Asbab al-Nuzul

SUMBER-SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL DAN CONTOHNYA
Dosen Pembimbing :
Anshar Bahary, MA

Muh. Zaky Fathony Hasrul
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA FAKULTAS USHULUDDIN IV

Tahun Akademik 2011 - 2012

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

2

Pendahuluan
Al-Quran al-Karim sebagai salah satu kitab samawi diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang timbul. Turunnya al-Quran secara bertahap ini untuk menanggapi secara cepat setiap peristiwa dan kejadian serta menjelaskan hukum-hukumnya. Hal ini turut serta menunjukkan sisi kemukjizatan al-Quran bahwa ia adalah Kalamullah.

ِ ِ ﴾ ٣٣ : ‫وَل يَأْتُونَك بِمثَل إَِل جئ نَاك بِالْحق وأَحسن تَ فسيرا ﴿ سورة الفرقان‬ ََ ً ْ َ َ ْ َ ِّ َ َ ْ ‫َ َ ٍ ا‬
Artinya: “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya” (Q.S. al-Furqan : 33) Kitab al-Quran berbeda dengan sebuah buku dalam pengertian umum karena ia tidak melalui proses formulasi, tetapi diwahyukan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sejauh situasi-situasi yang menuntutnya. Oleh karena itu, mengkaji sebab turunnya ayat al-Quran melalui kisah adalah suatu cara menerangkan yang jelas mengenai sesuatu yang bernilai tinggi. Hal tersebut merupakan puncak keindahan seni sastra disamping tujuan mulia Agama. Asbab al-Nuzul tidak lain adalah kisah nyata, baik penyajian dan pemecahannya, kerumitan dan seluk beluknya, maupun pelakunya dalam hal ini para Sahabat serta kejadian peristiwanya.1 Para penyelidik ilmu-ilmu al-Quran menaruh perhatian besar terhadap pengetahuan tentang Asbab al-Nuzul (alasan pewahyuan) karena memiliki peranan penting dalam memahami pesan al-Quran sebagai suatu kesatuan. Orang akan salah menangkap pesan-pesan al-Quran secara utuh jika hanya memahami bahasanya saja tampa memahami konteks historisnya. Agar dipahami secara utuh, al-Quran harus dicernah dalam konteks perjuangan Nabi dan latar belakang perjuangannya. Oleh sebab itu, hampir semua literatur yang berkenaan dengan al-Quran menekankan pentingnya Asbab al-Nuzul.2 Terkait hal ini, sejumlah ulama seperti Imam al-Wahidi, Ibnu Daqiqil Ied dan Ibnu taimiyyah menghasilkan kesimpulan bahwa syarat utama memahami kandungan al-Quran ialah dengan 3 mengetahui Asbab al-Nuzul. Asbab al-Nuzul merupakan peristiwa sejarah yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw selaku pengemban al-Qur’an. Oleh karenanya, tidak ada cara lain untuk mengetahuinya selain merujuk kepada periwayatan yang diakui keabsahannya dari orang-orang yang memiliki integritas kepribadian yang dipercaya selaku pengemban dalam periwayatan tersebut. Sekilas mengenai tema inilah yang akan kami uraikan dalam makalah ini. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi sebuah referensi baru dalam studi kajian ini.
Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2011), Cet. XI, Hal 169-170 2 Rosihon Anwar, Ulum al-Quran (Bandung : CV Pustaka Setia, 2010), Cet. II, Hal. 59 3 Jalaluddin al-Suyuti, Samudera Ulum al-Quran “Terjemahan dari judul asli al-Itqan fi Ulum al-Quran” (Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006), Cet. I, Hal. 155
1

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

3

A. PEDOMAN MENGETAHUI ASBAB AL-NUZUL

Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui Asbab al-Nuzul adalah riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah Saw atau dari para Sahabat. Hal ini menunjukan bahwa Asbab al-Nuzul itu tidak bisa diketahui semata-mata dengan akal (rasio) melainkan dari orang-orang yang mengetahui turunnya al-Quran atau dari orang-orang yang memahami Asbab al-Nuzul lalu mereka menelitinya dengan cermat, baik dari kalangan Sahabat, Tabi’in atau lainnya dengan catatan pengetahuan mereka diperoleh dari ulama-ulama yang dapat dipercaya.4 Rasulullah Saw bersabda:

ِ ِ ُ ‫اتا قوا الْحديث عنِّى إَِلا ما علِمتُم فَِإناهُ من كذب علَى متَ عمدا فَ لْيَتَبَ وأْ مقعدهُ من الناار ومن ك ذب فِ ى الْق رِن‬ ً ِّ َ ُ ‫َ ْ َ ا َ َ ا‬ َ َ َِ ُ َ ‫ا َْ َ َ َ ِ ََ ْ َ ا‬ ْ ْ َْ َ ِ َ ِ َ َ َْ ‫ا‬ ٍِْ ِ )‫بِغَْير علم فَ لْيَتَبَ وأْ مقعدهُ من الناار (رواه أحمد بن حنبل‬

Artinya: “Berhati-hatilah (dalam meriwayatkan) Hadis dariku kecuali yang benar-benar kalian ketahui. Sebab barang siapa mendustakan atas diriku secara sengaja, maka hendaklah bersiap-siap menempati neraka. Dan barangsiapa berdusta atas al-Quran tampa ilmu, maka (juga) hendaklah bersipa-siap menempati neraka”(H.R. Ahmad bin Hanbal)5 Riwayat Asbab al-Nuzul secara khusus ialah riwayat dari orang-orang yang terlibat dan mengalami peristiwa dari yang diriwayatkannya yaitu pada saat wahyu diturunkan. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan (pentransmisian) yang benar (naql al-shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung tentang turunnya ayat al-Quran. Seperti halnya periwayatan pada umumnya, diperlukan kehati-hatian dalam menerima riwayat yang berkaitan dengan Asbab al-Nuzul. Untuk itu, dalam kitab Asbab al-Nuzulnya, al-Wahidy menyatakan:

ِ ‫لَ م يَح ل اْلق ول فِ ي أَس بَاب الن زول اْلكتَ اب إَِل بِالروايَ ة و الس ماع مم ن ش اهدوا التا ْنزيْ ل و وقَ ف وا علَ ي‬ َُْ ِ ْ َ ْ ُ َ َ ُ ِ ْ ُ َ َ ْ ‫ْ ِ ُ ْ ِ ِ ِ ا ِّ َ ِ َ ِّ َ ِ ا‬ ِ ِ ِ .‫اْلَسبَاب وَ بَحثُوا عن علمها و جدو فِي الطالَب‬ ْ َ َ َ ْ َْ ْ َ ِ ْ

Artinya: “Pembicaraan Asbab al-Nuzul tidak dibenarkan kecuali dengan berdasarkan riwayat dan mendengarkan dari mereka yang secara langsung menyaksikan peristiwa nuzul, memperhatikan sebab-sebabnya dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya” Inilah jalan yang ditempuh oleh ulama Salaf. Mereka amat berhati-hati untuk mengatakan sesuatu mengenai Asbab al-Nuzul. Keketatan mereka itu dititikberatkan pada seleksi pribadi pembawa berita (para rawi), sumber-sumber riwayat (isnad), dan redaksi berita (matan).6 Salah satu bukti keketatan itu disebutkan dalam al-Itqan fi Ulum al-Quran karya Jalaluddin al-Syuti ketika Ibnu Sirin menceritakan pengalamannya sendiri:

‫سأَلْت عبَ ْيدةَ عن أَيَة من اْلقرأَن فَ قال : إِتاق اللَ وقُل سدادا ذَهب الاذيْن يَعملُون فِ ْيمن أُنْزل اْلقرأَن‬ ُ ْ ُ َِ ْ َ َ ْ َ ْ َ ِ َ َ ً َ َ ْ َ ِ َ َ ِ ْ ُ َ ِ ٍ ْ َ َ ُ ُ َ

Muhammad Ali al-Shabuny, al-Tibyan fi Ulm al-Quran (Beirut : Mazra’ah Binayah al-Iman, 1985), Cet. I, Hal. 25 5 Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal (Kairo : Muasasah al-Qurtubah, tt), Juz I, Hal. 323 6 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2011), Cet. XI, Hal 176

4

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

4

Artinya: “Aku pernah bertanya kepada Ubaidah tentang suatu ayat al-Quran, maka beliau berkata: bertakwalah kepada Allah dan katakanlah yang benar. Telah pergi orang-orang yang mengetahui tentang kepada siapa ayat itu diturunkan” Al-Wahidy telah menentang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka terhadap riwayat Asbab al-Nuzul. Pada sisi lain, al-Wahidy mengingatkan juga akan ancaman berat dengan mengatakan: “Sekarang setiap orang suka mengada-ada dan berbuat dusta, ia menempatkan kedudukannya dalam kebodohan tampa memikirkan ancaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab turunnya ayat”.7
B. SUMBER OTORITAS ASBAB AL-NUZUL

Sumber pengetahuan tentang Asbab al-Nuzul diketahui melalui riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Nilai berita itu sendiri sama dengan berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan kerasulan beliau, yaitu berita-berita hadis. Oleh karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu, shahih dan dhaif serta otentik dan palsunya. Seperti halnya persoalan hadist pada umumnya, penuturan atau berita tentang sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. 8 Namun, khusus dalam periwayatan Asbab al-Nuzul sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai literatur tulisan hanya menyebutkan dua sumber berita, yaitu dari Sahabat dan Tabi’in. Muhammad Abdul Adzim al-Zarqani menyebutkan bahwa Asbab al-Nuzul yang diriwayatkan dari seorang Sahabat bisa diterima meskipun tidak dikuatkan dengan riwayat lain. Hal itu karena pernyataan seorang Sahabat mengenai persoalan yang tidak menjadi lapangan Ijtihad, hukumnya Marfu’. Para Sahabat tidak mungkin mengatakan hal itu dari dirinya sendiri karena posisi mereka hanyalah mendengar dan meriwaytakan atau menyaksikan dan mengalihakan berita yang didengar dari Rasulullah Saw. 9 Jika mereka menemukan kesangsian atau hal yang belum mereka ketahui maka mereka segera menanyakannya kepada Rasulullah. Adapun bila Asbab al-Nuzul diriwayatkan oleh Tabi’in (generasi setelah Sahabat), maka hukumnya tidak bisa diterima kecuali bila berkualitas shahih dan dikukuhkan dengan hadis mursal lain serta yang meriwayatkannya termasuk Imam Tafsir yang mengambil riwayat dari Sahabat, seperti Mujahid, Ikrimah dan Said bin Jubair, ‘Atha, Hasan Basri, Sa’id bin Musayyab dan al-Dhahhak.10 Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang membuat riwayat Asbab al-Nuzul, kita harus mengetahui bahwa betapapun kita besungguh-sungguh mencari riwayat-riwayat yang shahih yang memungkinkan kita memahami Asbab al-Nuzul, namun tidak mungkin mengumpulkan seluruh ayat yang turun sesudah ada pertanyaan atau sebab. Hal ini juga disebabkan karena ayat-ayat al-Quran yang turun ada yang dapat dipandang sebagai Asbab al-Nuzul.
Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Lentera AntarNUsa, 2011), Cet. V, Hal. 108 8 Nurcholish Madjid, Konsep Asbab al-Nuzul : Relevansinya dengan Ajaran Keagamaan dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta : Paramadina, 1995), Cet. II, Hal. 26 9 Muhammad Abdul Adzim al-Zarqani, Manahil al-Urfan fi Ulum al-Quran (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2002), Jilid I, Cet I, Hal. 121 10 Jalaluddin al-Suyuti, Samudera Ulum al-Quran “Terjemahan dari judul asli al-Itqan fi Ulum al-Quran” (Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006), Cet. I, Hal. 169
7

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

5

C. RIWAYAT SAHABAT DALAM ASBAB AL-NUZUL DAN CONTOHNYA

a) Pengetahuan para Sahabat tentang Asbab al-Nuzul Sahabat Nabi merupakan generasi umat yang dapat menyaksikan turunnya ayat-ayat al-Quran. Tetapi sekalipun demikian, tiada seorang Sahabatpun yang bisa menyaksikan turunnya semua ayat-ayat al-Quran beserta Asbab an-Nuzulnya. Hal ini wajar saja karena ayat-ayat al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur dan di tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa yang berbeda-beda. Demikian pula tidak semua dan tidak selalu ayat-ayat itu turun dengan didahului oleh suatu sebab. 11 Oleh karena itu, ucapan para sahabat yang disertai dengan sumpah yang bisa memberi kesan seolah-olah mereka mengetahui semua ayat yang turun beserta asbab al-nuzulnya hendaklah kita pahami tidak secara harfiyah. Misalnya perkataan Ali bin Mas’ud dan ulama-ulama Sahabat yang lain, yaitu:

ِْ ْ .‫لَم تَ ْنزل اَيَة إَِل أَعلَم فِ ْيما نُزلَت و فِ ْيمن نُزلَت و أَيْن نُزلَت‬ ْ ِّ َ َ ْ ِّ ْ َ َ ِّ َ ُ ْ ‫ا‬

Artinya: “Tidaklah turun sesuatu ayat melainkan aku mengetahuinya terhadap apa ayat itu turun, terhadap siapa ayat itu turun dan dimana ayat itu turun”. Ungkapan sebagian Sahabat diatas hendaknya dipahami tidak pada makna lahirnya. Pernyataan itu hanyalah untuk menyatakan bahwa mereka sangat memperhatikan keadaan turunnya ayat-ayat al-Quran. Perhatian tersebut, baik didengar langsung dari Rasulullah atau hanya didengar dari sahabat-sahabat lain karena tidak menghadiri peristiwa turunnya ayat itu. Namun pengetahuan yang diperolehnya itu walaupun melalui perantara para Sahabat Nabi yang lain tetap dipandang sebagai pengetahuan yang langsung diperoleh dari Rasulullah Saw.12 Para Sahabat Nabi menumpahkan seluruh perhatiannya terhadap ayat-ayat al-Quran. Mereka sibuk dan tekun mengumpulkannya dengan ingatan dan juga hafalan. Kitabullah menyita sebagian besar waktu mereka yang amat berharga karena al-Quran itu sendiri memang menguasai seluruh fikiran dan perasaan mereka. Allah sewaktu-waktu menurunkan satu atau beberapa wahyu setelah terjadi satu atau beberapa peristiwa. Maka suatu kewajaran jika para Sahabat terkadang tidak mengetahui tentang Asbab al-Nuzul suatu ayat. Mereka tidak mungkin mengikuti secara terus menerus semua sebab turunnya ayat-ayat al-Quran. Hal inilah yang menuntut sebuah kehati-hatian tentang riwayat Asbab al-Nuzul pada ayat-ayat al-Quran yang Asbab Nuzulnya tidak ditemukan dalam riwayat Sahabat. Ulama lain berkata, mengetahui Asbab al-Nuzul suatu ayat adalah suatu perkara yang hanya diketahui oleh para Sahabat yang disertai dengan adanya tanda-tanda yang mendukung pada hal itu. Hal ini terkait dengan uraian sebelumnya bahwa tidak semua Sahabat mengetahui secara persis dimana dan kapan suatu ayat itu diturunkan. Maka jangan heran bila ada diantara mereka yang berkata “saya menduga ayat ini turun ditempat ini”.13 Ungkapan semacam ini akan ditemukan dalam Asbab al-Nuzul pada beberapa ayat al-Quran.
Muhammad Hasbi al-Shiddiq, Ilmu-ilmu al-Quran (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2002), Cet. II, Hal. 19-20 12 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2011), Cet. XI, Hal 174 13 Jalaluddin al-Suyuti, Samudera Ulum al-Quran “Terjemahan dari judul asli al-Itqan fi Ulum al-Quran” (Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006), Cet. I, Hal. 167
11

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

‫‪ASBAB AL-NUZUL‬‬ ‫‪Ushuluddin IV‬‬

‫6‬

‫‪b) Contoh Asbab al-Nuzul dari Riwayat Sahabat‬‬ ‫‪Uraian contoh mengenai surah atau ayat al-Quran yang Asbab Nuzulnya bersumber‬‬ ‫:‪dari riwayat para Sahabat sebagai berikut‬‬ ‫)‪1) Surah al-Muawwizatain (al-Falaq dan al-Nas‬‬

‫سورة الفلق‬ ‫َِ‬ ‫ِ َ ِّ ِ‬ ‫ِ َ ِّ ا ِ‬ ‫ْ ُ َ ِّ َ ِ‬ ‫قُل أَعوذُ بِرب الْفلَق (۱) من شر ما خلَق (٢) ومن شر غَاسق إِذا وقَب (٣) ومن شر النا فاثَات فِي الْعقد‬ ‫ِ ْ َ ِّ َ َ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ ْ‬ ‫َ ْ‬ ‫ٍ َ َ َ‬ ‫(٤) ومن شر حاسد إِذا حسد (٥)‬ ‫َ ِ ْ َ ِّ َ ِ ٍ َ َ َ َ‬ ‫﴿ سورة الفلق : ١ - ٥ ﴾‬ ‫سورة الناس‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ْ َ ِّ َ ْ َ ِ َ ِ‬ ‫ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ْ َع َ ِّ ِ‬ ‫قُل أ ُوذُ بِرب النااس (١) ملِك النااس (٢) إِلَه النااس (٣) من شر الْوسواس الْخنااس (٤) الاذي يُوسوس‬ ‫َ‬ ‫َِْ ُ‬ ‫َِ ِ َِ ِ‬ ‫ُُ ِ ِ‬ ‫فِي صدور النااس (٥) من الْجناة والنااس (٦)‬ ‫﴿ سورة الناس : ١ - ٦ ﴾‬ ‫وأخرج البيهقي في دَلئل النبوة من طريق الكلبي هن أبي صالح عن ابن عباس قال : مرض رسول‬ ‫الل صلى الل عليه و سلم مرضا شديدا فأتاه ملكان فقعد أحدهما عند رأس ه وِخ ر عن د رجلي ه فق ال ال ذي‬

‫عند رجليه للذي عند رأسه : ما نرى ؟ قال طب قال وما طب ؟ قال : سحر قال : وما سحر ؟ قال : لبي د‬

‫بن العصم اليهودي قال : أين هو ؟ قال في بئر ِل فالن تحت صخرة في كرية فأتوا كية فانزحوا ماءها‬ ‫الر‬

‫و رفع وا الص خرة ث م أخ ذوا الكري ة وأحرقوه ا فلم ا أص بح رس ول الل ص لى الل علي ه و س لم بع ث عم ار ب ن‬ ‫ياسر في نف ر ف أتوا كي ة ف إذا ماؤه ا مث ل م اء الحن اء. فنزح وا الم اء ث م رفع وا الص خرة و أخرج وا الكري ة و‬ ‫الر‬ ‫عق دة : ﴿ق ل أع وذ ب رب الفل ق﴾ و ﴿ق ل أع وذ ب رب الن اس﴾. لص له ش اهد ف ي الص حيح ب دون ن زول‬
‫41‬

‫أخرقوها فإذا فيها و تر فيه إحدي عشرة عقدة و أنزلت علي ه هات ان الس ورتان فجع ل كلم ا ق رأ ِي ة انحل ت‬

‫وأخرج أبو نعيم في الدَلئل من طربق أبي جعفر الرازي عن الربيع بن أنس عن أنس ب ن مال ك ق ال‬
‫51‬

‫السورتين وله شاهد بنزولهما.‬

‫: ص نعت اليه ود ذل ك لرس ول الل ص لى الل علي ه و س لم ش يئا فأص ابه م ن ذل ك وج ع ش ديد ف دخل علي ه‬ ‫أصابه فظنوا أنه لما به فأتاه جبريل بالمعوذتين فعوذه بهما فخرج إلى أصحابه صحيحا.‬
‫‪Asbab al-Nuzul dari Surah Muawwizatin diatas nampak dengan jelas pada kedua‬‬ ‫‪sumber riwayatnya berasal dari Sahabat, yaitu riwayat pertama dari Ibnu Abbas dan riwayat‬‬ ‫.‪kedua dari Anas bin Malik‬‬
‫,)1102 ,‪Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby‬‬ ‫072-962 .‪Cet. V, Hal‬‬ ‫51‬ ‫072 .‪Ibid, Hal‬‬
‫41‬

‫‪Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya‬‬

‫‪ASBAB AL-NUZUL‬‬ ‫‪Ushuluddin IV‬‬

‫7‬

‫091 ‪2) Surah al-Baqarah ayat‬‬

‫أخرج الواحدي من طريق الكلبي عن أبي صالح عن ابن عباس قال : نزلت هذه اآلي ة ف ي ص لح الحديبي ة وذل ك‬

‫ِ‬ ‫ِ ِ ِ َ ُ َ ُ ا َ ِ‬ ‫وقَاتِلُوا فِي سبِيل اللاه الاذين يُقاتِلُونَكم وَل تَ عتَدوا إِن اللاهَ َل يُحب الْمعتَدين ﴿ سورة البقرة : ١١﴾‬ ‫َْ ْ‬ ‫َ‬ ‫ُْ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬

‫أن رس ول الل ص لى الل علي ه و س لم لم ا ص د ع ن البي ت ث م ص الحه المش كون عل ى أن يرج ع عام ه القاب ل فل م ك ان الع ا‬ ‫ر‬ ‫القابل تجهز هو وأصحابه لعمرة القضاء وخافوا أن َل تفي قريش بذلك وأن يصدوهم ع ن المس جد الح را ويق اتلوهم ك ره‬ ‫و‬
‫61‬

‫أصحابه قتالهم في الشهر الحرا فأنزل الل ذلك.‬

‫‪Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Baqarah ayat 190) dikeluarkan oleh al-Wahidy‬‬ ‫‪sebagai Mukharrij yang bersumber dari Ibnu Abbas yang merupakan salah satu Sahabat‬‬ ‫.‪Nabi‬‬ ‫01 ‪3) Surah al-Dukhan Ayat‬‬

‫أخرج البخاري عن ابن مسعود قال : إن قريش ا لم ا استعص وا عل ى النب ي ص لى الل علي ه و س لم دع ا بس نين كس ني يوس‬ ‫فأصابهم قحط حتى أكلوا العظا فجعل الرج ل ينظ ر إل ى الس ماء في رى م ا بين ه وبينه ا كهيئ ة ال دخان م ن الجه د ف أنزل الل‬

‫ِ‬ ‫اَ ُ َ ٍ ُ ٍ‬ ‫فَارتَقب يَوَ تَأْتِي السماءُ بِدخان مبِين ﴿ سورة الدخان : ١١﴾‬ ‫ْ ْ ْ‬

‫)فارتقب يو تأتي السماء بدخان مبين( فأتى رسول الل صلى الل عليه و سلم فقيل : يا رسول الل استس ق الل لمض ر فإنه ا‬
‫71‬

‫قد هلكت فاستسقى فسقوا فنزلت.‬

‫,‪Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Dukhan ayat 10) bersumber dari Ibnu Mas’ud‬‬ ‫.‪salah satu Sahabat yang ahli dalam bidang tafsir‬‬ ‫1 ‪4) Surah al-Hasyr Ayat‬‬

‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫سباح لِلاه ما فِي السماوات وما فِي الَرض وهو الْعزيز الْحكيم ﴿ سورة الحشر : ١﴾‬ ‫ا َ َ ََ‬ ‫َ َ َ‬ ‫ْ ْ ِ َ َُ َِ ُ َ ُ‬
‫وأخرج الحاكم وصححه عن عائشة قالت : كانت غزوة بني النضير وه م طائف ة م ن اليه ود عل ى رأس س تة أش هر م ن وقع ة‬ ‫بدر كن منزلهم ونخله م ف ي ناحي ة المدين ة فحاص رهم رس ول الل ص لى الل علي ه و س لم حت ى نزل وا عل ى الج الء وعل ى أن‬ ‫و‬ ‫له م م ا أقل ت اإلب ل م ن المتع ة والم وال إَل الحلق ة وه ي الس ال ف أنزل الل ف يهم ﴿ س بح لل م ا ف ي الس موات وم ا ف ي‬
‫81‬

‫الرض ﴾‬

‫‪Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Hasyar ayat 1) bersumber dari Aisyah binti Abu‬‬ ‫.‪Bakar Radiyallahu anha, salah satu istri tercinta Rasulullah Saw‬‬
‫,)1102 ,‪Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby‬‬ ‫33 .‪Cet. V, Hal‬‬ ‫71‬ ‫902 .‪Ibid, Hal‬‬ ‫81‬ ‫132 .‪Ibid, Hal‬‬
‫61‬

‫‪Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya‬‬

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

8

D. RIWAYAT TABI’IN DALAM ASBAB AL-NUZUL DAN CONTOHNYA

a) Riwayat Tabi’in dalam Asbab al-Nuzul dan Syaratnya Kajian riwayat tentang Asbab al-Nuzul melalui jalur Tabi’in (generasi sesudah masa Sahabat Nabi) menekankan beberapa syarat. Indikasi ini sekali lagi menunjukkan bahwa ruang lingkup Asbab al-Nuzul tidak menyisihkan sedikitpun lapangan Ijtihad, tetapi ia berdasarkan pada sumber-sumber yang disandarkan pada Rasulullah Saw. Jalaluddin al-Suyuti menyebutkan bahwa yang termasuk musnad Sahabat adalah yang datang dari riwayat seorang Tabi’in, hadis semacam ini dihukumi marfu’ tetapi mursal. 19 Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya bahwa riwayat Tabi’in dalam hal Asbab al-Nuzul tidak dapat dipandang sebagai hadis sebelum memenuhi persyaratan sebagai berikut:20 1) Memiliki sanad yang Shahih 2) Bila sanadnya tidak shahih, masih bisa diterima bila ada hadis mursal lain yang menguatkan 3) Sumber berita dapat dipastikan berasal dari Sahabat Nabi 4) Tabi’in yang meriwayakannya adalah Mufassir yang terkemuka, seperti Mujahid, Ikrimah dan Said bin Jubair, ‘Atha, Hasan Basri, Sa’id bin Musayyab dan al-Dhahhak. Penerimaan hadis mengenai Asbab al-Nuzul dari kalangan Tabi’in ini dan begitupun juga dari kalangan Sahabat bertujuam untuk memperoleh kepastian bahwa hadis tersebut benar-benar bersumber pada seorang Sahabat Nabi yang menyaksikan, mengalami dan mendengar sendiri peristiwa yang berkaitan dengan turunnya suatu ayat. Upaya memperoleh kepastian tentang benarnya kejadian-kejadian itulah yang mendorong para Ulama ahli hadis membatasi cara memperoleh pengetahuan tentang Asbab al-Nuzul turunnya ayat-ayat al-Quran pada riwayat-riwayat yang shahih saja. Dalam hal ini mereka menolak setiap upaya perorangan yang mengemukakan pendapat atau ijtihad mengenai Asbab al-Nuzul.21 b) Contoh Asbab al-Nuzul dari Riwayat Tabi’in Uraian contoh mengenai surah atau ayat al-Quran yang Asbab Nuzulnya bersumber dari riwayat Tabi’in sebagai berikut: 1) Surah al-Infithar ayat 6

22

. ‫أخرج ابن أبي حاتم عن عكرمة في قوله ﴿ يا أيها اإلنسان ما غرك ﴾ اآلية قال : نزلت في أبي بن خل‬

ِ ِ َ َ َ َ ‫َ ِْ َ ُ َ ا‬ ﴾ ٦ : ‫يَا أَي ها اإلنْسان ما غَرك بِربِّك الْكريم ﴿ سورة اَلنفطار‬

Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Infithar ayat 6) bersumber dari Ikrimah, seorang generasi Tabi’in yang ahli dalam bidang tafsir. Ia banyak menimbah ilmu tafsir dari Ibnu Abbas karena tinggal bersamanya sebagai pembantu.
Jalaluddin al-Suyuti, Samudera Ulum al-Quran “Terjemahan dari judul asli al-Itqan fi Ulum al-Quran” (Surabaya : PT Bina Ilmu, 2006), Cet. I, Hal. 167 20 Ibid, Hal. 149 / Muhammad Abdul Adzim al-Zarqani, Manahil al-Urfan fi Ulum al-Quran (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2002), Jilid I, Cet I, Hal. 121-122 21 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2011), Cet. XI, Hal 174 22 Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011), Cet. V, Hal. 255
19

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

9

2) Surah al-Qadr ayat 3

ِ ٍ َْ ﴾ ٣ : ‫لَْي لَةُ الْقدر خ ْي ر من أَلْ ِ شهر ﴿ سورة القدر‬ ْ َ َِْ ‫و أخرج ابن جرير عن مجاهد قال : ك ان ف ي بن ي إس رائيل رج ل يق و اللي ل حت ى يص بح ث م يجاه د الع دو‬ ‫ش هر ﴾ عمله ا ذل ك‬ ‫ش هر ف أنزل الل ﴿ ليل ة الق در خي ر م ن أل‬ ‫في النهار حتى يمس ي فعم ل ذل ك أل‬
23

.‫الرجل‬

Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Qadr ayat 3) bersumber dari Mujahid, pemimpin ahli tafsir pada zaman tabi’in sampai di katakan bahwa beliau adalah orang yang paling mengetahui tentang tafsir pada zamannya. 3) Surah al-Qadr ayat 3

‫وأخ رج اب ن جري ر ع ن الض حاك ق ال : نزل ت ف يمن ك ان يس أل رس ول الل ص لى الل علي ه و س لم م ن‬
24

ِ ِ ﴾ ٢١ : ‫وَل تَجعل يَدك مغْلُولَةً إِلَى ُنُقك وَل تَ ْبسطْها كل الْبَسط فَ تَ قعد ملُوما محسورا ﴿ سورة اإلسراء‬ َ َ َ ْ َ ْ ََ ْ ‫ع َ ََ ُ َ ُ ا‬ ً ُ ْ َ ً َ َُْ .‫المساكين‬

Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Qadr ayat 3) bersumber dari al-Dhahhak, salah satu ahli tafsir terkemuka dari kalangan Tabi’in. 4) Surah al-Qadr ayat 3

‫وأخرج ابن أبي حاتم عن سعيد بن جبير قال : كانت قريش تسمر حول البيت وَل تطوف به ويفتخ رون ب ه‬
25

﴾ ٢١ : ‫مستَكبِرين بِه سامرا تَ هجرون ﴿ سورة اإلسراء‬ َ ُُ ْ ًِ َ ِ َ ِ ْ ْ ُ

.﴾ ‫فأنزل الل ﴿ مستكبرين به سامرا تهجرون‬

Asbab al-Nuzul dari ayat diatas (al-Qadr ayat 3) bersumber dari Said bin Jubair, yang juga merupakan ahli tafsir generasi Tabi’in. Pemuda yang berasal dari Habsyi asli dan menjadi warga Arab ini sadar betul bahwa ilmu jalan yang bisa mengantarkan kepada Allah dan takwa adalah jalan yang menuntunnya ke surga. Oleh sebab itu dijadikannya takwa di sisi kanannya dan ilmu di sisi kirinya. Keduanya dipadukan dengan ikatan yang erat. Pemuda Sa’id ini berguru kepada banyak sahabat senior, seperti Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim al-Thayy, Abu Musa al-As’ari, Abu Hurairah al-Dausi, Abdullah bin Umar maupun Ummul Mukminin Aisyah tetapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas.

Jalaluddin al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut : Darr al-Kitab al-Araby, 2011), Cet. V, Hal. 262 24 Ibid, Hal. 146 25 Ibid, Hal. 165

23

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

10

E. ANALISA RIWAYAT-RIWAYAT TENTANG ASBAB AL-NUZUL

Riwayat-riwayat tentang Asbab al-Nuzul tidak semua nilainya shahih seperti halnya riwayat-riwayat hadis. Pada sisi inilah yang menuntut perlu dilakukan penelitian yang seksama terhadap keterangan/riwayat tentang Asbab al-Nuzul, baik tentang sanad-sanadnya maupun matan-matannya. Kitab-kitab tentang Asbab al-Nuzul yang ditulis orang-orang zaman dahulu pun tidak luput dari kritik-kritik yang keras, walaupun pengarang-pengarangnya orang-orang yang wara’ dan berilmu. Misalnya al-Suyuti, sesudah beliau menyebutkan ulama-ulama yang menyusun kitab dalam bidang ini, langsung beliau mengkritik kitab al-Wahidy kemudian ikhtisar al-Jabary dan selanjutnya menerangkan bahwa al-Asqalany menyusun sebuah kitab dalam Asbab al-Nuzul yang tidak memiliki naskah lengkap karena ajal menjemputnya sebelum penulisannya selesai.26 A-Suyuti setelah mengkritik kitab-kitab orang lain, mensifatkan kitabnya “Lubab al-Nuqul fi Ulum al-Quran” sebagai suatu kitab yang belum perna ada taranya. Sungguh pun demikian, kita dapat mengambil faedah dari perkataan al-Suyuti bahwa banyak kelemahan-kelemahan di dalam kitab-kitab Asbab al-Nuzul yang disusun oleh ulama-ulama dahulu. Karena banyak terdapat riwayat-riwayat yang tidak shahih.27 Riwayat-riwayat Asbab al-Nuzul yang dipandang tidak shahih itu disebabkan oleh karena tidak sesuai dengan fakta sejarah, tidak rasional atau logis, terdapat hal-hal yang berlebihan yang bersifat sensasional atau pristiwa-pristiwa yang langkah terjadi.28 Al-Wahidy misalnya dalam tafsirnya mengenai surah al-Baqarah dibawah ini:

ِ ِ َِ ‫َ َ َ َ ُْ ْ ُْ َ ا‬ ‫ومن أَظْلَم ممن منَع مساجد اللاه أَن يُذكر فِيها اسمهُ وس عى فِ ي خرابِه ا أُولَئِ ك م ا ك ان لَه م أَن يَدخلُوها إَِل‬ َ ََ َ َ َ ُ ْ َ ََْ ْ َ َ َ َ ْ ‫ََ ْ ُ ا‬ ِ ِ ِ ِ ﴾ ١١٤ : ‫خائِفين لَهم فِي الدنْ يَا خزي ولَهم فِي اآلخرةِ عذاب عظيم ﴿ سورة البقرة‬ َ ََ َ ْ ْ ُ َ ْ ُْ َ َ

Al-Wahidy tidak menarik kesimpulan bahwa firman Allah itu merupakan ancaman yang bersifat mutlak bagi siapa saja yang menghina tempat-tempat ibadah. Bahkan al-Wahidy melakukan kekeliruan fatal yang berkaitan dengan nash kitabullah, yaitu mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan bangsa Babylonia yang bernama Bakhtansar dan kawan-kawannya. Disebutkan bahwa kaum yahudi menghancurkan kota Jerusalem yang dalam penyerbuannya dibantu beberapa orang Yahudi dan Romawi. Sehubungan dengan ini, al-Wahidy menyebut orang-orang Nasrani bersatu dengan Bakhtansar dalam menghancurkan kota Jerusalem padahal peristiwa Bakhtansar itu terjadi 633 SM. Namun, kekeliruan ini dimaafkan karena dua hal, yaitu al-Wahidy bukanlah seorang ahli sejarah dan ia tidak memilih pendapat Qatada, tapi hanya menyebutnya saja tampa tanggapan.29 Demikianlah sekilas alur perjalanan seleksi berbagai riwayat Asbab al-Nuzul yang dilakukan oleh tiap-tiap generasi hingga mencapai kesempurnaan seperti saat sekarang ini.
Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2011), Cet. XI, Hal 178-179 27 Muhammad Hasbi al-Shiddiq, Ilmu-ilmu al-Quran (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2002), Cet. II, Hal. 19-20 28 Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Quran (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1993), Cet. IV, Hal. 46 29 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran” (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2011), Cet. XI, Hal 181
26

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

11

Daftar Pustaka

Al-Qattan, Manna Khalil. Studi Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran”, Jakarta: Pustaka Lentera AntarNUsa, Cet. V, 2011 Al-Shabuny, Muhammad Ali. al-Tibyan fi Ulm al-Quran, Beirut: Mazra’ah Binayah al-Iman, Cet. I, 1985 Al-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-ilmu al-Quran “Terjemahan dari judul asli Mabahis fi Ulum al-Quran”, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet. XI, 2011 Al-Shiddiq, Muhammad Hasbi. Ilmu-ilmu al-Quran, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, Cet. II, 2002 Al-Suyuti, Jalaluddin. Samudera Ulum al-Quran “Terjemahan dari judul asli fi Ulum al-Quran”, Surabaya: PT Bina Ilmu, Cet. I, 2006 al-Itqan

Al-Suyuti, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Darr al-Kitab al-Araby, Cet. V, 2011 Al-Zarqani, Muhammad Abdul Adzim, Manahil al-Urfan fi Ulum al-Quran, Jakarta : Gaya Media Pratama, Jilid I, Cet I, 2002 Anwar, Rosihon. Ulum al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, Cet. II, 2010 Hanbal, Ahmad bin. Musnad Ahmad bin Hanbal, Kairo: Muasasah al-Qurtubah, tt, Juz I Madjid, Nurcholish. Konsep Asbab al-Nuzul : Relevansinya dengan Ajaran Keagamaan dalam Budhy Munawar dan Rachman (eds), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina, Cet. II, 1995 Zuhdi, Masjfuk. Pengantar Ulumul Quran, Surabaya: PT Bina Ilmu, Cet. IV, 1993

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

ASBAB AL-NUZUL Ushuluddin IV

12

“Berhati-hatilah (dalam meriwayatkan) Hadis dariku kecuali yang benar-benar kalian ketahui. Sebab barang siapa mendustakan atas diriku secara sengaja, maka hendaklah bersiap-siap menempati neraka dan barangsiapa berdusta atas al-Quran tampa ilmu, maka (juga) hendaklah bersipa-siap menempati neraka”. (H.R. Ahmad bin Hanbal)

Sumber-sumber Berita Asbab al-Nuzul dan Contohnya

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful