PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL

SKRIPSI
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Disusun oleh:

ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008

PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Prasyarat dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Diajukan Oleh : ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008

PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL

Skripsi Yang Diajukan Oleh: ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121

Yang disetujui untuk dipertahankan Di depan penguji

Pembimbing utama Tanggal Dra. Nisa Rachmah N. A., M.Si Pembimbing Pendamping Tanggal Lisnawati Ruhaena, S. Psi., M.Si

iii

A. S.Si ________________________ Penguji Pendamping I Lisnawati Ruhaena.Si ________________________ Surakarta. Psi.Si ________________________ Penguji Pendamping II Eny Purwandari..Psi. Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Psikologi Dekan Susatyo Yuwono. M. M. M.PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL Yang Diajukan Oleh: ARTANTO RIDHO LAKSONO F 100 040 121 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 22 Januari 2009 Dan telah dinyatakan memenuhi syarat Penguji Utama Dra. S. S. M.Si iv . Nisa Rachmah N. Psi...

MOTTO : “Penyakit yang paling besar adalah takut Bahaya yang paling besar adalah putus asa Keagungan yang paling mulia adalah iman Rahasia yang paling besar adalah mati Harta yang paling besar adalah anak soleh Guru yang paling besar adalah pengalaman Modal yang paling besar adalah kepercayaan diri” (Ali bin Abi Thalib) “Ketahuilah Saudaraku bahwa tidak setiap orang fakir itu nista dan hina justru kadangkala kekayaan dunia ini bersemayam diantara sekerat roti dan sehelai jubah.” (Kahlil Gibran) “Jadilah air penyejuk dalam panasnya kehidupan” (Penulis) v .

vi . Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan keceriaan kepada penulis. Kakekku yang telah memberikan segala perhatian dan do’a selama ini. Bude Ning yang selalu memberikan semangat kepada penulis.PERSEMBAHAN Karya sederhana ini penulis persembahkan untuk : Bapak dan Ibu yang telah menyayangi dan membesarkan penulis hingga menjadi dewasa. Adik-adikku. De’ Wahyu dan De’Diah yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.

Skripsi ini terselesaikan atas dukungan. kritik dan saran selalu penulis terima dengan tangan terbuka. Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati. 2. Nisa Rachmah Nur Anganthi. Psi. M. dan selaku pembimbing II dalam pembuatan skripsi ini.Psi. S. Bapak Susatyo Yuwono. kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. semangat dan bantuan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu. puji syukur kehadirat Allah SWT. vii . selaku pembimbing I dalam pembuatan skripsi ini. penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada : 1. selaku pembimbing akademik yang telah banyak membimbing penulis selama studi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. 3.Si.Si.Si. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan-kekurangan yang dikarenakan keterbatasan penulis. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ibu Dra.. dorongan. M. Ibu Lisnawati Ruhaena. Terima kasih atas bimbingan. M. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan karena ridha-Nya skripsi ini dapat terselesaikan. Wb.KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. arahan. tenaga dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan masukan yang berharga bagi penulis dalam menyusun skripsi ini. S. Alhamdulilahi robbil’alamin. Terima kasih telah meluangkan waktu.

Terima kasih atas kenangannya. Kakekku dan bude Ning terima kasih telah memberikan segala perhatian dan do’a selama ini. Y. Bekti. Seluruh staf Tata Usaha Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dedy. Amin ya Rabbal’alamin. Pelo. Bogel. Bapak dan ibu tercinta. Terima kasih atas keceriannya. Niki. Kurniawan. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu penulis baik secara moril maupun materiil. M2d. 6. TRS dan ES yang telah bersedia menjadi informan penelitian. Meneer. Terima kasih atas pelayanan dan kemudahan yang diberikan kepada penulis. Rustam. W2n. Juki. Terima kasih atas dukungannya. 7. Dian. Rekan-rekan di “Hek Pak Pardi”. Karibku sejak SMA. Toni. Doel. Teman-teman kelas C angkatan 2004. Oktober 2008 Penulis viii . Dara dan Astarika yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini 10. Pi2n. Terimakasih atas kebersamaannya 13. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik. Roni. Heri. semangat dan nasehat yang berarti. U2k. Wb. Terima kasih telah memberikan dukungan. 12. Santoso. 9. Febri. doa. Teman-teman seperjuanganku di kos PTC. Teteh. Tugas. Surakarta. 11. Ibu M. Wssalamualaikum Wr. 5. De’ Wahyu dan De’ Diah yang selalu memberi semangat kepada penulis 8.4.

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN...................................................................... HALAMAN JUDUL........................................................................................ HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... HALAMAN MOTTO ..................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... DAFTAR TABEL............................................................................................ DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DARTAR LAMPIRAN ................................................................................... ABSTRAKSI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ A. Latar Belakang Masalah........................................................... B. Tujuan Penelitian .................................................................... C. Manfaat Penelitian .................................................................. BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... A. Pemecahan masalah ................................................................ 1. Pengertian masalah ............................................................ 2. Pengertian pemecahan masalah ......................................... 3. Tahapan pemecahan masalah ............................................

i ii iii iv v vi vii ix xii xiii xiv xv 1 1 5 5 6 6 6 7 10

ix

4. Aspek-aspek pemecahan masalah ..................................... 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah ... B. Wanita sebagai orang tua tunggal ........................................... 1. Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal .................... 2. Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal ............ 3. Penyebab wanita sebagai orang tua tunggal...................... C. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ... D. Pertanyaan penelitian .............................................................. BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. A. Gejala penelitian ...................................................................... B. Definisi operasional gejala....................................................... C. Informan penelitian .................................................................. D. Metode dan alat pengumpul data .............................................

13 15 18 18 19 20 28 28 29 29 29 30 32

E. Keabsahan data/ Trustworthiness ….……………………...….. 37 F. Metode analisis data………………………………………….. BAB IV LAPORAN PENELITIAN............................................................. A. Persiapan Penelitian ................................................................ 1. Orientasi lapangan.............................................................. 2. Persiapan alat pengumpul data........................................... B. Pengumpulan Data .................................................................. C. Analisis Data ............................................................................ 1. Karakteristik informan penelitian ...................................... 2. Data hasil penelitian .......................................................... 38 40 40 40 41 41 42 42 43

x

3. Tabulasi data hasil penelitian ............................................ D. Kategorisasi.............................................................................. 1. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ............................................................................... 2. Alasan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal.......................................................................... 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal .............................. E. Pembahasan.............................................................................. BAB V PENUTUP ………………………………………………………. A. Kesimpulan .............................................................................. B. Saran......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN.....................................................................................................

75 76

77

79

84 86 98 98 101 103 107

xi

.......DAFTAR TABEL Tabel 1 Karakteristik informan penelitian ............................................ Tabel 4 Guide observasi........ Tabel 5 Karakteristik Informan Penelitian ....... Tabel 3 Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal untuk wawancara dengan Significant person............................................................................................................. Tabel 6 Tabulasi hasil wawancara pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal................................. Tabel 2 Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal................................................................................................... Tabel 7 Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal ............................................................................ 92 75 46 39 35 33 31 xii ........

............................DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 1....................................................................... 97 83 82 81 80 xiii ................... Gambar 5 Skema dinamika psikologis pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal.. Gambar 2 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 2.................................................................... Gambar 3 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 3.......... Gambar 4 Skema alasan dan faktor pemecahan masalah informan 4...............................

................... 179 107 xiv .................................... Lampiran B Foto kopi identitas informan ...................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Verbatim wawancara...........................................................................

(c) Berfikir positif. Permasalahan yang dihadapi wanita sebagai orang tua tunggal ini memerlukan pemecahan dan penyesuaian diri yang tepat ditengah pilihan hidup yang dipilihnya. dan (e) Lingkungan sosial. (d) Kepercayaan diri. (b) Berserah diri. Penelitian ini menunjukkan bahwa alasan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal adalah mereka berusaha mengidentifikasi masalah yang timbul kemudian mencari alternatif pemecahan masalah yang sesuai dengan kondisi yang dialami selanjutnya memilih atau menentukan salah satu alternatif yang paling sesuai dengan kondisi yang dialami dan berusaha mewujudkan alternatif yang dipilih dengan tindakan nyata. Informan penelitian ini adalah wanita janda yang memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Permasalahan yang dihadapi wanita sebagai orang tua tunggal bukan hanya dari dalam dirinya saja tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluargannya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Janda pensiunan Polisi dan Wiraswasta adapun karakteristik usia anaknya adalah Anak balita. (c) Kreatifitas.ABSTRAKSI PEMECAHAN MASALAH PADA WANITA SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL Pemecahan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada cara-cara penyelesaian masalah secara langsung. dan (e) Berharap. dan dewasa awal. Pegawai swasta. remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan. pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal digolongkan menjadi 5 (lima) bentuk. yaitu : (a) Tingkat pendidikan. (b) Usia. yaitu : (a) Membutuhkan bantuan orang lain. dan observasi. dan faktor-faktor pemecahan masalah yang digunakan oleh wanita sebagai orang tua tunggal. (d) Berusaha. belum menikah lagi dan mempunyai karakteristik pekerjaan sebagai PNS. Kata kunci : pemecahan masalah. wanita. anak usia sekolah dasar. Adapun faktor-faktor yang mempangaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya ada 5 (lima) macam. sedangkan tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis isi. orang tua tunggal xv .

maka akan sangat menguntungkan apabila salah satu fungsi dalam keluarga tersebut diberikan kepada satu jenis kelamin dan fungsi lainnya kepada jenis kelamin yang lain. Myers. 2002). Sebuah rancangan keluarga yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang wanita. Setiap pasangan. pada dasarnya telah memiliki peran yang terbagi berdasarkan jenis kelamin atau peran jenis (sex role) (Shaevitz. bahwa dalam satu keluarga ada dua fungsi yang harus dikembangkan secara khusus yaitu mendidik anak dan memproduksi makanan. Sehingga terpaksa berpisah dari suami.1 BAB I PENDAHULUAN A. 2004) diartikan sebagai peran yang dilakukan individu didasarkan perbedaan jenis kelamin. karena bercerai dengan suami ataupun suaminya meninggal. (1995) mengemukakan teorinya tentang pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. dalam Khoiriyah. Peran jenis kelamin ini menurut (Swerdolf dalam Khoiriyah. yaitu menjadi suami dan isteri (Ibrahim. Komitmen laki-laki dan perempuan untuk menjalani sebagian kecil dari perjalanan hidup dengan peran baru mereka. Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah salah satu titik permulaan dari misteri kehidupan. harus mencari nafkah dan menjadi kepala keluarga. Lantas bagaimana apabila seorang isteri yang harus menerima kenyataan menjadi orang tua tunggal. . 2004). Sehingga menjalankan fungsi sebagai ibu serta ayah bagi anakanaknya.

Dikemukakan pula bahwa kelompok wanita usia 60 tahun ke atas di Indonesia yang hidup sendiri atau tidak menikah. pendidikan. cerai dan janda. Isteri yang tiba tiba harus menjalankan multi peran dan mengambil tanggung jawab penuh dalam keluarga. Orang tua tunggal adalah suatu kenyataan dan menjadi sebuah fenomena yang makin dianggap biasa dalam masyarakat modern. hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo. baik dalam bidang ekonomi. maka prosentase untuk menikah lagi lebih besar pada duda daripada janda terlebih jika sudah mencapai usia 60-an. Panjaitan (1993) menyatakan bahwa istilah janda atau duda. mengemukakan bahwa perbandingan jumlah janda di Indonesia adalah 469:100 artinya jumlah duda atau pria tidak menikah berusia 60 tahun keatas jumlahnya hanya seperlima dari jumlah janda. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dari Trisnawati yang merupakan seorang wanita single . cara mengambil keputusan yang tepat untuk kelangsungan keluarga. 2005). Hal ini dianggap biasa karena di dalam kehidupan masyarakat modern karena kesetaraan gender antara pria dan wanita sudah dapat dikatakan sama. Hal ini menunjukkan bahwa janda lebih tahan untuk hidup sendiri dari pada duda. sehingga Indonesia layak disebut “negara janda”. Kenyataan dimana isteri berfungsi menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anak mereka. 2002 (dalam Puspitadewi. dan berusaha menguatkan anggota keluarga atas persoalan yang dihadapi. merupakan kelompok terbesar di dunia.2 Jumlah janda di Indonesia lebih banyak dari pada jumlah duda. muncul disebabkan apakah itu karena kematian ataukah perceraian.

entah karena bercerai atau pasangan hidupnya meninggal. suka menyendiri. dan kemungkinan besar berubah tingkah lakunya. Wanita sebagai orang tua tunggal melaksanakan tanggung jawab mencari nafkah. Makanya jika wanita tidak siap atau tidak mau berperan ganda. ada yang suka melamun. 2004) mempunyai kecenderungan terisolasi.” Sedangkan menurut Glasser (dalam Santoso. psiko seksual. mudah tersinggung. ritual keagamaan dan pola asuh anak. sehingga banyak diantara mereka yang mengalami stress. Kalau saya sendiri memang dari dulu sudah siap untuk berperan ganda. Ada yang menjadi pemarah. dibalik keterpaksaannya itu muncul berbagai permasalahan yang timbul diantaranya adalah permasalahan ekonomi. pendidikan. menginformasikan bahwa : “Banyak di antara wanita bekerja yang mengalami stress karena tidak siap dengan peran gandanya tersebut. (Harian Kompas. bagi anak yang tiba-tiba mendapati orang tuanya tidak lengkap lagi akan timbul rasa belum siap menghadapi rasa kehilangan salah satu orang tuanya sehingga akan terpukul. Mereka lebih banyak memilih untuk mengurus anak mereka sendiri tanpa suami. membiarkan diri mereka terkucil dari persahabatan dan .3 parent dengan satu orang anak yang telah sukses mengelola berbagai bisnis dan sekarang menduduki berbagai posisi penting di beberapa perusahaan serta menjabat sekjen DKI Jakarta Ikatan Pembauran Pengusaha Perempuan Indonesia (Tempo. dan lain sebagainya. Namun. tidak perlu memaksakan diri untuk berperan ganda. 15 Oktober 2001). Adapun penyebab menjadi orang tua tunggal tersebut karena (terpaksa) mengalaminya. 2008).

Ditengah berbagai masalah yang timbul para wanita sebagai orang tua tunggal tersebut haruslah mempunyai strategi pemecahan masalah di dalam dirinya supaya mampu dan mau untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri karena masalah itu timbul seiring dengan kondisi biologis. mencuci dan sebagainya. . mampukah wanita sebagai orang tua tunggal tersebut mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. yang berpengaruh terhadap naiknya harga-harga kebutuhan pokok sehingga biaya hidup semakin mahal dan sulit untuk dijangkau.4 pergaulan dunia luar. Simon de Beavior (dalam Ibrahim. memasak. perkembangan anak. Berdasarkan uraian diatas jelaslah wanita sebagai orang tua tunggal hidup dengan berbagai masalah dan kesulitan. Dalam rumusan ini penulis mengajukan sebuah judul penelitian “ Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal“. menjahit. 2002) menyatakan bahwa wanita banyak mengalami penurunan tingkat rasional dan sosial akibat dari (kurungan) tugas-tugas rumah tangga seperti mengurus suami dan anak-anak. dengan demikian penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana para wanita sebagai orang tua tunggal menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. dan kondisi perekonomian yang sedang dalam masa resesi.

C. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan pada pihak-pihak yang berkepentingan antara lain sebagai berikut : 1. Bagi wanita sebagai orang tua tunggal dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsekwensi pilihan hidup menjadi wanita sebagai orang tua tunggal.5 B. 2. (2) Alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. Bagi masyarakat dapat dijadikan masukan agar dapat memeberikan dukungan kepada wanita sebagai orang tua tunggal. Bagi anak yang ibunya memilih menjadi orang tua tunggal agar dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menerima secara positif dan mempersiapkan diri terhadap pilihan hidup yang dibuat orang tuanya. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah : (1) Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. 3. .

gangguan.6 BAB II LANDASAN TEORI A. 2005) mengemukakan bahwa secara umum dan hampir semua ahli psikologi kognitif sepakat bahwa masalah adalah suatu kesenjangan antara situasi sekarang dengan situasi yang akan datang atau tujuan yang diinginkan (problem is a gap or discrepancy between present state and future state or desired goal). tergantung dipandang dari sudut mana. sehingga dapat digolongkan menjadi masalah yang jelas dan tidak jelas. Masalah seringkali disebut orang sebagai kesulitan. Pengertian masalah Masalah atau problem merupakan bagian dari kehidupan manusia. . ketidak puasan atau kesenjangan. Anderson (dalam Suharnan. Sebagian ahli membedakan masalah menurut pengetahuan seseorang. Pemecahan Masalah 1. Pengertian pemecahan masalah 1. Masalah dapat digolongkan menjadi berbagai jenis. Hampir setiap hari orang dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang perlu dicari jalan keluarnya. Sebagian ahli lain membedakan masalah menurut proses-proses kognitif yang terlibat dalam pemecahan masalah. a. hambatan.

Masalah selalu muncul dalam bentuk dan tingkat kerumitan yang bermacammacam. Morgan (dalam Gunarsa. 2005) akan meliputi tiga komponen yaitu : . 1991) berpendapat bahwa individu dalam mengartikan suatu masalah akan bersifat positif bila masalah tersebut menimbulkan perasaan senang. dan di dalam situasi tersebut mengandung suatu perintang bagi seseorang dalam mencapai tujuan. maka akan menimbulkan permasalahan. Adapun proses berfikir secara normal menurut Solso (dalam Suharnan. sehingga individu bersifat menerima. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. dan menghasilkan hal yang baru (creativity). serta memiliki bentuk dan tingkat kerumitan yang berbeda-beda tergantung bagaimana individu dapat menghadapi dan terlibat didalam masalah yang muncul. Pengertian pemecahan masalah Menurut Rakhmat (2001) berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka pengambilan keputusan.7 Menurut Thurstone (dalam Walgito.b. Apabila ada ketidaksesuaian dalam suatu situasi antara keadaan yang sebenarnya dengan tujuan. 1. 1990) mengemukakan bahwa masalah adalah berbagai penyimpangan dari keadaan yang belum jelas. memecahkan masalah. tetapi dapat juga bersifat negatif jika masalah tersebut menimbulkan perasaan tidak enak sehingga individu bersifat menolak.

ruang masalah (problem space) sebagai jurang atau kesenjangan sangat menentukan tingkat kemudahan atau kesulitan pencarian pemecahan. Evans (1991) mendefinisikan pemecahan masalah sebagai suatu aktivitas yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar atau cara yang cocok bagi tindakan dan pengubahan kondisi sekarang menuju pada kondisi yang diharapkan. karena setiap individu berusaha sebisa mungkin untuk melakukan pemecahan masalah yang muncul dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan pengalaman masa lalunya. Chaplin (2001) dalam Kamus Lengkap Psikologi menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah proses yang tercakup dalam usaha menemukan urutan yang benar dari . walaupun pada dasarnya tujuan pemecahan masalah adalah sama yaitu mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi. Jadi. dalam Suharnan.8 a. 2005). Berfikir adalah aktivitas kognitif yang terjadi dalam mental atau pikiran seseorang. tetapi dapat disimpulkan berdasarkan perilaku yang tampak. Aktivitas berfikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah. b. Berfikir merupakan suatu proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan didalam sistem kognitif. tidak tampak. Pemecahan masalah adalah suatu proses mencari atau menemukan jalan yang menjembatani antara keadaan yang sedang dihadapi dengan keadaan yang diinginkan (Hayes. c.

yaitu proses penggunaan pengetahuan seseorang untuk mengidentifikasikan sejumlah jalan atau cara yang akan ditempuh dan dianggap menjanjikan bagi pemenuhan pemecahan masalah. Jadi kemampuan menyelesaikan masalah dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan aktivitas kognitif dan kecakapan individu dalam menyelesaikan permasalahan secara efektif yang meliputi usaha individu untuk memikirkan. dan penemuan melalui strategi heuristic. 2005) strategi penemuan jalan pemecahan dapat dibedakan menjadi dua: penemuan secara acak. mengingat serta menjawab atau merespon dalam bentuk pengambilan keputusan. Pemecahan suatu masalah dapat dilakukan dengan insight atau pemahaman dalam memecahkan masalah berpikir mutlak diperlukan (Widayatun. memilih .9 alternatif-alternatif jawaban mengarah pada satu sasaran atau ke arah pemecahan yang ideal. Sedangkan menurut Hayers (dalam Suharnan. adalah individu yang dihadapkan pada persoalan yang mendesak dan perlu dilakukan pemecahan atau mencari solusi dengan berpikir. Pemecahan masalah merupakan proses berpikir. 2004) yang menyatakan bahwa menyelesaikan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada cara-cara penyelesaian masalah secara langsung. semua jalan keluar ditempuh atau dicari tanpa ada pengetahuan khusus. belajar. Hal ini didukung oleh pendapat Billing’s dan Moos (Susilowati. 1999). Pemecahan masalah.

Perbedaan ini sangat tergantung pada hakekat permasalahan terutama dalam penampakannya. . seseorang harus terlebih dahulu memahami dan mengenali gambaran pokok persoalan secara jelas. membagi menjadi tiga tahap atau langkah dalam memecahkan suatu masalah. Tahapan pemecahan masalah Individu pada kenyataannya tidak selalu dapat menyelesaikan masalah yang datang padanya. Penemuan berbagai hipotesis mengenai cara pemecahan. Setelah memahami masalah yang dihadapi kemudian seseorang memilih dan menententukan hipotesis berdasarkan dari hakekat yang permasalahan yang dihadapi. yaitu: a. 2. informasi disekitar persoalan.10 dan mempertahankan alternatif jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. Lama waktru yang dibutuhkan untuk mengerti permasalahan berbedabeda bagi setiap orang. Sedangkan menurut Evans (1991). b. Pemahaman masalah (Problem Understanding) Agar dapat diperoleh suatu pemecahan yang benar. dan keakraban seseorang terhadap persoalan tersebut. dan memilih salah satu di antara hipotesis-hipotesis itu. Dalam menghadapi masalah individu terkadang menggunakan suatu cara lain walaupun menghadapi suatu permasalahan yang sama.

Setelah seseorang menentukan pilihan tindakan maka tindakan itu harus . c. Definisi masalah Setelah mengenali masalah maka pernyataan masalah harus spesifik. Setelah berpikir tentang area-area permasalahan ini selanjutnya memfokuskan pada satu masalah tertentu. perlu dibuat dukungan hasil-hasil positif dan negatifnya. menjelaskan langkah-langkah dalam memecahkan masalah. Pengenalan masalah Suatu masalah dikenali melalui perbedaan antara apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu situasi (aktual) dan apa yang seseorang inginkan untuk terjadi (optimal). Untuk setiap pilihan tindakan. b. Pilihan tindakan Pilihan tindakan masalah merupakan beberapa jalan keluar dari masalah. Menguji hipotesis Agar diperoleh pemilihan hipotesis yang terbaik maka selanjutnya seseorang harus menguji dari beberapa hipotesis yang ada kemudian dipilih untuk mendapatkan hipotesis terbaik terhadap persolan tersebut. yaitu : a.11 c. Pelaksanaan dan evaluasi Melaksanakan berarti melakukan atau menerapkannya tindakan. d. Menurut Monica (1998).

Menurut Woolfolk dan Nicolich (2004). kemudian merencanakan strategi dengan menyimpulkan bahwa situasi yang ada sama seperti masalah sebelumnya dan mencoba apa yang berhasil sebelumnya. c. secara umum terdapat empat langkah untuk memecahkan masalah: a. evaluasi muncul sebagai sebuah tanggung jawab dan tetap penting sampai tindakan telah selesai dilakukan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan penyelesaian masalah individu akan melalui beberapa tahap antara lain : mengenali atau mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Memahami masalah Langkah pertama untuk memecahkan masalah adalah menetapkan secara tepat apa masalahnya.12 dilaksanakan. Mengevaluasi hasil Yaitu meliputi pengecekan fakta baik yang menguatkan maupun yang melemahkan dari solusi masalah serta mengidentifikasi solusi yang terbaik. mengumpulkan informasi berkaitan . b. Sebelum pelaksanaan. Memutuskan rencana d. Yaitu dengan menemukan informasi yang relevan pada masalah yang ada. Menyeleksi solusi Setelah menentukan masalahnya.

pelaksanaan pemecahan masalah berdasar dari alternatif yang dipilih serta melakukan evaluasi. b. Aspek-aspek kemampuan memecahkan masalah Menurut Rakhmat. . Sifat terbuka terhadap informasi serta memahami dan mengakui kekeliruan akan mempermudah pemecahan masalah. Kepercayaan dan sikap yang tepat Asumsi yang tepat terhadap kerangka rujukan yang cermat membantu efektifitas pemecahan masalah. menentukan alternatif pemecahan masalah sekaligus menentukan prioritas alternatif yang baik. Fleksibilitas Keluwesan berpikir dalam melihat permasalahan dari berbagai sisi serta kritis membantu pemecahan masalah. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas. c. 3. Semakin besar keinginan dari dalam diri individu untuk segera memecahkan masalah membuat pemecahan masalah berjalan dengan baik. yaitu : a. (2001) berhasil tidaknya suatu pemecahan masalah yang dilakukan oleh seseorang dapat diketahui dari beberapa hal.13 dengan masalahnya. Motivasi Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian.

b. Berpikir positif tentang masalah yang dihadapi Yaitu diharapkan seseorang menjadi pencari masalah. sehingga menyebabkan individu berpikir secara tidak objektif. yaitu: a. Sebagai manusia yang utuh tidak dapat mengesampingkan emosi. tetapi bila sudah mencapai intensitas tinggi akan menimbulkan kesulitan untuk berpikir efisien yang menghambat pemecahan masalah. . berpikir tentang ketidaknyamanannya dan menanyakan apa yang menyebabkan ketidaknyamanannya. Berpikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah Yaitu melihat diri sebagai orang yang dapat menyelesaikan masalah. Emosi bukan hambatan utama. Anderson (dalam Paryanti. Emosi Dalam menghadapi masalah tidak disadari emosi sering terlibat di dalamnya. Para ahli menganjurkan pembelajaran emosi dimulai sejak kecil agar ada taraf perkembangan selanjutnya emosi terbiasa ditata dan dikontrol dalam menghadapi masalah. mencari waktu yang cukup untuk memecahkan masalah serta menentukan tujuannya. serta berpikir tentang alternatif pemecahan masalah. 2006) mengungkapkan adanya tiga aspek yang berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah.14 d. mengetahui sumber kekuatan di luar diri yang bisa membantu memecahkan masalah.

Inteligensi Ester (dalam Walgito. serta berpikir sistematis. Usia Sejalan dengan bertambah usia maka individu akan semakin matang dan kemampuan pemecahan masalah akan semakin bertambah. cepat atau lambatnya tergantung dari tingkat inteligensi individu yang bersangkutan. Berpikir sistematis Yaitu berhenti dan berpikir. Faktor inteligensi dianggap memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan pemecahan masalah. kepercayaan dan sikap yang tepat. 4. berpikir positif tentang masalah yang dihadapi dan tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. 1991) mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. fleksibilitas berpikir dan emosi. Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah yang merupakan .15 c. akan tetapi merencanakan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah. b. tidak dengan langsung mengambil keputusan. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek pemecahan masalah meliputi : motivasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah ada sebagai berikut : a.

Dagun (1990) berpendapat bahwa wanita diperbolehkan bersandar secara emosional pada pria. Konsentrasi Konsentrasi dalam memecahkan masalah mutlak diperlukan. d. Suardiman (1992). 1994). Di samping itu secara kodrati perempuan cenderung untuk menggunakan perasaannya dalam menghadapi masalah. Pria lebih menggunakan rasio sehingga dalam pemecahan masalah dibutuhkan ketegasan dan rasionalitas dalam menghadapi masalah. Semakin tinggi tingkat kreativitas individu. karena pria dituntut untuk tidak tergantung pada orang lain tetapi harus bertahan. semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan.16 produk dari kemampuan berpikir yang lebih sempurna yang ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional (Mappiare. Kreativitas Merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar. Dalam konsentrasi keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan sehingga tidak diperhitungkan sekedarnya. e. . c. Jenis Kelamin Pria kebanyakan lebih mampu melakukan pemecahan masalah daripada wanita. dalam Paryanti 2006). Selanjutnya Suardiman mengatakan bahwa konsentrasi seseorang terhadap suatu masalah mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah. mengatakan bahwa konsentrasi adalah pemusatan segenap kekuatan pada situasi tertentu.

g. Lingkungan sosial Yaitu lingkungan dimana individu mengadaptasi cara-cara penyelesaian masalah melalui komunikasi dalam keluarga. Kepercayaan diri Astono (2001) mengungkapkan bahwa tumbuhnya kepercayaan diri akan mendorong dan merangsang individu dalam mencoba dan mencari baru untuk dipecahkan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah adalah : inteligensi. konsentrasi. 1997) menyimpulkan bahwa pemecahan masalah yang berhasil tidak begitu bergantung pada kecerdasan individu tetapi lebih kepada pengalaman mereka. pengalaman. Monks. h. . kreativitas. jenis kelamin.17 f. kepercayaan diri dan lingkungan sosial. dkk (2002). Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. Pengalaman Thornton (dalam Shapiro. usia.

Pengertian wanita sebagai orang tua tunggal Menurut Qaimi (2003) seorang wanita sebagai orang tua tunggal adalah suatu keadaan dimana seorang wanita akan menduduki dua jabatan sekaligus. niscaya anda mampu memainkan kedua peran tersebut dengan baik dan sempurna. Tidak ada salahnya kalau disini kita membuang gambaran buruk yang melekat di masyarakat. sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. Peran sebagai ayah. ia memiliki tanggung jawab yang jauh lebih sulit dan berat ketimbang sebelumnya. seorang ibu sekalipun dirinya wanita harus pula menduduki posisi sang ayah dan bertanggung jawab dalam menjaga perilaku serta kedisiplinan anaknya. Disini perlu ditegaskan bahwa ketika anda mempunyai kemauan keras. tanpa menjadikan sang anak bingung dan resah. Dalam pada itu ia akan memiliki dua bentuk sikap. Tolok ukur keberhasilan seorang wanita dalam mendidik anaknya terletak pada kemampuannya dalam menggabungkan kedua peran dan tanggung jawab tersebut. Mereka mengatakan bahwa kaum ibu tidak akan mampu memainkan peran ayah. . dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan tata tertib. sejak kematian suami. Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal 1. serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga. kini dengan tugas baru yang harus diembannya itu. sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya.18 B.

Keluarga Ibu tunggal cenderung dipandang prejudice. Menurut SPOTNEWS Ibu Tunggal seringkali tidak dipandang sama dengan keluarga utuh yang lengkap dengan Ayah dan Ibu.com/artikel. Perceraian. tatkala berdirinya kolaborasi sebuah organisasi “Parents Without Partners”. Lingkungan sekitar akan mengabaikan kalau ibu tunggal tadi selain cantik.singleparents.htm. seorang ibu tunggal dengan dua orang anak menetapkan hari orang tua tunggal sebagai variasi dari hari ibu dan hari ayah di dalam artikel yang ditulisnya.20/05/08) 2. Memiliki suami tetapi tidakberdaya ketika diuji dengan suatu penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya.htm.singleparents. (http/:spotnews. . Bertujuan untuk memonumentalkan hari orang tua tunggal telah ada sejak tahun 1957. ternyata kaum wanita mampu memainkan kedua peran tersebut. yang diprakasai Janice Moglen.19 Berdasarkan pengalaman. Kriteria disebut wanita sebagai orang tua tunggal a. Mencukupi kebutuhan finansial keluarga seorang diri b. jika ibu tunggal muda. yang kemudian disepakati mulai tahun 1984 bulan Maret tanggal dijadikan hari orang tua tunggal. gosip negatif dan sinis akan melingkupi percakapan harian tentang dia di daerah tempat tinggalnya. c. cantik dan berhasil dari sisi materi. muda dan berhasil juga (http/:spotnews.20/05/08) Penetapan dan peringatan tanggal 21 Maret sebagai hari orang tua tunggal sedunia yang diadakan sejak tahun 1984.com/artikel.

Islam tidak membenarkan kepemimpinan dalam sebuah masyarakat. Sehingga wanita sebagai orang tua tunggal selalu menerima kenyataan menjalankan multi perannya di dalam keluarga dan selalu berusaha secara mandiri dan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan anaknya bukan hanya secara finansial saja tetapi juga karakteristik individunya.20 d. hingga sebuah rumah tangga. dan karena apa yang mereka nafkahkan dari harta mereka…” Artinya. Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ : 34. dengan keutamaan yang Allah berikan kepada sebagian mereka atas sebagian lain. bila dipegang oleh wanita. dapat diartikan bahwa wanita sebagai orang tua tunggal adalah pilihan hidup yang dipilih seorang ibu dengan seluruh konsekuensi yang harus diterima dan dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat. perceraian dan berpisah karena takdir-Nya (kematian). Penyebab wanita menjadi orang tua tunggal Menurut majalah Nikah (No.6. idealnya seorang suami adalah sebagai pemimpin dalam sebuah rumah tangga. “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita. thn 2007) secara umum bahwa asal dari kepemimpinan dalam keluarga pada dasarnya ditangan suami. Berpisah karena takdir-Nya (kematian).3 Vol. Berdasarkan uraian di atas. ketidakberdayaan suami ketika diuji dengan suatu penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya. namun adakalanya . 3.

sejak kematian suami. isteri berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup anak-anak dan keluarganya. Dalam kehidupan manusia sehari-hari manusia pasti dihadapkan atas berbagai pilihan yang terkadang terasa berat. harus menghadapi permasalahan ekonomi.21 kepemimpinan dipegang seorang wanita. ritual keagamaan. menerima kenyataan yang berpisah dari suami. seorang ibu sekalipun dirinya wanita harus pula menduduki posisi sang ayah dan bertanggung jawab dalam menjaga perilaku serta kedisiplinan anaknya. atau berpisah karena takdir-Nya yaitu ada satu fihak (suami) yang meninggalkan dunia fana terlebih dahulu dibanding isterinya dan halhal lainnya. Ketika wanita ditinggal oleh suaminya maka kendali penuh dalam keluarga dipegang oleh isteri. hal itu terpaksa dilakukan oleh wanita ketika suami tidak atau kurang bisa memegang kendali penuh dalam kehidupan keluargannya. pendidikan anak. cara mengambil keputusan yang tepat untuk . tetapi mau tidak mau harus dijalani ketika seorang wanita (isteri) harus menjalankan multi peran. dan tidak sedikit pula wanita yang akhirnya memutuskan untuk tetap menjanda dan tidak mencari suami lagi sampai akhir hayat mereka. Penyebab terjadinya wanita memegang kendali penuh dalam keluarga pun sangat beragam. dari mulai ketidakberdayaan suami ketika diuji dengan suatu penyakit yang menyebabkan suami tidak dapat memberikan nafkah terhadap keluargannya. perceraian. psiko seksual.

Kematian Kematian memang menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap perasaan dan kejiwaan dalam rumah tangga. Menurut Qaimi (2003) beberapa penyebab seorang wanita menjadi orang tua tunggal adalah : a. Dan itu dilakukannya lantaran adannya tangisan dan jeritan orang lain.22 kelangsungan keluarga. Kehancuran rumah tangga sebagai akibat dari kematian. bagi mereka yang tak meyakini adannya kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini. Kematian disini dapat berarti terpisahnya suami-istri karena takdir yang telah ditentukan dan menjadi sebuah kata yang menakutkan dan mengerikan bagi mereka yang meyakini bahwa kematian merusak kebahagiaan. dan berusaha menguatkan anggota keluarga atas persoalan yang dihadapi hanya seorang diri. merupakan sebuah kehilangan yang teramat berat. dan belum mengerti tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi setelah kematian itu bukanlah suatu yang begitu berat. Adapun pengaruh kematian ayah terhadap seorang anak antara lain sebagai berikut : (1. dan meneteskan air mata. Ia mungkin hanya menangis. menjerit.) Tidak nafsu makan . Juga. Bagi anak yang masih kecil dan belum memahami hakikat kematian. Adalah manusiawi bila seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya menjadi bingung dan gelisah. Rasa takut akan kematian disebabkan oleh berbagai bayangan dan khayalan manusia mengenai kematian itu sendiri.

dan mengasingkan diri. (5. muncullah berbagai dampak yang lain. perasaan semacam ini baik pada anak-anak ataupun dewasa.) Perubahan pada raut wajah Karena tidak mengkonsumsi makanan secara sempurna sebagai akibat berkurangnya nafsu makan. (2.) Pertumbuhan badan yang terganggu Karena hilangnya nafsu makan dan tak mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang diperlukan tubuh maka pencernaan anak akan mengalami gangguan sehingga tubuhnya tak dapat lagi tumbuh dengan baik. dan konstraksi batin. ini menyebabkan rasa tidak aman. (3. sehingga tak dapat bekerja secara baik dan normal. akibatnya. ia akan melompat atau kelopak mata dan telingannya bergerak-gerak sendiri tanpa disadari atau tanpa dikehandaki.23 Seorang anak kehilangan ayah atau ibu.) Gerakan tak terkontrol Yang dimaksud disini adalah gerakan syaraf sebagai tanda terjadinya pergolakan jiwa. mengalami depresi.) Gangguan Pencernaan Perasaan sedih dan duka pada diri anak. Akibatnya. . (4. sebenarnya telah kehilangan tempat berlindung dan bersandar. keinginan tak terpenuhi. mengakibatkan melorotnya nafsu makan. Secara tiba-tiba. dalam berapa kasus dapat mengganggu sistem pencernaannya. ia akan menderita.

yang selalu mengawasi dan mengarahkan kehidupan anak-anaknya dengan benar. bila sang ibu merupakan seorang wanita cerdas dan bijaksana. Juga. dan idola dalam dirinya. Dalam keadaan tertentu. ketika bangun dan tak melihat ayah disampingnya. seperti perubahan raut wajah anak. sang anak . sendu dan kekuning-kuningan. Sekalipun dapat tidur maka tidurnya pun tidak pulas dan lama. bisa saja di awal peristiwa kesyahidan. Kesyahidan disini dapat diartikan meninggalnya suatu hamba karena membela agama Allah. guncangan pikiran dan pengucilan diri. Ini lantaran rasa sedih. (6. panutan. Keadaan ini terutama terjadi pada anakanak yang hidup dalam sebuah rumah tangga yang sibuk atau tak memiliki hubungan baik dengan ayah sewaktu masih hidup. (7. Ia pun terjaga. setelah kesyahidan ayahnya. ia pun tak dapat tidur kembali. Wajahnya terlihat muram. bagi anak akan menjadikan teladan.) Penyakit Kesedihan dan perasaan duka yang dipendam itulah yang menyebabkan munculnya penyakit dalam diri anak. tidak adannya ketentraman batin. dapat mengganggu waktu tidur dan beristirahat dengan baik.) Waktu istirahat tak teratur Perasaan sedih dan duka seorang anak atas kematian ayah. Kesahidan Adakalanya. sang anak berada dalam keadaan atau suasana yang tak begitu menyedihkan. b.24 maka terbukalah peluang bagi terwujudnya berbagai ketidak-seimbangan.

guncangan kejiwaan memaksa anak menahan berbagai keinginan dan tuntutan yang biasa dan wajar. Boleh jadi pandangannya tertuju pada guru atau papan tulis. (2. . ia pun tak mampu lagi menahan tangis dan kesedihannya.) Kesulitan belajar dan menuntut ilmu Anak mengalami kesulitan menghubungkan pelajaran yang telah lalu dengan sekarang. sehingga menjadikannya memiliki tingkat kecerdasan yang jauh lebih rendah dari teman-teman sebayannya.) Pengaruh terhadap pikiran dan kecerdasan Karena anak terlalu lama tenggelam dalam perasaan sedih dan duka maka pertumbuhan otaknya akan terganggu dan melemah. (4. (3. namun pikirannya melayang dan terbang ketempat lain. Namun.25 merasakan kebahagiaan. Adapun pengaruh rasa kehilangan terhadap anakanak antara lain sebagai berikut : (1. dikemudian hari. ketika telah memiliki pengetahuan tentang rahasia kehidupan dan kematian serta air mata. Atau mereka tidak mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu untuk meraih tujuan dan cita-cita masa datang.) Berharap dan menanti Adakalanya. terdapat juga berbagai kondisi yang merupakan kebalikan dari sikap dan kondisi anak-anak diatas.) Tujuan dan cita-cita Anak biasanya tenggelam dalam kesedihan yang menimpannya sehingga tidak mampu menyusun program yang akan dikerjakannya di masa datang. namun.

bermuka-masam. Mereka menjadi gila dan tenggelam dalam khayalan serta angan-angan. Ini biasanya dialami anak-anak yang selalu dimanja atau diagungkan. serta berperilaku buruk. Hasil penelitian Dr. peristiwa kematian tersebut mengakibatkan munculnya kelainan jiwa. dengan berbagai alasan sehingga dibubarkan. Bahkan anak-anak anak melakukan perbuatan tercela. (6. Perceraian Sedangkan perceraian disini dapat berarti berakhirnya sebuah rumah tangga.) Kelainan jiwa Boleh jadi. akan memberikan dampak dan pengaruh yang tidak baik secara kejiwaan dan kepribadian. sehingga tidak memiliki perilaku yang normal dan stabil. John Balby menunjukkan bahwa keterpisahan dalam rentang waktu yang cukup panjang. membangkang. (5. c. di mana baik suami atau isteri tidak . Ini bukan hanya menimpa anakanak namun juga orang dewasa. merasa terhina dan rendah diri.26 Yakni mereka tidak rela hak-haknya dirampas atau diabaikan. bila diasuh dan dibimbing dengan baik pertumbuhan dan perkembangan mental serta kepribadiannya akan mengalami gangguan. meskipun itu berkaitan dengan masalah remeh. terlebih pada usia tiga tahun pertama. meskipun ini jarang terjadi.) Kepribadian dan mental Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak miskin dan tidak berayah.

Menurut majalah Nikah (No.5 Vol. entah karena bekerja atau lain sebagainya. Bahkan terkadang kehilangan akan keberaniannya. Itu jika orang tua mereka tidak menikah lagi. Bertapa banyak anak lelaki mengalami berbagai penderitaan. gangguan jiwa. atau sekarang dapat diartikan ayah yang karena sesuatu hal harus tinggal terpisah dari keluarga. . dan idola. hanya terbentuk perasaan kehilangan tempat bergantung dan mungkin merasa bahwa kelangsungan hidup mereka tengah dalam bahaya. bagi anak laki-laki akan melahirkan teladan. figur. tetapi jika kedua orang tuanya menikah lagi ini akan memberikan efek yang buruk pada anak karena anak merasa berbeda dengan teman-temannya anak merasa mempunyai dua ayah dan dua ibu. dan belum mengerti tentang berbagai peristiwa yang terjadi setelah perceraian. d. pengaruh yang muncul dari peristiwa tersebut lebih banyak menyentuh anak laki-laki dari pada anak perempuan. mau tinggal dengan siapakah ia kelak. Oleh karena itu.2005) Bagi anak yang masih kecil dan belum memahami perceraian. dan melakukan tindakan kasar.27 menjalankan tugasnya masing-masing.4 thn. Sementara bagi anak perempuan tidak terlalu demikian. tidak terdapat rasa saling memaafkan dan menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing. mendapat perhatian yang berlebih sehingga dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya. dan menangis. Sementara bagi anak perempuan. Ditinggal suami bekerja/ berjihat Ayah yang berjihat. Ia akan kebingungan.

dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan tata tertib.28 C. 2. sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan pertanyaan penelitiannya adalah : 1. sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya. serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga. Alasan-alasan yang melatar belakangi adannya pemecahan masalah. memilih dan mempertahankan alternatif jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan ditengah pilihan hidup yang dipilihnya ketika menduduki dua jabatan sekaligus. D. Dan harus memiliki dua bentuk sikap. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal adalah kemampuan dan kecakapan wanita sebagai orang tua tunggal dalam menyelesaikan permasalahan secara efektif yang meliputi usaha untuk memikirkan. .

Gejala Penelitian Gejala Penelitian yang akan penulis teliti adalah : 1. Wanita sebagai orang tua tunggal B.29 BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kualitatif. Pemecahan masalah 2. sebaliknya semakin tepat metode yang digunakan diharapkan semakin baik pula hasil yang diperoleh karenanya berhasil tidaknya suatu penelitian bergantung pada ketepatan dalam menentukan metode yang digunakan. A. dimana peneliti ingin mengungkap gejala penelitian secara menyeluruh sesuai dengan konsteknya melalui pengumpulan data dari latar alami. Definisi Operasional Gejala Penelitian Dalam penelitian ini definisi gejala penelitian yang akan penulis teliti adalah sebagai berikut : . Kesalahan dalam menentukan metode akan mengakibatkan kesalahan dalam mengambil data serta keputusan. Hadi (1990) mengutarakan bahwa metode merupakan masalah yang penting dalam penelitian dan sangat mempengaruhi dari hasil penelitian yang dilakukan.

pengalaman. Alasan pemecahan masalah adalah dasar yang dipilih dan dilakukan informan untuk mengatasi kesulitan. hal-hal atau unsur yang mempengaruhi para informan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. alasan dan faktor yang digunakan informan dalam memecahkan masalahnya akan digali menggunakan metode wawancara.30 1. 4. Faktor-faktor pemecahan masalah adalah. konsentrasi. usia. hambatan. . memilih dan mempertahankan alternatif dari sebuah jawaban kepada satu pemecahan atau solusi yang ideal dengan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan di dalam keluarganya. kepercayaan diri dan lingkungan sosial yang berbeda. jenis kelamin. kreativitas. dan belum menikah kembali setelah ditinggal oleh suaminya baik karena perceraian atau kematian sehingga berperan sebagai ibu dan ayah di dalam keluargannya. Pemecahan masalah. Pemecahan masalah yang dipilih. 2. 3. gangguan. Wanita sebagai orang tua tunggal adalah wanita yang mempunyai anak dengan pernikahan sebelumnya. adapun faktor yang mempengaruhi adalah berdasarkan kemampuan inteligensi. ketidak puasan atau kesenjangan yang dialaminya antara harapan dan kenyataan. adalah sebuah kemampuan aktivitas kognitif dan kecakapan diri yang dimiliki oleh informan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi di dalam keluarganya secara lebih efektif yang meliputi usaha informan untuk memikirkan.

Tabel 1. Informan Penelitian Informan yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 4 orang yang merupakan janda yang membesarkan anak seorang diri. 2008 . dan peneliti menggunakan informan sebanyak 4 orang. (d) Dewasa Awal (berusia 22 tahun). Variasi informan yang akan dilihat peneliti dalam penelitian ini didasarkan pada pekerjaan informan dan usia anak pada masing-masing informan penelitian.31 C. (c) Remaja (berusia 15 tahun). Adapun kriteria usia anak informan penelitian meliputi : (a) Anak balita (berusia 5 tahun). Karakteristik informan penelitian Karakteristik Informan Umur Tingkat Kreteria Pekerjaan pendidikan anak SMA Remaja 15 tahun Janda pensiunan polisi Alamat Lama Penyebab menjanda menjadi janda 13 Tahun Meninggal karena sakit Meninggal karena sakit Meninggal karena kecelakaan Meninggal karena kecelakaan M 47 Tahun 54 Tahun 45 Tahun 36 Tahun Manahan Y SMA Dewasa Wiraswasta Jagalan awal 22 tahun Pegawai Anak usia SD swasta 9 tahun Balita 5 PNS Tahun Sumber 15 Tahun TRS SMA 2 Tahun ES S1 Gawanan 5 Tahun Sumber data primer. (b) Anak usia sekolah dasar (berusia 9 tahun). Adapun karakteristik pekerjaan informan penelitian meliputi : (a) Wiraswasta (b) Pegawai Negeri (c) Janda pensiunan Polisi (d) Pegawai Swasta.

Sementara Nasution (1992) menyatakan bahwa wawancara dilakukan untuk mengetahui apa yang terkandung dalam hati dan pikiran orang lain. Wawancara dalam penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti sendiri. Agar data yang diperoleh sesuai dengan apa yang disampaikan oleh subjek.32 D. Metode dan Alat Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode : 1. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah guide interview yang akan disampaikan kepada subjek yaitu sebagai berikut : . Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yang menggunakan petunjuk umum wawancara yaitu jenis wawancara yang mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok “yang ditanyakan” dalam proses wawancara (Moleong. bagaimana pandangannya tentang dunia. 2001). Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung. dimana peneliti langsung berhadapan dan mewawancarai subjek penelitian. maka pembicaraan selama wawancara sedapat mungkin direkam dengan tape recorder. Wawancara Menurut Narbuko dan Achmadi (1997) wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan keterangan. yaitu hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui observasi.

Berfikir sistematis 4. 3. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. Bagaimanakah ibu menempatkan diri apabila masalah yang ibu hadapi keluarga harus melibatkan orang lain? 1 2. Bagaimana ketika ada masalah dalam keluarga. . dan bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikannya? 1.33 Tabel 2. Bagaimana ketika ibu mandapatkan masalah didalam keluarga dan bagaimana menentukan tindakan yang ibu pilih? apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi selanjutnya? 1. fleksibilitas. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi Pertanyaan Apakah yang ibu pikirkan ketika ada suatu permasalah dalam keluarga ibu. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Aspek psikologis Aspek kognitif Indikator Perilaku 1. apakah ibu berusaha memecahkan masalah yang dihadapi seorang diri tanpa bantuan orang lain? 1.

34 Aspek afektif Emosi 1. Bagaimana perasaan ibu pada anak-anak dan bagaimana penyesuaian diri ibu pada saat masa awal ditinggal oleh suami? 2. apakah ibu ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya? 1. Kepercayaan dan sikap yang tepat Sumber data primer. Apakah ada keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ketika ada masalah dalam keluarga ibu dan apakah ibu selalu mau menerima bantuannya? Apabila mau menerima bantuannya bagaimana ibu mempercayai dan menyikapinya? 2. Bagaimana ketika ada masalah dalam keluarga ibu. Motivasi 1. Bagaimana perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam diri keluarga ibu? Aspek psikomotor 1. 2008 Sedangkan guide interview yang digunakan dalam wawancara dengan orang terdekat informan mengacu pada guide interview sebagai berikut : .

Bagaimana kehidupan rumah tangganya menurut sepengetahuan anda? 1. Apakah pernah ibu… menceritakan tentang masalah keluargannya? 2. Aspek 1. Sejauh mana anda terlibat dalam kehidupan rumah tanggannya? 1. Emosi Sumber data primer. Sejauh mana anda mengenalnya? 1. Permasalahan yang dihadapi Kepercayaan dan sikap yang tepat 4.35 Tabel 3. Guide Interview pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal untuk wawancara dengan Significant person. Apakah anda mengenal ibu…? 2. Pendapat significant person terhadap informan. Identitas Indikator perilaku fleksibilitas. dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Bagaimana tanggapan anda mengenai ibu…? 2. orang-orang yang terlibat dalam aktivitas. 1998) istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat. mencatat fenomena yang muncul. Observasi Menurut Banister (Poerwandari. aktivitas-aktivitas yang berlangsung. Daftar Pertanyaan 1. 2008 2. Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari. Kehidupan rumah tangganya Berfikir sistematis 3. Bagaimana tentang sosialisasinya? 2. dan .

pengamat meminimalkan biasnya. Bahasa tubuh informan Ekspresi wajah Emosi informan ketika 2) Psikologis . yaitu mencatat data konkret berkaitan dengan fenomena yang diamati agar memungkinkan pembaca untuk dapat memvisualisasikan setting yang diamati. Patton (Poerwandari. Hal-hal yang diobservasi Kondisi fisik. Pakaian yang dikenakan ketika wawancara. 1998). Selain itu memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari dan juga memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara. 1998) menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka. c. Observasi yang digunakan bersifat deskriptif. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah guide observasi yang akan dijadikan pedoman dalam pengamatan terhadap subjek yaitu : Tabel 4.36 makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Sikap subjek ketika wawancara. c. sehingga dengan sendirinya juga dapat mengembangkan analisis yang lebih akurat saat menginterprestasi seluruh data yang ada (Poerwandari. Guide observasi Aspek 1) Fisik a. b. Dengan uraian deskriptif. a. b. berorientasi pada penemuan daripada penelitian.

Suasana ruangan dilakukannya wawancara. Kebergantungan dan kepastian dapat . Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Sumber data primer. Lingkungan fisik dilakukannya wawancara b. 2) Kebergantungan (dependability) Penganti istilah reliabilitas dalam penelitian nonkualitatif. Keabsahan data / Trustworthiness Menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. 3) Kepastian (confirmability). 2008 E. melainkan pada data. Keteralihan dilakukan dengan cara uraian rinci (thick description) dimana peneliti melaporkan uraian hasil penelitian yang dilakukannya dengan teliti dan cermat sehingga mengambarkan kontek tempat penelitian diselenggarakan.37 3) Lingkungan wawancara d. Interaksi informan dengan orangorang disekitarnya a. Objektifitas dalam penelitian kualitatif menghendaki penekanan bukan pada orang. Moleong (2001) membagi 4 kriteria keabsahan data yaitu : 1) Keteralihan (transferability) Keteralihan sebagai persoalan empiris yang bergantung pada kesamaan konteks pengirim dan penerima.

Data-data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. mencari pola atau tema dengan maksud untuk memahami maknanya. Nasution (1992) menyatakan bahwa analisis data adalah proses menyusun data.2004) mendefinisikan analisis isi sebagai metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik. Metode Analisis Data Analisis data merupakan satu langkah yang sangat kritis dalam suatu penelitian (Suryabrata. Berelson (Bungin. dokumen tertulis dan tidak tertulis ataupun bentuk-bentuk non angka lainnya. mengkategorikan data. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. cerita. dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak. Berdasarkan jenis data tersebut maka teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah content analysis (analisis isi atau kajian isi).38 dilakukan dengan penulusuran audit (audit trail). Lebih lanjut dikatakan bahwa analisis data adalah cara peneliti dalam mengolah data yang terkumpul sehingga mendapatkan suatu kesimpulan penelitian. tetapi lebih banyak berupa narasi. 1992). obyektif. proses ini didasarkan pada catatan-catatan pelaksanaan keseluruhan proses dan hasil studi. dimana peneliti akan membandingkan apa yang dikatakan orang terdekat informan dengan apa yang dikatakan informan. deskripsi. . F. 4) Kepercayaan (credibility). Poerwandari (1998) mengemukakan bahwa data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka.

.39 Sedangkan Holsti (Moelong.2001) menyatakan bahwa kajian isi adalah teknik yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan. dan dilakukan secara obyektif dan sistematis.

40 BAB IV LAPORAN PENELITIAN A. Orientasi lapangan Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu di kota Surakarta dan Karanganyar. Sedangkan 1 informan yang ada di Karanganyar Bekerja sebagai PNS (guru). Keempat informan tersebut memiliki usia. Janda pensiunan POLRI. tingkat pendidikan. Penelitian pada informan pertama dilakukan di daerah aspol Manahan pada tanggal 9 September 2008. Kemudian penelitian informan kedua dilakukan di daerah Jagalan pada tanggal 9 September 2008. Informan yang ada di Surakarta sebanyak 3 orang yang menghidupi keluargannya sebagai Wiraswasta (penjahit). dan jumlah serta umur anak yang berbeda-beda. Informan yang digunakan sebagai sampel sebanyak 4 orang. latar belakang ekonomi. . dan Pegawai Swasta (buruh harian lepas). Adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. sedangkan penelitian informan ketiga dilakukan Sumber pada tanggal 18 September 2008. dan penelitian informan keempat dilakukan di daerah Gawanan Colomadu pada tanggal 24 September 2008. Persiapan Penelitian Tahap persiapan penelitian merupakan tahap yang dilakukan sebelum pelaksanaan penelitian. ketiganya berasal dari Kelurahan yang berbeda-beda.

artinya pedoman yang digunakan dapat diubah sesuai dengan situasi dan kondisi penelitian sehingga diharapkan akan terkumpul data yang diantaranya menjawab pertanyaan penelitian tersebut. yang terdiri dari 3 orang informan yang bertempat tinggal di Surakarta dan 1 orang informan yang bertempat tinggal di Karanganyar. Pengumpulan Data Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2008. Pedoman wawancara. Pedoman tersebut mengalami pengembangan dan penyempitan. dengan subjek penelitian sebanyak 4 orang wanita sebagai orang tua tunggal yang telah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya dan belum menikah lagi. b. Dalam penyusunan pedoman wawancara berdasarkan pada pertanyaan penelitian. .41 2. antara lain : a. Persiapan alat pengumpul data Penulis mempersiapkan beberapa alat pengumpul data untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini. Pedoman observasi. Penyusunan pedoman observasi dilakukan untuk lebih memfokuskan hal-hal yang akan diobservasi serta memperkecil kemungkinan terlewatnya hal-hal penting yang harus diobservasi. Informasi tentang keberadaan subjek diketahui penulis melalui orangorang yang dekat dengan penulis dan juga dekat dengan informan penelitian. B.

2008 . S SMA S1 45 Tahun Usia SD 9 tahun Buruh Sumber 2 Tahun Meninggal karena kecelakaan 36 Tahun Balita 5 tahun Guru Gawanan 5 Tahun Meninggal karena kecelakaan Sumber data primer. R. antara lain peneliti berusaha mengetahui tentang masa lalu subjek. S E. Karakteristik Informan Penelitian Keterangan Nama Informan Tingkat pendidikan Umur Kriteria anak Pekerjaan Alamat Lama menjanda Penyebab informan menjadi janda Informan I M SMA 47 Tahun Remaja 15 tahun Janda pensiunan Manahan 13 Tahun Meninggal karena sakit Informan II Y SMA 54 Tahun Dewasa awal 22 tahun Penjahit Jagalan 15 Tahun Meninggal karena sakit Informan III Informan IV T. Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan orang terdekat subjek untuk menambah informasi. yaitu dengan melakukan rapport untuk mendapatkan informasi tentang diri subjek dan sekaligus melakukan observasi terhadap tingkah laku subjek dalam kehidupan keluarga. Analisis Data 1. Selama wawancara subjek ada yang didampingi anaknya. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap. namun ada pula yang tidak didampingi. Karakteristik informan penelitian Karakteristik informan penelitian dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 5. C.42 Penulis melakukan wawancara dengan informan di rumahnya masing-masing.

Informan I (M / 47 Tahun / Janda pensiunan / Anak Remaja) a. 2. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “Kalau masih dalam masalah pendidikan.1.2. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya HASIL WAWANCARA “Penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha” (W I / S I. insya allah saya masih bisa mengatasi sendiri. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK Aspek kognitif INDIKATOR PERILAKU 1. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan saya kompromikan dengan keluarga” (W I/S I. 19-20) ANALISIS Informan menghadapi masalah dengan sabar dan selalu berusaha Kesimpulan : Informan (M) menyikapi permasalahannya dengan penuh kesabaran dan selalu berusaha.51-55) Informan bisa mengatasi masalahnya sendiri apabila menurut informan masih bisa diatasi sendiri Kesimpulan : Informan (M) mengajak keluarga terdekatnya untuk memikirkan langkah yang terbaik untuk dipilih 43 . Data hasil penelitian 2.

94) Informan tidak terlebih dahulu memikirkan tindakan yang diambilnya. Berfikir sistematis. yang sudah saya pikirkan itu. dengan bening insya allah tidak” (W I/S I. nggak saya konsultasikan sama keluarga” (W I/S I. kalau nggak perlu ya nggak. tapi kalau masalah yang perlu dikomunikasikan sama keluarga ya saya konsultasikan. Kesimpulan : Karena Informan (M) sudah pasrah maka informan tidak terlebih dahulu memikirkan tindakan yang diambilnya. saya lakukan sudah saya pikirkan jernih.100-106) Informan mau menerima dan melibatkan orang lain didalam masalahnya Kesimpulan : Informan (M) mau meneriman dan melibatkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “kalau dalam masalah keluarga ya tidak masalah. fleksibilitas.3. 4. Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih “Insya allah.88-90) “Tidak. saya pasrah” (W I/ S I. 44 .

. Kesimpulan : Informan (M) memegang kendali penuh dalam keluarga setelah kematian suaminya. kita harus bersikap sabar” (W I/S I. hanya menyerahkan sama allah” (W I/S I. Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “cuma apa sok kadangkadang kesulitan yang tidak bisa teratasi untuk dirinya. informan pasrah. 45 . 139-143 Informan pertama kali bersikap sabar dan menyesuaikan dirinya terhadap anak-anaknya terlebih dahulu.Aspek Afektif Emosi Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak “menyesuaikan terhadap anak-anak itu karena yang biasannya dilakukan oleh suami otomatis saya lakukan. ee terus ya. 161-164) Perasaan informan hanya pasrah ketika menghadapi masalah Kesimpulan : Ketika menghadapi masalah yang tidak bisa teratasi oleh informan (M).

otomatis segera selesai besuk sudah ganti persoalan lagi” ( W I/ S I. 172-178) Informan ingin langsung segera menyelesaikan masalahnya Kesimpulan : Informan (M) selalu ingin langsung menyelesaikan masalah yang dihadapinya 46 . Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “Saya kalau ada masalah. dan untuk anakanak saya semoga anakanak saya menjadi anak yang betul-betul soleh dan solehah. Aspek psikomotor 1. segera diselesaikan. saya ingin karena saya anu tipe orangnya tuh tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan. 264-270) Informan berharap kehidupan anaknya kelak kebih baik daripada kehidupannya sekarang. bakti pada kepada orang tuannya. Kesimpulan : Informan (M) berharap anaknya lebih baik dari dirinya dan menjadi yang terbaik. dunia sampai akherat itu yang saya harapkan” (W I/S I.Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “untuk anak-anak saya lebih baik daripada dari saya.

anu hambannya tuh sebagai lantaran” (W I/ S I. epercayaan dan sikap yang tepat Ada keluarga Apakah ada “terutama dari fihak informan yang lain anggota keluarga keluarga saya” ( W I/ S I.2. semua datangnya dari Allah. 244-247) “Saya yakin. 186) yang membantu lain yang memecahkan membantu “termasuk ibu saya” masalah menyelesaikan (W I/ S I. mungkin rejeki anak saya tapi lewat mereka” (W I/ S I. 231-232) “karena semua itu yang memberikan dan yang menglantari tuh semua Allah” (W I/ S I. Informan (M) menerima pemberian bantuan dari keluarga lain. 47 . cuma mer. 252-254) Informan mau untuk menerima bantuan yang diberikan kepadannya Kesimpulan . 198) keluarganya masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga Kesimpulan : Informan (M) tidak memecahkan masalahnya seorang diri Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “Karena itu rejeki.

Setelah wawancara berlangsung kurang lebih 10 menit ada orang yang beramu kerumah informan. bibir tipis. Kemudian informan kembali menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. 2) Observasi psikologis Pada awal wawancara berlangsung subjek tersenyum kepada peneliti.48 b. tetapi ketika menjawab pertanyaan pandangan mata informan memandang keatas dan kearah jalan. Bentuk mata bulat. Pada saat wawancara berlangsung informan duduk di sebelah kiri peneliti. Tangan kirinya diletakkan di sandaran tangan kursi. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 160 cm. pakaian berwarna hitam bermotif batik dan celana kain panjang warna hitam. hidung mancung. muka oval. Selama informan mendengar pertanyaan dari peneliti pandangan mata informan menatap kearah peneliti yang ada di sebelah kanannya. tetapi setelah berjalan 5 menit pandangan mata informan mulai melihat keatas dan . berat badan kurang lebih 50 kg. Hasil data observasi informan I 1) Observasi fisik Informan adalah seorang janda pensiunan TNI/POLRI yang beraktifitas sebagai ibu rumah tangga yang berusia 47 tahun. Pada saat wawancara berlangsung informan mengenakan kerudung warna hitam. dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. informan mempersilahkan tamunya untuk masuk. kulit sawo matang.

informan meminta izin kepada peneliti untuk menemui tamu yang menunggunya. Tiga puluh menit kemudian peneliti meminta izin untuk pulang karena akan melanjutkan penelitian kepada informan kedua.49 kearah jalan ketika menceritakan saat-saat dirinya mengalami kesulitan dan kerepotan. Karena anak tertua informan sedang berada di . Ruangan itu berdinding tembok berwarna kuning gading. foto suami informan ketika memakai seragam dinas dan foto anaknya ketika masih balita. Dan setelah menemui tamunya informan duduk kembali di tempatnya semula. Saat wawancara berlangsung suasana rumah tenang dan sepi karena hanya ada informan dan peneliti saja. Informan terlihat tertekan ketika wawancara berlangsung ini terlihat ketika informan menitikkan air mata saat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Selain itu di dalam ruangan ini terdapat meja yang tingginya kurang lebih 50 cm yang difungsikan untuk meletakkan vas bunga. terdapat satu set kursi tamu yang terbuat dari kayu yang di polithuor warna gelap dan busa berwarna merah. Di ruangan ini juga terdapat meja yang terbuat dari kaca untuk menata barang-barang dagangan informan yang berupa barang-barang kelontong. Ketika wawancara selesai. Di dinding ruangan ini juga terpajang sebuah jam dinding. 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 3 meter x 7 meter.

50 Wonogiri untuk berdinas dan anak kedua informan sedang berada di sekolah. Dengan suasana yang sepi perhatian informan hanya tertuju kepada peneliti. tetapi konsentrasi informan terpecah ketika ada tamu yang berkunjung kerumahnya. .

Kesimpulan : Informan (Y) mengatasi masalah dan berfikir yang penting bisa mencukupi kebutuhan keluargannya 51 . kita bisa menyukupi kebutuhan untuk anak-anak. 57-61) “ndak terlalu memikirkan bangetbanget lah. kalau dipikirkan banget-banget kan kita bisa sakit lah.2. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN HASIL WAWANCARA “pikir sendiri.2. Informan II (Y / 54 Tahun / Wiraswasta / Dewasa awal) a. Data hasil penelitian 2. bisa bekerja” (W I/ S II. pusing” (W I/ S II. jalani apa adannya. ndak usah mikir yang lain-lain lah pokoknya. 75-78) ANALISIS Aspek kognitif Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya Informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK INDIKATOR PERILAKU 1. sakit.

bertanyatanya bagaimana ni jalannya keluar kalau saya menerima kesulitan” (W I/ S II. Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih “saya kan sudah terpikir sebelumnya saya harus bertindak” (W I/ S II. 175-176) “Akibatnya sudah saya pikirkan” (W I/ S II. 193) Informan memikirkan akibat dari tindakan yang dipilihnya Kesimpulan : Informan (Y) selalu memikirkan dari tindakan yang dipilihnya 4. fleksibilitas. tapi harus tepat kalau nggak tepat saya akan sakit hati” (W I/ S II. saya ya melibatkan pada orang lain. informan memilih orang yang tepat untuk membantunya 52 . Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “Ya nek terlalu berat. 116-119) Ketika informan menghadapi permasalahan yang dianggapnya berat informan baru meminta tolong pada orang lain Kesimpulan : Informan (Y) melibatkan orang lain ketika menghadapi masalah yang dianggap berat 3. Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “Istilahe saya tidak isa menyelesaikan ya saya lari kemanakah yang saya tuju. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. Berfikir sistematis.2. 205-209) Ketika masalah yang dihadapi informan harus menlibatkan orang lain.

295-296) Kesimpulan : Sabar dan banyak berdoa adalah cara informan (Y) untuk menyesuaikan diri pada awal ditinggal suami Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “Sedih lah anu ndak ada yang membantu” (W I/ S II. terutama” (W I/ S II.Kesimpulan : Ketika meminta bantuan orang lain informan (Y) memilih orang yang tepat untuk diminta membantunya Aspek Afektif Emosi “Kita harus sabar. 291-292) “Sabar dalam menghadapi segalannya” (W I/ S II. 294) “sok kita kan terkejut lah sekarang sendiri harus begini-begini’ (W I/ S II. harus Sabar dan berdoa adalah cara informan dalam banyak berdoa menyesuaikan diri. 329-330) “Sedih ya mesti harus hilang. anak-anak tuh sok-sok sing hibur. 341-342) Perasaan informan sedih ketika menghadapiu masalah. sedih” (W I/ S II. Kesimpulan : Perasaan informan (Y) sedih ketika menghadapi masalah karena tidak ada yang membantu. 53 .

tidak nakal. Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “pasti” (W I/ S II. 525-529) Informan berharap anaknya menjadi baik dan tidak mengecewakannya. itu Alhamdulillah anakanak bisa baik semuanya. ya lah tidak pernah mengecewakan saya” (W I/ S II. 348) ‘Pasti. 413) Ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalahnya. Kesimpulan : Informan (Y) Apabila menghadapi masalah ingin langsung segera untuk menyelesaikan masalahnya. 136) “paling ya keluarga” (W I/ S II. Kesimpulan : Informan (Y) berharap anaknya tidak mengecewakannya. tidak macemmacem. Kepercayaan dan sikap yang tepat Apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga “Saudara-saudara dari ipar-ipar saya” (W I/ S II. 54 . Aspek psikomotor 1.Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “ anak-anak menjadi baik. jalan lurus. 134) “Saudarane bapake” (W I/ S II. harus cepat selesai karena nek nggak selesai ya di dalam pikiran terus” (W I/ S II. 2. 350-351) Informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya.

Kesimpulan : Ada anggota keluarga lain yang membantu informan (Y) untuk menyelesaikan masalahnya Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “kalo kepepetnya ya mau no” (W I/ S II. ya terima kasih sekali pada yang kuasa” (W I/ S II. 444) “bantuan saudara tuh sudah iklas” (W I/ S II. 505) “Menerima. 516-517) Informan mau menerima bantan yang diberikan kepadannya Kesimpulan : Informan (Y) mau menerima bantuan yang diberikan kepadannya 55 .

Kemudian informan meminta izin kepada peneliti untuk mengambil bangku dan kembali duduk ditempat semula tetapi posisi duduknya berbeda kedua kakinya informan diluruskan serta diletakkan di bangku yang ada didepannya. berwarna hijau bermotif bunga-bunga. Kedua tangannya diletakkan di sandaran tangan kursi. Hasil data observasi informan II 1) Observasi fisik Informan adalah seorang ibu rumah tangga yang beraktifitas sebagai penjahit yang berusia 54 tahun. Pada saat wawancara berlangsung informan mengenakan daster tanpa lengan. jendela dan pintu depan rumahnya yang terbuka. berambut hitam panjang berombak. muka bundar. bibir tebal. informan menawarkan kepada peneliti untuk . dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. kulit sawo matang. Pada saat wawancara akan berlangsung informan duduk di hadapan peneliti. Ketika wawancara selesai. tetapi ketika informan menceritakan kisah kehidupannya pandangan mata informan mulai tidak terfokus melihat kearah peneliti. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 155 cm. berat badan kurang lebih 50 kg. hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan kepada peneliti yang disertai canda tawa. 2) Observasi psikologis Pada saat wawancara berlangsung subjek tersenyum kepada peneliti dan banyak canda dan tertawa. Ketika wawancara berlangsung sekitar 10 menit ada orang yang lewat didepan rumah informan kemudian menyapa informan dan informan menjawab sapaannya dan kemudian kembali menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Bentuk mata bulat. Subjek terlihat tenang ketika diwawancara. hidung pesek.56 b. pandangan matanya mulai melihat ke langit-langit rumah.

namun suara yang ditimbulkan oleh televisi tersebut tidak menggangu jalannya wawancara. terdapat satu kursi panjang yang terbuat dari kayu yang di cat warna hitam dan busa berwarna hijau. Di sudut ruangan ruang tamu terdapat sebuah almari yang berwarna coklat tua. Di dinding ruangan ini juga terpajang sebuah lukisan yang bergambar pemandangan. sepeda motor yang biasa digunakan informan dan anaknya serta sebuah sepeda angin. Di ruangan ini juga terdapat mesin jahit dan kursi yang terbuat dari plastik yang digunakan informan untuk menjahit. Saat wawancara berlangsung suasana rumah ramai karena informan tinggal bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. Ruangan itu berdinding tembok berwarna putih. Selain itu di dalam ruangan ini juga terdapat dua sepeda motor yang biasa digunakan oleh adik informan. .57 beristirahat dan melihat televisi terlebih dahulu di ruang keluarga. Walaupun suasana di dalam rumah ramai tetapi kondisi ruang tamu tempat dilakukannya wawancara cukup tenang. Lima belas menit kemudian peneliti dan anak bungsu informan meminta izin untuk pamit karena anaknya akan masuk kerja dan peneliti mengantarkan anaknya ketempat kerjanya. dan ada anggota keluarga yang lain yang menonton televisi. 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 3 meter x 3 meter.

Informan III (T R S / 45 Tahun / Buruh / Usia sekolah dasar) a. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK INDIKATOR PERILAKU 1. Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN HASIL WAWANCARA “kita harus berusaha” (W I/ S III.2. tapi kalau toh kita ndak bisa kita sendiri. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah. 68-69) “kita harus berusaha untuk menyelesaikan Informan terlebih dahulu berusaha menyelesaikan permasalahannya sendiri. Data hasil penelitian 2. 36-36) ANALISIS Aspek kognitif Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya Informan berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya Kesimpulan : Informan (T R S) berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya 2.3. ya kita selesaikan. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “kalau kita sih masih bisa untuk menyelesaikan permasalahan kita. 59-63) “tapi kalau tidak bisa ya kita minta tolong bantuan orang lain” (W I/ S III. 58 . ya kita melibatkan orang lain” (W I/ S III.

158-159) “Ya jadi kita kan minta tolong untuk orang lain” (W I/ S III. kalau masalah dalam keluarga” (W I/ S III. 112-113) Kesimpulan : Informan (T R S) selalu memikirkan terlebih dahulu langkah yang diambilnya Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “sikap kita kalau ada permasalahan seperti itu ya kita minta tolong sama orang lain” (W I/ S III. 126-128) “kadang-kadang kan harus membutuhkan orang lain. Berfikir sistematis.” (W I/ S III. 75-75) “Tanpa bantuan orang lain. fleksibilitas. 107-109) “kita melangkah itu kita pikirkan lebih dahulu” (W I/ S III. 2. 78-79) Kesimpulan : Informan (T R S) terlebih dahulu berusaha memecahkan masalahnya sendirian 3.sendiri” (W I/ S III. 59 . Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih Informan terlebih “setiap kita melangkah dahulu memikirkan itu ya kita ini kita akibat dari tindakan pikirkan untuk jauh kedepan dan akibatnya” yang dipilihnya (W I/ S III. 161-162) Informan mau melibatkan oranglain dalam masalahnya karema informan berpendapat dirinya juga membutuhkan orang lain.

202-205) “Karena begitu langsung ditinggal ya kita merasa kehilangan” (W I/ S III. 60 . 223-224) “kalau memang di saatsaat permasalahannya itu menunjukkan ini menunjukkan kesedihan.Kesimpulan : Informan (T R S) Mau untuk melibatkan orang lain dalam membantu menyelesaikan masalahnya. ya kita sedih tapi kalau permasalahan itu menunjukkan harus kita bertindak. 207-208) Karena suami informan meninggal mendadak informan merasa bingung dan sedih ketika menyesuaikan dirinya. Kesimpulan : Informan (T R S) merasa bingung di dalam menyesuaikan dirinya pada awal ditinggal suaminya Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “tergantung permasalahannya” (W I/ S III. kita mengalami kesedihan dan katakanlah pada saat itu tertekan” (W I/ S III. Aspek Afektif Emosi Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak “pertama itu kan kita ya juga bingung ditinggal seperti itu. memang kita harus bertindak” Perasaan informan ketika menghadapi masalah adalah tergantung dari masalah yang dihadapinya.

Kepercayaan dan Apakah ada anggota sikap yang tepat keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah “ada” (W I/ S III. 436-438) Harapan informan adalah supaya anaknya maju dan berprestasi Kesimpulan : Informan (T R S) berharap agar anaknya maju dan berprestasi Aspek psikomotor 1. 228-233) Kesimpulan : Perasaan informan ketika menghadapi masalah tergantung dari masalah yang dihadapinnya. 318) “pihak keluarga saya 61 .(W I/ S III. 316) “dari fihak keluarga” (W I/ S III. untuk berprestasi. maju. lha itu lho masa depannya cerah” (W I/ S III.. 285-288) Informan ingin langsung menyelesaikan masalahnya karena takut menjadi beban. Kesimpulan : Informan (T R S) berusaha semampunya untuk segera menyelesaikan masalahnya 2. Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “ada masalah ya kita semampu kita. karena nanti kalau terlalu lama masalah tuh berlarutlarut kan ya jadi beban” (W I/ S III. 281-283) “Semampu kita harus menyelesaikan secepatnya. Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “untuk anak-anak untuk ee. ya ini kan menyelesaikan masalah” (W I/ S III.

karena apa. sesuai dengan kita” (W I/ S III.dalam keluarga sendiri. belum tentu kita terima” (W I/ S III. 425-426) Informan tidak menerima semua bantuan yang diberikan kepadannya. 375-377) “belum tentu kita menelannya semua. dari pihak dari suami sendiri. Kesimpulan : Informan (T R S) tidak selalu menerima bantuan yang diberikan kepadannya 62 . 322-324) Kesimpulan : Ada anggota keluarga informan (T R S) yang lain yang ikut membantu menyelesaikan masalah Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “belum tentu. semua dikasih pandangan itu. Dalam hati kita kan ada prinsipprinsip tertentu” (W I/ S III. 384-387) “belum tentu semua kita praktekan” (W I/ S III. 418-419) “Apa yang cocok sama kita. mereka mau untuk ini campur tangan” (W I/ S III.

63 b. Posisi duduk informan agak condong kebelakang merebahkan punggungnya. Kedua tangannya diletakkan di atas pahanya. pandangan matanya terus melihat kearah peneliti. informan menawarkan kepada peneliti untuk minum kopi terlebih dahulu. Subjek terlihat tenang ketika diwawancara. Pada saat wawancara berlangsung informan mengenakan daster lengan pendek. Bentuk mata bulat. hidung pesek. dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. Ketika wawancara selesai. muka bundar. 2) Observasi psikologis Pada saat wawancara akan berlangsung teman peneliti meminta izin untuk keluar ruangan kemudian informan tersenyum kepada teman peneliti dan peneliti. Hasil data observasi informan III 1) Observasi fisik Informan adalah seorang janda yang berkerja sebagai buruh harian lepas disalah satu perusahaan yang berusia 45 tahun. berat badan kurang lebih 50 kg. . hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan kepada peneliti dengan suara yang lantang dan jelas dengan logat khas batak. berambut hitam sebahu berombak. berwarna ungu muda bermotif bunga-bunga. Ketika informan menceritakan kisah kehidupannya pandangan mata informan tetap fokus tertuju kearah peneliti. namun sesekali informan menguap karena mengantuk. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 160 cm. Pada saat wawancara akan berlangsung informan duduk di sebelah kanan peneliti. rambut panjang. bibir tebal. Ketika informan membukakan pintu rumah dan bertemu dengan peneliti informan tersenyum dan mempersilahkan masuk peneliti dan teman peneliti. kulit sawo matang.

3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 3 meter x 3 meter. . Dengan suasana yang sepi perhatian informan hanya tertuju kepada peneliti. Saat wawancara berlangsung suasana ruangan tempat wawancara tenang dan sepi karena hanya ada informan dan peneliti saja. Di dinding ruangan ini juga terpajang sebuah gambar yang bergambar tuhan yesus dan sebuah jam dinding berbentuk kotak.64 Dua puluh menit kemudian peneliti dan teman peneliti yang mengantar meminta izin untuk pamit karena sudah malam dan takut kalau tidak bisa bangun untuk makan sahur. tetapi konsentrasi informan terkadang terpecah ketika ada sms yang masuk ke ponselnya. Ruangan itu berdinding tembok berwarna putih. Di ruangan ini juga terdapat televisi dan radio yang diletakkan di dalam almari di sebelah kanan kursi tamu yang biasa digunakan informan untuk bersantai dan di atas almari tersebut terdapat loud speaker dan tumpukan kertas-kertas yang tersusun berantakan. terdapat satu set kursi tamu model sudut yang terbuat dari busa yang tertutup dengan cover plastik yang berwarna merah dan mulai mengelupas covernya sehingga terlihat busa yang ada di dalamnya. Karena anak-anak informan sudah tidur dan teman peneliti yang mengantar peneliti berbincang-bincang dengan teman informan di halaman depan rumah informan.

Berfikir positif tentang masalah yang dihadapi PERTANYAAN HASIL WAWANCARA “biarlah anggapan orang” (W I/ S IV. 114-115) “Saya harus mensikapi dengan ikhlas dan juga berusaha untuk tetap berbuat baik pada orang lain. semua perilaku tuh yang mengetahui kan Allah” (W I/ S IV. 90-91) “saya sikapi ya biasa saja” (W I/ S IV. 65 . ya itu ya kita kembalikan pada Allah.4. 127-133) ANALISIS Aspek kognitif Bagaimana informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya Informan mensikapi masalahnya dengan biasa saja karena semuanya sudah dikembalikan pada Allah. Data hasil penelitian 2. tetap menjaga perilaku. Hasil data wawancara dengan informan ASPEK INDIKATOR PERILAKU 1. Kesimpulan : Ketika ada masalah informan (E S) mensikapinya dengan biasa saja. 84) “yang penting saya menjaga perilaku saya” (W I/ S IV.2. meningkatkan iman. Informan IV (E S / 36 Tahun / Guru / Balita) a.

pertimbangan. tuh kalau masih bisa saya atasi sendiri. 238-246) “Jarang” (W I/ S IV.2. 66 . kemudian juga minta petunjuk dari Allah gitu ya. tapi kalau tidak bisa. 250) “saya sendiri tuh tidak seneng merepotkan orang lain” (W I/ S IV. 254-255) Informan menyelesaikan sendiri masalahnya apabila dianggap masih bisa diatasi sendiri Kesimpulan : Informan (E S ) mengatasi sendiri masalah yang menurutnya masih bisa diatasi. lha itu juga saya perlu saran. dipikirkan. Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain “Diselesaikan sendiri” (W I/ S IV. 224) “kalau masalah itu masih bisa saya atasi dengan berbagai pertimbangan ya. saya atasi sendiri. pertimbangan dari orang tua. dari saudara” (W I/ S IV. Berfikir positif tentang kecakapan diri untuk memecahkan masalah.

. ee. terus dampaknya apa itu perlu dipertimbangkan banyak-banyak juga” (W I/ S IV. minta saran. 341-344) Informan terlebih dahulu memikirkan akibat dari tindakan yang dipilihnya Kesimpulan : Informan (E S) memikirkan terlebih dahulu akibat dari tindakan yang dipilihnya. 3.. bagaimana ya nanti minta saran atau pertimbangan itu. Apakah ibu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih “tindakan yang dipilih tuh yang paling baik. jadi untuk pemecahan masalah itu. ya yang terbaik untuk anak” (W I/ S IV. mengambil suatu keputusan itu kan pertimbangkan dulu” (W I/ S IV. 337-339) “kalau begini nanti akhirnya bagaimana. 310-311) “kalau ee. Berfikir sistematis. 304-306) Yang baik untuk anak itu yang bagaimana dengan kondisi saya (W I/ S IV. .2. fleksibilitas. 360-364) Informan mau melibatkan keluarga lain ketika memecahkan masalah 67 . Bagaimana ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain “minta bantuan ya. terutama dari keluarga dulu” (W I/ S IV.

369-373) . nanti kan di sinkronkan dengan saya sendiri ya. begitu.. dengan pemecahan masalah saya sendiri. bukan masalah ekonomi. oo. Aspek Afektif Emosi Bagaimana cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak “Agak susah juga. tapi semuannya itu saya kembalikan. ya nanti diambil keputusan itu” (W I/ S IV. 497-499) Informan agak susah ketika menyesuaikan dirinya pada awal ditinggal suaminya Kesimpulan : Informan (E S ) mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri pada awal ditinggal oleh suaminya. yang penting itu ikhlas” (W I/ S IV. Bagaimana perasaan ibu kalau menghadapi masalah “kalau ada masalah keluarga. 68 . masalah anak itu. mengenai bukan masalah mendidik. pendidikan ya. anak ya.. ini kalau saya masalah keluarga ini ya sedih juga ya. Kesimpulan : Informan (E S) mau untuk melibatkan keluarga lain dalam membantu menyelesaikan masalahnya. itu yang terbaik oo.“bagaimana saran mereka. terutama masalah ini. karena anak saya masih balita Perasaan informan merasa sedih karena tidak bisa memenuhi kasih saying kepada anaknya.

tapi juga untuk kebaikan mereka di akherat” (W I/ S IV. 914-917) Informan berharap agar anaknya dapat menjadi anak yang berguna baik didunia maupun diakherat Kesimpulan : Informan (E S) berharap agar anaknya berguna di dunia dan di akherat 69 . 537-546) Kesimpulan : Informan (E S) merasa sedih karena tidak bisa memberikan kasih sayang yang penuh kepada anaknya Bagaimana perasaan dan harapan ibu pada anak-anak “Sehingga mereka kelak akan menjadi anak yang berguna ya. berguna bukan hanya untuk dunia saja.itu kan memang. perlu masih dalam perkembangan itu kan memang masih banyak kasih sayang” (W I/ S IV.

626-629) “kalau ada masalah yang datang harus sebisa mungkin itu cepat diselesaikan dengan ya dengan entah itu. semakin bertumpuk” (W I/ S IV. 661-662) Informan berusaha langsung sesegera mungkin menyelesaikan masalahnya Kesimpulan : Informan (E S) ingin langsung segera menyelesaikan masalahnya 70 . kalau ada masalah datang tidak di apa ya? Ditunda-tunda gitu” (W I/ S IV.Aspek psikomotor 1. bisa kalau bisa diselesaikan sendiri ya dengan sendiri. kalau tidak ya dengan perlu bantuan orang lain” (W I/ S IV. harus secepat. seketika itu juga harus diselesaikan gitu. Motivasi Bagaimana informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya “secepatnya tuh bisa diselesaikan ya. 634-640) “sebisa mungkin ya. 650-653) “kalau semakin banyak. nanti kalau tidak diselesaikan kan bisa menumpuknumpuk menjadi beban juga malahan” (W I/ S IV.

Apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga Apakah ibu selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluarga “Untuk materi ya memang saya terima” (W I/ S IV. 681) “keluarga dari om saya. jadi meringankan beban ekonomi saya” (W I/ S IV. bersyukur ada yang membantu. ya masalah saran-saran atau pemecahan masalah. 682-683) Kesimpulan : Anggota keluarga informan (E S) ada yang membantu memecahkan masalahnya. ini saya pertimbangkan lagi” (W I/ S IV. 674) “keluarga saya sendiri” membantu menyelesaikan (W I/ S IV. Kepercayaan dan sikap yang tepat Ada anggota keluarga “Keluarga dekat” informan yang lain yang (W I/ S IV. 866-868) Informan mau untuk menerima bantuan materi dari keluarga 71 . sepupu saya” (W I/ S IV. seperti itu karena saya tidak bisa memecahkan sendiri ya ini.2. 800-805) “saya bersyukur. 789) “kalau yang bukan materi. kalau misalnya saya minta saran. “dari keluarga mertua” (W I/ S IV. 679) masalahnya.

72 .Kesimpulan : Informan (E S) mau untuk menerima bantuan materi dari keluarganya .

memakai baju berwarna hitam bermotif bunga-bunga dan memakai rok panjang berwarna abu-abu. 2) Observasi psikologis Pada wawancara berlangsung anak informan menemani jalanya wawancara tetapi kemudian informan meminta izin untuk membawa anaknya dan keluar ruangan kemudian informan tersenyum kepada peneliti. informan menayakan kepada peneliti apakah berpuasa. dan punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. Lima menit kemudian peneliti meminta izin untuk mefotokopi KTP informan dan . Posisi duduk informan tegak dan pandangan mata menghadap peneliti dan kepala informan menoleh ke kiri kea rah peneliti. Kedua tangannya diletakkan di sebalah pahanya. Ketika wawancara selesai. berat badan kurang lebih 45 kg. hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan kepada peneliti dengan suara yang cepat dan terburuburu. muka oval.73 b. Bentuk mata bulat. bibir tipis. Hasil data observasi informan IV 1) Observasi fisik Informan adalah seorang janda yang berkerja sebagai guru disalah satu SMA negeri di kota Surakarta yang berusia 36 tahun. Subjek memiliki tinggi badan kurang lebih 155 cm. Pada saat wawancara berlangsung informan memakai lipstick tipis warna merah mengenakan kerudung warna putih. Ketika informan menceritakan kisah kehidupannya informan menggunakan intonasi suara yang keras. Ketika bertemu dengan peneliti informan tersenyum dan mempersilahkan masuk peneliti. kulit putih. Pada saat wawancara akan berlangsung informan duduk di sebelah kanan peneliti. Subjek terlihat bersemangat ketika diwawancara. hidung mancung.

Di ruangan ini juga terdapat almari di pojok ruang tamu yang digunakan sebagai penyimpan benda pecah belah yang dimiliki keluarga informan. Ruangan itu berdinding tembok berwarna putih. Di dinding ruangan ini juga terpajang dua buah papan tulis berwarna hitam yang dicorat-coret dengan menggunakan kapur dan sebuah jam dinding yang berbentuk kotak yang sudah Kehabisan baterai dan tidak berfungsi lagi yang digantung di atas pintu. dan ada anak-anaknya yang sedang bermain. karena informan tinggal bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain.74 setelah selesai mefotokopi sepuluh menit kemudian peneliti meminta izin untuk pamit pulang karena sudah siang. Saat wawancara berlangsung suasana rumah ramai karena rumahnya terletak hanya 100 meter dari Jalan akses menuju ke bandara. Walaupun suasana di dalam rumah ramai tetapi kondisi ruang tamu tempat dilakukannya wawancara cukup tenang karena luasnya rumah yang ditempati informan. . terdapat satu set kursi tamu model sudut yang tertata memanjang yang terbuat dari busa yang tertutup dengan cover plastik yang berwarna biru. namun suara yang ditimbulkan tersebut tidak menggangu jalannya wawancara. 3) Observasi lingkungan Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran 5 meter x 7 meter.

Sedih c. Berusaha c. Tabulasi Hasil Wawancara Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal. Menyesuaikan diri pada anak b. d. Menyesuaikan diri dengan ikhlas Perasaan ketika menghadapi masalah a. Membantu menmecahkan masalah Penyesuaian diri pada awal ditinggal suami a. Sebagai pertimbangan b. Tabulasi data hasil wawancara Tabel 6. + - + - + - + 6. + - + - + - + 3. Perasaan yang muncul tergantung masalah Informan I + + Informan II + Informan III + Informan IV + 2. Memikirkan akibat selanjutnya d. Pasrah pada Allah c. Uraian Sikap dalam menyelesaikan masalah a. Pasrah dan menyerahkan pada Allah b. + - + - + + - . Biasa saja Cara mengatasi masalah a. Kompromi dengan keluarga b. + - + - + + - 5. Menyesuaikan diri dengan sabar dan berdoa c. No.75 3. Sabar b. Bingung ketika menyesuaikan diri d. Tidak memikirkan b. Meminta petunjuk Allah Memikirkan akibat dari cara mengatasi masalah a. 1. Menentukan orang yang tepat c. Menjalani apa adanya. Dipertimbangkan Peran orang lain dalam mengatasi masalah a. Melibatkan orang lain ketika tidak mampu c. + + - + - + - + 4.

76 7. Menerima b. Kategorisasi diperoleh berdasarkan dari proses pengambilan kesimpulan atau pernyataan yang khusus menuju kesimpulan atau pernyataan yang umum. Kategorisasi Berdasarkan hasil dari analisis data terhadap hasil wawancara dan observasi maka dapat dilakukan pengkategorisasian terhadap bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. Lebih baik dari dirinya b. Segera diselesaikan b. Saudara pihak keluarga suami c. + - + - + + 10. Adapun kategori-kategori tersebut meliputi: . Tidak mengecewakan informan c.(tidak) D. + - + - + - + Keterangan : + (ya) . Belum tentu menerima c. + - + - + + 9. Secepatnya selesai Bantuan dari keluarga dalam mengatasi masalah a. Perasaan dan harapan pada anak a. Menerima dalam bentuk materi + - + - + - + 8. Keluarga dari kedua belah pihak Penerimaan dari bantuan keluarga a. Berguna dunia akherat Motivasi dalam mengatasi masalah a. Harus cepat selesai c. Berprestasi d. Pihak keluarga Informan b.

keluarga mertua (informan 4). b. keluarga dekat (Informan 3 dan 4). Orang lain tersebut antara lain : Ibu (Informan 1). sepupu. Berserah diri Informan 1 pasrah dan berserah diri pada Allah dari semua tindakan yang telah dipilihnya sehingga informan tidak memikirkan akibat selanjutnya yang akan terjadi dan mempunyai keyakinan bahwa dengan pasrah semua masalah akan teratasi dan terselesaikan. Berikut ini adalah kategorisasi dari tipe-tipe pemecahan masalah yang muncul : a. Membutuhkan bantuan orang lain Informan 1.77 1. saudara ipar (Informan 2). . 3 dan 4 mengatakan bahwa untuk meringankan masalah yang dihadapinya (terutama dari sisi ekonomi dan masalah anak) karena status informan sebagai orang tua tunggal maka informan memerlukan orang lain untuk pertimbangan. ataupun hanya sebagai teman bicara dan ngobrol. Pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Keadaan-keadaan yang dihadapi dan muncul dalam kehidupan seharihari informan harus menyebabkan informan mengambil tindakan seorang diri dalam memecahkan masalahnya. pemberian semangat. 2.

d.78 c. e. 2. 3 dan 4 berfikir positif ketika menghadapi masalah yang dihadapinya sehingga informan 1. menjahit konveksi (informan 2). 3 dan 4 mengatakan bahwa sebagai seorang ibu dirinya berharap agar anaknya kelak lebih baik daripada dirinya. Karena status informan sebagai orang tua tunggal maka informan berusaha untuk menambah penghasilan sebagai : Membuka warung kelontong (informan 1). 2. dan 4 mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk menambah pendapatan dan penghasilan keluarga untuk menutup biaya hidup. Karena informan tidak bisa menentukan nasib dan masa depan anaknya kelak dikemudian hari maka informan hanya berharap anaknya : menjadi anak yang soleh dan selehah serta lebih baik dari . 3 dan 4 berusaha sendiri terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalahnya. Berharap Informan 1. Berusaha Informan 1. Menyusun buku materi LKS (informan 4). Berfikir positif Informan 1.

Sehingga akan timbul suatu cara atau sebuah usaha dari diri mereka untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.79 kehidupannya sekarang (Informan 1 dan 4). Berikut ini adalah alasan pemecahan masalah pada informan penelitian dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi : . Alasan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Ibu yang menjadi wanita sebagai orang tua tunggal tidak hanya mempunyai masalah dengan dirinya sendiri tetapi juga dengan orang disekitarnya. berprestasi (Informan 3). (3) Berfikir positif. Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal dapat dikategorisasikan menjadi 5 (lima) bentuk. (4) Berusaha. Dalam pemecahan masalah tersebut individu punya alasan pemecahan masalah tersendiri. Menjadi wanita sebagai orang tua tunggal dapat menjadi sorotan di dalam masyarakat yang dapat menjadi penghalang di dalam perkembangan aktualisasi dirinya. 2. dan (5) Berharap. (2) Berserah diri. yaitu : (1) Membutuhkan bantuan orang lain. sehingga akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. tidak macem-macem dan bisa berkerja (Informan 2). Kondisi ini menyebabkan wanita sebagai orang tua tunggal mengalami tekanan yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri individu.

Gambar 1 Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan I Kenakalan Anak Mengkompromika n dengan pihak keluarga Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya Jika berhasil Selesai Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Pasrah kepada Allah Ekonomi / Finansial Jika berhasil Berwiraswasta dengan membuka toko kelontong jika gagal Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal 80 .

Gambar II Skema alasan dan Faktor pemecahan masalah Informan II Ekonomi / Finansial Bertanya kepada pihak keluarga Membuka usaha jahit baju Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Menjual barang yang dimiliki untuk menutup kebutuhan Pindah ke rumah orang tuanya sendiri Dilaksanakan Jika Berhasil dan Selesai dievaluasi hasilnya Hubungan dengan keluarga suami Jika berhasil Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal Jika gagal 81 .

Gambar III Skema dan Alasan dan Faktor Pmecahan Masalah Informan III Mengasuh anak Meminta bantuan kepada keluarga Dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya Jika Berhasil Selesai Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Meminta bantuan kepada orang lain Ekonomi / Finansial Pekerjaan Berusaha lebih giat dalam bekerja Jika berhasil Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal Jika gagal 82 .

Gambar IV Skema Alasan dan Faktor Pemecahan Masalah Informan IV Ekonomi / Finansial Meminta pertimbangan keluarga terdekat Menjaga perilaku Wanita sebagai Orang Tua tunggal Masalah yang Timbul Penyesuaian diri dengan ststus baru Usaha untuk mengatasi masalah solusi Mencari tambahan penghasilan Dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya Jika Berhasil Selesai Membesarkan anak Masalah Pribadi Jika berhasil Mengikuti Asuransi Pendidikan Jika gagal Mencoba merumuskan kembali pokokpokok permasalahan Jika gagal 83 .

Faktor dalam diri (instrinsik) Adalah faktor pemecahan masalah yang didasarkan atas kemampuan dari dalam diri informan sendiri. Tingkat pendidikan Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa informan yang berpendidikan lebih tinggi (informan 4) yang merupakan lulusan S1 dan berkerja sebagai guru dapat menyelesaikan masalah lebih baik dibandingkan dengan subjek yang lain yang hanya tamatan SMA (informan 1. adapun faktor-faktor tersebut adalah : a. Kematangan usia Kematangan usia dari informan penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini berbeda-beda tetapi dapat dilihat bahwa informan yang tertua usianya (informan 2) lebih matang dalam menyikapi masalah yang dihadapinya dengan lebih tenang dan mencoba untuk menjalani masalahnya apa adannya.84 3. dan 3) b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Wanita sebagai orang tua tunggal dalam menentukan pemecahan masalah yang dipilihnya akan dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor dari dalam diri (intrinsik) dan faktor dari luar (ektrinsik) yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal menggunakan pemecahan masalah tertentu didasarkan atas : 1. 2. .

Faktor dari luar diri (ekstrinsik) Adalah faktor pemecahan masalah yang didasarkan atas kemampuan yang didapat dari luar diri informan seperti orang-orang terdekatnya baik dari suatu proses pembelajaran ataupun pembiasaan.85 2. b. adapun faktor-faktor tersebut adalah : a. Kecakapan diri Pada penelitian ini kecakapan diri semua informan dapat dikatakan baik. hal ini terlihat dari usaha para informan ketika menanyakan langkah yang dipilihnya sebelum akhirnya informan menentukan pemecahan masalah yang dipilihnya. Hubungan sosial Hubungan sosial disini adalah adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga sehingga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. pada penelitian ini informan 1. 2. 3 dan 4 mengkomunikasikan masalah yang memerlukan pertimbangan kepada orang-orang terdekat dan fihak keluarganya. .

1. Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 1 Pada informan 1 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah ketika harus menyesuaikan diri untuk mengatasi masalah kenakalan anak dan memenuhi kebutuhan keuangan keluarga. maka ia berkreatifitas untuk menemukan berbagai alternatif solusi untuk memecahkan masalah. karena kreatifitas merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar. sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah. sebagai wanita dan ibu harus bersikap lembut terhadap anaknya. Pembahasan Berdasarkan hasil data observasi dan wawancara yang telah dilakukan maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal sangat beragam. sebab disini informan akan menduduki dua jabatan sekaligus. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan I. Pembahasan individual pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal a. Dalam pada itu ia akan memiliki dua bentuk sikap. dan sebagai ayah yang bersikap jantan dan bertugas memegang kendali aturan dan tata tertib. serta berperan sebagai penegak keadilan dalam kehidupan rumah tangga (Qaimi 2003). maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. .86 E. Sehingga harus menyesuaikan diri dengan status barunya. 1994).

Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 2 Pada informan 2 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah masalah kebutuhan keuangan keluarga. semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan. dan berusaha menambah penghasilan keluarganya dengan berdagang barang kelontong. masalah pemenuhan kebutuhan keluarga. dkk (2002). lalu kemudian dievaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasiinformasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. b. dan pindah kerumah orang tuanya sendiri dilakukan . ini ia penuhi dengan membuka usaha jahit baju dirumah dan apabila masih kurang untuk menutup kebutuhan keluarganya maka ia pun menjual barang-barang yang ia miliki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Monks.87 Semakin tinggi tingkat kreativitas individu. maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah kebutuhan keuangan yang ia dihadapi. Pihak keluarga dipilih sebagai pertimbangan ketika ia memutuskan sesuatu hal untuk dipecahkan. setelah itu ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka ia memasrahkan kepada Allah. Sehingga ia harus menyesuaikan diri dengan status barunya. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan 2.

dkk (2002). Pihak keluarga dipilih sebagai pertimbangan ketika ia memutuskan sesuatu hal untuk dipecahkan dan dianggap sebagai fihak yang dapat membantu. Monks. dkk (2002). Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 3 Pada informan 3 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan 3 maka informan meminta bantuan pada orang lain dan keluarga Monks.88 oleh informan untuk mengurangi masalah semakin buruknya hubungan dengan keluarga fihak suami. Setelah ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka kemudian mengevaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya. maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. pekerjaan dan pengasuhan anak. karena ketika suaminya masih hidup ia berbagi tugas dengan suaminya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan pengasuhan anak. Sebab disini informan akan menduduki dua jabatan sekaligus. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. Sehingga harus menyesuaikan diri dengan status barunya. c. Adanya suatu . sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah (Qaimi 2003).

Menjaga perilaku ia lakukan untuk menghindari sorotan negatif dimasyarakat. d. Setelah ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka kemudian mengevaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya serta berusaha lebih giat dalam bekerja dan mengasuh anak. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasiinformasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. dan mengikuti asuransi pendidikan untuk . sebagai ibu yang merupakan jabatan alamiah dan sebagai ayah (Qaimi 2003). dkk (2002). maka muncullah berbagai usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi.89 masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasiinformasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. Sehingga harus menyesuaikan diri dengan status barunya. mencari tambahan penghasilan ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. masalah pribadi yang menjadi sorotan di masyarakat dan pengasuhan anak sebab disini informan akan menduduki dua jabatan sekaligus. Pemecahan masalah yang dilakukan pada informan 4 Pada informan 4 masalah pertama yang muncul pada awal masa menjanda adalah masalah keuangan. Monks. dari berbagai masalah yang dihadapi oleh informan 4 maka informan meminta bantuan pada orang lain dan keluarga.

(3) Berfikir positif. (4) Berusaha. Thornton (dalam Shapiro. (2) Berserah diri. 1997) menyimpulkan bahwa pemecahan masalah yang berhasil tidak begitu bergantung pada kecerdasan individu tetapi lebih kepada pengalaman mereka. Bentuk-bentuk pemecahan masalah yang digunakan wanita sebagai orang tua tunggal yang menjadi informan di dalam penelitian ini dikategorisasikan menjadi 5 (lima) bentuk. Setelah ia berusaha dan mencari pertimbangan kepada fihak keluarga maka kemudian mengevaluasi hasilnya apakah sesuai dengan apa yang direncanakannya serta berusaha lebih giat dalam bekerja dan mengasuh anak. dan (5) Berharap.90 menjamin masa depan anaknya kelak apabila terjadi kemungkinan yang paling buruk. walaupun pada dasarnya tujuan pemecahan masalah adalah sama yaitu mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi. 2. Pembahasan umum pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Pemecahan masalah adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh setiap individu untuk berusaha sebisa mungkin menghadapi situasi yang muncul dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan pengalaman masa lalunya. yaitu : (1) Membutuhkan bantuan orang lain. .

Konsentrasi dalam memecahkan masalah mutlak diperlukan. mengatakan bahwa konsentrasi adalah pemusatan segenap kekuatan pada situasi tertentu. Suardiman (1992). . Dalam konsentrasi keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan sehingga tidak diperhitungkan sekedarnya. dan memilih salah satu di antara cara pemecahan masalahnya itu. Monks. dari semua informan memprioritaskan mengenai pemenuhan kebutuhan ekonomi dan biaya pendidikan anak-anaknya. Setelah memahami masalah yang dihadapi informan berusaha menemukan berbagai cara pemecahan. pilihan terbaik menurut dirinya adalah pilihan yang optimal pencapaian tujuannya untuk kemudian dipilih dan dianggap sebagai penyelesaian masalah yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. dkk (2002). ini dapat berarti para informan terlebih dahulu memahami masalah yang harus dihadapinya. dari keempat informan kesemuannya dapat terlebih dahulu memahami masalah yang dihadapinya sehingga dapat menyusun prioritas utama yang harus dipilih. setelah itu informan menentukan pilihan yang terbaik. Adanya suatu masalah yang selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal.91 Persamaan dari keempat informan dalam memecahkan masalah informan mengkomunikasikan masalahnya dengan fihak keluarga.

4. mengingat informan dalam penelitian ini yang hidup di dalam masyarakat maka kemungkinan akan terjadi konflik dengan masyarakat sekitar besar karena menjadi wanita sebagai orang tua tunggal dapat menjadi sorotan di dalam masyarakat yang dapat menjadi penghalang di dalam perkembangan aktualisasi dirinya. 5. (-) tidak 3.92 Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah yang dilakukan wanita sebagai orang tua tunggal dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya adalah sebagai berikut : Tabel 7. Bentuk-bentuk pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal No Kategorisasi bentuk pemecahan masalah Membutuhkan bantuan orang lain. karena menurut SPOTNEWS . Berserah diri Berfikir positif Berusaha Berharap. 3. 2. Proses pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal Ibu yang menjadi wanita sebagai orang tua tunggal tidak hanya mempunyai masalah dengan dirinya sendiri tetapi juga dengan orang disekitarnya. Pemecahan masalah yang berorientasi pada penyesuaian diri √ √ √ √ Pemecahan masalah yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan √ √ Pemecahan masalah yang berorientasi pada hubungan sosial √ √ √ Pemecahan masalah yang berorientasi pada anak √ √ √ √ 1. Keterangan : (√) ya.

2004). Usaha-usaha tersebut disebut pemecahan masalah. Berikut ini adalah faktorfaktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memilih pemecahan masalah tertentu untuk menyelesaikan masalahnya yaitu : a. 3. cantik dan berhasil dari sisi materi. Pemecahan masalah dilakukan untuk mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar dan melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi. Pada informan 1. Tingkat pendidikan Pada penelitian ini informan ke 4 memiliki tingkat pendidikan yang paling tinggi dari keempat informan yang lain. gosip negatif dan sinis akan melingkupi percakapan harian tentang dia di daerah tempat tinggalnya. dan 3 tingkat pendidikan yang ditempuhnya hanya sampai SMA. Kondisi ini menyebabkan wanita sebagai orang tua tunggal mengalami tekanan dari dalam diri maupun dari luar individu sehingga dalam keadaan tersebut akan menimbulkan suatu cara atau usaha untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.93 Ibu Tunggal seringkali tidak dipandang sama dengan keluarga utuh yang lengkap dengan Ayah dan Ibu. 2. sedangkan pada . Faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah Sikap individu dalam memilih menggunakan tipe pemecahan masalah tertentu pasti mempunyai alasan atau latar belakang. Keluarga Ibu tunggal cenderung dipandang prejudice. Menyelesaikan masalah adalah usaha individu untuk memikirkan dan mempertahankan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang mungkin dilakukan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju pada caracara penyelesaian masalah secara langsung. jika ibu tunggal muda. Billing’s dan Moos (Susilowati.

dalam Paryanti 2006). 1991). b. sebab faktor inteligensi dianggap memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan pemecahan masalah (Ester. Individu yang lebih tinggi tingkat intelegensi/pendidikannya akan lebih tinggi kemampuan pemecahan masalah yang dipilihnya daripada individu yang kurang berpendidikan. Kematangan tersebut ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah yang merupakan produk dari kemampuan berpikir yang lebih sempurna yang ditunjang dengan sikap serta pandangan yang rasional (Mappiare. Individu yang telah lebih matang usianya akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada individu yang belum matang usianya. informan yang paling tua usianya yaitu informan 2 berusia 54 tahun dalam menyelesaikan masalahnya menyikapi masalah yang dihadapinya dengan lebih tenang dan mencoba untuk menjalani masalahnya apa adannya hal ini lebih baik dibandingkan tiga informan yang lain. dalam Walgito. sebab sejalan dengan bertambah usia maka individu akan semakin matang dan kemampuan pemecahan masalah akan semakin bertambah. Usia Pada penelitian ini dapat dilihat dari umur keempat informan. Kreativitas Individu yang memiliki kreativitas yang tinggi akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada individu yang . c.94 informan ke 4 sampai pada jenjang pendidikan Strata 1 (S1).

dkk (2002). karena para informan telah terlebih dahulu berusaha untuk memecahkan masalahnya sendirian dahulu sebelum akhirnya jika tidak mampu meminta pertolongan pada orang lain. menjahit konveksi (informan 2). dan 4) memiliki kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah yang tergolong tinggi. Semakin tinggi tingkat kreativitas individu. 2. Kepercayaan diri Individu yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada individu yang kurang memiliki kepercayaan diri yang tinggi sebab menurut Astono (2001) mengungkapkan bahwa tumbuhnya kepercayaan diri akan mendorong dan merangsang individu dalam mencoba dan mencari baru untuk dipecahkan. Lingkungan sosial Individu yang tinggal di dalam lingkungan sosial yang baik akan memiliki dan mengadaptasi cara-cara penyelesaian masalah melalui komunikasi dalam keluarga. menyusun materi buku dan LKS (informan 4). Adanya suatu masalah yang . Monks. d. 1994).95 kurang memiliki kreativitas yang tinggi sebab kreativitas adalah suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan cara baru dalam memandang masalah dan solusinya (Munandar. e. semakin banyak ide atau alternatif yang dia temukan. Pada penelitian ini dapat dilihat kreatifitas informan 1. Pada penelitian ini dapat dilihat semua informan (informan 1. 3. 2 dan 4 untuk menambah pendapatan keluarganya sebagai : menjual barang kelontong (informan 1).

dan (5) Lingkungan sosial. . Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi wanita sebagai orang tua tunggal dalam memecahkan masalahnya ada 5. (2) Usia.96 selalu dikomunikasikan dengan keluarga akan memberikan kesempatan pada individu untuk mendapatkan pengalaman atas informasi-informasi tentang penyelesaian masalah sejak awal. (3) Kreativitas. 3 dan 4 mengkomunikasikan masalah yang memerlukan pertimbangan kepada orangorang terdekat dan fihak keluarganya. Berikut ini disertakan dalam bentuk skema dinamika psikologis pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. (4) Kepercayaan diri. Pada penelitian ini informan 1. 2. yaitu (1) Tingkat pendidikan. Generalisasi dari hasil penelitian diatas terbatas pada informasi dimana penelitian ini dilakukan sehingga penerapan pada ruang lingkup yang lebih luas dengan karakteristik berbeda kiranya perlu dilakukan penelitian lagi karena karakteristik berbeda akan menghasilkan keragaman yang berbeda pula.

Gambar 6 Skema Dinamika Psikologis Pemecahan Masalah Pada Wanita Sebagai Orang Tua Tunggal Wanita sebagai orang tua tunggal Masalah yang muncul Diri Sendiri Lingkungan terdekat Masalah Pribadi Anak dan Keluarga Ekonomi dan Pekerjaan Penyesuaian Diri Usaha Untuk Memecahkan Masalah Mengkomunik asikan dengan keluarga dan orang lain Pasrah pada Allah Berwiraswasta dan menjual barang yang dimiliki Pindah kerumah orang tuanya Berusaha lebih giat Menjaga perilaku Mencari tambahan penghasilan Ikut asuransi 97 .

Karena para informan adalah orang yang tidak ingin menyimpan sesuatu. 2. Informan menjalin hubungan baik dengan keluarga agar tercipta komunikasi yang baik serhingga akan mempengaruhi alasan. untuk menyelesaikan dengan cara yaitu : (a) Membutuhkan orang lain. (d) Berusaha dan (e) Berharap. (c) Berfikir positif. (b) Berserah diri. 98 . dan pemecahan masalah yang dipilih para informan didalam keluarganya. Para informan memasrahkan semua masalah yang dihadapi dan akibat dari tindakan yang nantinya ditimbulkan kepada Allah. ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini. Alasan melatar belakangi pemecahan masalah yang dipilih para informan adalah ketika ada masalah harus segera diselesaikan oleh informan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. yaitu : 1. faktor.BAB V PENUTUP A. para informan berusaha mengkompromikan masalah yang dihadapinya kepada keluarga dekatnya karena takut dianggap sebagai orang yang kuat.

(c) Kreatifitas. pilihan terbaik menurut dirinya adalah pilihan yang optimal pencapaian tujuannya untuk kemudian dipilih dan dianggap sebagai penyelesaian masalah yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Faktor-faktor yang mempengaruhi para informan dalam memilih pemecahan masalah tersebut adalah : (a) Tingkat pendidikan. Dari keempat informan penelitian terdapat persamaan alasan. dari keempat informan kesemuannya dapat terlebih dahulu memahami masalah yang dihadapinya sehingga dapat menyusun prioritas utama yang harus dipilih. setelah itu informan menentukan pilihan yang terbaik. Persamaan dari keempat informan penelitian adalah didalam memecahkan masalah informan memahami masalah.3. Didalam menentukan dan memilih penyelesaian masalah yang dihadapi para informan terlebih dahulu harus dapat menguji cara penyelesaian 99 . (b) Usia. dan (e) Lingkungan sosial. ini dapat berarti para informan terlebih dahulu memahami masalah yang harus dihadapinya. dan faktor pemecahan masalah. 4. dari semua informan memprioritaskan mengenai pemenuhan kebutuhan ekonomi dan biaya pendidikan anak-anaknya. Setelah memahami masalah yang dihadapi informan berusaha menemukan berbagai cara pemecahan. dan memilih salah satu di antara cara pemecahan masalahnya itu. (d) Kepercayaan diri.

2. 100 . setelah semuanya dilakukan oleh informan selanjutnya informan mengawasi pelaksanaan keputusan yang telah dipilihnya untuk mengantisipasi berbagai perubahan yang mungkin terjadi pada saat keputusan itu terjadi pada saat keputusan itu tersebut dilaksanakan oleh para informan. B. dan kesimpulan ada beberapa saran yang penulis sampaikan : 1. faktor. dan pemecahan masalah yang dipilih para informan didalam keluarganya.masalahnya untuk mengetahui dan menghitung konsekuensi pilihan yang dipilih. uang makan dan sebagainya (informan 1. 2. maka untuk menjaga komunikasi agar tetap terjaga diharapkan untuk tetap menjaga hubungan baik yang telah terjalin dengan para keluarga dekat atau orang yang dianggap dapat membantu memecahkan masalahnya (informan 1. Saran Berdasarkan hasil penelitian. Kepada Informan penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa pentingnya komunikasi yang dilakukan akan mempengaruhi alasan. 3 dan 4). analisis. 3 dan 4). serta tetap dapat menerima saran dan masukan dari orang lain tersebut guna membantu tercukupinya kebutuhan pokok seperti uang sekolah.

3. dan 4). dan 4). 2. 2. dan 3) dan memberikan hadiah atau bonus bagi anak yang mendapat nilai tertinggi dalam nilai prestasi akademik agar anak lebih termotivasi di dalam belajar (Informan 1. dan 4). Meningkatkan keahlian dan keterampilan kerja melalui pendidikan pelatihan kerja dapat digunakan untuk mendapatkan peluang penghasilan tambahan. Kepada anak Bagi anak. dan 3). serta mempertahankan sikap memahami. diharapkan dapat agar lebih memahami dan menerima secara positif dari pilihan hidup yang dipilih oleh orang tuanya (informan 1. dan 4) 101 . 2. 2. 3. 3. sehingga mampu memberikan semangat hidup kepada orang tuanya agar memiliki harapan dan cita-cita yang tinggi kepada anak (informan 1. membantu dan mendorong semangat orang tuanya (informan 1. serta meningkatkan kemampuan kognitif melalui kerjasama dengan semua keluarga ataupun orang terdekat untuk membantu memecahkan masalahmasalah yang dihadapi (informan 1.Mengikut sertakan dirinya dalam jasa asuransi jiwa untuk memberikan jaminan rasa tenang kepada anak-anaknya (informan 1. Sehingga diharapkan informan penelitian lebih teratur untuk mendapatkan pemasukan untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya (informan 2). 2. dan 2) dengan cara tetap menciptakan suasana rumah yang nyaman dan kondusif (informan 3.

Kepada peneliti selanjutnya Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas penelitian lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan pilihan hidup yang dipilih wanita sebagai orang tua tunggal dan juga dapat dimanfaatkan sebagai tambahan informasi bagi para peneliti selanjutnya dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang belum diungkap dalam penelitian ini agar dapat lebih mengungkap secara lebih mendalam sehingga kesimpulan yang diperoleh lebih aplikatif. karena tidak semua wanita yang menjanda akan berperilaku negatif.3. Kepada masyarakat Untuk keluarga dan masyarakat pada umumnya hendaknya membantu wanita sebagai orang tua tunggal ketika menghadapi kesulitan dan tidak menganggap negatif pilihan hidup wanita sebagai orang tua tunggal. 4. . 102 . sehingga dapat mengurangi gossip-gossip negatif yang muncul dan akan mengganggu aktualisasi diri para wanita sebagai orang tua tunggal di dalam kehidupan bermasyarakat.

1 (6-9). Jakarta. Zakaria.M. Monks. Gunung Mulia. 1992. D. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Ibrahim. R. Bandung: Pustaka Hidayah Khoiriyah. Maskulin dan Feminim: Perbedaan Pria dan Wanita Dalam Masa Depan. Edisi 1 Cetakan ke-7. Kamus Lengkap Psikologi (alih bahasa: Kartono. Gunarsa. B. C. Ohio: South Western Publishing Co.103 DAFTAR PUSTAKA Astono. 2002. Chaplin. Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif. Jakarta: Rineka Cipta. 2437/VII-Maret. No. Cincinnati. 2005 Gambaran konflik dan reaksi emosi isteri tahanan dalam menjalankan peran gandannya di keluarga. 2005. Jakarta: PT Tempo Inti Media Harian.M. K). 1997. Koran Tempo. Psikologi Perkembangan. Jurus jitu perempuan tangguh. Knoers. F. Creative thinking in the decision and management sciences. September 2001. Grafindo Persada. Surakarta: Fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta.. R. J.P. Jakarta: BPK. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Dagun. 2008. 2001. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. A.P. . Evans. (1991). Psikologi Wanita. S. Jakarta..J. Cet. Kompas: Kumpulan Artikel.

Sukoharjo: Penerbit Ibnu Katsir.4-juni.Haruskah kita berpisah?. J.104 Monica. Jakarta: Grafindo. U.1995. M. ( terjemahan: Elly. Second Edition. 1992. Panjaitan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Moleong. Jakarta: EGC. Bandung : Indonesia Publishing House. Nasution. Nikah. C. 1998. Narbuko. Bandung : Tarsito. New York: Oxford University Press. C. A. Nikah. ELL. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. 1999. Myers. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. Jakarta : Bumi Aksara. Metodologi Penelitian. 1997. Saat anak jadi rebutan. Social Psychology. 2005. Surakarta: Fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta. 2006. 2007. S. Perbedaan kemampuan Problem Solving antara anak yang mengikuti dan tidak mengikuti pendidikan mental aritmatika. L.D. No. G. Skripsi (Tidak Diterbitkan). 2001.5 Vol. No.6-juni. Bandung : Remaja Rosdakarya. dkk).3 Vol. dan Achmadi. . Tetap Bugar Sampai Tua. Munandar. Kreativitas Keterbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi dan Bakat. 1993. Paryanti. Sukoharjo: Penerbit Ibnu Katsir.

Edisi Revisi. Indonesia Kini Bisa Dijuluki “Negeri Janda”. 2005. Kemampuan pemecahan Masalah Ditinjau dari Self Efficacy dan Peran Jenis Kelamin. B. 2002.105 Puspitadewi. A. Single Parent: Peran ganda ibu dalam mendidik anak. 2005. Psikologi Kognitif edisi revisi. / hqweb/pikas/2002/straight 050508. 2003. Walgito. Shapiro. Suryabrata. D. A. 1992. Surabaya: Srikandi. MJ. Gramedia Pustaka Utama. go. 1992. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Santoso. Rakhmat. Komunikasi dan Perubahan Mental. Bandung: CV.). Id. Makalah. Qaimi. 2004. Surakarta: Fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta. Psikologi Komunikasi. B. Jakarta : Rajawali. Dipresentasikan 18 Mei 2004. Susilowati. (penerjemah. Psikologi Sosial. A. DJ. L. Metodologi Penelitian. Thailand. Bafaqih). Unjustice Gender of Moslem Family in Surakarta . S. htm. 1997. (terjemahan: Kantjono. Yogyakarta: Andi Offsett. Suardiman. Remaja Rosdakarya. Yogjakarta: Studing. Suharnan. 1991. Wong Sanit Ashram Bangkok. 2001. Wibowo. E. Skripsi (Tidak Diterbitkan). S. Menikah kembali di usia lanjut. Surakarta: Fakultas Psikologi UMS. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta: PT. bkbn. Cetakan-I. Bogor: Penerbit cahaya. T. diperoleh dari www. .T.

Mengembangkan Kepribadian & Kecerdasan Anak-Anak (Psikologi Pembelajaran I).. www. A.E.M. (terjemahan: Anam.singleparents..spotnews. Ilmu Perilaku.R. 2004. Nicolicch. Woolfolk.K). T.20/05/08) .com/artikel. 1999. Jakarta: CV.htm. L. Jakarta: Inisiasi Press.106 Widayatun. M. Sagung Seto.

LAMPIRAN A Verbatim Wawancara .

I : Untuk membantu masalah Analisis 5 10 Informan memiliki banyak permasalahan ketika membesarkan anak seorang diri.107 Verbatim Wawancara Informan 1 Kode : W1/S1 Nama : Ibu M Usia : 47 tahun Pekerjaan : Janda pensiunan TNI/POLRI Pendidikan terakhir : SMA Usia anak : 15 Tahun (Remaja) Hari/tanggal wawancara : Selasa. terus? I : Dan untuk mengatasi kenakalan anak P : Ooo. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Pagi bu? I : Pagi P : Eh bu. . seperti halnya cara usaha wiraswasta misalnya.25 – 09. P : Emm. terutama masalah ekonomi... penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha. lalu? I : Yaa itulah.40 WIB (15 Menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. selama ibu membesarkan anak seorang diri ini apakah banyak masalah yang terjadi bu? I : Banyak.. Waktu : 09. kalo boleh tau ya. P : Terus? Berusaha seperti apa? I : Misalnya. Masalah yang dihadapi informan terutama masalah ekonomi dan masalah kenakalan anak. P : Seperti apa misalnya? I : Ya. seperti usaha dengan kemampuan saya yang saya miliki ee. P : Ee. 9 September 2008 Tempat : Kompleks rumah dinas aspol Manahan... 15 20 25 Informan menyikapinnya dan menyelesaikan masalah yang dihadapi penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha dengan kemampuannya seperti halnya usaha wiraswasta. terus bagaimana ibu menyikapinnya dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dari segi ekonomi dan kenakalan anak seperti yang ibu utarakan tadi? I : Yaa. P : Ooo. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal.

he’eh. . karena yang tidak hanya mengatasi anak saja karena waktu itu ya adik.108 30 35 40 45 50 55 60 65 70 ekonominnya P : Ee. ekonomi yang pertama. kalau saya tidak mengutarakan kepada fihak keluarga nanti karena seseorang itu akan menilai. seperti? I : Seperti halnya ya masalah ekonomi itu dengan. apakah ibu pernah mengalami masalah yang dirasa sangat berat? I : Iya. bu.. lantas bagaimana? Apakah ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? I : Kalau masih dalam masalah pendidikan. Informan takut dikira sebagai seorang yang kuat. seperti halnya ya masalah ekonomi dan perkembangan anak-anak untuk menuju masa depannya Informan masih bisa mengatasi sendiri permasalahannya yang menyangkut pendidikan... tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan informan mengkompromikan dengan keluarganya. terus kalau ada suatu masalah dalam keluarga nggih.. P : Ee. P : Eee.. Karena informan harus menyikapi sebagai ibu dan peran sebagai ayah. tapi saya hal tersebut kan sudah saya sampaikan. Selain pensiunan yang diterima bapak.... dah lama ya. berarti harus ada komunikasi? I : Iya. antar komunikasi keluarga P : Eee. ee. I : Iya... ee. ibu itu Informan pernah mengalami masalah yang dirasa sangat berat. P : Eee.. P : Ee. kalau masalah lain dari pendidikan mengapa harus melibatkan orang lain. P : Masa depan disini. andaikata itu respon untuk keluarga bagaimana terserah. pernah! P : Kapan bu? I : Yaa.. saya harus bener-bener harus menyikapi sebagai ibu ya peran sebagai ayah.. wah dikiranya saya seorang diri yang kuat atau bagaimana gitu. selain pendidikan? I : Ya karena saya berpendapat. tapi kalau sudah melibatkan menuju kemasa depan saya kompromikan dengan keluarga. ya keponakan ada disini jadi ee. terus. yang kedua yaitu ke perkembangan anak-anak untuk menuju masa depannya. saat. maksudnya? I : Maksud saya ya untuk mencari pekerjaan atau… P : Pekerjaan. insya allah saya masih bisa mengatasi sendiri.

kalau dalam masalah keluarga ya tidak masalah. Informan tidak memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang informan pilih karena informan telah pasrah. Yang masalah persoalan di dalam saya sebagai single parent. mau memasuki perguruan tinggi karena menentukan nasibnya untuk . untuk masa depan anak ya itulah yang sangat berat Tindakan yang dipilih informan adalah yang terbaik dan yang menuju kepositifan untuk anak. kalau boleh tahu ni seberapa besar peran ibu dalam mengatasi masalah dalam keluarga ibu? Maksudnya yang besar ya? Hemm. yang sudah saya pikirkan itu. saya lakukan sudah saya pikirkan jernih.. menentukan apa itu.. apa istilahnya nggak memikirkan akibat selanjudnya tuh? Tidak.... He’eh pasrah. apakah ibu itu selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu pilih tadi.. Emm. belum. tindakan yang dipilih ibu itu bagaimana? Ya yang terbaik. umpamanya anak itu sekolah memilih ini tapi saya arahkan. ibu lakukan? Insya allah. Ooo. Tapi saya arahkan. Emm. kalau nggak perlu ya nggak. ee. ibu nggak. terlebih kalau sudah anak menginjak dewasa. ya menuju kepositifan. Ee terus bu. terus kalau ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain apakah ibu bagaimana? Melibatkan. Ketika informan menghadapi masalah dan melibatkan orang lain informan mengkomunikasikan dengan keluarganya dan konsultasikan. Yang terbaik seperti? Eee. Informan berperan besar dalam mengatasi masalah dalam keluarga. untuk anak. dengan bening insya allah tidak Jadi. saya pasrah Pasrah? Jadi intinya pasrah pada Allah.. tapi kalau masalah yang perlu dikomunikasikan sama keluarga ya saya konsultasikan. nggak saya konsultasikan sama keluarga..109 75 I : P : I : 80 P : I : P : 85 I 90 : P : 95 I P I P : : : : 100 I : 105 P : I : P : 110 I : P : I : 115 menentukan tindakan sing. Berarti intinnya menjadi masalah ibu Iya. masalah yang besar sekali itu kalau sudah anak menginjak dewasa. pekerjaan terserah. kalau tidak ya tidak dikonsultasikan. dalam. Maksudnya? Maksudnya ya.

. mengapa menurut ibu sangat berat? I : Ya karena menentukan nasibnya untuk selamannya. sama sekali P : Tidak ingin mencoba untuk piknik lagi?. bingung atau apa? I : Kalau bingung tuh nggak mas. P : Setelah ditinggal ayah. yang biasa dilakukan oleh suami itu seperti apa? I : Sok kadang-kadang.. itulah.. seperti marah. Informan sebelumnya tidak pernah membayangkan kehidupan yang dialaminya seperti sekarang. na itu khan harus saya lakukan. hanya menyerahkan sama allah P : Terus pasrah nggih.. cuma apa sok kadang-kadang kesulitan yang tidak bisa teratasi untuk dirinya. eh bu. ya kalau boleh tahu. iya maksudnya kalau sudah keluar dari sekolah. mau memasuki perguruan tinggi. menyesuaikan terhadap anakanak itu karena yang biasannya dilakukan oleh suami otomatis saya lakukan.110 120 125 130 135 140 145 150 155 160 165 P : Seperti sekolah gitu? I : Iya. apakah ibu tuh sebelumnya pernah membayangkan kehidupan yang ibu alami seperti sekarang ini? I : Tidak pernah P : Tidak pernah ya? terus bagaimana perasaan ibu dan cara ibu menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh bapak? I : Pertama. Perasaan informan kalau menghadapi masalah dalam keluarga hanya . pasrah? selamannya. P : Awal dari masa depannya? I : Iya. eh berapa minggu sekali atau berapa bulan sekali anak diajak rekreasi atau pas minta. P : Eee. mohon maaf lagi kalau perasaan ibu kalau menghadapi masalah itu bagaimana bu? Menghadapi masalah dengan keluarga. anak sok memohon eh untuk diajari belajar bersama ayahnya. kita harus bersikap sabar P : Eee. atau anak itu mau kemana itu nanti sangat berat P : Ee. masih sering melakukan piknik.. rekreasi bersama? I : Tidak pernah. Perasaan informan dan cara informan menyesuaikan diri pada masa awal ditinggal oleh suami adalah dengan menyesuaikan terhadap anak-anak dan bersikap sabar. ee terus ya.

jadi masih sering berkomunikasi dengan keluarga bapak? I : Setelah anak-anak menjelang dewasa tuh jarang.. paling kalau kita pas silahturahmi P : Momentum lebaran mungkin? I : Iya P : Jadi intensitasnya lebih banyak ke keluarga ibu sendiri? I : Iya. kalau dari keluarga bapak? I : Ya. Yang membantu menyelesaikan masalah informan ketika ada masalah dalam keluarga adalah dari fihak keluargannya. P : Heem. P : Jadi langsung seketika itu juga? I : Iya P : Terus. nuwun sewu nggih bu. Informan tidak pernah meminta bantuan orang lain. mungkin ya saya tidak pernah menghilangkan. ya itu saya tidak memandang bantuan itu berupa apa. termasuk ibu saya P : Apakah ibu tuh selalu menerima bantuan yang diberikan dari keluargannya ibu? I : Yaa saya tidak pernah meminta ya cuma mungkin karena kegiatan saya itu tuh hanya pengajian dan tahu posisi anak saya tuh kan bener-benar anak yatim. P : Ee. mungkin kalau ketemu ya. otomatis segera selesai besuk sudah ganti persoalan lagi. ee apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarga ibu? bu I : Saya kalau ada masalah. termasuk ibu dari informan. terutama dari fihak keluarga saya. ee. saya ingin karena saya anu tipe orangnya tuh tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan.. Informan langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi oleh keluarganya karena informan tipe orang yang tidak ingin menyimpan sesuatu hal yang dibohongi ataupun suatu persoalan yang tidak harus diselesaikan. nuwun sewu malih apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah dalam keluarga ibu? I : Ya. atau jumlah nilainya saya tidak pernah menilai seukuran banyaknnya tapi yang saya ukur itu adalah pengertian menyerahkan sama allah dan yakin Allah itu akan memberi jalan keluar. segera diselesaikan.111 170 175 180 185 190 195 200 205 210 I : Saya yakin Allah itu akan memberi jalan keluar P : Eee. ...

sangat-sangat menghargai dengan pengertian beliaubeliau tersebut. karena semua itu yang memberikan dan yang menglantari tuh semua Allah. anu hambannya tuh sebagai lantaran. jadi ibu mempercayai yang memberikan bantuan kepada ibu? Saya yakin... saya sangat menghargai. ee.(mempersilahkan orang yang datang untuk masuk kerumahnya) Karena informan itu menganggap rejeki. Kalau dari keluarga saya ya mungkin wong namanya dari fihak keluarga saya tahu kesulitan yang sebenarnya.. Emm… Pinarak sik. apa gitu.112 215 220 P : I : 225 P : 230 I : P : I : P : I : P : 240 I : 235 245 250 P : I : 255 P : I : mungkin tidak seberapa kalau diukur nilai.. saya ucapkan terimakasih kepada Allah baru saya ucapkan kepada mereka. saya pertama kali saya mengucapkan ee. kita sesama hanya lantaran... gitu Walaupun itu hanya mungkin dari kedekatan saya. He’em. cuma mer. semua datangnya dari Allah. Eee. Apabila ibu tuh menerima bantuannya itu namannya bantuan tuh bagaimana ibu apa mempercayai dan menyikapi bantuan dari orang lain tuh lho bu. dari pergaulan seharihari untuk pengajian.. mungkin rejeki anak saya tapi lewat mereka Ooo. berterimakasih pada Allah.. yaa hanya itu.. terus apabila nuwun sewu nggih. keluarga lain walaupun bantuan sekecil apapun ibu tetap menerimannya. Karena itu rejeki. Jadi intinya mau menerima bantuan dari orang lain... Yaa. ee. . apa itu bantuannya itu tidak seberapa kalau diukur dengan kebutuhan istilahnya sehari-hari.. gitu Saya berpendapat begitu mas Emm. dan mungkin rejeki anaknya tetapi lewat orang lain maka informan menerima bantuannya Informan mempercayai dan menyikapi bantuan dari orang lain karena informan yakin semua datangnya dari Allah. beliau Emm.

dunia sampai akherat. P : Terus lainnya selain posisi yang seperti ibu? I : Yaa. saya terhadap diri saya lebih baik dari pada hari ini.. ee. pokoknya terutama pada posisi yang seperti sayasaya ini. itu yang pertama kali. anu mendekatkan dirilah pada yang diatas P : Yaa.. dunia sampai ke akherat P : Sukses dunia akherat? I : Yaa. bakti pada kepada orang tuannya. Harapan informan kedepannya adalah lebih baik dari pada sekarang anak-anaknya lebih baik daripada darinya. dan semoga anak-anaknya menjadi anak yang betulbetul soleh dan solehah.. dan untuk anakanak saya semoga anak-anak saya menjadi anak yang betul-betul soleh dan solehah. anak nya menjadi anak yang sholeh? I : Sholeh dan sholehah. makasih ya bu atas waktunnya.113 260 265 270 275 280 285 290 295 300 P : Terus. dunia sampai akherat itu yang saya harapkan. yaa itu saja? I : Iya P : Eee. nuwun sewu nggih.. itu saya yakin semua sudah diajaran semua sudah diterapkan.. apa harapane ibu anu kedepane. terutama kepada orang yang seperti dirinya serta mendekatkan diri pada yang diatas. Informan ingin membantu. kalau sumpama harapan ibu mengenai anak itu sudah tercapai tuh apakah ada harapan yang lain bu? I : Harapan saya apabila Allah tuh masih memberikan umur panjang yang berkah barokah. . P : Jadi harapan ibu. hanya itu harapan saya P : Ada harapan lain? I : Yaa. bukan apa-apa.. yang namannya soleh dan solehah tuh akan menyangkut keseluruhannya. P : Eee. itu karena itu akan. dan saya mengharap untuk anak-anak saya lebih baik daripada dari saya. setelah dengan kondisi apa I : Yang pertama. dengan kesehatan yang berkah dan barokah juga saya ingin pokoknya ingin membantu.. otomatis kalau anak yang soleh dan solehah itu akan mengerti lingkup dan lingkungan baik dilingkungan luar maupun lingkungan keluarga. bakti pada kepada orang tuannya.

. kita saling mengisi. I : Nggak apa-apa. ..114 305 maaf kalau mengganggu yaa.. saling membantu P : Maksih bu. I : Yaa.

30-13.. gitu karena bukan rumah sendiri saat itu. tetapi numpang dirumah mertua. Trus saya pindah dirumah sendiri. selain.. apa masalah ekonomi terutama.... selain ekonomi dan keluarga tuh yang menurut ibu yang menjadi suatu masalah itu apa bu? Analisis 5 10 I : 15 P : I : 20 P : I : P : 25 Selama informan menjadi orang tua yang membesarkan anak seorang diri banyak masalah yang terjadi terutama masalah ekonomi. P : Pewawancara I : Informan Baris P I P I P : : : : : Uraian Interview Siang bu Selamat siang Bisa ganggu sebentar? Oo ya nggak pa pa Eh. saya sendiri numpang dirumah mertua. pertama ya itu saja Emm. bu. Informan menyikapi masalah hubungan dengan keluarga suami dengan cara pindah kerumah orang tuanya sendiri. 9 September 2008 Tempat : Rumah orang tua ibu Y Waktu : 12. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. sok-sok ndak cocok. trus? Ya. kalau boleh tahu yaa. eh anak-anak nggak nakal. selama ibu tuh menjadi seorang orang tua yang membesarkan anak seorang diri tuh apakah banyak masalah yang terjadi bu? Iya. Emm. ya masalah sama keluarga tuh sok-sok nggak cocok trus keluargane suami Oh. anak-anak masih kecil. masalah kenakalan.00 WIB (30 Menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. ...115 Verbatim Wawancara Informan 2 Kode : W1/S2 Nama : Ibu Y Usia : 54 tahun Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan terakhir : SMA Usia anak : 22 Tahun (Dewasa awal) Hari/tanggal wawancara : Selasa. kalau keluar tuh sok-sok ndak boleh. masalah keluarganya sendiri dan keluarga dari fihak suami karena bukan tinggal dirumahnya sendiri. masalahnya yaa. ee.

tapi kan harus pisah tuh kita ndak. apakah ibu tuh pernah mengalami Informan mengurus dan membesarkan anakanaknya sendiri karena takut dan kasihan apabila anaknya ikut dengan orang lain. P : Ndak sukanya? I : Ndak sukanya. trus bagaimana ibu cara menyikapi dan menyelesaikan suatu permasalahan itu bu? I : Ya. P : Maksudte yang enak atau nggak enak tuh? Enak nggak enak? I : Enak nggak enak ya pamane. sok yo ikut orang jahit diluar. keluar gitu P : Terus? I : Kalau ndak keluar ya sok-sok jahitan bawa pulang. kalau ndak kerja otomatis ndak punya uang karena anak-anak belum bisa apa-apa P : Itu dulu yaa?. saya ndak mau kalau anak-anak ikut orang lain. umpamane kita mesti kekurangan P : Emm. tapi saya ndak boleh P : Ibu sayang ya? I : Ya mesti.. yang penting bisa menyukupi kebutuhan untuk anakanak dan bisa bekerja. ya apa saja. nek pisah itu nanti kasihan anak-anak.. ya di pikir dengan. . takut. tak ada ya karena anak-anak kita sendiri. kita bisa menyukupi kebutuhan untuk anakanak. dibesarkan sendiri. eh trus kalau boleh tahu ya. ndak usah mikir yang lain-lain lah pokoknya.116 30 35 40 45 50 55 60 65 70 I : Yaa. jadi? I : Nek orang lain kita kan ndak liat. P : Kenapa takut bu? I : Yaa. tapi nek anak-anak ikut orang lain kan kita memang diringankan bebannya. nek nggak kerja kita ndak bisa makan. jalani apa adannya. Ketika ada permasalahan informan menyikapinya dengan memikirkan sendiri. hee. gimana ya. P : Ooo. menjalani apa adannya. gitu aja P : Maksudnya? I : Yaa.. ndak anu ada yang mau minta. bisa bekerja.. I : Trus kita. ya ndak liat og.. ya enak atau nggak enak kita harus menghadapi sendiri. ya harus diurus sendiri.. pastinya P : Trus kalau ada masalah yang itu menurut ibu tadi berat itu. pikir sendiri. anu ndak suka lah.. dan tidak mikir yang lain-lain.

Informan menganggap sebab permasalahnya biasa saja karena tempat tinggalnya sudah tidak menyewa. Ketika informan menghadapi permasalahan yang terlalu berat. kalau ndak tersedia kan kita harus membayar kontrakan. Keluarga dari? Keluarga dari saya sendiri.117 75 I : 80 P : 85 I : P : I : P : 90 I : 95 100 105 P : I : P : I : P : 110 I : P : 115 I : masalah yang merasa ibu sangat berat untuk menyelesaikannya bu? Saya kira yaa. tetapi itu bukan rumahnya sendiri.. tidak mengontrak sehingga tidak begitu pusing karena tempat tinggal sudah tersedia walaupun bukan rumah sendiri dan tinggal bersama-sama keluarga yang lain. saya ya melibatkan pada orang lain. terus kalau apa tuh biasannya ya masalah tuh disebabkan oleh apa? Selain anak-anak. ndak ya. bisa ikut orang tuane bapaknya. bertanyatanya bagaimana ni jalannya keluar Informan belum dan tidak pernah mengalami masalah yang dirasa informan sangat berat. sakit. ia . Eee. Jadi ibu tuh lebih cenderung untuk tinggal di keluarga ibu sendiri Iya. ndak terlalu memikirkan banget-banget lah. Daripada dirumah bapak? Emm. Kalau boleh tahu yang menjadikan semangat ibu tuh apa? Ya membesarkan anak-anak Jadi semangat ibu tuh dari anak-anak itu? Iya. keluarga. tapi nek dipikir. tidak mengontrak. atau membayar sewa rumah tuh lebih berat lagi. bisa orang tua saya sendiri.. biasanya gitu. karena tempat tinggal kami tidak menyewa. jadinya ndak begitu pusing karena tempat tinggal sudah tersedia... ekonomi Ya yang lain tuh tidak ah. disana ya keluargannya bapake tuh Jadi bu? Bukan rumah sendiri. Informan mengatakan walaupun tidak menyewa. termasuk agak lumayan lah ada rumah sendiri walaupun bersama-sama keluarga yang lain. lama-lama dipikir kita harus menghidupi anak-anak jadinya kita harus semangat lah jangan sampai nlokro. pusing gitu.. terus eh apakah ibu tuh berusaha mengatasi masalah yang ibu hadapi tuh seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? Ya nek terlalu berat. kalau dipikirkan banget-banget kan kita bisa sakit lah.

Emm. jadi untuk? Hari-harinya.. . terutama tuh lho ekonomi lah yang membuat berat seorang diri. Ketika mementukan tindakan yang dipilihnya informan tidak minta pertimbangan orang lain.. bagaimana itu ibu menentukan tindakan yang ibu pilih? Ooo.. Nggak selalu. Informan tidak selalu melibatkan orang lain membantu memecahkan masalahnya. Kalau boleh tahu tuh yang sering membantu? Yang sering membantu? Siapa? Saudara-saudara dari ipar-ipar saya Emm. Emm. mencukupi ekonomi. sok ya dikasih ama saudara. Yang berat tuh masalah ekonomi ya. saya pilih ya. nggak selalu... Gitu. bertanya-tanya bagaimana jalan keluarnya terutama kesulitan dalam keuangan. melibatkan orang lain. Emm. kami yo sok pinjem kesana-kemari. He’eh. jual apa yang kita punya. karena kalau bisa diatasi sendiri informan mengatasinya sendiri. saya aku jual. Saudarane bapake itu dan saya sendiri ya berusaha untuk mendapat sendiri. saya harus mempunyai sikap sendiri. terutama tuh pastinya karena saya tidak bisa anu berbuat lebih banyak untuk mendapatkan uang itu. Yang sering membantu informan memecahkan masalahnya adalah saudara-saudara dari ipariparnya. kesulitan apa saja ya kesulitan ya terutama kesulitan keuangan. ketika ada suatu masalah dalam keluarga ya. waktu masih anak-anak masih sekolah Ibu. berarti selalu apa melibatkan orang lain? Ooo..118 120 125 130 P : I : P : I P I P I : : : : : 135 140 P : I : P : I : P : I : 145 150 P : I : P : 155 I : P : 160 I : P : kalau saya menerima kesulitan. keluarga dari fihak suaminya. ya itu pokoke yang saya punya. saya tidak minta pertimbangan orang lain. kenapa? Saya kalau bisa sendiri saya atasi sendiri.. untuk mendapatkan itu. saya ndak libatkan orang lain Lalu kalau setelah apa yang dijual nggak ada baru meminta tolong orang lain? Iya Kalau boleh tahu lagi ya bu..

I : Maju didepan sekolahan. disekolahan sendiri nggak pernah melibatkan orang lain. P : Jadi ibu tuh yang menentukan tindakan I : Iya saya sendiri P : Kalau ee. Informan memikirkan akibat dari tindakannya untuk kebaikan anakanaknya. atau ikut tes-tes testing itu lha saya kan harus maju sendiri agar saya dapat dipensasi oleh kepala sekolah gitu khan saya harus maju sendiri untuk keringanan-keringanan. Informan sudah memikirkan sebelumnya segala akibat dari tindakan yang diambilnya. nek nyicil kan ora iso anu ikut ujian. kalau saya kan sudah terpikir sebelumnya saya harus bertindak begini. kalau atau misalnya anak-anak tiga bulan nggak mbayar sekolahnya. apakah ibu apa. dimana-mana pun saya sendiri P : Jadi ibu selalu memikirkan akibatnya I : Akibatnya sudah saya pikirkan P : Emm. kalau haruslah. tapi harus tepat kalau nggak tepat saya akan sakit hati. masalah ekonomi. Sikap informan ketika masalah tersebut harus melibatkan orang lain adalah memilih orang . P : Tepat? karena informan mempunyai sikap sendiri dan nggak pernah melibatkan orang lain. saya sendiri P : Emm.119 165 170 175 180 185 190 195 200 205 210 I : Apapun juga. minta tolong atau bagaimana gitu? I : Oh kalau kepepet sekali. masalah sekolah-sekolah. masalah apapun juga. kalau ibu bertindak begini.. meringankan diri saya P : Berarti? I : Tidak melibatkan orang. apakah ibu tuh selalu memikirkan akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu lakukan itu? I : Ooo. pokoknya harus istilahe saya tidak isa menyelesaikan ya saya lari kemanakah yang saya tuju.. jadi dah mentok gitu perlu minta bantuan orang lain tuh. SPP trus kita kan berusaha nyicil. itulah. saya pun kemana-mana maju sendiri... pasti akhirnya begini? I : He’eh untuk kebaikan-kebaikan anakanak P : Trus bagaimana sikap ibu ketika masalah tersebut itu harus melibatkan orang lain.

. jadi menurut ibu tepat orangnya itu untuk menghindari celaan? I : Celaan P : Terus kalau seberapa besar sih peran ibu dalam mengatasi masalah dalam keluarga ibu. yang baik P : Tepat orangnya? I : Kalau nggak tepat kita khan dicela-cela P : Emm. kita harus gini. dalam hati kita ya itu P : Jadi ibu tuh berperan penuh dalam yang tepat karena kalau tidak tepat akan dicela sehingga nantinya akan sakit hati. jo ngono. gitu lha saya pa-pa saya begini ya terus. kalau. P : Jadi? I : Pamane kita. dan ia tidak cocok.. hatinya sendiri. Karena menurut informan itu menyangkut dirinya sendiri. rendah hatilah koyone gimana. tambah neh kerja apa tuh. itu anu-anu. jadi saya seakan-akan sakit hati kalau digitukan. jadi gini perannya ibu dalam penyelesaian masalah di dalam keluarga tuh seberapa besar? I : Wah ya 100% P : Bisa dikatakan seratus persen? I : Iya. seakanakan kalau. lha gitu kan tidak anu. ya takut dicela itu P : Kenapa ndak cocok? I : Lha ndak cocok lha sok-sok wis ngenengene wae.120 215 220 225 230 235 240 245 250 255 I : Tempat pertolongan tuh kalau nggak tepat itu pamane sok mungkin ada yang mencela. itu jo jangan gitu. nah da saudara kan da yang gitu nah itu saya ndak cocok. saya ndak cocok. harus begini karena itu menyangkut diri kita sendiri. mungkin yo karena saya ya gimana ya. orang lain khan tidak bisa merasakan.. ora podo karo atine. seandainya gitu. anu berkerja yang lain-lain.. hati kita sendiri. koe kudune ngene-ngene gitu. Informan berperan 100% dalam mengatasi masalah dalam keluarganya karena ia menganggap orang lain tidak bisa. he’eh orang lain itu nggak bisa. hati kita.? I : Tepat orangnya P : Tepat orangnya? I : Tepat orangnya kan bisa menasehati. nggak bisa. nek ora isa wis usaha. tidak sama dengan ati kita. P : Tepat disini maksudnya tepat orangnya atau tepat. orang lain khan tidak bisa merasakan.

bisa nggak gitu dalam hati. ehh nuwun sewu malih nggih. uang saku itu kalau malamnya itu belum ada. tidak ada suami tuh setengah kaget. Jadi belum pernah membayangkan karena tanggung jawab masih penuh ditangan suami? He’em. terus nuwun sewu nggih. anak-anak sudah bisa jalan sendiri ya saya kan hanya memberi uang saku. pasti ada yang mencukupi nek.121 260 I : P : I : 265 270 P : I : P : 275 I : P : I : 280 P : 285 I : P : 290 I : P : I : 295 300 keluarga untuk menghidari campur tangan orang lain He’em.. dalam hati saya cuma itu saja.. eh bagaimana perasaan ibu dan carane ibu waktu menyesuaikan diri pada waktu masa awal ditinggal ayah? Oh. tapi kalau sudah besar ya. Emm. hanya itu saja pikiran saya. Bapak masih ada? Bapak masih hidup. nganter sekolah sendiri. apakah ibu tuh sebelumnya pernah membayangkan kehidupan ibu yang seperti sekarang ini? Ooo. Jadi sebelumnya tuh ibu belum pernah membayangkan yaa? Belum pernah wong masih ada bapake. tapi setelah itu saya pikirnya apa bisa saya membesarkan anak-anak. menyesuaikan ya? Kita harus sabar. ayahnya Terus. Perasaan dan cara informan waktu menyesuaikan diri pada waktu masa awal ditinggal suami adalah sabar dalam menghadapi segalannya dan banyak berdoa . sok-sok kita kan terkejut lah sekarang sendiri harus begini-begini. Sabar? Sabar dalam menghadapi segalannya. wah saya bisa pa nggak.. tapi ya termasuk kaget lah. Informan sebelumnya belum pernah membayangkan kehidupannya yang seperti sekarang ini. cari uang sendiri. masa kecil-kecilnya anak-anak tuh. pasti bisa mencukupi lah walau bagaimanapun. harus banyak berdoa terutama. nek sebelumnya ya ndak wong ada bapaknya og. Jadi? Gimana saya caranya untuk membesarkan anak-anak sendirian.

apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi ibu? I : Yaa pasti Perasaan informan sedih ketika menghadapi permasalahan dalam keluargannya karena tidak ada suami yang membantu sehingga ada yang diajak pertimbangan. saudarasaudara tuh hanya sekedar. anak-anak tuh sok-sok sing hibur. kalau suami kan pasti bertanggung jawab. P : Sebagai semangat ya anak-anak. tapi ya tetep kembali he-he-he P : Eee habis meminjam saudara dan tetangga sekitar? I : Sering. sering itu pinjem-pinjem itu tapi pasti kembali. trus yang banyak saudara. gimana ya. sedih.. Ketika informan merasa sedih. Eh. suami terutama. I : Paginya itu wah gimana ya. rasanya lain kalau ada yang bantu. tidak ada uang. P : Lalu selain sedih? I : Yaa wis.. P : Selain meminjam tetangga? I : Ya saudara-saudara. biasane nek ada suami kan ada. lain. terima uang jahitan apa-apa bekerja tuh kita kembalikan. anak-anaknyalah yang mengibur karena menurut informan kesedihan haruslah mesti hilang.122 305 310 315 320 325 330 335 340 345 P : Iya. aku ki ra due dit sesuk koe kudu ndue duit lha gitu khan ada yang dijak pertimbangan. terus perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam keluarganya? I : Wah ya sedih itu P : Sedihnya? I : Sedih lah anu ndak ada yang membantu.. cuma sedih aja P : Sedih? I : Sedih ya mesti harus hilang. dan pasti bisa mengembalikan. tinggal. nanti malamnya tuh cari kemanakemana. wis anu tetangga-tetangga atau siapa pinjem dulu P : Emm… I : Itu nanti kalau sudah apa terima uang. itu. nah malamnya tuh masih bingung untuk anu hari esoknya tuh P : Ibu memenuhinya? I : Yaa. lha nek sendiri gini kan susah lah. Informan langsung . harus bertanggung jawab untuk mengembalikan P : Ee. ora ndedet.

katannya stress P : Trus ibu menghadapinya? I : Menghadapinya. dadi sarafnya i anu. berati ya selekas mungkin persoalan harus diselesaikan P : Langsung seketika itu juga? I : Oh ya ndak. pernah stress aku. bertahuntahun tuh sakitnya. Ya anu. wis kemana-mana. 2000 stress saya itu gulu saya tuh kaku. nah gitu khan kita mikir terus sepanjang hari. itu P : Stress? I : Stress. nggak kendorkendor lama P : Akhirnya? sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi karena kalau nggak selesai membebani pikiran terus. Tetapi terkadang informan juga minta pertimbangan yang lain bagaimana baiknya pendapat yang baik dipetik yang tidak cocok ditinggalkan. harus cepat selesai karena nek nggak selesai ya di dalam pikiran terus P : Maksudnya? I : Anu. stress kandane orang-orang tuh stress. Karena informan takut kalau banyak mikir jadi sakit dan stress.123 350 355 360 365 370 375 380 385 390 P : Pasti? Mengapa I : Pasti. dipijetke kemanamana dikekne alternatif. kita sendiri pasti banyak yang belas lah P : Jadi tuh ibu langsung sesegera mungkin untuk menghindari kesalahan bertumpuk? I : Marai ya saya takut kalau banyak mikir tuh sakit. pernah. dipijet-pijet. bagaimana baiknya P : Terus? I : Yang baik ya saya petik. dikasih apa. tahun piro 2000 po piro. leher tuh. kenceng nggak bis. P : Kapan? I : Iya. itu lho sok-sok ya. yo sok-sok minta pertimbangan yang lain P : Pertimbangan? I : Pertimbangan pamanya. yang kurang baik apa yang. P : Ndak cocok? I : Anu ndak cocok ya saya tinggalkan.. ya diobati. kalau belum selesai ya mikir terus kok iki kok ra rampung-rampung tho? gini kok ora anu rampung-rampung tho. P : Tegang? I : Sakit sekali. dikek i conterpaint. ya tapi kan semua tahu. .

masalah kita. P : jadi ibu ingin. lama 5 tahun ada. Alhamdulillah. P : Sama. kan tetangga kan tidak mungkin akan mau menyelesaikan persoalan kita. tetanggatetangga… P : Jadi ibu tuh enggan ketetangga kerena persamaan ekonomi ya I : Iya nanti malah. malah nyusahkan yang lainlah. He-he. apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah ibu ketika ada masalah? I : Oh ya nggak ada. itu nggak mikir yo sakit. apa ndak ingin tetangganya tuh malah kesusahan ketika ibu I : He’eh P : Terus kalau. jadi jarang. selain apa tuh selain anggota keluarga yang tadi ibu ceritakan membantu menyelesaikan masalah tuh. bukan orang kaya-kaya gitu. paling ya kita-kita lah... itulah karena ya tetangga-tetangganya sama saja. ada yang menawarkan Yang sering membantu informan ketika memecahkan masalah adalah keluarga dekatnya saja. tapi kita kan jarang keluar rumah. jadi anu ekonominya? I : Ekonominya sama. ngajak pertimbangan. tegang lah sekarang sudah sembuh. P : Oh. menumpuk-numpuk anu pikiran yang menumpuk-numpuk itu menjadi stress katanya. Karena menurut informan tetangganya tidak mungkin membantu menyelesaikan masalahnya karena menurut informan bukanlah orang kaya. jadi syarafnya i piye ya? Sarafnya. maaf ya bu. paling ya keluarga saya malu nek kemana-mana. P : Selain. ee.124 395 400 405 410 415 420 425 430 435 440 I : Akhirnya ya sembuh sendiri neng lama. istilahe nangga lah. anu itu. jarang. P : Kenapa malu bu? I : Ya malu. jadi ya paling saudara-saudara itu. mikir yo sakit memang tuh sakit. maksudnya? I : Maksudnya ya sama seperti kita. sakit akibat banyak mikir. sirkulasi syaraf ndak lancar.. Informan tidak meminta tolong dengan tetangganya karena takut kalau nanti malah menyusahkan tetangganya . he. keluarga. jadi kepala tuh pendak ndino i tuh senut-senut.

Uang tuh kalau hari lebaran tuh memang banyak. Bantuannya tuh terfokus pada uang? Ya. pasti setiap lebaran semua masuk SPP anak-anak sampai SMA. Mengapa? Nek anu. kepepetnya. jadi dikumpulin. seperti saudara atau tetangga ya.. langsung Langsung? Tak masukke SPP. waktu lebaran itu kan ada uang apa? Uang zakatlah dari saudara-saudara yang punya. nek pendapat saya sendiri. dimanfaatkan untuk langsung saya masukkan SPP.. itu pastilah.125 I : 445 P I P I 450 : : : : P : 455 I : 460 465 P : I : 470 P I P I 475 : : : : P : I : 480 P : I : 485 bantuan itu ya. cari sekolah ya saya sendiri soalnya saya yang harus memikirkan sendiri Emm. saya nggak mau keberatan karena SPP anak-anak tertunda-tunda. apakah ibu tuh selalu menerima bantuannya dari mereka? Lha kalo kepepetnya ya mau no. dikumpulin untuk dimanfaatkan.. Mau? Itu lho kalau sudah terjepit waktunya tuh lho. mau kemana lagi. . sampai lulus. besuk-besuk lagi Selain batas waktu apa lagi yang membikin ibu mau menerima bantuan keluarga. kita menerima dari saudara-saudara. Jadi? Itu uang zakat tiap tahun kan banyak. uang Bukan suatu apa pendapat atau? Woo.. jaranglah bantuan keluarga ya paling waktu lebaran. apa ya. Emm. waktunya dah harus diselesaikan hari ini gitu yo saya harus selesai. nggak mikirkan Informan mau menerima bantuan yang ditawarkan orang lain apabila sudah terdesak. pasti. jadi langsung. pendapat? Woo. nggih. jadi saya kan tidak mikirkan uang sekolah. sampai pernah setahun saya lunasi. gitu. banya saudara yang welas lah corone.

buku-buku itu seng sering tiap hari kan ada buku itu. Dan mensikapi dengan menerima? Menerima. semua bisa punya belas kasih pada kita Terus kalau boleh tau ya? Apakah ada harapan ibu kedepannya? Harapan ibu untuk kedepannya itu bagaimana? Harapan saya? Ya anak-anak menjadi baik. Harapan informan adalah anak-anaknya menjadi baik. karena ya kasihan lah sama kita yang hanya sendiri. wis buku harian lah Jadi disini tuh ibu mau menerima bantuan saudara. hampir semua dikasih.126 490 P : 495 I : P : I : 500 P : 505 I : 510 P : I : P : I : P : 520 I : P : 515 525 I : 530 P : I : yang lain-lain. pakaian barang tidak pernah saya beli. ya lah tidak pernah mengecewakan saya Anak-anak? Harapan saya ya cuma itu dan penting ya bisa berkerja Informan mau menerima bantuan yang diberikan orang lain karena sudah iklas. tidak nakal. dikasih semuannya. Terus sekolah Lha sekolah itu. opo itu jenenge. itu Alhamdulillah anak-anak bisa baik semuanya. ya banyak kasihan lah. Jadi ibu bekerja sehari-hari tuh untuk memenuhi kebutuhan makan? Kebutuhan makan. tidak nakal. terus setelah menerima itu bagaimanakah ibu mempercayai dan menyikapi bantuan dari saudara? Lha bantuan saudara tuh sudah iklas. tidak macemmacem. dan mempunyai uang berlebih. diberi kesehatan . jalan lurus. kalau nggak ada itu wah saya posing sekali tambahan he-he Jadi ibu mempercayai bantuan dari saudara? Iya. Informan menerima bantuan dan mengucapkan terimakasih pada yang kuasa karena semua bisa punya belas kasih pada keluargannya. kita mikirkan sehari-hari untuk makan saja. sudah deket dan mungkin ya pastinya mereka punya uang lebih lah. bisa berkerja. dekat. ya terima kasih sekali pada yang kuasa Emm. jalan lurus. tidak macem-macem. tidak pernah mengecewakannya. untuk makan saja sudah alhamdulillah.. dikasih saudarasaudara. punya uang lebih. baru mengucapkan terimakasih pada Yang kuasa.. baik semuanya.

kedepannya. ya rezeki yang lebih banyak lagi. P : Terus. sekarang kan sudah besar-besar. ya pastilah. gimana ya. yaa diberi rezeki yang lebih baik lagi P : terus? I : Diberi. P : Udah. makasih atas waktunya I : Iya. sama-sama. mereka bisa dan kita mendo’akan. He’eh P : Harapannya rezeki? I : He’eh rezeki. apakah ada harapan lain kedepannya? I : Oh. setelah anak-anak. ..127 535 540 545 550 555 P : Umpama? dan diberi rezeki yang I : Apapun pekerjaannya lebih baik lagi. harapannya gitu. hanya itu saja. sudah tercapai semua. nggak ada lagi I : Gimana? P : Setelah anak-anak yang jadi yang baik nggak ada lagi? I : Yaa bisa bekerja he-he diberi kesehatan P : Umpama harapan ibu pada anak-anak. sudah tidak menyekolahkan. mereka lebih tahu bagaimana harus melangkah kedepan. sudah berkerja..

128 Verbatim Wawancara Informan 3 Kode : W1/S3 Nama : Ibu T.S Usia : 45 tahun Pekerjaan : Buruh Harian Lepas (Pegawai swasta) Pendidikan terakhir : SMA Usia anak : 9 Tahun (Anak usia SD) Hari/tanggal wawancara : Kamis.. 18 September 2008 Tempat : Rumah ibu T. kalau boleh tahu ya ee. tapi timbulnya dari anak P : Emm. 20 25 .. dari saya sih. eh bu. gitu lho P : Emm. itu juga sebagai suatu kendala P : Oh jadi masalahnya dari anak ya bisannya? I : He’eh.. kebanyakan dari anak? Analisis 5 10 15 Selama informan menjadi orang tua yang membesarkan masalah seorang diri banyak masalah yang terjadi seperti mengasuh anak.30-22. ya kadang-kadang kita mengasuh anak itu. seperti apa misalnya? I : Yaa. P : Kalau dari ibu sendiri.50 WIB (20 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Met malem bu?. seperti kita mengasuh anak itu.R.. katakanlah nggak begitu ini. seperti ketika diserang penyakit. karena menurut informan anak-anak banyak tingkahnya dan masalahnya biasannya timbulnya dari anak.S Waktu : 22.. mungkin ada? I : Ya kalau. kadang-kadang dia diserang penyakit. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. ibu nggak begitu apa maksudnya? I : Maksud saya nggak begitu terlalu banyak masalah. anak-anak banyak tingkahnya P : Terus? I : Terus.. selama ibu tuh menjadi seorang orangtua yang membesarkan anak seorang diri tuh apakah banyak masalah yang terjadi bu? I : Ya banyak juga P : Emm.R.

lantas apakah ibu itu selalu berusaha menyelesaikan seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? I : Ya kalau kita sih masih bisa untuk menyelesaikan permasalahan kita. atau sebelumnya kita kasih minum obat dari warung ya.. bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikan masalahnya tuh bu? Kalau umpamanya anak sakit. Informan menyikapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu. apakah ibu pernah mengalami masalah yang ibu anggap sangat berat? I : emm. ya. bagaimana ibu menyelesaikannya? I : Ya umpamanya anak sakit ya kita harus berusaha untuk bawa ke dokter.129 30 35 40 45 50 55 60 65 70 I : Dari anak. P : Selain itu? Nggak ada? I : Nggak juga P : Terus kalau boleh tahu ya bu. tapi kalau toh kita ndak bisa kita sendiri. mengobati sendiri dulu. . apalagi anak itu bareng-bareng sakit ya P : Iya. baru kalau belum sembuh ya kita bawa kedokter. membawa ke dokter. membawa ke itu. ya kita selesaikan. terus I : Lha. menurut ibu yang bisa diselesaikan sendiri tuh apa? I : Ya kalau kita berusaha ini. Informan berusaha menyelesaikan permasalahannya sendiri. mungkin dengan tetangga atau apa nggak ada? I : Kalau tetangga nggak juga P : Enggak? Terus. ee. itu suatu pengalaman yang sangat berat. itu kita ini sangat kualahan P : Kualahan ya bu? I : He’eh P : Terus? Kalau apa tuh.. pernah juga P : Kapan bu? I : Ya di saat-saat anak sakit. tapi kalau tidak bisa kita sendiri. ketika anak sakit bersamaan sehingga informan merasa kualahan. he’eh P : Terus kalau biasanya masalah selain anak. Informan pernah mengalami masalah yang dianggap sangat berat. ya kita melibatkan orang lain P : Kalau boleh tahu ya? Yang itu ya apa. informan melibatkan orang lain. tapi kalau tidak bisa ya kita minta tolong bantuan orang lain untuk ini.

.terus.130 75 80 85 90 95 100 105 110 115 P : Emm. minta orang lain I : Iya... kalau masalah tersebut adalah masalah dalam keluarga. anakanak pada rame. terus. he’eh P : Terus kalau boleh tahu lagi. ya terpaksa kita bawa ke dokter P : Emm. ndak perlu untuk diselesaikan orang lain. . kita ada suatu masalahan dalam suatu keluarga ya? Bagaimana sih ibu mementukan yang ibu pilih? I : Ya kita harus berusaha untuk menyelesaikan sendiri P : Emm. ketika masalah ibu harus melibatkan orang lain. itu kan suatu masalah juga P : Terus? I : Terus. apakah ibu selalu memikirkan bagaimana akibat yang kan terjadi dari tindakan yang ibu lakukan itu? I : Ya memang di setiap kita melangkah itu ya kita ini kita pikirkan untuk jauh kedepan dan akibatnya P : Maksudnya kita berfikir lebih dahulu tuh? I : Nah. terus kalau yang membutuhkan bantuan orang lain? I : Kalau kita membutuhkan orang lain ya itu tadi kalau memang kita mengobati dia dirumah nggak sembuh. jadi dah mentok? I : Iya P : Dah mentok baru. Ketika informan membutuhkan orang lain informan baru meminta bantuan orang lain... nggak harus masalah anak ya. P : Iya I : Tapi itu khan. tanpa bantuan orang lain? I : Tanpa bantuan orang lain. jadi kita melangkah itu kita pikirkan lebih dahulu P : Emm. kita selesaikan sendiri P : Emm.... bagaimana sikap yang ibu lakukan ya. kalau masalah dalam keluarga P : Kalau boleh tahu masalah dalam keluarga ni apa? I : Ya katakanlah antara lain ya ee. kadang-kadang anak-anak itu kan bisa membangkang kalau kita suruh untuk belajar ya. Informan selalu memikirkan bagaimana akibat yang akan terjadi dari tindakan yang informan lakukan. tapi ni masalah yang Informan berusaha untuk menyelesaikan sendiri masalahnya tanpa bantuan orang lain.

Untuk mengatasi permasalahan ekonominya informan terkadang minta bantuan sama saudara.. Menurut informan permasalahana yang berat lainnya selain permasalahan anak adalah permasalahan ekonomi dan pekerjaan. bantuan sama saudara. perekonomian he’em. ee. Emm.... ya Iya. Jadi itu kan namanya minta bantuan juga Kalau pekerjaan? Kadang-kadang kita kan kalau bekerja itu kita katakan ndak bisa kita kerjakan sendiri. Emm. Iya. bagaimana kalau umpamanya kalau masalah itu harus melibatkan orang lain tuh bagaimana sih ibu. Perekonomian dan pekerjaan ya? He’eh. Kalau ekonomi maksudnya? Perekonomian. .. Jadi. Terus ya pekerjaan.. He’em Ya jadi kita kan minta tolong untuk orang lain Dari segi pekerjaan? Sikap informan kalau ada permasalahan adalah meminta tolong sama orang lain. sikapnya? Jadi istilahnya nggak cuma masalah anaknya tetapi suatu permaslahan rumit atau bagaimana ketika melibatkan orang lain tuh sikap ibu bagaimana? lha kalau sikap kita kalau ada permasalahan seperti itu ya kita minta tolong sama orang lain. Selain anak ibu? Iya. apalagi dalam perekonomian. Umpamanya pernah ada masalah seberat itu? Kalau boleh tahu masalah apa? Katakanlah permasalahan. Jadi kita kadang-kadang minta. katakanlah kita pamane dalam kita berkurang ya.. Emm. kadang-kadang kan harus membutuhkan orang lain. Apalagi kita kan sendiri.131 120 125 I : 130 P : I : P : I 135 P I P I P I P I : : : : : : : : : 140 145 P : I : P : I : 150 P : I : 155 P I P I : : : : 160 P : I : P : lain.. ee.. Pekerjaan? Ya.

P : Terus. merasa kehilangan. .. Karena begitu langsung ditinggal ya kita merasa kehilangan. terus. P : Jadi ibu dulu nggak terbayang hal yang seperti ini? I : He’eh P : Terus. kita mengalami kesedihan dan katakanlah pada saat itu tertekan ya. ya. tapi sementara dia sudah pergi. I : Terus. maaf lagi ya? I : He’eh P : Bagaimana sih perasaan ibu dan cara ibu menyesuaikan diri pada awal masa ditinggal oleh suami? I : Ya kita sih pertama itu kan kita ya juga bingung ditinggal seperti itu. kalau boleh tahu ya. Informan sebelumnya belum pernah membayangkan menghidupi anak seorang diri. apalagi dulunya kita kan berdua untuk menghidupi. P : Berarti seratus persen? I : Iya. P : Emm. ini maaf ya. apa tertekan? Peran informan di dalam mengatasi masalah adalah penuh dan tanpa melibatkan orang dan keluarga lain. apalagi saya sudah sendiri. untuk mengatasi semua harus full P : Tanpa melibatkan orang lain? I : Tanpa melibatkan orang lain. I : Harus kita ini tanggulangi sendiri. sedih dan tertekan. nanti tuh menghidupi anak seorang diri? I : Ooo. jadi sebelumnya kita belum pernah terpikir seperti ini. P : Emm.. P : Keluarga lain mungkin? I : Keluarga lain juga tidak P : Emm. emm apakah ibu tuh sebelumnya pernah membayangkan kehidupan ibu seperti sekarang ini? I : Maksudnya? P : Pernah nggak terbayangkan di pikiran ibu. P : Maksudnya. ya saya memang harus full.132 165 170 175 180 185 190 195 200 205 I : Iya... Perasaan dan cara informan menyesuaikan diri pada awal masa ditinggal oleh suami adalah bingung. seberapa besar sih peran ibu di dalam mengatasi masalah nya itu? I : Kalau peran mengatasi masalah di dalam keluarga. dulunya kita sih kita nggak belum pernah membayangkan seperti ini ya.

maksudnya ada kadang-kadang kalau memang di saat-saat permasalahannya itu menunjukkan ini menunjukkan kesedihan. memang kita harus bertindak. ee. : Di bayar? : Na. Anu untuk menagguangi itu : Emm.. ya kita sedih tapi kalau permasalahan itu menunjukkan harus kita bertindak. tapi kan kita harus bertindak bagaimana caranya untuk.. : he’eh : Dulunya kita bisa ditanggung bersama. selain itu? : Eee. terus kalau perasaan ibu ketika menghadapi masalah dalam keluarga tuh bagaimana? Apakah sedih.133 210 I P I 215 P I P 220 I 225 P I 230 235 P I 240 P I P I 245 P I 250 P I 255 P I : Lha kita tertekan masalah ini. : Emm. ... menaggulangi Perasaan informan ketika menghadapi masalah dalam keluarga adalah tergantung permasalahan yang dihadapinya. baik dalam mengasuh untuk anak kan kita sendiri. terus akhirnya kita langsung ditinggal sendiri. ya kita ini aja ya sama sekolahan lha ya? : Ooo... : Sama sekolahan anak. perasaan ya. : Bertindak dalam hal? : Ya bertindak dalam hal untuk umpamanya. : He’eh. Contohnya.. eh ada masalah sesuatu yang harus-harus di ini ditangani dalam secepatnya. ya kita harus menagani secepatnya : Contohnya? : Naa. umpamanya biaya sekolah : Iya. susah atau bagaimana? : Ya kadang-kadang tergantung permasalahannya : Maksudnya tergantung permasalahannya? : Ee.. : emm. : Jadi kalau kita berfikir hanya kesedihan itu mungkin biaya anak-anak itu ndak bisa di ini.

134

260

265

270

275

280

285

290

295

300

P : Selain biaya sekolah? I : Selain biaya sekolah ya keperluan sehari-hari juga termasuk juga P : Emm.. lainnya mungkin? I : Ya mungkin biaya untuk ya seperti itu, biaya katakanlah untuk biaya rumah, untuk kontrak rumah kan harus kita bertindak dengan anu, nggak hanya musti meneteskan air mata P : Emm.. jadi ibu bersikap apa, perasaan ibu itu sesuai dengan apa yang di hadapi, bagaimana-bagaimana itu ibu, sesuai dengan perasaannya ibu, kalau perlu, kalau perlu umpamanya tenaga bertindak langsung segera bertindak. I : He’eh P : Kalau nggak, harus tepat? I : Iya P : Terus kan kalau tadi perasaannya ibu ya? Terus kalau ada permasalahan ya? I : He’eh P : Lha apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin untuk langsung menyelesaikan suatu masalah yang ibu hadapi itu? I : Ya memang seharusnya seperti itu, ada masalah ya kita semampu kita, ya ini kan menyelesaikan masalah P : Emm.. mengapa? I : Semampu kita harus menyelesaikan secepatnya, karena nanti kalau terlalu lama masalah tuh berlarut-larut kan ya jadi beban juga P : Pernah mengalami masalah yang berlarut-larut? I : Ya pernah juga P : Seperti apa kalau boleh tahu? I : Na.. permasalahan yang berlarut-larut katakanlah, eh dalem, dalem ini ya katakanlah ya biaya anak-anak itu tadi ya, kalau kita biarkan aja seperti itu ya mungkin ada kendala mereka tidak bisa ikut ujian, ada kendala yang lain-lain tapi kan kalau kita memang secepatnya untuk ini berusaha melunasi kan mereka bisa mengikuti kegiatan

Informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi ketika ada masalah karena menurut informan nanti kalau terlalu lama masalah tuh berlarut-larut akan menjadi beban.

135

305

310

315

320

325

330

335

340

345

sekolah. P : Jadi fokus pada biaya SPP sekolah untuk menghindari I : He’em P : Mungkin membengkaknya I : He’em, bisa juga P : Membengkaknya biaya sama nggak boleh ujian itu? I : He’eh P : Terus, ee.. kalau ee ketika itu ya, ketika ada masalah yang sudah mentok itu ya? Apakah ada anggota keluarga lain yang membantu menyelesaikan masalah dan ketika masalah dalam keluarga ibu tuh? I : Oh.. ada juga P : Emm.. siapa bu? I : Ya dari fihak keluarga P : emm.. dari keluarga ibu sendiri? I : He’eh P : Atau? I : Dari pihak keluarga saya sendiri, dari pihak dari suami sendiri, mereka mau untuk ini campur tangan P : Jadi ini dari pihak keluarga suami masih sering berhubungan? I : Iya P : Berkomunikasi? I : Sering, dari keluarga saya sendiri juga sering P : Tapi keseringannya membantu tuh lebih besar dari keluarga suami atau dari keluarga ibu?I : Oh itu ya sama aja P : Sama? Maksudnya? I : Maksudnya ya sama aja, dorongan fisik P : Fisik? Maksudnya? I : Maksud saya kan kalau, ya mereka kan mendorong bagaimana semangat untuk ini, untuk ini. P : Memotivasi? I : He’eh memotivasi kita P : Emm.. jadi banyak yang sering memotivasi ibu adalah dari keluarga ibu sendiri I : He’eh dari keluarga suami juga P : Tapi yang lebih banyak dari keluarga ibu, selain memberi dorongan motivasi,

Menurut informan ada anggota keluarga lain dari fihak keluargannya dan fihak keluarga suami yang membantu menyelesaikan masalah ketika ada masalah dalam keluarga informan.

136

350

I P I P I P I P I

: : : : : : : : :

355

360

365

370

P I P I P I P

: : : : : : :

I : P : 375 I :

P : 380 I :

385

390

P : I : P : I :

kalau boleh tahu memberi bantuan apa lagi bu? Yaa bantuan lain, bisa juga dari materi, bisa juga Emm.. materi? He’eh Terus? Ya tapi ya itu tadi dorongan itu tadi terutama Emm.. Dan pandangan-pandangan Pandangan gimana bu? Nha.. pandangan-pandangan mereka mengasih pandangan caranya untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, mereka bisa ini memberikan pandangan Kata lainnya itu, sharing itu? He’eh Jadi saling? Ya berbagi, Berbagi pengalaman? He’eh Terus kalau, ibu kan tadi apa bercerita bahwa sering menerima bantuan ya? He’eh Apakah ibu selalu, setiap diberi bantuan selalu menerima? Ya, namanya kita manusia belum tentu, semua dikasih pandangan itu, belum tentu kita terima Emm.. maksudnya belum tentu bu? Maksudnya belum tentu menerima tuh lho lha, maksud saya, semua mereka yang ngasih pandangan-pandangan itu, belum tentu itu semua kita bisa ini menerima, belum tentu kita menelannya semua, karena apa. Dalam hati kita kan ada prinsip-prinsip tertentu. Kenapa? Ha? Kenapa kok gitu, ada prinsip lalu sehingga ibu kok nggak menerima? Lha kita kan ada prinsip-prinsip tertentu karena dalam keadaan

Informan belum tentu bisa menerima bantuan yang diberikan orang lain karena di dalam hatinya ada prinsip-prinsip tertentu.

P : Maksudnya? I : Untuk merubah hidup ya maunya jangan keadaan seperti ini terus. atau dalam ya pengeluaran sehari-hari juga kan P : Oh jadi kalau udah nggak sesuai dengan pengeluaran ibu.... perekonomian? I : Lha kita ada perekonomian kita khan. P : Emm. I : Katakanlah mereka meng anu. mengasih pandangan-pandangan harus begini. bagaimana sih harapan ibu untuk kedepannya? I : Ya kalau harapan kita untuk kedepannya itu terutama sekali ya. ingin untuk maju dan ingin untuk anak-anak untuk ee. dan masa depannya cerah. sesuai dengan kita. maksudnya perekonomian itu pengeluaran bulanan atau? I : Ya baik dalam pengeluaran bulanan.. terus kalau boleh tahu lagi ya.. harus begini P : Hemm.. untuk berprestasi. jadi ibu tuh istilahnya memisahkan antara yang sesuai? I : Iya P : Jadi ibu tuh mensikapinya dengan memisah-misah antara apa yang cocok I : Apa yang cocok sama kita. kan gitu? P : Berarti kalau udah nggak cocok dengan?. lha itu lho masa depannya cerah..137 395 400 405 410 415 420 425 430 435 perekonomian kita P : Emm. lah itu P : Selain itu? Dari sisi ibu sendiri? Kan Informan hanya mau meneriama bantuan apa yang menurutnya cocok. I : Na semantara dalam perekonomian kita kan ndak mencapai kesitu.. . berprestasi. ya keadaan seperti ini P : Ha. sama dan sesuai dengan dirinya. Harapan informan adalah ingin untuk merubah hidupnya. maju. I : Tapi kan belum tentu semua kita praktekan gitu lho P : Emm. ingin untuk maju dan ingin untuk anak-anak untuk maju. ibu malah nggak menerima bantuan? I : Ya bukan saya nggak mau menerima bantuannya tapi ya memang tetep menerima ini P : Emm. ya ingin untuk merubah hidup.

138

440

445

450

455

460

465

470

475

480

485

tadi dari sisi anak-anak I : He’eh P : Sisi ibu harapannya apa? I : Ya harapan saya ingin merubah hidup, maksud saya merubah hidup, ya keadaan jangan seperti ini terus, ya ingin untuk maju P : Oh, lebih meningkat lagi? I : Iya meningkat lagi, nha itu, misalnya apa, taruhlah kalaulah usia kita masih kuat seperti ini, kita kerja seperti ini, tapi nanti kan kalau usia kita sudah tua P : Iya I : Nha, jadi kita khan nggak bisa seperti ini lagi P : Ini perumpamaan ya I : Hmm.. P : Seumpama ya, kalau anaknya ibu sudah berprestasi dan ibu sudah berhasil meningkatkan tarafnya I : he’em P : Terus apa ada harapan lain bu? I : Ya harapan lain ya, gimana ya? P : Ya perumpamaan saja, jadi kalau ibu sudah mencapai harapan tentang anaknya yang sukses dalam segi pendidikan atau bagaiman I : He’em P : Terus ibu sudah mampu meningkatkan taraf perekonomian, apakah ada harapan lain? I : Ya harapan lain, terutama kita ingin membantu yang ini yang membutuhkan. P : Yang membutuhkan maksudnya? I : Lha kita kan sudah sering dibantu dengan dorongan, si apa, apa namanya? Eh dorongan-dorongan yang kita ini, kita butuhkan kan jadi kan kita umpamane saya berhasil. P : Iya I : Saya ingin untuk me anu, membantu orang yang membutuhkan, baik didalam katakanlah jasmani, maupun di dalam fisik P : Jadi seperti eh bantuan sakit, atau

Informan juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan.baik didalam katakanlah jasmani, maupun di dalam fisik

139

490

495

bagaimana? : Nha kalau bisa, ya saya bisa bantu, ya saya bantu. Itulah P : Jadi kalau ibu umpamane kalau sudah semua sukses sudah berhasil, ibu akan membantu? I : He’em P : Ya udah gitu aja, kalau, maaf kalau mengganggu waktunya bu, makasihnya I : Iya.. P : Maaf kalau mengganggu, mari bu I : Iya.. I

140

Verbatim Wawancara Informan 4 Kode : W1/S4 Nama : Ibu E.S Usia : 36 tahun Pekerjaan : PNS (Guru) Pendidikan terakhir : Sarjana (S 1) Usia anak : 5 Tahun (Balita) Hari/tanggal wawancara : Rabu, 24 September 2008 Tempat : Rumah orang tua ibu E.S Waktu : 09.25-10.00 WIB (35 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal, dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. P : Pewawancara I : Informan Baris P I P I P : : : : : Uraian Interview Pagi bu? Iya Maaf bisa mengganggu? Iya, bisa Ee.. bu, maaf ya, kalau boleh tahu nih, ee.. selama ibu tuh menjadi seorang apa, ibu yang membesarkan anak seorang diri tuh bagaimana sih masalah yang banyak terjadi bu? Ya masalah yang terjadi itu, ini ya, ya masalah keluarga terutama, dan juga masalah pribadi, berkaitan dengan masalah sosial. Jadi sosial ya? Kalau keluarga disini maksudnya bagaimana bu? Keluarga itu mengenai ini ya masalah anak ya. Iya. Jadi ya masalah untuk mendidik anak atau membesarkan anak, membimbing anak itu yang menjadi masalah keluarga ya. Emm.. yaa.. Juga masalah ekonomi tuh bisa juga menjadi permasalahan sebagai seorang single parent. Analisis

5

10

I

:

P : 15 I :

P : I : 20

P : I : 25

Selama informan menjadi orang tua yang membesarkan anak seorang diri terjadi banyak masalah terutama masalah keluarga dan masalah pribadi yang berkaitan dengan masalah sosial. Masalah keluarga ini menurut informan adalah masalah anak, mendidik anak atau membesarkan anak, membimbing anak dan masalah ekonomi.

. I : Tentunya prilaku kita. . berkaitan dengan masalah masyarakat P : Iya.141 30 35 40 45 50 55 60 65 70 P : Emm.. sebagai insan sosial atau kita hidup dimasyarakat P : Iya. terus kalau itu kan dari sisi keluarga ya? I : Iya P : Terus kalau dari pribadi bagaimana bu? I : He.. atau nanti ada unsur fitnah dan sebagainya itu masalah pribadi ya. ini karena saya sendiri ya P : Ya. I : Jadi itu misalnya. apalagi saya. kalau ini masalah saya boncengan dengan orang lain itu ya yang beda jenis kelamin gitu kan juga masyarakat bisa nanti berfikiran negatif gitu P : Ooo. salah satu contohnya P : Hemm. terus kalau dari dalam diri ibu sendiri apakah ada masalah yang mungkin I : Dari saya sendiri? P : Ya. dari pribadi ni saya kaitkan dengan masalah sosial ya. I : Nah itu seperti itu contohnya. seakanakan sebagai seorang single parent itu. I : Dari. sebagai seorang single parent itu akan disorot oleh masyarakat ya P : Hmm. maksudnya dari untuk mengurus keluarga atau bagaimana? P : Lha tadi kan anggapan orang I : He’em P : Biasannya begini-begini... Terus tadi kan masalah dari luar diri ibu ya I : He’em P : Dari keluarga dan masyarakat ya. I : He. perilaku tuh diawasi ya P : Hmm. I : Dengan siapa tho itu. seakan-akan ini mungkin perasaan atau ya memang kenyataan ya. tapi kalau ibu Sedangkan masalah pribadi informan menganggap dengan masalah sosial karena disorot oleh masyarakat dan perilakunya diawasi masyarakat... I : Jadi kalau kita itu misalnya.

142 I 75 80 P I 85 P I 90 P I 95 P 100 I P 105 I P I P I 110 P I 115 sendiri? : Iya. pribadi itu kan ibu menjaga perilaku : he’eh : Terus bagaimana sih ibu menyikapi dan menyelesaikan masalah itu? Jadi umpamannya ibu dibilangi. yang penting informan menjaga perilakunya. jadi itu karena sudah takdir Allah bahwasannya umur manusia itu kan sudah ada garisnya ya. tapi sampai sekarang itu ya alhamdulilah belum ada ini ya sampai Informan membiarkan anggapan orang. bagi saya single parent karena ini memang tidak saya sengaja. . itu saya ya saya sendiri secara pribadi ya saya pokoknya ini karena ini sudah takdir. itu yang masalah pribadi ya? : Iya : ya untuk masalah pribadi tadi. misalnya ada orang ini. terus tadi kan ibu menceritakan tentang masalahnya seperti keluarga. misalnya saya tahu ngrasani istilahe sampai dengar ditelinga saya gitu ya : Iya : itu ya itu ya wes. anggapan orang seperti itu yang penting saya menjaga perilaku saya : Iya : Biar itu tidak ada fitnah di masyarakat jadi yang terpenting ya. : Iya : Berarti biarlah anggapan orang. misalnya ya orang beranggapan bahwa janda itu memang wah itu kok sepertinya kok buruk gitu ya : Iya : Gitu ya biarlah. kalau saya sendiri tho itu kan sudah. menjaga perilaku lha itu : Iya. ee. Informan menyikapi biasa saja terhadap masalah yang dihadapinya. bukan karena cerai hidup ya. dikata-katai lah tetangga tuh : he’eh : Bagaimana ibu menyikapi dan menyelesaikannya? : Oh gitu. yang penting saya sendiri kan tidak seperti yang dikatakan orang. sudah ditakdir di surat. saya sikapi ya biasa saja lah..

P : Iya. dengan penghasilan yang sekian. karena menurut informan semua perilaku yang mengetahui adalah Allah.. tadi sudah ku bilang karena memang takdir saya seperti itu ya P : Emm. ya mudahmudahan sampai mbesuk pun demikian ya itu. oleh karena itu ya.. itu kan dari sisi anu. tetap menjaga perilakunya. apa namanya? I : He’eh P : Pribadi ya.. sekian itu P : Iya. menyikapi dan menyelesaikan masalah dari sisi ekonomi tadi? I : Ooo. jadi sekarang yang memang ekonomi ya hanya dari saya ya. na itu juga saya pertimbangkan dengan masalah ekonomi juga ya? P : Ooo.. mendidik anak. saya sendiri ini berkerja. na untuk membesarkan anak. itu sebagai modal ya modal saya ini sebagai single parent tuh biar kuat atau terhindar dari fitnah sosial gitu P : Hemm.143 120 125 130 135 140 145 150 155 160 ditelinga saya yang negatif itu P : ya. oleh karena itu kan ya tadi saya. tetap menjaga perilaku. tapi pemenuhan. saya sebagai guru. . I : Itu dalam masalah ekonomi saya sekarang alhamdulilah juga cukup ya. I : Alhamdulillah punya penghasilan sendiri P : he’em I : Kemudian kalau suami saya kan itu swasta. I : Itu.. ya itu ya kita kembalikan pada Allah.. meningkatkan iman. ya dari ekonomi ini alhamdulilah ya karena ee. semua perilaku tuh yang mengetahui kan Allah ya P : Hemm.. karena swasta kan tidak punya pensiun P : Iya I : Nah itu. Informan bersikap ikhlas dan berusaha untuk tetap berbuat baik pada orang lain. I : Belum ada Alhamdulillah.. dari ekonomi. I : Saya harus mensikapi dengan ikhlas dan juga berusaha untuk tetap berbuat baik pada orang lain.

diharapkan dengan asuransi pendidikan bisa membantu kelak kalau anak-anak sudah sekolah SD. SMP. : Iya : Tambahan penghasilan. karena yang besar : Emm. untuk pendidikan kelak. pendidikan yang ee. : Dengan kata lain untuk njagani? : Iya. : Kalau lainnya dari gaji tuh mungkin ibu punya sampingan yang lain bu? : Ya. itu ya.. di dunia maupun nanti di akheratnya itu jadi saya njagani itu. : Lha untuk besuk kan. disamping menyimpan itu. lha itu makannya kan bisa itu bisa dikumpulkan atau ditabung untuk masa depan anak kelak. itu juga sebelum kesitu kan saya pertimbangkan. kan kalau sekarang tuh biayaanya masih. dengan menulis atau menyusun buku atau LKS. SMA dan seterusnya itu : Iya : Itu dengan seperti itu. asuransi pendidikan : Oh ya.144 165 I 170 175 P I P 180 I 185 P I 190 195 P I 200 P I 205 P I P I P 210 : Bagaimana. : Emm. ataukah nanti kalau anak saya sekolahkan di sekolah yang seperti itu misalnya. iya Alhamdulillah saya juga mempunyai tambahan yang lain dengan. pendidikan masih SD... kalau yang besar ini kan di SD IT ya itu saya juga berharap dia mempunyai atau mendapatkan pendidikan yang baik. jadi untuk masalah ekonomi itu. cukup ya. : Itu ya. : Itu asuransi pendidikan. masih perlu biaya besar.. Alhamdulillah juga ya sudah. biayanya bagaiaman kira-kita cukup atau tidak. saya juga ikut asuransi. LKS dari penerbit itu kan dapat. sedikit ya. ya : Lha terus bu? Kalau boleh tahu lagi ya? .

ya saya tuh. informan meminta saran. lantas bagaimana ibu mengatasinya seorang diri ataukah melibatkan orang lain bu? Ya kalau masalah itu masih bisa saya atasi dengan berbagai pertimbangan ya. Hemm. lha itu juga saya perlu saran.. diselesaikan sendiri Ya? Diselesaikan sendiri tuh. mudah-mudahan tidak. He. karena masih bisa diselesaikan sendiri. ya yang berat sekali itu alhamdulilah belum.145 215 I : P : I : 220 P I P I 225 P : I 230 P : I : P : 235 : : : : : I 240 : 245 P : 250 I : P : I : 255 P : Apa. dari saudara gitu. eh masalah-masalah yang ada tuh sudah Alhamdulillah bisa di. kan saya sendiri tuh tidak seneng merepotkan orang lain gitu lho Ooo. . informan mengatasi sendiri. saya atasi sendiri. ya udah tuh. tuh kalau masih bisa saya atasi sendiri. Jadi Jadi ibu belum pernah ya mengalami sebuah masalah yang dianggap sulit? Iya. tapi kalau tidak bisa. Atasi sendiri? Selesaikan. dan saudara. Informan belum pernah mengalami suatu masalah yang dianggapnya sangat berat. untuk me. pertimbangan dari orang tua. Informan jarang melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya karena tidak senang merepotkan orang lain.. melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalah ibu? Iya. Kalau yang berat sekali ituh Alhamdulillah belum ya. apa. tapi kalau tidak bisa. apakah pernah sih ibu tuh mengalami suatu masalah yang dianggap ibu sangat berat? Masalah yang berat sekali? Iya. terus kalau emm. Mengapa? lha itu karena dengan berbagai pertimbangan tuh kalau masih bisa. dipikirkan. dan mudahmudahan tidak. kemudian juga minta petunjuk dari Allah gitu ya.. Lha berarti ibu tuh jarang ya. jarang. Dan bisa mengatasi masalah yang datang Iya. kalau ada masalah ya. pertimbangan. Kalau informan masih bisa mengatasi sendiri masalahnya. pertimbangan dari orang tua...

ibu ketika ya. terutama dari orang tua.. juga saya perlu saran deri orang lain.. kalau tidak seneng kok minta bantuan. ibu tuh menenentukan tindakan yang . kalau di SD IT kan perlu biaya besar : Iya : Perbulannya. jadi misalnya masalah ekonomi juga. lha itu kemarin tuh dari mertua juga. ya itu juga ada saudara juga yang membantu tuh. ee. bagaimana. lha itu dari fihak orang tua itu kan juga kalau ada niat nanti ada saranannya. sekolah dimana tuh? Ya itu kemarin tuh juga ini. gitu saya tidak suka ya. itu saya libatkan. ada suatu masalah dalam keluarga ya? : He’em : Bagaimana sih ibu menentukan tindakan yang dipilih? : Masalah keluarga? Misalnya apa? : Ya. jadi saya menyerahkan yang SD ni ya : Iya : Itu kan berkaitan dengan masalah ekonomi. : Kalau masalah pertimbangan? : Pertimbangan apa? : Pertimbangan ya. : Emm. toh saudara misalnya mau membantu ya diterima itu kan masalah ekonomi ya seperti itu.karena memang itu masih ada ikatan darah ya : Iya : Jadi perlu pertimbangan dari sana. seneng ya kalau bisa ya berusaha sendiri gitu. tentang pendidikan atau apa gitu : Oh gitu. : Tapi kalau mereka. dari mertua atau saudara tuh. : Terus kalau.146 I 260 P I 265 P I P 270 I 275 P I 280 P I 285 P I 290 P I P 295 I P I P 300 : Tidak seneng merepotkan. dan masalah lainnya. ada kesulitan pada ekonomi ataukah pendidikan tuh ya. ya itu juga saya minta pertimbangan. ada yang membantu. dari adik bapaknya anak-anak ini : Oh ya? : Itu masalah pendidikan.

147

I 305

310

P I

P I 315 P I

320

P I 325

330

P 335 I

340

P I

345

P I P

ibu pilih bagaimana itu lho? : Ya diharap tindakan yang dipilih tuh yang paling baik, ya yang terbaik untuk anak itu, eh bagaimana kira-kira yang kira-kira baik untuk anak, ya misalnya seperti tadi, menentukan sekolah : Emm.. : Yang baik untuk anak itu yang bagaimana dengan kondisi saya yang seperti ini ya, dengan seorang diri. : Seorang diri ya? : Kan itu juga otomatis, mendidik tuh sendiri ya : Iya : Lha beda kalau ada bapaknya, itu kan ada yang membantu ya, terutama masalah agama ya itu juga penting ya, dengan adannya kalau ada ayah misalnya, kalau mendidik anak melatih sholat berjama’ah di masjid ya : Iya : Biasannya laki-laki ya yang kemasjid tuh, ya mondar-mandir itu, biasannya itu, lha kalau saya sendiri ya juga jarang ya, kalau misalnya sholat berjama’ah ke masjid ya agak jauh kebetulan juga jarang, sehingga saya perlu, maka menyekolahkan anak disitu tuh juga pertimbangan juga ya masalah soal agama : Iya, emm.. berarti disini tuh ibu selalu memikirkan bagaimana akibat yang akan terjadi dari tindakan yang ibu lakukan itu? : Iya, jadi dengan kalau ee.. mengambil suatu keputusan itu kan pertimbangkan dulu : Iya : Kira-kira kalau begini nanti akhirnya bagaimana, terus dampaknya apa itu perlu dipertimbangkan banyak-banyak juga ya : Iya : Seperti itu : Terus kalau ee.. bagaimana sih sikap ibu kalau, ketika masalah tersebut tuh

Informan menentukan dan memilih tindakan yang terbaik untuk anaknya.

Ketika memilih suatu tindakan informan menyesuaikan dengan kondisi dirinya.

Ketika mengambil suatu keputusan informan mempertimbangkan terlebih dahulu keputusannya.

148

350

355

360

365

370

375

380

385

390

harus melibatkan orang lain bu? I : Ooo.. gitu P : Jadi pamannya ada masalah itu bagaimana bu? I : he’em P : Ee anu ketika masalah harus melibatkan orang lain bagaimana ibu, ee menentukannya ? I : Iya, tu kalau masalah tuh diatasi sendiri tidak bisa P : Iya, dan harus melibatkan I : Nanti minta bantuan ya, minta saran, ee.. jadi untuk pemecahan masalah itu, bagaimana ya nanti minta saran atau pertimbangan itu, terutama dari keluarga dulu ya! P : Iya I : Dari orang tua, saudara-saudara saya, itu jadi dari keluarga terdekat P : Emm.. I : Itu bagaimana saran mereka, nanti kan di sinkronkan dengan saya sendiri ya, dengan pemecahan masalah saya sendiri, oo.. itu yang terbaik oo.. begitu, ya nanti diambil keputusan itu P : Jadi ibu tuh anu, semua bantuan yang diberikan ibu tuh selalu mensingkronkan dengan dirinya ibu sendiri? I : Iya P : Emm.. untuk mencegah atau mengurangi ketidak cocokan? I : Iya, jadi semisal punya saya seperti ini, keluarga sama, ooo.. ya itu memang solusi yang terbaik. P : Terus kan tadi ibu khan bilang kan I : He’eh P : Keluarga kan hanya dimintai bantuan saja atau sarannya I : He’eh P : Terus seberapa besar sih peran ibu didalam mengatasi masalah keluarganya? I : Masalah keluarga? Terutama masalah ya mendidik? P : Peran ibu,seberapa besar?

Ketika masalah informan harus melibatkan orang lain informan meminta saran atau pertimbangan terlebih dahulu, terutama dari keluarga, orang tua, saudara-saudara informan, itu semua dari keluarga terdekat, kemudian informan lalu mensinkronkan dengan dirinya, kemudian diambil keputusannya.

149

395

400

405

410

415

420

425

430

435

440

I : Gini? P : Eh.. nggak tadi kan ibu sudah diberi saran I : He’eh P : Tuh seberapa besar sih peran ibu didalam mengatasinya, jadi saran-saran yang ibu terima tuh I : He’eh P : Ibu mengatasinya tuh seberapa besar perannya? I : Oh, gitu, lha tadi kan, misalnya ada masalah P : Iya I : ‘X’ gitu ya? Itu wah kok saya, mau saya ambil pemecahan atau keputusannya kok masih ragu gitu kan terus minta pertimbangan. Itu ya! P : Berarti? I : Oh jadi masukan-masukan itu ini masukan-masukan ini saya olah juga ya!, tak olah, ooo.. saya pertimbangakan lagi, oo.. kalau begitu ya memang baik, terus itu baru saya putuskan P : Emm.. berarti ibu disini I : Saya? P : Berperannya penuh? I : Iya lebih banyak saya P : Ooo.. I : Tapi kalau dari orang lain itu juga lebih baik P : Cocok? I : Iya cocok, lha itu kan memang itu membantu ya P : Emm.. Terus ini maaf ya? I : He’em P : Apakah ibu tuh sebelumnya pernah sih membayangkan kehidupan ibu yang seperti sekarang ini bu? I : Woo.. berarti sebelumnya, waktu itu waktu masih P : Nggih, bapaknya masih ada I : Hidup gitu ya? Yaa.. nggak pernah sih ya P : nggak pernah? I : Belum pernah membayangkan kok baru

Informan lebih banyak berperan di dalam keluargannya tetapi kalau orang lain lebih baik Dan cocok, informan menerimanya karena dianggap membantunya.

Informan sebelumnya belum pernah membayangkan kehidupannya yang seperti

akan memberikan ujian juga akan memberikan jalan yang terbaik.. itu yo. belum membayangkan ya.. nggak pernah. malah sempat terfikir itu. karena kan mau kepacitan itu suami saya.. tapi itu saya sendiri kan sudah memang sebelumnya kan sudah banyak ujian hidup ya! Jadi wah semua kalau memang Allah itu akan memberikan jalan. yo terfikir seperti itu yo. nggak tahu apa itu firasat atau bagaimana Berarti itu sebuah firasat? Iya. Allah memberikan ujian kan hanya mau ditingkatkan derajadnya itu Emm. meninggal gitu ya. Ketika mendekati wktu kematian suaminya informan sempat berfirasat dan terfikir akan kehilangan suaminya. Karena.. Ketika informan menerima firasat akan kehilangan suaminya informan sudah memasrahkan pada tuhan.. tapi ada gini ya. maaf ya terus kalau perasaan ibu dan cara. karena suami saya itu kan memang banyak hidup dijalan ibaratnya Iya Karena sering perjalanan jauh lha itu juga kemungkinan resiko-resiko seperti kecelakaan. ee. . mau dinas itu. mau waktu ayahnya meninggal tuh itu sempat terfikir seperti itu. kecelakaannya di ngadirojo wonogiri tuh Iya Sempat terfikir itu. itu disana kan memang jalannya memang seperti itu. terus meninggal dalam perjalanan itu juga ada ya. resikonnya semuannya tuh sudah saya pasrahkan pada Tuhan.150 445 P : I : 450 455 460 P : I : P : I : 465 470 P : I : 475 480 P : I : P : I : P : 485 berapa tahun menikah terus. gitu ya! Emm. caranya ibu menyesuaikan diri ketika masa awal ditinggal oleh sekarang ini. terus kalau He’em Ee. ee. waktu sudah dekat ini ya. lha itu resikonya. itu juga sempat terpikir juga itu sebelum ini ya. Sempat terfikir gitu kalau dulu meninggalnya tuh di. gitu ya! Tapi sebelumnya tuh ibu sudah merasakan sebuah firasat ya? Iya. belum membayangkan sama sekali. belum membayangkan..

. . semangat berusaha untuk mendidik anak. juga gimana ya? Agak susah juga. maka saya itu ikhlas ya. yo susah tadi. semangat berusaha untuk mendidik titipan. seperti itu. I : Itu. P : Hemm. yang penting itu ikhlas tadi ya. kemudian untuk kalau banyak masalah. kondisi ekonominya lebih baik. itu... I : Masalah ini. dan membesarkan anak. P : Susahnya disini maksudnya? I : Susah. lebih mungkin ya. kalau misalnya yang cari uang berdua kan lebih akan lebih. tapi semuannya itu saya kembalikan. Informan bersikap tabah sehingga memunculkan semangat hidup. membesarkan anak dengan walaupun single parent seperti itu. diselesaikan bersama. ya mendidik anak itu tadi. seperti itu Alhamdulillah. semangat hidup. gitu? P : Iya I : Iya karena memang sebelumnya kan memang apa-apa kalau ada masalah itu kan bisa dipecahkan bersama ya P : Iya I : Terus kemudian ya yang satu tidak ada sehingga harus mencari sendiri. namanya manusia hidup berkeluarga itu kan banyak masalah ya! P : Iya I : Lha itu bisa dipecahkan bersama. sehingga pokoknya harus semangat..151 490 495 500 505 510 515 520 525 530 ayah tuh bagaimana bu? I : Ooo. juga agak gini ya. I : Lha itu prinsip saya itu. seperti itu. Informan menyesuaikan diri dengan ikhlas. sehingga bisa tabah. jadi sewaktuwaktu bisa dipanggil yang punya. P : Tabah? I : Iya. P : Emm. masalah ya terutama ini masalah ekonomi P : Oh ya. sehingga. nha itu kan diberi umur tertentu ya. itu susahnya seperti itu P : Terus kalau maaf ya? I : He’em P : Kalau perasaan nya ibu ketika menghadapi masalah tuh dalam Perasaan dan cara informan menyesuaikan diri ketika masa awal ditinggal oleh suami pada awalnya susah dan ikhlas. prinsip saya tuh manusia itu hidup. itu. Yang menjadikan informan kesusahan terutama masalah ekonomi.. ya itu pertama juga.

pendidikan ya.152 535 I : P : I : 540 545 P : I : 550 P : I : 555 560 P : I : 565 570 P : I : 575 P : I : keluarga tuh bagaimana? Apakah susah. terutama masalah ini. perlu masih dalam perkembangan itu kan memang masih banyak kasih sayang ya! Iya. sedih Kalau ada masalah gitu? Iya perasaannya? Woo. Dari orang tuanya. ya bukan masalah ya ini yang ekonomi gitu. masalah itu yang membuat saya sedih malah itu. jadi walaupun dulu dia ditinggal 3 tahun tuh sudah ya sudah agak sudah faham ya sepertinya. seperti itu. itu yang membuat saya sedih itu malahan ya malahan ya. bisa pergi. seandainnya. bagi anaknya yang berusia balita. ya itulah masalah kasih sayang tuh masih perlu. kalau ada masalah keluarga. tuh bagi anak ya. seusia balita seperti anak-anak saya ini.. ini kalau saya masalah keluarga ini ya sedih juga ya. Yang membuat informan sedih adalah tidak bisa membahagiakan anaknya dengan kasih sayang ayahnya. malah itu Emm. yang kecil itu kan Iya Kadang perlu. kalau yang besar tuh malah Alhamdulillah dia lebih dewasa ya. anak ya.mbok bapaknya masih ada.. bukan masalah ekonomi. Karena menurut informan masalah kasih sayang ayah masih perlu. bisa mainmain. lha itu. gitu. jadi kalau adiknya itu berandai-andai yo kakaknya tuh justru itu yang memberi tahu gitu! Iya? Memberi tahu Perasaan informan ketika menghadapi masalah didalam keluarga sedih ketika kasih saying untuk anaknya tidak bisa terpenuhi. jalan-jalan dengan ibu bapaknya seperti anak-anak lainnya. karena anak saya masih balita itu kan memang. . mereka ya terutama yang kecil ini ya. masih banyak berkhayal. masalah anak itu. gitu. itu. berandai-andai gitu ya. mengenai bukan masalah mendidik. dia sudah faham Iya Kalau bapaknya tuh sudah meninggal seperti itu. ya yang kecil ini kan perlu ini ya di masih berkhayal. atau gimana. Jadi.

dengan pakdhe atau saudara dekat ya? I : He’em dengan pakdhe. kok saya kok tidak. pas hari minggu itu kan juga jalanjalan. itu memang anak kan memang seperti itu ya ininya pengen ya dengan anak lain.. tidak saya pribadi sendiri. jadi itu kan juga memenuhi khayalan tadi termasuk juga ya? P : Hmm. itu P : Emm. ketempat mana gitu. itu kok kalau yang normal saja kalau anak pergi. kok itu juga pengen. ya.. gitu ya? Ya itu nanti ini ya saya sendiri sama anak-anak ya. seperti itu. tidak begitu merasa kok ndak ada bapaknya. om nya juga sok kadang mengajak mereka gitu ya.153 580 585 590 595 600 605 610 615 620 P : Kalau. woo. upamanya tadi kan anaknya ibu berkhayal ya? I : He’eh P : Terus bagaimana ibu memenuhi khayalanya itu ya? I : Hee. I : Itu seperti itu P : Jadi ibu memenuhi? I : Ho’oh P : Apa itu khayalan. temannya pergi. Terus kalau umpamanya ini ada suatu permasalahan nggih? I : He’eh P : Terus apakah ibu tuh ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu masalah tersebut bu? I : Kalau ada permasalahan? Iya kalau ada permasalahan tuh. iya. entah ke Manahan atau ke supermarket. sama anak-anak gitu. gitu ya? P : Woo. ndak bisa pergi-pergi. jadi tidak begitu sedih lah anaknya.. pakdhenya.. gitu ya. wong itu aja pergi kesitu. juga kadang-kadang ya pas kalau liburan.. itu he’em P : Berjalan-jalan atau? I : He’em. I : Tapi juga kadang ini. .

kalau tidak ya dengan perlu bantuan orang lain. nha nanti kan juga malah merepotkan. Informan berusaha sebisa mungkin. nanti kalau tidak diselesaikan kan bisa menumpuk-numpuk menjadi beban juga malahan ya P : Iya I : Timbul masalah baru. langsung anda selesaikan seketika itu juga bu? I : Kalau begitu ada masalah datang itu? P : Iya I : Ada masalah datang yaa. seketika itu juga harus diselesaikan gitu. P : Langsung? I : Ya.. seperti itu.154 625 630 635 640 645 650 655 660 665 670 P : Mengapa? I : Ya. ee. terus kalau itu. sebisa mungkin ya. lha itu belum diselesaikan malah timbul lebih banyak masalah. I : Sebisa mungkin ya. iya P : Emm. Karena menurut informan kalau semakin banyak masalah. bisa kalau bisa diselesaikan sendiri ya dengan sendiri. secepatnya. makannya kalau ada masalah yang datang harus sebisa mungkin itu cepat diselesaikan dengan ya dengan entah itu. secepatnya tuh bisa diselesaikan ya. masalah yang ibu libatkan tuh? I : He’eh P : Langsung. I : Na itu nanti kan juga repot sendiri P : Tuh untuk menghindari kerepotan? Ibu sendiri ya? I : Ya.. . apa sesegera mungkin menyelesaikan masalah itu agar menghindari bertumpuknya suatu masalah? I : Iya kan kalau semakin banyak. informan takut kalau tidak diselesaikan bisa menumpuk-numpuk sehingga menjadi beban... sehingga ketika ada masalah tidak ditunda-tunda. semakin bertumpuk malah menjadi beban dan repot sendiri... harus menselesaikan masalahnya. semakin bertumpuk malah beban semakin berat ya? P : Hemm. harus secepat.. kalau bisa ya harus cepat diselesaikan P : Jadi ibu tuh. P : Tapi ee. kalau ada masalah datang tidak di apa ya? Ditunda-tunda gitu P : Emm. apakah ada sih anggota keluarga yang lain yang Informan ingin langsung sesegera mungkin menyelesaikan suatu permasalahan secepatnya diselesaikan.

itu kan seumuran dengan saya itu kan kadang ya ada masalah gitu ya. seperti saudara ipar. masalah ya. selain keluarga dekat. tetangga ya? He’em Kalau tetangga. mertua. gitu walaupun ya mereka tuh ada yang belum berkeluarga juga tapi ya sudah banyak mengetahui.. nggak ya nggak ya! Kenapa nggak memfokuskan pada Anggota keluarga yang lain yang membantu menyelesaikan masalah informan ketika ada masalah dalam keluarga adalah keluarga dekat dari fihak keluargannya. itu juga ada dari ini keluarga dari om saya. ya hanya rasan-rasan seperti orang sambat-sambat. om dan sepupu informan. kadang ya pernah hanya rasanrasan. ee. ataukah ada saudara lain? Ooo. kadang rasan-rasan lah. tidak ada malahan Kenapa tidak ada? Tidak ada ya. disini masalah mensekolahkan ya misalnya ya Iya Seperti itu. atau saudaranya ibu. masalahmasalah itu ya! Mengalami. Keluarga dekat itu? Seperti. jarang sih walaupun ya kadang. gitu ya? iya Gitu ya.155 675 I : P : I 680 : P : I : 685 690 P : I : P : 695 I P I P I P I P I : : : : : : : : : 700 705 P : I : 710 P : I : 715 P : membantu menyelesaikan masalah ibu? Ketika ada masalah dalam keluarga. apa ya.. kalau malah mengenai masalah pribadi ya? Iya Kalau masalah anak. selain itu ya? Jadi selain dari keluarga saya sendiri Iya Kemudian dari keluarga mertua gitu ya. tetangga atau orang dekat rumah? Kalau tetangga. ya? Apakah dari tetangga atau sepupu itu ya? He’eh Apakah tetangga ada yang membantu. . ya sambat gitu ya Terus? Biasa omong-omong gitu tapi saya tidak memfokuskan minta bantuan tetangga itu ya. sepupu saya.

sudah akrab gitu khan kadang ya. juga menjaga itu ya! P : Iya.. P : Jadi disini ibu I : Iya P : Menyelesaikan masalah pada keluarga dan teman tanpa tetangga untuk. kadang juga I : Emm. nanti kemudian kalau teman yang itu ya P : Teman kerja? I : Ho’oh P : Yang sudah biasa. misalnya P : Iya I : Tuh nanti kan namanya orang lain ya. lha itu menjaga itu tadi juga termasuk salah satu khan. atau dianggap orang lain tuh buruk. saya interent ya P : Iya I : Masalah keluarga ya P : Iya I : Sebisa mungkin ya itu dari dalam dulu. ee. itu khan masalah memang iya memang masalah pribadi. tetangga tuh bisa nanti ngomongngomongke gitu ya! P : he’em I : Dengan orang lain. jadi ya. tanpa melibatkan tetangga untuk I : Iya. P : Kalau dilihart dari lokasi kan tetangga lebih dekat I : He’eh P : Tapi mengapa ibu.. berarti untuk menghindari gossip- . nanti kalau langsung keluar ya ketetangga nanti bisa mungkin itu. biasannya apa memecahkan masalah tuh hanya dengan keluarga saja? I : Ya terutama keluarga. berarti ibu tuh biasannya tuh. nanti dari dalam dulu.156 720 725 730 735 740 745 750 755 760 tetangga-tetangga? I : Ya. nggak? I : Itu khan masalah ini interent pribadi ya.. ya nanti akhirnya P : Gosip I : Iya terjadi gossip dan sebagainya. masalah jelek ya. masalah keluarga ya! P : Iya.

jadi P : Terima ya? Mengapa? I : Ya ini untuk menyekolahkan. untuk biaya pendidikan anak ini terutama ini. apakah ibu tuh akan selalu menerima bantuan yang beliau-beliau berikan itu? I : Gitu ya? Yang tadi pemecahan masalah tadi ya? P : Ya. eh sepupu dan keluarga tuh memberikan bantuan I : He’em P : Bantuannya kepada ibu tuh. memang itu saya ngga minta. ini saya pertimbangkan lagi. kalau imateri bagaimana I : Oh gitu ya? Ya dalam untuk keluarga dari keluarga gitu ya? P : Iya I : Untuk materi ya memang saya terima ya... terutama mendidik untuk me.. kalau memang tuh baik ya itu saya ambil sebagai keputusan masalah bantuan dari keluarga itu tadi Informan selalu menerima bantuan materi yang diberikan keluarga untuk biaya pendidikan anak. kalau misalnya saya minta saran.157 765 770 775 780 785 790 795 800 805 gosip yang tidak sedap? I : Iya P : Tidak tersebar gitu ya? Terus kalau umpamanya. biaya pendidikan anak ini memang ada ni dari keluarga nih saya terima. tetangga. nggak masalah saja semuannya I : Materi maupun itu P : Iya I : Yang lainnya itu? P : Ya semua saudara tuh apabila memberikan bantuan kepada ibu tuh I : He’eh P : Apakah ibu selalu mau menerimanya? I : Bantuan dalam hal ini meteri atau imateri? P : Ya. tetapi informan tidak meminta.. . kalau materi bagaimana. saya terima. mereka memberi bantuan pada saya ya. ya masalah saran-saran atau pemecahan masalah. saya nggak minta ya! Saya nggak minta. woo. kalau yang bukan materi. seperti itu karena saya tidak bisa memecahkan sendiri ya ini. ya saya terima.

diolah gitu P : Jadi kalau terbaik apa disini. C ooo. Terus. dia juga insya Allh dia juga baik. ini ya. terbaik untuk saya dan keluarga. masih menyaringnya lagi P : Emm.. ya gitu. opo. dari unsur agama pun. I : Ini dipertimbangkan lagi.. ini kok A gini. itu khan P : Woo. itu karena bantuan tuh datangnya dari keluarga saya ya P : Iya I : Mereka itu kan ini ya ada ikatan darah gitu ya? P : Iya I : Tuh saya mempercayainya. masih ada hubungan darah dengan anak saya P : Hemm. yang terbaik lah dari berbagai P : Terbaik untuk? I : Misalnya dari A.. untuk keluarga itu P : Emm.. ya gitu ya. dipilih yang terbaik. ini bantuan terutama dari kakak saya sama adik ipar. B. I : Jadi mereka tuh membantu ya maksudnya untuk membantu biaya Informan masih menyaring lagi bantuan yang imateril baru kemudian diambil keputusan.. karena dari unsur ee. tebaik untuk ibu atau terbaik untuk anak? I : Ya.. materiil itu ya untuk biaya sekolah atau bagaimana tapi kalau dari imateril ibu masih menyaringnya lagi? I : Iya.. apa sepenuhnya tuh dari sisi ek.158 810 815 820 825 830 835 840 845 850 P : Berarti disini ibu tuh menerima bantuan I : He’em P : Menerima bantuan. . I : Baru diambil keputusan. Informan mempercayai dan bantuan yang diberikan padanya karena bantuan tuh datangnya dari keluarganya dan adanya ikatan darahsehingga informan mempercayainya. tadi khan ibu bercerita mau menerima bantuannya? I : He’em P : Terus bagaimana sih ibu mempercayai dan mensikapi bantuan yang diberikan pada ibu itu? I : Maksudnya mempercayai bagaimana? P : Ya ibu apakah percaya 100 % atas bantuannya atau nggak? Kan biasannya ada yang hanya membantu ada maksud tertentu tuh bagamana? I : Ooo. B gini lha itu.

untuk ya anak-anak itu terus. Membantu? Iya memang tiap bulan tuh dia transfer tuh untuk ini. Terus kalau mensikapinnya? Bagaimana? Mensikapinya kalau sudah diberi bantuan tuh bagaimana ibu mensikapi gitu lho? Mensikapinya? Iya. saya bersyukur. jadi saya selalu bersyukur ada yang membantu seperti itu sebagai ini untuk membantu biaya pendidikan maupun ekonomi yang lainnya.. ya mereka khan entah berapa... ya sekedarnya saja. jadi bisa meringankan beban ekonominya.. kalau boleh tahu ya? He’em Harapannya ibu ini untuk kedepannya bagaimana bu? Harapan untuk? Keluarga ya terutama ya ini ya? Iya keluarga Ya harapan saya mudah-mudahan Allah selalu memberikan saya kekuatan. mengirim berapa misalnya. Jadi yo berterima kasih pada mereka ya. Harapan informan adalah Allah selalu . ketabahan. keimanan Informan mensikapi bantuan yang diterimanya dengan bersyukur. berterima kasih pada mereka. apakah mengucapkan terimakasih atau Iya. Emm. karena ada yang membantu. jadi sebagai tambahan. yang sudah ikut membantu. itu kalau adik ipar saya yang Surabaya itu yang rutin itu. jadi meringankan beban ekonomi saya sebagai seorang single parent seperti itu ya! Emm. penangkapan mereka kan membantu anak yatim itu seperti itu. iya jadi yaa.159 855 P I P I P : : : : : 860 I : P : 865 I : 870 P : I : 875 880 P : I 885 : P : I : 890 P : I : P : 895 I : P : I : 900 keponakan mereka gitu ya. gitu Jadi ibu mempercayai bantuannya? Iya. tambahan gitu ya. tapi khan 100 % bukan dari mereka tho bu? Hanya bantuan sekedarnya saja Yang? Hoo.. bersyukur ada yang membantu. karena sudah ikut membantu dan selalu bersyukur ada yang membantu seperti itu sebagai ini untuk membantu biaya pendidikan maupun ekonomi.

Iya Jadi bisa membesarkan mereka dengan ini. itu khan juga memberikannya kekuatan. itu ya. Allah memberikan kelancaran Emm… Bisa ini ya. kemudian untuk pendidikan akheratnya juga baik. Didalam kariernya informan berharap agar Allah memberikan kelancaran jenjang kenaikan golongan... tentang mungkin karier. ketabahan.160 905 910 P : I : 915 P : I : 920 925 P : I : P : I : P : 930 I : 935 P : I : 940 P : I : 945 sehingga saya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan anak dengan baik ya!. itu harapannya sehingga khan nanti juga kan akan membantu maslah perekonomian. dalam hal pendidikan saya juga selalu mempertimbangkan untuk masalah urusan akherat. berguna bukan hanya untuk dunia saja. . masalah pekerjaan itu yo mudah-mudahan ini ee. mungkin ada harapan lain bu? Harapan ini ya? Harapan pribadi saya gitu? Iya. jadi agama itu saya pertimbangkan juga Selain He’em Harapan kepada keluarga. atau bagaimana? Oh. ya itu ya saya juga berharap untuk masalah karier ya. dan untuk pekerjaan lancar tidak banyak masalah.. keimanan sehingga bisa berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan. memang harapan orang tua ya! Sehingga mereka kelak akan menjadi anak yang berguna ya. mereka menjadi anak sholeh sholehah. itu harapan saya ya. karier dan sebagainya lebih meningkat itu. kemudian untuk pendidikan akheratnya juga baik. membesarkan. mereka menjadi anak sholeh sholehah ya!. pendidikannya baik. sehingga mereka menjadi anak yang berguna bagi dunia dan akherat. ya berguna bagi dunia dan akherat ya pendidikannya baik.. terus apa? Dan juga masalah ini ya. jenjang kenaikan golongan. mendidik anak dengan baik. mendidik mereka menjadi anak yang. ee. masalah sosial lainnya ya seperti dengan adannya peningkatan karier. tapi juga untuk kebaikan mereka di akherat itu Akherat Maka ee. Perekonomian. dan kariernya lebih meningkat.

ke sekolah yang lebih tinggi Iya Lha itu khan untuk bekal kelak mereka ya. misalnya. karena ini masih kecil-kecil.. andaikan itu semua harapan ibu yang lain. tetap kita itu harus ini ya bersyukur Nggih Ya gitu. walaupun karier itu lebih baik. Emm. membantu orang lain teman lain. . teman. Informan berharap bisa membantu orang. untuk masa depan mereka tuh dengan rezeki yang lebih banyak tadi kan ee. sebisa mungkin juga nanti bisa me. ya seperti itu Eee.. itu kan ya dengan adannya peningkatan penghasilan itu harapannya nanti bisa membesarkan anak. tuh sudah tercapai he’em Apakah ada harapan lain bu? Harapan lain? Iya Mengenai apa ya? Ya. Dan untuk masalah yang lainnya seperti masalah keluarga. misalnya Iya Masalah apa? Lha apa? Kalau ibu sudah terpenuhi He-he-he Semuannya apakah ibu akan terfokus pada Ya gini ya. tadi khan ya kalau masalah karier. pekerjaan itu berhubungan dengan penghasilan ya akhirnya ya. untuk bisa menyekolahkan. karena pendidikan tinggi kan juga perlu biaya besar ya Iya apalagi kelak ya. mendidik anak ee. lha itu harapan saya seperti itu. mungkin? Masalah ini ya.161 950 P : I : 955 P : I P I P I P I P I P I P I : : : : : : : : : : : : : 960 965 970 975 980 P : I : 985 P : I : 990 P : I : penghargaan terhadap saya pribadi juga akan lebih baik dengan tetap... tetap akan menjaga tetap tadi insya Allah menjaga perilaku ya! Itu.

162 995 P : I : 1000 P : I : 1005 P : I : 1010 P : I : 1015 1020 P : I : 1025 1030 P : I : P : I : 1035 misalnya ee. Itu masalah tadi. jadi kalau masalah karena saya punya penghasilan.. karena mungkin. itu yang masalah selain masalah ekonomi dan sebagainya itu. sampingan ya.. bisa menyayangi anak. harapan saya terutama ya! Iya Itu ya memang bisa Allah bisa memberikan jodoh yang memang bisa menjadi iman keluarga. misalnya masalah ini. karena khan sebagai seorang single parent. seorang ibu ya ini yang terpenting tuh masalah anak ya! Ya. bertanggung jawab. itu khan juga ya itu kalau memang itu Allah itu memberikan Informan juga berharap jodoh lagi. terutama itu. masalah prib. Jadi ee. beda kalau orang yang tidak bekerja. eh. ini Allah memberikan jodoh lagi buat dirinya. ya penuh dengan kasih sayang seperti anak sendiri. dan itu sebagai pertimbangan yang harus mamang njimet ya! Iya Kalau seorang ibu tuh seperti itu. jodoh atau eee. terfikirkan? Terfikirkan iya. saya sendiri sudah bekerja jadi untuk masalah hal itu.. bersuami lagi.. ya ini lebih banyak pertimbangannya nanti segi anak ya! Jadi dia tuh bisa nggak menyayangi anak dengan. lha itu tidak itu masih. misalnya. jadi masih tidak begitu terfikir sekali itu masalah jodoh itu tadi . ini termasuk masalah pribadi ya? Yaa. itu masih tidak begitu.. itu yaa. nha itu juga ini ya. lha mungkin ya berat ya karena masalah ekonomi Masalah ekonomi tadi? Iya.. Iya Nha itu.. jadi ya ini mungkin. harapan ya. misalnya namanya jodoh misalnya. masalah ini ya.

163 1040 1045 P : Dikesampingkan ya? I : Iya P : Emm. gitu aja ya bu. nggak apa-apa P : Selamat siang bu I : Iya selamat siang . iya P : maaf lho kalau mengganggu I : iya.. makasih lho atas waktunya I : Hee.

.15-08. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Pagi mas? I : Iya. ee. bagaimana sih kehidupan rumah tangga ibu menurut sepengetahuan mas? I : Baik-baik aja kok P : Baik disini maksudnya? I : Yaa. maupun konfik baik saudara maupun tetangga P : Berarti? ee. Waktu : 08. P. I Hubungan dengan subyek : Anak Tertua Informan 1 Usia : 22 tahun Pekerjaan : Polisi Hari / tanggal wawancara : Rabu.. usianya sekarang berapa? I : 22 tahun P : 22 tahun ya. 25 . emm. mas mau Tanya nih. keluarga ibu anda.. ndak ada sih mas P : Sama sekali ya? Analisis 5 HPI mengenal informan karena HPI adalah anak kandungnya yang pertama.. mengenal P : Sejauh mana anda mengenalnya mas? I : Saya sebagai anak kandungnya P : Yang nomor? I : Yang pertama P : Yang pertama? Kalau boleh tahu mas. 15 20 Menurut HPI kehidupan keluarga informan baikbaik saja karena menurut HPI tidak ada pertengkaran. maupun konfik baik dengan saudara maupun tetangga. selamat pagi P : Ee.20 WIB (5 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal.. kalau sepengetahuan anda apakah pernah ada konflik? I : Yaa. ibu ini nggak ada konflik dan pertengkaran dengan keluarga? I : Iya P : Emm. maaf nih mas.164 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 1 Kode : WI/SP1 Nama : H.. nggak ada pertengkaran. 10 Usia HPI sekarang 22 tahun. 10 September 2008 Tempat : Kompleks rumah dinas aspol Manahan. apakah anada tuh mengenal bu M alias bu M ini mas? I : Iya. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal.

ee. . tanggung jawab sebagai orang tua P : Orang tua? I : Orang tua. kalau boleh tahu lagi ya mas? Bagaiamana sih tanggapan anda mengenai ibu ini? I : Gimana mas? P : Tanggapan mas tentang ibu I : Ooo. Tanggapan HPI terhadap informan menurutnya adalah seorang yang tanggung jawab sebagai orang tua kepada anakanaknya.. kekurangan keuangan atau kekurangan apa yang ada itu kurang dirumah.. yo terhadap anak-anak nya P : Emm. kalau ada kegiatan-kegiatan apa. HPI terlibat dalam masalah informan karena informan meminta tolong padanya untuk menyelesaikan masalahnya atau menggantikan peran ibunya.. biasannya ibu bilang pada saya untuk. kalau boleh tahu lagi ya? Sejauh mana mana sih anda tuh terlibat dalam kehidupan ibu ini? I : Yaa. apakah pernah sih ibu tuh menceritakan tentang masalah keluarganya pada mas I : Iya. berkerja keras P : Tanggung jawab disini maksudnya? I : Ya. mengganti sebagai ibu P : berarti? Mas.mas selalu membantunya? I : Iya P : Emm.165 30 35 40 45 50 55 60 65 70 I : Iya P : Emm kalau boleh tahu lagi ya mas.. pernah P : Seperti apa misalnya mas? I : Ya. itu P : Ibu tuh sebagai seorang yang bagaimana atau gimana? I : Ibu seorang yang tanggung jawab.. kalau ibu tidak bisa. mengganti semantara ibu itu? I : Iya P : Terus.. biasannya ibu bilang kepada saya P : Emm. seperti kalau ibu kekurangankekurangan apa. ibu biasannya saya yang dilibatkan P : Emm. dan keluarga mungkin? Atau pada anak-anak saja I : Anak-anak saja! Informan pernah menceritakan masalahnya kepada HPI seperti misalnya masalah kekurangan keuangan atau kekurangan apa yang ada itu kurang dirumah. biasannya informan bilang kepada HPI. Maksudnya dilibatkan? I : Iya mengganti itu. untuk menyelesaikan masalahnya atau mengganti ibu P : Tidak bisa ini? I : Ya.

sama-sama mas Menurut HPI informan adalah soerang yang pekerja keras.. ibu. kelontong P : Selain kelontong? Sepengetahuan mas? I : Iya. tentang kehidupan sehari-hari ibu? I : Iya. ee. Selain kegiatan masyarakat? I : Ya. kemasyarakat.... di komplek rumah. disamping seorang pensiunan. ibu pasti ada P : Emm. mungkin kegiatan pengajian.. buka wiraswasta P : Wiraswasta? Sebagai apa? I : Yaa. itu aja mas P : Pengajian? Dimana mas? I : Di komplek rumah P : Ooo... kelontong saja ya? I : Iya P : Emm. cukup baik ya mas! P : Baiknya disini? I : Ya kalau ada kegiatan-kegiatan kematian.. ibu juga. kalau boleh tahu lagi ya? Bagimana sih tentang sosialisasi. Menurut HPI sosialisasi yang dilakukan oleh informan cukup baik. hal ini dibuktikan dengan kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan pengajian yang diikuti oleh informan di sekitar kompek tempat tinggalnya. ya udah mas.166 75 80 85 90 95 100 105 P : Tanggung jawab pada anak-anak saja? Emm terus bekerja keras disini maksudnya mas? I : Eemm. udah itu aja? I : Iya P : Ooo. makasih I : Iya P : Atas waktunya I : Iya P : Maaf ya kalau menggangu I : Iya. terus mas. . karena sebagai seorang pensiunan informan juga membuka usaha sendiri membuka toko kelontong. itu saja mas P : Emm.

P : Pewawancara I : Informan Baris P I P I 5 P : I : P : 10 I : P : I : P : : : : : Uraian interview Siang mas? Siang Maaf bisa mengganggu sebentar? Bisa. anak ke berapa kalau boleh tahu anda? Anak ke 2 dari 2 bersaudara. kalau. gangguan besar. ee. tapi juga ada gangguan kecil. 10 September 2008 Tempat : Rumah Orangtua ibu Y Waktu : 10.. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal.49 WIB (5 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal..44-10. H. nggak ada apa lah gangguan-gangguan kecil.167 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 2 Kode : WI/SP2 Nama : M. saya mau tanya ya? Bagaimana sih kehidupan ibu mas. 15 I 20 : P : I : 25 Menurut MH kehidupan keluarga informan baikbaik saja tapi kadang ada gangguan kecil seperti kehidupan ekonomi dan masalah keuangan. contohnya kehidupan ekonomi lah.. Informan adalah anak ke 2 dari 2 bersaudara dan berusia 22 tahun. Hubungan dengan subyek : Anak Terakhir Informan 2 Usia : 22 tahun Pekerjaan : Swasta Hari / tanggal wawancara : Rabu. apakah anda tuh mengenal ibu Y mas Iya itu orang tua saya mas Emm. sekarang usia mas berapa kalau boleh tahu? 22 tahun 22 tahun. baik nggak ada keributan. mas ini.. Eee. masalah keuangan Gangguan dari ekonomi? He’em Analisis Informan adalah orang tua dari MH. kebetulan ini sedang nggak ada acara Eee. P : I : . mas. menurut sepengetahuan mas menurut sepengetahuan anda saja? Kehidupan rumah tangga saya dengan ibu ya? Alhamdulillah baik-baik saja tapi kadang Disini maksudnya? Ya.

jadi masalah.. Informan menceritakan kepada MH tentang masalah keluarga yang dihadapinya karena pernah ada sedikit kesalahpahaman informan dengan kakak informan sehingga perang mulut dan MH berusaha mendamaikan tetapi tidak didamaikan. sudah damai sendiri P : Jadi pernah konflik yang agak besar. terus? I : Terus khan penghasilan saya tidak meningkat-meningkat. apa gimana tuh. tapi. informan sudah damai sendiri Informan tidak terlibat banyak dalam kehidupan informan.. khan kurang ya mas. tentang keluarga I : He’eh P : Terus sejauh mana anda terlibat dalam kehidupan rumah tangga nya mas? I : Iya. kapan biasanya? I : Kalau waktu nggak bisa dihitung P : Pas ada masalah apa gitu? I : Masalah keluarga P : Seperti? I : Seperti. yang penting saya bisa ngasih uang dan saya bisa membuat saya tidak sedih tuh sudah senang Informan pernah dan sering cerita masalah yang dihadapinya kepada MH. terus saya berusaha mendamaikan. terus. ya betul! P : Emm. sering.. mereka apa.. Cuma ituuu.. dulu khan pernah ada sedikit miskomunikasi dengan pakdhe saya P : Ee. ekonomi yam as menurut mas? I : Eee. terus. P : Nggak pernah? I : Pernah! P : Pernah? Seberapa sering? I : Ya sering. karena menurut MH yang penting dia bisa . I : Dengan pakdhe saya. ya Alhamdulillah bisa ketutup dengan pinjem uang sana-sini P : Emm. Cuma terlibat ya. sedang mendapat masalah tuh apakah ibu mas pernah menceritakan tentang masalahnya? Masalah keluarganya mas? I : Nggak pernah. terus? I : Terus. nggak terlibat banyak-banyak lah. P : Emm. tapi Alhamdulillah tidak didamaikan. kalau meng. istilahnya perang mulut lah P : Emm. harga-harga kebutuhan pokok meningkat..168 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 P : Maksudnya? I : Maksudnya kadang khan. sering cerita P : Eee.

eh apa berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sendiri I : Iya. tidak sering keluar rumah tuh mas. terus. Berarti nggak. Cuma itu thok lah P : Cuma terbatas pada ekonomi saja ya? I : He’em P : Emm. betul. bekerja menjahit lah gitu thok P : Nggak ada kegiatan lain selain arisan atau PKK itu mas? ngasih uang dan bisa membuat informan tidak sedih MH sudah senang. itu khan penting mas P : Emm. bagaimana sosialisasi yang ibu mas lakukan? I : Ibu saya tuh sering. . betul P : Emm. terus ikut arisan keluarga P : Emm.. iya.. I : Itulah yang membuat saya bangga. I : Iya... Menurut MH informan pantang menyerah dan selalu berjuang demi anak-anaknya... ibu juga ndak ada niat untuk nikah lagi P : Emm. tentang ibu mas ini? I : Ibu saya tuh orangnya. pantang menyerah. betul sekali P : Dari segi karena dari tidak menikah lagi dan. ya kadang-kadang ikut arisan PKK. Yang membuat MH bangga kepada informan karena informan membesarkan anakanaknya sendirian tanpa bantuan orang lain dan juga informan tidak ada niat untuk menikah lagi.. I : Dah banyakan dirumah. saya berusaha untuk membahagiakan ibu saya P : Jadi anda merasa bangga dengan ibu anda ya? I : Yak. mas terus bagaimana sih tanggapan mas ya. ho’oh betul. selalu berjuang demi anakanaknya P : Maksudnya pantang menyerah? I : Khan ibu saya sejak khan 1993 ditinggal bapak saya. peran yang lain nggak ada mas? I : Ya. tapi dia membesarkan anak-anaknya sendirian tanpa bantuan P : Emm. ho’oh P : Dan membantu perekonomian keluarga. terus? I : Tanpa bantuan orang lain. jadi mas itu hanya terlibat dalam anu. dalam membantu meringankan beban ibu? I : Ho’oh..169 80 85 90 100 105 110 115 120 125 P : Ooo.

170 130 I P I P I P I : : : : : : : Wah nggak ada mas Jadi Cuma dirumah saja? Ho’oh Untuk memenuhi pesanan jahitan He’em tul Oh ya dah mas makasih atas waktunya Sama-sama .

P : Ooo.. C.ee. dan dia harus menghidupinnya seorang diri. 10 15 20 25 Karena informan harus menghidupi keluarganya seorang diri maka informan menjadi seorang yang pekerja keras. ulet dan selalu mencari peluang untuk mencari penghasilan tambahan. . ulet dan selalu mencari peluang untuk mencari penghasilan tambahan mas. terus..10-20.. karena SC adalah rekan kerja informan. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian Interview P : Malam mas? I : Selamat malam. P : Eee.. Hubungan dengan subyek : Rekan kerja informan Usia : 22 tahun Pekerjaan : Swasta Hari / tanggal wawancara : Sabtu. mas. karena ibu R ini mempunyai 4 orang anak. I : Bekerja keras P : Bertanggung jawab dan bekerja keras untuk keluarga? I : Iya P : Ee. 20 September 2008 Tempat : Rumah Orangtua S. ibu resmian ini seorang yang.. berarti menurut mas. kalau boleh tahu ya Analisis 5 SC mengenal informan. bagaimana sih kehidupan rumah tangga ibu R ini menurut sepengetahuan anda? I : Kalau menurut sepengetahuan saya. apakah anda itu mengenal ibu R mas? I : Iya saya sangat mengenal sekali P : Sejauh mana anda mengenalnya? I : Tuh teman kerja P : Teman kerja ya mas? I : Teman kerja P : Dimana kalau boleh tahu? I : Di perusahaan obat T P : Oh jadi mas rekan kerja ya ibu R ya? I : Rekan kerja P : Eee. kalau boleh tahu ya mas ya.16 (6 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal. C. Waktu : 20. kalau boleh tahu ya mas. ibu R ini merupakan pekerja keras.171 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 3 Kode : WI/SP3 Nama : S.

jadi disini tuh kan saudaranya sedikit sekali.. tanggapan ya... tanggapannya mas tuh mengenai ibu R ini bagaimana? I : Tanggapan yang seperti apa? P : Ee. kalau boleh tahu ya. I : Istilahnya ekstra kurikurel sekolah lah yang mamakai biaya P : Emm. ee...172 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 I : Iya P : Apakah pernah sih ibu R ini menceritakan tentang masalah keluargannya? I : Pernah! P : Eeee. jadi bu R ini sering mengatasi masalahnya sendiri tanpa pertimbangan orang lain? I : Iya. kehidupan anak saya ini. biasannya ya taren ke saya. P : Emm.. menurut mas ya. jadi ketika saya kesana bu R ini pernah menceritakan pada saya. mungkin piknik dadakan atau. . P : Emm. kadang-kadang P : Kadang-kadang? Maksudnya? I : Ya pas kalau dibutuhkan untuk taren. tapi kalau nggak ya bu R nggak bilang kesaya atau tanya-tanya tentang masalah kehidupan pribadinya. selain itu mas? I : Selain itu biasanya lagi kalau anake ada acara sekolah nDadakan.. gitu aja mas P : Kalau. gimana ya.. seperti itu P : Emm kalau. istilahnya taren-taren. boleh tahu ya mas? I : Iya! P : Emm. dia tuh sebagai sosok ya seorang yang bagaimana Informan pernah menceritakan masalah keluargannya kepada SC Informan menceritakan kepada SC masalah kehidupan anaknya dan untuk mencukupi kehidupan keluarga sehari-hari.untuk mencukupi keluarga sehari-hari. kalau boleh tahu sejauh mana? I : Ya bu R ini khan orang asli Medan.. I : Acara les dari sekolahan yang harus diikuti P : Emm.. jadi mas itu sering terlibat ya dalam? I : Yaa. SC terlibat di dalam kehidupan informan ketika dimintai bantuan pertolongan oleh informan.. tadi ibu R tuh ya mas tarennya masalah apa? I : Biasanya kebutuhan keuangan sekolah P : Emm.

: Emm. dan sebagai kepala keluarga. ulet dan tidak mengenal waktu dalam berkerja.. itu sangat bagus sekali mas Tanggapan SC terhadap informan adalah sebagai seorang ibu rumah tangga yang sangat pekerja keras sekali. Menurut SC informan sangat bertanggung jawab kepada keluarga. bagaimana? : Sangat bertanggung jawab sekali pada keluaga : Emm. : Dan sangat memikirkan sekali masa depan anak-anaknya. gigih mandiri gitu? : Iya : Terus mas. : Sedangkan suaminya sudah meninggal 2 tahun yang lalu.. menurut. : Banyak juga pekerjaan yang dilakukan bu R : Eee. ulet dan tidak mengenal waktu apabila dia tuh berkerja. kalau boleh tahu lagi ya? : Iya : Bagaimana sih sosialisasinya bu R ini dalam lingkungan kantor. : Sebagai seorang ibu. menyelesaikan sendiri... tapi dia menyelesaikan? : Iya.. : Emm. walaupun dia sendiri harus menjalaninnya dengan penuh kesulitan-kesulitan yang menghadang : Woo. tetangganya atau keluargannya? : Woo.. jadi menurut mas ini walaupun bu R ini sedang menghadapi kesulitan ini. itu. selain itu mas? Selain pekerja keras. memikirkan masa depan anaknya Menurut SC informan menyelesaikan sendirian semua masalah yang dihadapinya. lha disinilah letak seorang tanggung jawab bu R ini sebagai seorang ibu. dengan gigih : Dengan sendiri. jadi dia tuh ibu rumah tangga yang sangat pekerja keras sekali. : Karena disini tuh tanggung jawab dia tuh sangat besar sekali menghidupi 4 anaknya seorang diri : Emm. karena di satu sisi bu R tuh kalau nggak seperti ini kebutuhan keluarganya nggak tercukupi. apalagi mas bu R ini? : Ya. ee. bertanggung jawab. ulet. makannya dia kalau melihat peluang-peluang untuk mencari penghasilan tambahan... .173 I 80 P I 85 P I 90 100 P I P 105 I P I P I 110 115 P 120 I P I P I P 125 I : Ooo..

Menurut SC sosialisasi yang dilakukan oleh informan sangat baik.. dan membantu dengan yang lain. supel. dia tuh selalu membagikan apa yang bisa dia berikan pada orang lain P : Emm.. lha kalau kita bercerita dengan bu R. sama-sama P : Met malem.174 130 135 140 145 150 155 160 165 170 P : Bagus disini maksudnya? I : Bagus. tanya kepada mas. misale ada suatu kebutuhan yang mendadak. I : Kalau bu R nih. masyarakat dan keluarga. makasih juga. gitu aja yang mungkin yang sedikit yang saya bisa apa. itu ya? I : Iya sosialis banget dimanapun tempat P : Dikantornya? I : Dikantornya juga. ya udah mas. tergolong orang yang supel. Menurut SC informan itu orangnya supel dan membantu yang lainnya. masyarakat.. . mas? I : Malem Menurut SC sosialisasi yang dilakukan oleh informan bagus bik di keluarga. masyarakat dan teman-teman kerja. P : Kalau di kantor? Rekan kerja? Antar rekan kerja? I : Kalau antar rekan kerja. saya sudah pernah mengalaminya seperti itu P : Emm. I : Karena bu R ini kalau melihat temannya kesusahan tuh nggak tega. I : Seperti itu P : Jadi? Bu R ini seorang yang supel ya? I : Iya. dengan orang lama dan dengan siapa pun yang dia suka. karena menurut SC informan tergolong orang yang supel dan suka bergaul. dimasyarakat juga di keluarga juga P : Ooo. jadi suka bergaul dengan orang yang baru dikenal. insya Allah kalau ada sedikit sisa dari rezeki bu R pasti kita bisa dibantu. jadi tinggi sekali jiwa sosialnya P : Jadi bu R ini orangnya sosialis banget. baik dilingkungan kantor.. dalam artinya disini tuh sosialisasinya sangat memuaskan sekali baik di keluarga. makasih atas waktunya ya mas? I : Iya. ataupun teman-teman kerja P : Emm. misale kalau ada seorang temene bu R membutuhkan keuangan.

. 15 20 Informan terkadang bercerita dengan PM tentang keinginannya untuk menikah lagi. sok kadang-kadang njih anu crito.30-10. P : Emm bu. apakah sering. Waktu : 10. ibu ngkang Analisis 5 PM mengenal informan karena PM adalah orang tua dari informan. jadi bu E niku sering crito masalahe kalian ibu njih? I : Nggih P : Terus. 24 September 2008 Tempat : Rumah Ibu P. niku anak kula P : Ooo. nggih P : Emm. napa pernah sih. 25 . maksudte nggih.36 ( 6 menit) Tujuan : Mengetahui pemecahan masalah pada wanita sebagai orang tua tunggal.. crito masalahe kalian ibu? I : Nha. sok crito tentang mitangletaken bade di pun pek garwo ngoten niku. emm. napa njenengan niku kenal bu E niki bu? I : Njih kenal. nyuwun preso njih? I : nggih P : Pripun tho kehidupanne rumah tanggane bu E. emm sampai sejauh mana nggih ibu niku terlibat ngoten nggih dalam kehidupane bu E I : Terlibat? Dospundi njih? P : Terlibat. napa namane bu E niku.. itu ya janda itu. janda nggih? I : Iya P : Terus.175 Verbatim Significant Person Wawancara Informan 4 Kode : WI/SP4 Nama : P.. M. M.. bu. Hubungan dengan subyek : Ibu kandung informan Usia : 59 tahun Pekerjaan : Janda pensiunan Hari / tanggal wawancara : Rabu. 10 Menurut PM informan adalah seorang janda. janda disini. me. dados bu E niki putrane ibu njih? I : Nggih P : Emm. E itu. P : Pewawancara I : Informan Baris Uraian interview P : Sugeng siang bu? I : Emm. dan alasan pemilihan pemecahan masalah wanita sebagai orang tua tunggal. P : Emm. nyuwun preso njih?. menurut sepengetahuan ibu? I : Sepengetahuan ibu.

nggih an. angsal.. nggih mestinipun. tanggepane ibu? : Nggih soale kula nggih pansiunan. griyo piyambak sedaya. sakmenika sampun enten SD kelas tigo : Nggih Informan sering bercerita kepada PM masalah kehidupannya tetapi PM mengembalikan lagi kepada informan keputusan yang dipilihnya. enten ingkang nangletaken badhe ngepek niku.176 30 I 35 P I P 40 I P 45 I 50 55 P I P I P I 60 65 P I 70 P I 75 P ngarahke ngonten lho! Sejah mana? : Yen kintene enten ngkang nangletake nggih anu. : Emm. dados sekawan sampun. les inggris. nggih niku arto. ngkang setunggal mboten wonten. meninggal. tanglet-tanglete masalah kalih ibu niku masalah ingkang badhe dipun pek tiang niku nggih? : Nggih : Emm. A nembe kalih tahun. lha E niku sampun janda. wong soale janda masih muda : Emm… dadose bu E niki. nuwun sewu nggih. urusane anak. ingkang nomer gangsal. anak gangsal mpun mentas sedoyo.. gadhah anak kalih. biasane ingkang napa. : Dadose bu E niku mandiri nggih? : Nggih mandiri : Dados? : Nandang anak kalih : Nggih. napa gumantung E piambak.. terus menawi. sampun rumah tangga. nggih enten kekuranganne. tanglete. dospundi remen napa mboten : Emm. Menurut PM informan itu orang yang mendiri dengan dua anaknya. . yen A. : Sampun pikantuk napa. terus? : Anak kalih. A kalih A : Nggih! : Ditinggal niku A tasih nembe setengan tahun manika. : Ngoten niku. wong niku anak. napa napa niku nggih kulo bantu. yen kula. tanggepane ibu niku dumatheng bu E niku pripun nggih? Bu E niku kadose pripune? Dalam kehidupane ngoten pripun?. A. pun umur pinten nggih? Sampun 19 tahun bar SMA. nggih kintene enten kerepotane. nggih urusane kulo.

menawi srawunge bu E pripun? Srawunge dumatheng warga. Menurut PM sosialisai yang dilakukan oleh informan baik dan ini terbukti dengan dipercayai sebagai bendahara di lingkungan kampungnya dan mengikuti kegiatankegiatan olah raga dikampungnya.. terus. olehraga niki wau napa bu? : Nggih anu ten kelurahan menika. sok mimpin-mimpin anu niku. menika. lha wong kula sampun sepuh : Nggih : Dadose nggantos. A. olahraga?. sampun. dumatheng keluarga : Sae. ingkang nyepeng tabungan : Nggih : Kangge PKK Gawanan RT setunggal RW tujuh : Laine dados PKK niku. yen A nembe TK. dados nggih urusane masyarakat nggih E ingkang dados.. PKK RT setunggal. . emm selain sosialisasine dateng PKK. RW tujuh : Dados. napa nggih kintenipun yen kegiatan-kegiatan niku riyin yen enten kegiatan olehraga ten kelurahan : Emm. Al-Abidin. yen kelurahan ngawanan mriki. nggih nek ngoten. mandar dados anu nggih napa PKK. soale anakanak urusane tasihalit-alit : Nggih : Nggih dados nggih nyinaone anak-anak napa nggih E sedoyo : Dados bu E niki. A. bu E niki srawunge dumateng warga sae nggih? : Nggih sae : Selaine PKK kalian olehraga? Mboten enten malih? : Nggih namik niku nggih. napa malih menurute ibu? : Nggih kegiatan-kegiatan olahraga napa niku nggih sok mengikuti. terus E anaknya kalih. nggih sae. : Menawi ten sekolahan kan nggih sok dibarengke pas sekolahan : Emm. wong niku dados.177 I 80 P I 85 P I 90 P I 95 P I 100 P I P 105 I P I 110 P I 115 P I 120 P : Enten Mbanyuanyar. napa enem tahun kirang langkung : Nggih. TK Bhakti. sampun gangsal tahun. janda.

mandiri piyambak kalih anak-anak. nggih nuwun sewu menawi nggangu Emm. hehe-he Pun. selamat siang Nggih Tur nuwun.. badhe anu. kula nggih tasih alit-alit anak nika. mboten napa-napa kula namung apa adanya Nggih Soale nggih mpun dados janda. ngantos anu persatuan anak gangsal menika. Matur suwun wektune. terus saged kuliahkuliah sedaya nggih naming mandiri. kulo nggih dados janda empun enten kawan likur tahun Nggih Yen E.178 I 125 : P : I : 130 P : I : 135 P : I : 140 P : I : P : 145 I : matursuwun wektune nggih bu. he-he-he. tanglet? Nggih. ngrepoti . ditilar bapak ipun menika ingkang alit piyambak menika nembe TK badhe SD Emm Dadose. gangsal tahun napa nem tahun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful