MK.

Hidrologi John Frans

BAB I SIKLUS HIDROLOGI

A. Pendahuluan Ceritakan proses terjadinya hujan !

Dalam bab ini akan dipelajari, pengertian dasar hidrologi, siklus hidrologi, sirkulasi air dan neraca air.

Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. Menjelaskan pengertian hidrologi dengan benar b. Menjelaskan dan menggambar siklus hidrologi dengan baik dan benar. c. Menjelaskan tentang sifat-sifat air dengan benar. d. Menjelaskan hubungan antara sirkulasi air dan neraca air dengan baik.

B. Penyajian 1.1. Pengertian Hidrologi Hidrologi termasuk salah satu cabang ilmu geografi (ilmu bumi) dan sudah mulai dikembangkan oleh para filsuf kuno, antara lain dari Yunani, Romawi, Cina dan Mesir. Dimana air dianggap sebagai bagian dari unsur utama bersama-sama dengan bumi, udara dan api. Secara harafiah “hidrologi” berasal dari bahasa Yunani, yakni “hydro” dan “loge”. Hydro berarti sesuatu yang berhubungan dengan air dan loge berarti pengetahuan. Jadi hidrologi adalah ilmu pengetahuan yang secara khusus mempelajari tentang kejadian, perputaran dan penyebaran air di atmosfir dan permukaan bumi serta di bawah permukaan bumi. Secara luas hidrologi meliputi pula berbagai bentuk air, termasuk transformasi antara keadaan cair, padat, dan gas dalam atmosfir, di atas dan di bawah permukaan tanah. Di dalamnya tercakup pula air laut yang merupakan sumber dan penyimpan air yang mengaktifkan kehidupan di planet bumi ini. Ruang lingkup hidrologi mencakup : 1. pengukuran, mencatat, dan publikasi data dasar. 2. deskripsi propertis, fenomena, dan distribusi air di daratan. 3. analisa data untuk mengembangkan teori-teori pokok yang ada pada hidrologi. 4. aplikasi teori-teori hidrologi untuk memecahkan masalah praktis.

1

MK. Hidrologi John Frans

Hidrologi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, tetapi ada hubungan dengan ilmu lain, seperti meteorologi, klimatologi, geologi, agronomi kehutanan, ilmu tanah, dan hidrolika. Menurut The International Association of Scientific Hydrology, hidrologi dapat dibagi menjadi: 1. Potamologi (Potamology), khusus mempelajari aliran permukaan (surface streams) 2. Limnologi (Limnology), khusus mempelajari air danau 3. Geohidrologi (Geohydrology), khusus mempelajari air yang ada di bawah permukaan tanah (mempelajari air tanah = groundwater) 4. Kriologi (Cryology), khusus mempelajari es dan salju 5. Hidrometeorologi (Hydrometeorology), khusus mempelajari problema-problema yang ada diantara hidrologi dan meteorologi.

Model Sederhana Siklus Hidrologi

2

MK. Hidrologi John Frans

1.2. Siklus Hidrologi a). Penguapan Proses perubahan air menjadi uap air disebut penguapan. Penguapan memerlukan energi panas, misalnya api kompor. Penguapan di alam (penguapan air laut dan air yang ada di daratan) terjadi dengan bantuan energi panas dari sinar matahari. Pada penguapan air laut, garam yang terkandung dalam air laut tidak ikut diuapkan (tetap tertinggal di laut). Jika uap air laut diembunkan akan diperoleh air tawar yang relatif murni. b). Tingkat Penguapan Tingkat penguapan bergantung pada dua faktor yang berbeda, yaitu:
• •

Suhu udara Besar kandungan uap air yang terdapat di udara.

Semakin tinggi suhu udara, semakin banyak uap air diserap oleh udara. Semakin kecil persentase uap air di udara, semakin banyak uap air dapat diserap udara. Suhu udara di padang pasir pada siang hari cukup tinggi, maka apa bila terdapat air permukaan akan terjadi penguapan yang tinggi. c). Bentuk Penguapan Penguapan air dapat terjadi melalui tumbuhan maupun permukaan bumi. Penguapan air melalui tumbuhan disebut transpirasi. Dengan demikian terdapat dua bentuk penguapan air yang berbeda di alam:
• •

Penguapan di permukaan bumi (dari lautan, daratan). Penguapan melalui tumbuhan (disebut transpirasi).

Gambar 1.1. Proses Penguapan

3

Kondensasi Uap Air Kondensasi merupakan proses kebalikan dari penguapan. kondensasi uap air terjadi jika: • • Udara yang sudah jenuh uap air ditambah uap air atau zat lain Suhu udara yang jenuh uap air turun Uap air yang mengembun di udara membentuk tetes-tetes air yang sangat kecil dan dapat dilihat sebagai awan di langit.MK. Bentuk Penguapan d). Kondensasi uap air berarti proses perubahan uap air menjadi air (proses pengembunan). Hidrologi John Frans 1. 4 .2. Tingkat Penguapan Gambar 1. Di udara.3.

Hujan Tetes-tetes air hasil kondensasi terlalu kecil untuk dapat jatuh ke bumi. karena suhu udara jenuh uap air. Oleh karena itu angin memiliki peran penting dalam menentukan daerah dimana hujan akan terjadi. tetes-tetes air yang sangat kecil ini mungkin akan menguap kembali. Hujan lebih banyak terjadi di daerah pegunungan dibandingkan dengan dataran rendah. akan mengalami penurunan suhu setelah dibawa oleh angin dari dataran rendah ke pegunungan. Transportasi oleh Angin 5 . Di daerah iklim sedang dengan ketinggian tertentu. Transportasi oleh Angin Udara yang mengandung uap air atau awan dapat terbawa angin ke tempat lain.MK.4. Tetes-tetes air besar inilah yang dapat jatuh sampai ke permukaan bumi sebagai tetesan hujan. Hidrologi John Frans e. maka dapat diperkirakan bahwa sampai satu juta tetestetes air yang sangat kecil tadi akan bertumpuk dan membentuk satu tetes air yang lebih besar. Dengan bantuan transportasi angin. f). Gumpalan es ini akan meleleh pada waktu jatuh dan sampai ke bumi sebagai tetesan hujan. Besarnya curah hujan di pegunungan ditambah dengan pepohonan yang lebat menyebabkan ketersediaan air bersih di pegunungan relatif banyak. kristal-kristal es bertumpuk dengan tetestetes air yang sangat kecil tadi dan membentuk satu gumpalan es. Gambar 1.

Di daerah perkotaan yang padat penduduknya peresapan air kecil sekali. Hidrologi John Frans Gambar 1. Air yang tertahan oleh lapisan kedap air (misalnya batu) membentuk air tanah. yaitu infiltrasi dan perkolasi (gambar 2. Infiltrasi adalah gerakan air menembus permukaan tanah masuk ke dalam tanah. 6 .10). Air Hujan g). Air tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Perkolasi adalah proses penyaringan air melalui poripori halus tanah sehingga air bisa meresap ke dalam tanah.MK. sehingga luas tanah terbuka semakin sempit sehingga semakin sedikit pula dapat menyerap air.6. jumlah tumbuh-tumbuhan serta lapisan yang tidak dapat ditembus oleh air. tetapi ada yang terserap oleh tanah. Seharusnya beberapa tempat di kota dibiarkan terbuka sebagai tanah resapan air hujan. Peresapan air ke dalam tanah pada umumnya terjadi melalui dua tahapan. karena sebagian besar lahan tanah tertutup/dilapis aspal atau dibeton dan perumahan dibangun dimana-mana. yaitu: jumlah air hujan.5. porositas tanah. Peresapan Air Air hujan yang jatuh ke tanah tidak seluruhnya langsung mengalir sebagai air permukaan. Kedalaman air yang masuk ke tanah bergantung dari beberapa faktor. Peristiwa Kondensasi Gambar 1.

Sumber-sumber Air di Alam Terbentuknya sumber . Infiltrasi dan Perkolasi 7 . yaitu: limpasan permukaan.1). yang akhirnya akan kembali ke laut. h. Hidrologi John Frans h). misalnya danau. Dari celah-celah bebatuan tersebut dapat kita temukan sumber air yang jernih dan tidak tercemar. yang membendung air sehingga tidak terus meresap ke bawah. Gambar 1.MK. air tersebut tertahan oleh lapisan batu-batuan (lapisan kedap air). Sungai merupakan pengumpulan dari tiga jenis limpasan. Air hujan jatuh ke tanah kemudian meresap ke dalam tanah. Sampai di kedalaman tertentu. sungai dan rawa-rawa. Air Permukaan Air permukaan adalah air yang menggenang atau mengalir di permukaan tanah.7.sumber air di alam mengalami serangkaian proses. limpasan di bawah permukaan dan limpasan air tanah.

Proses-proses dalam Siklus Air. kemudian jatuh ke permukaan tanah.8. Air Permukaan 1. Gerakan air laut ke udara. Kondensasi. adalah sebagai berikut: a. 1999) . dan akhirnya mengalir ke laut lagi disebut “Siklus Hidrologi” (CD. yaitu proses penguapan air yang terjadi melalui tumbuhan c. yaitu proses perubahan uap air menjadi tetes-tetes air yang sangat kecil (pengembunan) 8 . Daur Hidrologi Siklus air atau daur hidrologi adalah pola sirkulasi air dalam ekosistem.11.9. yaitu proses perubahan air menjadi uap air dengan bantuan energi panas dari sinar matahari b.3. Soemarto.MK. Hidrologi John Frans Gambar 1. Siklus ini dapat dilukiskan secara skematik seperti terlihat pada Gambar 1.10 dan 1. Transpirasi. Proses Terbentuknya Sumber-sumber Air di Alam Gambar 1. Penguapan.

10. yaitu proses jatuhnya tetes-tetes air “besar” (tumpukan tetes-tetes air kecil hasil kondensasi) sampai ke permukaan bumi f. Aliran Air Dalam Tanah. Siklus Hidrologi 9 .MK. Hujan. i. Infiltrasi. yaitu gerakan air hujan menembus permukaan tanah kemudian masuk ke dalam tanah (Peresapan) g. Aliran Air Permukaan. yaitu air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah melainkan menggenang atau mengalir di permukaan tanah. yaitu proses penyaringan air melalui pori-pori halus tanah sehingga air dapat meresap dalam tanah (Peresapan) h. Hidrologi John Frans d. Perkolasi. yaitu proses pengangkutan awan/uap air oleh angin menuju ke daerah tertentu yang akan kejatuhan hujan e. Evaporasi dari air permukaan Awan Transpirasi Hujan Evaporasi dari laut Evaporasi dari daratan Limpasan Permukaan Permukaan phreatik (muka air tanah) Aliran Air Tanah Gambar 1. Transportasi. atau mengalir hingga ke laut. yaitu air hujan yang meresap ke dalam tanah dan mengalir di atas lapisan kedap air sampai muncul kembali di permukaan tanah sebagai mata air.

11.MK. Siklus Air 10 . Hidrologi John Frans Gambar 1.

4. Uap air akan berubah menjadi hujan karena proses pendinginan (kondensasi). dan mengalir ke lautan. maka keseimbangan antara air dan es dapat dipertahankan oleh pembekuan dan pencairan. Siklus hidrologi terdiri dari enam sub sistim yaitu : a. Sebagian air hujan yang tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dan sebagian lagi yang jatuh langsung ke dalam laut dan danau akan menguap kembali ke atmosfir. air di atmosfir b. selebihnya akan berkumpul di dalam jaringan alur (sungai alam atau buatan) menjadi aliran sungai atau saluran terbuka dan mengalir kembali ke laut. dalam arti bahwa pergerakan air pada sistim tersebut selalu tetap berada di dalam sistimnya. Hidrologi John Frans Siklus hidrologi merupakan suatu sistim yang tertutup. Jika es lebih berat dari air. 11 . aliran bawah permukaan d. aliran permukaan c. air sebagai cairan dan air sebagai uap seperti gas. 1. volume es menjadi 1/11 kali lebih besar dari volume air semula. oleh karena adanya radiasi matahari maka air tersebut akan menguap ke dalam atmosfir. Mengingat es mengambang di permukaan air (karena es lebih ringan dari air). maka es itu akan tenggelam ke dasar laut atau danau dan makin lama makin menumpuk yang akhirnya akan menutupi seluruh dunia. rawa. Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi aliran permukaan. waduk). Sifat-Sifat Air Air berubah ke dalam tiga bentuk/sifat menurut waktu dan tempat. yakni air sebagai bahan padat. Pada pembekuan. aliran sungai/saluran terbuka f. aliran air tanah e. Aliran permukaan sebagian meresap ke dalam tanah menjadi aliran bawah permukaan melalui proses infiltrasi dan perkolasi. Sebagian dari air bawah permukaan kembali ke atmosfir melalui proses penguapan dan transpirasi oleh tanaman dan sebagian lagi menjadi aliran air tanah melalui proses perkolasi. air di lautan dan air genangan Air di lautan dan genangan (danau. Umumnya benda menjadi kecil jika suhu menjadi rendah. Lebih rendah dari 4°C. volume air itu menjadi agak besar. Tetapi air mempunyai volume yang minimum pada suhu 4° C.MK.

....1) Dimana : P = Presipitasi D = Debit E = Evaporasi G = Penambahan (supply) air ke tanah M = Penambahan kadar kelembababan tanah Presipitasi Evaporasi (penguapan) Limpasan Uap Air Presipitasi Curah Hujan Air Permukaan Perkolasi Air Keluar Perkolasi Evaporasi (penguapan) Kelembababan Tanah dan Air Tanah Presipitasi Gambar 1...2 merupakan hubungan antara aliran ke dalam (inflow) dan aliran ke luar (outflow) pada suatu daerah dalam periode waktu tertentu...............MK............2... Hidrologi John Frans 1.... Hubungan Keseimbangan ini adalah sebagai berikut : P = D + E + G + M ....... Sirkulasi Air 12 .........5. Siklus dan Neraca Air Proses sirkulasi air pada Gambar 1.................... Hal ini dapat dikatakan atau disebut dengan “neraca air”.......... (1.

Throughfall. Laju infiltrasi dipengaruhi tekstur dan struktur. Kelengasan tanah sangat dinamis. dan lokasi hujan. Simpanan intersepsi pada hutan pinus di Italia utara sekitar 30% dari hujan (Allewijn. sedang perkolasi adalah proses bergeraknya air melalui profil tanah karena tenaga gravitasi. bagian ini disebut tampungan/simpanan intersepsi yang akhirnya segera menguap. besar kecilnya stemflow dipengaruhi oleh struktur batang dan kekasaran kulit batang pohon. kadar materi tersuspensi dalam air juga waktu. jenis pohon (kerapatan tajuk dan bentuk tajuk). Dampak kegiatan pembangunan terhadap proses hidrologi sangat dipengaruhi intensitas. intersepsi juga terjadi pada seresah di bawah pohon. Crown drip. Infiltrasi dan Perkolasi Proses berlangsungnya air masuk ke permukaan tanah kita kenal dengan infiltrasi. transpirasi. Steamflow adalah aliran air hujan yang lewat batang. 1990). Intersepsi tidak hanya terjadi pada tajuk daun bagian atas saja. hal ini disebabkan oleh penguapan melalui permukaan tanah. c. Hidrologi John Frans Pengenalan Istilah-istilah Hidrologi a. Kelengasan Tanah Kelengasan tanah menyatakan jumlah air yang tersimpan di antara pori-pori tanah. Simpanan intersepsi ada batasnya. kelebihannya akan segera tetes sebagai crown drip. 13 . kecepatan angin. Karena itu perencana dan pengelola DAS harus memperhitungkan pola presipitasi dan sebaran geografinya.MK. e. kelengasan tanah. Intersepsi akan mengurangi hujan yang menjadi run off. Steamflow Hujan yang jatuh di atas hutan ada sebagian yang dapat jatuh langsung di lantai hutan melalui sela-sela tajuk. d. lama berlangsungnya. bagian hujan ini disebut throughfall. Intersepsi Hujan yang jatuh di atas tegakan pohon sebagian akan melekat pada tajuk daun maupun batang. Presipitasi Hujan (presipitasi) merupakan masukan utama dari daur hidrologi dalam DAS. b. Besar kecilnya intersepsi dipengaruhi oleh sifat hujan (terutama intensitas hujan dan lama hujan).

Jelaskan pengertian dari hidrologi ! 2. infiltrasi air hujan lebih kecil daripada saat kelengasan tanah rendah. debit aliran (river discharge) dan volume runoff. Komponen Runoff C. airnya berasal dari permukaan maupun dari subpermukaan (sub surface). Penutup Soal-Soal : 1. Jelaskan pengertian dari : a. Kondensasi b. Sebutkan enam sub system dari siklus hidrologi! 5. Simpanan Permukaan (Surface Storage) Simpanan permukaan ini terjadi pada depresi-depresi pada permukaan tanah. Pada saat kelengasan tanah dalam keadaan kondisi tinggi. Jelaskan hubungan antara sirkulasi air dan neraca air ! 14 . Runoff dapat dinyatakan sebagai tebal runoff. pada perakaran pepohonan atau di belakang pohon-pohon yang tumbang. Kemampuan tanah menyimpan air tergantung dari porositas tanah. Hidrologi John Frans dan perkolasi. f. Simpanan permukaan menghambat atau menunda bagian hujan ini mencapai limpasan permukaan dan memberi kesempatan bagi air untuk melakukan infiltrasi dan evaporasi. Transpirasi 4.MK. Runoff Runoff Adalah bagian curahan hujan (curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan kehilangan air lainnya) yang mengalir dalam air sungai karena gaya gravitasi. Jelaskan tentang siklus hidrologi ! 3. g.

Hidrologi John Frans Daftar Pustaka Soemarto.C..1999.D. Erlangga.MK. Hidrologi untuk Pengairan. Departemen pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Daftar Istilah Hidrologi Siklus hidrologi Presipitasi Atmosfir Kondensasi Inflow Outflow Neraca Air Debit Evaporasi Evapotranspirasi 15 . Hidrologi Teknik . Jakarta Sosrodarsono. 2003.

Presipitasi Presipitasi adalah nama umum dari uap yang mengkondensasi dan jatuh ke tanah berupa salju.MK. pada saat terjadi kabut. d.1. B. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. Menyebutkan dan menjelaskan cara pengukuran evaporasi dengan baik. Embun. hujan es dan lain-lain. Penyajian 2. cara pengamatan/pengukuran curah hujan serta proses terjadinya dan pengamatan/pengukuran pada evaporasi dan evapotranspirasi. b. Menghitung besarnya evaporasi berdasarkan contoh soal dengan benar. Presipitasi yang ada di bumi ini berupa : a. Kabut. Salju dan es. Menerangkan pengertian evaporasi dengan benar. Menyebutkan dan menjelaskan cara pengukuran curah hujan dengan baik. Kondensasi. hujan. b. Hidrologi John Frans BAB II ELEMEN-ELEMEN METEOROLOGI A. Maka pembahasan mengenai presipitasi ini selanjutnya hanya dibatasi pada hujan saja. Ada 5 buah unsur yang ditinjau. partikel-partikel air diendapkan di atas permukaan tanah dan tumbuh-tumbuhan. merupakan bentuk yang paling penting. Hujan . e. e. f. yaitu : 15 . c. Menyebutkan dan menjelaskan cara pengukuran evapotraspirasi dengan baik. Menerangkan pengertian evapotranspirasi dengan benar. di atas lapisan es terjadi jika ada massa udara panas yang bergerak di atas lapisan es. c. Pendahuluan Pada bab ini akan dipelajari tentang pengertian dari presipitasi. g. Menjelaskan pengertian presipitasi dengan benar. merupakan hasil kondensasi di permukaan tanah atau tumbuh-tumbuhan dan kondesasi di dalam tanah. proses terjadinya presipitasi. d. Salah satu bentuk presipitasi yang terpenting di Indonesia adalah hujan.

d. dan lain sebagainya. Tinggi hujan d. Hidrologi John Frans a. dalam mm. biasanya dinyatakan dengan waktu ulang (return period) T. Pengukuran parameter parameter yang berlainan dalam satu waktu bersamaan memerlukan suatu integrasi dari keseluruhan sistem pengukuran kedalam suatu data kolektor. Untuk keperluan ini maka dibutuhkan suatu instrumentasi yang reliable untuk jangka waktu cukup lama dengan melakukan pengukuran berulangulang secara periodik. e. Hubungan antara intensitas. Pada sistem yang lebih luas data ini harus digabungkan pada suatu sistem data base terpusat.MK.1. durasi dan tinggi hujan dinyatakan sebagai berikut : d= ∫i 0 i dt = ∑ i Δt (2. Precipitation 2. Frekuensi. Beberapa pengukuran parameter hidrologi antara lain : 1. Alat Ukur Sistem pengukuran di lapangan seringkali sulit dilakukan secara manual oleh manusia.2. c. adalah luas geografis curah hujan A. adalah laju curah hujan = tinggi per satuan waktu. adalah banyaknya atau jumlah hujan yang dinyatakan dalam ketebalan air di atas permukaan datar. Luas. misalnya mm/menit. Implementasinya antara lain : menentukan pola cocok tanam sistem pengairan pada pertanian.1) Intensitas rata-rata i dirumuskan sebagai berikut : − i= d t (2. Dengan sistem ini maka dapat dihasilkan interpretasi untuk decision support system yang menyeluruh tentang data cuaca. adalah lamanya curah hujan terjadi dalam menit atau jam. Water level 2. Lama waktu atau durasi t. pemantauan muka air tanah perkotaan. adalah frekuensi kejadian terjadinya hujan. dalam km2. mm/jam. Intensitas I. b. pengendalian banjir dan bencana. monitoring sistem irigasi dan bendungan. mm/hari. Water flow Beberapa pengukuran parameter klimatologi antara lain : 1. Evaporation 16 .2) 2.

17 . Moist & Temperature 5. Radiation 1. Water level Pengukuran ketinggian permukaan air digunakan antara lain pada sungai. danau.1 Shaft encoder Ketinggian permukaan air diukur menggunakan pelampung yang digantung dengan tali dan pemberat.MK. laut dan permukaan air tanah. Air flow 4. Hidrologi John Frans 3. Metoda yang digunakan antara lain : 1.

1 Propeller Kecepatan aliran air diukur menggunakan baling-baling (propeller) yang dikonversikan menjadi kecepatan putaran. bahwa tekanan di bawah permukaan air (p) akan sebanding dengan kedalaman (h) dari permukaan air (p = ρ g h) dengan ρ adalah berat jenis air. 2. Water flow Pengukuran kecepatan aliran air digunakan untuk mengukur besarnya debet air yang mengalir pada suatu aliran air.MK. Metoda yang digunakan antara lain : 2. Hidrologi John Frans 1.2 Depth Level Ketinggian permukaan air diukur menggunakan sensor tekanan dengan asumsi hukum Archimides. 18 .

maka semakin kuat tekanan ke atas yang dikenakan pada sayap ini.2 Wing pressure Kecepatan aliran air diukur menggunakan sayap (wing) yang menyerupai bentuk sayap pada pesawat terbang. Hidrologi John Frans 2.MK. 19 . Semakin cepat aliran fluida yang lewat melalui sayap. Sehingga kecepatan aliran dikonversikan langsung oleh sensor tekanan.

Pada alat ini terdapat dua wadah yang diisi bergantian. Sebelum tetesan air dihitung. Precipitation Pengukuran curah hujan digunakan untuk mengetahui besarnya kapasitas atau volume penyediaan sumber air hujan selama kurun waktu tertentu. Hidrologi John Frans 2.3 Flow pressure Aliran air diarahkan oleh selinder berupa corong (guide). Setelah aliran cukup constant dan rata (luminer). Dibawah container ini terdapat water dropper sehingga besarnya tetesan air bisa dijaga tetap konstan. 3.MK. maka kemudian aliran air ini dikonversikan oleh presure meter dengan luas permukaan yang telah ditentukan. Setiap kali wadah terisi penuh maka alat ini akan tumpah pada satu sisinya. Metoda yang digunakan antara lain: 3.1 Water drop Kapasitas curah hujan diukur menggunakan penghitungan tetesan air.2 Tipping bucket Kapasitas curah hujan diukur menggunakan penghitungan jumlah tumpahan pada penampung berayun (tipping bucket). 20 . 3. air hujan ini ditampung dalam suatu container dengan standar collecting surface.

MK. Setiap wadah tersebut terisi penuh. air akan dibuang secara otomatis oleh gaya berat air pada penguras (flusher). 21 . Hidrologi John Frans 3.3 Collector chamber Kapasitas curah hujan diukur menggunakan penghitungan jumlah pengurasan volume air yang ditampung pada wadah (chamber) dengan volume tertentu.

5.2 Blotting paper Kapasitas penguapan air diukur menggunakan penghitungan laju pengurangan volume air dalam suatu gelas ukur yang diletakan diatas kertas serap (absorbent paper).MK.1 Evaporation pan Kapasitas penguapan air diukur menggunakan penghitungan laju pengurangan volume air dalam suatu bak (pan) standar akibat pemanasan global. Hidrologi John Frans 4. Metoda yang digunakan antara lain : 22 . Volume dan berat jenis air dikonversikan oleh sensor ketinggian air untuk mengukur volume yang simultan dengan sensor berat untuk mengukur berat air di dalam bak standar. 4. Wind Speed & Direction Pengukuran kecepatan dan arah angin digunakan untuk mengetahui probabilitas klimatologi aliran kalor dan curah hujan. Luas kertas serap yang digunakan berfungsi sebagai media penguapan.

Hidrologi John Frans 5.MK. 5. Sensor ini menggunakan piezzo keramic sebagai sensor ultra sonic.2 Ultrasonic array Kecepatan aliran udara (angin) diukur menggunakan sensor tekanan yang sensitif terhadap aliran udara. sedangkan arah angin diukur menggunakan sirip pengarah (flap). Empat buah sensor disusun secara aray dalam empat arah.1 Flap & Propeller Kecepatan aliran udara (angin) diukur menggunakan baling-baling (propeller). 23 . Masing-masing arah akan membentuk suatu vektor kecepatan.

Humidity & Temperature Pengukuran suhu dan kelembaban udara digunakan untuk mengetahui probabilitas klimatologi aliran kalor dan curah hujan. 24 . yang memiliki respon cukup linear dalam jangka pengukuran temperatur udara. Metoda yang digunakan antara lain : 6. Sehingga pengukuran selanjutnya dapat dilakukan secara elektronik.MK. Sensor ini sudah diproduksi dalam suatu chip dengan data keluaran berupa digital.1 Thermistor & Capacitive Suhu diukur menggunakan thermistor PT-100. Hidrologi John Frans 6. Kelembaban diukur oleh sepasang keping logam sebagai kapasitor yang dikonversikan oleh frekuensi pada suatu tangki osilator. Sensor-sensor ini ditempatkan dalam sirip pelindung untuk mengeliminasi pengaruh atau ganguan cuaca dan radiasi yang mempengaruhi sistem pengukuran 6.2 Integrated Chip Suhu dan kelembaban diukur menggunakan sensor yang sudah standard dan dengan ketelitian yang cukup baik.

Metoda yang digunakan antara lain : 7.1 Photo Sensitive Intensitas cahaya diukur menggunakan sensor resistif atau semikonduktor peka cahaya. Hidrologi John Frans 7. 25 . debu dan ganguan kotoran.MK. Radiation Pemantauan aktifitas penyinaran matahari digunakan untuk mengetahui pengaruh terhadap cuaca yang berdampak secara umum. Permukaan luar sensor dilapisi kaca lengkung untuk pelindung air.

MK. Thermal Coductivity dan sebagainya dapat ditambahkan sebagai data pelengkap pada sistem pengukuran global. Resistivity. Saturation Potential. tergantung jarak sensor terhadap data recorder. 8. Selain beberapa parameter pengukuran pada komponen air dan udara. hidrology. seperti telah disebutkan di atas. klimatologi dan sebagainya dilakukan oleh masing-masing sensor dengan menggunakan microcontroller sehingga data langsung diubah menjadi data digital dengan standar komunikasi RS-485.2 Thermocouples Radiasi panas diukur menggunakan thermocouple. sedangkan bagian bawah digunakan untuk mengukur radiasi pantul dari tanah. Hidrologi John Frans 7. maka pada tanah pun dapat dilakukan beberapa pengukuran antara lain : Soil temperature. Data ini dikirimkan menuju data recorder (logger) melalui media kabel (wire) atau bahkan modem radio. 26 . Bagian atas digunakan untuk mengukur radiasi global. Data acquisition & Transmission Pengukuran beberapa parameter meteorologi.

MK. Jaringan telepon sellular yang digunakan biasanya adalah jaringan GSM atau bahkan CDMA dan GPRS. Hidrologi John Frans Seluruh instrumen pengukuran menggunakan power suplay dari battery 12V atau dapat pula dengan bantuan sollar panel sebagai alat pengisi daya. Cara ini dilakukan dengan menggunakan sarana telepon (fix phone atau sellular) apabila di daerah titik pengamatan sudah memiliki jaringan telepon. 27 . Secara optional. fasilitas pengambilan data dapat pula dilakukan secara telemetri. Rekaman data pada data recorder disimpan dalam memory card (MMC) atau dapat pula diambil melalui pheripheral USB sebagai alat komunikasi yang cukup umum dipakai saat ini.

2. Penggunaan telemetri melalui telepon sellular ataupun fix phone (PSTN) dapat digunakan secara simultan atau bergantian.1.1. dan sebagainya. fasilitas ini pun digunakan untuk memeriksa keadaan seluruh sistem pengukuran. Pengukuran Curah Hujan Dalam praktek kita mengenal 2 macam alat untuk mengukur curah hujan yaitu penakar hujan dan pencatat hujan. Contoh sederhana adalah mengetahui kondisi setiap battery. 28 .MK. kabel. tergantung cakupan jaringan yang tersedia di lokasi tempat pengukuran. yaitu untuk memonitor availability masingmasing unit pengukuran. Hidrologi John Frans Selain untuk mendapatkan informasi data pengukuran.

1 mm dicatat 0. 2) Penakar hujan rata tanah Alat penakar hujan rata tanah.2. berupa bubukan sisa pembakaran batu bara. Alat penakar hujan biasa Air hujan masuk melalui corong penangkap dan masuk ke dalam gelas ukur yang diletakkan di dalam tabung untuk menerima air hujan yang meluap. pengukur dan gelas ukur. Grill adalah semacam sarang terbuat dari logam yang gunanya untuk mencegah tumbuhnya rumput atau tanaman penganggu. Jenis ini berhasil baik digunakan sebagai pembanding terhadap penakar biasa. Alat ini terdiri dari tabung.1 memperlihatkan alat ukur curah hujan biasa. dibuat dengan tujuan penangkapan maksimum seperti pada Gambar 2. Di sekitar alat penakar harus diberi grill dan brush. Luas penakar A dibuat sama luas dengan permukaan corong biasa.00 mm dan untuk membedakan tidak ada curah hujan.1.MK. corong penampung keran gelas ukur Gambar 2. Penakar hujan 1) Penakar hujan biasa Penempatan alat ukur ini pada tempat terbuka yang tidak dipengaruhi oleh pohon-pohon atau gedung-gedung. Sedangkan brush adalah lapisan lunak yang terbuat dari pasir atau sintel. Pembacaan dilakukan 1 x 24 jam dan hasil pembacaan dicatat sebagai curah hujan terdahulu. Gambar 2. yang pada bagian atas alat ini dipasang 20 cm lebih tinggi dari permukaan tanah yang sekelilingnya ditanami rumput. 29 . gunanya untuk mencegah percikan (cipratan) air agar tidak masuk ke dalam penakar. Curah hujan kurang dari 0. Hidrologi John Frans a. Ketelitian dalam pembacaan 1/10 mm. corong penangkap hujan (diameter bukaan 20 cm). daftar curah hujan ditandai dengan (-).

Jika pencatatannya mencapai d = 10 m. Dengan terisinya penampung maka penampung (3) akan terangkat. air dalam penampung akan tersedot keluar oleh sifon (5). Pencatat Jungkit 2) Pencatat pelampung Curah hujan yang tertangkap corong (1) tertumpah ke dalam penanmpung (2). corong sumbu Gambar 2. Pencatat hujan 1) Pencatat jungkit (tipping bucket) Pencatat jungkit dibagi dalam 2 ruangan yang diatur sedemikian rupa jika satu terisi kemudian menjungkit dan menjadi kosong. Penakar hujan rata tanah b. Hidrologi John Frans brush grill corong penampung Gambar 2.MK. lalu menyebabkan ruangan lainnya berada di posisi yang akan diisi oleh corong. Pelampung dihubungkan dengan alat penulis yang dapat membuat grafik pada drum pencatat yang diputar dengan pertolongan pegas jam (4).3.2. sehingga penampung menjadi kosong yang sekaligus membawa alat penulis turun ke posisi nol. Setiap jungkit menunjukkan suatu tinggi hujan d. 30 . Pencatatannya secara otomatis dan bertahap.

d. Agar proses tersebut dapat berjalan terus. Hidrologi John Frans 1 Keterangan : 1 = corong 2 = penampung 3 = pelampung 4 = drum pencatat 5 = sifon 3 4 5 2 Gambar 2. jika kelembaban relatif naik maka kemampuan udara untuk menyerap air akan berkurang sehingga laju evaporasinya menurun. jika suhu udara dan tanah cukup tinggi maka proses evaporasi berjalan lebih cepat. Pencatat pelampung 2. Kelembaban relatif. Evaporasi sangat mempengaruhi debit sungai. lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering yang terjadi jika ada angin. 31 .MK. Angin. Radiasi matahari.2. Suhu. besarnya kapasitas pompa untuk irigasi.4. Besarnya faktor meteorologi yang mempengaruhi besarnya evaporasi adalah : a. jika air menguap ke atmosfir maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti. besarnya kapasitas waduk. c. perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi. b. Evaporasi Penguapan (evaporation) adalah proses perubahan dari molekul air dalam bentuk zat cair ke dalam bentuk gas. penggunaan konsumtif untuk tanaman dan lainlain.

2. Atmometer Atmometer adalah alat standar untuk mengukur evaporasi dari permukaan basah. Penghitungan Evaporasi Rumus empiris “Penman” untuk menghitung evaporasi : E = 0. Ada beberapa jenis atmometer yaitu : 1) Atmometer Piche 2) Atmometer Livingstone 3) Atmometer Black Bellani b. Panci evaporasi dapat dipasang dengan posisi sebagai berikut : 1) di atas permukaan tanah 2) ditanam dalam tanah 3) mengambang di atas air c. Permukaan basah diberikan oleh benda berpori yang dibasahi air. yang ditempatkan dalam suatu wadah. Panci penguapan Panci evaporasi dibuat untuk meniru kondisi evaporasi permukaan air bebas. Pengukuran Evaporasi Ada beberapa alat ukur yang bisa digunakan antara lain : a. Radiasi netto ini sangat penting untuk studi tentang evaporasi.3) = evaporasi (mm/hari) = tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata harian (mm/Hg) = tekanan uap sebenarnya (mm/Hg) = kecepatan angin pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah (mile/hari) 32 . 2.2.MK. Mengukur kecepatan angin Kecepatan angin diukur dengan anemometer. d. sedangkan arah angin dengan kipas.35(ea − ed )(1 + keterangan : E ea ed V V ) 100 (2.1.2. Alat ini digunakan untuk tujuan-tujuan klimatologis guna mengetahui kemampuan mongering udara. Mengukur radiasi matahari Kebanyakan stasiun pencatat meteorologi dilengkapi dengan radiometer untuk mengukur gelombang pendek radiasi yang masuk dari matahari/angkasa dan radiasi netto yang dipantulkan. Hidrologi John Frans 2.

suhu bola basah 26°C.096 0.964 4.0008 0.MK. Tekanan uap sebenarnya.65 mm/Hg.35(ea − ed )(1 + V ) 100 54 ) = 5mm / hari 100 E = 0.4 760.65)(1 + 33 . Penyelesaian : Suhu bola kering 30°C. Tabel tekanan uap jenuh 0°C -60 -40 -20 -10 -1 0 (air+es+uap) 10 20 30 40 50 60 80 100 110 125 200 250 300 350 Contoh : Suhu bola kering 30°C.6 355.0 (1 atm) 1074 1740 11650 29770 64300 123710 E = 0. ed = 31. Kecepatan angin = {1 m/dt x 24 jam x 60 menit x 60 detik}/1600 m/mile = 54 mile/hari Diperoleh besarnya evaporasi “E” : p(mm/Hg) 0.55 31.86 mm/Hg.1. kelembaban relatif 68% dan kecepatan angin 1 m/dt. dari Tabel 2.6 149.220 4.1 diperoleh tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata harian. Hidrologi John Frans Tabel 2.580 9.783 1.21 17. ea = 31.35(31.40 92.86 − 21.86 mm/Hg x 68% = 21.86 55.

MK.P(45.7) ⎛t⎞ I = ∑⎜ ⎟ i =1 ⎝ 5 ⎠ I adalah jumlah 12 bulan dari suhu udara rata-rata bulanan dibagi 5.49239 1. persediaan air yang cukup (hujan dan lain-lain) b.0311t + 0. Evapotranspirasi Evapotranspirasi (evapotranspiration) adalah penguapan yang terjadi dari permukaan lahan yang tertutup dengan tumbuhan. 2. kelembaban dan lain-lain.5) keterangan : e = evapotranspirasi potensial bulanan (cm/bulan) c dan a= koefisien yang tergantung dari tempat t a 12 = suhu udara rata-rata bulanan (°C) = 0. faktor-faktor iklim seperti suhu. antara lain : a.1.01792 I + 0. ta (2.6) (2. Cara Thornthwaite (2. 514 (2.3.4) keterangan : K Kt U t Kc P b. Cara Blaney – Criddle yang dirubah : U= K . 34 . tipe dan cara kultivasi tumbuh-tumbuhan tersebut.0000771 I2 + 0. Hidrologi John Frans 2.t + 813) 100 = Kt x Kc = 0. c.7.3. Penghitungan Evapotranspirasi Ada beberapa metode yang dipakai untuk menghitung besarnya evapotranspirasi atau memperkirakan besarnya evapotranspirasi.000000675 I3 – 0. Jumlah kadar air yang hilang dari tanah oleh evapotranspirasi tergantung pada : a.240 = banyaknya evapotranspirasi bulanan (mm) = suhu udara rata-rata bulanan (°C) = koefisien tanaman bulanan = persentase jam siang bulanan dalam setahun (%) e = c.

55. suhu bola basah 27°C. Penutup Soal – Soal : 1.MK. Erlangga. Daftar Istilah Meteorologi Uap Gas Frekuensi Grill Brush Sifon Transpirasi Kelembaban 35 . Departemen pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Hidrologi John Frans C.D. 2003. Sebut dan jelaskan cara pengukuran curah hujan ! 3. jelaskan cara pengukuran/pengamatan evaporasi dengan panci evaporasi ! 5. Hitung besarnya evaporasi ! Daftar Pustaka Soemarto. Jelaskan pengertian evaporasi dan evapotranspirasi ! 4. kelembaban relatif 64% dan kecepatan angin 1 m/dt.C. Jelaskan pengertian dari presipitasi ! 2. Diketahui suhu bola kering 20°C. Jakarta Sosrodarsono. Hidrologi Teknik .1999. tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata 17. Hidrologi untuk Pengairan..

36 .MK. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi daya infiltrasi dengan benar.1. di bawah ini. yang terletak di antara permukaan tanah dengan permukaan air tanah.1.2. Menentukan kapasitas infiltrasi dengan benar.1. Kebalikan dari infiltrasi adalah rembesan (seepage). yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam zona tidak jenuh. yang ditentukan oleh kondisi permukaan. Hidrologi JFK BAB III. Gambar 3. Pendahuluan Pada bab ini akan dipelajari tentang pengertian infiltrasi dan perkolasi serta cara pengukuran kapasitas infiltrasi. Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh. Untuk memperjelas arti fp dan pp diperlihatkan pada Gambar 3.2. termasuk lapisan atas tanah. b. Penyajian 3. yang terletak di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh). dan Gambar 3. Daya infiltrasi f adalah laju infiltrasi maksimum yang dimungkinkan. c. Pengertian Infiltrasi dan Perkolasi Infiltrasi adalah perpindahan air dari atas ke dalam permukaan tanah. kerikil Tanah liat Muka air tanah Tanah liat kerikil Muka air tanah Gambar 3. Menjelaskan pengertian infiltrasi dan perkolasi dengan benar. Besarnya daya infiltrasi f dinyatakan dalam mm/jam atau mm/hari. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. INFILTRASI DAN PERKOLASI A. B. Daya perkolasi p adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan.

jika terdapat data yang teliti mengenai variasi intensitas curah hujan dan data yang kontinu dari limpasan yang terjadi.Untuk cara kedua. 37 . akan menghasilkan daya infiltrasi yang kecil tetapi daya perkolasinya tinggi. Kelembaban tanah c. Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh b. Tumbuh-tumbuhan h. Di sini diperlihatkan modifikasi cara perhitungan kurva f dalam daerah pengaliran yang kecil antara 1 sampai 10 ha yang disarankan oleh Dr. Cara ini hanya cocok untuk pengujian perbandingan yang dilaksanakan dengan membatasi beberapa buah factor yang mempengaruhi kapasitas infiltrasi.1. Cara yang pertama adalah cara mengukur laju infiltrasi. tetapi daya perkolasinya kecil. Struktur tanah g. Air dituangkan pada suatu bidang pengujian yang kecil dengan menggunakan alat ukur infiltrasi. Udara yang terdapat dalam tanah 3. W. Penentuan Kapasitas Infiltrasi Untuk penentuan kapasitas infiltrasi dapat digunakan cara dengan menggunakan alat ukur infiltrasi dan cara dengan menggunakan analisa dari hidrograf.3. Horner dan Dr. akan menghasilkan daya infiltrasi yang besar.MK. Penyumbatan oleh bahan-bahan yang halus e. karena lapisan atasnya terdiri dari lapisan kedap air dan lapisan bawahnya tiris. maka hidrograf dari dari limpasan yang disebabkan oleh suatu curah hujan yang terjadi pada kondisi yang sama dalam daerah pengaliran itu dapat ditentukan dengan ketelitian yang baik. Pemampatan oleh curah hujan d. Loyd.L. Sedangkan Gambar 3. 3. Dengan kapasitas infiltrasi yang diperoleh ini.2. karena lapisan atasnya terdiri dari lapisan kerikil yang mempunyai permeabilitas tinggi dan lapisan bawahnya terdiri dari lapisan tanah liat yang relatif kedap air.W.2. L. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Infiltrasi Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi adalah : a. maka kapasitas infiltrasi dapat diperoleh dengan ketelitian yang cukup tinggi. Hidrologi JFK Gambar 3. Pemampatan oleh orang dan hewan f.

46 .5 4.003 .051 .2003 38 .55 .036 .042 .00 6.7 60.8 Intensitas Curah Hujan (mm/jam) 15.48 – 5. Hidrologi.57 7.48 5.50 – 7.14 Debit (m3/dt) 0.051 .08 .005 .47 .29 . Data Curah Hujan Waktu 5.020 .40 .24 Debit (m3/dt) 0.029 .2.49 .0 0.43 . Data Pengukuran Debit Waktu 5.20 .MK. Hidrologi JFK Tabel 3.5 0.44 .8 Curah Hujan (mm) 5.54 .8 4.35 .58 6.06 .44 – 6.001 Catatan Debit puncak Akhir debit Permulaan debit Puncak debit Debit puncak Sumber : Sosrodarsono.00 – 6.029 .001 .067 .57 .55 – 5.00 Jam (menit) 5 2 5 2 3 6 6 26 Jam (menit) 6 6 10 Curah Hujan (mm) 1.5 10.06 – 6. Hidrologi.16 .007 .2003 Tabel 3.1 15.43 .01 .07 .010 .12 6.031 .13 .50 – 5.38 – 6.024 .0 4.57 – 6.062 .1.50 5.03 .7 17.12 – 6.5.44 6.033 .10 .00 .076 .001 .09 .2 1.00 .4 42.043 .035 .55 5.085 .6 57.12 .38 Waktu 6.8 2.50 6.058 .57 5.3 1.51 .7 53.015 .05 .3 1.003 Catatan Permulaan debit Waktu 6.023 .8 Sumber : Sosrodarsono.04 .06 6.8 Intensitas Curah Hujan (mm/jam) 52.

13 0. Intensitas hujan buatan 50 mm/jam.10-3 m/jam x 50 m2 = 2.5 m. Penyelesaian Intensitas hujan buatan = 50 mm/jam Luas plot = 4 x 12. Berapakah run-off dalam mm/jam b.6944 = fc = intensitas – runoff = 50 – 36 = 14 mm/jam = 0.6944 ltr/dt Setelah balance(seimbang) run-off Maka : a.5 m3/jam = 0.MK. Hidrologi JFK Contoh Soal Pengukuran Infiltrasi : Percobaan infiltrasi dilakukan dari sebuah plot dengan ukuran 4 m x 12. Berapakah detensi permukaan apabila run-off setelah hujan berhenti sebagai berikut Waktu (menit) 0 5 10 15 20 Run-off (ltr/dtk) 0. Berapakah fc (ultimate infiltration capacity) dalam mm/jam c. Kapasitas infiltrasi 39 .1944 ltr/dtk b.5 liter/dtk. Run-off = = 0.5 = 50 m2 Debit hujan yang jatuh di atas plot = 50. Setelah tercapai keseimbangan ternyata run-off telah konstan sebesar 0.50 0.05 0.5 ltr/dt 0. Pertanyaan : a.00 Asumsi : dapat dimisalkan bahwa perbandingan antara run-off dan infiltrasi sesudah hujan berhenti = pada saat hujan berhenti.50 x 50 mm/jam = 36 mm mm/jam 0.25 0.

0972) x(5 − 0).05 + 0. Detensi permukaan = jumlah runoff setelah hujan berhenti + jumlah infiltrasi setelah hujan berhenti = ketinggian air pada plot setelah balance Kurva Detensi Permukaan 0.4 0. Kurva hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan waktu Detensi permukaan = luas curve runoff + luas curve infiltrasi Perhitungan luas dilakukan dengan pendekatan saja.60 2 (0. Hidrologi JFK c. Luas I = Luas II = Luas III = Luas IV = (0.2833 = 0.25 + 0.0505) + (0.60 2 0.8 0.2833 m3 Detensi permukaan = 40 .0194) x(15 − 10).7 0.0194) + 0 x(2 − 15).MK.41 liter (0.0057 m = 5.1944) + (0.60 2 = 156.3 0.5 + 0.1 0 0 5 10 15 20 25 30 fc (lt/dt) t (menit) Gambar 3.4.0972) + (0.60 2 (0.13 + 0.05 + 0.0505) x(10 − 5).24 liter = 79. yaitu tiap bagian dianggap trapezium.6 0.16 liter = 37.3 liter = 0.7 mm 50 Luas total curve = 283.49 liter = 10.2 0.5 0.13 + 0.25 + 0.

Berapakah fc (ultimate infiltration capacity) dalam mm/jam c. Erlangga. Departemen pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Hidrologi untuk Pengairan. Intensitas hujan buatan 60 mm/jam.7 liter/dtk. Hidrologi Teknik .D. Berapakah run-off dalam mm/jam b. Percobaan infiltrasi dilakukan dari sebuah plot dengan ukuran 5 m x 25 m. Pertanyaan : a.40 0. Penutup Soal-Soal 1.C. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi daya infiltrasi ! 3.. Jelaskan pengertian dari infiltrasi dan perkolasi ! 2. Hidrologi JFK C. Setelah tercapai keseimbangan ternyata run-off telah konstan sebesar 0.10 0. Daftar Istilah Zona Laju Hidrograf Kurva 41 . Berapakah detensi permukaan apabila run-off setelah hujan berhenti sebagai berikut Waktu (menit) 0 5 10 15 20 Run-off (ltr/dtk) 0.20 0.1999.00 Daftar Pustaka Soemarto. 2003. Jakarta Sosrodarsono.05 0.MK.

Hidrologi JFK Run-off 42 .MK.

Di equator terdapat tekanan rendah sedangkan radiasi matahari memanasi udara secara intensif yang menyebabkan udara mengembang dan naik ke atas. Hidrologi JFK BAB IV CURAH HUJAN A. Data-data tersebut diolah dan diselesaikan untuk proses belajar mengajar pada bab ini. B. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. diharapkan mahasiswa untuk mencari data curah hujan dari beberapa stasiun pengamatan curah hujan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada Kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Nusa Tenggara Timur. Distribusi Curah Hujan 4. Menjelaskan macam-macam distribusi curah hujan dengan benar.1. Menghitung intensitas curah hujan berdasarkan contoh soal dengan benar. d. Menghitung konsistensi data curah hujan tahunan berdasarkan contoh soal dengan benar e. khususnya bab II adalah datadata curah hujan yang telah dicatat oleh alat ukur curah hujan diolah untuk rancang bangun.1. Penyajian 4. Pendahuluan Untuk memperdalam materi pada bab ini. Menghitung curah hujan wilayah berdasarkan contoh soal dengan benar. Angin yang mengandung lembab panas bertemu di suatu daerah dan mengakibatkan terjadinya hujan. c. Distribusi Curah Hujan secara Geografis Faktor-faktor yang menentukan besarnya curah hujan rata-rata tahunan di suatu tempat : garis lintang posisi dan luas daerah jarak dari pantai suhu laut efek geografis altitude/ketinggian Latitude berhubungan dengan sirkulasi atmosfer.MK. Hubungan antara materi pada bab ini dengan bab-bab terdahulu. b.1. 27 . Menghitung frekuensi curah hujan berdasarkan contoh soal dengan benar.

Dengan adanya variasi-variasi ini dikenal adanya variasi musiman. Hujan orografik adalah hujan yang disebabkan oleh naiknya udara karena ada rintangan berupa pegunungan. ± 30° arah utara dan selatan. a. 28 . Distribusi hujan menurut variasi musiman ini bisa terjadi “hujan konfektif. 4.1. ± 65° ke kutub. c. Hidrologi JFK a.65° arah utara dan selatan. Curah hujan ini disebut curah hujan wilayah/daerah dan dinyatakan dalam mm.MK. Terkadang mengalami penyimpangan pada pola itu tetapi kembali lagi pada pola yang teratur.1. dengan anggapan bahwa di daerah tersebut sifat curah hujannya adalah seragam (uniform).3. Distribusi Curah Hujan Wilayah/Daerah (regional distribution) Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. c. b. Hujan konfektif adalah hujan yang disebabkan oleh naiknya udara panas ke tempat yang lebih dingin. Data curah hujan yang tersedia umumnya tidak cukup panjang untuk menyatakan fluktuasifluktuasi jangka panjang sedang variasi-variasi jangka pendek adalah demikian tak teratur sehingga terdapat banyak siklus. ± 35° . udara dingin kering dari kutub menimbulkan hujan tipe frontal dan menyebabkan hujan lebat.2. 4. terdapat tekanan tinggi yang menyebabkan udara kering dan panas menurun sehingga curah hujannya rendah. Hujan yang terjadi di Indonesia sebagian besar adalah type hujan konfektif. hujan orografik dan hujan cyclonic”. Distribusi Curah Hujan menurut Waktu Jatuhnya hujan terjadi menurut suatu pola dan suatu siklus tertentu. b. Cara rata-rata aljabar Cara ini dipakai pada daerah yang datar dan banyak stasiun curah hujannya. Cara-cara perhitungan curah hujan daerah dari pengamatan curah hujan di beberapa titik adalah sebagai berikut : a. Hujan cyclonic adalah hujan yang disebabkan oleh naiknya udara yang terpusatkan di suatu daerah dengan tekanan rendah. angin kutub kering bertambah banyak sehingga menyebabkan berkurangnya hujan.

... Cara ini cocok untuk menentukan curah hujan ratarata apabila stasiun atau pos pengamatan tidak (4..MK. R2. Cara Thiessen Jika titik-titik pengamatan di dalam daerah itu tidak tersebar merata. + Rn ) n (4... Hidrologi JFK Cara ini adalah perhitungan rata-rata secara aljabar curah hujan di dalam dan di sekitar daerah yang bersangkutan. − R= 1 ( R1 + R2 + R3 + . − R= A1R1 + A2 R2 + ... 453 476 572 585 675 659 757 745 Stasiun penakar hujan Gambar 4.1. + An 29 .1. maka cara perhitungan curah hujan rata-rata itu dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh tiap titik pengamatan... + An Rn A1 + A2 + ... R3….25 mm b. Rata-rata Aljabar Penyelesaian : 1 R = (757 + 745 + 675 + 659 + 572 + 585 + 476 + 453) 8 R = 615..Rn = curah hujan daerah (mm) = jumlah titik-titik (pos) pengamatan = curah hujan di tiap titik pengamatan (mm) Keuntungan : cara ini lebih obyektif Contoh : Hitunglah curah hujan rata-rata dengam metode rata-rata aljabar..) Keterangan : − R n R1.2) banyak.

Daerah tersebut dibagi dengan polygon-polygon yang diperoleh dengan menggambar garis tegak lurus pada tiap sisi segitiga. A2. Contoh : Hitunglah curah hujan rata-rata dengam metode Thiessen 453 476 572 585 675 659 745 757 Gambar 4. An : • • Hubungkan tiap titik pengamatan dengan garis lurus yang akan membentuk segitiga dan menutupi seluruh daerah. Hidrologi JFK − R n R1.….An Kerugian = curah hujan daerah (mm) = jumlah titik-titik (pos) pengamatan = curah hujan di tiap titik pengamatan (mm) = bagian daerah yang mewakili tiap titik pengamatan Keuntungan : hasil lebih teliti dari cara rata-rata aljabar : jika terjadi kekurangan pengamatan pada salah satu titik pengamatan maka harus ditentukan kembali jaringan segitiga. Cara untuk menentukan bagian atau luasan daerah A1.2... Thiessen Polygon 30 .MK. Luas polygon tersebut diukur dengan planimeter. A2.Rn A1. R3…. R2.

+ n ∑A 2 ∑A 2 ∑A 2 (4. An = luas bagian antara garis-garis Isohyet R1. Metode ini cocok untuk menentukan curah hujan rata-rata.72 618. Secara sistematis dapat ditulis : R= A1 ( R1 + R2 ) A ( R2 + R3 ) A ( Rn + Rn +1 ) + 2 + .34 Jadi curah hujan rata-rata metode Thiessen = 618...MK.96 17.43 7. Luas bagian daerah antara dua garis isohyet yang berdekatan diukur dengan planimeter.69 10.67 74.84 112.3) Keterangan : R = curah hujan rata-rata daerah (mm) A1..34 mm c. R2.92 13. Cara garis Isohiet Peta isohyet digambar pada peta topografi dengan perbedaan (interval) 10 – 20 mm berdasarkan data curah hujan pada titik-titik pengamatan di dalam dan di sekitar daerah yang dimaksud. Metode perhitungannya adalah jumlah perkalian curah hujan rata-rata diantara garis Isohyet dengan luas antara kedua garis Isohyet tersebut. Rn = curah hujan rata-rata pada bagian A1.45 8.16 14.93 100 Curah hujan tertimbang (mm) 67.24 68.48 127..59 63. apabila daerahnya pegunungan atau daerah berbukit-bukit.. Hidrologi JFK Penyelesaian ditabulasikan dalam tabel : Curah hujan Luas *) (ha) (mm) 20 453 18 476 10 572 17 585 14 659 12 675 23 745 20 755 Jumlah 134 * ) angka perkiraan hitungan % luas 14.46 12.87 60. A2.A2. dibagi luas total.…An 31 .93 42.

46 15.12 23.67 21.64 26.MK.88 5. Peta Isohyet Penyelesaian ditabulasikan dalam tabel: Curah Hujan (mm) 850 800 750 700 650 600 550 500 450 400 350 <400 Jumlah * ) angka perkiraan hitungan Isohyet Luas *) (ha) 10 21 29 35 32 7 134 % Luas 7.3.03 jadi hujan rata-rata metode Isohyet = 591. Hidrologi JFK Contoh : Hitunglah curah hujan rata-rata dengan metode Isohyet 400 500 447 453 600 542 558 700 675 800 745 755 625 Isohyet dalam mm Gambar 4.53 140.31 591.23 100 Curah hujan rata-rata (mm) 63.41 117.03 mm 32 .46 18.66 143.66 107.

b.Series Partial Series Anal. Hujan Hujan Rencana 33 . Hidrologi JFK a. Poligon Thiessen Bobot poligon Thiessen masing-masing sta Hujan rata-rata DAS (cara Thiessen) Pemilihan Data Annual Series Annual Exc. Test konsistensi (double-mass curve) b. Data lokasi semua stasiun hujan pada dan disekitar DAS Peta DAS Pilih stasiun hujan yang memungkinkan untuk dipakai Data hujan harian semua stasiun hujan pada dan disekitar DAS Koreksi data hujan : a. Mengisi data yang hilang ( inserved square distance ) a.MK. Poligon Thiessen masing-masing sta b. Frk. Peta topografi b. Bobot poligon Thiessen Data terkoreksi Dicari jaringan stasiun hujan yang representatif dengan cara Kagan Biasanya hasil jarang dipakai a.

1.2. Distribusi Curah Hujan dalam suatu Jangka Waktu Tertentu Distribusi curah hujan berbeda-beda sesuai dengan jumlah waktu yang ditinjau yakni curah hujan tahunan.t )( I ) N ( I 2 ) − ( I )( I ) (4. curah hujan bulanan.t ) − N ( I 2 .5) I= a tn (4.1.4) ( I )( I . Harga atau nilai-nilai yang diperoleh dari curah hujan sesuai dengan waktu tersebut di atas dapat digunakan untuk menentukan prospek bangunan yang berhubungan dengan air. Sherman (1905) (4.t )( I 2 ) − ( I 2 . Hubungan antara intensitas curah hujan dan lamanya hujan. Hujan Rencana 4.MK. Talbot (1881) I= a= a t +b ( I . Hidrologi JFK Flowchart 4.4. Intensitas Curah Hujan Intensitas curah hujan adalah rata-rata dari hujan yang lamanya sama dengan lama waktu konsentrasi (tc) dengan masa ulang tertentu. dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain : 1). 4. log I ) n= N (log t ) 2 − (log t )(log t ) 34 . Atau dapat dikatakan intensitas curah hujan adalah ketinggian curah hujan yang terjadi pada suatu kurun waktu tertentu dimana air tersebut berkonsentrasi. curah hujan harian dan curah hujan perjam. log I )(log t ) log a = N (log t ) 2 − (log t )(log t ) (log I )(log t ) − N (log t. Prof.t ) b= N ( I 2 ) − ( I )( I ) 2). Waktu konsentrasi adalah waktu yang dibutuhkan aliran dari titik terjauh ke suatu tempat tertentu. Prof.6) (log I )(log t ) 2 − (log t.

60 4479.00 1.52 2.00 108160.90 2.00 10816.n.71 43176.48 1.02 1.33 3.67 15.31 41447.53 34203. Log I (log t) 22500.66 80 65.20 43610.69 2.07 3756.18 2.25 227017.t 750.60 5252.70 3155.38 13 I t 50311.65 120 46.47 5.24 3.26 6223.62 476.1.32 7.00 1.91 38549.2.5 Penyelesaian : Tabel 4.94 1.12 4309. Hidrologi JFK 3) Dr.00 195031.18 2.94 10. Ishiguro (1953) I= a= b= 4) Mononobe a t +b ( I t )( I 2 ) − ( I 2 .12 23686. Perhitungan tiga jenis rumus intensitas curah hujan 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 jum lah 2 t 5 10 20 30 40 60 80 120 3 I 150 104 98.b.00 2 7 log t 0.25 0.29 10 2 11 t 2.90 68904.70 1.44 24841.66 65. t ) N ( I 2 ) − ( I )( I ) (4.1.46 3.99 1.80 248945.08 11.80 259470.00 9751.28 334446.7) I= R24 24 m ( ) 24 t = intensitas curah hujan (mm/jam) (4.62 4.89 60 74.38 9 1.16 4.19 509.04 705.00 1040.99 40 78. Cara perhitungan intensitas curah hujan 1) Perhitungan dengan cara kuadrat terkecil (least square) Contoh soal : Lamanya curah hujan t (menit) Intensitas curah hujan I (mm/jam) 5 150 10 104 20 98.87 1.94 578.m R24 = lamanya curah hujan (menit) atau untuk Mononobe dalam (jam) = tetapan = curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm) 4.31 587.59 2.00 5580.84 8 log I 2.56 7567.90 1.16 3.60 1.95 12 It 335.63 35 .99 78.78 1.75 30 86.00 5 I 2 6 It 112500.46 498.57 3.89 74.63 5574.75 8.75 86.00 2609.59 39361.86 3.49 1.04 3.5 4 I.02 2.82 1.74 1830365.65 46.41 328.47 22. t )( I ) N ( I 2 ) − ( I )( I ) ( I )( I t ) − N ( I 2 .MK.94 344793.32 19.26 2 logt.92 2162.88 441.21 314346.48 6.8) Keterangan : I t a.30 1.00 1975.

07 x 705.63 x 705.44 x 705.29 8 x 19.74 − 705.44 x 705.5 n= 15.49 b= b ≅ 53.38 x 11.84 8 x 19.66 b= b ≅ 2.29 x 11.63 8 x 68904.74 − 705.21 x 68904.44 8 x 68904.07 8 x 68904.44 x 3756.04 − 11.44 a ≅ 691.52 Subtitusikan ke dalam masing-masing persamaan menjadi : 36 .74 − 705.84 − 8 x 22.90 x 68904.74 − 314346.77 [Jenis II-Sherman] I= a tn 15.44 x 705.74 − 705.44 705.38 x 19.MK.90 − 8 x 1830365.21 − 8 x 314346.04 − 22.44 8 x 68904.31 [Jenis III-Ishiguro] I= a= a t +b 3756.84 log a = log a = 2.04 − 11.74 − 1830365.84 x 11.44 705.383 a ≅ 241.84 n ≅ 0.44 a ≅ 7846.44 x 24841.44 x 705.84 x 11. Hidrologi JFK [Jenis I-Talbot] I= a= a t +b 24841.

41 84.99 78.29 -5. jenis II yakni I= a/tn memberikan hasil yang optimum sebagai rumus intensitas curah hujan.00 0 50 I (1) I (2) I (3) 100 150 lamanya curah hujan t (menit) 37 .2.35 68.87 3.17 -0. Deviasi antara harga-harga ini dengan data yang tercantum dalam kolom 3 tercantum berturut-turut dalam kolom 15.79 -3.43 3. tercantum dalam kolom 14. 18 pada Tabel yang sama.99 -1. Tabel 4.14 76.31 tn t a t +b = (i) (ii) (iii) 691.77 a 241. Hidrologi JFK I= I= I= a 7846.68 68. 16. Harga-harga I dari rumus (i).25 27. Tabel perbandingan kecocokan rumus-rumus intensitas curah hujan 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 t 5 10 20 30 40 60 80 120 3 I 150 104 98. Dengan menelaah deviasi rata-rata M(|α|)= α dan Gambar 4.34 -2.08 54.17 dan 19 dalam Tabel yang sama.64 8.00 60.51 123.(iii) yang didapat dengan menggantikan harga-harga t dalam kolom 2 pada Tabel 4.89 74.20 67.00 140.33 51.37 14.48 18 I(3) 145.00 100.85 -1.67 83.00 40.65 46.79 -5.4 dapat ditentukan bahwa untuk keadaan ini.72 98.58 16 I(2) 146.92 86.87 62.4.5 14 I(1) 133.69 -7.(ii).37 60.49 19.36 93.00 120. Demikian pula kurva-kurva yang dihitung tercantum dalam Gambar 4.32 4.93 α α α intensitas curah hujan (mm/jam) Σ(|α|) M(|α|) 160.43 121.96 67.2.68 4.93 -6.49 = t + b t + 53.83 31.61 6.28 -3.66 45.66 65.57 17.69 -6.00 0.75 17 2 -3.49 78.28 95.33 19 3 -4.15 15 1 -16.66 t + 2.5 = 0.50 -0.57 8.75 86.97 58.63 118.00 80.52 Selanjutnya harus diadakan pemeeriksaan mengenai rumus yang paling cocok digunakan.04 7.00 20.04 106.MK.72 0.

RN Keterangan : I β R Notasi N = rumus intensitas curah hujan (mm/jam) = koefisien spesifik = curah hujan 1 jam (mm) atau intensitas curah hujan 1 jam (mm/jam) = kemungkinan dalam N tahun (4. Rumus (4.R N = RN 38 . Hidrologi JFK Gambar 4. Mengingat hal ini memerlukan waktu yang lama (dimana angka-angkanya harus dibaca dari kurva yang tercatat).R N = [Jenis III] I N = β N . Disamping itu kesemuanya harus dibaca dari kertas-kertas alat ukur otomatis. maka ketelitiannya akan berkurang. Tiga jenis kurva intensitas curah hujan 2) Perhitungan dengan cara koefisien spesifik Cara yang dikemukakan dalam least square memerlukan data pengamatan curah hujan yang panjang dan sekurang-kurangnya untuk 8 jenis lamanya curah hujan.4).9) Harga βN dalam rumus (4.9) dalam Jenis I. maka rumus pendekatan intensitas curah hujan itu dapat dihitung dengan mudah dan mempunyai ketelitian yang tinggi.R N = [Jenis II] a' RN t +b a' RN tn a t +b I N = β N .9) adalah sama seperti rumus (4. dan jenis III berturut-turut akan menjadi : [Jenis I] I N = β N .4. jenis II. (4.MK.6) dan (4. Rumus intensitas yang digunakan : IN = βN . Cara yang dikemukakan di bawah ini adalah cara untuk mendapatkan rumus intensitas curah hujan berdasarkan 2 jenis data curah hujan (umpama curah hujan 60 menit dan 10 menit). Jika data curah hujan 60 menit dan 10 menit atau lain-lain itu ada.7) yang dikemukakan pada cara least square.

3. Untuk itu harus dipilih minimal 10 alat ukur yang mempunyai kondisi topografi yang sama.3. Contoh: Pada sebuah daerah aliran sungai terdapat 25 stasiun yang mengukur hujan. Hidrologi JFK 4. Untuk itu tersedia data pengukuran curah hujan tahunan dari tahun 1921 s/d 1956 sebagai berikut : Tabel 4. Koreksi Data Curah Hujan Jika terdapat data curah hujan tahunan dalam jangka waktu pengamatan yang panjang. Data pengukuran hujan tahunan 39 . Kesalahan-kesalahan pengamatan tidak dapat ditentukan dari setiap data pengamatan.MK. Dari keduapuluh lima stasiun salah satunya akan diselidiki konsistensi datanya. maka kurva massa ganda (double mass curve) dapat digunakan untuk memperbaiki kesalahan pengamatan yang terjadi yang disebabkan oleh perubahan posisi atau cara pemasangan yang tidak baik dari alat ukur curah hujan. Data curah hujan tahunan jangka waktu yang panjang alat yang bersangkutan itu harus dibandingkan dengan data curah hujan rata-rata sekelompok alat-alat ukur dalam perioda yang sama.

80 7.80 14.90 162. 8.40 11.60 9.00 9.20 11.20 110.30 13.10 185.10 13.10 9.70 186.4. X 25 sta.60 11.20 11.80 9.40 36.30 9.70 8.30 16.90 15.00 14.00 13.30 12.80 9.20 11.90 9.60 13.00 10.20 11.50 9.80 10.80 11.20 9.10 13.60 11.30 9.40 8.30 12.50 12.90 28.00 12.60 194.20 153.80 11.10 12.20 11.90 12.70 9. Hidrologi JFK Tahun 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 Hujan Rata-rata Sta. Kumulatif 16.70 116.20 10.20 11.60 9.30 9.20 12.40 7.20 8.00 9.30 Tabel 4.90 8.00 24.90 11.00 9.10 11.90 53.30 Tahun 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 Hujan Rata-rata Sta. Kalau tidak kapan terjadi penyimpangan dan koreksi data tersebut di atas.00 14. X Kumulatif 25 Sta.10 10.70 123. X 25 sta.30 12.00 9.50 11.10 40.10 127.80 10.10 206.30 13.50 Dari data tersebut di atas diminta untuk menentukan apakah data pada stasiun X itu konsisten atau tidak.60 11.90 95.80 83. 7.20 11.40 10.MK.50 13.10 48.10 8.30 172.00 12.40 14.20 176.30 13.00 12.60 19.10 8.30 12. Penyelesaian : Tahun 1956 1955 1954 1953 1952 1951 1950 1949 1948 1947 1946 1945 1944 1943 1942 1941 Hujan Jumlah Rata-rata Jumlah Sta.20 6.80 105.20 9.80 12.00 69.60 65.70 11.20 15.20 19.30 15.30 11.00 165.80 10.90 11.70 10.80 17.60 146.10 10.60 12.00 12.20 12.30 13.70 12.00 77.20 141.50 12.20 11.20 11.10 17.40 11.10 8.80 12.30 93.50 11.00 16.40 11. Tabulasi data dengan double mass curve 40 .90 11.10 12.80 133.30 60.00 9.

30 9. ini berarti data yang kita peroleh tidak konsisten selama tahun 1921- 41 .90 12.00 1956 0.10 11.20 362.80 9.00 100.90 9.90 8.20 380.60 272.50 242.00 300.60 13.10 9.00 300.20 11.10 7.20 11. Kurva Massa Ganda Setelah data yang ada ditabelkan secara kumulatif dan kemudian digambarkan dalam sebuah kurva yang disebut double mass curve.60 14.80 12.40 395. Dari kurva tersebut di atas dapat dilihat bahwa ia bukan merupakan garis lurus.60 252.40 271.80 11.8. kumulatif) 1921 100.70 281.80 Jumlah Rata-rata Jumlah 212.00 Hujan rata-rata 25 sta.20 232.10 7.50 11.80 Kumulatif 25 Sta.60 13.00 400.90 9.MK.30 9.30 337.10 10.60 8.10 230. Kumulatif X 221.40 11.30 8.20 337.20 389.00 9.10 9.60 15.30 12.00 400.20 313.20 208.00 318.30 221.40 408. kumulatif) Gambar 4.00 0.60 327.20 194.40 11.70 373.00 291.10 292.70 11.90 7.00 330.80 9.10 261.30 387. (jml.00 398. Hidrologi JFK Tahun 1940 1939 1938 1937 1936 1935 1934 1933 1932 1931 1930 1929 1928 1927 1926 1925 1924 1923 1922 1921 Hujan 6.80 10.80 300.40 304.80 351.70 8.20 356.20 283.20 239.50 500.00 9.00 200.10 248.50 Sta.30 10.60 368.00 8.5.00 1942 Hujan pada sta.00 200.30 348. X (jml.50 309.10 14.10 261.60 11.

Penerapan cara ini khusus daerah yang mempunyai kondisi meteorologi yang sama. Gumbel.2 Kemiringan kurva tahun 1921-1942 : K2 = Besarnya koreksi = K1/K2 = 1.9 = = 1.5 − 172.X 194.334576. dan yang ketiga (maksimum) sekali dalam 200 x 1/3 = 67 tahun. Penyimpangan terjadi pada tahun 1942.2 395. Cara ini adalah cara yang paling sederhana.848074 408. maka dianggap bahwa harga maksimum dari data ini mempunyai frekuensi sekali dalam 20 x 10 = 200 tahun.334576 Jadi data tahun 1921 – 1941 harus dikali dengan 1. 172. Di bawah ini akan diberikan contoh pengolahan data curah hujan dengan menggunakan metode Gumbel dan Log Pearson. Mencari faktor koreksi : K1 = ε komulatif sta.4. Poisson.13182 ε komulatif 25 sta. Misalnya jika terdapat data selama 20 tahun pada setiap 10 titik pengamatan. bukan seperti daerah pegunungan. Galton dan lain-lain. Oleh karena itu data dari tahun 1921-1941 dikoreksi agar seluruh data menjadi konsisten. 42 .9 = 0. rancang drainase dan lain-lain adalah hanya menggunakan data pengamatan yang lalu. Ada beberapa ahli yang membuat pendekatanpendekatan untuk menganalisis frekuensi atau probabilitas antara lain Gauss. 4. Kita menganggap data setelah tahun 1942 lebih bisa dipercaya daripada tahun-tahun sebelumnya.3 − 194. Cara memperkirakan frekuensi dengan menjumlahkan banyaknya tahun pengamatan paada titik-titik pengamatan dalam daerah itu. Tujuan dari analisis frekuensi curah hujan dan banjir untuk memperkirakan besarnya variasi-variasi yang masa ulangnya panjang. Hidrologi JFK 1956. Pearson. Weibull. yang kedua (maksimum) sekali dalam 200 x ½ = 100 tahun. tanpa penyelesaian secara statistik.MK. Analisis Frekuensi Curah Hujan dan Perioda Ulangnya Cara perkiraan untuk mendapatkan frekuensi kejadian curah hujan dengan intensitas tertentu digunakan dalam perhitungan pengendalian banjir. Pengoreksian data ditabulasikan pada tabel. Gamma.

misal untuk analisis frekuensi banjir.12) Bentuk lain dari persamaan Gumbel : X Tr = X + K .5 berikut dimana banyaknya pengamatan 10 tahun.1. (Lampiran 1. Sn = besaran yang merupakan fungsi dari jumlah pengamatan.10) Sx = ∑(X i − X )2 n −1 (4.13) Keterangan : YTr Yn.45) (4.11) (T − 1) ⎤ ⎡ Y = − ln ⎢− ln T ⎥ ⎣ ⎦ Keterangan : XTr Sx Y n = besarnya curah hujan untuk periode Tr tahun = standar deviasi / simpangan baku = perubahan reduksi = jumlah data (4. Hitunglah besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 10 tahun.5. (Lampiran 1.) Contoh : Data curah hujan harian maksimum pada sebuah stasiun meteorologi di Nunbaun terlihat pada Tabel 4. Tabel 4. Data curah hujan harian maksimum 43 .a) (4.4.S x K= YTr − Yn Sn = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas.78Y − 0.c. Gumbel memberikan persamaan untuk kala ulang Tr X Tr = X + S x (0.b dan 1.MK. dan kemungkinan yang terjadi pada 20 tahun mendatang. Metode Gumbel Type I Distribusi Gumbel Type I umumnya digunakan untuk analisis data maksimum. Hidrologi JFK 4.

6. diperoleh nilai-nilai sebagai berikut : • Rata-rata.X )2 3364 2116 2116 1156 729 225 81 225 2209 29929 42150 Dari tabel 4. X (mm) 103 115 84 121 84 303 72 96 177 145 Penyelesaian : Urutkan data dari kecil ke besar.MK. mean. Hidrologi JFK No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Curah hujan . Tabel 4.6. Tabulasi data untuk Gumbel Type I No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Σ Tahun 2000 1995 1998 2001 1994 1995 1997 2003 2002 1999 X (mm) 72 84 84 96 103 115 121 145 177 303 1300 X2 5184 7056 7056 9216 10609 13225 14641 21025 31329 91809 211150 (X. X = 1300 = 130 10 44 .

MK.2930 1. dari lampiran 1.a. maka Yn = 0.9496 Ytr = 2. terutama dalam analisis data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum) dengan nilai ekstrim.2502 Nilai K = 2.b. Metode Log Pearson III Distribusi Log Pearson type III banyak digunakan dalam analisis hidrologi.4952 = 1.14) log X = • ∑ log X n (4.43 10 − 1 Jumlah data n = 10.43) = 256.848 x 68.4.9496 Jadi besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 10 tahun adalah : X10 = 130 + (1.2.848 0.15) Standar deviasi (simpangan baku) S log X = • ∑ (log X i − log X ) 2 n −1 (4.43) = 286. log X Tr = log X + K Tr ( S log x ) • Rata-rata (mean) (4. Hidrologi JFK • Standar deviasi = Sx = 42150 = 68.5236 = 2.4952 • Sn= 0.16) Koefisien asimetris / Skewness (Cs) 45 .2502 − 0.2930 x 68.46 mm Kemungkinan yang terjadi pada 20 tahun mendatang : Untuk n = 20.91 mm 4. Persamaan-persamaan yang digunakan dalam distribusi Log Pearson Type III. 1.9606 − 0.0628 Ytr = 2.. sebagai berikut : • Harga atau nilai untuk berbagai masa ulang atau nilai curah hujan untuk masa ulang tertentu.c didapat : Yn = 0.1.5236 • Sn = 1.0628 Jadi besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 20 tahun adalah : X20 = 130 + (2.9606 Nilai K = 2.

0034 -0.MK.0001 0.25 2.0081 0.01 2.0225 0. Penyelesaian : Tabel 4. Tabulasi data untuk Log Pearson Type III No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 2000 1995 1998 2001 1994 1995 1997 2003 2002 1999 Σ X (mm) 72 84 84 96 103 115 121 145 177 303 1300 log X 1.48 20.0036 0.0441 0.0689 0.0000 0.0081 0. Hidrologi JFK Cs = • n∑ (log X − log X ) 3 (n − 1)(n − 2)( S log X ) 3 (4.0093 -0.7.0225 0.0034 -0.72 (logX-log X )2 0.0058 0. Contoh : Data curah hujan pada Tabel 4.98 2.5.16 2.0002 0.1681 0.06 2.19) Faktor penyimpangan K untuk kala ulang tertentu.3096 (logX-log X )3 -0.d.92 1.0584 Dari tabel 4.86 1.0007 -0.17) Koefisien Variasi (Cv) Cv = • S log X X (4.0324 0.0000 0.92 1.08 2.0001 0.7 diperoleh : 46 . dan dengan memakai nilai SlogX atau Cs dapat dilihat pada Lampiran 1. hitunglah dengan menggunakan Log Pearson III.18) Kurtosis (Ck) Ck = n 2 ∑ (log X − log X ) 4 (n − 1)(n − 2)(n − 3)( S log X ) 4 (4.0007 0.

0584 = 1. 47 . Tentukan derajat kebebasan dk = G .287 dari Lampiran 1.072 10 0.339 Harga atau nilai untuk berbagai masa ulang atau nilai curah hujan untuk masa ulang 10 tahun : • • LogX10 = 2.72 = 2. Uji Kecocokan Uji kecocokan atau uji penyimpangan dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang nyata antara besarnya curah hujan harian maksimum hasil pengamatan lapangan dengan hasil perhitungan.d.R -1 ( R = anggap 0. diperoleh K = 1. Jumlahkan data dari persamaan distribusi yang digunakan sebesar Ei.07 + (1.83 mm 4. Interpretasi hasilnya : Apabila peluang lebih dari 5%.3096 = 0.185) = 2. maka persamaan distribusi teoritis yang digunakan dapat diterima (Χ2tabel > Χ2hitung) Χ2tabel dapat dilihat pada Lampiran 2. Tiap-tiap sub-group hitung : (Oi – Ei)2 dan (Oi – Ei)2/Ei Jumlahkan seluruh K sub-group harga (Oi – Ei)2/Ei untuk menentukan harga chi square (Χ2).MK. Ada 2 (dua) cara uji penyimpangan.185 9 Standar deviasi .0063 Dengan n = 10 dan Cs = 1. Hidrologi JFK • • • Rata-rata (mean) = 20.3.339)(0. Kelompokkan data menjadi K sub-group.287 9 x8 x0. yakni : (1) Chi square atau chi kuadrat Prosedur uji Chi Square (Χ2) : • • • • • • • • Urutkan data pengamatan (dari kecil ke besar atau sebaliknya).83 mm Jadi curah hujan untuk kala ulang 10 tahun = 207.4. G = interval kelas). Jumlahkan data pengamatan sebesar Oi tiap-tiap sub-group.317 X10 = 207. SlogX = Koefisien asimetris (Cs) = 10 x0.

Penyelesaian ditabulasikan seperti tabel 4. Perhitungan chi square Interval kelas Nomor pengamatan (Oi) 56-105 106-155 156-205 206-255 256-305 5 3 1 1 10 Nomor harapan (Ei) 2 2 2 2 2 10 3 1 -1 -2 -1 Oi-Ei (Oi − Ei) 2 Ei 4. maka dilakukan pengujian kesesuaian distribusi (“testing of goodness of fit”).00 .8.50 0. Prosedurnya adalah : • • Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut. 48 . χ2 hitung = 8. Apabila peluang berada antara 1-5% adalah tidak mungkin untuk mengambil keputusan. Hidrologi JFK • • Apabila peluang lebih kecil 1%.00 Dari Tabel 4. dengan dk = 4 dan nilai chi kuadrat sama atau lebih besar dari 8.8.MK.8.50 0. Contoh Dengan menggunakan data curah hujan harian maksimum pada contoh untuk distribusi Gumbel dan Log Pearson Type III.a. (2) Smirnov – Kolmogrov Untuk mengetahui apakah data tersebut sesuai dengan jenis sebaran teoritis yang dipilih. maka persamaan distribusi teoritis yang digunakan tidak dapat diterima. Maka distribusi Gumbel dan Log Pearson III dapat diterima.00 kurang lebih pada peluang 30% (lebih besar dari 5%)..50 χ2= 8.00 0. Tabel 4. Berdasarkan tabel chi kuadrat di Lampiran 2.50 2. Tentukan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya).

Cs.MK. Adapun jenis sebaran dan syarat-sayarat yang biasa digunakan adalah sebagai berikut : Tabel 4. Pemilihan Jenis Sebaran Metode analisis hidrologi dipilih berdasarkan jenis sebaran. Syarat untuk Jenis Sebaran Sebaran Normal Log Normal Log Pearson III Gumbel Cs ≈ 0 Ck ≈ 3 Cs/Cv ≈ 3 Cs = (+)/(-) Cs = 1.4. maka penyimpangan yang terjadi hanya karena kesalahan-kesalahan yang terjadi secara kebetulan. X. Cv. Ck) 49 .9. Berdasarkan persamaan Smirnov Kolmogrov sebagai berikut : P {max (p (x) – P (xi) /> Δ cr = α } • Apabila Δmax yang terbaca pada kertas probabilitas < Δcr (Δ kritis) yang didapat dari tabel. Dengan membandingkan probabilitas masing-masing variasi dari distribusi empiris dan teoritisnya akan terdapat perbedaan Δ tertentu. Hidrologi JFK • Dari kedua nilai peluang tersebut tentukan selisih terbesarnya antara peluang pengamatan dengan peluang teoritis. Series Data hujan maksimum Diurutkan/diranking Analisa cara statistik (S.1396 Ck = 5.4002 Syarat Data hujan beberapa stasiun Areal rainfall Dipilih yang besar-besar Annual Series Partial Series Annual Exced.4. 4.

Annual excedence method : Diambil beberapa data terbesar dimana jumlah data sama dengan jumlah tahun data. Sebutkan faktor-faktor yang menentukan besarnya curah hujan rata-rata tahunan ! 2.2. Apa yang dimaksud dengan : a. hujan konfektif 50 . Hidrologi JFK Flowchart 4. Analisa Frekuensi Curah Hujan Keterangan : Annual series : diambil harga maksimum tiap tahun.MK. rangkaian data yang diambil yang lebih besar sama dengan batas bawah. C. Penutup Soal-Soal : 1. Partial series/ threshold method : Ditentukan batas bawah dimana diatas batas atas tersebut sudah terjadi banjir.

Hydrology. Hitunglah besarnya curah hujan harian maksimum pada periode ulang 10 tahun.Ram S. Erlangga. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.New York Soemarto.2003. hujan orografik c.1979. Jakarta Soewarno.Nova. Data curah hujan harian maksimum pada sebuah stasiun meteorology di Kupang terlihat pada tabel berikut berikut dimana banyaknya pengamatan 10 tahun. 1999. Hidrologi JFK b.D. Prentice Hall. Hidrologi (Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data). X (mm) 106 196 87 98 106 145 138 100 98 206 Raudkivi.. Bandung Sosrodarsono. intensitas curah hujan 3. 3 ! 5. minimal 10 pos pengamatan dan hitunglah rata-rata curah hujan dengan metode-metode yang disebutkan pada no. Daftar Istilah 51 . hujan cyclonic d. Hydrology and Hydraulic Systems. 1989. Hidrologi Teknik.MK. Pergamon Press. 1995.Arved J. Buatlah data curah hujan pada suatu daerah. New Jersey Tahun 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Curah hujan . No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Daftar Pustaka Gupta. Hidrologi untuk Pengairan.. Sebut dan jelaskan metode-metode yang digunakan untuk menghitung curah hujan rata-rata di suatu daerah ! 4.C. dan kemungkinan yang terjadi pada 50 tahun mendatang dengan Metode Gumbel type I dan Log Pearson III.

MK. Hidrologi JFK Latitude Atitude Hujan konfektif Hujan orografik Hujan cyclonic Double Mass Curve Intensitas Probabilitas 52 .

Distribusi curah hujan dalam daerah pengaliran. watershed) merupakan daerah dimana semua airnya mengalir ke dalam suatu sungai yang dimaksudkan. Menjelaskan daerah aliran sungai dengan baik dan benar. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Limpasan Faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan dibagi dalam dua kelompok. Menganalisa limpasan permukaan berdasarkan contoh soal dengan benar. semakin besar daerah pengaliran.1. yang berarti ditetapkan berdasarkan aliran air 50 . Kondisi topografi dalam daerah pengaliran. d. Tujuan yang ingin dicapai (TIK) setelah mengikuti materi ini adalah mahasiswa akan dapat : a. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan dengan benar. pengaruh intensitas curah hujan pada limpasan permukaan tergantung dari kapasitas infiltrasi. 5. Kondisi meteorologi lainnya. b. a. Daerah pengaliran. Curah hujan dan kelembaban udara. Jenis tanah. Pendahuluan Pada bab ini akan dipelajari tentang faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan (run-off) dan luas daerah aliran sungai serta metode-metode yang digunakan untuk menghitung besarnya limpasan curah hujan. 5. c. basin. Menentukan besarnya debit sungai berdasarkan contoh soal dengan benar. tergantung pada jenis presipitasi yakni hujan atau salju. Arah pergerakan curah hujan. Hidrologi JFK BAB V LIMPASAN PERMUKAAN A.2.Mk. yakni elemen-elemen meteorologi dan elemen-elemen daerah pengaliran. Daerah ini umumnya dibatasi oleh batas topografi. Elemen-elemen meteorologi Jenis presipitasi. Elemen daerah pengaliran Kondisi penggunaan lahan/tanah. Lamanya curah hujan. Intensitas curah hujan. Daerah Aliran Sungai Daerah Aliran Sungai (DAS) (catchment. b. makin lama limpasan itu mencapai tempat titik pengamatan/pengukuran.

1.Beberapa pola aliran yang terdapat di Indonesia antara lain : a. Ditinjau dari segi hidrologi. Nama sebuah DAS ditandai dengan nama sungai yang bersangkutan dan dibatasi oleh titik kontrol.1. 5. Pola itu tergantung dari kondisi topografi. Hidrologi JFK permukaan. vegetasi yang terdapat didalam DPS tersebut. Daerah dimana sungai memperoleh air merupakan daerah tangkapan hujan yang biasanya disebut Daerah Aliran Sungai atau Daerah Pengaliran Sungai. Memperhatikan hal tersebut berarti sebuah DAS dapat merupakan bagian dari DAS lain. sungai mempunyai fungsi utama menampung curah hujan dan mengalirkannya samapi ke laut. Radial 51 .Mk. iklim. yang umumnya merupakan stasiun hidrometri. geologi.2. Secara keseluruhan kondisi tersebut akan menentukan karakteristik sungai di dalam bentuk polanya. Batas ini tidak ditetapkan berdasar air air bawah tanah karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkat kegiatan pemakaian. hulu hilir Gambar 5. Pola Aliran Sungai di dalam semua DPS mengikuti suatu aturan yaitu bahwa aliran sungai dihubungkan oleh suatu jaringan satu arah dimana cabang dan anak sungai mengalir ke dalam sungai induk yang lebih besar dan membentuk suatu pola aliran. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai adalah torehan di permukaan bumi yang merupakan penampungan dan penyalur alamiah aliran air dan material yang dibawanya dari bagian hulu ke bagian hilir suatu daerah pengaliran ke tempat yang lebih rendah dan akhirnya bermuara ke laut.

Gunung Ijen di Jawa Timur. Merapi Kali Dengkeng Kali Progo Kali Opak a. misal Gunung Kidul di DI Yogyakarta. Misalnya suatu daerah ditutupi oleh endapan sedimen yang luas dan terletak pada suatu bidang horizontal di daerah dataran rendah bagian timur Sumatera dan Kalimantan. misal sungai lereng Gunung Semeru di Jawa Timur. Tipe Rektangular 52 . Dendritik Pola ini pada umumnya terdapat pada daerah dengan batuan sejenis dan penyebarannya luas. G. Hidrologi JFK Pola ini biasanya dijumpai di daerah lereng gunung berapi atau daerah dengan topografi bebrbentuk kubah.Mk. misal di daerah pegunungan lipatan Sumatera Barat dan Jawa Tengah. b. c. Gunung Slamet di Jawa Tengah. d. Tipe Radial Kali Oyo b. Gunung Merapi di DI Yogyakarta. Trellis Biasanya dijumpai pada daerah dengan lapisan sedimen di daerah pegunungan lipatan. Rektangular Terdapat di daerah batuan kapur.

Tipe Trellis Way Rarem d. kadang-kadang gambaran tersebut berbentuk kipas atau lingkaran. Setelah DPS ditentukan garis batasnya. Sebagai akibat dari bentuk tersebut 53 . maka bentuk DPSnya dapat diketahui. Pada umumnya DPS dapat dibagi menjadi empat bentuk. Pola Aliran Sungai 5. b.2. Memanjang Biasanya induk sungai akan memanjang dengan anak-anak sungai langsung masuk ke induk sungai. Bentuk DPS mempunyai arti penting dalam hubungannya dengan aliran sungai.2. yakni : a.2. Bentuk ini biasanya akan menyebabkan debit banjir relatif kecil karena perjalanan banjir dari anak-anak sungai berbeda waktunya. Hidrologi JFK c.Mk. Radial Bentuk ini terjadi karena arah alur sungai seolah-olah memusat pada suatu titik sehingga menggambarkan adanya bentuk radial. Kadang-kadang berbentuk seperti bulu burung. Bentuk Daerah Aliran Sungai Pola sungai menentukan bentuk suatu DPS. Tipe Dendritik Gambar 5. yaitu berpengaruh terhadap kecepatan terpusatnya aliran.

2. Bagian tengah Merupakan daerah peralihan dari bagian hulu dan hilir. d. Pararel DPS ini dibentuk oleh dua jalur sub DPS yang bersatu di bagian hilirnya. 5. Bentuk penampang memanjang tidak beraturan karena ada yang curam dan ada yang datar tergantung dari jenis batuan yang dilewati alur sungainya. sehingga pada saat banjir material hasil erosi yang diangkut tidak saja partikel sedimen yang halus akan tetapi juga pasir. kerikil dan tanah. Hidrologi JFK maka waktu yang diperlukan aliran yang datang dari segala penjuru arah alur sungai memerlukan waktu yang hampir bersamaan. sebagian besar air akan merembes dan sebagian lain akan mengalir membawa partikel-partikel tanah sehingga menimbulkan erosi. Alur sungai yang terjadi biasanya mempunyai lembah yang curam dan biasanya melalui banyak terjunan dan jeram. kerikil bahkan batu. c. b. sebagai akibat keadaan ini maka bentuk kontur akan relatif rapat yang menunjukkan miringnya permukaan bumi yang cukup besar. Bagian tengah merupakan daerah keseimbangan antara proses erosi dan pengendapan yang sangat bervariasi dari musim ke musim. Apabila terjadi hujan yang sifatnya merata di seluruh DPS akan menyebabkan terjadinya banjir besar. Apabila terjadi banjir di daerah hilirnya biasanya setelah di sebelah hilir titik pertemuan kedua alur sungai sub DPS tersebut. Apabila hujan turun. Kompleks Merupakan gabungan dasar dua atau lebih bentuk DPS. Alur sungai di bagian hulu biasanya mempunyai kecepatan aliran yang cukup besar daripada bagian hilir. perbukitan atau daerah gunung berapi yang terkadang mempunyai cukup ketinggian dari muka laut. Penampang melintang bentuk V dengan material alur sungai berupa batuan cadas. Umumnya penampang sungai berbentuk peralihan V dan bentuk U sehingga daya tampungnya biasanya masih mampu menerima banjir. Bagian hilir 54 . Bagian hulu Bagian hulu merupakan daerah sumber erosi karena pada umumnya alur sungai melalui daerah pegunungan. c. Kemiringan dasar sungai lebih landai sehingga kecepatan aliran relatif lebih kecil dari pada bagian hulu.Mk.3. Alur Sungai Secara sederhana alur sungai dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu : a.

4. Fluktuasi muka air akibat perubahan debit jauh lebih kecil daripada fluktuasi yang terjadi pada tampang basah alur yang kaku (“fixed” dan “non-erodible”). r= d A = 2 B B d= A B (5. Sketsa profil memanjang alur sungai 5. karena pengaruhnya terhadap perubahan geometri tampang relatif kecil.1) dengan A = luas tampang basah B = lebar muka air Pada umumnya pengaliran di sungai adalah tidak permanen (“unsteady”). Hidrologi JFK Biasanya melalui dataran yang terbentuk dari endapan pasir halus sampai kasar seperti lumpur. Untuk keperluan analisis geometri tampang secara keseluruhan. Namun sesungguhnya banyak kondisi transisi dari klasifikasi yang disebutkan di atas.Mk. endapan organik dan jenis endapan lain yang sangat labil. karena proses erosi dan pengendapan yang berlangsung terus-menerus pada sungai maka pada sungai akan terjadi perubahan bentuk tampang. 55 . Bentuk meandering Seperti telah diuraikan.4. erosi endapan laut hulu tengah hilir Gambar 5.2. Bentuk Sungai Bentuk sungai dapat diklasifikasikan seperti berikut : meandering. a. Sungai yang berbentuk meander adalah sungai yang mempunyai belokan yang secara (kurang lebih) teratur membentuk fungsi sinus pada bidang datarannya. Untuk menyatakan perubahan tersebut istilah indeks tampang ( r ) sering digunakan. beberapa kelompok debit kadang perlu dipisahkan dari kelompok debit yang lain. lurus dan braided.

dan V adalah kecepatan rata-rata pada tempat yang ditinjau (arah vertikal). Dengan demikian erosi akan terjadi pada sisi luar belokan dan pengendapan akan terjadi pada sisi dalam belokan.5. Skematik aliran di belokan Vx Vy Kemiringan muka air pada arah transversal adalah : dz V 2 ≈ iy = dr gr (5. Hidrologi JFK Biasanya terdiri dari beberapa seri belokan yang dihubungkan oleh bagian yang lurus yang disebut dengan “crossing”. Teori tentang aliran yang terjadi pada belokan saluran dapat digambarkan secara skematik sebagai berikut : Sisi dalam belokan Sisi luar belokan z Vx Vy V2/2g E E=konstans y z 0 Gambar 5.4) b. Menurut Bernoulli. Bentuk lurus Sungai lurus biasanya juga merupakan penghubung dari meander-meander (crossing). Dasar sungai pada sisi luar belokan umumnya akan lebih dalam karena adanya kecepatan yang lebih besar pada sisi luar belokan tersebut. Umumnya meander sungai akan mempunyai kemiringan dasar yang sangat landai. Kemudian gaya centrifugal pada belokan akan menyebabkan timbulnya arus melintang sungai yang selanjutnya bersama-sama dengan aliran utamanya akan membentuk aliran helicoidal. dapat ditulis : V2 E=z+ = kons tan 2g Dideferensiasi ke r : (5. sehingga seolah-olah merupakan bagian transisi dari meander satu ke 56 .2) dengan r adalah jari-jari kelengkungan dari belokan sungai.3) dz V dV + =0 dr g dr (5.Mk. total energi harus konstan.

Gambar 5. dapat terjadi pada sembarang bentuk saluran/sungai. Seberapa jauh pengaruhnya masih terbuka untuk diperdebatkan.6. dan sulit untuk diprediksikan.Mk. Ada yang menyatakan bahwa arus melintang pada sungai lurus timbul karena perbedaan konsentrasi sedimen dan temperatur air. Hidrologi JFK meander berikutnya. Bentuk braided Bentuk sungai semacam ini adalah sedemikian kompleksnya sehingga pada debit kecil alur sungai kadang-kadang akan terdiri dari satu atau lebih alur sungai yang dipisahkan oleh pulau-pulau kecil di dalam sungai tersebut. Sungai semacam ini biasanya mempunyai kemiringan yang relatif terjal serta membawa sedimen dengan konsentrasi tinggi. namun untuk keperluan praktis. Perlu diingat bahwa sesungguhnya arus melintang (biasa juga disebut arus sekunder). karena pengaruh arus melintang masih terasa/belum hilang pada saat memasuki bagian lurus. c. alur-alur kecil serta formasi garis sedimen sering berubah dengan berubahnya besar debit yang lewat. hal tersebut mungkin kurang penting. Pola alur sungai A A B B C C Pola lurus dibagian tengah Pola lurus di bagian hulu D D E E Pola berbelok (meander) 57 . Kedalaman air pada crossing relatif lebih dangkal dibandingkan dengan kedalaman air pada bagian meander. Sebab-sebab terjadinya arus melintang pada bagian sungai lurus masih menjadi obyek spekulasi ilmiah. Sebagian material hasil erosi pada sisi luar belokan kadang juga terbawa ke crossing oleh arus melintang. Sungai biasanya lebar.

Semua cara untuk perkiraan limpasan permukaan (debit banjir) yang berdasarkan curah hujan lebat. Ukuran dan bentuk sungai tersebut selanjutnya disebut morfologi sungai. Sedangkan jenis pengaliran pada alur buatan lebih banyak di bawah kendali manusia. cara dengan unit hidrograf 5.3. dengan ukuran geometrik (tampang lintang.Mk. Debit sungai sangat tergantung pada kejadian-kejadian metereologi. Morfometri Sungai Morfometri sungai adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan keadaan jaringan alur sungai secara kuantitatif. dengan proses stokastik yang sangat bervariasi. Rumus Empiris 58 . orde dan tingkat percabangan sungai e. setelah dikurangi bagian yang meresap ke dalam tanah sebanyak sesuai dengan keadaan porous dan permeabilitas tanah. dapat diklasifikasikan dalam 4 cara seperti berikut : a.6. luas b. cara statistik atau kemungkinan d. kerapatan sungai 5. panjang dan lebar c. Dengan demikian maka bagian dasar dan tebing sungai akan dibentuk oleh material yang diangkut oleh aliran sungai berasal dari pelapukan geologi pada periode yang panjang.5. 5.3. Morfologi Sungai Sungai sebagai aliran terbuka. cara dengan rumus rasionil c. serta jumlah dan jenis dari sedimen yang diangkut oleh air.1. dapat tidak beraturan (“non-uniform”). Hidrologi JFK 5. sebagian besar merupakan aliran permanen (“steady”). Sungai akan leluasa dalam menyesuaikan ukuran-ukuran dan bentuknya.2. kemiringan d. tergantung pada debit. Analisa Limpasan Permukaan Limpasan permukaan adalah bagian air yang sisa. cara dengan rumus empiris b. sebagai reaksi adanya perubahan kondisi hidraulik dari aliran. Keadaan yang dimaksud untuk analisa aliran sungai antara lain : a. profil memanjang dan kemiringan lembah) berubah dengan waktu.2. material dasar dan tebing.

12A0.52 Q=1400A0.Mk.5 Qm=131000A/(107+A)0. A=4003000 km2 A=15200000 km2 A=100012000 km2 A kurang dari 1000 km2 Nama Negara Perancis Satuan M 2 Perancis M 3 4 5 Whistler Pangliaro Jerman Itaila Italia M M M Qm={1.67 Q=4600A0.5 Qa=24.67 Qa=560A0.78 DPS bentuk kipas New Zealand India India India Inggris USA E E E E E E A lebih dari 10 mil2 A=100024000mil2 Debit maks seluruh dunia bjr di Australia E 14 15 Baird&McIllwraith Fanning Qm=222000A/(185+A)0. Tabel 5. Cara dengan rumus empiris biasanya digunakan sebagai alat terakhir.5 Q=200A5/6 Qa : Debit banjir rata-rata (tahunan) Australia USA E E Q & Qm .516 Catatan c. Rumus-rumus empiris yang digunakan No 1 Pembuat Rumus Rumus Q=(10-70)A0.5 6 7 8 9 10 11 12 13 Inglis Ryues Ryues Bransby Williams U.1.h sedang. 59 .538/(A+259)+0. Debit banjir maksimum Sumber : Hidrologi. maka perkiraan debit banjir dihitung dengan rumus-rumus empiris yang telah banyak dikemukakan.054}A Qm=2900h/(A+90) Qm=20000A0. Hidrologi JFK Jika tidak terdapat data hidrologi yang cukup. A=3000160000km2 Hujan lebat.476 Q=10000A0.5 Qa=150A0.S Geological Myer Baird&McIllwraith Q=7000A/√(A+4) Q=675A0. yakni jika tidak terdapat data yang cukup atau digunakan untuk memeriksa hasil yang didapat dengan cara yang lain. Sosrodarsono S.

CK) Pemilihan jenis sebaran Plotting pada kertas prob. Hidrologi JFK Data AWLR / Pengamatan peil scale Pengukuran debit Stage hydrograph H vs t Rating curve H vs Q Discharge hydrograph Q vs t Didapat beberapa debit puncak Annual series Partial series Annual Exced. Analisa Frekuensi Banjir 60 .1. Bisa dipakai Banjir Rencana Flowchart 5. Pengujian Sebaran yang dipilih/gambar pada kertas prob. Cv. x. Series Data debit maksimum Diurutkan Analisa cara statistik (S.Mk. Cs.

2. Hidrologi JFK Hujan Rencana Menjadi Debit Rencana Analisa frekuensi hujan Analisis data hujan jam-jaman dari penakar hujan otomatik Hujan rencana Distribusi hujan jam-jaman Hujan didistribusi jam-jaman Rumus-rumus empiris Model hidrologi Parameter DAS Parameter DAS Hydrograph satuan Hydrograph <--> hujan penyebab hidrograph Hidrograph banjir Debit rencana Debit rencana Debit rencana = debit puncak hidrograph (sudah termasuk aliran dasar) Keterangan : Periode ulang banjir dianggap sama dengan periode ulang hujan Flowchart 5. Hujan Rencana menjadi Debit Rencana 61 .Mk.

.

q.52. dan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : f = 1970 − 3960 + 1720 β β − 0.12 (5. A = 0.7) (5.31 5 β . Nilai ini tergantung pada kemiringan tanah.a) = intensitas curah hujan rata-rata selama waktu tiba dari banjir (mm/jam) = daerah pengaliran (km2) b) Metode Melchior.5) = debit banjir maksimum (m3/dt) = koefisien pengaliran/limpasan (lihat Lampiran 3.r. Rumus ini banyak digunakan untuk sungai-sungai biasa dengan daerah pengaliran hingga 50 km2= 5000 ha dan juga untuk perencanaan drainase pengaliran yang relatif sempit.I 2 63 .277.42 . angin. koefisien aliran berkisar antara 0.6) Waktu konsentrasi ditentukan terlebih dahulu untuk mempercepat curah hujan maksimum dengan rumus : tc = 1000 L 3600V (5.62. Koefisien reduksi β adalah perbandingan antara hujan rata-rata dan hujan maksimum yang terjadi di suatu daerah pengaliran pada waktu yang sama.r. Rumus Rasionil a) Rumus Rasional Praktis Rumus ini adalah rumus yang tertua dan yang terkenal di antara rumus-rumus empiris. temperatur.1. Bentuk umum rumus rasionil adalah sebagai berikut: Q= Q f r A 1 f . f .8) V = 1. vegetasi.52 dan 0.Mk. A 3. 0. Waktu hujan sama dengan waktu konsentrasi DPS. Puncak banjir dan intensitas hujan mempunyai kala ulang yang sama. Untuk perhitungan debit banjir dianjurkan α = 0. penguapan dan lamanya hujan yang bersangkutan.2. keadaan tanah. der Weduwen dan Haspers (1) Metode Melchior Menurut Melchior.6 (5. f . Penerapan metode rasional pada DPS yang luasnya lebih dari 50 km2 adalah : • • • Intensitas curah hujan merata di seluruh DPS untuk waktu curah hujan tertentu. Hidrologi JFK 5.

Mk. Hidrologi JFK

I=

H 0,9 L

(5.9) (5.10)

Q maks = α.β.q. f Keterangan : tc L V α β f q H = waktu konsentrasi (jam) = panjang sungai (km) = kecepatan air rata-rata (m/dtk)

Qmaks = debit maksimum (m3/dtk) = koefisien aliran = koefisien reduksi = luas daerah pengaliran (km2) = hujan maksimum (m3/km2/dtk) = beda tinggi antara dasar sungai di mulut DPS dengan dasar sungai di titik 0,9 L ke arah hilir Maka T = 0,186.L.Q-0,2.i-0,4 (5.11)

(2) Metode der Weduwen Koefisien aliran dihitung dengan rumus :

α = 1−

4,1 β .q + 7 t +1 f t +9 120 + f

(5.8)

Koefisien reduksi (β) dihitung dengan rumus :

β=

120 +

(5.9)

Waktu konsentrasi tc dihitung dengan rumus : tc = 0,125L. Q-0,125.i-0,25 Hujan maksimum (q) dihitung dengan rumus : (5.10)

q=

67,65 t + 1,45

(5.11)

keterangan : t = 1/6 sampai dengan 12 jam f ≤ 100 km2 Pada penerapan metode Weduwen, pertama-tama ditentukan harga t perkiraan untuk menghitung harga β,kemudian harga q dan α, kemudian hitung harga t perhitungan dengan persamaan sebagai berikut :

64

Mk. Hidrologi JFK

t=

0,475 xf 0,375 (αβq) 0,125 .I 0, 25
• •

(5.12)

dengan ketentuan : Apabila harga t perkiraan belum sama dengan t perhitungan maka tentukan harga t yang lain, Apabila harga t perkiraan sudah sama dengan t perhitungan maka debit puncak banjirnya dapat dihitung.

(3) Metode Haspers Koefisien aliran (α) dihitung dengan rumus :

α=

1 + 0,012. f 0, 7 1 + 0,075. f

(5.13)

Koefisien reduksi (β) dihitung dengan rumus :

1

β

= 1+

t + (3,7.10 0, 4t ) f 3 / 4 12 (t 2 + 15)

(5.14)

Waktu konsentrasi dihitung dengan rumus : tc = 0,1.L0,9.i-0,3 Hujan maksimum dihitung dengan rumus : (5.15)

q=

Rt 3,6.t

(5.16) (5.17)

Rt = R + Sx.U Keterangan : t q R Sx Sx R1 R2 U tm n m Rt = waktu curah hujan (jam) = hujan maksimum( m3/km2/dtk) = curah hujan maksimum rata-rata (mm) = simpangan baku =½ ⎜ ⎜

⎛ R1 − Ra R2 − Ra + U2 ⎝ U1

⎞ ⎟ ⎟ ⎠

(5.18)

= hujan absolut maksimum ke 1 = hujan absolut maksimum ke 2 = variable simpangan untuk kala ulang T tahun (Lihat Lampiran 3.b) = (n+1)/m = jumlah tahun pengamatan = rank (1 dan 2) = curah hujan dengan kala ulang T tahun (mm) (5.19)

65

Mk. Hidrologi JFK

Berdasarkan Haspers ditentukan : a. Untuk t < 2 jam

Rt =

t.R24 t + 1 − 0,0008(260 − R24 )(2 − t ) 2

(5.20)

b. Untuk 2 jam < t < 19 jam

Rt =

t.R24 t +1

(5.21)

c. Untuk 19 jam < t < 30 hari

Rt = 0,707.R24 t + 1
Contoh :

(5.22)

Pada suatu pos duga air sungai, dengan luas DPS 50 km2 mempunyai aliran puncak banjir dengan tinggi muka air 2,50 m. Puncak banjir tersebut terjadi pada curah hujan maksimum yang tercatat pada 4 lokasi pos penakar curah hujan otomatis sebesar 140, 142, 132, dan 146 mm. Panjang sungai utama 12,5 km dengan kemiringan sungai 0,071. Hitung debit puncak banjir dengan cara Melchior, Weduwen, dan Haspers! Penyelesaian : a. Melchior Luas DPS, f Luas elips,F (1/4.π.f.b) = 50 km2 = 82 km2 ( b = sumbu pendek 2/3 dari sumbu panjang) Kemiringan,I Koefisien aliran,α Koefisien reduksi,β Curah hujan maksimum rata-rata Prosedur hitungan : • • • • • Asumsi besarnya curah hujan maksimum sehari q1 = 10,9 m3/km2/dtk Kecepatan aliran rata-rata, V = 1,31. 5 0,92.10,9.50.0,0712 = 1,57 m/dt Waktu konsentrasi, t c = = 0,071 = 0,52 = 0,92 = 140 mm

10 x12,5 = 2,2 jam 36 x1,57

Lihat lampiran 3.c. didapatkan prosentase 43% dari perbandingan luas elips dan lama curah hujan, sehingga : Rt = 0,43.R24

66

2 Q1 = β.8 x 0.6 menit (0.075 x50 0.1 = 0.Mk. Haspers • Hitung besar koefisien aliran .q.43.80 170 67.83 • Curah hujan selama t jam untuk t = 1. 4 x1.9 m3/km2/dt cocok dengan asumsi di atas • Debit puncak banjir = b.β.200 36. α = 140 = 340.06 jam≈3.66mm 1.79 0.94 jam.94 = 0. q = • Harga koefisien aliran. 7 ) = 0.65) 2 ) Rt = 0.t = 0.94 50 11.65 jam. • Jadi β = 0.476 x50 0.52 x 10.65 2 + 15 Rt = 1.50.80 x15.f. 25 untuk mendekati 2.65 jam • Harga koefisien reduksi.55 1 + (0.071) 0.4 2.65 x140 = 87.125 .63 R24 67 .1 x 12.375 = 3.4) 0.3 = 1. 120 + • Harga koefisien reduksi.20 12 1.648 m3/dt 200 1 + (0. 1 β = 1+ 1.7 x10 −0.00 jam (kurang 0. 65 ) 50 3 / 4 x = 1.4 + 7 0. β = • Harga curah hujan maksimum.6 menit maka dianggap untuk kasus ini sudah memenuhi. Namun karena selisihnya hanya 3.(0.7 ) • Hitung waktu konsentrasi.65 + (3. (Rrata-rata/R24maks) Q1 = 0. t = 0.80 x15.f Q = 0. Jadi debit puncak banjirnya : • Q = α.79 x0.0008(260 − 140)(2 − 1.012 x50 0. berarti tidak sama tperkiraan dengan tperhitungan).65 + 1 − (0.79 x 0.2.45 4. α = 1 − • t= 3.q.R24 maks 36.65 = 15. Hidrologi JFK • q= β .4 x 50 x c. Weduwen Pertama kita asumsikan t = 2.94 maka .94 + 1.80 x 15.9 x 50 x (140/200)= 182 m3/dt = 10.071-0.

94 jam 0. koefisien 68 .83 x 14. misalnya untuk mencapai puncak hidrograf. luas. kemiringan.7 x 50 = 336 m3/dt (Perhitungan bisa pula dilakukan dengan tabel pada Lampiran 3.79 0. daerah pengaliran yang lebih besar dari 5.4 m3/km2/dt 340.68 15.65 jam 0.2.7 m 3 / km 2 / dt 3. Hidrologi JFK • Curah hujan maksimum q= 87.2.52 0.000 km2.6 = 14.92 2.2 jam 0. Salah satu cara adalah Metode Institute of Hydrology Wallingford (IOH).6 x1.3. Cara ini telah digunakan sebelum cara hidrograf satuan diterapkan.648 m3/dt Haspers 0. maka perlu dicari karakteristik atau parameter daerah pengaliran tersebut terlebih dahulu. • anak-anak sungai utama dalam daerah pengaliran yang lebih besar dari 20.d) Tabel 5. penelitian banjir telah dilakukan dengan cara statistik dan cara kemungkinan yang banyak digunakan orang. panjang alur terpanjang.9 m3/km2/dt 182 m3/dt Weduwen 0. lebar dasar.000 km2 cara ini dapat juga digunakan jika telah dibuatkan hidrograf satuan yang bersangkutan dengan corak curah hujan dalam daerah pengaliran itu.Mk.83 1.2.7 m3/km2/dt 336 m3/dt Rt R24 q Q 5.000 km2.80 2.65 • Debit puncak banjir Q = 0. Untuk membuat hidrograf banjir pada sungai-sungai yang tidak ada atau sedikit sekali dilakukan observasi hidrograf banjirnya.55 x 0. Cara ini sangat teoritis dan mempunyai suatu keuntungan yang besar sebagai cara peramalan yang berdasarkan data-data yang lalu. Cara Unit Hidrograf Cara ini dapat diterapkan pada : • • daerah-daerah pengaliran yang kurang dari 25 km2 sampai daerah pengaliran sebesar 5. Cara Statistik atau Kemungkinan Sebelum analisa limpasan dengan cara hidrograf satuan dikembangkan. 5.43 10.2.63 14. Debit maksimum hasil perhitungan beserta unsure-unsurnya Unsur α β t Melchior 0.55 0.

25) dan h = tinggi hujan = 1 mm a = 1.5 Hubungan te.Lc ) n te = (5.5 Bila te < tr maka Tp = tp + 0.24) τp 5. yang memberikan bentuk hidrograf satuannya. tr dan Tp adalah sebagai berikut : - Bila te > tr maka t’p = tp (te – tr) sehingga Tp = t’p + 0.5 qp = 0.Mk. Y = 10 dengan a diperoleh dari persamaan berikut ini : λ= Q p . A (5. Ada 2 macam hidrograf satuan sintetik yang akan dibahas pada buku ini yakni : a.278 qp Qp tp Tp Cp Tp dan Qp = qp A untuk hujan 1 mm/jam. = waktu yang diperlukan antara permulaan hujan hingga mencapai puncak hidrograf. Q = f(t) 2).( L.26) 69 .15. Y = Q t dan X = Qp Tp −a (1− x ) 2 x 3).λ2 + 0. sehingga untuk mendapatkan lengkung hidrografnya memerlukan waktu untuk mengkalibrasi parameter-parameternya.λ + 0.32.Tp h. Untuk mempercepat pekerjaan tersebut diberikan rumus ALEXEJEV.23) (5.045 Untuk menghitung “kehilangan” dimasukkan rumus HORTON. Hidrologi JFK limpasan dan sebagainya. yaitu : fp = fc + (fo – fc ) e-kt (5. = puncak hidrograf satuan (m3/dtk/mm/km2) = debit puncak (m3/dtk/mm) = waktu antara titik berat curah hujan hingga puncak (time lag) dalam jam. Persamaan ALEXEJEV adalah sebagai berikut : 1). tp. Hidrograf satuan sintetik SNYDER Rumus yang digunakan di Indonesia adalah: t p = Ct . Snyder hanya membuat rumus empirik untuk menghitung debit puncak Qp dan waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak dari suatu hidrograf saja.

R0 3. ternyata bahwa persamaan-persamaan Snyder menunjukkan penyimpangan yang besar. baik dalam besaran waktu capai puncak maupun debit puncak.(0. A.3 ) (5. Dalam beberapa pengujian untuk beberapa buah sungai di Pulau Jawa.6. sedangkan f0 akan mempunyai nilai yang berbeda untuk masing-masing keadaan banjir.Mk. f0.3. 4 (5. Hal ini dapat dipahami karena memenag cara ini mengandung koefisien empirik yang dikembangkan di daerah Appalachian di Amerika yang kurang sesuai dengan keadaan di Indonesia. Hidrologi JFK Dengan : fp = daya infiltrasi pada saat t f0 = daya infiltrasi mula fc = nilai akhir f k = konstanta e = bilangan alam = 2. dan k dilakukan kalibrasi.28) = limpasan sebelum debit puncak = waktu (jam) Bagian lengkung turun (decreasing limb) 70 . b. dari puncak sampai menjadi 30% dari debit puncak ⎛ t Qa = Q p ⎜ ⎜T ⎝ dengan Qa t ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2.3 = waktu yang diperlukan oleh penurunan debit.718218 Untuk mendapatkan fp. fp tergantung pada tinggi curah hujan. Hidrograf satuan sintetik NAKAYASU Rumus yang digunakan adalah : Qp = dengan Qp R0 Tp C.27) = debit puncak banjir (m3/dt) = hujan satuan (mm) = tenggang waktu (time lag) dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam) T0.Tp + T0.

Mk.3 = α. 3 t − T p +1.0.3 0.3.058 L (5.3 T0 .3.2.3 1. 3 t = 0.3 Qp > Qd Tenggang waktu Untuk L < 15 km L > 15 km L = panjang alur sungai (km) tg= waktu konsentrasi (jam) tr = 0.8tr tg Lengkung naik Lengkung turun Qp 0. 71 .3 Qp 0.3. Hidrologi JFK 0. Bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat α = 1. Grafik Hidrograf Nakayasu t −T p Qd > 0.4 + 0. Bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian yang menurun yang lambat α = 3.29) Daerah pengaliran biasa α = 2. tg Untuk 2 1. 3 t −T p + 0 . Qp : Qd = Q p .3 T = tg + 0.7 t = 0.5 T0.0.Qp > Qd > 0. L0.5 tg sampai tg T0.32 Qp t Tp T0.3 Gambar 5. 3 : Qd = Q p . tr 2T0 . 5T0 . 5T0 .8.0.Qp : Qd = Q p .5. 3 0.21. 5T0 .

6 jam = a.69 x0.3 Dengan memberikan nilai t dalam kolom 1 maka akan didapat nilai-nilai Q dalam kolom 2 pada Tabel 5.3) Qd 1 = Q p x0. dan T0.3 + 1.6(0.3 = 56.3 = 56.75 x tg = 3.4 ⎝ 7.3 Qp = 75 km > 15 km maka tg = 0.3 ) 3.6 + 9.3 t −7.3 + 1. 65 19 Qd 3 = Q p x0.058 x 75 = 4. Hidrologi JFK Contoh : Luas daerah pengaliran suatu sungai sampai ke pelepasannya (outlet) adalah 2400 km2. T0.4 +0.50 jam = A.69⎜ ⎟2.Mk.6 ⎠ t −T p T0 . 3 1.T0 .T0 .T0 .6(0. Panjang L = 75 km.85 (Tp + T0.3 yang merupakan variable tunggal t saja.3T p + T0. 3 Tp ≤ t ≤ (Tp + T0. 3 2. Hujan efektif dalam daerah pengaliran adalah sebagai berikut : t = 1 20 2 40 3 10 jam mm/jam Hujan= Penyelesaian : L tr Tp T0.75 = 9.5.R0 2400. tg = 2 x 4.69 x0. 5.69 x0. 72 .3) ≤ t ≤ (Tp + T0. berikut ini : 0 ≤ t ≤ Tp ⎛ t Qa =Qp ⎜ ⎜T ⎝ p ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2.75 jam = diambil 0.8 x 3.3) t ≥ (Tp + T0.75 + 0. Tp.3) Qd 2 = Q p x0.3.5 t −T p + 0 . 3 = 56.3 t −T p +1.5.5) = 56.T0.3 x7.69 m3/dt Perhitungan selanjutnya dilakukan pada Tabel 5. 5T0 .6 9. 25 t + 6 .56 jam = tg + 0. 3 t − 2 .8 x tr = 4.3 14.56 = 7.3 dengan menggunakan rumus-rumus yang telah dimasukkan nilai-nilai Qp.1 = 3. 5. 4 ⎛ t ⎞ = 56.

36 242.32 340.72 63.1478 20.72 0 0 46. Hidrologi JFK Tabel 5.0486 Akibat hujan 40 10 (m3/dt) (m3/dt) 0 0 0 8.4939 8.3112 12.51 289.31 133.3134 4.02 887.44 503.96 20 (m3/dt) Total 0 8.23 571.26 778.24 266.91 67.2552 4.85 52.21 57.7185 5.3016 6.36 348.8226 36.99 430.3683 6.49 379.06 4.31 319.74 62.55 86.34 3274.07 365.69 630.81 207.47 172.05 299.91 344.62 23.22 579.Mk.2327 11.96 243.45 144.54 45.88 736.5951 25.5511 17.85 224.04 221.0904 12.69 1972.51 465.59 961.7530 32.12 121.53 1077.2227 5.4847 13.99 94.27 2884.91 60.0178 7.97 172.7617 14.39 157.68 114.40 1003.2239 15.02 415.4361 2.61 715.1453 46.22 1737.8878 47.7713 6.45 949.17 1473.44 321.50 2424.42 174.83 489.23 97.52 2541.8444 32.48 930.67 122. Tabulasi perhitungan data dengan Metode Nakayasu t (jam) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 U(t.27 183.71 105.86 1007.24 112.81 92.23 688.17 2238.88 413.7247 8.25 135.95 391.89 1672.10 228.1) (m3/dt) 0 0.71 251.18 124.59 443.76 103.95 847.37 248.96 195.71 87.46 Ket Qa Qd1 Qd2 Qd3 Hasil perhitungan tersebut di atas dapat digambarkan seperti berikut : 73 .48 782.90 1298.92 210.80 324.70 1092.33 468.53 657.73 80.45 1898.4587 28.3.23 509.35 368.65 1348.5956 4.3309 9.99 396.31 160.65 532.45 1199.36 836.46 1530.47 2155.76 1861.62 244.88 1594.85 73.37 320.03 17.06 485.47 218.77 418.11 206.43 294.5360 53.72 1285.19 91.96 80.1913 22.33 189.56 604.90 642.8962 4.65 3570.91 830.45 270.62 449.06 3260.1928 19.28 555.73 649.4734 41.91 195.2417 10.23 921.94 538.82 48.93 315.65 285.90 474.44 0 121.94 147.83 1143.33 510.

3. Hidrologi JFK Hidrograf Satuan Nakayasu 4000 3500 debit Q (m3/dtk) 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 40 mm/jam 20 mm/jam 10 mm/jam total waktu t (jam) Gambar 5. Diketahui data-data sebagai berikut : . Grafik Hidrograf Nakayasu C. Hujan efektif dalam daerah pengaliran adalah sebagai berikut : 74 .Kemiringan = 48 km2 = 13 km = 0. dan Haspers ! 6.0075 . Apa yang anda ketahui tentang sungai bentuk meander dan braided? Jelaskan ! 5. Sebut dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan ! 2. Sebut dan jelaskan beberapa pola aliran yang ada di Indonesia ! 3. Weduwen. Sebut dan jelaskan bentuk daerah aliran sungai! 4. Panjang L = 75 km.Curah hujan maksimum = 145 mm Hitunglah debit banjir (Q) dengan metode Melchior.Panjang sungai . Luas daerah pengaliran suatu sungai sampai ke pelepasannya (outlet) adalah 2500 km2.Luas DPS .Mk. Penutup Soal-Soal 1.

Hidrologi (Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data). Hydrology. 1992. Hidrologi untuk Pengairan. 1993.2003.New York Soemarto. Analisis Hidrologi. 1999.Nova.D. Hidrologi JFK t = 1 25 2 50 3 30 jam mm/jam Hujan = Buatlah grafik hidrograf satuan sintetik Nakayasu ! Daftar Pustaka Gupta. Departemen Pekerjaan Umum. Hydrology and Hydraulic Systems. New Jersey Joesron Loebis.1979. Banjir Rencana untuk Bangunan Air.Mk.. Jakarta Raudkivi.Arved J. Erlangga. 1989.. Jakarta Soewarno. Prentice Hall. Pergamon Press. Jakarta Sosrodarsono. 1995.C. Gramedia Pustaka Utama.Ram S. Bandung Sri Harto Br. Hidrologi Teknik. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik 75 . PT..

AIR TANAH A. B. jenis air tanah. Menganalisis kapasitas aliran air tanah berdasarkan contoh soal dengan benar. Menjelaskan pengertian air tanah dengan benar. Pengertian Air Tanah Air tanah adalah air yang terkandung dalam pori-pori atau retak-retak tanah/batuan di bawah permukaan tanah. Menjelaskan konservasi air tanah dengan baik d. keadaan air tanah. Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu. khusunya bab III tentang infiltrasi dan perkolasi. konservasi air tanah dan besarnya air yang keluar. kerugian akibat pemanfaatan air tanah. Hidrologi JFK BAB VI. pergerakan air tanah. Corak dari permukaan air tanah 76 . Garis pizometrik Artesis Muka air tanah bebas Aquifer bebas Lapisan kedap (impermeable) Aquifer tertekan Gambar 6.Mk. Menjelaskan kerugian akibat pemanfaatan air tanah dengan benar.1. Pendahuluan Dalam bab ini akan dipelajari pengetahuan dasar tentang air tanah. Tujuan yang hendak dicapai (TIK) pada bab ini adalah mahasiswa akan dapat : a. Penyajian 6. b.1. c.

b. Misalkan : lempung.1. Hidrogeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang air tanah dan menekankan pada geologi.2. Beberapa istilah tentang Air Tanah Aquifer adalah suatu lapisan tanah/formasi batuan pembawa air tanah. Misalkan : batu granit dan batu beku. Muka air tanah bebas umumnya mengikuti kenampakan dari permukaan tanah (topografi). Geohidrologi adalah ilmu yang mempelajari air tanah yang menekankan pada hidrologi. lumpur.Mk. batu gamping yang mempunyai rekah-rekah. kerikil. batu pasir. Hidrologi JFK Aliran air tanah pada lapisan pembawa air tersebut mengalir dari tempat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi ke arah yang lebih rendah. fur halus. 6.1. Hubungan Air di Sungai dan Air Tanah Muka air tanah dangkal lebih tinggi daripada air sungai 77 . Lapisan tanah/batuan tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga dapat menyimpan air dalam jumlah yang signifikan. Jenis Aquifer Ada 2 jenis aquifer : a. 6. Aquifer tertekan (confined aquifer) : lapisan yang biasanya terletak antara dua lapisan kedap air dan mempunyai tekanan. Misalkan : lapisan pasir. Aquifer bebas (unconfined aquifer) : terdapat pada bagian atas lapisan kedap dan disebut juga air tanah dangkal. Aquifuge adalah formasi batuan kebal air yang tidak mengandung dan mengalirkan air tanah.1. Lapisan kedap air adalah formasi batuan yang bisa menyimpan air tanah tetapi tidak dapat mengalirkan air tanah dalam jumlah yang berarti.

Zone ini terbagi dalam 3 zone yakni : 1).4. Zona-Zona Dalam Air Tanah Pada prinsip air di bawah permukaan tanah terdapat 2 zona yakni : a. 2). Intermediate Zone kapiler. Zone Jenuh Air (Zone of Saturation) Terletak di bawah zone of aeration yang dilalui oleh water table dan lapisan ini menunjukkan adanya tekanan udara. 78 . : terletak di bawah soil water zone dan di atas zone 6. Kenaikan air terjadi secara kapiler (gaya kohesi). Air tanah juga muncul disebabkan adanya permukaan tanah yang terpotong secara tiba-tiba yang mungkin disebabkan gempa tektonik.2. Dalam zone ini terdapat sirkulasi antara air dan udara.Mk. Bentuk lain keluarnya air tanah ke permukaan sebagai aliran tetapi tidak terkonsentrasi disebut rembesan.3. Capilary Zone : terletak di atas water table. 3). Air dalam zone inilah yang dinamakan air tanah. Mata Air Mata air adalah aliran air tanah yang terkonsentrasi dan keluar / muncul di permukaan tanah.1. Gambar 6. Zona Aerasi (Zone of Aeration) Zone ini tidak jenuh air.1. b. Hidrologi JFK Muka air tanah dangkal lebih rendah daripada air sungai Muka air tanah jauh dibawah dasar sungai. dimana rekah-rekah tanah tidak seluruhnya terisi air tapi terisi udara. Soil water zone : zone ini tidak jenuh kecuali mendapat air hujan/ irigasi dan merupakan zone perakaran. Hubungan Air di Sungai dan Air Tanah 6.

Mata Air Gambar 6. Klasifikasi Mata Air menurut Terbentuknya/Kejadiannya 1). 3). Periodic Spring : mata air jenis ini sangat terpengaruh hujan. Apabila hujan turun sesaat kemudian air mengalir dan selanjutnya debit mata air mengecil bahkan tidak mengalir lagi. Hidrologi JFK a. Mata air ini mengalir pada lapisan permeable tebal. b. Permeable Tebal 3). Muncul keluar sebagai mata air artesis.4. 2). Mata Air dibedakan Menurut Konstansinya : 1). Mata air yang terbentuk oleh karena muka air tanah (water table) berpotongan dengan permukaan tanah (depression spring).Mk. 79 . Mata air yang mengalir dari formasi permeable tipis Mata air Mata air Gambar 6. Di dalam pengembangan pengelolaan mata air maka perlu diteliti apakah jenis kontansi debit airnya termasuk diantaranya. Permeable Tipis 2). Pada musim hujan air muncul karena adanya imbuhan (recharge) sehingga water table naik. Intermitten Spring : apabila aliran debit tidak sepanjang tahun. Mata air yang terbentuk karena patahan/retakan formasi pada bidang pelapisan dari permeable dan impermeable.3. Parrenial Spring : apabila debit mengalir sepanjang tahun.

Pelampung : pengukuran ini pada aliran dan yang diukur adalah kecepatan permukaan. aliran mengucur dari tebing dan ditampung di ember dan diukur waktunya. 1). Mata Air yang Muncul Karena Patahan 4). 80 . Volumetri yaitu pengukuran debit berdasarkan jumlah volume per satuan waktu. perikanan maupun industri. 2).5.Mk. Pengukuran Potensi Mata Air Pemanfaatan air tanah yang muncul sebagai mata air ini dapat dimanfaatkan untuk air minum. 6. 3). Biasanya debit yang diukur kecil. Mata air yang terbentuk dan mengalir dari saluran/pipa yang terbentuk dan mengalir dari saluran yang terbentuk dari rekahan pada batuan impermeable. Hidrologi JFK Lapisan impervious Lapisan pervious Gambar 6.2. Perlu diperhatikan dalam hal kualitas karena mineral air tanah lebih pekat daripada air permukaan. Currentmeter : alat ini untuk mengukur arus/kecepatan pada kedalaman yang bisa diatur. Kerugian Akibat Pemanfaatan Air Tanah Air tanah merupakan satu bagian dalam proses sirkulasi alamaiah. Sehingga kalau mencari debit aliran dicari dahulu kecepatan ratarata. Mata air yang muncul dan mengalir melalui saluran / pipa alam yang terbentuk oleh lava. inlet outlet 5). pertanian. c. Jika pemanfaatan air tanah yang berlebihan akan mengurangi volume air tanah yang ada.

Teknik untuk penentuan besarnya pemanfaatan yang sesuai Untuk kepentingan pengawetan air tanah. Untuk mempertinggi besarnya pemanfaatan air tanah. Adanya lapisan atas dan bawah dari aquifer yang menderita penurunan oleh konsolidasi karena air yang diperas keluar (contoh lapisan lempung lemah). maka kapasitas pengisian kembali air tanah itu harus diperbesar secara buatan. Penurunan tanah terjadi karena penurunan tekanan air tanah dalam aquifer mengakibatkan air yang berada dalam lapisan lempung di bawah dan di atas itu diperas. dipasang sistem pengamatan permukaan air tanah. Akan tetapi penurunan tanah atau penerobosan air asin tidak seluruhnya diakibatkan oleh pemompaan yang berlebihan. Besarnya penurunan permukaan air tanah harus cukup besar dan cukup lama sehingga dapat mengakibatkan penurunan konsolidasi lapisan-lapisan atas dan bawah aquifer. Besarnya penurunan permukaan air harus cukup besar sehingga dapat mengakibatkan penerobosan air asin. 81 . b. b. Juga diperkirakan pengaruh yang terjadi jika diadakan pemompaan lebih. b. Aquifer itu berhubungan dengan air laut. Hidrologi JFK Berkurangnya volume air tanah akan kelihatan dalam bentuk penurunan permukaan air tanah atau penurunan tekanan air secara terus menerus.3. Penurunan permukaan air tanah atau tekanan air tanah secara terus menerus dapat mengakibatkan penurunan tanah dan penerobosan air asin ke dalam air tanah (intrusi air laut).Mk. Pengisian kembali secara buatan. Kejadian ini mempunyai hubungan dengan kondisi geologi di daerah air tanah dan jenis air tanah itu. Di daerah pemanfaatan air tanah yang utama. Sebab-sebab uatama yang mengakibatkan penurunan tanah adalah : a. Untuk itu disarankan : Dibuat perhitungan neraca air untuk air tanah itu dan ditentukan besarnya pemanfaatan air tanah yang sesuai dengan besarnya sirkulasi air tanah berdasarkan hasil perhitungan neraca air. Konservasi Air Tanah a. maka perlu diketahui besarnya pemanfaatan yang sesuai dengan pemompaan air tanah. 6. Ada beberapa cara pengisian kembali air tanah secara buatan yakni cara penyebaran dan cara pengisian melalui sumur dan kombinasi cara-cara tersebut. Sebab-sebab utama terjadinya penerobosan air asin : a.

Mk.4. untuk aquifer yang tebal dan air keluar dari dasar sumur. s. • Air tanah bebas Q= 1. dan jika dasar sumur datar : Q = 4.2) b.3) Keterangan : R H h = dalam dari permukaan air yang dipompa ke permukaan lapisan kedap air di bawah hs = dalam air di sumur pada waktu pemompaan c. Besarnya Air yang Keluar Air tanah dapat diambil melalui sumur atau serambi infiltrasi. K.36 K R h h log ( ) 0.1) Jika dasar sumur berbentuk bola. jika aquifer tidak terlalu tebal dan air keluar dari dasar dan sisi sumur. maka : Q= H 2 − h2 1. Permukaan di daerah sekeliling dapat diturunkan dengan menurunkan permukaan air pada tempat-tempat pengambilan ini.36 K ( H 2 − h 2 ) 2d log rw = jarak dari sumur ke tepi sungai = tebal aquifer = (6. 25 2 h − hs rw hs + 0. maka aliran di dalam tanah dari sungai langsung masuk ke dalam sumur.5rw = jari-jari lingkaran pengaruh = tebal aquifer (6.5 ( ) 0. a.4) Keterangan : d H H dalam dari permukaan air yang dipompa ke permukaan lapisan kedap air 82 . rw Keterangan : Q K s rw = banyaknya air yang keluar = koefisien permeabilitas = besarnya penurunan permukaan air = jari-jari sumur Q = 2 π K s rw (6. sumur-sumur lain. jika sumur digali pada dataran banjir tepi sungai. Hidrologi JFK 6. maka : (6.

currentmeter 6. Sebutkan sebab utama penerobosan air asin! 7. Aquifuge c. Hidrologi JFK • Air tanah terkekang Q= 2. Geohidrologi 3. Apa yang dimaksud dengan : a. Volumetri b. Hidrologi Teknik. jika dasar sumur datar dan dasar sumur berbentuk bola. Jakarta 83 .D. 2004. Apa yang anda ketahui tentang air tanah ! 2. Erlangga. Apa yang dimaksud dengan mata air? 5. Kupang Soemarto. Hidrogeologi d.Mk. Jelaskan kerugian yang diakibatkan oleh pemanfaatan air tanah ! 9. Turunkan persamaan untuk air yang keluar dari dasar sumur.C. Aquifer terkekang b. 1999. C. Daftar Pustaka Didik Kresnohadi. Apa yang dimaksud dengan : a.5) Keterangan : m H’ = dalam dari tekanan air terkekang ke permukaan lapisan kedap air. Sumber Daya Air. Sebut dan jelaskan cara-cara konservasi air tanah ! 10. Sebutkan zona-zona dalam air tanah ! Jelaskan ! 4. Penutup Soal-Soal 1.7 mK ( H '− h) 2d log rw = tebal aquifer (6. Sebutkan jenis-jenis mata air menurut terbentuknya! Jelaskan ! 8.

Hidrologi untuk Pengairan.2003.Mk. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Daftar Istilah Aquifer Aquifuge Hidrogeologi Geohidrologi Pervious Impervious Currentmeter Intrusi 84 . Hidrologi JFK Sosrodarsono.

B.BAB VII. Menjelaskan pengaruh tanah. Menjelaskan konservasi lahan dengan baik agar dapat menanggulangi pengaruh bahaya erosi terhadap bangunan air. Dengan menggunakan persamaan USLE dapat diprediksi laju rata-rata erosi dari suatu bidang tanah tertentu. tanaman dan curah hujan terhadap besar kecilnya erosi. Penyajian 7. Faktor Tanaman atau Faktor C. Persamaan yang dipergunakan mengelompokkan berbagai parameter fisik (dan pengelolaan) yang mempengaruhi laju erosi ke dalam enam parameter utama. EROSIVITAS DAERAH ALIRAN SUNGAI Suatu model parametrik untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah telah dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1965. khusunya curah hujan dan pengaliran air permukaan (run off). Tujuan yang hendak dicapai (TIK) pada bab ini adalah mahasiswa akan dapat : a. 1978) yang dikenal dengan the Universal Soil Loss Equation (USLE) adalah suatu model erosi yang dirancang untuk memprediksi rata-rata erosi jangka panjang dari erosi lembar (sheet erosion) termasuk di dalamnya erosi alur (gully erosion) pada suatu keadaan tertentu. b. EROSI DAN SEDIMENTASI A. dan faktor tindakan pengendalian erosi. untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang sedang atau yang mungkin dapat dilakukan. pada suatu kecuraman lereng dan dengan pola hujan tertentu. Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu. Nilai Indeks Erosivitas Hujan. c. Menganalisis besarnya nilai erosi dan sedimentasi berdasarkan contoh soal dengan benar.1. Faktor Erodibilitas Tanah. Persamaan USLE yang diusulkan adalah sebagai berikut : . d. Pendahuluan Dalam bab ini akan dipelajari pengetahuan dasar tentang erosi pada DAS. Menjelaskan pengertian erosi dan faktor – faktor penyebab erosi dan sedimentasi dengan benar.

6 ft (22. Dalam satu kejadian hujan. yaitu jumlah satuan indeks erosi hujan. yang merupakan perkalian antara energi hujan total (E) dengan intensitas hujan maksimum 30 menit (I30) tahunan adalah faktor erodibilitas tanah. energi kinetiknya dapat dihitung sebagai berikut : . yaitu perbandingan antara besarnya erosi dari tanah dengan suatu panjang lereng tertentu terhadap erosi dari tanah dengan panjang lereng 72. Nilai Indeks Erosivitas Hujan Pada persamaan USLE. 7.A Dengan: A R = = = RKLSCP K = L = S = C = P = adalah banyaknya tanah yang tererosi dalam [ton per hektar per tahun] adalah faktor curah hujan dan aliran permukaan (erosivitas hujan). terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah searah lereng dalam keadaan yang identik. yaitu laju erosi per indeks erosi hujan (R) untuk suatu tanah yang didapat dari petak percobaan standar. terhadap besarnya erosi dari tanah dengan lereng 9 % di bawah keadaan yang identik adalah faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman. Erosivitas hujan besarnya merupakan fungsi dari energi kinetik total hujan dengan intensitas hujan maksimal selama 30 menit dengan satuan [ton/ha/cm hujan].1 m) di bawah keadaan yang identik. nilai R yang merupakan daya perusak hujan atau erosivitas hujan tahunan dapat dihitung dari data curah hujan yang didapat dari penakar hujan otomatis. atau dari data hujan biasa R adalah faktor fisik hujan yang menyebabkan timbulnya prosses erosi baik erosi permukaan. yaitu perbandingan antara besarnya erosi dari tanah yang diberi perlakukan tindakan konservasi khusus (seperti pengolahan tanah menurut kontur.6 ft (22.1.1 m) dan terletak pada lereng 9 % tanpa tanaman. yaitu perbandingan antara besarnya erosi dari suatu bidang tanah dengan vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman tertentu terhadap besarnya erosi dari tanah yang identik tanpa tanaman adalah tindakan-tindakan khusus konservasi tanah. yaitu petak percobaan yang panjangnya 72. penanaman dalam stripping atau terras).1. adalah faktor kecuraman lereng yaitu perbandingan antara besarnya erosi yang terjadi dari suatu bidang tanah dengan kecuraman lereng tertentu. erosi alur atau erosi tebing. adalah faktor Panjang lereng. Faktor fisik hujan yang dapat menimbulkan erosi disebut erosivitas hujan.

55 30.44 6.075 Dimana : E = energi kinetik dalam [ton/ha/cm hujan] R = intensitas hujan dalam [cm/jam] Menurut Wischmeier erosivitas hujan dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : EI30 = (E. I 30 = R 77.793.74 0.178 + 1.02 2.55 53.87 40.57 2.084.32 69.55 246.54 1.27 375.73 33.48 8.28 8. Jam 0.282.29 5.420.21 410.82 0.299.48 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Rerata Total tahunan Sumber : Perhitungan .35 0.27 41.47 34.96 787.00 112.82 0.61 77.28 0.76 0.01 75.45 10.22 1.58 2.374 R1.27 E ton.I30)/100 Satuan EI30 tergantung dari satuan E dan I30 bila digunakan sistem satuan metrik digunakan [ton-m ha-1 cm jam-1 ]. Perhitungan Erosivitas Hujan (EI30) Bulan R mm 403.041.58 7.004.93 8.05 561.01 × R Hasil perhitungan erosivitas dapat dilihat pada Tabel 7.00 411.20 4.1.59 0.412.07 9.23 616. Dengan demikian satuan I30 mengikuti satuan dari energi kinetiknya. M/ha.84 13.27 307.12 0.79 0.652.55 82.51 0.83 0. Tabel 7.65 I30 EI30 ton cm/ha.45 201.89 184.14 53.49 1.18 358.30 0.50 65.E = 14.420.83 0.354. Cm 9.1.

43 0. Tabel 7.40 Dalam menentukan nilai erodibilitas tanah di daerah aliran sungai Waduk Batujai diperoleh dari peta tanah pada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dodokan Moyo Sari.1.2.56 0. Gambar 7. 3.47 0. K. Jenis Tanah Latosol coklat kemerahan dan litosol Latosol kuning kemerahan dan litosol Komplek mediteran dan litosol Latosol kuning kemerahan Grumusol Aluvial Regusol Sumber : Anonimous III.2. Jika tidak terdapat data lapangan. maka nilai K dapat dihitung dengan menggunakan nomogram seperti tercantum pada Gambar 7. 2000 Faktor K (erodibilitas) 0.36 0. adalah nilai kuantitatif yang dapat diperoleh dari percobaan lapangan. Nilai Faktor Erodibilitas Tanah Faktor erodibilitas tanah. 4. diberikan pada Tabel 4.1.46 0.2. Dinas Kehutanan Propinsi Nusa Tenggara Timur .20 0. di bawah ini. 7. Departemen Kehutanan. Nilai K untuk beberapa jenis tanah di Indonesia yang dikeluarkan Dinas RLKT. 5. 2.1. Jenis tanah dan nilai faktor erodibilitas (K) No. 1. 6. Nomogram untuk penentuan nilai K.7.

6 [ft] atau sama dengan 22. Lereng 100% berarti bersudut 45 derajat.5 untuk kemiringan lereng > 5 % Sebagaimana disampaikan di depan bahwa panjang lereng kemiringan pada petak uji standar adalah 72.56 Sin2Θ + 0.3. Nilai faktor S dalam persamaan USLE dihitung dengan persamaan : S = 65.1 meter.41 SIN 2Θ + 4.2 untuk kemiringan lereng ≤ 1% m = 0. sehingga untuk panjang kemiringan lereng sembarang perlu dibagi dengan nilai 72. maka nilai L dapat dinyatakan sebagai berikut : L = (X/22. Oleh karena nilai L adalah perbandingan besarnya erosi dari suatu lereng terhadap besarnya erosi dari lereng dengan panjang 22. Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa nilai eksponen panjang lereng yang didapat dari data percobaan lapangan mungkin akan memberikan angka laju erosi yang terlalu tinggi jika dipergunakan untuk lereng yang panjangnya lebih dari 400 m. Data percobaan lapangan menunjukkan bahwa besarnya erosi per satuan luas berbanding dengan pangkat panjang lereng.1. atau sampai pada suatu tempat dimana aliran air di permukaan tanah masuk ke dalam saluran.065 Dimana Θ adalah sudut lereng dalam [derajat].4 untuk kemiringan lereng > 3 % sampai dengan ≤ 5 % m = 0.3 untuk kemiringan lereng > 1 % sampai dengan ≤ 3 % m = 0. L. Besarnya erosi meningkat lebih besar dibandingkan dengan aliran permukaan jika kecuraman lereng.1 [m] sebagaimana ditunjukkan pada persamaan diatas. bertambah. diukur dari suatu tempat pada permukaan tanah dimana erosi mulai terjadi sampai dengan tempat dimana terjadi pengendapan (yang bisa disebabkan oleh karena berkurangnya kecuraman lereng). Nilai Faktor Lereng LS (Panjang dan Kemiringan) Panjang lereng. Jika dipergunakan kecuraman lereng dalam [persen].1 [m].7. S. maka persamaan faktor S menjadi : .1)m Dimana : L = adalah faktor panjang kemiringan lereng tanah dalam [m] X = adalah panjang lereng dalam [m] M = adalah tetapan tergantung dari kemiringan lereng tanah. dengan : m = 0. Kecuraman lereng dinyatakan dengan derajat sudut lereng atau persen.6 [ft] atau 22.

1)m (0.045 s + 0.043 s2 S= 6.00965 s + 0.1 meter dan kecuraman 9 persen.1)m (0.0065 s2 dimana s adalah kecuraman lereng dalam [persen]. Nilai LS untuk suatu bidang tanah dapat dihitung dengan persamaan: LS =(X/22. Untuk lereng lebih dari 20 % beberapa besar penyimpangannya masih belum banyak diteliti. Dalam prakteknya nilai L dan S sering dihitung sekaligus berupa faktor LS.0065 s2) dimana : m = tetapan seperti telah tercantum dalam rumusan terdahulu Θ = sudut kemiringan lereng tanah dalam [derajat] s = kemiringan lereng tanah dalam [persen] Untuk nilai s = 9 persen.56 sin Θ + 65. Persamaan diatas dikembangkan dari data percobaan pada lereng-lereng kurang dari 20 %. sehingga diperoleh persamaan : LS = √ X (0.045 s + 0. LS adalah perbandingan antara besarnya erosi dari sebidang tanah dengan panjang lereng dan kecuraman tertentu terhadap besarnya erosi dari tanah yang terletak pada lereng dengan panjang 22.0.065 + 4.065 + 0.613 atau S = 0.065 + 0.0138 + 0.5.2. digunakan nilai m = 0. Nilai LS dapat juga diperoleh dengan menggunakan nomograf pada Gambar 7.43 + 0.41 sin2Θ) Atau LS =(X/22.00138 s2) Dimana X adalah panjang lereng dalam [m] dan s adalah kecuraman lereng dalam [persen]. .30 s + 0.

4.1. Tabel 7. Nilai faktor C dipengaruhi oleh banyak parameter yang dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. terhadap besarnya erosi tanah yang tidak ditanami dan tanpa pengelolaan.4 3.Gambar 7. yaitu parameter alami dan parameter yang dipengaruhi oleh sistem pengelolaannya.4 1.3.000.3. 2000 Dari Peta Bakosurtanal kemiringan lereng di daerah aliran sungai ke dua embung dianalisa dari peta rupa bumi skala 1 : 25. 7. Faktor ini mengukur pengaruh jenis tanaman dan sistem pengelolaannya.3.8 9. Nilai Faktor Tanaman atau Faktor C Faktor C dalam persamaan USLE adalah perbandingan antara besarnya erosi dari tanah yang bertanaman dengan pengelolaan tertentu. Penilaian kelas lereng dan faktor LS Kelas Lereng I II III IV V Kemiringan Lereng 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 LS 0.1 6.5 Sumber : Anonimous III. Penilaian kelas lereng berdasarkan pada tabel 4. yang ditetapkan berdasarkan kelas lereng.2. Faktor Topografis LS Nilai faktor kemiringan lereng dikeluarkan Departemen Kehutanan diberikan pada Tabel 7. Untuk mendapatkan nilai C dapat diperoleh berdasarkan percobaan di lapangan pada petak-petak standar. Parameter .

01 0. atau penanaman dalam stripping atau teras).5 0.2 0.4. Nilai C yang terdapat dalam pustaka umumnya merupakan nilai rata-rata dalam kurun waktu tanaman sampai berproduksi untuk tanaman pangan.85 0. sedangkan parameter pengelolaan tergantung dari sistem pengelolaan yang diterapkan (misalnya pengelohan tanah menurut kontur.417 18 19 20 21 22 23 24 25 . Berbagai hasil penelitian nilai faktor C untuk berbagai tanaman dan pengelolaan tanaman dapat dilihat pada Tabel 7.Kerapatan tinggi .Kerapatan rendah Perladangan Hutan alam : . Dengan demikian belum didapatkan nilai C misalnya pada saat periode tanam.6 0. Hal ini penting untuk dikemukakan dalam menentukan nilai C karena berkaitan dengan karakteristik penutupan tanah dan masa pengelolaan tanaman.alami misalnya adalah iklim dan fase pertumbuhan tanaman. Nilai Faktor C (Pengelolaan Tanaman) No.Tebang habis .001 0.Serasah kurang Hutan Produksi : . Tabel 7.287 0.Tebang pilih Semak belukar/padang rumput Ubikayu + Kedelai Ubikayu + Kacang tanah Padi – Sorghum Padi – Kedelai Nilai Faktor 1. vegetatif atau periode lainnya.1 0.4 0.4 0.8 0.2 0.3 0.002 0.Serasah banyak .2 0.4 0.195 0. dan usia (pertumbuhan) tanaman.399 0.4.181 0.7 0.2 0.561 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Macam penggunaan Tanah terbuka/tanpa tanaman Sawah Tegalan Ubikayu Jangung Kedelai Kentang Kacang Tanah Padi Tebu Pisang Akar wangi (sereh wangi) Rumput Bede (tahun pertama) Rumput Bede (tahun kedua) Kopi dengan penutup tanah buruk Talas Kebun campuran : .005 0.345 0.0 0.7 0.5 0.2 0.Kerapatan sedang .

571 0.40 0. Tindakan khusus konservasi tanah 1 Terras bangku : . 2000 jagung + padi + ubikayu.Konstruksi baik .Teras tradisional baik 2 Strip tanaman rumput (padang rumput) 3 Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontour . dan pembuatan teras.001 Sumber : Anonimous III.495 0. Nilai P untuk beberapa tindakan konservasi diberikan pada Tabel 7.50 0.Konstruksi sedang . Termasuk dalam tindakan konservasi adalah penanaman dalam strip. Faktor P didefenisikan sebagai perbandingan antara besarnya erosi dari tanah dengan suatu tindakan konservasi tertentu (pada petak standar) terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah menurut arah lereng.04 0. Nilai – nilai P No. Nilai Faktor Tindakan Pengawetan Tanah (P) Nilai faktor P adalah faktor praktek pengendalian laju erosi (pengelolaan) secara mekanis.079 0.90 1.5. dan pembuatan teras.35 0.5.377 0. Tabel 7.Konstruksi kurang baik .75 0.357 0.40 0. setelah panen padi ditanam kacang tanah **) jagung – jagung – kacang tanah 7.Kemiringan lebih 20 % 4 Tanpa tindakan konservasi Nilai P 0. strip cropping.Kemiringan 9 – 20 % .00 .259 0. seperti misalnya penanaman mengikuti kontour.049 0.Kemiringan 0 – 8 % . pengolahan tanah menurut kontour.096 0.26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 *) Kacang tanah + gude (tanaman polongan) Kacang tanah + Kacang tunggak Kacang tanah + Mulsa jerami 4 ton/ha Padi + Mulsa jerami 4 ton/ha Kacang tanah + Mulsa jagung 4 ton/ha Kacang tanah + Mulsa kacang tunggak Kacang tanah + Mulsa jerami 2 ton/ha Pola tanam tumpang gilir*) + Mulsa jerami Pola tanam berurutan **) + Mulsa sisa tanaman Alang-alang murni subur 0.128 0.1. Penentuan nilai P dapat dilakukan seperti halnya pada penentuan nilai C.15 0.5.

Sumber : Anonimous III, 2000

Hasil perhitungan prakiraan erosi dapat dilihat pada tabel 7.6. dan 7.7.

Tabel 7.6
Estimasi Laju Sedimen pada DAS Kurukodi : Curah Hujan Bulanan ( R ) Indeks Erodibilitas Tanah (K) : Energi Kinetik Curah Hujan (E : Indeks Erosivitas Hujan (EI 30: Elevasi (m) 450 - 500 m LS 3.1 3.1 0.4 1.4 0.4 9.1 0.4 1.4 201.02 mm 0.20 4420.14 ton.m/ha.cm 410.48 ton.cm/ha.jam Penutupan lahan luas (km2) luas (ha) 0.14199 0.03418 14.1986 3.4178 Epot (ton/thn) 3,613.48 869.82 2,260.91 793.04 266.74 11,481.69 426.90 260.90 Erosi aktual (ton/thn) 36.13 8.70 90.44 150.68 50.68 114.82 8.54 13.04 SDR Sedimentasi (ton/thn) 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 12.65 3.04 31.65 52.74 17.74 40.19 2.99 4.57 165.56 1.25 0.68 89.49

jenis semak tegalan sawah ladang ladang semak kebun hutan Total

CP 0.01 0.01 0.04 0.19 0.19 0.01 0.02 0.05

Keterangan

500 - 550

0.68850 68.85 0.06900 6.9 0.08123 8.123 0.15369 15.369 0.13000 13 0.02270 2.27 1.321284 132.1284

(ton/th) (ton/ha/th) (m3/ha/th) (m3/th)

Tabel 7.7.
Estimasi Laju Sedimen pada DAS Sobarade : Curah Hujan Bulanan ( R ) Indeks Erodibilitas Tanah (K) : Energi Kinetik Curah Hujan (E): Indeks Erosivitas Hujan (EI 30 : Elevasi (m) 450 - 500 m LS 6.8 6.8 1.4 0.4 0.4 201.02 mm 0.20 4420.14 ton.m/ha.cm 410.48 ton.cm/ha.jam Penutupan lahan luas (km2) luas (ha) 0.334 0.226 0.562 0.689 0.069 33.40 22.63 56.15 68.85 6.90 Epot (ton/thn) 18,644.94 12,630.71 6,453.75 2,260.91 226.58 Erosi aktual (ton/thn) 186.45 126.31 64.54 90.44 43.05 SDR Sedimentasi (ton/thn) 65.26 44.21 22.59 31.65 15.07 178.77 0.95 0.51 96.63

jenis semak hutan semak sawah lahan terbuka

CP 0.01 0.01 0.01 0.04 0.19

Keterangan

500 - 550

0.35 0.35 0.35 0.35 0.35

Total

1.879266 187.9266

(ton/th) (ton/ha/th) (m3/ha/th) (m3/th)

7.2. Umur Layanan Embung 7.2.1. Sedimentasi Pada Embung Sedimen yang terangkut melalui alur sungai sebagian besar akan mengendap di dalam waduk, sementara hanya sebagian kecil yang keluar melewati waduk. Setelah seluruh volume sedimen yang masuk ke dalam waduk dapat ditentukan, langkah selanjutkan yang dapat dilakukan adalah menentukan volume sedimen yang akan mengendap atau tertahan di dalam waduk. Beberapa hal yang berhubungan dengan pengendapan sedimen di waduk adalah : a. b. c. Trap efficiency dari waduk, Berat jenis spesifik dari endapan sedimen, dan Volume sedimen yang mengendap di dalam waduk

7.2.2 Trap Efficiency Trap efficiency dari waduk didefinisikan sebagai perbandingan antara besarnya sedimen yang mengendap di dalam waduk dengan aliran sedimen yang masuk ke dalam waduk. Trap efficiency sangat dipengaruhi terutama oleh ukuran dan bentuk dari partikel sedimen, disamping dipengaruhi oleh besar aliran yang masuk ke dalam waduk. Metode yang biasa digunakan untuk mengestimasi Trap efficiency suatu waduk adalah metode yang diusulkan oleh Brune. Metode Brune, secara empirik, didasarkan pada data pengukuran sejumlah waduk yang ada di banyak negara. Dari data lapangan tersebut, Brune memperoleh suatu set kurva untuk menentukan besarnya sedimen yang mengendap di dalam waduk, yaitu dengan menggunakan data masukan berupa perbandingan antara kapasitas waduk dengan aliran air rata-rata yang masuk ke dalam waduk tiap tahun. Secara teoritis, trap efficiency dari suatu waduk, dari tahun ke tahun akan berkurang secara kontinu dengan berkurangnya kapasitas waduk karena bertambahnya endapan sedimen. Trap efficiency dapat dihitung menggunakan persamaan

⎛ ⎛ ⎜ ⎜ 1 Te = 100⎜1 − ⎜ C ⎜ ⎜ ⎜ ⎜ 1 + 100 I ⎝ ⎝
Dimana

⎞⎞ ⎟⎟ ⎟⎟ ⎟⎟ ⎟⎟ ⎠⎠

1.5

C = Kapasitas tampungan mati I = Inflow tahunan Berdasarkan analisis pada Tabel 7.8. dan 7.9., maka umur layanan masing-masing embung adalah sebagai berikut

1. embung Saborade masa layan 20 tahun 2. embung Kurukodi masa layan 20 tahun.

Tabel 7.8

Simulasi Masa Layan Embung Sobarade Tahun Kapasitas ke t Waduk, ( C) m3
1 2

Inflow (I) m3
3

C/I
4

Trap Transportasi efficiency Sedimen m3/tahun
5 6

Sedimen Mengendap m3
7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

1148.00 629.54 403.14 283.24 211.37 164.54 132.15 108.72 91.18 77.67 67.03 58.48 51.51 45.74 40.90 36.81 33.32 30.31 27.69 25.41

981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51 981,926.51

0.00117 0.00064 0.00041 0.00029 0.00022 0.00017 0.00013 0.00011 0.00009 0.00008 0.00007 0.00006 0.00005 0.00005 0.00004 0.00004 0.00003 0.00003 0.00003 0.00003

3.3866 1.4789 0.7832 0.4695 0.3059 0.2116 0.1530 0.1146 0.0882 0.0695 0.0558 0.0456 0.0377 0.0316 0.0267 0.0228 0.0197 0.0171 0.0149 0.0131

15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00 15,309.00

518.46 226.40 119.89 71.87 46.83 32.39 23.43 17.54 13.51 10.64 8.55 6.97 5.77 4.83 4.09 3.49 3.01 2.61 2.28 2.01

767.12 1.767.00 15.59 17.00 1.767.77 5.2568 0.00041 0.148.00090 0.767.97 4.148.3555 0.767.309.78 4.5139 0.00 15. ( C) m3 1 2 Inflow (I) m3 3 C/I 4 Trap Transportasi efficiency Sedimen m3/tahun 5 6 Sedimen Mengendap m3 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 3561.00 15.68 54.00006 0.00024 0.24 1.12 0.85 473.52 180.767.42 39.00019 0.00007 0.0523 0.00007 0.12 1.148.55 45.83 120.12 1.1475 0.148.23 11.21 762.00004 0.0626 0.00 15.00013 0.148.148.12 1.00 15.148.0281 0.767.21 150.309.148.148.12 1.00004 11.00 15.767.33 198.767.12 1.00 15.30 54.767.94 219.309.309.08 67.0325 0.00008 0.309.767.309.0930 0.148.12 1.309.62 273.00010 0.18 671.66 75.1160 0.9815 2.00 15.767.12 1.767.00 15.5109 4.40 78.58 8.Tabel 7.31 29.12 1.309.309.0377 0.309.61 364.767.00 15.48 96.309.12 1.00058 0.12 1.83 128.00016 0.148.148.39 22.25 84.07 60.52 49.12 1.767.59 9.0246 15.7865 0.767.12 1.00005 0.31 3.309.12 1.12 1.309.1920 0.00 15.9.00005 0.148.02 352.24 110.01 6.767.2988 0.0757 0.76 14.00 15.00 15.00310 0.00 15.148.148.00 15.767.0442 0.3798 1.00 15.00 15.148.148.148.309.148.12 1.00 15.309.76 .12 1.309.00031 0.148.12 1.00011 0.309.00 1798.762.309.767.00157 0.00 15.79 1036.309.12 1. Simulasi Masa Layan Embung Kurukodi Tahun Kapasitas ke t Waduk.309.767.