jawab dalam menjaga perilaku serta kedisiplinan anaknya. Dalam kehidupan manusia sehari-hari manusia pasti dihadapkan atas berbagai pilihan yang terkadang terasa berat. Penyebab terjadinya wanita memegang kendali penuh dalam keluarga pun sangat beragam. atau berpisah karena takdir-Nya yaitu ada satu fihak (suami) yang meninggalkan dunia fana terlebih dahulu dibanding isterinya dan halhal lainnya. pendidikan anak.21 kepemimpinan dipegang seorang wanita. menerima kenyataan yang berpisah dari suami. ritual keagamaan. dan tidak sedikit pula wanita yang akhirnya memutuskan untuk tetap menjanda dan tidak mencari suami lagi sampai akhir hayat mereka. harus menghadapi permasalahan ekonomi. sejak kematian suami. hal itu terpaksa dilakukan oleh wanita ketika suami tidak atau kurang bisa memegang kendali penuh dalam kehidupan keluargannya. perceraian. Ketika wanita ditinggal oleh suaminya maka kendali penuh dalam keluarga dipegang oleh isteri. dari mulai ketidakberdayaan suami ketika diuji dengan suatu penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya. cara mengambil keputusan yang tepat untuk . isteri berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup anak-anak dan keluarganya.

Bagi anak yang masih kecil dan belum memahami hakikat kematian. bagi mereka yang tak meyakini adannya kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini. dan berusaha menguatkan anggota keluarga atas persoalan yang dihadapi hanya seorang diri. Ia mungkin hanya menangis. menjerit. Kehancuran rumah tangga sebagai akibat dari kematian. Adalah manusiawi bila seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya menjadi bingung dan gelisah.) Tidak nafsu makan .22 kelangsungan keluarga. Dan itu dilakukannya lantaran adannya tangisan dan jeritan orang lain. Menurut Qaimi (2003) beberapa penyebab seorang wanita menjadi orang tua tunggal adalah : a. Juga. merupakan sebuah kehilangan yang teramat berat. dan meneteskan air mata. Rasa takut akan kematian disebabkan oleh berbagai bayangan dan khayalan manusia mengenai kematian itu sendiri. Kematian disini dapat berarti terpisahnya suami-istri karena takdir yang telah ditentukan dan menjadi sebuah kata yang menakutkan dan mengerikan bagi mereka yang meyakini bahwa kematian merusak kebahagiaan. Kematian Kematian memang menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap perasaan dan kejiwaan dalam rumah tangga. dan belum mengerti tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi setelah kematian itu bukanlah suatu yang begitu berat. Adapun pengaruh kematian ayah terhadap seorang anak antara lain sebagai berikut : (1.

sebenarnya telah kehilangan tempat berlindung dan bersandar. Secara tiba-tiba. ini menyebabkan rasa tidak aman. muncullah berbagai dampak yang lain. perasaan semacam ini baik pada anak-anak ataupun dewasa. akibatnya. ia akan melompat atau kelopak mata dan telingannya bergerak-gerak sendiri tanpa disadari atau tanpa dikehandaki. (2.) Perubahan pada raut wajah Karena tidak mengkonsumsi makanan secara sempurna sebagai akibat berkurangnya nafsu makan. mengalami depresi. dalam berapa kasus dapat mengganggu sistem pencernaannya. ia akan menderita.) Gangguan Pencernaan Perasaan sedih dan duka pada diri anak. dan konstraksi batin.23 Seorang anak kehilangan ayah atau ibu. (4.) Gerakan tak terkontrol Yang dimaksud disini adalah gerakan syaraf sebagai tanda terjadinya pergolakan jiwa. mengakibatkan melorotnya nafsu makan. (3. . Akibatnya. (5. keinginan tak terpenuhi. sehingga tak dapat bekerja secara baik dan normal. dan mengasingkan diri.) Pertumbuhan badan yang terganggu Karena hilangnya nafsu makan dan tak mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang diperlukan tubuh maka pencernaan anak akan mengalami gangguan sehingga tubuhnya tak dapat lagi tumbuh dengan baik.

ketika bangun dan tak melihat ayah disampingnya. ia pun tak dapat tidur kembali. seperti perubahan raut wajah anak. bagi anak akan menjadikan teladan. yang selalu mengawasi dan mengarahkan kehidupan anak-anaknya dengan benar. tidak adannya ketentraman batin. Kesyahidan disini dapat diartikan meninggalnya suatu hamba karena membela agama Allah. Ini lantaran rasa sedih. bila sang ibu merupakan seorang wanita cerdas dan bijaksana. sendu dan kekuning-kuningan. bisa saja di awal peristiwa kesyahidan. Sekalipun dapat tidur maka tidurnya pun tidak pulas dan lama. panutan. (7. Kesahidan Adakalanya. (6.) Waktu istirahat tak teratur Perasaan sedih dan duka seorang anak atas kematian ayah. sang anak . dan idola dalam dirinya. dapat mengganggu waktu tidur dan beristirahat dengan baik. b. Juga. setelah kesyahidan ayahnya.) Penyakit Kesedihan dan perasaan duka yang dipendam itulah yang menyebabkan munculnya penyakit dalam diri anak. Wajahnya terlihat muram. sang anak berada dalam keadaan atau suasana yang tak begitu menyedihkan.24 maka terbukalah peluang bagi terwujudnya berbagai ketidak-seimbangan. Dalam keadaan tertentu. Ia pun terjaga. guncangan pikiran dan pengucilan diri. Keadaan ini terutama terjadi pada anakanak yang hidup dalam sebuah rumah tangga yang sibuk atau tak memiliki hubungan baik dengan ayah sewaktu masih hidup.

) Kesulitan belajar dan menuntut ilmu Anak mengalami kesulitan menghubungkan pelajaran yang telah lalu dengan sekarang.25 merasakan kebahagiaan. Namun. guncangan kejiwaan memaksa anak menahan berbagai keinginan dan tuntutan yang biasa dan wajar.) Berharap dan menanti Adakalanya. (4. Adapun pengaruh rasa kehilangan terhadap anakanak antara lain sebagai berikut : (1. Boleh jadi pandangannya tertuju pada guru atau papan tulis. ketika telah memiliki pengetahuan tentang rahasia kehidupan dan kematian serta air mata. (2. sehingga menjadikannya memiliki tingkat kecerdasan yang jauh lebih rendah dari teman-teman sebayannya. dikemudian hari. namun pikirannya melayang dan terbang ketempat lain. (3. Atau mereka tidak mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu untuk meraih tujuan dan cita-cita masa datang. namun. ia pun tak mampu lagi menahan tangis dan kesedihannya.) Pengaruh terhadap pikiran dan kecerdasan Karena anak terlalu lama tenggelam dalam perasaan sedih dan duka maka pertumbuhan otaknya akan terganggu dan melemah. terdapat juga berbagai kondisi yang merupakan kebalikan dari sikap dan kondisi anak-anak diatas.) Tujuan dan cita-cita Anak biasanya tenggelam dalam kesedihan yang menimpannya sehingga tidak mampu menyusun program yang akan dikerjakannya di masa datang. .

Hasil penelitian Dr. di mana baik suami atau isteri tidak . (6. sehingga tidak memiliki perilaku yang normal dan stabil. meskipun ini jarang terjadi. terlebih pada usia tiga tahun pertama. Perceraian Sedangkan perceraian disini dapat berarti berakhirnya sebuah rumah tangga. Mereka menjadi gila dan tenggelam dalam khayalan serta angan-angan. Bahkan anak-anak anak melakukan perbuatan tercela. Ini bukan hanya menimpa anakanak namun juga orang dewasa. serta berperilaku buruk. Ini biasanya dialami anak-anak yang selalu dimanja atau diagungkan. dengan berbagai alasan sehingga dibubarkan.) Kelainan jiwa Boleh jadi. merasa terhina dan rendah diri. akan memberikan dampak dan pengaruh yang tidak baik secara kejiwaan dan kepribadian. bermuka-masam. meskipun itu berkaitan dengan masalah remeh. c. (5. membangkang.26 Yakni mereka tidak rela hak-haknya dirampas atau diabaikan. bila diasuh dan dibimbing dengan baik pertumbuhan dan perkembangan mental serta kepribadiannya akan mengalami gangguan.) Kepribadian dan mental Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak miskin dan tidak berayah. John Balby menunjukkan bahwa keterpisahan dalam rentang waktu yang cukup panjang. peristiwa kematian tersebut mengakibatkan munculnya kelainan jiwa.

dan idola. hanya terbentuk perasaan kehilangan tempat bergantung dan mungkin merasa bahwa kelangsungan hidup mereka tengah dalam bahaya. Sementara bagi anak perempuan.4 thn. Itu jika orang tua mereka tidak menikah lagi. tetapi jika kedua orang tuanya menikah lagi ini akan memberikan efek yang buruk pada anak karena anak merasa berbeda dengan teman-temannya anak merasa mempunyai dua ayah dan dua ibu.5 Vol. dan melakukan tindakan kasar.27 menjalankan tugasnya masing-masing. Bertapa banyak anak lelaki mengalami berbagai penderitaan. Ia akan kebingungan. . figur.2005) Bagi anak yang masih kecil dan belum memahami perceraian. entah karena bekerja atau lain sebagainya. bagi anak laki-laki akan melahirkan teladan. dan belum mengerti tentang berbagai peristiwa yang terjadi setelah perceraian. gangguan jiwa. Menurut majalah Nikah (No. Sementara bagi anak perempuan tidak terlalu demikian. d. dan menangis. Ditinggal suami bekerja/ berjihat Ayah yang berjihat. mendapat perhatian yang berlebih sehingga dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya. atau sekarang dapat diartikan ayah yang karena sesuatu hal harus tinggal terpisah dari keluarga. Bahkan terkadang kehilangan akan keberaniannya. Oleh karena itu. tidak terdapat rasa saling memaafkan dan menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing. pengaruh yang muncul dari peristiwa tersebut lebih banyak menyentuh anak laki-laki dari pada anak perempuan. mau tinggal dengan siapakah ia kelak.

sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan tata tertib. serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga. sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya. Alasan-alasan yang melatar belakangi adannya pemecahan masalah. . Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal adalah kemampuan dan kecakapan wanita sebagai orang tua tunggal dalam menyelesaikan permasalahan secara efektif yang meliputi usaha untuk memikirkan.28 C. memilih dan mempertahankan alternatif jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan ditengah pilihan hidup yang dipilihnya ketika menduduki dua jabatan sekaligus. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan pertanyaan penelitiannya adalah : 1. Dan harus memiliki dua bentuk sikap. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya. D.

Gejala Penelitian Gejala Penelitian yang akan penulis teliti adalah : 1. sebaliknya semakin tepat metode yang digunakan diharapkan semakin baik pula hasil yang diperoleh karenanya berhasil tidaknya suatu penelitian bergantung pada ketepatan dalam menentukan metode yang digunakan. Kesalahan dalam menentukan metode akan mengakibatkan kesalahan dalam mengambil data serta keputusan. Wanita sebagai orang tua tunggal B. A. Definisi Operasional Gejala Penelitian Dalam penelitian ini definisi gejala penelitian yang akan penulis teliti adalah sebagai berikut : . dimana peneliti ingin mengungkap gejala penelitian secara menyeluruh sesuai dengan konsteknya melalui pengumpulan data dari latar alami. Hadi (1990) mengutarakan bahwa metode merupakan masalah yang penting dalam penelitian dan sangat mempengaruhi dari hasil penelitian yang dilakukan. Pemecahan masalah 2.29 BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kualitatif.

konsentrasi. Wanita sebagai orang tua tunggal adalah wanita yang mempunyai anak dengan pernikahan sebelumnya. adapun faktor yang mempengaruhi adalah berdasarkan kemampuan inteligensi. 4. Alasan pemecahan masalah adalah dasar yang dipilih dan dilakukan informan untuk mengatasi kesulitan. hambatan. usia. memilih dan mempertahankan alternatif dari sebuah jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan di dalam keluarganya. Pemecahan masalah. Faktor-faktor pemecahan masalah adalah.30 1. kreativitas. 2. gangguan. 3. kepercayaan diri dan lingkungan sosial yang berbeda. hal-hal atau unsur yang mempengaruhi para informan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. adalah sebuah kemampuan aktivitas kognitif dan kecakapan diri yang dimiliki oleh informan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi di dalam keluarganya secara lebih efektif yang meliputi usaha informan untuk memikirkan. ketidak puasan atau kesenjangan yang dialaminya antara harapan dan kenyataan. . dan belum menikah kembali setelah ditinggal oleh suaminya baik karena perceraian atau kematian sehingga berperan sebagai ibu dan ayah di dalam keluargannya. pengalaman. alasan dan faktor yang digunakan informan dalam memecahkan masalahnya akan digali menggunakan metode wawancara. jenis kelamin. Pemecahan masalah yang dipilih.

31 C. (c) Remaja (berusia 15 tahun). (b) Anak usia sekolah dasar (berusia 9 tahun). Tabel 1. 2008 . Adapun kriteria usia anak informan penelitian meliputi : (a) Anak balita (berusia 5 tahun). Adapun karakteristik pekerjaan informan penelitian meliputi : (a) Wiraswasta (b) Pegawai Negeri (c) Janda pensiunan Polisi (d) Pegawai Swasta. (d) Dewasa Awal (berusia 22 tahun). Informan Penelitian Informan yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 4 orang yang merupakan janda yang membesarkan anak seorang diri. Karakteristik informan penelitian Karakteristik Informan Umur Tingkat Kreteria Pekerjaan pendidikan anak SMA Remaja 15 tahun Janda pensiunan polisi Alamat Lama Penyebab menjanda menjadi janda 13 Tahun Meninggal karena sakit Meninggal karena sakit Meninggal karena kecelakaan Meninggal karena kecelakaan M 47 Tahun 54 Tahun 45 Tahun 36 Tahun Manahan Y SMA Dewasa Wiraswasta Jagalan awal 22 tahun Pegawai Anak usia SD swasta 9 tahun Balita 5 PNS Tahun Sumber 15 Tahun TRS SMA 2 Tahun ES S1 Gawanan 5 Tahun Sumber data primer. dan peneliti menggunakan informan sebanyak 4 orang. Variasi informan yang akan dilihat peneliti dalam penelitian ini didasarkan pada pekerjaan informan dan usia anak pada masing-masing informan penelitian.

2001). Wawancara dalam penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti sendiri. Sementara Nasution (1992) menyatakan bahwa wawancara dilakukan untuk mengetahui apa yang terkandung dalam hati dan pikiran orang lain. dimana peneliti langsung berhadapan dan mewawancarai subjek penelitian. Wawancara Menurut Narbuko dan Achmadi (1997) wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan keterangan. bagaimana pandangannya tentang dunia. yaitu hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui observasi. maka pembicaraan selama wawancara sedapat mungkin direkam dengan tape recorder. Metode dan Alat Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode : 1.32 D. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah guide interview yang akan disampaikan kepada subjek yaitu sebagai berikut : . Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yang menggunakan petunjuk umum wawancara yaitu jenis wawancara yang mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok “yang ditanyakan” dalam proses wawancara (Moleong. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung. Agar data yang diperoleh sesuai dengan apa yang disampaikan oleh subjek.

3. Bagaimana ketika ada masalah dalam keluarga. . apakah ibu berusaha memecahkan masalah yang dihadapi seorang diri tanpa bantuan orang lain? 1. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Aspek psikologis Aspek kognitif Indikator Perilaku 1. dan bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikannya? 1. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. Bagaimana ketika ibu mandapatkan masalah didalam keluarga dan bagaimana menentukan tindakan yang ibu pilih? apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi selanjutnya? 1.33 Tabel 2. fleksibilitas. Berfikir sistematis 4. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi Pertanyaan Apakah yang ibu pikirkan ketika ada suatu permasalah dalam keluarga ibu. Bagaimanakah ibu menempatkan diri apabila masalah yang ibu hadapi keluarga harus melibatkan orang lain? 1 2.

34 Aspek afektif Emosi 1. Bagaimana perasaan ibu pada anak-anak dan bagaimana penyesuaian diri ibu pada saat masa awal ditinggal oleh suami? 2. Bagaimana ketika ada masalah dalam keluarga ibu. 2008 Sedangkan guide interview yang digunakan dalam wawancara dengan orang terdekat informan mengacu pada guide interview sebagai berikut : . Motivasi 1. Kepercayaan dan sikap yang tepat Sumber data primer. apakah ibu ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya? 1. Apakah ada keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ketika ada masalah dalam keluarga ibu dan apakah ibu selalu mau menerima bantuannya? Apabila mau menerima bantuannya bagaimana ibu mempercayai dan menyikapinya? 2. Bagaimana perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam diri keluarga ibu? Aspek psikomotor 1.

Sejauh mana anda mengenalnya? 1. Pendapat significant person terhadap informan. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal untuk wawancara dengan Significant person. Permasalahan yang dihadapi Kepercayaan dan sikap yang tepat 4. mencatat fenomena yang muncul. Kehidupan rumah tangganya Berfikir sistematis 3. dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Sejauh mana anda terlibat dalam kehidupan rumah tanggannya? 1. dan . Bagaimana tentang sosialisasinya? 2. Apakah pernah ibu… menceritakan tentang masalah keluargannya? 2. Daftar Pertanyaan 1. Bagaimana kehidupan rumah tangganya menurut sepengetahuan anda? 1. Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari. 2008 2. Apakah anda mengenal ibu…? 2.35 Tabel 3. orang-orang yang terlibat dalam aktivitas. aktivitas-aktivitas yang berlangsung. Observasi Menurut Banister (Poerwandari. Aspek 1. Identitas Indikator perilaku fleksibilitas. Bagaimana tanggapan anda mengenai ibu…? 2. 1998) istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat. Emosi Sumber data primer.

Selain itu memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari dan juga memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara. Pakaian yang dikenakan ketika wawancara. sehingga dengan sendirinya juga dapat mengembangkan analisis yang lebih akurat saat menginterprestasi seluruh data yang ada (Poerwandari. berorientasi pada penemuan daripada penelitian.36 makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. b. Observasi yang digunakan bersifat deskriptif. c. a. Hal-hal yang diobservasi Kondisi fisik. yaitu mencatat data konkret berkaitan dengan fenomena yang diamati agar memungkinkan pembaca untuk dapat memvisualisasikan setting yang diamati. Guide observasi Aspek 1) Fisik a. 1998) menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka. b. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah guide observasi yang akan dijadikan pedoman dalam pengamatan terhadap subjek yaitu : Tabel 4. pengamat meminimalkan biasnya. Bahasa tubuh informan Ekspresi wajah Emosi informan ketika 2) Psikologis . Sikap subjek ketika wawancara. Patton (Poerwandari. Dengan uraian deskriptif. 1998). c.

Moleong (2001) membagi 4 kriteria keabsahan data yaitu : 1) Keteralihan (transferability) Keteralihan sebagai persoalan empiris yang bergantung pada kesamaan konteks pengirim dan penerima. Keteralihan dilakukan dengan cara uraian rinci (thick description) dimana peneliti melaporkan uraian hasil penelitian yang dilakukannya dengan teliti dan cermat sehingga mengambarkan kontek tempat penelitian diselenggarakan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Kebergantungan dan kepastian dapat . 3) Kepastian (confirmability). Sumber data primer. Suasana ruangan dilakukannya wawancara.37 3) Lingkungan wawancara d. Objektifitas dalam penelitian kualitatif menghendaki penekanan bukan pada orang. Interaksi informan dengan orangorang disekitarnya a. Keabsahan data / Trustworthiness Menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. 2008 E. 2) Kebergantungan (dependability) Penganti istilah reliabilitas dalam penelitian nonkualitatif. melainkan pada data. Lingkungan fisik dilakukannya wawancara b.

dimana peneliti akan membandingkan apa yang dikatakan orang terdekat informan dengan apa yang dikatakan informan. dokumen tertulis dan tidak tertulis ataupun bentuk-bentuk non angka lainnya. 4) Kepercayaan (credibility). Metode Analisis Data Analisis data merupakan satu langkah yang sangat kritis dalam suatu penelitian (Suryabrata. Nasution (1992) menyatakan bahwa analisis data adalah proses menyusun data. . F.2004) mendefinisikan analisis isi sebagai metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik. Berdasarkan jenis data tersebut maka teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah content analysis (analisis isi atau kajian isi). tetapi lebih banyak berupa narasi. obyektif.38 dilakukan dengan penulusuran audit (audit trail). mengkategorikan data. mencari pola atau tema dengan maksud untuk memahami maknanya. dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak. 1992). proses ini didasarkan pada catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan proses dan hasil studi. deskripsi. cerita. Lebih lanjut dikatakan bahwa analisis data adalah cara peneliti dalam mengolah data yang terkumpul sehingga mendapatkan suatu kesimpulan penelitian. Poerwandari (1998) mengemukakan bahwa data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka. Berelson (Bungin. Data-data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi.

2001) menyatakan bahwa kajian isi adalah teknik yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan. dan dilakukan secara obyektif dan sistematis. .39 Sedangkan Holsti (Moelong.

Kemudian penelitian informan kedua dilakukan di daerah Jagalan pada tanggal 9 September 2008. latar belakang ekonomi. Persiapan Penelitian Tahap persiapan penelitian merupakan tahap yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian. sedangkan penelitian informan ketiga dilakukan Sumber pada tanggal 18 September 2008. Adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. ketiganya berasal dari Kelurahan yang berbeda-beda. Sedangkan 1 informan yang ada di Karanganyar Bekerja sebagai PNS (guru). dan jumlah serta umur anak yang berbeda-beda. Orientasi lapangan Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu di kota Surakarta dan Karanganyar. Informan yang ada di Surakarta sebanyak 3 orang yang menghidupi keluargannya sebagai Wiraswasta (penjahit). dan penelitian informan keempat dilakukan di daerah Gawanan Colomadu pada tanggal 24 September 2008. . dan Pegawai Swasta (buruh harian lepas). Janda pensiunan POLRI. tingkat pendidikan. Penelitian pada informan pertama dilakukan di daerah aspol Manahan pada tanggal 9 September 2008. Keempat informan tersebut memiliki usia.40 BAB IV LAPORAN PENELITIAN A. Informan yang digunakan sebagai sampel sebanyak 4 orang.

antara lain : a. Pedoman tersebut mengalami pengembangan dan penyempitan. Pedoman wawancara. Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2008.41 2. b. . dengan subjek penelitian sebanyak 4 orang wanita sebagai orang tua tunggal yang telah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya dan belum menikah lagi. Dalam penyusunan pedoman wawancara berdasarkan pada pertanyaan penelitian. artinya pedoman yang digunakan dapat diubah sesuai dengan situasi dan kondisi penelitian sehingga diharapkan akan terkumpul data yang diantaranya menjawab pertanyaan penelitian tersebut. Penyusunan pedoman observasi dilakukan untuk lebih memfokuskan hal-hal yang akan diobservasi serta memperkecil kemungkinan terlewatnya hal-hal penting yang harus diobservasi. B. Informasi tentang keberadaan subjek diketahui penulis melalui orangorang yang dekat dengan penulis dan juga dekat dengan informan penelitian. yang terdiri dari 3 orang informan yang bertempat tinggal di Surakarta dan 1 orang informan yang bertempat tinggal di Karanganyar. Pedoman observasi. Persiapan alat pengumpul data Penulis mempersiapkan beberapa alat pengumpul data untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini.

S SMA S1 45 Tahun Usia SD 9 tahun Buruh Sumber 2 Tahun Meninggal karena kecelakaan 36 Tahun Balita 5 tahun Guru Gawanan 5 Tahun Meninggal karena kecelakaan Sumber data primer. Karakteristik Informan Penelitian Keterangan Nama Informan Tingkat pendidikan Umur Kriteria anak Pekerjaan Alamat Lama menjanda Penyebab informan menjadi janda Informan I M SMA 47 Tahun Remaja 15 tahun Janda pensiunan Manahan 13 Tahun Meninggal karena sakit Informan II Y SMA 54 Tahun Dewasa awal 22 tahun Penjahit Jagalan 15 Tahun Meninggal karena sakit Informan III Informan IV T. yaitu dengan melakukan rapport untuk mendapatkan informasi tentang diri subjek dan sekaligus melakukan observasi terhadap tingkah laku subjek dalam kehidupan keluarga. R. Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan orang terdekat subjek untuk menambah informasi. S E. Karakteristik informan penelitian Karakteristik informan penelitian dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 5. antara lain peneliti berusaha mengetahui tentang masa lalu subjek.42 Penulis melakukan wawancara dengan informan di rumahnya masing-masing. Selama wawancara subjek ada yang didampingi anaknya. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap. C. namun ada pula yang tidak didampingi. 2008 . Analisis Data 1.

2. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. Data hasil penelitian 2.51-55) Informan bisa mengatasi masalahnya sendiri apabila menurut informan masih bisa diatasi sendiri Kesimpulan : Informan (M) mengajak keluarga terdekatnya untuk memikirkan langkah yang terbaik untuk dipilih 43 . Hasil data wawancara dengan informan ASPEK Aspek kognitif INDIKATOR PERILAKU 1. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya HASIL WAWANCARA “Penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha” (W I / S I. Informan I (M / 47 Tahun / Janda pensiunan / Anak Remaja) a. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “Kalau masih dalam masalah pendidikan. insya allah saya masih bisa mengatasi sendiri. 19-20) ANALISIS Informan menghadapi masalah dengan sabar dan selalu berusaha Kesimpulan : Informan (M) menyikapi permasalahannya dengan penuh kesabaran dan selalu berusaha. tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan saya kompromikan dengan keluarga” (W I/S I.1. 2.

nggak saya konsultasikan sama keluarga” (W I/S I. Berfikir sistematis.3. Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “kalau dalam masalah keluarga ya tidak masalah. 44 . saya pasrah” (W I/ S I.100-106) Informan mau menerima dan melibatkan orang lain didalam masalahnya Kesimpulan : Informan (M) mau meneriman dan melibatkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Kesimpulan : Karena Informan (M) sudah pasrah maka informan tidak terlebih dahulu memikirkan tindakan yang diambilnya. yang sudah saya pikirkan itu. tapi kalau masalah yang perlu dikomunikasikan sama keluarga ya saya konsultasikan. 4. fleksibilitas. dengan bening insya allah tidak” (W I/S I. saya lakukan sudah saya pikirkan jernih.94) Informan tidak terlebih dahulu memikirkan tindakan yang diambilnya. Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih “Insya allah.88-90) “Tidak. kalau nggak perlu ya nggak.

. informan pasrah. kita harus bersikap sabar” (W I/S I.Aspek Afektif Emosi Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak “menyesuaikan terhadap anak-anak itu karena yang biasannya dilakukan oleh suami otomatis saya lakukan. ee terus ya. Kesimpulan : Informan (M) memegang kendali penuh dalam keluarga setelah kematian suaminya. 45 . 161-164) Perasaan informan hanya pasrah ketika menghadapi masalah Kesimpulan : Ketika menghadapi masalah yang tidak bisa teratasi oleh informan (M). Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “cuma apa sok kadangkadang kesulitan yang tidak bisa teratasi untuk dirinya. 139-143 Informan pertama kali bersikap sabar dan menyesuaikan dirinya terhadap anak-anaknya terlebih dahulu. hanya menyerahkan sama allah” (W I/S I.

segera diselesaikan. Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “Saya kalau ada masalah. saya ingin karena saya anu tipe orangnya tuh tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan. 172-178) Informan ingin langsung segera menyelesaikan masalahnya Kesimpulan : Informan (M) selalu ingin langsung menyelesaikan masalah yang dihadapinya 46 . otomatis segera selesai besuk sudah ganti persoalan lagi” ( W I/ S I. 264-270) Informan berharap kehidupan anaknya kelak kebih baik daripada kehidupannya sekarang. Kesimpulan : Informan (M) berharap anaknya lebih baik dari dirinya dan menjadi yang terbaik. Aspek psikomotor 1.Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “untuk anak-anak saya lebih baik daripada dari saya. dunia sampai akherat itu yang saya harapkan” (W I/S I. dan untuk anakanak saya semoga anakanak saya menjadi anak yang betul-betul soleh dan solehah. bakti pada kepada orang tuannya.

186) yang membantu lain yang memecahkan membantu “termasuk ibu saya” masalah menyelesaikan (W I/ S I. epercayaan dan sikap yang tepat Ada keluarga Apakah ada “terutama dari fihak informan yang lain anggota keluarga keluarga saya” ( W I/ S I. 47 .2. anu hambannya tuh sebagai lantaran” (W I/ S I. cuma mer. 231-232) “karena semua itu yang memberikan dan yang menglantari tuh semua Allah” (W I/ S I. 244-247) “Saya yakin. mungkin rejeki anak saya tapi lewat mereka” (W I/ S I. semua datangnya dari Allah. 198) keluarganya masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga Kesimpulan : Informan (M) tidak memecahkan masalahnya seorang diri Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “Karena itu rejeki. 252-254) Informan mau untuk menerima bantuan yang diberikan kepadannya Kesimpulan . Informan (M) menerima pemberian bantuan dari keluarga lain.

hidung mancung. Hasil data observasi informan I 1) Observasi fisik Informan adalah seorang janda pensiunan TNI/POLRI yang beraktifitas sebagai ibu rumah tangga yang berusia 47 tahun. Pada saat wawancara berlangsung informan duduk di sebelah kiri peneliti. 2) Observasi psikologis Pada awal wawancara berlangsung subjek tersenyum kepada peneliti. pakaian berwarna hitam bermotif batik dan celana kain panjang warna hitam. kulit sawo matang. Setelah wawancara berlangsung kurang lebih 10 menit ada orang yang beramu kerumah informan. Tangan kirinya diletakkan di sandaran tangan kursi. tetapi setelah berjalan 5 menit pandangan mata informan mulai melihat keatas dan .48 b. Kemudian informan kembali menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. informan mempersilahkan tamunya untuk masuk. Selama informan mendengar pertanyaan dari peneliti pandangan mata informan menatap kearah peneliti yang ada di sebelah kanannya. Pada saat wawancara berlangsung informan mengenakan kerudung warna hitam. muka oval. berat badan kurang lebih 50 kg. dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 160 cm. Bentuk mata bulat. bibir tipis. tetapi ketika menjawab pertanyaan pandangan mata informan memandang keatas dan kearah jalan.

Karena anak tertua informan sedang berada di . foto suami informan ketika memakai seragam dinas dan foto anaknya ketika masih balita. terdapat satu set kursi tamu yang terbuat dari kayu yang di polithuor warna gelap dan busa berwarna merah. Tiga puluh menit kemudian peneliti meminta izin untuk pulang karena akan melanjutkan penelitian kepada informan kedua. Saat wawancara berlangsung suasana rumah tenang dan sepi karena hanya ada informan dan peneliti saja. Informan terlihat tertekan ketika wawancara berlangsung ini terlihat ketika informan menitikkan air mata saat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Dan setelah menemui tamunya informan duduk kembali di tempatnya semula. Di dinding ruangan ini juga terpajang sebuah jam dinding. Di ruangan ini juga terdapat meja yang terbuat dari kaca untuk menata barang-barang dagangan informan yang berupa barang-barang kelontong. 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 3 meter x 7 meter. Ketika wawancara selesai. informan meminta izin kepada peneliti untuk menemui tamu yang menunggunya. Ruangan itu berdinding tembok berwarna kuning gading. Selain itu di dalam ruangan ini terdapat meja yang tingginya kurang lebih 50 cm yang difungsikan untuk meletakkan vas bunga.49 kearah jalan ketika menceritakan saat-saat dirinya mengalami kesulitan dan kerepotan.

. tetapi konsentrasi informan terpecah ketika ada tamu yang berkunjung kerumahnya.50 Wonogiri untuk berdinas dan anak kedua informan sedang berada di sekolah. Dengan suasana yang sepi perhatian informan hanya tertuju kepada peneliti.

sakit. kalau dipikirkan banget-banget kan kita bisa sakit lah. 75-78) ANALISIS Aspek kognitif Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya Informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. kita bisa menyukupi kebutuhan untuk anak-anak.2. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK INDIKATOR PERILAKU 1. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN HASIL WAWANCARA “pikir sendiri.2. Data hasil penelitian 2. 57-61) “ndak terlalu memikirkan bangetbanget lah. jalani apa adannya. Kesimpulan : Informan (Y) mengatasi masalah dan berfikir yang penting bisa mencukupi kebutuhan keluargannya 51 . bisa bekerja” (W I/ S II. ndak usah mikir yang lain-lain lah pokoknya. pusing” (W I/ S II. Informan II (Y / 54 Tahun / Wiraswasta / Dewasa awal) a.

Berfikir sistematis. bertanyatanya bagaimana ni jalannya keluar kalau saya menerima kesulitan” (W I/ S II. informan memilih orang yang tepat untuk membantunya 52 . Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih “saya kan sudah terpikir sebelumnya saya harus bertindak” (W I/ S II. 205-209) Ketika masalah yang dihadapi informan harus menlibatkan orang lain. 193) Informan memikirkan akibat dari tindakan yang dipilihnya Kesimpulan : Informan (Y) selalu memikirkan dari tindakan yang dipilihnya 4. saya ya melibatkan pada orang lain. 116-119) Ketika informan menghadapi permasalahan yang dianggapnya berat informan baru meminta tolong pada orang lain Kesimpulan : Informan (Y) melibatkan orang lain ketika menghadapi masalah yang dianggap berat 3.2. 175-176) “Akibatnya sudah saya pikirkan” (W I/ S II. tapi harus tepat kalau nggak tepat saya akan sakit hati” (W I/ S II. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “Ya nek terlalu berat. fleksibilitas. Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “Istilahe saya tidak isa menyelesaikan ya saya lari kemanakah yang saya tuju.

53 . Kesimpulan : Perasaan informan (Y) sedih ketika menghadapi masalah karena tidak ada yang membantu. 294) “sok kita kan terkejut lah sekarang sendiri harus begini-begini’ (W I/ S II. harus Sabar dan berdoa adalah cara informan dalam banyak berdoa menyesuaikan diri. 341-342) Perasaan informan sedih ketika menghadapiu masalah. 329-330) “Sedih ya mesti harus hilang. 291-292) “Sabar dalam menghadapi segalannya” (W I/ S II. sedih” (W I/ S II. terutama” (W I/ S II.Kesimpulan : Ketika meminta bantuan orang lain informan (Y) memilih orang yang tepat untuk diminta membantunya Aspek Afektif Emosi “Kita harus sabar. 295-296) Kesimpulan : Sabar dan banyak berdoa adalah cara informan (Y) untuk menyesuaikan diri pada awal ditinggal suami Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “Sedih lah anu ndak ada yang membantu” (W I/ S II. anak-anak tuh sok-sok sing hibur.

Kesimpulan : Informan (Y) berharap anaknya tidak mengecewakannya. ya lah tidak pernah mengecewakan saya” (W I/ S II. 348) ‘Pasti. harus cepat selesai karena nek nggak selesai ya di dalam pikiran terus” (W I/ S II. Kesimpulan : Informan (Y) Apabila menghadapi masalah ingin langsung segera untuk menyelesaikan masalahnya. Kepercayaan dan sikap yang tepat Apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga “Saudara-saudara dari ipar-ipar saya” (W I/ S II. 2. jalan lurus. 136) “paling ya keluarga” (W I/ S II. 413) Ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalahnya. Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “pasti” (W I/ S II. 350-351) Informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya.Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “ anak-anak menjadi baik. 525-529) Informan berharap anaknya menjadi baik dan tidak mengecewakannya. tidak macemmacem. 134) “Saudarane bapake” (W I/ S II. Aspek psikomotor 1. 54 . itu Alhamdulillah anakanak bisa baik semuanya. tidak nakal.

Kesimpulan : Ada anggota keluarga lain yang membantu informan (Y) untuk menyelesaikan masalahnya Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “kalo kepepetnya ya mau no” (W I/ S II. 516-517) Informan mau menerima bantan yang diberikan kepadannya Kesimpulan : Informan (Y) mau menerima bantuan yang diberikan kepadannya 55 . 444) “bantuan saudara tuh sudah iklas” (W I/ S II. ya terima kasih sekali pada yang kuasa” (W I/ S II. 505) “Menerima.

dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. Kedua tangannya diletakkan di sandaran tangan kursi. muka bundar. Ketika wawancara selesai. informan menawarkan kepada peneliti untuk . Pada saat wawancara berlangsung informan mengenakan daster tanpa lengan. hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan kepada peneliti yang disertai canda tawa. kulit sawo matang.56 b. jendela dan pintu depan rumahnya yang terbuka. berwarna hijau bermotif bunga-bunga. Bentuk mata bulat. berat badan kurang lebih 50 kg. Kemudian informan meminta izin kepada peneliti untuk mengambil bangku dan kembali duduk ditempat semula tetapi posisi duduknya berbeda kedua kakinya informan diluruskan serta diletakkan di bangku yang ada didepannya. Pada saat wawancara akan berlangsung informan duduk di hadapan peneliti. tetapi ketika informan menceritakan kisah kehidupannya pandangan mata informan mulai tidak terfokus melihat kearah peneliti. Hasil data observasi informan II 1) Observasi fisik Informan adalah seorang ibu rumah tangga yang beraktifitas sebagai penjahit yang berusia 54 tahun. Subjek terlihat tenang ketika diwawancara. bibir tebal. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 155 cm. pandangan matanya mulai melihat ke langit-langit rumah. hidung pesek. 2) Observasi psikologis Pada saat wawancara berlangsung subjek tersenyum kepada peneliti dan banyak canda dan tertawa. Ketika wawancara berlangsung sekitar 10 menit ada orang yang lewat didepan rumah informan kemudian menyapa informan dan informan menjawab sapaannya dan kemudian kembali menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. berambut hitam panjang berombak.

Lima belas menit kemudian peneliti dan anak bungsu informan meminta izin untuk pamit karena anaknya akan masuk kerja dan peneliti mengantarkan anaknya ketempat kerjanya. Di ruangan ini juga terdapat mesin jahit dan kursi yang terbuat dari plastik yang digunakan informan untuk menjahit. sepeda motor yang biasa digunakan informan dan anaknya serta sebuah sepeda angin. Selain itu di dalam ruangan ini juga terdapat dua sepeda motor yang biasa digunakan oleh adik informan. Saat wawancara berlangsung suasana rumah ramai karena informan tinggal bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. terdapat satu kursi panjang yang terbuat dari kayu yang di cat warna hitam dan busa berwarna hijau. Di sudut ruangan ruang tamu terdapat sebuah almari yang berwarna coklat tua. Walaupun suasana di dalam rumah ramai tetapi kondisi ruang tamu tempat dilakukannya wawancara cukup tenang. Di dinding ruangan ini juga terpajang sebuah lukisan yang bergambar pemandangan.57 beristirahat dan melihat televisi terlebih dahulu di ruang keluarga. namun suara yang ditimbulkan oleh televisi tersebut tidak menggangu jalannya wawancara. 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 3 meter x 3 meter. Ruangan itu berdinding tembok berwarna putih. . dan ada anggota keluarga yang lain yang menonton televisi.

3. 58 . tapi kalau toh kita ndak bisa kita sendiri. 68-69) “kita harus berusaha untuk menyelesaikan Informan terlebih dahulu berusaha menyelesaikan permasalahannya sendiri. 59-63) “tapi kalau tidak bisa ya kita minta tolong bantuan orang lain” (W I/ S III. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “kalau kita sih masih bisa untuk menyelesaikan permasalahan kita. Data hasil penelitian 2. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN HASIL WAWANCARA “kita harus berusaha” (W I/ S III. 36-36) ANALISIS Aspek kognitif Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya Informan berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya Kesimpulan : Informan (T R S) berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya 2. Informan III (T R S / 45 Tahun / Buruh / Usia sekolah dasar) a. ya kita melibatkan orang lain” (W I/ S III. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK INDIKATOR PERILAKU 1. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah.2. ya kita selesaikan.

161-162) Informan mau melibatkan oranglain dalam masalahnya karema informan berpendapat dirinya juga membutuhkan orang lain. 126-128) “kadang-kadang kan harus membutuhkan orang lain. 107-109) “kita melangkah itu kita pikirkan lebih dahulu” (W I/ S III. 112-113) Kesimpulan : Informan (T R S) selalu memikirkan terlebih dahulu langkah yang diambilnya Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “sikap kita kalau ada permasalahan seperti itu ya kita minta tolong sama orang lain” (W I/ S III. 59 . fleksibilitas.” (W I/ S III. 78-79) Kesimpulan : Informan (T R S) terlebih dahulu berusaha memecahkan masalahnya sendirian 3. kalau masalah dalam keluarga” (W I/ S III. 158-159) “Ya jadi kita kan minta tolong untuk orang lain” (W I/ S III. 75-75) “Tanpa bantuan orang lain. 2. Berfikir sistematis. Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih Informan terlebih “setiap kita melangkah dahulu memikirkan itu ya kita ini kita akibat dari tindakan pikirkan untuk jauh kedepan dan akibatnya” yang dipilihnya (W I/ S III.sendiri” (W I/ S III.

60 .Kesimpulan : Informan (T R S) Mau untuk melibatkan orang lain dalam membantu menyelesaikan masalahnya. ya kita sedih tapi kalau permasalahan itu menunjukkan harus kita bertindak. 223-224) “kalau memang di saatsaat permasalahannya itu menunjukkan ini menunjukkan kesedihan. 207-208) Karena suami informan meninggal mendadak informan merasa bingung dan sedih ketika menyesuaikan dirinya. Kesimpulan : Informan (T R S) merasa bingung di dalam menyesuaikan dirinya pada awal ditinggal suaminya Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “tergantung permasalahannya” (W I/ S III. kita mengalami kesedihan dan katakanlah pada saat itu tertekan” (W I/ S III. 202-205) “Karena begitu langsung ditinggal ya kita merasa kehilangan” (W I/ S III. memang kita harus bertindak” Perasaan informan ketika menghadapi masalah adalah tergantung dari masalah yang dihadapinya. Aspek Afektif Emosi Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak “pertama itu kan kita ya juga bingung ditinggal seperti itu.

karena nanti kalau terlalu lama masalah tuh berlarutlarut kan ya jadi beban” (W I/ S III. untuk berprestasi. 316) “dari fihak keluarga” (W I/ S III. 281-283) “Semampu kita harus menyelesaikan secepatnya. ya ini kan menyelesaikan masalah” (W I/ S III. 318) “pihak keluarga saya 61 . Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “ada masalah ya kita semampu kita.. Kesimpulan : Informan (T R S) berusaha semampunya untuk segera menyelesaikan masalahnya 2. lha itu lho masa depannya cerah” (W I/ S III.(W I/ S III. 228-233) Kesimpulan : Perasaan informan ketika menghadapi masalah tergantung dari masalah yang dihadapinnya. 436-438) Harapan informan adalah supaya anaknya maju dan berprestasi Kesimpulan : Informan (T R S) berharap agar anaknya maju dan berprestasi Aspek psikomotor 1. Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “untuk anak-anak untuk ee. maju. Kepercayaan dan Apakah ada anggota sikap yang tepat keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah “ada” (W I/ S III. 285-288) Informan ingin langsung menyelesaikan masalahnya karena takut menjadi beban.

425-426) Informan tidak menerima semua bantuan yang diberikan kepadannya. belum tentu kita terima” (W I/ S III. sesuai dengan kita” (W I/ S III. dari pihak dari suami sendiri. Dalam hati kita kan ada prinsipprinsip tertentu” (W I/ S III. karena apa. 375-377) “belum tentu kita menelannya semua. 322-324) Kesimpulan : Ada anggota keluarga informan (T R S) yang lain yang ikut membantu menyelesaikan masalah Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “belum tentu. mereka mau untuk ini campur tangan” (W I/ S III. semua dikasih pandangan itu. Kesimpulan : Informan (T R S) tidak selalu menerima bantuan yang diberikan kepadannya 62 .dalam keluarga sendiri. 384-387) “belum tentu semua kita praktekan” (W I/ S III. 418-419) “Apa yang cocok sama kita.

berwarna ungu muda bermotif bunga-bunga. namun sesekali informan menguap karena mengantuk. 2) Observasi psikologis Pada saat wawancara akan berlangsung teman peneliti meminta izin untuk keluar ruangan kemudian informan tersenyum kepada teman peneliti dan peneliti. Ketika informan membukakan pintu rumah dan bertemu dengan peneliti informan tersenyum dan mempersilahkan masuk peneliti dan teman peneliti. berat badan kurang lebih 50 kg. Ketika wawancara selesai. Hasil data observasi informan III 1) Observasi fisik Informan adalah seorang janda yang berkerja sebagai buruh harian lepas disalah satu perusahaan yang berusia 45 tahun. hidung pesek. Ketika informan menceritakan kisah kehidupannya pandangan mata informan tetap fokus tertuju kearah peneliti.63 b. dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. kulit sawo matang. Pada saat wawancara berlangsung informan mengenakan daster lengan pendek. informan menawarkan kepada peneliti untuk minum kopi terlebih dahulu. . bibir tebal. Pada saat wawancara akan berlangsung informan duduk di sebelah kanan peneliti. Subjek terlihat tenang ketika diwawancara. rambut panjang. muka bundar. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 160 cm. hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan kepada peneliti dengan suara yang lantang dan jelas dengan logat khas batak. Posisi duduk informan agak condong kebelakang merebahkan punggungnya. Kedua tangannya diletakkan di atas pahanya. berambut hitam sebahu berombak. Bentuk mata bulat. pandangan matanya terus melihat kearah peneliti.

Di ruangan ini juga terdapat televisi dan radio yang diletakkan di dalam almari di sebelah kanan kursi tamu yang biasa digunakan informan untuk bersantai dan di atas almari tersebut terdapat loud speaker dan tumpukan kertas-kertas yang tersusun berantakan.64 Dua puluh menit kemudian peneliti dan teman peneliti yang mengantar meminta izin untuk pamit karena sudah malam dan takut kalau tidak bisa bangun untuk makan sahur. . Karena anak-anak informan sudah tidur dan teman peneliti yang mengantar peneliti berbincang-bincang dengan teman informan di halaman depan rumah informan. terdapat satu set kursi tamu model sudut yang terbuat dari busa yang tertutup dengan cover plastik yang berwarna merah dan mulai mengelupas covernya sehingga terlihat busa yang ada di dalamnya. tetapi konsentrasi informan terkadang terpecah ketika ada sms yang masuk ke ponselnya. Dengan suasana yang sepi perhatian informan hanya tertuju kepada peneliti. Di dinding ruangan ini juga terpajang sebuah gambar yang bergambar tuhan yesus dan sebuah jam dinding berbentuk kotak. Ruangan itu berdinding tembok berwarna putih. 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 3 meter x 3 meter. Saat wawancara berlangsung suasana ruangan tempat wawancara tenang dan sepi karena hanya ada informan dan peneliti saja.

84) “yang penting saya menjaga perilaku saya” (W I/ S IV. 127-133) ANALISIS Aspek kognitif Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya Informan mensikapi masalahnya dengan biasa saja karena semuanya sudah dikembalikan pada Allah. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN HASIL WAWANCARA “biarlah anggapan orang” (W I/ S IV. Kesimpulan : Ketika ada masalah informan (E S) mensikapinya dengan biasa saja. semua perilaku tuh yang mengetahui kan Allah” (W I/ S IV. 65 . Data hasil penelitian 2. meningkatkan iman. ya itu ya kita kembalikan pada Allah. Informan IV (E S / 36 Tahun / Guru / Balita) a. 114-115) “Saya harus mensikapi dengan ikhlas dan juga berusaha untuk tetap berbuat baik pada orang lain.2. 90-91) “saya sikapi ya biasa saja” (W I/ S IV. tetap menjaga perilaku.4. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK INDIKATOR PERILAKU 1.

saya atasi sendiri. dari saudara” (W I/ S IV. dipikirkan.2. tapi kalau tidak bisa. 250) “saya sendiri tuh tidak seneng merepotkan orang lain” (W I/ S IV. kemudian juga minta petunjuk dari Allah gitu ya. lha itu juga saya perlu saran. pertimbangan dari orang tua. pertimbangan. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. tuh kalau masih bisa saya atasi sendiri. 254-255) Informan menyelesaikan sendiri masalahnya apabila dianggap masih bisa diatasi sendiri Kesimpulan : Informan (E S ) mengatasi sendiri masalah yang menurutnya masih bisa diatasi. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “Diselesaikan sendiri” (W I/ S IV. 66 . 238-246) “Jarang” (W I/ S IV. 224) “kalau masalah itu masih bisa saya atasi dengan berbagai pertimbangan ya.

jadi untuk pemecahan masalah itu. 310-311) “kalau ee. Berfikir sistematis. mengambil suatu keputusan itu kan pertimbangkan dulu” (W I/ S IV. .. 304-306) Yang baik untuk anak itu yang bagaimana dengan kondisi saya (W I/ S IV. ee. terus dampaknya apa itu perlu dipertimbangkan banyak-banyak juga” (W I/ S IV.. ya yang terbaik untuk anak” (W I/ S IV. fleksibilitas. 3.2. bagaimana ya nanti minta saran atau pertimbangan itu. Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih “tindakan yang dipilih tuh yang paling baik. terutama dari keluarga dulu” (W I/ S IV. minta saran. 337-339) “kalau begini nanti akhirnya bagaimana. Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “minta bantuan ya. 360-364) Informan mau melibatkan keluarga lain ketika memecahkan masalah 67 . 341-344) Informan terlebih dahulu memikirkan akibat dari tindakan yang dipilihnya Kesimpulan : Informan (E S) memikirkan terlebih dahulu akibat dari tindakan yang dipilihnya.

Kesimpulan : Informan (E S) mau untuk melibatkan keluarga lain dalam membantu menyelesaikan masalahnya. anak ya. itu yang terbaik oo. Aspek Afektif Emosi Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak “Agak susah juga. karena anak saya masih balita Perasaan informan merasa sedih karena tidak bisa memenuhi kasih saying kepada anaknya. bukan masalah ekonomi. nanti kan di sinkronkan dengan saya sendiri ya.“bagaimana saran mereka. dengan pemecahan masalah saya sendiri. pendidikan ya. begitu. ya nanti diambil keputusan itu” (W I/ S IV.. yang penting itu ikhlas” (W I/ S IV. tapi semuannya itu saya kembalikan. masalah anak itu.. 68 . oo. ini kalau saya masalah keluarga ini ya sedih juga ya. terutama masalah ini. mengenai bukan masalah mendidik. 369-373) . 497-499) Informan agak susah ketika menyesuaikan dirinya pada awal ditinggal suaminya Kesimpulan : Informan (E S ) mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri pada awal ditinggal oleh suaminya. Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “kalau ada masalah keluarga.

berguna bukan hanya untuk dunia saja. 537-546) Kesimpulan : Informan (E S) merasa sedih karena tidak bisa memberikan kasih sayang yang penuh kepada anaknya Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “Sehingga mereka kelak akan menjadi anak yang berguna ya. 914-917) Informan berharap agar anaknya dapat menjadi anak yang berguna baik didunia maupun diakherat Kesimpulan : Informan (E S) berharap agar anaknya berguna di dunia dan di akherat 69 . perlu masih dalam perkembangan itu kan memang masih banyak kasih sayang” (W I/ S IV.itu kan memang. tapi juga untuk kebaikan mereka di akherat” (W I/ S IV.

Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “secepatnya tuh bisa diselesaikan ya. nanti kalau tidak diselesaikan kan bisa menumpuknumpuk menjadi beban juga malahan” (W I/ S IV. 650-653) “kalau semakin banyak. kalau ada masalah datang tidak di apa ya? Ditunda-tunda gitu” (W I/ S IV. bisa kalau bisa diselesaikan sendiri ya dengan sendiri. 661-662) Informan berusaha langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya Kesimpulan : Informan (E S) ingin langsung segera menyelesaikan masalahnya 70 . kalau tidak ya dengan perlu bantuan orang lain” (W I/ S IV. 626-629) “kalau ada masalah yang datang harus sebisa mungkin itu cepat diselesaikan dengan ya dengan entah itu. harus secepat.Aspek psikomotor 1. semakin bertumpuk” (W I/ S IV. 634-640) “sebisa mungkin ya. seketika itu juga harus diselesaikan gitu.

jadi meringankan beban ekonomi saya” (W I/ S IV. 800-805) “saya bersyukur.2. Apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “Untuk materi ya memang saya terima” (W I/ S IV. 681) “keluarga dari om saya. ini saya pertimbangkan lagi” (W I/ S IV. bersyukur ada yang membantu. 682-683) Kesimpulan : Anggota keluarga informan (E S) ada yang membantu memecahkan masalahnya. kalau misalnya saya minta saran. Kepercayaan dan sikap yang tepat Ada anggota keluarga “Keluarga dekat” informan yang lain yang (W I/ S IV. seperti itu karena saya tidak bisa memecahkan sendiri ya ini. 866-868) Informan mau untuk menerima bantuan materi dari keluarga 71 . sepupu saya” (W I/ S IV. 679) masalahnya. 789) “kalau yang bukan materi. 674) “keluarga saya sendiri” membantu menyelesaikan (W I/ S IV. “dari keluarga mertua” (W I/ S IV. ya masalah saran-saran atau pemecahan masalah.

72 .Kesimpulan : Informan (E S) mau untuk menerima bantuan materi dari keluarganya .

Ketika wawancara selesai. Ketika informan menceritakan kisah kehidupannya informan menggunakan intonasi suara yang keras. hidung mancung. Subjek terlihat bersemangat ketika diwawancara. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 155 cm. dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. muka oval. Posisi duduk informan tegak dan pandangan mata menghadap peneliti dan kepala informan menoleh ke kiri kea rah peneliti. 2) Observasi psikologis Pada wawancara berlangsung anak informan menemani jalanya wawancara tetapi kemudian informan meminta izin untuk membawa anaknya dan keluar ruangan kemudian informan tersenyum kepada peneliti. kulit putih. hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan kepada peneliti dengan suara yang cepat dan terburuburu. Ketika bertemu dengan peneliti informan tersenyum dan mempersilahkan masuk peneliti. Lima menit kemudian peneliti meminta izin untuk mefotokopi KTP informan dan . informan menayakan kepada peneliti apakah berpuasa. berat badan kurang lebih 45 kg.73 b. Pada saat wawancara berlangsung informan memakai lipstick tipis warna merah mengenakan kerudung warna putih. bibir tipis. Kedua tangannya diletakkan di sebalah pahanya. Bentuk mata bulat. Hasil data observasi informan IV 1) Observasi fisik Informan adalah seorang janda yang berkerja sebagai guru disalah satu SMA negeri di kota Surakarta yang berusia 36 tahun. Pada saat wawancara akan berlangsung informan duduk di sebelah kanan peneliti. memakai baju berwarna hitam bermotif bunga-bunga dan memakai rok panjang berwarna abu-abu.

Di dinding ruangan ini juga terpajang dua buah papan tulis berwarna hitam yang dicorat-coret dengan menggunakan kapur dan sebuah jam dinding yang berbentuk kotak yang sudah Kehabisan baterai dan tidak berfungsi lagi yang digantung di atas pintu. terdapat satu set kursi tamu model sudut yang tertata memanjang yang terbuat dari busa yang tertutup dengan cover plastik yang berwarna biru. . 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 5 meter x 7 meter. Saat wawancara berlangsung suasana rumah ramai karena rumahnya terletak hanya 100 meter dari Jalan akses menuju ke bandara. karena informan tinggal bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. dan ada anak-anaknya yang sedang bermain. Walaupun suasana di dalam rumah ramai tetapi kondisi ruang tamu tempat dilakukannya wawancara cukup tenang karena luasnya rumah yang ditempati informan. namun suara yang ditimbulkan tersebut tidak menggangu jalannya wawancara. Ruangan itu berdinding tembok berwarna putih.74 setelah selesai mefotokopi sepuluh menit kemudian peneliti meminta izin untuk pamit pulang karena sudah siang. Di ruangan ini juga terdapat almari di pojok ruang tamu yang digunakan sebagai penyimpan benda pecah belah yang dimiliki keluarga informan.

Pasrah dan menyerahkan pada Allah b. + - + - + + - 5. Pasrah pada Allah c. Membantu menmecahkan masalah Penyesuaian diri pada awal ditinggal suami a. Meminta petunjuk Allah Memikirkan akibat dari cara mengatasi masalah a. Menjalani apa adanya. Menentukan orang yang tepat c. Menyesuaikan diri dengan sabar dan berdoa c. Perasaan yang muncul tergantung masalah Informan I + + Informan II + Informan III + Informan IV + 2. d. + + - + - + - + 4. Uraian Sikap dalam menyelesaikan masalah a. Berusaha c. Memikirkan akibat selanjutnya d. Menyesuaikan diri dengan ikhlas Perasaan ketika menghadapi masalah a. + - + - + - + 6. Menyesuaikan diri pada anak b. Tabulasi Hasil Wawancara Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal. Dipertimbangkan Peran orang lain dalam mengatasi masalah a. Biasa saja Cara mengatasi masalah a. No. + - + - + - + 3. + - + - + + - . Sedih c. Bingung ketika menyesuaikan diri d. Sebagai pertimbangan b.75 3. Melibatkan orang lain ketika tidak mampu c. 1. Kompromi dengan keluarga b. Tabulasi data hasil wawancara Tabel 6. Tidak memikirkan b. Sabar b.

Harus cepat selesai c. Belum tentu menerima c. Adapun kategori-kategori tersebut meliputi: . Pihak keluarga Informan b. Segera diselesaikan b. Tidak mengecewakan informan c.76 7.(tidak) D. Keluarga dari kedua belah pihak Penerimaan dari bantuan keluarga a. + - + - + + 9. Menerima dalam bentuk materi + - + - + - + 8. Perasaan dan harapan pada anak a. Berprestasi d. Saudara pihak keluarga suami c. Kategorisasi Berdasarkan hasil dari analisis data terhadap hasil wawancara dan observasi maka dapat dilakukan pengkategorisasian terhadap bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. Berguna dunia akherat Motivasi dalam mengatasi masalah a. Lebih baik dari dirinya b. Secepatnya selesai Bantuan dari keluarga dalam mengatasi masalah a. + - + - + - + Keterangan : + (ya) . + - + - + + 10. Kategorisasi diperoleh berdasarkan dari proses pengambilan kesimpulan atau pernyataan yang khusus menuju kesimpulan atau pernyataan yang umum. Menerima b.

saudara ipar (Informan 2). Berserah diri Informan 1 pasrah dan berserah diri pada Allah dari semua tindakan yang telah dipilihnya sehingga informan tidak memikirkan akibat selanjutnya yang akan terjadi dan mempunyai keyakinan bahwa dengan pasrah semua masalah akan teratasi dan terselesaikan. sepupu. 2. keluarga mertua (informan 4). Membutuhkan bantuan orang lain Informan 1. pemberian semangat. keluarga dekat (Informan 3 dan 4). 3 dan 4 mengatakan bahwa untuk meringankan masalah yang dihadapinya (terutama dari sisi ekonomi dan masalah anak) karena status informan sebagai orang tua tunggal maka informan memerlukan orang lain untuk pertimbangan. .77 1. Orang lain tersebut antara lain : Ibu (Informan 1). b. Berikut ini adalah kategorisasi dari tipe-tipe pemecahan masalah yang muncul : a. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Keadaan-keadaan yang dihadapi dan muncul dalam kehidupan seharihari informan harus menyebabkan informan mengambil tindakan seorang diri dalam memecahkan masalahnya. ataupun hanya sebagai teman bicara dan ngobrol.

d. Karena informan tidak bisa menentukan nasib dan masa depan anaknya kelak dikemudian hari maka informan hanya berharap anaknya : menjadi anak yang soleh dan selehah serta lebih baik dari . 2. e.78 c. Berharap Informan 1. dan 4 mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk menambah pendapatan dan penghasilan keluarga untuk menutup biaya hidup. 3 dan 4 mengatakan bahwa sebagai seorang ibu dirinya berharap agar anaknya kelak lebih baik daripada dirinya. menjahit konveksi (informan 2). 2. Berfikir positif Informan 1. 3 dan 4 berusaha sendiri terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalahnya. Karena status informan sebagai orang tua tunggal maka informan berusaha untuk menambah penghasilan sebagai : Membuka warung kelontong (informan 1). Menyusun buku materi LKS (informan 4). 3 dan 4 berfikir positif ketika menghadapi masalah yang dihadapinya sehingga informan 1. Berusaha Informan 1.

Sehingga akan timbul suatu cara atau sebuah usaha dari diri mereka untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. 2. (4) Berusaha. Menjadi wanita sebagai orang tua tunggal dapat menjadi sorotan di dalam masyarakat yang dapat menjadi penghalang di dalam perkembangan aktualisasi dirinya. Dalam pemecahan masalah tersebut individu punya alasan pemecahan masalah tersendiri. Kondisi ini menyebabkan wanita sebagai orang tua tunggal mengalami tekanan yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri individu. sehingga akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. tidak macem-macem dan bisa berkerja (Informan 2). Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal dapat dikategorisasikan menjadi 5 (lima) bentuk. Berikut ini adalah alasan pemecahan masalah pada informan penelitian dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi : . dan (5) Berharap. yaitu : (1) Membutuhkan bantuan orang lain.79 kehidupannya sekarang (Informan 1 dan 4). (2) Berserah diri. Alasan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Ibu yang menjadi wanita sebagai orang tua tunggal tidak hanya mempunyai masalah dengan dirinya sendiri tetapi juga dengan orang disekitarnya. berprestasi (Informan 3). (3) Berfikir positif.

Gambar 1 Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan I Kenakalan Anak Mengkompromika n dengan pihak keluarga Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya Jika berhasil Selesai Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Pasrah kepada Allah Ekonomi / Finansial Jika berhasil Berwiraswasta dengan membuka toko kelontong jika gagal Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal 80 .

Gambar II Skema alasan dan Faktor pemecahan masalah Informan II Ekonomi / Finansial Bertanya kepada pihak keluarga Membuka usaha jahit baju Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Menjual barang yang dimiliki untuk menutup kebutuhan Pindah ke rumah orang tuanya sendiri Dilaksanakan Jika Berhasil dan Selesai dievaluasi hasilnya Hubungan dengan keluarga suami Jika berhasil Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal Jika gagal 81 .

Gambar III Skema dan Alasan dan Faktor Pmecahan Masalah Informan III Mengasuh anak Meminta bantuan kepada keluarga Dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya Jika Berhasil Selesai Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Meminta bantuan kepada orang lain Ekonomi / Finansial Pekerjaan Berusaha lebih giat dalam bekerja Jika berhasil Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal Jika gagal 82 .

Gambar IV Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan IV Ekonomi / Finansial Meminta pertimbangan keluarga terdekat Menjaga perilaku Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Mencari tambahan penghasilan Dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya Jika Berhasil Selesai Membesarkan anak Masalah Pribadi Jika berhasil Mengikuti Asuransi Pendidikan Jika gagal Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal 83 .

. Tingkat pendidikan Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa informan yang berpendidikan lebih tinggi (informan 4) yang merupakan lulusan S1 dan berkerja sebagai guru dapat menyelesaikan masalah lebih baik dibandingkan dengan subjek yang lain yang hanya tamatan SMA (informan 1. Faktor dalam diri (instrinsik) Adalah faktor pemecahan masalah yang didasarkan atas kemampuan dari dalam diri informan sendiri. Faktor dari dalam diri (intrinsik) dan faktor dari luar (ektrinsik) yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal menggunakan pemecahan masalah tertentu didasarkan atas : 1. 2. dan 3) b.84 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Wanita sebagai orang tua tunggal dalam menentukan pemecahan masalah yang dipilihnya akan dipengaruhi oleh dua faktor. adapun faktor-faktor tersebut adalah : a. Kematangan usia Kematangan usia dari informan penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini berbeda-beda tetapi dapat dilihat bahwa informan yang tertua usianya (informan 2) lebih matang dalam menyikapi masalah yang dihadapinya dengan lebih tenang dan mencoba untuk menjalani masalahnya apa adannya.

hal ini terlihat dari usaha para informan ketika menanyakan langkah yang dipilihnya sebelum akhirnya informan menentukan pemecahan masalah yang dipilihnya.85 2. Hubungan sosial Hubungan sosial disini adalah adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga sehingga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. 2. adapun faktor-faktor tersebut adalah : a. . Kecakapan diri Pada penelitian ini kecakapan diri semua informan dapat dikatakan baik. 3 dan 4 mengkomunikasikan masalah yang memerlukan pertimbangan kepada orang-orang terdekat dan fihak keluarganya. b. Faktor dari luar diri (ekstrinsik) Adalah faktor pemecahan masalah yang didasarkan atas kemampuan yang didapat dari luar diri informan seperti orang-orang terdekatnya baik dari suatu proses pembelajaran ataupun pembiasaan. pada penelitian ini informan 1.

dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan tata tertib. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan I. 1994).86 E. maka ia berkreatifitas untuk menemukan berbagai alternatif solusi untuk memecahkan masalah. sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya. Sehingga harus menyesuaikan diri dengan status barunya. karena kreatifitas merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar. Pembahasan individual pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal a. Dalam pada itu ia akan memiliki dua bentuk sikap. Pembahasan Berdasarkan hasil data observasi dan wawancara yang telah dilakukan maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal sangat beragam. sebab disini informan akan menduduki dua jabatan sekaligus. maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. 1. . Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 1 Pada informan 1 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah ketika harus menyesuaikan diri untuk mengatasi masalah kenakalan anak dan memenuhi kebutuhan keuangan keluarga. serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga (Qaimi 2003).

dan pindah kerumah orang tuanya sendiri dilakukan . semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan. dan berusaha menambah penghasilan keluarganya dengan berdagang barang kelontong. Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 2 Pada informan 2 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah masalah kebutuhan keuangan keluarga.87 Semakin tinggi tingkat kreativitas individu. dkk (2002). Monks. lalu kemudian dievaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya. masalah pemenuhan kebutuhan keluarga. ini ia penuhi dengan membuka usaha jahit baju dirumah dan apabila masih kurang untuk menutup kebutuhan keluarganya maka ia pun menjual barang-barang yang ia miliki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan 2. b. setelah itu ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka ia memasrahkan kepada Allah. Pihak keluarga dipilih sebagai pertimbangan ketika ia memutuskan sesuatu hal untuk dipecahkan. Sehingga ia harus menyesuaikan diri dengan status barunya. maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah kebutuhan keuangan yang ia dihadapi. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasiinformasi tentang penyelesaian masalah sejak awal.

Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 3 Pada informan 3 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.88 oleh informan untuk mengurangi masalah semakin buruknya hubungan dengan keluarga fihak suami. karena ketika suaminya masih hidup ia berbagi tugas dengan suaminya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan pengasuhan anak. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. Pihak keluarga dipilih sebagai pertimbangan ketika ia memutuskan sesuatu hal untuk dipecahkan dan dianggap sebagai fihak yang dapat membantu. pekerjaan dan pengasuhan anak. Sehingga harus menyesuaikan diri dengan status barunya. Setelah ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka kemudian mengevaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya. c. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan 3 maka informan meminta bantuan pada orang lain dan keluarga Monks. dkk (2002). Adanya suatu . Sebab disini informan akan menduduki dua jabatan sekaligus. maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. dkk (2002). sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah (Qaimi 2003). Monks.

Menjaga perilaku ia lakukan untuk menghindari sorotan negatif dimasyarakat. sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah (Qaimi 2003). dkk (2002). Setelah ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka kemudian mengevaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya serta berusaha lebih giat dalam bekerja dan mengasuh anak. mencari tambahan penghasilan ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan 4 maka informan meminta bantuan pada orang lain dan keluarga. Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 4 Pada informan 4 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah masalah keuangan. Sehingga harus menyesuaikan diri dengan status barunya. d. Monks. masalah pribadi yang menjadi sorotan di masyarakat dan pengasuhan anak sebab disini informan akan menduduki dua jabatan sekaligus. dan mengikuti asuransi pendidikan untuk . Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasiinformasi tentang penyelesaian masalah sejak awal.89 masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasiinformasi tentang penyelesaian masalah sejak awal.

(2) Berserah diri. Bentuk-bentuk pemecahan masalah yang digunakan wanita sebagai orang tua tunggal yang menjadi informan di dalam penelitian ini dikategorisasikan menjadi 5 (lima) bentuk. walaupun pada dasarnya tujuan pemecahan masalah adalah sama yaitu mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi. Pembahasan umum pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Pemecahan masalah adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh setiap individu untuk berusaha sebisa mungkin menghadapi situasi yang muncul dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan pengalaman masa lalunya. 2. (4) Berusaha. dan (5) Berharap. Setelah ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka kemudian mengevaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya serta berusaha lebih giat dalam bekerja dan mengasuh anak. 1997) menyimpulkan bahwa pemecahan masalah yang berhasil tidak begitu bergantung pada kecerdasan individu tetapi lebih kepada pengalaman mereka.90 menjamin masa depan anaknya kelak apabila terjadi kemungkinan yang paling buruk. (3) Berfikir positif. Thornton (dalam Shapiro. yaitu : (1) Membutuhkan bantuan orang lain. .

Setelah memahami masalah yang dihadapi informan berusaha menemukan berbagai cara pemecahan.91 Persamaan dari keempat informan dalam memecahkan masalah informan mengkomunikasikan masalahnya dengan fihak keluarga. . dkk (2002). pilihan terbaik menurut dirinya adalah pilihan yang optimal pencapaian tujuannya untuk kemudian dipilih dan dianggap sebagai penyelesaian masalah yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Monks. dari semua informan memprioritaskan mengenai pemenuhan kebutuhan ekonomi dan biaya pendidikan anak-anaknya. setelah itu informan menentukan pilihan yang terbaik. mengatakan bahwa konsentrasi adalah pemusatan segenap kekuatan pada situasi tertentu. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. Konsentrasi dalam memecahkan masalah mutlak diperlukan. Dalam konsentrasi keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan sehingga tidak diperhitungkan sekedarnya. ini dapat berarti para informan terlebih dahulu memahami masalah yang harus dihadapinya. dari keempat informan kesemuannya dapat terlebih dahulu memahami masalah yang dihadapinya sehingga dapat menyusun prioritas utama yang harus dipilih. dan memilih salah satu di antara cara pemecahan masalahnya itu. Suardiman (1992).

(-) tidak 3. Berserah diri Berfikir positif Berusaha Berharap. 3. karena menurut SPOTNEWS . Keterangan : (√) ya. mengingat informan dalam penelitian ini yang hidup di dalam masyarakat maka kemungkinan akan terjadi konflik dengan masyarakat sekitar besar karena menjadi wanita sebagai orang tua tunggal dapat menjadi sorotan di dalam masyarakat yang dapat menjadi penghalang di dalam perkembangan aktualisasi dirinya. Pemecahan masalah yang berorientasi pada penyesuaian diri √ √ √ √ Pemecahan masalah yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan √ √ Pemecahan masalah yang berorientasi pada hubungan sosial √ √ √ Pemecahan masalah yang berorientasi pada anak √ √ √ √ 1. 4. Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal No Kategorisasi bentuk pemecahan masalah Membutuhkan bantuan orang lain.92 Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah yang dilakukan wanita sebagai orang tua tunggal dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya adalah sebagai berikut : Tabel 7. Proses pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Ibu yang menjadi wanita sebagai orang tua tunggal tidak hanya mempunyai masalah dengan dirinya sendiri tetapi juga dengan orang disekitarnya. 5. 2.

Pemecahan masalah dilakukan untuk mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi. 2.93 Ibu Tunggal seringkali tidak dipandang sama dengan keluarga utuh yang lengkap dengan Ayah dan Ibu. Pada informan 1. sedangkan pada . Berikut ini adalah faktorfaktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memilih pemecahan masalah tertentu untuk menyelesaikan masalahnya yaitu : a. jika ibu tunggal muda. Keluarga Ibu tunggal cenderung dipandang prejudice. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah Sikap individu dalam memilih menggunakan tipe pemecahan masalah tertentu pasti mempunyai alasan atau latar belakang. Tingkat pendidikan Pada penelitian ini informan ke 4 memiliki tingkat pendidikan yang paling tinggi dari keempat informan yang lain. Menyelesaikan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada caracara penyelesaian masalah secara langsung. cantik dan berhasil dari sisi materi. Billing’s dan Moos (Susilowati. gosip negatif dan sinis akan melingkupi percakapan harian tentang dia di daerah tempat tinggalnya. Usaha-usaha tersebut disebut pemecahan masalah. Kondisi ini menyebabkan wanita sebagai orang tua tunggal mengalami tekanan dari dalam diri maupun dari luar individu sehingga dalam keadaan tersebut akan menimbulkan suatu cara atau usaha untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. 2004). 3. dan 3 tingkat pendidikan yang ditempuhnya hanya sampai SMA.

dalam Paryanti 2006). b. c.94 informan ke 4 sampai pada jenjang pendidikan Strata 1 (S1). Kreativitas Individu yang memiliki kreativitas yang tinggi akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada individu yang . Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah yang merupakan produk dari kemampuan berpikir yang lebih sempurna yang ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional (Mappiare. sebab sejalan dengan bertambah usia maka individu akan semakin matang dan kemampuan pemecahan masalah akan semakin bertambah. sebab faktor inteligensi dianggap memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan pemecahan masalah (Ester. Individu yang telah lebih matang usianya akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada individu yang belum matang usianya. Individu yang lebih tinggi tingkat intelegensi/pendidikannya akan lebih tinggi kemampuan pemecahan masalah yang dipilihnya daripada individu yang kurang berpendidikan. Usia Pada penelitian ini dapat dilihat dari umur keempat informan. informan yang paling tua usianya yaitu informan 2 berusia 54 tahun dalam menyelesaikan masalahnya menyikapi masalah yang dihadapinya dengan lebih tenang dan mencoba untuk menjalani masalahnya apa adannya hal ini lebih baik dibandingkan tiga informan yang lain. 1991). dalam Walgito.

semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan. Adanya suatu masalah yang . menjahit konveksi (informan 2). 3. Pada penelitian ini dapat dilihat semua informan (informan 1. Semakin tinggi tingkat kreativitas individu. 1994). menyusun materi buku dan LKS (informan 4). d. Kepercayaan diri Individu yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada individu yang kurang memiliki kepercayaan diri yang tinggi sebab menurut Astono (2001) mengungkapkan bahwa tumbuhnya kepercayaan diri akan mendorong dan merangsang individu dalam mencoba dan mencari baru untuk dipecahkan. karena para informan telah terlebih dahulu berusaha untuk memecahkan masalahnya sendirian dahulu sebelum akhirnya jika tidak mampu meminta pertolongan pada orang lain. Lingkungan sosial Individu yang tinggal di dalam lingkungan sosial yang baik akan memiliki dan mengadaptasi cara-cara penyelesaian masalah melalui komunikasi dalam keluarga. 2 dan 4 untuk menambah pendapatan keluarganya sebagai : menjual barang kelontong (informan 1). Monks. e. dkk (2002). 2. Pada penelitian ini dapat dilihat kreatifitas informan 1. dan 4) memiliki kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah yang tergolong tinggi.95 kurang memiliki kreativitas yang tinggi sebab kreativitas adalah suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar.

yaitu (1) Tingkat pendidikan. Pada penelitian ini informan 1. 3 dan 4 mengkomunikasikan masalah yang memerlukan pertimbangan kepada orangorang terdekat dan fihak keluarganya. (2) Usia. (4) Kepercayaan diri. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya ada 5. Generalisasi dari hasil penelitian diatas terbatas pada informasi dimana penelitian ini dilakukan sehingga penerapan pada ruang lingkup yang lebih luas dengan karakteristik berbeda kiranya perlu dilakukan penelitian lagi karena karakteristik berbeda akan menghasilkan keragaman yang berbeda pula. . 2. Berikut ini disertakan dalam bentuk skema dinamika psikologis pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal.96 selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. (3) Kreativitas. dan (5) Lingkungan sosial.

Gambar 6 Skema Dinamika Psikologis Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal Wanita sebagai orang tua tunggal Masalah yang muncul Diri Sendiri Lingkungan terdekat Masalah Pribadi Anak dan Keluarga Ekonomi dan Pekerjaan Penyesuaian Diri Usaha Untuk Memecahkan Masalah Mengkomunik asikan dengan keluarga dan orang lain Pasrah pada Allah Berwiraswasta dan menjual barang yang dimiliki Pindah kerumah orang tuanya Berusaha lebih giat Menjaga perilaku Mencari tambahan penghasilan Ikut asuransi 97 .

Karena para informan adalah orang yang tidak ingin menyimpan sesuatu. para informan berusaha mengkompromikan masalah yang dihadapinya kepada keluarga dekatnya karena takut dianggap sebagai orang yang kuat. (b) Berserah diri. 98 . dan pemecahan masalah yang dipilih para informan didalam keluarganya. ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini. faktor. Informan menjalin hubungan baik dengan keluarga agar tercipta komunikasi yang baik serhingga akan mempengaruhi alasan. Para informan memasrahkan semua masalah yang dihadapi dan akibat dari tindakan yang nantinya ditimbulkan kepada Allah. Alasan melatar belakangi pemecahan masalah yang dipilih para informan adalah ketika ada masalah harus segera diselesaikan oleh informan.BAB V PENUTUP A. yaitu : 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. (d) Berusaha dan (e) Berharap. 2. (c) Berfikir positif. untuk menyelesaikan dengan cara yaitu : (a) Membutuhkan orang lain.

(b) Usia. ini dapat berarti para informan terlebih dahulu memahami masalah yang harus dihadapinya. (c) Kreatifitas. dan memilih salah satu di antara cara pemecahan masalahnya itu. 4. Setelah memahami masalah yang dihadapi informan berusaha menemukan berbagai cara pemecahan. pilihan terbaik menurut dirinya adalah pilihan yang optimal pencapaian tujuannya untuk kemudian dipilih dan dianggap sebagai penyelesaian masalah yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. dari keempat informan kesemuannya dapat terlebih dahulu memahami masalah yang dihadapinya sehingga dapat menyusun prioritas utama yang harus dipilih. Didalam menentukan dan memilih penyelesaian masalah yang dihadapi para informan terlebih dahulu harus dapat menguji cara penyelesaian 99 . dari semua informan memprioritaskan mengenai pemenuhan kebutuhan ekonomi dan biaya pendidikan anak-anaknya.3. Dari keempat informan penelitian terdapat persamaan alasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi para informan dalam memilih pemecahan masalah tersebut adalah : (a) Tingkat pendidikan. setelah itu informan menentukan pilihan yang terbaik. Persamaan dari keempat informan penelitian adalah didalam memecahkan masalah informan memahami masalah. (d) Kepercayaan diri. dan faktor pemecahan masalah. dan (e) Lingkungan sosial.

100 . B. analisis. Saran Berdasarkan hasil penelitian.masalahnya untuk mengetahui dan menghitung konsekuensi pilihan yang dipilih. serta tetap dapat menerima saran dan masukan dari orang lain tersebut guna membantu tercukupinya kebutuhan pokok seperti uang sekolah. Kepada Informan penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa pentingnya komunikasi yang dilakukan akan mempengaruhi alasan. 2. dan pemecahan masalah yang dipilih para informan didalam keluarganya. uang makan dan sebagainya (informan 1. setelah semuanya dilakukan oleh informan selanjutnya informan mengawasi pelaksanaan keputusan yang telah dipilihnya untuk mengantisipasi berbagai perubahan yang mungkin terjadi pada saat keputusan itu terjadi pada saat keputusan itu tersebut dilaksanakan oleh para informan. maka untuk menjaga komunikasi agar tetap terjaga diharapkan untuk tetap menjaga hubungan baik yang telah terjalin dengan para keluarga dekat atau orang yang dianggap dapat membantu memecahkan masalahnya (informan 1. 2. 3 dan 4). faktor. dan kesimpulan ada beberapa saran yang penulis sampaikan : 1. 3 dan 4).

2. membantu dan mendorong semangat orang tuanya (informan 1. 3. dan 2) dengan cara tetap menciptakan suasana rumah yang nyaman dan kondusif (informan 3. 2. Kepada anak Bagi anak. serta mempertahankan sikap memahami. 2. 2. 3. Sehingga diharapkan informan penelitian lebih teratur untuk mendapatkan pemasukan untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya (informan 2). Meningkatkan keahlian dan keterampilan kerja melalui pendidikan pelatihan kerja dapat digunakan untuk mendapatkan peluang penghasilan tambahan. dan 4). diharapkan dapat agar lebih memahami dan menerima secara positif dari pilihan hidup yang dipilih oleh orang tuanya (informan 1. dan 3). dan 4) 101 . dan 3) dan memberikan hadiah atau bonus bagi anak yang mendapat nilai tertinggi dalam nilai prestasi akademik agar anak lebih termotivasi di dalam belajar (Informan 1.Mengikut sertakan dirinya dalam jasa asuransi jiwa untuk memberikan jaminan rasa tenang kepada anak-anaknya (informan 1. sehingga mampu memberikan semangat hidup kepada orang tuanya agar memiliki harapan dan cita-cita yang tinggi kepada anak (informan 1. dan 4). dan 4). 3. serta meningkatkan kemampuan kognitif melalui kerjasama dengan semua keluarga ataupun orang terdekat untuk membantu memecahkan masalahmasalah yang dihadapi (informan 1. 2.

sehingga dapat mengurangi gossip-gossip negatif yang muncul dan akan mengganggu aktualisasi diri para wanita sebagai orang tua tunggal di dalam kehidupan bermasyarakat.3. . 4. 102 . Kepada peneliti selanjutnya Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas penelitian lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan pilihan hidup yang dipilih wanita sebagai orang tua tunggal dan juga dapat dimanfaatkan sebagai tambahan informasi bagi para peneliti selanjutnya dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang belum diungkap dalam penelitian ini agar dapat lebih mengungkap secara lebih mendalam sehingga kesimpulan yang diperoleh lebih aplikatif. karena tidak semua wanita yang menjanda akan berperilaku negatif. Kepada masyarakat Untuk keluarga dan masyarakat pada umumnya hendaknya membantu wanita sebagai orang tua tunggal ketika menghadapi kesulitan dan tidak menganggap negatif pilihan hidup wanita sebagai orang tua tunggal.

Chaplin.103 DAFTAR PUSTAKA Astono. Surakarta: Fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta. 2005. 2001. Gunarsa. K). No.. Monks. Edisi 1 Cetakan ke-7. Gunung Mulia. Koran Tempo. R. Kamus Lengkap Psikologi (alih bahasa: Kartono. September 2001. Knoers. 1997.P. Ibrahim. Jurus jitu perempuan tangguh. 1992. Dagun. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. B. D. Jakarta: PT Tempo Inti Media Harian.J. Maskulin dan Feminim: Perbedaan Pria dan Wanita Dalam Masa Depan. (1991). 1 (6-9). F. A. Jakarta. 2437/VII-Maret.M. R. Bandung: Pustaka Hidayah Khoiriyah. S. 2008. Psikologi Perkembangan. Kompas: Kumpulan Artikel. Cincinnati. 2002. Grafindo Persada. Jakarta: BPK.. Creative thinking in the decision and management sciences. Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif. Jakarta. 2005 Gambaran konflik dan reaksi emosi isteri tahanan dalam menjalankan peran gandannya di keluarga. C. Ohio: South Western Publishing Co. Cet.P. Jakarta: Rineka Cipta. .M. Psikologi Wanita. J. Evans. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Zakaria.

New York: Oxford University Press. Myers.5 Vol. Metodologi Penelitian Kualitatif. Kreativitas Keterbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi dan Bakat. Bandung : Remaja Rosdakarya. Surakarta: Fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta. Moleong. No. Tetap Bugar Sampai Tua. 1993.3 Vol.4-juni. L. A. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. No. 2005. Nikah. 1999. 2006. Sukoharjo: Penerbit Ibnu Katsir. Nikah. ( terjemahan: Elly. Bandung : Indonesia Publishing House. J. Saat anak jadi rebutan. C. Bandung : Tarsito.1995. 2001. Munandar. Metodologi Penelitian. ELL. U. Jakarta: Grafindo. Jakarta : Bumi Aksara. 1998. dkk). 1992. Social Psychology. Jakarta: EGC. Nasution. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Pendekatan Berdasarkan Pengalaman.D. C.104 Monica. dan Achmadi. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Sukoharjo: Penerbit Ibnu Katsir. Paryanti. Panjaitan. Narbuko. M. G. Perbedaan kemampuan Problem Solving antara anak yang mengikuti dan tidak mengikuti pendidikan mental aritmatika. .6-juni. 2007. Second Edition. 1997.Haruskah kita berpisah?. S.

Psikologi Kognitif edisi revisi. Metodologi Penelitian. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Bandung: CV. B. S. Susilowati. Kemampuan pemecahan Masalah Ditinjau dari Self Efficacy dan Peran Jenis Kelamin. Gramedia Pustaka Utama. htm. (penerjemah. 2002. Suharnan. A. Komunikasi dan Perubahan Mental. Santoso. 2004. 2005. / hqweb/pikas/2002/straight 050508.105 Puspitadewi. Shapiro. 2005. Unjustice Gender of Moslem Family in Surakarta . Indonesia Kini Bisa Dijuluki “Negeri Janda”. 1991. A. 1997. Psikologi Komunikasi. Single Parent: Peran ganda ibu dalam mendidik anak. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. bkbn. Menikah kembali di usia lanjut. Edisi Revisi. diperoleh dari www. Suryabrata. E. Psikologi Sosial. 2001. Makalah. L. Wibowo. MJ. Bafaqih). Jakarta: PT. DJ. Walgito. (terjemahan: Kantjono.). Skripsi (Tidak Diterbitkan). Jakarta : Rajawali. D. Remaja Rosdakarya.T. 2003. Yogjakarta: Studing. Cetakan-I. . Surabaya: Srikandi. Yogyakarta: Andi Offsett. Rakhmat. Thailand. Id. A. Dipresentasikan 18 Mei 2004. S. Wong Sanit Ashram Bangkok. T. Surakarta: Fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta. Suardiman. 1992. go. B. Surakarta: Fakultas Psikologi UMS. Qaimi. Bogor: Penerbit cahaya. 1992.

Ilmu Perilaku. Woolfolk.singleparents.spotnews. Sagung Seto. L. 1999.. A. www. Jakarta: Inisiasi Press.htm.E.20/05/08) .R.com/artikel. (terjemahan: Anam.. T. Jakarta: CV. Mengembangkan Kepribadian & Kecerdasan Anak-Anak (Psikologi Pembelajaran I).106 Widayatun.K).M. M. Nicolicch. 2004.

LAMPIRAN A Verbatim Wawancara .

.. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. kalo boleh tau ya.. P : Emm. 9 September 2008 Tempat : Kompleks rumah dinas aspol Manahan. P : Seperti apa misalnya? I : Ya. seperti halnya cara usaha wiraswasta misalnya. seperti usaha dengan kemampuan saya yang saya miliki ee.107 Verbatim Wawancara Informan 1 Kode : W1/S1 Nama : Ibu M Usia : 47 tahun Pekerjaan : Janda pensiunan TNI/POLRI Pendidikan terakhir : SMA Usia anak : 15 Tahun (Remaja) Hari/tanggal wawancara : Selasa.25 – 09.. terus bagaimana ibu menyikapinnya dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dari segi ekonomi dan kenakalan anak seperti yang ibu utarakan tadi? I : Yaa.40 WIB (15 Menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha. terus? I : Dan untuk mengatasi kenakalan anak P : Ooo.. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Pagi bu? I : Pagi P : Eh bu. terutama masalah ekonomi. P : Ee. P : Ooo. Masalah yang dihadapi informan terutama masalah ekonomi dan masalah kenakalan anak. lalu? I : Yaa itulah. 15 20 25 Informan menyikapinnya dan menyelesaikan masalah yang dihadapi penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha dengan kemampuannya seperti halnya usaha wiraswasta. Waktu : 09. I : Untuk membantu masalah Analisis 5 10 Informan memiliki banyak permasalahan ketika membesarkan anak seorang diri.. selama ibu membesarkan anak seorang diri ini apakah banyak masalah yang terjadi bu? I : Banyak. P : Terus? Berusaha seperti apa? I : Misalnya.

apakah ibu pernah mengalami masalah yang dirasa sangat berat? I : Iya. ee.. antar komunikasi keluarga P : Eee. pernah! P : Kapan bu? I : Yaa. seperti halnya ya masalah ekonomi dan perkembangan anak-anak untuk menuju masa depannya Informan masih bisa mengatasi sendiri permasalahannya yang menyangkut pendidikan. P : Eee... wah dikiranya saya seorang diri yang kuat atau bagaimana gitu. P : Ee. saya harus bener-bener harus menyikapi sebagai ibu ya peran sebagai ayah. P : Masa depan disini.... karena yang tidak hanya mengatasi anak saja karena waktu itu ya adik.. maksudnya? I : Maksud saya ya untuk mencari pekerjaan atau… P : Pekerjaan.. P : Eee. ekonomi yang pertama. yang kedua yaitu ke perkembangan anak-anak untuk menuju masa depannya. I : Iya. kalau masalah lain dari pendidikan mengapa harus melibatkan orang lain. tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan informan mengkompromikan dengan keluarganya. bu. terus kalau ada suatu masalah dalam keluarga nggih. Informan takut dikira sebagai seorang yang kuat. .108 30 35 40 45 50 55 60 65 70 ekonominnya P : Ee. saat. tapi saya hal tersebut kan sudah saya sampaikan.. selain pendidikan? I : Ya karena saya berpendapat... Selain pensiunan yang diterima bapak. andaikata itu respon untuk keluarga bagaimana terserah. terus. dah lama ya. tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan saya kompromikan dengan keluarga. Karena informan harus menyikapi sebagai ibu dan peran sebagai ayah. P : Ee. ee... berarti harus ada komunikasi? I : Iya. ya keponakan ada disini jadi ee. he’eh. lantas bagaimana? Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? I : Kalau masih dalam masalah pendidikan. seperti? I : Seperti halnya ya masalah ekonomi itu dengan. insya allah saya masih bisa mengatasi sendiri. kalau saya tidak mengutarakan kepada fihak keluarga nanti karena seseorang itu akan menilai. ibu itu Informan pernah mengalami masalah yang dirasa sangat berat.

.. saya pasrah Pasrah? Jadi intinya pasrah pada Allah. apa istilahnya nggak memikirkan akibat selanjudnya tuh? Tidak. kalau tidak ya tidak dikonsultasikan. dengan bening insya allah tidak Jadi. kalau nggak perlu ya nggak. pekerjaan terserah. Tapi saya arahkan. masalah yang besar sekali itu kalau sudah anak menginjak dewasa. umpamanya anak itu sekolah memilih ini tapi saya arahkan. apakah ibu itu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih tadi. menentukan apa itu. ya menuju kepositifan.. mau memasuki perguruan tinggi karena menentukan nasibnya untuk .. untuk masa depan anak ya itulah yang sangat berat Tindakan yang dipilih informan adalah yang terbaik dan yang menuju kepositifan untuk anak. dalam. kalau boleh tahu ni seberapa besar peran ibu dalam mengatasi masalah dalam keluarga ibu? Maksudnya yang besar ya? Hemm. Yang masalah persoalan di dalam saya sebagai single parent. kalau dalam masalah keluarga ya tidak masalah. Ooo.. Informan berperan besar dalam mengatasi masalah dalam keluarga. terus kalau ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain apakah ibu bagaimana? Melibatkan. ee. Ketika informan menghadapi masalah dan melibatkan orang lain informan mengkomunikasikan dengan keluarganya dan konsultasikan. saya lakukan sudah saya pikirkan jernih. yang sudah saya pikirkan itu. Yang terbaik seperti? Eee. belum. Emm. tapi kalau masalah yang perlu dikomunikasikan sama keluarga ya saya konsultasikan. Maksudnya? Maksudnya ya. ibu lakukan? Insya allah. He’eh pasrah. tindakan yang dipilih ibu itu bagaimana? Ya yang terbaik... ibu nggak. untuk anak. Berarti intinnya menjadi masalah ibu Iya. Emm. Informan tidak memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang informan pilih karena informan telah pasrah. nggak saya konsultasikan sama keluarga.109 75 I : P : I : 80 P : I : P : 85 I 90 : P : 95 I P I P : : : : 100 I : 105 P : I : P : 110 I : P : I : 115 menentukan tindakan sing. Ee terus bu.. terlebih kalau sudah anak menginjak dewasa.

seperti marah. P : Awal dari masa depannya? I : Iya. Informan sebelumnya tidak pernah membayangkan kehidupan yang dialaminya seperti sekarang. na itu khan harus saya lakukan. iya maksudnya kalau sudah keluar dari sekolah. eh bu.. Perasaan informan kalau menghadapi masalah dalam keluarga hanya . P : Eee. bingung atau apa? I : Kalau bingung tuh nggak mas.. hanya menyerahkan sama allah P : Terus pasrah nggih. masih sering melakukan piknik. itulah. mohon maaf lagi kalau perasaan ibu kalau menghadapi masalah itu bagaimana bu? Menghadapi masalah dengan keluarga. kita harus bersikap sabar P : Eee.110 120 125 130 135 140 145 150 155 160 165 P : Seperti sekolah gitu? I : Iya. mau memasuki perguruan tinggi. ya kalau boleh tahu. anak sok memohon eh untuk diajari belajar bersama ayahnya. yang biasa dilakukan oleh suami itu seperti apa? I : Sok kadang-kadang. eh berapa minggu sekali atau berapa bulan sekali anak diajak rekreasi atau pas minta.. sama sekali P : Tidak ingin mencoba untuk piknik lagi?.. atau anak itu mau kemana itu nanti sangat berat P : Ee. pasrah? selamannya.. ee terus ya. mengapa menurut ibu sangat berat? I : Ya karena menentukan nasibnya untuk selamannya. cuma apa sok kadang-kadang kesulitan yang tidak bisa teratasi untuk dirinya. apakah ibu tuh sebelumnya pernah membayangkan kehidupan yang ibu alami seperti sekarang ini? I : Tidak pernah P : Tidak pernah ya? terus bagaimana perasaan ibu dan cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak? I : Pertama. menyesuaikan terhadap anakanak itu karena yang biasannya dilakukan oleh suami otomatis saya lakukan. P : Setelah ditinggal ayah. rekreasi bersama? I : Tidak pernah. Perasaan informan dan cara informan menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh suami adalah dengan menyesuaikan terhadap anak-anak dan bersikap sabar.

nuwun sewu malih apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga ibu? I : Ya. otomatis segera selesai besuk sudah ganti persoalan lagi.. Informan langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya karena informan tipe orang yang tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan. Informan tidak pernah meminta bantuan orang lain. ee apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarga ibu? bu I : Saya kalau ada masalah. terutama dari fihak keluarga saya. kalau dari keluarga bapak? I : Ya.. paling kalau kita pas silahturahmi P : Momentum lebaran mungkin? I : Iya P : Jadi intensitasnya lebih banyak ke keluarga ibu sendiri? I : Iya. termasuk ibu saya P : Apakah ibu tuh selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluargannya ibu? I : Yaa saya tidak pernah meminta ya cuma mungkin karena kegiatan saya itu tuh hanya pengajian dan tahu posisi anak saya tuh kan bener-benar anak yatim. nuwun sewu nggih bu. segera diselesaikan. termasuk ibu dari informan. Yang membantu menyelesaikan masalah informan ketika ada masalah dalam keluarga adalah dari fihak keluargannya. P : Ee. P : Jadi langsung seketika itu juga? I : Iya P : Terus.. atau jumlah nilainya saya tidak pernah menilai seukuran banyaknnya tapi yang saya ukur itu adalah pengertian menyerahkan sama allah dan yakin Allah itu akan memberi jalan keluar. saya ingin karena saya anu tipe orangnya tuh tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan. mungkin ya saya tidak pernah menghilangkan. P : Heem. mungkin kalau ketemu ya. ya itu saya tidak memandang bantuan itu berupa apa. ee.. jadi masih sering berkomunikasi dengan keluarga bapak? I : Setelah anak-anak menjelang dewasa tuh jarang. .111 170 175 180 185 190 195 200 205 210 I : Saya yakin Allah itu akan memberi jalan keluar P : Eee.

Yaa.. Emm… Pinarak sik. Karena itu rejeki. dan mungkin rejeki anaknya tetapi lewat orang lain maka informan menerima bantuannya Informan mempercayai dan menyikapi bantuan dari orang lain karena informan yakin semua datangnya dari Allah.. Eee.. saya ucapkan terimakasih kepada Allah baru saya ucapkan kepada mereka. kita sesama hanya lantaran. cuma mer..(mempersilahkan orang yang datang untuk masuk kerumahnya) Karena informan itu menganggap rejeki. apa gitu. ee. anu hambannya tuh sebagai lantaran.. karena semua itu yang memberikan dan yang menglantari tuh semua Allah. Apabila ibu tuh menerima bantuannya itu namannya bantuan tuh bagaimana ibu apa mempercayai dan menyikapi bantuan dari orang lain tuh lho bu. beliau Emm. mungkin rejeki anak saya tapi lewat mereka Ooo. yaa hanya itu. . He’em.. gitu Walaupun itu hanya mungkin dari kedekatan saya. saya pertama kali saya mengucapkan ee.112 215 220 P : I : 225 P : 230 I : P : I : P : I : P : 240 I : 235 245 250 P : I : 255 P : I : mungkin tidak seberapa kalau diukur nilai. Kalau dari keluarga saya ya mungkin wong namanya dari fihak keluarga saya tahu kesulitan yang sebenarnya.. semua datangnya dari Allah. sangat-sangat menghargai dengan pengertian beliaubeliau tersebut. terus apabila nuwun sewu nggih. jadi ibu mempercayai yang memberikan bantuan kepada ibu? Saya yakin. Jadi intinya mau menerima bantuan dari orang lain. berterimakasih pada Allah.. ee.. keluarga lain walaupun bantuan sekecil apapun ibu tetap menerimannya.. gitu Saya berpendapat begitu mas Emm. apa itu bantuannya itu tidak seberapa kalau diukur dengan kebutuhan istilahnya sehari-hari. dari pergaulan seharihari untuk pengajian. saya sangat menghargai...

kalau sumpama harapan ibu mengenai anak itu sudah tercapai tuh apakah ada harapan yang lain bu? I : Harapan saya apabila Allah tuh masih memberikan umur panjang yang berkah barokah. dan untuk anakanak saya semoga anak-anak saya menjadi anak yang betul-betul soleh dan solehah. P : Jadi harapan ibu. hanya itu harapan saya P : Ada harapan lain? I : Yaa. P : Terus lainnya selain posisi yang seperti ibu? I : Yaa.. bakti pada kepada orang tuannya.113 260 265 270 275 280 285 290 295 300 P : Terus. dengan kesehatan yang berkah dan barokah juga saya ingin pokoknya ingin membantu. dunia sampai akherat. dunia sampai akherat itu yang saya harapkan. pokoknya terutama pada posisi yang seperti sayasaya ini.... dan semoga anak-anaknya menjadi anak yang betulbetul soleh dan solehah. Harapan informan kedepannya adalah lebih baik dari pada sekarang anak-anaknya lebih baik daripada darinya. Informan ingin membantu. itu yang pertama kali. itu saya yakin semua sudah diajaran semua sudah diterapkan. terutama kepada orang yang seperti dirinya serta mendekatkan diri pada yang diatas. nuwun sewu nggih. setelah dengan kondisi apa I : Yang pertama. yaa itu saja? I : Iya P : Eee. bukan apa-apa. otomatis kalau anak yang soleh dan solehah itu akan mengerti lingkup dan lingkungan baik dilingkungan luar maupun lingkungan keluarga. . dan saya mengharap untuk anak-anak saya lebih baik daripada dari saya.. itu karena itu akan.. P : Eee. makasih ya bu atas waktunnya. anak nya menjadi anak yang sholeh? I : Sholeh dan sholehah. bakti pada kepada orang tuannya.. saya terhadap diri saya lebih baik dari pada hari ini. apa harapane ibu anu kedepane. dunia sampai ke akherat P : Sukses dunia akherat? I : Yaa. yang namannya soleh dan solehah tuh akan menyangkut keseluruhannya. anu mendekatkan dirilah pada yang diatas P : Yaa. ee.

. kita saling mengisi.. I : Yaa... I : Nggak apa-apa.114 305 maaf kalau mengganggu yaa. saling membantu P : Maksih bu.

. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal.. Emm. . masalah keluarganya sendiri dan keluarga dari fihak suami karena bukan tinggal dirumahnya sendiri. selain ekonomi dan keluarga tuh yang menurut ibu yang menjadi suatu masalah itu apa bu? Analisis 5 10 I : 15 P : I : 20 P : I : P : 25 Selama informan menjadi orang tua yang membesarkan anak seorang diri banyak masalah yang terjadi terutama masalah ekonomi. eh anak-anak nggak nakal. selama ibu tuh menjadi seorang orang tua yang membesarkan anak seorang diri tuh apakah banyak masalah yang terjadi bu? Iya.30-13. Trus saya pindah dirumah sendiri..00 WIB (30 Menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. 9 September 2008 Tempat : Rumah orang tua ibu Y Waktu : 12. sok-sok ndak cocok. P : Pewawancara I : Informan Baris P I P I P : : : : : Uraian Interview Siang bu Selamat siang Bisa ganggu sebentar? Oo ya nggak pa pa Eh.115 Verbatim Wawancara Informan 2 Kode : W1/S2 Nama : Ibu Y Usia : 54 tahun Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan terakhir : SMA Usia anak : 22 Tahun (Dewasa awal) Hari/tanggal wawancara : Selasa. anak-anak masih kecil... selain. ya masalah sama keluarga tuh sok-sok nggak cocok trus keluargane suami Oh. tetapi numpang dirumah mertua. kalau boleh tahu yaa. masalahnya yaa. gitu karena bukan rumah sendiri saat itu. kalau keluar tuh sok-sok ndak boleh. pertama ya itu saja Emm. apa masalah ekonomi terutama. ee.. Informan menyikapi masalah hubungan dengan keluarga suami dengan cara pindah kerumah orang tuanya sendiri. bu. trus? Ya. masalah kenakalan.. saya sendiri numpang dirumah mertua.

apakah ibu tuh pernah mengalami Informan mengurus dan membesarkan anakanaknya sendiri karena takut dan kasihan apabila anaknya ikut dengan orang lain. I : Trus kita. jadi? I : Nek orang lain kita kan ndak liat. ndak usah mikir yang lain-lain lah pokoknya. P : Ndak sukanya? I : Ndak sukanya. bisa bekerja. takut. nek pisah itu nanti kasihan anak-anak. kita bisa menyukupi kebutuhan untuk anakanak. pastinya P : Trus kalau ada masalah yang itu menurut ibu tadi berat itu. dibesarkan sendiri. anu ndak suka lah. ya ndak liat og. ya apa saja. trus bagaimana ibu cara menyikapi dan menyelesaikan suatu permasalahan itu bu? I : Ya.. gimana ya. . ya enak atau nggak enak kita harus menghadapi sendiri. keluar gitu P : Terus? I : Kalau ndak keluar ya sok-sok jahitan bawa pulang. ya harus diurus sendiri. nek nggak kerja kita ndak bisa makan. menjalani apa adannya..116 30 35 40 45 50 55 60 65 70 I : Yaa. pikir sendiri.. tapi nek anak-anak ikut orang lain kan kita memang diringankan bebannya. tapi kan harus pisah tuh kita ndak. yang penting bisa menyukupi kebutuhan untuk anakanak dan bisa bekerja.. dan tidak mikir yang lain-lain. sok yo ikut orang jahit diluar. P : Ooo. tapi saya ndak boleh P : Ibu sayang ya? I : Ya mesti. kalau ndak kerja otomatis ndak punya uang karena anak-anak belum bisa apa-apa P : Itu dulu yaa?. tak ada ya karena anak-anak kita sendiri. P : Kenapa takut bu? I : Yaa.. P : Maksudte yang enak atau nggak enak tuh? Enak nggak enak? I : Enak nggak enak ya pamane. saya ndak mau kalau anak-anak ikut orang lain. ndak anu ada yang mau minta. umpamane kita mesti kekurangan P : Emm... hee. Ketika ada permasalahan informan menyikapinya dengan memikirkan sendiri. ya di pikir dengan. eh trus kalau boleh tahu ya. gitu aja P : Maksudnya? I : Yaa. jalani apa adannya.

biasanya gitu. ndak ya.. Informan mengatakan walaupun tidak menyewa. saya ya melibatkan pada orang lain. jadinya ndak begitu pusing karena tempat tinggal sudah tersedia.. terus eh apakah ibu tuh berusaha mengatasi masalah yang ibu hadapi tuh seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? Ya nek terlalu berat.. sakit. lama-lama dipikir kita harus menghidupi anak-anak jadinya kita harus semangat lah jangan sampai nlokro. Keluarga dari? Keluarga dari saya sendiri. Daripada dirumah bapak? Emm. tapi nek dipikir. bisa ikut orang tuane bapaknya. ekonomi Ya yang lain tuh tidak ah.. Ketika informan menghadapi permasalahan yang terlalu berat.117 75 I : 80 P : 85 I : P : I : P : 90 I : 95 100 105 P : I : P : I : P : 110 I : P : 115 I : masalah yang merasa ibu sangat berat untuk menyelesaikannya bu? Saya kira yaa. Jadi ibu tuh lebih cenderung untuk tinggal di keluarga ibu sendiri Iya. keluarga. terus kalau apa tuh biasannya ya masalah tuh disebabkan oleh apa? Selain anak-anak. pusing gitu. Kalau boleh tahu yang menjadikan semangat ibu tuh apa? Ya membesarkan anak-anak Jadi semangat ibu tuh dari anak-anak itu? Iya. kalau dipikirkan banget-banget kan kita bisa sakit lah. Eee. bertanyatanya bagaimana ni jalannya keluar Informan belum dan tidak pernah mengalami masalah yang dirasa informan sangat berat. tetapi itu bukan rumahnya sendiri. karena tempat tinggal kami tidak menyewa.. kalau ndak tersedia kan kita harus membayar kontrakan. tidak mengontrak. ndak terlalu memikirkan banget-banget lah. disana ya keluargannya bapake tuh Jadi bu? Bukan rumah sendiri. atau membayar sewa rumah tuh lebih berat lagi. Informan menganggap sebab permasalahnya biasa saja karena tempat tinggalnya sudah tidak menyewa. tidak mengontrak sehingga tidak begitu pusing karena tempat tinggal sudah tersedia walaupun bukan rumah sendiri dan tinggal bersama-sama keluarga yang lain. ia . termasuk agak lumayan lah ada rumah sendiri walaupun bersama-sama keluarga yang lain. bisa orang tua saya sendiri.

Emm.. saya pilih ya..118 120 125 130 P : I : P : I P I P I : : : : : 135 140 P : I : P : I : P : I : 145 150 P : I : P : 155 I : P : 160 I : P : kalau saya menerima kesulitan.. terutama tuh pastinya karena saya tidak bisa anu berbuat lebih banyak untuk mendapatkan uang itu. terutama tuh lho ekonomi lah yang membuat berat seorang diri. berarti selalu apa melibatkan orang lain? Ooo. mencukupi ekonomi. saya harus mempunyai sikap sendiri. kesulitan apa saja ya kesulitan ya terutama kesulitan keuangan. Gitu. Yang berat tuh masalah ekonomi ya. bagaimana itu ibu menentukan tindakan yang ibu pilih? Ooo. waktu masih anak-anak masih sekolah Ibu. ya itu pokoke yang saya punya. . untuk mendapatkan itu. nggak selalu. karena kalau bisa diatasi sendiri informan mengatasinya sendiri. sok ya dikasih ama saudara. saya aku jual. ketika ada suatu masalah dalam keluarga ya. kami yo sok pinjem kesana-kemari. melibatkan orang lain... He’eh. jadi untuk? Hari-harinya. Informan tidak selalu melibatkan orang lain membantu memecahkan masalahnya.. Saudarane bapake itu dan saya sendiri ya berusaha untuk mendapat sendiri. kenapa? Saya kalau bisa sendiri saya atasi sendiri. Yang sering membantu informan memecahkan masalahnya adalah saudara-saudara dari ipariparnya. jual apa yang kita punya. Ketika mementukan tindakan yang dipilihnya informan tidak minta pertimbangan orang lain. saya ndak libatkan orang lain Lalu kalau setelah apa yang dijual nggak ada baru meminta tolong orang lain? Iya Kalau boleh tahu lagi ya bu. Nggak selalu. keluarga dari fihak suaminya.. bertanya-tanya bagaimana jalan keluarnya terutama kesulitan dalam keuangan. Kalau boleh tahu tuh yang sering membantu? Yang sering membantu? Siapa? Saudara-saudara dari ipar-ipar saya Emm.. Emm. Emm. saya tidak minta pertimbangan orang lain.

I : Maju didepan sekolahan. itulah. jadi dah mentok gitu perlu minta bantuan orang lain tuh. atau ikut tes-tes testing itu lha saya kan harus maju sendiri agar saya dapat dipensasi oleh kepala sekolah gitu khan saya harus maju sendiri untuk keringanan-keringanan. meringankan diri saya P : Berarti? I : Tidak melibatkan orang. nek nyicil kan ora iso anu ikut ujian. dimana-mana pun saya sendiri P : Jadi ibu selalu memikirkan akibatnya I : Akibatnya sudah saya pikirkan P : Emm. kalau atau misalnya anak-anak tiga bulan nggak mbayar sekolahnya. kalau ibu bertindak begini. masalah ekonomi.119 165 170 175 180 185 190 195 200 205 210 I : Apapun juga. Sikap informan ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain adalah memilih orang . P : Jadi ibu tuh yang menentukan tindakan I : Iya saya sendiri P : Kalau ee. Informan sudah memikirkan sebelumnya segala akibat dari tindakan yang diambilnya. kalau saya kan sudah terpikir sebelumnya saya harus bertindak begini.. SPP trus kita kan berusaha nyicil. masalah apapun juga. tapi harus tepat kalau nggak tepat saya akan sakit hati. pasti akhirnya begini? I : He’eh untuk kebaikan-kebaikan anakanak P : Trus bagaimana sikap ibu ketika masalah tersebut itu harus melibatkan orang lain. Informan memikirkan akibat dari tindakannya untuk kebaikan anakanaknya. kalau haruslah. saya pun kemana-mana maju sendiri. masalah sekolah-sekolah. P : Tepat? karena informan mempunyai sikap sendiri dan nggak pernah melibatkan orang lain... disekolahan sendiri nggak pernah melibatkan orang lain.. minta tolong atau bagaimana gitu? I : Oh kalau kepepet sekali. saya sendiri P : Emm. apakah ibu tuh selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu lakukan itu? I : Ooo. pokoknya harus istilahe saya tidak isa menyelesaikan ya saya lari kemanakah yang saya tuju. apakah ibu apa.

hatinya sendiri. tidak sama dengan ati kita.? I : Tepat orangnya P : Tepat orangnya? I : Tepat orangnya kan bisa menasehati. kalau. jadi saya seakan-akan sakit hati kalau digitukan. P : Jadi? I : Pamane kita. dan ia tidak cocok. seakanakan kalau. . ya takut dicela itu P : Kenapa ndak cocok? I : Lha ndak cocok lha sok-sok wis ngenengene wae. yang baik P : Tepat orangnya? I : Kalau nggak tepat kita khan dicela-cela P : Emm. dalam hati kita ya itu P : Jadi ibu tuh berperan penuh dalam yang tepat karena kalau tidak tepat akan dicela sehingga nantinya akan sakit hati. itu jo jangan gitu. he’eh orang lain itu nggak bisa. Informan berperan 100% dalam mengatasi masalah dalam keluarganya karena ia menganggap orang lain tidak bisa. nggak bisa.. hati kita sendiri. orang lain khan tidak bisa merasakan. P : Tepat disini maksudnya tepat orangnya atau tepat. jadi menurut ibu tepat orangnya itu untuk menghindari celaan? I : Celaan P : Terus kalau seberapa besar sih peran ibu dalam mengatasi masalah dalam keluarga ibu. ora podo karo atine. hati kita. kita harus gini. lha gitu kan tidak anu. Karena menurut informan itu menyangkut dirinya sendiri. saya ndak cocok. jo ngono. jadi gini perannya ibu dalam penyelesaian masalah di dalam keluarga tuh seberapa besar? I : Wah ya 100% P : Bisa dikatakan seratus persen? I : Iya. harus begini karena itu menyangkut diri kita sendiri. gitu lha saya pa-pa saya begini ya terus. orang lain khan tidak bisa merasakan.. anu berkerja yang lain-lain. rendah hatilah koyone gimana. seandainya gitu. itu anu-anu.. mungkin yo karena saya ya gimana ya. nek ora isa wis usaha.120 215 220 225 230 235 240 245 250 255 I : Tempat pertolongan tuh kalau nggak tepat itu pamane sok mungkin ada yang mencela. nah da saudara kan da yang gitu nah itu saya ndak cocok. koe kudune ngene-ngene gitu. tambah neh kerja apa tuh.

tapi kalau sudah besar ya. Informan sebelumnya belum pernah membayangkan kehidupannya yang seperti sekarang ini. anak-anak sudah bisa jalan sendiri ya saya kan hanya memberi uang saku. Jadi? Gimana saya caranya untuk membesarkan anak-anak sendirian. Jadi sebelumnya tuh ibu belum pernah membayangkan yaa? Belum pernah wong masih ada bapake. nganter sekolah sendiri. tidak ada suami tuh setengah kaget. Perasaan dan cara informan waktu menyesuaikan diri pada waktu masa awal ditinggal suami adalah sabar dalam menghadapi segalannya dan banyak berdoa .121 260 I : P : I : 265 270 P : I : P : 275 I : P : I : 280 P : 285 I : P : 290 I : P : I : 295 300 keluarga untuk menghidari campur tangan orang lain He’em. cari uang sendiri.. masa kecil-kecilnya anak-anak tuh. Sabar? Sabar dalam menghadapi segalannya. sok-sok kita kan terkejut lah sekarang sendiri harus begini-begini. tapi ya termasuk kaget lah. dalam hati saya cuma itu saja. wah saya bisa pa nggak. nek sebelumnya ya ndak wong ada bapaknya og.. pasti bisa mencukupi lah walau bagaimanapun. hanya itu saja pikiran saya. menyesuaikan ya? Kita harus sabar. ehh nuwun sewu malih nggih. uang saku itu kalau malamnya itu belum ada. Emm. apakah ibu tuh sebelumnya pernah membayangkan kehidupan ibu yang seperti sekarang ini? Ooo. tapi setelah itu saya pikirnya apa bisa saya membesarkan anak-anak. Jadi belum pernah membayangkan karena tanggung jawab masih penuh ditangan suami? He’em. Bapak masih ada? Bapak masih hidup. harus banyak berdoa terutama. terus nuwun sewu nggih.. eh bagaimana perasaan ibu dan carane ibu waktu menyesuaikan diri pada waktu masa awal ditinggal ayah? Oh. pasti ada yang mencukupi nek. bisa nggak gitu dalam hati. ayahnya Terus.

terus perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam keluarganya? I : Wah ya sedih itu P : Sedihnya? I : Sedih lah anu ndak ada yang membantu. lha nek sendiri gini kan susah lah.. Informan langsung . saudarasaudara tuh hanya sekedar. kalau suami kan pasti bertanggung jawab. Ketika informan merasa sedih. itu.122 305 310 315 320 325 330 335 340 345 P : Iya. gimana ya. tapi ya tetep kembali he-he-he P : Eee habis meminjam saudara dan tetangga sekitar? I : Sering. P : Sebagai semangat ya anak-anak. ora ndedet. trus yang banyak saudara. cuma sedih aja P : Sedih? I : Sedih ya mesti harus hilang. harus bertanggung jawab untuk mengembalikan P : Ee. aku ki ra due dit sesuk koe kudu ndue duit lha gitu khan ada yang dijak pertimbangan. Eh. anak-anak tuh sok-sok sing hibur. dan pasti bisa mengembalikan. P : Lalu selain sedih? I : Yaa wis. wis anu tetangga-tetangga atau siapa pinjem dulu P : Emm… I : Itu nanti kalau sudah apa terima uang. apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi ibu? I : Yaa pasti Perasaan informan sedih ketika menghadapi permasalahan dalam keluargannya karena tidak ada suami yang membantu sehingga ada yang diajak pertimbangan. sering itu pinjem-pinjem itu tapi pasti kembali. tidak ada uang. lain. sedih. anak-anaknyalah yang mengibur karena menurut informan kesedihan haruslah mesti hilang. suami terutama. rasanya lain kalau ada yang bantu. nah malamnya tuh masih bingung untuk anu hari esoknya tuh P : Ibu memenuhinya? I : Yaa. biasane nek ada suami kan ada. I : Paginya itu wah gimana ya.. P : Selain meminjam tetangga? I : Ya saudara-saudara. nanti malamnya tuh cari kemanakemana. terima uang jahitan apa-apa bekerja tuh kita kembalikan. tinggal..

kalau belum selesai ya mikir terus kok iki kok ra rampung-rampung tho? gini kok ora anu rampung-rampung tho. yang kurang baik apa yang. dikek i conterpaint. pernah. dadi sarafnya i anu. itu P : Stress? I : Stress. harus cepat selesai karena nek nggak selesai ya di dalam pikiran terus P : Maksudnya? I : Anu. pernah stress aku. bertahuntahun tuh sakitnya. bagaimana baiknya P : Terus? I : Yang baik ya saya petik. yo sok-sok minta pertimbangan yang lain P : Pertimbangan? I : Pertimbangan pamanya. 2000 stress saya itu gulu saya tuh kaku. P : Tegang? I : Sakit sekali.123 350 355 360 365 370 375 380 385 390 P : Pasti? Mengapa I : Pasti. leher tuh. dikasih apa. Karena informan takut kalau banyak mikir jadi sakit dan stress. kita sendiri pasti banyak yang belas lah P : Jadi tuh ibu langsung sesegera mungkin untuk menghindari kesalahan bertumpuk? I : Marai ya saya takut kalau banyak mikir tuh sakit. itu lho sok-sok ya. berati ya selekas mungkin persoalan harus diselesaikan P : Langsung seketika itu juga? I : Oh ya ndak. dipijetke kemanamana dikekne alternatif. tahun piro 2000 po piro. katannya stress P : Trus ibu menghadapinya? I : Menghadapinya. kenceng nggak bis. stress kandane orang-orang tuh stress. P : Ndak cocok? I : Anu ndak cocok ya saya tinggalkan. . dipijet-pijet. nggak kendorkendor lama P : Akhirnya? sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi karena kalau nggak selesai membebani pikiran terus. P : Kapan? I : Iya. wis kemana-mana. ya diobati. Ya anu. ya tapi kan semua tahu.. nah gitu khan kita mikir terus sepanjang hari. Tetapi terkadang informan juga minta pertimbangan yang lain bagaimana baiknya pendapat yang baik dipetik yang tidak cocok ditinggalkan.

paling ya kita-kita lah. He-he. jadi syarafnya i piye ya? Sarafnya. sirkulasi syaraf ndak lancar. P : Oh. istilahe nangga lah. itu nggak mikir yo sakit. Karena menurut informan tetangganya tidak mungkin membantu menyelesaikan masalahnya karena menurut informan bukanlah orang kaya. jadi jarang. tegang lah sekarang sudah sembuh. P : Kenapa malu bu? I : Ya malu.. maaf ya bu. keluarga. ngajak pertimbangan. sakit akibat banyak mikir. P : Selain. lama 5 tahun ada. masalah kita. P : jadi ibu ingin. kan tetangga kan tidak mungkin akan mau menyelesaikan persoalan kita. P : Sama. apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah? I : Oh ya nggak ada. Informan tidak meminta tolong dengan tetangganya karena takut kalau nanti malah menyusahkan tetangganya . he. apa ndak ingin tetangganya tuh malah kesusahan ketika ibu I : He’eh P : Terus kalau. tapi kita kan jarang keluar rumah. ee. Alhamdulillah.. paling ya keluarga saya malu nek kemana-mana. tetanggatetangga… P : Jadi ibu tuh enggan ketetangga kerena persamaan ekonomi ya I : Iya nanti malah.124 395 400 405 410 415 420 425 430 435 440 I : Akhirnya ya sembuh sendiri neng lama. jadi ya paling saudara-saudara itu. itulah karena ya tetangga-tetangganya sama saja. mikir yo sakit memang tuh sakit. maksudnya? I : Maksudnya ya sama seperti kita. ada yang menawarkan Yang sering membantu informan ketika memecahkan masalah adalah keluarga dekatnya saja. menumpuk-numpuk anu pikiran yang menumpuk-numpuk itu menjadi stress katanya. bukan orang kaya-kaya gitu. jarang.. selain apa tuh selain anggota keluarga yang tadi ibu ceritakan membantu menyelesaikan masalah tuh. anu itu. jadi anu ekonominya? I : Ekonominya sama. malah nyusahkan yang lainlah. jadi kepala tuh pendak ndino i tuh senut-senut.

Mengapa? Nek anu. nggak mikirkan Informan mau menerima bantuan yang ditawarkan orang lain apabila sudah terdesak. mau kemana lagi. apakah ibu tuh selalu menerima bantuannya dari mereka? Lha kalo kepepetnya ya mau no. cari sekolah ya saya sendiri soalnya saya yang harus memikirkan sendiri Emm.. uang Bukan suatu apa pendapat atau? Woo. langsung Langsung? Tak masukke SPP. pasti setiap lebaran semua masuk SPP anak-anak sampai SMA.. itu pastilah. besuk-besuk lagi Selain batas waktu apa lagi yang membikin ibu mau menerima bantuan keluarga. nek pendapat saya sendiri. waktunya dah harus diselesaikan hari ini gitu yo saya harus selesai. apa ya. nggih. Mau? Itu lho kalau sudah terjepit waktunya tuh lho. kita menerima dari saudara-saudara. sampai lulus. gitu. seperti saudara atau tetangga ya. jadi saya kan tidak mikirkan uang sekolah. kepepetnya. Emm. Uang tuh kalau hari lebaran tuh memang banyak. dikumpulin untuk dimanfaatkan. Jadi? Itu uang zakat tiap tahun kan banyak. jadi langsung. waktu lebaran itu kan ada uang apa? Uang zakatlah dari saudara-saudara yang punya. sampai pernah setahun saya lunasi.. . dimanfaatkan untuk langsung saya masukkan SPP. pasti. saya nggak mau keberatan karena SPP anak-anak tertunda-tunda. banya saudara yang welas lah corone.125 I : 445 P I P I 450 : : : : P : 455 I : 460 465 P : I : 470 P I P I 475 : : : : P : I : 480 P : I : 485 bantuan itu ya. pendapat? Woo.. jaranglah bantuan keluarga ya paling waktu lebaran. jadi dikumpulin. Bantuannya tuh terfokus pada uang? Ya.

dikasih semuannya. baru mengucapkan terimakasih pada Yang kuasa.. opo itu jenenge. jalan lurus. untuk makan saja sudah alhamdulillah. ya terima kasih sekali pada yang kuasa Emm. dekat. tidak macem-macem. semua bisa punya belas kasih pada kita Terus kalau boleh tau ya? Apakah ada harapan ibu kedepannya? Harapan ibu untuk kedepannya itu bagaimana? Harapan saya? Ya anak-anak menjadi baik. pakaian barang tidak pernah saya beli. tidak macemmacem.126 490 P : 495 I : P : I : 500 P : 505 I : 510 P : I : P : I : P : 520 I : P : 515 525 I : 530 P : I : yang lain-lain. tidak pernah mengecewakannya. dan mempunyai uang berlebih. kita mikirkan sehari-hari untuk makan saja. hampir semua dikasih. punya uang lebih. bisa berkerja. tidak nakal. wis buku harian lah Jadi disini tuh ibu mau menerima bantuan saudara. Dan mensikapi dengan menerima? Menerima. jalan lurus.. diberi kesehatan . buku-buku itu seng sering tiap hari kan ada buku itu. Terus sekolah Lha sekolah itu. Jadi ibu bekerja sehari-hari tuh untuk memenuhi kebutuhan makan? Kebutuhan makan. karena ya kasihan lah sama kita yang hanya sendiri. Harapan informan adalah anak-anaknya menjadi baik. itu Alhamdulillah anak-anak bisa baik semuanya. baik semuanya. ya banyak kasihan lah. tidak nakal. ya lah tidak pernah mengecewakan saya Anak-anak? Harapan saya ya cuma itu dan penting ya bisa berkerja Informan mau menerima bantuan yang diberikan orang lain karena sudah iklas. kalau nggak ada itu wah saya posing sekali tambahan he-he Jadi ibu mempercayai bantuan dari saudara? Iya. Informan menerima bantuan dan mengucapkan terimakasih pada yang kuasa karena semua bisa punya belas kasih pada keluargannya. sudah deket dan mungkin ya pastinya mereka punya uang lebih lah. dikasih saudarasaudara. terus setelah menerima itu bagaimanakah ibu mempercayai dan menyikapi bantuan dari saudara? Lha bantuan saudara tuh sudah iklas.

. setelah anak-anak. sama-sama. ya rezeki yang lebih banyak lagi. mereka bisa dan kita mendo’akan. P : Udah. makasih atas waktunya I : Iya. nggak ada lagi I : Gimana? P : Setelah anak-anak yang jadi yang baik nggak ada lagi? I : Yaa bisa bekerja he-he diberi kesehatan P : Umpama harapan ibu pada anak-anak. sudah tidak menyekolahkan. hanya itu saja. . kedepannya. yaa diberi rezeki yang lebih baik lagi P : terus? I : Diberi. harapannya gitu. gimana ya. sudah berkerja. mereka lebih tahu bagaimana harus melangkah kedepan. ya pastilah. apakah ada harapan lain kedepannya? I : Oh. He’eh P : Harapannya rezeki? I : He’eh rezeki. P : Terus.. sudah tercapai semua.127 535 540 545 550 555 P : Umpama? dan diberi rezeki yang I : Apapun pekerjaannya lebih baik lagi. sekarang kan sudah besar-besar.

50 WIB (20 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. karena menurut informan anak-anak banyak tingkahnya dan masalahnya biasannya timbulnya dari anak...30-22. kadang-kadang dia diserang penyakit. mungkin ada? I : Ya kalau. katakanlah nggak begitu ini. itu juga sebagai suatu kendala P : Oh jadi masalahnya dari anak ya bisannya? I : He’eh. ya kadang-kadang kita mengasuh anak itu. seperti kita mengasuh anak itu. 20 25 . anak-anak banyak tingkahnya P : Terus? I : Terus.R.R. 18 September 2008 Tempat : Rumah ibu T. eh bu.. selama ibu tuh menjadi seorang orangtua yang membesarkan anak seorang diri tuh apakah banyak masalah yang terjadi bu? I : Ya banyak juga P : Emm. kalau boleh tahu ya ee. gitu lho P : Emm. seperti ketika diserang penyakit. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. seperti apa misalnya? I : Yaa. kebanyakan dari anak? Analisis 5 10 15 Selama informan menjadi orang tua yang membesarkan masalah seorang diri banyak masalah yang terjadi seperti mengasuh anak. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Met malem bu?.S Usia : 45 tahun Pekerjaan : Buruh Harian Lepas (Pegawai swasta) Pendidikan terakhir : SMA Usia anak : 9 Tahun (Anak usia SD) Hari/tanggal wawancara : Kamis.. P : Kalau dari ibu sendiri.128 Verbatim Wawancara Informan 3 Kode : W1/S3 Nama : Ibu T.. ibu nggak begitu apa maksudnya? I : Maksud saya nggak begitu terlalu banyak masalah.S Waktu : 22.. dari saya sih. tapi timbulnya dari anak P : Emm.

terus I : Lha. Informan berusaha menyelesaikan permasalahannya sendiri. tapi kalau toh kita ndak bisa kita sendiri. itu kita ini sangat kualahan P : Kualahan ya bu? I : He’eh P : Terus? Kalau apa tuh. ya kita melibatkan orang lain P : Kalau boleh tahu ya? Yang itu ya apa. . mengobati sendiri dulu. bagaimana ibu menyelesaikannya? I : Ya umpamanya anak sakit ya kita harus berusaha untuk bawa ke dokter. membawa ke itu. lantas apakah ibu itu selalu berusaha menyelesaikan seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? I : Ya kalau kita sih masih bisa untuk menyelesaikan permasalahan kita. baru kalau belum sembuh ya kita bawa kedokter. ee. Informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu. membawa ke dokter. itu suatu pengalaman yang sangat berat. informan melibatkan orang lain. menurut ibu yang bisa diselesaikan sendiri tuh apa? I : Ya kalau kita berusaha ini.. ya kita selesaikan. ya. tapi kalau tidak bisa kita sendiri. pernah juga P : Kapan bu? I : Ya di saat-saat anak sakit. apalagi anak itu bareng-bareng sakit ya P : Iya. Informan pernah mengalami masalah yang dianggap sangat berat. mungkin dengan tetangga atau apa nggak ada? I : Kalau tetangga nggak juga P : Enggak? Terus. ketika anak sakit bersamaan sehingga informan merasa kualahan. bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikan masalahnya tuh bu? Kalau umpamanya anak sakit.129 30 35 40 45 50 55 60 65 70 I : Dari anak. tapi kalau tidak bisa ya kita minta tolong bantuan orang lain untuk ini. he’eh P : Terus kalau biasanya masalah selain anak.. P : Selain itu? Nggak ada? I : Nggak juga P : Terus kalau boleh tahu ya bu. apakah ibu pernah mengalami masalah yang ibu anggap sangat berat? I : emm. atau sebelumnya kita kasih minum obat dari warung ya.

.. itu kan suatu masalah juga P : Terus? I : Terus. apakah ibu selalu memikirkan bagaimana akibat yang kan terjadi dari tindakan yang ibu lakukan itu? I : Ya memang di setiap kita melangkah itu ya kita ini kita pikirkan untuk jauh kedepan dan akibatnya P : Maksudnya kita berfikir lebih dahulu tuh? I : Nah. kita ada suatu masalahan dalam suatu keluarga ya? Bagaimana sih ibu mementukan yang ibu pilih? I : Ya kita harus berusaha untuk menyelesaikan sendiri P : Emm. tanpa bantuan orang lain? I : Tanpa bantuan orang lain.. minta orang lain I : Iya.terus.. terus kalau yang membutuhkan bantuan orang lain? I : Kalau kita membutuhkan orang lain ya itu tadi kalau memang kita mengobati dia dirumah nggak sembuh. jadi dah mentok? I : Iya P : Dah mentok baru. kadang-kadang anak-anak itu kan bisa membangkang kalau kita suruh untuk belajar ya. tapi ni masalah yang Informan berusaha untuk menyelesaikan sendiri masalahnya tanpa bantuan orang lain. jadi kita melangkah itu kita pikirkan lebih dahulu P : Emm. ya terpaksa kita bawa ke dokter P : Emm. anakanak pada rame.. bagaimana sikap yang ibu lakukan ya. terus. he’eh P : Terus kalau boleh tahu lagi. nggak harus masalah anak ya.130 75 80 85 90 95 100 105 110 115 P : Emm.. ketika masalah ibu harus melibatkan orang lain.. kalau masalah tersebut adalah masalah dalam keluarga. ndak perlu untuk diselesaikan orang lain.. P : Iya I : Tapi itu khan. . Ketika informan membutuhkan orang lain informan baru meminta bantuan orang lain. kita selesaikan sendiri P : Emm. kalau masalah dalam keluarga P : Kalau boleh tahu masalah dalam keluarga ni apa? I : Ya katakanlah antara lain ya ee. Informan selalu memikirkan bagaimana akibat yang akan terjadi dari tindakan yang informan lakukan.

Apalagi kita kan sendiri. Jadi itu kan namanya minta bantuan juga Kalau pekerjaan? Kadang-kadang kita kan kalau bekerja itu kita katakan ndak bisa kita kerjakan sendiri. Iya. Kalau ekonomi maksudnya? Perekonomian. . perekonomian he’em. bagaimana kalau umpamanya kalau masalah itu harus melibatkan orang lain tuh bagaimana sih ibu. Untuk mengatasi permasalahan ekonominya informan terkadang minta bantuan sama saudara. Jadi kita kadang-kadang minta. ee. Perekonomian dan pekerjaan ya? He’eh. Umpamanya pernah ada masalah seberat itu? Kalau boleh tahu masalah apa? Katakanlah permasalahan...131 120 125 I : 130 P : I : P : I 135 P I P I P I P I : : : : : : : : : 140 145 P : I : P : I : 150 P : I : 155 P I P I : : : : 160 P : I : P : lain... Selain anak ibu? Iya. Menurut informan permasalahana yang berat lainnya selain permasalahan anak adalah permasalahan ekonomi dan pekerjaan. kadang-kadang kan harus membutuhkan orang lain. He’em Ya jadi kita kan minta tolong untuk orang lain Dari segi pekerjaan? Sikap informan kalau ada permasalahan adalah meminta tolong sama orang lain.. Jadi... Emm. Terus ya pekerjaan. katakanlah kita pamane dalam kita berkurang ya.. Pekerjaan? Ya. sikapnya? Jadi istilahnya nggak cuma masalah anaknya tetapi suatu permaslahan rumit atau bagaimana ketika melibatkan orang lain tuh sikap ibu bagaimana? lha kalau sikap kita kalau ada permasalahan seperti itu ya kita minta tolong sama orang lain. Emm. apalagi dalam perekonomian. ee. ya Iya.. bantuan sama saudara. Emm.

tapi sementara dia sudah pergi. seberapa besar sih peran ibu di dalam mengatasi masalah nya itu? I : Kalau peran mengatasi masalah di dalam keluarga. jadi sebelumnya kita belum pernah terpikir seperti ini.. P : Emm. P : Berarti seratus persen? I : Iya. P : Keluarga lain mungkin? I : Keluarga lain juga tidak P : Emm. ya.. sedih dan tertekan.. Karena begitu langsung ditinggal ya kita merasa kehilangan. I : Harus kita ini tanggulangi sendiri. kalau boleh tahu ya. P : Jadi ibu dulu nggak terbayang hal yang seperti ini? I : He’eh P : Terus. ya saya memang harus full. Informan sebelumnya belum pernah membayangkan menghidupi anak seorang diri. P : Emm.. Perasaan dan cara informan menyesuaikan diri pada awal masa ditinggal oleh suami adalah bingung. apa tertekan? Peran informan di dalam mengatasi masalah adalah penuh dan tanpa melibatkan orang dan keluarga lain. ini maaf ya. P : Maksudnya. untuk mengatasi semua harus full P : Tanpa melibatkan orang lain? I : Tanpa melibatkan orang lain. P : Terus. maaf lagi ya? I : He’eh P : Bagaimana sih perasaan ibu dan cara ibu menyesuaikan diri pada awal masa ditinggal oleh suami? I : Ya kita sih pertama itu kan kita ya juga bingung ditinggal seperti itu. nanti tuh menghidupi anak seorang diri? I : Ooo. dulunya kita sih kita nggak belum pernah membayangkan seperti ini ya.132 165 170 175 180 185 190 195 200 205 I : Iya. kita mengalami kesedihan dan katakanlah pada saat itu tertekan ya. apalagi saya sudah sendiri. I : Terus. merasa kehilangan. terus. . apalagi dulunya kita kan berdua untuk menghidupi. emm apakah ibu tuh sebelumnya pernah membayangkan kehidupan ibu seperti sekarang ini? I : Maksudnya? P : Pernah nggak terbayangkan di pikiran ibu.

: he’eh : Dulunya kita bisa ditanggung bersama. : Di bayar? : Na.133 210 I P I 215 P I P 220 I 225 P I 230 235 P I 240 P I P I 245 P I 250 P I 255 P I : Lha kita tertekan masalah ini.. selain itu? : Eee. maksudnya ada kadang-kadang kalau memang di saat-saat permasalahannya itu menunjukkan ini menunjukkan kesedihan. memang kita harus bertindak. susah atau bagaimana? : Ya kadang-kadang tergantung permasalahannya : Maksudnya tergantung permasalahannya? : Ee. . : emm.. : Bertindak dalam hal? : Ya bertindak dalam hal untuk umpamanya.. ee. : He’eh. baik dalam mengasuh untuk anak kan kita sendiri. ya kita ini aja ya sama sekolahan lha ya? : Ooo. menaggulangi Perasaan informan ketika menghadapi masalah dalam keluarga adalah tergantung permasalahan yang dihadapinya. Contohnya.. ya kita sedih tapi kalau permasalahan itu menunjukkan harus kita bertindak. : Emm. tapi kan kita harus bertindak bagaimana caranya untuk.. perasaan ya... terus kalau perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam keluarga tuh bagaimana? Apakah sedih. : Sama sekolahan anak. Anu untuk menagguangi itu : Emm.. umpamanya biaya sekolah : Iya. ya kita harus menagani secepatnya : Contohnya? : Naa. eh ada masalah sesuatu yang harus-harus di ini ditangani dalam secepatnya. : Jadi kalau kita berfikir hanya kesedihan itu mungkin biaya anak-anak itu ndak bisa di ini. terus akhirnya kita langsung ditinggal sendiri.

134

260

265

270

275

280

285

290

295

300

P : Selain biaya sekolah? I : Selain biaya sekolah ya keperluan sehari-hari juga termasuk juga P : Emm.. lainnya mungkin? I : Ya mungkin biaya untuk ya seperti itu, biaya katakanlah untuk biaya rumah, untuk kontrak rumah kan harus kita bertindak dengan anu, nggak hanya musti meneteskan air mata P : Emm.. jadi ibu bersikap apa, perasaan ibu itu sesuai dengan apa yang di hadapi, bagaimana-bagaimana itu ibu, sesuai dengan perasaannya ibu, kalau perlu, kalau perlu umpamanya tenaga bertindak langsung segera bertindak. I : He’eh P : Kalau nggak, harus tepat? I : Iya P : Terus kan kalau tadi perasaannya ibu ya? Terus kalau ada permasalahan ya? I : He’eh P : Lha apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin untuk langsung menyelesaikan suatu masalah yang ibu hadapi itu? I : Ya memang seharusnya seperti itu, ada masalah ya kita semampu kita, ya ini kan menyelesaikan masalah P : Emm.. mengapa? I : Semampu kita harus menyelesaikan secepatnya, karena nanti kalau terlalu lama masalah tuh berlarut-larut kan ya jadi beban juga P : Pernah mengalami masalah yang berlarut-larut? I : Ya pernah juga P : Seperti apa kalau boleh tahu? I : Na.. permasalahan yang berlarut-larut katakanlah, eh dalem, dalem ini ya katakanlah ya biaya anak-anak itu tadi ya, kalau kita biarkan aja seperti itu ya mungkin ada kendala mereka tidak bisa ikut ujian, ada kendala yang lain-lain tapi kan kalau kita memang secepatnya untuk ini berusaha melunasi kan mereka bisa mengikuti kegiatan

Informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi ketika ada masalah karena menurut informan nanti kalau terlalu lama masalah tuh berlarut-larut akan menjadi beban.

135

305

310

315

320

325

330

335

340

345

sekolah. P : Jadi fokus pada biaya SPP sekolah untuk menghindari I : He’em P : Mungkin membengkaknya I : He’em, bisa juga P : Membengkaknya biaya sama nggak boleh ujian itu? I : He’eh P : Terus, ee.. kalau ee ketika itu ya, ketika ada masalah yang sudah mentok itu ya? Apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah dan ketika masalah dalam keluarga ibu tuh? I : Oh.. ada juga P : Emm.. siapa bu? I : Ya dari fihak keluarga P : emm.. dari keluarga ibu sendiri? I : He’eh P : Atau? I : Dari pihak keluarga saya sendiri, dari pihak dari suami sendiri, mereka mau untuk ini campur tangan P : Jadi ini dari pihak keluarga suami masih sering berhubungan? I : Iya P : Berkomunikasi? I : Sering, dari keluarga saya sendiri juga sering P : Tapi keseringannya membantu tuh lebih besar dari keluarga suami atau dari keluarga ibu?I : Oh itu ya sama aja P : Sama? Maksudnya? I : Maksudnya ya sama aja, dorongan fisik P : Fisik? Maksudnya? I : Maksud saya kan kalau, ya mereka kan mendorong bagaimana semangat untuk ini, untuk ini. P : Memotivasi? I : He’eh memotivasi kita P : Emm.. jadi banyak yang sering memotivasi ibu adalah dari keluarga ibu sendiri I : He’eh dari keluarga suami juga P : Tapi yang lebih banyak dari keluarga ibu, selain memberi dorongan motivasi,

Menurut informan ada anggota keluarga lain dari fihak keluargannya dan fihak keluarga suami yang membantu menyelesaikan masalah ketika ada masalah dalam keluarga informan.

136

350

I P I P I P I P I

: : : : : : : : :

355

360

365

370

P I P I P I P

: : : : : : :

I : P : 375 I :

P : 380 I :

385

390

P : I : P : I :

kalau boleh tahu memberi bantuan apa lagi bu? Yaa bantuan lain, bisa juga dari materi, bisa juga Emm.. materi? He’eh Terus? Ya tapi ya itu tadi dorongan itu tadi terutama Emm.. Dan pandangan-pandangan Pandangan gimana bu? Nha.. pandangan-pandangan mereka mengasih pandangan caranya untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, mereka bisa ini memberikan pandangan Kata lainnya itu, sharing itu? He’eh Jadi saling? Ya berbagi, Berbagi pengalaman? He’eh Terus kalau, ibu kan tadi apa bercerita bahwa sering menerima bantuan ya? He’eh Apakah ibu selalu, setiap diberi bantuan selalu menerima? Ya, namanya kita manusia belum tentu, semua dikasih pandangan itu, belum tentu kita terima Emm.. maksudnya belum tentu bu? Maksudnya belum tentu menerima tuh lho lha, maksud saya, semua mereka yang ngasih pandangan-pandangan itu, belum tentu itu semua kita bisa ini menerima, belum tentu kita menelannya semua, karena apa. Dalam hati kita kan ada prinsip-prinsip tertentu. Kenapa? Ha? Kenapa kok gitu, ada prinsip lalu sehingga ibu kok nggak menerima? Lha kita kan ada prinsip-prinsip tertentu karena dalam keadaan

Informan belum tentu bisa menerima bantuan yang diberikan orang lain karena di dalam hatinya ada prinsip-prinsip tertentu.

kan gitu? P : Berarti kalau udah nggak cocok dengan?. untuk berprestasi.137 395 400 405 410 415 420 425 430 435 perekonomian kita P : Emm. ya ingin untuk merubah hidup.. I : Tapi kan belum tentu semua kita praktekan gitu lho P : Emm. sesuai dengan kita.. lha itu lho masa depannya cerah.. maju.. berprestasi. maksudnya perekonomian itu pengeluaran bulanan atau? I : Ya baik dalam pengeluaran bulanan.. I : Katakanlah mereka meng anu. jadi ibu tuh istilahnya memisahkan antara yang sesuai? I : Iya P : Jadi ibu tuh mensikapinya dengan memisah-misah antara apa yang cocok I : Apa yang cocok sama kita.. terus kalau boleh tahu lagi ya. atau dalam ya pengeluaran sehari-hari juga kan P : Oh jadi kalau udah nggak sesuai dengan pengeluaran ibu. ingin untuk maju dan ingin untuk anak-anak untuk maju. sama dan sesuai dengan dirinya. ingin untuk maju dan ingin untuk anak-anak untuk ee. mengasih pandangan-pandangan harus begini. dan masa depannya cerah. Harapan informan adalah ingin untuk merubah hidupnya. harus begini P : Hemm. ya keadaan seperti ini P : Ha. P : Emm. . ibu malah nggak menerima bantuan? I : Ya bukan saya nggak mau menerima bantuannya tapi ya memang tetep menerima ini P : Emm. bagaimana sih harapan ibu untuk kedepannya? I : Ya kalau harapan kita untuk kedepannya itu terutama sekali ya... lah itu P : Selain itu? Dari sisi ibu sendiri? Kan Informan hanya mau meneriama bantuan apa yang menurutnya cocok. perekonomian? I : Lha kita ada perekonomian kita khan. P : Maksudnya? I : Untuk merubah hidup ya maunya jangan keadaan seperti ini terus. I : Na semantara dalam perekonomian kita kan ndak mencapai kesitu.

138

440

445

450

455

460

465

470

475

480

485

tadi dari sisi anak-anak I : He’eh P : Sisi ibu harapannya apa? I : Ya harapan saya ingin merubah hidup, maksud saya merubah hidup, ya keadaan jangan seperti ini terus, ya ingin untuk maju P : Oh, lebih meningkat lagi? I : Iya meningkat lagi, nha itu, misalnya apa, taruhlah kalaulah usia kita masih kuat seperti ini, kita kerja seperti ini, tapi nanti kan kalau usia kita sudah tua P : Iya I : Nha, jadi kita khan nggak bisa seperti ini lagi P : Ini perumpamaan ya I : Hmm.. P : Seumpama ya, kalau anaknya ibu sudah berprestasi dan ibu sudah berhasil meningkatkan tarafnya I : he’em P : Terus apa ada harapan lain bu? I : Ya harapan lain ya, gimana ya? P : Ya perumpamaan saja, jadi kalau ibu sudah mencapai harapan tentang anaknya yang sukses dalam segi pendidikan atau bagaiman I : He’em P : Terus ibu sudah mampu meningkatkan taraf perekonomian, apakah ada harapan lain? I : Ya harapan lain, terutama kita ingin membantu yang ini yang membutuhkan. P : Yang membutuhkan maksudnya? I : Lha kita kan sudah sering dibantu dengan dorongan, si apa, apa namanya? Eh dorongan-dorongan yang kita ini, kita butuhkan kan jadi kan kita umpamane saya berhasil. P : Iya I : Saya ingin untuk me anu, membantu orang yang membutuhkan, baik didalam katakanlah jasmani, maupun di dalam fisik P : Jadi seperti eh bantuan sakit, atau

Informan juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan.baik didalam katakanlah jasmani, maupun di dalam fisik

139

490

495

bagaimana? : Nha kalau bisa, ya saya bisa bantu, ya saya bantu. Itulah P : Jadi kalau ibu umpamane kalau sudah semua sukses sudah berhasil, ibu akan membantu? I : He’em P : Ya udah gitu aja, kalau, maaf kalau mengganggu waktunya bu, makasihnya I : Iya.. P : Maaf kalau mengganggu, mari bu I : Iya.. I

140

Verbatim Wawancara Informan 4 Kode : W1/S4 Nama : Ibu E.S Usia : 36 tahun Pekerjaan : PNS (Guru) Pendidikan terakhir : Sarjana (S 1) Usia anak : 5 Tahun (Balita) Hari/tanggal wawancara : Rabu, 24 September 2008 Tempat : Rumah orang tua ibu E.S Waktu : 09.25-10.00 WIB (35 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal, dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. P : Pewawancara I : Informan Baris P I P I P : : : : : Uraian Interview Pagi bu? Iya Maaf bisa mengganggu? Iya, bisa Ee.. bu, maaf ya, kalau boleh tahu nih, ee.. selama ibu tuh menjadi seorang apa, ibu yang membesarkan anak seorang diri tuh bagaimana sih masalah yang banyak terjadi bu? Ya masalah yang terjadi itu, ini ya, ya masalah keluarga terutama, dan juga masalah pribadi, berkaitan dengan masalah sosial. Jadi sosial ya? Kalau keluarga disini maksudnya bagaimana bu? Keluarga itu mengenai ini ya masalah anak ya. Iya. Jadi ya masalah untuk mendidik anak atau membesarkan anak, membimbing anak itu yang menjadi masalah keluarga ya. Emm.. yaa.. Juga masalah ekonomi tuh bisa juga menjadi permasalahan sebagai seorang single parent. Analisis

5

10

I

:

P : 15 I :

P : I : 20

P : I : 25

Selama informan menjadi orang tua yang membesarkan anak seorang diri terjadi banyak masalah terutama masalah keluarga dan masalah pribadi yang berkaitan dengan masalah sosial. Masalah keluarga ini menurut informan adalah masalah anak, mendidik anak atau membesarkan anak, membimbing anak dan masalah ekonomi.

I : Tentunya prilaku kita. seakanakan sebagai seorang single parent itu... terus kalau dari dalam diri ibu sendiri apakah ada masalah yang mungkin I : Dari saya sendiri? P : Ya.. perilaku tuh diawasi ya P : Hmm.. berkaitan dengan masalah masyarakat P : Iya. Terus tadi kan masalah dari luar diri ibu ya I : He’em P : Dari keluarga dan masyarakat ya.. kalau ini masalah saya boncengan dengan orang lain itu ya yang beda jenis kelamin gitu kan juga masyarakat bisa nanti berfikiran negatif gitu P : Ooo. sebagai insan sosial atau kita hidup dimasyarakat P : Iya. I : Jadi itu misalnya.141 30 35 40 45 50 55 60 65 70 P : Emm. I : He. I : Dari. terus kalau itu kan dari sisi keluarga ya? I : Iya P : Terus kalau dari pribadi bagaimana bu? I : He. dari pribadi ni saya kaitkan dengan masalah sosial ya.. maksudnya dari untuk mengurus keluarga atau bagaimana? P : Lha tadi kan anggapan orang I : He’em P : Biasannya begini-begini.. apalagi saya. seakan-akan ini mungkin perasaan atau ya memang kenyataan ya. ini karena saya sendiri ya P : Ya. I : Jadi kalau kita itu misalnya. atau nanti ada unsur fitnah dan sebagainya itu masalah pribadi ya. sebagai seorang single parent itu akan disorot oleh masyarakat ya P : Hmm. I : Nah itu seperti itu contohnya. I : Dengan siapa tho itu. tapi kalau ibu Sedangkan masalah pribadi informan menganggap dengan masalah sosial karena disorot oleh masyarakat dan perilakunya diawasi masyarakat. . salah satu contohnya P : Hemm.

ee. misalnya ya orang beranggapan bahwa janda itu memang wah itu kok sepertinya kok buruk gitu ya : Iya : Gitu ya biarlah. bukan karena cerai hidup ya. . tapi sampai sekarang itu ya alhamdulilah belum ada ini ya sampai Informan membiarkan anggapan orang. anggapan orang seperti itu yang penting saya menjaga perilaku saya : Iya : Biar itu tidak ada fitnah di masyarakat jadi yang terpenting ya. yang penting saya sendiri kan tidak seperti yang dikatakan orang.. yang penting informan menjaga perilakunya. pribadi itu kan ibu menjaga perilaku : he’eh : Terus bagaimana sih ibu menyikapi dan menyelesaikan masalah itu? Jadi umpamannya ibu dibilangi. menjaga perilaku lha itu : Iya.142 I 75 80 P I 85 P I 90 P I 95 P 100 I P 105 I P I P I 110 P I 115 sendiri? : Iya. misalnya saya tahu ngrasani istilahe sampai dengar ditelinga saya gitu ya : Iya : itu ya itu ya wes. Informan menyikapi biasa saja terhadap masalah yang dihadapinya. dikata-katai lah tetangga tuh : he’eh : Bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikannya? : Oh gitu. misalnya ada orang ini. kalau saya sendiri tho itu kan sudah. saya sikapi ya biasa saja lah. terus tadi kan ibu menceritakan tentang masalahnya seperti keluarga. bagi saya single parent karena ini memang tidak saya sengaja. sudah ditakdir di surat. jadi itu karena sudah takdir Allah bahwasannya umur manusia itu kan sudah ada garisnya ya. itu yang masalah pribadi ya? : Iya : ya untuk masalah pribadi tadi. itu saya ya saya sendiri secara pribadi ya saya pokoknya ini karena ini sudah takdir. : Iya : Berarti biarlah anggapan orang.

I : Alhamdulillah punya penghasilan sendiri P : he’em I : Kemudian kalau suami saya kan itu swasta. mendidik anak.. karena swasta kan tidak punya pensiun P : Iya I : Nah itu. semua perilaku tuh yang mengetahui kan Allah ya P : Hemm.. na itu juga saya pertimbangkan dengan masalah ekonomi juga ya? P : Ooo. jadi sekarang yang memang ekonomi ya hanya dari saya ya.. na untuk membesarkan anak.. ya itu ya kita kembalikan pada Allah. dengan penghasilan yang sekian. tetap menjaga perilaku. tapi pemenuhan. ya mudahmudahan sampai mbesuk pun demikian ya itu.. itu kan dari sisi anu. dari ekonomi. ya dari ekonomi ini alhamdulilah ya karena ee. sekian itu P : Iya. saya sendiri ini berkerja.. Informan bersikap ikhlas dan berusaha untuk tetap berbuat baik pada orang lain. saya sebagai guru. itu sebagai modal ya modal saya ini sebagai single parent tuh biar kuat atau terhindar dari fitnah sosial gitu P : Hemm.. apa namanya? I : He’eh P : Pribadi ya. P : Iya. . meningkatkan iman. menyikapi dan menyelesaikan masalah dari sisi ekonomi tadi? I : Ooo. I : Itu dalam masalah ekonomi saya sekarang alhamdulilah juga cukup ya. karena menurut informan semua perilaku yang mengetahui adalah Allah. oleh karena itu ya. I : Itu. tadi sudah ku bilang karena memang takdir saya seperti itu ya P : Emm.. I : Belum ada Alhamdulillah. I : Saya harus mensikapi dengan ikhlas dan juga berusaha untuk tetap berbuat baik pada orang lain. oleh karena itu kan ya tadi saya. tetap menjaga perilakunya.143 120 125 130 135 140 145 150 155 160 ditelinga saya yang negatif itu P : ya.

sedikit ya. : Itu ya. : Itu asuransi pendidikan.. di dunia maupun nanti di akheratnya itu jadi saya njagani itu. SMP. masih perlu biaya besar. ya : Lha terus bu? Kalau boleh tahu lagi ya? . disamping menyimpan itu. iya Alhamdulillah saya juga mempunyai tambahan yang lain dengan. pendidikan masih SD. kan kalau sekarang tuh biayaanya masih. itu ya.. itu juga sebelum kesitu kan saya pertimbangkan. : Dengan kata lain untuk njagani? : Iya. asuransi pendidikan : Oh ya.. LKS dari penerbit itu kan dapat. dengan menulis atau menyusun buku atau LKS.144 165 I 170 175 P I P 180 I 185 P I 190 195 P I 200 P I 205 P I P I P 210 : Bagaimana. : Emm. kalau yang besar ini kan di SD IT ya itu saya juga berharap dia mempunyai atau mendapatkan pendidikan yang baik. Alhamdulillah juga ya sudah. cukup ya. karena yang besar : Emm. ataukah nanti kalau anak saya sekolahkan di sekolah yang seperti itu misalnya. SMA dan seterusnya itu : Iya : Itu dengan seperti itu. diharapkan dengan asuransi pendidikan bisa membantu kelak kalau anak-anak sudah sekolah SD. saya juga ikut asuransi. jadi untuk masalah ekonomi itu. biayanya bagaiaman kira-kita cukup atau tidak. : Iya : Tambahan penghasilan. : Kalau lainnya dari gaji tuh mungkin ibu punya sampingan yang lain bu? : Ya. lha itu makannya kan bisa itu bisa dikumpulkan atau ditabung untuk masa depan anak kelak. pendidikan yang ee. : Lha untuk besuk kan. untuk pendidikan kelak..

lha itu juga saya perlu saran. dan mudahmudahan tidak. ya udah tuh. pertimbangan. jarang. melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalah ibu? Iya. karena masih bisa diselesaikan sendiri. Lha berarti ibu tuh jarang ya. Hemm. . dan saudara. apakah pernah sih ibu tuh mengalami suatu masalah yang dianggap ibu sangat berat? Masalah yang berat sekali? Iya. kemudian juga minta petunjuk dari Allah gitu ya. mudah-mudahan tidak. lantas bagaimana ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? Ya kalau masalah itu masih bisa saya atasi dengan berbagai pertimbangan ya. Dan bisa mengatasi masalah yang datang Iya. ya saya tuh. ya yang berat sekali itu alhamdulilah belum.145 215 I : P : I : 220 P I P I 225 P : I 230 P : I : P : 235 : : : : : I 240 : 245 P : 250 I : P : I : 255 P : Apa. Atasi sendiri? Selesaikan.. tapi kalau tidak bisa.. eh masalah-masalah yang ada tuh sudah Alhamdulillah bisa di. saya atasi sendiri. Kalau yang berat sekali ituh Alhamdulillah belum ya. terus kalau emm. Mengapa? lha itu karena dengan berbagai pertimbangan tuh kalau masih bisa. informan mengatasi sendiri. tuh kalau masih bisa saya atasi sendiri. pertimbangan dari orang tua. tapi kalau tidak bisa. Jadi Jadi ibu belum pernah ya mengalami sebuah masalah yang dianggap sulit? Iya. diselesaikan sendiri Ya? Diselesaikan sendiri tuh. Kalau informan masih bisa mengatasi sendiri masalahnya. He. dipikirkan. untuk me... dari saudara gitu. informan meminta saran. kalau ada masalah ya. pertimbangan dari orang tua. Informan jarang melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya karena tidak senang merepotkan orang lain. apa. kan saya sendiri tuh tidak seneng merepotkan orang lain gitu lho Ooo. Informan belum pernah mengalami suatu masalah yang dianggapnya sangat berat..

: Kalau masalah pertimbangan? : Pertimbangan apa? : Pertimbangan ya. ada suatu masalah dalam keluarga ya? : He’em : Bagaimana sih ibu menentukan tindakan yang dipilih? : Masalah keluarga? Misalnya apa? : Ya. lha itu dari fihak orang tua itu kan juga kalau ada niat nanti ada saranannya. ya itu juga saya minta pertimbangan. kalau tidak seneng kok minta bantuan. ee. dari mertua atau saudara tuh. jadi misalnya masalah ekonomi juga. ada yang membantu. seneng ya kalau bisa ya berusaha sendiri gitu. toh saudara misalnya mau membantu ya diterima itu kan masalah ekonomi ya seperti itu. kalau di SD IT kan perlu biaya besar : Iya : Perbulannya.. gitu saya tidak suka ya. dari adik bapaknya anak-anak ini : Oh ya? : Itu masalah pendidikan. itu saya libatkan. dan masalah lainnya. lha itu kemarin tuh dari mertua juga. juga saya perlu saran deri orang lain. : Emm.karena memang itu masih ada ikatan darah ya : Iya : Jadi perlu pertimbangan dari sana. jadi saya menyerahkan yang SD ni ya : Iya : Itu kan berkaitan dengan masalah ekonomi. terutama dari orang tua. ada kesulitan pada ekonomi ataukah pendidikan tuh ya. sekolah dimana tuh? Ya itu kemarin tuh juga ini. ya itu juga ada saudara juga yang membantu tuh. tentang pendidikan atau apa gitu : Oh gitu.146 I 260 P I 265 P I P 270 I 275 P I 280 P I 285 P I 290 P I P 295 I P I P 300 : Tidak seneng merepotkan. ibu ketika ya. ibu tuh menenentukan tindakan yang . : Terus kalau.. bagaimana. : Tapi kalau mereka.

147

I 305

310

P I

P I 315 P I

320

P I 325

330

P 335 I

340

P I

345

P I P

ibu pilih bagaimana itu lho? : Ya diharap tindakan yang dipilih tuh yang paling baik, ya yang terbaik untuk anak itu, eh bagaimana kira-kira yang kira-kira baik untuk anak, ya misalnya seperti tadi, menentukan sekolah : Emm.. : Yang baik untuk anak itu yang bagaimana dengan kondisi saya yang seperti ini ya, dengan seorang diri. : Seorang diri ya? : Kan itu juga otomatis, mendidik tuh sendiri ya : Iya : Lha beda kalau ada bapaknya, itu kan ada yang membantu ya, terutama masalah agama ya itu juga penting ya, dengan adannya kalau ada ayah misalnya, kalau mendidik anak melatih sholat berjama’ah di masjid ya : Iya : Biasannya laki-laki ya yang kemasjid tuh, ya mondar-mandir itu, biasannya itu, lha kalau saya sendiri ya juga jarang ya, kalau misalnya sholat berjama’ah ke masjid ya agak jauh kebetulan juga jarang, sehingga saya perlu, maka menyekolahkan anak disitu tuh juga pertimbangan juga ya masalah soal agama : Iya, emm.. berarti disini tuh ibu selalu memikirkan bagaimana akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu lakukan itu? : Iya, jadi dengan kalau ee.. mengambil suatu keputusan itu kan pertimbangkan dulu : Iya : Kira-kira kalau begini nanti akhirnya bagaimana, terus dampaknya apa itu perlu dipertimbangkan banyak-banyak juga ya : Iya : Seperti itu : Terus kalau ee.. bagaimana sih sikap ibu kalau, ketika masalah tersebut tuh

Informan menentukan dan memilih tindakan yang terbaik untuk anaknya.

Ketika memilih suatu tindakan informan menyesuaikan dengan kondisi dirinya.

Ketika mengambil suatu keputusan informan mempertimbangkan terlebih dahulu keputusannya.

148

350

355

360

365

370

375

380

385

390

harus melibatkan orang lain bu? I : Ooo.. gitu P : Jadi pamannya ada masalah itu bagaimana bu? I : he’em P : Ee anu ketika masalah harus melibatkan orang lain bagaimana ibu, ee menentukannya ? I : Iya, tu kalau masalah tuh diatasi sendiri tidak bisa P : Iya, dan harus melibatkan I : Nanti minta bantuan ya, minta saran, ee.. jadi untuk pemecahan masalah itu, bagaimana ya nanti minta saran atau pertimbangan itu, terutama dari keluarga dulu ya! P : Iya I : Dari orang tua, saudara-saudara saya, itu jadi dari keluarga terdekat P : Emm.. I : Itu bagaimana saran mereka, nanti kan di sinkronkan dengan saya sendiri ya, dengan pemecahan masalah saya sendiri, oo.. itu yang terbaik oo.. begitu, ya nanti diambil keputusan itu P : Jadi ibu tuh anu, semua bantuan yang diberikan ibu tuh selalu mensingkronkan dengan dirinya ibu sendiri? I : Iya P : Emm.. untuk mencegah atau mengurangi ketidak cocokan? I : Iya, jadi semisal punya saya seperti ini, keluarga sama, ooo.. ya itu memang solusi yang terbaik. P : Terus kan tadi ibu khan bilang kan I : He’eh P : Keluarga kan hanya dimintai bantuan saja atau sarannya I : He’eh P : Terus seberapa besar sih peran ibu didalam mengatasi masalah keluarganya? I : Masalah keluarga? Terutama masalah ya mendidik? P : Peran ibu,seberapa besar?

Ketika masalah informan harus melibatkan orang lain informan meminta saran atau pertimbangan terlebih dahulu, terutama dari keluarga, orang tua, saudara-saudara informan, itu semua dari keluarga terdekat, kemudian informan lalu mensinkronkan dengan dirinya, kemudian diambil keputusannya.

149

395

400

405

410

415

420

425

430

435

440

I : Gini? P : Eh.. nggak tadi kan ibu sudah diberi saran I : He’eh P : Tuh seberapa besar sih peran ibu didalam mengatasinya, jadi saran-saran yang ibu terima tuh I : He’eh P : Ibu mengatasinya tuh seberapa besar perannya? I : Oh, gitu, lha tadi kan, misalnya ada masalah P : Iya I : ‘X’ gitu ya? Itu wah kok saya, mau saya ambil pemecahan atau keputusannya kok masih ragu gitu kan terus minta pertimbangan. Itu ya! P : Berarti? I : Oh jadi masukan-masukan itu ini masukan-masukan ini saya olah juga ya!, tak olah, ooo.. saya pertimbangakan lagi, oo.. kalau begitu ya memang baik, terus itu baru saya putuskan P : Emm.. berarti ibu disini I : Saya? P : Berperannya penuh? I : Iya lebih banyak saya P : Ooo.. I : Tapi kalau dari orang lain itu juga lebih baik P : Cocok? I : Iya cocok, lha itu kan memang itu membantu ya P : Emm.. Terus ini maaf ya? I : He’em P : Apakah ibu tuh sebelumnya pernah sih membayangkan kehidupan ibu yang seperti sekarang ini bu? I : Woo.. berarti sebelumnya, waktu itu waktu masih P : Nggih, bapaknya masih ada I : Hidup gitu ya? Yaa.. nggak pernah sih ya P : nggak pernah? I : Belum pernah membayangkan kok baru

Informan lebih banyak berperan di dalam keluargannya tetapi kalau orang lain lebih baik Dan cocok, informan menerimanya karena dianggap membantunya.

Informan sebelumnya belum pernah membayangkan kehidupannya yang seperti

gitu ya! Tapi sebelumnya tuh ibu sudah merasakan sebuah firasat ya? Iya. kecelakaannya di ngadirojo wonogiri tuh Iya Sempat terfikir itu. waktu sudah dekat ini ya. gitu ya! Emm. itu juga sempat terpikir juga itu sebelum ini ya. belum membayangkan.150 445 P : I : 450 455 460 P : I : P : I : 465 470 P : I : 475 480 P : I : P : I : P : 485 berapa tahun menikah terus. belum membayangkan ya. mau waktu ayahnya meninggal tuh itu sempat terfikir seperti itu.. karena suami saya itu kan memang banyak hidup dijalan ibaratnya Iya Karena sering perjalanan jauh lha itu juga kemungkinan resiko-resiko seperti kecelakaan. resikonnya semuannya tuh sudah saya pasrahkan pada Tuhan. itu yo. ee. itu disana kan memang jalannya memang seperti itu. malah sempat terfikir itu. belum membayangkan sama sekali. maaf ya terus kalau perasaan ibu dan cara. Karena. Allah memberikan ujian kan hanya mau ditingkatkan derajadnya itu Emm. meninggal gitu ya. . Ketika mendekati wktu kematian suaminya informan sempat berfirasat dan terfikir akan kehilangan suaminya. nggak pernah. yo terfikir seperti itu yo. ee. Ketika informan menerima firasat akan kehilangan suaminya informan sudah memasrahkan pada tuhan.. lha itu resikonya. caranya ibu menyesuaikan diri ketika masa awal ditinggal oleh sekarang ini.. mau dinas itu.. tapi itu saya sendiri kan sudah memang sebelumnya kan sudah banyak ujian hidup ya! Jadi wah semua kalau memang Allah itu akan memberikan jalan. akan memberikan ujian juga akan memberikan jalan yang terbaik. karena kan mau kepacitan itu suami saya. terus meninggal dalam perjalanan itu juga ada ya. nggak tahu apa itu firasat atau bagaimana Berarti itu sebuah firasat? Iya. terus kalau He’em Ee. Sempat terfikir gitu kalau dulu meninggalnya tuh di.. tapi ada gini ya..

. P : Susahnya disini maksudnya? I : Susah. dan membesarkan anak. P : Tabah? I : Iya. lebih mungkin ya. P : Emm. semangat hidup.. Informan menyesuaikan diri dengan ikhlas.. juga gimana ya? Agak susah juga. sehingga.. kondisi ekonominya lebih baik. semangat berusaha untuk mendidik anak. I : Masalah ini. seperti itu. yang penting itu ikhlas tadi ya. kalau misalnya yang cari uang berdua kan lebih akan lebih.151 490 495 500 505 510 515 520 525 530 ayah tuh bagaimana bu? I : Ooo. . I : Itu. tapi semuannya itu saya kembalikan. yo susah tadi. nha itu kan diberi umur tertentu ya. gitu? P : Iya I : Iya karena memang sebelumnya kan memang apa-apa kalau ada masalah itu kan bisa dipecahkan bersama ya P : Iya I : Terus kemudian ya yang satu tidak ada sehingga harus mencari sendiri. namanya manusia hidup berkeluarga itu kan banyak masalah ya! P : Iya I : Lha itu bisa dipecahkan bersama. semangat berusaha untuk mendidik titipan. kemudian untuk kalau banyak masalah. sehingga bisa tabah.. jadi sewaktuwaktu bisa dipanggil yang punya. membesarkan anak dengan walaupun single parent seperti itu. Yang menjadikan informan kesusahan terutama masalah ekonomi. ya itu pertama juga. I : Lha itu prinsip saya itu. juga agak gini ya. maka saya itu ikhlas ya. seperti itu Alhamdulillah. sehingga pokoknya harus semangat. prinsip saya tuh manusia itu hidup. itu. P : Hemm. itu susahnya seperti itu P : Terus kalau maaf ya? I : He’em P : Kalau perasaan nya ibu ketika menghadapi masalah tuh dalam Perasaan dan cara informan menyesuaikan diri ketika masa awal ditinggal oleh suami pada awalnya susah dan ikhlas. seperti itu. Informan bersikap tabah sehingga memunculkan semangat hidup. masalah ya terutama ini masalah ekonomi P : Oh ya. ya mendidik anak itu tadi. diselesaikan bersama. itu.

ya bukan masalah ya ini yang ekonomi gitu. lha itu. perlu masih dalam perkembangan itu kan memang masih banyak kasih sayang ya! Iya. itu yang membuat saya sedih itu malahan ya malahan ya. yang kecil itu kan Iya Kadang perlu. malah itu Emm. kalau yang besar tuh malah Alhamdulillah dia lebih dewasa ya. Yang membuat informan sedih adalah tidak bisa membahagiakan anaknya dengan kasih sayang ayahnya. Jadi.152 535 I : P : I : 540 545 P : I : 550 P : I : 555 560 P : I : 565 570 P : I : 575 P : I : keluarga tuh bagaimana? Apakah susah. karena anak saya masih balita itu kan memang. tuh bagi anak ya. jalan-jalan dengan ibu bapaknya seperti anak-anak lainnya. atau gimana. gitu. bisa pergi.. masih banyak berkhayal. masalah anak itu. kalau ada masalah keluarga. Dari orang tuanya. ini kalau saya masalah keluarga ini ya sedih juga ya. bisa mainmain. seperti itu. sedih Kalau ada masalah gitu? Iya perasaannya? Woo. berandai-andai gitu ya. jadi walaupun dulu dia ditinggal 3 tahun tuh sudah ya sudah agak sudah faham ya sepertinya. seandainnya. ya itulah masalah kasih sayang tuh masih perlu. Karena menurut informan masalah kasih sayang ayah masih perlu. masalah itu yang membuat saya sedih malah itu. anak ya. itu. . bukan masalah ekonomi. gitu. seusia balita seperti anak-anak saya ini. jadi kalau adiknya itu berandai-andai yo kakaknya tuh justru itu yang memberi tahu gitu! Iya? Memberi tahu Perasaan informan ketika menghadapi masalah didalam keluarga sedih ketika kasih saying untuk anaknya tidak bisa terpenuhi. mengenai bukan masalah mendidik. bagi anaknya yang berusia balita. ya yang kecil ini kan perlu ini ya di masih berkhayal. terutama masalah ini.. pendidikan ya.mbok bapaknya masih ada. dia sudah faham Iya Kalau bapaknya tuh sudah meninggal seperti itu. mereka ya terutama yang kecil ini ya.

153 580 585 590 595 600 605 610 615 620 P : Kalau. sama anak-anak gitu. itu he’em P : Berjalan-jalan atau? I : He’em. I : Tapi juga kadang ini. itu kok kalau yang normal saja kalau anak pergi. pas hari minggu itu kan juga jalanjalan. temannya pergi. gitu ya? P : Woo. gitu ya. I : Itu seperti itu P : Jadi ibu memenuhi? I : Ho’oh P : Apa itu khayalan. kok itu juga pengen. tidak saya pribadi sendiri. wong itu aja pergi kesitu. om nya juga sok kadang mengajak mereka gitu ya. gitu ya? Ya itu nanti ini ya saya sendiri sama anak-anak ya... jadi itu kan juga memenuhi khayalan tadi termasuk juga ya? P : Hmm. iya. jadi tidak begitu sedih lah anaknya. ya.. woo. seperti itu.. itu P : Emm. ketempat mana gitu. upamanya tadi kan anaknya ibu berkhayal ya? I : He’eh P : Terus bagaimana ibu memenuhi khayalanya itu ya? I : Hee. itu memang anak kan memang seperti itu ya ininya pengen ya dengan anak lain. entah ke Manahan atau ke supermarket. pakdhenya. ndak bisa pergi-pergi. juga kadang-kadang ya pas kalau liburan. Terus kalau umpamanya ini ada suatu permasalahan nggih? I : He’eh P : Terus apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah tersebut bu? I : Kalau ada permasalahan? Iya kalau ada permasalahan tuh. .. tidak begitu merasa kok ndak ada bapaknya. kok saya kok tidak. dengan pakdhe atau saudara dekat ya? I : He’em dengan pakdhe.

. kalau tidak ya dengan perlu bantuan orang lain. sehingga ketika ada masalah tidak ditunda-tunda. bisa kalau bisa diselesaikan sendiri ya dengan sendiri. . ee. harus menselesaikan masalahnya.. nanti kalau tidak diselesaikan kan bisa menumpuk-numpuk menjadi beban juga malahan ya P : Iya I : Timbul masalah baru. P : Langsung? I : Ya. seketika itu juga harus diselesaikan gitu. seperti itu. informan takut kalau tidak diselesaikan bisa menumpuk-numpuk sehingga menjadi beban.. terus kalau itu. semakin bertumpuk malah menjadi beban dan repot sendiri. secepatnya.. Informan berusaha sebisa mungkin.. apakah ada sih anggota keluarga yang lain yang Informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu permasalahan secepatnya diselesaikan. I : Sebisa mungkin ya. kalau ada masalah datang tidak di apa ya? Ditunda-tunda gitu P : Emm. I : Na itu nanti kan juga repot sendiri P : Tuh untuk menghindari kerepotan? Ibu sendiri ya? I : Ya.154 625 630 635 640 645 650 655 660 665 670 P : Mengapa? I : Ya. harus secepat. Karena menurut informan kalau semakin banyak masalah. lha itu belum diselesaikan malah timbul lebih banyak masalah.. sebisa mungkin ya. makannya kalau ada masalah yang datang harus sebisa mungkin itu cepat diselesaikan dengan ya dengan entah itu. masalah yang ibu libatkan tuh? I : He’eh P : Langsung. nha nanti kan juga malah merepotkan. apa sesegera mungkin menyelesaikan masalah itu agar menghindari bertumpuknya suatu masalah? I : Iya kan kalau semakin banyak. P : Tapi ee. semakin bertumpuk malah beban semakin berat ya? P : Hemm.. iya P : Emm. langsung anda selesaikan seketika itu juga bu? I : Kalau begitu ada masalah datang itu? P : Iya I : Ada masalah datang yaa. kalau bisa ya harus cepat diselesaikan P : Jadi ibu tuh. secepatnya tuh bisa diselesaikan ya.

ya? Apakah dari tetangga atau sepupu itu ya? He’eh Apakah tetangga ada yang membantu. gitu walaupun ya mereka tuh ada yang belum berkeluarga juga tapi ya sudah banyak mengetahui. Keluarga dekat itu? Seperti. sepupu saya. tetangga ya? He’em Kalau tetangga.. selain itu ya? Jadi selain dari keluarga saya sendiri Iya Kemudian dari keluarga mertua gitu ya.. ee. seperti saudara ipar. disini masalah mensekolahkan ya misalnya ya Iya Seperti itu. tetangga atau orang dekat rumah? Kalau tetangga. . kalau malah mengenai masalah pribadi ya? Iya Kalau masalah anak. nggak ya nggak ya! Kenapa nggak memfokuskan pada Anggota keluarga yang lain yang membantu menyelesaikan masalah informan ketika ada masalah dalam keluarga adalah keluarga dekat dari fihak keluargannya. gitu ya? iya Gitu ya.155 675 I : P : I 680 : P : I : 685 690 P : I : P : 695 I P I P I P I P I : : : : : : : : : 700 705 P : I : 710 P : I : 715 P : membantu menyelesaikan masalah ibu? Ketika ada masalah dalam keluarga. itu kan seumuran dengan saya itu kan kadang ya ada masalah gitu ya. apa ya. kadang ya pernah hanya rasanrasan. ataukah ada saudara lain? Ooo. atau saudaranya ibu. tidak ada malahan Kenapa tidak ada? Tidak ada ya. masalah ya. jarang sih walaupun ya kadang. ya sambat gitu ya Terus? Biasa omong-omong gitu tapi saya tidak memfokuskan minta bantuan tetangga itu ya. itu juga ada dari ini keluarga dari om saya. kadang rasan-rasan lah. masalahmasalah itu ya! Mengalami. ya hanya rasan-rasan seperti orang sambat-sambat. mertua. selain keluarga dekat. om dan sepupu informan.

nggak? I : Itu khan masalah ini interent pribadi ya. tanpa melibatkan tetangga untuk I : Iya. tetangga tuh bisa nanti ngomongngomongke gitu ya! P : he’em I : Dengan orang lain. berarti untuk menghindari gossip- . ee. lha itu menjaga itu tadi juga termasuk salah satu khan. nanti kemudian kalau teman yang itu ya P : Teman kerja? I : Ho’oh P : Yang sudah biasa... P : Jadi disini ibu I : Iya P : Menyelesaikan masalah pada keluarga dan teman tanpa tetangga untuk. itu khan masalah memang iya memang masalah pribadi. juga menjaga itu ya! P : Iya.. sudah akrab gitu khan kadang ya. nanti dari dalam dulu. masalah jelek ya. P : Kalau dilihart dari lokasi kan tetangga lebih dekat I : He’eh P : Tapi mengapa ibu.156 720 725 730 735 740 745 750 755 760 tetangga-tetangga? I : Ya. ya nanti akhirnya P : Gosip I : Iya terjadi gossip dan sebagainya. berarti ibu tuh biasannya tuh. masalah keluarga ya! P : Iya. saya interent ya P : Iya I : Masalah keluarga ya P : Iya I : Sebisa mungkin ya itu dari dalam dulu. atau dianggap orang lain tuh buruk. misalnya P : Iya I : Tuh nanti kan namanya orang lain ya. jadi ya. biasannya apa memecahkan masalah tuh hanya dengan keluarga saja? I : Ya terutama keluarga. kadang juga I : Emm. nanti kalau langsung keluar ya ketetangga nanti bisa mungkin itu.

kalau yang bukan materi. terutama mendidik untuk me. seperti itu karena saya tidak bisa memecahkan sendiri ya ini. tetangga. jadi P : Terima ya? Mengapa? I : Ya ini untuk menyekolahkan.. mereka memberi bantuan pada saya ya. . kalau misalnya saya minta saran. nggak masalah saja semuannya I : Materi maupun itu P : Iya I : Yang lainnya itu? P : Ya semua saudara tuh apabila memberikan bantuan kepada ibu tuh I : He’eh P : Apakah ibu selalu mau menerimanya? I : Bantuan dalam hal ini meteri atau imateri? P : Ya. woo. biaya pendidikan anak ini memang ada ni dari keluarga nih saya terima. apakah ibu tuh akan selalu menerima bantuan yang beliau-beliau berikan itu? I : Gitu ya? Yang tadi pemecahan masalah tadi ya? P : Ya. saya terima. ya saya terima..157 765 770 775 780 785 790 795 800 805 gosip yang tidak sedap? I : Iya P : Tidak tersebar gitu ya? Terus kalau umpamanya. memang itu saya ngga minta. ini saya pertimbangkan lagi. kalau memang tuh baik ya itu saya ambil sebagai keputusan masalah bantuan dari keluarga itu tadi Informan selalu menerima bantuan materi yang diberikan keluarga untuk biaya pendidikan anak. kalau imateri bagaimana I : Oh gitu ya? Ya dalam untuk keluarga dari keluarga gitu ya? P : Iya I : Untuk materi ya memang saya terima ya. eh sepupu dan keluarga tuh memberikan bantuan I : He’em P : Bantuannya kepada ibu tuh... untuk biaya pendidikan anak ini terutama ini. ya masalah saran-saran atau pemecahan masalah. saya nggak minta ya! Saya nggak minta. kalau materi bagaimana. tetapi informan tidak meminta.

opo. tebaik untuk ibu atau terbaik untuk anak? I : Ya. C ooo. itu karena bantuan tuh datangnya dari keluarga saya ya P : Iya I : Mereka itu kan ini ya ada ikatan darah gitu ya? P : Iya I : Tuh saya mempercayainya. tadi khan ibu bercerita mau menerima bantuannya? I : He’em P : Terus bagaimana sih ibu mempercayai dan mensikapi bantuan yang diberikan pada ibu itu? I : Maksudnya mempercayai bagaimana? P : Ya ibu apakah percaya 100 % atas bantuannya atau nggak? Kan biasannya ada yang hanya membantu ada maksud tertentu tuh bagamana? I : Ooo. B gini lha itu.. Informan mempercayai dan bantuan yang diberikan padanya karena bantuan tuh datangnya dari keluarganya dan adanya ikatan darahsehingga informan mempercayainya. dia juga insya Allh dia juga baik. dipilih yang terbaik. apa sepenuhnya tuh dari sisi ek. karena dari unsur ee. I : Baru diambil keputusan. I : Ini dipertimbangkan lagi. dari unsur agama pun. itu khan P : Woo. terbaik untuk saya dan keluarga.. materiil itu ya untuk biaya sekolah atau bagaimana tapi kalau dari imateril ibu masih menyaringnya lagi? I : Iya. . Terus. ya gitu ya.. ini ya. B.. ini kok A gini. diolah gitu P : Jadi kalau terbaik apa disini. ini bantuan terutama dari kakak saya sama adik ipar. I : Jadi mereka tuh membantu ya maksudnya untuk membantu biaya Informan masih menyaring lagi bantuan yang imateril baru kemudian diambil keputusan.. yang terbaik lah dari berbagai P : Terbaik untuk? I : Misalnya dari A. masih ada hubungan darah dengan anak saya P : Hemm. untuk keluarga itu P : Emm. ya gitu..158 810 815 820 825 830 835 840 845 850 P : Berarti disini ibu tuh menerima bantuan I : He’em P : Menerima bantuan.. masih menyaringnya lagi P : Emm.

Harapan informan adalah Allah selalu . karena sudah ikut membantu dan selalu bersyukur ada yang membantu seperti itu sebagai ini untuk membantu biaya pendidikan maupun ekonomi... untuk ya anak-anak itu terus. bersyukur ada yang membantu. kalau boleh tahu ya? He’em Harapannya ibu ini untuk kedepannya bagaimana bu? Harapan untuk? Keluarga ya terutama ya ini ya? Iya keluarga Ya harapan saya mudah-mudahan Allah selalu memberikan saya kekuatan. tapi khan 100 % bukan dari mereka tho bu? Hanya bantuan sekedarnya saja Yang? Hoo. iya jadi yaa. karena ada yang membantu. jadi meringankan beban ekonomi saya sebagai seorang single parent seperti itu ya! Emm. Emm. Terus kalau mensikapinnya? Bagaimana? Mensikapinya kalau sudah diberi bantuan tuh bagaimana ibu mensikapi gitu lho? Mensikapinya? Iya. berterima kasih pada mereka. jadi saya selalu bersyukur ada yang membantu seperti itu sebagai ini untuk membantu biaya pendidikan maupun ekonomi yang lainnya. ya sekedarnya saja. ketabahan. yang sudah ikut membantu.. apakah mengucapkan terimakasih atau Iya. mengirim berapa misalnya. itu kalau adik ipar saya yang Surabaya itu yang rutin itu. ya mereka khan entah berapa. keimanan Informan mensikapi bantuan yang diterimanya dengan bersyukur. jadi sebagai tambahan. tambahan gitu ya. gitu Jadi ibu mempercayai bantuannya? Iya. Jadi yo berterima kasih pada mereka ya.159 855 P I P I P : : : : : 860 I : P : 865 I : 870 P : I : 875 880 P : I 885 : P : I : 890 P : I : P : 895 I : P : I : 900 keponakan mereka gitu ya... saya bersyukur. jadi bisa meringankan beban ekonominya. Membantu? Iya memang tiap bulan tuh dia transfer tuh untuk ini. penangkapan mereka kan membantu anak yatim itu seperti itu.

. . Allah memberikan kelancaran Emm… Bisa ini ya. Perekonomian. mendidik anak dengan baik. jadi agama itu saya pertimbangkan juga Selain He’em Harapan kepada keluarga. sehingga mereka menjadi anak yang berguna bagi dunia dan akherat. membesarkan. tapi juga untuk kebaikan mereka di akherat itu Akherat Maka ee. jenjang kenaikan golongan.. kemudian untuk pendidikan akheratnya juga baik. dan kariernya lebih meningkat. ya itu ya saya juga berharap untuk masalah karier ya. mendidik mereka menjadi anak yang. mereka menjadi anak sholeh sholehah ya!. itu ya. memang harapan orang tua ya! Sehingga mereka kelak akan menjadi anak yang berguna ya. masalah sosial lainnya ya seperti dengan adannya peningkatan karier. Didalam kariernya informan berharap agar Allah memberikan kelancaran jenjang kenaikan golongan. terus apa? Dan juga masalah ini ya.. keimanan sehingga bisa berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan. atau bagaimana? Oh. itu khan juga memberikannya kekuatan. dan untuk pekerjaan lancar tidak banyak masalah. tentang mungkin karier.160 905 910 P : I : 915 P : I : 920 925 P : I : P : I : P : 930 I : 935 P : I : 940 P : I : 945 sehingga saya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan anak dengan baik ya!. karier dan sebagainya lebih meningkat itu. berguna bukan hanya untuk dunia saja. pendidikannya baik. Iya Jadi bisa membesarkan mereka dengan ini. mungkin ada harapan lain bu? Harapan ini ya? Harapan pribadi saya gitu? Iya. masalah pekerjaan itu yo mudah-mudahan ini ee. ya berguna bagi dunia dan akherat ya pendidikannya baik. itu harapannya sehingga khan nanti juga kan akan membantu maslah perekonomian.. itu harapan saya ya. ee. dalam hal pendidikan saya juga selalu mempertimbangkan untuk masalah urusan akherat. ketabahan. mereka menjadi anak sholeh sholehah. kemudian untuk pendidikan akheratnya juga baik.

ya seperti itu Eee. .. Emm. andaikan itu semua harapan ibu yang lain. tadi khan ya kalau masalah karier.. sebisa mungkin juga nanti bisa me. karena ini masih kecil-kecil. untuk masa depan mereka tuh dengan rezeki yang lebih banyak tadi kan ee.161 950 P : I : 955 P : I P I P I P I P I P I P I : : : : : : : : : : : : : 960 965 970 975 980 P : I : 985 P : I : 990 P : I : penghargaan terhadap saya pribadi juga akan lebih baik dengan tetap.. teman. untuk bisa menyekolahkan. Dan untuk masalah yang lainnya seperti masalah keluarga. tetap kita itu harus ini ya bersyukur Nggih Ya gitu. walaupun karier itu lebih baik. mungkin? Masalah ini ya. tetap akan menjaga tetap tadi insya Allah menjaga perilaku ya! Itu.. itu kan ya dengan adannya peningkatan penghasilan itu harapannya nanti bisa membesarkan anak. ke sekolah yang lebih tinggi Iya Lha itu khan untuk bekal kelak mereka ya. karena pendidikan tinggi kan juga perlu biaya besar ya Iya apalagi kelak ya. mendidik anak ee. lha itu harapan saya seperti itu. misalnya. Informan berharap bisa membantu orang. misalnya Iya Masalah apa? Lha apa? Kalau ibu sudah terpenuhi He-he-he Semuannya apakah ibu akan terfokus pada Ya gini ya. membantu orang lain teman lain. tuh sudah tercapai he’em Apakah ada harapan lain bu? Harapan lain? Iya Mengenai apa ya? Ya. pekerjaan itu berhubungan dengan penghasilan ya akhirnya ya.

. terfikirkan? Terfikirkan iya. seorang ibu ya ini yang terpenting tuh masalah anak ya! Ya. Iya Nha itu. masalah prib. masalah ini ya. misalnya namanya jodoh misalnya. itu yang masalah selain masalah ekonomi dan sebagainya itu. terutama itu. saya sendiri sudah bekerja jadi untuk masalah hal itu. misalnya. ini termasuk masalah pribadi ya? Yaa. eh. bersuami lagi.. sampingan ya. lha mungkin ya berat ya karena masalah ekonomi Masalah ekonomi tadi? Iya.. jadi kalau masalah karena saya punya penghasilan.. jadi ya ini mungkin. ya penuh dengan kasih sayang seperti anak sendiri. bertanggung jawab. misalnya masalah ini. jodoh atau eee. karena khan sebagai seorang single parent. harapan ya. ya ini lebih banyak pertimbangannya nanti segi anak ya! Jadi dia tuh bisa nggak menyayangi anak dengan. beda kalau orang yang tidak bekerja. Jadi ee. ini Allah memberikan jodoh lagi buat dirinya.. nha itu juga ini ya. jadi masih tidak begitu terfikir sekali itu masalah jodoh itu tadi . karena mungkin. itu yaa. Itu masalah tadi. dan itu sebagai pertimbangan yang harus mamang njimet ya! Iya Kalau seorang ibu tuh seperti itu.. itu khan juga ya itu kalau memang itu Allah itu memberikan Informan juga berharap jodoh lagi. harapan saya terutama ya! Iya Itu ya memang bisa Allah bisa memberikan jodoh yang memang bisa menjadi iman keluarga. lha itu tidak itu masih. bisa menyayangi anak..162 995 P : I : 1000 P : I : 1005 P : I : 1010 P : I : 1015 1020 P : I : 1025 1030 P : I : P : I : 1035 misalnya ee. itu masih tidak begitu.

163 1040 1045 P : Dikesampingkan ya? I : Iya P : Emm. makasih lho atas waktunya I : Hee. nggak apa-apa P : Selamat siang bu I : Iya selamat siang .. gitu aja ya bu. iya P : maaf lho kalau mengganggu I : iya.

. selamat pagi P : Ee. 15 20 Menurut HPI kehidupan keluarga informan baikbaik saja karena menurut HPI tidak ada pertengkaran. usianya sekarang berapa? I : 22 tahun P : 22 tahun ya. maupun konfik baik saudara maupun tetangga P : Berarti? ee. emm. ibu ini nggak ada konflik dan pertengkaran dengan keluarga? I : Iya P : Emm. maupun konfik baik dengan saudara maupun tetangga.. kalau sepengetahuan anda apakah pernah ada konflik? I : Yaa. maaf nih mas. P. 10 September 2008 Tempat : Kompleks rumah dinas aspol Manahan. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal.164 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 1 Kode : WI/SP1 Nama : H. 10 Usia HPI sekarang 22 tahun. nggak ada pertengkaran. Waktu : 08. apakah anada tuh mengenal bu M alias bu M ini mas? I : Iya..15-08. keluarga ibu anda. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Pagi mas? I : Iya.. mas mau Tanya nih. bagaimana sih kehidupan rumah tangga ibu menurut sepengetahuan mas? I : Baik-baik aja kok P : Baik disini maksudnya? I : Yaa. mengenal P : Sejauh mana anda mengenalnya mas? I : Saya sebagai anak kandungnya P : Yang nomor? I : Yang pertama P : Yang pertama? Kalau boleh tahu mas. ndak ada sih mas P : Sama sekali ya? Analisis 5 HPI mengenal informan karena HPI adalah anak kandungnya yang pertama. I Hubungan dengan subyek : Anak Tertua Informan 1 Usia : 22 tahun Pekerjaan : Polisi Hari / tanggal wawancara : Rabu.20 WIB (5 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. ee.. 25 ..

ibu biasannya saya yang dilibatkan P : Emm.. HPI terlibat dalam masalah informan karena informan meminta tolong padanya untuk menyelesaikan masalahnya atau menggantikan peran ibunya. . biasannya informan bilang kepada HPI. untuk menyelesaikan masalahnya atau mengganti ibu P : Tidak bisa ini? I : Ya. berkerja keras P : Tanggung jawab disini maksudnya? I : Ya.. biasannya ibu bilang kepada saya P : Emm..165 30 35 40 45 50 55 60 65 70 I : Iya P : Emm kalau boleh tahu lagi ya mas. kalau ibu tidak bisa. seperti kalau ibu kekurangankekurangan apa. mengganti semantara ibu itu? I : Iya P : Terus. kalau boleh tahu lagi ya? Sejauh mana mana sih anda tuh terlibat dalam kehidupan ibu ini? I : Yaa. dan keluarga mungkin? Atau pada anak-anak saja I : Anak-anak saja! Informan pernah menceritakan masalahnya kepada HPI seperti misalnya masalah kekurangan keuangan atau kekurangan apa yang ada itu kurang dirumah. ee. tanggung jawab sebagai orang tua P : Orang tua? I : Orang tua. yo terhadap anak-anak nya P : Emm. pernah P : Seperti apa misalnya mas? I : Ya. itu P : Ibu tuh sebagai seorang yang bagaimana atau gimana? I : Ibu seorang yang tanggung jawab. biasannya ibu bilang pada saya untuk.mas selalu membantunya? I : Iya P : Emm. kalau boleh tahu lagi ya mas? Bagaiamana sih tanggapan anda mengenai ibu ini? I : Gimana mas? P : Tanggapan mas tentang ibu I : Ooo... mengganti sebagai ibu P : berarti? Mas. apakah pernah sih ibu tuh menceritakan tentang masalah keluarganya pada mas I : Iya. Tanggapan HPI terhadap informan menurutnya adalah seorang yang tanggung jawab sebagai orang tua kepada anakanaknya.. kalau ada kegiatan-kegiatan apa. kekurangan keuangan atau kekurangan apa yang ada itu kurang dirumah. Maksudnya dilibatkan? I : Iya mengganti itu.

di komplek rumah. ibu pasti ada P : Emm. udah itu aja? I : Iya P : Ooo. makasih I : Iya P : Atas waktunya I : Iya P : Maaf ya kalau menggangu I : Iya. sama-sama mas Menurut HPI informan adalah soerang yang pekerja keras.166 75 80 85 90 95 100 105 P : Tanggung jawab pada anak-anak saja? Emm terus bekerja keras disini maksudnya mas? I : Eemm. ya udah mas. mungkin kegiatan pengajian. kemasyarakat. itu saja mas P : Emm. kelontong P : Selain kelontong? Sepengetahuan mas? I : Iya. ibu juga. buka wiraswasta P : Wiraswasta? Sebagai apa? I : Yaa. kelontong saja ya? I : Iya P : Emm. itu aja mas P : Pengajian? Dimana mas? I : Di komplek rumah P : Ooo.. kalau boleh tahu lagi ya? Bagimana sih tentang sosialisasi. tentang kehidupan sehari-hari ibu? I : Iya... Selain kegiatan masyarakat? I : Ya. disamping seorang pensiunan. Menurut HPI sosialisasi yang dilakukan oleh informan cukup baik. cukup baik ya mas! P : Baiknya disini? I : Ya kalau ada kegiatan-kegiatan kematian. hal ini dibuktikan dengan kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan pengajian yang diikuti oleh informan di sekitar kompek tempat tinggalnya. ibu.. .... ee. karena sebagai seorang pensiunan informan juga membuka usaha sendiri membuka toko kelontong.. terus mas.

. nggak ada apa lah gangguan-gangguan kecil.49 WIB (5 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. apakah anda tuh mengenal ibu Y mas Iya itu orang tua saya mas Emm. sekarang usia mas berapa kalau boleh tahu? 22 tahun 22 tahun.167 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 2 Kode : WI/SP2 Nama : M.. Eee. kebetulan ini sedang nggak ada acara Eee. P : I : .. anak ke berapa kalau boleh tahu anda? Anak ke 2 dari 2 bersaudara. mas. 15 I 20 : P : I : 25 Menurut MH kehidupan keluarga informan baikbaik saja tapi kadang ada gangguan kecil seperti kehidupan ekonomi dan masalah keuangan. gangguan besar. Informan adalah anak ke 2 dari 2 bersaudara dan berusia 22 tahun. 10 September 2008 Tempat : Rumah Orangtua ibu Y Waktu : 10. P : Pewawancara I : Informan Baris P I P I 5 P : I : P : 10 I : P : I : P : : : : : Uraian interview Siang mas? Siang Maaf bisa mengganggu sebentar? Bisa.44-10. ee. tapi juga ada gangguan kecil. saya mau tanya ya? Bagaimana sih kehidupan ibu mas. mas ini. baik nggak ada keributan.. H. contohnya kehidupan ekonomi lah. Hubungan dengan subyek : Anak Terakhir Informan 2 Usia : 22 tahun Pekerjaan : Swasta Hari / tanggal wawancara : Rabu. kalau. masalah keuangan Gangguan dari ekonomi? He’em Analisis Informan adalah orang tua dari MH. menurut sepengetahuan mas menurut sepengetahuan anda saja? Kehidupan rumah tangga saya dengan ibu ya? Alhamdulillah baik-baik saja tapi kadang Disini maksudnya? Ya.

istilahnya perang mulut lah P : Emm. P : Nggak pernah? I : Pernah! P : Pernah? Seberapa sering? I : Ya sering. kapan biasanya? I : Kalau waktu nggak bisa dihitung P : Pas ada masalah apa gitu? I : Masalah keluarga P : Seperti? I : Seperti. Cuma ituuu. ekonomi yam as menurut mas? I : Eee. terus? I : Terus khan penghasilan saya tidak meningkat-meningkat. ya Alhamdulillah bisa ketutup dengan pinjem uang sana-sini P : Emm. sudah damai sendiri P : Jadi pernah konflik yang agak besar. tapi Alhamdulillah tidak didamaikan.. terus saya berusaha mendamaikan. sedang mendapat masalah tuh apakah ibu mas pernah menceritakan tentang masalahnya? Masalah keluarganya mas? I : Nggak pernah.. jadi masalah. sering. I : Dengan pakdhe saya. tentang keluarga I : He’eh P : Terus sejauh mana anda terlibat dalam kehidupan rumah tangga nya mas? I : Iya. apa gimana tuh.168 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 P : Maksudnya? I : Maksudnya kadang khan. terus. informan sudah damai sendiri Informan tidak terlibat banyak dalam kehidupan informan. karena menurut MH yang penting dia bisa .. yang penting saya bisa ngasih uang dan saya bisa membuat saya tidak sedih tuh sudah senang Informan pernah dan sering cerita masalah yang dihadapinya kepada MH. nggak terlibat banyak-banyak lah.. tapi. sering cerita P : Eee. ya betul! P : Emm.. dulu khan pernah ada sedikit miskomunikasi dengan pakdhe saya P : Ee. P : Emm. Informan menceritakan kepada MH tentang masalah keluarga yang dihadapinya karena pernah ada sedikit kesalahpahaman informan dengan kakak informan sehingga perang mulut dan MH berusaha mendamaikan tetapi tidak didamaikan. kalau meng. mereka apa.. harga-harga kebutuhan pokok meningkat. khan kurang ya mas. terus? I : Terus. Cuma terlibat ya. terus.

bekerja menjahit lah gitu thok P : Nggak ada kegiatan lain selain arisan atau PKK itu mas? ngasih uang dan bisa membuat informan tidak sedih MH sudah senang. terus. terus? I : Tanpa bantuan orang lain. I : Iya. betul.. eh apa berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sendiri I : Iya. tapi dia membesarkan anak-anaknya sendirian tanpa bantuan P : Emm. I : Dah banyakan dirumah. betul sekali P : Dari segi karena dari tidak menikah lagi dan. ho’oh betul.. terus ikut arisan keluarga P : Emm. . Cuma itu thok lah P : Cuma terbatas pada ekonomi saja ya? I : He’em P : Emm.. selalu berjuang demi anakanaknya P : Maksudnya pantang menyerah? I : Khan ibu saya sejak khan 1993 ditinggal bapak saya. Menurut MH informan pantang menyerah dan selalu berjuang demi anak-anaknya. tidak sering keluar rumah tuh mas.. ya kadang-kadang ikut arisan PKK. ho’oh P : Dan membantu perekonomian keluarga. saya berusaha untuk membahagiakan ibu saya P : Jadi anda merasa bangga dengan ibu anda ya? I : Yak. itu khan penting mas P : Emm. dalam membantu meringankan beban ibu? I : Ho’oh.. tentang ibu mas ini? I : Ibu saya tuh orangnya. bagaimana sosialisasi yang ibu mas lakukan? I : Ibu saya tuh sering. peran yang lain nggak ada mas? I : Ya. betul P : Emm.. Berarti nggak. ibu juga ndak ada niat untuk nikah lagi P : Emm. iya. Yang membuat MH bangga kepada informan karena informan membesarkan anakanaknya sendirian tanpa bantuan orang lain dan juga informan tidak ada niat untuk menikah lagi. pantang menyerah. jadi mas itu hanya terlibat dalam anu.169 80 85 90 100 105 110 115 120 125 P : Ooo.. I : Itulah yang membuat saya bangga. mas terus bagaimana sih tanggapan mas ya..

170 130 I P I P I P I : : : : : : : Wah nggak ada mas Jadi Cuma dirumah saja? Ho’oh Untuk memenuhi pesanan jahitan He’em tul Oh ya dah mas makasih atas waktunya Sama-sama .

. ulet dan selalu mencari peluang untuk mencari penghasilan tambahan mas. kalau boleh tahu ya Analisis 5 SC mengenal informan. Hubungan dengan subyek : Rekan kerja informan Usia : 22 tahun Pekerjaan : Swasta Hari / tanggal wawancara : Sabtu. terus. C.. mas.ee.. 10 15 20 25 Karena informan harus menghidupi keluarganya seorang diri maka informan menjadi seorang yang pekerja keras. karena ibu R ini mempunyai 4 orang anak. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. . P : Ooo.. C.16 (6 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. Waktu : 20. apakah anda itu mengenal ibu R mas? I : Iya saya sangat mengenal sekali P : Sejauh mana anda mengenalnya? I : Tuh teman kerja P : Teman kerja ya mas? I : Teman kerja P : Dimana kalau boleh tahu? I : Di perusahaan obat T P : Oh jadi mas rekan kerja ya ibu R ya? I : Rekan kerja P : Eee. kalau boleh tahu ya mas ya. ibu R ini merupakan pekerja keras. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Malam mas? I : Selamat malam. ibu resmian ini seorang yang.10-20. dan dia harus menghidupinnya seorang diri. I : Bekerja keras P : Bertanggung jawab dan bekerja keras untuk keluarga? I : Iya P : Ee. P : Eee. berarti menurut mas.171 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 3 Kode : WI/SP3 Nama : S. karena SC adalah rekan kerja informan. kalau boleh tahu ya mas. bagaimana sih kehidupan rumah tangga ibu R ini menurut sepengetahuan anda? I : Kalau menurut sepengetahuan saya. ulet dan selalu mencari peluang untuk mencari penghasilan tambahan. 20 September 2008 Tempat : Rumah Orangtua S..

dia tuh sebagai sosok ya seorang yang bagaimana Informan pernah menceritakan masalah keluargannya kepada SC Informan menceritakan kepada SC masalah kehidupan anaknya dan untuk mencukupi kehidupan keluarga sehari-hari.. kalau boleh tahu sejauh mana? I : Ya bu R ini khan orang asli Medan.. P : Emm. jadi ketika saya kesana bu R ini pernah menceritakan pada saya.. jadi bu R ini sering mengatasi masalahnya sendiri tanpa pertimbangan orang lain? I : Iya. selain itu mas? I : Selain itu biasanya lagi kalau anake ada acara sekolah nDadakan.. . gimana ya.. kalau boleh tahu ya. menurut mas ya. mungkin piknik dadakan atau. kadang-kadang P : Kadang-kadang? Maksudnya? I : Ya pas kalau dibutuhkan untuk taren. boleh tahu ya mas? I : Iya! P : Emm. tanggapan ya.. gitu aja mas P : Kalau. jadi disini tuh kan saudaranya sedikit sekali. tadi ibu R tuh ya mas tarennya masalah apa? I : Biasanya kebutuhan keuangan sekolah P : Emm. tanggapannya mas tuh mengenai ibu R ini bagaimana? I : Tanggapan yang seperti apa? P : Ee.. biasannya ya taren ke saya.. tapi kalau nggak ya bu R nggak bilang kesaya atau tanya-tanya tentang masalah kehidupan pribadinya. ee. I : Acara les dari sekolahan yang harus diikuti P : Emm.. jadi mas itu sering terlibat ya dalam? I : Yaa. kehidupan anak saya ini. istilahnya taren-taren.untuk mencukupi keluarga sehari-hari. SC terlibat di dalam kehidupan informan ketika dimintai bantuan pertolongan oleh informan. P : Emm. I : Istilahnya ekstra kurikurel sekolah lah yang mamakai biaya P : Emm. seperti itu P : Emm kalau.172 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 I : Iya P : Apakah pernah sih ibu R ini menceritakan tentang masalah keluargannya? I : Pernah! P : Eeee...

itu sangat bagus sekali mas Tanggapan SC terhadap informan adalah sebagai seorang ibu rumah tangga yang sangat pekerja keras sekali. bagaimana? : Sangat bertanggung jawab sekali pada keluaga : Emm. karena di satu sisi bu R tuh kalau nggak seperti ini kebutuhan keluarganya nggak tercukupi.. : Emm. kalau boleh tahu lagi ya? : Iya : Bagaimana sih sosialisasinya bu R ini dalam lingkungan kantor. Menurut SC informan sangat bertanggung jawab kepada keluarga. selain itu mas? Selain pekerja keras. gigih mandiri gitu? : Iya : Terus mas. jadi dia tuh ibu rumah tangga yang sangat pekerja keras sekali.173 I 80 P I 85 P I 90 100 P I P 105 I P I P I 110 115 P 120 I P I P I P 125 I : Ooo. menurut. dengan gigih : Dengan sendiri.. apalagi mas bu R ini? : Ya. : Dan sangat memikirkan sekali masa depan anak-anaknya. jadi menurut mas ini walaupun bu R ini sedang menghadapi kesulitan ini. : Karena disini tuh tanggung jawab dia tuh sangat besar sekali menghidupi 4 anaknya seorang diri : Emm... : Emm. dan sebagai kepala keluarga. . : Sebagai seorang ibu. ulet dan tidak mengenal waktu dalam berkerja. : Sedangkan suaminya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. bertanggung jawab. itu. ulet. lha disinilah letak seorang tanggung jawab bu R ini sebagai seorang ibu... memikirkan masa depan anaknya Menurut SC informan menyelesaikan sendirian semua masalah yang dihadapinya. tapi dia menyelesaikan? : Iya. makannya dia kalau melihat peluang-peluang untuk mencari penghasilan tambahan. : Banyak juga pekerjaan yang dilakukan bu R : Eee.. menyelesaikan sendiri. ee.. tetangganya atau keluargannya? : Woo. walaupun dia sendiri harus menjalaninnya dengan penuh kesulitan-kesulitan yang menghadang : Woo.. ulet dan tidak mengenal waktu apabila dia tuh berkerja.

itu ya? I : Iya sosialis banget dimanapun tempat P : Dikantornya? I : Dikantornya juga. mas? I : Malem Menurut SC sosialisasi yang dilakukan oleh informan bagus bik di keluarga. P : Kalau di kantor? Rekan kerja? Antar rekan kerja? I : Kalau antar rekan kerja. I : Kalau bu R nih. Menurut SC sosialisasi yang dilakukan oleh informan sangat baik. ya udah mas.. ataupun teman-teman kerja P : Emm. masyarakat dan keluarga. karena menurut SC informan tergolong orang yang supel dan suka bergaul.174 130 135 140 145 150 155 160 165 170 P : Bagus disini maksudnya? I : Bagus.. saya sudah pernah mengalaminya seperti itu P : Emm. supel. dia tuh selalu membagikan apa yang bisa dia berikan pada orang lain P : Emm. masyarakat dan teman-teman kerja.. I : Karena bu R ini kalau melihat temannya kesusahan tuh nggak tega. dimasyarakat juga di keluarga juga P : Ooo. misale kalau ada seorang temene bu R membutuhkan keuangan. lha kalau kita bercerita dengan bu R. gitu aja yang mungkin yang sedikit yang saya bisa apa. masyarakat. tanya kepada mas. tergolong orang yang supel. baik dilingkungan kantor. I : Seperti itu P : Jadi? Bu R ini seorang yang supel ya? I : Iya. sama-sama P : Met malem. dengan orang lama dan dengan siapa pun yang dia suka. dalam artinya disini tuh sosialisasinya sangat memuaskan sekali baik di keluarga.. insya Allah kalau ada sedikit sisa dari rezeki bu R pasti kita bisa dibantu. jadi suka bergaul dengan orang yang baru dikenal. makasih juga. jadi tinggi sekali jiwa sosialnya P : Jadi bu R ini orangnya sosialis banget. . makasih atas waktunya ya mas? I : Iya. misale ada suatu kebutuhan yang mendadak. dan membantu dengan yang lain. Menurut SC informan itu orangnya supel dan membantu yang lainnya.

napa njenengan niku kenal bu E niki bu? I : Njih kenal. janda nggih? I : Iya P : Terus.175 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 4 Kode : WI/SP4 Nama : P.36 ( 6 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. dados bu E niki putrane ibu njih? I : Nggih P : Emm. napa namane bu E niku. Waktu : 10... nyuwun preso njih?. 25 .30-10. M. napa pernah sih. 24 September 2008 Tempat : Rumah Ibu P. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. apakah sering. E itu. me. jadi bu E niku sering crito masalahe kalian ibu njih? I : Nggih P : Terus. 15 20 Informan terkadang bercerita dengan PM tentang keinginannya untuk menikah lagi. sok crito tentang mitangletaken bade di pun pek garwo ngoten niku. maksudte nggih. sok kadang-kadang njih anu crito.. Hubungan dengan subyek : Ibu kandung informan Usia : 59 tahun Pekerjaan : Janda pensiunan Hari / tanggal wawancara : Rabu. ibu ngkang Analisis 5 PM mengenal informan karena PM adalah orang tua dari informan. itu ya janda itu. menurut sepengetahuan ibu? I : Sepengetahuan ibu. M. P : Emm. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian interview P : Sugeng siang bu? I : Emm. emm. nyuwun preso njih? I : nggih P : Pripun tho kehidupanne rumah tanggane bu E.. nggih P : Emm. emm sampai sejauh mana nggih ibu niku terlibat ngoten nggih dalam kehidupane bu E I : Terlibat? Dospundi njih? P : Terlibat. crito masalahe kalian ibu? I : Nha. janda disini. P : Emm bu.. bu. 10 Menurut PM informan adalah seorang janda. niku anak kula P : Ooo.

yen A. yen kula. terus? : Anak kalih. griyo piyambak sedaya. urusane anak. meninggal. dados sekawan sampun. ngkang setunggal mboten wonten. anak gangsal mpun mentas sedoyo. dospundi remen napa mboten : Emm. tanggepane ibu niku dumatheng bu E niku pripun nggih? Bu E niku kadose pripune? Dalam kehidupane ngoten pripun?.. : Sampun pikantuk napa. wong niku anak. . nuwun sewu nggih. sampun rumah tangga. : Dadose bu E niku mandiri nggih? : Nggih mandiri : Dados? : Nandang anak kalih : Nggih. nggih urusane kulo. terus menawi. biasane ingkang napa. ingkang nomer gangsal. lha E niku sampun janda. napa gumantung E piambak. enten ingkang nangletaken badhe ngepek niku. nggih an.176 30 I 35 P I P 40 I P 45 I 50 55 P I P I P I 60 65 P I 70 P I 75 P ngarahke ngonten lho! Sejah mana? : Yen kintene enten ngkang nangletake nggih anu. nggih enten kekuranganne. sakmenika sampun enten SD kelas tigo : Nggih Informan sering bercerita kepada PM masalah kehidupannya tetapi PM mengembalikan lagi kepada informan keputusan yang dipilihnya. pun umur pinten nggih? Sampun 19 tahun bar SMA.. A. Menurut PM informan itu orang yang mendiri dengan dua anaknya. tanglete. napa napa niku nggih kulo bantu. nggih niku arto. tanglet-tanglete masalah kalih ibu niku masalah ingkang badhe dipun pek tiang niku nggih? : Nggih : Emm. angsal. nggih mestinipun. wong soale janda masih muda : Emm… dadose bu E niki. gadhah anak kalih. A kalih A : Nggih! : Ditinggal niku A tasih nembe setengan tahun manika. : Emm. A nembe kalih tahun.. nggih kintene enten kerepotane. les inggris. tanggepane ibu? : Nggih soale kula nggih pansiunan. : Ngoten niku.

yen kelurahan ngawanan mriki. soale anakanak urusane tasihalit-alit : Nggih : Nggih dados nggih nyinaone anak-anak napa nggih E sedoyo : Dados bu E niki. dumatheng keluarga : Sae. Al-Abidin. napa enem tahun kirang langkung : Nggih. : Menawi ten sekolahan kan nggih sok dibarengke pas sekolahan : Emm. TK Bhakti. napa nggih kintenipun yen kegiatan-kegiatan niku riyin yen enten kegiatan olehraga ten kelurahan : Emm... dados nggih urusane masyarakat nggih E ingkang dados. Menurut PM sosialisai yang dilakukan oleh informan baik dan ini terbukti dengan dipercayai sebagai bendahara di lingkungan kampungnya dan mengikuti kegiatankegiatan olah raga dikampungnya. sampun gangsal tahun.177 I 80 P I 85 P I 90 P I 95 P I 100 P I P 105 I P I 110 P I 115 P I 120 P : Enten Mbanyuanyar. lha wong kula sampun sepuh : Nggih : Dadose nggantos. mandar dados anu nggih napa PKK. nggih sae. olehraga niki wau napa bu? : Nggih anu ten kelurahan menika. yen A nembe TK. sok mimpin-mimpin anu niku. A. olahraga?. ingkang nyepeng tabungan : Nggih : Kangge PKK Gawanan RT setunggal RW tujuh : Laine dados PKK niku. PKK RT setunggal. menawi srawunge bu E pripun? Srawunge dumatheng warga. RW tujuh : Dados. terus. bu E niki srawunge dumateng warga sae nggih? : Nggih sae : Selaine PKK kalian olehraga? Mboten enten malih? : Nggih namik niku nggih. sampun. napa malih menurute ibu? : Nggih kegiatan-kegiatan olahraga napa niku nggih sok mengikuti. emm selain sosialisasine dateng PKK. janda. nggih nek ngoten. A. menika. wong niku dados. terus E anaknya kalih. .

terus saged kuliahkuliah sedaya nggih naming mandiri. ngrepoti . badhe anu. Matur suwun wektune. gangsal tahun napa nem tahun. nggih nuwun sewu menawi nggangu Emm. kulo nggih dados janda empun enten kawan likur tahun Nggih Yen E.178 I 125 : P : I : 130 P : I : 135 P : I : 140 P : I : P : 145 I : matursuwun wektune nggih bu. selamat siang Nggih Tur nuwun. hehe-he Pun.. kula nggih tasih alit-alit anak nika. ditilar bapak ipun menika ingkang alit piyambak menika nembe TK badhe SD Emm Dadose. mandiri piyambak kalih anak-anak. ngantos anu persatuan anak gangsal menika. mboten napa-napa kula namung apa adanya Nggih Soale nggih mpun dados janda. tanglet? Nggih. he-he-he.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->