BULETIN

ISSN : 1693 - 3265 Volume 8, Nomor 3, September 2010

HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN
Implikasi Landasan Hukum Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian Tujuan dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral RI Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peranan dan Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter, Sistem Pembayaran dan Stabilitas Keuangan Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia: Independensi, Pengawasan Bank dan Stabilitas Sistem Keuangan Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan Resensi Buku: Konstitusi Ekonomi (Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH) Cakrawala Hukum: Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, RUU Otoritas Jasa Keuangan, Adakah Solusi Alternatif ? Daftar Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia, Mei - Oktober 2010 Ringkasan Peraturan Bank Indonesia, Mei - Oktober 2010

Volume 8, Nomor 3, September 2010

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN
Direktorat Hukum Bank Indonesia Pelindung Deputi Gubernur Bidang Hukum Bank Indonesia Penanggung Jawab Ahmad Fuad, Heru Pranoto, Agus Santoso Pemimpin Redaksi Agus Santoso Sekretaris Redaksi Dyah Pratiwi Dewan Redaksi Zulkarnain Sitompul, Wahyudi Santoso, Sudarmaji, Bambang Djauhari, Herminingsih, Rosalia Suci, Suprianto, Hari Sugeng Raharjo, Umi Widji. R. Redaksi Pelaksana Arief. R. Permana, Gufron Baehaki, Hilman Tisnawan, Teddy Yusuf, Anton Purba, Kuwat Wijayanto Mitra Bestari Prof. Dr. Erman Radjagukguk, SH, LLM Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, LLM Prof. Dr. Huala Adolf, SH, LLM Dr. Inosentius Samsul, SH, LLM Dr. Lastuti Abubakar, SH, MH Penanggung Jawab Pelaksana dan Distribusi Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum, Direktorat Hukum Bank Indonesia Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan ini diterbitkan oleh Direktorat Hukum Bank Indonesia. Isi dan hasil penelitian dalam tulisan-tulisan dalam buletin ini sepenuhnya tanggung jawab para penulis dan bukan merupakan pandangan resmi Bank Indonesia. Buletin ini pada awal tahun penerbitan, tahun 2003, diterbitkan 6 (enam) bulan sekali, yaitu pada bulan Juli dan Desember. Mulai tahun 2004 buletin ini terbit secara berkala pada bulan April, Agustus dan Desember, dan mulai tahun 2009, buletin diterbitkan pada bulan Januari, Mei, dan September. Peminat buletin ini dapat menghubungi Bagian Administrasi Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter, Gedung B Lt. 16, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350, telepon (021) 381 8629, facsimile (021) 350 1931, email: buletinhukum_dhk@bi.go.id Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa artikel ilmiah atau semi ilmiah serta resensi buku berkenaan dengan hukum perbankan dan kebanksentralan. Tulisan tersebut dapat disampaikan kepada Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum, Direktorat Hukum Bank Indonesia, Gedung Tipikal Lt 9 Jl M.H Thamrin No. 2 Jakarta 10350, telepon (021) 381 7346, facsimile (021) 380 1430. Atas dimuatnya artikel dan resensi buku dimaksud, Redaksi memberikan uang jasa penulisan. “Buletin ini dapat diakses melalui website Bank Indonesia di http://www.bi.go.id, pilih links riset, survey dan publikasi, kemudian pilih publikasi”

Halaman ini sengaja dikosongkan

redaksi juga telah menyediakan resensi buku: Konstitusi Ekonomi. pembentukan UU mengenai LPJK harus dilihat apakah dapat meningkatkan fungsi administratif kontrol dan manajerial kontrol terhadap otoritas jasa keuangan agar kebijakan yang telah ditetapkan dilaksanakan secara taat asas sesuai peraturan perundang-undangan bebas dari berbagai penyimpangan atau penyelewengan dalam rangka pencapaian tujuan. Bismar Nasution. September 2010 Redaksi i . Ec. Akhirnya. dalam rubrik Cakrawala Hukum. buletin ini akan memuat daftar Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Surat Edaran (SE) Ekstern Bank Indonesia dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2010. Dr. Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian Tujuan dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral.Dari Meja Redaksi Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan Volume 8 Nomor 3. oleh Drs. Independensi Bank Indonesia dan Peran Baru Dalam Stabilitas Sistem Keuangan. SH. Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia. oleh Oka Mahendra. Nindyo Pramono. Pembentukan Lembaga Pengawas Jasa Keuangan (LPJK) sebagai amanat Pasal 34 UU Bank Indonesia harus dilakukan untuk membangun industri jasa keuangan yang sehat. yaitu: Implikasi Landasan Hukum. SH. teratur dan mempunyai daya saing yang tinggi guna mewujudkan perekonomian yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan. SH. Menyoroti hal tersebut. pembentukan Lembaga Pengawas Jasa Keuangan (LPJK) harus dicermati dari berbagai aspek. Dari aspek yuridis. Dr. Abdul Mongid. LLM. Edisi September 2010 kembali hadir dan menyapa pembaca sekalian. Jakarta. Sementara itu. Oleh Dr. MA. redaksi menampilkan pula seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia: RUU OJK. Adakah Solusi ? Selanjutnya sebagai referensi. yang ditulis oleh Prof. Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peran dan Fungsi Bank Indonesia di Bidang Moneter. serta Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan. yang ditulis oleh Prof. LLM. Sistem Pembayaran dan Stabilitas Sistem Keuangan. RUU berkaitan LPJK tidak boleh dilihat terpisah dari UU lain yang terkait. Dari aspek filosofis. dalam edisi kali ini Buletin akan khusus menghadirkan artikel berkaitan dengan rencana pembentukan OJK. guna memberikan pengkinian informasi produk perundang-undangan Bank Indonesia. Namun demikian. Wimboh Santoso. Dari aspek sosiologis. Selamat membaca. yang dilengkapi dengan Ringkasan Peraturan Bank Indonesia. dengan harapan agar semakin mempermudah pembaca dalam menelusuri dan mencari regulasi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. penyusunan RUU mengenai LPJK hendaknya secara sungguh mempertimbangkan best practice dan dinamika perkembangan di sektor jasa keuangan.

Halaman ini sengaja dikosongkan .

......Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan Volume 8...................................................................16 1-9 i iii iii ........................................................ Veri Dhyatmika Adhiraharja Cakrawala Hukum: Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia......Oktober 2010............. Dr........... Ec......................................... Abdul Mongid................... Nomor 3......... Implikasi Landasan Hukum Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian Tujuan dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral RI............... Daftar Isi................. Prof......... Bank Indonesia) Bank Indonesia: Independensi.................... RUU Otoritas Jasa Keuangan. Sistem Pembayaran dan Stabilitas Keuangan................................ Prof........................ LLM Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peranan dan Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter............................. Tim Informasi Hukum (Direktorat Hukum Bank Indonesia) 55 . Dr...........49 45 ....... Bismar Nasution........ Jimly Asshiddiqie..............................................22 11 .......46 37 .... Tim Informasi Hukum (Direktorat Hukum Bank Indonesia) Ringkasan Peraturan Bank Indonesia..... Wimboh Santoso (Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan... Mei . Pengawasan Bank dan Stabilitas Sistem Keuangan......................... LLM Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan................... Oka Mahendra........................................................................ SH Resensi Buku: Konstitusi Ekonomi (Prof....... Drs................ Adakah Solusi Alternatif ?.... Dr.................................. SH.Oktober 2010........... Redaksi Daftar Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Ekstern Bank Indonesia.... SH).......... SH......... Nindyo Pramono........................................70 51 -53 47 ..........43 23 .................. Dr.......................... Mei ............... September 2010 Halaman Dari Meja Redaksi.36 17 ................................ MA Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan.................

Halaman ini sengaja dikosongkan .

namun tidak dalam arti berada dalam posisi isolasi terhadap seluruh kebijakan perekonomian suatu negara (Paul A Volcker. not depend on something for validity or efficiency. posisi BI tampaknya dependence. Independence: “not depending on autority. subjection or control. Bank Indonesia adalah Lembaga Negara yang independen. Political independence is the attribute of a nation or state which is enterely autonomous and not subject to government. self governing. diancam penjara minimal 2 (dua) tahun. independensi menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Itulah kualifikasi dan persyaratan suatu Bank Sentral yang independence. Apakah sebenarnya hakekat independen itu. Adakah batas-batas toleransinya?. Sebagai Lembaga Negara yang independen. Independensi BI memberikan kewenangan yang lebih besar kepada BI dengan harapan akan dapat lebih besar meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugasnya. Ex Chairman Board of Governors FRS US 79-87). Pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya dilarang melakukan campur tangan terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia (BI). Secara teoritis. not supported by public fund (for institution). Dalam praktek negara maju. control or dictation of any exterior power“. pada hakekatnya terminologi “independensi“ itu mempunyai cakupan yang sangat luas. maksimal 5 (lima) tahun serta denda minimal Rp 2 miliar. maka independensi Bank Sentral seperti BI terkait hal-hal sebagai berikut: Suatu Bank Sentral yang efektif harus kuat dengan cakupan ekonomi yang luas dalam operasinya dan terlepas dari campur tangan partisan serta tekanan partai politik. B. LANDASAN DAN STATUS BANK INDONESIA Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia (UUBI). Bahkan ditegaskan di dalam UUBI. apakah independen berarti BI steril sama sekali dari segala bentuk intervensi?. masih merupakan bagian dari Eksekutif. LLM A. independent of any political aprty (for politician) (Riyanto Sastroadmodjo. Nindyo Pramono. maksimal Rp 5 miliar. BI wajib menolak dan/atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak-pihak yang disebutkan di muka. unwilling to be under obligation to others. Konsekuensinya Bank Indonesia dituntut transaparan dan memenuhi prinsip akuntabilitas kepada publik dalam menetapkan kebijakannya serta terbuka bagi pengawasan oleh masyarakat. BI adalah badan hukum yang status badan hukumnya diperoleh melalui penetapan Undang-Undang (UU). Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Demikian terangkum dalam Pasal 67 dan 68 UUBI. Namun di sisi lain. Sebagai lembaga independen di lingkungan pemerintahan suatu Negara. 1999). Jika dikaitkan dengan Independensi Bank Sentral. Bank Sentral seharusnya memiliki kemampuan atau otoritas atau kewenangan judgment dalam kaitannya dengan persoalan kebijakan moneter suatu negara. Independence: “the state or condition of being free from Pelanggaran terhadap larangan campur tangan maupun terhadap kewajiban untuk menolak campur tangan. dengan kriteria: cara pendiriannya dilakukan penguasa negara berdasarkan UU. INDEPENDENSI BI Sebagai Lembaga Negara yang indepedenden. diberi wewenang membuat peraturan sendiri yang mengikat masyarakat. SH. BI adalah badan hukum publik. pelaksanaan tugasnya berhubungan dengan publik. Dr. Adapun wewenang yang diberikan oleh UU kepada BI antara lain wewenang mengelola kekayaan sendiri terlepas dari APBN.Implikasi Landasan Hukum Independensi dan Posisi Dalam Sistem Ketatanegaraan Bagi Pencapaian Tujuan dan Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral RI Oleh: Prof. 1 . Saat ini produk peraturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI).

Kredit Kepada Koperasi Primer untuk anggotanya (KKPA). Demikian ditentukan di dalam Pasal 9 Ayat (1) UUBI. Kredit Pemilikan Rumah Sederhana dan Sangat Sederhana (KPRS/SS). karena akan mengganggu kemandirian fungsi BI. Di Amerika Serikat (United State/US ) pemberian status independen Federal Reserve ( FDR ) atau Bank Sentral Amerika terutama untuk tujuan agar FDR dapat mengatur kebijakan moneter US secara bebas dari “political presures“ (Lash. terutama terletak pada masalah keuangan pemerintah. Sebagaimana ditegaskan di dalam Pasal 8 huruf a UUBI: BI berwenang untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. namun mempunyai kedudukan sejajar dengan Kabinet Pemerintah. sekalipun dengan biaya besar. Kewenangan ini tidak dapat diintervensi Pemerintah. Diantaranya untuk Kredit Usaha Tani (KUT). Bisa jadi tidak sebanding. kemandirian keuangan dan kemandirian organisasi. Oleh sebab itu. jika kemandirian fungsi ini dikaitkan dengan kebijakan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) misalnya. KLBI diberikan untuk membiayai berbagai kredit program pemerintah. Secara struktural kedudukan BI tidak berada di bawah atau di dalam Kabinet Pemerintah. Kemandirian dalam hal menetapkan kebijakan moneter merupakan syarat kemandirian institusi. namun itulah keputusan yang diambil oleh BI yang tidak boleh diintervensi. Kemandirian Institusi Kemandirian Institusi diartikan sebagai status BI secara institusi terpisah dari kekuasaan eksekutif dan legislatif. Pasal 10 UUBI mengatakan: ”BI dalam mengendalikan kebijakan moneter berwenang menggunakan instrumen-instrumen moneter yang telah ditetapkan dalam UU tanpa meminta atau memperoleh persetujuan dari Pemerintah”. Sebagai Lembaga Negara yang independen. yaitu: kemandirian institusi. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran serta mengatur dan mengawasi bank. BI diberi kewenangan menetapkan kebijakan moneter secara independen dan bebas dari campur tangan pemerintah. Kredit Kepada Koperasi (KKOP). maka BI dituntut mempunyai kemandirian terutama dalam 4 (empat) hal. KLBI dikucurkan terutama untuk membiayai pengadaan pangan dan kegiatan yang menyentuh secara langsung kepada usaha kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah. Bank Sentral yang independen harus memiliki 1. Independen diperlukan untuk pengembangan institusi dan mempertahankan jati dirinya secara bertanggung jawab. Dalam konteks ini kemandirian BI dapat diartikan sebagai kemandirian instrumen yang menggambarkan bahwa suatu bank sentral memiliki kebebasan memilih instrumen yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan sasaran moneter yang telah ditetapkan. Masing-masing kemandirian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Kredit 2 . tidak tepat jika dinilai atau dievaluasi dengan tolak ukur out put yang dicapainya. secara historical maupun tradisional. kemandirian fungsi. 1987: 28) C. seharusnya kebijakan seperti KLBI ini tidak boleh ditugaskan kepada BI. kebebasan untuk memutuskan kapan dan dalam hal apa saja bantuan kredit atau fasilitas kredit likuiditas dapat diberikan. Kemandirian Fungsi Suatu Bank Sentral dapat dinilai mempunyai kemandirian fungsi bila ia mempunyai kebebasan dalam menggunakan instrumen-instrumen kebijakan moneter seperti: penyesuaian tingkat suku bunga dan operasi pasar terbuka (OPT) dan pemberian tingkat diskonto atau pengautan tentang kebijakan perkreditan. KEMANDIRIAN BI 2. Hasil dari pelaksanaan kewenangan tersebut di atas. misalnya dalam hal pelaksanaan OPT. Nomor 3. Demikian ditegaskan di dalam Pasal 4 Ayat (2) UUBI. Kredit Modal Kerja Kepada BPR (KMK BPR). September 2010 kualifikasi dan persyaratan itu biasanya melekat dan tercermin di dalam UU yang mengaturnya. Independen sering terkait dengan prinsip politik yang dianut suatu pemerintah.

Oleh sebab itu tepat jika kemudian oleh UUBI di dalam Pasal 56 KLBI telah dihapuskan. sebaliknya BI wajib menolak dan atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak luar. namun dalam kebijakan yang dilakukan BI merupakan pelaksanaan dari kebijakan pemerintah. sebagai bentuk kontrol tidak langsung. Ada satu pandangan yang mengatakan BI termasuk dalam jajaran kabinet. September 2010 Kepada Pengusaha Kecil dan Mikro (KPKM) (BI. BI adalah lembaga yang independen. 2001: 20). Secara teoritis mengacu pada difinisi independen sebagaimana dikemukakan di atas. independen telah diatur secara tegas dalam UU. Pemerintah tidak menganggarkan kebutuhan keuangan BI. maka seharusnya perdebatan siapa yang harus bertanggung jawab atas kebijakan BLBI untuk mengatasi krisis tahun 1997 yang lalu tidak perlu terjadi. status dan kewenangan BI. tapi sekaligus sebagai agent of development yang punya kaitan dengan kebijakan perekonomian pemerintah secara keseluruhan. 13 Tahun 1968 Tentang Bank Sentral waktu itu. karena ditengarai di dalam pelaksanaan BI sebagai Lembaga Negara yang independen. Tidak perlu approval DPR. Nomor 3. karena bila dalam masalah keuangan terdapat kontrol dari Pemerintah. tapi perlu diinformasikan kepada DPR. khususnya berkaitan dengan kebijakan moneter. Kemandirian Keuangan Mengacu kepada peran Pemerintah dan DPR terhadap anggaran bank sentral. Perbedaan pandangan demikian seharusnya tidak perlu terjadi jika semua pihak benar-benar memahami fungsi Bank Sentral sebagai Lembaga Negara yang independen. Intervensi dan pressure politik masih sering mempengaruhi kinerja dan kebijakan yang dijalankan oleh BI sebagai Lembaga Negara yang independen. Sebagaimana diketahui BI adalah institusi yang paling disorot dalam kasus BLBI tersebut. Argumennya adalah dari segi keuangan dapat dipisahkan. Kalau secara kaedah fungsi BI sebagai Lembaga Negara yang mandiri. karena dipandang mengganggu konsep kemandirian BI. 4. banyak pihak kemudian mempermasalahkan landasan hukum kebijakan dalam rangka pelaksanaan tugas BI. Oleh sebab itulah. Akibatnya begitu BI menjalankan tugastugasnya sebagaimana diamanatkan oleh UUBI. Dengan adanya kontrol pemerintah akan sangat rentan intervensi atau pressure politik. maka Pasal 60 UUBI mengatakan: “anggaran BI ditetapkan oleh Dewan Gubernur. Setiap pihak yang melakukan campur tangan dikenai sanksi yang tegas. Saat itu terjadi perdebatan yang berkepanjangan di Panja BLBI seputar apakah BI termasuk dalam jajaran pemerintahan/Kabinet atau tidak (Mintoraharjo. Netralitas BI sebagai bank sentral ternyata belum sepenuhnya benar-benar mampu mandiri. Pandangan lain mengatakan tidak demikian. Kemandirian Organisasi Kemandirian organisasi diperlukan oleh BI karena sangat erat kaitannya dengan komposisi dari organ badan hukum BI dan sistem pengangkatan dan pemberhentian pegawai BI sebagai bank sentral. Belakangan ini independensi dan kemandirian serta kredibilitas BI diuji. maka diperlukan adanya kemandirian keuangan pada BI. Pihak lain dilarang melakukan campur tangan terhadap pelaksanaan tugas BI. hal ini akan berarti bahwa BI tidak lagi bisa memainkan peran independensinya secara optimal. Tidak mustahil pula kemudian banyak kalangan pemerhati BI yang juga menengarai intervensi dan pressure politik tersebut sebagai upaya lain yang bertujuan merongrong pencapaian kinerja dan pelaksanaan tugas BI. 3 . Terpisah di sini mengandung arti “lepas“ sama sekali dari induknya.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. lembaga yang otonom berdasarkan UU No. intervensi maupun pressure politik tersebut tidak boleh terjadi pada Bank Sentral seperti BI. mandiri dari segi fungsinya. ternyata BI belum mampu menempatkan dirinya sebagaimaan dikehendaki oleh UUBI. 2002: 20). 3. Mengapa demikian. Demikian dalam disimpulkan dari ketentuan Pasal 67 jo Pasal 9 UUBI. Oleh karena itu UUBI mengatur bahwa anggaran BI adalah mandiri terpisah dari Pemerintah. Pada saat itu BI tidak hanya berfungsi sebagai Bank Sentral. sebagaimana kami kemukakan di atas.

2000 : 166. September 2010 D. Mengatur dan Mengawasi Bank Peraturan Bank Indonesia Peraturan Pemerintah Sumber : Rahbini. POSISI BI DALAM SISTEM KETATANEGARAAN MPR Menyampaikan Laporan Keuangan BI yang telah diperiksa Lembaga Tinggi Negara Lembaga Tertinggi Negara Badan Pemeriksa Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Presiden Kepala Negara Kepala Pemerintahan Mahkamah Agung Dewan Pertimbangan Agung Mengambil Sumpah dan Janji Anggota Dewan Gubernur Memeriksa Laporan Keuangan BI Lembaga Negara (UU No. Mengatur dan Menjaga Kelancaran Sistem Pembayaran 3. 4 . Nomor 3. 23/1999 joUU No.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Inflasi b. Nilai Tukar 2. Struktur Bank Indonesia Dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia MPR Presiden Bank Indonesia Kepala Negara Kepala Pemerintahan DPR DPA BPK MA 1. Menetapkan dan Melaksanakan Kebijakan Moneter: a.3/04 Informasi Tertulis Triwulan/sewaktu-waktu Informasi Tahunan Tertulis UU BI (UUD 45) Pimpinan BI (UUBI) Bank Indonesia Lembaga Negara yang Independen dan Badan Hukum Departemen Publik (Informasi Tahunan) Sumber : Diolah kembali dari BI dan Rahbini. 2000.

l. Untuk mencapai sasaran laju inflasi. Jika poisisi demikian dipahami kebenarannya. Pemerintah boleh menyusun kabinetnya dan setiap saat boleh diganti atau berubahubah dan oleh UU perubahan seperti itu menjadi hak prerogative Presiden. Rahbini mengatakan bahwa kedudukan BI adalah sejajar dengan kedudukan Presiden. menurut hemat saya seyogyanya BI tidak lagi masuk ke ranah pendanaan Bank yang menghadapi masalah insolvency. Sebagai Lembaga Negara BI dikatakan mengambil sebagian peran Presiden sebagai Kepala Negara. karena berdasarkan UUBI tegas dikatakan di dalam Pasal 4 bahwa BI adalah Lembaga Negara yang independen. 2000 : 167). maka perdebatan tentang apakah BI merupakan bagian dalam Kabinet Pemerintahan atau bukan. Tugas Penetapan dan Pelaksanaan Kebijakan Moneter Dalam rangka melaksanakan tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. barangkali memerlukan perenungan atau penyimakan lebih mendalam. sehingga memerlukan sosialisasi yang lebih mendalam (Rahbini. sebagaimana akan dibahas pada uraian di bawah. BI adalah Lembaga Negara bukan Lembaga Pemerintah. terutama perkembangan harga. Nomor 3. BI tetap mempunyai fungsi sebagai lender of the last resort yang memungkinkan BI membantu kesulitan pendanaan jangka pendek yang dihadapi bank. 2000 : 167 ). karena menurut hemat saya jika hal ini dilakukan oleh BI. Pemberian bantuan dana kepada bank dalam rangka tugas sebagai lender of the last resort tersebut dibatasi jangka waktunya. posisinya berada di luar strtuktur tersebut dan mandiri. yaitu paling lama 90 hari. BI adalah Lembaga Negara yang independen. seperti yang terjadi pada waktu-waktu yang lalu.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. BI menetapkan sasaran besaran moneter atau likuiditas perekonomian. September 2010 Status BI yang independen dan mandiri sebagaimana diuraikan di atas. tercermin pada: Terhadap barang dan jasa = inflasi Terhadap mata uang negara lain = kurs Menurut Pasal 8 UUBI. mengingat pemahaman tentang posisi atau kedudukan. risikonya akan terlalu 5 . E. dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Di sinilah sebenarnya posisi BI sebagai Bank Sentral yang tidak boleh dicampuri oleh pihak manapun. Operasi Pasar Terbuka (OPT). kemandirian BI sebagai Bank Sentral saja oleh sementara kalangan pemerhati di bidang perbankan belum sepenuhnya benar. Mahkamah Agung. Berpijak dari pengalaman krisis moneter tahun 1997/98 yang lalu. Jadi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. karena posisi BI berada di luar Pemerintahan atau Kabinet. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. dapat dipelajari bahwa posisi BI dalam system ketatanegaraan Indonesia terlihat tidak sejajar dengan DPR. penetapan tingkat diskonto. Demikian dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 11 UUBI. Posisi BI juga tidak sejajar atau sederajat dengan Depertemen atau Kementeraian Departemen. secara legal berdasarkan UUBI. BI tidak berada dalam struktur kabinet atau struktur Pemerintahan. pendekatan demikian yang tepat. BI hanya mempunyai satu tujuan yaitu: MENCAPAI & MEMELIHARA KESTABILAN NILAI RUPIAH Pencapaian dan pemeliharaan kestabilan nilai Rupiah. Mengapa demikian. seperti terkait dengan perdebatan tentang kasus BLBI di Panja BLBI yang lalu seharusnya tidak perlu terjadi. guna mencapai tujuan kestabilan nilai tukar rupiah. Dalam melaksanakan tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. BI menetapkan sasaran inflasi dengan memperhatikan perkembangan dan prospek ekonomi makro. Jika hal ini dikaitkan dengan perbincangan tentang sudah saatnya atau belum kehadiran OJK atau LPJK untuk menggantikan peran BI sebagai Pengawas Perbankan. BPK maupun Presiden sebagai Lembaga Tertinggi Negara ( Rahbini. termasuk Pemerintah. TUJUAN DAN TUGAS BANK INDONESIA Menurut Pasal 7 UUBI. namun untuk posisi BI berdasarkan UU tidak perlu harus ikut arus perubahan seperti dalam sistem kabinet dan/atau pemerintahan. penetapan cadangan wajib minimum. Pengendalian moneter dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen a. BI memiliki tiga tugas yaitu: • • • Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. Secara legal menurut hemat saya. Mangatur dan mengawasi bank. Penggunaannya hanya untuk kepentingan mismatch dan harus dijamin dengan surat berharga yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan. Kedudukan seperti ini belum dipahami oleh banyak kalangan.

jika fakta efouria saat ini tidak mencerminkan kesiapan SDM yang memadai untuk mendukung kehadiran OJK tersebut. Nama lembaga pengawas tersebut adalah Otoritas Jasa Keuangan. Yang menjadi perhatian saat ini adalah kaitannya dengan tugas mengawasi bank. Coba bandingkan dengan kasus Pajak yang menghebohkan saat ini. menurut Pasal 13 UUBI. Namun demikian. saat ini masih banyak kalangan yang mempertanyakan apakah kehadiran OJK tersebut benar-benar sudah merupakan kebutuhan untuk mengawasi dalam satu atap lembaga keuangan bank maupun non bank. Kemudian diharapkan akhir tahun 2010 UUOJK diharapkan sudah bisa disetujui dan disahkan oleh DPR bersama-sama dengan Pemerintah. Namun pada kenyataannya sampai saat ini UUOJK tersebut belum juga kunjung ada. jika ternyata Bank yang Insolven tersebut tidak kunjung dapat disehatkan bahkan bisa jadi akan semakin kolaps dan kemudian menghadapi pailit yang sudah pasti tidak mungkin dapat diharapkan mampu mengembalikan dana bantuan tersebut. termasuk pasar modal dan asuransi. dan probity. Tugas Pengaturan dan Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Dalam menjalankan tugas pengaturan dan penyelenggaraan sistem pembayaran.Sementara itu kebijakan penyertaan tersebut tidak boleh berlangsung terus. Saat ini justru banyak kalangan juga yang mengkawatirkan kehadiran OJK tidak akan mampu mengambil alih fungsi pengawasan tersebut. Jika mendasarkan pada amanat Pasal 34 UUBI sebenarnya OJK atau LPJK tersebut diharapkan sudah terbentuk pada akhir tahun 2002 . Tugas ini erat kaitannya dengan masalah lalulintas devisa dan system nilai tukar sebagaimana diatur dalam UU Tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. banyak pihak menyatakan Tugas Pengaturan dan Pengawasan Bank Selanjutnya dalam rangka tugas pengaturan dan pengawasan bank. BI mempunyai wewenang untuk melaksanakan kebijakan nilai tukar berdasarkan sistem nilai tukar yang ditetapkan Pemerintah atas usul BI.Hal tersebut berarti Undang-undang OJK sudah harus lahir pada tahun 2002 tersebut. Selanjutnya. menurut Pasal 15 UUBI. BI berwenang: • • • • Menetapkan peraturan di bidang perbankan Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan tertentu dari bank Melakukan pengawasan bank baik langsung maupun tidak langsung Mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan ketentuan perundang-undangan 6 . BI juga bertugas mengelola cadangan devisa negara yang ada di BI. Dengan hadirnya OJK. Satu-satunya jalan adalah dana bantuan pendanaan tersebut kemudian hanya akan dijadikan penyertaan. Nomor 3.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. maka Lembaga keuangan Bank maupun bukan Bank nantinya akan diawasi oleh OJK tersebut. sehingga tidak menimbulkan masalah baru dikemudian hari. di mana Rancangan Undang-undangnya sudah disiapkan baik oleh Departemen Keuangan. dalam rangka menjalankan tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. September 2010 besar. Pengelolaan cadangan devisa tersebut dilakukan dengan memperhatikan prinsip security. BI berwenang: • • • Melaksanakan dan memberikan persetujuan serta izin penyelenggaraan jasa sistem pembayaran Mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan kegiatannya Menetapkan penggunaan alat pembayaran Dalam jangka pendek. bank-bank yang selama ini mengalami masalah likuiditas dan masalah penyehatan akan benar-benar telah dapat disehatkan. KEHADIRAN OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) ATAU LEMBAGA PENJAMIN JASA KEUANGAN (LPJK). F. Amanat UU tugas pengawasan bank tersebut akan dialihkan kepada lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang akan dibentuk dan diharapkan paling lambat akhir tahun 2010. Di samping itu. Pada saatnya harus dijual lagi kepada investor atau pihak ketiga yang berminat dan memadai. Disinilah persoalan akan muncul. jika ternyata hasilnya tidak juga mampu menutup dana bantuan yang telah dikeluarkan tersebut. liquidity. Diharapkan pada saat pengalihan tugas pengawasan bank kepada lembaga pengawas yang baru tersebut. kebijakan perbankan diarahkan untuk mempercepat penyehatan bank-bank agar dapat mendukung pemulihan ekonomi. menurut Pasal 24 UUBI. DPR ataupun BI sendiri.

Jika konstatasi ini benar. Presiden berwenang: • • • • • Mengusulkan dan mengangkat Gubernur & Deputi Senior Mengangkat Deputi Gubernur Mengusulkan calon Gubernur & Deputi Senior kepada DPR DPR menyampaikan hasil persetujuannya kepada Presiden untuk diangkat Memberikan persetujuan tertulis jika anggota Dewan Gubernur akan menjalani proses hukum. Nomor 3. akan tetap tumbuh atau bertabrakan dengan fungsi pengaturan BI yang secara tidak langsung akan bersinggungan dengan fungsi pengawasan (macroprudential). saya kawatir hal intu hanya akan menimbulkan masalah baru dikemudian hari. kredibel. sudah tepat berada di jajaran BI. hanya dilatar belakangi oleh sikap traumatis pembentuk UU waktu itu terhadap peristiwa krisis perbankan masa lalu yang satu diantaranya ditengarai karena pelaksanaan tugas pengawasan BI terhadap bank-bank umum di Indonesia yang kurang efektif. hubungan BI dengan Presiden dapat digambarkan sebagai berikut. Hubungan dengan Badan Pemeriksa Keuangan: • Menerima dan melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan tahunan BI 7 . tidak qualified. Jangan-jangan mandat tersebut hanya didasari atau dilatarbelakangi oleh sikap emosional karena trauma masa lalu. Hubungan dengan Presiden sebagai Kepala Negara. HUBUNGAN DENGAN LEMBAGA LAIN Dalam struktur ketatanegaraan Indonesia.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. persoalan sebenarnya atau persoalan substansial terkait dengan krisis perbankan selama ini yang ditengarai antara lain karena pelaksanaan fungsi pengawasan BI kurang memadai. Saya kawatir kehadiran OJK yang mengambil fungsi pengawasan BI atas Bank-bank Umum. Jika kehadiran OJK ternyata juga hanya akan diisi oleh SDM dari BI yang dieksodus ke LPJK/OJK dan mantan Pejabat/pensiunan BI seperti halnya pada Peradilan Pajak. kehadiran Pengadilan Pajak yang hanya diisi oleh SDM dari Pegawai Pajak dan Mantan Pegawai Pajak dan/atau Konsultan Pajak dengan dalih merekalah yang mempunyai pengalaman dan keahlian dibidang pajak. apakah persoalan tersebut terletak pada lembaganya atau pada SDMnya ?. Bercermin pada Peradilan Pajak sebagaimana dikemukakan di atas. bukankah yang lebih esensial dan substansial adalah persoalan reformasi SDM bukan reformasi kelembagaannya. Pernyataan yang layak direnungkan saat ini adalah. Hubungan dengan Makamah Agung. Jika pandangan ini diterima. Jika kehadiran OJK nanti ternyata hanya akan memindahkan SDM Divisi Pengawasan BI ke lembaga baru yang bernama OJK. ternyata juga masih rentan dengan KKN yang sungguh membahayakan kepentingan publik dan keuangan negara. Bercermin pada kasus Pajak sebagaimana saya kemukakan di atas. Secara sistem barangkali kelembagaannya sudah benar. bukankah hal tersebut secara substansial persoalan mendasar adalah terletak pada SDMnya yang tidak kredibel. G. tidak jujur dan mempunyai kemampuan maupun integritas yang tinggi. maka menurut hemat saya saat ini masih perlu dikaji ulang apakah mandat Pasal 34 UUBI tersebut sudah sepenuhnya tepat dan benar. maka jujur saya khawatir kasus serupa akan terjadi juga di OJK tersebut. ternyata tidak memberikan solusi terbaik sistem pengelolaan perpajakan di Indonesia. jika tidak dibarengi dengan SDM yang memadai. Saya terus terang kawatir kehadiran OJK yang dimanatkan oleh Pasal 34 UUBI tersebut. maka kehadiran OJK sebenarnya belum tentu mencerminkan solusi tepat pengaturan dan pembenahan tugas dan fungsi pengawasan perbankan saat ini. tegas dalam menjalankan fungsi pengawasan yang mandiri. mempunyai integritas yang tinggi. Mahkamah Agung yang bertugas mengambil sumpah/janji anggota Dewan Gubernur. independen. September 2010 bahwa kehadiran Pengadilan Pajak ternyata bukan solusi terbaik untuk mendukung reformasi sistem perpajakan di Indonesia. akan tetapi SDM pemegang kunci pengambil keputusan dan/atau kebijakan di bidang tugas pengawasan yang harus direformasi dan bukan sistemnya. Jika konstatasi ini benar.

Menerima sisa surplus hasil kegiatan BI Pemerintah dengan persetujuan DPR wajib menutup kekurangan dalam hal modal BI menjadi kurang dari Rp 2 triliun Hubungan Internasional. • Dalam melaksanakan tugasnya. Hubungan dengan Pemerintah: • Hubungan dengan Kantor Menteri Sekretaris Negara untuk pemuatan PBI dalam Lembaran Negara RI. sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 34 UUBI. perbankan & keuangan. 8 . Kehadiran OJK atau LPJK sebagai salah satu solusi untuk menempatkan peran pengawasan perbankan pada Institusi mandiri di luar BI. sebagaimana dapat dilihat pada ketentuan Pasal 8 UUBI. ditengarai masih menyisakan problem mendasar dikemudian hari. Kerja sama tersebut akan di atur dalam UU LPJK atau OJK yang akan datang. Kajian kritis berkaitan dengan hal itu adalah apakah kehadiran OJK atau LPJK itu sudah benar-benar merupakan kebutuhan atau justru hanya merupakan efouria karena trauma masa lalu sebagai dampak dari krisis perbankan yang berkepanjangan yang satu diantaranya adalah karena fungsi pengawasan BI tidak optimal. Secara kaedah pengaturan independensi BI sebagai Bank Sentral sebenarnya sudah cukup tegas. Hubungan dengan Bea & Cukai dalam hal larangan membawa uang rupiah ke luar atau ke dalam wilayah pabean RI: • • BI mengelola cadangan devisa milik negara Pemerintah dapat hadir dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter dengan hak bicara tanpa hak suara • • BI sebagai pemegang kas Pemerintah Untuk dan atas nama Pemerintah dapat menerima pinjaman luar negeri. menatausahakan. atau masalah lain yang berkatan dengan tugas & wewenang BI • • • • Pemerintah wajib konsultasi dengan BI & DPR dalam penerbitan surat-surat utang negara BI dapat membantu Pemerintah dalam penerbitan surat-surat utang negara. BI bertugas: • • Melakukan kerja sama dengan bank sentral negara lain. BI dapat bertindak sebagai anggota lembaga tersebut untuk dan atas nama Negara Hubungan dengan Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan yang Independen yang akan datang. implikasi terhadap independensi dan posisi dalam sistem ketatanegaraan bagi pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas BI sebagai Bank Sentral RI. PENUTUP Dengan mendasarkan pada UUBI sebagaimana beberapa kaedahnya telah di bahas dalam uraian di atas. karena kesiapan SDM untuk itu masih mengambil atau hanya memindahkan saja Direktorat Pengawasan BI menjadi bagian dari Lembaga Pengawasan yang baru tersebut.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. serta menyelesaikan tagihan & kewajiban keuangan Pemerintah terhadap pihak luar negeri • Pemerintah wajib meminta pendapat dan/atau mengundang BI dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. H. LPJK yang akan datang mempunyai kewajiban melakukan koordinasi & kerja sama dengan BI sebagai bank sentral. organisasi dan lembaga internasional Apabila keanggotaan suatu lembaga internasional/ multilateral dipersyaratkan adalah negara. Nomor 3. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa independensi tersebut masih sering tidak dapat diimplementasikan secara benar di dalam praktek karena adanya intervensi baik dari Pemerintah maupun pressure politik. September 2010 • • Melakukan pemeriksaan khusus terhadap BI apabila diminta oleh DPR BPK menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada DPR. ternyata masih menyisakan perbedaan pemahaman diantara sebagian kalangan pemerhati BI sebagai Lembaga Negara yang independen.

PT. Prentice-Hall Inc. Toronto. Jakarta. Mardi Mulyo.Referensi Bank Indonesia. Jakarta. USA. 2001.. P. 1992. London. Banking Law and Regulations: An Economis Perspentive. Didik J. 9 . 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia. Jonathan. Mintorahardjo. UU NO. Sukowaluyo. Rahbini. Macey. Litle Brown Company. R and Miller. Mengurai Benang Kusut BLBI. BLBI Simalakama. UU No. Bank Indonesia. Geoffrey. Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral.. Banking Law and Regulation.. Resi.10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Suwidi Tono. UU No. Lash. 7 Tahun 1992 jo UU No. A. 2002. 1987. Nicholas. Boston.1987. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.

Halaman ini sengaja dikosongkan .

224225. Dari sinilah kita dapat meyakini “the rule of law” atau prinsip supremasi hukum (supremacy of law) dapat benar-benar diwujudkan dalam kenyataan. (Jakarta: Konstitusi Press. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. (Bandung: Alumni. Dr. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.2 Petama. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). Apabila diperhatikan secara mendalam. Jakarta. yang keseluruhannya membentuk suatu kesatuan sistem hukum.” (“UUBI”). hukum dan konstitusi disuatu Negara itu haruslah menjadi sesuatu yang hidup dalam praktek kehidupan bernegara sehari-hari. mengapa UUBI itu berlaku? Kedua. Bismar Nasution. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. Dengan ini dapat dipahami persoalan-persoalan yang bersifat yang hakiki dari UUBI itu. tahun 2003-sekarang. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. 2005. John Elster menyatakan pula. Tahun 2006-sekarang. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Berdasarkan hukum Bank Indonesia telah ditentukan sebagai Bank Sentral dan kedudukannya diakui oleh konstitusi. tahun 2004-sekarang. Sementara itu. Hukum Tata Negara dan Pilar Pilar Demokrasi. tahun 2002-sekarang. Cit. hal. hal. dan Transparansi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral: Studi Perbandingan Undang Undang Bank Indonesia”. Ilmu Hukum. “Independensi.4 3 Arend Lijphart dan jon Elster dalam Maqdir Ismail. Radbruch menyatakan. Sistem Pembayaran dan Stabilitas Keuangan Oleh: Prof. apa dasar kekuatan mengikatnya ? Ketiga. tahun 2001–2002. Pancasila Jakarta. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ.Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada Peranan dan Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter. bahwa tugas teori hukum adalah membikin jelas nilai-nilai serta postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya yang tertinggi. Jakarta. terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia. Doktor dari Universitas Indonesia (2001).263. Disertasi pada Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2005). tahun 1999-sekarang. apa yang menjadi tujuan UUBI. hal. sebagaimana telah pula ditentukan dalam pasal 4 ayat (1) UU BI. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Jika tidak. bagaimana seharusnya UUBI dipahami? UU BI merupakan derivatif dari ketentuan pasal 23 UUD 1945. tahun 1987-sekarang. niscaya prinsip “the rule of law” dan “supremacy of law” itu hanya menjadi jargon atau slogan kosong belaka. Satjipto Rahardjo. Krisnadwipayana Jakarta. Untuk itu dapat dipahami berbagai pendapat yang mengkaji kedudukan bank sentral yang independen dalam konstitusi. Op. Artinya kedudukan Bank Sentral dalam struktur ketatanegaraan terpatri atau memperoleh mandat dari konstitusi yang sekaligus memberikan jaminan dari konstitusi untuk Bank Sentral yang independen. bahwa “…they cannot be change through the ordinary legislative pocess but require a more stringent procedure". Akuntabilitas.3 Konstitusi itulah yang menjadi desain utama dan pokok dari keseluruhan sistem aturan yang berlaku sebagai pegangan bersama dalam kehidupan warga Negara dalam suatu Negara.1 Berdasarkan itu harus diteliti antara lain sebagai berikut.? Keempat. maka teori hukum itu memberikan sarana kepada kita untuk merangkum dan memahami masalah implementasi Pasal 34 “Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004. Seperti dikatakan oleh Arend Lijhart. Jimly Asshiddiqie. 1 Satjipto Rahardjo. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. maka penafsiran bahwa Bank Sentral ditentukan dalam pasal 23D UUD 1945 adalah Bank Indonesia. ** Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). 2006). 225 11 . tahun 2001-sekarang. bahwa “A central bank can be made particularly strong if us independence is enshrined not just a central bank charter but in the constitution”. Jakarta. SH. LLM** Apabila judul makalah ini didekati dari teori hukum. tahun 2002. Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994).79. Karena itu. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. halaman. 4 2 Bandingkan. tahun 2002-sekarang. 1982).

2006). termasuk tidak ada undang-undang yang akan datang yang dapat mencabut fungsi dan tugas bank Indonesia. harus dipertahankan kedudukannya. isi dari hukum yang akan datang. Independen berarti bank sentral dapat menggunakan instrumen yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh sistem politik tanpa adanya campur tangan dari pihak diluar bank sentral. Hans Kelsen.7 Terdapat kesepakatan diantara para ahli bahwa bank sentral independen yang bebas dari campur tangan pemerintah dapat mencapai tujuan menjaga stabilitas harga dengan lebih baik. termasuk pengawasan bank. Blinder menyatakan bahwa independensi bank sentral dapat berarti dua hal. Nomor 3. Sebab apabila dipostulasikan dengan norma dasar. (Jakarta: Konstitusi Press. Namun demikian keprihatinan para politisi 7 5 Bandingkan. (Cambridge: The MIT Press. Lars Nyberg. peranan dan tugas Bank Indonesia yang independen sebagai Bank Sentral sebagaimana ditentukan dalam konstitusi. “The Framework of Modern Central Banking”. Tapi yang dimaksud adalah bahwa bank sentral memiliki diskresi yang luas mengenai bagaimana menggunakan instrumen-instrumennya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui undangundang. keputusan-keputusan yang diambil olehnya sulit untuk dibatalkan oleh cabang-cabang atau lembaga pemerintahan lainnya. Teori Umum Tentang Hukum dan Negara. Alan S. Untuk mencapai kestabilan harga dibutuhkan waktu lebih panjang dan komitmen tinggi terhadap pengawasan moneter.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Central Banking in Theory and Practice. terutama yang berhubungan dengan masalah ekonomi. bank sentral memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya. misalnya bahwa parlemen tidak boleh mengesahkan (rancangan) undang undang yang bertentangan dengan konstitusi. Konsekwensi independen bagi bank sentral adalah harus lebih akuntabel untuk tindakan yang dilakukan dan kebijakan moneter yang dilakukan secara transparan. (Bandung. 54. 8 6 9 12 .5 memberikan independen kepada bank sentral sebenarnya tidak berdasar. Blinder. perbankan dan keuangan. Menarik untuk dicermati bahwa meskipun pada awalnya ada keraguan dalam memberikan independensi kepada bank sentral pada akhirnya masyarakat sangat puas terhadap independensi bank sentral. Memiliki suatu bank sentral yang independen mungkin merupakan elemen proses reformasi moneter yang memicu perdebatan sengit dan dianggap sangat kontroversial pada dekade yang lalu. 180181. September 2010 Dalam konteks kedudukan Bank Sentral dalam konstitusi memberikan penjelasan bahwa tata urutan atau susunan hierarkis tatanan hukum berkenaan dengan kegiatan perbankan. 21 March 2006 Alan S. Independensi tidak berarti bank sentral bebas menjalankan kebijakan moneter yang mereka inginkan. hal. hal. konstitusi menempati urutan tertinggi dalam hukum nasional. karena tujuan bank sentral secara umum tentu saja ditetapkan melalui legislasi yang disepakati bersama melalui suatu sistem demokrasi. dan kedua.8 Kebebasan dalam menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya bukan berarti bahwa bank sentral dapat menentukan sendiri tujuannya. Hanoi. 1998). 2006). Speech at a Conference on Reforming the State Bank of Thailand. penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa. Tidak ada satu negara pun yang menyesal telah memberikan independensi kepada bank sentralnya. Konstitusi & Konstitualisme Indonesia. Ini yang disebut dengan ”instrument independence” bukan ”goal independence”. Bandingkan.9 Dengan demikian. tetapi juga sampai derajat tertentu. Ibid. Konstitusi menentukan secara negatif bahwa hukum tidak boleh memuat isi tertentu. Konstitusi tidak hanya menentukan organ-organ dan prosedur pembentukan undang undang. Pertama.6 Kedudukan Independensi Bank Indonesia Independensi merupakan salah satu isu penting dalam membahas peran Bank Sentral. harus bertitik tolak kepada ketentuan yang mengatur tentang Bank Sentral sebagaimana telah ditentukan dalam konstitusi. Mengingat peranan dan tugas bank Indonesia sangat penting dan berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Jimly Asshiddiqie. Selanjutnya independensi Bank Indonesia harus dipahami juga sebagai suatu hal yang penting untuk menjamin demokrasi. Secara alamiah para politisi merasa tidak nyaman memberikan independensi kepada bank sentral karena mengurangi kewenangan dalam bidang-bidang penting yang selama ini mereka miliki.157. hal.

atau pandangan yang jauh kedepan10. Dampak Keberlakuan Pasal 34 UU BI Pasal 34 UU BI mengamanatkan pembentukan Lembaga Pengawas Sektor Keuangan (LPJK) paling lambat pada tahun 2010. FDIC. Itu sebabnya UU BI meletakan tujuan BI dalam Pasal 7 yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dan untuk mencapai tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah tersebut Pasal 8 UU BI menetapkan tiga tugas Bank Indonesia yaitu : (1) menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. Amanat Pasal 34 tersebut sejak awal penyusunannya telah mengandung kontroversi dan perdebatan. Pandangan ini tidak sepenuhnya beralasan. Kebanyakan dari mereka hanya melihat segala sesuatunya dalam short-term basis saja.12 Dari sini dapat dilihat betapa bahayanya.11 Tetapi. 13 . Blinder menegaskan mengapa independensi bank sentral menjadi begitu penting. sehingga para decision makers tidak bisa langsung melihat hasil kerja mereka. kebijakan-kebijakan moneter memiliki karakteristik yang sama seperti halnya aktivitas investasi. (3) mengatur dan mengawasi bank. efek-efek yang dihasilkan dari suatu kebijakan moneter. BI dianggap tidak dapat menjalankan tugasnya dengan efektif sehingga menimbulkan krisis keuangan yang parah. hal. terdapat dua aliran (school of thought) dalam hal pengawasan lembaga keuangan. Secara teoritis. Oleh karena itu pelaksanaan amanat Pasal 34 berpotensi menyulitkan BI dalam mencapai tujuan yang diamanatkan oleh UU BI. tanpa mempertimbangkan long term gains. Kedua. Bila diteliti struktur pengawasan perbankan pada waktu itu akan diketahui bahwa pengawasan bank dilakukan oleh dua lembaga yaitu BI dan Departemen Keuangan. Dari sudut sistem. orang-orang politik yang duduk di pemerintahan. Alasan dasar yang melatarbelakangi kedua aliran ini adalah kesesuaian dengan sistem perbankan yang dianut oleh negara tersebut. yaitu memerlukan sesuatu dibayar dimuka. Di pihak lain ada aliran yang berpendapat pengawasan industri keuangan lebih tepat apabila dilakukan oleh beberapa lembaga. 12 Ibid. sedangkan di Amerika Serikat industri keuangan diawasi oleh beberapa institusi.55. hal. September 2010 Lebih jauh lagi. Dari sejarah pembentukan UU BI diketahui bahwa keberadaan Pasal 34 dipenuhi kontroversi. seberapa dalam konvergensi di antara lembaga-lembaga keuangan. Juga. Bank sentral yang diberikan tanggung jawab untuk menciptakan stabilitas nilai rupiah tentu akan menemukan kesulitan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut apabila tidak memiliki kewenangan mengawasi bank. BI bertugas mengawasi bank dalam arti sempit (audit) sedangkan tugas mengatur dan memberi/mencabut ijin usaha bank ada pada Departemen Keuangan. Pasal tersebut didasarkan pada pandangan yang keliru tentang lembaga yang bertanggung jawab atas krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1997/98. Pengalihan fungsi pengawasan bank dari bank sentral di negara yang industri keuangannya didominasi oleh industri perbankan tentunya menimbulkan perdebatan dan memicu kontroversi. Di Inggris misalnya industri keuangannya diawasi oleh Financial Supervisory Authority (FSA). apabila kebijakan moneter bank sentral yang mempengaruhi kondisi negara secara makro diintervensi secara politis. Oleh sebab itu tidak efektifnya tugas pengawasan bank sehingga memicu terjadi krisis pada tahun 1997/1998 tentunya adalah tanggung jawab bersama kedua lembaga tersebut. Hal ini karena. Pasal 34 tersebut telah mengamputasi instrumen penting yang dimiliki BI dalam mencapai tujuannya. (2) mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Kebijakan moneter menurut Blinder memerlukan yang ia sebut sebagai long time horizon.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. 11 Ibid. Berdasarkan Pasal 34 UU BI fungsi BI dalam mengawasi bank dialihkan kepada LPJK. terdapat dua sistem perbankan yang berlaku yaitu commercial banking system dan universal banking system. Nomor 3. seperti yang terkait dengan inflasi baru dapat dilihat setelah sekian waktu lamanya. dan OCC. Berdasarkan latar belakang seperti itu maka penerapan Pasal 34 UU BI perlu dikaji ulang secara komprehensif. seperti yang berlaku di negara 10 Ibid. dan akan mendapatkan hasil secara berkala setelah sekian waktu.55-56. Di satu pihak terdapat aliran yang mengatakan bahwa pengawasan industri keuangan sebaiknya dilakukan oleh institusi tunggal. SEC misalnya mangawasi perusahaan sekuritas sedangkan industri perbankan diawasi oleh bank sentral (the Fed). Commercial banking. serta. pertama. bukanlah orang-orang yang memiliki kesabaran ataupun long time horizon.

Hal ini dapat dilihat dari bangkrutnya Long-Term Credit Bank dan Nippon Credit Bank. Hal ini berbeda dengan universal banking. Di Indonesia. Larangan ini sesuai pula dengan sistem perbankan yang dianut oleh Indonesia. apabila bank sentral juga berwenang mengawasi bank bank sentral akan memiliki kewenangan yang sedemikian besar. Masalah good corporate governance tidak akan selesai dengan beralihnya kewenangan pengawasan. Di negara-negara Eropa yang menganut universal banking system produk ini sudah lama berkembang dan dilakukan sesuai dengan pengertian bancassurance yang pertama. insurance lending and investment product to customer. Nomor 3. Ada kekhawatiran bahwa dengan independennya bank sentral. Di samping alasan sistem perbankan yang berlaku yang juga menjadi dasar pertimbangan adalah seberapa dalam telah terjadi konvergensi pada industri keuangan. melarang bank dalam melakukan kegiatan usaha keuangan non bank seperti asuransi. September 2010 kita dan di Amerika Serikat. produk-produk tersebut masih merupakan produk asuransi atau pasar modal murni sehingga dalam hal ini bank hanya berfungsi sebagai penjual (agent) dan mendapatkan komisi (fee) dari jasanya tersebut. dianut oleh antara lain negara-negara Eropa dan Jepang yang membolehkan bank melakukan kegiatan usaha keuangan non bank seperti investment banking dan asuransi. Kalaupun ada produk hybrid dalam jasa keuangan sifatnya masih sederhana dan volumenya belum besar sehingga belum dapat dikatakan sebagai masalah krusial yang dapat menimbulkan masalah sistemik. tiga perempatnya memberikan kewenangan pengawasan industri perbankan kepada bank sentral. Kedua. Pada saat negara sedang ”sakit” seperti saat ini pastilah lebih bijaksana apabila sumber daya yang tidak sedikit itu digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah parah. Hal ini lebih menonjol di negara-negara sedang berkembang. namun dua minggu kemudian kewenangan pengawasan bank diambil alih dari bank sentral tersebut. survey yang dilakukan Central Banking Publication (1999) menunjukkan bahwa dari 123 negara yang diteliti. Menjawab pertanyaan kapan waktu yang tepat mulai beroperasinya OJK dapat dilakukan dengan mempertimbangkan ketiga alasan di atas dan memperhatikan hal-hal berikut. yaitu commercial banking system. Hal ini terjadi karena produk-produk yang dihasilkan lembaga-lembaga keuangan sudah sedemikian menyatunya sehingga sulit menentukan apakah suatu produk keuangan tertentu dihasilkan oleh industri perbankan sehingga diregulasi oleh bank sentral atau produk perusahaan sekuritas dan harus tunduk pada regulasi Bapepam. Bank of England misalnya. Produk hybrid adalah produk yang merupakan perpaduan antara produk perbankan. Secara empiris. pada tahun 1997 mendapatkan keindependenannya. Konvergensi yang dalam akan menyebabkan munculnya masalah kewenangan regulasi. Belum terjadi konvergensi yang dalam di antara industri keuangan tersebut. tetapi lemahnya penerapan good corporate governance. suatu lembaga semacam OJK. a bank that can offer banking. Masalah utama yang dihadapi industri keuangan khususnya perbankan saat ini bukanlah telah semakin menyatunya dengan industri keuangan lainnya. data menunjukkan bahwa industri keuangan kita 90% lebih di antaranya dikuasai oleh industri perbankan. Di Indonesia produk ini masih murni produk perusahaan asuransi yang ditawarkan atau dijual melalui jalur distribusi (distribution channel) perbankan sehingga lebih tepat dengan pengertian bancassurance yang kedua. Dari kaca mata politik. Pertama.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. a French term referring to the selling of insurance through a bank’s established distribution channel. pada saat industri perbankan Jepang menjadi lebih baik. asuransi atau pasar modal. Ambil contoh produk hybrid yang baru dikenal di Indonesia yaitu bancassurance yang memiliki dua pengertian yaitu: Pertama. Bank sentral dianggap memadai dalam hal sumber daya (sumber daya manusia dan dana). membentuk lembaga baru seberkuasa dan sebesar OJK tentunya membutuhkan sumber daya yang besar. Keuntungan bank menjual produk hybrid tersebut adalah selain menerima komisi juga sekaligus dapat memperbesar customer base dan menjaga loyalitas nasabah. Khusus untuk negara yang sedang berkembang alasannya adalah masalah sumber daya (resourches). Kedua. Orang bijak mengatakan don’t change your jokey in the middle of the race otherwise you will lose the game. Hal ini terbukti dalam pengalaman Jepang dalam menerapkan FSA. Dengan diselesaikannya kewenangan pengawasan kepada satu institusi maka masalah kewenangan regulasi tersebut akan terpecahkan. dua bank besar yang 14 . Hal ini sesuai dengan undang-undang perbankan yang melarang bank melakukan kegiatan asuransi. dicabutnya kewenangan pengawasan dari bank sentral sejalan dengan munculnya kecenderungan pemberian independensi kepada bank sentral.

Hal ini sejalan dengan nafas independensi Bank Indonesia sebagaimana ditetapkan oleh norma dasar di Indonesia.13 Apabila pasal 34 UU BI diimplementasikan maka kewenangan dalam mengawasi bank oleh BI tidak akan ada lagi. Ketentuan pengawasan bank oleh BI sebelum adanya ketentuan pasal 34 UUBI adalah merupakan suatu ketentuan yang berada dalam satu sistem hukum BI. Hukum Sebagai Suatu Sistem (Bandung: Mandar Maju. karena pasal 34 UUBI tersebut dilaksanakan akan mengamputasi salah satu pondasi Bank Indonesia dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu tidak bisa kewenangan pengawasan bank oleh BI dipisahkan dengan kewenangan BI lainnya.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. September 2010 terbukti merekayasa pembukuannya. Bagian-bagian itu bergerak secara dinamis secara mandiri atau secara keseluruhan dalam keseluruhan (sistem) itu. Keseluruhan itu menentukan ciri dari setiap bagian pembentuknya (the whole determines the nature of its parts) 5. tahun 2003 . serta mengatur dan mengawasi bank sebagaimana ditetapkan dalam pasal 8 UUBI. apabila amanat pasal 34 UUBI ingin dijalankan. Singkat kata. berikut:14 yang menjadi dasar hukum pendirian badan atau lembaga tersebut. sistem pembayaran dan stabilitas keuangan. maka seluruh tanggung jawab dan tugas yang diembankan kepada Bank Indonesia harus dikaji ulang. Nomor 3. Dengan demikian implementasi ketentuan pasal 34 UUBI dapat merubah esensi sistem dari suatu kesatuan UUBI dan berpotensi menyulitkan BI dalam mencapai tujuan sebagaimana yang diamanatkan oleh UUBI. 6. padahal kewenangan mengawasi bank oleh BI merupakan tanggung jawabnya dalam menciptakan nilai rupiah yang stabil. 30 Agustus 2003.hal. Bagian dari keseluruhan itu tidak dapat dipahami jika ia dipisahkan. PENUTUP Amanat Pasal 34 UUBI bila dilaksanakan akan mengakibatkan tidak efektifnya Bank Indonesia dalam menciptakan stabilitas nilai rupiah sebagaimana yang diamanatkan oleh pasal 7 UUBI. hanya dapat dilaksanakan secara efektif apabila Bank Indonesia berwenang menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. Masalah koordinasi antara FSA dengan bank sentral juga muncul misalnya dalam kasus Ishikawa Bank dan Masalah kredit macet dan kecurangan (fraud) masih mewarnai perbankan Jepang. 65. Apabila munculnya berbagai badan atau lembaga yang kewenangannya sudah merupakan kewenangan Bank Indonesia akan menjadi permasalahan dalam bidang hukum. Masing-masing elemen terikat dalam satu kesatuan hubungan yang satu sama lain saling bergantung (interdepende of its parts). 4. merupakan hal yang aneh apabila berbagai undangundang melahirkan berbagai badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan yang mirip. Sebab. apalagi sebagai Bank Sentral telah diatur dalam UUD 1945. Karena. tugas Bank Indonesia berfungsi juga untuk menjaga stabilitas keuangan. Sistem adalah suatu kompleksitas elemen yang terbentuk 2. Selanjutnya akan mengakibatkan perubahan lainnya terhadap substansi ketentuan UU BI lainnya yang pada gilirannya dapat mengganggu fungsi BI di bidang moneter. 13 The Economist. 3. Seharusnya peranan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sistem keuangan seyogyanya tidak perlu diintervensi oleh lembaga manapun. yang meliputi keseluruhan elemen pembentuknya itu (the whole is more than the sum of its parts). Kesatuan elemen yang kompleks itu membentuk satu kesatuan yang lebih besar. Hal ini dapat berpotensi dibatalkannya undang-undang Beberapa ciri dari suatu kesatuan sebagai dalam satu kesatuan interaksi (proses). mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. 14 Lili Rasjidi dan Wyasa Saputra. atau dipahami secara terpisah dari keseluruhan itu (the parts canot be under-stood if considered in isolation from the whole). 15 . 1. Tujuan BI sebagaimana yang ditetapkan dalam pasal 7 tersebut.

16 . 30 Agustus 2003. Central Banking in Theory and Practice. dan Transparansi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral: Studi Perbandingan Undang Undang Bank Indonesia”. Jakarta: Konstitusi Press. “Independensi.Daftar Pustaka Alan S. Bandung: Mandar Maju. 2006. Hans Kelsen. Cambridge: The MIT Press. penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa. 1998. Jimly Asshiddiqie. Jakarta: Konstitusi Press. 2006. Satjipto Rahardjo. tahun 2003. 2005. Konstitusi & Konstitualisme Indonesia. Bandung. Teori Umum Tentang Hukum dan Negara. Hukum Sebagai Suatu Sistem. Disertasi pada Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lili Rasjidi dan Wyasa Saputra. Hanoi. “The Framework of Modern Central Banking”. Lars Nyberg. 2006. Speech at a Conference on Reforming the State Bank of Thailand. Bandung: Alumni. Hukum Tata Negara dan Pilar Pilar Demokrasi. Blinder. Arend Lijphart dan jon Elster dalam Maqdir Ismail. Ilmu Hukum. 21 March 2006 . Jimly Asshiddiqie. Akuntabilitas. 1998 The Economist.

maka diikuti pula dengan berbagai permasalahan yang semakin sulit terdeteksi secara lebih dini. deskripsi tentang "stabilitas sistem keuangan" tetap masih menjadi diskusi yang hangat. memberikan layanan pembayaran transaksi. Pendahuluan Stabilitas sistem keuangan telah menjadi sasaran yang penting dalam kebijakan ekonomi keuangan selama beberapa puluh tahun terakhir terutama paska krisis Asia pada tahun 1998. Gangguan terhadap perekonomian ditandai dengan timbulnya biaya yang harus dibayar oleh pemerintah. dan melakukan realokasi risiko secara baik. Dari pengalaman juga menunjukan bahwa krisis keuangan dapat terjadi baik dinegara berkembang maupun di negara maju serta dapat menimbulkan dampak ikutan ke negara lain. Terjadinya perkembangan pertumbuhan yang cepat harga property dan kredit konsumsi telah menjadi indikator awal permasalahan instabilitas. Sektor keuangan juga menjadi lebih terintegrasi dan terkait erat satu sama lain dari segi dimensi industri maupun secara geographis. (3) Bagaimana kerja sama antar otoritas untuk mendukungnya. sehingga sulit diidentifikasi originalitasnya dan siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi permasalahan. Definisi ini lebih melihat dari sisi kebalikannya dari kondisi yang stabil serta bagaimana mengupayakan untuk menghindari terjadinya instabilitas. Pada tahun 1980an. (2) Bagaimana melakukan analisisnya agar bisa melakukan deteksi lebih dini dan mengambil kebijakan mitigasinya. II. Wimboh Santoso1 I. Apa yang dimaksud stabilitas sistem keuangan Meskipun beberapa negara telah menaruh perhatian cukup besar terhadap stabilitas sistem keuangan. (4) Dengan apa kita bisa menjaga stabilitas sistem keuangan. Agar rumah tangga dan perusahaan korporasi dapat secara optimal melakukan perannya yaitu mengkonsumsi barang-barang dan juga melakukan investasi secara berkesinambungan. Sejalan dengan pertumbuhan yang pesat di sektor keuangan. Dalam pendekatan pemahaman yang lebih sempit atas stabilitas sistem keuangan dapat dilakukan dengan mendefinisikan sebaliknya yaitu menghindari adanya "instabilitas sistem keuangan" dimana telah terjadi gangguan terhadap perekonomian. maka harus ada sistem keuangan yang berperan secara baik dalam hal melakukan intermediasi dari para penyimpan dana (surplus unit) dan peminjam dana (deficit unit). Kondisi ini telah menyebabkan adanya fondasi yang kuat untuk mengembangkan sektor keuangan sehingga lebih cepat dari pertumbuhan dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Beberapa tahun terakhir terlihat bahwa biaya dari krisis ini cukup besar bila dibandingkan dengan GDP suatu negara. deregulasi terhadap pasar keuangan terutama pemberian kredit atau pemberian fasilitas sejenisnya dari bank serta pengaturan aliran modal antar negara telah dihapuskan secara bertahap di beberapa negara. Instrumen keuangan telah berkembang menjadi beraneka ragam. Pertanyaannya: apakah kebijakan moneter dapat digunakan untuk memitigasi perkembangan yang pesat tersebut? Paper ini akan mengulas beberapa pertanyaan terkait dengan: (1) Apa yang disebut stabilitas sistem keuangan?. aktivitasnya lebih terdiversifikasi dan risikonya lebih rumit dengan perubahan yang sangat dinamis. Begitu terdapat biaya yang menjadi beban negara untuk 1 Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia penyelamatan sistem keuangan.Peran Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Oleh: Dr. sistem keuangan telah berkembang secara struktural dan menjadi lebih komplek. Dalam phase ini. Krisis di sektor keuangan biasanya berkaitan dengan siklus "boom" dan "bust"terhadap nilai aset dan kredit. maka dapat dikatakan 17 .

berbagai indikator sistem keuangan masih memenuhi batas stabil dan belum ada dana publik yang dipakai untuk penyelamatan sistem keuangan. namun terdapat kemungkinan bahwa tehnis penilaiannya akan rumit serta dapat menimbulkan moral hazard atau rentan terjadinya spekulasi dan fraud. Lembaga keuangan baik yang melakukan mitigasi dengan menjual risikonya kepada pihak lain masih dapat terekspose risiko. Kalau terjadi default atas maka hanya bailout dari otoritas yang dapat menyelesaikannya. analisis terhadap keterkaitan antar lembaga keuangan yang diakibatkan oleh permasalahan likuiditas maupun solvabilitas merupakan analisis macroprudential yang penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. kita perlu memfokuskan kepada berbagai faktor risiko yang berasal dari dalam sistem keuangan itu sendiri yaitu terdiri dari lembaga keuangan. maka pelaksanaan analisis simpul simpul kerawanan yang dapat menyebabkan instabilitas akan dapat dilakukan dengan mudah dalam organisasi bank sentral. Instrumen ini relatif masih baru yang bentuknya bisa beraneka ragam. maka kita bisa melakukan analisis seberapa besar perbedaan atas indikator instabilitas tersebut. risiko pasar dan risiko operasional.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Untuk melakukan identifikasi dari sumber instabilitas. Analisis atas berbagai risiko tersebut telah semakin sulit beberapa tahun terakhir ini sejalan dengan sistem keuangan yang semakin komplek dan saling berkaitan baik antar industri maupun secara geographis. Kalau perbedaannya 18 . Melakukan analisis risiko yang berasal dari dalam sistem keuangan akan lebih jelas kalau dapat dibedakan melalui dua pendekatan micro dan macroprudential. sedangkan lembaga yang membeli risiko ternyata sudah terlalu besar risiko yang dibelinya dan tidak bisa dimitigasi ke lembaga lain. Definisi stabilitas sistem keuangan yang banyak dipakai dibeberapa negara mengkombinasikan atas tiga hal yaitu: terjadi alokasi resources dengan baik sehingga proses intermediasi bisa berjalan dengan normal. Meskipun instrumen ini sangat baik untuk mitigasi risiko. Kedua. Penyelematan oleh pemerintah dimaksudkan agar biaya yang ditimbulkan dari krisis dapat diminimalisir. Tanpa disadari bahwa risiko sistemik akan dapat manganulir persepsi bahwa risikonya telah dijual. Microprudential analisis lebih mengarah kepada perkembangan dalam individu lembaga keuangan dengan lebih menaruh perhatian pada menghindari problem individual lembaga untuk melindungi kepentingan para deposan. September 2010 bahwa sudah terjadi instabilitas di sistem keuangan. Untuk menghindari sistemic risk dilakukan analisis risiko terhadap semua unsur di sistem keuangan. termasuk juga gangguan makro ekonomi seperti turunnya harga komoditi serta terjadinya ketidak seimbangan dalam ekonomi dunia dan pasar keuangan akan dapat menimbulkan risiko instabilitas. Bagaimana otoritas melakukan analisis stabilitas sistem keuangan? Setelah pemahaman stabilitias sistem keuangan dan sasaran yang akan dicapai disepakati dan dipahami oleh otoritas. III. Perkembangan yang pesat perdagangan instrument derivatives atas surat hutang dan harga assets. Macroprudential analisis lebih mengarah kepada sistem keuangan secara keseluruhan dengan sasaran agar tidak terjadi permasalahan untuk menghindari biaya yang akan dibebankan kepada pemerintah (pembayar pajak). Unsur internal sistem keuangan ini akan selalu dihadapkan kepada berbagai faktor risiko seperti risiko kredit. Khusus untuk lembaga keuangan. kita memerlukan berbagai indikator yang dapat memberikan informasi tanda-tanda terjadinya instabilitas. Pendekatan ini telah dipahami oleh para pengambil kebijakan beberapa tahun terakhir. Terdapat dua pendekatan yang saling melengkapi: Pertama. Dengan mendasarkan perbandingan beberapa indikator pada waktu tertentu dengan pada waktu normal. Nomor 3. pasar keuangan dan infrastruktur keuangan seperti settlement yang dilakukan oleh bank sentral (RTGS) maupun lembaga settlement lainnya. pendekatan dengan menekankan risiko yang berasal dari luar sistem keuangan. Peningkatan kompleksitas sistem keuangan di tunjukan dengan pesatnya pasar di credit derivatives. risiko likuiditas.

pendekatan ini sering disebut micro stress testing. Dalam koordinasi ini. September 2010 besar dengan trend yang meningkat maka kita bisa mengindikasikan kondisi keuangan mengarah kepada instabilitas.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Di negara yang otoritas pengawasan lembaga keuangan dipisahkan dari bank sentral. Pandangan umum sementara ini. Sebagaimana yang terjadi terhadap Lehman Brothers pada tahun 2008. Namun demikian. sedangkan bank disuatu negara yang didirikan dengan dasar hukum di negara lain (ie. Lembaga keuangan dan pasar keuangan sudah semakin terintegrasi serta sangat tinggi ketergantungannya sehingga analisis keterkaitan antar lembaga dan pasar keuangan sangat membantu untuk mengukur sejauhmana permasalahan yang mungkin timbul di lembaga atau pasar keuangan dapat menimbulkan dampak sistemik di sistem keuangan. Kantor cabang bank asing) maka tanggung jawab pengawasannya ada di home supervisory authorities. otoritas di suatu negara hanya bertanggung jawab pengawasan terhadap bank yang didirikan dengan badan hukum di negara tersebut. peran dan tanggung jawab masing-masing otoritas harus jelas dan dituangkan dalam undang-undang. otoritas di sejumlah negara terlena melakukan koordinasi untuk melakukan assessment dampak penutupan lehman brothers ini terhadap lembaga keuangan lain dan pasar keuangan dinegara lain. Terintegrasinya lembaga dan pasar keuangan dengan pasar global telah membuat bank sentral perlu melakukan analisis sistem keuangan global dalam laporan stabilitas sistem keuangannya yang dipublikasikan secara rutin. Nomor 3. Analisis dengan mendasarkan domain domestik ternyata tidak cukup sehingga global analisis tentang pasar dan lembaga keuangan sangat diperlukan untuk melihat secara lebih akurat simpul kerawanan di sistem keuangan. Tugas menjaga stabilitas sistem keuangan ini dilakukan oleh bank sentral. Bank sentral mempunyai tanggung jawab khusus dalam melakukan analisis dan menjaga agar terhindar dari krisis dan mempermudah dalam penyelesaian krisis apabila ternyata tidak dapat dihindari. monitor sistem keuangan. sering sekali mendapatkan kesulitan untuk melakukan interpretasi atas berbagai indikator instabilitas karena indikator normal kadangkadang sulit untuk ditentukan mengingat perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. maka secara legal seluruh kantor cabangnya harus 19 . Macro stress testing merupakan pendekatan yang biasanya digunakan dalam analisis ini dengan tujuan untuk mengukur ketahanan bank atau lembaga keuangan dalam menghadapi berbagai shocks atas kondisi ekonomi dan respon kebijakan makro ekonomi yang diperlukan dari otoritas. Pemerintah di berbagai negara banyak sekali mengeluarkan surat hutang untuk membantu memperbaiki cash flow anggaran belanjanya dan banyak para pelaku pasar yang melakukan diversifikasi risikonya dengan melakukan hedging diberbagai pasar dunia. Transaksi oleh para pelaku pasar antar negara telah meningkat cukup pesat baik di pasar saham. Berbagai informasi yang belum secara terintegrasi dalam sistem keuangan merupakan faktor yang penting untuk dapat dijadikan judgment dalam melakukan analisis kondisi sistem keuangan. obligasi dan juga financial instrumen lainnya seperti produk off-shore dan derivatives. maka sharing informasi antar otoritas sangat diperlukan baik dalam kondisi normal maupun krisis. Pengembangan berbagai tool analisis merupakan tantangan bank sentral agar dapat menangkap simpul kerawanan secara lebih dini. maka otoritas tersebut akan menjadi bagian dari otoritas yang harus melakukan koordinasi dibawah menteri keuangan. Permasalahan ini muncul apabila terdapat bank yang beroperasi secara multinational dan mengalami permasalahan di kantor pusatnya sehingga harus ditutup. IV. Berbagai skenario kondisi makro ekonomi dapat disimulasikan untuk melakukan pengujian atas ketahanan bank atau lembaga keuangan termasuk dalam kondisi ekstrim. Bagaimana koordinasi antar otoritas untuk bersama-sama menjaga stabilitas sistem keuangan Koordinasi antar otoritas ini sangat diperlukan dalam Analisis dampak negatif atas guncangan ekonomi makro terhadap stabilitas sistem keuangan juga dapat diterapkan. dengan berkoordinasi dengan pengawasan pasar keuangan dan menteri keuangan sebagai otoritas fiskal. Dalam hal permasalahan disektor keuangan menyangkut bank yang operasinya secara multinasional maka koordinasi akan menyangkut otoritas antar negara dengan berbagai kerangka hukum yang berbeda. Untuk mencapai sasaran dalam mencegah dan menyelesaikan krisis. Aliran dana masuk dan keluar di pasar keuangan telah meningkat cukup besar aktivitasnya di beberapa tahun terkahir.

Koordinasi secara global dalam pencegahan dan penyelesaian banking crisis ini masih belum secara formal dibentuk. Salah satu motif penerapan risk mangement dan Basel II diharapkan untuk meningkatkan efisiensi industri perbankan serta ketahanan industri perbankan agar mempunyai permodalan yang sesuai dengan risiko yang dihadapi. Dalam hal pengawasan bank berada di bank sentral maka regulasi yang bersifat microprudential juga dapat dikeluarkan oleh bank sentral secara simultan dan harmonis. Ketiga. sehingga penataan kembali sistem keuangan secara global perlu dilakukan segera agar permasalahan krisis dapat dicegah lebih dini dan penyelesaian krisis dapat dilakukan dengan baik. Bank sentral merupakan otoritas yang mempunyai banyak perangkat kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Perangkat apa yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Namun demikian metodologi menentukan permodalan yang counter cyclical ini secara tehnik sangat bervariasi dan mengandung banyak 20 . Buffer modal yang bervariasi juga dapat diterapkan untuk mengantisipasi terjadi siklus boom dan burst akan meningkatkan ketahanan perbankan dalam menghadapi shocks. dengan kondisi ini akan sangat sulit bagi kantor pusatnya untuk melakukan monitoring dan bank sentral dinegara asalnya juga mengalami kendala untuk melakukan assessment atas dampak dari permasalahan terhadap kemungkinan timbulnya krisis di negara lain. Nomor 3. pasar keuangan dan infrastrukturnya merupakan keharusan agar dapat menangkap simpul kerawanan dan melakukan mitigasi lebih dini sebelum permasalahan terjadi. G20 pada saat ini sedang mencoba untuk merumuskan bentuk koordinasi pencegahan dan penyelesaian krisis bank yang beroperasi secara multinational. Timbul permasalahan. Dengan demikian regulasi-regulasi yang bersifat macro prudential untuk mencegah adanya sistemik risk dapat dikeluarkan oleh bank sentral untuk melaksanakan tugasnya yang menyangkut kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. permasalahan muncul siapa yang akan bertanggung jawab untuk melakukan penyelamatan. secara lebih dini bank sentral juga dapat mengatur laju pertumbuhan kredit. bank sentral harus melakukan assessment atas kerentanan dan mengeluarkan regulasi apabila diperlukan agar dampak negatifnya dapat dihindari serta risiko sistemiknya dapat diminimalisir. Permasalahan lain juga muncul berkaitan dengan bank yang operasinya sangat besar dengan kantor diseluruh dunia baik dalam bentuk kantor cabang maupun anak perusahaan yang jumlahnya bisa mencapai sekitar 8000. Penjaminan dana nasabah juga bentuknya sangat beragam diantar negara. Pertanyaannya yang sering muncul. bagaimana kita melakukannya dan kebijakan apa yang bisa dilakukan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Assessment atas kerentanan terhadap lembaga keuangan. Keempat. Dalam hal bank tersebut harus dilakukan penyelamatan. Harmonisasi langkah pencegahan terhdap krisis ini sangat panting dilakukan dalam kondisi masih normal. maka pengawasan micro dapat secara mudah disinkronisasikan dengan kebijakan macroprudential. Peraturan kehati-hatian juga dapat dipakai oleh otoritas untuk memperlambat pertumbuhan yang terlalu cepat sehingga risikonya mudah dikendalikan oleh bank. Kedua. V. namun masih banyak kendala hukum yang dihadapi mengingat masing-masing negara mempunyai legal basis yang berbeda. dalam hal pengawasan microprudential berada di bank sentral. bank sentral juga dapat melakukan operasi monetar dalam bentuk intervensi di pasar valas maupun pasar likuiditas. September 2010 ditutup. bagaimana kalau kantor cabangnya yang tersebar di negara lain tersebut sebenarnya operasinya masih bagus? Hal ini belum ada jawabnya sampai saat ini. Peraturan kehatihatian diharapkan akan dapat menurunkan risiko kepada level dimana bank mampu untuk menyerap dan juga untuk meningkatkan ketahanan lembaga keuangan. Pertama-tama peran lender of last resort dapat diterapkan pada saat terjadi permasalahan likuiditas perbankan untuk mencegah terjadinya krisis yang bersifat sistemik.

Stabilitas sistem keuangan mempunyai pengaruh yang positif terhadap stabilitas harga. dimana kedua hal ini merupakan prasyarat untuk menjaga pertumbuhan yang sustainable. maka perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya risiko apabila tidak memperhitungkan dampak imbalance di sektor keuangan ini terhadap inflasi untuk jangka waktu menengah dan panjang. Persoalan ini telah menjadi perdebatan oleh para pengambil kebijakan di bank sentral setiap kali akan mengambil kebijakan moneter. dan kemungkinan akan jauh lebih lama dari horizon target inflasi. Namun demikian. Hal ini tidak pernah terjadi dalam kondisi normal. risiko terhadap instabilitas yang berasal dari ketidak seimbangan di sektor keuangan (seperti capital inflow dan outflow melalui proses yang panjang). sehingga bisa melakukan alokasi sumber daya yang lebih efektif. pada akhirnya. maka kebijakan moneter bisa sementara diarahkan untuk mengatasi sementara permasalahan di sektor keuangan.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Namun demikian perlu digaris bawahi bahwa dampak negatif dari ketidak seimbangan di sektor keuangan akan terjadi dalam waktu yang relatif lama. stabilitas sistem keuangan akan membantu efektifnya transmisi kebijakan moneter. perubahan kebijakan moneter akan mempengaruhi rumah tangga dan perusahaan korporasi dan. stabilitas sistem keuangan akan menjamin adanya penawaran kredit yang lebih stabil dan aliran modal yang stabil. Dalam kondisi yang paling buruk. Dengan demikian. VI. Stabilitas sistem keuangan dan kebijakan moneter Beberapa tahun terakhir ini hubungan antara kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan telah menarik banyak perhatian para pengambil kebijakan. bank sentral telah melonggarkan likuiditasnya dalam kondisi krisis. dengan pertimbangan bahwa ketidakseimbangan di sektor keuangan akan sangat berpengaruh terhadap inflasi dan output serta dapat menimbulkan ketidak stabilan di sistem keuangan. stabilitas sistem keuangan dan stabilitas moneter kadang-kadang memang tidak sejalan. Stabilitas sistem keuangan secara implicit memberikan jalan bahwa perubahan kebijakan moneter akan mempunyai dampak terhadap suku bunga pasar sebagaimana yang diharapkan pengambil kebijakan. stabilitas harga juga akan mempunyai dampak positif terhadap stabilitas sistem keuangan. Seluruh bank sentral telah mendirikan unit khusus yang melakukan moitoring dan analisis terhadap kondisi sistem keuangan dan sektor riil terutama perilaku rumah tangga dan perusahaan korporasi sebagai input kebijakan moneter. dengan kemungkinan terjadi overstated tingkat modalnya. pertanyaannya kembali menyangkut apakah stabiltias sistem keuangan akan selalu dipertimbangkan secara eksplisit dalam kebijakan moneter. Dua sasaran ini saling melengkapi. Inflasi yang rendah dan stabil akan memberikan rumah tangga dan perusahaan korporasi mendapatkan indikasi yang jelas atas perubahan harga. Kedua. pertanyaannya sejauh mana sasaran stabilitas sistem keuangan bisa dipertimbangkan dalam kebijakan stabilitas moneter. turbulence perekonomian dapat menimbulkan krisis keuangan. Dilain pihak. terutama terhadap terjadinya turbulence perekonomian dimasa mendatang. yang dapat membahayakan stabilitas sistem keuangan. Sebagai contoh. 21 . Dalam kenyataannya beberapa bank sentral telah menerapkan inflation targeting yang lebih fleksibel dalam kebijakan moneternya dalam target horizon tertentu. Kelihatannya telah terjadi kesepakatan diantara otoritas bank sentral bahwa dalam kondisi ekstrim. Pertama. Ini bukti bahwa terdapat kemungkinan mempertimbangkan dampak dari ketidakseimbangan di sektor keuangan terhadap proyeksi inflasi. Nomor 3. Keberhasilan kebijakan moneter akan sangat mempermudah tercapainya stabilitas sistem keuangan dengan hilangnya mispersepsi atas singal kebijakan moneter sehingga inflasi dapat dijaga pada tingkat yang dikehendaki sesuai target. September 2010 kelemahan. Dalam kondisi demikian. inflasi serta mendorong kegiatan ekonomi. Dalam kondisi demikian. Di Norwegia juga menerapkan inflation targeting yang lebih fleksibel dengan mempertimbangkan stabilitas sistem keuangan dalam memformulasikan kebijakan moneternya. Namun demikian. Undang-undang bank sentral di New Zealand secara eksplisit mengatakan bahwa bank sentral dalam menetapkan kebijakan moneter harus mempertimbangkan efisiensi dan kesehatan sistem keuangannya. Stabilitas moneter dan sistem keuangan merupakan dua sasaran atas kebijakan publik yang dilakukan oleh bank sentral.

September 2010 VII. Krisis pada tahun 2008 yang baru lalu membuktikan bahwa masih banyak tantangan kedepan untuk lebih meningkatkan berbagai perhatian kita terhadap pencegahan untuk menghindari terjadinya krisis dan penyelesain atas krisis itu sendiri dengan pertimbangan bahwa sistem keuangan akan berkembang terus sehingga dimungkinkan adanya sumber kerawanan yang belum terdeteksi sebelumnya. 22 . Perkembangan capital inflow ke beberapa negara berkembang juga akan menjadi sumber kerawanan yang perlu menjadi perhatian bersama. Nomor 3.Tantangan kedepan Meskipun pemikiran tentang stabilitas sistem keuangan telah berkembang dan diterapkan secara formal oleh sebagian besar bank sentral di seluruh dunia. namun tetap tidak ada jaminan bahwa akan terhindar dari krisis yang bersifat sistemik. Peningkatan peraturan yang bersifat macroprudential merupakan agenda yang penting kedepan sebagaimana yang telah dicanangkan dari berbagai program bersama dibawah G20.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8.

MA. Karena itu disarankan agar bank sentral dan otoritas untuk mengintegrasikan analisa ekonomi makronya dengan analisa makroprudensial dan mengintegrasikan langkah kebijakanya sebelum krisis terjadi. seperti perhatian terhadap aspek lingkungan. 23 Tahun 1999 menjamin BI bebas dari campur tangan pemerintah dan pihakpihak luar lainnya. Pengawasan Bank dan Stabilitas Sistem Keuangan Oleh Drs. BPK atau Presiden yang merupakan Lembaga Tinggi Negara. Masalahnya adalah kalau kewenangan dalam mengawasi bank dicabut. Meski demikian. khususnya terkait area utama yang akan mempengaruhi penduduknya. Globalisasi telah membawa manfaat bagi banyak negara di dunia dengan mendorong peningkatan Gross Domestic Product (GDP). Stiglitz (2006) menyatakan aturan main globalisasi cenderung tidak adil dan menguntungkan negaranegara industri maju dan hanya mengutamakan nilainilai material dibandingkan nilai-nilai lainnya. isu tentang stabilitas keuangan menjadi topik utama diskusi ekonomi baik di tingkat regional maupun global. Bahkan laporan IMF yaitu Global Financial Stability mengakui secara riil mereka salah dalam menilai keadaan. pada The Economist's Inaugural City Lecture.Bank Indonesia: Independensi. maka secara otomatis kemampuan BI dalam menjalankan tugas moneternya terganggu karena bank merupakan lembaga keuangan yang sangat dominan dalam transmisi kebijakan moneter. Di tengah krisis keuangan global saat ini. MA1 A. Kedudukan BI juga tidak sama dengan departemen karena BI berada di luar pemerintah. Saat ini hampir tidak ada Negara yang tidak memiliki hubungan ekonomi internasional. Status kelembagaan Bank Indonesia (BI) yang independen sebagaimana tercantum pasal 4 UU No. Rencana pengalihan kewenangan dalam pengawasan bank menunjukan adanya upaya mengurangi kewenangan BI sehingga BI hanya berfungsi dari aspek moneter. Terkait dengan masalah stabilitas sistem keuangan. Krisis keuangan selalu memiliki konsekuensi kerugian bagi perekonomian Negara yang mengalaminya makanya upaya pencegahan jangan sampai krisis terjadi menjadi perhatian banyak pihak. Akibatnya semua laporan tentang kondisi sistem keuangan dan potensi risiko sistemik tidak pernah memberikan gambaran risiko yang seutuhnya. Masalahnya adalah ternyata independensi BI diikuti dengan upaya sistimatis untuk mengurangi kewenangan 1 Dosen STIE Perbanas Surabaya yang dimiliki BI sebagai bank sentral. Globalisasi juga membuka akses yang lebih lebar bagi negara-negara di dunia terhadap pasar global. Pengantar Di Inggris. Terlebih saat ini globalisasi sudah menjadi fakta yang tidak dapat dibantah. Terlebih sistem ekonomi yang dipaksakan terhadap negara sedang 23 . Menurut UU. Adair Turner. Sementara bank sentral terlalu fokus pada kebijakan moneter yang secara sempit. Ec Abdul Mongid. globalisasi yang terjadi bukan tanpa cela. Dari sisi kelembagaan Independensi BI terlihat dari kedudukan kelembagaanya yang berbeda dalam sistem dan struktur ketatanegaraan Indonesia. kedudukan BI tidak sejajar dengan DPR. Independensi merupakan isu krusial bagi sebuah Bank Sentral untuk memainkan perannya secara optimal di tengah perkembangan ekonomi global yang sangat dinamis dan seringkali bergejolak. yaitu mencapai target inflasi. peran bank sentral sangat penting. Sementara penanganan globalisasi cenderung mengurangi kedaulatan negara berkembang serta mengabaikan kemampuan negara berkembang dalam mengambil keputusan sendiri. Kepala OJK Inggris menyatakan bahwa model pengawasan Inggris saat ini yang memisahkan pengawasan dari bank sentral telah membuat otoritas pengawas terlalu terfokus pada lembaga per lembaga dengan perhatian pada risiko tunggal. pada 21 Januari 2009.

Dalam sejarah ekonomi politik di Indonesia. namun pada kenyataannya baik di negara maju maupun berkembang terdapat banyak pihak yang dirugikan. Pandangan Schwartz ini sering disebut sebagai Schwartz Hypothesis. Krisis keuangan pada level apapun akan diperburuk dengan kenaikan tingkat inflasi. Proses ini menuntut bank sentral juga akuntabel ke publik. Temuan ini menimbulkan semangat baru dalam kajian kebanksentralan karena semua ekonom percaya bahwa stabilitas harga merupakan fondasi seluruh stabilitas ekonomi yang lain. Artinya mengapa kebijakan moneter berusaha menjaga stabilitas adalah sebagai upaya tidak langsung Bank Sentral dalam menjaga jangan sampai krisis keuangan terjadi. penabung dan peminjam kesulitan dalam menilai pendapatan potensial dan tindakannya suatu fondasi dasar perekonomian untuk berjalan baik. Bank Sentral yang dapat menjaga stabilitas dan juga menjaga likuiditas perbankan melalui lender of the last resort. kebijakan moneter yang berusaha membatasi inflasi cenderung mengurangi terjadinya krisis keuangan karena kestabilan hanya akan membuat proses pemakaian investasi yang benar dapat dilakukan. Begitu pentingya stabilitas uang menjadikannya sebagai B. gejolak ekonomi selalu menjadi pemicu bagi gerakan masyarakat untuk melalukan protes jalanan.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Lembaga ini harus bebas dari kepentingan lain yang dapat membuat upaya mencapai tujuan menciptakan uang yang stabil gagal. Dalam bahasa lain ketidak stabilan sistem keuangan karena para investor. Karena itu terjadi konsensus secara luas bahwa menciptakan stabilitas uang tidak bisa diserahkan kepada proses politik keseharian. September 2010 berkembang cenderung tidak tepat bahkan tidak menguntungkan negara tersebut. Nomor 3. Akibatnya meski mereka yang pro globalisasi mengklaim bahwa setiap orang akan diuntungkan secara ekonomi. Implikasi dari keadaan ini adalah bank sentral harus menjadi agen masyrakat yang bertindak sebagai prinsipal. Makanya pengalaman sejarah itu menjadikan masyrakat Jerman sangat takut inflasi tinggi terulang sehingga menjadikan Bundesbank sebagai penjaga inflasi sebagai 24 . untuk konvertasi mampu memanajemeni. Ana Schwartz (1988) menyatakan perlunya Bank Sentral menjaga inflasi dengan kebijakan moneter yang tepat. Diterimanya konsep independensi bank sentral tidak lepas dari keberhasilan Bundesbank Jerman. Diskusi ini menjadi sangat penting setelah kajian akademis menunjukan Negara yang memiliki bank sentral yang independen memiliki tingkat inflasi yang lebih rendah. termasuk di Indonesia. kinerja bank sentral dalam mendorong inflasi lebih rendah relatif berhasil sehingga manfaat bagi masyarakat relatif dapat dirasakan. Saat ini masalah independensi bank sentral sudah dapat diterima secara umum baik di negara maju maupun di negara berkembang. Stabilitas harga menjadi fondasi bagi berjalanya ekonomi pasar yang baik. Inilah yang menjadi latar belakang kenapa bank sentral yang independen dibentuk. Seperti diketahui ekonomi Jerman pernah mengalami inflasi yang sangat tinggi dan itu dirasakan sebagai masalah berat dan menjadi sejarah kelam ekonomi Jerman. Independensi Bank Sentral: Perspektif Akademis Independensi bank sentral merupakan tema utama diskusi kebijakan moneter yang sangat intensif di awal tahun 1990-an. Temuan ini menimbulkan arus baru penelitian yang mencoba mencari kaitan secara detail kenapa inflasi dapat menjadi lebih rendah. Ini menjadikan mandat itu jelas dan membatasi kewenangan diskresi yang dapat mengalihkan dari pencapaian tugas utama. Seperti diketahui arus kas investasi bisa diramalkan tetapi ketidak sesuaian suku bunga diskonto sebagai proksi inflasi tidak diketahui maka nilai riil investasi juga tidak diketahui. Bank sentral yang independen memiliki mandat jelas dan terbatas. Artinya terlalu berbahaya dalam jangka panjang jika masalah manajemen nilai uang diserahkan oleh kekuatan politik karena kekuatan politik memiliki perspektif jangka pendek. Secara umum. Jawabannya terletak pada perspektif kebijakan bank sentral yang berdimensi jangka panjang dan kredibilitas kebijakan yang ditempuhnya. Stabilitas uang juga merupakan barang publik sehingga sangat wajar jika pengelolaanya dilakukan oleh lembaga yang independen dari campur tangan politik. Ini berarti stabilitas harga menjadi syarat yang harus dipenuhi agar perekonomian berjalan dengan baik.

Pandangan ini akhirnya memberi jalan pada perkembangan studi model ekonomi politik baru bank sentral dengan memperhitungkan tujuan fungsional bank sentral sebagai kompromi antara tujuan menciptakan stablitas harga dan menciptkan kesempatan kerja sebagaimana dinyatakan oleh Cukierman. Kiguel and Liviatan menyimpulkan independensi bank sentral tidak memadai untuk inflasi rendah tetapi perlu reformasi ekonomi dan koordinasi antara sector moneter dan fiscal. Dvorsky (2000) mengukur derajad independensi bank sentral di Negara transisi eropa timur meliputi Czech. Nomor 3. Kiguel and Liviatan : 1992). September 2010 suatu yang tidak dapat ditawar lagi. yang diakui atau tidak. Hanya negara yang inflasinya sangat tinggi saja independensi sangat efektif dalam jangka pendek. Dengan penerapan kebijakan target inflasi (inflation targeting) peran ini makin jelas dan dapat dijalankan oleh bank sentral karena prinsip dasarnya sangat jelas (Taylor Principle). Henning (1994). Secara umum disimpulkan bahwa peran kelompokkelompok sosial dan politik. Polandia. indpendensi bank sentral juga dipopulerkan oleh penelitian akademsis terkait dengan bias inflasi ketika kebijakan bank sentral sangat dipengaruhi diskresi kebijakan. Sebagai perencana sosial dimana bank sentral juga bertanggung jawab untuk menciptakan kesempatan kerja. Hungaria. Preferensi sektor swasta merupakan hasil hubungan struktural antara perbankan dan industri. maka setiap pergeseran output riil dari output potensial akan menimbulkan bias inflasi (inflation bias). Kiguel and Liviatan (1992). bank sentral yang independen dan preferensi sektor swasta sangat penting dalam menentukan kebijakan bank sentral (Cukierman. demokrasi. Prinsip ini juga menjadi dasar operasional European Central Bank (ECB). Dalam model ini independensi bank sentral cukup mampu mendorong inflasi rendah walaupun studi lebih lanjut menunjukan variasi regional yang signifikan. menunjukkan bahwa preferensi sektor swasta memainkan peran penting dalam formulasi kebijakan moneter dan manajemen nilai tukar. Karena itu memperhatikan dokumen hokum saja tidak mencukupi. Yang diperlukan adalah konsistensi kebijakan. Teori kebjakan moneter optimal (The modern theory of optimal monetary policy) yang dikembangkan oleh Kydland and Prescott (1977) serta dilanjutkan oleh Barro and Gordon (1983) menempatkan posisi bank sentral sebagai perencana sosial yang berusaha memaksimalkan kemakmuran sosial masyarakat yang kalau diperhatikan merupakan pengembangan lebih lanjut dari ekspektasi implisit dari kurva Philips (expectations-augmented Phillips curve). Bias inflasi inilah yang harus diatasi yang menurut Rogoff (1985) dengan mendelegasikan kebijakan moneter kepada bank sentral yang independen tetapi juga banker bank sentral yang konservatif. Makanya Epstein (1992) mengembangkan model ekonomi politik dari bank sentral yang memperhitungkan berbagai kepentingan yang saling bersaing dalam perekonomian dan efeknya pada fungsi dan tujuan bank sentral. Sturm and de Haan (2001) menemukan bahwa bank sentral perlu bekerjasama dengan dengan lembaga lain untuk inflasi yang rendah dan independensi saja tidak cukup. Selain pengalaman Jerman. transparansi dan akuntabilitas (harus menjadi nilai baru bank sentral dimanapun saja. Dalam studi lain terkait hubungan politik dan kebijakan moneter. Di banyak negara. Kajian mengenai ekonomi politik terkait peran bank sentral dan kebijakan moneter menyimpulkan pentingnya aspek politik dan kelembagaan dalam penentuan kebijakan moneter baik di negara maju dan berkembang. 25 . aspek politik yang kondusif mendukung pencapaian inflasi yang rendah. Slovakia dan Slovenia menggunkan pendekatan Cukierman.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Kesimpulanya adalah politik menentukan kebijakan dan disain kelembagaan bank sentral. merupakan penjelmaan Bundesbank. Gutiérrez (2003) menyatakan bahwa rendahnya hubungan antara independensi bank sentral secara hukum dan inflasi mungkin tergantung pada apakah independensi itu dijalankan secara benar atau tidak. Dalam sebuah makalahnya Epstein (2005) berpendapat bahwa bank sentral secara historis memainkan peran aktif sebagai agen pembangunan ekonomi karena itu nilai baru independensi bank sentral. Artinya apakah independensi secara legal itu diterapkan secara benar sebagaimana di Negara maju meruakan masalah tersendiri.

Perlu ada kewenangan lain untuk mengatasi tekanan inflasi.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. juga didorong oleh krisis perbankan 1998. Kiguel and Liviatan (2007) menggunakan istilah yang serupa yaitu independensi de jure dan de facto. Aktual dimaksudkan sebagai independensi dari sisi otonomi dalam hubungannya dengan pemerintah. 23 Tahun 1999. Masingmasing lini bisnis diawasi oleh regulator masing-masing Terdapat sebuah regulator tunggal yang melaksanakan pengawasan dalam hal safety dan soundness. Nomor 3. Sistem Pengawasan Bank Bentuk Institusional Ciri-Ciri Umum Menentukan regulator mana yang akan mengawasi sebuah institusi adalah status badan hukum dari perusahaan tersebut baik dalam hal safety dan soundness serta pelaksanaan bisnis Menentukan regulator mana yang akan mengawasi sebuah institusi adalah transaksi bisnis yang dilakukan oleh perusahaan. Pengawasan Bank Seperti diketahui amanat membuat lembaga pengawas bank yang baru ada sejak diundangkannya UU bank sentral nomor 23 tahun 1999. Independensi instrumen dimaksudkan sebagai kemampuan bank sentral dalam memilih kebijakan yang ingin dilakukan. Dari berbagai macam literature akademis tercipta konsesnus bahwa independensi bank sentral diperlukan walaupun semua sepakat bahwa independensi secara legal saja tidak cukup. maupun dewan gubernur dan pejabat BI yang tidak menolak campur tangan pihak lain. Cukierman. Secara legal independensi adalah jaminan secara konsitusional tentang fungsi bank sentral dan khususnya terkait dengan hubungannya dengan pemerintah. Karena itu definisi independensi perlu dijelaskan lebih detail antara independensi secara legal dan aktual. De Jure adalah independensi dari sisi legalitas dalam undang undang dan ini digunakan sebagai proksi untuk independensi de facto. Sementara Debelle dan Fisher (1994) mengkategorikan independensi dari sisi Tujuan (goal) dan Perangkat (instrument). September 2010 Hasil empiris itu menimbulkan pertanyaan apakah independensi bank sentral masih relevan bagi negara sedang berkembang? Jawabnya Ya. tanpa mempedulikan status hukum dari perusahaan tersebut. dikenai ancaman pidana berat dan denda yang besar. Independensi artinya bebas dari campur tangan pemerintah dan pihak-pihak luar lainnya dalam melakukan kebijakan moneter. status kelembagaan BI yang independen yang tercantum pada pasal 4 UU No. BI dalam melaksanakan tugasnya wajib menolak dan mengabaikan segala bentuk campur tangan terhadap tugas BI. pihak lain dilarang melakukan segala bentuk campur tangan terhadap pelaksanaan tugas BI. yaitu pemisahan antara fungsi regulatory menjadi dua (2) regulator: salah menjalankan fungsi supervisi safety dan soundness. C. Pembentukan lembaga pengawas yang baru ini selain memang mengikuti trend pemisahan pengawasan bank di negara maju seperti Inggris dan Australia. Masciandaro. Dengan UU yang baru ini. Pertimbangan mendasar BI dalam menjalankan kebijakan moneter adalah untuk tujuan menstabilkan nilai rupiah. Dalam kontek Indonesia. sementara yang lainnya fokus pada conduct of business Functional Integrasi Twin Peaks 26 . Tabel I. untuk seluruh lembaga yang berada di sektor keuangan Bentuk regulation by objective. Tujuan dimaksudkan sebagai kemampuan menentukan tujuan tanpa campur tangan langsung dari pemerintah. Harus ada perangkat kelembagaan lain yang berfungsi mendukung peran ini. Grilli. begitu juga conduct of business. Krisis yang membuat pemerintah mengeluarkan dana rekapitalisasi perbankan sebesar Rp 420 triliun dipandang sebagai bukti kegagalan BI dalam melakukan fungsi pegawasan. dan Tabellini (1991) menfokuskan pada dua dimensi penting yaitu independensi politis dan independensi ekonomi.

Pertama. Pengawasan lembaga keuangan oleh OJK akan sangat efektif ketika lembaga keuangan saling terkait seperti ketika bank sentral. manfaat efisiensi pengawasan sepertinya tidak akan diperoleh. Secara umum ini sistem yang mayoritas dengan bank sentral sebagai pengawas mendominasi diatas 70%. sistem pengawasan institutisional yaitu sistem pengawasan dimana lembaga pengawas didasarkan pada status badan hukum lembaga tersebut. keberadaan BI sebagai pengawas akan menjamin tersedianya likuiditas bagi perbankan ketika terjadi liquidity shortage sehingga diharapkan mengurangi risiko sistemik karena kecepatan pengambilan keputusan (crisis prevention). Nomor 3. Mengacu pada kasus Century Artaboga. pemikiran pembentukan OJK masih ada. Contohnya asuransi akan diawasi lembaga pengawas asuransi. Australia dan Belanda. Sementara kalau pengawasan bank dibawah bank Di dunia saat ini sebenanrya ada empat sistem pengawasan lembaga keuangan yang dapat ditemui di dunia. twin peak yaitu sistem pengawassan berbasis pada tujuan dimana ada pemisahan antara fungsi supervisi safety dan soundness di satu sisi dengan fungsi pada praktek bisnis. Demikian juga dengan integrasi perbankan dengan pasar modal sangat rendah karena pasar modal belum cukup berkembang. Konsep ini diterapkan di Inggris. memiliki produk yang terkait dengan pasar modal. Apakah sistem keuangan kita sudah membutuhkan pengawasan terkonsolidasi semua lembaga keuangan dalam satu lembaga? Rasanya itu belum mendesak karena produk keuangan kita saat ini relative sederhana. koordinasi kebijakan antara sektor moneter dan perbankan yang lebih lancar. akan meningkatkan reliabilitas sistem pembayaran karena BI juga merupakan penyelenggara sistem pembayaran nasional. Kedua. Jika bank menjalankan bisnis asuransi. Model pengawasan demikian inilah yang sedang kita gagas dengan OJK. Selain itu akan terhindar dari conflict of interest antara macroprudential dan microprudential supervision. konsolidasi pengawasan produk bank dan non-bank menjadi lebih efektif karena tergabung dalam satu institusi. Demikian juga dengan akses informasi kondisi perbankan sebelum bank sentral mengambil keputusan terkait kebijakan moneter. Jabaran teori ekonomi 27 . dimana pengawasan lembaga keuangan dilakukan oleh berbagai lembaga yang berbeda sesuai fungsi bisnis lembaga itu. Kita menyadari masalah otoritas dan pengawasan jasa keuangan bukan sekedar masalah efisiensi ekonomi saja tetapi lebih banyak nuansa politis. Tapi kemudian pemerintah bersama DPR sepakat merevisi UU 23 Tahun 1999 tentang BI menjadi UU 3/2004. Sayangnya pandangan pentingya bank sentral tetap sebagai pengawas bank kurang terdengar akhir akhir ini. sistem pengawasan terintegrasi yaitu semua lembaga keuangan diawasi oleh lembaga pengawasan yang tunggal dengan cakupan pengawasan yang luas baik untuk aspek mikroprudensial. Dari sisi sistem pembayaran. Terkait dengan krisis likuiditas. Jadi sebuah lembaga keuangan akan diawasi oleh banyak pengawas tergantung aktifitas bisnisnya. Makanya literatur ekonomi (Goodhard dll) menyatakan sebaiknya Negara berkembang tidak menyatukan pengawasan perbankan ke dalam OJK. Namun bagi negara berkembang dimana perbankan adalah lembaga keuangan utama dalam sistem keuangan. Sebelumnya berdasar UU 23 tahun 1999. pasar modal dan lembaga keuangan lain ada dalam satu pengendalian. Terakhir. September 2010 Setelah UU BI diamandemen melalui UU No. Ada semacam efisiensi pengawasan yang akan dapat dinikmati karena pengawasan bank. Berdasarkan Pasal 34 dinyatakan tugas mengawasi bank nantinya akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen dan dibentuk dengan UU. 3 tahun 2004. maka bank akan diawasi lembaga pengawas asuransi juga. makroprudensial dan praktek bisnisnya. Lembaga pengawas ini selambat-lambatnya 31 Desember 2010. Bahkan perbankan menguasai porsi pembiayaan lebih dari 80%.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Artinya apakah pengawasan lembaga keuangan yang terpisah dari bank sentral atau menyatu dalam bank sentral adalah sama baiknya asal semuanya berfugsi dan menjalankan fungsinya dengan baik. sistem pengawaan fungsional. Ketiga. Keempat sistem itu adalah selalu punya untung dan rugi. OJK dibentuk paling lambat akhir tahun 2004.

hutang luar negeri dan lainnya. ternyata sumbernya beragam baik dari sisi perbankan. Dari berbagai krisis ekonomi. Makanya kalau partai Konservatif di Inggris menang dalam pemilu kedepan. Seperti diketahui krisis ekonomi merupakan situasi yang sangat merugikan karena krisis mampu menghancurkan sendisendi ekonomi yang lama dibangun suatu negara. Sekarang ini terjadi pergeseran yaitu pengawasan lembaga keuangan juga diarahkan untuk mencegah jangan sampai lembaga keuangan menjadi sumber dari krisis ekonomi (systemic risk). Tujuan ini sering disebut sebagai mencapai stabilitas sistem keuangan. Studi empiris membuktikan yang lebih penting dan lebih menentukan kinerja pengawasan adalah suprastruktur dan lingkungan operasional pengawas seperti independensi operasional. Dalam perkembngan ekonomi modern yang makin komplek seperti saat ini peran bank sentral dalam stabilitas sistem keuangan makin diperlukan. Sehingga kewenangan bank sentral yang besar membuat ruang gerak politisi/pemerintah makin terbatas. Kalau melihat UU No 23/99 tentang Tugas Bank Indonesia yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah maka secara singkat merupakan upaya mengurangi inflasi menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan (sustainable economic growth).Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Peran Bank Sentral dalam Stabilitas Sistem Keuangan Undang-Undang No. Ingat profesional memperoleh kekuasaan karena keahlian. mereka menjadi pemicu maupun pemacu (accelerator) krisis. Sementara stabilitas sistem keuangan memiliki cakupan yang luas walaupun definisi baku stabilitas sistem keuangan (SSK) belum disepakati. Politisi memiliki pendukung yang harus dipuaskan. Secara tradisional tujuan pengaturan dan pengawasan bank adalah untuk mencapai dan menjaga agar lembaga keuangan menjadi sehat dan aman. Ini untuk menjamin kepentingan nasabah baik deposan maupun debitur. September 2010 politiknya adalah pemerintah sebagai lembaga politis sebenarnya tidak rela bank sentral. Nomor 3. Makanya independensi diberikan tetapi pengawasan diambil politisi. Namun kalau diperhatikan. Stabilitas moneter (monetary stability) didefiniskan sebagai stabilitas harga dimana perekonomian mengalami inflasi dalam jumlah yang relatif kecil yaitu 1-2% setahun. Deflasi juga ancaman terhadap stabilitas moneter namun karena isu deflasi sangat jarang terjadi maka kurang menjadi perhatian. Fungsi otoritas dalam hal ini adalah mewakili kepentingan nasabah (delegated monitor) dengan mengawasi prilaku lembaga keuangan. Kegagalan Nothern Rock Bank di Inggris buktinya. Stabilitas moneter hanya mengacu pada stabilitas harga (price stability). Konsep stabilitas sistem keuangan atau stabilitas keuangan jauh lebih luas dari stabilitas moneter. Artinya agar lembaga keuangan beroperasi dengan mengindahkan prinsip pengelolaan lembaga keuangan yang sehat dan berhati hati. nilai tukar. Ada banyak definisi kestabilan sistem keuangan diantaranya: 28 . sepuluh tahun kebelakang. Artinya merupakan salah satu konsep kestabilan yang skopnya lebih kecil tetapi punya peranan penting adalah stabilitas moneter. 23 Tahun 1999 tentang Bank Pengalaman membuktikan apapun struktur pengawasannya. akuntabilitas dan transparansi pengawas bank dalam menjalankan tugasnya. yang notabene adalah profesional terlalu menguasai keputusan ekonomi. D. Bukan struktur kelembagaanya. Ongkos penyelesaian dan dampak krisis sangat mahal dan dapat menyeret ekonomi suatu negara mundur Indonesia mengatur tentang peran dan tugas Bank Indonesia sebagai sebagai otoritas moneter. mayoritas krisis berasal dari lembaga keuangan atau ketika lembaga keuangan tidak sehat. bank sentral atau OJK. Pertumbuhan ekonomi menjadi isu global dan nasional saat ini secara politik penentu selalu menjalankan pertumbuhan ekonomi sebagai bukti keberhasilan dalam pembangunan. hampir tidak ada pengaruhnya terhadap kinerja pengawasan. Sementara politisi memperoleh kekuasaan karena mereka berjuang dengan kampanye dan perjuangan politis. pengawassan bank akan dikembalikan ke Bank Of England kembali. Dalam perkembanganya peran sebagai otorita moneter dirasakan kurang memadai karena cakupan otoritas moneter hanya terbatas pada aspek stabilitas harga.

September 2010 John Chant (2003) menyatakan instabilitas adalah keadaan pasar yang merugikan perekonomian yang mengancam kinerja ekonomi sehingga melumpuhkan kondisi keuangan rumah tangga. Instabilitas sebagai situasi ekonomi yang terganggu karena fluktuasi harga aset keuangan yang besar atau ketika lembaga keuangan gagal memenuhi kewajiban yang sudah diperjanjikan. c. Crockett (1996) mendefinisikan stabilitas keuangan sebagai ketiadaan instabilitas. et. Frederick Mishkin (1999) menyatakan instabilitas keuangan terjadi ketika kejutan terhadap sistem keuangan karena masalah arus informasi sehingga sistem keuangan tidak mampu menjalankan funsinya menyalurkan dana kedalam investasi produktif. Secara efisien memfasilitasi alokasi sumber daya dari waktu ke waktu. (2006) dan Schioppa (2002) 29 . perusahaan dan pemerintah dan membuat arus dana terbatas. Extreme event Simulasi. dari deposan ke investor. Keadaan juga mengganggu fungsi dan operasi lembaga keuangan. sehingga fungsi intermediasi. Stress test Sumber: Diadaptasi dari Aspach O. mampu mengatasi kejutan ekonomi. Dari semua definisi diatas dapat diringkas secara sederhana kestabilan keuangan adalah tidak adanya krisis yang berarti situasi dimana ketahanan sistem keuangan terhadap guncangan perekonomian. Sementara Deutsche Bundesbank (2003) menggambarkan stabilitas keuangan sebagai keadaan seimbang sistem keuangan sehingga berfungsi efisien dalam alokasi sumber dan mengelola risiko dan menjalankan fungsi pembayaran. Tabel 2. dan sulit untuk disesuaikan: Fasilitas Pembiayaan Darurat Instrumen pengontrol Kebijakan moneter Suku bunga Operasi pasar Trend. b. Stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan ibarat dua sisi dari satu koin yang saling mempengaruhi satu terhadap yang lain. al. Namun demikian. Schinasi (2006) mendefinisikan stabilitas keuangan sebagai kondisi dimana sistem keuangan: a. Central tendency of distribution Teknik peramalan standar Struktur Proyeksi Alat Proyeksi Tails of distribution. Sementara itu. Dari uraian diatas terlihat keterkaitan antara Stabilitas Moneter & Stabilitas Sistem Keuangan. sistem pembayaran dan penyebaran risiko tetap berjalan dengan semestinya. dan alokasi sumber daya ekonomi secara keseluruhan. kebangkrutan dan perubahan struktural yang mendasar. Perbandingan Stabilitas Moneter dan Stabilitas Keuangan Stabilitas Moneter Definisi Stabilnya harga untuk mengendalikan inflasi mengendalikan deflasi Stabilitas Keuangan Kestabilan institusi dan pasar keuangan dan tiadanya tekanan dan pergerakan harga yang berpotensi menyebabkan guncangan perekonomian Sangat terbatas. Dapat dengan baik menyerap gejolak yang terjadi pada sektor keuangan dan ekonomi. Nomor 3.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Dapat menilai/mengidentifikasi dan mengelola risikorisiko keuangan. terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.

Artinya stabilitas sistem keuangan Indonesia sangat dipengaruhi kemampuan sistem perbankan dalam menahan ancaman destabilisasi. 23 Tahun 1999. Hasil riset dan pemantauan ini akan diolah menjadi rekomendasi bagi otoritas terkait dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meredam gangguan dalam sektor keuangan. BI juga mengatur agar risiko kredit dalam sistem pembayaran Nasional diminimalkan. Nomor 3. BI-RTGS dan BI-SSS. serta penegakan hukum (law enforcement). selain melakukan riset untuk mengembangkan instrumen dan indikator macroprudential guna mendeteksi kerentanan sektor keuangan. maka prinisip mencegah lebih baik daripada mengobati harus menjadi filosofis dasar manajemen perekonomian nasional. peran dan fungsi Bank Indonesia dalam stabilitas sistem keuangan yang tidak secara eksplisit tercantum dalam Undang-Undang Bank Indonesia. Sistem keuangan Indonesia secara umum didominasi perbankan. September 2010 Kalau memperhatikan UU no. khususnya perbankan. Karena itu Bank Indonesia berperan vital dalam menciptakan stabilitas sistem keuangan yang sehat. Penerapan kebijakan moneter dengan target inflasi (inflation targeting) merupakan salah satu implementasi dari tugas menjaga stabilitas moneter. Beranjak dari pengalaman krisis keuangan 1997/1998 dan juga dampak krisis keuangan global pada perekonomian Indonesia tahun 2008 yang lalu. Untuk makin mendorong fungsi bank sentral dalam menajga stabilitas sistem keuangan. Sistem pembayaran nasional merupakan tulang punggung (backbone) kelancaran arus dana di perekonomian. Bank Indonesia berwenang untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. secara implisit peran ini juga dekat dengan peran BI sebagai bank sentral secara umum.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Peran Bank Indonesia dalam menciptakan dan memelihara sistem perbankan yang sehat dilakukan melalui mekanisme kebijakan dan pengawasan yang efektif. namun berdasarkan pengalaman negara-negara maju. Dalam kaitan dengan tugas Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter antara lain melalui penggunaan instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka. fungsi menciptakan stabilitas sistem keuangan merupakan fungsi yang melekat di bank sentral. Walaupun tidak secara eksplisit tercantum. maka bank sentral 30 . Selain BI menyediakan infrastruktur sistem pembayaran yang terpercaya seperti sistim kliring nasional (SKN). Karena memandang bahwa stabilitas sistem keuangan sebagai suatu hal yang sangat penting untuk menunjang stabilitas makroekonomi. Dalam kaitan dengan fungsi pencegahan krisis. Saat ini Bank Indonesia sudah melakukan riset dan pemantauan macroprudential (macroprudential surveilance) terhadap sistem keuangan dan meneliti potensinya dalam menyebabkan krisis. Walaupun tidak secara eksplisit peran BI dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Bank Indonesia dalam hal ini menganalisis dan memonitor kerentanan sektor keuangan termasuk mendeteksi potensi shock yang berdampak sistemik terhadap sistem keuangan. maka secara implisit mengharuskan BI untuk melakukan segala daya dan kewenanganya untuk mencapai tugas itu. Kemamapuan dalam mendeteksi risiko yang mungkin terjadi harus menjadi keahlian baru bank sentral dalam fungsinya menjaga stabilitas sistem keuangan. Bank Indonesia dituntut untuk mampu menetapkan kebijakan moneter secara tepat dan berimbang melalui pengendalian suku bunga sebagai target antara (intermediate target). Sistem pembayaran dapat dikelompokan dalam dua kategori yaitu sistem pembayaran berbasis tunai atau kartal dan sistem pembayaran berbasis giral atau elektronik. Dalam hal ini. Kewajiban baik untuk menyediakan Cover Fund (Saldo) yang cukup atau kewajiban menjalankan aset likuid seperti SBI dan SUN merupakan upaya BI mencegah jangan sampai krisis berawal dari kegagalan sitem pembayaran. Bank Indonesia mengembangkan mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi risiko timbulnya gangguan yang bersifat sistemik dalam sistem pembayaran yang cenderung semakin meningkat. Berkaca dari kasus Herstatt Bank pengaturan dalam sistem pembayaran diarahkan jangan sampai risiko kredit dalam sistem pembayaan berdampak pada kekacauan sistem pembayaran nasional. Bank Indonesia memegang peran dan fungsi sentral dalam stabilitas sistem keuangan.

Sementara microprudential merupakan upaya untuk mencegah terjadinya krisis pada individu lembaga keuangan yang dapat merugikan nasabah atau investor lembaga keuangan dengan Peran penting yang terkait dengan stabilitas sistem keuangan adalah yang terkait dengan fungsi penyediaan dana likuiditas kepada perbankan. topdown in terms of risks of individual institutions. bottom-up Sumber: Claudio Borio (2003) Dari tabel 3 dapat disimpulkan bahwa macroprudential bertujuan membatasi risiko krisis yang terjadi pada suatu perekonomian dengan dampak kerugian produksi ekonomi suatu negara. Kita sepakat bahwa sangat penting mencegah jangan sampai krisis keuangan terjadi karena dampak dari krisis sangat mahal bagi perekonomian. Walaupun tujuanya berbeda yaitu macroprudential bertujuan menjaga sistem sementara microprudential bertujuan menjaga lembaga keuangan. Pertanyaan diatas selalu membawa kita pada suatu konsep yang dikenal dengan ”Macroprudential”. macroprudential merupakan alat yang dapat membantu otoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Dengan demikian dapat diringkas tujuan dari makroprudensial adalah berada pada wilayah ekonomi makrotradisional sementara untuk microprudential bertujuan perlindungan terhadap nasabah lembaga keuangan. Perbandingan Macroprudential dan Microprudential Attributes Proximate objective Ultimate objective Model of risk Correlations and common exposures across institutions Calibration of prudential controls Macroprudential limit financial system-wide distress avoid output (GDP) costs (in part) endogenous important Microprudential limit distress of individual institutions consumer (investor/depositor) protection exogenous irrelevant in terms of system-wide distress. Karena itu bagi otoritas keuangan. Dalam perspektif manajemen keuangan. Selama ini tangung jawab menjaga mikroprudensial ada di lembaga pengawas jasa keuangan baik itu bank sentral maupun lembaga diluar bank sentral. pendekatan macroprudential dan microprudential harus menjadi kesatuan. Komparasi konsep ini ada di table 3. 31 . sebab utamanya dan implikasi dari ketidakstabilan itu sendiri.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Pertanyaan mendasar saat ini yang penting untuk dijawab adalah bagaimana mencegahnya? Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung kepada pemahaman kita terhadap ketidakstabilan. mengabaikan dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan. Walaupun belum ada definisi baku pengertian makroprundesial tetapi secara umum ada hubungan erat dengan konsep ”Microprundential” yang selama ini kita kenal. Fungsi ini merupakan bagian dari fungsi jaring pengaman sektor keuangan keuangan. makroprudensial bertujuan mencegah terjadinya kejadian ekstrim (tail event) pada portofolio semenatara mikroprudensial diarahkan untuk mencegah terjadinya kejadian ekstrim pada satu sekuritas atau instrumen keuangan. Mengingat krisis bersumber dari berbagai sebab dan pengalaman membuktikan bahwa pendekatan mikroprudensial lembaga keuangan saja tidak cukup mampu memberi nilai peramalan. September 2010 melengkapi alat berupa sistem peringatan dini. maka dikembangkanlah konsep yang dikenal dengan pengawasan makroprudensial (macroprudential surveillance). Nomor 3. namun keduanya memiliki keterkaitan yang erat. Satu hal yang pasti adalah dalam menjaga stabilitas sistem Tabel 3.

Selama ada ancaman inflasi. Aneh kalau pemisahan pengawasan ini terkesan supaya BI bisa bebas menaikan suku bunga.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Selama inflasi rendah maka kebijakan moneter yang longgar akan dilakukan. Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. pemerintah. beliau menyadari terjadinya kesalahan dalam mempersepsi peran bank sentral. Trend yang terjadi pada awal tahun 2000-an yang memisahkan fungsi pengawasan lembaga keuangan dari bank sentral telah menimbulkan fenomena kebijakan kaca mata kuda (single focus policy). Ini berarti stabilitas harga menjadi syarat yang harus dipenuhi agar pereknomian berjalan dengan baik. Temuan ini sangat penting karena stabilitas harga merupakan fondasi seluruh stabilitas ekonomi yang lain. Nomor 3. Dari berbagai kajian teoritis dan pengukuran empiris membuktikan kestabilan sistem keuangan bukan merupakan suatu hasil yang dengan sendirinya tercipta. lembaga keuangan dan semua perilaku alami. merasa paling bertanggung jawab dengan tarik ulur pembentukan OJK. Apakah kewenangan ini akan dapat diperoleh bank sentral mengingat kewenangan ini diberikan oleh politisi (DPR dan Pemerintah)? Ini pertanyaan besar kita. Dalam menjalankan fungsinya sebagai LoLR. Temuan ini menimbulkan arus baru penelitian yang mencoba mencari kaitan secara detail kenapa inflasi bias menjadi lebih rendah. Otoritas bank sentral. E. Menjaga agar kesehatan bank terjaga sangat penting terlebih dengan keterkaitan perbankan dalam sistem pembayaran dan kebijakan moneter. Disinilah peran baru bank sentral yang memerlukan kekuasaan pengawasan bank yaitu untuk memastikan kesehatan mikroprudensial. Jawabanya terletak pada perspektif kebijakan bank sentral yang berdimensi jangka panjang dan kredibilitas kebijakan yang ditempuhnya. Karena itu independensi bank sentral harus diperkuat untuk menjamin kepentingan ekonomi jangka panjang dijaga sebagai penyeimbang kepentingan politisi yang dimensinya hanya lima tahun sesuai siklus pemilu. Stabilitas harga menjadi fondasi bagi berjalanya ekonomi pasar yang baik. Terlebih. Untuk mencapai dan mempertahankan stablitas sistem keuangan. diperlukan intervensi kebijakan. Di sisi lain kita selalu menyerukan agar suku bunga turun. Setelah menjadi petinggi BI. Pemerintah selama ini melihat BI dalam suasana “negatif” sehingga BI sering dipandang sebagai “negara dalam Negara”. Bank sentral menjadi kurang peduli dengan tugas lembaga Negara yang lain bahkan dunia usaha. 32 . Bank Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard sehingga pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan yang ketat harus diterapkan dalam mekanisme lender of last resort tersebut. yang sesuai mandatnya adalah bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai uang. Kedepan peran bank sentral dalam pencegahan krisis akan menjadi peran utama yang menuntut kewenangan yang lebih besar dari sisi supervisi mikro-makroprudensial maupun dalam regulasi risiko sistemik. Darmin Nasution. suku bunga akan dinaikan. Kesimpulan dan Implikasi Independensi bank sentral merupakan tema utama diskusi kebijakan moneter yang sangat intensif di awal tahun 1990-an karena negara yang memiliki bank sentral yang independen memiliki tingkat inflasi yang lebih rendah. Kestabilan sistem keuangan merupakan hasil dari suatu proses yang terencana dan merupakan hasil dari sinergi bank sentral. Walaupun sebenarnya kondisi conflict of interest ini menguntungkan karena BI tidak akan menaikan suku bunga sangat tinggi. akhirnya memfokuskan semua kebijakanya untuk mencapai inflasi. Bank Indonesia berperan dalam jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Sebagai pengusul OJK. yang sebelumnya merupakan bagian pemerintah saat di Kementrian Keuangan. Akibatnya perspektif negatif terhadap BI sangat kuat dan melihat isu conflict of interest dalam penataan sektor moneter dan perbankan sebagai masalah besar. Kesan ini secara implisit diakui oleh Gubernur BI. pengawasan perbankan sangat penting itu untuk memastikan kebijakan yang tepat dalam mengatasi dan mencegah terjangkitnya ketidakstabilan. September 2010 selain perlindungan nasabah deposan lewar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). selama ini memang ada pendangan yang salah terhadap fungsi BI sebagai bank sentral.

Teori saluran kredit dalam literatur moneter masih sangat kuat karena memang perbankan masih menguasai 80% dari porsi pembiayaan nasional. Tanpa akses yang cepat. maka proses tarik ulur terkait akses ini bisa menghancurkan kepercayaan pasar dan memicu permasalahan lain yang lebih besar yaitu distrust kelembagaan. Nomor 3. Kalau proses ini tidak diatur maka sekat kelembagaan akan menjadi kendala yang serius dalam perumusan kebijakan yang tepat dan cepat pada kritis dan implemetasi kebijakan itu di publik. Bagaimana mau mengatasi krisis jika antar lembaga negara yang bertanggung jawab masalah ekonomi saling bertikai. 33 . tepat dan mudah maka tugas makroprudential tidak akan berhasil. Tanpa adanya kewenangan untuk mengawasi maka BI akan kehilangan salah satu kaki untuk keberhasilan pengelolaan dan kebijakan moneter. Sudah seharusnya akses untuk memperoleh informasi kondisi mikroprudensial diberikan ke otoritas yang bertanggung jawab dalam masalah makroprudensial walaupun OJK ada. Inilah titik kritis jika RUU OJK diundangkan tanpa memberi jaminan akses kepada BI untuk memantau langsung kondisi perbankan. Pengawasan Bank tetap berada di bawah Gubernur BI dikonstruksikan sebagai jalan tengah kepentingan stabilisasi dan efektifitas pengawasan mikroprudensial perbankan. Karena itu. September 2010 Alasan bahwa BI membutuhkan perbankan dalam mengelola kebijakan moneter adalah fakta dan realitas. dengan berbagai pertimbangan tersebut. Terlebih ketika krisis mulai terjadi.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Kebutuhan akan kewenangan ini harus ada dan bukan ada karena belas kasihan lembaga lain.

Daftar Pustaka

Barro, R and D Gordon (1983), `Rules, Discretion and Reputation in a Model of Monetary Policy', Journal of Monetary Economics. Borio Claudio : “Towards a macroprudential framework for financial supervision and regulation?”, Monetari and Economic Department, February 2003 Chant, J. (2003), Financial Stability as a Policy Goal , in: J. Chant, A. Lai M. Illing and F. Daniel (eds), Essays on Financial Stability, Bank of Canada Technical Report, No. 95. Ottawa.) Crockett, Andrew (1997) ’Why is Financial Stability a Goal of Public Policy?’, paper presented at Maintaining Financial Stability in a Global Economy Symposium, the Federal Reserve bank of Kansas City, August 28-30. Cukierman, A, S Edwards and G Tabellini (1990), `Seigniorage and Political Instability', CEPR Discussion Paper No. 381. Cukierman , Kiguel and Liviatan , (1992), How much to commit to an exchange rate rule: balancing credibility and flexibility, No 931, Policy Research Working Paper Series , The World Bank Davies, E Philip, (2002), A Typology of Financial Instability, Financial Stability Report, No. Deutsche, Bundesbank (2003), Report on the stability of the german financial system, Monthly report, Frankfurt, December Dvorsky, S, (2000), Measuring Central Bank Independence in Selected Transition Countries and the Disinflation Process , BOFIT Discussion Paper No. 13/2000 Epstein, GA, (19920 "Political Economy and Comparative Central Banking", Review of Radical Political Economics , vol. 24(1), Spring, pp. 1-32. Fischer, Stanley (1994), ‘Modern Central Banking.’ In The Future of Central Banking, Forrest Capie, Charles A. E. Goodhart, Stanley Fischer, and Norbert Schnadt, eds., Cambridge University Press, pp. 262-308. Goodhart, C A E (1995) ‘The Central Bank and The Financial System’, MIT Press, Cambridge, MA. Goodhart, C A E and Huang, H (1999) ‘a Model of The Lender of Last Resort’, LSE Financial Markets Group Discoussion Paper, dp0131. Haldane A. (2001), The Resolution of International Financial Crises : Private Finance and Henning, C. R. 1994. Currencies and politics in the United States, Germany and Japan, Washington, D.C: Institute for International Economics.

34

Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Hoggarth, Glenn, Peter Sinclair, and Jack Reidhill (2003) Resolution of Bank Crises Failures: A Review, Financial Stability Review, Bank of England, December. Hoggart, Glenn, Saporta V. (2001), Cost of Banking System Instability, Financial Stability Review, Bank of England, Junne. Kydland, F., and E. C. Prescott (1977). "Rules Rather than Discretion: The Inconsistency of Optimal Plans". Journal of Political Economy: 473–492. Lopes, Melinda, Central Bank And The Sources Of Financial Stability, Paper Presented In The 12th Annual Conference On Pacific Basin Finance, Economics, Accounting, And Business Bangkok, Thailand August 10-11, 2004. Mishkin, Frederick (2001), ‘Financial Policies and The Prevention of Financial Crises in Emerging Market Countries’, NBER Working Paper No. 8087, January. -______(1999), Global Financial Instability: Framework, Events, Issues, Journal of Economic Perspectives, Vol.13, No. 4 Mongid, Abdul, (2004), ‘Roads to Achieve Financial System Stability In ASEAN’, Paper for the 16th MEA Convention on December 9, 2004 and the 29th Conference of the Federation of ASEAN Economic Associations (FAEA), Institute Integrity of Malaysia, Persiaran Duta, Off Jalan Duta, Kuala Lumpur, Malaysia, December 10-11, 2004 Owen, E, M. Leone, M.Gill, and P. Hilbers (2000), Macroprudential Indicators of Financial System Soundness, OC Paper 192, INTERNATIONAL MONETARY FUND Washington DC, April 2000 Rogoff, K (1985), `The Optimal Degree of Commitment to an Intermediate Monetary Target', Quarterly Journal of Economics. Santoso, Wimboh (2007) ‘Effective Financial System Stability Framework’, The SEACEN Centre, Occasional Paper No.45, September Schwarts, Anna J. (1993). “ Currency Boards: Their Past, Present, and Possible Future Role,” Carnegie-Rochester Conference Series on Public Policy, 39, 147-187. Sinclair, P.J.N. (2000) ‘Central Banks and Financial Stability. Bank of England Quarterly Bulletin, Vol. 40, No. 4, November, 2000. Stiglitz, Joseph (1999), ‘Lesson from East Asia’, Journal of Policy Modeling 21 (3) pp. 311-330. ______(2002), Globalization and its Discontents, W.W. Northon & Co. Sturm , Jan-Egbert and Jakob de Haan, (2001), Inflation in Developing Countries: Does Central Bank Independence Matter? New Evidence Based on a New Data Set, http://www.unikonstanz.de/monec/teaching/WS04/monpol/material/sturmdehaan2001is.pdf Sturm , Jan-Egbert and Jakob de Haan, (2001), Inflation in Developing Countries: Does Central Bank Independence Matter? New Evidence Based on a New Data Set, http://www.unikonstanz.de/monec/teaching/WS04/monpol/material/sturmdehaan2001is.pdf

35

Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8, Nomor 3, September 2010

Tommaso Padoa-Schioppa, (2002), ‘Central Banks and Financial Stability: Exploring a land in between’, Second ECB Central Banking Conference, Frankfurt am Main, October. Turner, Adair, 2009, The financial crisis and the future of financial regulation, The Economist’s Inaugural City Lecture , 21 January 2009

36

3 (tiga) orang anggota. Bab II – Pembentukan. Diatur pula pengertian Otoritas Jasa Keuangan yaitu lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Diantaranya memuat pengertian istilah perbankan dan keuangan non bank: a. bebas dari campur tangan pihak lain. Selain itu diatur pula mengenai pembiayaan sebagai berikut: 1 Ahli Perancangan Peraturan Perundang-undangan 37 . 3 (tiga) orang Kepala Eksekutif merangkap anggota. dan kesejahteraan yang bersifat wajib. Bab V – Rencana Kerja. Selanjutnya diatur pula tugas pengaturan dan pengertian Otoritas Jasa Keuangan.Beberapa Catatan Terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan Oleh Oka Mahendra. Lembaga Pembiayaan. kegiatan usaha. dan Pembiayaan Dalam bab ini ditentukan bahwa Dewan Komisionaris menyusun rencana kerja dan anggaran Otoritas Jasa Keuangan. Industri Keuangan Non Bank yang selanjutnya disingkat IKNB adalah kegiatan jasa keuangan yang disediakan oleh lembaga keuangan selain bank yang mencakup Dana Pensiun. Bab I – Ketentuan Umum Bab ini memuat pengertian beberapa istilah yang dipergunakan dalam RUU. dan lembaga yang menyelenggarakan program jaminan sosial. RUU tersebut terdiri dari 11 Bab. Bab III terdiri dari 21 pasal. Susunan Dewan Komisioner terdiri atas: a. dan Tugas Dalam bab ini ditentukan bahwa dengan Undang-undang ini dibentuk Otoritas Jasa Keuangan. 53 Pasal yang disusun dengan sistimatika sebagai berikut. Komite Eksekutif. pensiun. Tinggal menunggu jadwal untuk dibahas bersama dengan Pemerintah. 1 Saat ini Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Otoritas Jasa Keuangan sudah ditangan DPR RI. SH. Lembaga Penjaminan. Perusahaan Perasuransian. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank. Tempat Kedudukan. Bab IV – Kerahasiaan Informasi Dalam bab ini diatur larangan untuk pejabat atau orang-orang tertentu untuk menggunakan atau mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia kepada pihak lain. b. Pergadaian. b. Organ Pendukung dan Kepegawaian Bab ini mengatur kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan. mencakup kelembagaan. Anggaran. serta industri keuangan non bank lainnya. dan c. Seorang ketuamerangkap anggota. kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-undang ini. Bab III – Dewan Komisioner. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang mengenai perbankan. yaitu Dewan Komisioner yang mempunyai 7 (tujuh) orang anggota yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

b. 6 Tahun 2009. Laporan tersebut wajib disampaikan kepada DPR dan juga kepada Presiden. teratur. Otoritas Jasa Keuangan menginformasikan kepada Lembaga Penjamin Simpanan mengenai bank bermasalah yang sedang dalam upaya penyehatan oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang perbankan. Selain itu diatur pula peluang bagi Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan hubungan internasional. Dalam rangka penyelesaian dan penanganan bank gagal yang ditengarai berdampak sistemik. 38 . diperlukan industri jasa keuangan yang sehat. Untuk itu diperlukan otoritas jasa keuangan yang bertugas melaksanakan pengawasan yang dapat mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan tugas pengawasan tersebut. Untuk mewujudkan perekonomian nasional yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. seperti Bank Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan wajib menginformasikan kepada forum stabilitas sistem keuangan tentang bank gagal yang ditengarai berdampak sistemik. 2.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia memuat pokok pikiran sebagai berikut: 1. dan Lembaga Penjamin Simpanan melalui forum stabilitas sistem keuangan. pembiayaan penyelenggaraan tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan di bidang Perbankan berasal dari anggaran Bank Indonesia. 3. Bab VI – Pelaporan dan Akuntabilitas Otoritas Jasa Keuangan diwajibkan menyusun laporan tahunan yang terdiri atas laporan kegiatan dan laporan keuangan. antara lain: a. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. Bab VII – Penyidikan Bab ini mengatur mengenai penyidik PPNS dengan kewenangannya. Pengalihan tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan di bidang Perbankan dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa Keuangan dilakukan secara bertahap dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam waktu paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal Undang-undang ini diundangkan. Bab VII – Hubungan dengan Lembaga Lain Dalam bab ini diatur hubungan koordinasi kerjasama Otoritas Jasa Keuangan dengan lembaga lain. Bab IX – Ketentuan Pidana Dalam bab ini dimuat beberapa perbuatan pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara dan denda. c. Untuk 2 (dua) tahun pertama setelah tugas dan wewenang pengaturan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beralih. September 2010 a. Nomor 3. Sebagai pelaksanaan Pasal 34 UU No. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan dengan Undang-undang. Otoritas Jasa Keuangan menyerahkan penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik kepada Lembaga Penjamin Simpanan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Bab X – Ketentuan Peralihan Dalam bab ini diatur kondisi-kondisi dalam masa peralihan. b. Laporan tersebut diaudit oleh BPK atau akuntan publik. dan mempunyai daya saing yang tinggi. Kementerian Keuangan. Bab XI – Ketentuan Penutup RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan didusun dengan pertimbangan antara lain: 1.

Sifat lembaga a. 39 . Meskipun waktu yang tersedia relatif pendek. berkelanjutan. tetapi mengisyaratkan nama Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan (LPJK). b. serta menjalankan fungsi sebagai “lender of the last resort”. tidak boleh mengganggu. Pengalihan fungsi pengawasan dari Bank Indonesia kepada lembaga pengawas sektor jasa keuangan dilakukan secara bertahap setelah dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Undang-undang. LPJK merupakan lembaga yang independen dalam menjalankan tugasnya. Lembaga pengawasan tersebut dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dengan koordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta penjelasan dari Bank Indonesia. 5. Mengenai nama Undang-undang a. 7. Koordinasi dan kerjasama tersebut diatur dalam Undang-undang pembentukan lembaga pengawasan dimaksud. Lembaga tersebut harus bersifat independen dalam menjalankan tugasnya dan kedudukannya berada di luar pemerintah dan berkewajiban menyampaikan laporan kepada BPK dan DPR.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. September 2010 2. Dalam melaksanakan tugasnya lembaga tersebut (supervisory body) melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia. Sehubungan dengan pembahasan RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan bersama ini disampaikan catatan hukum sebagai berikut: 1. namun pembahasan RUU tersebut harus dilakukan secara cermat dan mendalam. kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undangundang ini”. menurut Pasal 35 UU tentang Bank Indonesia maka tugas pengaturan dan pengawasan bank dilaksanakan oleh Bank Indonesia. 2. Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia tidak secara jelas menentukan nama undang-undang. Dalam Pasal 2 ayat (2) RUU ditentukan ”Otoritas Jasa Keuangan lembaga independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan pihak lain. 5. serta pasal yang terkait harus dilaksanakan secara taat asas. 4. Nama Otoritas Jasa Keuangan secara etimologis bermakna otoritas tersebut diberi kewenangan yang luas. Mengingat pelaksanaan pengawasan terhadap bank sangat erat kaitannya dengan peran Bank Indonesia sebagai penanggung jawab kebijakan moneter maka kerjasama dan koordinasi dengan Bank Indonesia sangat penting untuk diatur secara jelas dalam Undang-undang. b. 8. berlaku ketentuan Pasal 35 UU tentang Bank Indonesia. dan berdaya saing. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan akan dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 31 Desember 2010. 6. tetapi harus mendukung peran Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang antara lain berwenang merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter mengatur dan mengawasi perbakan. 7. Batas waktu pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan tersebut tinggal 4 bulan lagi. Nomor 3. 4. 3. Berbagai aspek perlu dipertimbangkan agar kondisi perbankan semakin membaik dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Terhadap hal-hal yang secara expersis verbis ditentukan dalam Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia dan penjelasannya. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan agar dapat menciptakan kondisi kondusif untuk tumbuhnya industri jasa keuangan yang sehat. Sekiranya UU tentang Otoritas Jasa Keuangan belum disahkan samapai tanggal 31 Desember 2010. Pembentuk Undang-undang perlu belajar dari pengalaman sejarah pengawasan bank di tanah air dan juga dari pengalaman sejarah negara lain dalam mengatur pengawasan terhadap bank. Materi mutan yang diatur dalam Undang-undang tidak boleh mempersempit atau memperluas mandat yang didelegasikan oleh Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia. 6. Sepanjang lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) belum dibentuk. serta keterangan dan data makro yang diperlukan. Keputusan politik yang diambil oleh pembentuk Undang-undang akan sangat menentukan format pengawasan terhadap bank di masa mendatang. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan. 3.

tidak memenuhi atau menghambat pelaksanaan kewenangan Kepala Eksekutif. b. c. 8. yaitu: a. . untuk keterpaduan pengawasan seperti yang ditentukan dalam Pasal 4 ayat (1) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan dan untuk efisiensi. maupun menetapkan sanksi administratif. dan 3 dari unsur Otoritas Jasa Keuangan. Selain itu ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 43 dan Pasal 44 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan. b. Kiranya Dewan Komisione cukup 5 orang. c. menambah perkasa Kepala Eksekutif. Proses pengisian anggota Dewan Komisioner sebagaimana diatur dalam Pasal 5 RUU sebagian besar diisi secara ex officio (5 diantara 7 anggota Dewan Komisioner). Pimpinan Otoritas Jasa Keuangan memiliki kepastian atas jabatannya. dan akuntabel terhadap: a.yaitu 1 dari Bank Indonesia. Nomor 3. 10. Tiga kewenangan menumpuk di tangan Kepala Eksekutif tanpa mekanisme kontrol yang jelas. Pasal 5 ayat (4) yunto Pasal 20. tentunya lembaga yang bergerak di bidang pengawasan jasa keuangan. menetapkan aturan. Pasal 13 ayat (2) huruf c dan ayat (3) huruf f RUU secara sumir menentukan bahwa Dewan Komisioner mempunyai fungsi dan wewenang untuk mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif. Hakim Konstitusi. diancam dengan pidana. Perlu dicatat bahwa Kepala Eksekutif adalah juga anggota Dewan Komisioner. Ada beberpa pola yang dapat diacu. dan Pasal 21.. Karena ex officio maka masa jabatan Dewan Komisioner tersebut tergantung kepada masa jabatan pada instansi asalnya. yaitu yang berasal dari Kementerian Keuangan (periksa Pasal 6 RUU) d. 9. 40 . Pilihannya antara lain kedudukannya sebagai bagian dari lembaga independen atau badan hukum publik yang mandiri.……. Tugas Otoritas Jasa Keuangan Pasal 4 ayat (1) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan menentukan tugas Otoritas Jasa Keuangan melakukan pengaturan dan pengawasan secara terpadu. ada yang diusulkan melalui Menteri Keuangan kepada Presiden dan ada yang langsung kepada Presiden. atau Komisi Yudisial. Tidak ada kesetaraan dalam proses rekrutmen. Kedudukan Otoritas Jasa Keuangan di luar pemerintah. Sifat kolektif Dewan Komisioner sebagaimana diatur Pasal 5 ayat (2) kehilangan maknanya.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Sebab setiap orang yang sengaja mengabaikan. Bila ditempatkan sebagai bagian dari lembaga independen. Kepala Eksekutif mempunyai kewenangan yang luas baik dalam menetapkan kebijakan operasional pengawasan. Ada beberapa alternatif yang dapat dipilih selain seperti yang diatur dalam RUU. Sehubungan dengan itu proses rekrutmen anggota Dewan Komisioner perlu diperbaiki. independen. Hakim Agung. Struktur organisasi Otoritas Jasa Keuangan perlu dipertimbangkan kembali agar tidak ada kesan Otoritas Jasa Keuangan dalam Otoritas Jasa Keuangan.. Ada yang perlu mendapat konfirmasi DPR. secara kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan tidak berada di bawah otoritas lain di dalam sistem pemerintahan RI. Jumlah Dewan Komisioner perlu dipertimbangkan untuk merampingkan agar lebih efektif dan efisien. melakukan pengawasan. ………. September 2010 Dalam Penjelasan Umum antara lain dikemukakan bahwa independensi Otoritas Jasa Keuangan diwujudkan dalam 2 hal. Independensi Otoritas Jasa Keuangan tampaknya sulit diwujudkan karena: a. Sebagai konsekuensi proses rekrutmen seperti tersebut di atas terdapat kecenderungan bahwa anggota Dewan Komisioner dari instansi tertentu terpengaruh oleh kebijakan instansinya. yaitu pola rekrutmen KPK. 1 dari Kementerian Keuangan. Penumpukan kewenangan disatu jabatan dalam organisasi tidak sejalan dengan prinsip pemisahan kekuasaan dengan mekanisme checks and balances yang jelas. kegiatan jasa keuangan di bidang perbankan. b.

Demikian pula Penjelasan Umum RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan yang beberapa kali mengulang pernyataan yang kurang tepat bahwa Pasal 34 UU tentang Bank Indonesia “memberikan otoritas pengaturan dan pengawasan kepada lembaga pengawasan sektor jasa keuangan” atau untuk ”menyelenggarakan fungsi pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di bidang Perbankan.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. tugas. serta pasal yang terkait. c. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa lembaga tersebut fungsinya antara lain melakukan pengawasan terhadap bank …. Melakukan tindakan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan terkait perbankan yang berlaku dalam hal keadaan suatu bank menurut penilaian Bank Indonesia membahayakan kelangsungan usaha bank yang bersangkuta dan atau membahayakan sistem perbankan atau terjadi kesulitan perbankan yang membahayakan perekonomian nasional (Pasal 33). dan IKNB”. Pasal 46 ayat (2). Seharusnya subyek yang diatur UU tentang Otoritas Jasa Keuangan adalah Otoritas Jasa Keuangan. d. 12. dan seterusnya. 13. Secara teknis perundang-undangan apakah UU tentang Otoritas Jasa Keuangan dapat mewajibkan atau membolehkan instansi lain untuk melaksanakan tugas atau kegiatan tertentu? Periksa Pasal 37. e. Pertanyaannya ialah apakah pengawasan disini berupa pengawasan makro atau mikro atau keduanya? Perlu dikemukakan bahwa kewenangan pengawasan Bank Indonesia terhadap perbankan merupakan bagian dari fungsi Bank Indonesia sebagaimana ditentukan dalam Pasal 8 UU tentang Bank Indonesia. Pasal 37 ayat (2) UU tentang Otoritas Jasa Keuangan menentukan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia dapat berkoordinasi dan bekerjasama dalam pengawasan bersama atas kegiatan jasa keuangan di bidang perbankan. dan penjelasan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan (Pasal 28 ayat (1)). keterangan. 11. Lembaga tersebut yang ditekankan sebagai supervisory body dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dengan koordinasi dengan Bank Indonesia. Sehubungan dengan itu rumusan Pasal 4 ayat (1)dan ayat (3) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan perlu disesuaikan dengan ketentuan Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia dan penjelasannya. Karena itu formulasi pasal-pasal tersebut perlu disempunakan agar tidak terkesan mengatur instansi atau lembaga lain yang tunduk kepada Undang-undang tersendiri yang menjadi dasar hukum pembentukannya atau yang memberi kewenangan untuk melaksanakan fungsi. Ayat ini mengatur kembali apa yang sebetulnya merupakan kewenangan Bank Indonesia. Pasal 37 ayat (4) menentukan “dalam pengawasan bersama Bank Indonesia dapat melakukan pengawasan langsung dan/atau tidak langsung terhadap bank”. September 2010 Menurut Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia menentukan tugas mengawasi bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen. dan wewenang tertentu. Mengatur dan mengembangkan sistem informasi antar bank (Pasal 32). Mewajibkan bank menyampaikan laporan. Pasal 48. b. b. Pemeriksaan berkala maupun setiap waktu (Pasal 29 ayat (1)). Apakah yang dimaksud dengan tugas pengawasan terhadap bank dalam ketentuan ini? Bila merujuk kepada UU tentang Bank Indonesia tugas pengawasan dimaksud meliputi hal-hal yang diatur dalam Pasal 27 s/d Pasal 33 UU tentang Bank Indonesia sebagai berikut: a. Nomor 3. Bukankah kewenangan Bank Indonesia tersebut telah diatur dalam UU tentang Bank Indonesia? 41 . Pasal 49 ayat (1) dan Pasal 50 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan. Pengawasan langsung dan tidak langsung (Pasal 27). Dalam Penjelasan Pasal 34 ayat (1) antara lain dikemukakan bahwa Lembaga pengawasan ini dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dngan koordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta penjelasan dari Bank Indonesia keterangan dan data makro yang diperlukan. Pasar Modal. Memerintahkan bank untuk menghentikan sementara sebagian atau seluruh kegiatan tertentu (Pasal 31).

Ketentuan peralihan terutama yang berkaitan dengan pengalihan status kepegawaian pegawai Bank Indonesia yang melaksanakan tugas dan wewenang di bidang pengawasan bank. PPNS sebagaimana diatur dalam Pasal 41 apakah dapat diangkat dari Pegawai Negeri yang dipekerjakan pada Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan? Ketentuan tentang PPNS tersebut perlu diharmonisasikan dengan KUHAP dan UU tentang Kepegawaian. untuk digunakan sementara oleh Otoritas Jasa Keuangan agar dipertimbangkan dengan seksama. Pasal 30 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan memberi kewenangan kepada Otoritas Jasa Keuangan untuk menetapkan dan memungut biaya yang wajib dibayar oleh industri jasa keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang mengikat secara umum (Pasal 1 angka 2). Jenis-jenis peraturan Otoritas Jasa Keuangan. Jangan jangan tidak ada lagi yang tersisa di Bank Indonesia karena semua hal tersebut merupakan infrastruktur dan kekayaan yang diguakan untuk mendukung tugas pengaturan dan pengawasan Bank Indonesia terhadap perbankan. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Besaran biaya apakah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan atau oleh instansi lain? Apa dasarnya? d. yaitu: a. 18. c. Nomor 3. b. September 2010 14. yaitu: a. Peraturan Kepala Eksekutif sebagai aturan teknis dalam rangka pelaksanaan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan dan/atau Peraturan Dewan Komisioner dan mengikat secara umum (Pasal 1 angka 4). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap pasal ini. Selain itu ketentuan Pasal 46 ayat (1) RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan perlu ditelaah dengan seksama terutama mengenai: a. Jadi dalam hal ini tidak dikenal adanya atribusi kewenangan pengaturan seperti ditentukan dalam UU tentang Otoritas Jasa Keuangan. 16. 17. dikawatirkan terjadi tumpang tindih/duplikasi pemungutan biaya yang akan memberatkan industri jasa keuangan dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Sesuai dengan UU No. Peraturan Dewan Komisioner yang mengikat dilingkungan internal Otoritas Jasa Keuangan (Pasal 1 angka 3). Apakah biaya tersebut termasuk PNBP atau bukan? c. Ketentuan peraturan perundang-undangan mana yang mewajibkan industri jasa keuangan untuk membayar biaya tertentu kepada Otoritas Jasa Keuangan? Biaya apa yang dimaksud? b. 15. Apakah yang dialihkan dari Bank Indonesia tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan atau tugas yang secara ekplisit ditentukan dalam Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia? 42 . Seharusnya hanya ada satu jenis peraturan yang dapat dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Ada 3 jenis peraturan Otoritas Jasa Keuangan. yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang jelas-jelas didelegasikan pembentukannya oleh UU tentang Otoritas Jasa Keuangan. Perlu dicek apakah peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang telah member kewenangan kepada instansi lain untuk memungut biaya dimaksud? Bila hal tersebut tidak jelas pengaturannya. Penjelasan Pasal 7 ayat (4) memang dikenal adanya jenis peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga yang pembentukannya berdasarkan Undang-undang. Pelaporan dan akuntabilitas sebagaimana diatur dalam Pasal 36 RUU tentang Otoritas Jasa Keuangan perlu disesuaikan dengan Penjelasan Pasal 34 ayat (1) UU tentang Bank Indonesia yang menentukan Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan laporan kepada BPK dan DPR.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Tetapi jenis peraturan seperti itu hanya diakui dan mengikat bila diperintahkan pembentukannya oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. pengaliahan infrastruktur dan kekayaan negara pada Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan di bidang perbankan.

It is informative to note that in countries with multiple sectoral supervisors. September 2010 b. Masahiro Kawai and Michael Pomerleano (ADB Institute No. central bank almost always have this supervisory authority. Dalam Penjelasan Pasal 34 ayat (2) UU tentang Bank Indonesia dikemukakan penyerahan bertahap tersebut dilaporkan kepada DPR. 30 have an integrated prudential supervisor. Apakah waktu 3 tahun cukup dan bagaimana agendanya secara rinci sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 34 ayat (2) UU tentang Bank Indonesia? c. The central bank of 48 countries (57% of the total) have the authority of banking supervision. Nomor 3. January 2010. tetapi RUU tidak menyinggung hal tersebut.” Sebagai catatan akhir dapat dikemukakan satu pertanyaan yang perlu dijawab pembentuk Undang-undang. yaitu siapakah yang mengawasi Otoritas Jasa Keuangan yang memiliki kewenangan cukup besar dalam mengawasi industri jasa keuangan yang menjadi urat nadi perekonomian nasional? 43 . Satu hal yang perlu dipertimbangkan yaitu perkembangan model pengawasan finansial dan regulasi dan peran bank central dalam pengawasan prudential di dunia perlu dijadikan pertimbangan. halaman 10 antara lain mengemukakan ”Of the 84 countries listed in the table. 20 have supervisory agencies in charge of two types of financial intermediaries. and 34 have multiple sectoral supervision. and of these 48 countries 39 (81%) are developing and emerging economies. 189.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8.

Halaman ini sengaja dikosongkan .

apa sebenarnya maksud dari ‘konstitusi ekonomi’. beliau menguraikan kecenderungan menuangkan kebijakan lingkungan hidup dalam bentuk undang-undang yang dapat dipaksakan berlakukanya secara imperatif. Jika kebijakan-kebijakan ekonomi tersebut bertentangan dengan UUD. Namun. Soviet-Rusia yang bersifat komunis telah mencantumkan pasal-pasal perekonomian dalam undang-undangnya. Di negara-negara demokrasi konstitusional selalu terdapat mekanisme peradilan untuk membatalkan atau menyatakan bahwa undang-undang atau sebagian materi undangundang yang bersangkutan tidak lagi mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Secara umum. tak banyak dari pembaca yang bertanya-tanya. hal inilah yang biasa disebut judicial review. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang dituangkan dalam konstitusi suatu Negara tersebut bersifat mutlak dan tidak boleh dilanggar oleh penentu kebijakan ekonomi yang bersifat operasional. maka tidak lagi mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Sehingga berkembang kebutuhan untuk menuangkan dasar-dasar kebijakan ekonomi itu dalam konstitusi yang dapat dijadikan pegangan oleh legislatif sebagai penentu kebijakan Negara dan pemerintahan (policy maker) dalam menyusun suatu undang-undang di bidang perekonomian. Pada buku Prof. Jimly dalam bukunya tersebut menguraikan pengertian dan pentingnya konstitusi ekonomi di suatu Negara. buku karya Prof Jimly ini memusatkan perhatian pada fenomena konstitusi ekonomi dengan 45 . Australia.Resensi Buku Judul Penulis Penerbit Halaman Oleh : : : : : Konstitusi Ekonomi Prof. Namun. Pengaturannya dapat bersifat rinci dan eksplisit maupun bersifat fleksibel atau bahkan hanya memuat rambu-rambu filosofis yang bersifat implisit (misalnya di Amerika Serikat. sejak Konstitusi Weimar 1919 telah mengadopsi ide pengaturan prinsipprinsip kebijakan ekonomi dalam undang-undang dasar. Dr.Jimly sebelumnya yang berjudul Green Constitution: Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (2009). dan Jepang). SH. Kanada. Tradisi tersebut juga dikembangkan secara lebih luas oleh Irlandia dalam Konstitusi tahun 1937 dengan memperkenalkan konsep Directive Principles of Social Policy (DPSP) yang kemudian ditiru oleh banyak Negara non-komunis. Wacana tentang konstitusi ekonomi itu sendiri dapat dikatakan memang masih baru. Januari 2010 (ISBN: 978-979-709-465-2) xvi + 440 halaman Veri D. daya paksa kebijakan lingkungan itu tidak cukup kuat dan efektif menghadapi persaingan dengan kepentingan lain. SH Penerbit Buku Kompas. Hal ini sangat wajar karena literatur/referensi mengenai ekonomi maupun hukum yang membahas materi ‘konstitusi ekonomi (economic constitution) masih sangat jarang baik di Indonesia maupun di dunia. Pengertian dan Pentingnya Prof. Jimly Asshiddiqie. di Indonesia fungsi ini dilaksanakan oleh Mahkamah Konstitusi. Jimly Asshiddiqie. Mirip dengan hal tersebut. Sejak tahun 1918. karena ternyata hanya diatur dengan undang-undang saja. berbagai kebijakan ekonomi yang biasa dituangkan dalam bentuk undang-undang sering disusun tanpa rambu-rambu hukum yang dapat dijadikan acuan yang mengikat. Sedangkan di Jerman yang menganut paham liberal. Kebijakan-kebijakan itulah yang akan memayungi dan memberi arahan bagi perkembangan kegiatan ekonomi suatu negara. Adhiraharja Sejenak setelah membaca judul buku terbaru karya Prof. usaha untuk mengaitkan konstitusi dengan perekonomian di berbagai negara sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Dr.Suatu konstitusi disebut sebagai Konstitusi Ekonomi jika memuat kebijakan ekonomi.

Sebagai pendiri dan ketua pertama Mahkah Konstitusi (2003-2008) serta sebagai penggerak wacana literatur yang membahas konstitusi ekonomi. seperti Amerika. Vietnam dan Korea Utara. konstitusi Liberal-Kapitalis. Hongaria dan Polandia.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. (6) Mahkamah Konstitusi dan UU tentang Perekonomian. Isi buku terdiri atas delapan bab. Brasil. (ii) kebijakan dasar di bidang perekonomian untuk kesejahteraan social. Sedikit masukan kepada buku ini dari peresensi. Sehingga dalam perumusan materi terkait dengan ekonomi dan keuangan dalam konstitusinya hanya yang berhubungan dengan moneter. Keenam hal tersebut dibahas secara mendalam pada buku ini. seperti China. Kanada. Penutup disebutkan di atas. Spanyol. misalnya Dewan Ekonomi dan Sosial di Perancis dan Badan Perencanaan Ekonomi di Filipina. Nomor 3. organisasi masyarakat dan koperasi. Setelah runtuhnya komunisme. Butir-butir ketentuan tersebut mencakup (i) prinsip-prinsip dasar hak atas ekonomi dan konsepsi mengenai hak milik. Soviet-Rusia. September 2010 menguraikan aspek-aspek UUD 1945 sebagai konstitusi ekonomi. (3) Konstitusi Ekonomi Pelbagai Negara. Filipina. UUD 1945: Konstitusi Ekonomi Indonesia Tipe Konstitusi Ekonomi Melihat keempat tipe konstitusi ekonomi sebagaimana Dari sejumlah konstitusi yang diperbandingkan dalam buku ini. Namun demikian pada dasarnya semua konstitusi ekonomi di dunia selalu mengatur sekurang-kurangnya (i) tentang penguasaan dan kepemilikan kekayaan sumber daya alam sebagai warisan kehidupan. Paparan Prof. (7) Realisme dan Konstitusionalisme Kebijakan Ekonomi. khususnya mengenai penjelasan konstitusi di berbagai negara terdapat pengulangan pembahasan mengenai pemuatan kebijakan lingkungan hidup pada konstitusi di suatu negara. dan India. (2) Wacana Konstitusi Ekonomi. yaitu (1) Kedudukan Konstitusi dalam Penyelenggaraan Negara. dan (8) Simpulan dan Penutup. (4) Konstitusi Ekonomi Indonesia Sebelum Reformasi. seperti Perancis. civitas akademika dan masyarakat umum. secara umum terdapat empat tipe konstitusi ekonomi. Jimly menjadikan buku ini sebagai referensi utama untuk mengkaji konstitusi ekonomi. banyak juga konstitusi yang mengatur kebijakan ekonomi itu secara lebih luas dan terperinci. menyebutkan bahwa semua sarana dan prasarana produksi dimiliki oleh negara. Konstitusi Ekonomi Negara komunis. (iii) kebijakan dasar di bidang kesejahteraan social. Bahkan. Pada tipe ini memandang bahwa soal-soal perekonomian biasa dilihat sebagai persoalan yang timbul dan dapat diselesaikan sendiri dalam masyarakat sesuai mekanisme pasar. Akhirnya. Bahkan pada konstitusi di beberapa negara memberikan kewenangan kepada lembaga/badan independen tertentu untuk berperan dalam pengembangan ekonomi di negaranya. Prof. pejabat negara penentu kebijakan. fiskal dan anggaran. seperti Polandia. (iv) hal keuangan Negara yang menyangkut kebijakan anggaran dan perpajakan. Jimly pada buku ini disampaikan secara deskriptif dan tak sedikit bersifat evaluatif. rumusan baru pasal-pasal perekonomian dalam UUD 1945 mencakup lingkup materi yang cukup luas dan memepertegas konsepsi dasar di bidang perekonomian dan kesejahteraan rakyat.Hal ini terlihat dengan jelas setelah reformasi konstitusi di Indonesia berhasil diselesaikan tahun 2002. Keempat. Pada dasarnya pada konstitusi ekonomi negara yang termasuk dalam tipe kedua ini. Konstitusi Ekonomi Negara-negara eks komunis. Kedua. dan (iii) mengenai peranan negara dan perusahaan negara dalam kegiatan usaha. Pada tipe ini secara umum mencantumkan materi perekonomian lebih lengkap dalam konstitusinya. juga mengupas tuntas sejarah konstitusi ekonomi di dunia. peresensi juga merekomendasikan bahwa buku ini sangat tepat dibaca oleh ahli dan praktisi hukum. Inggris dan Australia. adalah Konstitusi Ekonomi negara-negara non komunis. Kekayaan milik negara merupakan hak milik seluruh masyarakat. Indonesia lebih pas masuk dalam kategori Konstitusi Ekonomi nonkomunis. (5) Konstitusi Ekonomi Indonesia Pascareformasi. yaitu Pertama. 46 . Tipe konstitusi ekonomi yang ketiga. (vi) pemeriksaan keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Sehingga pemerintah mempunyai peranan utama dalam kegiatan ekonomi di negara-negara berpaham komunis. (ii) tentang konsepsi hak milik perorangan. (v) mata uang dan bank sentral. pada kelompok ini telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar ke arah liberalisme.

MBA (Ketua Perbanas) dan Aviliani. Adakah Solusi Alternatif” di Hotel Borobudur. Dari aspek sosiologis. lembaga tersebut Dalam pandangannya. Dari aspek filosofis.Cakrawala Hukum: Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. pembicara berpendapat bahwa RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang disusun oleh Pemerintah berdasarkan amanat Pasal 34 UU BI. 1. penyusunan RUU OJK hendaknya secara sungguh mempertimbangkan best practice dan dinamika perkembangan di sektor jasa keuangan. Adakah Solusi Alternatif ? Pada tanggal 17 Juni 2010. wewenang. Lembaga tersebut harus bersifat independen dalam menjalankan tugasnya dan kedudukannya berada di luar pemerintah dan berkewajiban menyampaikan laporan kepada BPK dan DPR. Dalam kesempatan tersebut. Otoritas Jasa Keuangan seperti usulan Pemerintah memiliki makna yang sangat luas. khususnya berkaitan dengan pengawasan bank. Pembentukan lembaga pengawasan jasa keuangan harus mendukung peran BI sebagai Bank Sentral. dan kewenangan LPJK. pembentukan UU mengenai LPJK harus dilihat apakah dapat meningkatkan fungsi administratif kontrol dan manajerial kontrol terhadap otoritas jasa keuangan agar kebijakan yang telah ditetapkan dilaksanakan secara taat asas sesuai peraturan perundang-undangan bebas dari berbagai penyimpangan atau penyelewengan dalam rangka pencapaian tujuan. salah satu pembicara yaitu Bp. teratur dan mempunyai daya saing yang tinggi guna mewujudkan perekonomian yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. pembentukan Lembaga Pengawas Jasa Keuangan (LPJK) harus dicermati dari berbagai aspek. Pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan (LPJK) dibentuk dengan UU. RUU Otoritas Jasa Keuangan. Pada dasarnya. Dari ketentuan Pasal 34 dan penjelasannya dapat diperoleh informasi bahwa: melakukan koordinasi dan kerja sama dengan BI. yaitu: 1. serta tidak boleh memperluas atau mempersempit tugas. keterangan dan data mikro yang diperlukan. sebagai kekuasaan. dalam penyusunan RUU OJK perlu diperhatikan perkembangan model pengawasan finansial dan regulasi dan peran bank sentral dalam pengawasan prudensial. SE. Dradjad H. AA Oka Mahendra secara tegas mengusulkan alternatif solusi Pasal 34 UU BI. Namun demikian. 4. 3. Koordinasi dan kerja sama tersebut diatur dalam undangundang pembentukan lembaga pengawasan dimaksud. Dalam melaksanakan tugasnya. dilakukan dengan pertimbangan untuk membangun industri jasa keuangan yang sehat. Pasal 34 UU BI memuat janji karena baik pada ayat (1) dan ayat (2) menggunakan kata “akan” bukan “mewajibkan”atau “mengharuskan”. Wibowo. MSi. Oka Mahendra. tugas dan wewenang lembaga pengawasan dimaksud tidak terbuka untuk ditafsirkan lain. RUU OJK tidak boleh dilihat terpisah dari UU lain yang terkait. hak melakukan tindakan atau hak untuk membuat peraturan untuk memerintahkan orang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia) 47 . Seminar diselenggarakan dalam rangka memberikan masukan terhadap RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang saat ini sedang disusun oleh Pemerintah. 2. nama yang lebih tepat diusulkan adalah Lembaga Pengawasan Jasa Keuangan. Terhadap hal-hal yang secara tegas telah ditentukan dalam UU BI menjadi fungsi. hanya hal-hal yang belum jelas arahan pengaturannya terbuka untuk ditafsirkan dengan menggunkan metode peafsiran sesuai dengan doktrin hukum. Oleh karena itu. Lembaga tersebut dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dengan koordinasi BI dan meminta penjelasan dari BI. Drs Sigid Pramono. Dari aspek yuridis. Pembicara seminar adalah AA. fungsi. Dibandingkan “Otoritas”. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) mengadakan seminar dengan Judul “RUU OJK. Dr.

sebagaimana frasa “akan dilakukan”. diajukan oleh Pemerintah atau lembaga Negara dengan rekomendasi atau persetujuan DPR. modal ventura. maka pengawasan bank yang semula dilakukan oleh FSA dikembalikan kepada bank sentralnya (Bank of England). Sifat kelembagaan independen. Melakukan pemeriksaan (Pasal 29 UU BI) c. dana pensiun. Dari pertimbangan praktis. 8. Pembiayaan: APBN dengan kewenangan pengelolaan mandiri/biaya sendiri dari fee/sumber pembiayaan lain yang sah. Drajad melihat bahwa rencana pembentukan OJK bukan perintah UU BI. dengan status diluar pemerintah. Pasal 8 UU BI belum dicabut dan bersifat definitif dan direktif. Berkaitan dengan amanat tersebut. sekuritas. diketahui bahwa hampir 90% bank masih menginginkan pengawasan dilakukan oleh Bank Indonesia. Selanjutnya disebutkan bahwa lembaga pengawasan ini dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan Bank dengan koordinasi Bank Indonesia. Dalam hal ini Bank sebagai pelaku bisnis selalu mempertimbangkan cost dan efisiensi dalam 48 . dengan Pasal 8 butir c menyebutkan tugas BI adalah mengatur dan mengawasi bank. Memerintahkan bank untuk menghentikan sebagian atau seluruh transaksi tertentu apabila menurut penilaian lembaga terhadap transaksi patut diduga merupakan tindak pidana perbankan (Pasal 31 UU BI) d. berdasarkan survey yang dilakukan oleh perbanas. Mewajibkan bank untuk menyampaikan laporan.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Fungsi: melakukan pengawasan terhadap bank dan perusahaan sektor jasa keuangan lainnya yang meliputi asuransi. 6. Kelemahan tersebut tidak terletak pada investigasi. karena dianggap tidak dapat melakukan koordinasi. Pasal 34 hanya merencanakan pembentukan LPJK. seperi FSA yang terpisah dengan Bank of England tidak menjamin selamanya bahwa sistem perbankan akan aman. Dalam hal ini Drajad menilai bahwa terdapat pertentangan antara Pasal 8 dan Pasal 34 UU BI. dan perusahaan pembiayaan serta badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat. penemuan dan diagnosis masalah oleh jajaran di bawah Dewan Gubernur. Tugas dan wewenang : a. Sementara itu Drajad Wibowo mengemukakan bahwa kelahiran Pasal 34 UU BI merupakan kompromi politis dan melahirkan pengaturan yang bersifat abu-abu. keterangan dan penjelasan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan (Pasal 28 UU BI) b. Rekrutmen pimpinan: pemilihan oleh panitia seleksi independen. malah menjadi sumber krisis keuangan dunia pada tahun 2008 akibat kegagalan mengawasi perilaku spekulatif bank dan inovasi produk derivative berbasis subprime mortgage. September 2010 2. Pengawasan bank yang terpisah dari bank sentralnya. namun terletak pada pengambilan keputusan oleh Dewan Gubernur BI. Dari sisi ketentuan perundang-undangan. Berkaitan dengan krisis perbankan yang terjadi di Inggris. Pimpinan: Dewan Gubernur/Dewan Komisioner/Dewan Komisioner dan kepala Eksekutif/Dewan Direktur/Chief Executif Officer (CEO). Dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan Bank dengan koordinasi BI dan meminta penjelasan BI mengenai keterangan dan data makro yang dibutuhkan (Penjelasan Pasal 34 ayat (1) UU BI) 34 UU BI adalah rencana. Keberadaan lembaga pengawas keuangan yang bersifat 5. Nomor 3. Ketentuan ini tidak secara otomatis memberikan kekuasaan “pengaturan” tetapi hanya berupa “dapat mengeluarkan ketentuan” yang bisa ditafsirkan sebagai penjabaran peraturan. Amerika Serikat dengan pengawasan oleh The Fed juga mengalami kebobolan. yang direncanakan (bukan diperintahkan) oleh Pasal 34 ayat (1) UU BI adalah pembentukan LPJK. Batang tubuh Pasal 34 menyebutkan kata “pengawasan” bukan Otoritas. sementara itu sifat Pasal “integrated supervision” ataupun pengawasan oleh bank sentral bukan merupakan sesuatu yang superior/mutlak. 4. 7. Lebih lanjut Drajad mengemukakan bahwa pengawasan Bank merupakan titik terlemah BI yang membuat modal politik BI negatif. 3. Jumlah pimpinan 5-9 orang sesuai kebutuhan organisasi agar tugas dapat dijalankan secara efektif dan efisien.

September 2010 mengelola bisnisnya. Bank menganggap pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia sudah baik dan sangat ketat. Namun demikian. Nomor 3. dalam rangka antisipasi krisis maka isu terpenting adalah adanya koordinasi pengawasan yang dilakukan terhadap institusi bank dan non bank. dapat disimpulkan bahwa tidak ada yang dapat menjamin suatu negara terluput dari krisis apabila pengawasan bank dilakukan oleh bank sentral maupun oleh lembaga di luar bank sentral. sehingga tidak terlalu material apakah pengawasan bank ada di Bank Sentral ataukah pada pembaga khusus yang akan dibentuk. 49 . Aviliani mengemukakan bahwa faktor koordinasi dan integrasi pengawasan menjadi isu yang penting dalam rangka antisipasi dan penanganan krisis. sehingga sangat menghindari adanya premi yang dibebankan kepada industri. Dari pandangan pakar tersebut.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Sementara itu dari pandangan ekonom.

Halaman ini sengaja dikosongkan .

Scripless Securities Settlement System Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Pencabutan dan Penarikan dari Peredaran Uang Logam Pecahan 25 (Dua Puluh Lima) Rupiah Tahun Emisi 1991 Perubahan atas PBI No. 5/13/PBI/2003 tentang Posisi Devisa Neto Bank Umum Operasi Moneter Perubahan atas PBI No.10/34/PBI/2008 tentang Transaksi Pembelian Wesel Ekspor Berjangka oleh Bank Indonesia Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Perubahan atas PBI No.Oktober 2010 Peraturan 12/8/PBI/2010 Tanggal 3-6-2010 Satker DPU Perihal Perubahan Kedua atas PBI No.10/2/PBI/2008 tentang Bank Indonesia .000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2005 Prinsip Kehati-hatian Dalam Melaksanakan Aktivitas Keagenan Produk Keuangan Luar Negeri Oleh Bank Umum Perubahan Ketiga Atas PBI No.10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Rencana Bisnis Bank LN & TLN LN 71 12/9/PBI/2010 29-6-2010 DPNP LN 82 TLN 5139 12/10/PBI/2010 1-7-2010 DPD LN 83 TLN 5140 12/11/PBI/2010 12/12/PBI/2010 2-7-2010 4-8-2010 DPM DASP LN 84 TLN 5141 LN 93 TLN 5146 12/13/PBI/2010 4-8-2010 DASP LN 94 TLN 5147 12/14/PBI/2010 13-8-2010 DPU LN 96 12/15/PBI/2010 23-8-2010 DInt LN 97 12/16/PBI/2010 30-8-2010 DPD LN 106 TLN 5153 12/17/PBI/2010 30-8-2010 DPM LN 107 12/18/PBI/2010 30-8-2010 DPM LN 108 12/19/PBI/2010 4-10-2010 DPNP/DKM LN 115 TLN 5158 12/20/PBI/2010 4-10-2010 DKBU/DPbS LN 116 TLN 5159 12/21/PBI/2010 19-10-2010 DPNP/DPbS LN 120 TLN 5161 51 .Daftar Peraturan Bank Indonesia (PBI) Mei .7/40/PBI/2005 tentang Pengeluaran dan Pengedaran Uang Kertas Rupiah Pecahan 10.10/36/PBI/2008 tentang Operasi Moneter Syariah Perubahan atas PBI No.

Halaman ini sengaja dikosongkan .

Daftar Surat Edaran Ekstern (SE) Bank Indonesia Mei .5/29/DPD tnggal 18 November 2003 perihal Perusahaan Pialang Pasar Uang Rupiah dan Valuta Asing Perubahan atas SE BI No.10/44/DPM tanggal 10 Desember 2008 perihal Tata Cara Transaksi Repurchase Agreement (Repo) Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan Bank Indonesia Perubahan Kedua atas SE BI No.8/7/DPBPR tanggal 23 Februari 2006 perihal Laporan Bulanan Bank Perkreditan Rakyat Kriteria dan Persyaratan Surat Berharga.10/16/DPM tanggal 31 Maret 2008 perihal Tata Cara Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Syariah Melalui Lelang Perubahan atas SE BI No.10/17/DPM tanggal 31 Maret 2008 perihal Tata Cara Transaksi Repo Sertifikat Bank Indonesia Syariah dengan Bank Indonesia Rencana Bisnis Bank Umum 12/16/DPM 6-7-2010 DPM 12/17/DPM 12/18/DPM 12/19/DInt 12/20/DPM 6-7-2010 7-7-2010 22-7-2010 2-8-2010 DPM DPM DInt DPM 12/22/DPM 2-8-2010 DPM 12/23/DPM 30-8-2010 DPM 12/24/DPM 30-8-2010 DPM 12/25/DPM 30-8-2010 DPM 12/26/DPM 30-8-2010 DPM 12/27/DPNP 25-10-2010 DPNP 53 .12/12/DPD tanggal 8 April 2010 perihal Transaksi Repurchase Agreement Chinese Yuan terhadap Surat Berharga Rupiah Bank kepada Bank Indonesia Perubahan atas SE BI No.11/8/DPM tanggal 27 Maret 2009 perihal Tata Cara Transaksi Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah dalam Rupiah (FASBIS) Perubahan atas SE BI No. Peserta dan Lembaga Perantara dalam Operasi Moneter Koridor Suku Bunga (Standing Facilities) Operasi Pasar Terbuka Kewajiban Pelaporan Utang Luar Negeri Perubahan atas SE BI No.Oktober 2010 Peraturan 12/14/DKBU 12/15/DKBU Tanggal 1-6-2010 11-6-2010 Satker DKBU DKBU Perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi BPR Perubahan Kedua atas SE No.

Halaman ini sengaja dikosongkan .

Terbuat dari serat kapas dengan ukuran panjang 145 mm dan lebar 65 mm. melalui penyempurnaan desain uang rupiah antara lain dengan perubahan warna dan unsure pengamanan. 10. Tanda air berupa gambar Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Baharuddin II dan electrotype berupa logo BI dan ornamen daerah Palembang.000 (sepuluh ribu) tahun emisi 2005 sebagai alat paembayaran yang sah (legal tender) di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ciri uang kertas rupiah pecahan 10. gambar dan bahan. Materi pokok yang tercantum dalam ketentuan ini meliputi : a.000 (sepuluh ribu) tahun emisi 2005 terbuat dari bahan serat kapas. UK rupiah pecahan 10. 3.Ringkasan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Mei . b. 12/9/PBI/2010 tentang Prinsip Kehati-hatian Dalam Melakukan Aktivitas Keagenan Produk Keuangan Luar Negeri Oleh Bank Umum Ringkasan : Latar belakang diterbitkannya ketentuan ini Dalam rangka meningkatkan kegiatan usaha bank dan mempertahankan nasabah bank. baik dari segi warna. selanjutnya dipandang perlu untuk lebih mengoptimalkan fungsi elemen pada desain uang kertas rupiah pecahan 10.000 (Sepuluh Ribu) Tahun Emisi 2005. b. Penerapan Teknologi Informasi telah 55 . c. Uang kertas rupiah pecahan 10. Sehubungan dengan itu.000 (sepuluh ribu) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebelum berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini.000 (Sepuluh Ribu rupiah). bank dituntut untuk meningkatkan operasional pelayanannya kepada nasabahnya dan mengubah strategi bisnis perbankan sehingga lebih banyak memanfaatkan kemajuan Teknologi Informasi. 12/8/PBI/2010 tentang Pengeluaran dan Pengedaran uang Kertas Rupiah Pecahan 10. d. masih tetap berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran.000 (sepuluh ribu) untuk tahun pencetakan mulai tahun 2010 antara lain sebagai berikut: a. Harga uang rupiah mempunyai nilai nominal sebesar Rp. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Benang pengamanan yang tertanan di dalam kertas uang yang membuat tulisan “ BI10000” berulang-ulang dan akan memendar berwarna merah di bawah sinar ultra violet. Bagian muka dan bagian belakang uang dicetak dengan warna dominan ungu kebiruan.Oktober 2010 Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Ringkasan : 1. d. 2.000 (sepuluh ribu) tahun emisi 2005 untuk tahun pencetakan sampai dengan tahun pencetakan mulai tahun 2010. Ciri uang rupiah pecahan 10. c. Seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi di masyarakat perlu didukung dengan ketersediaan uang rupiah yang memadai dan mudah dikenali ciri-ciri keasliannya sehingga diharapkan dapat memperlancar kegiatan transaksi ekonomi di masyarakat. Pembelian produk keuangan luar negeri oleh nasabah merupakan hal yang dipandang perlu dilayani oleh bank untuk meningkatkan daya saing bank dan perolehan pendapatan dari fee based transactions.

Untuk mengatasi risiko yang dihadapi bank dan dalam rangka memberikan perlindungan kepada nasabah. dan risiko penyelesaian transaksi.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 56 . karakteristik. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi. jenis. Disamping berbagai manfaat dan keunggulan yang diperoleh dari aktivitas keagenan produk keuangan luar negeri. September 2010 meningkatkan kemampuan bank dalam kegiatan operasional serta pengelolaan data bank yang bersifat mendunia seperti melakukan penawaran. b. Prinsip dasar pengaturan keagenan Produk Keuangan LN: a. Menindak lanjuti permintaan nasabah Bank di DN atas Produk Keuangan LN. Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing. 5. ketentuan Bank Indonesia yang mengatur tentang Transaksi Derivatif. pemantauan dan pengendalian risiko yang timbul dari aktivitas keagenan produk keuangan LN. Bank wajib memberikan informasi yang transparan kepada nasabah sesuai ketentuan yang berlaku seperti: • • penerbit. Bank juga wajib memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Peraturan Bank Indonesia ini. Manajemen Risiko: bank wajib menerapkan manajemen risiko dalam melakukan aktivitas keagenan produk keuangan LN yang minimal mencakup: a. Pokok-pokok pengaturan 1. Kecukupan proses identifikasi. Dalam hubungan dengan aktivitas terkait Produk Keuangan Luar Negeri. dan pemberian informasi atas produk keuangan luar negeri kepada nasabah secara lebih akurat dan cepat. Sistem pengendalian intern atas aktivitas keagenan produk keuangan LN. dan Penyelesaian Pengaduan Nasabah. antara lain Undang-Undang No. c. spesifikasi. terdapat pula risiko yang dapat merugikan bank serta nasabah seperti risiko hukum. b. Bank wajib melakukan analisis mengenai Produk Keuangan LN yang akan ditawarkan. fungsi dan kesesuaian produk terhadap kebutuhan nasabah. Manajemen Risiko b. Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Terorisme Bagi Bank Umum. Perlindungan Nasabah: a.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Nomor 3. Aktivitas keagenan tersebut dapat dilakukan sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Transparansi Informasi Produk Perbankan dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah. risiko reputasi. b. Bank di Indonesia dapat melakukan keagenan Produk Keuangan Luar Negeri yaitu instrumen investasi yang diterbitkan oleh penerbit asing di luar negeri yang mencakup Instrumen Investasi Asing Efek dan Instrumen Investasi Asing Selain Efek (berupa Structured Product) 2. Undang-Undang No. Kecukupan kebijakan dan prosedur. nama. pengukuran. dan d. Menawarkan Produk Keuangan LN kepada nasabah/calon nasabah baik melalui penawaran secara tatap muka maupun melalui cara-cara penawaran lainnya. Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah. Perlindungan Nasabah 4. Aktivitas Keagenan mencakup: a. setelmen. 3. maka bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan kegiatan operasional yang terkait penjualan produk keuangan luar negeri kepada nasabah termasuk penerapan manajemen risiko. Kehati-hatian c. dan fitur produk.

• • • perhitungan perkiraan kerugian terburuk yang mungkin dapat terjadi. Bank yang dapat mengajukan permohonan persetujuan untuk melakukan keagenan Produk Keuangan LN harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. e. Nomor 3. 10. Dikaitkan dengan variabel dasar berupa nilai tukar dan/atau suku bunga. Merupakan badan yang menjadi objek pengawasan dari otoritas berwenang di negara asal. Kriteria Nasabah — Bank hanya dapat menawarkan produk keuangan LN kepada nasabah non retail sepanjang tidak > bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Bank wajib menatausahakan dokumen penawaran produk keuangan LN secara tertulis dan berbahasa Indonesia. penghentian sebelum jatuh waktu (early termination). b. cooling off period. Kriteria Penerbit produk keuangan LN yang dapat dijadikan mitra kerjasama dengan Bank dalam aktivitas keagenan produk keuangan LN wajib memenuhi kriteria berikut ini: a. Bank dilarang melakukan tindakan baik secara langsung maupun tidak langsung yang mengakibatkan nasabah menganggap produk keuangan LN adalah produk bank. Telah dilaporkan kepada Bank Indonesia. Mencantumkan rencana aktivitas keagenan produk keuangan LN dalam Rencana Bisnis bank (RBB). 57 . Untuk produk keuangan LN berupa Instrumen Investasi Asing Selain Efek wajib memenuhi persyaratan berikut ini: c. Realisasi bulanan aktivitas keagenan produk keuangan LN. prosedur setelmen. Bank wajib menerapkan prinsip mengenal nasabah (KYC) sesuai ketentuan yang berlaku. kualitas aset yang mendasari (credit risk). dan risiko operasional terutama settlement risk. jangka waktu. Bank wajib menyampaikan informasi kinerja investasi kepada nasabah secara transparan termasuk memberitahukan kepada nasabah media/sarana untuk penyampaian informasi tersebut. 11. Terdaftar dan memiliki ijin usaha dari otoritas berwenang di negara asal tempat penerbit berkedudukan. September 2010 • • perhitungan pendapatan atau imbal hasil (return) dari produk. b. Memiliki sistem operasi dan prosedur yang didukung oleh teknologi informasi yang memadai untuk dapat menjalankan manajemen risiko atas aktivitas keagenan produk keuangan LN. c. 9. Prinsip Kehatian-hatian: a. Bukan merupakan kombinasi berbagai instrumen dengan transaksi derivatif valas terhadap rupiah. 6. syarat dan kondisi produk yang meliputi biaya-biaya. dan c. Bank Devisa. dan mekanisme penyelesaian sengketa. Bank Indonesia dapat sewaktu-waktu menghentikan aktivitas keagenan produk keuangan LN tertentu apabila kegiatan tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan/atau memiliki potensi risiko yang dapat membahayakan bank. Setiap jenis produk keuangan LN yang akan diageni. 8. Pelaporan — Bank wajib melaporkan kepada Bank Indonesia: > a. Kriteria Produk Keuangan LN yang dapat diageni oleh Bank di Indonesia paling kurang memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. 7. b. Telah terdaftar dan/atau memenuhi ketentuan dari otoritas berwenang di negara asal penerbit. b. d. c. Diterbitkan oleh bank di LN yang memiliki kantor cabang di Indonesia d. risiko produk yang ditawarkan termasuk kemungkinan kerugian nilai investasi Nasabah akibat fluktuasi nilai investasi sesuai kondisi pasar (market risk).

Bank yang telah mengageni instrumen Investasi Asing Efek yang telah dipasarkan namun belum mendapat ijin dari otoritas terkait di dalam negeri wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang di bidang pasar modal di Indonesia. Bank dapat melakukan early termination atas dasar kesepakatan dengan Nasabah. Pukul 09. Bank yang pada saat Peraturan Bank Indonesia ini dikeluarkan masih menata usahakan Produk Keuangan Luar Negeri Nasabah yang tidak sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Bank Indonesia ini. Contoh : • Bank A memiliki waktu pembukaan sistem tresuri pada pukul 08. d. Nomor 3. PDN setiap 30 menit tersebut dihitung sejak sistem tresuri dibuka sampai dengan sistem tresuri ditutup. mengajukan permohonan ijin untuk melakukan aktivitas keagenan produk keuangan LN. September 2010 12. PDN setiap 30 (tiga puluh) menit adalah penjumlahan antara PDN secara keseluruhan akhir hari kerja sebelumnya dengan posisi terbuka tresuri pada setiap akhir jangka waktu 30 (tiga puluh) menit. 58 . Posisi Devisa Neto dengan batas maksimal 20% Modal setiap akhir jangka waktu 30 menit dihitung sejak pukul 08. Penghapusan pengaturan tentang Posisi Devisa Neto untuk Neraca Bank 2. Ketentuan Peralihan — Bank yang telah menjalankan keagenan produk keuangan LN sebelum ketentuan ini berlaku > wajib: a.30 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal ii.00 WIB. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Bank yang tidak menyampaikan laporan produk keuangan LN dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan dikenakan sanksi. Melaporkan setiap produk keuangan LN yang diageni. Salah satu upaya untuk memperkokoh stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan adalah pendalaman pasar keuangan. dapat melakukan penatausahaan Produk Keuangan Luar Negeri sampai jatuh tempo. termasuk pendalaman pasar valuta asing domestik yang memungkinkan perbankan memiliki ruang gerak yang memadai dalam pengelolaan eksposur valuta asing dengan tetap berpegang pada prinsip kehatian-hatian. Penyempurnaan pengaturan tentang Posisi Devisa Neto setiap saat dengan memberikan tenggang waktu 30 menit dan batasan paling tinggi sebesar 20% dari modal bank. c. 12/10/PBI/2010 tentang Perubahan Ketiga PBI No. Pukul 09. a.30 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal.5/13/PBI/2003 Tentang Posisi Devisa Neto Bank Umum. Pukul 08. e. Menyesuaikan penyelenggaraan aktivitas keagenan produk keuangan LN dengan pengaturan pada regulasi ini paling lambat 3 bulan setelah diterbitkannya ketentuan ini. Bank Indonesia melakukan penyempurnaan atas ketentuan mengenai Posisi Devisa Neto Bank Umum dalam bentuk Perubahan Ketiga Atas PBI No. Dalam hal produk tersebut tidak mempunyai jatuh tempo. dan seterusnya hingga sistem tresuri ditutup. b.00 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal iii. 5/13/PBI/2003 tentang Posisi Devisa Neto Bank Umum Ringkasan : Latar Belakang dan Tujuan Dinamika perekonomian dewasa ini dan ke depan memunculkan sejumlah tantangan yang membutuhkan kestabilan moneter dan sistem keuangan yang kokoh guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah dan jangka panjang. Sehubungan dengan hal tersebut. Materi Pengaturan 1.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. b.00 WIB dengan tenggang waktu 30 menit yaitu: i.

45 WIB dengan tenggang waktu 30 menit yaitu: i. • Posisi terbuka tresuri pada setiap akhir jangka waktu 30 (tiga puluh) menit merupakan selisih bersih antara transaksi beli dan jual valuta asing yang terkait dengan kegiatan tresuri Bank pada posisi akhir 30 (tiga puluh) menit yang bersangkutan. Pokok-Pokok Ketentuan a. Posisi Devisa Neto dengan batas maksimal 20% Modal setiap akhir jangka waktu 30 menit dihitung sejak pukul 07. 3.00 WIB. Apabila terjadi transaksi valuta asing pada pukul 08. 5. Pukul 08. a. b. Bank wajib menyampaikan laporan pelanggaran dimaksud kepada Bank Indonesia. baik untuk PDN secara keseluruhan maupun PDN setiap 30 menit secara harian.45 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal iii. Pelanggaran atas ketentuan PDN akan dikenakan sanksi berupa teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar Rp250 juta per hari pelanggaran dengan batas paling banyak sebesar Rp5 miliar per tahun kalender. Selain bentuk sanksi di atas. OPT dapat diikuti oleh Bank dan/atau pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 2. Contoh : Bank A memiliki waktu pembukaan sistem tresuri pada pukul 08.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Operasi Moneter dilakukan dalam bentuk Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan Standing Facilities.20 WIB namun belum dimasukkan ke dalam sistem tresuri sampai dengan pukul 08.00 WIB pada 2 (dua) hari kerja setelah terjadinya pelanggaran dan ditandatangani paling kurang oleh pejabat eksekutif Bank. b. Pukul 08. Nomor 3.45 WIB. Laporan pelanggaran tersebut disampaikan paling lambat pukul 16. Penyempurnaan mengenai sanksi kewajiban membayar atas pelanggaran ketentuan PDN sebesar Rp250 juta per hari pelanggaran dengan batas paling banyak sebesar Rp5 miliar per tahun kalender. maka transaksi dimaksud termasuk dalam perhitungan PDN setiap 30 (tiga puluh) menit pada pukul 08. Dalam hal terjadi pelanggaran kewajiban pengelolaan dan pemeliharaan atas PDN pada akhir hari dan PDN setiap 30 (tiga puluh) menit. dan seterusnya hingga sistem tresuri ditutup. Pengaturan Pengenaan Sanksi a.30 WIB. sementara Standing Facilities hanya dapat diikuti oleh Bank. Pertimbangan Penerbitan Ketentuan: Untuk meningkatkan efektivitas Operasi Moneter dalam rangka mendukung pencapaian tujuan Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. • Perhitungan posisi terbuka tresuri tersebut termasuk transaksi valuta asing yang telah dilakukan (deal done) namun belum dimasukkan ke dalam sistem tresuri. terhadap jenis pelanggaran tertentu akan dikenakan tambahan berupa dilakukan proses fit & proper test dan/atau penilaian tingkat kesehatan bank.30 WIB. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Kewajiban bagi bank untuk melaporkan (self declare) atas terjadinya pelanggaran PDN.15 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal. Pukul 09. 59 . 12/11/PBI/2010 tentang Operasi Moneter Ringkasan : 1. 4. September 2010 • Bank B memiliki waktu pembukaan sistem tresuri pada pukul 07. b.15 WIB : PDN paling tinggi 20% Modal ii.

PBI No. Dengan diberlakukannya Peraturan Bank Indonesia ini. Penerbitan SBI. Transaksi repurchase agreement (repo) dan reverse repo surat berharga. dan h. e. b. Term deposit dapat dicairkan sebelum jatuh waktu (early redemption) sepanjang memenuhi persyaratan tertentu dan atas pencairan tersebut dikenakan biaya. d. pemilik SBI dilarang melakukan transaksi atas SBI yang dimilikinya dengan pihak lain selama jangka waktu tertentu sejak memiliki SBI kecuali untuk transaksi SBI oleh Peserta Operasi Moneter dengan Bank Indonesia. 3. Bank Indonesia dapat menggunakan surat berharga milik pihak lain yang ditetapkan Bank Indonesia berdasarkan pada suatu perjanjian antara Bank Indonesia dan pemilik surat berharga.10/21/PBI/2008 tanggal 15 Oktober 2008 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka. 4. Lending Facility Lending facility dilakukan melalui mekanisme repo SBI.7/30/PBI/2005 tanggal 13 September 2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8.10/14/PBI/2008 tanggal 23 September 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka. yang antara lain dilakukan dalam bentuk spot. g. Transaksi pembelian dan penjualan surat berharga secara outright. September 2010 c.4/9/PBI/2002 tanggal 18 November 2002 tentang Operasi Pasar Terbuka. Kegiatan OPT meliputi: 1. PBI No. Deposit facility Deposit facility dilakukan tanpa penerbitan surat berharga. SBN. maka ketentuan dibawah ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 2. PBI No. forward atau swap.6/5/PBI/2004 tanggal 16 Februari 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/10/PBI/2002 tentang Sertifikat Bank Indonesia. PBI No.6/33/PBI/2004 tanggal 31 Desember 2004 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka. Term deposit adalah penempatan dana rupiah milik peserta Operasi Moneter secara berjangka di Bank Indonesia. Jual beli valuta asing terhadap rupiah. yaitu: a. 4. Transaksi pembelian dan penjualan surat berharga secara outright dilakukan terhadap SBN (SUN & SBSN) dan surat berharga lain yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. dan surat berharga lain yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Kegiatan standing facilities meliputi: 1. Dalam melakukan transasi repo dan reverse repo. 3. f. Ketentuan Peralihan Transaksi atas SBI yang dilakukan setelah berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini yang merupakan bagian dari transaksi yang telah dilakukan sebelum Peraturan Bank Indonesia ini diberlakukan.4/10/PBI/2002 tanggal 18 November 2002 tentang Sertifikat Bank Indonesia. 2. PBI No. c. PBI No. d. 5. Terkait dengan perdagangan SBI. Nomor 3. PBI No. Penempatan berjangka (term deposit) di Bank Indonesia. PBI No.6/4/PBI/2004 tanggal 16 Februari 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka. 60 . dikecualikan dari ketentuan minimum 1 month holding period sampai dengan transaksi yang bersangkutan jatuh waktu.

Help Desk terkait dengan operasional BI–SSSS. h. Instrumen Operasi Moneter adalah instrumen yang digunakan dalam rangka OPT dan Koridor Suku Bunga (Standing Facilities) serta ditatausahakan pada Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System. 4. Beberapa penyesuaian definisi yang dilakukan dalam Peraturan Bank Indonesia ini adalah sebagai berikut: a. dan sistem layanan informasi. adalah SBN yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Surat Utang Negara yang selanjutnya disebut SUN adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian. Kementerian Keuangan. e. 2. Bank Indonesia. Penyelenggara antara lain menyediakan aplikasi BI–SSSS. Materi perubahan yang dimuat dalam Peraturan Bank Indonesia ini antara lain mencakup: a. penyesuaian terhadap istilah ‘broker’. Koridor Suku Bunga (Standing Facilities) yang selanjutnya disebut Standing Facilities adalah kegiatan penyediaan dana rupiah (lending facility) dari Bank Indonesia kepada peserta Standing Facilities dan penyediaan penempatan dana rupiah (deposit facility) oleh peserta Standing Facilities di Bank Indonesia dalam rangka Operasi Moneter. 3. e. serta ketentuan dan prosedur baik dalam keadaan normal. d. h. 61 . atau dapat disebut Sukuk Negara. koridor suku bunga. Surat Berharga Syariah Negara yang selanjutnya disebut SBSN. fasilitas pendanaan. d. c. Fasilitas Pendanaan adalah penyediaan dana yang dapat berupa pemberian kredit atau pembiayaan dari Bank Indonesia kepada Bank yang penatausahaannya dilakukan melalui Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System. 12/12/PBI/2010 tentang Perubahan atas PBI No. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku. Pihak-pihak yang dapat menjadi Peserta BI-SSSS adalah : a. f. Bank. Pialang pasar modal. Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 termasuk kantor cabang bank asing di Indonesia dan Bank Umum Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku. baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. g.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. penambahan pialang pasar modal sebagai peserta BI-SSSS. dan surat berharga. sebagai bukti atas penyertaan terhadap aset SBSN. penyesuaian beberapa definisi antara lain: bank. b. sesuai dengan masa berlakunya. c. Perusahaan Efek. Operasi Moneter adalah pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dalam rangka pengendalian moneter melalui Operasi Pasar Terbuka dan Koridor Suku Bunga (Standing Facilities). Perusahaan Pialang Pasar Uang Rupiah dan Valuta Asing. operasi moneter. 10/2/PBI/2008 tentang Bank Indonesia Scripless Securuties Settlement System Ringkasan : 1. Lembaga lain yang disetujui oleh Bank Indonesia. b. September 2010 Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. b. keadaaan tidak normal maupun keadaan darurat. c. g. Nomor 3. f. Operasi Pasar Terbuka yang selanjutnya disebut OPT adalah kegiatan transaksi di pasar uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan Bank dan/atau pihak lain dalam rangka Operasi Moneter. Surat Berharga Negara yang selanjutnya disebut SBN adalah Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara. Dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan BI-SSSS.

62 . Surat Berharga Syariah Negara yang selanjutnya disebut SBSN. setelmen Transaksi Dengan Bank Indonesia. Penyelenggara melakukan pendebetan Rekening Giro Peserta. adalah SBN yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. g. setelmen transaksi Surat Berharga antar Peserta. dan/atau h. September 2010 5. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. 2. Beberapa definisi yang disesuaikan dalam Peraturan Bank Indonesia ini adalah sebagai berikut: a. Rekening Giro Bank yang ditunjuk oleh Peserta dan/atau Rekening Surat Berharga Peserta untuk transaksi antara lain sebagai berikut: a. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku. pembebanan biaya penggunaan BI-SSSS. SBN dan/atau surat berharga lainnya yang digunakan Bank dalam rangka FLI ditetapkan oleh Bank Indonesia. kewajiban pelunasan Fasilitas Pendanaan. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku. 12/13/PBI/2010 tentang Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Ringkasan : 1. tidak sedang dikenakan sanksi penangguhan sebagai Bank peserta BI-RTGS dan/atau penghentian sebagai Bank peserta kliring. b. Nomor 3. 3. eksekusi agunan/jaminan sesuai ketentuan yang berlaku mengenai Fasilitas Pendanaan dan/atau fasilitas pemerintah kepada Peserta. berstatus aktif sebagai peserta BI-SSSS.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. 4. memiliki surat berharga yang dapat direpokan kepada Bank Indonesia berupa SBI. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. biaya lainnya. Surat Berharga Negara yang selanjutnya disebut SBN adalah Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara. Materi perubahan yang dimuat dalam Peraturan Bank Indonesia ini antara lain mencakup: a. sanksi kewajiban membayar terkait ketentuan operasi moneter. b. c. c. atau dapat disebut Sukuk Negara. e. dan c. b. f. baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Persyaratan agar Bank dapat menggunakan FLI disesuaikan sebagai berikut: a. pembayaran kewajiban kupon (bunga) atau imbalan dan nilai pokok/nominal Surat Berharga yang jatuh waktu. Persyaratan bagi bank umum yang dapat menggunakan FLI. surat berharga negara dan surat berharga syariah negara. b. sesuai dengan masa berlakunya. sebagai bukti atas penyertaan terhadap aset SBSN. Uang logam (UL) pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991 dicabut dan ditarik dari peredaran dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Surat Utang Negara yang selanjutnya disebut SUN adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia. d. Penyesuaian beberapa definisi seperti: surat utang negara. SBN dan/atau surat berharga lainnya yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Perhitungan nilai SBI. 12/14/PBI/2010 tentang Pencabutan dan Penarikan dari Peredaran Uang Logam Pecahan 25 (Dua Puluh Lima) Rupiah Tahun Emisi 1991 Ringkasan : 1. UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah sudah tidak banyak dipergunakan oleh masyarakat dalam melakukan pembayaran.

Jangka waktu dan tempat penukaran ditetapkan sebagai berikut: 1. Materi pokok yang tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia tentang Pencabutan dan Penarikan dari Peredaran Uang Logam Pecahan 25 (Dua Puluh Lima) Rupiah Tahun Emisi 1991 meliputi: a. e. 2. Terhitung sejak tanggal 31 Agustus 2010 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2015 penukaran dilakukan di Bank Indonesia dan/atau Bank Umum. 2. Pokok-Pokok Pengaturan: Materi perubahan yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini hanya menyangkut satuan kerja pelaksana transaksi pembelian Wesel Ekspor Berjangka (WEB) oleh Bank Indonesia dari semula Bank Indonesia cq.10/34/PBI/2008 Tentang Transaksi Pembelian Wesel Ekspor Berjangka Oleh Bank Indonesia Ringkasan : I. 12/16/PBI/2010 tentang Sistem Monitering Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Ringkasan : Latar Belakang dan Tujuan Integrasi pasar keuangan domestik dengan pasar keuangan global yang berjalan cukup cepat dewasa ini memunculkan sejumlah tantangan dan risiko bagi para pelaku pasar. UL rupiah yang dicabut dan ditarik dari peredaran dapat ditukarkan di Bank Indonesia dan/atau Bank Umum dalam jangka waktu tertentu. Hak untuk menuntut penukaran uang logam rupiah yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tidak berlaku lagi setelah 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal pencabutan atau tanggal 31 Agustus 2020.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991 yang dicabut dan ditarik dari peredaran dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah sejak tanggal 31 Agustus 2010. c. Direktorat Pengelolaan Moneter-Biro Operasi Moneter. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Latar Belakang Pengaturan: Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/15/PBI/2010 tanggal 23 Agustus 2010 ini merupakan perubahan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/34/PBI/2008 tanggal 5 Desember 2008 tentang Transaksi Pembelian Wesel Ekspor Berjangka Oleh Bank Indonesia. II. 63 . Nilai intrinsik dan biaya pencetakan UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991 saat ini telah lebih besar dari nilai nominalnya. d. Terhitung sejak tanggal 31 Agustus 2015 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2020 penukaran hanya dapat dilakukan di Bank Indonesia. Perubahan PBI dilakukan karena adanya penyempurnaan organisasi di Bank Indonesia membawa konsekuensi pada perubahan satuan kerja yang bertugas melakukan transaksi pembelian wesel ekspor berjangka. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Bank Indonesia selaku otoritas moneter berupaya untuk memitigasi segala risiko tersebut dengan memberikan respon kebijakan nilai tukar yang antisipatif dan responsif sesuai dengan perkembangan pasar valuta asing domestik. 12/15/PBI/2010 tentang Perubahan Atas PBI No. Direktorat Pengeloaan DevisaBiro Manjemen Devisa dan Nilai Tukar menjadi Bank Indonesia cq. b. Bank Indonesia mencabut dan menarik dari peredaran UL pecahan 25 (dua puluh lima) rupiah tahun emisi 1991. September 2010 b. Nomor 3.

Dalam hal terdapat kesalahan dalam informasi transaksi setelah Prosedur Konfirmasi dilakukan. September 2010 Dalam kerangka tersebut. Perubahan Peraturan Bank Indonesia (PBI) dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan pengendalian moneter berdasarkan prinsip syariah serta dalam rangka penyempurnaan ketentuan mengenai Operasi Moneter Syariah (OMS) khususnya Pasal 18 ayat (1) huruf b mengenai pengenaan sanksi terhadap transaksi operasi moneter syariah yang dinyatakan batal. Ruang lingkup SISMONTAVAR tersebut meliputi transaksi valuta asing terhadap rupiah yang dilakukan antarbank. dimana informasi tentang transaksi valuta asing antarbank diperoleh melalui suatu sistem jaringan on-line. Ketentuan Peralihan Ketentuan SISMONTAVAR tidak berlaku bagi Bank Devisa yang telah menggunakan Sistem Transaksi Valuta Asing namun pada saat berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini aplikasi SISMONTAVAR belum terpasang. Nomor 3. Kewajiban Bank Devisa dalam SISMONTAVAR meliputi: Bank Devisa wajib memelihara aplikasi SISMONTAVAR dalam kondisi on-line pada saat Bank melakukan transaksi valuta asing terhadap rupiah. kegagalan Sistem Transaksi Valuta Asing. kejadian luar biasa (force majeure). Koreksi transaksi yang disampaikan kepada Bank Indonesia tersebut dapat dilakukan melalui media faksimile. c. Bank Devisa yang tidak segera melakukan Prosedur Konfirmasi setelah transaksi valuta asing terhadap rupiah selesai dilakukan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 64 . Pengaturan Pengenaan Sanksi Bank Devisa yang tidak memelihara aplikasi SISMONTAVAR dalam kondisi on-line pada saat melakukan transaksi valuta asing terhadap rupiah dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Kewajiban tersebut berlaku pula untuk transaksi valuta asing terhadap rupiah yang dilakukan dengan menggunakan jasa Pialang Pasar Uang. 12/17/PBI/2010 tentang Perubahan Atas PBI No. Pengecualian terhadap sanksi di atas berlaku dalam kondisi: a. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Bank Devisa wajib melakukan Prosedur Konfirmasi pada Sistem Transaksi Valuta Asing yang terhubung dengan aplikasi SISMONTAVAR segera setelah transaksi valuta asing terhadap rupiah selesai dilakukan (deal is done). b. Langkah kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap tugas Bank Indonesia dalam rangka menjaga stabilitas moneter. Bank Indonesia menerbitkan ketentuan mengenai Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah (SISMONTAVAR) yang pada dasarnya merupakan penyempurnaan mekanisme monitoring kegiatan di pasar valuta asing domestik. aplikasi SISMONTAVAR terkendala. dan/atau d.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Bank Devisa menyampaikan kepada Bank Indonesia koreksi atas informasi transaksi segera setelah diketahui adanya kesalahan. Kewajiban mulai berlaku pada saat aplikasi SISMONTAVAR terpasang. Materi Pengaturan SISMONTAVAR diterapkan kepada Bank Devisa yang telah menggunakan Sistem Transaksi Valuta Asing. jaringan data terganggu.10/36/PBI/2008 tentang Operasi Moneter Syariah Ringkasan : 1.

September 2010 2. 3. 12/18/PBI/2010 tentang Perubahan Atas PBI No. Peserta OMS yang melakukan transaksi OMS yang dinyatakan batal sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 6 (enam) bulan juga dikenakan sanksi berupa penghentian sementara untuk mengikuti kegiatan OMS selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut. antara lain melalui kebijakan giro wajib minimum dengan memperhatikan kondisi likuiditas perbankan serta peran bank dalam menjalankan fungsi intermediasi. Perubahan Peraturan Bank Indonesia (PBI) dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan pengendalian moneter berdasarkan prinsip syariah serta dalam rangka penyempurnaan ketentuan mengenai Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) khususnya Pasal 14 ayat (2) huruf b dan ayat (3) mengenai pengenaan sanksi terhadap transaksi SBIS yang dinyatakan batal. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Bank Indonesia mengenakan sanksi kepada BUS atau UUS atas Transaksi SBIS yang dinyatakan batal berupa: 1).10/11/PBI/2008 Tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah Ringkasan : 1. Selain itu.000.000.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8.000. Dengan tidak mengurangi sanksi tersebut diatas.000. stabilitas sektor keuangan perlu terus didukung oleh penguatan kondisi sektor perbankan dalam menghadapi berbagai risiko dan pengoptimalan fungsi intermediasi perbankan.000. 3. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Guna mendukung stabilitas moneter dan sektor keuangan perlu dilakukan pengelolaan ekses likuiditas perbankan secara optimal. kewajiban membayar sebesar 0.01% (satu per sepuluh ribu) dari nilai nominal transaksi Operasi Moneter Syariah yang batal.000. 2.00 (seratus juta rupiah) untuk setiap Transaksi SBIS yang dinyatakan batal. 2. 12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum Pada Bank Indonesia Dalam Rupiah dan Valuta Asing Ringkasan : Latar Belakang Pengaturan : 1. Bank Indonesia mengenakan sanksi kepada Peserta OMS terhadap setiap Transaksi OMS yang dinyatakan batal berupa: 1). dan 2). Selain dikenakan sanksi tersebut di atas. Nomor 3. maka BUS atau UUS dikenakan sanksi berupa penghentian sementara untuk mengikuti kegiatan operasi moneter syariah selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut. paling sedikit sebesar Rp10. teguran tertulis. kewajiban membayar sebesar 0. 65 . Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 30 Agustus 2010.000. teguran tertulis. Tekanan inflasi serta kondisi ekses likuiditas perbankan yang tinggi dan persisten perlu dikendalikan agar tidak berdampak pada peningkatan ekspektasi inflasi yang dapat berpengaruh pada stabilitas moneter.00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp100. dalam hal BUS atau UUS melakukan Transaksi SBIS dan/atau transaksi operasi moneter syariah lainnya sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia yang mengatur mengenai operasi moneter syariah.00 (seratus juta rupiah). dan 2). yang dinyatakan batal sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 6 (enam) bulan.01% (satu per sepuluh ribu) dari nilai Transaksi SBIS yang dinyatakan batal. paling sedikit sebesar Rp10. Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 30 Agustus 2010.000.00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp100.

sedangkan GWM Sekunder dalam rupiah dipenuhi dalam bentuk SBI. Bank yang memiliki LDR di dalam kisaran LDR target memiliki GWM LDR sebesar 0%. 66 . 10/25/PBI/2008. Bank yang mendapatkan insentif dalam rangka konsolidasi perbankan memperoleh kelonggaran pemenuhan GWM dalam rupiah sebesar 1% bagi pemenuhan GWM Primer dalam rupiah.2) dengan selisih LDR bank dari batas atas LDR target. Perhitungan GWM LDR dilakukan sebagai berikut: a. Parameter Disinsentif Bawah. SUN. Besaran dan parameter LDR Target. GWM dalam rupiah yang wajib dipenuhi terdiri dari: a. 5. SBSN. Bank yang LDR-nya lebih dari batas atas LDR Target dan memiliki KPMM lebih kecil dari KPMM Insentif (saat ini 14%) akan diberikan disinsentif GWM LDR sebesar perkalian Parameter Disinsentif Atas (saat ini sebesar 0. dan Parameter Disinsentif Atas akan dievaluasi sewaktu-waktu apabila diperlukan. GWM Primer dalam rupiah.1) dengan selisih LDR bank dari batas bawah LDR target. 7. b. 11. GWM LDR sebesar perhitungan antara Parameter Disinsentif Bawah atau Parameter Disinsentif Atas dengan selisih antara LDR Bank dan LDR Target dengan memperhatikan selisih antara KPMM Bank dan KPMM Insentif. 4. KPMM Insentif. 10. Bank Indonesia memberikan jasa giro setiap hari kerja dengan tingkat bunga sebesar 2.5% (dua koma lima persen) dari DPK dalam rupiah. Bank wajib memenuhi GWM dalam rupiah dan GWM dalam valuta asing. GWM Sekunder dalam rupiah sebesar 2. Batas bawah LDR Target sebesar 78% dan batas atas LDR Target sebesar 100%. Ketentuan mengenai GWM Sekunder dalam rupiah dan GWM dalam valuta asing tidak mengalami perubahan. GWM Primer dalam rupiah sebesar 8% (delapan persen) dari DPK dalam rupiah. dan c. e. PBI ini mencabut PBI No.5% (dua koma lima persen) per tahun terhadap bagian tertentu dari pemenuhan kewajiban GWM Primer dalam rupiah. dalam rangka supervisory action Bank Indonesia berwenang melakukan perhitungan yang berbeda dari ketentuan GWM LDR sebagaimana diatur dalam PBI ini. 10/19/PBI/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing sebagaimana telah diubah terakhir dengan PBI No. d.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Bagian tertentu sebagaimana dimaksud dalam angka 6 ditetapkan sebesar 3% (tiga persen) dari DPK dalam rupiah. maka kewajiban pemenuhan GWM LDR sebesar 0% f. b. Bank yang memiliki LDR kurang dari batas bawah LDR Target diberikan disinsentif GWM LDR sebesar perkalian Parameter Disinsentif Bawah (saat ini sebesar 0. 3. 2. September 2010 Substansi Pengaturan : 1. Terhadap Bank yang sedang dikenakan Cease and Desist Order (CDO) terkait dengan penyaluran kredit dan penghimpunan dana. c. GWM LDR dan GWM dalam valuta asing dipenuhi dalam bentuk saldo Rekening Giro Bank pada Bank Indonesia. dan/atau Excess Reserve. Jasa giro diberikan apabila Bank telah memenuhi seluruh kewajiban GWM dalam rupiah. Nomor 3. 9. Bank yang memiliki LDR lebih dari batas atas LDR Target dan memiliki KPMM sama atau lebih besar dari KPMM insentif (saat ini sebesar 14%). 6. 8. namun peraturan pelaksanaan dari PBI dimaksud tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan PBI ini.

BPR dan BPRS wajib membentuk unit kerja khusus dan/atau menunjuk pegawai BPR dan BPRS yang bertanggung jawab atas penerapan program APU dan PPT dan bertanggung jawab terhadap Direktur. tidak termasuk pihak yang mendapatkan perintah atau penugaasan dari Nasabah untuk melakukan transaksi atas kepentingan Nasabah tersebut. dan/atau orang yang tercatat sebagai anggota partai politik yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan dan operasional partai politik d. yang memberikan kuasa atas terjadinya suatu transaksi dan/atau yang melakukan pengendalian melalui badan hukum atau perjanjian e. 2. 12/20/PBI/2010 tentang Pendanaan Terorisme Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Ringkasan : Latar belakang 1. 4. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. b. maka risiko pemanfaatan BPR dan BPRS dalam pencucian uang dan pendanaan terorisme semakin tinggi. Semakin berkembangnya industri BPR dan BPRS disertai dengan perkembangan produk serta pelayanan BPR/BPRS terutama yang berbasis teknologi informasi. Nomor 3. Customer Due Diligence (CDD) adalah kegiatan berupa identifikasi. yang mengendalikan transaksi nasabah atau WIC. verifikasi. BPR dan BPRS wajib menerapkan program Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT). Nasabah. Ketentuan mengenai GWM LDR beserta sanksi terhadap pelanggaran GWM LDR mulai berlaku pada 1 Maret 2011. Penggunaan istilah baru terkait dengan penerapan program APU dan PPT sebagai berikut: a. dan WIC yang terdiri dari: 67 . 2. Pengaturan dalam rangka pelaksanaan pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris. Beneficial Owner adalah setiap orang yang memiliki dana. Walk in Customer adalah pengguna jasa BPR/BPRS yang tidak memiliki rekening pada BPR/BPRS tersebut. Enhanced Due Diligence (EDD) adalah CDD dan kegiatan lain yang dilakukan oleh BPR/BPRS untuk mendalami profil calon Nasabah. Politically Exposed Person (PEP) adalah orang yang mendapatkan kepercayaan untuk memiliki kewenangan publik diantaranya adalah Penyelenggara Negara sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Penyelenggara Negara. Materi Pengaturan 1. dan pemantauan yang dilakukan BPR dan BPRS untuk memastikan bahwa transaksi dilakukan sesuai dengan profil pengguna jasa bank. 5. September 2010 12.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Nasabah atau Beneficial Owner yang tergolong berisiko tinggi termasuk PEP terhadap kemungkinan pencucian uang dan pendanaan terorisme. 13. c. 3. Pelaksanaan Customer Due Diligence (CDD) kepada calon Nasabah. PBI ini mulai berlaku pada tanggal 1 November 2010. Ketentuan tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles/KYC) bagi BPR dan BPRS yang berlaku selama ini perlu untuk disempurnakan dengan mengacu pada prinsip-prinsip umum yang berlaku secara internasional dalam mendukung upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.

Pelaksanaan verifikasi dokumen dalam rangka meneliti dan meyakini kebenaran dokumen termasuk pelaksanaan wawancara. membatalkan transaksi dan atau menutup hubungan usaha dengan Nasabah dalam hal: tidak memenuhi kelengkapan informasi dan dokumen. September 2010 a. Nomor 3. Permintaan informasi dan dokumen kepada WIC baik yang melakukan transaksi di atas Rp100 juta maupun untuk WIC yang melakukan transaksi di bawah Rp100 juta. BPR dan BPRS ragu terhadap kebenaran informasi Nasabah atau penggunaan rekening tidak sesuai dengan profil Nasabah. 11. 8. yayasan atau perkumpulan. 9. 14. perkumpulan serta Lembaga Negara. Pengaturan mengenai CDD yang lebih sederhana dapat dilakukan terhadap calon Nasabah yang tingkat risiko terjadinya pencucian uang atau pendanaan terorisme tergolong rendah. Direksi BPR/BPRS atau Pejabat Eksekutif bertanggung jawab atas pelaksanaan hubungan usaha dengan calon nasabah yang tergolong PEP tersebut. Pengaturan mengenai Beneficial Owner perorangan. diketahui menggunakan identitas dan/atau memberikan informasi yang tidak benar. 15. 7. Pengaturan mengenai pemindahan dana. Pelaksanaan EDD untuk calon Nasabah. Nasabah dan Beneficial Owner yang memenuhi kriteria berisiko tinggi atau PEP. perusahaan berbentuk bank dan non bank termasuk nasabah berupa yayasan. Namun demikian BPR dan BPRS wajib memastikan kecukupan identifikasi & verifikasi atas hasil CDD yang dilakukan oleh pihak ketiga dan bertanggung jawab untuk melaksanakan penatausahaan dokumen. 12. BPR dan BPRS wajib memelihara Daftar Teroris berdasarkan data yang diterima dari Bank Indonesia setiap 6 bulan berdasarkan data yang dipublikasikan oleh PBB. 68 . BPR dan BPRS dapat menggunakan hasil CDD yang telah dilakukan oleh pihak ketiga terhadap calon Nasabah yang telah menjadi nasabah pada pihak ketiga tersebut. Kewajiban BPR dan BPRs untuk menolak transaksi. BPR dan BRPS wajib menatausahakan data Nasabah dan WIC dengan jangka waktu paling kurang 5 (lima) tahun sejak berakhirnya hubungan usaha atau transaksi dengan nasabah atau WIC atau sejak ditemukanannya ketidak sesuaian transaksi dengan tujuan ekonomis dan/atau tujuan usaha serta wajib memelihara dokumen Nasabah dan WIC dengan jangka waktu sebagaimana diatur dalam UU yang mengatur mengenai Dokumen Perusahaan. BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pengendalian intern yang efektif yang dibuktikan dengan adanya batasan wewenang dan tanggung jawab yang jelas untuk unit kerja atau pegawai yang terkait dengan penerapan program APU dan PPT serta pemisahan fungsi antara pelaksana penerapan program APU dan PPT dengan pegawai yang ditunjuk untuk mengawasi efektivitas penerapan program tersebut. 13.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. 10. c. b. Pemantauan dan pengkinian data 6. perusahaan. d. Pengaturan termasuk untuk nasabah usaha mikro dan kecil yang lebih sederhana. Permintaan informasi dan dokumen kepada calon nasabah perorangan. BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pencatatan dan memelihara profil Nasabah.

Peraturan ini mencabut PBI No. 18. 3. g. f. serta melaksanakan pelatihan mengenai program APU dan PPT kepada SDM BPR dan BPRS. 69 . Bank wajib menyusun Rencana Bisnis setiap tahun. d. Sebagai sarana bank dalam mengendalikan risiko strategik dengan memperhatikan faktor eksternal dan faktor internal untuk mengarahkan kegiatan operasional bank sesuai visi dan misinya. Ringkasan eksekutif. 17. 20. Agar Bank memiliki Rencana bisnis yang disusun secara matang dan realistis berdasarkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko. BPR dan BPRS wajib melakukan penyaringan (screening) dalam rangka penerimaan pegawai baru. b. 2. Penerapan manajemen risiko dan kinerja Bank saat ini. September 2010 16. e. c. Bagi Bank Umum yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS). Menjadi salah satu acuan bagi pengawas bank dalam menyusun rencana pengawasan berdasarkan risiko yang optimal dan efektif. 12/21/PBI/2010 tentang Rencana Bisnis Bank Ringkasan : 1. Peraturan : Peraturan Bank Indonesia No. Sanksi keuangan diberikan kepada BPR yang terlambat menyampaikan atau tidak menyampaikan Pedoman Pelaksanaan APU dan PPT serta BPR dan BPRS yang terlambat menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan. Selain itu rencana bisnis bank yang realistis diperlukan juga bagi otoritas moneter sebagai pertimbangan dalam menetapkan kebijakan dan melakukan pengawasan macro prudential dan d. Rencana pendanaan. BPR wajib menyampaikan Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT yang telah mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak diberlakukannya PBI ini dan wajib menyampaikan perubahan Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak perubahan tersebut kepada BI. 19. c. Proyeksi rasio-rasio dan pos-pos tertentu lainnya. Cakupan Rencana Bisnis paling kurang meliputi: a.5/23/PBI/2003 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles/KYC) bagi BPR tanggal 23 Oktober 2003. laporan transaksi keuangan tunai dan laporan lain kepada PPATK sebagaimana diatur dalam UU yang mengatur mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang. b. Tujuan pengaturan ini adalah : a. BPR dan BPRS wajib menyampaikan laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan. 21. Rencana Bisnis wajib pula memuat Rencana Bisnis khusus untuk UUS yang merupakan satu kesatuan dengan Rencana Bisnis Bank Umum. Kebijakan dan strategi manajemen. Nomor 3. Rencana penanaman dana.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Proyeksi laporan keuangan beserta asumsi yang digunakan. dengan cakupan yang komprehensif. Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan wajib disampaikan 3 (tiga) hari kerja setelah BPR dan BPRS mengetahui adanya unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan yaitu sejak Direktur yang berwenang menyetujui transaksi tersebut sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan.

dan/atau b. Khusus untuk Bank yang menyampaikan Rencana Bisnis tahun 2011. Bank Indonesia dapat meminta Bank untuk melakukan penyesuaian dalam hal Rencana Bisnis yang disampaikan belum sepenuhnya memenuhi ketentuan ini. Rencana pengembangan dan/atau perubahan jaringan kantor. namun melewati akhir Desember 2010: 1). j. 70 . apabila disampaikan setelah akhir Januari 2011.Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 8. Nomor 3. Rencana Bisnis wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat pada akhir bulan November sebelum tahun Rencana Bisnis dimulai. 7. apabila disampaikan paling lambat akhir Januari 2011. Pemberian masa transisi sebagai berikut: a. berdasarkan pertimbangan Bank Indonesia. Tidak dikenakan sanksi kewajiban membayar. Informasi lainnya. Perubahan ini hanya dapat dilakukan 1 kali. atau 2). b. Rencana pengembangan organisasi dan sumber daya manusia (SDM). Terdapat faktor eksternal dan internal yang secara signifikan mempengaruhi operasional Bank. k. Bank wajib menyampaikan Laporan Realisasi Rencana Bisnis secara triwulanan dan Laporan Pengawasan Rencana Bisnis secara semesteran kepada Bank Indonesia. i. Bank hanya dapat melakukan perubahan terhadap Rencana Bisnis apabila: a. 5. Bank wajib menyampaikan Rencana Bisnis kepada Bank Indonesia paling lambat pada akhir bulan Desember 2010. Terdapat faktor yang secara signifikan mempengaruhi kinerja Bank. paling lambat pada akhir bulan Juni tahun berjalan. 6. September 2010 h. 4. Dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50 juta. l. Rencana permodalan. Rencana penerbitan produk dan/atau pelaksanaan aktivitas baru. Khusus untuk Rencana Bisnis tahun 2011.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful