BAB IV MIKROGRAFI

4.1 PENDAHULUAN Semua material logam maupun paduannya mempunyai stuktur mikro yang berbeda-beda. Antara logam yang satu dengan yang lain mempunyai kekuatan yang tidak sama. Hal ini dikarenakan berbedanya struktur mikro tersebut. Stuktur mikro merupakan kumpulan atom-atom yang mempunyai geometri tertenti dan berulang. Struktur mikro ini yang menentukan sifat dan karakteristik dari suatu material. Karena ukurannya yang sangat kecil, kita tidak tidak bias melihat strukturmikro tanpa bantuan mikroskop. Material yang akan di bentuk pada proses produksi misalnya bubut,frais, dan sebagainya harus diketahui dahulu struktur mikronya. Dengan mengetahui struktur mikronya kita akan mengatahui sifat , karakteristik dan kekuatan suatu material. Dengan begitu tidak akan terjadi kesalahan pemilihan pahat. Uji mikrografi merupakan pengujian yang dilakukan terhadap material untuk memperoleh gambar struktur mikronya.dengan uji mikrografi kita dapat memperoleh gambar butiran dan mengetahui batas-batas butiran serta bentuk butiran.

4.1.1 LATAR BELAKANG Mikrografi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk

memperoleh gambar yang menunjukan struktur mikro sebuah logam atau paduan. Melalui proses ini kita dapat mengetahui struktur dari suatu logam atau paduan dengan memperjelas batas-batas butir logam sehingga dapat langsung dilihat dengan menggunakan mikroskop dan diambil gambarnya. Ada 2 macam cara untuk memeriksaan struktur kristal, dan yang biasa dilakukan yaitu pemeriksaan makro dan pemeriksaan mikro. [1] Selain itu, mikrografi menjadi sangat penting karena untuk memproses suatu bahan kita harus mengetahui sifat dari bahan tersebut. Dengan mengetahui struktur bahan yang dapat diketahui dengan mikrografi

1

kita dapat mengetahui sifat dari suatu bahan sehingga kita dapat mengolah suatu bahan menjadi yang kita inginkan. Dengan demikian kita juga dapat mengetahui karakteristik dari suatu material. [1]

4.1.2 TUJUAN PRAKTIKUM Adapun tujuan dari praktikum mikrografi yatu: 1. Mengetahui struktur mikro suatu material baik logam maupun paduannya dengan menggunakan bantuan mikroskop. 2. Dapat melakukan perbandingkan struktur mikro logam dengan perlakuan heat treatment dengan struktur mikro logam non perlakuan heat treatment. [2]

4.1.3 MANFAAT Adapun manfaat dari praktikum mikrografi yaitu: 1. Dapat mengetahui struktur mikro suatu material baik logam maupun paduannya dengan menggunakan bantuan mikroskop. 2. Dapat melakukan perbandingkan struktur mikro logam dengan perlakuan heat treatment dengan struktur mikro logam non perlakuan heat treatment. [2]

4.2 DASAR TEORI Mikrografi berasal dari dua kata, yaitu “mikro” yang berarti sangat kecil dan kata “grafi” yang berarti gambar. Mikrografi adalah gambar yang menunjukan struktur mikro pada hal ini struktur logam dan paduannya. Ada dua macam pengujian struktur kristal yang biasa dilakukan yaitu pengujian makro dan mikro.[2]

2

Gambar 4.1 perbandingan ukuran dan teknik pengukuran. [3]

a. Struktur Kristal 1. Struktur Kristal Pemusatan Ruang (BCC/Body Centeed Cristal) Atom terletak disetiap sudut dan ditengah-tengah kubik. Logam yang mempunyai struktur ini antara lain: kromium, besi, tungsten. Struktur yang terbentuk dari perpenjangan salah satu dimensi dari BCC disebut BCT (body Centered Tetragonal). Struktur ini terbentuk dari baja martensit. Sifatnya yaitu keras. [4]

3

Gambar 4.2 Struktur kubik pemusatan ruang logam. Bagian (a) Model bola keras (b) gambaran skematik dan terlihat letak atom pada titik pusat [4]

2. Struktur Kristal Pemusatan Sisi (FCC/Flank Centerd Crystal) Atom terletak disetiap sudut dan ditengah-tengah seluruh sisi kubik. Logam yang mempunyai struktur ini yaitu: alumunium, emas, perak, nikel. Mempunyai sifat yang lebih lunak. [4]

Gambar 4.3 Struktur kubik pemusatan sisi pada logam. Bagian (a) model bola (b) keras pandangan skematis yang memperlihatkan letak pusat atom [4]

3. Struktur Hexagonal Close Packed (HCP) Enam atom yang membentuk segi enam diatas dan di bawah struktur mengelilingi satu atom ditengah, tiga atom lainnya terletak ditengah-tengah struktur. Logam yang mempunyai struktur ini antaralain magnesium, seng dan titanium. Mempunyai sifat yang kuat karena letak atomnya yang berdekatan.[4]

4

Gambar 4.4 Struktur kristal Hexagonal Closed Packed [4]

Tabel 4.1 Struktur-struktur Kristal [4]

b. Cacat Dalam setiap butir, atom tersusun secara teratur sesuai struktur kristal dasar tetapi terdapat pula berbagai jenis ketidaksempurnaan, yang secara umum disebut sebagai cacat kristal. Apabila cacat terjadi pada suatu material maka akan mempengaruhi sifat elastisitas dan plastisitas material tersebut. Pada bagian yang cacat elastisitas material cenderung lebih besar dibanding plastisitas material tersebut. Cacat tidak diperlukan pada suatu material bila material

5

dan oksidasi. sedangkan cacat sendiri dilakukan pada suatu material untuk mendapatkan bentuk dan sifat material yang diinginkan. [5] a b c Gambar 4. pengerjaan dingin. Cacat titik (Point Defect) Cacat titik sering terjadi karena cor-coran yang jelek. Terdapatnya atom ketidakmurnian dalam posisi kisi atau dalam posisi sisipan mengakibatkan gangguan lokal dalam keteraturan kisi. sama halnya seperti untuk kekosongan dan untuk sisipan.[5] Gambar 4. adanya udara yang terjebak.6 Cacat titik a) kekosongan b) interstisi c) ketidakmurnian [5] 6 . dan atom ketidakmurnian (impurities atom). Interestisial lebih sering dijumpai dalam struktur ionik dibandingkan dalam struktur metalik.tersebut sudah mempunyai tingkat elastisitas dan plastisitas yang diinginkan. [5] Cacat tersebut mempunyai bentuk antara lain : 1. Seperti lokasi atomik yang kosong (vacancies) dan atom interstisi (self interstitials). karena keberadaan “lubang” atau interstisi dalam jumlah besar.5 Struktur atom yang mempresentasikan keberadaan vacancy dan self-interstitial. Kekosongan dapat terjadi dengan memindahkan atom dari lokasi kisinya ke lokasi atomik terdekat yang dapat menampungnya dengan mudah.

[5] Dislokasi adalah cacat garis dengan rentang yang besar dalam kristal dan arena mempunyai energi regangan per satuan panjang (Jm-1). vektor Burgers didefinisikan dengan Dislokasi Sisi dan Dislokasi Ulir membentuk rangkaian Burgers ada kristal terdeformasi. Sedangkan bila garis dislokasi sejajar dengan arah slip garis. Vektor ini dapat dinyatakan dengan koordinat arah pada sumbu utama kristal. [5] Gambar 4.22a terlihat bahwa jarang sekali garis dislokasi bersifat sisi atau ulir murni. Apabila garis dislokasi tegak lurus pada arah slip. dislokasi itu dislokasi sisi (edge dislocation). tetapi untuk kemudahan setiap dislokasi dianggap ideal dan dapat diuraikan menjadi komponen sisi dan ulir. Cacat garis (Linear Defect) or Burgers Vektor Burgers adalah parameter dislokasi yang penting. Variasi orientasi garis terhadap vector Burgers menjadikan struktur dislokasi yang berbeda.7 Skema (atas) dislokasi sisi dan (bawah) dislokasi ulir [5] 7 .2. Pada situasi deformasi manapun. dislokasi disebut dislokasi ulir (screw dislocation). maka dislokasi mempunyai energi regangan total. Dari Gambar 3.

Dislokasi ini disebut dislokasi batas butir (grain boundary dislocation) sekunder intrinsik dan perlu ada untuk mempertahankan salah orientasi batas tersebut.8 Gambaran batas punter yang terdiri dari jaringan silang dislokasi ulir [5] a dislocation (b) Pandangan atas [5] b Gambar 4.Gambar 4. screw 3. [5] Batas butir terjadi karena faktor dislokasi yang mungkin menembus masuk dari butir berdekatan dan “ledge” atau undakan (anak tangga) antarmuka yang menimbulkan lengkungan seperti perpindahan batas selama 8 .9 (a) Skema yang mempresentasikan edge dislocation. Cacat planar (inter facid defect) Dislokasi Batas butir Penerapan paling sederhana dari model dilokasi pada batas sudut kecil dan batas butir sudut besar dilakukan dengan asumsi bahwa terdapat daerah dengan kesesuain atom yang baik yang dikelilingi oleh daerah inkoheren.

Atom gas inert dapat menarik kekosongan dan membebtuk molekul gas dalam void (apabila tekanan gas tidak berada dalai kesetimbangan dengan tegangan permukaan void ) atau membentuk gelembung gas bila tekan gas cukup besar.masi dan sebagian besar energinya berasal dari energi permukaan (1-3 J/ m2). iradiasi. dan pertumbuhan butir. Besar perpindahan atom sebanding dengan jarak dari batas kembaran. [5] Gambar 4. Sedangkan butir itu sendiri adalah atom-atom yang mempunyai arah dan orientasi pertumbuhan yang sama. gelembung gas dan rongga. [5] 4. dan aliran superplastik. [5] 9 . Perubahan orientasi kisi pada permukaan batas kembaran menghasilkan struktur dengan satu bagian kristal atau butir merupakan citra sermin dari bagian lainnya. Void dan gelembung gas menimbulkan muai iradiasi dan penggetasan material. Cacat Volume (volume defect) Cacat yang menempati volume dalai kristal berbentuk void. seperti tembaga.rekristalisasi. Cacat ini dapat terjadi akibat perlakuan panas. semua sel satuan teratur dalam satu arah dan satu pola tertentu. kuningan-α dan baja tahan karat austenitik menyebabkan terbentuknya kembaran anil pada sebagian kristal konsituen.10 Void [6] c. atau defor. [5] Batas Kembaran Anil dari logam dan paduan fcc yang mengalami pengerjaan pendinginan. peluncuran butir selama creep. Batas Butir Dalam setiap butir.

5 J/m2). Oleh karena itu atom sepanjang batas butir memilki energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada dalam butir. bentuknya mungkin melengkung dan sesungguhnya memiliki ketebalan tertentu yaitu antara dua sampai tiga jarak atom. serta dua lagi berasal dari derajat orientasi permukaan batas itu sendiri terhadap kristal. Ketidakseragaman orientasi antara butiran yang berdekatan menghasilkan tumpukan atom yang kurang efisien sepanjang batas. Batas butir dapat kita anggap berdimensi dua. [5] Gambar 4.Meskipun bahan seperti tambang dalam kawat listrik terdiri dari suatu fase saja. antara dua butir yang berdekatan terdapat daerah transisi yang tidak searah dalam kedua butiran tadi. tiga berasal dari kenyataan bahwa kristal berdekatan dapat diputar sesamanya pada tiga sumbu yang tegak lurus. Kristal-kristal ini disebut butir. Jadi batas butir merubah regangan plastik dalam bahan. [5] Pada batas butir. yang merupakan antarmuka inkoheren dan mempunyai energi yang cukup tinggi (0. Bentuk butir dalam bahan padat biasanya diatur oleh adanya butir-butir lain disekitarnya.11 Batas Butir [5] 10 . benda tersebut terdiri dari banyak sekali kristal dengan orientasi yang berbeda. Pada kasus ini batas butir mempunyai lima derajat kebebasan. [5] Material mengandung berbagai cacat planar mulai dari batas butir sudutsudut besar. hingga bidang atomik dalam kristal dengan atom salah susun. Ketidakseragaman orientasi pada butir yang berdekatan mempengaruhi kecepatan gerak dislokasi. Batas butir memisahkan kristal yang mempunyai perbedaan sudut orientasi besar.

Struktur semacam ini disebut kristal. menunjukkan diagram fasa yang terdapat dalam keadaan seimbang pada berbagai suhu komposisi. pengaturan atom di dalam kristal tetap ada meskipun bentuk permukaan luarnya diubah. Hal yang sama dijumpai pada pangaturan heksagonal molekul air dalam es atau bunga salju. Dalam setiap contoh yang dikemukakan tadi. [5] Gambar 4. pola ini kadang-kadang menentukan pola bentuk luar dari kristal. kristal kwarsa (SiO2) bahkan garam meja biasa (NaCl) merupakan penampilan luar dari pengaturan di dalam kristal itu sendiri. contoh yang dapat dikemukakan adalah bentuk bintang enam bunga salju.12 Struktur Kristal NaCl [5] Pola teratur dalam jangkau panjang yang menyangkut puluhan jarak atom dihasilkan oleh koordinasi atom dalam bentuk bahan. komposisi sama dengan komposisi paduan 11 . Dengan ini dimaksudkan bahwa atomatom mengatur diri secara teratur dan berulang dalam pola 3 dimensi. 2. menunjukkan komposisi kimia untuk semua fase berimbang : a. Diagram Fasa Diagram fasa dilandaskan pada laku panas pada suatu logam baik yang terdiri dari suatu fasa atau lebih. dalam daerah fase tunggal.Semua logam. Struktur dalan kristal kwarsa tidak berubah meskipun permukaan luar tergesek sehingga membentuk butiran pasir pantai yang bulat-bulat. Diagram fasa digunakan untuk : 1. sebagian besar keramik dan beberapa polimer membentuk kristal ketika bahan tersebut membeku. Permukaan datar batubatuan mulia. [5] d. Di samping itu.

untuk menghitung fraksi kuantitas fase – fase dalam paduan dua fase secara interpolasi sepanjang isoterm. Larutan padat yang ada hubungannya dengan reaksi peritektik. Diagram Fasa Fe-Fe3C Diagram fasa Fe-Fe3C dalah diagram yang menampilkan hubungan antara temperature dan kandungan karbon (%C) selama pemanasan lambat. A.13 Diagram fase Fe3C [4] Tabel 4. 3. dalam daerah dua fase. [1] Gambar 4.2 Keterangan gambar diagram fasa Fe3C Simbol A B H J Keterangan gambar Titik cair besi/ Titik eutektik Titik pada cairan yang ada hubungannya dengan titik peritektik. 12 .b. komposisi ditentukan oleh perpotongan isoterm dengan kurva batas daya larut. Titik peritektik selama pendinginan austenit pada komposisi J fasa terbentuk pada larutan padat pada cairan dan komposisi pada komposisi B.

ES Garis yang menyatakan hubungan antara temperatur dan komposisi. besi biasanya ditempa atau mengalami pengerjaan panas sebagai bahan berfase tunggal. Titik transformasi magnetik untuk sementit. Paduan besi karbon sampai pada komposisi ini disebut baja G P Titik transformasi besi. Reaksi eutektoid ini dinamakan transformasi A1. Kelarutan maksimum dari karbon kira-kira 0. C Titik eutektoid selama pendinginan fasa dengan komposisi E dan sementit pada komposisi F (6. di mana mulai terbentuk ferrit dan austenit. ada hubungannya dengan fasa eutektoid.N Titik transformasi dari titik menjadi titik.67% C) terbentuk dari cairan pada komposisi C.02 %.14 %. Kelarutan maksimum dari karbon 2. dinamakan garis Aem. Solidus adalah batas atas untuk bentuk padat Dari diagram fase dari Fe3C(besi karbon) dapat diperoleh dari informasi sebagai berikut : 1. fasa. ada hubungannya dengan reaksi eutektoid. ferrrit pada komposisi P dan sementit pada komposisi K (sama dengan F) terbentuk simultan dari austenit pada komposisi S. 13 . E Titik yang menyatakan fasa. Liquidis adalah batas suhu terendah untuk bentuk cair. dimana mulai terbentuk sementit dari austenit. besi karbon punya daerah eutektik yang menjadi landasan dalam besi cor 2. Selama pendinginan. Titik transformasi A3 untuk besi. A2 A0 - Titik transformasi magnetik untuk besi/ ferrit. Fasa eutektoid ini disebut Ledeburit. titik transformasi A4 dari besi murni. S Titik eutektoid. dinamakan garis A3. GS Garis yang menyatakan hubungan antara temperatur dengan komposisi. Titik yang menyatakan ferrit. dan fasa eutektoid ini dinamakan perlite.

15 % Mg. Diagram Fasa Al-Si Diagram fasa Al-Si dalah diagram yang menampilkan hubungan antara temperature dan kandungan Si (%Si) selama pemanasan lambat. B. Paduan yang memerlukan perlakuan panas ditambah dengan Mg juga Cu serta Ni untuk memberikan kekerasan pada saat panas. Umumnya dipakai paduan dengan 0. bahan ini biasa dipakai untuk torak motor. sebagai tambahan ia juga mempunyai ketahanan korosi yang baik.7% Si. Paduan yang diberi perlakuan pelarutan dan dituakan dinamakn silumin γ.14 Diagram Fasa Al-Si [4] Diagram fase diatas menunjukkan diagram fase dari system Al-Si. 11.3. Karena batas kelarutan padat sangat kecil maka pengerasan penuaan sukar diharapkan. larutan padat FCC ( austenit ) terurai menjadi ferrit BCC dan karbida. tanpa kegetasan panas. larutan padat terjadi pada sisi Al. Paduan Al – Si sangat baik kecairannya. dan yang hanya distemper saja dinamakan silumin β. [1] Gambar 4. yang mempunyai permukaan bagus sekali. dan sangat baik untuk paduan coran. Ini adalah tipe eutektik yang sederhana yang mempunyai titik eutektik pada 577 oC. 14 . koefisien pemuaian yang kecil dan sebagai penghantar yang baik untuk listrik dan panas. sangat ringan.

γ.seperti kasus untuk sistem Cu-Zn. diagram fasanya mulanya terlihat ada beberapa reaksi dan titik-titik yang serupa dengan eutektik yang belum dibahas. warna. dan mengkilapnya penampang dari batang uji atau produk yang dipatahkan. satu di mana atom Zn dan Cu diposisikan dalam suatu spesifik pengaturan di dalam sel satuan masing-masing. larutan padat intermediate mungkin ditemukan komposisi yang selain dari komposisi keduanya ekstrim.15. Diagram Fasa Cu-Zn Diagram fasa Cu-Zn adalah diagram yang menampilkan hubungan antara temperature dan kandungan Zn (%Zn) selama pemanasan lambat.1 PENGUJIAN STRUKTUR MAKRO Pengujian struktur makro dari suatu kristal adalah pengujian penampang dimana bahan dinilai dari besar butir kristal.C. Pengujian yang lainnya adalah dengan jalan mengetza dan pembesaran 15 . ada enam larutan padat yang berbeda α dan η serta β. δ dan ε. Diagram Fasa Cu-Zn [4] Karena sistem campuran logam yang lain. [1] Gambar 4. [4] 4. Tahap β disebut suatu larutan padat. Sebagai tambahan.2.

Perlu diperhatikan juga bahwa dalam proses memotong. dengan memperhatikan kemudahan pemotongan pula. yaitu: a. Pada umumnya bahan komersil tidak homogen. [7] 16 . setiap proses pemotongan harus diberi pendinginan yang memadai. pengambilan sampel dilakukan pada daerah yang akan diamati mikrostruktur maupun makrostrukturnya. tergantung pada permukaan logam uji polis. dan diperiksa langsung di bawah mikroskop atau dietsa lebih dulu. Pengujian makro biasanya dilakukan perbesaran yang besarnya di bawah 50x. harus dicegah kemungkinan deformasi dan panas yang berlebihan. dan pemisahan cacat kecil setelah memoles patahan. segregasi.2. baru diperiksa di bawah mikroskop. Pemilihan sampel tersebut didasarkan pada tujuan pengamatan yang hendak dilakukan. Pengambilan sampel harus direncanakan sedemikian sehingga menghasilkan sampel yang sesuai dengan kondisi rata-rata bahan atau kondisi di tempat-tempat tertentu (kritis). pada pemolisan atau etsa. untuk pengamatan mikrostruktur material yang mengalami kegagalan. untuk kemudian dibandingkan dengan sampel yang diambil dari daerah yang jauh dari daerah gagal.struktur kristal. Sebagai contoh. Secara garis besar.2 PENGUJIAN STRUKTUR MIKRO Untuk mengetahui struktur mikro dari suatu logam pada umumnya pengujian dilakukan dengan reflek pemendaran (sinar). [ 6] Adapun beberapa tahap yang perlu dilakukan sebelum melakukan pengujian struktur mikro. [2] 4. maka sampel diambil sedekat mungkin pada daerah kegagalan (pada daerah kritis dengan kondisi terparah). Sectioning/Pemotongan Pemilihan sampel yang tepat dari suatu benda uji studi mikroskopik merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu. sehingga satu sampel yang diambil dari suatu volume besar tidak dapat dianggap representatif.

[7] Berdasarkan tingkat deformasi yang dihasilkan. gergaji kawat. Flowabilitas baik. Viskositas rendah 4. spesimen lembaran metal tipis. maka spesimen-spesimen tersebut harus ditempatkan pada suatu media (media mounting). Sebagai contoh adalah spesimen yang berupa kawat. Untuk memudahkan penanganannya. Sifat eksoterimis rendah 3. bahan mounting harus kondusif. pemotongan abrasi (abrasive cutter). celah dan bentuk ketidakteraturan yang terdapat pada sampel 8. Teknik pemotongan dengan deformasi yang besar. menggunakan low speed diamond saw. yaitu meliputi proses pematahan. Teknik pemotongan dengan deformasi kecil. [7] Secara umum syarat-syarat yang harus dimiliki bahan mounting adalah : 1. dan EDM (Electric Discharge Machining). dapat menembus pori. pengguntingan. Mounting/Pemegangan Spesimen yang berukuran kecil atau memiliki bentuk yang tidak beraturan akan sulit untuk ditangani khususnya ketika dilakukan pengamplasan dan pemolesan akhir. dll. [7] Media mounting yang dipilih haruslah sesuai dengan material dan jenis reagen etsa yang akan digunakan. Pada umumnya mounting menggunakan material plastik sintetik. penggergajian. teknik pemotongan terbagi menjadi dua. 2. Memiliki kekerasan yang sama dengan sampel 7. Bersifat inert (tidak bereaksi dengan material maupun zat etsa) 2. [7] b. Materialnya dapat berupa resin 17 . menggunakan gerinda. potongan yang tipis. Penyusutan linier rendah 5. Sifat adhesi baik 6. Khusus untuk etsa elektrolitik dan pengujian SEM. yaitu : 1.Ada beberapa sistem pemotongan sampel berdasarkan media pemotong yang digunakan.

dan semua goresan yang pada satu posisi. Persiapan. karena tidak diperlukan aplikasi panas dan tekanan. menunjukkan kekasaran dan partikel ini adalah ukuran untuk memulai operasi pengamplasan. karena dibutuhkan aplikasi tekanan (4200 lb/in2) dan panas (1490C) pada mold saat mounting. Mencuci sampel dengan air dan ganti ke ukuran selanjutnya. butir Silicon carbide per inci persegi. 800. [7] c. Atau juga dapat tahap ini ukurannya 200. 1000. Thermosetting mounting membutuhkan alat khusus. Penggunaan castable resin lebih mudah dan alat yang digunakan lebih sederhana dibandingkan bakelit. [7] Berikut adalah beberapa tahap dalam pengampelasan. 400. Selalu menggunakan tekanan langsung di pusat sampel. Lanjutkan pengamplasan hingga semua noda kasar telah dihapus. 1200. Hal ini membuat mudah untuk dilihat ketika goresan semuanya telah dihapus. 1500. Ukuran 180. 1200. yaitu : 1. atau bakelit. permukaan sampel rata. Material ini berupa bubuk yang tersedia dengan warna yang beragam. Namun bahan castable resin ini tidak memiliki sifat mekanis yang baik (lunak) sehingga kurang cocok untuk materialmaterial yang keras. 240. Teknik mounting yang paling baik adalah menggunakan thermosetting resin dengan menggunakan material bakelit.(castable resin) yang dicampur dengan hardener. Setelah operasi pengamplasan selesai pada ukuran amplas 1500. 400. tahap ini adalah tahap dimana melakukan pemilihan amplas yang dimulai dengan menggunakan amplas dengan nomor yang paling rendah (kasar) dan juga ditambah dengan penggunaan air dengan tujuan supaya tidak terjadi gesekan antara permukaan 18 . Grinding/Pengamplasan kasar Grinding dilakukan dengan menggunakan disc pengamplasan ditutup dengan Silicon carbide kertas dan air. yaitu 180. cuci sampel dengan air diikuti oleh alkohol dan keringkan sebelum dipindah ke polish. Ada sejumlah ukuran amplas.

[7] Faktor–faktor yang mempengaruhi antara lain : 1. 2. posisi dari pemolisan mungkin akan berubah. tidak boleh ada goresan yang merintangi selama pengujian. tekanan juga berpengaruh pada proses pemolisan sebab apabila terlalu menekan. Waktu: selain ketiga faktor tersebut yang perlu diperhatikan lagi adalah faktor waktu.spesimen dengan amplas yang dapat mengakibatkan percikan bunga api. Rough Lap. Pemolisan: dalam melakukan pemolisan sebaiknya dilakukan dengan satu arah agar permukaan spesimen yang dipolis dapat berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama dan juga tidak terjadi adanya scratch. Tekanan: pada waktu melakukan pemolisan. [7] d. [7] 2. Polishing Tahap polishing bertujuan untuk menghasilkan permukaan spesimen yang rata dan mengkilap. Kain yang biasa digunakan adalah beludru. [7] Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan pada “finish lap“dilakukan secara bertahap dimana tahap–tahap tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat pemolisan yang lebih halus. katun. adalah tahap menghaluskan permukaan dari spesimen dengan menggunakan amplas dari nomor rendah (nomor 360) ke nomor yang paling tinggi (nomor 1500) sampai permukaan dari spesimen yang diuji rata dan tidak ada lagi scratch pada material bila dilihat di mikroskop. Kebersihan kain: Faktor ini berpengaruh karena apabila dalam melakukan pembersihan tidak sampai dalam keadaan bersih maka pada waktu dalam tahap pengetzaan sisa autosol maupun air dapat terlihat jelas dalam mikroskop. dll. Contoh: kain dan beludru [7] 3. dalam melakukan pemolisan kita harus menunggu selama beberapa menit (kurang lebih lima menit) supaya 19 . [7] 4.

[7] Meskipun dalam mikrography beberapa informasi sudah dapat diketahui tanpa proses etching. Hanya reaktan.16 Bagan berbagai jenis pengetsaan 20 . celah.permukaan spesimen menjadi rata. selebihnya diperlukan etching. [7] e. Specimen yang akan dietching harus dipolish secara teliti dan rata serta bebas dari perubahan yang disebabkan deformasi pada permukaan spesimen. pori. dan 20nsure nunmetalik lainya yang dapat diamati hanya dengan polishing. pullout. tetapi mikrostruktur suatu material biasanya baru dapat terlihat setelah dilakukan pengetsaan. dan goresan. Attack (etching) Etching digunakan dalam metallography untuk memperlihatkan mikrostruktur dari specimen dengan menggunaka mikroskop. dan hal ini disesuaikan dengan setiap campuran logam. alur material. [7] Etching With changing surface of microsection Without surface of icrosection Optical Enhancement Dark Field Electrochemical Etching Physical Etching Anodizin g Polarized Light Classical Chemical Etching Ion Etchin g Thermal Etching Phase Contrast Potentiostati c Etching Magneti c Etching Evaporation of Interverence Layers Interference Contrast Gambar 4.

Mengidentifikasi fasa pada suatu spesimen (Anodizing process). [7] Tabel 4. menjaga kejernihan objek. 100ml etanol (95%) atau methanol (95%) Proses  Dicelup dalam reaktan selama 1-5 detik. kuningan atau Cu Alloy Larutan I : 25 ml NH4OH. Memberi warna pada permukaan benda uji sehingga tampak jelas ketika diamati dengan mikoskop. Untuk mendapatkan foto mikrografi yang tajam. dan lubang diagram serta kecepatan fokus. pelurusan pencahayaan. baja. kemudian dibilas dengan air lalu dikeringkan  Teknik swabing Aluminium Keller’s HNO3 2. 50 ml H2O2 (3%) Larutan II : 5 gr FeCl3. 100 ml aquades  Dicelup 1-10 detik. 95 ml aquades  Dicelupkan ke dalam reaktan selama 1-5 detik. penyesuaian daerah pengamatan. HCL 1. besi paduan Reaktan Nital HNO3 1-5 ml.3 Reaktan untuk proses pengetsaan [18] Material Besi. Meningkatkan kontras antar butir dan batas butir. (Color Enhancement) 2. variabel berikut harus terkontrol yaitu penghilangan getaran. Menimbulkan korosi sehingga memperjelas batas butir 3.5 ml. penyesu-aian warna cahaya terhadap korelasi objek. kemudian dibilas air lalu dikeringkan f. kemudian dibilas dengan air lalu dikeringkan dan didiamkan selama 24 jam Tembaga. HF 1 ml. Foto (pemotretan) Dimaksudkan untuk mendapatkan gambar dari struktur kristal yang dimaksud. (Optical Enhancement of Contrast) 4.5 ml.Secara umum tujuan dari etching adalah: 1. [9] 21 .50 ml HCL. 25 ml aquades.

Sifatnya dapat diubah dengan mengubah karbon e.0 wt%. ada ribuan campuran logam. Mudah dibentuk c. yang mempunyai perlakuan bahan dan atau komposisi berbeda.3 MATERIAL UJI Dalam praktikum menggunakan material uji. Sifat mekanis adalah sensitif kepada isi dari karbon. Sebagian dari baja umum digolongkan menurut konsentrasi karbon. paku. Tangguh dan ulet b.2.[2] Baja merupakan paduan besi (Fe) dengan karbon (C).wirmush dan sebagai bahan baku untuk wealed fabrication(kisi-kisi jendela/pintu. dimana kandungan karbon tidak lebih dari 2%. yakni ke dalam rendah.32 Gambar Diagram Fasa Besi Karbon[24] 22 . pagasr dan jeruji) Gambar 4. Sifat Kekuatannya Tinggi Baja banyak digunakan karena : a. dan jenis karbon tinggi. Mudah diproses d. Sifatnya dapat diubah dengan perlakuan panas Aplikasi baja : Digunakan untuk kawat. Baja Baja adalah besi karbon campuran logam yang dapat berisi konsentrasi dari elemen campuran lainnya .4.antara lain: 1. medium. yang mana secara normal kurang dari 1.

Bahan baja walaupun dari jenis yang paling rendah kekuatannya. Ingot baja digilas dengan dua rol yang berputar dengan jarak tertentu. Hasil keluaran dari tungku berupa massa-massa besi kasar dalam ukuran yang besar. Proses penggilasan ini dilakukan berulang-ulang disertai dengan perlakuan panas agar dapat dicapai mutu tertentu. namun baja mempunyai kelemahan yaitu ketahanan terhadap korosinya rendah. molibden. tetap memiliki perbandingan kekuatan per volume lebih tinggi bila dibandingkan dengan bahan-bahan bangunan lainnya. Walaupun baja lebih sering digunakan. silikon. keliatan kemungkinan dapat dilas. dan vanadium. belerang. Duktilitas Sifat dari baja yang dapat mengalami deformasi yang besar dibawah pengaruh tegangan tarik yang tinggi tanpa hancur atau putus disebut sifat duktilitas Proses Pembuatannya : Baja dibuat dengan bahan dasar biji besi dan besi tua ditambah kokas dan oksigen diolah dalam tungku temperatur tinggi. titan. atau oleh tegangan tarik batas. logam lain perlu ditambahkan. blok atau billet.Dewasa ini baja bisa diproduksi dengan berbagai-bagai kekuatan yang bisa dinyatakan dengan kekuatan tegangan tekan lelehnya. mangan. ζy . Besi kasar ini masih kotor dan Kotoran dan karbon yang mengandung karbon yang berlebihan. kelebihan ini dihilangkan dengan cara menghaluskan besi tersebut. Baja dapat dipadukan (2 atau lebih unsur digabung sehingga dihasilkan sifat lain). yang disebut pigs dan pig irons. Untuk memperoleh mutu tinggi yang berkaitan dengan kekuatan. nikel. dan ketahan terhadap karat. columbium. Hasil ini siap dikirim ke pabrik penggilingan baja untuk dibentuk sesuai dengan keperluan. ζu. krom. Pemngolahan didalam tungku ini menghasilkan ingot baja. 23 . Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah plat tebal. pospor. Beberapa logam ini antara lain tembaga.

24 . Pengaruh Belerang (S) Kadar belerang ini harus serendah mungkin. 3. a. (a) perlit terbentuk dari transformasi austenit () dengan komposisi eutectoid (b) Speroidit terbentuk sewaktu tempering pada 7000C [1] Pengaruh unsur-unsur terhadap baja. Larutan padat α → kelarutan pada suhu kamar sangat kecil b. Perlit → α + Fe3C 2.33 Struktur mikro baja eutectoid (0. Larutan padat/solid solufion (dapat memperbaiki sifat fisik/kimia) b. sehingga FeS mempunyai titik cair yang rendah. dapat memperbaiki sifat mekanik) Gambar 4. Pengaruh karbon (C). Pengaruh Silikon (Si) Berfungsi sebagai deoksidan. Pengaruh Mangan (Mn) Berfungsi sebagai deoksidan. Senyawa → Fe3C c. mengikat belerang (S) → MnS.Hasil pemaduannya yaitu : a. dan memperhalus perlit sehingga kekuatan dan ketangguhannya tinggi.8 %C) (2500 X). membentuk: Semakin besar pengaruh karbon maka kekerasan/kekuatan bajanya semakin tinggi. Senyawa (lebih keras dari larutan padat. yaitu : 1. 4.

Pengaruh Aluminium (Al) Berfungsi sebagai deoksidan.C : ST 40[25] 25 . Klasifikasi baja didasarkan pada : a. Ultimate Strength 25 % f. Al2O3 akan mengambil tempat pada batas butir yang berfungsi sebagai penghalus butir dan mencegah pertumbuhan butir pada saat pemanasan. Yield Strength minimal 23 kgf/mm2 e. Kekerasan yang diperoleh dengan metode Brinell 129 – 140 kgf/mm2 ST 40 termasuk baja dengan kandungan karbon kurang dari 0. Pengaruh Fosfor (P) Kadar fosfor ini harus serendah mungkin sehingga Fe3P → getas.25 % d.3 %. Kekuatan tarik 42 – 50 kgf/mm2 b. Bentuk dan ukuran Baja ST 40 Sifat mekanik baja ST 40 a. Kandungan karbon 0. Gambar 4. Perpanjangan minimal 20 % dari panjang semula c.34 Diagram fasa Fe. Komposisi b. Metoda pembuatan d. letak ST 40 disebelah kiri warna merah.5. 6. Pada diagram fasa Fe – C diatas. Kekuatan c.

b. paku.Gambar 4. Digunakan untuk kawat. dan sebagai bahan baku untuk welded fabrication (kisi-kisi jendela atau pintu. pagar. wire mesh. 26 .35 Struktur mikro baja ST – 40 perbesaran 100x [1] Gambar ST 40 dengan pendinginan udara perbesaran 550x [1] Gambar ST 40 seteleh pendinginan air perbesaran 500x [1] Aplikasi Baja ST 40 : a. Aplikasi khusus seperti untuk kawat elektroda berlapis untuk keperluan pengelasan. dan jeruji).

25% < C < 0. 7.36 Strutur Mikro Baja ST – 60 perbesaran 200x [26] 27 . Ni Maks.70 .30 baja ST 60 memiliki sifat mekanik sebagai berikut: 1.0. Mo 0. 0.80 .90.35. ST-60 memiliki nilai kekerasan yang lebih tinggi daripada ST-40. Perpanjangan (e). 6. 0. kekeras yang tinggi dan tangguh.040.040 S Maks.4 . Memiliki kekuatan tarik sebesar 60 kgf/mm. Area Reduksi (A) 53. Si Maks.Baja ST 60 Baja ST 60 merupakan material yang banyak dipakai sebagai bahan dasar dari peralatan-peralatan berat atau dapat juga untuk peralatanperalatan otomotif.P Maks.55%. seperti untuk roda gigi.8 % 5. Mn Maks.0. dimana bagian–bagian tersebut membutuhkan sifat tahan aus. 8.poros dan berbagai peralatan berat lainnya. Tegangan Luluh () 1100 Mpa 2. Kandungan Material dalam komposisi kimia (%berat) baja ST 60 terdiri dari unsur C 0.35 .0.83. Gambar 4. Memiliki nilai kekerasan antara 170-195 (kgf / mm²). 1. Cr 0.20 . Kandungan karbon dalam kategori sedang antara 0.0. 0. 13 % 4. Kekuatan Tarik 1174 Mpa 3.

besi cor merupakan bahan yang murah dan serba guna ditinjau dari segi desain produk. Jadi. Karena itu.Gambar St 60 pendinginan udara perbesaran 500x [1] Gambar ST 60 pendinginan air perbesaran 500x[1] 2. dan diperlukan usaha khusus untuk 28 . Dari diagram Fe3C dapat diketahui bahwa pada 4. Hal ini menguntungkan oleh karena mudah dicairkan. suhu cairnya relatif rendah (~ 1200 °C). suhu ausetetik 1148oC. pemakaian bahan bakar lebih irit dan dapur peleburan lebih sederhana. Besi cor biasanya mengandung silikon sekitar 1% . Besi Cor Besi cor sebenarnya merupakan paduan eutetik dari besi dan karbon.3 %. Hal ini diakibatkan oleh karena silikon memang tertinggal dalam besi selama proses produksi.5%-4% Sebetulnya besi cor lebih kompleks dari paduan eutektik sederhana. besi cor berada di daerah eutentik dan mengandung 2.3% ( berat )karbon. Logam cair mudah dicor karena dapat mengisi cetakan yang rumit dengan mudah.

Akan tetapi yang penting adalah peran silikon dalam produk akhir. Besi cor perlakuan panas dengan pendinginan udara Besi cor meruapakan material yang sangat keras yang disebabkan kadar karbonnya lebih banyak dibandingkan dengan material yang lain. Terlihat serpihan (flakes) dan sebagian besar strukturnya martensite. Besi cor kelabu sangat rendah keuletannya dan merupakan peredam getaran yang baik. yaitu: a. Besi cor kelabu Besi cor dengan serpih grafit yang bila patah mempunyai permukaan patah berwarna kelabu. Gambar 4.38 Struktur besi cor perlakuan panas dengan pendinginan udara perbesaran 500x [1] 29 .menurunkannya.37 Struktur besi cor kelabu perbesaran 105x [1] b. Gambar 4. Ada 3 jenis besi cor yang di uji .

Oksigen adalah unsur yang penting yang berhubungan erat dengan kadar hydrogen dan belerang. Dengan oksida yang banyakpada temperature tinggi dapt menyebabkan kegetasan hydrogen. Tembaga ( Cu ) Tembaga murni untuk keperluan industry dicairkan dari tembaga yang di proses dengan elektrolisa.c. [12] 30 . untuk mencegah ini dipergunakan tembaga dioksidasi atau tembaga bebas oksigen dalam tembaga murni untuk keperluan industri biasa terdapat unsure-unsur gas yang memberikan pengaruh terhadap berbagai sifat. Besi cor perlakuan panas dengan pendinginan air menunjukan terjadi serpihan (flakes) dan struktur mikro logam umumnya martensite. Kalau O terkandung dalam tembaga unsure-unsur pengotor dapat mengendap sebagai oksida maka jumlah laruta padat utuk menaikkan hantaran listrik menjadi kurang.39 Struktur besi cor perlakuan panas dengan pendinginan air perbesaran 500x [1] 3. Gambar 4. dan diklasifikasikan menjadi tiga macam menurut kadar oksigen dan cara oksidasi yaitu tembaga ulet tembaga dioksidasi dan tembaga bebas oksigen.

Panas oksidasi yang dihasilkan cukup tinggi sehingga muatan tetap cair dan sulfida tembaga akhirnya berubah menjadi oksida tembaga atau sulfat. tahan korosi b. FeO. besar. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga-besi yang tersisa atau matte dituangkan ke dalam konverter. kekuatan tarik jauh lebih e. gelang c. Mula-mula bijih digiling dan dicampur dengan batu kapur dan bahan fluks silika. dapat dipadu dengan unsur lain. kotoran-kotoran teroksidasi dan besi membentuk terak yang dibuang pasa delang waktu tertentu. Sulit dituang. Chalcopirit merupakan campuran Cu2 S dan Cu Fe S2 dan terdapat dalam tambang-tambang dibawah permukaan tanah. Udara dihembuskan ke dalam konverter selama 4 atau 5 jam. Kemurnian tembaga blister adalah 98-99 % lalu dilebur dan dicor menjadi slab. Bila aliran udara dihentikan oksida kupro bereaksi dengan sulfida kupro membentuk tembaga blister dan dioksida belerang. liat. sulit dilas. Tepung bijih dipekatkan terlebih dahulu sesudah itu dipanggang sehingga terbentuk campuran FeS. daya liStrik cukup baik. SiO2 dan Cus. Proses Pembuatan : Tembaga diperoleh dari bijih tembaga yang disebut chalcopirit. Kekuatan tarik : 200 N/mm2. 31 . Sifat pantul panas juga besar → dapat untuk bahan isolasi g. lemah. paking d. karena liat → dipakai untuk pekerjaan dengan perubahan bentuk. Daya hantar panas. Pada suhu rendah. Baik untuk teknik pendingin f.Di alam berupa : bijih yang bersenyawa dengan belerang ( bijih sulfida ) atau berupa bijih oksida sifat-sifat tembaga : a. Paduan tembaga antara lain. Campuran ini yang disebut kalsin dilebur dengan batu kapur sebagai fluks dalam dapur reverberatory. perunggu dan kuningan.

Dengan penambahan unsur Mg. Cu.Bauksit (Al2O3.2H2O) 32 . sedangkan pada temperatur tinggi disebut penuaan buatan.Gambar 4. CaCO3 dan TiO8 sehingga harus dimurnikan dengan zat kimia asam atau basa untuk mendapatkan aluminium murni.2SiO2. [20] Bahan baku : bijih alumunium: 1. [20] Kandungan aluminium yang terdapat di alam berupa senyawa bauksit (Al2O3. Alumunium Aluminium merupakan logam ringan mempunyai ketahanan korosi yang baik dan hantaran listrik yang baik. [20] Perlakuan panas pada aluminium berupa pengerasan presipitasi (pengerasan penuaan). Mn. Zn dan Ni secara satu persatu atau bersamaaan akan meningkatkan sifat mekanik.Kaolin (Al2O3. Perubahan sifat dengan berjalannya waktu dinamakan penuaan alamiah. ketahanan aus dan koefisien pemuaian rendah.2H2O) dan kaofin (AL3O32SiO22H2O).(120 0C-180 0C).41 Struktur Mikro Tembaga perbesaran 1000x[1] 4. Biji aluminium tersebut masih mengandung pengotor SiO2 (bersifat asam). FeO2(basa).2H2O) 2. ketahanan korosi. Si.

Pb. mampu mesin. Al. h. dsb. Unsur-unsur yang dipadukan terutama Mn. a. Lunak. 33 . Bisa dibuat cat alumunium Titik cair 650 °C Pemakaian pada teknik pesawat.7x103 kg/m3 Kekuatan tarik 10 kg/mm3 Dapat dituang Regangan : 18 – 25 % Daya hantar panas baik. liat. lebih keras daripada Sn dan lebih lunak daripada Zn b. f. daya refleksi panas besar. Berat jenis : 2. Fe. Kuningan Kuningan merupakan perpaduan antara tembaga dan seng. d. i. sehingga tidak membentuk fasa baru hanya mengubah perbandingan antara fasa α dan β. Unsur-unsur ini larut padat dalam α dan β. daya hantar listrik baik g. kapal 5. c. disebut kuningan khusus. e. ketahanan aus. dsb. Kuningan khusus Kuningan yang dicampur unsur ketiga untuk memperbaiki ketahanan korosi.42 Struktur Aluminium Silikon dengan kadar silikon yang berbeda perbesaran 100x[1]5 Sifat alumunium : a. Sn. warna putih kebiru-biruan. Ni.Gambar 4.

kawat dll. Paduan Cu dan Zn : a. tembaga. Sn memperbaiki ketahanan korosi dan sifat-sifat mekaniknya kalau ditambahkan dalam daerah larutan padat.5 sampai 2. b. 2% Fe. b.5% Al dapat dipergunakan untuk pipa kondensor dsb. Kuningan Kepal Cu = 58 s.Pb larut padat dalam kuningan hanya sampai 0. tidak melebihi jumlah 3-5%. Kuningan Paten Cu 40 % dan Zn 60 % untuk memateri perunggu. 80 % sisanya Zn. Kuningan berkekuatan tarik yang tinggi Kuningan yang berkekuatan tarik yang tinggi dibuat dari kuningan 60-40 dengan paduan 5% Mn.d. Ni memberikan pengaruh sama dan memperbaiki sifat-sifatnya sesuai dengan jumlah yang ditambahkan.d. sering ditambah Pb = 3% untuk mengurangi sifat rapuh. dan 2% Al. plat. biasa digunakan untuk pipa. Al adalah efektif untuk memperhalus butir kristal dan memperbaiki ketahanan korosi terhadap air laut jadi paduan ditambah 1. dan kelebihannya mengendap dalam batas butir dan di dalam butir terdispersikan secara halus yang hal ini memperbaiki mampu mesin dan membuat permukaan yang halus oleh karena itu dipergunakan untuk roda gigi pada jam yang dibebani secara ringan. 34 . Kuningan Tuang Cu = 60 s. dan loyang.4%. lalu diolah lebih lanjut secara elektrolit menjadi tembaga murni. yang bisa ditambahkan sampai 10. c. 60 % dan sisanya Zn.

43 Struktur Mikro Kuningan[19] 4. PengUjian logam hasil pengelasan yang terdiri atas kekerasan. Mula-mula dua potongan pelat paduan Al6061 dilas dengan menggunakan lasan GTAW dan filler dari paduan Al-4043. daerah terpengaruh panas (HAZ) dan daerah logam lasan.2.Pengerjaan Dingin 33% perbesaran 1000x 3 Sek pada 580º C perbesaran 1000x 4 Sek pada 580º C Perbesaran 200x 8 Sek pada 580º C Perbesaran 200x Gambar 4. Telah dilakukan percobaan untuk mengamati pengaruh pengelasan terhadap kekerasan dan mikrostruktur paduan Al6061. mikrostruktur dan komposisi kimia dipilih pada daerah logam induk. KOMPOSISI KIMIA DAN KEKERASAN HASIL PENGE-LASAN PADUAN Al-6061.4 APLIKASI PENGUJIAN MIKRIGRAFI PEMERIKSAAN MIKROSTRUKTUR. Dari pengUjian kekerasan Rockwell F terlihat bahwa kekerasan tertinggi dicapai 35 .

68 % berat.5μm.4 RF. 15.68 % berat. HAZ dan logam lasan. yakni masing-masing sebesar 66. columnar dan equiaxial.9 μm dan 19. kemudian di derah HAZ (56. HAZ dan logam lasan masingmasing berbentuk cill. Dari pengukuran ukuran butir dapat diketahui bahwa ukuran butir pada logam induk.4 RF. pada daerah lasan dan HAZ tidak terdapat unsur Mg. Pada pengamatan mikrostruktur. Untuk unsur Mg. columnar dan equiaxial.5 RF). Dari proses pengelasan paduan Al-6061 yang dilasan dengan teknik GTAW dengan logam pengisi Al-4043 dapat disimpulkan bahwa.8 RF. Sementara itu.[27] 36 . maka unsur oksigen terbesar terdapat pada logam lasan yakni sebesar 6. kekerasan logam berkurang dari logam lasan (wel metal) ke arah HAZ dan logam induk.14% berat. HAZ dan logam lasan masing-masing sebesar 13.8 RF) dan logam lasan (54. Dilihat kandungan unsur oksigen yang terbentuk sebagai oksida. 56. Hasil pemeriksaan mikrostruktur menun-jukkan dari logam induk ke tengah/daerah lasan terlihat masing-masing mempunyai bentuk butir cill. terlihat bahwa bentuk butir logam induk. dan 56. dari analisis komposisi unsur dengan menggunakan EDS terlihat perbedaan kandungan logam Si antara logam induk.4 μm. dari analisis komposisi kimia dengan menggunakan SEM-EDS terlihat bahwa kandungan unsur Si dan O tertinggi pada logam lasan.8 RF. Sementara itu. yakni masingmasing sebesar 10. yang mana kandungan Si yang paling tinggi terdapat pada logam lasan yakni sebesar 10.pada daerah logam induk yakni sebesar 66.14% dan 6.

TEMBAGA 9. ST 60 PERLAKUAN UDARA 7. Reaktan untuk etza Gambar 4. BESI COR PERLAKUAN UDARA 12.23 Reaktan HNO3 + Alkohol 2. ST 40 NON PERLAKUAN 2.3 PERALATAN DAN BAHAN PENGUJIAN Dalam melakukan praktikum mikrografi maka kita tentunya membutuhkan alat dan bahan sebagai berikut : 4. KUNINGAN 10.4.3. ST 40 PERLAKUAN AIR 3. ST 60 PERLAKUAN AIR 6. ALUMINIUM 8.1 BAHAN PENGUJIAN Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum Mikrografi adalah: 1. ST 60 N0N PERLAKUAN 5. BESI COR NON PERLAKUAN 11. BESI COR PERLAKUAN AIR 37 . ST 40 PERLAKUAN UDARA 4. Material uji 1.

3. Polisher (Beludru) Gambar 4. Polisher – Grinder (amplas) Gambar 4.2 PERALATAN PENGUJIAN Adapun peralatan yang digunakan dalam praktikum mikrografi adalah: 1.25 Kain Beludru 38 .4.24 Mesin Polisher-grinder 2.

Gelas Kimia Gambar 4.27 Mikroskop 39 .3.27 Amplas 5. Mikroskop Gambar 4. Amplas Gambar 4.26 Gelas Kimia 4.

Cuci benda uji yang telah dietza dengan aquades kemudian keringkan sebelum diamati pada mikroskop. Pengamplasan dilakukan dalam keadaan basah untuk menghilangkan panas dan pengotor pada benda uji. dan peralatan yang akan digunakan. 5.3. Sebelum melakukan pengetzaan. Potret gambar apabila gambar yang diperoleh tampak jelas sesuai perbasaran pada mikroskop 40 .\ 4. Siapkan material yang akan dilihat struktur mikronya. permukaan benda uji harus sudah halus dan datar. 4.3 LANGKAH PERCOBAAN 1. 2. Pasang amplas pada mesin pemolis. 3. dimulai dari polis yang paling kasar. Pengetzaan dilakukan dengan mencelupkan material ke dalam reaktan beberapa saat. 6. kemudian amplas nomor 1500 dan yang terakhir menggunakan amplas yang paling halus yaitu nomor 2000. mengganti amplas dengan amplas yang agak halus yaitu amplas nomor 1000. Setelah cukup rata. Kemudian polis menggunakan autosol.

28 Diagram alir metode percobaan 41 .4 DIAGRAM ALIR PERCOBAAN Start Menyiapkan peralatan dan material uji (spesimen) Mengamplas permukaan spesimen tidak Permukaan Specimen Rata ya Polising permukaan spesimen tidak Tidak ada goresan ya Etching Pemotretan Finish Gambar 4.4.3.

52 struktur mikro baja ST 40 (a) teori perbesaran 1000x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Baja ST 40 non perlakuan Nital HNO3 dan ethanol 500x Secara teori ST 40 memiliki nilai kekerasan yang lebih rendah daripada ST 60 maupun besi cor. Perbedaan hasil ini dikarenakan pada saat pengetsaan terjadi kesalahan. Gambar diatas menunjukkan adanya perlit dan ferit.1 ANALISA PENGUJIAN 1. Terlalu cepat pencelupan pada saat pengetsaan akan mengakibatkan gambar berbeda dengan teori yang ada.4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.4. 42 .52a menunjukan warna hitam sebagai perlit. Sedangkan dalam hasil percobaan ferrit tidak Nampak karena hanya terlihat struktur karbon yang yang berwarna kekuningan. ST 40 non perlakuan (a) (b) Gambar 4. Dari gambar diatas swecara teori ferrit di tunjukan oleh gambar 4.4.

53b menunjukan gambar ST 40 setelah diquenching dengan air. menunjukan bainite lemah dengan garis garis hitam.53b Strukturnya hamper sama dengan teori yang terlihat ferrit dan bainite akan tetapi focus dari gambar kurang jelas sehingga kurang terlihat pasti. Gambar yang dihasilkan kurang jelas dibagian samping berarti permukaan spesimen yang kurang rata. ST 40 perlakuan panas dengan pendingan air (water quenched) (a) (b) Struktur 4. 43 .sedangkan pada gambar hasil praktikum 5.2.53 mikro baja ST 40-air(a) teori perbesaran 550x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Baja ST 40 pendinginan air Nital HNO3 dan ethanol 200x Dalam gambar teori 5.dalam gambar terlihat ferrit dengan warna putih dan warna hitam. Dalam melakukan pengetsaan sudah dilakukan dengan benar dan dengan etsa yang tepat karena spesimen ini sudah mempunyai warna yang jelas.

54b yang menunjukan pearlit dan ferrit dengan kuantitas ferrit lebih banyak.54 mikro baja ST 40-udara (a) teori perbesaran 500x (b) percobaan perbesaran 1000x Material Etsa Perbesaran Baja ST 40 pendinginan udara Nital HNO3 dan ethanol 1000x Dari gambar teori gambar 5.Struktur pearlit lebih sedikit dari pada ferrit. ST 40 perlakuan panas dengan pendinginan udara (a) (b) Struktur 4.45a menunjukan gambar struktur mikro ST 40 yang telah di quench oleh udara dalam gambar tersebut terlihat struktur pearlit yang hitam dan ferrit yang warna kelabu.hal yang sama di tunjukan gambar pada hasil percobaan 4. 44 . Hasil diatas sebenarna sudah sesuai dengan teori yang ada akan tetapi kemungkinan dalam pengamplasan yang kurang halus akan mengakibatkan hasil yang kurang baik.3.

Kerataan permukaan miring sehingga refleksi sinar tidak seragam. ini mungkin dikarenakan permukaan spesimen yang masih kurang rata.dalam gambar terlihat berbeda karena hanya perbedaan perbesaran dalam mikroskop.55 struktur mikro Baja ST 60(a) teori perbesaran 200x dan (b) percobaan perbesaran 1000x Material Etsa Perbesaran Baja ST 60 non perlakuan Nital HNO3 dan ethanol 1000x Secara teori ST 60 lebih banyak mempunyai kandungan karbon dari pada ST 40. 45 .55a menunjukan kandungan karbon yang banyak dari suatu struktur mikro ST 60.hal ini di buktikan secara teori yaitu gambar 4.55b dengan mempunyai gambar yang sama dengan gambar 4. Pengetsaan yang dilakukan sudah tepat dengan larutan yang benar tetapi gambar pada bagian kiri bawah agak buram atau kurang fokus. Hal itu di tunjukan dengan gambar teori 4.55a yang menunjukan struktur karbon dari ST 60. ST 60 non perlakuan (a) (b) Gambar 4.4.

46 . ST 60 perlakuan panas dengan pendingan air (water quenched) (a) (b) Gambar 4.56 struktur mikro Baja ST 60-air(a) teori perbesaran 500 x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Baja ST 60 pendinginan air Nital HNO3 dan ethanol 500x Dari gambar diatas dapat kita lihat perbandingan dua gambar hasil secara teori dan hasil dari percobaan. fokusnya sudah baik.56(a) menunjukan gambar baja ST 60 dengan pendingian air dan setelah di lihat hasilnya menunjukan yang gelap (hitam )menunjukan bainite dan yang gelap adalah martensite. ini karena pada waktu pemotretan. Gambar yang dihasilkan tampak jelas.5. Dalam gambar haisl percobaan juga menunjukan hal yang demikian gambar hitam menunjukan bainite dan yang putih menunjukan adanya struktur martensit di dalamnya Pengetsaan yang dilakukan berhasil karena pada gambar struktur mikro baja ST 60 perlakuan panas dengan pendinginan airini sudah timbul warna yang jelas.Pada gambar 4.

Pengamplasan sudah rata dan menunjukan hasil yang bagus Pengetsaan yang dilakukan berhasil karena pada gambar struktur mikro baja ST 60 perlakuan panas dengan pendinginan airini sudah timbul warna yang jelas. Dalam gambar 4.57a menunjukan adanya struktur mikro pearlite (hitam) dan struktur mikro ferrite putih. ST 60 perlakuan panas dengan pendinginan udara (a) (b) Struktur 4.57 mikro baja St-60 udara(a) teori perbesaran 500x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Baja ST 60 pendinginan udara Nital HNO3 dan ethanol 500x Dari gambar 4.hal serupa ditunjukan dalam gambar hasil dari pengujian (4.57a menunjukan struktur mikro yangterbentuk karena proses pendinginan dengan udara. Gambar yang dihasilkan tampak jelas. ini karena pada waktu pemotretan. 47 . fokusnya sudah baik.6.57b) pada gambar juga menunjukan gambar hitam dan putih dengan kata lain sama persis secara teori.

HCL aquades 500x Aluminum mempunyai keuletan yang cukup tinggi tetapi tingkat kekerasannya rendah .7. Aluminium (a) (b) Gambar 4. 48 . Foto pada gambar cukup fokus. Pada foto terlihat permukaan yang tidak rata dengan warna tiap butir yang tidak terlalu berbeda. Pengetsanan pada spesimen ini sudah benar dalam menggunakan larutan etsa dan lamanya mencelupkan spesimen ke dalam larutan etsa. akan tetapi perbesaran yang dilakukannkurang sehingga gambar masih kurang jelas. Batas butir tidak terlihat jelas sehingga sulit membedakan antara butir yang satu dengan yang lain. Dan pencahayaannya cukup terang.58 struktur mikro Aluminium(a) teori perbesaran 100x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Aluminium Kellers HNO3 . HF .

60b gambar menunjukan kurang jelas struktur-struktur dari tembaga seperti yang ditunjukan oleh gambar 4. Tembaga (a) (b) Gambar 4.60a. Hal itu mungkin karena perbesaran yang kurang optimum sehingga gambar kurang jelas.60a menunjukan struktur dendrite yang baik terlihat semua .60 struktur mikro (a) teori perbesaran 1000x dan (b) percobaan perbesaran 1000x Material Etsa Perbesaran CuFeCl3 NH4OH. aquades.8.Karena perbesaran sangat lah penting dalam mengamati struktur mikro yang terlihat 49 . akan tetapi pada pengamatan untuk gambar 4. H2O2 (3%) 1000x Dalam gambar diatas menunjukan struktur dari tembaga atau Cu. Dalam gamabar 4.

Batas butir tidak terlihat jelas sehingga kurang dapat dibedakan antara butir yang satu dengan yang lain. Karena kadar tembaga yang lebih besar menyebabkan kuningan bersifat lunak. Unsur tembaga pada gambar terlihat berwarna merah.9. Kuningan (a) (b) Gambar 4.62b Terlihat adanya perlit yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Hal itu mungkin disebabkan pengetsaan yang kurang tepat. Tidak terlihat adanya scratch pada gambar. sementara seng terlihat berwarna kuning. H2O2 (3%) 1000x Kuningan merupakan paduan antara tembaga dan seng dimana kadar tembaga lebih besar daripada seng. aquades.terlalu cepat mengetsa maka akan mempengaruhi hasil dari struktur mikro yang terlihat 50 . Pada Gambar 4.62 struktur mikro kuningan (a) teori perbesaran 1000x dan (b) percobaan perbesaran 1000x Material Etsa Perbesaran Kuningan NH4OH.

Fokus dari kamera sudah baik. Cahaya sangat terang sehingga dapat terlihat jelas adanya goresan masih pada gambar baja cor non perlakuan.66 struktur mikro Besi cor non perlakuan(a) teori perbesaran 105x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Cor non perlakuan Nital HNO3 dan ethanol 1000x Dari gambar baja cor non. Batas butir terlihat jelas sehingga dapat dibedakan batas antara butir yang satu dengan yang lain Tampak pula jumlah ferrit lebih banyak dari ferrit.. 51 . terlihat dengan jelas. perlit bagian yang kelabu dan ferit bagian yang terang.10. Dari struktur mikronya terlihat bahwa besi cor memiliki matrik sementit yang berasal dari austenit dan terlihat pula serpihan grafit (grafit flakes) yang berwarna gelap. hal ini disebabkan proses polishing yang kurang baik. Grafit tersebut menambah kekerasan bahan. Besi cor non perlakuan (a) (b) Gambar 4.

Dari gambar 4. 52 .67b gambar juga terlihat ada flakes dan struktur martensitenya menyebar. Besi cor perlakuan panas dengan pendinginan udara ( Normalizing) (a) (b) Gambar 4.67 struktur mikro Besi cor Perlakuan udara(a) teori perbesaran 500x dan (b) percobaan perbesaran 500x Material Etsa Perbesaran Cor perlakuan udara Nital HNO3 dan ethanol 500x Besi cor meruapakan material yang sangat keras yang disebabkan kadar karbonnya lebih banyak dibandingkan dengan material yang lain. Kurang fokus kamera menyebabkan gambar kurang jelas mugnkin dengan perbesaran yang lebih akan menghasilkan gambar yang lebih baik.67 terlihat serpihan (flakes) dan sebagian besar strukturnya martensite.11. Batas butirannya tidak terlihat jelas sehingga sulit membedakan butir satu dengan lainnya... dan dibandingkan dengan hasil percobaan 4.

68 struktur mikro Besi cor perlakuan air (a) teori perbesaran 500x dan (b) percobaan perbesaran 500x ( Perbesaran 500x ) Material Etsa Perbesaran Cor perlakuan air Nital HNO3 dan ethanol 500x Pada gambar 4.68a menunjukan struktur mikro dari besi cor yang telah di beri perilaku panas dan di quench dengan air.padah gambar hasil percobaan 4.dan pada saat pengetsaan harusnya secara tepat baik waktu maupun caranya karena itu sangat mempengaruhi hasil percobaan.68b juga menunjukan hal yang sama akan tetapi karena gambar kurang jelas maka strukturnya tidak terlihat secara pasti Secara teoritis perbesaran sama tapi menunjukan hasil yang berbeda hal itu dikarenakan pada saat pemolishan kurang jelas . 53 . Besi cor perlakuan panas dengan pendinginan air (a) (b) Gambar 4.12. Pada gambar menunjukan terjadi serpihan (flakes) dan struktur mikro logam umumnya martensite.

2 SARAN 1.Pada proses pemolisan (penghalusan dan peralatan). Posisi pada waktu memolis sebaiknya jangan berubah-ubah supaya permukaan cepat dan rata. 4. 54 . 3. dengan posisi spesimen tegak lurus terhadap amplas agar permukaan specimen datar sehingga dapat difoto dengan jelas 2. Setelah selesai pemolisan kering yaitu pemolisan dengan menggunakan autosol. karena dapat menyebabkan adanya pengotor yang akan terlihat jelas pada mikroskop cahaya. Selain itu diperlukan juga pengetzaan yang benar agar komponen paduan dapat terlihat dan dibedakan dengan jelas. dan bersih dari sisa autosol maupun air.4. Pada material perlakuan air martensit yang terbentuk mengakibatkan material bersifat keras dan rapuh. 2. 4. Material dengan perlakuan berbeda menunjukkan struktur mikro yang berbeda. tanpa goresan. . perlu memperhatikan posisi tangan dan juga tekanan tangan ke amplas pada material supaya tidak terjadi goresan. Pada saat pemolesan sebaiknya dilakukan pada satu arah saja.5. mengkilap.5 KESIMPULAN DAN SARAN 4. jangan menyentuh permukaan specimen. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui struktur logam dan kandungan karbon pada logam. Struktur mikro pada specimen kebanyakan teridiri dari perlit ( berwarna kelabu yang berbentuk lamella ) dan ferit ( berwarna putih tanpa noda ) 5. Untuk memperoleh hasil pemotretan yang baik diperlukan permukaan material dan pemolisan yang merata. sehingga berguna untuk mengetahui sifat sifat logam.5. 3.1 KESIMPULAN 1.

Dalam melakukan pengetzaan sebaiknya dilakukan dalam waktu yang sesuai untuk masing-masing spesimen dan langsung mencelupkan benda uji ke air sebagai penetralan setelah di etza supaya tidak terjadi over etza yang akan mngakibatkan terbakarnya specimen sehingga butir-butir yang sulit di amati. Perlu memperhatikan pemfokusan cahaya. yaitu diatur oleh tepat di tengah-tengah gambar. 6. Pada saat pemotretan sebaiknya menggunakan optik yang memiliki kejernihan yang baik. 5.4. supaya cahaya dapat merata pada benda uji 55 .

2011 19.com 14.2005. http://www. Materials Science and Engineering an Introduction 7th. D.1993. Pengetahuan Bahan teknik.vt.google.Met. Inc 3. Erlangga 20. Van Vlack.org 8.html 15.cetakan keenam.marinenautoparts.aluminum. George Vander Voort. http://www.id/images?duralumin+micro+structure=Telusuri 7. http://cepiar.REFERENSI 1. http://www.com/2007/11/14/prosedur-percobaan-praktikummetalografi/ 6.org 13.ac. http://www.1985.calphad.uk/phasetrans/abstracts/CP1b. http://www. New York: John Wiley & Sons.atzonline. Shinroku Saito.1984.google.edu 17.copper.id/imglanding?q=batas+butirhttp://info. Ilmu dan Teknologi Bahan.Metallography and Microstructure.com 11. Characterization of Microstructure in Comercial Al-Si Piston Alloy. http://www. Metallography Principles And Practice. Callister. Rajnovi.org 18. Lawrence H. http://www.co. L. http://en. Prof Ir Tata Surdia Ms.co. Shinroku Saito. http://www. http://pwatlas.org 56 .com 16.E dan Prof DR. PT. http://www.lu.cam. Pengetahuan Bahan teknik. 2007.google.wordpress.Jakarta.uk 10. Jakarta. http://www. Berlin 4. http://www. 2004 2. Prof Ir Tata Surdia Ms. William D. Sidjanin. www. Paradnya Paramit 22. New York: McGraw-Hill 5.mt. PT.E dan Prof DR.com 12.farmingdaledu 9.msm. Job sheet praktikum struktur dan sifat material.wikipedia.1998.Jakarta.sv.Met.com/topic/duralumin_files 23.ac.tms.umist. ASM Metals Handbook Volume 9 . Paradnya Paramit 21.answers.

1978.Hal:250 26.dkk. hal 37 25.24. sumber: Heat treatment Principles and Technique.”PEMERIKSAAN MIKROSTRUKTUR. KOMPOSISI KIMIA DAN KEKERASAN HASIL PENGELASAN PADUAN Al-6061 “. Niewmann. Sidney H. Introduction physical metalurgy. Machine Elemens vol 2 27. sumber : Avner.Bandung 57 . Chaerul .Gustav.