Triage Tugas dari petugas triage (TO (triage officer) adalah untuk menentukan prioritas perawatan dan evakuasi dari

para korban yang jatuh dari lokasi terjadinya bencana. Dengan beberapa perkecualian pada lokasi bencana, sebenarnya TO tidak akan merawat korban yang jatuh karena bencana yang terjadi. Sebagai hasilnya, dia dapat menjalankan tugasnya untuk mengambil keputusan tanpa dipengaruhi faktor emosional dan juga operasional. TO yang ideal adalah seseorang yang sudah dikenal, pemimpin senior dalam suatu EMS dengan pengetahuan yang cukup luas baik dalam hal kedokteran maupun juga administrasi dari bencana. Dokter merupakan seorang TO yang buruk karena mereka memiliki kecenderungan untuk melakukan intervensi dimana mereka harusnya “hanya memilah” para korban yang jatuh, sehingga sebagai hasilnya akan dihasilkan suatu penanganan korban yang buruk dan gangguan dari aliran korban ke rumah sakit atau ke tempat evakuasi. Sebaliknya, seorang paramedic yang senior akan menjadi seorang TO yang baik, karema mereka memiliki kualitas yang seperti telah disebutkan diatas. Terdapat beberapa sistem triage yang ada; dengan sedikit memperluas daerah cakupan yang ada, hanya sedikit terdapat pembatasan yang terdapat pada sistem triage. Pola triage yang paling sering dipergunakan adalah rencana kerja START (Simple Triage and Rapid Treatment). Sistem START menggunakan denyut nadi, respirasi, dan status mental untuk mengkategorikan para korban dengan beberapa kategori dengan segera, tertunda, atau dapat ditunda. Modifikasi dari sistem ini sering dibuat untuk menilai mereka yang terluka akan tetapi masih dapat berjalan. Masuknya bencana nuklir, biologis, atau kimia sebagai suatu bentuk dari bencana memberikan suatu tantangan yang unik dari sistem triage yang ada.

Kondisi emergensi (darurat)     Ketika terdapat peningkatan risiko kehilangan nyawa Kehilangan anggota gerak Kehilangan penglihatan Ditemukan kecacatan IF WAITING IS REQUIRED FOR A PATIENT TO SEE A PHYSICIAN

Urgent  pasien yang berada di bagian emergensi dalam 15-20 menit tanpa penurunan kondisi tubuhnya namun harus dievaluasi selama periode tertentu. Non Urgent  pasien dapat menunggu untuk periode yang lama tanpa timbul komplikasi karena kondisinya atau secara dapat dipisahkan untuk mencari pertolongan di klinik atau pusat pelayanan lain.

Kode warna dalam Triage

Merah  mengalami cedera serius, mengancam nyawa, memerlukan resusitasi atau pembedahan agar tetap dapat bertahan hidup Kuning  mengalami cedera serius, namun tidak mengancam nyawa, penanganan yang terlambat tidak akan menyebabkan kematian. Hijau  mengalami cedera minor Hitam  korban telah meninggal atau datang terlambat

Kelas I-IV (Kasus Bencana) Kelas I (Emergensi)  kondisi kritis yang menyebabkan kematian, contoh : kegagalan pernapasan karema sumbatan jalan napas dan syok Kelas II (Urgensi)  membutuhkan penanganan waktu 20 menit – 2 jam, contoh : fraktur terbuka, uka di dada Kelas III (Non Urgensi)  penanganan dapat dilakukan lebih dari 2 jam atau lebih, contoh : cedera minor ketika korban masih dapat berjalan, fraktur tertutup, sprain, strain. Kelas IV  korban yang meninggal atau prognosis quo ad vitam ad malam, seperti pada kasus cedera kepala berat atau luka bakar derajat III yang mengenai hampir seluruh tubuh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful