Basil Tahan Asam : Bakteri penyebab TBC, bersifat aerob, berbentuk batang, dan jika telah diwarnai bakteri

ini tahan terhadap peluntur warna (dekolarisasi) asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan asam. Malaise : Malaise is a symptom that can occur with almost any significant health condition. It may start slowly or quickly, depending on the type of disease. Mailaise can be accompanied by a feeling of not having enough energy to accomplish usual activities. (Malaise adalah gejala yang dapat terjadi dengan hampir semua kondisi kesehatan yang signifikan. Ini mungkin mulai perlahan-lahan atau cepat, tergantung pada jenis penyakit. Mailaise dapat disertai dengan perasaan tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan kegiatan yang biasa.) Promotif : Preventif : upaya preventif merupakanusaha pencegahan terhadap timbulnya masalah.Upaya Preventif juga dapat di maksud sebagai suatu kegiatanyang dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah untuk menjagasesuatu hal agar tidak meluas atau timbul. Penyakit Infeksi : penyakit yang disebabkan karena masuknya bibit penyakit, menular dari orang yang satu ke yang lain. Home visit : Home Visite merupakan program kegiatan kunjungan rumah yang dilakukan kepada pasien yang sudah pulang rawat inap dari RS

-

Pneumonia Sifilis

2. Tujuan home visit •Memantau dan menemukan sedini mungkin keluhan dan masalah pasien setelah menjalani rawat inap dirumah sakit •Memberi konseling terhadap pasien akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelah menjalani rawat inap. •Mendekatkan hubungan pasien dengan petugas kesehatan umumnya

3. Apakah dalam melaksanakan home visit, seorang dokter memiliki jadwal tertentu? Ya, Untuk dapat mencapai seluruh target maka kunjungan dilakukan setiap 3 kali dalam 1 minggu.

4. Apa penyebab TBC? Mycobacterium Tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. 5. Gejala penyakit TBC? Gejala utama Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih. Gejala tambahan, yang sering dijumpai: 1

STEP 2 1. Macam penyakit infeksi a. Disebabkan TBC Tetanus Diare

ginjal dan sebagainya. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). 6. nafsu makan menurun. 2 hari kemudian dilakukan pengamatan pada daerah suntikan. 2 . cairan tubuh atau jaringan yang terinfeksi.Pemeriksaan untuk menunjang diagnosis penyakit TBC Yang seringkali merupakan petunjuk awal dari tuberkulosis adalah foto rontgen dada. 10. dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Pemeriksaan dahak.paru. dan lain-lain. tulang. 8. tulang. saluran pencernaan. meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru. Penderita AIDS memiliki peluang sebesar 50% utnuk menderita infeksi aktif dalam waktu 2 bulan. maka hasilnya adalah positif.• • • Dahak bercampur darah. kelenjar getah bening. maka kemungkinan meninggal pada penderita AIDS dan tuberkulosis dalam waktu 2 bulan adalah sebesar 50%. Bronkiectasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. Jika bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik. berat badan turun. Bagaimana pengobatan penyakit TBC? Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau 7. Rontgen juga bisa menunjukkan efusi pleura atau pembesaran jantung (perikarditis). jika terjadi pembengkakand an kemerahan. otak. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. Dengan sebuah jarum diambil contoh cairan dari dada. Mungkin perlu dilakukan biopsi untuk memperoleh contoh jaringanibiotik yang terinfeksi. disuntikkan sejumlah kecil protein yang berasal dari bakteri tuberkulosis ke dalam lapisan kulit (biasanya di lengan). Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah). Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru. Bagaimana cara penularan penyakit TBC? Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk. perut. • Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. Penyakit ini tampak sebagai daerah putih yang bentuknya tidak teratur dengan latar belakang hitam. Badan lemah. Komplikasi yang menyertai penyakit TBC? Komplikasi Pada Penderita TBC Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut: • • • • 9. rasa kurang enak badan (malaise). sendi atau sekitar jantung. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. kelenjar getah bening. demam meriang lebih dari sebulan. Faktor yang mempengaruhi perkembangan TBC?  Suku : tuberkulosis berkembang lebih cepat pada orang kulit hitam dan penduduk asli Amerika  Sistem kekebalan : infeksi aktif lebih sering dan lebih cepat terjadi pada penderita AIDS. Batuk darah Sesak nafas dan rasa nyeri dada. Tes kulit tuberkulin. 11. persendian. ginjal.

Pencegahan (profilaksis) primer Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+). disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. 2. Obat sekunder : Exionamid.Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi. Kapreomisin dan Kanamisin. ofloxacin. 2. Dosis obat antituberkulosis (OAT) Obat INH Rifampisin Pirazinamid Etambutol Streptomisin Dosis harian (mg/kgbb/hari) 5-15 (maks 300 mg) 10-20 (maks. tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+). Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia – WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : o Sejak 1995. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir. ada riwayat kontak.5 g) Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Selama 2 bulan minum obat INH. 1 g) Dosis 2x/minggu (mg/kgbb/hari) Dosis 3x/minggu (mg/kgbb/hari) 15-40 (maks. radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10 mg/kgbb/hari. rifampisin. dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Indonesia adalah negara high burden. Pengobatan TBC pada orang dewasa • o Obat primer : INH (isoniazid). maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan. dan etambutol setiap hari (tahap intensif). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin. 2. Pirazinamid. 1. dan mungkin menimbulkan kekebalan obat. program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional. pirazinamid. 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari. Streptomisin. Dalam program ini. Sampai dengan tahun 2001. 3 g) 15-25 (maks. 600 mg) 50-70 (maks. 4 g) 50 (maks.terutama pada fase awal pengobatan. 2. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan. sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif. prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. 600 mg) 15-40 (maks. Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Amikasin. Pencegahan (profilaksis) sekunder Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC. Rifampisin. levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan).5 g) 25-40 (maks. 900 mg) 15-40 (maks. Sikloserin. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari. tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada. 2 g) 15-25 (maks. 1. Berdasarkan data dari beberapa wilayah.5 g) 15-40 (maks. 1.5 g) 15-30 (maks. INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-). dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat. dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali 3 . 600 mg) 15-20 (maks. Paraaminosalisilat. 900 mg) 10-20 (maks. Etambutol.5 g) 25-40 (maks.

pelebaran vena leher. yaitu: 1. Bagaimana upaya promotif penyakit TBC? 13. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3 Diberikan kepada: o Penderita kambuh. sakit kepala. o Penderita gagal terapi. nyeri seperti apendisitis Nyeri ketika berkemih Demam. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama. Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan. 2. kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). o Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.• • dalam seminggu (tahap lanjutan). INH Rifampisin Dosis prednison : 10 mg/kgbb/hari : 15 mg/kgbb/hari : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. o Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat. kerusakan otak yg menyebabkan terjadinya koma Demam. kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). 60 mg) 12. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama. ke seluruh tubuh Bagian Yg Terinfeksi Rongga perut Kandung kemih Otak Perikardium Persendian Ginjal Organ reproduksi pria Organ reproduksi wanita Tulang belakang Gejala atau komplikasi Lelah. dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb. nyeri tekan ringan. Apakah TBC hanya di paru-paru? TBC adalah salah satu penyakit yang dapat menyebar luas. Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus: TB tidak berat INH Rifampisin : 5 mg/kgbb/hari : 10 mg/kgbb/hari TB berat (milier dan meningitis TBC) 4 . Diberikan kepada: o Penderita baru TBC paru BTA positif. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Diberikan kepada: o Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif. penurunan kesadaran. mual. infeksi di sekitar ginjal Benjolan di dalam kantung zakar Kemandulan Nyeri. sesak nafas Gejala yg menyerupai artritis Kerusakan gijal. kollaps tulang belakang & kelumpuhan tungkai Pengobatan TBC pada anak Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan.

Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TBC. dapat diperkirakan bahwa pada daerah dengan ARTI 1%. akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga sehingga rentan terhadap penyakit termasuk TB-Paru. baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Untuk terpapar penyakit TBC pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : status sosial ekonomi. jenis kelamin. protein. berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk. status gizi. sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Umur.Bagaimana Risiko Penularan penyakit TBC Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %. Penyakit TB-Paru cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk dapat memudahkan penularan TBC. hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TBC. dapat disimpulkan bahwa pada kaum perempuan lebih banyak terjadi kematian yang disebabkan oleh TB-Paru dibandingkan dengan akibat proses kehamilan dan persalinan. maka diantara 100. Disini sangat erat dengan keadaan rumah. 5 . 3. vitamin. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TBC adalah daya tahan tubuh yang rendah. Keadaan ini merupakan faktor penting yang berpengaruh dinegara miskin. diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS. Faktor Sosial Ekonomi. Dewasa ini dengan terjaidnya transisi demografi menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. termasuk penyakit TB-Paru. umur. zat besi dan lain-lain. Jenis Kelamin. kepadatan hunian. sehingga lebih mudah terpapar dengan agent penyebab TB-Paru.14. karena pendapatan yang kecil membuat orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat-syarat kesehatan. Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori. di mana 50 penderita adalah BTA positif. Pada jenis kelamin laki-laki penyakit ini lebih tinggi karena merokok tembakau dan minum alkohol sehingga dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh. Pendapatan keluarga sangat erat juga dengan penularan TBC. Penyakit TB-Paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usaia produktif (15 – 50) tahun. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun. lingkungan perumahan.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1%. dan faktor toksis untuk lebih jelasnya dapat kita jelaskan seperti uraian dibawah ini : 1. 2. Menurut WHO. Status Gizi. sedikitnya dalam periode setahun ada sekitar 1 juta perempuan yang meninggal akibat TB-Paru. Dari keterangan tersebut di atas. 4.