LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH

ACARA V PENETAPAN ANGKA-ANGKA ATTERBERG

OLEH: AKHMAD IZZUL FARKHI A1L011036 ROMBONGAN A2

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2012

ACARA V PENETAPAN ANGKA-ANGKA ATTERBERG

Tanggal Praktikum Nama NIM Rombongan Asisten

: 19 Maret 2012 : Akhmad Izzul Farkhi : A1L011036 : A2 : 1. Septia Linda Nurvita 2. Ratri Noorhidayah 3. Soffa 4. Nova Margareth

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tanah merupakan suatu bagian yang sangat menentukan dalam perencanaan suatu konstruksi, karena menentukan kestabilan konstruksi tersebut. Kekuatan tanah tersebut tidak sama untuk tempat-tempat yang berbeda, sehingga hal ini mengharuskan para perencana untuk memperhatikan kondisi tanah sebagai suatu elemen kestabilan konstruksi yang sangat menentukan keadaan konstruksi pada masa penggunaannya. Untuk menentukan kondisi tanah yang akan digunakan sebagai tempat dibangunnya suatu konstruksi, tidak cukup dilakukan perhitungan tanpa suatu pemeriksaan yang mendalam atau spesifik. Terutama untuk mengetahui parameterparameter dari sifat fisis dan mekanis dari tanah tersebut. Jadi diperlukan pengujian atau percobaan yang dilakukan secara ilmiah yakni melalui pengujian laboratorium. Kekuatan suatu tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat komplek dari parameter-parameter yang didapatkan dari suatu pemeriksaan yang mendalam. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat tanah tersebut, yang meliputi sifat fisis dan mekanis tanah. Salah satu hal yang perlu diketahui sebelum memulai suatu pengelolaan tanah di suatu lahan, adalah konsistensi tanah karena konsistensi merupakan resistensi terhadap deformasi atau perpecahan dan ditentukan oleh adhesi dan kohesi mulsa tanah. Oleh karena itu, konsistensi tanah harus secara tepat agar pengelolaan tanah yang dilakukan dapat berjalan baik, serta dapat diusahakan secara maksimal. Selain menentukan langkah pengelolaan tanah yang tepat, konsistensi juga menentukan kemampuan tanah dilahan tersebut untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Konsistensi mempengaruhi kemampuan tanaman memanjangkan akarnya, serta mempengaruhi jumlah oksigen dan air dalam tanah yang merupakan kebutuhan esensial pertumbuhan tanaman. Penentuan nilai konsistensi dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu (1) kualitatif (biasanya di lapangan dan di laboratorium) dengan menekan bongkah tanah diantara ujung telunjuk dengan ibu jari atau ujung ibu jari dengan pangkal tangan. Penetapan secara kualitatif dapat digunakan untuk melihat tingkah kelekatan, keliatan pada

konsistensi basah dan tingkat kekerasan pada konsistensi kering. Metode ini lebih sering dilakukan di lapangan karena lebih simple dan tidak membutuhkan alat dan bahan yang rumit. (2) kuantitaif (di laboratorium) dengan pendekatan angka-angka atterberg yaitu batas cair (BC), batas lekat (BL), batas gulung (BG), dan batas berubah warna (BBW). Metode ini lebih sering dilakukan di laboratorium karena lebih rumit dan membutuhkan alat yang lebih banyak.

B.

Tujuan 1. Mengetahui Batas Cair (BC) 2. Mengetahui Batas Lekat (BL) 3. Mengetahui Batas Gulung (BG) 4. Mengetahui Batas Berubah Warna (BBW)

II.

METODE KERJA

A.

Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Cassagrande, stopwatch, colet/spatel, timbagan analitik, botol semprot, lap/serbet/tissue, kertas label, lempeng kaca, oven, eksikator, dan alat pembarut (Groving tool). Bahan yang digunakan praktikum kali ini adalah tanah kering udara halus (Ultisol diameter 0.5 mm).

B.

Prosedur Kerja 1. Batas Cair a. Disiapkan alat Casagrande yang mempunyai tinggi jatuh 1 cm. b. Dibuatkan pasta tanah basah yang homogen secukupnya dengan cawan porselin. c. Dilatih memutar menggunakan alat Casagrande dengan kecepatan konstan 2x per detik. d. Pasta tanah yang sudah dibuat dimasukkan di atas cawan Casagrande dan permukaannya diratakan dengan colet sampai setebal 1 cm, kemudian dengan colet pembelah pasta tanah dibelah di tengahnya dengan gerakan tegak lurus pada bidang cawan. Hasilnya pada dasar cawan harus terlihat bagian yang bersih dari tanah, lebar alur yang terjadi 2mm. e. Alat Casagrande segera diputar dengan kecepatan konstan (2x per detik). Diamati sampai alur menutup selebar 1 cm, pemutaran dihentikan dan dicatat jumlah putaran yang diperlukan tadi. f. Setelah dapat diperoleh jumlah ketukan antara 10-40, ambil pasta tanah di sekitar alur yang menutup sebanyak kurang lebih 10 gram dan ditetapkan kadar air tanahnya. g. Kerjakan untuk 4 ulangan dengan banyak ketukan di atas 25, dua ulangan dan di bawah 25, dua ulangan.

2. Batas Lekat a. Diambil sisa pasta tanah pada acara BC, digumpulkan dalam tangan dan tusukkan colet ke dalamnya sedalam 2,5 cm dengan kecepatan 1 cm per detik. Dapat juga dijalankan dengan pasta tanah digumpalkan dengan ujung colet sepanjang 2,5 cm ada di dalamnya dan kemudian colet ditarik dengan kecepatan 0,5 detik. b. Periksa permukaan colet : 1) bersih, tidak ada tanah lebih kering; 2) tanah atau suspense tanah melekat, berarti pasta tanah lebih basah dari BL. c. Tergantung dari hasil pemeriksaan dalam langkah ke-2, pasta tanah dibasahi atau dikurangi kelembabannya, dan langkah ke-1 diulang-ulang lagi sampai dicapai keadaan di permukaan colet di sebelah ujungnya melekat suspensi tanah seperti dempul sepanjang kira-kira 1/3 kali dalamnya penusukan (kira-kira 0,8 cm). d. Diambil tanah sekitar tempat tusukan sebanyak kurang lebih 10 gram dan tetapkan kadar airnya. e. Dikerjakan untuk dua ulangan f. Perhitungan

3. Batas Gulung a. Diambil pasta tanah kurang lebih 15 gram dan buat bentuk sosis atau pita tanah dengan cara menggulung-gulungkan di atas lempeng kaca dengan telapak tangan b. Diperiksa tambang tanah yang terbentuk : 1) tidak menunjukan keretakan sewaktu mencapai tebal 3mm; 2) sudah retak-retak pada diameter lebih dari 3 mm. pada kejadian 1) pasta tanah lebih basah dari BG dan pada kejadian 2) pasta tanah lebih kering. c. Diulangi lagi sampai diperoleh tambang tanah yang retak pada diameter 3 mm. diambil tambang tanah yang retak tersebut, masukkan kedalam botol timbang untuk ditetapkan kadar airnya, kerjakan untuk dua ulangan. d. Perhitungan

4. Batas Berubah Warna a. Dengan colet pasta tanah diratakan tipis dan permukaan licin mengkilat di atas permukaan papan kayu dan dibuat bentuk elips. Tebal bagian tengah 3 mm, makin ke tepi makin menipis. b. Diletakkan pada tempat yang teduh dan diperangin-anginkan, air akan menguap dan mulai kering mulai dari tepi (again yang tipis) berjalan ke tengah. c. Setelah jalur yang kering pada bagian tepi mulai mengering selebar 0,5 cm dan 0,5 cm, ambil bagianyang terang (kering) 0,5 cm dan 0,5 cm bagian tanah berwarna gelap. Jadi diambil keseluruhan dari tepi 1 cm. d. Dimasukkan ke dalam botol timbang dan tetapkan kadar airnya. Kerjakan untuk dua ulangan. e. Perhitungan

III.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Tabel 1. Batas Cair (BC) Ulangan Ketukan KeBotol Timbang Kosong (a gram) Ka 1 Ka 2 Ka 3 Ka 4 <25 = 18 10-25=22 >25 = 29 25-40=37 22,22 22,96 22,90 22,79 a + contoh b(setelah tanah (b gram) 31,65 34,65 30,04 28,61 dioven) (c gram) 26,30 26,88 27,81 26,54 131,13% 198,21% 45, 41% 55,2 % KA %

Tabel 2. Batas Lekat (BL) Ulangan Botol timbang a + contoh b (setelah kosong (a) tanah gram) 1 2 23,43 23,12 30,02 35,82 30,78 30,94 15,57 % 62,40 % (b dioven) KA (%)

Tabel 3. Batas Gulung (BG) Ulangan Botol timbang a + contoh b (setelah kosong (a) tanah gram) 1 2 22,57 25,25 23.95 25,75 (b dioven) (c gram) 23,71 23,99 21,05 % 139,68 % KA %

Tabel 4. Batas Berubah Warna

Ulangan

Botol timbang kosong (a)

a + contoh b (setelah tanah gram) 25,24 25,14 (b dioven) (c gram) 24,57 24,49

KA %

1 2

22,46 22,60

31,75 % 34,39 %

Perhitungan Batas Cair (BC) No. 1. 2. 3. 4. Log ∑ ketukan (x) Log 18 = 1,26 Log 22 = 1,34 Log 29 = 1,46 Log 37 = 1,57 x = 5,63 Rincian perhitungan: 1) x = 2) y = Kadar Air (y) 131,13 % 198,21 % 45,41 % 55,2 % ∑ y = 429,95 % x.y 165,22 265,60 66,29 86,66 ∑x.y=589,77 X2 1,59 1,8 2,13 2,46 ∑x2=7,98

= =

= 1,4 = 107,48

3) a = y – b.x 4) b =

=

= -3,02

5) Substitusi b ke a (b = …?) a = y – b.(x) → a = 107,48 – (-3,02).(1,4) = 107,48 + 4,23 = 111,708 6) Persamaan Regresi y = a + b.(x) y = log 25 1,4 = 111,708 + (-3,02).(x) 1,4 = 111,708 – 3,02x 3,02x = 110,308 x = 36,52

B. Pembahasan

Konsistensi tanah menunjukan integrasi antara kekuatan daya kohesi butirbutir tanah (agregat tanah) dengan daya adhesi tanah dengan benda lain ( Rawls dan Pachepsky, 2002). Daya tersebut menentukan daya tahan tanah terhadap gaya penguibah bentuk, yang dapat berupa pembajakan, pencangkulan dan penggaruan. Menurut Foth ( 1990), tanah yang baik yang mudah diolah adalah tanah yanmg lunak dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.

Konsistensi tanah ditetapkan secara langsung di Laboratorium berdasarkan angka-angka atterberg. Angka Atterberg adalah presentase berat lengas tanah yang diukur pada saat mengalami perubahan konsistensi. Angka Atterberg banyak digunakan banyak digunakan untuk kepentingan teknik sipil daripada untuk pertanian. Berikut ini batas konsistensi berdasarkan perubahan tanah dari kondisi kering ke kondisi basah. (Sutanto,2005) Konsistensi merupakan bagian dari rheologi. Rheologi adalah ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan bentuk (deformation) dan aliran (flow) suatu benda (Baver, 1959). Sifat-sifat rheologi tanah dipelajari dengan menentukan angka-angka Atterberg yaitu angka-angka kadar air tanah pada beberapa macam keadaan. Angka-angka penting ini dalam menentukan tindakan pengolahan tanah, karena pengolahan tanah akan sulit dilakukan kalau tanah terlalu kering ataupun basah. Sifat-sifat tanah yang berhubungan dengan angka Atterberg tersebut adalah: Batas mengalir (liquid limit). Batas mengalir (batas cair) adalah jumah air terbanyak yang dapat ditahan tanah. Batas melekat (batas lekat) adalah kadar air dimana tanah mulai tidak melekat pada benda lain. (Hardjowigeno, 2010) Sedangkan batas gulung (BG) adalah kandungan lengas pada saat keliatan mulai terasa dan tanah dapat dibentuk sesuai dengan yang dikehendaki. Tanah mulai berada pada kondisi semi-padat. Batas berubah warna (BBW) adalah kandungan lengas tanah pada saat pasta mulai kering karena masih ada air kapiler

tetapi udara mulai masuk ke dalam pori yang ditandai dengan perubahan warna secara tegas warna menjadi lebih muda. Tanah memasuki kondisi padat. (Sutanto, 2005) Untuk penyiapan tanah, kisaran jangka olah merupakan hal yang sangat penting. Tanah yang baik harus mudah diolah pada kondisi lengas yang cukup lebar tanpa menimbulkan masalah dalam pengolahan maupun pengaruhnya terhadap tanah yang diolah. Pada tanah suaitani (arable) yang normal, batas gulung (BG) merupakan kandungan lengas tanah mudah diolah, diatas BG tanah menjadi plastis dan mudah mengalami kerusakan struktur. Dalam praktik, tidak mungkn kondisi optimal selalu dapat dipenuhi. Tanah sawah dengan kondisi tananh plastis atau bahakan melumpur karena berada di atas batas cair (BC) tidak menjadi masalah dalam pengolahan karena kondisi spesifik yang harus dipenuhi dlam penyiapan tanah sawah adalah pelumpuran lapisan olah. Dari angka-angka Atterberg dapat ditetapkan: Jangka Olah (JO) : Selisih antara BL dan BG, merupakan kandungan lengas yang menyebabkan tanah mudah diolah. JO tanah lempung < JO tanah pasira. Indeks Plastisitas Persediaan air maksimum : Selisih antara BC dan BG, : Selisih antara BC dan BBW. Nilai PAM merupakan jumlah kandungan lengas bagi tanaman. 1. Batas Cair (BC) Batas mengalir (batas cair) adalah jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah. Kalau air lebih banyak tanah bersama air akan mengalir. Daam hal ini tanah diaduk dulu dengan air sehingga tanah bukan dalam keadaan alami. Hal ini berbeda dengan istilah kapasitas lapang (field capacity) yag menunjukkan jumlah air terbanyak yang daat ditahan tanah dalam keadaan alami atau undisturbed.

Dengan kandungan air yang tinggi ini, tanah dapat melekat pada alat pengolah tanah seperti bajak atau cangkul. Bila air berkurang maka melekatnya tanah paa alat pengolah juga berkurang, sehingga bila kadar air terus berkurang akhirnya tanah tidak dapat melekat lagi. Pada hasil percobaan menggunakan Cassagrande di peroleh data cawan 1 botol timbang kosong mempunyai berat 22,22 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 31,65 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 26,30 gr. Pada cawan 2 botol timbang kosong mempunyai berat 22,96 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 34,65 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 26,88 gr. Pada cawan 3 botol timbang kosong mempunyai berat 22,90 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 30,04 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 27,81 gr. Pada cawan 4 botol timbang kosong mempunyai berat 22,79 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 28,61 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 26,54 gr. Dari hasil percobaan cassagrande (batas cair) diperoleh data kadar air (KA) dengan persamaan y = a + bX, untuk cawan 1 = 131,13 %, cawan 2 = 198,21 %, cawan 3 = 45,41 %, dan cawan 4 = 55,2 % Dengan ketukan masingmasing sebesar 18, 22, 29, dan 37. Pada kadar air 131,13 % sample tanah pada cawan 1 akan mengalami perubahan konsistensi dari plastis menjadi cair. Perubahan ini disebabkan besarnya jaringan gaya antar partikel sedemikian hingga partikel bebas menggelincir antara satu dengan yang lainya. Perbedaan batas cair antara cawan 1, 2, 3 dan 4 karena dipengaruhi tekstur tanah dan bahan organic. Batas cair cara regresi diperoleh dengan memasukkan ketukan 18 (skala log) atau log 18 = 1,26 (x), hasil kali antara x dengan y yaitu 165,22 , dan hasil

kuadrat x tersebut adalah 1,59. Kemudian pada ketukan 22 dengan menggunakan skala log atau log 22 = 1,34 , kemudian hasil kali antara x dengan y yaitu 265,60 , dan hasil kuadrat x tersebut adalah 1,8. Pada ketukan 29 dengan menggunakan skala log atau log 29 = 1,46 , kemudian hasil kali antara x dengan y yaitu 66,29 , dan hasil kuadrat x tersebut adalah 2,13. Pada ketukan 37 dengan menggunakan skala log atau log 37 = 1,34 , kemudian hasil kali antara x dengan y yaitu 86,66 , dan hasil kuadrat x tersebut adalah 2,46. Nilai rata-rata BC untuk cara rumus pada cawan adalah 1,41 sedangkan cara regresi diperoleh BC = 36,52. Tanah tersebut mempunyai harkat terlampaui sangat tinggi, artinya dalam suatu massa tanah terkandung air sebanyak 107,48 %. Sehingga kemampuan menyerap air tinggi. Harkat Angka-angka Atterberg h Harkat Batas Cair Indeks plastisitas …………….…......(% kadar air)…...…………….. Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Ekstrim tinggi <20 20-30 31-45 46-70 71-100 >100 0-5 6-10 11-17 18-30 31-43 >43 1-3 4-8 9-15 16-25 26-40 >40 Jangka olah

Pengaruh kadar air dalam pengolahan tanah Pengolahan tanah seharusnya pada kandungan air tanah yang tepat, yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air yang dapat diabsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor tumbuhan yang berarti.

Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat. (Hardjowigeno, S., 1992). 2. Batas Lekat (BL) Batas melekat adalah kadar air dimana tanah mulai tidak dapat melekat pada benda lain. Bila kadar air lebih rendah dari batas melekat, maka tanah tidak dapat melekat, tetapi bila kadar air lebih tinggi dari bats melekat, maka tana akan mudah melekat pada benda lain. Pengukuran batas lekat (BL) bertujuan untuk menentukan kadar air batas terhadap suatu keadaan tanah yang memperlihatkan sifat plastis. Sampel yang dipergunakan dalam percobaan batas plastis dipersiapkan bersama-sama dengan percobaan batas cair. Berdasarkan perhitungan data dari pengukuran yang diperoleh data cawan Cassagrande 1 botol timbang kosong mempunyai berat 23,43 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 30,02 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 30,78 gr. Pada cawan Cassagrande 2 botol timbang kosong mempunyai berat 23,12 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 35,82 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 30,94 gr.

Pada ulangan pertama menghasilkan kadar air 15,57 %, dan ada ulangan kedua mengahasilkan kadar air 62,40 %. Nilai rata-rata kadar air pada batas gulung yaitu 38,99 %. 3. Batas Gulung (BG) Batas gulung adalah keadaan tanah dimana pada waktu pengolahan, tanah dapat dibongkar dengan mudah, tidak berubah dari struktur aslinya. Batas gulung merupakan kadar air dimana gulungan tanah mulai tidak dapat digulunggulungkan lagi. Kalau digulung-gulungkan tanah akan pecah-pecah ke segala jurusan. Pada kadar air lebih kecil dari batas gulung tanah sukar diolah. Dari hasil pengamatan diperoleh data cawan Cassagrande 1 botol timbang kosong mempunyai berat 22,57 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 23,95 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 23,71 gr. Pada cawan Cassagrande 2 botol timbang kosong mempunyai berat 25,25 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 25,75 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 23,99 gr. Pada ulangan pertama menghasilkan kadar air 21,05 %, dan ada ulangan kedua mengahasilkan kadar air 139,68 %. Nilai rata-rata kadar air pada batas gulung yaitu 80,37 %. 4. Batas Berubah Warna (BBW) Batas berubah warna merupakan tanah yang telah mencapai batas gulung, masih dapat terus kehilangan air, sehingga tanah lambat laun menjadi kering dan pada suatu ketika tanah menjadi berwarna lebih terang. Titik ini dinamakan titik batas ganti warna atau titik ubah Dari hasil pengamatan diperoleh data cawan Cassagrande 1 botol timbang kosong mempunyai berat 22,46 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah

yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 25,24 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 24,57 gr. Pada cawan Cassagrande 2 botol timbang kosong mempunyai berat 22.60 gr, kemudian setelah ditambahkan sampel tanah yang diambil dari bagian tengah cawan dengan menggunakan colet mempunyai berat 25,14 gr, dan setelah dioven beratnya menjadi 24,49 gr. Pada ulangan pertama menghasilkan kadar air 31,75 %, dan ada ulangan kedua mengahasilkan kadar air 34,39 %. Nilai rata-rata kadar air pada batas gulung yaitu 33,07 %.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Dari percoban-percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa nilai persamaan regresi pada tanah ultisol mempunyai Batas Cair (BC) 36,52, Batas Lekat (BL) 38,99, Batas Gulung (BG) 80,37 dan Batas Berubah Warna (BBW) 33,07. Adapun untuk hasil penimbangan tanah-tanah yang telah dioven pada percobaan Batas Lekat (BL), Batas Gulung (BG) dan Batas Berubah Warna (BBW) berturut-turut yakni 30,78 gram, 23,71 gram dan 24,57 gram pada ulangan pertama dan 30,94 gram, 23,99 gram dan 24,49 gram pada ulangan kedua.

2. Saran Diharapkan kepada seluruh praktikan untuk lebih teliti dalam

melaksanakan praktikum ini dan jangan menyepelekannya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2010/04/kesuburan-05.pdf. 16 Oktober 2010. Setiadi Ari. 2011. Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. http://praktikum-dasar-dasar-ilmu-tanahacara.html. Diakses 24 Maret 2012. Edu, Deon. 2011. Praktikum Mektan. http://deonedu.blogspot.com/2011/02/bab-i-pendahuluantanah-merupakan-suatu.html. Diakses 24 Maret 2012. Foth, Henry.D. 1990. Fundamentals Of Soil Science. John Wiley and Sons. New York. Hardjowigeno. S., 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta. Rawls, W. J dan Y.A Parchepsky. 2002. Soil Consistence And Structure As Predictors Of Water Retention. Soil Science Journal 66: 115-118 Sutanto, Racman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep Dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta.