Kuliah Umum ekonomi-syariah.Com Copyright © 2008 ekonomi-syariah.

Com

Transaksi Jual Beli Dalam Islam
Septiana Ambarwati
Septiana_a@yahoo.com

Lisensi Dokumen: Copyright © 2008 ekonomi-syariah.com Seluruh dokumen di ekonomi-syariah.com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan pernyataan copyright yang disertakan dalam setiap dokumen. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali mendapatkan ijin terlebih dahulu dari ekonomi-syariah.com.

DEFINISI JUAL BELI Pengertian jual beli secara etimologis adalah menukar harta dengan harta1. Sedangkan secara terminologis berarti transaksi penukaran selain dengan fasilitas dan kenikmatan. Sengaja diberi pengecualian ”fasilitas” dan ”kenikmatan”, agar tidak termasuk di dalamnya penyewaan dan menikah (Al-Mushlih, 2004, hlm. 90). Menurut ulama Hanafiyah, jual-beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan). Sedangkan menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Majmu’, didefinisikan sebagai pertukaran harta dengan harta, untuk saling menjadikan milik. DALIL HUKUM JUAL BELI 1. Al-Qur’an Dalil hukum jual beli di dalam Al-Qur’an, diantaranya terdapat pada ayat-ayat berikut ini:

‫وأﺣﻞ اﷲ اﻟﺒﻴﻊ وﺣﺮم اﻟﺮ َﺎ‬ ‫ََ َ ﱠ ُ ْ َ ْ َ َ َ ﱠ َ ﱢﺑ‬
“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al-Baqarah:275)

1

Jual beli adalah dua kata yang berlawanan artinya, namun masing-masing sering digunakan untuk arti kata yang lain secara bergantian. Oleh sebab itu, masing-masing dalam akad transaksi disebut sebagai pembeli dan penjual. Rosulullah SAW bersabda,”Dua orang yang berjual-beli memiliki hak untuk menentukan pilihan, sebelum mereka berpindah dari lokasi jual beli.” Akan tetapi bila disebutkan secara umum, yang terbetik dalam hak adalah kata penjual diperuntukkan kepada orang yang mengeluarkan barang dagangan. Sementara pembeli adalah orang yang mengeluarkan pembayaran. Penjual adalah orang yang mengeluarkan barang miliknya. Sementara pembeli adalah orang yang menjadikan barang itu miliknya dengan kompensasi pembayaran.

• ”Jual beli harus dipastikan saling ridla. hlm. Beliau menjawab. As-Sunah Di dalam As-sunah.”Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur” (HR. Diantara klasifikasi tersebut adalah: 1. tanpa bantuan orang lain. disyariatkannya jual beli terdapat pada hadits-hadits berikut: • Rasulullah SAW ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik. harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai. bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu. Bajjar.‫وأﺷﻬ ُوا إ َا ﺗ َﺎﻳﻌﺘﻢ‬ ْ ُ ْ َ ‫ََ ْ ِﺪ ِذ َﺒ‬ ”Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli” (QS Al-Baqarah:282) ‫إﻻ أن ﺗ ُﻮن ﺗ َﺎرة ﻋﻦ ﺗ َاض ﱢﻨﻜﻢ‬ ْ ُ ‫ِ ﱠ َ ْ َﻜ َ ِﺠ َ ً َ َﺮ ٍ ﻣ‬ ”Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka sama suka” (QS An-Nisa’:29) ‫ﻳﺮ ُﻮن ﺗ َﺎرة ﱠﻦ ﺗ ُﻮر‬ َ ‫َ ْﺟ َ ِﺠ َ ً ﻟ َﺒ‬ ”Mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi” (QS Al-Fathir:29) 2. KLASIFIKASI JUAL BELI2 Jual beli diklasifikasikan dalam banyak pembagian dengan sudut pandang yang berbeda-beda. 2004. Maksud mabrur dalam hadits di atas adalah jual beli yang terhindar dari tipumenipu dan merugikan orang lain. 90-91 .” (HR. Hakim menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi’). Namun demikian. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Obyek Dagangan 2 Al-Mushlih. Ijma’ Dalil kebolehan jual beli menurut Ijma’ ulama adalah: Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mempu mencukupi kebutuhan dirinya. Baihaqi dan Ibnu Majah) 3.

c. b. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Cara Standarisasi Harga a. c. Dengan dasar jual beli ini. Jual beli wadhi’ah. Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran secara langsung. lalu si penjual akan menjual dengan harga tertinggi dari para pembeli tersebut. Jual beli muzayadah (lelang). yaitu menukar uang dengan barang. . yaitu menukar barang dengan barang. Kebalikan dari jual beli lelang ini adalah jual beli munaqadhah (obral). 2. c. baik dengan ucapan maupun perbuatan. tanpa keuntungan dan kerugian. Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran sama-sama tertunda. b. Yakni jual beli dengan menjual barang dalam harga modal. Jual beli ash-sharf atau money changer. Yakni jual beli dengan modal dan keuntungan yang diketahui. RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI Dalam menetapkan rukun jual beli. Jual beli umum. b. 3. Jual beli dengan pembayaran tertunda. jenis jual beli tersebut terbagi lagi menjadi tiga jenis: Jual beli murabahah. Jual beli dengan penyerahan barang tertunda. Jual beli amanah. Yakni jual beli dimana penjual memberitahukan harga modal dari barang jualannya. Jual beli bargainal (tawar-menawar). kemudian si pembeli akan membeli dengan harga termurah yang mereka tawarkan. Yakni jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya. Yakni jual beli dengan harga di bawah modal dan jumlah kerugian yang diketahui. lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah pembayaran dari pembeli sebelumnya. rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridla. lalu para penjual berlomba menawarkan dagangannya. Jual beli tauliyah. Jual beli muqayadhah atau barter. di antara ulama terjadi perbedaan pendapat. Yakni jual beli dimana penjual tidak mmeberitahukan besarnya modal dari barang yang dijualnya. Menurut Ulama Hanafiyah. d. Yakni si pembeli menawarkan diri untuk membeli barang dengan kriteria tertentu.a. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Cara Pembayaran a. yaitu penukaran uang dengan uang.

yakni dibayar terlebih dahulu tetapi barang diserahterimakan belakangan. Tidak sah memperjualbelikan barang najis atau barang haram seperti darah. Karena ada dalil yang menjelaskan disyariatkannya jual beli ini. Sedangkan madhamin adalah anak yang masih dalam tulang dada hewan betina. Syarat jual beli yang berkaitan dengan pihak-pihak pelaku: Pihak-pihak pelaku harus memiliki kompetensi dalam melakukan aktivitas itu. bermanfaat. Juga tidak sah menjual barang yang belum menjadi hak milik. burung yang masih terbang di udara dan sejenisnya. madhamin atau menjual ikan yang masih dalam air. Obyek jual beli tersebut harus suci. bangkai dan daging babi. orang gila atau orang yang dipaksa. Karena benda-benda tersebut menurut syariat tidak dapat digunakan. melainkan dalam jual beli as-salm. bai’ (penjual) b. bisa diserahterimakan. mustari (pembeli) c. Tidak sah juga menjual barang yang tidak ada atau yang berada di luar kemampuan penjual untuk menyerahkannya seperti menjual malaqih. . Yakni sejenis jual beli dengan menjual barang yang digambarkan kriterianya secara jelas dalam kepemilikan. ma’qud ’alaih (benda atau barang) Al-Mushlih menguraikan tentang syarat jual beli yang berkaitan dengan pihak-pihak pelaku serta syarat yang berkaitan dengan obyek jual belinya. Di antara bangkai. Malaqih adalah anak yang masih dalam tulang sulbi pejantan. karena ada dalil yang mengindikasikan demikian. shighat (ijab dan qabul) d. tidak ada yang dikecualikan selain ikan dan belalang. Dari jenis darah juga tidak ada yang dikecualikan selain hati dan limpa. Syarat jual beli yang berkaitan dengan obyek jual belinya: a. Tidak ada pengecualian. dan merupakan milik penuh salah satu pihak. Tidak sah transaksi yang dilakukan anak kecil yang belum nalar. dibayar dimuka.Adapun rukun jual beli menurut jumhur ulama yaitu: a. karena ada dalil yang menunjukkan larangan terhadap itu. yakni dalam kondisi yang sudah akil baligh serta berkemampuan memilih.

karena hal itu dilarang. Pengertian khiyar menurut ulama fiqh adalah: ”Suatu keadaan yang menyebabkan akid memiliki hak untuk memutuskan akadnya. kemudian ia mengambilnya dari penjual dan memberikan uangnya sebagai pembayaran. Ada perbedaan pendapat tentang jual beli jenis ini. para ulama fiqh berbeda pendapat. 156 . menjual barang milik orang lain. yang benar adalah tergantung dari izin pemilik barang.5 KHIYAR DALAM JUAL BELI Akad yang sempurna harus terhindar dari khiyar. 3 4 Al-Jaziri. hlm.t. atau hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta’yin”. Tidak sah menjual barang untuk jangka waktu tertentu yang diketahui atau tidak diketahui. yakni menjadikan atau membatalkannya jika khiyar tersebut berupa khiyar syarat. Namun. hlm. Mengetahui obyek yang diperjualbelikan dan juga pembayarannya. ’aib atau ru’yah. padahal tidak ada pemberian surat kuasa dari pemilik barang. Dalam masalah sighat (ijab dan qabul). Tidak memberikan batasan waktu. yang memungkinkan aqid (orang yang berakad) membatalkannya.:128 5 Al-Jaziri. Seperti orang yang menjual rumahnya kepada orang lain dengan syarat apabila sudah dibayar.cit. agar tidak terkena faktor ”ketidaktahuan” yang bisa termasuk ”menjual kucing dalam karung”. 155 Al-Qurthubi.op. maka jual beli itu dibatalkan.Adapun jual beli fudhuliy yakni orang yang bukan pemilik barang juga bukan orang yang diberi kuasa. diantaranya berikut ini: Menurut ulama Syafi’iyah. b.4 Pendapat ketiga ialah penyampaian akad dengan perbuatan atau disebut juga dengan aqad bi al-mu’athah yaitu: mengambil atau memberikan dengan tanpa perkataan (ijab qabul). c.3 Imam Malik berpendapat bahwa jual beli itu telah sah dan dapat dilakukan secara dipahami saja. tidak sah akad jual beli kecuali dengan sighat (ijab Qabul) yang diucapkan. Ini disebut dengan ”jual beli pelunasan (bai’ wafa’)”.. Fiqh ’ala Madzahib al-arba’ah. t. sebagaimana seseorang membeli sesuatu yang telah diketahui harganya.

Bila keduanya telah berpisah dari tempat akad tersebut. dengan catatan ia belum melihatnya ketika berlangsung akad. khiyar majelis boleh dilakukan dalam berbagai jual beli. Khiyar Majelis. BADAN PERANTARA (SAMSARAH)7 6 Suhendi. Rasulullah bersabda: Kamu boleh khiyar pada setiap benda yang telah dibeli selama tiga hari tiga malam (HR. didapatinya pada diri budak itu kecacatan. Khiyar Syarat. yaitu hak pilih yang dimiliki oleh pembeli untuk menentukan sejumlah benda sejenis dan sama harganya. Sedangkan Imam Syafi’i membantah keberadaan khiyar ru’yah ini. karena menurutnya jual beli terhadap barang yang ghaib sejak semula sudah tidak shah. Khiyar dibagi menjadi: 1. bahwa seseorang membeli budak. yaitu hak pilih pembeli untuk membatalkan atau melangsungkan akad ketika ia melihat barang yang akan dujual. kemudian budak tersebut disuruh berdiri di dekatnya. Hanabilah dan Zhahiriyah dalam kasus jual beli benda yang ghaib atau belum pernah diperiksa oleh pembeli. Jadi. Malikiyah.6 2. 83 . Khiyar ’Aib. yaitu penjualan yang di dalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun pembeli. artinya dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli. lalu diadukannya kepada Rasulullah saw. Seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Aisyah ra. Khiyar Ru’yah.Dalam jual beli. Keabsahan khiyar ini menurut Hanafiyah harus memenuhi 3 syarat yaitu: • • • Maksimal berlaku pada tiga pilihan obyek Barang yang dibeli setara dan seharga Tenggang waktu khiyar ini tidak lebih dari 3 hari 5. maka budak itu dikembalikan kepada sang penjual. menurut agama Islam dibolehkan memilih. 3. akad jual-beli tersebut telah terjadi ketika barang tersebut belum dilihat oleh pembeli. Konsep khiyar ini dikemukakan oleh Fuqaha Hanafiyah. 4. Fiqh Muamalah. Baihaqi). artinya antara penjual dan pembeli boleh memilih akan melanjutkan jual beli atau membatalkannya.. apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Rasulullah saw bersabda: penjual dan pembeli boleh khiyar selama belum berpisah (HR Bukhari dan Muslim). Khiyar Ta’yin. hlm. Selama keduanya masih ada dalam satu tempat (majelis). maka khiyar majelis tidak berlaku lagi.

baik atas namanya sendiri maupun atas nama perusahaan yang memiliki barang tersebut. dan b) kelebihan barang setelah dijual menurut harga yang telah ditentukan oleh pemilik barang tersebut.”Ada. serta cangkir untuk meminum air. yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk. Dalam satu riwayat dijelaskan: ”Dari Ibnu Abbas ra. namun mereka bertugas sebagai badan perantara dalam menjualkan barang-barang dagangan. dikecualikan pada jenis jual beli pelelangan ini.. Dua potong kain. Pelelangan boleh dilakukan berdasarkan ijma’/konsensus kaum muslimin. lalu si penjual akan menjual dengan harga tertinggi dari para pembeli tersebut. perdagangan secara simsar diperbolehkan asal dalam pelaksanaannya tidak terjadi penipuan dari satu pihak atas pihak yang lain. Beliau bertanya kepadanya. 2005. komisioner dan lain-lain.”Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?” Lelaki itu menjawab. Dalam agama.” Lelaki itu datang membawanya. hlm. yaitu seseorang yang menjualkan barang orang lain atas dasar bahwa orang itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya. ”Kelebihan” yang dinyatakan dalam keterangan di atas adalah : a) harga yang lebih dari harga yang telah ditetapkan penjual barang itu. tergantung persyaratan-persyaratan atau ketentuan-ketentuan menurut hukum dagang yang berlaku. Rosulullah saw 7 Suhendi.Badan perantara dalam jual beli disebut juga simsar atau samsarah. Walaupun namanya simsar. lebih dari penjualan itu adalah untuk engkau” (Riwayat Bukhari). 85-86 . LELANG (MUZAYADAH) Jual beli muzayadah (lelang) adalah jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya. makelar atau agen. yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang datang menemui Nabi saw dan ia meminta sesuatu kepada beliau. lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah pembayaran dari pembeli sebelumnya.” Beliau berkata. kalau seseorang berkata juallah kain ini dengan harga sekian. Dari larangan terhadap penawaran barang yang masih dalam penawaran orang lain.”Kalau begitu bawalah kedua barang itu kepadaku. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya jual beli muzayadah (lelang) adalah: • Hadits Anas bin Malik ra. Orang yang menjadi simsar dinamakan pula komisioner. dalam perkara simsar ia berkata tidak apa-apa.

lalu beliau berkata. 8 Al-Mushlih. Atau karena si penjual kembali memiliki ‘ain (benda) yang dia jual. Lalu Nabi berkata lagi. bai’ al-‘inah diartikan dengan jual beli manipulatif untuk digunakan alasan peminjaman uang yang dibayar lebih dari jumlahnya. JUAL BELI KHUSUS BAI’ AL-’INAH8 ’Inah secara bahasa artinya adalah pinjaman. Nabi menggunakan kapak itu untuk membelah kayu dengan tangan beliau sendiri. Beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut.”Siapa yang mau membeli barang ini?” Salah seorang sahabat beliau menjawab. aku bersedia membelinya seharga satu dirham. lalu bawa kapak itu ke hadapanku. Atau menjual barang dengan pembayaran tertunda. 2004.” Beliau bertanya lagi.” Maka beliau memberikan kedua barang itu kepadanya.”Gunakanlah yang satu dirham untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu. siapa yang berani menambahi? Maka diberi dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau. Lalu gunakan yang satu dirham lagi untuk membeli kapak. Jual beli ini disebut ‘inah karena si pemilik barang bukan menginginkan menjual barang. Dikatakan misalnya: si fulan melakukan ‘ain. Yakni dengan cara menjual barang dengan pembayaran tertunda. Rasulullah saw menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata siapa yang mau membeli pelana dan mangkok ini? Seorang laki-laki menyahut. tetapi yang diinginkannya adalah ‘ain (uang). lalu membelinya kembali secara kontan dengan harga lebih murah.bertanya. hlm.”Pergi lalu carilah kayu bakar. Beliau berkata.” Lelaki itu pun pergi dan kembali lagi dengan membawa sebilah kapak. lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki tadi (HR Tirmidzi). • Dalam hadits yang lain juga terdapat keterangan tentang kebolehan penjualan dengan cara lelang ini.”Ada yang mau membelinya dengan harga yang lebih mahal?” Beliau menawarkannya hingga dua atau tiga kali. lalu membelinya lagi dengan harga lebih murah dari harga penjualan. Seperti hadits dari Anas ra. yakni membeli sesuatu dengan tertunda atau berhutang. Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau yang lain berkata.”Saya mau membelinya dengan satu dirham. lalu juallah. Jangan perlihatkan dirimu selama lima belas hari!” Lelaki itu pun pergi mencari kayu bakar dan menjualnya. Menurut terminologi ilmu fiqh.”Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.. 125-130 . dia berkata.

lalu terus berhenti (dari mengambil riba).”Allah berfirman: Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya. Di antara dalil-dalil mereka dalam menetapkan keharamannya yaitu: • Riwayat Atha dari Ibnu Umar ra. Lihat Sunah al-Baihaqi V:316 dan juga Nashbur Raayah IV:16 dan juga asy-Syarhul Kabir terhadap al-Muqni’ IV:54.Para ulama bersepakat bahwa hukum bai’ al-‘inah ini diharamkan bila terjadi melalui kesepakatan dan persetujuan bersama dalam perjanjian pertama untuk memasukkan perjanjian kedua ke dalamnya. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi V:325. Katakan kepada Zaid. bahwa ia menceritakan “Aku pernah mendengar Rosulullah saw bersabda: Kalau manusia sudah menjadi kikir gara-gara uang (dinar dan dirham). Demikian dinyatakan oleh Abu Ahmad dan al-Hakim. Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Iyyasy. dari istrinya Aliyyah bahwa ia pernah menemui Aisyah ra. Malikiyah. bahwa ia telah membatalkan pahala jihad dan hajinya bersama Rosulullah. bersama dengan Ummu Walad Zaid bin Arqam serta seorang wanita lain. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Karena berjual beli dengan sistem ‘inah merupakan salah satu sebab turunnya bencana. • Dalil lain tentang larangan bai’ al-‘inah yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam adDuruquthni dan al-Baihaqi dari Abu Ishaq. mengikuti ekor-ekor sapi dan meninggalkan jihad fi sabilillah. dan bencana itu tidak akan dihilangkan sebelum mereka kembali kepada agama mereka” (HR Ahmad dalam Musnadnya)9. Namun dalam sanadnya terdapat Atha al-Khurasani ia perawi yang lemah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah. Namun para ulama berbeda pendapat bila tidak terjadi kesepakatan sebelumnya.”Aku pernah menjual budak kepada Zaid seharga delapan ratus dirham dengan pembayaran tertunda.” (Al-Baqarah:275). Ummu Walad Zaid berkata.. Indikasi hadits terhadap haramnya jual beli ini amat jelas. 9 Diriwayatkan oleh Abu Daud 3456. Indikasi hadits di atas terhadap pelarangan bai’ al-‘inah sangat jelas. . kecuali kalau ia bertaubat!” wanita itu berkata. yang juga tidak diketahui identitasnya. Syakir) Ibnu Iyyasy ini juga lemah. sudah mulai melakukan jual beli ‘inah.”Bagaimana kalau yang kuambil hanya modalku saja?” Aisyah menjawab.”Sungguh tidak bagus cara engkau berjualan dan cara engkau membeli. ia menjadikan riwayat ini dari Atha bin Abi Rabbah. Ia meriwayatkan dari Ishaq bin Usaid al-Khurasani. Di sini ada dua pendapat: Pendapat pertama: haram. pasti Allah akan menurunkan bencana kepada mereka.” Aisyah berkata. dan Hanabilah. dari al-A’masy. Dan aku membelinya kembali seharga enam ratus dirham kontan. Dikeluarkan oleh Ahmad (4875 cet.

dan akan kubayar kontan tiga puluh dirham.10 Pendapat kedua.” • Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi bahwa ada seorang lelaki yang menjual unta kepada orang lain dengan pembayaran tertunda).” Apabila seorang sahabat Nabi mengatakan.” Mereka menanyakan persoalan itu kepada Syuraih.” • Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik ketika ditanya tentang jual beli ‘inah—yakni dengan sutera sebagai mediatornya—beliau menjawab. Ibnu Abbas menjawab. lalu ia berkata. namun beliau menganngap jual beli itu sah-sah saja. bahwa ia pernah ditanya tentang seorang lelaki yang menjual sehelai sutera kepada orang lain seharga seratus dirham. Itu termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya.• Dalam riwayat yang lain juga diuraikan tentang keharaman jenis jual beli ini..”.”Sesungguhnya Allah tidak mungkin dikelabuhi.diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Pemilik pelana baru yang membeli pelana itu darinya. berencana menjualnya kembali. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. Abu Yusuf dan azh-Zhahiriyah.. yakni yang berasal dari Nabi saw langsung. boleh. dan beliau menganggap hal itu tidak menjadi masalah. Kedua hadits yang membolehkan bai’ al-‘inah dari Ibnu Umar dan Syuraih tersebut bertentangan dengan keempat hadits sebelumnya yang melarang jual beli ‘inah. ia juga akan menjualnya dengan harga itu. Kemudia ia membelinya kembali seharga lima puluh dirham saja secara kontan.” maka hukumnya seperti hadits marfu’. 10 Tahdzib as-Sunan 5/101 . namun mediatornya adalah sehelai sutera.” demikian juga jika dia mengatakan . Persoalan itu ditanyakan kepada Ibnu Umar.”Berikan kembali kepadaku untamu itu. Orang yang menjual pelana tadi mau membelinya dengan harga yang lebih murah. Dalil yang digunakan sebagai dasar yaitu: • Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanadnya bahwa ada seorang lelaki yang pernah menjual pelana kuda namun tidak mengambil langsung bayarannya. atau bahkan lebih murah lagi.”Bisa jadi kalau ia menjualnya kepada orang lain. yang salah satu perawinya juga terdapat Ibnu Umar.”Itu artinya menjual dirham dengan dirham secara berbunga..”Diharamkan oleh Allah dan RasulNya. Ibnu Umar berkata.

yakni mengembalikan barangnya jika si pembeli mengembalikan uang bayarannya. Dalam bai’ wafa’ ini terkandung berbagai macam improvisasi hukum jual beli dan hukum pegadaian. karena barang dagangan di sini menjadi semacam amanah di tangan pembeli yang akan dikembalikan kepada penjual ketika si penjual mengembalikan uang pembayaran dari si pembeli yang telah diberikan kepadanya.12 Bentuk jual beli ini terjadi pertama kali di Bukhara dan Balkh pada awal abad ke lima hijriyah. karena biasanya orang yang memberi hutang memerintahkan orang yang berhutang misalnya untuk menjual rumahnya dengan cara jual beli tersebut. seperti tidak adanya hak pembeli untuk mengkonsumsi barang dagangan atau memindahkan kepemilikannya kepada orang lain. Manfaat dari pembeli adalah dapat mengembangkan hartanya. Ia bisa menggunakannya untuk diri sendiri dan memanfaatkannya untuk disewakan tanpa izin si penjual. disebut jual beli itha’ah (ketaatan). 130-132 Jual beli ini disebut juga dengan jual beli amanah. agar tujuan mereka tidak tercapai. Dimana terjadi perjanjian kapan penjual mengembalikan uang si pembeli. misalnya si pembeli boleh memanfaatkan barang dagangannya dengan penggunaan dan pemanfaatan yang benar. hlm. Disebut juga jual beli wafa’ (pelunasan) karena ada semacam perjanjian dari pembeli untuk melunasi hak si penjual. Manfaat bagi penjual karena bisa mendapatkan uang yang dia inginkan tanpa harus dengan terpaksa menjual barangnya yang bisa jadi dia niatkan secara sungguhsungguh agar tidak keluar dari kepemilikannya. sementara mereka merasa berat melakukan riba. Barang itu juga tidak bisa dipakai untuk syuf’ah. Di negeri Syam. dan si pembeli juga akan mengembalikan uang si penjual.Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah bahwa praktek jual beli ‘inah dilarang. namun jauh dari lingkaran perbuatan riba yang terang-terangan. Yang menjadi pemicunya adalah karena kebanyakan orang yang berharta tidak mau meminjamkan uangnya secara baik. lalu orang yang berhutang mentaatinya. di sisi lain orang banyak membutuhkan harta. 12 11 . mereka mencari jalan keluar yang mereka anggap dapat merealisasikan kemaslahatan kedua belah pihak. dan biaya Al-Mushlih. 2004. Di dalam jual beli itu terkandung hukum-hukum jual beli. BAI’ WAFA’11 Jual beli wafa’ adalah jual beli dengan persyaratan saling mengembalikan hak pihak lain. Oleh sebab itu. Jual beli itu juga mengandung hukum-hukum pegadaian. Hal ini karena untuk menutup jalan menuju riba dan memutus jalan bagi orang-orang yang suka membuat penyamaran terhadap bentuk usaha yang haram.

Jual beli ini dapat mendatangkan manfaat bagi pembeli dan penjual serta sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Di dalamnya. Itu pendapat yang tepat dari para ulama. Namun sesungguhnya. jual beli semacam ini tidak dinenarkan. Namun tetap dianggap sebagai jual beli yang disyariatkan karena dibutuhkan.perawatannya menjadi tanggungan si penjual. sehinggga hukum-hukum pegadaian berlaku di dalamnya. baik dengan persyaratan yang disebutkan dalam waktu akad atau melalui kesepakatan sebelum akad. Ada juga di antara ulama yang memandangnya sebagai jual beli model baru yang menggabungkan antara jual beli sah. karena tujuan yang sebenarnya adalah riba. Karena 13 Majmu’ al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah XXI: 334 . adalah jual beli batil menurut kesepakatan para imam. Di anatara mereka ada yang menganggapnya sebagai pegadaian yang sah. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum jual beli wafa’ ini: Ada di antara ulama yang menganggapnya sebagai jual beli yang sah karena dibutuhkan. harga kontan berbeda dengan harga secara cicilan. sementara fasilitas penggunaan barang yang digunakan dalam perjanjian dan sejenisnya adalah keuntungannya. yakni dengan cara memberikan uang untuk dibayar secara tertunda. Di antara ulama juga ada yang menganggapnya sebagai jual beli yang rusak. serta pembeli juga harus menjaga komitmen untuk mengembalikan barang itu bila si penjual telah mengembalikan uang pembayarannya. Namun sebutan sebagai jual beli pelunasan atau jual beli amanah tidak lepas dari jual beli seperti itu karena yang dilihat adalah hakikat dan tujuan sesungguhnya dari jual beli tersebut. Kebutuhan kadang bisa menempati kedudukan (sama hukumnya dengan) kondisi darurat. jual beli rusak dan pegadaian. barang juga dikembalikan.”13 BAI’ TAQSITH Bai’ taqsith adalah jual beli secara cicilan dalam jangka waktu tertentu. Ibnu Taimiyah menyatakan.”Sejenis jual beli yang mereka perlihatkan yang disebut jual beli amanah yang dalam jual beli itu mereka bersepakat bahwa apabila telah dikembalikan pembayaran si penjual. karena adanya syarat saling mengembalikan. bukan bentuk aplikatif dan tampilan lahiriyahnya saja.

Qatadah.konsumen atau pembeli bisa mendapatkan barang yang dibutuhkannya. bukan termasuk riba. “Siapa yang menjual dua jual beli dalam satu jual beli. maka menjadi riba” (HR. AnNakha’iy. hadits tersebut adalah dha’if. Itu merupakan keuntungan dalam jual beli barang sebagai kompensasi tertahannya hak penjual dalam jangka waktu tertentu. karena banyak orang tidak mampu menyerahkan harga secara menyeluruh.R. Praktek bai’ taqsith dibolehkan menurut pendapat Jumhur ulama. Aplikasi bai’ taqsith dapat mendatangkan kemudahan (taysir) bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Namun. katanya.Tarmizi) melakukan ihtikar kecuali orang yang bersalah (berdosa)”. karena menambah harga sebagai konsekuensi dari penambahan masa adalah termasuk riba nasi’ah. sehingga ia mendapatkan keuntungan besar di atas keuntungan normal atau dia menjual hanya sedikit barang untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi. Tetapi dengan cicilan. atau (jika harga yang lebih tinggi). ia bisa memanfaatkan dan memiliki barang yang dibutuhkan IHTIKAR Definisi ihtikar yaitu melakukan penimbunan barang dengan tujuan spekulasi. sehingga mendapatkan keuntungan di atas keuntungan normal. Ats-Tsaury. Zainal Abidin bin Ali bin Al-Husein dan Jashshas dari Hanafiyah mengharamkan bai’ taqsith. Perbedaan harga cicilan dari harga kontan. maka haknya adalah harga yang terendah. ‘Atha’ . maka tidak bisa dijadikan hujjah. Dalam sebuah hadits dari Ma’mar bin Abdullah bin Fadhlah. yaitu Imam mazhab yang empat serta jamaah ulama salaf. meskipun ia tidak memiliki uang yang cukup untuk memilikinya secara kontan (bayaran penuh).”Tidak (H. diantaranya adalah Abdullah bin Abbas. Al-Auza’iy. Said bin Musayyab. Rasulullah saw telah melarang praktek penimbunan ini. Hakam bin ‘Utaibah dan Hammad bin Abi Sulaiman. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda. Thawus bin kaisan. Abu Daud dari Abu Hurairah). TALAQQI RUKBAN . Az-Zuhry. Dalil mereka adalah Hadits Nabi.

MARAJI’: Ad-Duwaisy. T. Cetakan pertama. Praktek ini adalah sebuah perbuatan seseorang dimana dia mencegat orang-orang yang membawa barang dari desa dan membeli barang itu sebelum tiba di pasar. 1998 Suhendi. serta janganlah orang kota menjual kepada orang desa (Muttafaq ’alaih). jangan pula sebagian di antara kalian menjual atas jualan orang lain.14 Dari Abu Hurairah bahwa Rosulullah saw pernah bersabda: Janganlah kalian melakukan talaqqi rukban. Dikatakan kepada Ibnu Abbas: “apa yang dimaksud dengan larangan itu?” Ia menjawab:”Tidak menjadi makelar mereka”(HR.Talaqqi rukban adalah mencegat barang sebelum masuk pasar sehingga membeli di bawah harga pasar. Praktek ini telah dilarang oleh Rasulullah SAW. 2005 14 15 Ad-Duwaisy. Abdurrahman. Darul Haq. Fiqh Muamalah. “Janganlah kalian menemui para kafilah di jalan (untuk membeli barang-barang mereka dengan niat membiarkan mereka tidak tahu harga yang berlaku di pasar). Darus Salam. Shahih Muslim: Bab Buyu’. sehingga harga semakin melambung tinggi. no hadits 1521 . Beirut: Sar al-Qalam Al-Mushlih. Hendi. hlm. Ahmad bin Abdurrazzaq. Fatwa-Fatwa Jual Beli. dan jangan kalian melakukan najasy. Pustaka Imam asy-Syafi’i.Muslim). Al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah.15 Praktek perdagangan seperti ini dapat menimbulkan tekananbagi penjual di desa dan juga pembeli di kota. Rasulullah memerintahkan supply barang-barang hendaknya dibawa langsung ke pasar hingga para penyuplai barang dan para konsumen bisa mengambil manfaat dari adanya harga yang sesuai dan alami. 2004 Al-Jaziri. Bogor. 2004. Edisi 1. 2004 Muslim. seorang penduduk kota tidak diperbolehkan menemui penjual di desa. Jakarta. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Rasulullah SAW melarang praktek semacam ini dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kenaikan harga. Abdullah dan Shalah ash-Shawi. Imam. 111 Shahih Muslim. Riyadh.th. Fikih Ekonomi Keuangan Islam.

2005 . Bandung. Cetakan I. Transaksi dan Etika Bisnis Islam. Rahmat. Husain dan Siddiq Muh Al-Amin adh-Dhahir.Syafi’i. Visi Insani Publising. Jakarta. Fiqh Muamalah. Pustaka Setia. 1999 Syahatah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful