P. 1
komie

komie

|Views: 46|Likes:
Published by Yoga Wibowo

More info:

Published by: Yoga Wibowo on Apr 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2013

pdf

text

original

Presentasi kasus

SPINAL ANESTESI PADA PRE EKLAMPSIA BERAT

OLEH : Muh. Bayuaji M G. 0097045 PEMBIMBING : Dr. Marthunus Judin, Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK LAB/UPF ANESTESIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2007

Sp. Semua pihak yang telah membantu selama penulisan laporan ini. 10. St. 11. Dr. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kepaniteraan klinik di Unit Anestesi dan Keperawatan Intensif di FK UNS / RSUD dr. . Prof. selaku staf ahli anestesi.An. 6. Sugeng.An.An. Eko Setijanto. Saran dan kritikan kami harapkan demi perbaikan laporan ini. Dr. 7. Moewardi Surakarta dan pembimbing. Purwoko.An. Agustus 2007 ii . Sp. Sp. Dr. SpAn. Marthunus Judin. . Dr. Sp. MH. Moewardi Surakarta. SpAnKIC. Dr. selaku staf ahli anestesi. 8. SpAnKIC selaku staf ahli anestesi. Beny Suryo. Sudjito. Mulyata. Soemartanto. Seluruh staf dan paramedis yang bertugas di bagian anestesi RSUD Dr. selaku staf ahli anestesi.KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga presentasi kasus dengan judul “SPINAL ANESTESI PADA PRE EKLAMPSIA BERAT” dapat diselesaikan. Dr. selaku staf ahli anestesi 9. 4. 2. dr.An selaku kepala bagian Anestesi dan Keperawatan Intensif FK UNS / RSUD dr. Dr. Moewardi Surakarta. Surakarta. Supraptomo. selaku staf ahli anestesi. selaku staf ahli anestesi 3. Sp. selaku staf ahli anestesi. Akhirnya penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan semua pihak yang berkepentingan. SpAn. 5. Dr. Dr.

.......................................... PENDAHULUAN........................................................... TINJAUAN PUSTAKA......................................... DAFTAR PUSTAKA i ii iii 1 2 7 14 15 iii ...................... BAB II.....................................................................Penyusun DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................ PEMBAHASAN........................................ BAB V......................................................................................................... DAFTAR ISI........... BAB IV.......... KATA PENGANTAR.......................................... BAB III................................................................................................................................ KESIMPULAN.................... LAPORAN KASUS.................... BAB I......................

2. 3. Pungsi lumbal pertama kali dilakukan oleh Qunke pada tahun 1891. harga terjangkau. Anestesi lokal sangat berguna karena alasan sebagai berikut : 1. Metode ini sesuai dengan pasien rawat jalan. Sederhana. Lokal anestesi sangat berguna bagi pasien yang kooperatif. Anestesi spinal merupakan salah satu macam anestesi regional. merupakan zat yang mudah diinjeksikan dan peralatan yang dibutuhkan minimal serta dapat mengurangi kebutuhan post operatif. dengan menganestesi bagian bawah tubuh penderita dengan kokain secara injeksi columna spinal. operasi singkat dan pada daerah superfisial. Efek anestesi tercapai setelah 20 menit. Anestesi spinal subarachnoid dicoba oleh Corning. Efek samping yang tidak diinginkan dari general anestesi dapat dihindari. mungkin akibat difusi pada ruang epidural. 1 .BAB I PENDAHULUAN Perkembangan anestesi lokal ditandai dengan ditemukannya obat-obatan anestesi lokal sintetis yang lebih dipercaya dan juga ditemukannya teknik baru anestesi regional.

2 . A. sedang penderita tetap sadar. septikemia. Memudahkan induksi. amnesia dan analgesi. Mencegah terjadinya hipersekresi traktus respiratorius. cemas dan takut. tetapi lama anestesi didapat dengan lidokain hanya sekitar 90 menit. 2. atau tetrakain. anemia berat. Kontra indikasi : pasien dengan hipovolemia. Analgesi spinal (anestesi lumbal. menimbulkan sedasi. penyakit jantung. tekanan intrakranial yang meninggi. blok subarachnoid) dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgetik lokal ke dalam ruang subarachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 / L3-L4 (obat lebih mudah menyebar ke kranial) atau L4L5 (obat lebih cenderung berkumpul di kaudal).BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Maksud dan tujuan premedikasi adalah : 1. Bila digunakan obat lain misalnya bupivakain. Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien karena menghilangkan rasa Mencegah muntah. Premedikasi Premedikasi adalah tindakan yang penting disamping persiapan anestesi lainnya. Definisi Analgesi regional adalah suatu tindakan anestesi yang menggunakan obat analgetik lokal untuk menghambat hantaran saraf sensorik. Indikasi : anestesi spinal dapat digunakan pada hampir semua operasi abdomen bagian bawah (termasuk seksio sesaria). kelainan pembekuan darah. 3. Anestesi ini memberi relaksasi yang baik. sinkokain. 5. Mengurangi dosis obat anestesi. maka lama operasi dapat diperpanjang sampai 2-3 jam. sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh diblokir untuk sementara. perineum dan kaki. 4.

4 mg/kg BB untuk anak-anak. Obat ini dapat diberikan secara intra muskuler. tetapi mempunyai efek dan efek samping yang hampir sama dengan morfin. Dosis Pethidin untuk dewasa 1 mg/kgBB IM.01 mg/kg BB untuk dewasa dan 0. Atropin tersedia dalam bentuk Atropin sulfas dalam ampul 0. Obat ini juga meningkatkan kepekaan terhadap alat keseimbangan sehingga menimbulkan muntah. Terhadap sistem respirasi akan mendepresi dan menekan reaksi pusat pernapasan terhadap rangsangan CO2. suatu obat sintetik dengan rumus molekul yang berbeda dengan morfin. efek puncak 45-60 menit durasinya 3-4 jam. oleh karena tidak adanya kemampuan untuk memetabolisme Pethidin sehingga dapat menyebabkan koma.5 mg.5 mg atau 0. Obat ini dapat mengatasi kejang. Pada dosis klinik (0.25 mg dan 0. Efek analgetik tercapai dalam 15 menit. Sulfas Atropin Obat ini dapat mengurangi sekresi traktus respiratorius dan merupakan obat pilihan utama untuk mengurangi efek bronkhial dan kardial yang berasal dari parasimpatis akibat rangsangan obat anestesi atau tindakan operasi.1-0. intra vena dan subkutan. tetapi mula kerja dan masa kerjanya lebih singkat. Untuk dosisnya adalah 0. Efek sedasi. . euforia dan eksitasi hampir sama dengan morfin tetapi pethidin dapat menyebabkan kedutan dan tremor akibat rangsangan SSP. pusing terutama pada penderita berobat jalan. Pethidin biasanya digunakan untuk nyeri berat atau pada penderita dengan terapi inhibitor monoamin oksidase. Pethidin Pethidin adalah derivat fenil disperidin. Pada dosis yang lebih besar (>2mg) akan menghambat nervus vagus sehingga terjadi takikardi.0.4 . 2.6 mg) akan menimbulkan bradikardi yang disebabkan perangsangan nervus vagus.3 Obat-obat premedikasi yang biasa digunakan adalah : 1. Efek lainnya yaitu melemaskan tonus otot polos dan menurunkan spasme gastro intestinal. Efek anagesi hampir sama dengan morfin.

Teknik anestesi : a. Diazepam (Valium) Merupakan obat hipnotik sedatif sebagai premedikasi untuk menghilangkan rasa takut dan gelisah serta sebagai anti konvulsi yang baik.5/kgBB untuk anak 5-10 mg. Pemberian IV. Sadle back anestesi. daerah yang mengalami anestesi adalah daerah bawah dan segmen sakrum. disini termasuk Spinal tertinggi. b.4 2. e. daerah thoraks segmen Th4-Th12. posisi duduk akan lebih mudah untuk pungsi. Dapat mendepresi pusat pernafasan dan sirkulasi. d. b. d. 30 menit sebelum induksi. lebih tinggi. Analgesi Spinal 1. mulai dari perbatasan kosta (Th VI) di sini termasuk Spinal tinggi.2-0. minimal 500 ml cairan sudah masuk saat menginjeksi Posisi lateral dekubitus adalah posisi yang rutin untuk mengambil dan berkaitan keyakinan kalau paralisisnya hanya sementara. obat anestesi lokal. akan memblok pusat motor dan vasomotor yang thoraks bawah. c. 2. lumbal dan sakral. lumbal dan sakral. mulai garis sejajar papilla mammae. lumbal pungsi. c. yang kena pengaruhnya adalah daerah lumbal Spinal rendah. Inspeksi : garis yang menghubungkan 2 titikl tertinggi krista iliaka kanan kiri akan memotong garis tengah punggung setinggi L4-L5. umbilikus / Th X di sini termasuk daerah thoraks bawah. pembagian tingkat analgesi spinal adalah sebagai berikut: a. Asisten harus membantu memfleksikan posisi penderita. Sediaan dalam bentuk ampul berisi diazepam 10 mg/ml injeksi. Dosis 0. . Perlu mengingatkan penderita tentang hilangnya kekuatan motorik Pasang infus. tetapi bila kesulitan. B. Spinal tengah. lumbal dan sakral. Untuk tujuan klinik.

Lidokain mudah diserap dari tempat suntikan dan dapat melewati sawar darah otak. anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan cara topikal atau suntikan. 23. Jarum lumbal akan menembus berturut-turut beberapa ligamen. 2 – 60 ml dengan atau tanpa epinefrin. i. 25. L5-S1. yang terakhir ditembus adalah duramater subarachnoid. Analgesi epidural : . L3-L4. lebih lama dan lebih efektif dari pada prilain. tutup luka dengan kasa steril. jika terjadi hipotensi diberikan oksigen nasal dan ephedrin IV 5 mg. 3. dosis maksimal 300 mg tanpa epinefrin dan 500 mg dengan epinefrin. Obat yang dipakai untuk kasus ini adalah : Lidodex. infus 5001000 ml NaCl atau hemacel cukup untuk memperbaiki tekanan darah.5 e. Analgesi infiltrasi dan blok : Larutan 0. cairan LCS akan menetes keluar. Setelah tindakan antiseptik daerah punggung pasien dan memakai sarung tangan steril. Cabut jarum. L4-L5. 26 pada bidang median dengan arah 10-30 derajat terhadap bidang horisontal ke arah kranial pada ruang antar vertebra lumbalis yang sudah dipilih. Onset tercapai dalam 2 menit dan lama kerja 1. b. bila dengan vasokonstriktor lama kerja 2 jam. h. Monitor tekanan darah setiap 5 menit pada 20 menit pertama. Selanjutnya disuntikkan larutan obat analgetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Lidokain merupakan aminostilamid. Pada anestesi spinal akan terjadi cepat. tetapi kecepatan absorbsi dan toksisitas bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. f. 22 lebih halus no. g. Anestetik ini efektif bila digunakan tanpa vasokonstriktor. Dosis : a. Setelah stilet dicabut.5 – 2 %. pungsi lumbal dilakukan dengan penyuntikan jarum lumbal no. Palpasi : untuk mengenal ruangan antara 2 vertebra lumbalis. Lidokain di metabolisme di hati dan diekskresikan melalui ginjal. Pungsi lumbal hanya antara L2-L3.5 jam.

75-100 mg untuk pembedahan ekstremitas bawah dan abdomen bawah. dan 100-150 mg untuk anestesi spinal yang tinggi. Jeli digunakan untuk endoskopi urethra. 8. 4. vomitus. Menyebabkan post operatif headache. pipa trakeobronkhial. Analgesi spinal : Larutan 5% dengan dekstrosa 7. faring. sistem 2. 5. c. dan kejang juga dapat terjadi. dosis maksimal 250 mg. Reaksi hipersensitivitas akibat lidokain jarang terjadi. Keuntungan dan kerugian anestesi spinal : a. 3. Gejala yang timbul pada pemakaian over dosis adalah drowiness dan amnesia khususnya pada penggunaan tanpa epinefrin. 6. 4. 15-30 ml dengan atau tanpa epinefrin. twitching.5% dosis yang digunakan adalah 40-50 mg untuk persalinan perabdominal. 1. nausea.6 Larutan 1-2%. Hipotensi. Keuntungan 1. 7. Respirasi spontan Lebih murah Ideal untuk pasien kondisi fit Sedikit resiko muntah yang dapat menyebabkan aspirasi paru Tidak memerlukan intubasi Pengaruh terhadap biokimiawi tubuh minimal Fungsi usus cepat kembali Tidak ada bahaya ledakan Observasi dan perawatan post operatif lebih ringan Efeknya terhadap sistem kardiovaskuler lebih dari general pada pasien dengan perut penuh Kerugian . laring. Analgesi topikal : Larutan 2-4% untuk kornea. d. 2. 9. b.

air ketuban (+).BAB III LAPORAN KASUS A. Riwayat Penyakit Sekarang : Datang seorang G2P0A0. Macam Operasi Macam Anestesi Tanggal masuk Tanggal Operasi No CM : SCTP Emergensi : Regional Anestesi dengan teknik spinal anestesi : 9 Agustus 2007 : 9 Agustus 2007 : 85 91 16 Diagnosis Pre Operasi : Pre eklampsi berat respon terapi pada sekundigravida. B. merasa hamil 9 bulan. darah (-). Karanganyar : Ibu rumah tangga hamil aterm. S : 26 th : Perempuan : Jaten. hari perkiraan lahir :11Agustus 2007. c. Hari pertama menstruasi terakhir (HPMT) : 29 November 2006. Anamnesis a. belum merasa kencengkenceng. kiriman bidan dengan keterangan Pre eklampsia berat dan proteinuria +4. PEMERIKSAAN PRA ANESTESI 1. Keluhan utama : Ingin melahirkan. b. Usia kehamilan 39+5 minggu. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan : Ny. Riwayat Penyakit Dahulu − − kehamilan Riwayat DM (-) Riwayat (+) Hipertensi selama 7 . gerakan janin masih dirasakan.

pendengaran baik. presentasi kepala. kulit ketuban (+). Mata d. : Cor/Pulmo : Dalam batas normal : I : Perut membuncit. Tanda vital T : 150/80 mmHg N : 88 X/menit BB : 56 kg b. linea fuscha (+). : conjunctiva anemis (-). pembukaan (-). 3. Keadaan umum c. TFU 38 cm. A : Denyut jantung janin (+) 12-12-12. sekret (-). Pemeriksaan Laboratorium Hb Hct AL : 15. bagian terendah belum masuk panggul. taksiran berat janin 3500 gram. nyeri tekan (-). sklera ikterik (-). dinding vagina licin. Mulut g. reflek cahaya +/+. Thorax i. Abdomen : Riwayat Asma (-) Riwayat Alergi Obat/Makanan (-) R : 20 X/menit S : 36. compos mentis.5 ºC : baik. 103 µL AT : 274. : nafas cuping hidung (-). : pembesaran limfonodi (-). portio mencucu. pupil isokor.8% : 11. presentasi kepala. JVP tidak meningkat. gizi cukup. P : Supel. : tak ada infeksi.8. Genital : VT : Vulva dan urethra tenang. His (-). j. hepar dan lien tidak teraba. Hidung e.103 µL Gol darah : A GDS : 63 mg/dL . sianosis (-). Telinga f. Pemeriksaan Fisik a. teraba janin tunggal. striae gravidarum (+). : mukosa dalam batas normal.8 − − 2. Leher h.8 gr/dl : 47.

Di Ruang Persiapan Periksa persetujuan operasi dan identitas penderita. RENCANA ANESTESI 1. Persiapan Operasi . Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan Obat Anestesi Regional Pethidin 25 mg Maintenance : O2 2 liter/menit Monitoring tanda vital selama anestesi setiap 10 : Lidodex 50 mg Jenis Anestesi Teknik Anestesi Premedikasi : Regional Anestesi : Anestesi Spinal : Diazepam 10 mg D.Puasa 6 jam BT : 2’ 30” CT : 4’ 30” . Pemeriksaan tanda-tanda vital : T : 150/100 mmHg R : 20 X/menit N : 90 X/menit S : 36. menit 8.Persetujuan tertulis (+) . Kesimpulan Kelainan sistemik ringan (-) Kegawatan bedah (-) Kegawatan Obstetri (+) Status fisik ASA II E C. 4. 7. (IV) 5.Infus RL 2 cc/kg BB/jam : 28 tetes/menit 2.4 4.9 Ureum : 24 Creatinin : 0. 3. TATALAKSANA ANESTESI 1. 6.5 ºC .

Jam 18.10 2. 23 pada bidang median dengan arah 10-30 derajat terhadap bidang horizontal ke arah kranial pada ruang antar vertebra lumbal 3-4. Jam 18 .25 infus RL habis diganti infus NaCl. b. tanda vital dimonitor. pasien dipindahkan ke ruang insersio parasentral. - laki. Pasien diminta duduk dengan punggung fleksi maksimal. c. APGAR 8-9-10. anus (+).40 pasien masuk kamar operasi.00 bayi dilahirkan perabdominal.45 mulai dilakukan anestesi spinal dengan prosedur sebagai berikut: a. dengan menyuntikkan jarum spinal no. .Berikan methergin 1 ampul IV. stilet dicabut dan disuntikkan lidodex 50 mg dan pethidin 25 mg. Dilakukan tindakan antiseptis pada daerah kulit punggung Menggunakan sarung tangan steril. d. manset dan monitor dipasang. Jam 18.53 Operasi dimulai.05 Operasi selesai. - Cek obat dan alat anestesi. f. Jam 17. berat badan 3500 gram.45 diinjeksi remopain 30 mg dan ketamin 25 mg. pungsi lumbal dilakukan bawah pasien dengan menggunakan larutan Iodin 1%. Sintosinon 1 ampul per drip.55 diberi Canul O2 3lt/menit. Lokasi penyuntikan ditutup dengan perban. Pasien dikembalikan pada posisi telentang. Infus RL 28 tts/menit Di Ruang Operasi Jam 17.14 plasenta dilahirkan per abdominal lengkap dengan Jam 18. Setelah jarum sampai di ruang subarachnoid yang ditandai dengan menetesnya cairan LCS. Jam 19. jenis kelamin laki- liter/menit. - pemulihan. Oksigen 2 Jam 17. Jam 17. e.

25 pasien bisa menggerakkan kaki. diberi oksigen 2 lt/menit.35 18.45 17. Jam 19.11 Monitoring selama operasi.55 pasien pindah bangsal.15 18.55 18.25 18. Jam 17. Tensi (mmHg) 140/90 160/110 150/105 130/105 125/80 90/60 110/70 130/88 145/90 Nadi (X/menit) 78 75 82 90 92 90 89 88 90 Sp O2 (%) 99% 99% 99% 99% 99% 99% 98% 98% 98% Di Ruang Pemulihan Jam 19. Jam 19.45 18.55 19. - .05 18. dimonitor tanda vital. infus RL 25 tts/menit.10 pasien di ruang pemulihan.45 pasien dapat mengangkat kaki Jam 19.05 3. posisi Fowler.

perdarahan = 500/3920 X 100% = 12.2) = 134. Jumlah cairan yang telah diberikan : .35 % dari EBV.6 = 672 cc • Perdarahan selama operasi 500 cc − − EBV pada pasien ini = 70 X 56 kg = 3920 cc.2 jam) : = (2 X 56 X 1.12 TERAPI CAIRAN Perhitungan cairan pada kasus ini adalah (BB = 56 kg) • Defisit cairan karena puasa 6 jam = 2 X 56 X 6 = 672 cc • Kebutuhan cairan selama operasi + kebutuhan operasi besar (lama 1. Saat operasi : 1000 cc − Total cairan yang diberikan 1500 cc. Pra operasi : 500 cc 2. Persentase Jadi kebutuhan cairan total = 672 + 672 + 500 = 1844 cc 1.2) + (8 X 56 X 1. jadi masih kurang 344 cc sehingga pemberian cairan masih diperlukan saat pasien berada di bangsal.4 + 537.

Supine hipotensi. oleh karena janin menekan vena cava inferior ibu. Hal ini juga mempengaruhi sirkulasi fetomaternal. B. Pada kasus ini terjadi defisit cairan sebanyak 344 cc. kebutuhan dasar selama operasi. Khawatir adanya Mendelson syndrome. Emergensi. kebutuhan operasi besar dan kehilangan darah selama operasi ) yang total sebanyak 1844 cc. 2. 5. 2. 3. 2. Relaksasi otot yang lebih baik. Permasalahan dari segi medik 1.13 BAB IV PEMBAHASAN Pada pasien ini. DIT (Delivery Intake Time) : Kecepatan ahli bedah untuk mengeluarkan induksi. Menyangkut 2 nyawa yaitu nyawa ibu dan anak. Maintenance : Oksigen 3 liter/menit. Premedikasi : Diazepam 10 mg 2. dilakukan anestesi secara regional karena memiliki keuntungan yaitu : 1. ini diperoleh dari kebutuhan cairan total ( terdiri dari : defisit cairan karena puasa 6 jam. Anestesi spinal : Lidodex 5 % 50 mg dan Pethidin 25 mg. 3. A. Diphragma terdorong keatas. sehingga timbul sesak nafas. 4. Trauma C. kurang dari 10 menit setelah . Bahaya kemungkinan terjadinya aspirasi kecil karena pasien dalam keadaan sadar. Sedangkan cairan yang masuk sebanyak bayi dari kandungan. Analgesi yang cukup kuat. Permasalahan dari segi Anestesi Pemberian Obat-obat anestesi yang sesuai : 1. Permasalahan dari segi bedah 1. 3. Perdarahan 3.

Jika tekanan darah sistolik turun di bawah 75 mmHg atau terdapat gejala-gejala penurunan tekanan darah. Oleh karenanya. jantung dan otak. Penurunan venous return ke jantung dan penurunan cardiac out put. intercostal. maka harus cepat diatasi untuk menghindari cedera ginjal. saat operasi tidak terjadi penurunan tekanan darah. perlu pemberian oksigen yang adekuat. Pada kasus ini. Untuk mengatasi defisit cairan ini maka diperlukan penambahan cairan saat pasien masuk bangsal. Penurunan venous return juga dapat menyebabkan bradikardi. Hipotensi terjadi karena : 1. Penurunan resistensi perifer.25 mg IV. 2. Anestesi spinal terutama yang tinggi dapat menyebabkan paralisis otot pernapasan. Tekanan darah yang turun setelah anestesi spinal biasanya sering terjadi. Hipotensi dapat terjadi pada sepertiga pasien yang menjalani anestesi spinal. pasien dapat mengalami kesulitan bernapas. Untuk mengatasi bradikardi yang terjadi diberikan sulfas atropin 0.14 1500 cc. abdominal. Untuk mencegah hal tersebut. . yang dilakukkan anestesi spinal. di antaranya dengan memberikan oksigen dan menaikkan kecepatan tetesan infus.

15 . Secara umum penatalaksanaan operasi dan penatalaksanaan anestesi pada kasus ini berjalan lancar tetapi masih terdapat adanya defisit cairan sehingga perlu dipenuhi pada pasca operasi di bangsal.BAB V KESIMPULAN Telah dilakukan anestesi regional dengan menggunakan teknik anestesi spinal pada penderita pre eklampsia berat dengan ASA II E dengan menggunakan induksi Lidodex 50 mg. melalui pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga komplikasi anestesi dapat diantisipasi ataupun ditekan seminimal mungkin. Pemeriksaan pre anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi. maintenance O2 2 lt/menit. Pethidin 25 mg.

1994. Farmakologi dan Terapi. Michael B. 1999/2000. Jakarta. . Penuntun Praktis Anestesi. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar untuk Pendidikan S1 Kedokteran. EGC. Sulistia Ganiswara.DAFTAR PUSTAKA Karyadi Wirjoatmojo. Jakarta. 1996. Dobson. FK UI. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->