BESARAN-BESARAN DASAR ELIPS - Materi

Elips adalah suatu bentuk yang berasal dari penampang sebuah kerucut yang diiris secara miring dan dalam astronomi adalah salah satu hasil yang alami dari gerakan sebuah benda jika benda tersebut berinteraksi dengan benda lain melalui gaya gravitasi. Hasil lintasan elips ini bisa diperoleh dengan ‘mengutak-atik’ hukum Gravitasi Newton yang ditelurkan oleh Sang Jenius ini pada tahun 1687, meskipun orang sudah mengetahui hal ini sebelumnya sejak tahun 1609 melalui analisis Johannes Keppler yang sangat teliti terhadap data pengamatan 5 planet dari Tycho Brahe dan diwujudkan dalam ketiga hukum Keppler yang sangat terkenal itu. Hukum Keppler yang pertama secara khusus berbicara mengenai orbit planet yang berbentuk elips dengan matahari berada pada salah satu titik fokusnya. Kesimpulan yang berdasarkan data pengamatan ini dengan berani dinyatakan oleh Keppler sebagai salah satu hukum dalam alam semesta dan memang perkembangan lebih lanjut mendukung pernyataan ini, hanya saja ternyata lintasan benda langit tidak selalu berbentuk elips, bentuk-bentuk irisan kerucut yang lainpun ternyata dapat dimiliki oleh sebuah benda langit. Ciri khas dari sebuah irisan kerucut dinyatakan oleh besaran eksentrisitas (e) yang besarnya menyatakan bentuk irisannya : Jika e = 0 maka bentuk irisan kerucutnya adalah lingkaran Jika 0 < e <1 maka bentuk irisan kerucutnya adalah elips Jika e = 1 maka bentuk irisan kerucutnya adalah parabola Jika e > 1 maka bentuk irisan kerucutnya adalah hiperbola Lintasan dari sebuah komet meskipun berbentuk elips, tetapi memiliki nilai e yang hampir mendekati 1 sehingga bisa didekati dengan lintasan parabola. Lintasan meteor yang memasuki bumi dapat dianalisis dengan menggunakan lintasan hiperbola, lintasan venus mengelilingi matahari dalam beberapa kasus dapat dianggap sama dengan lintasan lingkaran karena nilai e venus yang mendekati nol (e venus = 0,0068). Dengan demikian dinamika orbit tidak bisa dipisahkan dari bentuk irisan kerucut dan dalam olimpiade astronomi banyak soal yang berkaitan dengan lintasan elips, karena itu sangat perlu kita mengenal beberapa istilah dan besaran-besaran dari orbit elips ini. Perhatikan gambar elips di bawah ini :

Sepanjang planet mengelilingi orbitnya. yaitu orbit lingkaran . sedangkan fokus yang lain disebut vacant focus (fokus kosong). maka c = 0 dan e = 0. maka jarak planet ke matahari (r) selalu berubah Perihelium adalah titik terdekat planet dari matahari dengan rumus : Pe = a + c = a (1 + e) Aphelium adalah titik terjauh planet dari matahari dengan rumus : Ape = a – c = a (1 – e) Eksentrisitas (e) didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak fokus ke pusat elips (c) dibagi setengah sumbu panjang elips (a). Jika fokus tepat ada di pusat elips.Matahari terletak di salah satu fokus.

Jika jarak planet ke matahari dekat maka kecepatannya besar dibandingkan ketika jaraknya dekat Hukum Kepler 3 Kuadrat periode revolusi planet sebanding dengan pangkat tiga setengah sumbu panjang orbitnya untuk semua planet Jika diubah kedalam rumus matematik maka persamaannya menjadi : Atau .HUKUM KEPLER 2 & 3 – Materi Hukum Kepler 2 Suatu garis khayal yang menghubungkan matahari dengan planet menyapu luas juring yang sama dalam selang waktu yang sama Hukum Kepler yang kedua memberikan implikasi mengenai kecepatan planet yang berbeda-beda pada saat mengelilingi matahari.

yaitu Hukum Gravitasi. G = 6.672 x 10^-11 Nm^2kg^-2) dan M1 maupun M2 adalah massa kedua benda yang saling berinteraksi dengan gaya gravitasi. Newton merumuskan Hukum Gravitasi Universal melalui persamaan : Melalui mengotak-atik persamaannya ini. Sekitar setengah abad kemudian. ditahun 1687. . maka kita akan peroleh tabel berikut ini : Perbandingan yang tetap dalam Hukum Kepler 3 memang berlaku untuk tiap planet. ternyata kita dapat menghasilkan ketiga Hukum Kepler. Jika hukum ini diterapkan pada data planet-planet. Bahkan konstata perbandingan planet dapat ditentukan dari Persamaan Gravitasi ini.Dimana T adalah waktu yang diperlukan oleh planet untuk mengelilingi matahari (disebut periode planet) dan a adalah setengah sumbu panjang orbit : a = (perihelion + aphelion)/2. sehingga bisa dikatakan bahwa Hukum Kepler adalah kasus dari Hukum yang lebih universal. Karena itu Hukum Kepler 3 yang lengkap adalah : Dimana G adalah konstanta gravitasi (yang nilainya ditentukan sekitar seabad kemudian (1798) oleh Cavedish.

Pada soal-soal dengan kasus Hukum Kepler. Jika ternyata ada soal tentang Hukum Kepler 3 yang bukan tipe-tipe di atas. maka rumus Kepler 3 dapat menjadi sangat sederhana. maka rumus Kepler 3-nya sama saja dengan soal tipe 1. komet atau pesawat ruang angkasa. maka haruslah menggunakan rumus Kepler 3 yang aslinya. periode orbit dalam hari dan jarak dalam km. maka jenis soal yang sering muncul ada tiga tipe. Jika demikian halnya. yaitu : Dan ternyata konstanta di suku sebelah kanan dengan ‘ajaibnya’ memiliki nilai sama dengan 1. Satuan yang biasanya dipakai untuk soal jenis ini adalah massa planet dalam massa matahari. jarang sekali digunakan satuan MKS (meter. Untuk tipe ini rumus Kepler 3 bisa diubah menjadi : Soal Tipe 3 : Benda yang terlibat adalah dua buah bintang dalam sistem bintang ganda. yaitu : Soal Tipe 1 : Benda pertama (sebagai pusat) adalah matahari dan benda yang mengorbit adalah planet. . kilogram. Untuk kasus bintang ganda ini biasanya massa bintang dalam massa matahari dan periode orbit dalam tahun. sekon). Untuk jenis tipe 1 ini satuan yang digunakan biasanya jarak dalam SA (Satuan Astronomi) dan waktu orbit/periode dalam tahun.Dalam soal-soal olimpiade. tetapi menggunakan satuan-satuan yang biasanya dipakai dalam astronomi. maka : Soal Tipe 2 : Benda pertama adalah planet (yang ada di tata surya) dan benda kedua adalah satelit alamnya atau satelit buatan yang mengorbit planet tersebut. asteroid.

.Supaya lebih jelas lagi. silahkan mengerjakan soal-soal olimpiade tentang Hukum Kepler yang ada disini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful