PENGAR RUH KOM MPETEN INDE NSI, EPENDENSI, DAN MOTIV N VASI TER RHADAP KUALIT TAS AUD

OPER DIT RASIONA YANG AL G DI ILAKSAN NAKAN O OLEH APARAT INSPEKT A I TORAT KOTA BENGKU B ULU DAL LAM PEN NGAWAS SAN KEUA ANGAN DAERAH H

SKRIP PSI

SKRIP PSI

Oleh :

ELV VIRA HE ERTIKA NP : C1C PM C008007

UNIVER RSITAS BENGK KULU FAKUL E OMI LTAS EKONO JURUS SAN AK KUNTANSI 2012 2

PENGAR RUH KOM MPETEN INDE NSI, EPENDENSI, DAN MOTIV N VASI TER RHADAP KUALIT TAS AUD OPER DIT RASIONA YANG AL G DI ILAKSAN NAKAN O OLEH APARAT INSPEKT A I TORAT KOTA BENGKU B ULU DAL LAM PEN NGAWAS SAN KEUA ANGAN DAERAH H

PSI SKRIP
Diaju ukan Kepad Universi da itas Bengku Untuk Memenuhi Salah Satu ulu i Persyar ratan dalam Menyeles m saikan Sarj jana Ekono omi

Oleh : ELV VIRA HE ERTIKA NP : C1C PM C008007

UNIVER RSITAS BENGK KULU FAKUL E OMI LTAS EKONO JURUS SAN AK KUNTANSI 2012 2

i   

MOTTO “Harapan dan Keyakinan adalah Bekal Sukses diMasa

Depan” (Elvira Hertika)  “Perjalanan Seribu Batu Bermula Dari Satu Langkah” (Lao Tze)  “Kebanggaan Kita Yang Terbesar adalah Bukan Tidak Pernah Gagal, tetapi Bangkit Kemabali Setiap Kita Jatuh” (Confusius)  “To Handle Your Self Use Your HeadTo Handle Others Use Your Heart” (Elvira Hertika)  “Allah Tidak Membebani Seseorang Melainkan Sesuai Dengan Kesanggupannya” (Al-Baqarah 286)  “Tuhan Tau Tapi Tuhan Menunggu. Percayalah Tuhan Selalu Mendampingimu Baik Susah ataupun Senang” (Elvira Hertika)  “Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putusputus-nya dipukul ombak. Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menenteramkan amarah ombak dan gelombang itu. (Jalinus At Thabib).

iv   

PERSEMBAHAN
Dengan menyebut nama Allah SWT, skripsi ini kupersembahkan untuk :

Ayah (H. Zahedi Zen) dan Ibu (Hj.Elly Herlinda., Spd), yang selalu memberikan kasih sayang, selalu mendoakan dalam setiap langkah, impian, dan harapan, selalu memberikan yang terbaik, selalu memenuhi keinginan dan selalu memberikan semangat untuk terus berjuang menggapai impian. Mungkin semua ketulusan takkan pernah bisa terbalas oleh sesuatu yang paling mahal sekalipun di dunia ini, hanya kesuksesan dan kebanggaan yang dapat diberikan untuk membahagiakan mereka.  Ayok- ayok tersayang, Elva Harneni. SE, Elvi Hervita.SE yang selalu menyemangatiku dan membantu ku baik dalam bentuk motivasi atau materil ,Semoga kasih sayang dan kebahagiaan selalu menyertai kita.  Nyai ku tercinta (Hj. Hasanah Iskandar) yang selalu setia mendoakan ku dan memberikan dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini dan Datuk ku (R. Iskandar) yg selalu mendoakan ku dari surge sana, walau dek gak pernah ketemu tapi dek selalu merasa dukungan dari datuk ^-^.  Dosen Pembimbingku Bapak Dr. Fachruzzaman sang motivator dan dosen sekaligus bapak yang sangat aq banggakan.  Keponakan dan sepupu2ku tersayang (Andin, Keyzha) semoga kebahagian untuk kita selalu.  Dia(My lofly Ki’08) yang akan mendampingiku sampai akhir hayatku.  Teman2 akuntansi khususnya angkatan 2008.  Agama dan Almamaterku.

v   

THANKS TO
Keluarga terhebatku, Ayah (H. Zahedi Zen), Ibu (Hj. Elly Herlinda), Ayok-ayok ku tersayang (Elva Harneni. SE, Elvi Hervita. SE). Makasih atas bantuannya, doa, semangatnya dan semoga kita selalu bisa sama-sama dan kebahagiaan selalu menyertai kita, Aminn..  Pak Fachruzzaman sebagai dosen pembimbingku dan ibu Rini, yang tidak pernah lelah memberi masukkan, arahan sehingga aku bisa menyelesaikan skripsi dan menjadi sosok yang sangat berarti selain ayah dan ibu ku. Kalian motivator ku…Insyaallah Vie bakal sukses seperti yang bapak ibu harapkan amin..  Pak Eddy selaku Kajur yang berdidikasi, vie ngucapin banyak terima-kasih atas masukan serta motivasi yang sangat membantu vie dalam menyelesaikan skripsi ini.  Ibu Novita Sebagai dosen sekaligus temen curhat, yang selalu memberikan motivasi dan semangat dikala vie bener-bener down. Sekali lagi makasih ya ibu ku yang cantik.  Pak Madani yang merupakan dosen yang memberikan masukan dan motivasi dan memberikan masukan dalam pengerjaan skripsi ini, walaupun sebenarnya dia sibuk tapi tetap bersedia ketika vie minta bantuan. Doakan vie menjadi sukses dan membanggakan bapak dan dosen-dosen lainnya.  Buat My Lovely Ki (Emon), makasih buat kebersamaanya dan selalu menemaniku dikala sedih dan susah, makasih atas motivasi dan dukungan yang membuatku semangat untuk menyelesaikan skripsi ini semoga hal ini terus dapat berujung sampai akhir hayat kita aminn..  Sahabat2 ku tersayang (Bunda Tri, Nyai Diah, Nut(Rena), Goceng (Silke), Inga Mimi, wendy, dei, upik Banun (Azwita), inul (Ikhlazia), kodok (eko), Eta, yang selalu memberikan semangat lewat keceriaan yang telah kalian berikan. Semoga persahabatan ini kekal abadi dan kesuksesan diperuntukan bagi kita semua aminn.

vi   

 Rekan satu bimbingan mang Hanif, Mb siska, dan yang lain-lain^-^  Temen2 Peminatan Akuntansi Sektor Publik angkatan pertama yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Tetap semangat untuk terus memajukan peminatan sektor publik jangan biarkan orang memandang sebelah mata, buktikan dan berikan hal yang terbaik..^-^  Temen2 akuntansi angkatan 2008 kelas A makasih buat cerita yang pernah kita ukir sama2,, moga akan jadi persahabatan yang selalu abadi. dan Tetap semangat menggapai cita-cita.  Temen2 akuntansi angkatan 2008 kelas B, tetap semangat menggapai kesuksesan untuk masa depan.  Seluruh mahasiswa akuntansi angkatan 2007, 2009, 2010, 2011, yang tidak bisa disebutkan satu persatu  Buat Mbak Ning, Ayuk Lili, Bu Odah yang terus vira repotkan, dan mungkin sampe bosan vira datangin terus ^-^, makasih atas bantuan dan kemudahannya selama ini. . Pak andi, Ayuk Nur, Ayuk Nike, yang setia jadi temen ngobrol dan terus direpotkan kalau vie lagi nunggu bimbingan ma pak heru. Makasih ya ^-^  Ayuk Renti bunda cece, ayuk yenni, yang mau bantuin untuk penelitian di Inspektorat Kota Bengkulu  Aparat Inspektorat Yang telah membantu vira dalam mengisi Kuesioner dan bersedia untuk vira wawancara. Makasih atas bantuan dan kemudahan untuk vie dalam melakukan penelitian.

vii   

JUR RUSAN AK KUNTANSI I PERNYA ATAAN KE EASLIAN KARYA TULIS ILM K MIAH Saya yang bertanda tangan di ba g t awah ini me enyatakan bahwa skrips dengan ju si udul : PENGARU KOMPETENSI, IN UH NDEPENDENSI, DAN MOTIVA TERHA N ASI ADAP KUAL LITAS AUD OPERA DIT ASIONAL YANG DIL Y LAKSANAK KAN OLEH H APARAT INSPEKT T TORAT KO OTA BENGK KULU DAL LAM PE ENGAWAS SAN KEUA ANGAN DA AERAH l Yang diuji hari senin pada tangg 06 Febru gal uari, 2012, adalah hasil karya saya a. Sa menyata aya akan denga sesunggu an uhnya bahw dalam s wa skripsi ini tidak terdapat k keseluruhan atau sebagi tulisan orang lain yang saya am dengan cara ian o y mbil n menyalin atau men niru dalam bentuk ra angkaian kalimat ata simbol yang k au menunjuk kkan gagasan, pendapat atau pemi t, ikiran dari penulis lain yang saya akui p n, a seolah-ola sebagai tulisan say sendiri, dan atau tidak terda ah ya apat bagian atau n keseluruha tulisan yang saya s an y salin, tiru at yang sa ambil d tulisan orang tau aya dari o lain tanpa memberika pengakua pada pen an an nulis aslinya a. Ap pabila saya melakukan hal terseb diatas, baik sengaja maupun tidak, n but b a t dengan in saya me ni enyatakan m menarik skr ripsi yang saya ajuka sebagai hasil an tulisan sa sendiri. Bila kemu aya udian terbu ukti bahwa saya mela akukan tind dakan menyalin atau meniru tulisan or u rang lain seo olah-olah hasil pemiki h iran saya se endiri, berarti gel dan ijaza yang tela diberikan oleh Univ lar ah ah n versitas Ben ngkulu batal saya l terima.

Bengk kulu, Febr ruari 2012 Yang Membuat P Pernyataan,

Elvira Hertika

viii  

PENGARUH KOMPETENSI, INDEPENDENSI, DAN MOTIVASI TERHADAP KUALITAS AUDIT OPERASIONAL YANG DILAKSANAKAN OLEH APARAT INSPEKTORAT KOTA BENGKULU DALAM PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH By : Elvira Hertika 1) Dr. Fachruzzaman, SE., MDM. Ak2)

ABSTRACT This research aims to assess the competence, independence and motivation of the inspectorate personnel of Bengkulu prounce and examine the effect on the quality of the operational audit based on respondents perceptions to the question in the form of questionnaires and interviews. The sample on this research were 23 respondents as the are public servants whom working in the environment inspectorate and direct to audit examine the city of Bengkulu and to the offices or agencies in the Local Government of Bengkulu prounce. This research is qualitative descriptive, without using the hypothesis testing and analysis of qualitative data analysis, assisted with Microsoft Office Excel data tabulation to counting the results from respondents. In-Depth interview approach used to assess the influence of independence variables to the devenden variables. The results showed that generally, inspectorate competence personnel is good, almost part of the independence of inspectorate officers are good, and most of their motivation is good too. Competence, independence, and motivation have influence on the quality of the operational audit measure training level, work time and will knowledge about the standards, inspection rules, interference/pressure of perceived auditor, consistency and level of aspiration as well as the relationships between the team of audit while examines.

Key word : Competence, Independence, Motivation

1) 2)

Student Supervisor

ix   

PENGARUH KOMPETENSI, INDEPENDENSI, DAN MOTIVASI TERHADAP KUALITAS AUDIT OPERASIONAL YANG DILAKSANAKAN OLEH APARAT INSPEKTORAT KOTA BENGKULU DALAM PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH

Oleh Elvira Hertika 1) Dr. Fachruzzaman, SE., MDM. Ak2) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kompetensi, independensi aparat inspektorat daerah Kota Bengkulu dan mengkaji pengaruhnya terhadap kualitas audit operasional berdasarkan persepsi responden terhadap pertanyaan yang diajukan baik dalam bentuk kuesioner maupun dalam bentuk wawancara. Sampel dalam penelitian ini adalah 23 responden yang merupakan pegawai negeri yang bekerja dilingkungan Inspektorat Kota Bengkulu dan turun langsung melaksanakan audit ke kantor-kantor ataupun dinas di Pemerintahan Daerah Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang tidak menggunakan uji hipotesis dan analisis datanya berupa analisis kualitatif yang dibantu dengan Microsoft Office Excel dalam mengitung hasil tabulasi data jawaban dari responden. Pendekatan indepth interview yang digunakan untuk mengkaji pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi aparat inspektorat pada umumnya adalah baik, independensi aparat inspektorat hampir sebagian adalah baik, dan motivasi aparat inspektorat sebagian besar adalah baik. Kompetensi, independensi, motivasi memiliki pengaruh terhadap kualitas audit operasional dilihat dari tingkat pelatihan, masa kerja dan pemahamana akan standar, aturan pemeriksaan,gangguan/tekanan yang dirasakan aparat auditor, konsistensi dan tingkat aspirasi serta hubungan antar sesama tim audit pada saat melaksanakan pemeriksaan (audit).

Kata Kunci : Kompetensi, Independensi, dan Motivasi

1) 2)

Calon Sarjana Ekonomi (Akuntansi) Dosen Pembimbing

x   

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kompetensi, Independensi,dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit Operasional Yang Dilaksanakan Oleh Aparat Inspektorat Kota Bengkulu Dalam Pengawasan Keuangan Daerah”.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Fachruzzaman, SE., MDM. Ak selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 2. Bapak Eddy Suranta, SE., M.Si, Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu dan Ibu Sriwidharmanely, SE., MBM, Ak selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi. 3. Ibu Lismawati, SE., M.Si, Ak selaku dosen pembimbing akademik selama menempuh studi di Universitas Bengkulu. 4. Bapak Baihaqi., SE., M.Si., Ak selaku Dosen yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi dan memberikan keceriaan sehingga semangat dalam menyelesaikan skripsi. 5. Ibu Dr. Rini Indriani Djaman., SE., M.Si., Ak selaku dosen terbaik ku, motivatorku, dan pembimbing kedua ku dalam mencari jati diri yang sebenarnya dan penyemangat dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Bapak Dr. Husaini, SE., M.Si, Ak selaku Penguji I, Bapak Abdullah, SE., M.Si. Ak selaku Penguji II dan Ibu Lismawati, SE., M.Si, Ak selaku penguji III dan Bapak/Ibu Dosen Jurusan Akuntansi yang telah memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada penulis. 7. Bapak Dr. Ridwan Nurazi, SE., M.Sc. Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu.

xi   

8. Bapak Prof. Zainal Muktamar, Ph.D selaku Rektor Universitas Bengkulu. 9. Seluruh Staf fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu 10. Semua Aparat Inspektorat yang telah menjadi responden dalam penelitian ini. 11. Semua pihak yang telah membantu dan tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki, maka dari itu penulis mengharapkan perbaikan-perbaikan dimasa yang akan datang agar skripsi ini dapat lebih baik lagi. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihakpihak yang memerlukan. Akhirnya penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Bengkulu, Februari 2012

Penulis

xii   

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI.................................................... HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ..................................................... HALAMAN MOTTO ................................................................................. HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. HALAMAN UCAPAN TERIMA KASIH ................................................. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ........................ ABSTRACT .................................................................................................. ABSTRAK .................................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................. DAFTAR GAMBAR .................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang ................................................................................... Rumusan Masalah .............................................................................. Tujuan Penelitian................................................................................ Manfaat Penelitian.............................................................................. Batasan Masalah .................................................................................

i ii iii iv v vi viii ix x xi xiii xvi xvii xviii

1 10 11 12 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 2.11 Kualitas Audit ..................................................................................... Standar Umum Profesional Internal Auditor ..................................... Audit Operasional ............................................................................... Ekonomis,Efisiensi,Efektivitas .......................................................... Kompetensi......................................................................................... Independensi....................................................................................... Motivasi .............................................................................................. Pengawasan Keuangan Daerah .......................................................... Pengertian Inspektorat Daerah ........................................................... Peran Inspektorat Daerah ................................................................... Kerangka Pemikiran Teoritis ............................................................. 14 17 20 21 24 27 29 33 36 37 38

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ..................................................................................... 41

xiii   

3.2 3.3

3.4 3.5

3.6

3.7

3.8

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ................................... Desain Penelitian .................................................................................. 3.3.1 Skenario Penelitian ................................................................. 3.3.2 Instrument Penelitian .............................................................. 3.3.3 Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................. 3.3.3 Jadwal Penelitian .................................................................... Sumber Data ......................................................................................... Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel .......................................... 3.5.1 Populasi Penelitian ................................................................. 3.5.2 Teknik Pengambilan Sampel Penelitian ................................. Teknik Pengumpulan data .................................................................... 3.6.1 Kuesioner................................................................................ 3.6.2 Wawancara ............................................................................. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data ......................................... 3.7.1 Pengklasifikasian Data ( Data Reduction) ................................... 3.7.1.1 Wawancara Mendalam (indepth)..................................... 3.7.1.2 Snowball interview .......................................................... 3.7.2 Penyajian Data (Data Display) .................................................... 3.7.3 Kesimpulan (Conclusion) ............................................................ Pengujian Kredibilitas Data ..................................................................

41 45 48 49 49 50 50 51 52 52 53 55 57 57 57 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Data ........................................................................ 4.1.2 Keberadaan Inspektorat Sebagai Lembaga Teknis Daerah Bengkulu (LTD) ..................................................................... 4.1.3 Profil Responden .................................................................... 4.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi dan Masa Kerja Pada Posisi Sekarang .......................................... 4.1.5 Kecenderungan Jawaban Atas Pertanyaan Kuesioner ............ Analisis dan Pembahasan 4.2.1 Analisis Data Kualitatif .......................................................... 4.2.1.1Variabel Kualitas Audit Operasional ........................... 4.2.1.2 Variabel Kompetensi ................................................. 4.2.1.3 Variabel Independensi ................................................ 4.2.1.4 Variabel Motivasi ....................................................... 4.2.2 Deskripsi Hasil Wawancara Indepth ...................................... 4.2.2.1 Deskripsi Pengaruh Kompetensi ............................. 4.2.2.2 Deskripsi Pengaruh Independensi ............................ 4.2.2.3 Deskripsi Pengaruh Motivasi ................................... 4.2.3 Pembahasan Hasil Penelitian .................................................. 4.2.3.1 Pengaruh Kompetensi .............................................. 4.2.3.2 Pengaruh Independensi ............................................. 4.2.3.3 Pengaruh Motivasi .................................................... 60 61 61 62 65 67 67 74 79 83 87 92 96 101 104 107

4.2

xiv   

BAB V PENUTUP 5.1 5.2 5.3 5.4 Ringkasan Hasil Penelitian ................................................................... Implikasi Penelitian .............................................................................. Keterbatasan Penelitian ........................................................................ Rekomendasi untuk Penelitian Selanjutnya ......................................... 111 112 113 115

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

xv   

DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 2.1 Model Kerangka Pemikiran Teoritis ................................ Hal 39

xvi   

DAFTAR TABEL

Tabel Tabel 2.1 Motivasi Auditor Independen Dalam Melakukan Audit Pemerintah ..................................................... Tabel 3.1 Jadwal Penelitian......................................................................... Tabel 3.2 Pegawai Inspektorat .................................................................... Tabel 3.3 Sampel Penelitian ........................................................................ Tabel 4.1 Sampel dan Tingkat Pengembalian/Respon Responden ............. Tabel 4.2 Demografi Responden ............................................................... Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi dan Masa Kerja Pada Posisi Sekarang ............................................. Tabel 4.4 Kecenderungan Jawaban Atas Pertanyaan Kuesioner ................ Tabel 4.5 Responden yang akan diwawancarai .......................................... Tabel 4.6 Terjaminnya Keakuratan Temuan Audit..................................... Tabel 4.7 Nilai Rekomendasi ...................................................................... Tabel 4.8 Sikap Skeptis ............................................................................... Tabel 4.9 Pelaksanaan Audit ....................................................................... Tabel 4.10 Kejelasan Laporan..................................................................... Tabel 4.11 Tindak Lanjut Hasil Audit ........................................................ Tabel 4.12 Kualitas Audit Operasional Aparat Inspektorat Kota Bengkulu .......................................................................... Tabel 4.13 Pemahaman dan Penguasaan Standar Akuntansi Dan Auditing ............................................................................. Tabel 4.14 Keahlian dibidang Auditing ...................................................... Tabel 4.15 Wawasan tentang Pemerintahan ............................................... Tabel 4.16 Peningkatan Keahlian ............................................................... Tabel 4.17 Kompetensi Aparat Inspektorat Kota Bengkulu ....................... Tabel 4.18 Gangguan pribadi ...................................................................... Tabel 4.19 Gangguan Eksternal .................................................................. Tabel 4.20 Independensi Aparat Inspektorat Kota Bengkulu ..................... Tabel 4.21 Ketangguhan ............................................................................. Tabel 4.22 Keuletan .................................................................................... Tabel 4.23 Konsistensi ................................................................................ Tabel 4.24 Tingkat Aspirasi ........................................................................ Tabel 4.25 Motivasi Aparat Inspektorat Kota Bengkulu ............................

Hal 32 49 50 51 60 62 64 65 66 67 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87

xvii   

DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hasil Tabulasi Data Jawaban Kuesioner………………………………i Kuesioner Penelitian…………………………………………………..ii Daftar Panduan Wawancara Indepth………………………………………iii Transkip Hasil Wawancara Indepth………………………………………..iv Surat Izin Penelitian dari Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu………………………………………...v Surat Keterangan Benar-benar Melakukan Penelitian dari Inspektorat Kota Bengkulu………………...................................vi Biodata Penulis………………………………………………………..vii

 

xviii   

1   

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pelaksanaan akuntabilitas dan transparansi sektor publik terhadap

terwujudnya good governance di Indonesia semakin dituntut untuk terus meningkat. Tuntutan ini memang wajar, karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa terjadinya krisis ekonomi di Indonesia ternyata disebabkan oleh buruknya birokrasi (Susmanto, 2008). Akuntabilitas sektor publik berhubungan dengan praktik transparansi dan pemberian informasi kepada publik dalam rangka pemenuhan hak publik, sedangkan good governance menurut World Bank didefinisikan sebagai suatu penyelenggaraan manajeman pembangunan yang solid dan bertanggung jawab dan sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi, pencegahan korupsi baik secara politis maupun administratif, menciptakan disiplin anggaran, serta menciptakan kerangka hukum dan politik bagi tumbuhnya aktivitas usaha, terdapat tiga aspek utama yang mendukung terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan (Mardiasmo, 2005). Selama ini organisasi sektor publik khususnya instansi pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi, kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara. Pemerintah merupakan lembaga yang menjalankan roda pemerintahan yang sumber legitimasinya bersumber dari masyarakat. Oleh karena itu kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada penyelenggara

   

 

 

2   

pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya pemerintahan yang bersih (Djamil, 2008). Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik khususnya instansi pemerintah mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for money dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik tersebut. Audit pemerintahan merupakan salah satu elemen penting dalam penegakan good government namun demikian, praktiknya sering jauh dari yang diharapkan. Audit dalam pemerintahan Indonesia terdapat beberapa kelemahan, di antaranya tidak tersedianya indikator kinerja yang memadai sebagai dasar pengukur kinerja pemerintahan baik pemerintah pusat maupun daerah dan hal tersebut umum dialami oleh organisasi publik karena output yang dihasilkan yaitu berupa pelayanan publik tidak mudah diukur, dengan kata lain ukuran kualitas audit masih menjadi suatu perdebatan (Mardiasmo, 2005). Salah satu lembaga pemerintah daerah yang melakukan pemeriksaan adalah inspektorat daerah. Inspektorat daerah mempunyai tugas

menyelenggarakan kegiatan pengawasan umum pemerintah daerah dan tugas lain yang diberikan kepala daerah, sehingga dalam tugasnya inspektorat sama dengan auditor internal yang melaksanakan audit internal. Audit internal adalah audit yang dilakukan oleh unit pemeriksa yang merupakan bagian dari organisasi yang diawasi. Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota digolongkan sebagai auditor internal hal ini disebabkan adanya pemberian otonomi dan desentralisasi yang kuat, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah kabupaten/kota sehingga

   

 

 

3   

membawa konsekuensi perubahan terhadap lembaga pemeriksaan daerah (Mardiasmo, 2005). Peran dan fungsi Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota secara umum diatur dalam pasal 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 64 Tahun 2007, dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas pengawasan urusan pemerintahan, Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota mempunyai fungsi sebagai berikut: pertama, perencanaan program pengawasan; kedua, perumusan kebijakan dan fasilitas pengawasan; dan ketiga, pemeriksaan, pengusutan, pengujian, dan penilaian tugas pengawasan. Peran fungsi Inspektorat Kota Bengkulu yang dulunya disebut dengan Badan Pengawas Daerah (BAWASDA) diatur dalam Peraturan Walikota Bengkulu Nomor 27 Tahun 2008, mempunyai tugas pokok membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah dibidang pengawasan, sedangkan fungsi inspektorat Kota Bengkulu salah satunya yaitu pemeriksaan, pengusutan, pengujian, dan penilaian tugas pengawasan. Kenyataannya masih kurang efisiennya kinerja dari aparat pengawasan kota dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai aparat pemeriksa yang membantu kepala daerah, hal ini terlihat dari masih banyaknya temuan audit yang tidak terdeteksi oleh aparat inspektorat sebagai salah satu auditor internal pemerintah, yang ditemukan oleh auditor eksternal yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Badan Pemeriksa Keuangan (2010) menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kota Bengkulu tahun anggaran 2009, terdapat beberapa temuan mengenai kelemahan sistem pengendalian

   

 

 

4   

internal pemerintah dan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dengan temuan ini berarti kualitas hasil audit dari aparat inspektorat masih relatif rendah untuk dikatakan hasil audit yang berkualitas dan dapat

dipertanggungjawabkan. Berdasarkan fenomena tersebut, muncul tanda tanya mengapa masalah itu masih terjadi jika inspektorat sebagai auditor internal pemerintah sudah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan standar dan pedoman yang ditetapkan sebagai auditor yang kompeten dan independen dalam melakukan pemeriksaan, apakah kurangnya motivasi dari auditor itu sendiri yang menjadi penyebabnya atau terdapat sebab lainnya, sehingga perlu adanya analisis yang mendalam. “Fungsi pemeriksaaan merupakan salah satu fungsi manajemen sehingga fungsi tersebut tidak dapat dipisahkan dalam pengelolaan keuangan daerah. Oleh sebab itu, aparat pemeriksa dituntut untuk selalu membenahi diri, meningkatkan pengetahuan dalam hal teknis pelaksanaan audit dan mengikuti perkembangan penerapan aplikasi pengelolaan keuangan dan aset. Peningkatan kemampuan dan profesionalisme Inspektorat Kota Bengkulu perlu terus ditingkatkan, mengingat Kota Bengkulu kerap dijadikan rujukan oleh kabupaten lain di Provinsi Bengkulu khususnya dalam lingkup pemeriksaan” (Simbolon, 2010), hal ini sejalan dengan salah satu misi Inspektorat Kota Bengkulu yakni dalam mewujudkan dan menciptakan jiwa pemeriksa yang professional dan handal (LAKIP Inspektorat, 2011). Pelatihan-pelatihan yang ditujukan untuk aparat pengawasan intern pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah menunjukkan besarnya

   

 

 

5   

keinginan dari pemerintah daerah untuk menghasilkan jiwa-jiwa pengawasan yang berkompeten dibidangnya. Hal tersebut membuktikan bahwa pengawas yang berkompeten pasti menghasilkan kualitas audit yang baik pula. Pelatihan tidak hanya ditujukan untuk pemeriksaan dari laporan keuangan saja tetapi para pengawas intern pemerintahan ini juga melakukan audit operasional/audit kinerja dari intansi pemerintahan (Muzzakir, 2010). Kinerja suatu organisasi dinilai baik jika organisasi yang bersangkutan mampu melaksanakan tugas-tugas dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada standar yang tinggi dengan biaya yang rendah. Kinerja yang baik bagi suatu organisasi dicapai ketika administrasi dan penyediaan jasa oleh organisasi yang bersangkutan dilakukan pada tingkat yang ekonomis, efisien dan efektif (Ulum, 2009). Audit akan ekonomis, efisiensi dan efektifitas dari suatu program dalam instansi pemerintah merupakan bentuk audit operasional yang disebut juga audit kinerja yang dilakukan oleh para pengawas intern pemerintahan. Audit operasional ini juga dilakukan bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas pemerintahan daerah. Kualitas audit yang dihasilkan dari proses audit operasional ini juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan bagi pemerintah daerah dalam pengambilan keputusan. Hasil pemeriksaan ini memberikan tembusan atau rekomendasi untuk instansi tersebut dalam memperbaiki kinerja mereka dan hal ini juga memberikan masukan bagi kepala daerah dalam

pengambilan keputusan. Audit operasional yang dilaksanakan oleh pemeriksa internal pemerintahan juga menghasilkan suatu kualitas yang dapat diukur (Ulum, 2009).

   

 

 

6   

Government Accountability Office (GAO), menjelaskan bahwa kualitas audit itu sebagai ketaatan terhadap standar profesi dan ikatan kontrak selama melaksanakan audit (Lowenshon, et al, 2005). Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yaitu bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas jika memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu (Elfarini, 2005). Sama halnya hasil dari audit operasional yang berkualitas hanya dapat dihasilkan jika audit tersebut dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku. Kualitas audit operasional juga berarti kemungkinan bahwa seorang auditor operasional akan menemukan dan melaporkan pelanggaran yang terjadi pada sistem akuntansi klien, hal ini tergantung kompetensi auditor operasional itu dan independensi auditor operasional itu sendiri. M.Guy (2002) dalam Renaldo (2010) menyatakan bahwa kompetensi adalah pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Standar audit internal butir 1210 mengenai proficiency dinyatakan bahwa auditor internal harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya, selain harus kompeten seorang auditor juga harus memiliki sikap independensi dalam melakukan audit agar dapat memberikan pendapat atau kesimpulan apa adanya tanpa ada pengaruh dari pihak yang berkepentingan (BPKP, 2008). Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan RI Nomor 01 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, dalam Lampiran II menyebutkan: “Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari

   

 

 

7   

gangguan

pribadi,

ekstern,

dan

organisasi

yang

dapat

mempengaruhi

independensinya”. Kompetensi dan independensi memang merupakan suatu standar yang harus dipenuhi oleh seorang auditor untuk dapat melakukan audit dengan baik. Namun, belum tentu auditor yang memiliki kedua hal tersebut akan memiliki komitmen untuk melakukan audit dengan baik, sebagaimana dijelaskan Goleman (2001) dalam Efendy (2010), hanya dengan adanya motivasi maka seseorang akan mempunyai semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar yang ada, dengan kata lain motivasi akan mendorong seseorang, termasuk auditor, untuk berprestasi, komitmen terhadap kelompok serta memiliki inisiatif dan optimisme yang tinggi sehingga motivasipun dikaji sebagai variabel dalam penelitian ini guna melihat pengaruhnya terhadap kualitas audit operasional. Peran penting dari inspektorat dalam memberikan masukan kepada gubernur, bupati, walikota, mengenai apa yang mesti dilakukan supaya programprogram pembangunan berjalan secara ekonomis, efektif dan efisien. Peran tersebut, hanya dapat dijalankan apabila para auditor sudah profesional dan memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. Inspektorat kota sebagai lembaga teknis memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan masukan kepada Walikota Bengkulu dalam pengambilan keputusan, hal ini dikarenakan inspektorat kota merupakan bagian intern pemerintah bisa juga dikatakan tangan kanan dari kepala daerah dan juga merupakan anggota aparat pemeriksaan (Audit) internal pemerintah yang melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap aktivitas baik

   

 

 

8   

itu dari segi pelaporan keuangan maupun kinerja instansi-instansi pemerintahan kota sebelum laporan tersebut dilaporkan pada BPK (Nuryanto, 2010). Pada saat pelaksanaan pengawasan seringkali timbul masalah antara lain: tidak jelasnya tujuan pengawasan tersebut, kurangnya jumlah tenaga auditor, kualifikasi auditor yang tidak memadai, rendahnya motivasi kerja auditor, tidak tersedianya anggaran yang memadai, dan tidak tersedianya sarana yang memadai, yang pada akhirnya dapat berakibat ketidaksesuaiaan hasil pengawasan atau kualitas hasil pemeriksaan dengan yang diharapkan (Ulum, 2009). Hal ini juga terjadi di Inspektorat Kota Bengkulu dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengawas keuangan daerah dan anggota dari aparat pengawasan internal pemerintah (APIP) sebagaimana auditor pada umumnya, aparat inspektorat termasuk di Kota Bengkulu berada di bawah pengaruh pihak penentu kebijakan yaitu kepala daerah sehingga akan menjadi dilema profesi aparat inspektorat untuk menjunjung tinggi kompetensi dan independen dalam menghasilkan audit yang berkualitas sehingga hal ini bisa mempengaruhi independensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu. Hal lainnya masih belum berjalannya jabatan fungsional daripada lembaga itu sendiri, hal ini dikarenakan masih kurangnya sumberdaya dalam untuk mengisi jabantan itu sendiri dan juga masalah yang paling utama yaitu anggaran tidak mencukupi untuk mengisi jabatan fungsional itu sendiri. Penelitian-penelitian dibidang auditing mengenai kualitas audit ini telah banyak dilakukan salah satunya penelitian mengenai kualitas audit adalah penelitiannya Haslinda (2010) yang menyatakan bahwa variabel independensi

   

 

 

9   

yang sangat berpengaruh terhadap kualitas audit Inspektorat Provinsi Sumut, beda halnya dengan penelitiannya Efendy (2010) kompetensi dan motivasi yang berpengaruh positif terhadap kualitas audit Inspektorat Kota Gorontalo. Mayangsari (2003) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara independensi auditor dengan pendapat audit menyimpulkan bahwa auditor yang independen memberikan pendapat lebih tepat dibandingkan auditor yang tidak independen. Penelitian selanjutnya dalam bidang auditing salah satunya yaitu penelitian Renaldo (2010) yang menyatakan independensi dan kompetensi mempengaruhi kualitas audit Inspektorat Kota Padang. Jadi, berdasarkan pertimbangan mengenai penelitian terdahulu dimana variabel independensi dan kompetensi diadopsi dari penelitiannya Renaldo (2010) sedangkan variabel motivasi diadopsi dari penelitiannya Efendy (2010). Perbedaan perlakuan penelitian yang dilakukan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu dari segi perumusan masalah dan metode analisis data dimana dalam penelitian ini analisis data mengarah pada analisis kualitatif pengembangan dari analisis kuantitatif sehingga informasi yang tidak terdapat pada penelitian kuantitatif dapat dijelaskan dalam penelitian kualitatif sedangkan penelitian yang terdahulu lebih mengarah pada pengujian kuantitatif dalam menguji pengaruh antar variabel, tujuan dari menggunakan alat analisis berupa analisis kualitatif guna menjelaskan hal yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian jenis kuantitatif, sebagai contoh analisis ini dapat lebih menemukan kecenderungan faktor lain yang mempengaruhi variabel penelitian apabila dilihat hasilnya bahwa variabel tersebut tidak memiliki pengaruh. Penelitian ini juga

   

 

 

10   

menggunakan bantuan Microsoft Excel dalam mengolah data yang dapat dikumpulkan dari kuesioner yang disebarkan. Berdasarkan Pertimbangan mengenai penelitian terdahulu dan masih adanya temuan audit oleh auditor eksternal mengenai sistem pengendalian internal yang merupakan salah satu bentuk kegiatan operasional pemerintah kota dan mengenai kepatuhan terhadap undang-undang yang masih kurang sehingga peran inspektorat dalam menghasilkan kualitas audit yang baik pun relatif rendah, sehingga penulis perlu untuk memunculkan permasalahan yang baru untuk

mengkaji keterkaitan dari tingkat kompetensi, independensi, dan motivasi itu sendiri terhadap kualitas audit operasional yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah. Keterkaitan antara ketiga variabel yang mempengaruhi dengan variabel yang dipengaruhi akan menimbulkan suatu pengaruh untuk kualitas audit operasional itu sendiri, sehingga penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai pengaruh kompetensi, independensi, dan motivasi terhadap kualitas audit operasional yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana kompetensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner penelitian?

   

 

 

11   

2) Bagaimana independensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner penelitian ? 3) Bagaimana motivasi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner penelitian? 4) Apakah kompetensi, independensi, dan motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional berdasarkan kecenderungan jawaban atas pertanyaan yang diajukan dalam bentuk (interview) yang dilakukan ? 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1) Untuk mengkaji bagaimana kompetensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner. 2) Untuk mengkaji bagaimana independensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner. 3) Untuk mengkaji bagaimana motivasi aparat Inspektorat Kota kuesioner dan wawancara

Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.

   

 

 

12   

4) Untuk

mengkaji

secara

mendalam

pengaruh

kompetensi,

independensi, dan motivasi terhadap kualitas audit operasional yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu sesuai dengan persepsi responden berdasarkan pertanyaan yang diajukan baik melalui kuesioner. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1) Bagi pemegang kebijakan, dalam hal ini pemerintah daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor yang mempengaruhi kualitas audit Inspektorat dalam pengawasan keuangan daerah yang lebih dipersempit daerahnya yaitu audit operasional pemerintah daerah, sehingga akan dapat

dimanfaatkan dalam upaya peningkatan kualitas audit operasional inspektorat. 2) Bagi inspektorat, sebagai masukan dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah khususnya peranan inspektorat dalam pengawasan keuangan daerah dan dalam rangka mewujudkan good governance, sehingga inspektorat diharapkan dapat membuat program yang berkontribusi pada peningkatan kualitas dan kapabilitasnya. 3) Bagi akademisi, memberikan kontribusi pengembangan literatur akuntansi sektor publik di Indonesia, selain itu penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan mendorong dilakukannya penelitian-penelitian kualitatif lainnya dibidang akuntansi sektor

   

 

 

13   

publik. Hasil penelitian ini juga diharapkan akan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian berikutnya. 1.5 Batasan Masalah Sesuai dengan permasalahan yang telah dibahas tersebut, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian agar pembahasan ini terarah dan tidak melakukan penyimpangan maka penelitian ini dibatasi pada bagaimana kompetensi dapat berpengaruh pada lingkup audit operasional yang dilihat kemampuan dan profesionalisme dari aparat itu sendiri, tingkat independensi dilihat dari gangguan-gangguan yang ada ketika aparat melakukan pemeriksaan terhadap instansi pemerintahan yang lebih dikhususkan pada lingkup audit operasional yaitu audit akan ekonomis, efektifitas dan efisiensi dari kinerja

instansi tersebut sedangkan lingkup dari motivasi ini dibatasi pada persepsi dari aparat itu sendiri mengenai tingkatan motivasi yang mendorong mereka dalam melaksanakan tugas sebagai auditor/pengawas internal pemerintah, tingkat motivasi ini dilihat dari pemeriksaan kinerja yang dilakukan oleh aparat pemerintahan kota sehingga menghasilkan kualitas audit yang baik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengkaji bagaimana variabel dependen berpengaruh terhadap variabel independen dari persepsi responden berdasarkan daftar pertanyaan yang diajukan baik tertulis (kuesioner) maupun dengan cara interview langsung yang dilakukan dalam penelitian deskriptif dan penelitian ini juga tanpa melakukan uji hipotesis dalam menjawab permasalahan penelitian.

   

 

 

14   

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Audit Terdapat beberapa pengertian audit yang diberikan oleh beberapa ahli di bidang akuntansi, antara lain: Menurut Arens dan Loebbecke (2006: 15): Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent independent person. Kemudian menurut Mulyadi (2002: 43): Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomis, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Sehingga dari beberapa pengertian mengenai audit tersebut dapat kita simpulkan bahwasanya audit merupakan proses sistematik yang dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten dalam melakukan pemeriksaan dan memberikan opini terhadap kewajaran dari laporan audit tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut haruslah memiliki suatu kualitas yang baik sehingga menunjukkan bahwa pelaksanaan pemeriksaan tersebut sudah mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Tidak mudah untuk menggambarkan dan mengukur suatu kualitas audit yang dihasilkan secara objektif hal ini dikarenakan kualitas audit ini merupakan suatu konsep yang komplek dan sulit untuk dipahami, hal ini yang menyebabkan sering sekali terdapat kesalahan dalam menentukan sifat dan kualitasnya. Suatu

   

 

 

15   

kualitas audit dijelaskan sebagai probabilitas atau kemungkinan dimana seorang auditor akan menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya dengan pengetahuan dan keahlian auditor (De Angelo, 1981 dalam Efendy, 2010). Deis dan Giroux (1992) dalam Efendy (2010) melakukan penelitian tentang empat hal yang dianggap mempunyai hubungan dengan kualitas audit yaitu (1) lama waktu (tenure) auditor telah melakukan pemeriksaan terhadap suatu perusahaan, semakin lama seorang auditor telah melakukan audit pada klien yang sama maka kualitas audit yang dihasilkan akan semakin rendah; (2) jumlah klien, semakin banyak jumlah klien maka kualitas audit akan semakin baik karena auditor dengan jumlah klien yang banyak akan berusaha menjaga reputasinya; (3) kesehatan keuangan klien, semakin sehat kondisi keuangan klien maka akan ada kecenderungan klien tersebut untuk menekan auditor agar tidak mengikuti standar; dan (4) review oleh pihak ketiga, kualitas audit akan meningkat jika auditor tersebut mengetahui bahwa hasil pekerjaannya akan direview oleh pihak ketiga. Menurut Marxen (1990) dalam Efendy (2010), buruknya kualitas audit disebabkan oleh beberapa perilaku disfungsional, yaitu: Underreporting of time, premature sign off, altering/replacement of audit procedure. Underreporting of time menyebabkan keputusan personel yang kurang baik, menutupi kebutuhan revisi anggaran, dan menghasilkan time pressure untuk audit di masa datang yang tidak diketahui. Sama halnya Sosutikno (2003) dalam Haslinda (2010) yang menjelaskan Premature Sign-Off (PMSO) merupakan suatu keadaan yang

   

 

 

16   

menunjukkan auditor menghentikan satu atau beberapa langkah audit yang diperlukan dalam prosedur audit tanpa menggantikan dengan langkah yang lain. Sedangkan altering/replacing of audit procedure adalah penggantian prosedur audit yang seharusnya yang telah ditetapkan dalam standar auditing. Kualitas audit adalah kemungkinan auditor menemukan dan melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien, begitu juga halnya kualitas audit yang ada didalam sektor swasta dijelaskan bahwa kualitas audit yang baik jika pelaksanaan audit yang dilakukan oleh auditor sesuai dengan ketentuan ataupun standar auditing yang telah berlaku, sehingga dapat disimpulkan kualitas audit atau hasil pemeriksaan disini adalah kualitas dari kerja seorang auditor yang ditunjukkan dengan laporan hasil pemeriksaan yang dapat diandalkan dan sesuai dengan peraturan yang ada dimana dalam sektor publik sesuai dengan SPKN ataupun peraturan lainnya mengenai audit pemerintahan itu sendiri. Kualitas audit ini juga berhubungan dengan seberapa baik sebuah pekerjaan diselesaikan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan, untuk auditor, kualitas kerja dilihat dari kualitas audit yang dihasilkan yang dinilai dari seberapa banyak auditor memberikan respon yang benar dari setiap pekerjaan audit yang diselesaikan (Tan dan Alison dalam Mardisari, 2007). Pada sektor publik khususnya instansi pemerintahan, kualitas audit diartikan sebagai probabilitas seorang auditor atau pemeriksa dapat menemukan dan melaporkan suatu penyelewengan yang terjadi pada suatu instansi pemerintahan (baik pusat maupun daerah). Probabilitas dari temuan dan penyelewengan tergantung pada kemampuan teknikal pemeriksa dan probabilitas pelaporan kesalahan tergantung

   

 

 

17   

pada independensi pemeriksa dan kompetensi pemeriksa tersebut untuk mengungkapkan penyelewengan, dalam meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan itu maka diperlukannya banyak pelatihan-pelatihan bagi aparat pemeriksa itu sendiri (Djamil, 2008). Prinsip-prinsip dasar dalam Pernyataan Standar Audit (PSA) No. 1170 menjelaskan, bahwa Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) harus mengembangkan program dan mengendalikan kualitas audit, pernyataan ini mensyaratkan program pengembangan kualitas mencakup seluruh aspek kegiatan audit di lingkungan APIP. Program tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan audit APIP, memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi serta memberikan jaminan bahwa kegiatan audit di lingkungan APIP sejalan dengan Standar Audit dan Kode Etik. 2.2 Standar Umum Profesional Internal Auditor Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (SA-APIP) merupakan Standar Audit Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah yang disusun oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Standar ini meliputi standar-standar yang terkait dengan karakteristik organisasi dan para individu yang melakukan penugasan audit kinerja dan audit investigatif. Sistematika standar umum dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: a) Visi, Misi, Tujuan, Kewenangan dan Tanggung Jawab APIP Setiap APIP tentunya harus memiliki visi, misi dan tujuan yang searah dengan visi, misi, dan tujuan pemerintah serta instansi induknya. Kemudian,

   

 

 

18   

kewenangan dan tanggung jawab APIP harus diberdayakan secara optimal agar APIP dapat melaksanakan tugasnya secara independen dan obyektif.

Visi

pengawasan

intern

pemerintah

adalah

terwujudnya

Aparat

Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang profesional dan mampu mendorong penerapan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik. Misi Pengawasan intern pemerintah adalah melaksanakan pengawasan intern berdasarkan kode etik dan standar pengawasan yang diakui bersama dalam rangka memberikan jaminan bagi terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang efektif, efisien, dan taat terhadap peraturan perundang-undangan serta terlindunginya kekayaan negara dari setiap upaya penyimpangan (Ulum, 2009). Tujuan penyusunan Kebijakan Pengawasan Nasional APIP Tahun 2006 adalah: a) Menetapkan arah Kebijakan Pengawasan Intern Pemerintah dalam Tahun 2006. b) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengawasan intern pemerintah melalui sinergi pengawasan fungsional yang dilakukan melalui APIP. c) Menjadi dasar penyusunan Kebijakan Pengawasan Tahunan dan Program Kerja Pengawasan Tahunan masing-masing APIP. b) Independensi dan Objektifitas Dalam semua hal yang berkaitan dengan audit, APIP harus independen dan para auditornya harus obyektif dalam pelaksanaan tugasnya.

Keindependensian dan obyektivitas tersebut dapat dicapai melalui status APIP dalam organisasi dan penciptaan kebijakan untuk menjaga obyektivitas auditor

   

 

 

19   

terhadap auditee. Independensi pada dasarnya merupakan state of mind atau sesuatu yang dirasakan oleh masing-masing menurut apa yang diyakini sedang berlangsung. c)
Keahlian

Auditor harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Agar tercipta kinerja audit yang baik, maka APIP harus memiliki kriteria tertentu dari setiap auditor yang diperlukan untuk merencanakan audit, mengidentifikasi kebutuhan profesional auditor dan untuk mengembangkan teknik dan metodologi audit. d)
Kecermatan Profesional

Auditor harus menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama (due professional care) dan secara hati-hati (prudent) dalam setiap penugasan.Penggunaan keahlian secara cermat dan seksama (due professional care) mewajibkan auditor untuk melaksanakan tugasnya secara serius, teliti, dan menggunakan seluruh kemampuan dengan pertimbangan profesionalnya dalam melaksanakan tugas audit. e) Kepatuhan Terhadap Kode Etik. Auditor harus mematuhi kode etik yang ditetapkan. Auditor tidak saja harus menggunakan seluruh kemampuan dan kecermatannya tetapi juga dituntut untuk mematuhi kode etik yang ditetapkan, dengan demikian kompetensi dan etika harus dipenuhi secara bersamaan untuk memperoleh hasil audit yang bisa dipertanggung jawabkan.

   

 

 

20   

2.3

Audit Operasional Audit operasional adalah proses yang sistematis untuk mengevaluasi

kegiatan suatu organisasi dalam prosesnya secara ekonomis, efisiensi dan efektifitas untuk mencapai tujuan organisasi tersebut, dan keekonomisan operasional organisasi yang berada dalam pengendalian manajemen serta melaporkan kepada orang-orang yang tepat atas hasil-hasil evaluasi tersebut beserta rekomendasi untuk perbaikan. Pemeriksaan ini merupakan bagian dari pemeriksaan kinerja dalam pemerintahan (Ulum, 2009). Pengertian audit operasional yang disebut juga audit kinerja menurut Mardiasmo (2006: 132) adalah sebagai berikut: “Suatu proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomis dan efisien operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antar kinerja yang telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihakpihak pengguna laporan tersebut”. Proses yang sistematis seperti halnya dalam audit laporan keuangan, audit operasional menyangkut serangkaian langkah atau prosedur yang logis, terstruktur, dan terorganisasi. Aspek ini meliputi perencanaan yang baik, serta perolehan dan evaluasi secara objektif bukti yang berkaitan dengan aktivitas yang diaudit. Mengevaluasi operasi organisasi evaluasi atas operasi ini harus didasarkan pada beberapa kriteria yang ditetapkan dan disepakati. Pada audit operasional, kriteria seringkali dinyatakan dalam bentuk standar kinerja yang ditetapkan oleh manajemen, namun dalam beberapa kasus standar itu mungkin ditetapkan oleh suatu badan pemerintahan atau oleh industri. Kriteria ini

   

 

 

21   

seringkali didefinisikan kurang jelas bila dibandingkan dengan kriteria yang digunakan dalam audit atas laporan keuangan. Audit operasional mengukur derajat kesesuaian antara kinerja aktual dan kriterianya. Audit operasional sektor publik merupakan auditing yang bertujuan untuk menguji setiap bagian organisasi yang melaksanakan aktivitasnya secara ekonomis, efektifitas dan efisiensi. Audit dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang dapat dipertanggungjawabkan (reasonable assurance) bahwa suatu program, aktivitas, fungsi, atau organisasi telah dikelola secara ekonomis, efisien, dan efektif sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan (Ulum, 2009). 2.4 Ekonomis, Efisiensi dan Efektifitas Konsep yang pertama dalam pengelolaan organisasi sektor publik terkhususkan instansi pemerintah adalah ekonomis, yang berarti pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang terendah. Ekonomis merupakan perbandingan input dengan input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. Ekonomis terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalisir input resource yang digunakan, yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif (Agung, 2008). Konsep kedua dalam pengelolaan organisasi sektor publik terkhususkan instansi pemerintah adalah efisiensi, yang berarti pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan, dapat disimpulkan bahwa ekonomis mempunyai arti biaya terendah, sedangkan efisiensi

   

 

 

22   

mengacu pada rasio terbaik antara output dengan biaya (input) hal ini dikarena output dan biaya diukur dalam unit yang berbeda, maka efisiensi dapat terwujud ketika dengan sumber daya yang ada dapat dicapai output yang maksimal atau output tertentu dapat dicapai dengan sumber daya yang sekecil-kecilnya. Audit operasional secara ekonomis dan efisiensi bertujuan untuk menentukan bahwa suatu entitas telah memperoleh, melindungi, menggunakan sumber dayanya (karyawan, gedung, ruang dan peralatan kantor) secara ekonomis dan efisien. Selain itu juga bertujuan untuk menentukan dan mengidentifikasi penyebab terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis atau tidak efisien, termasuk ketidakmampuan organisasi dalam mengelola sistem informasi, prosedur administrasi dan struktur organisasi (Agung, 2008). Menurut The General Accounting Office Standards (1994), beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan audit secara ekonomis dan efisiensi, yaitu dengan mempertimbangkan apakah entitas yang diperiksa/diaudit telah: (1) mengikuti ketentuan pelaksanaan pengadaan yang sehat; (2) melakukan pengadaan sumber daya (jenis, mutu, dan jumlah) sesuai dengan kebutuhan pada biaya terendah; (3) melindungi dan memelihara semua sumber daya yang ada secara memadai; (4) menghindari duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang tanpa tujuan atau kurang jelas tujuannya; (5) menghindari adanya pengangguran sumber daya atau jumlah pegawai yang berlebihan; (6) menggunakan prosedur kerja yang efisien; (7) menggunakan sumber daya (staf, peralatan dan fasilitas) yang minimum dalam menghasilkan atau menyerahkan barang/jasa dengan kuantitas dan kualitas yang tepat; (8) mematuhi persyaratan peraturan perundang-undangan

   

 

 

23   

yang berkaitan dengan perolehan, pemeliharaan dan penggunaan sumber daya negara; (9) melaporkan ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai kehematan dan efisiensi (Mardiasmo, 2002: 57). Auditor yang ingin mengetahui apakah organisasi telah menghasilkan output yang optimal dengan sumber daya yang dimiliki, dapat dilihat dengan membandingkan output yang telah dicapai pada periode yang bersangkutan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, kinerja tahun-tahun sebelumnya dan unit lain pada organisasi yang sama atau pada organisasi yang berbeda, dengan demikian perbandingan antara besarnya output yang dicapai organisasi atau pemerintahan dapat dilihat. Konsep yang ketiga dalam pengelolaan organisasi sektor publik khususnya instansi pemerintah adalah efektifitas. Efektifitas berarti tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Efektifitas merupakan perbandingan antara outcome dengan output. Outcome seringkali dikaitkan dengan tujuan (objectives) atau target yang hendak dicapai. Jadi dapat dikatakan bahwa efektifitas berkaitan dengan pencapaian tujuan. Sedangkan menurut Audit Commission (1986) disebutkan bahwa efektifitas berarti menyediakan jasa-jasa yang benar sehingga memungkinkan pihak yang berwenang untuk

mengimplementasikan kebijakan dan tujuannya. Hal ini sependapat dengan Mardiasmo (2002) yang menjelaskan audit efektifitas bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil atau manfaat yang diinginkan, kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya dan menentukan apakah entitas yang diaudit telah mempertimbangkan alternatif lain yang memberikan hasil yang

   

 

 

24   

sama dengan biaya yang paling rendah. Audit efektifitas mencakup penentuanpenentuan mengenai: (1) Tingkat pencapaian hasil program yang diinginkan atau manfaat yang telah ditetapkan oleh undang-undang atau badan lain yang berwenang; (2) Efektifitas kegiatan entitas, pelaksanaan program, kegiatan atau fungsi instansi yang bersangkutan; (3) Apakah entitas yang telah diaudit sudah menaati peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pelaksanaan program/kegiatannya; UU Nomor 15 Tahun 2004 menjelaskan pemeriksaan kinerja (audit operasional) adalah pemeriksaan atas aspek ekonomis dan efisiensi, serta

pemeriksaan atas aspek efektifitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen oleh aparat pengawas intern pemerintah. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengidentifikasi hal-hal, yang perlu menjadi perhatian lembaga perwakilan, adapun untuk pemerintah pemeriksaan kinerja yang dilaksanakan oleh inspektorat dimaksudkan agar kegiatan yang dibiayai dengan keuangan negara/daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien serta memenuhi sasarannya secara efektif. 2.5 Kompetensi Kompetensi dalam Renaldo (2010) dijelaskan bahwa kompetensi didefinisikan sebagai aspek-aspek pribadi dari seorang pekerja yang

memungkinkan dia untuk mencapai kinerja superior. Aspek-aspek pribadi ini mencakup sifat, motif-motif, sistem nilai, sikap, pengetahuan dan ketrampilan dimana kompetensi akan mengarahkan tingkah laku, sedangkan tingkah laku akan

   

 

 

25   

menghasilkan kinerja. Susmanto (2008) memaparkan definisi tentang kompetensi yang sering dipakai adalah karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin. Sama halnya Mayangsari (2003) menjelaskan bahwa kompetensi dalam bidang auditing sering diukur dengan pengalaman. Pernyataan standar umum pertama dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) adalah: “Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan”, dalam pernyataan standar pemeriksaan ini semua organisasi pemeriksa bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap pemeriksaan dilaksanakan oleh para pemeriksa yang secara kolektif memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Oleh karena itu, organisasi pemeriksa harus memiliki prosedur rekrutmen, pengangkatan, pengembangan berkelanjutan, dan evaluasi atas pemeriksa untuk membantu organisasi pemeriksa dalam mempertahankan pemeriksa yang memiliki kompetensi yang memadai. Ashton (1991) menjelaskan dalam Renaldo (2010) bahwa dalam literatur psikologi, pengetahuan spesifik dan lama pengalaman bekerja sebagai faktor penting untuk meningkatkan kompetensi. Ashton juga menjelaskan bahwa ukuran kompetensi tidak cukup hanya pengalaman tetapi diperlukan pertimbanganpertimbangan lain dalam pembuatan keputusan yang baik karena pada dasarnya manusia memiliki sejumlah unsur lain selain pengalaman. Pendapat ini didukung

   

 

 

26   

oleh Schmidt et al. (1988) yang memberikan bukti empiris bahwa terdapat hubungan antara pengalaman bekerja dengan kinerja dimoderasi dengan lama pengalaman dan kompleksitas tugas. Selain itu, penelitian yang dilakukan Bonner (1990) menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai spesifik tugas dapat meningkatkan kinerja auditor berpengalaman, walaupun hanya dalam penetapan risiko analitis. Hal ini menunjukkan bahwa pendapat auditor yang baik akan tergantung pada kompetensi dan prosedur audit yang dilakukan oleh auditor (Sari, 2009). Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary (1983) dalam Sri (2005) menjelaskan kompetensi sebagai keterampilan dari seorang ahli, dimana ahli didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki tingkat keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subyek tertentu yang diperoleh dari pelatihan dan pengalaman, sedangkan Trotter (1986) dalam Saifuddin (2004) mendefinisikan bahwa seorang yang berkompeten adalah orang yang dengan keterampilannya mengerjakan pekerjaan dengan mudah, cepat, intuitif dan sangat jarang atau tidak pernah membuat kesalahan. Kompetensi dari seorang auditor adalah pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang dibutuhkan auditor untuk dapat melakukan audit secara objektif, cermat dan seksama, baik dalam audit sektor publik dan audit sektor swasta. Jadi auditor baik auditor sektor publik maupun swasta harus memiliki keahlian khusus dan kemampuan yang memadai sebagai seorang auditor. Kompetensi auditor operasional (auditor kinerja) disini dikenal dengan 3 pilar

   

 

 

27   

utama yaitu mutu personal, pengetahuan umum yang memadai, serta keahlian khusus dibidangnya. 2.6 Independensi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dengan Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah pada Standar Umum Kedua (PSA APIP No. 2100) menyatakan bahwa dalam semua hal yang berkaitan dengan audit APIP harus independensi dan para auditornya harus obyektif dalam pelaksanaan tugasnya, dalam standar ini menyatakan bahwa independensi APIP serta obyektivitas auditor diperlukan agar kredibilitas hasil pekerjaan APIP meningkat. Penilaian independensi dan objektivitas mencakup dua komponen berikut, yaitu (1) Status APIP dalam organisasi dan (2) Kebijakan untuk menjaga objektivitas auditor terhadap objek audit, sedangkan menurut Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2007, bahwa standar umum kedua dari Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, menyatakan dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya. Pernyatan standar umum kedua ini menyatakan, organisasi pemeriksa dan para pemeriksanya bertanggungjawab untuk dapat mempertahankan independensinya sedemikian rupa, sehingga pendapat, simpulan, pertimbangan atau rekomendasi dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak dan dipandang tidak memihak oleh pihak manapun.

   

 

 

28   

Definisi independensi dalam The CPA Handbook menurut E.B. Wilcox yang dijelaskan dalam Mayangsari (2003) adalah suatu standar auditing yang penting karena opini akuntan independen bertujuan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen, jika akuntan tersebut tidak independen terhadap kliennya, maka opininya tidak akan memberikan tambahan apapun. Kode Etik Akuntan tahun 1994 menyebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektifitas. Penelitian yang dilakukan oleh Lavin (1976) dijelskan dalam Renaldo (2010) menunjukkan bahwa pembuatan pembukuan perusahaan atau pelaksanaan fungsi pengolahan data oleh auditor tidak akan berpengaruh terhadap teknik-teknik yang digunakan auditor untuk mengaudit, Selain itu penggunaan komputer klien untuk hubungan bisnis dianggap juga tidak merusak independensi auditor.  Kata independensi merupakan terjemahan dari kata ”independence” yang berasal dari  Bahasa Inggris, dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English  terdapat entri kata “independence” yang artinya “dalam keadaan independen”, adapun entri  kata “independence” bermakna “tidak tergantung atau dikendalikan oleh (orang lain atau  benda), tidak mendasarkan diri pada orang lain; bertindak atau berfikir sesuai dengan  kehendak hati, bebas dari pengendalian orang lain”. Makna independensi  dalam pengertian umum ini tidak jauh berbeda dengan makna independensi yang dipergunakan secara khusus dalam literatur pengauditan (Hutami, 2010). 

   

 

 

29   

Arens, et al. (2000) mendefinisikan independensi dalam pengauditan sebagai penggunaan cara pandang yang tidak bias dalam pelaksanaan pengujian audit, evaluasi hasil pengujian tersebut, dan pelaporan hasil temuan audit. Sedangkan Mulyadi (1992) menjelaskan independensi sebagai "keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain" dan akuntan publik yang independen haruslah akuntan publik yang tidak terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan (Hutami, 2010). Menurut Messier, et al. (2005) dalam Efendy (2010), independensi merupakan suatu istilah yang sering digunakan oleh profesi auditor. Independensi menghindarkan hubungan yang mungkin mengganggu obyektifitas auditor. BPKP (1998) mengartikan obyektifitas sebagai bebasnya seseorang dari pengaruh pandangan subyektif pihak-pihak lain yang berkepentingan sehingga dapat mengemukakan pendapat apa adanya. 2.7 Motivasi Terry dalam Moekijat (2002) mendefinisikan motivasi sebagai keinginan di dalam seorang individu yang mendorong ia untuk bertindak. Dari berbagai jenis teori motivasi, teori yang sekarang banyak dianut adalah teori kebutuhan. Teori ini beranggapan bahwa tindakan manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Ahli yang mencoba merumuskan kebutuhan-kebutuhan manusia, di antaranya adalah Maslow. Maslow telah menyusun “tingkatan kebutuhan

   

 

 

30   

manusia”,

yang

pada

pokoknya

didasarkan

pada

prinsip

berikut

ini

(Wahjosumidjo, 1987) dalam Sudrajat (2008): 1) Manusia adalah “ binatang yang berkeinginan”; 2) Segera setelah salah satu kebutuhannya terpenuhi, kebutuhan lainnya akan muncul; 3) Kebutuhan-kebutuhan manusia nampak diorganisir ke dalam

kebutuhan yang bertingkat-tingkat; 4) Segera setelah kebutuhan itu terpenuhi, maka mereka tidak mempunyai pengaruh yang dominan, dan kebutuhan lain yang lebih meningkat mulai mendominasi. Maslow merumuskan lima jenjang kebutuhan manusia, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut : 1) Kebutuhan mempertahankan hidup (Physiological Needs). Manifestasi kebutuhan ini tampak pada tiga hal yaitu sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan biologis. 2) Kebutuhan rasa aman (Safety Needs). Manifestasi kebutuhan ini antara lain adalah kebutuhan akan keamanan jiwa, di mana manusia berada, kebutuhan keamanan harta, perlakuan yang adil, pensiun, dan jaminan hari tua. 3) Kebutuhan sosial (Social Needs). Manifestasi kebutuhan ini antara lain tampak pada kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain (sense

   

 

 

31   

of belonging), kebutuhan untuk maju dan tidak gagal (sense of achievement), kekuatan ikut serta (sense of participation). 4) Kebutuhan akan penghargaan/prestise (esteem needs), semakin tinggi status, semakin tinggi pula prestisenya. Prestise dan status ini dimanifestasikan dalam banyak hal, misalnya mobil mercy, kamar kerja yang full AC, dan lain-lain. 5) Kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (self actualization), kebutuhan ini bermanifestasi pada keinginan mengembangkan kapasitas mental dan kerja melalui seminar, konferensi, pendidikan akademis, dan lainlain. Menurut Suwandi (2005), dalam konteks organisasi, motivasi adalah pemaduan antara kebutuhan organisasi dengan kebutuhan personil. Hal ini akan mencegah terjadinya ketegangan/konflik sehingga akan membawa pada pencapaian tujuan organisasi secara efektif, sehubungan dengan audit

pemerintahan,

terdapat

penelitian

mandiri

mengenai

pengaruh rewards

instrumentalities dan environmental risk factors

terhadap motivasi partner

auditor independen untuk melaksanakan audit pemerintah. Penghargaan (rewards) yang diterima auditor independen pada saat melakukan audit pemerintah dikelompokkan ke dalam dua bagian penghargaan, yaitu penghargaan intrinsik (kenikmatan pribadi dan kesempatan membantu orang lain) dan penghargaan ekstrinsik (peningkatan karir dan status). Sedangkan faktor risiko lingkungan (environmental risk factors) terdiri dari iklim politik dan

   

 

 

32   

perubahan kewenangan. Rincian lebih lanjut tentang faktor penghargaan dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel. 2.1 Motivasi Auditor Independen Dalam Melakukan Audit Pemerintah Penghargaan Intrinsik Penghargaan Ekstrinsik

Kenikmatan Pribadi Karir 1) Pekerjaan yang menarik 1) Keamanan/kemapanan kerja 2) Stimulasi intelektual yang tinggi 3) Pekerjaan yang menantang 2) Kesempatan karir jangka (mental) panjang yang luas 4) Kesempatan pembangunan dan 3) Peningkatan kompensasi pengembangan pribadi 5) Kepuasan pribadi Kesempatan membantu orang lain Status 1) Pelayanan masyarakat 1) Pengakuan positif dari 2) Kesempatan membantu personal masyarakat klien 2) Penghormatan dari masyarakat 3) Kesempatan bertindak sebagai 3) Prestis atau nama baik mentor bagi staf audit 4) Meningkatkan status social Sumber: Lowehnson and Collins (2001) dalam Mardiasmo (2006) Pada konteks studi psikologi, Abin (2003) dalam Sudrajat (2008) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: a) Durasi kegiatan; b) Frekuensi kegiatan; c) Aspirasi pada kegiatan; d) Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; e) Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; f) Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (output) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan;

   

 

 

33   

g) Arah sikap terhadap sasaran kegiatan. 2.8 Pengawasan Keuangan Daerah Pengawasan atas penyelenggaraan suatu pemerintahan sangat diperlukan hal ini untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan pemerintahan berjalan sesuai dengan rencana dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, dalam rangka mewujudkan good governance dan clean government, pengawasan juga diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, serta bersih dan bebas dari praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pengawasan terhadap penyelenggaran pemerintahan tersebut dapat dilakukan melalui pengawasan melekat, pengawasan masyarakat, dan pengawasan fungsional (Cahyat, 2004). Pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilakukan oleh lembaga/aparat pengawasan yang dibentuk atau ditunjuk khusus untuk melaksanakan fungsi pengawasan secara independen terhadap obyek yang diawasi. Pengawasan fungsional tersebut dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengawasan fungsional melalui audit, investigasi, dan penilaian untuk menjamin agar penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan rencana dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan fungsional dilakukan baik oleh pengawas ekstern pemerintah maupun pengawas intern pemerintah. Pengawasan ekstern pemerintah dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sedangkan pengawasan intern

   

 

 

34   

pemerintah dilakukan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Susmanto, 2008). Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/05/M.PAN/03/2008, kegiatan utama APIP meliputi audit, review, pemantauan, evaluasi, dan kegiatan pengawasan lainnya berupa sosialisasi, asistensi dan konsultansi, namun peraturan ini hanya mengatur mengenai standar audit APIP. Kegiatan audit yang dapat dilakukan oleh APIP pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis audit berikut ini: pertama, audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan opini atas kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum; kedua, audit kinerja yang sering disebut juga audit operasional yang bertujuan untuk memberikan simpulan dan rekomendasi atas pengelolaan instansi pemerintah secara ekonomis, efisien dan efektif, dan ketiga, audit dengan tujuan tertentu yaitu audit yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diaudit, yang termasuk dalam kategori ini adalah audit investigatif, audit terhadap masalah yang menjadi fokus perhatian pimpinan organisasi dan audit yang bersifat khas. Menurut Susmanto (2008), APIP melakukan pengawasan fungsional terhadap pengelolaan keuangan negara agar berdaya guna dan berhasil guna untuk membantu manajemen pemerintahan dalam rangka pengendalian terhadap kegiatan unit kerja yang dipimpinnya fungsi (quality assurance). Pengawasan yang dilaksanakan APIP diharapkan dapat memberikan masukan kepada pimpinan mengenai hasil, hambatan, dan penyimpangan yang terjadi atas jalannya pemerintahan dan pembangunan yang menjadi tanggung jawab para pimpinan

   

 

 

35   

penyelenggara pemerintahan tersebut. Lembaga/badan/unit yang ada di dalam tubuh pemerintah (pengawas intern pemerintah), yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengawasan fungsional adalah Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), yang terdiri dari: pertama, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP); kedua, Inspektorat Jenderal Departemen; ketiga, Inspektorat Utama/Inspektorat Lembaga Pemerintah Non Departemen

(LPND)/Kementerian; dan keempat, Lembaga Pengawasan Daerah atau Bawasda Provinsi/Kabupaten/Kota. Berdasarkan objek pengawasan, pengawasan terhadap pemerintah daerah dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pengawasan terhadap produk hukum dan kebijakan daerah, pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah serta produk hukum dan kebijakan keuangan daerah. Tugas pokok dan fungsi inspektorat daerah diantaranya yaitu melakukan pengawasan keuangan dan penyelenggaraan pemerintah yang akuntabel. Ada beberapa kewenangan daerah yang menyangkut pengawasan terhadap keuangan dan asset daerah adalah pelaksanaan APBD, penerimaan pendapatan daerah dan Badan Usaha Daerah, pengadaan barang/jasa serta pemeliharaan/penghapusan barang/jasa, penelitian dan penilaian laporan pajak-pajak pribadi, penyelesaian ganti rugi, serta inventarisasi dan penelitian kekayaan pejabat di lingkungan pemerintah daerah (Cahyat, 2004). 2.9 Pengertian Inspektorat Daerah Sejalan dengan UU No 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat daerah dijelaskan pada pasal 2 ayat 11 bahwa unsur pengawasan daerah adalah badan pengawasan daerah yang selanjutnya disebut Inspektorat Provinsi,

   

 

 

36   

Inspektorat Kabupaten, dan Inspektorat Kota. Hal ini sejalan dengan UU No. 32 tentang pemerintah daerah, paragraf 9 mengenai Pertanggungjawaban

Pelaksanaan APBD; maka dalam Pasal 184 ayat (1) disebutkan bahwa Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggung jawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Namun demikian, dalam rangka pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah, maka akan senantiasa diadakan kegiatan pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah, pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Pengawasan sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh aparat pengawas intern pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, sesuai dengan Pasal 222 UU tentang pemerintah daerah maka telah diatur bahwa: 1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. 2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh gubernur. 3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa

dikoordinasikan oleh bupati/walikota. 4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dapat melimpahkannya kepada camat.

   

 

 

37   

Atas dasar ketentuan di ataslah maka aparat pengawasan intern pemerintah di suatu daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota) dilakukan oleh Badan Pengawasan Daerah (BAWASDA) dulunya tapi dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 sehingga nama BAWASDA berganti dengan Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di daerah masing-masing. 2.10 Peran Inspektorat Daerah Badan Pengawasan Daerah yang merupakan internal auditor pemerintah ini memiliki peran yang penting dalam melaksanakan pengawasan keuangan daerah. Bastian (2007), menjelaskan perannya adalah untuk memastikan bahwa sistem akuntansi keuangan daerah telah berjalan dengan baik dan laporan keuangan daerah disajikan dengan wajar, diluar tugas–tugas awal Badan Pengawas Daerah (BAWASDA) sebelumnya sebagai aparat pengawas. Selain itu peranan dari Badan Pengawas Daerah (BAWASDA) adalah untuk membantu Kepala Daerah menyajikan laporan keuangan yang akuntabel dan dapat diterima secara umum. Badan Pengawas Daerah (BAWASDA) atau inspektorat dalam menghasilkan audit yang berkualitas dipengaruhi beberapa faktor, yaitu antara lain motivasi dan profesionalisme dari auditor aparat inspektorat. Motivasi merupakan dorongan auditor untuk melaksanakan audit secara berkualitas. Indikator dari motivasi antara lain adalah tingkat aspirasi, ketangguhan, keuletan, dan konsistensi (Efendy, 2010). Meskipun sekarang BAWASDA sudah berubah nama menjadi Inspektorat Kota (daerah) dikarenakan adanya UU No 41 Tahun

   

 

 

38   

2007 Tentang Organisasi Perangkat daerah, tetapi peran inspektorat sama halnya dengan BAWASDA. 2.11 Kerangka Pemikiran Teoritis Untuk memenuhi tuntutan akuntabilitas publik dan good governance, diperlukan adanya pemeriksaan. Mardiasmo (2005) mengemukakan bahwa pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan independensi untuk memeriksa apakah hasil kinerja pemerintah telah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Inspektorat

Kota/Kabupaten merupakan salah satu anggota aparat pemeriksa internal pemerintah daerah yang melakukan fungsi pemeriksaan pada pemerintah daerah. Ada beberapa penelitian tentang kualitas audit yang pernah dilakukan menyimpulkan temuan yang berbeda mengenai faktor yang mempengaruhi kualitas audit. Hasil penelitian Lawenson et al. (2006) menyimpulkan bahwa spesialisasi auditor dan besarnya fee yang diterima auditor berpengaruh terhadap kualitas audit, sementara itu dalam penelitian Alim dkk. (2007) dan Elfarini (2007), diperoleh kesimpulan bahwa keahlian dan independensi auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sebagaimana dikatakan oleh Goleman (2001), hanya motivasi yang akan membuat seseorang mempunyai semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar yang ada, dengan kata lain, motivasi akan mendorong seseorang, termasuk auditor, untuk berprestasi, komitmen terhadap kelompok serta memiliki inisiatif dan optimisme yang tinggi, dan belum ada penelitian yang mengungkapkan tentang kualitas audit operasional/kualitas audit kinerja itu sendiri.

   

 

 

39   

Be erdasarkan dari uraian l d latar belaka kajian pustaka deng teori-te ang, p ngan eori yang telah dijelaskan maka seb h n, bagai keran ngka konsep ptual pemik kiran teoritis dari s penelitian ini adalah sebagai beri s ikut: Gambar 2.2 r Model Kerangka Pem mikiran Te eoritis

Inspektur utama dan a Pembantu

Kompetensi

independensi

Kualita as audit t operasio onal

Motiv vasi

Ket : Variab independ penelitia bel den an = = Variab dependen penelitian bel n n Penjel dalam ke las erangka kon nseptual seb bagai objek yang ditelit ti bukan variabel pe enelitian = menandai bagaima pengaru variabel ana uh

   

 

40   

Kerangka pemikiran teoritis tersebut dapat dijelaskan bahwa inspektur utama dan pembantu selaku auditor dalam menghasilkan kualitas audit operasional harus memiliki kompetensi dan independensi yang tinggi hal ini dijelaskan dalam standar audit APIP, selain kedua hal itu ada variabel lain yang jika ditambah akan kemungkinan akan menghasilkan kualitas audit yang baik pula yaitu motivasi semakin tinggi tingkat motivasi maka semakin tinggi pula kualitas audit yang dihasilkan hal ini dijelaskan dalam penelitian Efendy (2010), dengan penjelasan tersebut ketika ketiga variabel ditambahkan apakah akan menghasilkan kualitas audit yang baikpula seperti yang dihasilkan pada penelitian terdahulu, sehingga untuk mengkaji pengaruh dari ketiga variabel tersebut terhadap kualitas audit operasional dapat dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dari keterkaitan masing-masing variabel sesuai dengan standar yang telah diatur untuk auditor internal pemerintah serta berdasarkan persepsi aparat inspektur sebagai responden penelitian ini berdasarkan jawaban atas kuesioner dan wawancara yang dilakukan.

   

 

 

41   

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan, lebih lanjut dijelaskan dalam penelitian deskriptif kualitatif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis (Fatchan, 2004 dalam Wisudantari, 2009: 35). Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian non-hipotesis, dimana penelitian non-hipotesis dimaksudkan adalah penlitian yang tidak bermula dari adanya hipotesis untuk menjawab permasalahan selayaknya penelitian kuantitatif yang bersifat normative (Tatang, 2009). Metode kualitatif ini dapat digunakan untuk mencapai dan memperoleh suatu cerita, pandangan yang segar dan cerita mengenai segala sesuatu yang sebagian besar sudah dan dapat diketahui, begitu juga metode kualitatif diharapkan mampu memberikan suatu penjelasan secara terperinci tentang fenomena yang sulit disampaikan dengan metode kuantitatif (Fatchan, 2004 dalam Wisudantari, 2009: 36) . 3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Dalam penelitian ini, variabel dependen yang digunakan adalah Kualitas Audit Operasional, sedangkan variabel independennya terdiri dari kompetensi auditor, independensi auditor, dan motivasi auditor. Definisi operasional dan

   

 

 

42   

pengukuran untuk variabel-variabel tersebut dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Kualitas Audit Operasional Kualitas audit operasional inspektorat dalam penelitian ini meliputi pengkajian kualitas dari hasil pemeriksaan operasional aparat inspektorat. Proses dari audit operasional sektor publik khususnya pemerintahan yang dilakukan inspektorat yakni mengkaji pelaksanaan tugas instansi pemerintah yang terdiri dari aspek ekonomis, efektifitas, dan efisiensi serta sistem pengendalian internal dalam suatu instansi pemerintah di Kota Bengkulu dan memberikan rekomendasi atas audit yang telah dilakukan. Konsep audit operasional yang sering juga disebut dengan audit kinerja ini telah tumbuh lebih cepat dibandingkan kebutuhan organisasi publik terkhususkan pemerintahan dalam rangka pelaksanaan akuntabilitas pelayanan publik. Kualitas audit operasional Inspektorat Kota Bengkulu merupakan hasil audit yang dapat memberikan rekomendasi dan membantu Kepala Daerah Kota Bengkulu dalam mengambil keputusan sehingga pemerintah daerah dapat memperbaiki sistem pengendalian internalnya. Kualitas audit operasional aparat inspektorat dalam penelitian ini dikaji dari keakuratan hasil dari temuan audit, pelaksanaan dan nilai rekomendasi dari pemeriksaan operasional, kejelasan laporan hasil pemeriksaan dan tindak lanjut dari hasil pemeriksaan yang dilakukan aparat inspektorat sebagai pemeriksa intern pemerintahan. Pengukuran dalam bentuk pengkajian indikatorindikator untuk variabel kualitas audit operasional dalam kuesioner dengan

   

 

 

43   

jawaban angka 1 untuk menginterpretasikan jawaban ”Ya” dan jawaban angka 0 untuk menginterpretasikan jawaban ”Tidak”. (2) Kompetensi Auditor Kompetensi dalam pengauditan merupakan pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan auditor untuk dapat melakukan audit secara objektif, cermat dan seksama. Kompetensi merupakan hal yang sangat penting untuk seorang auditor baik itu di sektor publik maupun disektor swasta karena syarat menjadi auditor adalah orang yang memiliki keahlian dan pengetahuan yang kompeten dibidangnya. Kompetensi dalam sektor publik khususnya instansi pemerintah yakni memiliki tiga pilar utama yaitu mutu personal, pengetahuan umum yang memadai dan keahlian khusus dibidangnya, dalam penelitian ini kompetensi auditor inspektorat dilihat dari pemahaman auditor mengenai Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) Nomor 24 Tahun 2005, Peraturan Pemerintah, dan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) beserta pengetahuan dari auditor mengenai lingkup dari organisasi pemerintah secara keseluruhan (Agung, 2008: 34). Kompetensi dalam penelitian ini juga dilihat dari bagaimana keahlian auditor internal dalam mengaudit dapat mempengaruhi kualitas audit, serta kompetensi seperti apa yang mempengaruhi kualitas audit mereka. Pengukuran dalam bentuk pengkajian indikator-indikator untuk variabel kompetensi dalam kuesioner dengan jawaban angka 1 untuk menginterpretasikan jawaban ”Ya” dan jawaban angka 0 untuk menginterpretasikan jawaban ”Tidak”.

   

 

 

44   

(3) Independensi Auditor Independensi baik dilihat dari sisi sektor publik maupun sektor swasta memiliki makna yang sama, hal ini karena independensi merupakan salah satu syarat penting dari seorang auditor yang akan melaksanakan audit. Independensi aparat inspektorat dalam penelitian ini dilihat dari kebebasan dari aparat pemeriksa internal untuk melakukan proses audit tanpa adanya gangguan baik gangguan internal maupun gangguan eksternal meskipun aparat auditor. Pengukuran dalam bentuk pengkajian indikator-indikator untuk variabel independensi dalam kuesioner jawaban dengan ”Ya” dan jawaban jawaban angka angka 1 0 untuk untuk

menginterpretasikan

menginterpretasikan jawaban ”Tidak”. (4) Motivasi Auditor Motivasi dalam pengauditan dijelaskan dalam Efendy (2010) merupakan derajat seberapa besar dorongan yang dimiliki auditor untuk melaksanakan audit secara berkualitas. Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi instrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik) (Efendy, 2010). Motivasi auditor inspektorat dalam penelitian ini meliputi pembahasan mengenai bagaimana persepsi auditor terhadap seberapa besar motivasi yang dimiliki untuk menjalankan proses audit dengan baik dan benar, yaitu dilihat dari tingkat aspirasi yang ingin diwujudkan melalui audit yang berkualitas, ketangguhan dan konsistensi. Ketangguhan dilihat dari sisi diri

   

 

 

45   

auditor itu sendiri sama halnya dengan konsistensi yang dilihat dari sikap auditor setelah mengambil keputusannya. Pengukuran dalam bentuk pengujian indikatorindikator untuk variabel motivasi dalam kuesioner dengan jawaban angka 1 untuk menginterpretasikan jawaban ”Ya” dan jawaban angka 0 untuk

menginterpretasikan jawaban ”Tidak”. 3.3 3.3.1 Desain Penelitian Skenario Penelitian

1) Menyusun Rancangan Penelitian Rancangan penelitian dalam penelitian deskriptif kualitatif merupakan suatu hal yang dapat membantu dalam pelaksanaan penelitian, rancangan ini paling tidak berisi mengenai: a) Latar belakang masalah dan alasan pelaksanaan penelitian b) Kajian kepustakaan c) Pemilihan lapangan atau setting penelitian d) Penentuan jadwal penelitian e) Pemilihan instrument penelitian f) Cara pengumpulan data g) Cara analisis data h) Mempersiapkan perlengkapan/instrumen (yang diperlukan dalam penelitian) i) Metode untuk pengecekan kebenaran dari data yang diperoleh

   

 

 

46   

2) Memilih Tempat Penelitian Suyana (2007: 17) menjelaskan penentuan suatu tempat penelitian yang baik secara konsep teoritis yaitu dengan cara mempertimbangkan, beberapa hal yakni apakah terdapat kesesuaian antara tempat terhadap permasalahan yang akan diteliti dan apakah tempat tersebut akan menerima ketika akan dilakukan penelitian disana. 3) Mengurus Surat Perizinan Kaedah dalam penelitian kualitatif yang melibatkan suatu tempat yang menjadi objek penelitian maka, surat perizinan yang berhubungan dengan penelitian merupakan hal yang penting dalam penelitian deskriptif kualitatif (Suryana, 2007: 18). Surat perizinan sangat diperlukan karena hal ini akan mempengaruhi keadaan lingkungan dimana akan

dilakukannya penelitian, hal ini berhubungan dengan kehadiran seseorang yang tidak dikenal atau diketahui dilingkungan tersebut, sehingga dengan perizinan yang dikeluarkan oleh badan/kantor yang memiliki wewenang dalam mengeluarkan surat izin penelitian akan memberikan kemudahan dalam melakukan penelitian. 4) Menjajaki dan Menilai Keadaan Lapangan Pada penelitian deskriptif kualitatif ini, dalam melakukan penelitian dituntut untuk lebih memahami situasi dan kondisi dari tempat yang akan diteliti, dengan tujuan lebih mengetahui situasi dan kondisi dari responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini sehingga dengan menjajaki dan menilai keadaan lapangan dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan.

   

 

 

47   

5) Memilih dan Memanfaatkan Responden Pada tahap ini merupakan suatu langkah untuk memilih responden yang benar-benar handal dalam memberikan informasi yang

bermanfaat, dalam penelitian ini responden yang dipilih adalah kepala Inspektorat Kota Bengkulu itu sendiri yang memiliki informasi yang relevan dan dapat diandalkan dan didukung informasi yang diberikan oleh para inspektur pembantu dan pegawai inspektorat yang memiliki informasi yang relevan. 6) Menyiapkan Instrumen Penelitian Pada saat akan melakukan penelitian, perlengkapan penelitian merupakan hal yang penting untuk dipersiapkan, dalam bentuk surat izin dan dokumen-dokumen penting dalam menjalankan penelitian. Perlengkapan lainnya yaitu sejenis kuesioner yang akan membantu peneliti dalam mencari informasi untuk menjawab permasalahan dalam penelitian serta daftar wawancara yang akan diajukan untuk para responden. 7) Pekerjaan Lapangan Uraian tentang tahap pekerjaan lapangan dibagi atas tiga bagian, yaitu memahami penelitian yang akan dilakukan dan persiapan diri dalam menjajaki lapangan (tempat penelitian), dan berperan serta sambil mengumpulkan data. Pada tahap pekerjaan lapangan peneliti akan menjadi instrumen penelitian itu sendiri, dengan mengumpulkan data sekaligus mengolahnya menjadi berbagai informasi yang dibutuhkan

   

 

 

48   

terkait kualitas audit operasional yang dihasilkan aparat Inspektorat Kota Bengkulu, selain itu pada tahapan ini juga peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner dan wawancara, dimana untuk penyebaran kuesioner maka peneliti langsung yang akan turun kelapangan sebagai pembimbing responden. Hal ini dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya guna memperkaya berbagai informasi yang dibutuhkan melalui dua pendekatan yakni pendekatan indept interview dan pendekatan snowball interview. 8) Tahap Analisis Data Hal ini merupakan tahapan terakhir dalam penelitian kualitatif, tahap analisis data ini nantinya akan membantu dalam penarikan kesimpulan yang berguna dalam penelitian. Hasil analisis penelitian kualitatif ini akan menjawab masalah awal penelitian sehingga tujuan penelitian tercapai, lebih jelasnya tahapan ini akan dipaparkan pada bagian pengolahan data dan analisis data. 3.3.2 Instrumen Penelitian Peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama dalam penelitian deskriptif kualitatif ini (Sugiyono, 2010: 82). Hal itu dilakukan karena jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan

mempersiapkannya terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik, maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Instrumen dalam penelitian

   

 

 

49   

yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini diadopsi dari pertanyaan ataupun pernyataan Efendy (2010) dan Renaldo (2010) yang penelitiannya terhadap kualitas audit aparat inspektorat. Kuesioner tersebut disesuaikan objek, sampel, serta tempat penelitian yaitu mengenai kualitas audit operasional yang dilaksankan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam pengawasan keuangan daerah. Kuesioner yang diajukan untuk responden semata-mata merupakan bahan kajian mendasar untuk menarik kesimpulan pada akhirnya. 3.3.3 Waktu dan Lokasi Penelitian 1) Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kantor Inspektorat Kota Bengkulu yang beralamatkan di Jl. Sukajadi No. 14 Kel. Penurunan – Kota Bengkulu. 2) Waktu Penelitian Penelitian ini mulai dilaksanakan dari bulan November 2011Desember 2011. 3.3.4 Jadwal Penelitian Berikut ini merupakan jadwal penelitian yang akan dilaksanakan peneliti: Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu Pelaksanaan Okt- Nov 2011 Okt- Nov 2011 30 November 2011 Desember 2011 Desember 2011 Desember 2011 Desember 2011 06 Februari 2012 Kegiatan Merancang Penelitian Memilih Tempat/Objek Penelitian Seminar Proposal penelitian Mengurus Surat Perizinan Menyiapkan Instrument Penelitian Melaksanakan StudiLapangan Melaksanakan Analisis Data Seminar Hasil

   

 

 

50   

3.4

Sumber Data Sumber data penelitian ini merupakan data primer. Sugiyono (2010: 72)

menjelaskan sumber data primer penelitian adalah kata-kata, tindakan subjek serta gambaran ekspresi, sikap dan pemahaman dari subjek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interpretasi data, dimana data dalam penelitian ini dikumpulkan langsung dari responden yaitu dalam bentuk angket ataupun kuesioner yang disebarkan langsung ke responden. 3.5 3.5.1 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Penelitian Populasi Penelitian Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu Sugiyono (2010: 57). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pegawai yang bekerja di Inspektorat Kota Bengkulu. Jumlah

populasinya sebanyak 48 orang pegawai Inspektorat Kota Bengkulu. Tabel 3.2 Pegawai Inspektorat Kota Bengkulu 2011 No 1 2 3 4 5 7 Bagian/Bidang Inspektur Kepala Sekretariat/Staf Inspektur Pembantu Wilayah I/Kasi/Staf Inspektur Pembantu Wilayah II/Kasi/Staf Inspektur Pembantu Wilayah III/Kasi/Staf Inspektur Pembantu Wilayah VI/Kasi/Staf Jumlah Jumlah (Orang) 1 20 8 7 6 6 48

   

 

 

51   

3.5.2 Teknik Pengambilan Sampel Penelitian Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling. Sugiyono (2010: 98) menjelaskan bahwa teknik tersebut adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan kesempatan ataupun peluang yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi yang akan dipilih menjadi sampel dalam penelitian. Jenis metode yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Sampel yang dipilih dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria responden yang digunakan yaitu pegawai yang terlibat secara wewenang dan tanggungjawab melakukan pemeriksaan pada Inspektorat Kota Bengkulu turun langsung sebagai pemeriksa dan memegang jabatan sebagai inspektur kepala, inspektur pembantu (IRBAN) dan kasi berserta staf dari pada inspektur pembantu itu sendiri untuk sekterariat dan staf tidak termasuk dalam kriteria ini sehingga jumlah sampel berdasarkan dari total populasi dikurangi 20 yang terdapat pada tabel dibawah ini Tabel 3.3 Sampel Penelitian No 1 2 3 4 5 Bagian/Bidang Inspektur Kepala Inspektur Pembantu Wilayah I/Kasi/Staf Inspektur Pembantu Wilayah II/Kasi/Staf Inspektur Pembantu Wilayah III/Kasi/Staf Inspektur Pembantu Wilayah VI/Kasi/Staf Jumlah Jumlah (Orang) 1 8 7 6 6 28

   

 

 

52   

3.6

Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data ini dilakukan untuk menggali data yang berkaitan

dengan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik tidak langsung dan komunikasi langsung. 3.6.1 Kuesioner Kuesioner ataupun angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan. Sugiyono (2010: 92) menjelaskan kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan ataupun pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner ini juga merupakan alat pengumpul data yang digunakan dalam teknik komunikasi tidak langsung. Pengumpulan data dengan teknik ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada aparat inspektorat (auditor internal pemerintah) yang menjadi sampel. Kuesioner diantarkan secara langsung kepada aparat inspektorat (Personality Administered Questionnaires) dan mengambilnya langsung dihari yang sama. Cara ini dilakukan oleh peneliti dengan tujuan mengurangi rendahnya respon rate. Hasil dari jawaban dari responden akan diolah dan dianalisis pada tahap selanjutnya. 3.6.2 Wawancara (interview) Wawancara dijelaskan dalam Miniciello (1995) dalam Wisudantri (2009: 30), merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka langsung antara peneliti dengan responden. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai langsung responden dan inspektur kepala serta pihak sekretariat

   

 

 

53   

yang memiliki informasi yang bermanfaat dan termasuk pegawai inspektorat yang berhubungan langsung dengan kegiatan aparat pengawasan sehingga seluruh data yang diperlukan dapat diperoleh dari pihak sekretariat inspektorat ini. 3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data Pengolahan data dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik analisis induktif , dimana teknik ini menafsirkan data mentah dari kuesioner yang dibagikan dan didukung dengan data dari wawancara yang dilakukan. Menurut Sugiyono (2010: 96 ), dalam penelitian kualitatif teknik analisis data lebih banyak dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Analisis data dalam penelitian-penelitian sosial saat ini sering digunakan analisis kualitatif (Sugiyono, 2010: 110 ). Sama halnya Nasution (2003) dalam Habibah (2010) menjelaskan bahwa Analisis data penelitian deskriptif kualitatif ini mengharuskan tahap-tahap analisis yang mendalam, sehingga dapat dikatakan analisis dengan menggunakan statitistik yang bersifat sederhana. 3.7.1 Pengklasifikasian Data (Data Reduction) Reduksi data diartikan sebagi proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Mereduksi data dalam penelitian ini berarti merangkum data yang telah diperoleh dari kuesioner yang telah diisi responden, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan

   

 

 

54   

pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Pengklasifikasian data dilakukan dengan cara: 1) Mengklasifikasikan data jawaban pertanyaan berdasarkan kuesioner yang telah kembali. Membaca keseluruhan informasi dari jawaban responden yang digolongkan jawaban “Ya” atau “Tidak”, untuk memudahkan pengolahan, maka jawaban-jawaban tersebut perlu diberi kode. Pengkodean pada penelitian ini dalam bentuk angka 1 untuk jawaban “Ya” dan angka 0 untuk jawaban “Tidak”. 2) Membuat tabulasi data sederhana untuk menafsirkan data yang dikumpulkan dari kuesioner diproses dengan bantuan Microsoft Excel. Membuat tabulasi tidak lain dari memasukkan data ke dalam tabel-tabel, dan mengatur angkaangka sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori. Setelah data ditabulasi maka akan diperoleh berapa banyak jawaban “Ya” dan berapa banyak jawaban “Tidak”. Persentase jawaban dilihat dari perbandingan jumlah jawaban untuk masing-masing kategori jawaban dengan keseluruhan jumlah pertanyaan untuk responden. Rentang persentase jawabannya yakni 50% - 100% menginterpretasikan kecenderungan jawaban reponden pada umumnya untuk diproses ketahap selanjutnya. Untuk melakukan proses selanjutnya dipilih responden yang yang persentase jawaban mereka masingmasing per total pertanyaan adalah 50% - 100%. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mudah melakukan proses selanjutnya dengan pedekatan yang telah ditentukan untuk masing-masing pilihan jawaban.

   

 

 

55   

3) Pada saat setelah ditabulasi data, peneliti sudah mengetahui berapa banyak jawaban “Ya” dan “Tidak” dari daftar pertanyaan dalam kuesioner yang telah disebarkan, ketika kecenderungan jawaban responden adalah “Ya” maka langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu melakukan proses wawancara dengan pendekatan indepth- interview yaitu mencari jawaban dengan teknik wawancara yang mendalam pada responden yang kecenderungan jawabannya adalah “Ya”, jika kecenderungan jawaban “Tidak” dari responden maka teknik yang digunakan adalah snowball yaitu memperbanyak pertanyaan yang mendukung untuk menemukan jawaban kenapa responden kebanyakan menjawab “Tidak”. 3.7.1.1 Wawancara Mendalam (Indepth-interview) Miniciello (1995) dalam Wisudantri (2009: 30) menjelaskan wawancara mendalam merupakan percakapan antara peneliti dan responden memfokuskan pada persepsi dari responden yang diekspresikan sesuai dengan bahasa responden. Penggunaan pendekatan ini memberikan keleluasaan bagi peneliti untuk mengeksplorasi informasi dari subjek secara mendalam. Adapun langkah-langkah dari indepth-interview (wawancara mendalam) yang dilakukan dalam penelitian ini adalah : 1) Membuat bentuk pertanyaan yang akan digunakan sebagai pedoman untuk mewawancarai responden penelitian. 2) Pertanyaan yang dibuat sebagai panduan wawancara memodifikaskasi daftar pertanyaan awal masing-masing variabel independen yang ada

dikuesioner yang dihubungkan dengan variabel dependennya.

   

 

 

56   

3) Mendatangi langsung responden dan memulai wawancara, urutan pertanyaan dapat diberikan secara fleksibel, melihat situasi dan kondisi responden dan juga tempat penelitian. Cara ini digunakan agar dapat memastikan bahwa responden menjawab semua pertanyaan wawancara yang dibuat. 4) Wawancara ini diperkirakan berlangsung sekitar 1 jam, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi responden. Lokasi wawancara haruslah ditempat yang nyaman dan tenang bagi peneliti dan responden. 5) Setelah melakukan wawancara, hasil wawancara dibaca berulang-ulang agar data yang diperoleh benar-benar dapat dipahami dan dipilih sesuai dengan tema, tujuan dan permasalahan yang akan dijawab, ketika masih merasa data yang dibutuhkan kurang maka kembali ketempat penelitian dan mewawancarai responden lagi setelah membuat janji terlebih dahulu untuk mewawancarai mereka. 6) Mencari alternatif penjelasan data yang dihasilkan dari wawancara indepth dengan responden melalui diskusi dengan inspektur kepala ataupun bagian secretariat yang memiliki peran dalam memberikan informasi guna mendukung hasil wawancara, sehingga tujuan dari penelitian deskriptif kualitatif ini tercapai. 7) Hasil wawancara indepth dibuat dalam bentuk transkip yang sudah dianalasis secara umum dari hasil jawaban responden, agar hasilnya tidak terlalu mengeneral sehingga apa yang dibutukan untuk mejawab permasalahan malah tidak diperoleh.

   

 

 

57   

3.7.1.2 Snowball interview 1) Membuat bentuk pertanyaan baru yang akan digunakan sebagai pedoman untuk mewawancarai responden penelitian. 2) Pertanyaan baru disini guna menggali tambahan informasi dari responden yang sulit untuk kita pahami dari jawaban pertanyaan awal yang ada didalam kuesioner. 3) Wawancara ini dilakukan dengan responden yang sama dan dapat dilakukan tidak hanya sekali. 4) Terus menambah pertanyaan jika pertanyaan sebelumnya masih belum dapat menggambarkan apa yang menjadi jawaban permasalahan. 3.7.2 Penyajian Data (Data Display) Penyajian data merupakan tahap selanjutnya dalam menganalisis data. Proses ini dilakukan pada saat sudah mengklasifikasikan data jawaban atas kuesioner yang ada. Penyajian data dalam penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif ini dapat dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, phie card, pictrogram dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami, dalam penelitian ini penyajian data setelah tabulasi data dilakukan dalam bentuk tabulasi data perhitungan masing-masing pertanyaan berdasarkan indikator dari variabel penelitian. 3.7.3 Kesimpulan (Conclusion) Menarik kesimpulan merupakan proses yang sejalan dengan pemhasan dari penelitian ini, dimana kesimpulan dalam penelitian dengan pendekatan

   

 

 

58   

kualitatif ini adalah jenis kesimpulan yang diambil untuk mengkaji bagaimana variabel-variabel yang mempengaruhi kualitas audit operasional yang dihasilkan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu, yang tadi nya masih belum jelas dengan adanya penelitian ini maka akan lebih jelas, dengan demikian penelitian ini dapat dibahas berdasarkan redaksi dari hasil penelitian, baik berupa suatu hubungan kausal yang dapat diperbandingkan dengan literatur-literatur yang ada sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada dan dapat mencapai tujuan yang utama yang telah ditetapkan. 3.8 Pengujian Kredibilitas Data Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keabsahan data penelitian dan sumber data

kualitatif, yaitu: nilai subyektif, metode pengumpulan

penelitian. Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian (Cokroaminoto, 2011). Menurut Sugiyono (2010: 93), uji kredibilitas data merupakan uji keabsahan data yang diutamakan dalam penelitian kualitatif. Adapun terkait dengan hal diatas, uji kredibilitas dapat dilakukan dengan cara : 1) Perpanjangan pengamatan, yaitu dengan perpanjangan pengamatan berarti penelitian kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, penyebaran kuesioner lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang

   

 

 

59   

baru, dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. Bila telah terbentuk rapport, maka telah terjadi kewajaran dalam penelitian. 2) Meningkatkan ketekunan, yaitu dengan melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan ditulis secara pasti dan sistematis. 3) Triangulasi, yaitu dengan melakukan triangulasi teknik, sumber data, dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dalam waktu yang berbeda, yaitu dengan kuesioner dan studi dokumentasi. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya. 4) Membicarakannya dengan orang lain (Peer Debriefing). Salah satu nya yaitu diskusi dengan dosen pembimbing, yaitu dengan melakukan diskusi hasil penelitian dengan dosen pembimbing. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan yang berkenaan dengan data yang belum bisa terjawab dapat diatasi, maka peneliti kembali ke lapangan untuk mencari jawabannya.

   

 

 

60   

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi Data Pengumpulan data dilakukan tanggal 12 Desember sampai dengan 20 Desember 2011 dengan menyebarkan 28 kuesioner untuk responden. Responden penelitian adalah aparat inspektorat yang tergolong dalam inspektur kepala, inspektur pembantu beserta kasi dan stafnya yang turun langsung melakukan audit pada dinas-dinas dan kantor-kantor yang ada di Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. Dari keseluruhan jumlah kuesioner yang disebarkan tersebut ternyata yang direspon oleh responden hanya 23 kuesioner atau dengan tingkat pengembalian 88,5%. Kuesioner lainnya tidak kembali dikarenakan 5 orang responden lainnya sedang menjalankan Pelatihan diluar kota dan ada 1 orang yang sedang mengambil cuti sehingga tidak berada di tempat. Secara lebih jelas jumlah kuesioner yang disebar dan yang kembali dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Sampel dan Tingkat Pengembalian/Respon Responden Keterangan Kuesioner yang disebarkan kuesioner yang tidak direspon kuesioner yang direspon kuesioner yang bisa digunakan
Sumber Data Primer Diolah, 2011

Responden jumlah % 28 (5) 23 23 100% 11.5% 88.5% 88.5%

   

 

 

61   

4.1.2 Keberadaan Inspektorat Sebagai Lembaga Teknis Daerah Kota Bengkulu Inspektorat merupakan lembaga teknis daerah berbentuk badan yang dulunya yang dikenal dengan Badan Pengawasan Daerah (BAWASDA). Inspektorat Kota Bengkulu didirikan oleh Pemerintah Daerah (PEMDA) berdasarkan, Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pembentukan Lembaga Teknis Daerah Kota Bengkulu, hal ini menyesuaikan dengan adanya Peraturan Pemerintah No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, dalam peraturan ini dijelaskan pada pasal 1 paragraf 9 bahwa Unsur pengawasan daerah adalah badan pengawasan daerah yang selanjutnya disebut Inspektorat Provinsi, Inspektorat Kabupaten, dan Inspektorat Kota. Pemerintah Kota Bengkulu memiliki kewenangan dalam membentuk lembaga teknis daerah (LTD), hal ini mengingat Kota Bengkulu merupakan salah satu daerah otonom yang diberikan kewenangan dalam membentuk LTD nya. Pemerintahan Kota Bengkulu juga mengeluarkan Peraturan Walikota Bengkulu Nomor 27 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas, Fungsi Dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Bengkulu salah satunya inspektorat. 4.1.3 Profil Responden
Pada penelitian kualitatif bukanlah jumlah responden yang penting

melainkan keberadaan respondenlah yang sangat penting. Oleh karena itu pemilihan orang-orang yang dijadikan sumber informasi sangat perlu. Dari hasil penelitian berdasarkan 23 kuesioner yang dapat dianalisis, diperoleh informasi mengenai

demografi responden sebagai acuan dalam melihat karakteristik responden yang menjadi sampel penelitian. Demografi responden dalam penelitian ini berupa jenis

   

 

 

62   

kelamin, usia, masa kerja diposisi sekarang, golongan, dan jenjang pendidikan. Secara lebih rinci demografi responden dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Demografi Responden
Keterangan Jenis Kelamin: Pria Wanita Total Usia: <30 Tahun 30-40 Tahun 40-50 Tahun > 50 Tahun Total Golongan/Ruangan: IId IIIa IIIb IIIc IIId VIa Total Jenjang Pendidikan: DIII S1 S2 S3 Total Latar Belakang Pendidikan S1 Akuntansi S1 Manajemen S1 Studi Pembangunan S1 Hukum S1 Administrasi Negara D3 Komputer S2 Keuangan S2 Manajemen Pemasaran Total Masa kerja: <5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun Total Sumber Data Primer Diolah, 2011 Frekuensi 9 14 23 3 7 10 3 23 1 3 6 1 8 4 23 1 18 4 0 23 11 3 2 1 1 1 3 1 23 4 16 3 23 Persentase (%) 39% 61% 100% 13% 30% 43% 13% 100% 4% 13% 26% 4% 35% 17% 100% 4% 78% 17% 0% 100% 48% 13% 9% 4% 4% 4% 13% 4% 100% 17% 70% 13% 100%

   

 

 

63   

Dari tabel 4.2 diatas dapat dilihat dari jenis kelamin responden yang sebagian besar adalah wanita dengan persentase 61% (14 orang) dan pria dengan persentase 39%. Dari usia masing-masing responden sebagian responden berusia 40-50 tahun dengan persentase 43% (10 orang), setelah itu usia 30-40 tahun dengan persentase 30% (7 orang), usia <30 tahun dengan persentase 13% (3 orang) dan >50 tahun sama dengan persentase 13% (3 orang). Apabila dilihat berdasarkan golongan/ruangan sebagian besar

golongan/ruangan IIId dengan persetase 35% (8 orang), golongan/ruangan IIIb dengan persentase 26% (6 orang), golongan/ruangan IVa dengan persentase 17% (4 orang), golongan/ruangan IIIa dengan persentase 13% (3 orang),

golongan/ruangan IIIc dengan persentase 4% (1 orang) dan golongan/ruangan IId dengan persentase 4% ( 1 orang). Dari jenjang pendidikan responden sebagian besar responden berpendidikan S1 (Sarjana) dengan persentase 78% (18 orang), S2(Magister) dengan persentase 17% (4 orang), D3 (diploma) dengan persentase 4% (1 orang), sedangkan S3 0% (tidak ada yang berpendidikan Doktor). Apabila dilihat dari masa kerja masing-masing responden sebagian besar adalah 5-10 tahun dengan persentase 70% (16 orang), masa kerja <5 tahun dengan persentase 17% (4 orang) dan masa kerja >10 tahun (3 orang). Sedangkan ketika dilihat dari latar belakang pendidikan responden manyoritas responden lulusan akuntansi dengan persentase 48% (11 orang), selebihnya S1 Manajemen dengan persentase 13% (3 orang), S1 Studi Pembangunan dengan persentase 9% (2 orang), S1 Hukum dengan persentase 4% (1 orang), S1 Administrasi Negara dengan persentase 4% (1 orang), DIII Komputer dengan persentase 4% (1 orang), S2

   

 

 

64   

Keuangan dengan persentase 13% (3 orang), S2 Manajemen Pemasaran dengan persentase 4% (1 orang). 4.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi dan Masa Kerja Pada Posisi Sekarang. Sebelumnya pada tabel 4.2 mengenai data demografi responden telah dijelaskan mengenai masa kerja dari masing-masing responden, maka berikut ini pada tabel 4.3 menjelaskan mengenai karakteristik responden berdasarkan Posisi dan Masa Kerja Pada Posisi Sekarang, hal ini untuk dilihat berapa lama responden tersebut memegang jabatan baik sebagai inspektur ketus, Inspektur pembantu, kasi maupun staf di kantor inspektorat Kota Bengkulu, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi dan Masa Kerja Pada Posisi Sekarang Masa Kerja Diposisi Sekarang Posisi/Jabatan Inspektur Kepala Inspektur Pembantu Wilayah I Inspektur Pembantu Wilayaha II Inspektur Pembantu Wilayah III Inspektur Pembantu Wilayah IV Kasi Staf Total
Sumber Data Primer Diolah, 2011

<5 Thn 1 1 1 1 1 10 8 23

5-10 Thn -

>10 Thn -

Dari tabel 4.3 dapat dilihat berdasarkan karakteristik responden berdasarkan posisi dan masa kerja pada posisi sekarang, posisi Inspektur Kepala dengan Persentase 4% (1 orang), Inspektur Pembantu Wilayah I 4% (1 orang), Inspektur Pembantu Wilayah II 4% (1 orang), Inspektur Pembantu Wilayah III,

   

 

 

65   

4% (1 orang), Inspektur Pembantu Wilayah IV 4% (1orang), posisi Kasi dengan persentase 44% (10 orang), dan posisi staf dengan persentase 38% (8 orang). 4.1.5 Kecenderungan Jawaban Atas Pertanyaan Kuesioner Berdasarkan 23 kuesioner yang kembali dapat dilihat kecenderungan jawaban atas 48 pertanyaan yang diberikan untuk masing-masing responden, apakah jawaban “Ya” yang mendominasi ataukan Jawaban “Tidak”. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Kecenderungan Jawaban Atas Pertanyaan Kuesioner n=23
No Jumlah Pertanyaan Responden 48 1 48 2 48 3 48 4 48 5 48 6 48 7 48 8 48 9 48 10 48 11 48 12 48 13 48 14 48 15 48 16 48 17 48 18 48 19 48 20 48 21 48 22 48 23 Total 1104 Persentase 100% Sumber Data Primer Diolah, 2011 Pilihan Jawaban Responden Ya Tidak 32 16 19 29 23 25 27 21 25 23 17 31 33 15 22 26 14 34 34 14 35 13 23 25 36 12 23 25 25 23 22 26 29 19 29 19 25 23 28 20 28 20 36 12 15 33 600 504 54% 46%

   

 

 

66   

Dari tabel diatas dapat dilihat jawaban “Ya” dengan persentase 54% (600 jawaban) dan jawaban “Tidak” dengan persentase 46% (504 Jawaban). Hal ini membuktikan kecenderungan jawaban responden atas pertanyaan kuesioner adalah “Ya”. Tabel 4.5 akan memberikan penjelasan mengenai responden yang akan diwawancarai secara mendalam. Tabel 4.5 Responden Yang Akan Diwawancara Mendalam No Responden 1 4 5 7 10 11 13 15 17 18 19 20 21 22 Jumlah Pertanyaan 48 48 48 48 48 48 48 48 48 48 48 48 48 48 Pilihan Jawaban Responden Ya Persentase (%) 32 67% 27 56% 25 52% 33 42% 34 71% 35 73% 36 75% 25 52% 29 60% 29 60% 25 52% 28 58% 28 58% 36 75%

Sumber Data Primer Diolah, 2011

Berdasarkan hasil perhitungan kecenderungan jawaban tersebut maka diambil responden yang kecenderungan jawaban “Ya” nya lebih atau sama dengan 50% untuk diambil sebagai responden yang akan diwawancara secara mendalam sehingga dapat membantu mengkaji pengaruh kompetensi,

independensi, dan motivasi terhadap kualitas audit operasional berdasarkan persepsi para responden ini. Berdasarkan tabel 4.5 tersebut dapat dilihat persentase jawaban “Ya” dari 14 responden sesuai karakteristik penelitian untuk

   

 

 

67   

dilanjutkan dalam dengan wawancara mendalam (indepth interview) karena presentase yang dihasilkan melebihi 50%. 4.2 4.2.1 Analisis Data dan Pembahasan Analisis Data Kualitatif Analisis data dalam penelitian ini merupakan, analisis dari pertanyaanpertanyaan kuesioner untuk menambah atau melengkapi data penelitian agar tujuan dari penelitian ini tercapai. Analisis data penelitian ini sendiri terdiri atas 16 indikator penelitian yang menjadi instrumen penelitian kualitatif untuk keseluruhan variabel penelitian ini berdasarkan jawaban kuesioner 14 responden yang akan diteliti dengan pendekatan indepth interview, analisisnya disajikan juga dalam bentuk tabel. 4.2.1.1 Variabel Kualitas Audit Operasional 1) Indikator Keakuratan Temuan Audit Hal ini merupakan salah satu indikator variabel kualitas audit operasional dalam instrumen penelitian deskriptif kualitatif ini, keakuratan temuan audit ini dilihat dari sisi hasil temuan audit yang terjamin dan tanpa rekayasa terhadap hasil temuan tersebut. Tabel 4.6 merupakan hasil olahan data dari jawaban pertanyaan kuesioner penelitian ini, berikut ini penjelasannya. Tabel 4.6 Terjaminya Keakuratan Temuan Audit n=14
No 1 Pertanyaan Apakah Anda menjamin semua temuan audit yang anda temui adalah akurat dan Anda pun bisa menemukan sekecil apapun kesalahan atau penyimpangan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 12 43% 2 7%

   

 

 

68    yang ada pada saat proses audit operasional dilakukan? 2 Pernahkah anda merekayasa temuan aud yang anda temui saat melakukan prose audit dan anda melaporkannya tidak sesua dengan temuan audit ? Total 28 Sumber Data Primer Diolah, 2011

0

0%

14

50%

12

43%

16

57%

Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 4.6 dapat dilihat bahwa jawaban “Tidak” mendominasi untuk indikator keakuratan temuan audit dengan persentase masing-masing dapat dilihat pada tabel 4.6, sehingga berdasarkan analisis data ini dapat diduga bahwa mayoritas aparat auditor Inspektorat Kota Bengkulu sudah menyakini bahwa kualitas audit mereka adalah baik dengan mereka dapat menjamin bahwa temuan audit yang mereka lakukan adalah akurat dan tanpa adanya rekayasa sedikitpun dari hasil temuan pada saat melakukan pemeriksaan. Hal ini selaras dengan adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 tahun 2007 yakni pasal 9 tenteng Kode Etik Pengawas yakni pengawas wajib melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan penuh pengabdian dan tanggung jawab penuh tanpa adanya kecurangan sedikitpun. 2) Indikator Nilai Rekomendasi Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian kualitatif ini, indikator nilai rekomendasi merupakan indikator variabel kualitas audit operasional yang menjadi acuan untuk melihat bagaimana pengaruh variebl independen terhadap variabel ini, hal ini dilihat dari sisi rekomendasi yang dibuat dan penyelesaian masalah dari rekomendasi yang diberikan mencerminkan

   

 

 

69   

kualitas audit yang mereka lakukan, mengenai pejelasan tersebut lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.7. Tabel 4.7 Nilai Rekomendasi n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 12 43% 2 7%

Apakah Anda harus membuat rekomendasi mengenai hasil pemeriksaan operasional kepada auditee? 2 Apakah rekomendasi yang anda berika dapat menyelesaikan kesalahan ata penyimpangan yang terjadi? Total 28 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

14

50%

0

0%

26

93%

2

7%

Berdasarkan hasil olahan data dari item pertanyaan yang ada dalam kuesioner secara umum jawaban “Ya” mendominasi dari 28 pertanyaan dari 14 responden terpilih, mengenai nilai rekomendasi yang diberikan oleh aparat auditor. Hal seperti ini dapat diduga bahwa, responden membuat rekomendasi terhadap temuan audit yang mereka lakukan dan mereka menyakini hasil rekomendasi tersebut dapat memnyelesaikan permasalahn yang mereka temuai pada saat melakukan audit. Hal ini sesuai dengan Peraturan Walikota No 27 tahun 2008 mengenai tupoksi/tugas penting dari aparat adalah melakukan pemeriksaan dan pengawasan serta memberikan rekomendasi terhadap instansi yang diperiksa/audit. 3) Indikator Sikap Skeptis Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian kualitatif ini, indikator sikap skeptis aparat inspektorat ini merupakan salah satu

   

 

 

70   

indikator dari variabel kualitas audit operasional yang merupakan variabel dependen dilihat dari sisi untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.8. Tabel 4.8 Sikap Skeptis n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 6 43% 8 57%

Apakah Anda percaya pada auditee/instansi yg anda audit, bahwa anda tidak akan menemukan kesalahan atau penyimpangan yang sama secara berulang Total 14 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

6

43%

8

57%

Dilihat dari hasil pengolahan data mengenai indikator sikap skeptis dilihat dari kepercayaan auditor terhadap instansi yang diaudit dihasilkan dominasi jawaban “Tidak”. Hal ini dapat diduga bahwa sikap skeptis digunakan setiap aparat inspektorat melaksanakan pemeriksaan terhadap instansi, yaitu penuh dengan kecurigaan, dan tidak cepat untuk mempercayai instansi yang menjadi orbik mereka. Hal ini selaras dengan ungkapan salah satu responden yang menjabat sebagai inspektur kepala didukung oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2007 bahwa profesionalisme seorang aparat auditor dilihat dari bagaimana mereka melaksanakan tugas yang telah diberikan bagi masingmasing inspektur pembantu beserta anggotanya, salah satunya yaitu dengan cara tidak mudah percaya dengan dengan instansi yang sedang diaudit melaikan harus melaksanakan proses audit untuk membuktikan kebenaran hal tersebut. 4) Indikator Pelaksanaan Audit Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian kualitatif ini, indikator pelaksanaan audit aparat inspektorat ini dilihat dari sisi

   

 

 

71   

bagaimana

cara

si

auditor

dalam

melaksanakan audit

dan

mengenai

perlengakapan pada saat melakukan tugas audit untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.9. Tabel 4.9 Pelaksanaan Audit n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak % ” 14 33% 0 0%

Apakah sebelum melaksanakan audit di kantor/ instansi auditee, anda melaksanakan koordinasi audit terlebih dahulu dan juga melaksanakan perencanaan audit terlebih dahulu? 2 Apakah Anda selaku auditor interna pemerintahmenyelesaikan pemeriksaa dengan membuat kertas kerj pemeriksaan? 3 Apakah Kertas kerja pemeriksaan perlu dibuat secara seragam dan terpadu? Total 42 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

14

33%

0

0%

14 42

33% 100%

4 0

6% 0%

Berdasarkan hasil olahan data kuesioner terhadap jawaban “Ya” dan jawaban “Tidak” berdasarkan pertanyaan untuk indikator pelaksanaan audit ini, dapat diduga bahwa aparat auditor melaksanakan audit dengan baik dan membuat kertas kerja audit dalam menyelesaikan audit. Dengan melakukan pelaksaan audit yang benar maka dapat menghasilkan kualitas audit yang baik. Hal ini dilihat dengan mayoritas jawaban adalah jawaban “Ya” dari 42 pertanyaan untuk indikator pelaksanaan audit dengan 14 aparat sebagai responden dan jawaban sebagianya responden yang menjawab tidak.

   

 

 

72   

5)

Indikator Kejelasan Laporan Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian

kualitatif ini, indikator kejelasan laporan yang dibuat aparat inspektorat ini dilihat dari sisi untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.10. Tabel 4.10 Kejelasan Laporan n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 12 43% 2 7%

Apakah Anda melakukan peniliaan efektifitas tindak lanjut hasil audit dan konsistensi penyajian laporan hasil audit? 2 Apakah menurut Anda rekomendasi laporan hasil audit anda dapat dipahami oleh auditee? Total 28 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

14

50%

0

0%

28

93%

2

7%

Berdasarkan tampilan hasil olahan data pada tabel 4.10 diatas, sehingga dapat diduga bahwa auditor aparat inspektorat memberikan laporan yang jelas sehingga dapat dipahami oleh auditee sehingaa audit yang mereka lakukan demi mendukung terwujudnya pemerintahan yang bersih tidak sia-sia. Kejelasan laporan audit merupakan hal yang sangat penting untuk adanya tindak lanjut dari audit yang dilakukan. Hal ini dilihat secara umum responden menjawab “Ya” untuk pertanyaan berdasarkan indikator ini dan hanya sebagiannya yang

menjawaban “Tidak”. 6) Indikator Tindak Lanjut Hasil Audit Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian kualitatif ini untuk variabel kualitas audit operasional, indikator tindak lanjut hasil

   

 

 

73   

audit oleh instansi yang diaudit dilihat dari sisi hasil audit tersebut dapat atau tidak dapat ditindak lanjut oleh auditee, untuk lebih jelasnya pada tabel 4.11. Tabel 4.11 Tindak Lanjut Hasil Audit n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 14 50% 0 0% 9 32% 5 18%

Apakah hasil audit yang Anda lakukan dapat ditindak lanjuti oleh Auditee? 2 Apakah Anda terus memantau tindak lanjut dari hasil audit yang anda lakukan? Total 28 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

23

82%

5

22%

Berdasarkan tampilan tabel 4.11 sehingga dapat diduga bahwa hasil audit auditor aparat inspektorat dapat ditindak lanjuti oleh auditee dan mereka terus memantau tindak lanjut dari hasil audit yang dilakukan. Hal ini dilihat dengan jawaban “Ya” yang mendominasi dari 14 responden berdasarkan pertanyaan untuk indikator ini dan hanya sebagian jawaban adalah “Tidak” yang dipilih oleh para responden. Berdasarkan indikator keakuratan temuan audit, nilai rekomendasi, sikap skeptis, pelaksanaan audit, kejelasan laporan keuangan, dan tindak lanjut hasil audit dapat menggambarkan bagaimana kualitas audit audit operasional aparat Inspektorat Kota Bengkulu. Berikut tabel 4.12 akan memberikan gambaran mengenai hal tersebut.

   

 

 

74   

Tabel 4.12 Kualitas Audit Operasional Aparat Inspektorat Kota Bengkulu
Indikator Variabel Kualitas Audit Keakuratan temuan audit Nilai rekomendasi Sikap skeptis Pelaksanaan audit Kejelasan laporan keuangan Tindak lanjut hasil Rata-rata Sumber: Data Primer Diolah, 2011 Jawaban "Ya" 43% 93% 43% 10% 93% 82% 61%

Berdasarkan tabel 4.12 diketahui hasil dari rata-rata jawaban “Ya” dari keseluruhan indikator untuk variabel kualitas audit operasional menunjukkan bahwa kualitas audit operasional aparat inspektorat sebagian besar sudah baik hal ini dilihat dari hasil rata-rata dari keseluruhan indikator adalah 61%, dengan demikian aparat inspektorat sudah menyakini keakurat temuan audit dan hasil audit mereka memberikan rekomendasi yang tepat hal ini karena dalam melaksanakan tugas pemeriksaan mereka menggunakan sikap skeptis sehingga menghasilkan kejelasan laporan guna dapat ditindak lanjuti sehingga

mengindikasikan kualitas audit operasional aparat pada umunya sudah baik. 4.2.1.2 Analisis Variabel Kompetensi

1) Indikator Pemahaman dan Penguasaan Standar Akuntansi dan Auditing Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian ini yang merupakan bagian variabel kompetensi, indikator tindak lanjut hasil audit oleh instansi yang diaudit dilihat dari sisi memperoleh pengetahuan mengenai auditing hingga pemahaman mengenai pemerintahan untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel 4.13.

   

 

 

75   

Tabel 4.13 Pemahaman dan Penguasaan Standar Akuntansi dan Auditing n=14
No 1 Pertanyaan Apakah Anda memperoleh pengetahuan yang sangat mendukung anda dalam proses audit pada saat anda mengenyam pendidikan formal dibangku kuliah? Apakah Anda memahami seluruh bidang audit yang anda lakukan dipemerintahan? Apakah Anda memahami dan mampu melakukan audit operasional sesuai dengan standar akuntansi dan standar auditing yang berlaku, seprti SPIP, SPKN, dll? 42 Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 12 29% 2 5%

2

8

19%

6

14%

3

13

31%

1

2%

Total

35

79%

7

21%

Sumber: Data Primer Diolah, 2011

Berdasarkan hasil olahan data kuesioner terhadap jawaban pertanyaan kuesioner dari indikator ini, dihasilkan mayoritas jawaban “Ya” yang dipilih oleh responden sedangkan sebagiannya menjawab “Tidak”. Hal ini dapat diduga bahwa aparat auditor memiliki pemahaman dan pengetahuan dalam melaksanakan tugas mereka sebagai auditor internal pemerintah dalam membantu kepala daerah. 2) Indikator Keahlian Dibidang Auditing Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen dari variabel kompetensi dalam penelitian jenis deskriptif kualitatif, olahan data jawaban atas pertanyaan kuesioner dari indikator keahlian dibidang auditing lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 4.14.

   

 

 

76   

Tabel 4.14 Keahlian Dibidang Auditing n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 7 17% 7 17%

Apakah Anda memiliki keahlian dibidang akuntansi dan keuangan Sektor Publik? 2 Apakah Anda memiliki keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain dan mampu berkomunikasi secara efektif dengan auditee? 3 Apakah Anda memahami mengenai SPIP yang merupakan salah satu yang diaudit dalam audit operasional? Total 42 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

13

31%

1

2%

14

33%

0

0%

34

81%

8

19%

Berdasarkan hasil olahan data berdasarkan jawaban “Ya” dan jawaban “Tidak” atas pertanyaan kuesioner penelitian sehingga dapat diduga bahwa aparat auditor memiliki keahlian dibidang auditing. Hal ini dilihat mayoritas responden manjawab “Ya” dan hanya sebagian dari responden yang menjawab “Tidak” untuk indikator ini. 3) Indikator Wawasan Tentang Pemerintahan Hal ini merupakan salah satu indikator variabel kompetensi dalam instrumen penelitian deskriptif kualitatif ini, wawasan tentang pemerintahan ini dilihat dari pemahaman mengenai pemerintahan dan peraturan-peraturan mengenai pemerintahann, serta memiliki kemapuan dalam pengolahan

administrasi pemerintah. Hasil olahan data berdasarkan indikator wawasan tentang pemerintahan dapat dilihat pada tabel 4.15.

   

 

 

77   

Tabel 4.15 Wawasan Tentang Pemerintahan n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 13 46% 1 4%

Apakah Anda sangat memahami peraturan perundang-undangan, mengenai hal-hal yang terkait pemerintahan seperti diantaranya struktur organisasi, fungsi, program, dan kegiatan pemerintahan? 2 Apakah memiliki kemapuan dan keahlian dibidang administrasi pemerintahan? Total 28 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

10

43%

4

7%

23

89%

5

11%

Berdasarkan tampilan tabel dan diagram 4.15 dapat diduga bahwa aparat auditor dalam melakukan audit dengan penilaian efektifitas dan konsisten dalam penyajian laporan hasil pemeriksaan dan memiliki wawasan mengenai pemerintahan untuk melakukan pemeriksaan guna menghasilkan kualitas audit yang baik dan berkualitas. Hal ini dilihat dari mayoritas responden memilih jawaban “Ya” dan hanya sebagian yang memilih jawaban “Tidak”. 4) Indikator Peningkatan Keahlian Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian deskriptif kualitatif, indikator keahlian dibidang auditing merupakan instrumen penelitian untuk variabel kompetensi. penjelasan mengenai jumlah dan persentase berdasarkan jumlah pertanyaan untuk indikator ini dengan 14 aparat sebagai responden lebih jelasnya pada tabel 4.16.

   

 

 

78   

Tabel 4.16 Peningkatan Keahlian n=14 No 1 Pertanyaan Apakah seiring dengan bertambahnya masa kerja Anda sebagai auditor internal pemerintah, keahlian auditing anda pun semakin bertambah pula? Apakah Anda mengikuti pelatihan akuntansi dan audit yang diselenggarakan internal inspektorat dengan serius dan tekun? Apakah dalam 2 tahun terakhir ini anda sudah menyelesaikan sekurang-kurangnya 80 jam pendidikan/ pelatihan dalam peningkatan profesionalisme anda sebagai auditor? Apakah pernah dengan inisiatif Anda sendiri anda berusaha meningkatkan penguasaan akuntansi dan auditing anda dengan membaca literatur atau mengikuti pelatihan diluar lingkungan inspektorat? 56 Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 13 23% 1 2%

2

12

21%

2

3%

3

7

13%

7

13%

4

10

18%

4

7%

Total

32

75%

24

25S%

Sumber: Data Primer Diolah, 2011

Berdasarkan olahan data jawaban atas pertanyaan kuesioner penelitian, sehingga dapat diduga bahwa aparat auditor selalu berusaha untuk meningkatkan keahlian mereka dalam melakukan pemeriksaan demi mengkatkan kompetensi mereka sebagai seorang auditor yang membantu kepala daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. Hal ini dilihat secara umum responden memilih jawaban “Ya” dan hanya sebagian yang memilih jawaban “Tidak”.

   

 

 

79   

Berdasarkan indikator pemahaman dan penguasaan standar akuntansi dan auditing, keahlian dibidang auditing, wawasan tentang pemerintahan, dan peningkatan keahlian, dapat menggambarkan kompetensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu. Berikut ini tabel 4.17 akan memberikan gambaran mengenai kompetensi tersebut. Tabel 4.17 Kompetensi Aparat Inspektorat Kota Bengkulu Indikator Variabel Kompetensi Pemahaman dan Penguasaan Standar Akuntansi dan Auditing Keahlian Dibidang Auditing Wawasan Tentang Pemerintahan Peningkatan Keahlian Rata-Rata
Sumber: Data Primer Diolah, 2011

Jawaban "Ya" 79% 81% 89% 75% 81%

Berdasarkan tabel 4.17 diketahui hasil dari rata-rata jawaban “Ya” dari keseluruhan indikator untuk variabel kompetensi menunjukkan bahwa kompetensi aparat inspektorat pada umumnya baik. Hal ini dilihat dari hasil rata-rata dari keseluruhan indikator adalah 81%, dengan demikian aparat inspektorat sudah memiliki pemahaman dan penguasaan standar akuntansi dan auditing dan wawasan luas tentang pemerintahan hal ini diperoleh dengan peningkatan keahlian mereka dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan dan pembinaan guna meningkatkan kompetensi dan profesionalisme. 4.2.1.3 Analisis Variabel Independensi 1) Indikator Gangguan Pribadi Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian bagian dari variabel independensi dalam penelitian deskriptif kualitatif dengan

   

 

 

80   

pendekatan kualitatif, untuk lebih jelasnya hasil olahan data berdasarkan indikator gangguan Pribadi dijelaskan pada tabel 4.18. Tabel 4.18 Gangguan Pribadi n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 2 2% 12 12%

Apakah Anda pernah melakukan pembatasan lingkup pertanyaan pada saat anda melakukan audit karena auditee masih punya hubungan darah dengan anda? 2 Pernahkah Anda mengalami hal berikut pada saat anda melakukan pemeriksaan, anda menemukan beberapa kesalahan pencatatan yang disengaja oleh auditee akan tetapi tidak semua kesalahan tersebut anda laporkan kepada atasan karena anda sudah memperoleh fasilitas yang cukup baik dari auditee tersebut? 3 Apakah Anda akan memberitahu pimpinan APIP jika anda memiliki suatu gangguan independensi atau objektifitas terganggu baik secara fakta maupun penampilan? 4 Pernahkah Anda tetap melaksanakan pemeriksaan pada suatu instansi pemerintah/ kantor auditee meskipun anda mengetahui auditee tersebut masih ada hubungan dengan anda? 5 Menurut Anda apakah pimpinan APIP harus menggantikan auditor yang menghadapi gangguan terhadap suatu konflik kepentingan? 6 Pernahkah Anda tidak melaporkan gangguang-gangguan independensi dan objektifitas anda selaku auditor kepada pimpinan APIP melainkan melaporkannya langsung dalam laporan audit anda? 7 Menurut Anda pimpinan APIP lah yang harus bertanggung jawab langsung untuk mengatasi masalah gangguan-gangguan pribadi yang dirasakan auditornya pada saat melaksanakan audit? Total 98 Sumber: Data Primer Diolah, 2011

0

0%

14

14%

10

10%

4

4%

8

8%

6

6%

11

11%

3

3%

3

3%

11

11%

6

6%

8

8%

40

40%

58

60%

   

 

 

81   

Berdasarkan hasil olahan data jawaban atas pertanyaan kuesioner penelitian ini dihasilkan jawaban “Tidak” yang mendominasi dibandingkan jawaban “Ya”, sehingga dapat diduga bahwa sebagian kecil aparat auditor mengalami gangguan pribadi dalam mempertahankan independensi mereka sebagai auditor, sehingga memungkinkan mereka tidak leluasa dalam melakukan tugas mereka sebagai auditor internal dalam membantu kepala daerah. 2) Indikator Gangguan Eksternal Hal ini merupakan indikator variabel independensi untuk pertanyaan kuesioner penelitian deskriptif kualitatif. Indikator gangguan eksternal dijelaskan pada tabel 4.19. Tabel 4.19 Gangguan Eksternal n=14
No 1 Pertanyaan Apakah menurut Anda tidak ada gunanya anda melakukan audit dengan sungguhsungguh, karena anda tahu ada pihak yang punya wewenang untuk menolak pertimbangan yang anda berikan pada laporan audit anda? Apakah Anda merasa khawatir jika anda mengungkapkan temuan audit anda apa adanya, Anda akan dimutasi kerja? Pada saat anda melakukan proses audit dan anda sangat memerlukan jasa tenaga ahli, pernahkah anda mengambil tindakan langsung menggunakan jasanya tanpa penilaian terlebih dahulu? Ketika anda dihadapkan pada suatu kondisi instansi pemerintah yang anda audit benar-benar kacau dilihat dari segala hal, apakah anda akan memberikan jasajasa non audit diluar tugas anda sebagai auditor untuk membantu instansi tersebut? Apakah Anda akan mengaudit instansi pemerintah jika anda mendapatakan audit fee yang besar dari instansi tersebut? 70 Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 3 4% 11 16%

2

2

3%

12

17%

3

0

0%

14

20%

4

10

14%

4

6%

5

2

3%

12

17%

Total

17

24%

53

76%

Sumber Data Primer Diolah, 2011

   

 

 

82   

Berdasarkan hasil olahan data kuesioner penelitian ini dihasilkan jawaban “Tidak” yang mendominasi dibandingkan jawaban “Ya”, sehingga dapat diduga bahwa sebagian kecil aparat auditor yang mengalami gangguan eksternal dalam mempertahankan independensi mereka sebagai auditor sehingga

memungkinkan mereka tidak leluasa dalam melakukan tugas mereka sebagai auditor internal. Berdasarkan indikator ganguan internal dan gangguan eksternal, dapat menggambarkan independensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu. Tabel 4.20 akan memberikan gambaran mengenai variabel tersebut berikut penjelasan tabel 4.20. Tabel 4.20 Independensi Aparat Inspektorat Kota Bengkulu Indikator Variabel Independensi Gangguan Pribadi Gangguan Eksternal Rata-Rata
Sumber Data Primer Diolah, 2011

Jawaban "Ya" 49% 24% 37%

Berdasarkan tabel 4.20 diketahui hasil dari rata-rata jawaban “Ya” dari keseluruhan indikator untuk variabel independensi menunjukkan bahwa independensi aparat inspektorat hampir sebagian baik. Hal ini dilihat dari hasil rata-rata dari keseluruhan indikator adalah 37%, dengan demikian hampir sebagian aparat inspektorat memiliki independensi yang baik. Hal ini

dikarenakan aparat inspektorat bekerja dibawah pengaruh kepala daerah sehingga cukup susah untuk mempertahankan independensi mereka.

   

 

 

83   

4.2.1.2 Analisis Variabel Motivasi 1) Indikator Ketangguhan ketangguhan merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian untuk mengkaji bagaimana pengaruh variabel motivasi terhadap kualitas audit operasional yang dianalisis dengan pendekatan kualitatif sehingga memberikan penjelasan yang lebih mengarah, untuk lebih jelasnya analisis akan indikator ketangguhan ini dijelaskan pada tabel 4.21. Table 4.21 Ketangguhan n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 3 21% 11 79%

Apakah Anda cenderung memaafkan jika ada sedikit penyimpangan karena anda pun akan melakukan kesalahan yang sama jika ada pada posisi tersebut? Total 14 Sumber Data Primer Diolah, 2011

3

21%

11

79%

Berdasarkan tabel 4.18 diatas dapat dilihat bahwa jawaban “Ya” lebih mendominasi dibandingkan jawaban “Tidak”. Hal ini dapat diduga mayoritas aparat auditor inspektorat memiliki ketangguhan dalam menjalani tugasnya

meskipun banyak hambatan dalam pelaksanaanya. Sikap ini merupakan sikap dimana sesorang tetap tabah, tahan, serta tangguh dalam menjalankan tugasnya yang sulit dan penuh hambatan. 2) Indikator Keuletan Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian yang merupakan bagian variabel motivasi, indikator keuletan ini dilihat dari bagaiaman cara auditor dalam melaksanakan tugasnya sehingga akan berpengaruh terhadap

   

 

 

84   

kualitas auditnya, olahan data jawaban kuesioner berdasarkan pertanyaan dari indikator keuletan untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel 4.22. Table 4.22 Keuletan n=14 No 1 Pertanyaan Apakah Anda lakukan selama ini dalam melaksankan tugas sebagai auditor internal sudah cukup baik, tidak perlu lagi adanya perbaikan? Apakah Anda sering melakukan instrofeksi diri untuk kesusksesan anda dalam dunia kerja untuk kedepannya? Apakah setelah anda melakukan auidit pada isntansi pemerintahan/auditee dengan baik maka besar pula peluang anda untuk mendapatkan jabatan fungsional yang lebih baik? 42 Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 5 12% 9 21%

2

13

31%

1

2%

3

8

19%

6

15%

Total

26

62%

16

38%

Sumber Data Kuesioner Diolah, 2011

Berdasarkan tabel dan diagram 4.22 yang telah ditampilkan diatas dapat dilihat bahwa jawaban “Ya” mendominasi dibandingkan jawaban “Tidak “. Hal ini dapat diduga bahwa mayoritas auditor inspektorat memiliki keuletan dalam melaksanakan tugas. Keuletan disini merupakan motivasi yang tinggi bagi auditor dalam menghasilkan kualitas audit operasional yang baik. Keuletan disini merupakan kemampuan auiditor dalam bertahan dan pantang menyerah jika menemukan kesulitan pada saat melakukan tugas.

   

 

 

85   

3) Indikator Konsistensi Hal ini juga merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian kualitatif untuk variabel motivasi , hasil olahan data dari pertanyaan berdasarkan indikator konsistensi dijelaskan pada tabel 4.23. Tabel 4.23 Konsistensi n=14
No 1 Pertanyaan Apakah Anda tetap akan mempertahankan hasil audit anda walaupun hasil audit yang anda punya tidak sama dengan hasil audit rekan lainnya yang tergabung dalam satu tim audit? Apakah Anda tetap akan melaksanakan proses pada instansi yang jelas-jelas anda tahu bahwa instansi tersebut tidak mengikuti peraturan pelaksanaan pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan? Kesungguhan anda dalam menjalankan tugas sebagai auditor sering dipengaruhi oleh mood(suasana hati) anda? 42 Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 13 31% 1 2%

2

14

33%

0

0%

3

7

17%

7

17%

Total

34

81%

8

19%

Sumber Data Primer Diolah, 2011 Berdasarkan dari hasil olahan data yang disajikan pada tabel 4.23 diatas penelitian ini dari salah satu indikator pertanyaan kuesioner yakni jawabannya “Ya” mendominasi dibandingkan jawaban “Tidak”. Hal ini dapat diduga bahwa mayoritas responden penelitian yaitu aparat inspektorat memiliki konsistensi yang tinggi dalam mempertahankan hasil tugasnya. Konsisten ini berarti mayoritas responden melakukan audit sesuai dengan standar yang berlaku.

   

 

 

86   

4) Tingkat Apsirasi Hal ini merupakan salah satu indikator dalam instrumen penelitian variabel motivasi. Olahan data jawaban pertanyaan kuesioner penelitian berdasarkan indikator tingkat aspirasi ini untuk lebih jelasnya ditampilkan pada tabel 4.21. Tebel 4.24 Tingkat Apsirasi n=14
No 1 Pertanyaan Pilihan jawaban Responden “Ya” % “Tidak” % 4 6% 10 14%

Apakah menurut Anda tanpa auditor internal sebenarnya pemerintahan daerah kota Bengkulu sudah bisa berjalan dengan baik? 2 Apakah hasil audit Anda benar-benar dimanfaatkan oleh penentu kebijakan sehingga akan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi peningkatan kualitas pelayanan publik? 3 Jika Anda tidak melakukan audit dangan baik apakah anda tidak akan menerima dampak negatif dari perlakuan anda tersebut? 4 Ketika rekomendasi anda mengenai hasil audit yang anda laksankan tidak dapat ditindaklanjuti oleh auditee apakah anda merasa kesal dan tidak ingin melaksanakan audit lagi pada insatnsi/auditee tersebut? 5 Apakah ada rasa kebanggaan tersediri ketika anda ditugaskan untuk mengaudit suatu instansi pemerintah? Total 70 Sumber Data Primer Diolah, 2011

3

4%

11

16%

3

4%

11

16%

4

6%

10

14%

9

13%

5

7%

23

33%

47

67%

Berdasarkan hasil dari olahan data dan dijelaskan pada tabel 4.24 diatas dapat diduga bahwa mayoritas auditor ikut serta dalam menghasilkan audit operasional yang berkualitas dan juga mereka mendapatkan kebebasan dalam menyampaikan ide-ide serta rekomendasi dalam proses pemeriksaan . Hal ini dapat dilihat dari mayoritas jawaban responden adalah jawaban “Ya” sebagian kecil yang memilih jawaban “Tidak”.

   

 

 

87   

Berdasarkan indikator ketangguhan, keuletan, konsistensi, dan tingkat aspirasi, dapat menggambarkan motivasi aparat Inspektorat Kota Bengkulu. Tabel 4.25 akan memberikan gambaran mengenai variabel tersebut berikut penjelasan tabel 4.25. Tabel 4.25 Independensi Aparat Inspektorat Kota Bengkulu
Indikator Variabel Kompetensi Ketangguhan Keuletan Konsistensi Tingkat Aspirasi Rata-Rata Sumber: Data Primer Diolah, 2011 Jawaban "Ya" 21% 62% 81% 33% 50%

Berdasarkan tabel 4.25 diketahui hasil dari rata-rata jawaban “Ya” dari

keseluruhan indikator untuk variabel motivasi menunjukkan bahwa motivasi aparat inspektorat sebagian adalah baik. Hal ini dilihat dari hasil rata-rata dari keseluruhan indikator adalah 50%, dengan presentasi tersebut dapat membuktikan bahwa sebagian dari Aparat inspektorat Kota Bengkulu memiliki motivasi yang baik utnuk menghasilkan kualitas audit operasional dalam melaksanakan pengawasan keuangan daerah. 4.2.2 Deskripsi Hasil Wawancara Mendalam (Indepth Interview)

4.2.2.1 Deskripsi Pengaruh Kompetensi Berdasarkan Persepsi Responden Hasil wawancara mendalam dengan ke 14 responden yang dilakukan dalam beberapa hari dan dideskripsikan secara umum dari hasil wawancara mengenai permasalahan bagaimana kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional yang mereka laksanakan, dapat dideskripsikan pengaruhnya

   

 

 

88   

dilihat dari peningkatan keahlian auditor, peningkatan pemahaman akan standar dan aturan sebagai pemeriksa. 1) Peningkatan Keahlian Auditor Peningkatan keahlian auditor ini dilakukan dengan cara memberikan pelatihan-serta pembekalan secara berkala dan berganti-gantian utuk setiap aparat pemeriksa sehingga peningkatan keahlianpun secara merata dirasakan setiap aparat pemeriksa. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan inspektur kepala yakni ibu Hj Ermina Nurbaiti di Inspektorat Kota Bengkulu, bahwa kualitas hasil audit yang baik jika para aparat pemeriksa memiliki kompetensi pengetahuan serta keterampilan yang memadai dan sesuai dengan kapasitasnya sehingga untuk mewujudkan aparat yang memiliki kompetensi maka kami sering mangadakan pelatihan dan pembekalan baik itu dilaksanakan dilingkungan inspektorat atau mengikuti pelatihan yang diberikan oleh aparat fungsional lainnya seperti BPKP untuk meningkatnya kompetensi mereka. Dasar dari persepsi mengenai kualitas audit yang baik jika aparat memiliki kompetensi, sebagaimana dicatat pada waktu melakukan wawancara indepth jika dituliskan kembali menjadi berikut ini: “Ya dasarnya ini loh dek aturan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengenai syarat dari pemeriksa internal pemerintahkan harus memiliki kompetensi dan profesionalisme, gimana kalau tidak memiliki hal tersebut bakal (mengakibatkan) jelek lah hasil pemeriksaan dan dapat dikategorikan tidak berkualitas”. Demi mewujudkan inilah saya selalu berusaha untuk terus memberikan pelatihan bagi aparat-aparat inspektorat ini sehingga mereka dapat menghasilkan laporan audit yang jelas dan dapat ditindak lanjuti”. Penuturan responden dengan CR (inisial), (49 tahun, inspektur pembantu Wilayah II). Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth, lamanya masa

   

 

 

89   

kerja di inspektorat mengakibatkan banyak pelatihan yang mereka peroleh, merupakan salah satu hal yang memberikan jawaban mengenai bagaimana kompetensi memiliki pengaruh terhadap kualitas audit operasional, jika dituliskan kembali maka pernyataannya adalah sebagai berikut: “Ya jelas dek, menurut saya dengan masa kerja yang dikategorikan lama maka saya memiliki banyak pengalaman yang mendukung saya untuk melakukan pemeriksaan yang handal dan efektif, yakni pemeriksaan yang hasilnya dapat ditindak lanjut dan dimengerti oleh instansi. Kalau hasil pemeriksaan masih begitu-begitu saja tanpa perubahan berarti aparat nya yang gak (tidak) mau meningkatkan kemampuannya, yah jelas hasil pemeriksaannya gak (tidak) berkualitas” Masih menurut responden dengan inisial CR banyaknya pelatihan yang mengarah pada pemahaman mereka mengenai peraturan perundangan atau peraturan lainnya sangat rasakan penting ketika mereka dihadapkan pada kasus yang rumit dan membutuhkan pengalaman serta kemampuan dalam

menyelesaikannya. Gambaran persepsi ini jika dituliskan kembali sebagai berikut: “Salah satu bentuk pelatihannya yaitu pelatihan pengadaan barang dan jasa. Kamu pasti tau soal pengadaan barang dan jasa, nah ini kan termasuk kasus yang cukup polemik. Nah waktu akan melaksanakan pemeriksaan akan pengadaan barang dan jasa disuatu instansi apakah sudah efektif dan efisisien bekal dari pelatihan yang saya dapat itulah yang saya gunakan, nah pada akhrinya hasil laporan saya selaku pemeriksa dapat dimengerti oleh instansi tersebut dan menindak lanjuti apa yang menjadi rekomendasi saya sebagai peneliti” Lain halnya menurut responden dengan inisial HD (40 tahun) salah satu aparat pemeriksa yang juga merupakan responden lainnya dalam penelitian ini, mengungkapkan pelatihan yang ada seharusnya diikuti dengan sungguh-sungguh dan tekun. Dasar responden mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh yakni demi menghasilkan kualitas pemeriksaan (audit) yang dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini menyebabkan hasil penelitian tersebut dapat digunakan ketika

   

 

 

90   

melakukan pemeriksaan dan

hasil pemeriksaan yang berkualitaspun tercapai.

Gambaran pernyataan responden jika dituliskan kembali sebagai berikut: “Pelatihan yang pernah saya ikuti selama bekerja diinspektorat ini kirakira sebanyak 5 kali yang saya ingat, maklum sudah memasuki umur tua jadi cepat lupa, balik lagi masalah pelatihan ya jelas pelatihan diperuntukkan bagi aparat yang mau bersungguh-sungguh mengikutinya, karena tidak mudah loh dek mengikuti pelatihan tersebut hal ini disebabkan anggaran dari pemerintah kota tidak mencukupi, sehingga sebagai aparat harus mengerti untuk tekun dan bersungguh-sungguh ketika mengikuti pelatihan. Umpamanya gini ya dek! kalau aparat gak (tidak) bersungguh-sungguh ikut pelatihan itu percuma saja kemampuan tidak bertambah, waktu habis begitu saja, dan hasil pemeriksaan pun tidak menunjuk pada kualitas yang baik, begitu juga sebaliknya” Sedangkan menurut bagian evaluasi sekretariat inspektorat kompetensi aparat inspektorat dikategorikan lebih baik ketika mereka sudah mengikuti pelatihan dan melakukan pemeriksaan dan menghasilkan laporan pemeriksaan akhir yang bekualitas. Laporan akhir yang berkualitas jika rekomendasi dalam laporan tersebut dapat diikuti oleh instansi yang diaudit. Gambaran pernyataan tersebut jika dituliskan kembali sebagai berikut ini; “Aparat yang sudah mengikuti pelatihan harus membuat nota dinas mengenai pelatihan yang mereka ikuti, nah aparat ini kita lihat kualitas hasil pemeriksaannya yang lalunya didinas misalkan hanya 68% ketika sudah mengikuti pelatihan dan ditugaskan mengaudit di Dinas Pertanian Dan Perdagangan lagi, maka akan dilihat peningkatan hasil pemeriksaannya ketika mereka melaporkan hasil akhir pemeriksaan dan tim evaluasi akan memeriksa. Dari hasil pemeriksaan kita tahu kualitas pemeriksaannya sudah baik atau masih sama saja dengan sebelum mereka melakukan pelatihan, karena hasil pemeriksaan bergantung pada siapa yang memeriksa dan kemampuan si pemeriksa” Masih menurut bagian sekretariat bahwa aparat inspektorat belum secara full bisa mengimplementasikan jabatan fungsional tersebut tapi mereka selalu giat mengikuti pelatihan walaupun mereka mengetahui bahwa anggaran untuk pelatihan tersebut sangatlah minim. Mereka juga sering menggunakan biaya

   

 

 

91   

sendiri untuk mengikuti pelatihan demi meningkatkan kemampuan mereka sebagai aparat pemeriksa yang memiliki kualitas kerja yang tinggi dan dapat menghasilkan pemeriksaan yang berkualitas. 2) Pemahamaman Akan Standar dan Aturan Sebagai Pemeriksa Pengaruh akan kompetensi aparat terhadap kualitas audit operasional, dilihat dari pemahaman aparat akan standar dan aturan sebagai pemeriksa, ketika mereka mereka melakukan pemeriksaan dan menjamin keakuratan temuan audit mereka. Pemahaman akan peraturan-peraturan serta standar pemeriksaan bagi seorang auditor adalah penting dalam menghasilkan pemeriksaan yang berkualitas. Seperti halnya gambaran pernyataan salah satu responden yang jika diinterpretasikan maknanya hampir sama dengan pernyataan responden lainnya. Gamabaran pernyataan ini jika dituliskan kembali sebagai berikut: “Temuan audit akurat jika kita memiliki pemahaman akan standard an peraturan sebagai aparat pemeriksa, jadi pemahaman ini kami gunakan dalam melakukan pemeriksaan dan menghasilkann kualitas pemeriksaan yang baik. Jadi pemahaman ini gak sia-sia dan kekuratan temuan audit pun terjamin” Masih menurut penuturan responden yang sama peningkatan pemahaman akan standar dan aturan tidak hanya dilakukan dengan membaca literatur tetapi dengan menambah pengalaman dan selalu mengikuti perubahan-perubahan akan peraturan-peraturan baru dan berkomunikasi dengan aparat fungsional lainnya, demi menunjang hasil pemeriksaan yang berkualitas. Gambaran pernyataan dari hasil wawancara ini jika ditulis kembali sebagai berikut: “Peningkatan pelatihan tidak hanya dilakukan dengan membaca literatur, kadang-kadang saya berdiskusi dengan aparat fungsional lainnya, mengikuti pelatihan yang berkenaan dengan program-program baru baik

   

 

 

92   

itu dibiayai aatu tidak dibiayai. Jadikan dengan banyak pemahaman dan pengetahuan saya bisa melakukan pemeriksaan dengan benar dan menghasilkan hasil yang berkualitas dan jelas untuk dipahami oleh auditee” Pernyataan diatas merupakan gambaran pernyataan dari responden yang diwawancara dengan pendekatan indepth guna memberi gambaran mengenai pengaruh dari kompetensi tersebut terhadap kualitas audit operasional. Kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional dengan cara peningkatan kemampuan auditor dengan memberikan pelatihan secara berkala yang diperuntukan bagi aparat pemeriksa dan peningkatan pemahaman auditor mengenai standar pemeriksaan pemerintah dan aturan lainnya berkenaan pemeriksaan yang dilakukan auditor guna menghasilkan kualitas audit yang bermutu. 4.2.2.2 Deskripsi Pengaruh Responden Independensi Berdasarkan Persepsi

Hasil wawancara mendalam dengan ke 14 responden dan diambil secara umum yang dilakukan dalam beberapa hari tentang bagaimana independensi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional yang mereka laksanakan, dapat dideskripsikan pengaruhnya dilihat dari gangguan/tekanan yang mereka alami ketika Melaksanakan pemeriksaan (audit). Tekanan yang dimaksud disini adalah gangguan yang mereka rasakan ketika mereka melakukan pemeriksaan baik berasal dari dalam atau luar si pemeriksa. 1) Gangguan Pada Saat Melaksanakan Tugas Sebagai Pemeriksa Standar umum pemeriksaan keuangan negara (SPKN, 2007)

menjelaskan Gangguan pada saat pemeriksaan adalah gangguan yang dirasakan

   

 

 

93   

oleh pemeriksa secara personal yang mesti ditanggulangi oleh organisasi pemeriksa dimana pemeriksa bekerja. Pembatasan lingkup pertanyaan yang dibuat sesuai dengan langkah-langkah ataupun prosedur yang telah dibuat sebagai pedoman pemeriksa. Pada saat lingkup pertanyaan ketika mengaudit hanya dibatasi pada pertanyaan pada objek pemeriksaan hal ini sudah akan menghasilkan suatu kualitas pemeriksaan yang baik. Alasan ini seperti diungkapkan salah satu responden dengan inisial SR (38 tahun) kasi pengawasan inspektur pembantu Wilayahayaa I yang merupakan responden penelitian dengan gambaran wawancara jika dituliskan kembali sebagai berikut ini: “Ya tentu sajalah hasil pemeriksaan kami tetap berkualitas, walaupun lingkup pertanyaan pemeriksaan sesuai dengan apa yang ada dalam panduan pemriksaan, loh kamu tau sendiri! kita melakukan pemeriksaan ini gax (tidak) sembarangan semuanya ada aturannya jadi walaupun berusaha untuk membatasi lingkup pertanyaan diluar panduan maka hal ini malah akan membuat hasil pemeriksaan terlihat sangat tidak berkualitas” Masih menurut SR (inisial), dengan adanya pembatasan lingkup

pertanyaan yang ada dipanduan orbik ini lah yang membuat mereka merasa kurang dapat mengeksplorasikan kemampuan mereka untuk menemukan hal lainnya yang dapat dijadikan suatu pertanyaan baru demi menghasilkan kualitas audit yang lebih berkualitas. Jika dituliskan hasil wawancara dengan responden tersebut seperti berikut ini: “Hasil pemeriksaan tetap berkualitas walaupun dibatasi sesuai dengan panduan yang ada dalam orbik (objek pemeriksaan), tapi hal itulah yang membuat sayo (saya) kurang merasa bisa mengemplorasi kemampuan saya untuk mengaudit, karena semua itu sudah ada yang ngantur” Pada saat membicarakan permasalahan instansi yang diperiksa ampir keseluruhan responden tetap melaksanakan tugas mereka sebagai auditor yang

   

 

 

94   

memeriksa instansi walaupun diinstansi tersebut ada sanak ataupun saudara mereka bekerja. Banyak alasan yang menyebabkan hal ini tetapkan dikerjakan salah satunya seperti diungkapkan responden dengan inisial SH (49 tahun) yang merupakan inspektur pembantu Wilayahayah IV dia menggungkapkan tetap melakukan tugas tersebut padahal pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan yang tidak berkualitas disebabkan oleh masih adanya rasa nepotisme dalam diri ini hal ini dikarenakan saudara bekerja diinstansi tersebut. Pernyataan dari hasil wawancara indepth tersebut jika dituliskan adalah sebagai berikut: “Ya tetap sajalah mesti dilakukan yang namanya tugas dari atasan, walaupun berat loh dek ngerjain tugas dimana saudara kita bekerja, kamu tau sendirilah karena yang berhubungan dengan namanya keluarga kan identik dengan nepotisme tuh maka masih adalah keinginan untuk membaguskan hasil pemriksaan padahal hal tersebut kan menyalahi kode etik sebagai auditor” Polemik akan gangguan ataupun tekanan juga dirasakan pada saat para auditor akan melakasanakan pemeriksaan pada tempat yang dulunya merupakan tempat mereka bekerja. Tindakan mereka mengatasi ini semua dengan tetap melaksanakan tugas walaupun merasa tertekan karena ada konflik kepentingan antara tempat instansi bekerja dengan personal pemeriksa itu sendiri, inilah yang dinamakan gangguan personal akibat pengaruh ekternal hal ini dikarenakan kurangnya standar mutu dari inspektorat ini dan kurang tanggapnya lembaga inspektorat akan gangguan yang dihadapi oleh aparat pemeriksanya. Wawancara indepth dengan responden AR (inisial), (35 tahun) kasi IRBAN Wilayah III mengenai pernyataan tersebut jika dituangkan dalam tulisan sebagai berikut: “Pernah loh saya alami hal tersebut ketika saya melakukan pemeriksaan di tmpt dulunya saya bekerja, nah waktu itu apa yang saya tanyakan dan saya minta untuk sebagai bukti untuk mendukung hasil pemeriksaan tidak

   

 

 

95   

mereka sediakan, nah malah mereka menyalahkan saya yang dulunya menjabat diposisi tersebut. Ngertikan kamu dek konflik kepentingan! inilah cotohnya, tapi pada waktu tersebut belum tau mau melaporkan kemana gangguan tersebut, sebelum tau harus melaporkan hal tersebut langsung pada inspektur kepala selaku kepala inspektorat organisasi pemeriksa tempat saya bekerja” Gangguan yang diterjadi dapat mengakibatkan pemeriksa kadang-kadang merasa malas untuk melaksanakan pemeriksaan ketika ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan dan akibatnya pun hasil laporan pemeriksaan akhir tidak dapat memberikan bentuk rekomendasi yang dapat dimengerti oleh instansi tempat dimana inspektorat melakukan audit. Selain itu walau merasa mengalami gangguan ketika melakukan pemeriksaan mereka tetap melakukan pemeriksaan guna menjalankan tugas. Wawancara indepth dengan responden berinisial RE (40 tahun) Pernyataan tersebut hasil indept interview jika dituliskan kembali adalah sebagai berikut: “Nah oleh sebab itu dek! kadang saya merasa ogah/malas-malasan jika melakukan pemeriksaan ditempat/instansi yang bener-bener kacau soalnya menguras tenaga dan waktu, jadi pemeriksaan tersebut hanya saya lakukan utnuk menjalankan kewajiban saja, karena toh itu semua sudah ada yang ngatur dan rekomendasi kita kadang juga gak (tidak) ditanggapin bener sama pemegang kebijakan” Tetapi beda halnya dengan responden berinisial AB (50 tahun) yang merupakan IRBAN Wilayah III, dia tetap akan melaksanakan audit secara bersungguh-sungguh guna mengeksplorasi kemampuan yang dia miliki karena gangguan bukanlah masalah besar untuk tidak menghasilkan kualitas pemeriksaan yang baik. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indept, berikut ini merupakan hasil wawancara dari responden yang jika dituliskan adalah sebagai berikut:

   

 

 

96   

“Tetap sungguh-sunggulah, karena kadang sudah bersungguh-sungguh aja kualitas pemeriksaan kita masih belum sempurna, apalagi tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh sudah pasti hasil nya jelek dan dampaknya kekualitas pemda karena masih banyak temuan oleh BPK akan instansi di kota yang belum mematuhi aturan dalam menjalankan aktivitasnya, dengan ini sudah jelas kualitas audit yang dihasilkan aparat sangatlah buruk. Walaupun pada akhirnya ada pihak yang berwewenang dapat menolak hasil pemeriksaan yang kita laksanakan ” Pernyataan tersebut menjelaskan independensi berpengaruh jika ada gangguan/tekanan yang dirasakan oleh personal aparat pemeriksa dan semua itu harus ditanggulangi oleh organisasi pemeriksa dimana organisasi pemeriksa disini yakni Inspektorat Kota Bengkulu. 4.2.2.3 Deskripsi Pengaruh Motivasi Berdasarkan Persepsi Responden Hasil wawancara mendalam dengan ke 14 responden dan diambil secara umum yang dilakukan dalam beberapa hari tentang bagaimana motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional yang mereka laksanakan, dapat dideskripsikan pengaruhnya dilihat dari tingkat konsistensi dari auditor dan tingkat aspirasi yang menimbulkan pentingnya menghasilkan audit yang berkualitas. Tingkat aspirasi ini sesuai dengan asas motivasi yakni asas mengikutsertakan (Efendy, 2010). 1) Konsistensi Dalam Melaksanakan Pemeriksaan Pelaksanaan pengawasan fungsional yang dilakukan melalui audit yang merupakan tugas aparat pemeriksa sehingga aparat memiliki suatu kewajiban untuk memberikan kontribusi bagi pelaksanaan pemerintah yang akuntabel (Renaldo, 2010), sehingga konsistensi merupakan suatu bagian dari motivasi intrinsik dari para auditor inspektorat untuk mendukung hasil pemeriksaan.

   

 

 

97   

Menurut responden BD (49 tahun) kasi pengawasan IRBAN III, mempertahankan hasil temuan yang berbeda dengan tim lainnya adalah bentuk konsistensi dalam dirinya, karena dia yakin hasil temuan dia sudah berkualitas karena dia melakukan pemeriksaan sesuai dengan prosedur yang ada. Pada dasarnya dia tetap mempertahankan konsistensinya dari pada harus mengubah hasil untuk disamakan dengan tim lainnya. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth yang dilakukan pada salah satu responden jika dituliskan adalah sebagai berikut: “Ketika dipertanyakan masalah mempertahankan hasil yang berbeda dengan yang lainnya, pertanyaan ini sangat bagus karena saya sangat setuju ketika hasil tersebut tidak sama maka jangan serta merta langsung diubah walaupun kita hanya sebagai anggota dari tim pemeriksa, melainkan kita harus terus mempertahankan selagi hasil audit tersebut benar, akurat dan sesuai dengan aturan dan bisa dibuktikan keakuratannya karena hal ini penting untuk mempertanggungjawabkan kualitas audit yang dihasilkan” Masih menurut CN (inisial) kualitas audit itu merupakan suatu hal yang krusial karena hal ini mencerminkan bagaimana seorang auditor melaksanakan pemeriksaan sudah sesuai aturan dan standar pemeriksaan dan melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan kode etik pengawas fungsional pemerintah. Sehingga untuk mempertahankan ataupun meningkatkan kualitas audit maka konsistensi harus tetap dimiliki dan dipertahankan. Responden lain berpendapat Sama halnya dengan CN, bahwa ketika hasil pemeriksaan yang dilaksanakan berbeda dengan anggota tim lainnya, berarti itu suatu bentuk tantangan dalam diri auditor dalam mempertahankan hasil pemeriksaannya sendiri yang berbeda dengan anggota tim lainnya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan yakni harus ada bukti dan temuan yang akurat sehingga hasil pemeriksaan tersebut memiliki kelebihan dan dapat

   

 

 

98   

dipertanggungjawabkan. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth dengan responden berinisial RE (52 tahun) kasi bidang pemerintahan yang dicatat, Jika dituliskan maka gambarannya seperti berikut ini: “Hasil yang berbeda bukan berarti aparatnya yang tidak berkompeten tetapi mungkin karena berbagai hal yang menyebabkan perbedaan itu. Nah kalau hasil kita berbeda! merupakan tantangan kita untuk mempertahankan hasil pemeriksaan itu, soalnyakan kita melakukan pemeriksaan udah sesuai aturan dan pemahaman serta panduan yang ada didalam orbik (objek pemeriksaan) dan bukti temuan yang akurat juga dapat membantu kita mempertahankan hasil audit yang berbeda ini” Konsistensi dari segi pelaksanaan pengawasan fungsional merupakan salah satu yang membentuk motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit khususnya audit operasional. Hal ini dikarenakan konsistensi merupakan salah satu motivasi instrinsik aparat auditor yang mendorong untuk melaksanakan audit yang berkualitas baik dari segi hasil ataupun dari segi tindak lanjut hasil audit. Pada saat ditugaskan melakukan pemeriksaan di instansi yang pernah menjadi orbik pengawasan, dimana instansi ini sangat kacau dan tidak menuruti aturan serta tidak menindak lanjuti rekomendasi yang diberikan sebelumnya. Tugas ini tetap dilaksanakan karena ini merupakan bentuk tantangan yang cukup berisiko bagi pemeriksa yang suka akan tantangan dan berorientasi pada hasil yang berkualitas. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth dengan salah satu responden berinisial YN (48) aparat pemeriksa di Inspektorat Kota Bengkulu jika dituliskan maka hasil wawancaranya sebagai berikut: “Ya jelas tetap kita laksanakan, soalnya itu tugas yang berarti amanat bagi kita sebagai aparat sehingga harus tetap dilaksanakan, malahan ini tantangan bagi kami para aparat yang menjadi tim pemeriksa instansi tersebut, soalnya dengan kami tetap melakanakan tugas itu sudah pasti instansi harus melaksanakan rekomendasi yang kami berikan sehingga tim evaluasi dapat menindak lanjuti hasil pemeriksaan. Ketika bisa ditindak

   

 

 

99   

lanjuti berarti audit yang kami hasilkan sudah berkualitas. Hal ini lah yang menyebabkan ada kebanggaan tersendiri loh dalam diri kita, karena bisa melaksanakan tugas yang cukup berisiko ini” Sehingga konsistensi harus tetap dipertahankan dalam bentuk ketangguhan dan keuletan dalam melakukan audit dan menghasilkan kualitas audit yang bermutu dan dikategorikan sebagai audit yang berkualitas. 2) Tingakat Aspirasi Akan Pentingnya Audit Yang Berkualitas Aspirasi bagi pemeriksaan disini diartikan bentuk keikutsertaan para auditor dalam memberikan ide ataupun masukan pada saat perencanaan hingga proses audit dilaksanakan dan menghasilkan kualitas audit yang berkualitas. Menurut salah satu responden bahwa rasa kebanggaan itu timbul ketika kita dianggap oleh orang sekitar kita dan kita diakui bahwa mampu memberikan suatu ide ataupun rekomendasi yang berkualitas. Pernyataan ini sesuai dengan hasil wawancara indepth yang dilakukan dengan responden berinisial SS (26 tahun) jika dituliskan sebagai berikut ini: “Masalah keikutsertaan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Coba deh kamu pikir ya dek! ketika ide kamu terus diterima dan rekomendasi kamu terus dipertimbangkan sehingga kebanggaan seperti ini lah yang memberikan dorongan untuk menghasilkan audit yang berkualitas” Menurut responden lainnya yang berinisial IM (34 tahun) bahwa selalu diikut sertakan dalam pemeriksaan merupakan tugas berat karena berkewajiban memberikan kontribusi seperti audit yang berkualitas baik dari segi audit secara umum ataupun audit operasional dan audit lainnya bagi instansi pemerintah. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth digambarkan dalam tulisan maka berikut ini hasilnya: yang dilakukan, jika

   

 

 

100   

“Wah kalo ditanya jika diajak terus waktu pemeriksaan terhadap suatu instansi yang bukan merupakan orbik (objek pemeriksaan) saya, tentu saya merasakan bahwa saya bagian penting dari oraganisasi ini sehingga saya berkewajiban memberikan hasil kualitas audit yang baik bahkan lebih baik, karena tugas ini merupakan amanat yang harus dipertanggungjawabkan” Tingakat aspirasi yang merupakan bentuk motivasi bagi auditor aparat Inspektorat Kota Bengkulu ini merupakan hal yang dapat mendorong para aparat untuk menghasilkan kualitas pemeriksaan yang baik, sehingga lembaga pemeriksa tempat aparat bekerja telah mencapai target mereka dalam membantu kepala daerah melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan sehingga pemerintahan di Kota Bengkulu dapat dikatakan pemerintahan yang baik dan akuntabel. Selain tingkat aspirasi ternyata ada hal penting lainnya yang membuat motivasi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit mereka yakni hubungan antar sesame tim pemeriksa atau hubungan antara pemeriksa dengan atasannya. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara dengan responden berinisial CE (49 tahun), jika dituliskan sebagai berikut: “Hubungan yang menimbulkan komunikasi yang baik itu adalah salah satu motivasi yang baik dek bagi kita sebagai pemeriksa, kenapa seperti itu karena kita melakukan pemeriksaan itu tidak sendiri tapi dengan tim. Kalau komunikasi kita dengan tim baik dan kompak, sudah pasti hasil kita berkualitas, pasti dah kamu juga ngerasa gitu! kalau hubungan dengan teman baik pasti kamu senang melakukan hal itu bersama teman kamu, begitu juga dengan hal ini” Hubungan yang baik akan membentuk komunikasi yang baik antar para aparat inilah yang membentuk komunikasi yang efektif dalam melaksanakan pemeriksaan dengan tim, karena pemeriksaan ini tidak dilakukan sendiri oleh aparat auditor melainkan memerlukan tim yang solid sehingga dapat

   

 

 

101   

menghasilkan audit yang berkualitas dan dapat ditindak lanjuti demi terwujudnya pemerintahan yang akuntabel. 4.2.3 Pembahasan Hasil Penelitian Pembahasan hasil penelitian ini mengenai kajian pengaruh kompetensi, independensi dan motivasi terhadap kualitas audit operasional berdasarkan persepsi responden dengan analisis data dari hasil wawancara indepth yang dilakukan berdasarkan responden yang telah dipilih menurut kecenderungan jawaban responden tersebut. 4.2.3.1 Pengaruh Kompetensi Berdasarkan hasil analisis dari wawancara mendalam yang dilakukan guna mengkaji pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit operasional maka dihasilkan bahwa kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional. Kompetensi dikatakan berpengaruh terhadap kualitas audit operasional aparat Inspektorat Kota Bengkulu pada saat, pelatihan dan pembekalan pendidikan yang diperuntukkan bagi auditor meningkat sehingga tingkat pemahamanan auditor akan peraturan, standar serta tata cara pemeriksaan pun meningkat. Pelatihan dan pembekalan tersebut diberikan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian mereka dalam melaksanakan pemeriksaan pada dinas-dinas dan kantor-kantor seKota Bengkulu. Pelatihan yang diikuti merupakan bagian peningkatan kompetensi dan kemampuan dari seorang auditor untuk melaksanakan pemeriksaan yang berkualitas dan menghasilkan laporan yang jelas dan berkualitas. Hal ini sejalan dengan keterkaitan antara kompetensi auditor terhadap kualitas hasil pemeriksaan yang dijelaskan dalam pernyataan standar umum pertama dalam Standar

   

 

 

102   

Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) adalah: “Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan professional dan kompetensi yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan”. Dalam pernyataan standar pemeriksaan ini semua organisasi pemeriksa bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap pemeriksaan dilaksanakan oleh para pemeriksa yang secara kolektif memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Hasil penelitian ini memberikan penjelasan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Effendy (2010) bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sehingga semakin baik tingkat kompetensi, maka akan semakin baik kualitas audit yang dilakukannya. Sama halnya dengan hasil penelitian Renaldo (2010) penelitian ini juga menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit, dimana tingkat kompetensi yang tinggi dari para auditor akan menghasilkan kualitas yang tinggi pula, begitu juga sebaliknya. Kompetensi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mewujudkan suatu hasil audit yang berkualitas. Prinsip-prinsip etika dalam Kode Etik IAI menjelaskan bahwa kompetensi untuk dapat melakukan suatu penugasan audit, auditor harus dapat memperoleh kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan yang relevan. Pendidikan dan pelatihan ini dapat bersifat umum dengan standar tinggi yang diikuti dengan pendidikan khusus, sertifikasi, serta pengalaman kerja. Kompetensi yang diperoleh ini harus selalu dipertahankan dan dikembangkan dengan terus-menerus mengikuti perkembangan dalam profesi akuntansi,

   

 

 

103   

termasuk melalui penerbitan- penerbitan nasional dan internasional yang relevan dengan akuntansi, auditing, dan keterampilan-keterampilan teknis lainnya. Oleh karena itu dapat dipahami dalam meningkatkan kualitas audit operasional yang dilakukan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu dipengaruhi oleh tingkat kompetensi yang mereka miliki, semakin berkompeten auditor tersebut, sehingga semakin bagus juga kualitas audit operasional yang mereka lakukan dalam pengawasan keuangan daerah dan juga sebaliknya. Pengaruh kompetensi inipun sangat dirasakan oleh setiap aparat yang melaksanakan audit juga masuk didalamnya audit operasional instansi yang menjadi objek pemeriksaan mereka, karena mereka mengganggap bahwa keahlian dan kemampuan yang mereka miliki sangat berguna dalam melaksanakan audit sehingga dapat menghasilkan audit operasional yang berkualitas. Pelatihan dan peningkatan pemahaman akan peraturan, perundang-undangan serta aturan-aturan lainnya, serta masa kerja dari pada aparat auditor yang membuat variabel ini berpengaruh terhadap kualitas audit operasional juga diperkuat dengan salah satu sasaran pembangunan pengawasan Inspektorat Kota Bengkulu yakni peningkatan kapasitas pemeriksa. Sehingga dengan pelatihan dan pembinaan terhadap apart pemeriksa sebagai salah satu program untuk meningkatkan kompetensi aparat. Hal ini menyebabkan meningkatnya kompetensi dan kemampuan yang disebakan oleh pelatihan dan pemahaman mengenai pemeriksaan yang berkualitas mempengaruhi kualitas audit operasional yang dilaksakan oleh para aparat pemriksa dalam menjalankan pengawasan fungsional melalui audit salah satunya audit operasional.

   

 

 

104   

Pengaruh tingkat kompetensi ini juga diperkuat dengan masa kerja responden, dari hasil deskripsi responden dihasilkan 70% reponden memiliki masa kerja lima hingga sepuluh tahun, hal ini lah yang mengindikasikan bahwa dengan lamanya masa kerja mereka maka kompetensi merekapun semakin bertambah untuk menghasilkan kualitas audit yang baik, terutama kualitas audit operasional. Hal lainnya yang diungkapkan oleh inspektur ketua, bahwa kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit baik audit keuangan, audit operasional maupun audit investigasi karena kompetensi itu merupakan modal dan syarat utama yang harus dimiliki seorang aparat pemeriksa (auditor) dalam melaksanakan salah satu tugas yakni melakukan pemeriksaan, pengusutan, pengkajian, dan penilaian tugas pengawasan, ungkapan reponden ini berdasarkan peraturan-peraturan pemerintah dan peraturan Walikota Bengkulu No 27 Tahun 2008 tentang fungsi dan tugas pokok Inspektorat Kota Bengkulu. Pernyataan ini merupakan hasil diskusi ringan dengan inspektur kepala diwaktu senggang ketika ibu inspektur tidak banyak kerjaan, jika di ttuliskan kembali hasil wawancara tersebut adalah sebagai berikut: ”Jelas sekali jika kamu tanya masalah kompetensi memiliki pengaruh apa tidaknya terhadap kualitas audit operasional aparat, karena kompetensi merupakan syarat sebagai seorang pemeriksa yang handal, kalo aparat gax punya kompetensi ya percuma melakukan pemeriksaan, soalnya hasilnya juga gax berguna. Kompetensi itu sudah jelas diatur dalam Standar pemeriksaan dan peraturan daerah jadi mau gimanapun kompetensi tuh memiliki pengaruh terhadap kualitas audit” 4.2.2.2 Pengaruh Independensi Berdasarkan hasil analisis dari wawancara mendalam yang dilakukan guna mengkaji pengaruh independensi terhadap kualitas audit operasional dan

   

 

 

105   

hasilnya independensi aparat berpengaruh terhadap kualitas audit operasional. Independensi ini berpengaruh ketika aparat auditor merasakan gangguan/tekanan pada saat mereka melaksanakan pemeriksaan. Sebagian besar responden memberikan tanggapan bahwa pembatasan lingkup audit yang dilakukan pada saat melaksanakan audit operasional hanya sebatas pada lingkup pertanyaan sesuai dengan prosedur audit operasional itu sendiri. Pembatasan ini lingkup pertanyaan inilah yang menyebabkan mereka merasa tidak bisa mengeksplor kemampuan mereka. Independensi berpengaruh terhadap kualitas audit ketika aparat harus melakukan pemeriksaan pada instansi dimana auditee masih memiliki hubungan darah dengan aparat pemerika, hal inilah yang sering mengindikasikan aparat akan menghasilkan kualitas hasil audit yang tidak bermutu. Tetapi sebagian aparat auditor masih tetap melaksanakan audit atas instansi pemerintah yang auditeenya masih memiliki hubungan dengan para aparat pemeriksa, hal ini dikarenakan audit tersebut merupakan tugas wajib yang dibebankan kepada mereka dari atasan mereka. Beberapa responden

mengganggap tidak perlu melakukan audit yang sungguh-sungguh, kerena ada pihak yang mempunyai wewenang untuk menolak pertimbangan yang telah diberikan, meskipun hanya sebagaian kecil lainnya berpendapat lain. Sebagian responden menganggap gangguan atau tekanan membuat independensi mereka sangat berpengaruh terhadap hasil audit yang mereka lakukan hal ini dikarenakan apabila mereka merasakan ketidaknyamanan pada saat melaksanakan audit mereka akan menghasilkan kualitas audit yang tidak baik. Apalagi mengenai audit operasional karena berkenaan dengan ekonomis, efisiensi dan efektifitas dalam

   

 

 

106   

pelaksanaan program-program ataupun rencana strategi instansi yang menjadi objek pemeriksaan aparat inspektorat. Dari hasil analisis jawaban indepth-interview ini dapat dilihat bahwa independensi auditor Inspektorat Kota Bengkulu memiliki pengaruh terhadap kualitas audit operasional ketika aparat merasakan tekanan/gangguan personal baik yang berasal dari dalam maupun dari luar, selain itu gangguan daripada organisasi itu sendiri. Hal ini sejalan dengan pernyataan standar umum kedua dalam SKPN bahwa “Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya”. Hasil analisis ini dapat memberikan penjelasan tambahan dari dilakukan Renaldo (2010) dimana independensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian Lubis (2009) bahwa independensi merupakan variabel yang sangat mempengaruhi kualitas audit. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden diatas merujuk pada pernyataan fenomena pada latar belakang yang menunjukkan kualitas audit

aparat Inspektorat Kota Bengkulu itu dipengaruhi oleh independensi, karena para aparat tidak dapat membuktikan bahwa independensi yang mereka miliki menjamin bahwa audit yang mereka lakukan memiliki kualitas yang baik. Hal ini dikarenakan aparat auditor inspektorat bekerja dibawah wewenang kepala daerah, sehingga mereka tidak bisa memastikan independensi yang ada didalam diri masing-masing auditor. Sehingga dapat dipahami bahwa tingkat independensi

   

 

 

107   

dari para auditor sangat mempengaruhi kualitas audit operasional yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Kota Bengkulu ketika aparat tersebut mengalamai gangguan/tekanan pada saat melakukan pemeriksaan. 4.2.2.3 Pengaruh Motivasi Berdasarkan hasil analisis dari wawancara mendalam yang dilakukan guna mengkaji pengaruh motivasi terhadap kualitas audit operasional dan hasilnya motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional aparat Inspektorat Kota Bengkulu. motivasi ini berpengaruh ketika aparat auditor tetap mempertahankan konsistensi mereka sebagai aparat pemeriksa dan tingkat aspirasi yang tinggi sehingga penting untuk menghasilkan kualitas audit yang bermutu. Sebagian besar responden memiliki ketangguhan dalam melaksanakan tugas mereka sebagai aparat pemeriksa, hal ini dibuktikan dengan beberapa tanggapan responden bahwa mereka tidak akan memaafkan setiap penyimpangan yang mereka temui pada saat melakukan audit, sekecil apapun penyimpngan tersebut. Sikap yang tidak memberikan maaf dengan begitu saja menunjukan aparat auditor memiliki ketangguhan dalam melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepada mereka. Dari sebagaian responden memberikan respon yang sangat mendukung bahwa konsistensi sangatlah perlu untuk dipertahankan. Walapun sebagian lagi responden tidak memberikan respon yang sama akan konsistensi tersebut karena mereka pikir untuk apa mempertahankan konsistensi yang nyatanya mereka juga tidak bisa secara penuh mempertahankan konsistensi tersebut hal ini karena mereka merupakan pegawai dibawah perintah kepala daerah. Pada saat melaksanakan tugas sebagai aparat pemeriksa yang disebut juga sebagai auditor,

   

 

 

108   

mereka tetap melaksanakan audit pada instansi yang tidak pernah mengikuti aturan-aturan dalam pelaksanaannya baik peraturan perundang-undangan ataupun peraturan lainnya. Kegiatan ini tetap dilakukan karena selain itu merupakan tugas mereka, ini juga membuktikan konsistensi mereka sebagai seorang auditor. Responden dalam penelitian ini sangat setuju bahwa tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya keikutsertaan atupun peran dari auditor internal dalam membantu pelaksanaan pemerintahan yang baik. Menurut mereka inspektorat merupakan lembaga teknis daerah (LTD) yang memiliki peran yang sangat besar dalam membantu berjalannya pemerintah yang akuntabel dan pemerintahan yang bersih. Pendapat ini setelah ditelaah sesuai dengan Peraturan Walikota Bengkulu Nomor 27 Tahun 2008 tentang uraian tugas, fungsi dan tata kerja lembaga teknis daerah Kota Bengkulu. Sebagaian responden merasa tidak ada kebanggan sedikitpun ketika mereka mendapatkan tugas mengaudit instansi pemerintah, karena mereka menggangap itu semua merupakan suatu tanggung jawab dan tidak perlu terlalu dibanggakan. Kebanggaan itu ada ketika hasil audit yang mereka lakukan dapat memberikan rekomendasi dan membantu kepala daerah dalam pengambilan keputusan, sebelum laporan keuangan tersebut diperiksa oleh BPK selaku auditor eksternal pemerintahan. Responden akan merasa tingkat aspirasi, keuletan dan konsistensi yang ada dalam diri mereka merupakan salah satu motivasi intrinsik mereka dalam melaksanakan kegiatan dan menghasilkan kualitas hasil pemeriksaan yang bagus pula dimana apabila mereka dihargai dan diikutsertakan dalam setiap kegiatan pemeriksaan atupun kegiatan lainnya yang berhubungan dengan tugas mereka maka tingkat aspirasi inilah yang menjadi

   

 

 

109   

motivasi terbesar dalam menghasilkan kualitas audit yang tinggi terkhususkan kualitas audit operasional. Berdasarkan hasil analisis dari jawaban wawancara kepada para responden dalam penelitian ini. Bahwa tingkat motivasi para auditor memberikan pengaruh terhadap kualitas audit operasional yang dilaksanakan dalam pengawasan keuangan daerah ketika aparat tersebut bersifat konsisten dan merasa dikutsertakan terus untuk menghasilkan audit yang berkualitas. Hal ini dilihat dari keempat hal pokok yang diangkat menjadi indikator dalam penelitian yakni, ketangguhan, keuletan, konsistensi dan tingkat aspirasi: urgensi akan audit yang berkualitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Effendy (2010) bahwa tingkat motivasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Hasil ini juga sejalan dengan teori kebutuhan yang dijelaskan oleh Maslow mengenai lima hirarki kebutuhan manusia yakni, kebutuhan mempertahankan hidup, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan dalam mempertinggi kapasitas kerjanya, sehingga dapat dipahami tingkatan motivasi aparat auditor yang tinggi akan menghasilkan kualitas. Menurut salah satu inspektur pembantu (IRBAN) yang memiliki pengaruh dalam kegiatan pemeriksaan yang disebut dengan audit ini salah satunya adalah motivasi karena menurut mereka sebagai pegawai negeri sipil sangat memerlukan motivasi yang tinggi dalam pencapaian tujuan organisasi hal ini disebabkan mereka adalah pegawai dibawah perintah kepala daerah yang sering mendapatkan tekanan dalam melaksanakan tugas. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth terhadap responden, jika dituliskan seperti berikut ini:

   

 

 

110   

“Ya kalo ditanya soal motivasi mah, semua orang butuh motivasi dek untuk melakukan kegiatan yang akan menghasilkan hal yang baik, lah kita neekan pegawai negeri yang bekerja dibwah pimpinan kita kepala daerah sehingga kita harus selalu mengikuti apa yang mereka perintahkan, jadi harusnya motivasi dalam bentuk mengikutsertakan terus aparat dalam mewujudkan pemerintahan yang baik” Berdasarkan hasil analisis dan wawancara dengan responden ternyata masih ada beberapa hal lain yang mempengaruhi kualitas audit yang mereka laksanakan berdasarkan variabel motivasi ini selain keempat proksi yang dijadikan indikator, faktor lain tersebut yakni faktor yang bersifat ekstrinsik yakni hubungan dengan atasan dan rekan sesama tim dalam melaksanakan tugas. Pernyataan ini merupakan hasil wawancara indepth terhadap salah satu responden jika dituliskan sebagai berikut: “Ada yang lebih penting kalau menurut saya dek dalam meningkatkan kualitas audit yakni hubungan dengan sesama tim dalam menjalin komunikasi yang efektif, nah coba kamu pikir kalo komunikasi kita sesame tim bagus tidak menutup kemungkinan toh hasil pemerikasaan yang kami lakukan juga bagus iya kan” Hal ini sesuai dengan teori Herzberg menjelaskan bahwa faktor yang bersifat ekstrinstik atau disebut dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Sehingga faktor hygiene ini bersumber dari

ketidakpuasan kerja dalam lingkungan organisasional. Jika dilihat berdasarkan hasil observasi memang benar tingkat keberhasilan auditor dalam menghasilkan kualitas audit yang baik didasari dengan adanya koordinasi antara ketua tim audit dengan anggotanya.

   

 

 

111   

BAB V PENUTUP 5.1 Ringkasan Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana kompetensi, independensi, dan motivasi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam melakukan pengawasan keuangan daerah. Kajian ini dilanjutkan untuk melihat pengaruh ketiga variabel independen terhadap variabel dependen. pembahasan ini dilihat dari kecenderungan awal jawaban atas pertanyaan didaftar kuesioner dan wawancara indepth secara umum yang dilakukan dengan responden penelitian. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan berdasarkan pada persepsi auditor inspektorat sebagai responden terhadap pertanyaan yang ada dikuesioner maupun pertanyaan wawancara indepth untuk sebagai responden secara umum maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Kompetensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam melakukan pengawasan keuangan daerah pada umumnya adalah baik hal ini dilihat dari rata-rata presentase jawaban “Ya” berdasarkan keseluruhan indikator adalah 81 %. 2) Independensi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam melakukan pengawasan keuangan daerah hampir sebagiannya adalah baik, hal ini dilihat dari rata-rata presentase jawaban “Ya” berdasarkan pertanyaan untuk keseluruhan indikator adalah 37 %. 3) Motivasi aparat Inspektorat Kota Bengkulu dalam melakukan pengawasan keuangan daerah sebagiannya adalah baik, hal ini dilihat dari rata-rata

   

 

 

112   

presentase jawaban “Ya” berdasarkan pertanyaan untuk keseluruhan indikator adalah 50%. 4) Kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional dilihat pada saat pelatihan dan pendidikan yang diperuntukan bagi auditor meningkat dan masa kerja auditor serta peningkatan pemahaman akan pemerintahan, stadar, aturan, dan pengetahuan. Independensi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional pada saat aparat pemeriksa merasa ada gangguan/tekanan untuk personal aparat pada saat mereka melaksanakan pemeriksaan dan masih belum jelas kepada siapa mereka harus melaporkan gangguan yang mereka alami. Tingkat motivasipun

berpengaruh terhadap kualitas audit operasional pada saat aparat merasa diikutsertakan dalam pemeriksaan serta ketika aparat tetap mempertahan konsistensi mereka sebagai aparat pemeriksa yang handal dan satu hal lagi yang menjadikan motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit operasional yakni hubungan yang membentuk kominukasi yang efektif antara aparat personal dengan sesama tim pemeriksa selain itu hubungan dan komunikasi efektif dengan atasan temapat bekerja. 5.2 Implikasi Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan memberikan pertimbangan bagi inspektorat sebagai objek penelitian ini. Berikut ini implikasi penelitian yang dapat dijadikan pertimbangan: 1) Bagi pemegang kebijakan hasil penelitian ini semoga bermanfaat dan sebagai bahan pertimbangan untuk terus meningkatkan tingkat kompetensi

   

 

 

113   

dengan memberikan banyak pelatihan-pelatihan yang mendukung untuk peningkatan kompetensi tersebut, dan juga memberikan pemahaman unjtuk terus meningkatakan keteguhan independensi auditor inspektorat, serta memperhatikan tingkat motivasi daripada auditor itu sendiri, karena
respon atau tindak lanjut yang tidak tepat terhadap laporan audit dan rekomendasi yang dihasilkan akan dapat menurunkan motivasi aparat untuk menjaga kualitas audit. Meningkatnya ketiga variabel tersebut akan meningkatkan pula kualitas audit operasionalnya

2) Bagi inspektorat selaku objek penelitian hasil penelitian ini semoga
bermanfaat dan sebagai pertimbangan untuk terus meningkatkan kompetensi dan independensi auditor. Adanya pengaruh kompetensi dan motivasi terhadap kualitas audit yang dilaksanakan oleh aparat inspektorat daerah menunjukkan bahwa penguasaan terhadap metode dan teknik audit serta segala hal yang menyangkut pemerintahan seperti organisasi, fungsi, program, dan kegiatan pemerintah akan dapat ditunjang oleh motivasi bahwa tercapainya tujuan pelaksanaan audit merupakan kebutuhan organisasi inspektorat daerah sekaligus kebutuhan personil aparat inspektorat daerah.

3) Bagi peneliti selanjutnya hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam
melakukan penelitian sejenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

5.3

Keterbatasan Penelitian Meskipun peneliti telah berusaha merancang dan mengembangkan

penelitian sedemikian rupa, namun masih terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, diantaranya yaitu:

   

 

 

114   

1)

Metode pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Keunggulan metode ini adalah peneliti dapat memilih sampel yang tepat, sehingga peneliti akan memperoleh data yang memenuhi kriteria untuk diuji. Namun perlu disadari bahwa metode purposive sampling ini berakibat pada kurangnya kemampuan generalisasi dari hasil penelitian ini.

2)

Penelitian ini hanya melibatkan satu instansi saja yaitu Inspektorat Kota Bengkulu sehingga tingkat generalisasi hasil penelitian ini dirasa masih kurang serta kesimpulan yang diambil kemungkinan hanya berlaku untuk inspektorat Kota Bengkulu dan tidak dapat digeneralisasikan untuk Inspektorat se-Indonesia.

3)

Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai media komunikasi tidak langsung dalam pengumpulan data. Media ini dirasa kurang maksimal karena masih ada kemungkinan ditemui kelemahan, seperti jawaban yang tidak serius dari responden dalam memberikan jawaban”Ya” ataupun “Tidak” dari pertanyaan dalam kuesioner. Serta masih adanya

kemungkinan responden kurang paham terhadap pertanyaan tetapi tidak mau bertanya ketika peneliti memberikan panduan dalam pengisian kuesioner tersebut. 4) Penelitian ini merupakan penelitian kualittaif yang belum secara penuh menggunakan pendekatan kualitatif, karena masih adanya bantuan Microsoft office Excel dalam melakukan interpretasi jawaban atas pertanyaan dalam kuesioner.

   

 

 

115   

5)

Teori-teori yang disajikan dalam penelitian ini masih kurang maksimal diarahkan pada audit interal pemerintah.

5.4

Rekomendasi Untuk Penelitian Selanjutnya
1) Peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan pendekatan kualitatif murni. 2) Peneliti juga menyarankan untuk penelitian selanjutnya agar memperluas objek penelitian pada aparat inspektorat kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu, sehingga hasilnya dapat digeneralisasi. 3) Tidak menggunakan kuesioner lagi ketika melakukan penelitian kualitatif tapi lebih murni menggunakan wawancara indepth sehingga apa yang kita tidak ketahui dapat kita ketahui dengan menggunakan teknik ini, karena kita bertatap muka langsung dengan responden, dan paham akan apa yang menjadi persepsi responden mengenai tujuan penelitian kita.

4) Penelitian tidak hanya terbatas pada audit operasional tetapi bisa menambah variabel dependennya seperti audit investigasi atau audit keuangan untuk melihat bagaiamana jika variabel kompetensi, independen, motivasi berpengaruh terhadap kualitas audit lainnya. 5) Memperbanyak literatur dan mengarahkan penelitian mengenai audit intern pemerintah. Sehingga bahasan penelitian lebih bisa sangat mengarah pada pemerintahan

   

 

 

116   

DAFTAR PUSTAKA Agung, Igusti. (2008). “Audit Kinerja Pada Sektor Publik”. Jakarta: Salemba 4 Alim, M.N., T. Hapsari, dan L. Purwanti. (2007). “Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai VariabelModerasi”. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar. Amirin, Tatang. (2009). “Penelitian Kualitatif-Penggalian Hipotesis Versus Penelitian Kuantitatif-Pengujian-Hipotesis(Kasus “Fatheood”)”. (Online) (Diakses pada 30 Oktober 2011) Tersedia di World Wide Wab: http://tatangmanguny.wordpress.com. Arens, A.A., J.K. Loebbecke. (2000). “Auditing: An Integrated Approach”. Eight Edition. New Jersey: Prentice Hall International Inc. Bastian, Indra. (2006). “Akuntansi Sektor Publik”. Jakarta: Erlangga. Bastian, Indra. (2007). “Audit Pemerintahan”. Jakarta: Erlangga. BPKP. (2007). “Modul Diklat Penjenjangan Auditor Teknis: Manajemen Pengawasan”. Pusdiklatwas-BPKP, Edisi keempat. Cahyat, A. (2004). “Sistem Pengawasan terhadap Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kabupaten”. Pembahasan Peraturan Perundangan di Bidang Pengawasan. Governance Brief Number 3. Cokroaminoto. (2011).”Keabsahan Data Penelitian Kualitatif”. (Online) (Diakses pada 30 Oktober 2011) Tersedia di World Wide Web: http://menulisproposal.blogspot.com/2011/01/keabsahan-data-penelitiankualitatif. Djamil, Nasrullah. (2008). “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Audit Pada Sektor Publik dan Beberapa Karakteristik Untuk Meningkatkannya”. (Jurnal Online). (Diakses Pada 09 September 2011) Tersedi di World Wide Web: http// google.co.id//kualitas audit. Efendy, Taufiq. (2010), Tesis. “Pengaruh Kompetensi Independensi Dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat Dalam Pengawasan Keuangan Daerah”. Tesis. Universitas Diponogoro. Semarang.

   

 

 

117   

Elfarini, E.C. (2005). “Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor terhadap Kualitas Audit”. Skripsi tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Semarang. Haslinda, Sari. (2010). Tesis. “Pengaruh Keahlian, Independensi, Profesionalisme dan Kepatuhan Pada Kode Etik Terhadap Kualitas Auditor Inspektorat Provinsi Sumatra Utara”. USU. Medan Hutami, Gartiria. (2010). “Pengaruh Konflik Peran dan Ambiguitas Peran Terhadap Komitmen Independensi Auditor Internal Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Inspektorat Kota Semarang)”. Universitas Diponogoro. Ida, Rosida. (2010). “Kualitas Audit Sektor Publik dan Kontribusinya Bagi Tata Kelola Pemerintah yang Bersih”. Jurnal Ekonomi Manajemen vol.5 No.4.September 2010. Kuningan : Universitas Kuningan. Indriantoro dan Supomo. (2002). “Metodologi Penelitian Bisnis”. Yogyakarta: BPFE. LAKIP. (2011). “Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)”. Bengkulu: Inspektorat Kota Bengkulu. Lubis, Arifin. (2009). “Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengalaman Bekerja, Kecakapan Profesional, Independensi Pemeriksa Terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan (Studi Empiris : Badan Pengawas Daerah Kabupaten Karo)”. Jurnal Akuntansi Vol. 25. Mardiasmo. (2002). “Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah”. Yogyakarta: Penerbit Andi. Mardiasmo. (2005). “Akuntansi Sektor Publik”. Edisi 2. Yogyakarta: Penerbit Andi. Mardiasmo. (2006). “Pewujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik: Suatu Sarana Good Governance”. Jurnal Akuntansi Pemerintah Vol. 2, No. 1. Mardisari, Diani., Nelly, Ria. (2007). “Pengaruh Akuntabilitas dan Pengetahuan Terhadap Kualitas Hasil Kerja Auditor”. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar.

   

 

 

118   

Mayangsari, S. (2003). “Pengaruh Keahlian Audit dan Independensi terhadap Pendapat Audit: Suatu Kuasieksperimen”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 6 No. 1. Januari. Moekijat. (2002). “Dasar-Dasar Motivasi”. Pioner Jaya. Jakarta. Mulyadi. (2002).” Auditing”. Buku 1, Edisi 6. Jakarta : Salemba Empat. Murwanto, Rahmadi., Budiaro, adi., Hasri, Fajar., (2006). “Audit Sektor Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah”. LPKPAP BPKK Departemen Keuangan RI. Muzzakir. (2010). ”Pelatihan Auditor Internal Inspketorat Kota Bengkulu”. (Online) (Diakses pada 2 Desember 2011) Tersedia di World Wide Web: http//www.bpkp.co.id. Nuryanto. (2010).”Mindset Auditor Inspektorat”. (Online) ( Diakses Pada 01 Desember 2011) Tersedia di Word Wide Wab: http://www.facebook.com/group.php.inspektorat.htm Peraturan Walikota Bengkulu Nomor 27 Tahun 2008. “Fungsi dan Tugas Pokok Inspektorat Kota Bengkulu”. Bengkulu. Peraturan Walikota Bengkulu Nomor 10 Tahun 2008. “Pembentukan Sususnan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kota Bengkulu”. Bengkulu. Pusdiklatwas, BPKP. (2008). “Kode Etik dan Standar Audit”. Edisi Kelima. Renaldo, Nofrindo. (2010). “Pengaruh Kompetensi Dan Independensi Terhadap Kualitas Audit Aparat Inspektorat Kota Padang”. Skripsi tidak dipublikasikan. Padang. Republik Indonesia. (2004). “Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara”. Lembaran Negara RI Tahun 2004. Sekretariat Negara. Jakarta. . (2004). “Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah”. Lembaran Negara RI Tahun 2004, No. 60. Sekretariat Negara. Jakarta. . (2007). Peraturan Pemerintah No 41 Tahun 2007. “Organisasi Perangkat Daerah”. Jakarta.

   

 

 

119   

. (2008). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008. “ Sistem Pengendalian Interen Pemerintah”. Jakarta. . (2007). Peraturan Badan Pemeriksa keuangan Republik Indonesia No. 01 Tahun 2007. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara. Jakarta. . (2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 23 Tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Jakarta. . (2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 64 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Organisasi Dan Tata Kerja Inspektorat. Jakarta. . (2008). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera. No. PER/04/M.PAN/03/2008. Kode Etik Aparat Intern Pemerintah. Jakarta. . (2008). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera. No. PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah. Jakarta. Rihandoyo. (2009). “Alat uji Hipotesis Penelitian Sosial Non Parametrik”. Jurusan Fisip Undip. Rondo, M.J. (2008). “Peran Eksternal Auditor Dalam Mendorong AkuntabilitasPenyelenggaraan Keuangan Daerah Menurut Pandangan Bawasda”. NTT: Kepala Bawasda NTT. Sari, Zawitri. (2009), Tesis. “Analisis Faktor-Faktor Penentu Kualitas Audit Yang Dirasakan dan Kepuasan Auditee Di Pemerintahan Daerah (Study Lapangan Pada Pemerintahan Daerah Kalbar Tahun 2009”. Universitas Diponegoro. Semarang. Simbolon, Edison. (2010). ”Pelatihan Auditor Internal Inspketorat Kota Bengkulu”. (Online) (Diakses pada 12 oktober 2011) Tersedia di World Wide Web: http//www.bpkp.co.id Sri, Hexana. (2005). “Tinjauan Terhadap Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik: Refleksi Atas Skandal Keuangan”. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi Vol.5 No.1 April 2005.

   

 

 

120   

Sudrajat, Akhmad. (2008). “Teori-teori Motivasi”. (Online) (Diakses pada 15 Oktober 2011) Tersedia di World Wide Wab: http// Teori-teori Motivasi// akhmad sudrajat// Tentang Pendidikan Sugiyono. (2010). Bandung. “Memahami Penelitian Kualitatif”.CV ALFABETA:

Susmanto, Bintang. (2008). “Pengawasan Intern pada Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat”. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. (Online) (Diakses pada 15 oktober 2011) Tersedia di Word Wide Wab: http //www.menkokesra.go.id/content/view Suwandi. (2005). “ Motivasi Dalam Teori”. Jakarta: Bumi Aksara Suyana, Asep (2007). “Tahap-Tahap Penelitian Kualitatif”. Universitas pendidikan Indonesia. Jakarta. Ulum, Ihyaul. (2009).”. “Audit Sektor Publik Suatu Pengantar Jakarta: Bumi Aksara. Wisudantari, Putu. (2009).”Konstruksi Identitas Jender Laki-Laki pada Pemuda Desa Adat TengananPegringsingan, Kabupaten Karang Asem Bali”. Skripsi Dipublikasikan”. Depok.

   

 

 

121   

   

 

 

122   

   

 

 

i   

Lampiran I. Hasil Tabulasi Data Jawaban   Kuesioner
                                                                        1.1 Data Variabel Kualitas Audit Operasional  

Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

1
1  0  0  1  1  0  0  1  0  1  1  0  0  0  1  0  1  1  1  1  1  1  0 

2
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

3
1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Kualitas Audit Operasional 4 5 6 7
1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

8
1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

9
1 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0

10
1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

11
1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

12
1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1

Jumlah
10  6  4  9  9  2  9  7  6  10  11  8  9  9  9  9  10  11  8  11  10  10  7 

ii         

1.3 Data Variabel Kompetensi Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
   

1
1  0  0  1  1  0  1  1  1  1  0  1  1  0  1  0  0  1  1  1  1  1  1 

2
1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1

3
1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

4
1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1

5
1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Kompetensi 6 7
1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1

8
1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1

9
1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1

10
1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1

11
1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1

12
0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1

Jumlah
11  3  8  9  10  8  9  1  5  10  10  8  11  7  10  7  10  10  6  11  10  9  12 

iii   

1.2 Data Variabel Independensi Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
         

1
0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0

2
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0

3
1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0

4
1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0

5
0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0

Independensi 6 7
0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0  0  0  1  1  1  0  1  0  1  1  0  0  1  1  1  1  0  0  0  0  0  0 

8
0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0

9
0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

10
0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

11
1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1

12
0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0

Jumlah
3  5  4  6  2  2  5  5  1  5  7  3  4  1  2  1  3  6  3  3  4  5  1 

iv   

 

1.4 Data Variabel Motivasi Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 1
0  1  1  1  0  0  1  1  0  1  0  0  1  0  0  0  0  1  0  0  0  0  0 

2
1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0

3
1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1

4
1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0

5
1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0

Motivasi 6 7
1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0

8
0  0  0  0  1  1  0  0  0  1  0  0  1  1  1  1  0  0  0  0  0  0  0 

9
1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0

10
0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0

11
1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0

12
1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0

Jumlah
8  6  7  7  4  5  10  4  2  9  7  4  12  6  4  5  6  6  3  4  5  9  2 

NO. KENDALI : 

Kuesioner Penelitian
Petunjuk pengisisan
Daftar pertanyaan dalam kuesioner penelitian ini terdiri dari 2 bagian yaitu  Pada bagian I Bapak/ ibu dimohon untuk menuliskan identitas responden dan memberikan jawaban atas pertanyaan isian dengan singkat dan jelas serta berikan tanda () pada huruf yang merupakan pilihan jawaban dan dijawab pada tempat yang telah disediakan.  Pada bagian ke II Bapak/ ibu dimohon memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang berkenaan dengan penelitian mengenai “Hubungan Pengaruh Kompetensi Independensi dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit Operasional Yang Dilaksanakan Oleh Aparat Inspektorat Kota Bengkulu Dalam Pengawasan Keuangan Daerah dengan Perbedaan Golongan Kerja Aparat dan Masa Kerja Aparat Inspektorat Kota.”. Dengan memilih jawaban dengan benar dengan cara diberi tanda cek ( ) .

BAGIAN I Identitas Responden

1. Nama 2. Umur 3. Jenis Kelamin 4. Masa Kerja Masa Kerja diposisi sekarang

: : : : : Pria Tahun Tahun Tahun

*

Wanita

5. Golongan/Ruangan 6. Pendidikan Terakhir 7. Program Studi/Jurusan

: : : **

8. Pendidikan dan Pelatihan tentang Audit yang pernah diikuti dalam 3 tahun terakhir……………………..kali Sebutkan a. ………………………………………………………………….. b. ………………………………………………………………….. c. …………………………………………………………………... d. …………………………………………………………………... e. ………………………………………………………………….. f. ………………………………………………………………….

Keterangan

:

* Boleh tidak diisi ** Bila Ada

BAGIAN II
Silahkan memberi jawaban anda dengan memberikan tanda ( ) pada pilihan jawaban yang tersedia:  Ya : Jika pertanyaan tersebut sesuai dengan diri Anda

 Tidak : Jika pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan diri Anda

Pertanyaan Kuesioner

Kualitas Audit Operasional Aparat Inspektorat
No 1 Indikator Pertanyaan Ya Apakah Anda menjamin semua temuan audit yang anda temui adalah akurat dan Anda pun bisa menemukan sekecil apapun kesalahan atau penyimpangan yang ada pada saat proses audit operasional dilakukan? Pernahkah anda merekayasa temuan audit yang anda temui saat melakukan proses audit dan anda melaporkannya tidak sesuai dengan temuan audit ? Apakah Anda harus membuat rekomendasi mengenai hasil pemeriksaan operasional kepada auditee? Apakah rekomendasi yang anda berikan dapat menyelesaikan kesalahan atau penyimpangan yang terjadi? Apakah Anda percaya pada auditee/instansi yg anda audit, bahwa anda tidak akan menemukan kesalahan atau penyimpangan yang sama secara berulang? Apakah sebelum melaksanakan audit di kantor/ instansi auditee, anda melaksanakan koordinasi audit terlebih dahulu dan juga melaksanakan perencanaan audit terlebih dahulu? Apakah Anda selaku auditor internal pemerintah memnyelesaikan pemeriksaan dengan membuat kertas kerja pemeriksaan? Apakah Kertas kerja pemeriksaan perlu dibuat secara seragam dan terpadu? Tidak

Keakuratan Temuan Audit

2 Nilai Rekomendasi

3 Sikap Skeptis 4

Pelaksanaan Audit

5 Kejelasan laporan 6 Tindak lanjut hasil Audit

Apakah Anda melakukan peniliaan efektifitas tindak lanjut hasil audit dan konsistensi penyajian laporan hasil audit? Apakah menurut Anda rekomendasi laporan hasil audit anda dapat dipahami oleh auditee? Apakah hasil audit yang Anda lakukan dapat ditindak lanjuti oleh Auditee? Apakah Anda terus memantau tindak lanjut dari hasil audit yang anda lakukan?

Kompetensi Auditor
no Indikator 1 Pertanyaan Ya Apakah Anda memperoleh pengetahuan yang sangat mendukung anda dalam proses audit pada saat anda Pemahaman dan mengenyam pendidikan formal dibangku kuliah? Penguasaan Apakah Anda memahami seluruh bidang audit yang Standar anda lakukan dipemerintahan? Akuntansi dan Apakah Anda memahami dan mampu melakukan Auditing audit operasional sesuai dengan standar akuntansi dan standar auditing yang berlaku, seprti SPIP, SPKN, dll? Apakah Anda memiliki keahlian dibidang akuntansi dan keuangan Sektor Publik? Apakah Anda memiliki keterampilan dalam Keahlian berhubungan dengan orang lain dan mampu dibidang berkomunikasi secara efektif dengan auditee? Auditing Apakah Anda memahami mengenai SPIP yang merupakan salah satu yang diaudit dalam audit operasional? Apakah Anda sangat memahami peraturan perundang-undangan, mengenai hal-hal yang terkait pemerintahan seperti diantaranya struktur Wawasan tentang organisasi, fungsi, program, dan kegiatan pemerintahan pemerintahan? Apakah Anda memiliki kemapuan dan keahlian dibidang administrasi pemerintahan? Apakah seiring dengan bertambahnya masa kerja Peningkatan Anda sebagai auditor internal pemerintah, keahlian keahlian auditing anda pun semakin bertambah pula? Apakah Anda mengikuti pelatihan akuntansi dan audit yang diselenggarakan internal inspektorat dengan serius dan tekun? Tidak

2

3

4

Apakah dalam 2 tahun terakhir ini anda sudah menyelesaikan sekurang-kurangnya 80 jam pendidikan/ pelatihan dalam peningkatan profesionalisme anda sebagai auditor? Apakah pernah dengan inisiatif Anda sendiri anda berusaha meningkatkan penguasaan akuntansi dan auditing anda dengan membaca literatur atau mengikuti pelatihan diluar lingkungan inspektorat?

Independensi Auditor
no Indikator Pertanyaan Ya Apakah Anda pernah melakukan pembatasan lingkup pertanyaan pada saat anda melakukan audit karena auditee masih punya hubungan darah dengan anda? Pernahkah Anda mengalami hal berikut pada saat anda melakukan pemeriksaan, anda menemukan beberapa kesalahan pencatatan yang disengaja oleh auditee akan tetapi tidak semua kesalahan tersebut anda laporkan kepada atasan karena anda sudah memperoleh fasilitas yang cukup baik dari auditee tersebut? Apakah Anda akan memberitahu pimpinan APIP jika anda memiliki suatu gangguan independensi atau objektifitas terganggu baik secara fakta maupun penampilan? Pernahkah Anda tetap melaksanakan pemeriksaan pada suatu instansi pemerintah/ kantor auditee meskipun anda mengetahui auditee tersebut masih ada hubungan dengan anda? Menurut Anda apakah pimpinan APIP harus menggantikan auditor yang menghadapi gangguan terhadap suatu konflik kepentingan? Pernahkah Anda tidak melaporkan gangguanggangguan independensi dan objektifitas anda selaku auditor kepada pimpinan APIP melainkan melaporkannya langsung dalam laporan audit anda? Menurut Anda pimpinan APIP lah yang harus bertanggung jawab langsung untuk mengatasi masalah gangguan-gangguan pribadi yang dirasakan Tidak

Gangguan Pribadi

2

Gangguan Eksternal

auditornya pada saat melaksanakan audit? Apakah menurut Anda tidak ada gunanya anda melakukan audit dengan sungguh-sungguh, karena anda tahu ada pihak yang punya wewenang untuk menolak pertimbangan yang anda berikan pada laporan audit anda? Apakah Anda merasa khawatir jika anda mengungkapkan temuan audit anda apa adanya, Anda akan dimutasi kerja? Pada saat anda melakukan proses audit dan anda sangat memerlukan jasa tenaga ahli, pernahkah anda mengambil tindakan langsung menggunakan jasanya tanpa penilaian terlebih dahulu? Ketika anda dihadapkan pada suatu kondisi instansi pemerintah yang anda audit benar-benar kacau dilihat dari segala hal, apakah anda akan memberikan jasa-jasa non audit diluar tugas anda sebagai auditor untuk membantu instansi tersebut? Apakah Anda akan mengaudit instansi pemerintah jika anda mendapatakan audit fee yang besar dari instansi tersebut?

Motivasi Auditor
no Indikator 1 Ketangguhan 2 Pertanyaan Ya Apakah Anda cenderung memaafkan jika ada sedikit penyimpangan karena anda pun akan melakukan kesalahan yang sama jika ada pada posisi tersebut? Apakah Anda lakukan selama ini dalam melaksankan tugas sebagai auditor internal sudah cukup baik, tidak perlu lagi adanya perbaikan? Apakah Anda sering melakukan instrofeksi diri untuk kesusksesan anda dalam dunia kerja untuk kedepannya? Apakah setelah anda melakukan auidit pada isntansi pemerintahan/auditee dengan baik maka besar pula peluang anda untuk mendapatkan jabatan fungsional yang lebih baik? Tidak

Keuletan

3

Konsistensi

Apakah Anda tetap akan mempertahankan hasil audit anda walaupun hasil audit yang anda punya tidak sama dengan hasil audit rekan lainnya yang tergabung dalam satu tim audit? Apakah Anda tetap akan melaksanakan proses pada instansi yang jelas-jelas anda tahu bahwa instansi tersebut tidak mengikuti peraturan pelaksanaan pemerintahan sesuai dengan peraturan perundangundangan? Kesungguhan anda dalam menjalankan tugas sebagai auditor sering dipengaruhi oleh mood(suasana hati) anda?

4

Tingkat Apsirasi

Apakah menurut Anda tanpa auditor internal sebenarnya pemerintahan daerah kota Bengkulu sudah bisa berjalan dengan baik? Apakah hasil audit Anda benar-benar dimanfaatkan oleh penentu kebijakan sehingga akan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi peningkatan kualitas pelayanan publik? Jika Anda tidak melakukan audit dangan baik apakah anda tidak akan menerima dampak negatif dari perlakuan anda tersebut? Ketika rekomendasi anda mengenai hasil audit yang anda laksankan tidak dapat ditindaklanjuti oleh auditee apakah anda merasa kesal dan tidak ingin melaksanakan audit lagi pada insatnsi/auditee tersebut? Apakah ada rasa kebanggaan tersediri ketika anda ditugaskan untuk mengaudit suatu instansi pemerintah?

Bengkulu , Hal : Permohonan Izin Penyebaran Kuisioner

Desember 2011

Kepada Yth. Aparat Inspektorat Kota Bengkulu
di Tempat

Dengan hormat, Melalui surat ini saya memohon izin untuk menyebarkan kuesioner kepada aparat Inspektorat Kota Bengkulu. Kuesioner ini dibuat dalam rangka

penyusunan Skripsi untuk menyelesaikan pendidikan Strata I (S1) di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Bengkulu dengan judul “PENGARUH

KOMPETENSI, INDEPENDENSI, DAN MOTIVASI TERHADAP KUALITAS AUDIT OPERASIONAL YANG DILAKSANAKAN OLEH APARAT

INSPEKTORAT KOTA BENGKULU DALAM PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH”.

Atas perkenannya, kami ucapkan terimakasih.

Dosen Pembimbing

Hormat Saya,

Dr. Fachruzzaman, SE., MDM., Aki NIP. 19710313 199601 1 001

Elvira Hertika C1C008007

PEDOMAN In-Depth Interview
PENGARUH KOMPETENSI, INDEPENDENSI, DAN MOTIVASI TERHADAP KUALITAS AUDIT OPERASIONAL YANG DILAKSANAKAN OLEH APARAT INSPEKTORAT KOTA BENGKULU DALAM PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH 1) Bagaimana anda dapat menjamin temuan audit yang anda lakukan adalah akurat dan tidak menyimpang dari aturan yang ada? 2) Mengapa anda harus membuat suatu rekomendasi, dan rekomendasi seperti apa yang anda berikan sehingga dapat menyelesaikan kesalahan ataupun penyimpanganyang terjadi? 3) Bagaimana cara anda mengorganisir dan membuat suatu perencanaan sebelum turun kelapangan untuk melakukan audit? Jawaban: 4) Mengapa kertas kerja perlu anda buat dalam penyelesaian pemeriksaan dan perlu atau tidak dibuatnya keseragaman dari kertas kerja tersebut dan berikan alasan bila jawabannya perlu begitu juga jika jawabannya tidak perlu? 5) Apa yang menjadi alasan anda, penilaian efektifitas tindak lanjut hasil audit dan konsistensi penyajian laporan audit perlu untuk dilakukan? 6) Mengapa anda tidak melakukan pemanantauan terhadap hasil audit yang anda lakukan? 7) Pengetahuan yang seperti apa anda dapatkan mengenai audit pada saat anda mengeyam pendidikan formal dibangku kuliah? 8) Mengapa anda harus memahami seluruh bidang audit dalam pemerintahan dan apa alasan anda ketika melakukan proses audit para auditor inspektorat harus melakukan audit operasional sesuai dengan standar akuntansi dan auditing yang berlaku dipemerintahan? 9) Peraturan perundang-undangan seperti apa yang anda pahami sebagai seorang auditor? 10) Keahlian seperti apa yang dimiliki selama anda bekerja di inspektorat? 11) Mengapa anda mengikuti dengan serius pelatihan yang diperuntukkan bagi auditor inspektorat, ketika pelatihan tersebut anda lakukan karena inisiatif sendiri bentuk pelatihan seperti apa yang anda lakukan? Jawaban: a. Hanya sebatas membaca literature yang berkaitan dengan tugas anda sebagai auditor b. Mengikuti pelatihan dengan biaya sendiri.

12) Pembatasan lingkup pertanyaan seperti apa yang anda lakukan pada saat anda akan melakukan audit, dan bagaimana cara anda memberitahukan kegangguan independensi anda sebagai auditor? 13) Jasa non-audit seperti apa yang biasanya diberikan ketika folemik instansi tersebut sangat kacau? 14) Apa alasan anda bahwa dalam melaksanakan tugas anda sebagai auditor selama ini tidak perlu atau perlu adanya perbaikan? 15) Intropeksi diri yang bagaiamana anda lakukan utuk masa depan anda, mengapa anda tetap mempertahankan hasil audit anda, ketika hasil tersebut tidak sama dengan hasil audit rekan tim lainnya? 16) Bagaiamana anda bisa menyakinkan bahwa hasil audit anda tersebut sangat membantu para pemegang kebijakan dalam pengambilan keputusan? 17) Alasan anda kesal ketika instansi tempat anda mengaudit tidak dapat menindak lanjuti rekomendasi yang anda berikan? 18) Mengapa anda memiliki rasa kebanggaan tersendiri ketika anda dirugaskan langsung untuk mengaudit instansi pemerintah? 19) Mengapa anda lebih mememilih melaporkan gangguan yang anda alami ke APIP dibandingan membuatnya langsung dalam laporan audit? 20) Mengapa pemerintah daerah belum berjalan dengan baik tanpa adanya peran dari auditor internal itu sendiri?

Lampiran 4. TRANSKIP WAWANCARA INDEPTH RESPONDEN Responden : Aparat Inspektorat Kota Bengkulu Lokasi wawancara : Inspektorat Kota Bengkulu Wawancara Bagaimana Kompetensi Berpengaruh Terhadap Kualitas Audit Operasional Peneliti : Menurut anda apa itu kualitas audit? Responden secara keseluruhan : “kualitas hasil pemeriksaan yang dapat memberikan rekomendasi bagi auditeenya”. Peneliti: Dengan bertambahnya masa, apakah keahlian anda sebagai auditor bertambah sehingga dengan hal tersebut kualiat audit anda bermutu? Responden secara keseluruhan : “Ya jelas donk dek, menurut dengan masa kerja yang dikategorikan lama maka saya memiliki banyak pengalaman yang mendukung saya untuk melakukan pemeriksaan yang handal dan efektif, yakni pemeriksaan yang hasilnya dapat ditindak lanjut dan dimengerti oleh instansi. Wong klo hasil pemeriksaan masih begitu-begitu saja tanpa perubahan berarti aparat nya yang gak mau meningkatkan kemampuannya yah jelas donk hasil pemeriksaannya gak berkualitas” Berapa kali anda melakukan pelatihan satu tahun terakhir? Responden secara keseluruhan : Sudah sekitar 6 kali lah Peneliti : Bentuk pelatihan apa yang ada ikuti tersebut? Apa penelitian tersebut berguna? Responden secara keseluruhan: “Salah satu bentuk pelatihannya yaitu pelatihan pengadaan barang dan jasa. Kamu pasti tau lah dek soal pengadaan barang dan jasa, nah ini kan termasuk kasus yang cukup polemik. Nah waktu akan melaksanakan pemeriksaan akan pengadaan barang dan jasa disuatu instansi apakah sudah efektif dan efisisien bekal dari pelatihan yang saya dapat itulah yang saya gunakan, nah pada akhrinya hasil laporan saya selaku pemeriksa dapat dimengerti oleh instansi tersebut dan menindak lanjuti apa yang menjadi rekomendasi saya sebagai peneliti” Peneliti :

Peneliti Responden

:Bagiamana anda menjamin temuan audit yang anda lakukan adalah akurat? : “Temuan audit akurat jika kita memiliki pemahaman akan standard an peraturan sebagai aparat pemeriksa, jadi pemahaman ini kami gunakan dalam melakukan pemeriksaan dan menghasilkann kualitas pemeriksaan yang baik. Gitu loh dek jadi pemahaman ini gak sia-sia dan kekuratan temuan audit pun terjamin”

Responden Tambahan : Bagian evaluasi aparat inspektorat Tempat penelitian: ruang secretariat inspektorat Peneliti : Responden : Bagaiamana bu kemampuan dari para aparat bisa diketahui sudah meningkat atau belum? “Aparat yang sudah mengikuti pelatihan harus membuat nota dinas mengenai pelatihan yang mereka ikuti, nah aparat ini kita lihat kualitas hasil pemeriksaannya yang lalunya diinstani A misalkan hanya 68% ketika sudah mengikuti pelatihan dan ditugaskan mengaudit instansi A lagi, maka akan dilihat peningkatan hasil pemeriksaannya ketika mereka melaporkan hasil akhir pemeriksaan kebagian evaluasi nah dari situlah kita tau kualitas pemeriksaannya sudah baik atau masih sama saja dengan sebelum mereka melakukan pelatihan, karena hasil pemeriksaan bergantung pada siapa yang memeriksa dan kemampuan si pemeriksa” Dimisalkan aparat sudah memiliki kompetensi mengapa dilaporan audit bpk atas laporan keuangan kota Bengkulu masih mengindikasikan bahwa aparat inspektorat kota belum secara berkala melakukan pemeriksaan karena masih ada temuan-temuan yang seharusnya sudah diperbaiki ketika aparat melakukan pemeriksaan? “ Yah itu sangat wajar dek yang pertama masalah anggaran, yang kedua masalah jabatan fungsional dari pada aparat itu sendiri yang belum 100 % mengimplementasi PP 41 tahun 2007. Karena hal tersebut lah para aparat selalun giat mengikuti pelatihan dan binaan yang diberikan.

Peneliti :

Responden :

Responden lainnya: Inspektur Kepala Tempat : ruang kepala inspektorat Peneliti ; Apa menurut ibu kompetesi aparat berpengaruh terhadap kualiat aduit operasionalnya?

Responden :

Peneliti : Responden :

“tentu saja berpengaruh, “Ya dasarnya ini loh dek aturan Standat Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengenai syarat dari pemeriksa internal pemerintahkan harus memiliki kompetensi dan profesionalisme, gimana kalo tidak memiliki hal tersebut bakal jelek lah hasil pemeriksaan dan dapat dikategorikan tidak berkualitas”. Demi mewujudkan inilah saya selalu berusaha untuk terus memberikan pelatihan bagi aparat-aparat inspektorat ini sehingga mereka dapat menghasilkan laporan audit yang jelas dan dapat ditindak lanjuti”. kalo begitu apa yang menyebabkan kompetensi berpengaruh? “karena pelatihan yang kami berikan semakin lama semakin meningkat sehingga sudah bisa dipastikan aparat kami memiliki kompetensi yang dapat dihandalkan”.

Hasil Wawancara Indepth Mengenai Bagaiamana Pengaruh Independensi Terhadap Kualitas Audit Operasional Peneliti : Apakah dengan pembatasan lingkup pertanyaan hanya sebatas pada apa yang ada dipanduan menjamin hasil temuan audit anda akurat? “Ya tentu sajalah hasil pemeriksaan kami tetap berkualitas, walaupun lingkup pertanyaan pemeriksaan sesuai dengan apa yang ada dalam panduan pemriksaan, loh kamu tau sendiri lah kita melakukan pemeriksaan ini gax sembarangan semuanya ada aturannya jadi walaupun kami berusaha untuk membatasi lingkup pertanyaan diluar panduan maka hal ini malah akan membuat hasil pemeriksaan kami terlihat sangat tidak berkualitas” Pada saat anda ditunjuk melakukan pemeriksaan pada suatu instansi dimana instansi tersebut merupakan temapat saudara anda bekerja apakah anda tetap akan melakukan tugas tersebut? “jelas tetap lah” kenapa ini mengindikasikan anda tidak menjaga independensi anda loh pak? “Ya tetap sajalah mesti dilakukan yang namanya tugas dari atasan, walaupun berat loh dek ngerjain tugas dimana saudara kita bekerja, kamu tau sendirilah karena yang berhubungan dengan namanya keluarga kan identik dengan nepotisme tuh maka masih adalah keinginan untuk membaguskan hasil pemriksaan padahal hal tersebut kan menyalahi kode etik sebagai auditor” ketika anda merasakan tekanan seperti itu apa yang anda lakukan?

Responden :

Peneliti :

Responden : Peneliti : Responden :

Peneliti :

Responden :

Peneliti : Responden:

“Pernah loh saya alami hal tersebut ketika saya melakukan pemeriksaan di tmpt dulunya saya bekerja, nah waktu itu apa yang saya tanyakan dan saya minta untuk sebagai bukti untuk mendukung hasil pemeriksaan tidak mereka sediakan, nah malah mereka menyalahkan saya yang dulunya menjabat diposisi tersebut. Ngertikan kamu dek konflik kepentingan nah inilah cotohnya, tapi pada waktu tersebut belum tau mau melaporkan kemana gangguan tersebut, sebelum tau harus melaporkan hal tersebut langsung pada inspektur kepala selaku kepala inspektorat organisasi pemeriksa tempat saya bekerja” ketika anda merasakan hal tersebut apa anda tetap melakukan audit dengan sungguh? “Tetap sungguh-sunggulah, karena kadang sudah bersungguh-sungguh aja kualitas pemeriksaan kita masih belum sempurna, apalagi tidak dikerjakan dengan sungguhsungguh dah pasti hasil nya jelek dan dampaknya kekualitas pemda karena masih banyak temuan oleh BPK akan instansi di kota yang belum mematuhi aturan dalam menjalankan aktivitasnya, dengan ini sudah jelas kualitas audit yang dihasilkan aparat sangatlah buruk. Walaupun pada akhirnya ada pihak yang berwewenang dapat menolak hasil pemeriksaan yang kita laksanakan ”

Hasil Wawancara Indepth Mengenai Bagaimana Pengaruh Motivasi Terhadap Kualitas Audit Operasional Peneliti : Responden : menurut anda pentingkah mempertahankan hasil temuan dak selaras dengan tim aparat lainnya? “Ketika dipertanyakan masalah mempertahankan hasil yang berbeda dengan yang lainnya, pertanyaan ini sangat bagus karena saya sangat setuju ketika hasil tersebut tidak sama maka jangan serta merta langsung diubah walaupun kita hanya sebagai anggota dari tim pemeriksa, melainkan kita harus terus mempertahankan selagi hasil audit tersebut benar, akurat dan sesuai dengan aturan dan bisa dibuktikan keakuratannya karena hal ini penting untuk mempertanggungjawabkan kualitas audit yang dihasilkan” Tapi ini tidak mengindikasikan bahwa anda tidak berkompeten donk pak? “Toh hasil yang berbeda bukan berarti aparatnya yang tidak berkompeten tetapi mungkin karena berbagai hal yang menyebabkan perbedaan itu. Nah klo hasil kita berbeda merupakan tantangan kita untuk mempertahankan hasil pemeriksaan itu, soalnyakan kita melakukan pemeriksaan l sudah sesuai aturan dan pemahaman serta

Peneliti : Responden :

Peneliti :

Responden :

Peneliti : Responden :

Peneliti :

Responden:

Peneliti :

Responden:

panduan yang ada didalam orbik dan bukti temuan yang akurat juga dapat membantu kita mempertahankan hasil audit yang berbeda ini” Nah ini kasus lainnya, ketika anda ditugaskan melakukan pemeriksaan ditemapat dulunya anda bekerja, apa anda tetap akan melaksanakan tugas tersebut? “Ya jelas tetap kita laksanakan, soalnya itu tugas yang berarti amanat bagi kita sebagai aparat sehingga harus tetap dilaksanakan, malahan ini tantangan loh bagi kami para aparat yang menjadi tim pemeriksa instansi tersebut soalnya dengan kami tetap melakanakan tugas itu sudah pasti instansi harus melaksanakan rekomendasi yang kami berikan sehingga tim evaluasi pemeriksaan dapat menindak lanjuti hasil pemeriksaan ketika bisa ditindak lanjuti berarti audit yang kami hasilkan sudah berkualitas, nah ini ada kebanggaan tersendiri loh dalam diri kita bisa melaksanakan tugas yang cukup berisiko ini” Tapi independensi anda bisa dipertanyakan donk? :Ketika berbicar pemeriksaan yang mana kita merupakan bawahan kita harus tetap melaksanakan hal tersebut. Inilah yang namanya konsisten. Dengan ini hasil audit saya pun dapat dipertanggung jawabkan” Apa yang anda rasakan ketika anda sebagai aparat yang selalu diikutsertakan dalam pemeriksaan baik pemeriksaan menurut orbik atau penugasan langsung dari inspektur kepala? “Masalah keikutsertaan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Coba deh kamu pikir lah ya dek ketika ide kamu terus diterima dan rekomendasi kemu terus dipertimbangkan sehingga kebanggaan seperti ini lah yang memberikan dorongan untuk menghasilkan audit yang berkualitas” Kalo diikutsertakan anda bakal memberikan kontribusi dalam bentuk hasil yang berkualitas apa hanya kebanggan semata? “ Ya barang tentu hasil audit yang berkualitas lah”.

BIODATA MAHASISWA Nama : NPM : Tempat/Tanggal Lahir : Jenis Kelamin : Agama : No Telp/Hp : Email : Alamat : Elvira Hertika C1C008007 Muara-Aman/27-Februari-1991 Perempuan Islam 08992209927 elviera_cute@yahoo.com Jln. Meranti 4 No 17 Rt. 12 Rw. 03 Sawah Lebar Kota Bengkulu Nama Ayah : H. Zahedi Zen Nama Ibu : Hj. Elly Herlinda, S.Pd Judul Skripsi : “PENGARUH KOMPETENSI, INDEPENDENSI, DAN MOTIVASI TERHADAP KUALITAS AUDIT OPERASIONAL YANG DILAKSANAKAN OLEH APARAT INSPEKTORAT KOTA BENGKULU DALAM PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH” Pembimbing : Dr. Fachruzzaman., SE., MDM., Ak IPK : 3,79

Mahasiswa YBS

Elvira Hertika NPM. C1C008007

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful