P. 1
kebijakan pemberantasan kusta

kebijakan pemberantasan kusta

|Views: 62|Likes:
Published by Soraya Muchlisa

More info:

Published by: Soraya Muchlisa on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2012

pdf

text

original

BAB I

LATAR BELAKANG KEBIJAKSANAAN PEMBERANTASAN PENYAKIT KUSTA A. PENDAHULUAN Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara itu dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/ pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang ditimbul-kannya. Dengan kemajuan teknologi dibidang promotif, pencegahan, pengobatan serta pemulihan kesehatan dibidang penyakit kusta, maka penyakit kusta sudah dapat diatasi dan seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Akan tetapi mengingat kompleksnya masalah penyakit kusta, maka diperlukan program penanggulangan secara terpadu dan menyeluruh dalam hal pemberantasan, rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial ekonomi dan pemasyara-katan eks pederita kusta. Buku ini disusun khusus dibidang Penberantasan dan Pencegahan cacat kusta untuk pedoman bagi petugas kesehatan di Puskesmas maupun di unit kesehatan lainnya. B. LATAR BELAKANG SEJARAH Menurut sejarah pemberantasan penyakit kusta di dunia dapat kita bagi dalam 3 zaman yaitu : 1. Zaman Purbakala. Penyakit kusta telah dikenal hampir 2000 tahun SM. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan sejarah seperti di Mesir, di India 1400 SM, istilah kusta yang sudah dikenal didalam kitab Weda, di Tiongkok 600 SM, di Mesopotamia 400 tahun SM. Pada zaman purbakala tersebut telah terjadi pengasingan secara spontan karena penderita merasa rendah diri dan malu, disamping masyarakat menjauhi karena merasa jijik dan takut. 2. Zaman Pertengahan. Kira-kira setelah abad ke 13 dengan adanya keteraturan ketatanegaraan dan system feodal yang berlaku di Eropa mengakibatkan masyarakat sangat patuh dan takut terhadap penguasa dan hak azasi

manusia tidak mendapat perhatian. Demikian pula yang terjadi pada penderita kusta yang umumnya merupakan rakyat biasa. Pada waktu itu penyakit dan obat-obatan belum ditemukan maka penderita kusta diasingkan lebih ketat dan dipaksakan tinggal di Leprosaria/Koloni Perkampungan penderita kusta untuk seumur hidup. 3. Zaman Modern Dengan ditemukanya kuman kusta oleh G.H. Hansen pada tahun 1873, maka mulailah era perkembangan baru untuk mencari obat anti kusta dan usaha penanggulangannya. Demikian halnya di Indonesia Dr. Sitanala telah mempelopori perubahan sistem pengobatan yang tadinya dilakukan secara isolasi, secara bertahap dilakukan dengan pengobatan jalan. Perkembangan pengobatan selanjutnya adalah sebagai berikut : a. Pada tahun 1951 dipergunakan DDS sebagai pengobatan penderita kusta. b. Pada tahun 1969 pemberantasan penyakit kusta mulai diintegrasikan di Puskesmas. c. Sejak tahun 1982 Indonesia mulai menggunakan obat Kombinasi Multidrug Therapy (MDT) sesuai dengan rekomondasi WHO. C. LATAR BELAKANG EPIDEMIOLOGI Penyebab penyakit kusta ialah suatu kuman yang disebut Mycobacterium leprae. Sumber penularan penyakit ini adalah Penderita Kusta Multi basiler (MB) atau Kusta Basah. Di Indonesia, penderita kusta terdapat hampir di seluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan, di Indonesia bagian tmur i terdapat angka kesakitan kusta yang lebih tinggi. Penderta kusta 90 % tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa pasien saja yang tinggal di Rumah Sakit kusta, koloni penampungan atau perkampungan kusta. D. LATAR BELAKANG SOSIAL EKONOMI Suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah. Perkembangan penyakit pada diri penderita bila tidak ditangani secara cermat dapat menimbulkan cacat dan keadaan ini menjadi halangan bagi penderita kusta dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi mereka, juga tidak dapat berperan dallam pembangunan bangsa dan negara. Disamping cacat yang timbul, pendapat yang keliru dari masyarakat terhadap kusta, rasa takut yang berlebihan atau leprophobia akan memperkuat persoalan sosial ekonomi penderita kusta.

PENYEBAB : Penyebab penyakit kusta adalah kuman kusta. MASA TUNAS PENYAKIT KUSTA : Masa belah diri kuman kusta adalah memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan kuman lain. Penderita MB inipun tidak akan menularkan kusta. D. kulit dan jaringan tumbuh lainnya. 3 orang sembuh sendiri tanpa obat. lebar 0. Faktor Daya Tahan Tubuh : Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95 %). hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA). dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1. Hal ini merupakan salah satu penyebab masa tunas lama yaitu rata-rata 2–5 tahun. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah. B. Faktor Sumber Penularan : Sumber penularan adalah penderita kusta tipe MB. yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1–8 mic.5 mic biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu.2–0.BAB II PENYAKIT KUSTA A. yaitu 12-21 hari. C. Cara penularan yang pasti belum diketahui. 3. apabila berobat teratur. tetapi sebagian besar para ahli berpandapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit. dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. 2. 2 orang menjadi sakit. Dari hasil penelitian menunjukkan gambaran sebagai berikut : Dari 100 orang yang terpapar : 95 orang tidak menjadi sakit. DEFINISI : Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang syaraf tepi. Faktor Kuman Kusta : Kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1-9 hari tergantung pada suhu atau cuaca. . CARA PENULARAN : Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung.

Klasifikasi Pengobatan MDT. 2. maka penyakit kusta di Indonesia diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu : a. . Bila ragu-ragu orang tersebut dianggap sebagai kasus dicurigai (suspek) dan diperiksa ulang setiap 3 bulan sampai diagnose dapat ditegakkan kusta atau penyakit lain. Tipe MB (Multi basiler). Klasifikasi Madrid. Immunologis. Kelainan kulit/lesi yang hypopigmentasi atau kemerahan dengan hilang/mati rasa yang jelas. . KLASIFIKASI : 1. Tipe PB (Pausi basiler). Anamnese. Klasifikasi India.E. Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat satu dari tanda-tanda pokok diatas. Adanya kuman tahan asam di dalam korekan jaringan kulit (BTA positif). DIAGNOSA : Untuk menetapkan diagnosa penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda pokok atau “cardinal signs” pada badan yaitu : 1. kaki.Untuk perencanaan opersional. Namun untuk diagnose kusta di lapangan cukup dengan anamnese dan pemeriksaan klinis. Tujuan : . Untuk melakukan diagnose secara lengkap dilaksanakan hal-hal sbb : 1. Pemeriksaan hispatologis. Sebelumnya telah dikenal beberapa klasifikasi seperti : a. atau muka.Pemeriksaan kulit. . Klasifikasi Ridley Joping. Pemeriksaan bakteriologis. 2. 5. 2. Tekhnik pemeriksaan dilapangan lihat Bab III dan IX. b. Kerusakan dari syaraf tepi.namun klasifikasi ini tidak dipergunakan dalam P2 Kusta di lapangan. b. 3. Pemeriksaan klinis yaitu : .Pemeriksaan syaraf tepi dan fungsinya. yang berupa hilang/mati rasa dan kelemahan otot tangan. Bila ada keraguan dan fasilitas memungkinkan sebaliknya dilakukan pemeriksaan bakteriologis. 3. F. c. Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau Multidrug Therapy (MDT) yaitu menggunakan gabungan Rifampicin.Untuk menentukan regimen pengobatan. Lamprene dan DDS. 4.

Distribusi Unilateral atau bilateral Billateral. Infiltrat : a. Deformitas Biasanya asimetris Terjadi pada Stadium (cacat) terjadi dini lanjut 7.Hidung Pelana 5. Bercak masih ber keringat kemampuan ada bulu ronrontok pada bulu tidak rontok berkeringat. simetris.Ginekomastia 4. rasa pada jika ada. bulu rontok pada bercak 2.Punched out lession **). **). 3. kadang-kadang tidak ada b. Nodulus Tidak ada Kadang-kadang ada 5. Bercak (Makula) a. Lesi berbentuk seperti kue donat.Madarosis Tengah. Penebalan Lebih sering terjadi Terjadi pada yang syaraf dini. Kehilangan Selalu ada dan jelas Biasanya tidak jelas. Ciri-ciri khusus *Central Healing* 1. Konsitensi Kering dan Kasar Halus. Kulit Tidak ada Ada. asimetris. 6. . bercak. ada. Penyembuhan di2.asimetris lanjut biasanya lebih dari satu dan simetris. kadang-kadang mukosa (hidung tidak ada tersumbat pendarahan di hidung) 3. Kriteria untuk tipe PB dan MB Kelainan kulit dan hasil pemeriksaan PB MB Bakteriologis 1. Batas Tegas Kurang tegas. terjadi pada yang bercak sudah lanjut. e. berkilat. KRITERIA PENENTUAN TIPE : Dalam menentukan klasifikasi tife PB dan MB didasarkan pada kriteria seperti tabel dibawah ini. Kehilangan Bercak tidak berkeringat.G. akan tetapi harus dipertimbangkan dari seluruh kriteria. d. Apusan BTA Negatif BTA Positif.Suara Sengau 4. f. Penentuan tipe tidak boleh berpegang pada hanya salah satu dari kriteria. Membrana Tidak pernah ada. Ukuran Kecil dan besar Kecil-kecil c. Jumlah 1–5 Banyak b. g.

pipi-kiri. dan . Persiapan a. Pemeriksaan syaraf tepi dan fungsinya. mengetahui fungsi syaraf dibuka. tungkai kiri dengan cara yang sama. pantat tungkai bagian belakang dan telapak kaki. adalah sangat penting dalam menegakkan diagnosa kusta. jari-jari tangan (penderita diminta meluruskan tangan kedepan dengan telapak tangan menghadap kebawah. cuping telinga kiri.Yang diperiksa kini diputar sehingga membelakangi petugas dan pemeriksaan dimulai lagi dari : 5). 4). 2). Waktu pemeriksaan. ketiak. Bagian belakang telinga. Pundak kanan. tangan. a. lengan bagian dalam. 2. mulut. Perhatikan setiap bercak (makula). sedangkan orang dewasa (laki-laki dan wanita) memakai kain sarung tanpa baju. Pemeriksaan rasa raba pada kelainan kulit. kulit yang keriput. cuping telinga kakan. leher bagian depan). lengan kiri dan seterusnya (putarlah penderita pelan-pelan dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya untuk melihat sampingnya pada waktu memeriksa dada dan perut). dagu. b. kemudian tangan diputar dengan telapak tangan menghadap keatas). lengan bagian belakang. hidung. dada dan perut ke pundak kiri. telapak tangan. Yang diperiksa : Diberikan penjelasan kepada yang akan diperiksa dan keluarganya tentang cara pemeriksaan.punggung. Tempat pemeriksaan harus cukup terang. A. bagian belakang leher. Tempat. Pemeriksaan pandang. c. Pemeriksaan dimulai dengan orang yang diperiksa behadapan dengan petugas dan dimulai kepala (muka. Pemeriksaan Pandang. Pemeriksaan kulit 1. 1).BAB III PEMERIKSAAN KLINIS Pemeriksaan klinis yang teliti dan lengkap selain dari Anamnese. Anak-anak cukup memakai celana pendek. bagian dalam dari bawah ke atas. bintil-bintil (nodulus) jaringan parut. dan c. Pemeriksaan diadakan pada siang hari (menggunakan penerangan sinar matahari). sebaiknya diluar rumah tidak boleh langsung dibawah sinar matahari. tungkai kiri dengan cara yang dalam dari bawah ke atas. Tahap pemeriksaan. Penderita diminta untuk memejamkan mata. Pelaksanaan pemeriksaan : Pelaksanaan pemeriksaan terdiri dari : a. 3).Tungkai kanan bagian luar dari atas ke bawah. pipi kanan. Semua kelainan kulit diperhatikan. b.

Petugas harus mencatat apakah syaraf tersebut nyeri tekan atau tidak dan menebal atau tidak. Pemeriksaan Rasa Raba pada Kelainan Kulit. Bila hasil pemeriksaan memenuhi kriteria penyakit kusta maka catatlah kelainan-kelainan yang ditemukan pada kartu penderita. c. ini dikerjakan dengan mata terbuka. d.setiap penebalan kulit.n. Pemerksaan rasa raba syaraf tepi. besarnya.medianus. Ia harus memperhatikan raut muka penderita apakah ia kesakitan atau tidak pada waktu syaraf diraba. Yang diperiksa sebaiknya duduk pada waktu pemeriksaan. Pemeriksaan terhadap anestesi.peroneus. n. n. Bilamana meragukan. gunakan bolpoin seperti dijelaskan pada Bab IX.tibialis posterior. putarlah penderita pelanpelan dan periksa pada jarak kira-kira ½ meter. Pemeriksaan syaraf : ( Lihat lampiran 1) Raba dengan teliti urut syaraf tepi berikut n. Anestesi pada telapak tangan dan kaki kurang tepat diperiksa dengan kapas. Bilamana hal ini telah jelas. Pemeriksaan Fungsi Syaraf dijelaskan pada Bab IX. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa bilamana merasa tersentuh bagian tubuhnya dengan kapas. Periksalah dengan ujung dari kapas yang dilancipi secara tegak lurus pada kelainan kulit yang dicurigai. b. Kelainan-kelainan di kulit diperiksa secara bergantian dengan kulit yang normal disekitarnya untuk mengetahui ada tidaknya anaesthesi. . Sepotong kapas yang dilancipkan dipakai untuk memeriksa rasa raba. sesuai tandatanda. ia harus menunjukkan kulit yang disentuh dengan jari telunjuknya atau dengan menghitung sentuhan untuk bagian yang sulit dijangkau. dan letaknya. jumlahnya. maka ia diminta menutup matanya.auricularis magnus.radialis.ularis. dan n. kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong kain/karton. n.

. Penderita kusta tidak boleh diisolasi. c. Melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat tentang penyakit kusta. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam memenuhi kebutuhan program. Pembinaan pengobatan (“Case Holding”). 4. C. b. Meningkatkan peran serta organisasi swasta. Regimen MDT mengikuti rekomendasi WHO. 2. Penyuluhan kesehatan di bidang kusta. Pengawasan sesudah RFT. B. Tujuan Jangka Menengah : Menurunkan angka kesakitan kusta menjadi 1 per10. Meningkatkan pengobatan MDT sebagai obat standar di daerah pengembangan sehingga mancakup 100% penderita terdaftar dan penderita baru. g. TUJUAN : 1. agar masyarakat memahami kusta yang sebenarnya dan mengurangi leprophobia. Tujuan Jangka Panjang : Eradikasi Kusta di Indonesia 2. 2. STRATEGI 1. dan semua penderita MB yang di MDT akan selesai pengobatannya dalam batas waktu 18 bulan.BAB V PROGRAM PEMBRANTASAN PENYAKIT KUSTA A. f. Implementasi MDT. 3. Agar semua penderita PB yang di MDT akan selesai pengobatannya dalam batas waktu 9 bulan. Obat kusta diberikan secara cuma-cuma. 3.000 penduduk pada tahun 2000. Program P2 Kusta diintegrasikan kedalam sistem pelayanan kesehatan dan rujukan. KEBIJAKSANAAN 1. Memberikan motifasi kepada semua penderita agar datang memeriksakan dirinya setiap 3 bulan setelah selesai masa pengobatan selama 2 tahun untuk tipe PB dan 5 tahun untuk tipe MB. Tujuan Jangka Pendek : a. d. MDT dilaksanakan secara intensif dan extensif. e. Penemuan Penderita (Case Finding) Penemuan penderita sedini mungkin sehingga propinsi cacat tingkat dua diantara penderita baru dapat ditekan serendah mungkin. Mencegah cacat pada penderita yang telah terdaftaf sehingga tidak akan terjadi cacat baru.

Pencegahan cacat dilapangan. Meningkatkan peran serta lintas sektor dan kerjasama program. 4. Pemeriksaan laboratorium. Pencatatan dan pelaporan. 6. . Pembinaan pengebotan. 8. Penemuan penderita. Managemen logistik. Meningkatkan kemampuan serta ketrampilan petugas yang bertanggung jawab. KEGIATAN PEMBRANTASAN PENYAKIT KUSTA 1.3. 7. Penyuluhan kesehatan dan penggerakkan peran serta. 5. D. 3. 2. 4. Pengobatan penderita.

Mendatangi rumah penderita dan memeriksa semua anggota keluarga penderita yang tercatat dalam kolom yang tersedia pada kartu kuning. Tidak tahu bahwa ada obat tersedian cuma-cuma di Puskesmas. dari penderita yang sudah dicatat dan membawa kartu penderita kosong. Frekwensi pemeriksaan : Pemeriksaan dilaksanakan minimal 1 tahun sekali dimulai pada saat anggota keluarga dinyatakan sakit Kusta pertama kali dan perhatian khusus ditujukan pada kontak tipe MB. Malu datang ke Puskesmas. PENEMUAN SECARA AKTIF Penemuan penderita secara aktif dapat dilaksanakan dalam beberapa kegiatan : 1. Adanya Puskesmas yang belum siap. Bila ditemukan penderita baru dari pemeriksaan itu maka dibutlah kartu baru dan dicatat sebagai penderita baru. 2. 4. 2). Pelaksanaan : 1).BAB VI PENEMUAN PENDERITA A. b. 2). Membawa kartu kuning (kartu penderita). PENEMUAN PENDERITA SECARA PASIF (SUKARELA) Penemuan penderita yang dilakukan terhadap orang yang belum pernah berobat kusta yang datang sendiri atau atas saran orang lain ke Puskesmas/sarana kesehatan lainnya. Tujuan : 1). Jarak penderita ke Puskesmas/sarana kesehatan lainnya terlalu jauh.alat-alat untuk pemeriksaan serta obat MDT. a. Sasaran : Pemeriksaan ditujukan pada semua anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita. B. Pemeriksaan kontak serumah (survai kontak). Faktor-faktor yang menyebabkan penderita terlambat datang berobat ke Puskesmas/sarana kesehatan lainnya : 1. kemudian diberikan obat MDT dosis pertama. 3. . c. d. Mencari penderita baru yang mungkin sudah lama ada dan belum berobat (index case). 5. 3). Mencari penderita baru yang mungkin ada. Tidak mengerti tanda dini kusta. Penderita ini biasanya sudah dalam stadium lanjut.

bila ada yang dicurigai kusta.mulai dari kelas 1 danakhirnya kelas 6. Hasil pemeriksaan kontak dicatat pada “ Pencatatan Penemuan Penderita ” (Lampiran 5). Semua anak SD dan sederajat. Mendapatkan kasus baru secara dini. Membina partisipasi masyarakat. 2). Memberikan penyuluhan kepada penderita dan semua anggota keluarga. 2). Sasaran : 1). Pelaksanaan Pemeriksaan Untuk melakukan survei sekolah ini perlu dibina kerjasama dengan UKS dan guru-guru sekolah. Pemeriksaan anak sekolah SD/Taman Kanak-kanak atau sederajat disebut survei sekolah. Mencari penderita baru dalam lingkup kecil. Memberikan penyuluhan kepada murid dan guru. a. Pada pemeriksaan murid tersebut. Tujuan : 1). Taman Kanak-kanak. Perlu diberikan penyuluhan kesehatan terlebih dahulu kepada murid-murid bertempat di lapangan upacara atau didalam suatu ruangan yang cukup besar bila mungkin. a.4). Hasil 2. dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Chase Survey” : Maksud dari survei ini adalah mencari penderta baru dalam suatu lingkup kecil misalnya Desa atau kelurahan sambil membina partisipasi masyarakat. Frekuensi pemeriksaan Pemeriksaan anak sekolah dilaksanakan 2 tahun 1 kali. Jumlah anak yang diperiksa dan penderita baru diketemukan dicatat pada buku “Pencatatan Harian Penemuan Penderita” (Lapiran 5). 2). b. . 3. c. Tujuan : 1). 5). d.maka diadakan penyuluhan kesehatan kepada guru-guru bertempat di Kantor guru atau ruangan lainnya.Sesudah pemeriksaan murid-murud kelas demi kelas.

. sesuai dengan waktu yang ditetapkan maka diadakan pemeriksaan terhadap suspek. quisioner diberikan sebanyak mungkin kepada masyarakat sekitarnya. Persiapan. . Bilamana dari suspek yang tercatat belum dapat diperiksa. Pelaksanaan. atau kegiatan lain.b.Kepala desa membuat pengumuman kepada masyarakat dan meminta pemuka-pemuka masyarakat untuk hadir pada tanggal yang telah ditetapkan. Pertemuan (Penyuluhan Kesehatan) diadakan sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan dan dipimpin oleh Kepala Desa dengan susunan acara sebagaii berikut : .Penjelasan tanda-tanda dini dari kusta. . .Pada waktu penyerahan formulir kepada peserta pertemuan dapat disertai dengan brosur dan quisioner mengenai tanda-tanda dini kusta.Pembagian formulir-formulir kepada peserta peertemuan dan seterusnya dibagikan kepada masyarakat. Catatan : ?? Bila memeungkinkan Chase Survey seperti tersebut diatas dapat dikembangkan sebagai berikut : . . Pelaksanaan : 1). Bila ditemukan penderita baru dibuatkan kartu dan diberi pengobatan serta penyuluhan kesehatan yang lebih dalam terhadap penyakitnya. Hasil quisioner dikembalikan melalui Kepala . Sasaran : Desa/Kelurahan. Pimpinan Puskesmas “chusus survey” dengan Kepala Desa atau memberitahukan dengan mengirim surat melalui Camat untuk menentukan tanggal pelaksanaannya.Pengadaan fomulir tersangka penderita sebanyak mungkin (contoh formulir lampiran 4). . atau unit yang lebih kecil seperti dusun. . c. .Kepala Desa mengingatkan Camat untuk hadir dan memberikan pengarahan pada tanggal yang telah ditetapkan. penjelasan dimaksud dan tujuan pertemuan oleh Kepala Desa.Tanya jawab. program pemberantasannya oleh Dokter Puskesmas. Frekwensi : 1 x setahun. Kartu penderita diisi dengan lengkap. brosur.Penetapan pengiriman paling lambat 2 minggu setelah pertemuan. 2).Formulir. maka nama suspek tersebut dicatat oleh petugas kesehatan dan direncanakan akan diperiksa Puskesmas. d. sebaiknya diadakan bersama dengan pertemuan bulanan desa. Sesudah beberapa hari kemudian.Ucapan selamat datang. .Sambutan dan pengarahan Camat.

Kemampuan seorang Petugas: Untuk Jawa & Bali 25 kontak/hari. Random Sample Survay (Survay Prevalensi). Survai Fokus : Dilakukan pada suatu lingkup kecil misalnya suatu RT. dimana proporsi penderita baru MB minimal 60% dan dijumpai penderita usia muda cukup tinggi.Luar Jawa & Bali 150 anak/hari Untuk pelaksanaan Adalah dasa atau bila Mungkin kampung Pemeriksaan anak Diperiksa 1 kali/2 tahun Chase survey 1 x setahun . Survei ini dilaksanakan dengan timyang tetap dan dipimpin oleh seorang yang telah berpengalaman di bidang kusta. a. Survai Fokus ini dilakukan satu kali saja kalau perlu diulang di tahun-tahun kemudian. Kemampuan seorang petugas Untuk Jawa & Bali 300 Anak/hari. SKEMA PENEMUAN PENDERITA JENIS KEGIATAN Pemeriksaan Kotak FREKWENSI 1 x setahun TARGET Kotak serumah dari seMua penderita yg terDaftar. Caranya : Terlebih dahulu didaftarkan nama penduduk RT menurut keluarga mulai dari kepala keluarga dan kemudian diperiksa rumah demi rumah yang alpa dicari untuk diperiksa. 4. Survai Khusus. Semua sekolah(terutaSD/TK dari desa yg ada penderitanya. Survai ini dilakukan sesuai perancanaan danpetunjuk dari Pusat sesudah diadakan “set-up” secara statistik oleh ahli statistik WHO atau yang ditunjuk Depkes.setiap 1 pendeRita diperhitungkan ada 5 kotak.Desa untuk diperiksa dan dinilai sesuai dengan waktu tersebut diatas.luar Jawa 15 kotak/hari. b.

Kemampuannya seorang petugas : Untuk Jawa & Bali 300 anak/hari.luar Jawa 15 kotak/hari.luar Jawa & Bali 150 anak/hari Chase Survey 1 x setahun Survei Khusus Menurut kebutuhan Yabg datang secara Sesuai dengan sukarela ke Puskesmas Puskesmas Unit pelaksanaan adalah desa atau bila mungkin kampung Menurut kebutuhan kerja Semua kasus yg belum terdaftar . Kemampuan seorang petugas: Untuk Jawa & Bali 25 kontak/hari.setiap 1 penderita diperhitungkan ada 5 kontak.JENIS KEGIATAN Pemeriksaan FREKWENSI 1 x setahun Pemeriksaan anak Diperiksa 1 kali/2tahun TARGET Kontak serumah dari semua penderita yg terdaftar. Semua sekolah(terutama SD/TK dari desa yg penderitanya.

Dewasa 100 mg/hari. Anak-anak 1-2 mg/kg berat badan/hari.dantanda-tanda penyakit menjadi kurang aktif danakhirnya hilang. Manifestasi saluran pencernaan makanan : Anoreksi.Ada takaran 50 mg/kapsul dan100 mg/kaps. Memutuskan mata rantai penularan dari penderita kusta terutama tipeyg menular kepada orang lain. hefatitis. Pada penderita tipe Pb yg berobat dini dan teratur akan cepat sembuh tanpa menimbulkan cacat. b.DDS (Dapsone). b. e. 2. Sifat bakteriostatik yaitu menghalang/menghambat pertumbuhan kuman kusta. seseorang dapat alergi terhadap obat ini. 3).Akan tetapi bagi penderita yg sudah dalam keadaan cacat permanen pengobatan hanya dapat mencegah cacat yg lebih lanjut. berupa : 1). sakit kepala vertigo. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur. 1). 4). c. Manifestasi kulit (alergi) seperti halnya obat lain. Anemia Hemolitik dan selanjutnya lihat di literatur. d. Sifat : 1). OBAT-OBAT YANG DIPERGUNAKAN 1. sulit tidur. Dengan hancurnya kuman mama sumber penularan dari penderita terutama tipe MB ke orang lain terputus. Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikankuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh. 2). 2). Bakteriostatik yaitu menghambat pertumbuhan kuman kusta. TUJUAN PENGOBATAN 1. Disinilah pentingnya pengobatan sedini mungkin dan teratur. 2). Dosis. .BAB VII PENGOBATAN PENDERITA A. B. Selama dalampengobatan penderita-penderita dapat terus bersekolah atau bekerja seperti biasa. psychosis. Bentuk Kapsul warna coklat. a. Anti reaksi (menekan reaksi). 2. Menyembuhkan penderita kusta dan mencegah timbulnya cacat. nausea. Neuropati perufer. Manifestasi utrat syaraf. a. Lamperene (B663) juga disebut Clofazimine. Singklatan dari Diamino Diphenyl Sulfone. Bentuk obat berupa tablet warna putih dengan takaran 50 mg/tab dan 100 mg/tablet. Bila hal ini terjadai harus diperiksa dokter untuk dipertimbangkan apakah obat harus disetop. muntah. penglihatan kabur.maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali.sehingga timbul gejala-gejalla baru pada kulit dan syaraf yg dapat memburuk keadaan. Efek samping jarang terjadi.

Mengenai cara pemberiannya.c. Dengan pemberian Rifampicin 600 mg/bulan tidak berbahanya bagi hati dan ginjal (kecuali ada tanda-tanda penyakit sebelumnya). a. pada d. Dosis : Untuk dipergunakan dalam pengobatan kombinasi. 450 mg dan 600 mg. Obat ini digunakan untuk menyehatkan kulit yang bersisik (Ichthiosis). Gangguan pencernaan berupa diare. c. Obat tambahan untuk pederita kusta yang Anemia Berat. 5.lihat Bab VIII. b. Catatan : Perlu diberitaukan kepada penderita bahwa air seni akan berwarna merah bila minum obat. .lihat pada Regimen pengobatan MDT. Dosis : Untuk dipergunakan dalam pengobatan kombinasi. 300 mg. Sebelum pemberian obat ini perlu dilakukan tes fungsi hati apabila ada gejala-gejala yang mencurigakan. Prednison. Pengobatan reaksi akan diuraikan di Bab. VIII.lemah dan lain-lain. 2). Warna kulit terutama pada infiltrat berwarna ungu sampai kehitam-hitaman yang dapat hilang pada pemberian obat Lampprene disetop. Sulfat Ferrosus. 4. d. Sifat : Mematikan kuman kusta (Bakteriosid). Obat ini digunakan untuk penanganan/pengobatan reaksi. 6. Vitamin A. Untuk anak-anak dosisnya adalah 1015 mg/kg berat badan. Efek samping lain adalah tanda-tanda seperti inflensa (flu Syndrom) yaitu badan panas. 3. Reaksi. Bentuk : Kapsul atau tablet takaran 150 mg. yang akan hilang bilamana diberikan obat simptomatis.lihat Regimen pengobatan MDT. Efek samping : Efek samping yang ditimbulkan oleh Rifampicin yaitu dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan ginjal. Efek sampingan : 1). Pengobatan Rifampicin supaya dihentikan sementara bila timbul gejala gangguan fungsi hati dan dapat dilanjutkan kembali bila fungsi hati sudah normal.beringus. nyeri pada lambung. Rifampicin.

Umur 11-14 tahun : bulan 200 mg/bulan. Tipe MB : Lesi lebih dari 5 Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa. meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Regimen tersebut adalah sebagai berikut : 1.Rifampicin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.Ibu hamil Pemberian pengobatan sekali saja dan langsung RFT. Tipe PB 1 : Lesi 1 Diberikan dosis tunggal ROM : Rifampicin 600 mg 300 mg Ofloxacin 400 mg 200 mg Minocyclin 100 mg 50 mg Dewasa 50 – 70 kg Anak 5-14 tahun . Lesi 1 dengan pembesaran saraf. Dosis Lamprene untuk anak : Umur dibawah 10 tahun : bulan 100 mg/bulan. . Harian 50 mg/2 kali/minggu.C.Anak < 5 tahun } tidak diberikan ROM .DDS tablet 100 mg/hari diminum dirumah.Lampiran 300 mg/bulan diminum didepan petugas. Regimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai dengan yang direkomendasikan oleh WHO.diberikan Regimen PB 2-5 2. 3.Rifampicin 600 mg/bulan diminum didepan petugas. . Setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RTF (“ Release From Treatment” = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif.Lamprene 50 mg/hari diminum dirumah. REGIMEN PENGOBATAN MDT.Pengobatan 6 disis diselesaikan dalam waktu maksimal 9 Bulan. Dosis Rifampicin untuk anak-anak 10-15 mg/kg berat badan. Sesudah selesai minum 12 dosis dinyatakan RFT (“Release Ffrom Treatment” = berhenti minum obat kusta). . . Dosis DDs untuk anak-anak 1-2 mg/kg berat badan. Harian 50 mg/3 kali/minggu. . Tipe PB 2-5 : Lesi 2-5 Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa : . Pengobatan 12 dosis diselesaikan dallam waktu maksimal 18 bulan. . DDS 100 mg/hari diminum dirumah.Obat ditelan di depan petugas . Bila obat-obat ini belum datang dari WHO untuk sementara semua kasus PB 1 diobati selama 6 bulan dengan Regimen PB (2-5).

Pakjet untuk MB harus tersedia 12 dosis Bila ditempatkan penderita baru dimana belum tersedia paket MDT untuk yang bersangkutan harus segera dimintakan paket baru. Pada penderita dengan diaknosa diperlukan pemeriksaan laboratorium. Klasifikasi hanya ada 2 macam yaitu PB dan MB. 2. Pengamatan setelah RFT dilakukan secara pasif : a). b. meragukan 2). 3.D. Penderita MB yang telah mendapat pengobatan MDT 12 dosis dalam waktu 12–18 bulan dinyatakan RFT. 5). Penderita PB yang telah mendapat pengobatan MDT 6 dosis dalam waktu 6–9 bulan dinyatakan RFT. Ketentuan-ketentuan : a. Tipe PB selama 2 tahun. Diaknosa diletakan berdasarkan klinis. Pemberian pengobatan MDT menggunakan regimen sama dengan WHO. RFT dapat dilaksanakan setelah dosis dipenuhi tanpa diperlukan pemeriksaan lab. Dikeluarkan dari register penderita dan dimasukkan dalam register Pengamatan (surveillance) dan dapat dilakukan oleh petugas kusta. 2). 3). Penyedian obat MDT di Puskesmas diperhitungkan dalam hitungan paket dengan pengertian 1 paket hanya untuk 1 penderita : 1). Unit daerah operasional terkecil adalah Puskesmas. Unit daerah operasional terkecil untuk satu sumber dana dari NGO (LSM) adalah Kabupaten. EVALUASI PENGOBATAN 1. 4). 3). tanpa diharuskan pemeriksaan laboratorium. . 4). 1 paket untuk PB harus tersedia 6 dosis. Masa Pengamatan. tanpa diharuskan pemeriksaan laboratorium. Ketentuan Teknis : 1).

Bagi penderita hilang.maka penderita harus dikurangi dan dianjurkan untuk datang melanjutkan pengobatan. c. Drop Out (DO) Penderita yang datang tidak teratur : a. 7). Bagi penderita DO. Timbulnya tandatanda aktif mungkin juga karena salah klasifikasi yang seharusnya tipe MB dilaksanakan tipe PB. Hilang “ Out of Control” (OOC) Setiap penderita PB maupun MB. 9). . Setiap penderita PB maupun MB.b). Tipe MB selama 5 tahun tanpa diperlukan pemeriksaan lab. b. bila berturutturut 12 bulan tidak mengambil obat dinyatakan hilang (OOC). Sebelum penderita dinyatakan DO atau holang. Tindakan bagi penderita DO dan Hilang. Setiap penderita PB dalam pengobatan tidak mengambil obat 4 bulan dan setiap penderita MB 7 bulan dinyatakan DO.bila berturut-turut 12 bulan tidak mengambil obat dinyatakan hilang (OOC). tidak dikeluarkan dari register dan bila penderita datang kembali dapat menyelesaikan dosis yang sisa dan dinyatakan RFT ( tapi tidak dihitung dalam RFT rate). 8). kemudian datang lagi maka dilakukan pemeriksaan klinis yang teliti bila : (1). a.perlu dibedakan antara Relapse dan reaksi terlambat (lihat tabel hal 40). Relaps = Kambuh Bila dalam masa pengamatan terjadi tanda-tanda aktif kembali : Untuk menyatakan Relapse harus berhati-hati.dikeluarkan dari register Penderita yang sudah dinyatakan hilang. Ditemukan tanda-tanda klinis yang aktif Kemerahan/peninggian dari lesi lama di kulit b. 6).

. Tidak ada tanda-tanda aktif maka penderita tidak perlu diobati lagi. (2).- Adanya lesi baru Adanya (baru) Nodule Reaksi ENL/Rrveresal syaraf yang membesar Maka penderita di register ulang dan mendapat pengobatan MDT ulang sesuai klasifikasi.

BAB IX PENCEGAHAN CACAT M. A. Sedangkan pada kornea mata akan mengakibatkan kurang/hilangnya reflek kedip sehingga mata mudah kemasukan kotoran. C. motorik. Tergantung dari kerusakan urat syaraf tepi. Terjadi gangguan pada kelenjar keringat. Bila terjadi kelemahan/kelumpuhan pada otot kelopak mata maka kelopak mata tidak dapat dirapatkan (“lagophtalmos”). Akibat kurang/mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka. Pada umumnya apabila akibat kerusakan fungsi syaraf tidak ditangani secara cepat dan tepat maka akan terjadi cacat ketingkat yang lebih berat. Terjadinya cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi syaraf tepi. dan otonom. baik karena kuman kusta maupun karena terjadinya peradangan (neuritis) sewaktu keadaan Reaksi Lepra. Kerusakan Fungsi Otonom. benda-benda asing yang dapat menimbulkan infeksi mata dan akhirnya kebutaan. Jari-jari tangan dan kaki menjadi bengkok (“claw hand/claw toes”) dan akhirnya dapat terjadi kekakuan pada sendinya (kontraktur). maka akan terjadi gangguan fungsi syaraf tepi : Sensorik. . lepare menyerang syaraf tepi tubuh manusia. mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah. kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering. menebal. Kerusakan Fungsi Motorik Kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi lemah/lumpuh dan lama-lama ototnya mengecil (atropi) oleh karena tidak dipergunakan. B. Kerusakan Fungsi Sensorik. Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/mati rasa (anestesi).

anestesi Reflek kedip berkurang Tangan/kaki : lemah/lumpuh Mata.Keringat Kel. GANGGUAN FUNGSI SYARAF TEPI Motorik Sensorik Otonom Anestesi Kelema ghan Ganguan Kel. Aliran darah Tangan/ka ki : kurang rasa Kornea mata .lagoph thalmos Kulit : Kering/ pecah Kurang Infeksi Jaro-jari Bengkok/ kuku Luka Inpeksi Luka Mutilasi Buta Mutilasi Absrobsi Buta Infeksi .Minyak. Proses terjadinya cacat kusta.D.

Kekuatan Obat. apakah berkedip secara teratur atau salah satu mata berkedip terlambat : kemudian penderita diminta memejamkan mata perlahan seperti waktu tidur. Suatu syaraf dinyatakan nyeri tekan bila kesakitan kelihatan dan raut muka penderita. (lihat gambar 1). Bila ada mata merah atau virus berkurang. Apabila salah satu kedua mata tidak menutup dengan sempurna. berarti ada LAGOPHTHALMOS. bukan dengan bertanya “Apakah ada rasa sakit”. Cara pemeriksaan cacat dan pencatatannya : 1. penderita perlu segera diperiksa oleh dokter Puskesmas. Nyeri tekan pada syaraf Syaraf ULNARIS dapat diraba diatas siku bagian dalam (lihat lampiran I). jari ke-V harus selurus mungkin dan harus ditahan dengan keras. lingkarilah jawaban “YA” pada lembaran Pencatatan Pencegahan Cacat. 2.E. . Penderita diminta agar kedua jari kelingking (jari ke-V) bertemu dengan masing-masing ibu jari. PEMERIKSAAN MATA : Mata penderita diperhatikan. b. b. Untuk itu telah disediakan lembaran PENCATATAN PENCEGAHAN CACAT yang perlu diisi dengan cermat. Usaha pencegahan Cacat Tujuan umum pencegahan cacat adalah : “Jangan sampai ada cacat yang timbul atau bertambah berat setelah penderita terdaftar dalam program pengobatan dan pengawasan“ Langkah-langkah yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut : Langkah I : Melakukan PENCATATAN DATA DASAR setiap pasien pada waktu registrasi. PEMERIKSAAN TANGAN : a. a.

Bila ibu jari bisa maju tetapi tidak dapat manahan dorongan ibu jari pemeriksa. Gambar 3 . berarti otot masih kuat.Bila ibu jari tidak bisa maju. maka lingkarilah tanda “K”.Bila jari ke-V bisa lurus.) Pemeriksa memegang punggung tangan kanan dan kiri penderita. Kemudian kedua ibu jari pemeriksa pindah ke ibu jari penderita. .berarti sudah lumpuh. pemeriksa mendorong kedua jari ke-V penderita pada perbatasan antara telapak tangan dan jari ke-V agar memisahkan jari ke-V dari ibu jari (lihat gambar 2). Rasa raba. Kemudian tusukan ringan dilakukan dengan bolpoin pada tangan penderita sesuai dengan titik-titik pada gambar. . .Bila jari ke-V bisa lurus dan bertemu dengan ibu jari tetapi tidak dapat menahan dorongan ibu jari pemeriksa. bertemu dengan ibu jari dan dapat menahan dorongan pemeriksa. Tusukan dilaksanakan sampai kulit kelihatan cekung sekitar 1 cm (lihat gambar 4). maka lingkarilah tanda “K”. dan mendorong pada bagian telapak tangan yang dibawah kedua ibu jari (dorongan tidak boleh pada ibu jari. C.Bila ibu jari bisa maju dan dapat menahan dorongan iu jari pemeriksa. lihat gambar 3). dan dengan kedua ibu jarinya. maka lingkarilah tanda “L”. . pada umumnya berarti jari ke-V sudah lumpuh. maka lingkarilah tanda L. berarti kekuatan otot sudah lemah dan dinilai “Sedang”. berarti otot masih kuat. maka lingkarilah tanda “S”. .Gambar 1 1. . Selalu perlu dibandingkan kekuatan otot tangan kanan dan tangan kiri untuk menentukan bahwa ada kelemahan.Bila jari ke-V tidak dapat lurus dan tidak dapat bertemu dengan ibu jari. Tangan penderita dipegang pada punggungnya agar sendi-sendi tidak bergerak selama “test” dilakukan. maka lingkarilah tanda “S”. Gambar 2 2).berarti kekuatan otot sudah lemah dan nilai “Sedang”.

Bila penderita sudah menunjukkan dalam jarak 1. 2). Nyeri tekan pada syaraf Syaraf PERONEUS dapat diraba dibawah lutut bagian luar dan syaraf TIBIALIS POSTERIOD dibelakang – bawah mata kaki dalam (lihat lampiran 1 ). Bila ada jari yang sudah MEMENDEK perlu dicatat seperti pada gambar. dan perlu diberikan tanda (V) pada titik yang masih merasa.5 cm dari tempat yang ditusuk. berarti sudah lumpuh. Bila ada jari tangan yang BENGKOK perlu dicatat : 1).5 cm dari tempat ditusuk. luka itu perlu digambar pada gambar tangan sesuai dengan ukuran dan bentuknya. Ada mata rasa atau rasa raba dinyatakan berkurang bila ada paling sedikit 2 titik yang berdekatan yang mati rasa/kurang rasa. penderita diminta menunjukkan dengan salah satu jarinya tempat yang ditusuk. Cacat lainnya. Bila penderita sudah mengerti. Suatu syaraf dinyatakan nyeri tekan bila kesakitan kelihatan dari raut muka penderita. maka lingkarilah tanda “L”. Kekuatan otot. 3. berarti tangan penderita sudah mati rasa atau kurang berasa dan perlu diberikan tanda (X) pada titik yang tidak/kurang berasa. b. 2). Bila ujung kaki penderita tidak dapat bergerak ke atas. . PEMERIKSAAN KAKI : a.”tast” dilakukan dengan penderita menutup matanya. Bila penderita tidak dapat menunjukkan dalam jarak 1. (Lihat gambar 5). Gambar 5 1). bukan dengan bertanya “Apakah ada rasa sakit “. Gambar 4. Pemeriksa menekan kedua kaki penderita ke bawah untuk menilai kekuatan otot. Dengan tanda “S” bila sendi sudah kaku.Dengan penderita melihat. 1). dengan “C” bila sendi tidak kaku. Bila ada luka. berarti penderita masih berasa. Penderita diminta untuk menaikkan kedua ujung kakinya keatas dengan tumit tetap dilantai. d.

Jadi. .dengan tanda “C” bila sendi tidak kaku.berarti otot sudah lemah. 1.perlu dicatat : . 2). kemungkinan besar akan timbul cacat yang menetap. Bila ada luka. Bila ada kulit pecah perlu digambar seperti pada contoh. Gambar 6 Adanya mati/kurang rasa bila ada paling sedikit 2 titik yang berdekatan yang mati/kurang rasa. Menetukan apakah penderita sedang dalam keadaan REAKSI BERAT yang perlu diobati dengan PREDNISONE. ada lagophthalmos yang baru terjadi dalam 6 bulan terakhir. Bila ujung kaki penderita dapat bergerak ke atas dan dapat menahan tekanan tangan pemeriksa. Kaki penderita ditumpangkan pada lutut kakinya yang sebelah agar lebih mudah diperiksa (lihat gambar 6). dan dinilai “sedang” maka lingkarilah “S”. ada bercak atau nodul yang ulserasi. Bila penderita dengan reaksi berat tidak ditangani cepat dan tepat.maka lingkarilah tanda “K”. Menentukan dan mengobati reaksi berat sendi dan setepat mungkin merupakan salah satu aspek pencegahan cacat yang terpenting. luka itu perlu digambar pada gambar kaki sesuai dengan ukuran dan bentuknya. Mengambil KESIMPULAN dan TINDAKAN berdasarkan hasil pemeriksaan.berarti otot masih kuat. bila : a. 3).perlu dicatat seperti pada contoh.atau d. ada nyeri tekan pada salahsatu syaraf. berarti penderita sedang REAKSI BERAT dan perlu segera diberikan PREDNISONE sesuai dengan pedoman pada hal. Langkah II : KESIMPULAN DAN TINDAKAN.Dengan tanda “S” bila sendi sudah kaku.2). 36-39. Vara pemeriksaan dan pecatatan sama dengan tangan. Cacat lainnya. Bila ada jari kaki yang bengkok. 1). c.atau b.atau c. 3). ada kekuatan otot atau rasa raba yang berkurang dalam 6 bulan terakhir. Bila ujung kaki penderita dapat bergerak ke atas tetapi tidak dapat menahan tekanan tangan pemeriksa. Rasa raba. . Bila ada jari yang sudah memendek. d.

3). 1). Dalam kesdaan masih besah perlu DIOLESKAN minyak. Dalam keadaan masih basah DIOLESKAN minyak. misalnya dengan memakai kaca mata hitam. tangan dan kakinya sendiri dengan menggunakan apa yang ada di rumahnya.tangan dan kaki berpedoman pada buku “TINDAKAN PENTING UNTUK MENGURANGI RESIKO CACAT PADA PENDERITA KUSTA” oleh Jean Watson. 4). Penderita perlu MEMERIKSA matanya setiap hari apakah ada kotoran. . atau kemerahan. Perawatan MATA dengan LAGOPHTHALMOS. 6). 5). Kaki yang mati rasa perlu DIRENDAM setiap hari dalam air dingin selama ? ½ jam. Kulit yang keras dan tebal perlu DIGOSAK agar menjadi tipis dan halus. Tangan yang mati rasa perlu DILINDUNGI dengan menghidar dari panas dan benda-benda yang tajam dan kasar. pada hal. 5). perlu dibersihkan. Tujuannya adalah agar penderita dapat merawat mata. 3). Penderita harus ingat SERING BERKEDIP dengan kuat.tetapi dapat dihindari bertambah berat dengan cara MERAWAT DIRI. 2). Perawatan KAKI yang MATI RASA.luka dll.Pencatatan pemberian prednison perlu dicatat pada lembaran khusus yang ditempel dalam kartu penderita. luka dll. Jari-jari yang bengkok perlu DIURUT LURUS agar sndi-sendi tidak menjadi kaku. Penderita juga perlu dianjurkan agar sedapat mungkin mengistirahatkan bagian tubuh yang sedang reaksi. Mengajar cara RAWAT DIRI kepada penderita dengan cacat yang sudah menetap. Cara RAWAT DIRI untuk mata.kulit melepuh. Penderita perlu MEMERKSA tangannya setiap hari untuk mancari tanda-tanda luka seperti kemerahan. b. c. Tangan yang mati rasa perlu DIRENDAM setiap hari dalam air dingin selama ? ½ jam. 10-27. Pertama-tama penderita perlu dijelaskan bahwa cacat yang menetap tidak dapat disembuhkan lagi karena terlambat. perlu diperiksa oleh dokter puskesmas.kulit melepuh. 1). Kulit yang keras dan tebal perlu DIGOSOK/DIKIKIS agar menjadi tipis dan halus. 4). bila ada kemerahan. 3). 2. a. Mata perlu DILINDUNGI dari kekeringan dan debu. 2). Jari-jari yang bengkok perlu DIURUT LURUS agar sendi-sendi tidak menjadi kaku. bila ada kotoran. Perawatan TANGAN yang MATI RASA. 2). 1). Penderita perlu MEMERIKSA kakinya setiap hari untuk mancari tanda-tanda luka seperti kemerahan.

Kulitnya halus dan berminyak 2). 3. penderita perlu segera dilaporkan ke dokter puskesmas agar diberikan antibiotkk.PANAS dan BAU. Penderita yang TIDAK CACAT perlu diberikan PENJELASAN mengenai : Resiko dan tanda-tanda REAKSI agar penderita segera lapor ke petugas kesehatan/puskesmas : a. 1). d. Luka perlu DIBALUT agar tetap bersih. namun setiap bulan pemeriksa mata. Bila penderita TELAH DIAJARKAN cara merawat tangan. Bila pada bulan-bulan berikutnya penderita menunjukkan bahwa ia TELAH MELAKSANAKAN apa yang diajarkan. e. 2). PENCATATAN PENCEGAHAN CACAT secara diisi 3 bulan sekali. Luka perlu DIBERSIHKAN dengan sabun pada waktu direndam. 3). b. 2). . 1. 3). perlu diberikan tanda X. bagian yang telah diajarkan perlu diberikan tanda X. Tidak ada kulit tebal dan keras.mata atau kaki. Jari-jari yang bengkok tidak menjadi kaku. bila ada sakit pada syaraf. 1). bila ada bercak yang menebal dan memerah . Perawatan LUKA.Kaki yang mati rasa perlu DILINDUNGI dengan menghindar dari panas dan benda-benda yang tajam dan kasar dengan MEMAKAI ALAS KAKI yang empuk dalamnya.agak longgar tidak gampang ditembus benda tajam. Bagian yang luka DIISTIRAHATKAN dari tekanan-tekanan yang menghambat proses penyembuhan. 6) 2. Bila ada BENGKAK .tangan dan kaki dilakukan dan hasilnya dicatat HANYA BILA ADA PERUBAHAN dengan hasil pemeriksaan yang terakhir tercatat. LANGKAH III : PELAKSANAAN PROGRAM PENCEGAHAN CACAT. 4). bila kekuatan otot atau rasa raba berkurang pada mata.tangan atau kaki. c. bila ada nodul-nodul yang timbul. Tand-tanda bahwa penderita melaksanakan rawat diri sebagai berikut : 1). 4). d. Luka dibungkus dan bersih. Sebaiknya MENGAJAR CARA RAWAT DIRI dilaksanakan dengan mempargunakan cara merawat diri dengan penderita sendiri. Sebaiknya jumlah penderita yang dilayani 1 hari pemeriksaan dibatasi sampai ? 20 orang agar waktunya cukup untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pencegahan cacat.

Tangan semper (“drop foot”). TINGKAT KECACATAN MATA TELAPAK TANGAN/KAKI Tidak ada kelainan pada mata Tidak ada anestesi. virus kurang baik akibat kusta : Jari-jari tangan kiting (“clawing”). Ada cacat/kerusakan yang Ada lagophthalmos. “ KERUSAKAN” “ VISUS SEDIKIT BERKURANG” : Masih dapat dihitung jari pd jarak 6 meter “ VISUS SANGAT TERGANGGU” : Tidak dpt hitung jari pada jarak 6 meter. pemendekan. Visus sangat kelihatan misalnya .LANGKAH IV : TINGKAT CACAT MENURUT WHO Kolom TINGKAT CACAT perlu diisi pada waktu registrasi penderita dan pada waktu penderita di RFT. Jari-jari kaki kiting (“clawing”). jari. absorbsi.tidak ada akibat kusta. tetapi tidak kelihatan dan Visus sedikit berkurang akibat kusta.jariterganggu akibat Kusta. kekakuan. cacat yang kelihatan akibat kusta.Bekas luka tetap dihitung : Luka. ulkus. Ada anastesi tetapi tidak ada Ada kelainan mata akibat kusta cacat/kerusakan yang kelihatan. mutasi. . Lagophthalmos.kaki semper Tingkat 0 1 2 “ KELAINAN MATA” “ CACAT KELIHATAN” : Mata merah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->