You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada saat Dinasti Qing berdiri hingga runtuh, pemikiran barat di Cina memiliki pengaruh yang besar terhadap para pelajar, terutama pelajar yang belajar diluar Negri. Sehingga mereka mendapatkan pengaruh baik dalam hal pemikiran, kebebasan, ide-ide serta budaya. Mulailah muncul publikasipublikasi yang mempromosikan kebebasan terhadap perlakuan pemerintahan yang otoritas dan tradisional. Budaya barat yang berdasarkan pada perlawanan terhadap pemikiran lama yang kolot, merangsang para pemuda untuk mempengaruhi masyarakat Cina untuk memegang paham Demokratis, mendapat hak asasi manusia dan kebebasan untuk berideologi.

1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. Apa yang menyebabkan terjadinya Gerakan 4 Mei 1919? Siapa sajakah tokoh-tokoh yang berperan dalam Gerakan 4 Mei 1919? Apa sajakah peran tokoh-tokoh yang disebutkan dalam Gerakan 4 Mei 1919? 4. Bagaimana peran paham asing mengubah paham Cina tradisional secara menyeluruh?

1.3 Batasan Masalah Luasnya cakupan pembahasan terhadap topik yang diberikan tentang Gerakan 4 Mei 1919 di Beijing, penulis berinisiatif untuk mempersempit lingkup pembahasan. Penulisan ini hanya mengkhususkan tentang tokohtokoh yang terlibat dalam Gerakan 4 Mei 1919 , serta peran mereka dalam menggerakan mahasiswa pada masa itu.

1.4 Tujuan Kegunaan Penulisan

1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Heuristik Heuristik adalah kegiatan menghimpun sumber-sumber atau jejakjejak sejarah yang ada pada masa lampau. Untuk memperoleh sumber sejarah yang relevan dengan perumusan masalah, maka cara yang dilakukan adalah melalui studi literatur. 1.5.2 Verifikasi Setelah langkah pengumpulan sejarah selesai maka langakah yang dilakukan selanjutnya adalah kritik sumber. Kritik adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyelidikai apakah sumber sejarah itu murni, baik bentuk maupun isinya. Setelah ditentukan beberapa sumber yang yang mengandung permasalahan yang akan dibahas, kemudian dilakukan kritik terhadap sumber-sumber tersebut. Kritik ada dua macam, yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern adalah kritik yang dilakuakan terhadap isi materi , apakah sumber yang dipakai sebagai data tersebut dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya atau tiadak. Sedangkan, Kritik ekstern adalah kritik terhadap keaslian sumber. 1.5.3 Interpretasi Sumber sejarah yang terpilih kemudian di analisis dan di sintetiskan untuk mewujudkan adanya saling keterkaitan. Kemudian diberikan tafsiran-tafsiran dan dikorelasikan dari data pada sumber satu dengan sumber yang lain . hasilnya disusun secara kronologis dan sistematis, diberi batasan dan dirumuskan masalahnya dan siap untuk ditulis. 1.5.4 Historiografi Langkah ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan. Historiografi adalah langkah penyusunan kisah sejarah berdasarkan kerangka dan rumusan masalah (Louis Gottschalk,1975:32).

BAB II
Penyebab Terjadinya Gerakan 4 Mei

Sementara Insiden Mei Keempat terjadi pada tanggal 4 Mei 1919, Gerakan 4 Mei dimulai pada tahun 1917 ketika Cina mendeklarasikan perang melawan Jerman. Selama Perang Dunia I, Cina mendukung sekutuyang mengambil alih Provinsi Shandong tempat kelahiran Konfusius, yang akan dikembalikan ke Cina jika Sekutu menang. Pada tahun 1914, Jepang telah menguasai Shandong dari Jerman. Pada tahun 1915 Jepang mengeluarkan 21 tuntutan ( , Er shi tiao yg Xiang) terhadap China, didukung oleh ancaman perang Jepang. 21 tuntutan tersebut mencakup pengakuan penyitaan Jepang terhadap pengaruh Jerman di Cina serta konsesi ekonomi lainnya dan ekstrateritorial. Untuk meredakan Jepang, pemerintah korup (Anfu) di Beijing menandatangani perjanjian dengan Jepang yang mpermalukan Cina dengan menyetujui tuntutan Jepang. Meskipun Cina berada di pihak pemenang Perang Dunia I, wakil Cina diminta untuk menyerahkan hak provinsi Shandong yang berada dibawah kontrol Jerman, ke Jepang, dalam Perjanjian Versailles. Sengketa Pasal 156 Perjanjian Versailles (pada tahun 1919) dikenal sebagai Shandong Problem ( , Shandong Wnt). Acara ini sangatlah memalukan karena rahasia perjanjian Versailles yang sebelumnya telah ditandatangani oleh kekuatan besar di Eropa dan Jepang untuk membujuk Jepang untuk memasuki Perang Dunia I terungkap. Selain itu, Cina juga sepakat akan peraturan tersebut. Wellington Kuo (), Duta Besar China di Paris, menolak untuk menandatangani perjanjian itu. Pengalihan hak Jerman atas Shandong ke Jepang di Konferensi Perdamaian Versailles menimbulkan amarah di kalangan masyarakat China. Masyarakat China menganggap pengalihan hak kekuasaan tersebut sebagai pengkhianatan yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan Barat dan juga sebagai simbol agresi Jepang, serta lemahnya pemerintahan Warlord (panglima perang) yang korup, Yuan Shi-kai

(). Marah akan penghinaan China di Versailles, mahasiswa di Beijing mengadakan demonstrasi pada tanggal 4 Mei 1919.

Tokoh-tokoh yang Berperan Dalam Gerakan 4 Mei

Chen Du Xiu
Chen Du Xiu lahir pada 8 Oktober 1879, di kota Anqing () di Anhui () provinsi, dari sebuah keluarga kaya, anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, seorang pejabat di kantor militer di Manchuria, meninggal sebelum Chen berumur satu tahun. Chen dibesarkan oleh ibunya dan hampir tidak mendapatkan pendidikan formal, tetapi kakeknya, tutor pribadi dan kemudian saudaranya Chen , mengajarkan dia literatur Cina klasik, terutama Empat Buku ( ) dan Lima Klasik ( ). Chen adalah seorang mahasiswa yang luar biasa, namun kurangnya pendidikan formal mengakibatkan kecenderungan untuk mempertahankan hidupnya kepercayaan konvensional dan mengkritik ide-ide tradisional. Pada tahun 1896, Chen mengikuti dan lulus ujian kekaisaran tingkat kabupaten dan tahun berikutnya melewati tingkat kedua di Nanking, tapi ia gagal dalam ujian provinsi tahun itu. Pengalamannya ini yakin bahwa sistem pendidikan tradisional Cina dan pemerintah tidak relevan dengan abad kedua puluh, dan menginspirasikan dia untuk menjadi reformis sosial dan politik. Ia masuk the Ch'iushih (Truth-Seeking) Akademi di Hang-chou, di mana dia belajar bahasa Prancis, arsitektur Inggris, dan angkatan laut. Pada tahun 1902 Chen pergi ke Jepang. Di Jepang ia bertemu dengan gerakan yang berkembang dan menjadi pembangkang Cina dipengaruhi oleh sosialisme barat. Chen kembali ke China pada tahun 1903 dan mendirikan Asosiasi Patriotik Anhui ( ). Pada tahun 1905, ia mendirikan Yuewang Hui ( ). Pada tahun yang sama ia kembali ke Jepang untuk belajar di Universitas Waseda. Dia adalah seorang penulis vokal dan pemimpin politik pada saat Pemberontakan Wuchang ( ) tahun 1911, yang menyebabkan pelepasan Kaisar Qing dan runtuhnya Dinasti Qing. Setelah berdirinya Republik pada tahun 1911, Chen menjadi sekretaris umum untuk gubernur militer dari provinsi Anhui. Pada tahun 1913, ia melarikan diri ke Jepang setelah berpartisipasi dalam Revolusi "Kedua "Yuan Shikai ( ) pada tahun 1913.

Pengaruh terbesar Chen pada pemikiran dan Politik Cina dimulai pada tahun 1915 ketika ia mendirikan majalah bulanan Qingnian Youth Magazine di Shanghai, yang kemudian berganti nama menjadi Xinqingnian New Youth. Tulisan Chen yang bersifat provokatif pada majalah tersebut bertujuan untuk mempromosikan penggunaan bahasa Cina dalam literatur dan memperkenalkan ide-ide baru seperti metode individualisme, demokrasi, humanisme dan ilmiah kepada masyarakat Cina. Banyak penulis muda yang berkontribusi terhadap majalah bulanan tersebut. Di antaranya yaitu Hu Shi, seorang promotor liberal sastra vernakular; Lu Xun, yang bekerja untuk penulis cerita terkemuka dan penulis esai; Li Dazhao, ketua perpustakaan Universitas Beijing dan Mao Zedong, yang kemudian menjadi pemimpin penting intelektual dan politik di Partai Komunis Cina. Misi revolusioner Chen diperkirakan memiliki efek yang lebih penting, ketika tahun 1917 ia diangkat menjadi dekan Fakultas Sastra di Universitas Beijing. Chen mengumpulkan banyak mahasiswa dan profesor yang berideologi liberal. Dengan bantuan mereka, ia mendirikan Meizhou pinglun ("Review Mingguan") pada bulan Desember 1918. "pemikiran baru" dan "sastra baru" mereka mendominasi Gerakan 4 Mei, gerakan protes besar-besaran mahasiswa pada tahun 1919. Namun, karena perannya dalam gerakan tersebut, Chen dipaksa untuk mengundurkan diri dan dipenjara selama tiga bulan, dari Juni hingga September 1919.

Li Da Zhao
Li Dazhao Lahir pada 29 Oktober 1888 di Laoting, Hebei, suatu provinsi yang bermata pencaharian petani. Ia mulai mendapatkan pendidikan SMA di Tangshan pada tahun 1905. Tahun 1913-1917 Li menuntut ilmu ekonomi politik di Universitas Waseda Jepang sebelum ia kembali ke China tahun 1918. Li adalah seorang nasionalis yang percaya bahwa kaum tani di China mempunyai peranan penting dalam revolusi China. Sebagai pemimpin intelektual dalam gerakan Budaya Baru, Li direkrut oleh Cai Yuanpei menjadi kepala perpustakaan Universitas Beijing. Disaat menjabat menjadi kepala perpustakaan, Li mempengaruhi banyak mahasiswa yang nantinya menuntun mereka melakukan Gerakan 4 Mei, termasuk Mao Zedong, yang saat itu

bekerja di perpustakaan. Li Dazhao tidak hanya berperan dalam mempromosikan gerakan ini, tetapi juga sebagai penghubung dengan mahasiswa aktif. Ia juga sangat mendukung organisasi mahasiswa dan organisasi fakultas dan staff untuk mendukung Gerakan 4 Mei 1919. Li adalah intelektual Cina pertama yang berpikir bahwa desa-desa Cina sebagai dasar untuk sebuah gerakan politik. Ia juga salah satu intelektual yang mencontoh pemerintahan Bolshevik di Uni Soviet sebagai pedoman dalam reformasi Cina kedepannya. Ia juga menulis dalam Majalah New Youth dan hasil karyanya mempunyai pengaruh yang sangat besar pada rakyat Cina. Ia memiliki pemikiran yang sosialis. Namun, setelah adanya gerakan 4 Mei, ia mulai berideologi Marxism. Tentunya kesuksesan Revolusi Bolshevik adalah faktor terbesar dalam perubahan ideologinya. Beberapa tahun kemudian, Li menggabungkan ideologi nasionalis dan Marxist dengan tujuan memperkuat paham politik Cina.

Cai Yuanpei
Cai lahir pada 11 Januari 1868 di desa Shanyin, Shaoxing, Zhejiang. Cai diangkat ke Imperial Academy of Hanlin pada umur 26. Pada tahun 1898, ia terlibat dalam lembaga administratif dan menjadi Inspektur Sekolah Cina-Barat Shaoxing ( ), Kepala Universitas Shanshan Sheng ( ) dan Kepala guru-guru kelas khusus di Sekolah Umum Nanyang ( ). Ia membangun GuangfuHui pada tahun 1904 dan bergabung Tongmenghui pada tahun depan. Setelah mempelajari sejarah filsafat, psikologi dan seni di Leipzig Universitt di Jerman pada tahun 1907 di bawah bimbingan Karl Lamprecht, ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan Republik pada Januari 1912, namun kemudian mengundurkan diri selama kepresidenan Yuan Shikai. Kemudian, ia kembali ke Jerman dan pergi ke Prancis. Pergekan kultur baru menerima dorongan yang luar biasa ketika Cai Yuan Pai mengambil alih kedudukan rektor di Universitas Nasional Beijing, atau disingkat Beida pada Desember 1916. Selama masa jabatannya di Universitas Beijing, ia

merekrut para pemikir terkena ke Universitas Beijing, seperti Chen Duxiu dan Li Dazhao. Pada masa kepemimpinan Cai sebagai rektor ini, ia menegur pegawainya bahwa universitas adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk mencari kekeayaan dan posisi. Pemerintahannya bersandar pada tiga asas. Pertama, universitas harusnya menjadi institut penelitian ditujukan tidak hanya kepada pengenalan kebudayaan Barat, tetapi kepada pembentukan kutur baru Cina; tidak kepada pemeliharaan esensi nasional tetapi pada pengevaluasian ulang metode sains. Kedua, pendidikan universitas bukanlah merupakan sebuah pengganti pemeriksaan pelayanan kemasyarakaran lama; dan diperbolehkannya kebebasan akademik mutlak, dan terjaminnya kebebasan berekspresi, sudut pandang, serta pemikiran selama hal itu masuk akal. Dibawah kepemimpinan Cai, Universitas Beijing menjadi sebuah

institusi dengan pembelajaran tinggi, dengan professor yang ideologi politiknya berbeda-liberal, radikal, sosialis, anarkis, konservatif yang membangun Universitas.

Hu Shi
Hu Shi lahir pada 17 Desember 1891 lahir di Anhui Hu Chuan Feng dan Shunde. Leluhurnya adalah dari Jixi, Anhui. Pada bulan Januari 1904, keluarganya telah menciptakan pernikahan yang diatur untuk Hu dengan Chiang Tung-Hsiu, seorang gadis buta huruf dengan kaki diikat setahun lebih tua dari dia. Pernikahan berlangsung pada Desember 1917. Hu menerima pendidikan dasar di Jixi dan Shanghai. Hu menjadi melalui dana dari Program Beasiswa Indemnity Boxer. Pada tanggal 16 Agustus 1910, ia dikirim untuk belajar pertanian di Cornell University di Amerika Serikat. Pada tahun 1912 ia berubah besar untuk filsafat dan sastra. Setelah menerima gelar sarjana, ia pergi ke Universitas Columbia untuk belajar filsafat. Ayahnya adalah seorang sarjana Hu Shih Chi-chi dari kabupaten di provinsi Anhui. Ketika Hu Shih berusia tiga tahun, ayahnya meninggal. Ibunya, memberikan penekanan besar pada pendidikan anak-anak mereka, yang sendiri akan

memungkinkan dia untuk lulus ujian pelayanan sipil-kompetitif yang mengarah ke karir sebagai perwira.

Hu Shi dikenal sebagai promotor pertama yang menganggap Baihua sebagai bahasa sastra modern. Pada saat ia masih menjadi seorang pelajar di Cornell tahun 1915, ia dan Y. R. Chao mulai membentuk pergerakan untuk mengenalkan budaya penulisan Baihua. Intelektual-intelektual baru ini adalah hasil studi klasik China dan diikuti dengan kehidupan Barat. Liberalisme, sosialisme, pragmatism, sains, dan demokrasi, telah meninggalkan jejak mereka yang tak terlupakan. Ia belajar di Cornell University dan menerima gelar Ph.D. dari Columbia University. Di Columbia dia sangat dipengaruhi oleh profesor, John Dewey, dan Hu menjadi penerjemah serta penasihat Dewey dalam perubahan evolusioner pragmatis, ia juga membantu Dewey dalam serangkaian kuliah. Saat mereka kembali, Chen mengubah kesusastraan dan personal intelektual China. Seruan mereka untuk reevaluasi kritis warisan nasional dan pengenalan pemikiran Barat menimbulkan revolusi intelektual yang menghancurkan tradisionalisme dan memicu periode pergerkan kultur baru. Dia juga seorang penyebar berpengaruh metodologi pragmatis Amerika serta politik liberal terkemuka di Republik Cina (1912-1949), menganjurkan membangun bangsa baru tapi tidak melalui revolusi politik melalui pendidikan massa Cina. Hu menjadi salah satu intelektual terkemuka dan berpengaruh dalam Gerakan Empat Mei dan Gerakan Budaya Baru. Sesaat sebelum ia kembali ke China pada 1917 dia menerbitkan artikel di majalah Xin Qingnian New Youth, sehingga memicu perdebatan untuk mengubah arah sastra China Promosi Baihua menjadi bagian dari Gerakan Mei Keempat (1919) yang membawa perubahan dramatis dalam norma sosial dan sastra.Hu Shi seorang intelektual publik utama di Republik Cina yang tertarik pada pengembangan budaya Cina yang sering menempatkan dia untuk berkontak langsung dengan pemerintah dan lingkaran politik. Kontribusi terpenting Hushi mungkin adalah dilakukannya pengenalan BaiHua dalam penulisan. Ia menentang tradisi yang lebih menekankan gaya dibandingkan isi pokok. Menurutnya, gaya klasik penulisan telah mati dan sebuah bahasa yang telah mati tidak dapat melahirkan kesusastraan yang baik.

Lu Xun
Lu Xun lahir pada 25 September 1881. Ia lahir dari keluarga miskin. Ayahnya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan meninggal pada saat Lu Xun remaja. Lu Xun adalah seorang penulis cerita pendek, editor, penerjemah, kritikus, penulis esai dan penyair. Ia adalah salah satu penulis besar Cina dari abad ke-20. Dianggap oleh banyak untuk menjadi seorang tokoh sastra Cina modern, ia menulis dalam Baihua () (bahasa lokal) serta klasik Cina. Pada 1930 ia menjadi kepala tituler dari Liga Cina Wing Kiri-Penulis di Shanghai. Lu Xun telah menunjukkan kecerdasannya ketika ia masuk dalam Jiangnan Naval Academy, sekolah Kereta Api dan Pertambangan di Nanjing dan Medical College di Sendai, Jepang. Selama studinya ia mengetahui gerakan sosial reformasi dan membentuk kembali masyarakat Cina. Selama pengembangan politik dan intelektual, ia menyimpulkan bahwa "gerakan sastra" itu diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong tindakan di antara masyarakat yang tertindas. Pada 1906, ia memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah sastra, tetapi upaya pertama untuk mengatur seperti perusahaan telah gagal. Pada tahun 1908, ia bergabung dengan Partai Revolusioner anti-Qing, Guang Fu Hui, dan tetap terlibat dengan kelompok ini sampai revolusi 1911 yang mengakibatkan penindasan dari Dinasti Qing. Zhou akhirnya kecewa dengan hasil revolusi. Pada bulan Mei 1918, Lu Xun menulis dengan menggunakan nama pena untuk pertama kalinya dan menulis cerpen berjudul Diary of a Madman, kutukan konfusianisme tradisonal dan cerita gaya barat yang pertama kali ditulis dalam bahasa Cina. Dia akhirnya ditetapkan sebagai salah satu penulis paling berpengaruh pada zamannya. Lu Xun adalah editor pada majalan New Youth. Selain itu, Lu Xun juga mengajar Sejarah Fiksi Cina di Universitas Beijing . Ia juga berperan secara aktif dalam mengubah pandangan mahasiswa melalui esai-esai pendek dan cerita pendek yang meluas secara besar-besaran pada waktu itu.

Paham Asing Mengubah Cina Tradisional

Cendekiawan seperti Chen Duxiu, Cai Yuanpei, Li Dazhao, Lu Xun, dan Hu Shi merupakan tokoh hasil pembelajaran klasik yang diikuti oleh pemikiran Barat, yang memimpin pemberontakan melawan budaya Konfusianisme. Mereka melakukan pergerakan kebudayaan baru China berdasarkan standar global dan Barat dalam bidang individualisme, teknologi, dan khususnya pada bidang demokrasi dan ilmu pengetahuan. Peran mereka dalam mengubah China tradisional yaitu seperti: Li Dazhao yang merupakan seorang nasionalis berideologi komunis anarkis-yang kemudian berideologi Marxis, mempunyai peranan penting dalam revolusi China. Dengan tujuan untuk memperkuat paham politik China, ia menggabungkan ideology nasionalis dan marxis. Hu Shi, seorang intelektual lulusan Amerika, dipengaruhi oleh John Dewey dan Thomas Huxley, akhirnya ideologi pragmatis tertanam dalam dirinya. Ideologi pragmatis tersebut kemudian menjadi pokok pencapaian dalam evaluasi etnik dan pemikiran tradisional China. Chen Duxiu mengubah kesusastraan dan personal intelektual China. Aksinya yang mengenalkan pemikiran Barat di China menimbulkan revolusi intelektual yang menghancurkan tradisionalisme China dan memicu periode pergerkan kebudayaan baru di China. Setelah kembali dari Jepang pada tahun 1915, Chen Duxiu menemukan The Youth Magazine, yang kemudian dinamakan New Youth. Penerbitan New Youth bertujuan untuk membangkitkan semangat bangsa China untuk menghancurkan tradisi lama yang tersendat, dan agar China dapat memasuki periode kebudayaan baru. Chen dengan keras menentang

tradisionalisme yang dianggapnya sebagai akar dari kegagalan China. Penentangan Chen terhadap tradisionalisme tersebut membuka pandangan baru dalam bidang intelektual China dan dengan cepat ia mendapatkan dukungan yang antusias dari pemuda terpelajar. Pergerakan kebudayaan baru menerima dorongan yang luar biasa ketika Cai Yuanpei mengambil alih kedudukan rektor di Universitas Nasional Beijing, (disingkat Beida) pada Desember 1916

Kesimpulan

Gerakan 4 Mei 1919 timbul karena kekecewaan masyarakat Cina akibat hasil perjanjian Versailles. Masyarakat China menganggap pengalihan hak kekuasaan Shandong sebagai pengkhianatan yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan Barat dan juga sebagai simbol agresi Jepang, serta lemahnya pemerintahan Warlord (panglima perang) yang korup, Yuan Shi-kai (). Marah akan penghinaan China di Versailles, mahasiswa di Beijing mengadakan demonstrasi pada tanggal 4 Mei 1919. Dibalik Gerakan 4 Mei ini, ada beberapa tokoh yang berperan penting, antara lain Chen Du Xiu, Li Da Zhao, Hu Shi, Cai Yuanpei, dan Lu Xun. Mereka merupakan tokoh hasil pembelajaran klasik yang diikuti oleh pemikiran Barat, yang memimpin pemberontakan melawan budaya Konfusianisme. Pemikiran tokoh-tokoh ini mempengaruhi gaya pikir masyarakat Cina dalam berbagai bidang. Mereka semua bertujuan untuk mengubah Cina tradisional menjadi modern dengan pengaruh pemikiran barat seperti Komunisme dan Marxisme.