MK.

Hidrologi John Frans

BAB I SIKLUS HIDROLOGI

A. Pendahuluan Ceritakan proses terjadinya hujan !

Dalam bab ini akan dipelajari, pengertian dasar hidrologi, siklus hidrologi, sirkulasi air dan neraca air.

Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. Menjelaskan pengertian hidrologi dengan benar b. Menjelaskan dan menggambar siklus hidrologi dengan baik dan benar. c. Menjelaskan tentang sifat-sifat air dengan benar. d. Menjelaskan hubungan antara sirkulasi air dan neraca air dengan baik.

B. Penyajian 1.1. Pengertian Hidrologi Hidrologi termasuk salah satu cabang ilmu geografi (ilmu bumi) dan sudah mulai dikembangkan oleh para filsuf kuno, antara lain dari Yunani, Romawi, Cina dan Mesir. Dimana air dianggap sebagai bagian dari unsur utama bersama-sama dengan bumi, udara dan api. Secara harafiah “hidrologi” berasal dari bahasa Yunani, yakni “hydro” dan “loge”. Hydro berarti sesuatu yang berhubungan dengan air dan loge berarti pengetahuan. Jadi hidrologi adalah ilmu pengetahuan yang secara khusus mempelajari tentang kejadian, perputaran dan penyebaran air di atmosfir dan permukaan bumi serta di bawah permukaan bumi. Secara luas hidrologi meliputi pula berbagai bentuk air, termasuk transformasi antara keadaan cair, padat, dan gas dalam atmosfir, di atas dan di bawah permukaan tanah. Di dalamnya tercakup pula air laut yang merupakan sumber dan penyimpan air yang mengaktifkan kehidupan di planet bumi ini. Ruang lingkup hidrologi mencakup : 1. pengukuran, mencatat, dan publikasi data dasar. 2. deskripsi propertis, fenomena, dan distribusi air di daratan. 3. analisa data untuk mengembangkan teori-teori pokok yang ada pada hidrologi. 4. aplikasi teori-teori hidrologi untuk memecahkan masalah praktis.

1

MK. Hidrologi John Frans

Hidrologi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, tetapi ada hubungan dengan ilmu lain, seperti meteorologi, klimatologi, geologi, agronomi kehutanan, ilmu tanah, dan hidrolika. Menurut The International Association of Scientific Hydrology, hidrologi dapat dibagi menjadi: 1. Potamologi (Potamology), khusus mempelajari aliran permukaan (surface streams) 2. Limnologi (Limnology), khusus mempelajari air danau 3. Geohidrologi (Geohydrology), khusus mempelajari air yang ada di bawah permukaan tanah (mempelajari air tanah = groundwater) 4. Kriologi (Cryology), khusus mempelajari es dan salju 5. Hidrometeorologi (Hydrometeorology), khusus mempelajari problema-problema yang ada diantara hidrologi dan meteorologi.

Model Sederhana Siklus Hidrologi

2

MK. Hidrologi John Frans

1.2. Siklus Hidrologi a). Penguapan Proses perubahan air menjadi uap air disebut penguapan. Penguapan memerlukan energi panas, misalnya api kompor. Penguapan di alam (penguapan air laut dan air yang ada di daratan) terjadi dengan bantuan energi panas dari sinar matahari. Pada penguapan air laut, garam yang terkandung dalam air laut tidak ikut diuapkan (tetap tertinggal di laut). Jika uap air laut diembunkan akan diperoleh air tawar yang relatif murni. b). Tingkat Penguapan Tingkat penguapan bergantung pada dua faktor yang berbeda, yaitu:
• •

Suhu udara Besar kandungan uap air yang terdapat di udara.

Semakin tinggi suhu udara, semakin banyak uap air diserap oleh udara. Semakin kecil persentase uap air di udara, semakin banyak uap air dapat diserap udara. Suhu udara di padang pasir pada siang hari cukup tinggi, maka apa bila terdapat air permukaan akan terjadi penguapan yang tinggi. c). Bentuk Penguapan Penguapan air dapat terjadi melalui tumbuhan maupun permukaan bumi. Penguapan air melalui tumbuhan disebut transpirasi. Dengan demikian terdapat dua bentuk penguapan air yang berbeda di alam:
• •

Penguapan di permukaan bumi (dari lautan, daratan). Penguapan melalui tumbuhan (disebut transpirasi).

Gambar 1.1. Proses Penguapan

3

4 . Kondensasi uap air berarti proses perubahan uap air menjadi air (proses pengembunan). Di udara.MK. Hidrologi John Frans 1. kondensasi uap air terjadi jika: • • Udara yang sudah jenuh uap air ditambah uap air atau zat lain Suhu udara yang jenuh uap air turun Uap air yang mengembun di udara membentuk tetes-tetes air yang sangat kecil dan dapat dilihat sebagai awan di langit.3. Bentuk Penguapan d). Tingkat Penguapan Gambar 1.2. Kondensasi Uap Air Kondensasi merupakan proses kebalikan dari penguapan.

Di daerah iklim sedang dengan ketinggian tertentu.MK. Oleh karena itu angin memiliki peran penting dalam menentukan daerah dimana hujan akan terjadi. Hujan lebih banyak terjadi di daerah pegunungan dibandingkan dengan dataran rendah. Hidrologi John Frans e. Besarnya curah hujan di pegunungan ditambah dengan pepohonan yang lebat menyebabkan ketersediaan air bersih di pegunungan relatif banyak. karena suhu udara jenuh uap air. maka dapat diperkirakan bahwa sampai satu juta tetestetes air yang sangat kecil tadi akan bertumpuk dan membentuk satu tetes air yang lebih besar. Transportasi oleh Angin Udara yang mengandung uap air atau awan dapat terbawa angin ke tempat lain. Dengan bantuan transportasi angin. akan mengalami penurunan suhu setelah dibawa oleh angin dari dataran rendah ke pegunungan. Gumpalan es ini akan meleleh pada waktu jatuh dan sampai ke bumi sebagai tetesan hujan. Tetes-tetes air besar inilah yang dapat jatuh sampai ke permukaan bumi sebagai tetesan hujan.4. Transportasi oleh Angin 5 . f). tetes-tetes air yang sangat kecil ini mungkin akan menguap kembali. kristal-kristal es bertumpuk dengan tetestetes air yang sangat kecil tadi dan membentuk satu gumpalan es. Hujan Tetes-tetes air hasil kondensasi terlalu kecil untuk dapat jatuh ke bumi. Gambar 1.

Air Hujan g). Di daerah perkotaan yang padat penduduknya peresapan air kecil sekali.10). Perkolasi adalah proses penyaringan air melalui poripori halus tanah sehingga air bisa meresap ke dalam tanah. Peresapan air ke dalam tanah pada umumnya terjadi melalui dua tahapan. Seharusnya beberapa tempat di kota dibiarkan terbuka sebagai tanah resapan air hujan.6. yaitu infiltrasi dan perkolasi (gambar 2. Air yang tertahan oleh lapisan kedap air (misalnya batu) membentuk air tanah.MK. karena sebagian besar lahan tanah tertutup/dilapis aspal atau dibeton dan perumahan dibangun dimana-mana. tetapi ada yang terserap oleh tanah. Peristiwa Kondensasi Gambar 1. 6 . jumlah tumbuh-tumbuhan serta lapisan yang tidak dapat ditembus oleh air. Kedalaman air yang masuk ke tanah bergantung dari beberapa faktor.5. Infiltrasi adalah gerakan air menembus permukaan tanah masuk ke dalam tanah. yaitu: jumlah air hujan. porositas tanah. Hidrologi John Frans Gambar 1. Peresapan Air Air hujan yang jatuh ke tanah tidak seluruhnya langsung mengalir sebagai air permukaan. sehingga luas tanah terbuka semakin sempit sehingga semakin sedikit pula dapat menyerap air. Air tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

misalnya danau. air tersebut tertahan oleh lapisan batu-batuan (lapisan kedap air). limpasan di bawah permukaan dan limpasan air tanah. sungai dan rawa-rawa.sumber air di alam mengalami serangkaian proses. Sampai di kedalaman tertentu. Hidrologi John Frans h). Gambar 1. Sungai merupakan pengumpulan dari tiga jenis limpasan. Dari celah-celah bebatuan tersebut dapat kita temukan sumber air yang jernih dan tidak tercemar.MK. Infiltrasi dan Perkolasi 7 . yang akhirnya akan kembali ke laut. Air Permukaan Air permukaan adalah air yang menggenang atau mengalir di permukaan tanah.1).7. yaitu: limpasan permukaan. h. Air hujan jatuh ke tanah kemudian meresap ke dalam tanah. Sumber-sumber Air di Alam Terbentuknya sumber . yang membendung air sehingga tidak terus meresap ke bawah.

8. yaitu proses perubahan uap air menjadi tetes-tetes air yang sangat kecil (pengembunan) 8 . kemudian jatuh ke permukaan tanah. yaitu proses perubahan air menjadi uap air dengan bantuan energi panas dari sinar matahari b. Daur Hidrologi Siklus air atau daur hidrologi adalah pola sirkulasi air dalam ekosistem.10 dan 1. dan akhirnya mengalir ke laut lagi disebut “Siklus Hidrologi” (CD.9. Siklus ini dapat dilukiskan secara skematik seperti terlihat pada Gambar 1. Proses-proses dalam Siklus Air. adalah sebagai berikut: a.11. Soemarto. yaitu proses penguapan air yang terjadi melalui tumbuhan c. Hidrologi John Frans Gambar 1.3.MK. Kondensasi. 1999) . Penguapan. Gerakan air laut ke udara. Air Permukaan 1. Transpirasi. Proses Terbentuknya Sumber-sumber Air di Alam Gambar 1.

Transportasi. Aliran Air Permukaan. yaitu proses pengangkutan awan/uap air oleh angin menuju ke daerah tertentu yang akan kejatuhan hujan e. Hujan. Hidrologi John Frans d. Aliran Air Dalam Tanah. Evaporasi dari air permukaan Awan Transpirasi Hujan Evaporasi dari laut Evaporasi dari daratan Limpasan Permukaan Permukaan phreatik (muka air tanah) Aliran Air Tanah Gambar 1. Perkolasi. i. yaitu proses jatuhnya tetes-tetes air “besar” (tumpukan tetes-tetes air kecil hasil kondensasi) sampai ke permukaan bumi f. yaitu proses penyaringan air melalui pori-pori halus tanah sehingga air dapat meresap dalam tanah (Peresapan) h. Infiltrasi. yaitu gerakan air hujan menembus permukaan tanah kemudian masuk ke dalam tanah (Peresapan) g.10.MK. yaitu air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah melainkan menggenang atau mengalir di permukaan tanah. yaitu air hujan yang meresap ke dalam tanah dan mengalir di atas lapisan kedap air sampai muncul kembali di permukaan tanah sebagai mata air. Siklus Hidrologi 9 . atau mengalir hingga ke laut.

11. Siklus Air 10 . Hidrologi John Frans Gambar 1.MK.

dan mengalir ke lautan. aliran bawah permukaan d. volume air itu menjadi agak besar. Umumnya benda menjadi kecil jika suhu menjadi rendah. Jika es lebih berat dari air. dalam arti bahwa pergerakan air pada sistim tersebut selalu tetap berada di dalam sistimnya. 1. air di lautan dan air genangan Air di lautan dan genangan (danau.4. Hidrologi John Frans Siklus hidrologi merupakan suatu sistim yang tertutup. aliran sungai/saluran terbuka f. selebihnya akan berkumpul di dalam jaringan alur (sungai alam atau buatan) menjadi aliran sungai atau saluran terbuka dan mengalir kembali ke laut. Sifat-Sifat Air Air berubah ke dalam tiga bentuk/sifat menurut waktu dan tempat. Uap air akan berubah menjadi hujan karena proses pendinginan (kondensasi). volume es menjadi 1/11 kali lebih besar dari volume air semula. Sebagian air hujan yang tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dan sebagian lagi yang jatuh langsung ke dalam laut dan danau akan menguap kembali ke atmosfir.MK. Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi aliran permukaan. waduk). Lebih rendah dari 4°C. air sebagai cairan dan air sebagai uap seperti gas. rawa. Sebagian dari air bawah permukaan kembali ke atmosfir melalui proses penguapan dan transpirasi oleh tanaman dan sebagian lagi menjadi aliran air tanah melalui proses perkolasi. aliran permukaan c. oleh karena adanya radiasi matahari maka air tersebut akan menguap ke dalam atmosfir. yakni air sebagai bahan padat. maka keseimbangan antara air dan es dapat dipertahankan oleh pembekuan dan pencairan. maka es itu akan tenggelam ke dasar laut atau danau dan makin lama makin menumpuk yang akhirnya akan menutupi seluruh dunia. Tetapi air mempunyai volume yang minimum pada suhu 4° C. Pada pembekuan. air di atmosfir b. Aliran permukaan sebagian meresap ke dalam tanah menjadi aliran bawah permukaan melalui proses infiltrasi dan perkolasi. Mengingat es mengambang di permukaan air (karena es lebih ringan dari air). aliran air tanah e. Siklus hidrologi terdiri dari enam sub sistim yaitu : a. 11 .

...... Hidrologi John Frans 1... Hubungan Keseimbangan ini adalah sebagai berikut : P = D + E + G + M ..........1) Dimana : P = Presipitasi D = Debit E = Evaporasi G = Penambahan (supply) air ke tanah M = Penambahan kadar kelembababan tanah Presipitasi Evaporasi (penguapan) Limpasan Uap Air Presipitasi Curah Hujan Air Permukaan Perkolasi Air Keluar Perkolasi Evaporasi (penguapan) Kelembababan Tanah dan Air Tanah Presipitasi Gambar 1........................ (1.5........ Sirkulasi Air 12 ..2 merupakan hubungan antara aliran ke dalam (inflow) dan aliran ke luar (outflow) pada suatu daerah dalam periode waktu tertentu... Hal ini dapat dikatakan atau disebut dengan “neraca air”.......... Siklus dan Neraca Air Proses sirkulasi air pada Gambar 1.............MK.......2..

transpirasi. bagian hujan ini disebut throughfall. intersepsi juga terjadi pada seresah di bawah pohon. Throughfall. bagian ini disebut tampungan/simpanan intersepsi yang akhirnya segera menguap. Karena itu perencana dan pengelola DAS harus memperhitungkan pola presipitasi dan sebaran geografinya. Simpanan intersepsi pada hutan pinus di Italia utara sekitar 30% dari hujan (Allewijn. kelebihannya akan segera tetes sebagai crown drip. b. kelengasan tanah. hal ini disebabkan oleh penguapan melalui permukaan tanah. Intersepsi tidak hanya terjadi pada tajuk daun bagian atas saja. 1990). Steamflow Hujan yang jatuh di atas hutan ada sebagian yang dapat jatuh langsung di lantai hutan melalui sela-sela tajuk. Infiltrasi dan Perkolasi Proses berlangsungnya air masuk ke permukaan tanah kita kenal dengan infiltrasi. Dampak kegiatan pembangunan terhadap proses hidrologi sangat dipengaruhi intensitas. jenis pohon (kerapatan tajuk dan bentuk tajuk).MK. Laju infiltrasi dipengaruhi tekstur dan struktur. Crown drip. c. 13 . Kelengasan Tanah Kelengasan tanah menyatakan jumlah air yang tersimpan di antara pori-pori tanah. lama berlangsungnya. Simpanan intersepsi ada batasnya. kecepatan angin. sedang perkolasi adalah proses bergeraknya air melalui profil tanah karena tenaga gravitasi. dan lokasi hujan. Besar kecilnya intersepsi dipengaruhi oleh sifat hujan (terutama intensitas hujan dan lama hujan). Steamflow adalah aliran air hujan yang lewat batang. besar kecilnya stemflow dipengaruhi oleh struktur batang dan kekasaran kulit batang pohon. Intersepsi Hujan yang jatuh di atas tegakan pohon sebagian akan melekat pada tajuk daun maupun batang. kadar materi tersuspensi dalam air juga waktu. Kelengasan tanah sangat dinamis. Intersepsi akan mengurangi hujan yang menjadi run off. Presipitasi Hujan (presipitasi) merupakan masukan utama dari daur hidrologi dalam DAS. Hidrologi John Frans Pengenalan Istilah-istilah Hidrologi a. d. e.

Jelaskan pengertian dari : a. Jelaskan tentang siklus hidrologi ! 3. Kemampuan tanah menyimpan air tergantung dari porositas tanah. pada perakaran pepohonan atau di belakang pohon-pohon yang tumbang. Simpanan permukaan menghambat atau menunda bagian hujan ini mencapai limpasan permukaan dan memberi kesempatan bagi air untuk melakukan infiltrasi dan evaporasi. infiltrasi air hujan lebih kecil daripada saat kelengasan tanah rendah. Pada saat kelengasan tanah dalam keadaan kondisi tinggi. debit aliran (river discharge) dan volume runoff. Hidrologi John Frans dan perkolasi. Runoff dapat dinyatakan sebagai tebal runoff. Kondensasi b. Transpirasi 4. g. Penutup Soal-Soal : 1. Runoff Runoff Adalah bagian curahan hujan (curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan kehilangan air lainnya) yang mengalir dalam air sungai karena gaya gravitasi. Sebutkan enam sub system dari siklus hidrologi! 5. Jelaskan pengertian dari hidrologi ! 2. Komponen Runoff C. Jelaskan hubungan antara sirkulasi air dan neraca air ! 14 . airnya berasal dari permukaan maupun dari subpermukaan (sub surface). f. Simpanan Permukaan (Surface Storage) Simpanan permukaan ini terjadi pada depresi-depresi pada permukaan tanah.MK.

Erlangga.1999. Hidrologi untuk Pengairan. Daftar Istilah Hidrologi Siklus hidrologi Presipitasi Atmosfir Kondensasi Inflow Outflow Neraca Air Debit Evaporasi Evapotranspirasi 15 .C..D. 2003.MK. Jakarta Sosrodarsono. Hidrologi Teknik . Departemen pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Hidrologi John Frans Daftar Pustaka Soemarto.

Menyebutkan dan menjelaskan cara pengukuran evapotraspirasi dengan baik. Penyajian 2. merupakan hasil kondensasi di permukaan tanah atau tumbuh-tumbuhan dan kondesasi di dalam tanah. Menyebutkan dan menjelaskan cara pengukuran evaporasi dengan baik. Menghitung besarnya evaporasi berdasarkan contoh soal dengan benar. b. Hujan . c. b. d. Menerangkan pengertian evaporasi dengan benar. B. Embun. e. Menerangkan pengertian evapotranspirasi dengan benar. cara pengamatan/pengukuran curah hujan serta proses terjadinya dan pengamatan/pengukuran pada evaporasi dan evapotranspirasi. partikel-partikel air diendapkan di atas permukaan tanah dan tumbuh-tumbuhan. Kabut. f. Kondensasi.MK. c.1. Salju dan es. e. yaitu : 15 . Pendahuluan Pada bab ini akan dipelajari tentang pengertian dari presipitasi. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. hujan. Menjelaskan pengertian presipitasi dengan benar. Presipitasi Presipitasi adalah nama umum dari uap yang mengkondensasi dan jatuh ke tanah berupa salju. Hidrologi John Frans BAB II ELEMEN-ELEMEN METEOROLOGI A. Presipitasi yang ada di bumi ini berupa : a. proses terjadinya presipitasi. Ada 5 buah unsur yang ditinjau. pada saat terjadi kabut. Maka pembahasan mengenai presipitasi ini selanjutnya hanya dibatasi pada hujan saja. Salah satu bentuk presipitasi yang terpenting di Indonesia adalah hujan. d. merupakan bentuk yang paling penting. Menyebutkan dan menjelaskan cara pengukuran curah hujan dengan baik. di atas lapisan es terjadi jika ada massa udara panas yang bergerak di atas lapisan es. g. hujan es dan lain-lain.

Frekuensi. Lama waktu atau durasi t. biasanya dinyatakan dengan waktu ulang (return period) T. dan lain sebagainya. Dengan sistem ini maka dapat dihasilkan interpretasi untuk decision support system yang menyeluruh tentang data cuaca. Alat Ukur Sistem pengukuran di lapangan seringkali sulit dilakukan secara manual oleh manusia. b. mm/jam. monitoring sistem irigasi dan bendungan. Pada sistem yang lebih luas data ini harus digabungkan pada suatu sistem data base terpusat. e. Water flow Beberapa pengukuran parameter klimatologi antara lain : 1. Precipitation 2. adalah luas geografis curah hujan A. pengendalian banjir dan bencana. Evaporation 16 . c. Water level 2. Hubungan antara intensitas.MK. Intensitas I. Tinggi hujan d.1. Implementasinya antara lain : menentukan pola cocok tanam sistem pengairan pada pertanian. adalah laju curah hujan = tinggi per satuan waktu. dalam mm. d. pemantauan muka air tanah perkotaan.2) 2. Untuk keperluan ini maka dibutuhkan suatu instrumentasi yang reliable untuk jangka waktu cukup lama dengan melakukan pengukuran berulangulang secara periodik. adalah banyaknya atau jumlah hujan yang dinyatakan dalam ketebalan air di atas permukaan datar. durasi dan tinggi hujan dinyatakan sebagai berikut : d= ∫i 0 i dt = ∑ i Δt (2. Beberapa pengukuran parameter hidrologi antara lain : 1. mm/hari. Luas.2. Pengukuran parameter parameter yang berlainan dalam satu waktu bersamaan memerlukan suatu integrasi dari keseluruhan sistem pengukuran kedalam suatu data kolektor. dalam km2.1) Intensitas rata-rata i dirumuskan sebagai berikut : − i= d t (2. misalnya mm/menit. adalah frekuensi kejadian terjadinya hujan. Hidrologi John Frans a. adalah lamanya curah hujan terjadi dalam menit atau jam.

laut dan permukaan air tanah. Water level Pengukuran ketinggian permukaan air digunakan antara lain pada sungai.1 Shaft encoder Ketinggian permukaan air diukur menggunakan pelampung yang digantung dengan tali dan pemberat.MK. Air flow 4. Moist & Temperature 5. danau. Metoda yang digunakan antara lain : 1. 17 . Hidrologi John Frans 3. Radiation 1.

Metoda yang digunakan antara lain : 2. 2. Water flow Pengukuran kecepatan aliran air digunakan untuk mengukur besarnya debet air yang mengalir pada suatu aliran air. Hidrologi John Frans 1. 18 . bahwa tekanan di bawah permukaan air (p) akan sebanding dengan kedalaman (h) dari permukaan air (p = ρ g h) dengan ρ adalah berat jenis air.1 Propeller Kecepatan aliran air diukur menggunakan baling-baling (propeller) yang dikonversikan menjadi kecepatan putaran.MK.2 Depth Level Ketinggian permukaan air diukur menggunakan sensor tekanan dengan asumsi hukum Archimides.

Semakin cepat aliran fluida yang lewat melalui sayap.MK. maka semakin kuat tekanan ke atas yang dikenakan pada sayap ini. 19 . Hidrologi John Frans 2. Sehingga kecepatan aliran dikonversikan langsung oleh sensor tekanan.2 Wing pressure Kecepatan aliran air diukur menggunakan sayap (wing) yang menyerupai bentuk sayap pada pesawat terbang.

Setiap kali wadah terisi penuh maka alat ini akan tumpah pada satu sisinya. Setelah aliran cukup constant dan rata (luminer). 20 . Pada alat ini terdapat dua wadah yang diisi bergantian.MK.2 Tipping bucket Kapasitas curah hujan diukur menggunakan penghitungan jumlah tumpahan pada penampung berayun (tipping bucket). 3. Sebelum tetesan air dihitung.1 Water drop Kapasitas curah hujan diukur menggunakan penghitungan tetesan air. maka kemudian aliran air ini dikonversikan oleh presure meter dengan luas permukaan yang telah ditentukan. Dibawah container ini terdapat water dropper sehingga besarnya tetesan air bisa dijaga tetap konstan. 3.3 Flow pressure Aliran air diarahkan oleh selinder berupa corong (guide). Hidrologi John Frans 2. Precipitation Pengukuran curah hujan digunakan untuk mengetahui besarnya kapasitas atau volume penyediaan sumber air hujan selama kurun waktu tertentu. Metoda yang digunakan antara lain: 3. air hujan ini ditampung dalam suatu container dengan standar collecting surface.

Setiap wadah tersebut terisi penuh. 21 . air akan dibuang secara otomatis oleh gaya berat air pada penguras (flusher).3 Collector chamber Kapasitas curah hujan diukur menggunakan penghitungan jumlah pengurasan volume air yang ditampung pada wadah (chamber) dengan volume tertentu.MK. Hidrologi John Frans 3.

Volume dan berat jenis air dikonversikan oleh sensor ketinggian air untuk mengukur volume yang simultan dengan sensor berat untuk mengukur berat air di dalam bak standar. Luas kertas serap yang digunakan berfungsi sebagai media penguapan.2 Blotting paper Kapasitas penguapan air diukur menggunakan penghitungan laju pengurangan volume air dalam suatu gelas ukur yang diletakan diatas kertas serap (absorbent paper). 5.MK. Wind Speed & Direction Pengukuran kecepatan dan arah angin digunakan untuk mengetahui probabilitas klimatologi aliran kalor dan curah hujan.1 Evaporation pan Kapasitas penguapan air diukur menggunakan penghitungan laju pengurangan volume air dalam suatu bak (pan) standar akibat pemanasan global. Hidrologi John Frans 4. Metoda yang digunakan antara lain : 22 . 4.

Hidrologi John Frans 5. 23 . sedangkan arah angin diukur menggunakan sirip pengarah (flap). 5.1 Flap & Propeller Kecepatan aliran udara (angin) diukur menggunakan baling-baling (propeller).MK. Empat buah sensor disusun secara aray dalam empat arah. Sensor ini menggunakan piezzo keramic sebagai sensor ultra sonic.2 Ultrasonic array Kecepatan aliran udara (angin) diukur menggunakan sensor tekanan yang sensitif terhadap aliran udara. Masing-masing arah akan membentuk suatu vektor kecepatan.

Humidity & Temperature Pengukuran suhu dan kelembaban udara digunakan untuk mengetahui probabilitas klimatologi aliran kalor dan curah hujan. Sensor ini sudah diproduksi dalam suatu chip dengan data keluaran berupa digital.1 Thermistor & Capacitive Suhu diukur menggunakan thermistor PT-100. Hidrologi John Frans 6. Metoda yang digunakan antara lain : 6. Sehingga pengukuran selanjutnya dapat dilakukan secara elektronik.MK. 24 . Sensor-sensor ini ditempatkan dalam sirip pelindung untuk mengeliminasi pengaruh atau ganguan cuaca dan radiasi yang mempengaruhi sistem pengukuran 6.2 Integrated Chip Suhu dan kelembaban diukur menggunakan sensor yang sudah standard dan dengan ketelitian yang cukup baik. Kelembaban diukur oleh sepasang keping logam sebagai kapasitor yang dikonversikan oleh frekuensi pada suatu tangki osilator. yang memiliki respon cukup linear dalam jangka pengukuran temperatur udara.

Hidrologi John Frans 7. Permukaan luar sensor dilapisi kaca lengkung untuk pelindung air. Metoda yang digunakan antara lain : 7. debu dan ganguan kotoran. 25 . Radiation Pemantauan aktifitas penyinaran matahari digunakan untuk mengetahui pengaruh terhadap cuaca yang berdampak secara umum.MK.1 Photo Sensitive Intensitas cahaya diukur menggunakan sensor resistif atau semikonduktor peka cahaya.

Bagian atas digunakan untuk mengukur radiasi global. 26 . Selain beberapa parameter pengukuran pada komponen air dan udara. hidrology.2 Thermocouples Radiasi panas diukur menggunakan thermocouple. seperti telah disebutkan di atas. Data ini dikirimkan menuju data recorder (logger) melalui media kabel (wire) atau bahkan modem radio. Resistivity. tergantung jarak sensor terhadap data recorder.MK. klimatologi dan sebagainya dilakukan oleh masing-masing sensor dengan menggunakan microcontroller sehingga data langsung diubah menjadi data digital dengan standar komunikasi RS-485. Data acquisition & Transmission Pengukuran beberapa parameter meteorologi. maka pada tanah pun dapat dilakukan beberapa pengukuran antara lain : Soil temperature. sedangkan bagian bawah digunakan untuk mengukur radiasi pantul dari tanah. 8. Hidrologi John Frans 7. Thermal Coductivity dan sebagainya dapat ditambahkan sebagai data pelengkap pada sistem pengukuran global. Saturation Potential.

Hidrologi John Frans Seluruh instrumen pengukuran menggunakan power suplay dari battery 12V atau dapat pula dengan bantuan sollar panel sebagai alat pengisi daya. 27 . Cara ini dilakukan dengan menggunakan sarana telepon (fix phone atau sellular) apabila di daerah titik pengamatan sudah memiliki jaringan telepon. fasilitas pengambilan data dapat pula dilakukan secara telemetri. Secara optional. Jaringan telepon sellular yang digunakan biasanya adalah jaringan GSM atau bahkan CDMA dan GPRS. Rekaman data pada data recorder disimpan dalam memory card (MMC) atau dapat pula diambil melalui pheripheral USB sebagai alat komunikasi yang cukup umum dipakai saat ini.MK.

Contoh sederhana adalah mengetahui kondisi setiap battery. kabel. Penggunaan telemetri melalui telepon sellular ataupun fix phone (PSTN) dapat digunakan secara simultan atau bergantian. fasilitas ini pun digunakan untuk memeriksa keadaan seluruh sistem pengukuran.1. 2. yaitu untuk memonitor availability masingmasing unit pengukuran. Hidrologi John Frans Selain untuk mendapatkan informasi data pengukuran. 28 .1. Pengukuran Curah Hujan Dalam praktek kita mengenal 2 macam alat untuk mengukur curah hujan yaitu penakar hujan dan pencatat hujan. dan sebagainya.MK. tergantung cakupan jaringan yang tersedia di lokasi tempat pengukuran.

Penakar hujan 1) Penakar hujan biasa Penempatan alat ukur ini pada tempat terbuka yang tidak dipengaruhi oleh pohon-pohon atau gedung-gedung. gunanya untuk mencegah percikan (cipratan) air agar tidak masuk ke dalam penakar. 2) Penakar hujan rata tanah Alat penakar hujan rata tanah. Pembacaan dilakukan 1 x 24 jam dan hasil pembacaan dicatat sebagai curah hujan terdahulu. corong penangkap hujan (diameter bukaan 20 cm). Luas penakar A dibuat sama luas dengan permukaan corong biasa.00 mm dan untuk membedakan tidak ada curah hujan. dibuat dengan tujuan penangkapan maksimum seperti pada Gambar 2. Sedangkan brush adalah lapisan lunak yang terbuat dari pasir atau sintel. berupa bubukan sisa pembakaran batu bara. 29 .1 memperlihatkan alat ukur curah hujan biasa.1 mm dicatat 0. corong penampung keran gelas ukur Gambar 2.2.1. Grill adalah semacam sarang terbuat dari logam yang gunanya untuk mencegah tumbuhnya rumput atau tanaman penganggu. Ketelitian dalam pembacaan 1/10 mm. Curah hujan kurang dari 0. yang pada bagian atas alat ini dipasang 20 cm lebih tinggi dari permukaan tanah yang sekelilingnya ditanami rumput. pengukur dan gelas ukur.MK. daftar curah hujan ditandai dengan (-). Alat penakar hujan biasa Air hujan masuk melalui corong penangkap dan masuk ke dalam gelas ukur yang diletakkan di dalam tabung untuk menerima air hujan yang meluap. Jenis ini berhasil baik digunakan sebagai pembanding terhadap penakar biasa. Hidrologi John Frans a. Gambar 2. Di sekitar alat penakar harus diberi grill dan brush. Alat ini terdiri dari tabung.

Hidrologi John Frans brush grill corong penampung Gambar 2. Penakar hujan rata tanah b. Jika pencatatannya mencapai d = 10 m.MK.2. sehingga penampung menjadi kosong yang sekaligus membawa alat penulis turun ke posisi nol. Dengan terisinya penampung maka penampung (3) akan terangkat. corong sumbu Gambar 2. Pencatat hujan 1) Pencatat jungkit (tipping bucket) Pencatat jungkit dibagi dalam 2 ruangan yang diatur sedemikian rupa jika satu terisi kemudian menjungkit dan menjadi kosong. Setiap jungkit menunjukkan suatu tinggi hujan d. 30 . lalu menyebabkan ruangan lainnya berada di posisi yang akan diisi oleh corong. Pencatat Jungkit 2) Pencatat pelampung Curah hujan yang tertangkap corong (1) tertumpah ke dalam penanmpung (2). Pencatatannya secara otomatis dan bertahap. Pelampung dihubungkan dengan alat penulis yang dapat membuat grafik pada drum pencatat yang diputar dengan pertolongan pegas jam (4).3. air dalam penampung akan tersedot keluar oleh sifon (5).

perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi. Agar proses tersebut dapat berjalan terus. Suhu. Kelembaban relatif. Angin. Besarnya faktor meteorologi yang mempengaruhi besarnya evaporasi adalah : a. jika kelembaban relatif naik maka kemampuan udara untuk menyerap air akan berkurang sehingga laju evaporasinya menurun. jika air menguap ke atmosfir maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti. Evaporasi Penguapan (evaporation) adalah proses perubahan dari molekul air dalam bentuk zat cair ke dalam bentuk gas. b. d. jika suhu udara dan tanah cukup tinggi maka proses evaporasi berjalan lebih cepat. c.2. Evaporasi sangat mempengaruhi debit sungai. Hidrologi John Frans 1 Keterangan : 1 = corong 2 = penampung 3 = pelampung 4 = drum pencatat 5 = sifon 3 4 5 2 Gambar 2.4. besarnya kapasitas waduk. Radiasi matahari. Pencatat pelampung 2. penggunaan konsumtif untuk tanaman dan lainlain. lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering yang terjadi jika ada angin.MK. 31 . besarnya kapasitas pompa untuk irigasi.

Panci penguapan Panci evaporasi dibuat untuk meniru kondisi evaporasi permukaan air bebas.MK.2.2. d. Mengukur kecepatan angin Kecepatan angin diukur dengan anemometer. Permukaan basah diberikan oleh benda berpori yang dibasahi air.2. 2. Mengukur radiasi matahari Kebanyakan stasiun pencatat meteorologi dilengkapi dengan radiometer untuk mengukur gelombang pendek radiasi yang masuk dari matahari/angkasa dan radiasi netto yang dipantulkan. Hidrologi John Frans 2. Pengukuran Evaporasi Ada beberapa alat ukur yang bisa digunakan antara lain : a.1. yang ditempatkan dalam suatu wadah. Panci evaporasi dapat dipasang dengan posisi sebagai berikut : 1) di atas permukaan tanah 2) ditanam dalam tanah 3) mengambang di atas air c. Ada beberapa jenis atmometer yaitu : 1) Atmometer Piche 2) Atmometer Livingstone 3) Atmometer Black Bellani b. Penghitungan Evaporasi Rumus empiris “Penman” untuk menghitung evaporasi : E = 0. Radiasi netto ini sangat penting untuk studi tentang evaporasi.35(ea − ed )(1 + keterangan : E ea ed V V ) 100 (2. sedangkan arah angin dengan kipas.3) = evaporasi (mm/hari) = tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata harian (mm/Hg) = tekanan uap sebenarnya (mm/Hg) = kecepatan angin pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah (mile/hari) 32 . Atmometer Atmometer adalah alat standar untuk mengukur evaporasi dari permukaan basah. Alat ini digunakan untuk tujuan-tujuan klimatologis guna mengetahui kemampuan mongering udara.

1 diperoleh tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata harian.0008 0. Tekanan uap sebenarnya. Penyelesaian : Suhu bola kering 30°C.6 149.65)(1 + 33 .1.65 mm/Hg.964 4. ea = 31.40 92.21 17. Hidrologi John Frans Tabel 2.096 0.MK. Kecepatan angin = {1 m/dt x 24 jam x 60 menit x 60 detik}/1600 m/mile = 54 mile/hari Diperoleh besarnya evaporasi “E” : p(mm/Hg) 0.220 4.55 31.86 − 21. suhu bola basah 26°C.6 355.35(ea − ed )(1 + V ) 100 54 ) = 5mm / hari 100 E = 0. Tabel tekanan uap jenuh 0°C -60 -40 -20 -10 -1 0 (air+es+uap) 10 20 30 40 50 60 80 100 110 125 200 250 300 350 Contoh : Suhu bola kering 30°C.4 760.35(31.783 1. ed = 31. dari Tabel 2. kelembaban relatif 68% dan kecepatan angin 1 m/dt.580 9.86 mm/Hg x 68% = 21.86 mm/Hg.86 55.0 (1 atm) 1074 1740 11650 29770 64300 123710 E = 0.

ta (2. antara lain : a.7. kelembaban dan lain-lain. Evapotranspirasi Evapotranspirasi (evapotranspiration) adalah penguapan yang terjadi dari permukaan lahan yang tertutup dengan tumbuhan. Jumlah kadar air yang hilang dari tanah oleh evapotranspirasi tergantung pada : a.4) keterangan : K Kt U t Kc P b. Cara Blaney – Criddle yang dirubah : U= K . Hidrologi John Frans 2. tipe dan cara kultivasi tumbuh-tumbuhan tersebut.5) keterangan : e = evapotranspirasi potensial bulanan (cm/bulan) c dan a= koefisien yang tergantung dari tempat t a 12 = suhu udara rata-rata bulanan (°C) = 0. faktor-faktor iklim seperti suhu.6) (2.0311t + 0.7) ⎛t⎞ I = ∑⎜ ⎟ i =1 ⎝ 5 ⎠ I adalah jumlah 12 bulan dari suhu udara rata-rata bulanan dibagi 5. Penghitungan Evapotranspirasi Ada beberapa metode yang dipakai untuk menghitung besarnya evapotranspirasi atau memperkirakan besarnya evapotranspirasi.P(45.3. Cara Thornthwaite (2.01792 I + 0. 514 (2.49239 1. 2. persediaan air yang cukup (hujan dan lain-lain) b. c.1.240 = banyaknya evapotranspirasi bulanan (mm) = suhu udara rata-rata bulanan (°C) = koefisien tanaman bulanan = persentase jam siang bulanan dalam setahun (%) e = c.3.t + 813) 100 = Kt x Kc = 0. 34 .MK.0000771 I2 + 0.000000675 I3 – 0.

kelembaban relatif 64% dan kecepatan angin 1 m/dt. Erlangga. Jakarta Sosrodarsono.MK.55. tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata 17. Hidrologi John Frans C.C. Hidrologi untuk Pengairan. 2003. Departemen pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. suhu bola basah 27°C.1999. Sebut dan jelaskan cara pengukuran curah hujan ! 3. jelaskan cara pengukuran/pengamatan evaporasi dengan panci evaporasi ! 5.. Daftar Istilah Meteorologi Uap Gas Frekuensi Grill Brush Sifon Transpirasi Kelembaban 35 . Hitung besarnya evaporasi ! Daftar Pustaka Soemarto. Hidrologi Teknik .D. Jelaskan pengertian evaporasi dan evapotranspirasi ! 4. Diketahui suhu bola kering 20°C. Jelaskan pengertian dari presipitasi ! 2. Penutup Soal – Soal : 1.

yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh. yang terletak di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh).1. di bawah ini. Pengertian Infiltrasi dan Perkolasi Infiltrasi adalah perpindahan air dari atas ke dalam permukaan tanah. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. kerikil Tanah liat Muka air tanah Tanah liat kerikil Muka air tanah Gambar 3. Menjelaskan pengertian infiltrasi dan perkolasi dengan benar. b. dan Gambar 3. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi daya infiltrasi dengan benar.1. Menentukan kapasitas infiltrasi dengan benar. Daya perkolasi p adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan. INFILTRASI DAN PERKOLASI A.2. B. Penyajian 3. yang ditentukan oleh kondisi permukaan.2. Gambar 3. Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh. 36 .1. Daya infiltrasi f adalah laju infiltrasi maksimum yang dimungkinkan. Kebalikan dari infiltrasi adalah rembesan (seepage). Besarnya daya infiltrasi f dinyatakan dalam mm/jam atau mm/hari. Hidrologi JFK BAB III. yang terletak di antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah.MK. Untuk memperjelas arti fp dan pp diperlihatkan pada Gambar 3. Pendahuluan Pada bab ini akan dipelajari tentang pengertian infiltrasi dan perkolasi serta cara pengukuran kapasitas infiltrasi. termasuk lapisan atas tanah. c.

W.3. Cara yang pertama adalah cara mengukur laju infiltrasi. maka kapasitas infiltrasi dapat diperoleh dengan ketelitian yang cukup tinggi. jika terdapat data yang teliti mengenai variasi intensitas curah hujan dan data yang kontinu dari limpasan yang terjadi. Pemampatan oleh curah hujan d. Udara yang terdapat dalam tanah 3. Sedangkan Gambar 3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Infiltrasi Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi adalah : a. Pemampatan oleh orang dan hewan f. karena lapisan atasnya terdiri dari lapisan kedap air dan lapisan bawahnya tiris. Penentuan Kapasitas Infiltrasi Untuk penentuan kapasitas infiltrasi dapat digunakan cara dengan menggunakan alat ukur infiltrasi dan cara dengan menggunakan analisa dari hidrograf. Loyd. Di sini diperlihatkan modifikasi cara perhitungan kurva f dalam daerah pengaliran yang kecil antara 1 sampai 10 ha yang disarankan oleh Dr. maka hidrograf dari dari limpasan yang disebabkan oleh suatu curah hujan yang terjadi pada kondisi yang sama dalam daerah pengaliran itu dapat ditentukan dengan ketelitian yang baik. akan menghasilkan daya infiltrasi yang kecil tetapi daya perkolasinya tinggi. Kelembaban tanah c.L.2. Dengan kapasitas infiltrasi yang diperoleh ini. W. akan menghasilkan daya infiltrasi yang besar. Cara ini hanya cocok untuk pengujian perbandingan yang dilaksanakan dengan membatasi beberapa buah factor yang mempengaruhi kapasitas infiltrasi. tetapi daya perkolasinya kecil. 37 . Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh b.Untuk cara kedua. karena lapisan atasnya terdiri dari lapisan kerikil yang mempunyai permeabilitas tinggi dan lapisan bawahnya terdiri dari lapisan tanah liat yang relatif kedap air. Air dituangkan pada suatu bidang pengujian yang kecil dengan menggunakan alat ukur infiltrasi. 3. Hidrologi JFK Gambar 3. Penyumbatan oleh bahan-bahan yang halus e.MK. Struktur tanah g. Horner dan Dr.1. L. Tumbuh-tumbuhan h.

40 .55 – 5.033 . Data Pengukuran Debit Waktu 5.44 – 6.35 .13 .043 .00 .03 .8 Sumber : Sosrodarsono.12 .003 Catatan Permulaan debit Waktu 6. Hidrologi.57 5.2003 Tabel 3.067 .46 .2003 38 .007 .020 .50 – 5.09 .57 7.024 .07 .04 .20 .58 6.042 .05 .8 4.06 – 6.010 .8 Intensitas Curah Hujan (mm/jam) 15.29 .38 Waktu 6.50 – 7.16 .38 – 6.06 .5 10.003 .00 6.00 Jam (menit) 5 2 5 2 3 6 6 26 Jam (menit) 6 6 10 Curah Hujan (mm) 1.01 .036 .051 .8 Intensitas Curah Hujan (mm/jam) 52.50 5. Data Curah Hujan Waktu 5.1 15.57 – 6. Hidrologi JFK Tabel 3.001 .44 .0 0.085 .8 Curah Hujan (mm) 5.49 .076 .44 6.5. Hidrologi.00 – 6.47 .00 .023 .48 – 5.4 42.8 2.051 .14 Debit (m3/dt) 0.058 .7 53.035 .43 .7 60.7 17.51 .57 .12 – 6.43 .005 .12 6.5 4.2.6 57.029 .48 5.3 1.54 .50 6.5 0.06 6.24 Debit (m3/dt) 0.1.029 .001 Catatan Debit puncak Akhir debit Permulaan debit Puncak debit Debit puncak Sumber : Sosrodarsono.2 1.10 .08 .001 .031 .55 .015 .0 4.062 .3 1.MK.55 5.

Berapakah detensi permukaan apabila run-off setelah hujan berhenti sebagai berikut Waktu (menit) 0 5 10 15 20 Run-off (ltr/dtk) 0.6944 ltr/dt Setelah balance(seimbang) run-off Maka : a.5 liter/dtk. Hidrologi JFK Contoh Soal Pengukuran Infiltrasi : Percobaan infiltrasi dilakukan dari sebuah plot dengan ukuran 4 m x 12. Penyelesaian Intensitas hujan buatan = 50 mm/jam Luas plot = 4 x 12. Setelah tercapai keseimbangan ternyata run-off telah konstan sebesar 0. Pertanyaan : a. Kapasitas infiltrasi 39 .5 m3/jam = 0.MK.5 ltr/dt 0.50 x 50 mm/jam = 36 mm mm/jam 0. Run-off = = 0.1944 ltr/dtk b.25 0. Berapakah fc (ultimate infiltration capacity) dalam mm/jam c.5 m.13 0.05 0.50 0.5 = 50 m2 Debit hujan yang jatuh di atas plot = 50.00 Asumsi : dapat dimisalkan bahwa perbandingan antara run-off dan infiltrasi sesudah hujan berhenti = pada saat hujan berhenti.10-3 m/jam x 50 m2 = 2. Intensitas hujan buatan 50 mm/jam. Berapakah run-off dalam mm/jam b.6944 = fc = intensitas – runoff = 50 – 36 = 14 mm/jam = 0.

25 + 0.3 0.1944) + (0.8 0.4 0. Hidrologi JFK c. yaitu tiap bagian dianggap trapezium.MK.0194) x(15 − 10).13 + 0.5 0.0194) + 0 x(2 − 15). Luas I = Luas II = Luas III = Luas IV = (0.05 + 0.16 liter = 37.2833 m3 Detensi permukaan = 40 .13 + 0.4.1 0 0 5 10 15 20 25 30 fc (lt/dt) t (menit) Gambar 3.24 liter = 79.60 2 = 156.41 liter (0.60 2 (0.6 0.5 + 0.0505) + (0.7 mm 50 Luas total curve = 283.7 0. Kurva hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan waktu Detensi permukaan = luas curve runoff + luas curve infiltrasi Perhitungan luas dilakukan dengan pendekatan saja.3 liter = 0.60 2 0.2 0.60 2 (0.25 + 0.05 + 0. Detensi permukaan = jumlah runoff setelah hujan berhenti + jumlah infiltrasi setelah hujan berhenti = ketinggian air pada plot setelah balance Kurva Detensi Permukaan 0.49 liter = 10.0057 m = 5.0972) + (0.0505) x(10 − 5).0972) x(5 − 0).2833 = 0.

Hidrologi untuk Pengairan. Hidrologi JFK C. Departemen pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Hidrologi Teknik . Erlangga.D. Pertanyaan : a.7 liter/dtk. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi daya infiltrasi ! 3. Jakarta Sosrodarsono.40 0. 2003. Percobaan infiltrasi dilakukan dari sebuah plot dengan ukuran 5 m x 25 m.1999.10 0.20 0. Intensitas hujan buatan 60 mm/jam. Berapakah fc (ultimate infiltration capacity) dalam mm/jam c. Setelah tercapai keseimbangan ternyata run-off telah konstan sebesar 0.00 Daftar Pustaka Soemarto.05 0. Daftar Istilah Zona Laju Hidrograf Kurva 41 .C.MK. Jelaskan pengertian dari infiltrasi dan perkolasi ! 2. Berapakah run-off dalam mm/jam b.. Berapakah detensi permukaan apabila run-off setelah hujan berhenti sebagai berikut Waktu (menit) 0 5 10 15 20 Run-off (ltr/dtk) 0. Penutup Soal-Soal 1.

Hidrologi JFK Run-off 42 .MK.

Di equator terdapat tekanan rendah sedangkan radiasi matahari memanasi udara secara intensif yang menyebabkan udara mengembang dan naik ke atas. 27 .1. Angin yang mengandung lembab panas bertemu di suatu daerah dan mengakibatkan terjadinya hujan. Distribusi Curah Hujan secara Geografis Faktor-faktor yang menentukan besarnya curah hujan rata-rata tahunan di suatu tempat : garis lintang posisi dan luas daerah jarak dari pantai suhu laut efek geografis altitude/ketinggian Latitude berhubungan dengan sirkulasi atmosfer.1. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. d. khususnya bab II adalah datadata curah hujan yang telah dicatat oleh alat ukur curah hujan diolah untuk rancang bangun. Menghitung intensitas curah hujan berdasarkan contoh soal dengan benar. c. Pendahuluan Untuk memperdalam materi pada bab ini. Menghitung frekuensi curah hujan berdasarkan contoh soal dengan benar. B. Menghitung konsistensi data curah hujan tahunan berdasarkan contoh soal dengan benar e. Hubungan antara materi pada bab ini dengan bab-bab terdahulu.1. Data-data tersebut diolah dan diselesaikan untuk proses belajar mengajar pada bab ini. diharapkan mahasiswa untuk mencari data curah hujan dari beberapa stasiun pengamatan curah hujan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada Kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Nusa Tenggara Timur. b. Hidrologi JFK BAB IV CURAH HUJAN A. Penyajian 4. Menghitung curah hujan wilayah berdasarkan contoh soal dengan benar.MK. Menjelaskan macam-macam distribusi curah hujan dengan benar. Distribusi Curah Hujan 4.

Cara-cara perhitungan curah hujan daerah dari pengamatan curah hujan di beberapa titik adalah sebagai berikut : a. a. Hujan cyclonic adalah hujan yang disebabkan oleh naiknya udara yang terpusatkan di suatu daerah dengan tekanan rendah. b. Hidrologi JFK a. 28 .65° arah utara dan selatan.3. Distribusi Curah Hujan Wilayah/Daerah (regional distribution) Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. Hujan konfektif adalah hujan yang disebabkan oleh naiknya udara panas ke tempat yang lebih dingin. bukan curah hujan pada suatu titik tertentu.1. 4. ± 65° ke kutub. Data curah hujan yang tersedia umumnya tidak cukup panjang untuk menyatakan fluktuasifluktuasi jangka panjang sedang variasi-variasi jangka pendek adalah demikian tak teratur sehingga terdapat banyak siklus. Curah hujan ini disebut curah hujan wilayah/daerah dan dinyatakan dalam mm.1. c. b. angin kutub kering bertambah banyak sehingga menyebabkan berkurangnya hujan. dengan anggapan bahwa di daerah tersebut sifat curah hujannya adalah seragam (uniform). udara dingin kering dari kutub menimbulkan hujan tipe frontal dan menyebabkan hujan lebat. 4. Distribusi hujan menurut variasi musiman ini bisa terjadi “hujan konfektif. ± 35° . Dengan adanya variasi-variasi ini dikenal adanya variasi musiman. Hujan orografik adalah hujan yang disebabkan oleh naiknya udara karena ada rintangan berupa pegunungan. Hujan yang terjadi di Indonesia sebagian besar adalah type hujan konfektif.2.MK. Terkadang mengalami penyimpangan pada pola itu tetapi kembali lagi pada pola yang teratur. ± 30° arah utara dan selatan. Distribusi Curah Hujan menurut Waktu Jatuhnya hujan terjadi menurut suatu pola dan suatu siklus tertentu. hujan orografik dan hujan cyclonic”. Cara rata-rata aljabar Cara ini dipakai pada daerah yang datar dan banyak stasiun curah hujannya. terdapat tekanan tinggi yang menyebabkan udara kering dan panas menurun sehingga curah hujannya rendah. c.

) Keterangan : − R n R1.25 mm b.. Cara Thiessen Jika titik-titik pengamatan di dalam daerah itu tidak tersebar merata.2) banyak. maka cara perhitungan curah hujan rata-rata itu dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh tiap titik pengamatan.. + An 29 .. + An Rn A1 + A2 + .. Hidrologi JFK Cara ini adalah perhitungan rata-rata secara aljabar curah hujan di dalam dan di sekitar daerah yang bersangkutan.. R3…. − R= 1 ( R1 + R2 + R3 + ..Rn = curah hujan daerah (mm) = jumlah titik-titik (pos) pengamatan = curah hujan di tiap titik pengamatan (mm) Keuntungan : cara ini lebih obyektif Contoh : Hitunglah curah hujan rata-rata dengam metode rata-rata aljabar.1... Cara ini cocok untuk menentukan curah hujan ratarata apabila stasiun atau pos pengamatan tidak (4.. R2...MK... 453 476 572 585 675 659 757 745 Stasiun penakar hujan Gambar 4.. Rata-rata Aljabar Penyelesaian : 1 R = (757 + 745 + 675 + 659 + 572 + 585 + 476 + 453) 8 R = 615. − R= A1R1 + A2 R2 + .1. + Rn ) n (4.

Contoh : Hitunglah curah hujan rata-rata dengam metode Thiessen 453 476 572 585 675 659 745 757 Gambar 4. R2. Cara untuk menentukan bagian atau luasan daerah A1. Hidrologi JFK − R n R1.2..Rn A1. A2. R3…. Daerah tersebut dibagi dengan polygon-polygon yang diperoleh dengan menggambar garis tegak lurus pada tiap sisi segitiga. Thiessen Polygon 30 . A2..An Kerugian = curah hujan daerah (mm) = jumlah titik-titik (pos) pengamatan = curah hujan di tiap titik pengamatan (mm) = bagian daerah yang mewakili tiap titik pengamatan Keuntungan : hasil lebih teliti dari cara rata-rata aljabar : jika terjadi kekurangan pengamatan pada salah satu titik pengamatan maka harus ditentukan kembali jaringan segitiga. Luas polygon tersebut diukur dengan planimeter. An : • • Hubungkan tiap titik pengamatan dengan garis lurus yang akan membentuk segitiga dan menutupi seluruh daerah.….MK.

69 10. Cara garis Isohiet Peta isohyet digambar pada peta topografi dengan perbedaan (interval) 10 – 20 mm berdasarkan data curah hujan pada titik-titik pengamatan di dalam dan di sekitar daerah yang dimaksud.48 127..96 17. R2. An = luas bagian antara garis-garis Isohyet R1. apabila daerahnya pegunungan atau daerah berbukit-bukit. dibagi luas total. Luas bagian daerah antara dua garis isohyet yang berdekatan diukur dengan planimeter..72 618..24 68.93 42. + n ∑A 2 ∑A 2 ∑A 2 (4. Metode ini cocok untuk menentukan curah hujan rata-rata.59 63. Secara sistematis dapat ditulis : R= A1 ( R1 + R2 ) A ( R2 + R3 ) A ( Rn + Rn +1 ) + 2 + . Rn = curah hujan rata-rata pada bagian A1.MK.92 13.16 14.46 12.3) Keterangan : R = curah hujan rata-rata daerah (mm) A1.34 Jadi curah hujan rata-rata metode Thiessen = 618..93 100 Curah hujan tertimbang (mm) 67.87 60.34 mm c.…An 31 ..67 74. Metode perhitungannya adalah jumlah perkalian curah hujan rata-rata diantara garis Isohyet dengan luas antara kedua garis Isohyet tersebut. Hidrologi JFK Penyelesaian ditabulasikan dalam tabel : Curah hujan Luas *) (ha) (mm) 20 453 18 476 10 572 17 585 14 659 12 675 23 745 20 755 Jumlah 134 * ) angka perkiraan hitungan % luas 14.A2.45 8. A2.84 112.43 7.

Hidrologi JFK Contoh : Hitunglah curah hujan rata-rata dengan metode Isohyet 400 500 447 453 600 542 558 700 675 800 745 755 625 Isohyet dalam mm Gambar 4.MK. Peta Isohyet Penyelesaian ditabulasikan dalam tabel: Curah Hujan (mm) 850 800 750 700 650 600 550 500 450 400 350 <400 Jumlah * ) angka perkiraan hitungan Isohyet Luas *) (ha) 10 21 29 35 32 7 134 % Luas 7.03 jadi hujan rata-rata metode Isohyet = 591.03 mm 32 .88 5.66 107.41 117.53 140.67 21.66 143.46 18.64 26.31 591.23 100 Curah hujan rata-rata (mm) 63.12 23.46 15.3.

Poligon Thiessen Bobot poligon Thiessen masing-masing sta Hujan rata-rata DAS (cara Thiessen) Pemilihan Data Annual Series Annual Exc. b. Test konsistensi (double-mass curve) b. Mengisi data yang hilang ( inserved square distance ) a. Hujan Hujan Rencana 33 .Series Partial Series Anal.MK. Peta topografi b. Hidrologi JFK a. Frk. Bobot poligon Thiessen Data terkoreksi Dicari jaringan stasiun hujan yang representatif dengan cara Kagan Biasanya hasil jarang dipakai a. Data lokasi semua stasiun hujan pada dan disekitar DAS Peta DAS Pilih stasiun hujan yang memungkinkan untuk dipakai Data hujan harian semua stasiun hujan pada dan disekitar DAS Koreksi data hujan : a. Poligon Thiessen masing-masing sta b.

Distribusi Curah Hujan dalam suatu Jangka Waktu Tertentu Distribusi curah hujan berbeda-beda sesuai dengan jumlah waktu yang ditinjau yakni curah hujan tahunan.1.t ) b= N ( I 2 ) − ( I )( I ) 2).MK. curah hujan bulanan. curah hujan harian dan curah hujan perjam. Intensitas Curah Hujan Intensitas curah hujan adalah rata-rata dari hujan yang lamanya sama dengan lama waktu konsentrasi (tc) dengan masa ulang tertentu. log I )(log t ) log a = N (log t ) 2 − (log t )(log t ) (log I )(log t ) − N (log t. Atau dapat dikatakan intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu kurun waktu tertentu dimana air tersebut berkonsentrasi.2.t ) − N ( I 2 .t )( I 2 ) − ( I 2 . 4. Talbot (1881) I= a= a t +b ( I . Prof. Hubungan antara intensitas curah hujan dan lamanya hujan.4) ( I )( I . Sherman (1905) (4. Harga atau nilai-nilai yang diperoleh dari curah hujan sesuai dengan waktu tersebut di atas dapat digunakan untuk menentukan prospek bangunan yang berhubungan dengan air. log I ) n= N (log t ) 2 − (log t )(log t ) 34 .5) I= a tn (4. Waktu konsentrasi adalah waktu yang dibutuhkan aliran dari titik terjauh ke suatu tempat tertentu. Hidrologi JFK Flowchart 4. dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain : 1). Prof.1. Hujan Rencana 4.6) (log I )(log t ) 2 − (log t.t )( I ) N ( I 2 ) − ( I )( I ) (4.4.

t )( I ) N ( I 2 ) − ( I )( I ) ( I )( I t ) − N ( I 2 .63 5574.90 68904.00 1. Cara perhitungan intensitas curah hujan 1) Perhitungan dengan cara kuadrat terkecil (least square) Contoh soal : Lamanya curah hujan t (menit) Intensitas curah hujan I (mm/jam) 5 150 10 104 20 98.18 2.32 7.21 314346.1. Ishiguro (1953) I= a= b= 4) Mononobe a t +b ( I t )( I 2 ) − ( I 2 .04 3.25 227017.16 3.95 12 It 335.65 120 46.02 1.46 3.12 4309.94 578.28 334446.19 509.65 46.8) Keterangan : I t a.47 5.66 80 65.62 4.16 4.75 30 86.69 2.00 195031.26 6223.02 2.38 9 1.b.00 1040.60 5252.89 60 74.89 74.70 3155.49 1.7) I= R24 24 m ( ) 24 t = intensitas curah hujan (mm/jam) (4. Hidrologi JFK 3) Dr.00 2 7 log t 0. t ) N ( I 2 ) − ( I )( I ) (4.75 86.66 65.20 43610.1.07 3756.60 1.12 23686.59 2.00 1975.46 498.56 7567.08 11.87 1.5 4 I.04 705.32 19.44 24841.82 1.00 10816.25 0.88 441.00 1.24 3.52 2.74 1830365.84 8 log I 2.57 3. Log I (log t) 22500.80 248945.90 2.00 2609.31 41447.MK.62 476.59 39361.86 3.26 2 logt.2.78 1.80 259470.t 750.47 22.38 13 I t 50311.29 10 2 11 t 2.99 1.99 40 78.00 5 I 2 6 It 112500.94 10.90 1.30 1.92 2162.00 108160.67 15.99 78.31 587.00 5580.5 Penyelesaian : Tabel 4.18 2.m R24 = lamanya curah hujan (menit) atau untuk Mononobe dalam (jam) = tetapan = curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm) 4.41 328.48 1.94 1.n.63 35 .94 344793.75 8.53 34203.60 4479. Perhitungan tiga jenis rumus intensitas curah hujan 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 jum lah 2 t 5 10 20 30 40 60 80 120 3 I 150 104 98.00 9751.70 1.33 3.71 43176.48 6.91 38549.

90 − 8 x 1830365.44 8 x 68904.31 [Jenis III-Ishiguro] I= a= a t +b 3756.74 − 705.74 − 314346.44 705.04 − 22.44 x 3756.84 log a = log a = 2.84 x 11.5 n= 15.84 x 11.29 8 x 19.66 b= b ≅ 2.44 x 24841.74 − 705.84 n ≅ 0.63 x 705.38 x 19.44 x 705.04 − 11.84 8 x 19.07 x 705.44 705.44 a ≅ 7846.44 x 705.44 a ≅ 691.MK. Hidrologi JFK [Jenis I-Talbot] I= a= a t +b 24841.74 − 1830365.383 a ≅ 241.44 x 705.63 8 x 68904.44 8 x 68904.04 − 11.21 x 68904.52 Subtitusikan ke dalam masing-masing persamaan menjadi : 36 .07 8 x 68904.74 − 705.21 − 8 x 314346.49 b= b ≅ 53.74 − 705.90 x 68904.29 x 11.77 [Jenis II-Sherman] I= a tn 15.44 x 705.84 − 8 x 22.38 x 11.

28 95.64 8.92 86.37 60.79 -5.75 86.69 -7. tercantum dalam kolom 14.35 68.28 -3.52 Selanjutnya harus diadakan pemeeriksaan mengenai rumus yang paling cocok digunakan. Harga-harga I dari rumus (i).83 31.32 4.00 40.93 -6.63 118.96 67.5 14 I(1) 133.20 67.87 62.2. Dengan menelaah deviasi rata-rata M(|α|)= α dan Gambar 4.41 84.04 106.67 83.68 68.75 17 2 -3.93 α α α intensitas curah hujan (mm/jam) Σ(|α|) M(|α|) 160.00 60.31 tn t a t +b = (i) (ii) (iii) 691.72 0.00 120.66 65.17 dan 19 dalam Tabel yang sama.15 15 1 -16.57 17. 16.00 100.2.85 -1.49 = t + b t + 53.5 = 0. Hidrologi JFK I= I= I= a 7846.36 93.69 -6.4 dapat ditentukan bahwa untuk keadaan ini. Tabel perbandingan kecocokan rumus-rumus intensitas curah hujan 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 t 5 10 20 30 40 60 80 120 3 I 150 104 98.25 27.17 -0.87 3.50 -0. Demikian pula kurva-kurva yang dihitung tercantum dalam Gambar 4.89 74.37 14.43 121.00 140. 18 pada Tabel yang sama.(iii) yang didapat dengan menggantikan harga-harga t dalam kolom 2 pada Tabel 4.61 6.99 -1.00 0.79 -3.66 t + 2.14 76.29 -5.49 19.49 78.72 98.66 45.00 80.97 58.33 51.43 3.00 0 50 I (1) I (2) I (3) 100 150 lamanya curah hujan t (menit) 37 .33 19 3 -4.58 16 I(2) 146. Deviasi antara harga-harga ini dengan data yang tercantum dalam kolom 3 tercantum berturut-turut dalam kolom 15. Tabel 4.57 8.68 4.00 20.48 18 I(3) 145.51 123.MK.77 a 241.99 78.08 54.04 7.65 46.4. jenis II yakni I= a/tn memberikan hasil yang optimum sebagai rumus intensitas curah hujan.34 -2.(ii).

Tiga jenis kurva intensitas curah hujan 2) Perhitungan dengan cara koefisien spesifik Cara yang dikemukakan dalam least square memerlukan data pengamatan curah hujan yang panjang dan sekurang-kurangnya untuk 8 jenis lamanya curah hujan. Jika data curah hujan 60 menit dan 10 menit atau lain-lain itu ada.4). (4. Cara yang dikemukakan di bawah ini adalah cara untuk mendapatkan rumus intensitas curah hujan berdasarkan 2 jenis data curah hujan (umpama curah hujan 60 menit dan 10 menit).9) Harga βN dalam rumus (4. RN Keterangan : I β R Notasi N = rumus intensitas curah hujan (mm/jam) = koefisien spesifik = curah hujan 1 jam (mm) atau intensitas curah hujan 1 jam (mm/jam) = kemungkinan dalam N tahun (4.MK. Rumus intensitas yang digunakan : IN = βN .7) yang dikemukakan pada cara least square. dan jenis III berturut-turut akan menjadi : [Jenis I] I N = β N .9) dalam Jenis I.4.R N = [Jenis III] I N = β N .9) adalah sama seperti rumus (4. Mengingat hal ini memerlukan waktu yang lama (dimana angka-angkanya harus dibaca dari kurva yang tercatat). Disamping itu kesemuanya harus dibaca dari kertas-kertas alat ukur otomatis. Hidrologi JFK Gambar 4. maka rumus pendekatan intensitas curah hujan itu dapat dihitung dengan mudah dan mempunyai ketelitian yang tinggi.6) dan (4. maka ketelitiannya akan berkurang.R N = [Jenis II] a' RN t +b a' RN tn a t +b I N = β N . Rumus (4. jenis II.R N = RN 38 .

maka kurva massa ganda (double mass curve) dapat digunakan untuk memperbaiki kesalahan pengamatan yang terjadi yang disebabkan oleh perubahan posisi atau cara pemasangan yang tidak baik dari alat ukur curah hujan.MK.3. Untuk itu harus dipilih minimal 10 alat ukur yang mempunyai kondisi topografi yang sama. Untuk itu tersedia data pengukuran curah hujan tahunan dari tahun 1921 s/d 1956 sebagai berikut : Tabel 4. Contoh: Pada sebuah daerah aliran sungai terdapat 25 stasiun yang mengukur hujan. Data curah hujan tahunan jangka waktu yang panjang alat yang bersangkutan itu harus dibandingkan dengan data curah hujan rata-rata sekelompok alat-alat ukur dalam perioda yang sama. Data pengukuran hujan tahunan 39 . Dari keduapuluh lima stasiun salah satunya akan diselidiki konsistensi datanya.3. Kesalahan-kesalahan pengamatan tidak dapat ditentukan dari setiap data pengamatan. Hidrologi JFK 4. Koreksi Data Curah Hujan Jika terdapat data curah hujan tahunan dalam jangka waktu pengamatan yang panjang.

00 10.30 12.90 15.30 12.10 10.60 12.20 9.00 14.90 162.20 12.80 105.70 8.40 36.70 116.70 11.80 10.60 11.00 77.20 11.30 13.60 9.80 17.40 8.80 10.10 185.30 16.40 10.10 12.30 9.10 8.20 11.30 93.30 13. Penyelesaian : Tahun 1956 1955 1954 1953 1952 1951 1950 1949 1948 1947 1946 1945 1944 1943 1942 1941 Hujan Jumlah Rata-rata Jumlah Sta.90 11. X 25 sta.70 123.60 65.30 13.20 11.10 11.4.00 14.20 11.00 165.20 10.40 7.00 12.00 12.10 206.00 12.20 153.20 6.40 11.00 24.20 15.50 Dari data tersebut di atas diminta untuk menentukan apakah data pada stasiun X itu konsisten atau tidak. Hidrologi JFK Tahun 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 Hujan Rata-rata Sta.20 11.20 9.30 11.00 69.00 13.90 28.90 53.80 14.10 8.30 13.10 9.10 48.50 11.70 9.80 9.20 8.10 127.10 10.10 13.90 9.50 12.30 60.50 12.80 83. 7.30 15.50 9.20 11.70 10.10 13.30 172.20 11.10 8. X Kumulatif 25 Sta.80 11.70 186.80 9.80 12.40 11.50 11. Tabulasi data dengan double mass curve 40 .80 11.90 11.40 11.60 194.00 9.20 141.60 11.00 9.70 12.80 133.80 7.00 9. X 25 sta.00 9. 8.90 11.10 40.20 11.90 12.20 11.00 12.60 9.60 19.00 9.10 17.30 9. Kalau tidak kapan terjadi penyimpangan dan koreksi data tersebut di atas.90 95.30 9.00 16.60 11.80 10. Kumulatif 16.20 176.60 13.40 14.20 110.20 19.30 Tahun 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 Hujan Rata-rata Sta.90 8.60 146.20 12.50 13.30 12.10 12.80 12.MK.30 Tabel 4.30 12.

90 7.60 252.80 351.80 Kumulatif 25 Sta.50 242. kumulatif) 1921 100.20 380.40 271.20 11.30 387.60 272.60 368.80 12.70 373.30 12.60 11.30 348.20 356. Dari kurva tersebut di atas dapat dilihat bahwa ia bukan merupakan garis lurus.70 281. X (jml.90 9.60 8.5.60 15.20 283.00 400.00 1956 0.30 8.10 14.80 300.40 395.00 291.20 362.10 11.30 337.80 10.10 248.10 10.50 500.90 12.10 9.00 100.00 200.50 309.00 0.00 398.20 389.00 200.00 300.00 318.10 9.20 11.10 7.00 400.50 Sta.30 221.20 313.8.00 330.30 10.70 8.00 9. kumulatif) Gambar 4.80 11.00 9.30 9.20 239.00 1942 Hujan pada sta.80 Jumlah Rata-rata Jumlah 212.00 300.80 9.60 14. (jml.60 13.00 Hujan rata-rata 25 sta.20 194. Hidrologi JFK Tahun 1940 1939 1938 1937 1936 1935 1934 1933 1932 1931 1930 1929 1928 1927 1926 1925 1924 1923 1922 1921 Hujan 6.10 292.40 408.80 9.20 337.60 13.20 208.10 230.70 11.10 261.30 9.90 8.50 11.10 7.90 9.40 11.40 11. ini berarti data yang kita peroleh tidak konsisten selama tahun 1921- 41 . Kurva Massa Ganda Setelah data yang ada ditabelkan secara kumulatif dan kemudian digambarkan dalam sebuah kurva yang disebut double mass curve.40 304.MK.60 327.00 8. Kumulatif X 221.20 232.10 261.

9 = 0. Tujuan dari analisis frekuensi curah hujan dan banjir untuk memperkirakan besarnya variasi-variasi yang masa ulangnya panjang. Gamma. Hidrologi JFK 1956.334576. Poisson.2 Kemiringan kurva tahun 1921-1942 : K2 = Besarnya koreksi = K1/K2 = 1.4. Gumbel. Galton dan lain-lain. Di bawah ini akan diberikan contoh pengolahan data curah hujan dengan menggunakan metode Gumbel dan Log Pearson.X 194. Penerapan cara ini khusus daerah yang mempunyai kondisi meteorologi yang sama. Kita menganggap data setelah tahun 1942 lebih bisa dipercaya daripada tahun-tahun sebelumnya. 42 .MK. Weibull.2 395. rancang drainase dan lain-lain adalah hanya menggunakan data pengamatan yang lalu. 172. Cara memperkirakan frekuensi dengan menjumlahkan banyaknya tahun pengamatan paada titik-titik pengamatan dalam daerah itu.3 − 194. bukan seperti daerah pegunungan. Penyimpangan terjadi pada tahun 1942.9 = = 1. Cara ini adalah cara yang paling sederhana. 4. yang kedua (maksimum) sekali dalam 200 x ½ = 100 tahun. Analisis Frekuensi Curah Hujan dan Perioda Ulangnya Cara perkiraan untuk mendapatkan frekuensi kejadian curah hujan dengan intensitas tertentu digunakan dalam perhitungan pengendalian banjir. Misalnya jika terdapat data selama 20 tahun pada setiap 10 titik pengamatan.334576 Jadi data tahun 1921 – 1941 harus dikali dengan 1. Pengoreksian data ditabulasikan pada tabel.848074 408. dan yang ketiga (maksimum) sekali dalam 200 x 1/3 = 67 tahun. Pearson. maka dianggap bahwa harga maksimum dari data ini mempunyai frekuensi sekali dalam 20 x 10 = 200 tahun.13182 ε komulatif 25 sta. tanpa penyelesaian secara statistik. Oleh karena itu data dari tahun 1921-1941 dikoreksi agar seluruh data menjadi konsisten. Mencari faktor koreksi : K1 = ε komulatif sta. Ada beberapa ahli yang membuat pendekatanpendekatan untuk menganalisis frekuensi atau probabilitas antara lain Gauss.5 − 172.

12) Bentuk lain dari persamaan Gumbel : X Tr = X + K .1. Gumbel memberikan persamaan untuk kala ulang Tr X Tr = X + S x (0.) Contoh : Data curah hujan harian maksimum pada sebuah stasiun meteorologi di Nunbaun terlihat pada Tabel 4.45) (4. Sn = besaran yang merupakan fungsi dari jumlah pengamatan.78Y − 0. misal untuk analisis frekuensi banjir.10) Sx = ∑(X i − X )2 n −1 (4. Hidrologi JFK 4. (Lampiran 1.11) (T − 1) ⎤ ⎡ Y = − ln ⎢− ln T ⎥ ⎣ ⎦ Keterangan : XTr Sx Y n = besarnya curah hujan untuk periode Tr tahun = standar deviasi / simpangan baku = perubahan reduksi = jumlah data (4.S x K= YTr − Yn Sn = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas. dan kemungkinan yang terjadi pada 20 tahun mendatang.a) (4.4.13) Keterangan : YTr Yn.5. Data curah hujan harian maksimum 43 . Tabel 4.MK.b dan 1.c. Metode Gumbel Type I Distribusi Gumbel Type I umumnya digunakan untuk analisis data maksimum.5 berikut dimana banyaknya pengamatan 10 tahun. (Lampiran 1. Hitunglah besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 10 tahun.

Tabulasi data untuk Gumbel Type I No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Σ Tahun 2000 1995 1998 2001 1994 1995 1997 2003 2002 1999 X (mm) 72 84 84 96 103 115 121 145 177 303 1300 X2 5184 7056 7056 9216 10609 13225 14641 21025 31329 91809 211150 (X.6. X = 1300 = 130 10 44 . Tabel 4. diperoleh nilai-nilai sebagai berikut : • Rata-rata. Hidrologi JFK No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Curah hujan .X )2 3364 2116 2116 1156 729 225 81 225 2209 29929 42150 Dari tabel 4. X (mm) 103 115 84 121 84 303 72 96 177 145 Penyelesaian : Urutkan data dari kecil ke besar. mean.MK.6.

dari lampiran 1.9606 Nilai K = 2.9606 − 0.b.848 0. Persamaan-persamaan yang digunakan dalam distribusi Log Pearson Type III. Metode Log Pearson III Distribusi Log Pearson type III banyak digunakan dalam analisis hidrologi.9496 Ytr = 2.4.46 mm Kemungkinan yang terjadi pada 20 tahun mendatang : Untuk n = 20.43) = 256.2930 1.1.9496 Jadi besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 10 tahun adalah : X10 = 130 + (1. Hidrologi JFK • Standar deviasi = Sx = 42150 = 68.848 x 68.16) Koefisien asimetris / Skewness (Cs) 45 .43) = 286. sebagai berikut : • Harga atau nilai untuk berbagai masa ulang atau nilai curah hujan untuk masa ulang tertentu..91 mm 4.0628 Ytr = 2.2930 x 68.5236 • Sn = 1.4952 = 1.0628 Jadi besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 20 tahun adalah : X20 = 130 + (2.4952 • Sn= 0.43 10 − 1 Jumlah data n = 10.c didapat : Yn = 0.a. maka Yn = 0.2502 Nilai K = 2.MK. terutama dalam analisis data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum) dengan nilai ekstrim. log X Tr = log X + K Tr ( S log x ) • Rata-rata (mean) (4. 1.14) log X = • ∑ log X n (4.5236 = 2.2502 − 0.2.15) Standar deviasi (simpangan baku) S log X = • ∑ (log X i − log X ) 2 n −1 (4.

3096 (logX-log X )3 -0.25 2.92 1.0002 0.7.1681 0.08 2. Penyelesaian : Tabel 4.0081 0.0689 0.86 1.17) Koefisien Variasi (Cv) Cv = • S log X X (4.0036 0.16 2.48 20. dan dengan memakai nilai SlogX atau Cs dapat dilihat pada Lampiran 1.0001 0. Hidrologi JFK Cs = • n∑ (log X − log X ) 3 (n − 1)(n − 2)( S log X ) 3 (4.0324 0.0225 0.72 (logX-log X )2 0.0441 0.0225 0.06 2.MK.0034 -0. hitunglah dengan menggunakan Log Pearson III.0000 0.0093 -0. Tabulasi data untuk Log Pearson Type III No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 2000 1995 1998 2001 1994 1995 1997 2003 2002 1999 Σ X (mm) 72 84 84 96 103 115 121 145 177 303 1300 log X 1.92 1.5.01 2.0034 -0.7 diperoleh : 46 .0007 -0.19) Faktor penyimpangan K untuk kala ulang tertentu.0081 0.98 2.0007 0.18) Kurtosis (Ck) Ck = n 2 ∑ (log X − log X ) 4 (n − 1)(n − 2)(n − 3)( S log X ) 4 (4.0000 0.0584 Dari tabel 4.0058 0. Contoh : Data curah hujan pada Tabel 4.d.0001 0.

Kelompokkan data menjadi K sub-group.339 Harga atau nilai untuk berbagai masa ulang atau nilai curah hujan untuk masa ulang 10 tahun : • • LogX10 = 2. Interpretasi hasilnya : Apabila peluang lebih dari 5%.d.0584 = 1. G = interval kelas). Jumlahkan data pengamatan sebesar Oi tiap-tiap sub-group.MK.317 X10 = 207.R -1 ( R = anggap 0. SlogX = Koefisien asimetris (Cs) = 10 x0.287 dari Lampiran 1. Hidrologi JFK • • • Rata-rata (mean) = 20.072 10 0.72 = 2.83 mm 4.3096 = 0. maka persamaan distribusi teoritis yang digunakan dapat diterima (Χ2tabel > Χ2hitung) Χ2tabel dapat dilihat pada Lampiran 2.185 9 Standar deviasi .4. Tiap-tiap sub-group hitung : (Oi – Ei)2 dan (Oi – Ei)2/Ei Jumlahkan seluruh K sub-group harga (Oi – Ei)2/Ei untuk menentukan harga chi square (Χ2).0063 Dengan n = 10 dan Cs = 1. Ada 2 (dua) cara uji penyimpangan. Jumlahkan data dari persamaan distribusi yang digunakan sebesar Ei. Uji Kecocokan Uji kecocokan atau uji penyimpangan dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang nyata antara besarnya curah hujan harian maksimum hasil pengamatan lapangan dengan hasil perhitungan.287 9 x8 x0.185) = 2.83 mm Jadi curah hujan untuk kala ulang 10 tahun = 207.339)(0. diperoleh K = 1. 47 . Tentukan derajat kebebasan dk = G . yakni : (1) Chi square atau chi kuadrat Prosedur uji Chi Square (Χ2) : • • • • • • • • Urutkan data pengamatan (dari kecil ke besar atau sebaliknya).07 + (1.3.

00 0.a. Tentukan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya).00 .50 2. Apabila peluang berada antara 1-5% adalah tidak mungkin untuk mengambil keputusan.8.00 Dari Tabel 4.50 χ2= 8. (2) Smirnov – Kolmogrov Untuk mengetahui apakah data tersebut sesuai dengan jenis sebaran teoritis yang dipilih. Perhitungan chi square Interval kelas Nomor pengamatan (Oi) 56-105 106-155 156-205 206-255 256-305 5 3 1 1 10 Nomor harapan (Ei) 2 2 2 2 2 10 3 1 -1 -2 -1 Oi-Ei (Oi − Ei) 2 Ei 4..00 kurang lebih pada peluang 30% (lebih besar dari 5%).50 0.8. Tabel 4. Hidrologi JFK • • Apabila peluang lebih kecil 1%. χ2 hitung = 8. dengan dk = 4 dan nilai chi kuadrat sama atau lebih besar dari 8. Prosedurnya adalah : • • Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut. 48 . maka persamaan distribusi teoritis yang digunakan tidak dapat diterima.50 0. Penyelesaian ditabulasikan seperti tabel 4. Maka distribusi Gumbel dan Log Pearson III dapat diterima. Berdasarkan tabel chi kuadrat di Lampiran 2.8.MK. Contoh Dengan menggunakan data curah hujan harian maksimum pada contoh untuk distribusi Gumbel dan Log Pearson Type III. maka dilakukan pengujian kesesuaian distribusi (“testing of goodness of fit”).

4002 Syarat Data hujan beberapa stasiun Areal rainfall Dipilih yang besar-besar Annual Series Partial Series Annual Exced. Ck) 49 . Syarat untuk Jenis Sebaran Sebaran Normal Log Normal Log Pearson III Gumbel Cs ≈ 0 Ck ≈ 3 Cs/Cv ≈ 3 Cs = (+)/(-) Cs = 1.1396 Ck = 5. Series Data hujan maksimum Diurutkan/diranking Analisa cara statistik (S. Berdasarkan persamaan Smirnov Kolmogrov sebagai berikut : P {max (p (x) – P (xi) /> Δ cr = α } • Apabila Δmax yang terbaca pada kertas probabilitas < Δcr (Δ kritis) yang didapat dari tabel. Adapun jenis sebaran dan syarat-sayarat yang biasa digunakan adalah sebagai berikut : Tabel 4. Cs. Hidrologi JFK • Dari kedua nilai peluang tersebut tentukan selisih terbesarnya antara peluang pengamatan dengan peluang teoritis. 4. Cv. Dengan membandingkan probabilitas masing-masing variasi dari distribusi empiris dan teoritisnya akan terdapat perbedaan Δ tertentu. Pemilihan Jenis Sebaran Metode analisis hidrologi dipilih berdasarkan jenis sebaran. X.4.4. maka penyimpangan yang terjadi hanya karena kesalahan-kesalahan yang terjadi secara kebetulan.9.MK.

MK.2. C. Partial series/ threshold method : Ditentukan batas bawah dimana diatas batas atas tersebut sudah terjadi banjir. Penutup Soal-Soal : 1. Sebutkan faktor-faktor yang menentukan besarnya curah hujan rata-rata tahunan ! 2. Apa yang dimaksud dengan : a. Hidrologi JFK Flowchart 4. Annual excedence method : Diambil beberapa data terbesar dimana jumlah data sama dengan jumlah tahun data. Analisa Frekuensi Curah Hujan Keterangan : Annual series : diambil harga maksimum tiap tahun. hujan konfektif 50 . rangkaian data yang diambil yang lebih besar sama dengan batas bawah.

1979.Ram S.New York Soemarto. 1999.C. Prentice Hall.Arved J. Buatlah data curah hujan pada suatu daerah. Hidrologi Teknik. Pergamon Press. minimal 10 pos pengamatan dan hitunglah rata-rata curah hujan dengan metode-metode yang disebutkan pada no. Hidrologi JFK b. hujan cyclonic d. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Hidrologi untuk Pengairan.. 1989. X (mm) 106 196 87 98 106 145 138 100 98 206 Raudkivi. Erlangga. Hitunglah besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 10 tahun. Daftar Istilah 51 . hujan orografik c. New Jersey Tahun 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Curah hujan . Sebut dan jelaskan metode-metode yang digunakan untuk menghitung curah hujan rata-rata di suatu daerah ! 4. 3 ! 5. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Daftar Pustaka Gupta.2003.D. Hidrologi (Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data). Data curah hujan harian maksimum pada sebuah stasiun meteorology di Kupang terlihat pada tabel berikut berikut dimana banyaknya pengamatan 10 tahun.Nova.. 1995. Bandung Sosrodarsono. Jakarta Soewarno. intensitas curah hujan 3. Hydrology. dan kemungkinan yang terjadi pada 50 tahun mendatang dengan Metode Gumbel type I dan Log Pearson III.MK. Hydrology and Hydraulic Systems.

MK. Hidrologi JFK Latitude Atitude Hujan konfektif Hujan orografik Hujan cyclonic Double Mass Curve Intensitas Probabilitas 52 .

pengaruh intensitas curah hujan pada limpasan permukaan tergantung dari kapasitas infiltrasi. Curah hujan dan kelembaban udara. Lamanya curah hujan. yang berarti ditetapkan berdasarkan aliran air 50 . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Limpasan Faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan dibagi dalam dua kelompok. Menjelaskan daerah aliran sungai dengan baik dan benar. b. a. Arah pergerakan curah hujan. Daerah Aliran Sungai Daerah Aliran Sungai (DAS) (catchment. Jenis tanah. c. watershed) merupakan daerah dimana semua airnya mengalir ke dalam suatu sungai yang dimaksudkan. b. Kondisi meteorologi lainnya. Distribusi curah hujan dalam daerah pengaliran. semakin besar daerah pengaliran. Menentukan besarnya debit sungai berdasarkan contoh soal dengan benar. 5. yakni elemen-elemen meteorologi dan elemen-elemen daerah pengaliran. Hidrologi JFK BAB V LIMPASAN PERMUKAAN A. d.2. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a.1. 5. tergantung pada jenis presipitasi yakni hujan atau salju. Intensitas curah hujan. basin. makin lama limpasan itu mencapai tempat titik pengamatan/pengukuran. Kondisi topografi dalam daerah pengaliran. Menganalisa limpasan permukaan berdasarkan contoh soal dengan benar. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan dengan benar. Elemen daerah pengaliran Kondisi penggunaan lahan/tanah. Daerah ini umumnya dibatasi oleh batas topografi.Mk. Elemen-elemen meteorologi Jenis presipitasi. Pendahuluan Pada bab ini akan dipelajari tentang faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan (run-off) dan luas daerah aliran sungai serta metode-metode yang digunakan untuk menghitung besarnya limpasan curah hujan. Daerah pengaliran.

Daerah dimana sungai memperoleh air merupakan daerah tangkapan hujan yang biasanya disebut Daerah Aliran Sungai atau Daerah Pengaliran Sungai. Pola itu tergantung dari kondisi topografi. yang umumnya merupakan stasiun hidrometri. Pola Aliran Sungai di dalam semua DPS mengikuti suatu aturan yaitu bahwa aliran sungai dihubungkan oleh suatu jaringan satu arah dimana cabang dan anak sungai mengalir ke dalam sungai induk yang lebih besar dan membentuk suatu pola aliran. Nama sebuah DAS ditandai dengan nama sungai yang bersangkutan dan dibatasi oleh titik kontrol.1. sungai mempunyai fungsi utama menampung curah hujan dan mengalirkannya samapi ke laut. Memperhatikan hal tersebut berarti sebuah DAS dapat merupakan bagian dari DAS lain. hulu hilir Gambar 5. 5. Ditinjau dari segi hidrologi.Mk.2.1.Beberapa pola aliran yang terdapat di Indonesia antara lain : a. iklim. Radial 51 . vegetasi yang terdapat didalam DPS tersebut. Hidrologi JFK permukaan. geologi. Secara keseluruhan kondisi tersebut akan menentukan karakteristik sungai di dalam bentuk polanya. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai adalah torehan di permukaan bumi yang merupakan penampungan dan penyalur alamiah aliran air dan material yang dibawanya dari bagian hulu ke bagian hilir suatu daerah pengaliran ke tempat yang lebih rendah dan akhirnya bermuara ke laut. Batas ini tidak ditetapkan berdasar air air bawah tanah karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkat kegiatan pemakaian.

Misalnya suatu daerah ditutupi oleh endapan sedimen yang luas dan terletak pada suatu bidang horizontal di daerah dataran rendah bagian timur Sumatera dan Kalimantan. Gunung Ijen di Jawa Timur. Gunung Merapi di DI Yogyakarta. d. Hidrologi JFK Pola ini biasanya dijumpai di daerah lereng gunung berapi atau daerah dengan topografi bebrbentuk kubah.Mk. Trellis Biasanya dijumpai pada daerah dengan lapisan sedimen di daerah pegunungan lipatan. Tipe Radial Kali Oyo b. Tipe Rektangular 52 . c. Dendritik Pola ini pada umumnya terdapat pada daerah dengan batuan sejenis dan penyebarannya luas. b. misal di daerah pegunungan lipatan Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Rektangular Terdapat di daerah batuan kapur. misal Gunung Kidul di DI Yogyakarta. misal sungai lereng Gunung Semeru di Jawa Timur. G. Merapi Kali Dengkeng Kali Progo Kali Opak a. Gunung Slamet di Jawa Tengah.

b. Bentuk ini biasanya akan menyebabkan debit banjir relatif kecil karena perjalanan banjir dari anak-anak sungai berbeda waktunya.2. yakni : a. kadang-kadang gambaran tersebut berbentuk kipas atau lingkaran. Setelah DPS ditentukan garis batasnya.2. Pada umumnya DPS dapat dibagi menjadi empat bentuk. Tipe Trellis Way Rarem d. Sebagai akibat dari bentuk tersebut 53 . maka bentuk DPSnya dapat diketahui. Bentuk Daerah Aliran Sungai Pola sungai menentukan bentuk suatu DPS. Memanjang Biasanya induk sungai akan memanjang dengan anak-anak sungai langsung masuk ke induk sungai. Bentuk DPS mempunyai arti penting dalam hubungannya dengan aliran sungai. Kadang-kadang berbentuk seperti bulu burung. Tipe Dendritik Gambar 5. Hidrologi JFK c.2.Mk. yaitu berpengaruh terhadap kecepatan terpusatnya aliran. Pola Aliran Sungai 5. Radial Bentuk ini terjadi karena arah alur sungai seolah-olah memusat pada suatu titik sehingga menggambarkan adanya bentuk radial.

perbukitan atau daerah gunung berapi yang terkadang mempunyai cukup ketinggian dari muka laut. c. Bagian hulu Bagian hulu merupakan daerah sumber erosi karena pada umumnya alur sungai melalui daerah pegunungan. Bagian hilir 54 . sehingga pada saat banjir material hasil erosi yang diangkut tidak saja partikel sedimen yang halus akan tetapi juga pasir. kerikil bahkan batu. Pararel DPS ini dibentuk oleh dua jalur sub DPS yang bersatu di bagian hilirnya. Bagian tengah Merupakan daerah peralihan dari bagian hulu dan hilir. b. Apabila terjadi banjir di daerah hilirnya biasanya setelah di sebelah hilir titik pertemuan kedua alur sungai sub DPS tersebut. kerikil dan tanah. Kemiringan dasar sungai lebih landai sehingga kecepatan aliran relatif lebih kecil dari pada bagian hulu. Apabila terjadi hujan yang sifatnya merata di seluruh DPS akan menyebabkan terjadinya banjir besar.2. Penampang melintang bentuk V dengan material alur sungai berupa batuan cadas. Alur Sungai Secara sederhana alur sungai dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu : a. sebagian besar air akan merembes dan sebagian lain akan mengalir membawa partikel-partikel tanah sehingga menimbulkan erosi. d. c.3. 5. Umumnya penampang sungai berbentuk peralihan V dan bentuk U sehingga daya tampungnya biasanya masih mampu menerima banjir. Apabila hujan turun. Hidrologi JFK maka waktu yang diperlukan aliran yang datang dari segala penjuru arah alur sungai memerlukan waktu yang hampir bersamaan.Mk. Bagian tengah merupakan daerah keseimbangan antara proses erosi dan pengendapan yang sangat bervariasi dari musim ke musim. Alur sungai di bagian hulu biasanya mempunyai kecepatan aliran yang cukup besar daripada bagian hilir. Kompleks Merupakan gabungan dasar dua atau lebih bentuk DPS. Alur sungai yang terjadi biasanya mempunyai lembah yang curam dan biasanya melalui banyak terjunan dan jeram. Bentuk penampang memanjang tidak beraturan karena ada yang curam dan ada yang datar tergantung dari jenis batuan yang dilewati alur sungainya. sebagai akibat keadaan ini maka bentuk kontur akan relatif rapat yang menunjukkan miringnya permukaan bumi yang cukup besar.

karena proses erosi dan pengendapan yang berlangsung terus-menerus pada sungai maka pada sungai akan terjadi perubahan bentuk tampang.Mk. Bentuk meandering Seperti telah diuraikan. karena pengaruhnya terhadap perubahan geometri tampang relatif kecil. a. Untuk menyatakan perubahan tersebut istilah indeks tampang ( r ) sering digunakan. Untuk keperluan analisis geometri tampang secara keseluruhan. Sketsa profil memanjang alur sungai 5. 55 . Namun sesungguhnya banyak kondisi transisi dari klasifikasi yang disebutkan di atas. Fluktuasi muka air akibat perubahan debit jauh lebih kecil daripada fluktuasi yang terjadi pada tampang basah alur yang kaku (“fixed” dan “non-erodible”). lurus dan braided. beberapa kelompok debit kadang perlu dipisahkan dari kelompok debit yang lain. endapan organik dan jenis endapan lain yang sangat labil.1) dengan A = luas tampang basah B = lebar muka air Pada umumnya pengaliran di sungai adalah tidak permanen (“unsteady”). Sungai yang berbentuk meander adalah sungai yang mempunyai belokan yang secara (kurang lebih) teratur membentuk fungsi sinus pada bidang datarannya. Hidrologi JFK Biasanya melalui dataran yang terbentuk dari endapan pasir halus sampai kasar seperti lumpur.4.2. Bentuk Sungai Bentuk sungai dapat diklasifikasikan seperti berikut : meandering. r= d A = 2 B B d= A B (5.4. erosi endapan laut hulu tengah hilir Gambar 5.

Umumnya meander sungai akan mempunyai kemiringan dasar yang sangat landai. dan V adalah kecepatan rata-rata pada tempat yang ditinjau (arah vertikal). Dengan demikian erosi akan terjadi pada sisi luar belokan dan pengendapan akan terjadi pada sisi dalam belokan. Teori tentang aliran yang terjadi pada belokan saluran dapat digambarkan secara skematik sebagai berikut : Sisi dalam belokan Sisi luar belokan z Vx Vy V2/2g E E=konstans y z 0 Gambar 5.4) b. sehingga seolah-olah merupakan bagian transisi dari meander satu ke 56 . Kemudian gaya centrifugal pada belokan akan menyebabkan timbulnya arus melintang sungai yang selanjutnya bersama-sama dengan aliran utamanya akan membentuk aliran helicoidal. total energi harus konstan. Menurut Bernoulli. Bentuk lurus Sungai lurus biasanya juga merupakan penghubung dari meander-meander (crossing). dapat ditulis : V2 E=z+ = kons tan 2g Dideferensiasi ke r : (5.Mk. Skematik aliran di belokan Vx Vy Kemiringan muka air pada arah transversal adalah : dz V 2 ≈ iy = dr gr (5. Dasar sungai pada sisi luar belokan umumnya akan lebih dalam karena adanya kecepatan yang lebih besar pada sisi luar belokan tersebut.3) dz V dV + =0 dr g dr (5. Hidrologi JFK Biasanya terdiri dari beberapa seri belokan yang dihubungkan oleh bagian yang lurus yang disebut dengan “crossing”.2) dengan r adalah jari-jari kelengkungan dari belokan sungai.5.

Sebab-sebab terjadinya arus melintang pada bagian sungai lurus masih menjadi obyek spekulasi ilmiah. Sungai biasanya lebar. c. Perlu diingat bahwa sesungguhnya arus melintang (biasa juga disebut arus sekunder). hal tersebut mungkin kurang penting. dan sulit untuk diprediksikan. Kedalaman air pada crossing relatif lebih dangkal dibandingkan dengan kedalaman air pada bagian meander. Hidrologi JFK meander berikutnya. Ada yang menyatakan bahwa arus melintang pada sungai lurus timbul karena perbedaan konsentrasi sedimen dan temperatur air. namun untuk keperluan praktis. Gambar 5.Mk. dapat terjadi pada sembarang bentuk saluran/sungai. Seberapa jauh pengaruhnya masih terbuka untuk diperdebatkan.6. karena pengaruh arus melintang masih terasa/belum hilang pada saat memasuki bagian lurus. Bentuk braided Bentuk sungai semacam ini adalah sedemikian kompleksnya sehingga pada debit kecil alur sungai kadang-kadang akan terdiri dari satu atau lebih alur sungai yang dipisahkan oleh pulau-pulau kecil di dalam sungai tersebut. Sebagian material hasil erosi pada sisi luar belokan kadang juga terbawa ke crossing oleh arus melintang. Sungai semacam ini biasanya mempunyai kemiringan yang relatif terjal serta membawa sedimen dengan konsentrasi tinggi. Pola alur sungai A A B B C C Pola lurus dibagian tengah Pola lurus di bagian hulu D D E E Pola berbelok (meander) 57 . alur-alur kecil serta formasi garis sedimen sering berubah dengan berubahnya besar debit yang lewat.

Semua cara untuk perkiraan limpasan permukaan (debit banjir) yang berdasarkan curah hujan lebat. panjang dan lebar c.6.3. cara dengan rumus rasionil c. luas b. cara dengan rumus empiris b. cara statistik atau kemungkinan d. Rumus Empiris 58 . Hidrologi JFK 5.5. dengan ukuran geometrik (tampang lintang. 5. orde dan tingkat percabangan sungai e. Keadaan yang dimaksud untuk analisa aliran sungai antara lain : a. serta jumlah dan jenis dari sedimen yang diangkut oleh air. Morfometri Sungai Morfometri sungai adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan keadaan jaringan alur sungai secara kuantitatif. setelah dikurangi bagian yang meresap ke dalam tanah sebanyak sesuai dengan keadaan porous dan permeabilitas tanah. Sedangkan jenis pengaliran pada alur buatan lebih banyak di bawah kendali manusia. Morfologi Sungai Sungai sebagai aliran terbuka. sebagai reaksi adanya perubahan kondisi hidraulik dari aliran. Analisa Limpasan Permukaan Limpasan permukaan adalah bagian air yang sisa.2. dapat diklasifikasikan dalam 4 cara seperti berikut : a. tergantung pada debit.1. profil memanjang dan kemiringan lembah) berubah dengan waktu. Ukuran dan bentuk sungai tersebut selanjutnya disebut morfologi sungai. dengan proses stokastik yang sangat bervariasi. Debit sungai sangat tergantung pada kejadian-kejadian metereologi. Dengan demikian maka bagian dasar dan tebing sungai akan dibentuk oleh material yang diangkut oleh aliran sungai berasal dari pelapukan geologi pada periode yang panjang. kemiringan d.3. material dasar dan tebing. kerapatan sungai 5. sebagian besar merupakan aliran permanen (“steady”).Mk. dapat tidak beraturan (“non-uniform”). Sungai akan leluasa dalam menyesuaikan ukuran-ukuran dan bentuknya.2. cara dengan unit hidrograf 5.

12A0. yakni jika tidak terdapat data yang cukup atau digunakan untuk memeriksa hasil yang didapat dengan cara yang lain.67 Q=4600A0.5 Qa=24.476 Q=10000A0.5 6 7 8 9 10 11 12 13 Inglis Ryues Ryues Bransby Williams U.1. Debit banjir maksimum Sumber : Hidrologi. 59 .5 Qa=150A0. maka perkiraan debit banjir dihitung dengan rumus-rumus empiris yang telah banyak dikemukakan.Mk.516 Catatan c.5 Qm=131000A/(107+A)0.67 Qa=560A0. A=3000160000km2 Hujan lebat. Tabel 5.538/(A+259)+0.h sedang.78 DPS bentuk kipas New Zealand India India India Inggris USA E E E E E E A lebih dari 10 mil2 A=100024000mil2 Debit maks seluruh dunia bjr di Australia E 14 15 Baird&McIllwraith Fanning Qm=222000A/(185+A)0.054}A Qm=2900h/(A+90) Qm=20000A0.S Geological Myer Baird&McIllwraith Q=7000A/√(A+4) Q=675A0.5 Q=200A5/6 Qa : Debit banjir rata-rata (tahunan) Australia USA E E Q & Qm . Cara dengan rumus empiris biasanya digunakan sebagai alat terakhir. Sosrodarsono S. Rumus-rumus empiris yang digunakan No 1 Pembuat Rumus Rumus Q=(10-70)A0. A=4003000 km2 A=15200000 km2 A=100012000 km2 A kurang dari 1000 km2 Nama Negara Perancis Satuan M 2 Perancis M 3 4 5 Whistler Pangliaro Jerman Itaila Italia M M M Qm={1.52 Q=1400A0. Hidrologi JFK Jika tidak terdapat data hidrologi yang cukup.

Bisa dipakai Banjir Rencana Flowchart 5. Analisa Frekuensi Banjir 60 . Hidrologi JFK Data AWLR / Pengamatan peil scale Pengukuran debit Stage hydrograph H vs t Rating curve H vs Q Discharge hydrograph Q vs t Didapat beberapa debit puncak Annual series Partial series Annual Exced. x.Mk.1. Cv. Series Data debit maksimum Diurutkan Analisa cara statistik (S. Pengujian Sebaran yang dipilih/gambar pada kertas prob. Cs. CK) Pemilihan jenis sebaran Plotting pada kertas prob.

Hujan Rencana menjadi Debit Rencana 61 .2.Mk. Hidrologi JFK Hujan Rencana Menjadi Debit Rencana Analisa frekuensi hujan Analisis data hujan jam-jaman dari penakar hujan otomatik Hujan rencana Distribusi hujan jam-jaman Hujan didistribusi jam-jaman Rumus-rumus empiris Model hidrologi Parameter DAS Parameter DAS Hydrograph satuan Hydrograph <--> hujan penyebab hidrograph Hidrograph banjir Debit rencana Debit rencana Debit rencana = debit puncak hidrograph (sudah termasuk aliran dasar) Keterangan : Periode ulang banjir dianggap sama dengan periode ulang hujan Flowchart 5.

.

Waktu hujan sama dengan waktu konsentrasi DPS.42 .q. Rumus ini banyak digunakan untuk sungai-sungai biasa dengan daerah pengaliran hingga 50 km2= 5000 ha dan juga untuk perencanaan drainase pengaliran yang relatif sempit. f .2.277.6) Waktu konsentrasi ditentukan terlebih dahulu untuk mempercepat curah hujan maksimum dengan rumus : tc = 1000 L 3600V (5.7) (5. Penerapan metode rasional pada DPS yang luasnya lebih dari 50 km2 adalah : • • • Intensitas curah hujan merata di seluruh DPS untuk waktu curah hujan tertentu.52.Mk. koefisien aliran berkisar antara 0. Untuk perhitungan debit banjir dianjurkan α = 0. Puncak banjir dan intensitas hujan mempunyai kala ulang yang sama.I 2 63 .52 dan 0. 0.31 5 β . Koefisien reduksi β adalah perbandingan antara hujan rata-rata dan hujan maksimum yang terjadi di suatu daerah pengaliran pada waktu yang sama. temperatur. keadaan tanah.12 (5. Nilai ini tergantung pada kemiringan tanah. angin.8) V = 1. A = 0. der Weduwen dan Haspers (1) Metode Melchior Menurut Melchior.6 (5.5) = debit banjir maksimum (m3/dt) = koefisien pengaliran/limpasan (lihat Lampiran 3. f .1. Hidrologi JFK 5. Rumus Rasionil a) Rumus Rasional Praktis Rumus ini adalah rumus yang tertua dan yang terkenal di antara rumus-rumus empiris. A 3. vegetasi. Bentuk umum rumus rasionil adalah sebagai berikut: Q= Q f r A 1 f .r.a) = intensitas curah hujan rata-rata selama waktu tiba dari banjir (mm/jam) = daerah pengaliran (km2) b) Metode Melchior.r. penguapan dan lamanya hujan yang bersangkutan. dan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : f = 1970 − 3960 + 1720 β β − 0.62.

Mk. Hidrologi JFK

I=

H 0,9 L

(5.9) (5.10)

Q maks = α.β.q. f Keterangan : tc L V α β f q H = waktu konsentrasi (jam) = panjang sungai (km) = kecepatan air rata-rata (m/dtk)

Qmaks = debit maksimum (m3/dtk) = koefisien aliran = koefisien reduksi = luas daerah pengaliran (km2) = hujan maksimum (m3/km2/dtk) = beda tinggi antara dasar sungai di mulut DPS dengan dasar sungai di titik 0,9 L ke arah hilir Maka T = 0,186.L.Q-0,2.i-0,4 (5.11)

(2) Metode der Weduwen Koefisien aliran dihitung dengan rumus :

α = 1−

4,1 β .q + 7 t +1 f t +9 120 + f

(5.8)

Koefisien reduksi (β) dihitung dengan rumus :

β=

120 +

(5.9)

Waktu konsentrasi tc dihitung dengan rumus : tc = 0,125L. Q-0,125.i-0,25 Hujan maksimum (q) dihitung dengan rumus : (5.10)

q=

67,65 t + 1,45

(5.11)

keterangan : t = 1/6 sampai dengan 12 jam f ≤ 100 km2 Pada penerapan metode Weduwen, pertama-tama ditentukan harga t perkiraan untuk menghitung harga β,kemudian harga q dan α, kemudian hitung harga t perhitungan dengan persamaan sebagai berikut :

64

Mk. Hidrologi JFK

t=

0,475 xf 0,375 (αβq) 0,125 .I 0, 25
• •

(5.12)

dengan ketentuan : Apabila harga t perkiraan belum sama dengan t perhitungan maka tentukan harga t yang lain, Apabila harga t perkiraan sudah sama dengan t perhitungan maka debit puncak banjirnya dapat dihitung.

(3) Metode Haspers Koefisien aliran (α) dihitung dengan rumus :

α=

1 + 0,012. f 0, 7 1 + 0,075. f

(5.13)

Koefisien reduksi (β) dihitung dengan rumus :

1

β

= 1+

t + (3,7.10 0, 4t ) f 3 / 4 12 (t 2 + 15)

(5.14)

Waktu konsentrasi dihitung dengan rumus : tc = 0,1.L0,9.i-0,3 Hujan maksimum dihitung dengan rumus : (5.15)

q=

Rt 3,6.t

(5.16) (5.17)

Rt = R + Sx.U Keterangan : t q R Sx Sx R1 R2 U tm n m Rt = waktu curah hujan (jam) = hujan maksimum( m3/km2/dtk) = curah hujan maksimum rata-rata (mm) = simpangan baku =½ ⎜ ⎜

⎛ R1 − Ra R2 − Ra + U2 ⎝ U1

⎞ ⎟ ⎟ ⎠

(5.18)

= hujan absolut maksimum ke 1 = hujan absolut maksimum ke 2 = variable simpangan untuk kala ulang T tahun (Lihat Lampiran 3.b) = (n+1)/m = jumlah tahun pengamatan = rank (1 dan 2) = curah hujan dengan kala ulang T tahun (mm) (5.19)

65

Mk. Hidrologi JFK

Berdasarkan Haspers ditentukan : a. Untuk t < 2 jam

Rt =

t.R24 t + 1 − 0,0008(260 − R24 )(2 − t ) 2

(5.20)

b. Untuk 2 jam < t < 19 jam

Rt =

t.R24 t +1

(5.21)

c. Untuk 19 jam < t < 30 hari

Rt = 0,707.R24 t + 1
Contoh :

(5.22)

Pada suatu pos duga air sungai, dengan luas DPS 50 km2 mempunyai aliran puncak banjir dengan tinggi muka air 2,50 m. Puncak banjir tersebut terjadi pada curah hujan maksimum yang tercatat pada 4 lokasi pos penakar curah hujan otomatis sebesar 140, 142, 132, dan 146 mm. Panjang sungai utama 12,5 km dengan kemiringan sungai 0,071. Hitung debit puncak banjir dengan cara Melchior, Weduwen, dan Haspers! Penyelesaian : a. Melchior Luas DPS, f Luas elips,F (1/4.π.f.b) = 50 km2 = 82 km2 ( b = sumbu pendek 2/3 dari sumbu panjang) Kemiringan,I Koefisien aliran,α Koefisien reduksi,β Curah hujan maksimum rata-rata Prosedur hitungan : • • • • • Asumsi besarnya curah hujan maksimum sehari q1 = 10,9 m3/km2/dtk Kecepatan aliran rata-rata, V = 1,31. 5 0,92.10,9.50.0,0712 = 1,57 m/dt Waktu konsentrasi, t c = = 0,071 = 0,52 = 0,92 = 140 mm

10 x12,5 = 2,2 jam 36 x1,57

Lihat lampiran 3.c. didapatkan prosentase 43% dari perbandingan luas elips dan lama curah hujan, sehingga : Rt = 0,43.R24

66

94 maka .65 + (3.7 ) • Hitung waktu konsentrasi. Namun karena selisihnya hanya 3.075 x50 0.80 x15.79 0. 7 ) = 0.65 = 15.2 Q1 = β.0008(260 − 140)(2 − 1.65 + 1 − (0.6 menit (0. β = • Harga curah hujan maksimum.65 jam • Harga koefisien reduksi. t = 0.f Q = 0.94 = 0.t = 0.q.f.2.80 x 15.q.125 .4 + 7 0. Weduwen Pertama kita asumsikan t = 2. α = 140 = 340.8 x 0. 25 untuk mendekati 2.4) 0.476 x50 0.1 x 12. 120 + • Harga koefisien reduksi.65 2 + 15 Rt = 1. 1 β = 1+ 1.4 x 50 x c. • Jadi β = 0.375 = 3.06 jam≈3. (Rrata-rata/R24maks) Q1 = 0.20 12 1.β. 65 ) 50 3 / 4 x = 1.071-0.00 jam (kurang 0.43.6 menit maka dianggap untuk kasus ini sudah memenuhi. 4 x1.1 = 0.(0. berarti tidak sama tperkiraan dengan tperhitungan).7 x10 −0.79 x 0. Jadi debit puncak banjirnya : • Q = α.45 4.63 R24 67 .Mk.071) 0.65) 2 ) Rt = 0.R24 maks 36.94 50 11.200 36.80 170 67.83 • Curah hujan selama t jam untuk t = 1.9 x 50 x (140/200)= 182 m3/dt = 10. α = 1 − • t= 3.65 jam.80 x15.648 m3/dt 200 1 + (0.94 + 1. Hidrologi JFK • q= β . q = • Harga koefisien aliran.66mm 1. Haspers • Hitung besar koefisien aliran .94 jam.50.65 x140 = 87.55 1 + (0.9 m3/km2/dt cocok dengan asumsi di atas • Debit puncak banjir = b.3 = 1.52 x 10.4 2.012 x50 0.79 x0.

daerah pengaliran yang lebih besar dari 5.2.94 jam 0. Hidrologi JFK • Curah hujan maksimum q= 87.52 0.7 m3/km2/dt 336 m3/dt Rt R24 q Q 5.2. Cara Statistik atau Kemungkinan Sebelum analisa limpasan dengan cara hidrograf satuan dikembangkan. Cara ini telah digunakan sebelum cara hidrograf satuan diterapkan.3.55 x 0.Mk.65 • Debit puncak banjir Q = 0.43 10.79 0.000 km2.9 m3/km2/dt 182 m3/dt Weduwen 0.4 m3/km2/dt 340.2.65 jam 0. penelitian banjir telah dilakukan dengan cara statistik dan cara kemungkinan yang banyak digunakan orang.63 14. • anak-anak sungai utama dalam daerah pengaliran yang lebih besar dari 20. Cara Unit Hidrograf Cara ini dapat diterapkan pada : • • daerah-daerah pengaliran yang kurang dari 25 km2 sampai daerah pengaliran sebesar 5.83 1.7 m 3 / km 2 / dt 3.000 km2. lebar dasar.000 km2 cara ini dapat juga digunakan jika telah dibuatkan hidrograf satuan yang bersangkutan dengan corak curah hujan dalam daerah pengaliran itu.6 = 14. panjang alur terpanjang. 5.2.92 2.7 x 50 = 336 m3/dt (Perhitungan bisa pula dilakukan dengan tabel pada Lampiran 3. misalnya untuk mencapai puncak hidrograf. maka perlu dicari karakteristik atau parameter daerah pengaliran tersebut terlebih dahulu. Untuk membuat hidrograf banjir pada sungai-sungai yang tidak ada atau sedikit sekali dilakukan observasi hidrograf banjirnya.d) Tabel 5. kemiringan.55 0.6 x1.648 m3/dt Haspers 0. Cara ini sangat teoritis dan mempunyai suatu keuntungan yang besar sebagai cara peramalan yang berdasarkan data-data yang lalu.68 15. Debit maksimum hasil perhitungan beserta unsure-unsurnya Unsur α β t Melchior 0. Salah satu cara adalah Metode Institute of Hydrology Wallingford (IOH).83 x 14.2 jam 0. luas. koefisien 68 .80 2.

tp. = waktu yang diperlukan antara permulaan hujan hingga mencapai puncak hidrograf. Snyder hanya membuat rumus empirik untuk menghitung debit puncak Qp dan waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak dari suatu hidrograf saja. Untuk mempercepat pekerjaan tersebut diberikan rumus ALEXEJEV. = puncak hidrograf satuan (m3/dtk/mm/km2) = debit puncak (m3/dtk/mm) = waktu antara titik berat curah hujan hingga puncak (time lag) dalam jam. A (5. yang memberikan bentuk hidrograf satuannya. yaitu : fp = fc + (fo – fc ) e-kt (5.Mk.5 qp = 0.5 Hubungan te.λ + 0.( L.λ2 + 0. Y = Q t dan X = Qp Tp −a (1− x ) 2 x 3). Y = 10 dengan a diperoleh dari persamaan berikut ini : λ= Q p . sehingga untuk mendapatkan lengkung hidrografnya memerlukan waktu untuk mengkalibrasi parameter-parameternya.23) (5.32.Lc ) n te = (5. Hidrologi JFK limpasan dan sebagainya.15. tr dan Tp adalah sebagai berikut : - Bila te > tr maka t’p = tp (te – tr) sehingga Tp = t’p + 0.24) τp 5.5 Bila te < tr maka Tp = tp + 0. Persamaan ALEXEJEV adalah sebagai berikut : 1). Ada 2 macam hidrograf satuan sintetik yang akan dibahas pada buku ini yakni : a. Q = f(t) 2). Hidrograf satuan sintetik SNYDER Rumus yang digunakan di Indonesia adalah: t p = Ct .278 qp Qp tp Tp Cp Tp dan Qp = qp A untuk hujan 1 mm/jam.045 Untuk menghitung “kehilangan” dimasukkan rumus HORTON.25) dan h = tinggi hujan = 1 mm a = 1.26) 69 .Tp h.

f0. ternyata bahwa persamaan-persamaan Snyder menunjukkan penyimpangan yang besar. dan k dilakukan kalibrasi. b.718218 Untuk mendapatkan fp.27) = debit puncak banjir (m3/dt) = hujan satuan (mm) = tenggang waktu (time lag) dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam) T0. Hal ini dapat dipahami karena memenag cara ini mengandung koefisien empirik yang dikembangkan di daerah Appalachian di Amerika yang kurang sesuai dengan keadaan di Indonesia. dari puncak sampai menjadi 30% dari debit puncak ⎛ t Qa = Q p ⎜ ⎜T ⎝ dengan Qa t ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2. A.Mk. sedangkan f0 akan mempunyai nilai yang berbeda untuk masing-masing keadaan banjir.28) = limpasan sebelum debit puncak = waktu (jam) Bagian lengkung turun (decreasing limb) 70 .6. baik dalam besaran waktu capai puncak maupun debit puncak. fp tergantung pada tinggi curah hujan. Hidrologi JFK Dengan : fp = daya infiltrasi pada saat t f0 = daya infiltrasi mula fc = nilai akhir f k = konstanta e = bilangan alam = 2. Dalam beberapa pengujian untuk beberapa buah sungai di Pulau Jawa.3 ) (5. Hidrograf satuan sintetik NAKAYASU Rumus yang digunakan adalah : Qp = dengan Qp R0 Tp C.R0 3.3 = waktu yang diperlukan oleh penurunan debit.3.(0. 4 (5.Tp + T0.

8. Bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian yang menurun yang lambat α = 3.3. Bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat α = 1.0. tr 2T0 .0.058 L (5.2.Qp : Qd = Q p .3 0. Qp : Qd = Q p .8tr tg Lengkung naik Lengkung turun Qp 0.Qp > Qd > 0.3 Gambar 5.21.3 T = tg + 0.4 + 0. 3 t = 0.3 Qp > Qd Tenggang waktu Untuk L < 15 km L > 15 km L = panjang alur sungai (km) tg= waktu konsentrasi (jam) tr = 0.5 tg sampai tg T0. 3 t − T p +1.5.3 Qp 0.5 T0.Mk.7 t = 0.3 1.3. 5T0 .0.3. tg Untuk 2 1. L0. 5T0 . 3 0. Grafik Hidrograf Nakayasu t −T p Qd > 0. 3 t −T p + 0 . 71 .3 = α.3 T0 .32 Qp t Tp T0.29) Daerah pengaliran biasa α = 2. 5T0 . 3 : Qd = Q p . Hidrologi JFK 0.

3 2. 3 Tp ≤ t ≤ (Tp + T0.5.56 jam = tg + 0.75 = 9. Panjang L = 75 km.75 x tg = 3.69 m3/dt Perhitungan selanjutnya dilakukan pada Tabel 5.6 9.3 ) 3. 72 .3) ≤ t ≤ (Tp + T0.3 + 1.R0 2400.T0. 65 19 Qd 3 = Q p x0. berikut ini : 0 ≤ t ≤ Tp ⎛ t Qa =Qp ⎜ ⎜T ⎝ p ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2.85 (Tp + T0. Hidrologi JFK Contoh : Luas daerah pengaliran suatu sungai sampai ke pelepasannya (outlet) adalah 2400 km2. 4 ⎛ t ⎞ = 56.3T p + T0.6(0. Tp.3 14.56 = 7. 3 = 56.5) = 56.3 t −7. 5T0 .3) Qd 1 = Q p x0.T0 .3.3) t ≥ (Tp + T0.6 jam = a. T0. 5. 3 t − 2 .69 x0. 3 1.4 ⎝ 7.T0 .75 + 0. tg = 2 x 4.3) Qd 2 = Q p x0.6 + 9.3 = 56.T0 .3 = 56.3 dengan menggunakan rumus-rumus yang telah dimasukkan nilai-nilai Qp. dan T0.3 Qp = 75 km > 15 km maka tg = 0.6 ⎠ t −T p T0 . 25 t + 6 .8 x 3.3 yang merupakan variable tunggal t saja.75 jam = diambil 0. 5.5 t −T p + 0 .1 = 3.3 + 1.3 Dengan memberikan nilai t dalam kolom 1 maka akan didapat nilai-nilai Q dalam kolom 2 pada Tabel 5.69 x0.69 x0.50 jam = A.Mk.8 x tr = 4.5.6(0.3 x7.69⎜ ⎟2. Hujan efektif dalam daerah pengaliran adalah sebagai berikut : t = 1 20 2 40 3 10 jam mm/jam Hujan= Penyelesaian : L tr Tp T0.3 t −T p +1.058 x 75 = 4.4 +0.

44 0 121.4847 13.3134 4.91 830.35 368.5951 25.53 1077.69 630.71 105.85 52.48 782.0178 7.22 1737.45 1898.7247 8.4939 8.42 174.02 887.07 365.27 183.33 189.88 736.36 348.17 1473.46 Ket Qa Qd1 Qd2 Qd3 Hasil perhitungan tersebut di atas dapat digambarkan seperti berikut : 73 .59 961.25 135.34 3274.03 17.95 391.54 45.2552 4.72 63.06 485.06 4.31 319.8444 32.45 949.62 23.2417 10.1453 46.36 242.62 449.3309 9.5360 53.48 930.43 294.85 224.45 270.18 124.0486 Akibat hujan 40 10 (m3/dt) (m3/dt) 0 0 0 8.62 244.95 847.83 1143.8878 47.47 218.47 172.24 266.06 3260.61 715.31 133.80 324.27 2884.90 1298.96 80.91 60.56 604.3.81 92.94 147.39 157.23 97.8962 4.90 642.92 210.37 248.81 207. Tabulasi perhitungan data dengan Metode Nakayasu t (jam) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 U(t.23 509.47 2155.7185 5.19 91.99 396.3683 6.0904 12.97 172.53 657.88 1594.91 67.72 1285.32 340.3016 6.37 320.96 20 (m3/dt) Total 0 8.4587 28.3112 12.96 195.74 62.49 379.10 228.73 80.82 48.90 474.24 112.04 221.26 778.7617 14.85 73.91 344.76 1861.77 418.5956 4.86 1007.5511 17.17 2238.23 688.45 144.4361 2.12 121.44 503.31 160.8226 36.51 465.55 86.99 430.33 510.28 555.68 114.40 1003.2227 5.96 243. Hidrologi JFK Tabel 5.21 57.83 489.65 285.70 1092.71 251.65 532.91 195.44 321.1913 22.50 2424.23 921.88 413.93 315.89 1672.7713 6.67 122.23 571.76 103.59 443.69 1972.2327 11.7530 32.4734 41.1478 20.65 1348.71 87.02 415.94 538.1928 19.99 94.52 2541.1) (m3/dt) 0 0.2239 15.65 3570.22 579.72 0 0 46.05 299.73 649.36 836.45 1199.11 206.46 1530.33 468.51 289.Mk.

Panjang L = 75 km.Panjang sungai .0075 . Diketahui data-data sebagai berikut : . Luas daerah pengaliran suatu sungai sampai ke pelepasannya (outlet) adalah 2500 km2. Penutup Soal-Soal 1. dan Haspers ! 6.Luas DPS . Hujan efektif dalam daerah pengaliran adalah sebagai berikut : 74 .Curah hujan maksimum = 145 mm Hitunglah debit banjir (Q) dengan metode Melchior.3. Sebut dan jelaskan beberapa pola aliran yang ada di Indonesia ! 3.Kemiringan = 48 km2 = 13 km = 0. Weduwen. Grafik Hidrograf Nakayasu C. Hidrologi JFK Hidrograf Satuan Nakayasu 4000 3500 debit Q (m3/dtk) 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 40 mm/jam 20 mm/jam 10 mm/jam total waktu t (jam) Gambar 5. Sebut dan jelaskan bentuk daerah aliran sungai! 4. Sebut dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan ! 2.Mk. Apa yang anda ketahui tentang sungai bentuk meander dan braided? Jelaskan ! 5.

Ram S.Mk.D. Hidrologi (Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data).2003. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik 75 .Nova. 1993. 1999. Erlangga. 1992. Departemen Pekerjaan Umum. Pergamon Press. 1995.New York Soemarto. Gramedia Pustaka Utama.. Analisis Hidrologi. Hydrology and Hydraulic Systems. Banjir Rencana untuk Bangunan Air. Prentice Hall. New Jersey Joesron Loebis.Arved J. 1989. Jakarta Soewarno.C. Bandung Sri Harto Br. Hidrologi untuk Pengairan... PT. Jakarta Sosrodarsono.1979. Jakarta Raudkivi. Hidrologi JFK t = 1 25 2 50 3 30 jam mm/jam Hujan = Buatlah grafik hidrograf satuan sintetik Nakayasu ! Daftar Pustaka Gupta. Hidrologi Teknik. Hydrology.

1. Menjelaskan kerugian akibat pemanfaatan air tanah dengan benar. khusunya bab III tentang infiltrasi dan perkolasi. Tujuan yang hendak dicapai (TIK) pada bab ini adalah mahasiswa akan dapat : a. Hidrologi JFK BAB VI. Menganalisis kapasitas aliran air tanah berdasarkan contoh soal dengan benar. konservasi air tanah dan besarnya air yang keluar. Penyajian 6. Garis pizometrik Artesis Muka air tanah bebas Aquifer bebas Lapisan kedap (impermeable) Aquifer tertekan Gambar 6. AIR TANAH A.Mk. b. Pendahuluan Dalam bab ini akan dipelajari pengetahuan dasar tentang air tanah. B. Corak dari permukaan air tanah 76 . Menjelaskan konservasi air tanah dengan baik d. keadaan air tanah. Pengertian Air Tanah Air tanah adalah air yang terkandung dalam pori-pori atau retak-retak tanah/batuan di bawah permukaan tanah.1. pergerakan air tanah. Menjelaskan pengertian air tanah dengan benar. jenis air tanah. Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu. c. kerugian akibat pemanfaatan air tanah.

kerikil.Mk. Muka air tanah bebas umumnya mengikuti kenampakan dari permukaan tanah (topografi). Aquifer bebas (unconfined aquifer) : terdapat pada bagian atas lapisan kedap dan disebut juga air tanah dangkal. Aquifuge adalah formasi batuan kebal air yang tidak mengandung dan mengalirkan air tanah. Hidrogeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang air tanah dan menekankan pada geologi. Aquifer tertekan (confined aquifer) : lapisan yang biasanya terletak antara dua lapisan kedap air dan mempunyai tekanan.1. fur halus.1. Lapisan tanah/batuan tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga dapat menyimpan air dalam jumlah yang signifikan. Misalkan : batu granit dan batu beku. Misalkan : lempung. Lapisan kedap air adalah formasi batuan yang bisa menyimpan air tanah tetapi tidak dapat mengalirkan air tanah dalam jumlah yang berarti. Jenis Aquifer Ada 2 jenis aquifer : a.1.2. batu gamping yang mempunyai rekah-rekah. Hubungan Air di Sungai dan Air Tanah Muka air tanah dangkal lebih tinggi daripada air sungai 77 . 6. b. Hidrologi JFK Aliran air tanah pada lapisan pembawa air tersebut mengalir dari tempat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi ke arah yang lebih rendah. Misalkan : lapisan pasir. Beberapa istilah tentang Air Tanah Aquifer adalah suatu lapisan tanah/formasi batuan pembawa air tanah. lumpur. Geohidrologi adalah ilmu yang mempelajari air tanah yang menekankan pada hidrologi. 6. batu pasir.

2). Hidrologi JFK Muka air tanah dangkal lebih rendah daripada air sungai Muka air tanah jauh dibawah dasar sungai. Zone Jenuh Air (Zone of Saturation) Terletak di bawah zone of aeration yang dilalui oleh water table dan lapisan ini menunjukkan adanya tekanan udara. 3). Capilary Zone : terletak di atas water table. Air tanah juga muncul disebabkan adanya permukaan tanah yang terpotong secara tiba-tiba yang mungkin disebabkan gempa tektonik. Intermediate Zone kapiler. dimana rekah-rekah tanah tidak seluruhnya terisi air tapi terisi udara. Air dalam zone inilah yang dinamakan air tanah. b. Soil water zone : zone ini tidak jenuh kecuali mendapat air hujan/ irigasi dan merupakan zone perakaran. Kenaikan air terjadi secara kapiler (gaya kohesi).Mk.1. Zone ini terbagi dalam 3 zone yakni : 1). Bentuk lain keluarnya air tanah ke permukaan sebagai aliran tetapi tidak terkonsentrasi disebut rembesan.3. 78 .4. Gambar 6.2. Dalam zone ini terdapat sirkulasi antara air dan udara. Zona-Zona Dalam Air Tanah Pada prinsip air di bawah permukaan tanah terdapat 2 zona yakni : a. Mata Air Mata air adalah aliran air tanah yang terkonsentrasi dan keluar / muncul di permukaan tanah. : terletak di bawah soil water zone dan di atas zone 6.1. Hubungan Air di Sungai dan Air Tanah 6. Zona Aerasi (Zone of Aeration) Zone ini tidak jenuh air.

Mata air yang terbentuk oleh karena muka air tanah (water table) berpotongan dengan permukaan tanah (depression spring). Parrenial Spring : apabila debit mengalir sepanjang tahun.3. b. Hidrologi JFK a. Klasifikasi Mata Air menurut Terbentuknya/Kejadiannya 1).4. 3). Muncul keluar sebagai mata air artesis. Pada musim hujan air muncul karena adanya imbuhan (recharge) sehingga water table naik. Mata air ini mengalir pada lapisan permeable tebal. Periodic Spring : mata air jenis ini sangat terpengaruh hujan. Mata Air Gambar 6. 79 . Permeable Tipis 2).Mk. Mata air yang terbentuk karena patahan/retakan formasi pada bidang pelapisan dari permeable dan impermeable. Di dalam pengembangan pengelolaan mata air maka perlu diteliti apakah jenis kontansi debit airnya termasuk diantaranya. 2). Mata Air dibedakan Menurut Konstansinya : 1). Permeable Tebal 3). Apabila hujan turun sesaat kemudian air mengalir dan selanjutnya debit mata air mengecil bahkan tidak mengalir lagi. Intermitten Spring : apabila aliran debit tidak sepanjang tahun. Mata air yang mengalir dari formasi permeable tipis Mata air Mata air Gambar 6.

Currentmeter : alat ini untuk mengukur arus/kecepatan pada kedalaman yang bisa diatur. Jika pemanfaatan air tanah yang berlebihan akan mengurangi volume air tanah yang ada. Mata air yang terbentuk dan mengalir dari saluran/pipa yang terbentuk dan mengalir dari saluran yang terbentuk dari rekahan pada batuan impermeable. Sehingga kalau mencari debit aliran dicari dahulu kecepatan ratarata. 80 . Hidrologi JFK Lapisan impervious Lapisan pervious Gambar 6. 3). Biasanya debit yang diukur kecil. Kerugian Akibat Pemanfaatan Air Tanah Air tanah merupakan satu bagian dalam proses sirkulasi alamaiah. pertanian. Volumetri yaitu pengukuran debit berdasarkan jumlah volume per satuan waktu. Pengukuran Potensi Mata Air Pemanfaatan air tanah yang muncul sebagai mata air ini dapat dimanfaatkan untuk air minum. 2). aliran mengucur dari tebing dan ditampung di ember dan diukur waktunya.5. inlet outlet 5). Perlu diperhatikan dalam hal kualitas karena mineral air tanah lebih pekat daripada air permukaan. 6. perikanan maupun industri.2. Mata air yang muncul dan mengalir melalui saluran / pipa alam yang terbentuk oleh lava. c. Mata Air yang Muncul Karena Patahan 4). 1).Mk. Pelampung : pengukuran ini pada aliran dan yang diukur adalah kecepatan permukaan.

Teknik untuk penentuan besarnya pemanfaatan yang sesuai Untuk kepentingan pengawetan air tanah. b. 81 . Konservasi Air Tanah a. Penurunan permukaan air tanah atau tekanan air tanah secara terus menerus dapat mengakibatkan penurunan tanah dan penerobosan air asin ke dalam air tanah (intrusi air laut). maka perlu diketahui besarnya pemanfaatan yang sesuai dengan pemompaan air tanah. Hidrologi JFK Berkurangnya volume air tanah akan kelihatan dalam bentuk penurunan permukaan air tanah atau penurunan tekanan air secara terus menerus. b. Adanya lapisan atas dan bawah dari aquifer yang menderita penurunan oleh konsolidasi karena air yang diperas keluar (contoh lapisan lempung lemah). Juga diperkirakan pengaruh yang terjadi jika diadakan pemompaan lebih. dipasang sistem pengamatan permukaan air tanah. b.Mk. Kejadian ini mempunyai hubungan dengan kondisi geologi di daerah air tanah dan jenis air tanah itu. maka kapasitas pengisian kembali air tanah itu harus diperbesar secara buatan. Di daerah pemanfaatan air tanah yang utama.3. Untuk itu disarankan : Dibuat perhitungan neraca air untuk air tanah itu dan ditentukan besarnya pemanfaatan air tanah yang sesuai dengan besarnya sirkulasi air tanah berdasarkan hasil perhitungan neraca air. 6. Untuk mempertinggi besarnya pemanfaatan air tanah. Besarnya penurunan permukaan air harus cukup besar sehingga dapat mengakibatkan penerobosan air asin. Ada beberapa cara pengisian kembali air tanah secara buatan yakni cara penyebaran dan cara pengisian melalui sumur dan kombinasi cara-cara tersebut. Aquifer itu berhubungan dengan air laut. Sebab-sebab utama terjadinya penerobosan air asin : a. Besarnya penurunan permukaan air tanah harus cukup besar dan cukup lama sehingga dapat mengakibatkan penurunan konsolidasi lapisan-lapisan atas dan bawah aquifer. Sebab-sebab uatama yang mengakibatkan penurunan tanah adalah : a. Akan tetapi penurunan tanah atau penerobosan air asin tidak seluruhnya diakibatkan oleh pemompaan yang berlebihan. Pengisian kembali secara buatan. Penurunan tanah terjadi karena penurunan tekanan air tanah dalam aquifer mengakibatkan air yang berada dalam lapisan lempung di bawah dan di atas itu diperas.

3) Keterangan : R H h = dalam dari permukaan air yang dipompa ke permukaan lapisan kedap air di bawah hs = dalam air di sumur pada waktu pemompaan c.36 K R h h log ( ) 0. K. dan jika dasar sumur datar : Q = 4. jika sumur digali pada dataran banjir tepi sungai.5 ( ) 0. untuk aquifer yang tebal dan air keluar dari dasar sumur. s.5rw = jari-jari lingkaran pengaruh = tebal aquifer (6.1) Jika dasar sumur berbentuk bola.2) b.Mk.4) Keterangan : d H H dalam dari permukaan air yang dipompa ke permukaan lapisan kedap air 82 . maka : Q= H 2 − h2 1. rw Keterangan : Q K s rw = banyaknya air yang keluar = koefisien permeabilitas = besarnya penurunan permukaan air = jari-jari sumur Q = 2 π K s rw (6. Hidrologi JFK 6.36 K ( H 2 − h 2 ) 2d log rw = jarak dari sumur ke tepi sungai = tebal aquifer = (6. • Air tanah bebas Q= 1. jika aquifer tidak terlalu tebal dan air keluar dari dasar dan sisi sumur. maka : (6. sumur-sumur lain. maka aliran di dalam tanah dari sungai langsung masuk ke dalam sumur.4. Permukaan di daerah sekeliling dapat diturunkan dengan menurunkan permukaan air pada tempat-tempat pengambilan ini. 25 2 h − hs rw hs + 0. a. Besarnya Air yang Keluar Air tanah dapat diambil melalui sumur atau serambi infiltrasi.

Hidrologi JFK • Air tanah terkekang Q= 2. Aquifer terkekang b. Apa yang dimaksud dengan : a. currentmeter 6. Apa yang anda ketahui tentang air tanah ! 2. Erlangga. Kupang Soemarto.Mk. Sebutkan sebab utama penerobosan air asin! 7.C. Geohidrologi 3. 1999.D. Sebutkan zona-zona dalam air tanah ! Jelaskan ! 4. Sebut dan jelaskan cara-cara konservasi air tanah ! 10. Penutup Soal-Soal 1. C. Jelaskan kerugian yang diakibatkan oleh pemanfaatan air tanah ! 9. jika dasar sumur datar dan dasar sumur berbentuk bola. Sumber Daya Air. Sebutkan jenis-jenis mata air menurut terbentuknya! Jelaskan ! 8. Apa yang dimaksud dengan mata air? 5. Jakarta 83 . Volumetri b. Daftar Pustaka Didik Kresnohadi. Apa yang dimaksud dengan : a. Hidrogeologi d.5) Keterangan : m H’ = dalam dari tekanan air terkekang ke permukaan lapisan kedap air. Hidrologi Teknik. Turunkan persamaan untuk air yang keluar dari dasar sumur.7 mK ( H '− h) 2d log rw = tebal aquifer (6. Aquifuge c. 2004.

Mk. Hidrologi untuk Pengairan. Hidrologi JFK Sosrodarsono. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Daftar Istilah Aquifer Aquifuge Hidrogeologi Geohidrologi Pervious Impervious Currentmeter Intrusi 84 .2003.

1978) yang dikenal dengan the Universal Soil Loss Equation (USLE) adalah suatu model erosi yang dirancang untuk memprediksi rata-rata erosi jangka panjang dari erosi lembar (sheet erosion) termasuk di dalamnya erosi alur (gully erosion) pada suatu keadaan tertentu. Tujuan yang hendak dicapai (TIK) pada bab ini adalah mahasiswa akan dapat : a. tanaman dan curah hujan terhadap besar kecilnya erosi. Menjelaskan pengaruh tanah. c. Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu. Dengan menggunakan persamaan USLE dapat diprediksi laju rata-rata erosi dari suatu bidang tanah tertentu. b. Menjelaskan pengertian erosi dan faktor – faktor penyebab erosi dan sedimentasi dengan benar.BAB VII. Persamaan yang dipergunakan mengelompokkan berbagai parameter fisik (dan pengelolaan) yang mempengaruhi laju erosi ke dalam enam parameter utama. Faktor Tanaman atau Faktor C.1. Persamaan USLE yang diusulkan adalah sebagai berikut : . Menganalisis besarnya nilai erosi dan sedimentasi berdasarkan contoh soal dengan benar. untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang sedang atau yang mungkin dapat dilakukan. Menjelaskan konservasi lahan dengan baik agar dapat menanggulangi pengaruh bahaya erosi terhadap bangunan air. B. EROSIVITAS DAERAH ALIRAN SUNGAI Suatu model parametrik untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah telah dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1965. Penyajian 7. EROSI DAN SEDIMENTASI A. dan faktor tindakan pengendalian erosi. d. Nilai Indeks Erosivitas Hujan. Faktor Erodibilitas Tanah. khusunya curah hujan dan pengaliran air permukaan (run off). pada suatu kecuraman lereng dan dengan pola hujan tertentu. Pendahuluan Dalam bab ini akan dipelajari pengetahuan dasar tentang erosi pada DAS.

yaitu laju erosi per indeks erosi hujan (R) untuk suatu tanah yang didapat dari petak percobaan standar.6 ft (22. Faktor fisik hujan yang dapat menimbulkan erosi disebut erosivitas hujan. Erosivitas hujan besarnya merupakan fungsi dari energi kinetik total hujan dengan intensitas hujan maksimal selama 30 menit dengan satuan [ton/ha/cm hujan]. erosi alur atau erosi tebing. 7.1.6 ft (22. terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah searah lereng dalam keadaan yang identik. terhadap besarnya erosi dari tanah dengan lereng 9 % di bawah keadaan yang identik adalah faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman. Nilai Indeks Erosivitas Hujan Pada persamaan USLE. yaitu jumlah satuan indeks erosi hujan. yang merupakan perkalian antara energi hujan total (E) dengan intensitas hujan maksimum 30 menit (I30) tahunan adalah faktor erodibilitas tanah. Dalam satu kejadian hujan. yaitu perbandingan antara besarnya erosi dari suatu bidang tanah dengan vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman tertentu terhadap besarnya erosi dari tanah yang identik tanpa tanaman adalah tindakan-tindakan khusus konservasi tanah.1 m) di bawah keadaan yang identik.1 m) dan terletak pada lereng 9 % tanpa tanaman. energi kinetiknya dapat dihitung sebagai berikut : . penanaman dalam stripping atau terras). adalah faktor kecuraman lereng yaitu perbandingan antara besarnya erosi yang terjadi dari suatu bidang tanah dengan kecuraman lereng tertentu. adalah faktor Panjang lereng. nilai R yang merupakan daya perusak hujan atau erosivitas hujan tahunan dapat dihitung dari data curah hujan yang didapat dari penakar hujan otomatis. yaitu petak percobaan yang panjangnya 72.1. yaitu perbandingan antara besarnya erosi dari tanah dengan suatu panjang lereng tertentu terhadap erosi dari tanah dengan panjang lereng 72.A Dengan: A R = = = RKLSCP K = L = S = C = P = adalah banyaknya tanah yang tererosi dalam [ton per hektar per tahun] adalah faktor curah hujan dan aliran permukaan (erosivitas hujan). atau dari data hujan biasa R adalah faktor fisik hujan yang menyebabkan timbulnya prosses erosi baik erosi permukaan. yaitu perbandingan antara besarnya erosi dari tanah yang diberi perlakukan tindakan konservasi khusus (seperti pengolahan tanah menurut kontur.

05 561.041.282. Cm 9.65 I30 EI30 ton cm/ha.30 0.14 53.45 10.93 8.27 307.58 7.374 R1.74 0.22 1.12 0.420. Tabel 7.61 77.83 0.01 75.412.27 41.1.49 1.55 82.83 0.84 13. M/ha.82 0.075 Dimana : E = energi kinetik dalam [ton/ha/cm hujan] R = intensitas hujan dalam [cm/jam] Menurut Wischmeier erosivitas hujan dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : EI30 = (E.00 411.55 53.01 × R Hasil perhitungan erosivitas dapat dilihat pada Tabel 7.54 1.27 E ton.354.29 5.50 65.48 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Rerata Total tahunan Sumber : Perhitungan .96 787.32 69.1.084.55 30.45 201.793.79 0.76 0.55 246.28 8.59 0.87 40.58 2.73 33.23 616.00 112.652.18 358.51 0. Jam 0.27 375.004. I 30 = R 77.47 34.420.35 0.02 2. Dengan demikian satuan I30 mengikuti satuan dari energi kinetiknya.28 0.178 + 1.57 2.82 0.20 4.44 6.299.E = 14. Perhitungan Erosivitas Hujan (EI30) Bulan R mm 403.I30)/100 Satuan EI30 tergantung dari satuan E dan I30 bila digunakan sistem satuan metrik digunakan [ton-m ha-1 cm jam-1 ].89 184.07 9.21 410.48 8.

2. adalah nilai kuantitatif yang dapat diperoleh dari percobaan lapangan. diberikan pada Tabel 4. Dinas Kehutanan Propinsi Nusa Tenggara Timur .1. Departemen Kehutanan.20 0. 2000 Faktor K (erodibilitas) 0.2. Nilai K untuk beberapa jenis tanah di Indonesia yang dikeluarkan Dinas RLKT. K. Jika tidak terdapat data lapangan. 1.56 0.2.46 0. 6.43 0.1. Gambar 7. 7. Tabel 7. 2.1. Jenis tanah dan nilai faktor erodibilitas (K) No. Nomogram untuk penentuan nilai K.40 Dalam menentukan nilai erodibilitas tanah di daerah aliran sungai Waduk Batujai diperoleh dari peta tanah pada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dodokan Moyo Sari. 3.36 0.47 0. 5. 4. di bawah ini. Nilai Faktor Erodibilitas Tanah Faktor erodibilitas tanah. Jenis Tanah Latosol coklat kemerahan dan litosol Latosol kuning kemerahan dan litosol Komplek mediteran dan litosol Latosol kuning kemerahan Grumusol Aluvial Regusol Sumber : Anonimous III. maka nilai K dapat dihitung dengan menggunakan nomogram seperti tercantum pada Gambar 7.7.

Kecuraman lereng dinyatakan dengan derajat sudut lereng atau persen. Oleh karena nilai L adalah perbandingan besarnya erosi dari suatu lereng terhadap besarnya erosi dari lereng dengan panjang 22.3 untuk kemiringan lereng > 1 % sampai dengan ≤ 3 % m = 0. Jika dipergunakan kecuraman lereng dalam [persen].1 [m]. S. Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa nilai eksponen panjang lereng yang didapat dari data percobaan lapangan mungkin akan memberikan angka laju erosi yang terlalu tinggi jika dipergunakan untuk lereng yang panjangnya lebih dari 400 m.1)m Dimana : L = adalah faktor panjang kemiringan lereng tanah dalam [m] X = adalah panjang lereng dalam [m] M = adalah tetapan tergantung dari kemiringan lereng tanah. maka persamaan faktor S menjadi : .1 [m] sebagaimana ditunjukkan pada persamaan diatas. Lereng 100% berarti bersudut 45 derajat. maka nilai L dapat dinyatakan sebagai berikut : L = (X/22.1.6 [ft] atau 22. dengan : m = 0. Nilai faktor S dalam persamaan USLE dihitung dengan persamaan : S = 65.2 untuk kemiringan lereng ≤ 1% m = 0.56 Sin2Θ + 0. diukur dari suatu tempat pada permukaan tanah dimana erosi mulai terjadi sampai dengan tempat dimana terjadi pengendapan (yang bisa disebabkan oleh karena berkurangnya kecuraman lereng). bertambah. Data percobaan lapangan menunjukkan bahwa besarnya erosi per satuan luas berbanding dengan pangkat panjang lereng. Nilai Faktor Lereng LS (Panjang dan Kemiringan) Panjang lereng. sehingga untuk panjang kemiringan lereng sembarang perlu dibagi dengan nilai 72. Besarnya erosi meningkat lebih besar dibandingkan dengan aliran permukaan jika kecuraman lereng. atau sampai pada suatu tempat dimana aliran air di permukaan tanah masuk ke dalam saluran. L.41 SIN 2Θ + 4.3.065 Dimana Θ adalah sudut lereng dalam [derajat].5 untuk kemiringan lereng > 5 % Sebagaimana disampaikan di depan bahwa panjang lereng kemiringan pada petak uji standar adalah 72.4 untuk kemiringan lereng > 3 % sampai dengan ≤ 5 % m = 0.7.1 meter.6 [ft] atau sama dengan 22.

LS adalah perbandingan antara besarnya erosi dari sebidang tanah dengan panjang lereng dan kecuraman tertentu terhadap besarnya erosi dari tanah yang terletak pada lereng dengan panjang 22.56 sin Θ + 65.613 atau S = 0. Dalam prakteknya nilai L dan S sering dihitung sekaligus berupa faktor LS. Untuk lereng lebih dari 20 % beberapa besar penyimpangannya masih belum banyak diteliti.043 s2 S= 6.065 + 4.41 sin2Θ) Atau LS =(X/22.0065 s2 dimana s adalah kecuraman lereng dalam [persen].00965 s + 0. .045 s + 0.43 + 0. digunakan nilai m = 0.0. Persamaan diatas dikembangkan dari data percobaan pada lereng-lereng kurang dari 20 %.00138 s2) Dimana X adalah panjang lereng dalam [m] dan s adalah kecuraman lereng dalam [persen].065 + 0.045 s + 0.1)m (0.2.1 meter dan kecuraman 9 persen.065 + 0. Nilai LS dapat juga diperoleh dengan menggunakan nomograf pada Gambar 7. Nilai LS untuk suatu bidang tanah dapat dihitung dengan persamaan: LS =(X/22.5.0138 + 0.0065 s2) dimana : m = tetapan seperti telah tercantum dalam rumusan terdahulu Θ = sudut kemiringan lereng tanah dalam [derajat] s = kemiringan lereng tanah dalam [persen] Untuk nilai s = 9 persen.30 s + 0. sehingga diperoleh persamaan : LS = √ X (0.1)m (0.

Penilaian kelas lereng dan faktor LS Kelas Lereng I II III IV V Kemiringan Lereng 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 LS 0. Penilaian kelas lereng berdasarkan pada tabel 4.4 1.1 6.2.1. Nilai Faktor Tanaman atau Faktor C Faktor C dalam persamaan USLE adalah perbandingan antara besarnya erosi dari tanah yang bertanaman dengan pengelolaan tertentu. Parameter .000.4 3. terhadap besarnya erosi tanah yang tidak ditanami dan tanpa pengelolaan.4. Faktor ini mengukur pengaruh jenis tanaman dan sistem pengelolaannya.5 Sumber : Anonimous III. Tabel 7. yang ditetapkan berdasarkan kelas lereng.3. yaitu parameter alami dan parameter yang dipengaruhi oleh sistem pengelolaannya.3. 7. Untuk mendapatkan nilai C dapat diperoleh berdasarkan percobaan di lapangan pada petak-petak standar.8 9.3. Nilai faktor C dipengaruhi oleh banyak parameter yang dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. 2000 Dari Peta Bakosurtanal kemiringan lereng di daerah aliran sungai ke dua embung dianalisa dari peta rupa bumi skala 1 : 25. Faktor Topografis LS Nilai faktor kemiringan lereng dikeluarkan Departemen Kehutanan diberikan pada Tabel 7.Gambar 7.

01 0. Berbagai hasil penelitian nilai faktor C untuk berbagai tanaman dan pengelolaan tanaman dapat dilihat pada Tabel 7.alami misalnya adalah iklim dan fase pertumbuhan tanaman.2 0.1 0.5 0.Tebang pilih Semak belukar/padang rumput Ubikayu + Kedelai Ubikayu + Kacang tanah Padi – Sorghum Padi – Kedelai Nilai Faktor 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Macam penggunaan Tanah terbuka/tanpa tanaman Sawah Tegalan Ubikayu Jangung Kedelai Kentang Kacang Tanah Padi Tebu Pisang Akar wangi (sereh wangi) Rumput Bede (tahun pertama) Rumput Bede (tahun kedua) Kopi dengan penutup tanah buruk Talas Kebun campuran : .4.4.2 0.345 0.2 0.4 0.7 0. Tabel 7.001 0.Kerapatan rendah Perladangan Hutan alam : .Kerapatan sedang .85 0.561 0.002 0.005 0.7 0.Kerapatan tinggi .Tebang habis .8 0.2 0. sedangkan parameter pengelolaan tergantung dari sistem pengelolaan yang diterapkan (misalnya pengelohan tanah menurut kontur.399 0. Nilai Faktor C (Pengelolaan Tanaman) No. dan usia (pertumbuhan) tanaman.287 0. vegetatif atau periode lainnya.3 0. Hal ini penting untuk dikemukakan dalam menentukan nilai C karena berkaitan dengan karakteristik penutupan tanah dan masa pengelolaan tanaman. Nilai C yang terdapat dalam pustaka umumnya merupakan nilai rata-rata dalam kurun waktu tanaman sampai berproduksi untuk tanaman pangan.181 0.4 0.5 0.417 18 19 20 21 22 23 24 25 .Serasah kurang Hutan Produksi : .2 0.0 0.6 0. Dengan demikian belum didapatkan nilai C misalnya pada saat periode tanam. atau penanaman dalam stripping atau teras).Serasah banyak .195 0.4 0.

571 0.40 0.26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 *) Kacang tanah + gude (tanaman polongan) Kacang tanah + Kacang tunggak Kacang tanah + Mulsa jerami 4 ton/ha Padi + Mulsa jerami 4 ton/ha Kacang tanah + Mulsa jagung 4 ton/ha Kacang tanah + Mulsa kacang tunggak Kacang tanah + Mulsa jerami 2 ton/ha Pola tanam tumpang gilir*) + Mulsa jerami Pola tanam berurutan **) + Mulsa sisa tanaman Alang-alang murni subur 0.00 .001 Sumber : Anonimous III. setelah panen padi ditanam kacang tanah **) jagung – jagung – kacang tanah 7. dan pembuatan teras. seperti misalnya penanaman mengikuti kontour. Termasuk dalam tindakan konservasi adalah penanaman dalam strip.Konstruksi kurang baik .096 0.Kemiringan 0 – 8 % .Kemiringan lebih 20 % 4 Tanpa tindakan konservasi Nilai P 0.75 0. Nilai P untuk beberapa tindakan konservasi diberikan pada Tabel 7.Konstruksi sedang . Tabel 7.04 0. strip cropping.1.049 0.495 0.128 0.90 1. pengolahan tanah menurut kontour.15 0.5.357 0. Penentuan nilai P dapat dilakukan seperti halnya pada penentuan nilai C.35 0.Kemiringan 9 – 20 % .5. 2000 jagung + padi + ubikayu.079 0.5. Tindakan khusus konservasi tanah 1 Terras bangku : .259 0. Faktor P didefenisikan sebagai perbandingan antara besarnya erosi dari tanah dengan suatu tindakan konservasi tertentu (pada petak standar) terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah menurut arah lereng. Nilai – nilai P No. Nilai Faktor Tindakan Pengawetan Tanah (P) Nilai faktor P adalah faktor praktek pengendalian laju erosi (pengelolaan) secara mekanis.40 0. dan pembuatan teras.Konstruksi baik .50 0.377 0.Teras tradisional baik 2 Strip tanaman rumput (padang rumput) 3 Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontour .

Sumber : Anonimous III, 2000

Hasil perhitungan prakiraan erosi dapat dilihat pada tabel 7.6. dan 7.7.

Tabel 7.6
Estimasi Laju Sedimen pada DAS Kurukodi : Curah Hujan Bulanan ( R ) Indeks Erodibilitas Tanah (K) : Energi Kinetik Curah Hujan (E : Indeks Erosivitas Hujan (EI 30: Elevasi (m) 450 - 500 m LS 3.1 3.1 0.4 1.4 0.4 9.1 0.4 1.4 201.02 mm 0.20 4420.14 ton.m/ha.cm 410.48 ton.cm/ha.jam Penutupan lahan luas (km2) luas (ha) 0.14199 0.03418 14.1986 3.4178 Epot (ton/thn) 3,613.48 869.82 2,260.91 793.04 266.74 11,481.69 426.90 260.90 Erosi aktual (ton/thn) 36.13 8.70 90.44 150.68 50.68 114.82 8.54 13.04 SDR Sedimentasi (ton/thn) 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 12.65 3.04 31.65 52.74 17.74 40.19 2.99 4.57 165.56 1.25 0.68 89.49

jenis semak tegalan sawah ladang ladang semak kebun hutan Total

CP 0.01 0.01 0.04 0.19 0.19 0.01 0.02 0.05

Keterangan

500 - 550

0.68850 68.85 0.06900 6.9 0.08123 8.123 0.15369 15.369 0.13000 13 0.02270 2.27 1.321284 132.1284

(ton/th) (ton/ha/th) (m3/ha/th) (m3/th)

Tabel 7.7.
Estimasi Laju Sedimen pada DAS Sobarade : Curah Hujan Bulanan ( R ) Indeks Erodibilitas Tanah (K) : Energi Kinetik Curah Hujan (E): Indeks Erosivitas Hujan (EI 30 : Elevasi (m) 450 - 500 m LS 6.8 6.8 1.4 0.4 0.4 201.02 mm 0.20 4420.14 ton.m/ha.cm 410.48 ton.cm/ha.jam Penutupan lahan luas (km2) luas (ha) 0.334 0.226 0.562 0.689 0.069 33.40 22.63 56.15 68.85 6.90 Epot (ton/thn) 18,644.94 12,630.71 6,453.75 2,260.91 226.58 Erosi aktual (ton/thn) 186.45 126.31 64.54 90.44 43.05 SDR Sedimentasi (ton/thn) 65.26 44.21 22.59 31.65 15.07 178.77 0.95 0.51 96.63

jenis semak hutan semak sawah lahan terbuka

CP 0.01 0.01 0.01 0.04 0.19

Keterangan

500 - 550

0.35 0.35 0.35 0.35 0.35

Total

1.879266 187.9266

(ton/th) (ton/ha/th) (m3/ha/th) (m3/th)

7.2. Umur Layanan Embung 7.2.1. Sedimentasi Pada Embung Sedimen yang terangkut melalui alur sungai sebagian besar akan mengendap di dalam waduk, sementara hanya sebagian kecil yang keluar melewati waduk. Setelah seluruh volume sedimen yang masuk ke dalam waduk dapat ditentukan, langkah selanjutkan yang dapat dilakukan adalah menentukan volume sedimen yang akan mengendap atau tertahan di dalam waduk. Beberapa hal yang berhubungan dengan pengendapan sedimen di waduk adalah : a. b. c. Trap efficiency dari waduk, Berat jenis spesifik dari endapan sedimen, dan Volume sedimen yang mengendap di dalam waduk

7.2.2 Trap Efficiency Trap efficiency dari waduk didefinisikan sebagai perbandingan antara besarnya sedimen yang mengendap di dalam waduk dengan aliran sedimen yang masuk ke dalam waduk. Trap efficiency sangat dipengaruhi terutama oleh ukuran dan bentuk dari partikel sedimen, disamping dipengaruhi oleh besar aliran yang masuk ke dalam waduk. Metode yang biasa digunakan untuk mengestimasi Trap efficiency suatu waduk adalah metode yang diusulkan oleh Brune. Metode Brune, secara empirik, didasarkan pada data pengukuran sejumlah waduk yang ada di banyak negara. Dari data lapangan tersebut, Brune memperoleh suatu set kurva untuk menentukan besarnya sedimen yang mengendap di dalam waduk, yaitu dengan menggunakan data masukan berupa perbandingan antara kapasitas waduk dengan aliran air rata-rata yang masuk ke dalam waduk tiap tahun. Secara teoritis, trap efficiency dari suatu waduk, dari tahun ke tahun akan berkurang secara kontinu dengan berkurangnya kapasitas waduk karena bertambahnya endapan sedimen. Trap efficiency dapat dihitung menggunakan persamaan

⎛ ⎛ ⎜ ⎜ 1 Te = 100⎜1 − ⎜ C ⎜ ⎜ ⎜ ⎜ 1 + 100 I ⎝ ⎝
Dimana

⎞⎞ ⎟⎟ ⎟⎟ ⎟⎟ ⎟⎟ ⎠⎠

1.5

C = Kapasitas tampungan mati I = Inflow tahunan Berdasarkan analisis pada Tabel 7.8. dan 7.9., maka umur layanan masing-masing embung adalah sebagai berikut

1. embung Saborade masa layan 20 tahun 2. embung Kurukodi masa layan 20 tahun.

Tabel 7.8

Simulasi Masa Layan Embung Sobarade Tahun Kapasitas ke t Waduk, ( C) m3
1 2

Inflow (I) m3
3

C/I
4

Trap Transportasi efficiency Sedimen m3/tahun
5 6

Sedimen Mengendap m3
7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

1148.00 629.54 403.14 283.24 211.37 164.54 132.15 108.72 91.18 77.67 67.03 58.48 51.51 45.74 40.90 36.81 33.32 30.31 27.69 25.41

981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51

0.00117 0.00064 0.00041 0.00029 0.00022 0.00017 0.00013 0.00011 0.00009 0.00008 0.00007 0.00006 0.00005 0.00005 0.00004 0.00004 0.00003 0.00003 0.00003 0.00003

3.3866 1.4789 0.7832 0.4695 0.3059 0.2116 0.1530 0.1146 0.0882 0.0695 0.0558 0.0456 0.0377 0.0316 0.0267 0.0228 0.0197 0.0171 0.0149 0.0131

15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00

518.46 226.40 119.89 71.87 46.83 32.39 23.43 17.54 13.51 10.64 8.55 6.97 5.77 4.83 4.09 3.49 3.01 2.61 2.28 2.01

61 364.21 762.762.309.2988 0.42 39.83 120.0377 0.767.767.9815 2.00008 0.55 45.00 15.767.148.148.0246 15.66 75.12 1.309.83 128.767.309.01 6.00 15. ( C) m3 1 2 Inflow (I) m3 3 C/I 4 Trap Transportasi efficiency Sedimen m3/tahun 5 6 Sedimen Mengendap m3 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 3561.00 15.12 1.12 1.767.1920 0.52 49.78 4.00 15.00 15.148.5109 4.00090 0.148.00 15.767.309.59 17.00058 0.309.148.1160 0.40 78.21 150.148.2568 0.23 11.12 1.00016 0.94 219.9.00 15.1475 0.12 1.00 15.00 15.00004 11.31 3.12 1.00 1.309.77 5.52 180.12 1.12 1.24 1.62 273.309.148.309.309.767.00 15.00004 0.0523 0.309.0626 0.148.00005 0.148.0930 0.12 1.00006 0.12 1.00 15.00 15.309.48 96.33 198.767.00031 0.148.12 1.148.85 473.00 15.30 54.7865 0.309.18 671.3555 0.00013 0.00011 0.00 15.0325 0.08 67.00 15.767.12 0.767.12 1.25 84.00 1798.00010 0.12 1.767.59 9.767.148.79 1036.3798 1.00024 0.5139 0.148.767.12 1.00007 0.00041 0.39 22.767.00 15.309.07 60.12 1.00310 0.0442 0.31 29.148.00 15.12 1.76 14.309.148.767.309.97 4.00157 0.148.00019 0.309.00 15.12 1.309.309.00007 0.767.Tabel 7.309.68 54.767.58 8.767.309.00 15.24 110.00005 0.02 352.76 .0281 0.148.767.148. Simulasi Masa Layan Embung Kurukodi Tahun Kapasitas ke t Waduk.12 1.12 1.767.0757 0.148.148.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful