You are on page 1of 9

1

MAKALAH TUGAS AKHIR
APLIKASI TEGANGAN TINGGI DC SEBAGAI PENGENDAP DEBU
ELEKTROSTATIK
Nurlailati*, Agung Warsito**, Abdul Syakur**
Abstrak - Perkembangan dunia kelistrikan telah menfadi kebutuhan pokok di :aman modern ini.
Kemafuan teknologi ini tentunva tidak hanva bertufuan untuk teknologi itu sendiri melainkan vang lebih
penting adalah untuk kesefahteraan manusia. Salah satu kebutuhan vang sangat mendesak bagi manusia
saat ini adalah udara bersih. Udara bersih adalah mutlak untuk kesehatan.
Saat ini udara bersih merupakan suatu hal vang sangat langka. Partikel - partikel polutan dari
asap kendaraan bermotor dan industri , debu dan asap rokok menvebabkan polusi udara.
Dalam makalah ini akan disafikan suatu metode untuk mengendapkan debu sebagai salah satu
polutan dengan menggunakan medan listrik uniform.
Pembersihan udara ini dilakukan dengan cara pengendapan elektrostatis dimana partikel-
partikel bermuatan dipisahkan secara elektrostatis (muatan positip dan negatip saling tarik menarik) oleh
medan listrik deretan pelat- pelat logam bermuatan listrik.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi selain memberikan eIek
positiI bagi kehidupan manusia juga
menyebabkan eIek negatiI. Salah satu contohnya
adalah terjadinya pencemaran lingkungan.
Pada Tugas Akhir ini, akan dibahas salah
satu cara mengurangi polusi udara. Mengingat
sangat sulitnya memperoleh udara bersih saat ini.
Udara saat ini telah terkontaminasi oleh gas gas
polutan dari asap kendaraan bermotor dan
industri, debu dan asap rokok. Udara yang
terpolusi ini memberikan dampak negatiI pada
kesehatan seperti gangguan pernapasan atau
alergi debu.
Salah satu indikator pencemaran udara untuk
menunjukkan tingkat bahaya baik terhadap
lingkungan maupun terhadap kesehatan dan
keselamatan kerja adalah debu. Partikel debu
berada di udara dalam waktu yang relatiI lama
dalam keadaan melayang layang di udara
kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernaIasan sehingga membahayakan kesehatan.
Setiap materi, termasuk debu, dapat dianggap
sebagai sebuah partikel yang bermuatan listrik
yang akan memiliki siIat tarik menarik dengan
partikel lain yang berbeda muatan dan akan tolak
menolak dengan partikel lain yang muatannya
sejenis.
* Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro UNDIP
** StaI Pengajar Teknik Elektro UNDIP
Dari Ienomena diatas, maka diadakan suatu
penelitian dalam Tugas Akhir ini untuk membuat
suatu alat yang dapat mengurangi polutan dengan
mengaplikasikan tegangan tinggi searah ( DC ),
tanpa menghasilkan eIek samping lain dari
penggunaan tegangan tinggi DC yaitu ozon.
Karena keberadaan ozon diudara akan
menyebabkan pencemaran udara baru yang perlu
untuk ditindaklanjuti kembali..
1.2 Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dari tugas akhir
ini adalah membuat suatu alat yang mampu
mengendapkan debu secara elektrostatik yaitu
dengan mengaplikasikan tegangan tinggi searah
(DC) untuk memperoleh medan listrik seragam
pada lempengan lempengan logam yang disusun
sejajar. Medan listrik ini akan menghasilkan gaya
yang akan digunakan untuk menarik atau
mengendapkan debu yang melewati medan listrik
tersebut.
1.3 Pembatasan Masalah
Pada Tugas Akhir ini, pembahasan dibatasi
pada batasan-batasan berikut ini :
1. Perancangan alat pengendap debu meliputi
pembuatan pembangkit tegangan tinggi
searah (DC) menggunakan metoda penyerah
pengali tegangan atau Walton- Cockroft
pada keadaan hubung buka / tidak berbeban,
pemilihan alumunium untuk filter dan
pemilihan alat alat pendukung yaitu kover
akrilik dan kipas angin DC 12 Volt beserta
sumber tegangan 12 VDC.
2
2. Membahas eIek penggunaan tegangan tinggi
DC untuk mengendapkan debu sebagai
Iungsi waktu dan uji eIektiIitas alat
pengendap debu di tiga lokasi ( rumah, toko,
dan pembangunan proyek ).
3. Tidak membahas secara detail masalah
kegagalan isolasi.
4. Tidak membahas dimensi ruang yang
digunakan dalam penerapan alat pengendap
debu dan kadar polutan baik pada lokasi
yang digunakan maupun pada udara yang
dihembuskan oleh kipas.
II. DASAR TEORI
2.1 Debu sebagai Partikel Bermuatan
Debu merupakan salah satu bahan yang sering
disebut sebagai partikel yang melayang di udara
(Suspended Particulate Matter / SPM) dengan
ukuran 1 mikron sampai dengan 500 mikron.
Dalam Kasus Pencemaran udara, debu sering
dijadikan salah satu indikator pencemaran udara..
Debu memiliki siIat pengendapan yaitu debu
cenderung mengendap karena gaya graIitasi bumi.
Selain itu, debu juga mempunyai siIat listrik statik
(elektrostatik) yang akan tertarik ke partikel lain
yang berlawanan muatan dan menjauhi partikel
yang bermuatan sejenis.
Materi yang biasanya kita alami dapat
dipandang sebagai sesuatu yang dibentuk dari tiga
macam partikel yang memiliki masa dan muatan
sebagai berikut:
Tabel 2.1 Massa dan muatan Partikel
Partikel Simbol Muatan Massa
Proton P ¹ e 1.67 x 10
27
Neutron N 0 1.67 x 10
27
Elektron E - e 9.10 x 10
31
Udara sekeliling kita merupakan
partikel gas bermuatan listrik, baik berupa ion
negatiI dan positiI. Ini diakui berabab-abab yang
lalu dan dibuktikan oleh percobaan sederhana
Benyamin Franklin dengan menggunakan layang-
layang dan benang kawat sebagai konduktornya,
energi listrik di udara dapat ditangkap dalam
wujud petir.
2.2 Pembangkitan Tegangan Listrik Searah
(DC)
Sumber tegangan listrik searah
dibangkitkan dengan menyearahkan tegangan
bolak- balik. Ada beberapa metode yang dapat
digunakan, yaitu :
1. Penyearah setengah gelombang
Rangkaian penyearah setengah gelombang
ditunjukkan pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.1 Penyearah setengah gelombang
Jika dibutuhkan tegangan keluaran yang
lebih rata maka di terminal keluaran dipasang
kondensator perata.
Jika jatuh tegangan pada dioda diabaikan,
bentuk gelombang tegangan keluaran
penyearah tanpa dan dengan kondensator
perata adalah sebagai berikut.
Gambar 2.2. Keluaran penyearah setengah
gelombang tanpa kondensator perata
Gambar 2. 3. Keluaran penyearah setengah
gelombang dengan kondensator perata
2. Penyearah Villard
Penyearah ini disebut pelipat ganda
tegangan. Rangkaian ditunjukkan pada
gambar dibawah ini.
Gambar 2.4. Rangkaian penyearah Villard
Berikut ini adalah bentuk gelombang
keluarannya dengan memisalkan penyearah
tanpa beban.
C
Z
D T
D
Z
C T
3
Gambar 2.5. Keluaran penyearah Villard
3. Penyearah Greinacher
Penyearah ini juga merupakan pelipat
ganda tegangan, hanya tegangan keluarannya
lebih rata daripada tegangan keluaran
penyearah Villard..
Gambar 2.6. Rangkaian penyearah Greinacher
Bentuk tegangan keluaran rangkaian
penyearah ini adalah seperti gambar dibawah
ini.
Gambar 2.7. Keluaran penyearah Greinacher
4. Penyearah Kaskade ( Walton Cockcroft )
Rangkaian penyearah yang disusun secara
bertingkat dapat dilihat pada gambar 2.8 berikut
ini :
Gambar 2.8 Rangkaian Penyearah Kaskade
Gambar 2.9 Keluaran penyearah Kaskade
Untuk jumlah n tingkat tegangan keluaran
dapat mencapai 2n V
maks
pada beban kosong.
Pada praktiknya, nilai tegangan keluarannya
selalu lebih kecil dari 2n V
maks
karena adanya rugi
rugi tegangan pada transIormator dan dioda.
Nilai jatuh tegangan ini yang akan semakin
bertambah dengan bertambahnya tingkatan.
Pada keadaan hubung buka (tidak berbeban),
yang perlu diperhatikan adalah nilai tegangan
yang mampu dipikul. Namun, semakin besar
nilai kapasitansi, maka akan lebih eIisien.
2.3 Muatan Dalam Medan Listrik Uniform
Medan listrik dalam daerah dua plat
penghantar yang diberi muatan yang sama tetapi
tidak sejenis dapat dianggap serba sama. Medan
listrik uniIorm ini dapat dihasilkan dengan
menghubungkan terminal sebuah sumber
tegangan listrik searah ( DC ) pada dua logam
yang sejajar. Jika jarak antara plat plat tersebut
adalah kecil dibandingkan dengan dimensi plat,
maka medan diantara plat plat tersebut akan kira
kira uniIorm kecuali di dekat tepi plat.
Jika sebuah partikel bermuatan dilewatkan pada
medan listrik tersebut maka medan listrik tersebut
akan mengerahkan gaya pada partikel yang arah
gayanya mengikuti hukum bahwa muatan sejenis
tolak menolak dan muatan tak sejenis tarik
menarik
2.4 Filter Pengendap Debu
Filter yang dimaksudkan disini adalah
tumpukan lempengan logam yang diberi tegangan
tinggi searah yang diberikan polaritas tegangan
tinggi yang saling berkebalikan.
Untuk Iilter ini diperlukan pengetahuan
mengenai siIat siIat bahan yang digunakan.
Untuk menentukan pilihan, perancang harus
memperhatikan siIat siIat seperti kekuatan,
konduktivitas (listrik), daya hantar panas, berat
jenis dan sebagainya.
Z
C1
T
D1 C2
D2
4 Vm
2 Vm
¹ Vm
- Vm
4
III.PERANCANGAN ALAT
3.1 Perancangan Perangkat Keras
Perancangan alat pembersih udara secara
elektrostatik ini terdiri dari sumber tegangan AC
(tegangan jala-jala PLN) , sumber tegangan
searah 4500 volt, sumber tegangan dc 12 volt,
filter dan pengarah debu, blok diagramnya
ditunjukkan pada gambar 3.1 dibawah ini.
Gambar 3.1 Blok diagram alat
3.2 Suplai AC 1 Fasa
Suplai AC 1 Fasa yang digunakan berasal
dari jala-jala PLN dengan tegangan 220/380 Volt
dan Irekuensi 50 Hz.
3.3 Perancangan
Filter yang dimaksudkan disini adalah
lempengan logam yang disusun sejajar satu sama
lain. Lempengan alumunium ini dihubungkan
dengan terminal pembangkit tegangan tinggi DC
dengan polaritas saling berkebalikan. Logam yang
dipilih adalah alumunium karena tidak cepat
panas, daya hantar listrik yang baik dan ringan.
Jarak antara lempengan alumunium yang
dipilih adalah 1cm.
Gambar 3.8 Blok Iilter yang telah dibuat
(a). tampak depan (b). tampak samping
3.4 Pembangkit Tegangan Tinggi DC 4000 -
5000 Volt
Mengingat jarak antara lempengan yang
dirancang berjarak 1 cm, maka tegangan tinggi
DC yang aman sehingga tidak terjadi breakdown
dan menimbulkan ozon adalah tegangan dibawah
6452,16 Volt. Sehingga tegangan yang akan
dibangkitkan dipililh bertegangan 4000 5000
Volt.
Pada perancangan ini digunakan rangkaian
Walton Cockroft diambil 14 tingkat dengan
Voutput yang secara teoritis 8711,56 Volt. Hal
ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya rugi
rugi tegangan pada dioda yang besar dan nilai
toleransi kapasitansi kapasitor, sehingga.tegangan
keluaran rangkaian dapat berkisar 4000 5000
Volt.
Rangkaian lengkap dari pembangkit tegangan
tinggi searah ( DC ) yang dirancang dapat dilihat
pada gambar 3.2 dibawah ini.
Gambar 3.2 Rangkaian pembangkit tegangan tinggi
searah ( DC )
Gambar 3.3 Blok pembangkit tegangan DC yang
telah dibuat
3.5 Pembangkit Tegangan Searah 12 Volt
Rangkaian sumber tegangan ini berIungsi
sebagai suplai 3 motor DC pada kipas angin yang
masing masing 2 kipas angin 12 Volt 0,4 A dan
1 kipas angin 12 Volt 0,12 Volt
(a)
(b)
5
Gambar 3.4 Sumber tegangan 12 VDC
Gambar 3.5 Blok sumber tegangan 12 VDC
IV.ANALISA PEMBAHASAN
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan,
maka dapat dilakukan pembahasan- pembahasan
berikut ini.
4.1 Hubungan massa debu yang mengendap
dengan tegangan.
Pengujian dilakukan dengan
menerapakan enam variasi tegangan pad filter
untuk memperoleh hubungan antara tegangan
yang diterapkan dengan banyaknya debu yang
mampu diendapkan. Berdasarkan pengujian yang
telah dilakukan .diperoleh graIik seperti gambar
4.1 di bawah ini.
Gambar 4.1 Hubungan massa debu yang diendapkan dengan
tegangan
Pada gambar diatas, didapatkan bahwa banyak
debu yang mengendap pada filter berbanding
lurus dengan kuadrat tegangan yang diterapkan.
Terlihat pula bahwa hasil yang diperoleh dari
hasil pengujian berbeda teorinya. Hal ini
disebabkan karena beberapa Iaktor, yaitu :
- Debu mengendap pada filter selain karena
pengaruh medan elektrostatik yang dihasilkan
tegangan tinggi DC, namun juga dipengaruhi
adanya gaya graIitasi bumi.
- Banyaknya debu sangat dipengaruhi oleh
keadaan alam. yaitu sirkulasi udara.
Dari pengujian yang telah dilakukan, dapat
dilihat bahwa tegangan 4560,2 Volt merupakan
tegangan yang paling eIektiI untuk
mengendapkan debu. Jadi, alat pengendap debu
dengan menggunakan sumber tegangan tinggi
searah (DC) yang dibuat telah sesuai dengan teori
dan harapan.
4.2 Hubungan massa debu yang mengendap
dengan tegangan dan waktu
Pengujian dengan menerapkan tegangan
tinggi DC pada filter dengan tiga variasi tegangan
dan pengambilan data setiap 1 jam sekali selama
8 jam dilakukan untuk mengetahui hubungan
massa debu dengan tegangan dan waktu
Gambar 4.2 Hubungan massa debu yang diendapkan dengan
tegangan dan waktu
Berdasarkan graIik diatas, dapat dilihat
bahwa massa debu yang mengendap pada
tegangan 4560,2 Volt selalu lebih besar daripada
tegangan 1717,34 Volt dan 0 Volt.
4.3 Karakteristik Massa Debu Yang
Mengendap Sebelum Menggunakan
Tegangan Tinggi Searah (DC) dengan
variasi lokasi.
Pengujian ini bertujuan untuk memperoleh
data tentang keadaan awal lingkungan yaitu
ketika tegangan tinggi DC belum diterapkan.
m = 2E-07 V
2
- 0,0003 V + 0,159
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
0 1000 2000 3000 4000 5000
Tegangan ( Vol t ) Tegangan ( Vol t ) Tegangan ( Vol t ) Tegangan ( Vol t )
m
a
s
s
a

d
e
b
u

(
G
r
a
m

)
m
a
s
s
a

d
e
b
u

(
G
r
a
m

)
m
a
s
s
a

d
e
b
u

(
G
r
a
m

)
m
a
s
s
a

d
e
b
u

(
G
r
a
m

)
6
Gambar 4.3 GraIik hubungan massa debu dengan waktu
sebelum menggunakan tegangan DC
Dari Gambar 4.3 dapat dilihat bahwa jumlah
debu yang diendapkan di rumah tangga lebih
sedikit daripada di toko dan di proyek
pembangunan rumah ; jumlah debu yang
mengendap di proyek pembangunan rumah lebih
banyak daripada di toko dan rumah; dan jumlah
debu yang mengendap di toko berada diantara
rumah dan proyek pembangunan rumah. Hal ini
menunjukkan bahwa rumah dapat digunakan
mewakili lokasi dengan kandungan debu rendah,
toko dapat digunakan mewakili lokasi dengan
kandungan debu sedang, dan proyek
pembangunan dapat digunakan mewakili lokasi
dengan kandungan debu tinggi.
Dari pengujian yang telah dilakukan
diperoleh bahwa debu diendapkan secara alami
oleh gaya gravitasi, sehingga debu hanya terdapat
pada lempengan alumunium yang menghadap ke
atas.
4.4 Karakteristik Massa Debu Yang
Mengendap Setelah Menggunakan
Tegangan Tinggi Searah (DC) Dengan
Variasi Lokasi.
Gambar 4.4 dibawah ini memperlihatkan
banyaknya debu yang mengendap pada Iilter
setelah tegangan tinggi DC diterapkan sebagai
Iungsi waktu untuk tiga lokasi berbeda yaitu
rumah tangga, toko dan proyek pembangunan
rumah.
Gambar 4.4 GraIik hubungan massa debu dengan waktu
setelah menggunakan tegangan tinggi DC
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat diketahui
bahwa untuk lokasi rumah tangga, toko, dan
proyek pembangunan rumah nilai massa debu
yang mengendap pada filter akan bertambah
dengan kenaikan waktu.
Dari pengujian yang telah dilakukan,
ditunjukkan bahwa debu yang mengalir melalui
filter mengendap secara elektrostatik. Debu yang
mengalir melalui filter merupakan partikel
bermuatan yang jika dilewatkan melalui medan
elektrostatik akan mengalami gaya listrik.
Apabila debu yang mengalir bermuatan positiI,
maka debu akan mendapatkan gaya listrik yang
menariknya ke lempengan alumunium yang diberi
polaritas negatiI dan mendorongnya menjauhi
lempengan berpolaritas positiI, demikian
sebaliknya jika debu yang mengalir bermuatan
negatiI, maka debu akan mengendap ke
lempengan alumunium yang berpolaritas positiI.
Debu yang mengalir melalui filter tidak hanya
jatuh ke lempengan logam yang berada di
bawahnya, namun ada juga yang tertarik ke
lempengan yang berada diatas. Jadi, pada masing
masing plat filter , endapan debu terdapat di
kedua sisi permukaan, yaitu yang menghadap ke
atas dan ke bawah.
4.5 Perbandingan Massa Debu Yang
Mengendap Sebelum dan Setelah
Menggunakan Tegangan Tinggi Searah
(DC).
Dari pengujian yang telah dilakkukan
diperoleh graIik hubungan sebagaimana Gambar
4.5 di bawah ini.
( a )
( b )
0
1
2
3
4
5
6
7
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam )
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
V = 0 Volt
VDC = 4560,2 V
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam )
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
V = 0 Volt
VDC = 4560,2 V
7
( c )
Gambar 4.5 Hubungan massa debu dengan waktu
( a ) Rumah Tangga
( b ) Toko
( c ) Proyek Pembangunan Rumah
Dari Gambar 4.5, dapat terlihat bahwa
penggunaan tegangan tinggi DC dapat
meningkatkan jumlah massa debu yang
mengendap pada filter untuk semua lokasi.
Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa
alat pengendap debu secara elektrostatik dengan
mengaplikasikan tegangan tinggi DC telah sesuai
harapan dan teori.
4.6 Perhitungan Efektifitas Alat Pengendap
Debu
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan
perhitungan sebagai berikut untuk memperoleh
nilai eIektiIitas alat pengendap debu sebagai
berikut :
a. Untuk lokasi rumah
Tabel 4.1 Perhitungan eIektiIitas alat pengendap debu rumah
Massa debu ( Gram ) t
(Jam) Sebelum Setelah
EIektiIitas
( kali )
0 0 0 -
1 0 0,8
2 0,1 1,4 14
3 0,1 2,7 27
4 0,1 3,2 32
5 0,2 4,2 21
6 0,2 4,9 24,5
7 0,2 5,5 27,5
8 0,3 6,3 21
Total eIektiIitas ( untuk 7 data ) 167
Rata rata eIektiIitas alat 23,86
b. Untuk lokasi toko
Tabel 4.2 Perhitungan eIektiIitas alat pengendap debu toko
Massa debu ( Gram ) t
(Jam) Sebelum Setelah
EIektiIitas
( kali )
0 0 0 -
1 0,2 1,6 8
2 0,3 2,2 7,333333
3 0,3 2,9 9,666667
4 0,4 3,6 9
5 0,4 5,2 13
6 0,6 6,4 10,66667
7 0,7 7,2 10,28571
8 0,8 7,8 9,75
Total eIektiIitas ( untuk 8 data ) 77,70
Rata rata eIektiIitas alat 9,71
c. Lokasi proyek pembangunan rumah
Tabel 4.3 Perhitungan eIektiIitas alat pengendap debu di
proyek pembangunan rumah
Massa debu ( Gram ) t
(Jam) Sebelum Setelah
EIektiIitas
( kali )
0 0 0 -
1 0,4 3,2 8
2 1,1 6,7 6,090909
3 1,6 8,6 5,375
4 1,7 10,7 6,294118
5 1,8 11,1 6,166667
6 2 12,6 6,3
7 2,5 14,9 5,96
8 2,9 18,3 6,310345
Total eIektiIitas ( untuk 8 data ) 50,50
Rata rata eIektiIitas alat 6,31
Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat
dilihat bahwa semakin tinggi tingkat kandungan
debu, maka tingkat eIektiIitas alat dalam
mengendapkan debu akan semakin kecil. Hal ini
disebabkan karena semakin banyak debu yang
mengalir, maka permukaan lempengan
alumunium pada filter akan semakin cepat
tertutup debu. Tertutupnya permukaan
alumunium akan mengurangi medan listrik yang
dihasilkan, karena terhalang lapisan debu.
Kecilnya medan listrik akan mengakibatkan gaya
yang dibutuhkan untuk menarik debu juga akan
berkurang, sehingga jumlah debu yang mampu
diendapkan akan semakin berkurang.
4.7 Karakteristik Alat Pengendap Debu
Dari pengujian yang telah dilakukan dapat
dibuat graIik yang menunjukkan hubungan massa
debu rumah yang mengendap pada filter sebagai
Iungsi waktu sebagaimana Gambar 4.6 dibawah
ini.
Gambar 4.6 Hubungan massa debu rumah dengan
waktu
0
5
10
15
20
25
30
35
0 6 12 18 24 30 36 42 48 54 60 66
t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam )
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam ) t ( Jam )
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
m

(

G
r
a
m

)
V = 0 Volt
VDC = 4560,2 V
8
Dari Gambar 4.6 dapat dilihat graIik
karakteristik alat pengendap debu secara
elektrostatik yang menunjukkan bahwa massa
debu akan meningkat dengan naiknya waktu,
sampai mencapai titik saturasi ( kejenuhan ).
Setelah melewati titik jenuh, jumlah massa debu
yang mengendap akan cenderung tetap atau tidak
mengalami perubahan. Masa saturasi ini
dipengaruhi oleh beberapa Iaktor, yaitu :
- Tertutupnya permukaan lempengan
alumunium pada filter dengan endapan debu.
Dari Gambar 4.6 diatas, ditunjukkan pula bahwa
alat akan mengalami saturasi setelah 54 jam
dengan massa debu 30,6 Gram.
Data ini diperlukan sebagai acuan dalam
pemeliharaan. Untuk mempertahankan
keeIektiIan alat pengendap debu ini, maka perlu
diadakan pembersihan lempengan alumunium
secara berkala maksimal 54 jam sekali.
Pembersihan lempengan alumunium dapat
dilakukan dengan menggunakan kain bersih atau
dengan menyemprotkan air yang kemudian
dijemur sampai kering benar.
V. PENUTUP
Dari tugas akhir yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa alat pengendap debu
elektrostatik telah berhasil dibuat dan sesuai
harapan.
Berdasarkan pengukuran dan pengujian dapat
pula diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Tegangan yang paling eIektiI untuk
mengendapkan debu adalah tegangan
4560,2 Volt, yaitu tegangan dari sumber
tegangan tinggi yang telah dibuat dalam
Tugas Akhir ini.
2. Banyak debu yang mengendap pada
filter selain dipengaruhi medan listrik
elektrostatik yang dihasilkan tegangan
tinggi DC, dipengaruhi juga oleh gaya
graIitasi bumi dan keadaan alam yaitu
sirkulasi udara.
3. Perubahan massa debu yang mengendap
di rumah tangga berubah secara linier
terhadap perubahan waktu, dan
perubahan massa debu yang mengendap
di toko dan proyek pembangunan
berubah secara tidak tetap terhadap
perubahan waktu karena sangat
terpengaruh pada jam jam kerja, hasil
pengujian ini berlaku untuk jangka
waktu delapan jam.
4. Nilai eIektiIitas rata rata alat
pengendap debu berbeda untuk tiap
lokasi, yaitu :
- Rumah : 23,86 kali
- Toko : 9,71 kali
- proyek pembangunan rumah : 6,31
kali
5. Nilai eIektiIitas alat pengendap debu
akan semakin berkurang dengan
bertambahnya kandungan debu yang
akan diendapkan.
6. Alat pengendap debu secara elektrostatik
memiliki karakteristik yaitu massa debu
akan meningkat dengan naiknya waktu,
sampai mencapai titik saturasi
(kejenuhan). Setelah melewati titik
jenuh, jumlah massa debu yang
mengendap akan cenderung tetap atau
tidak mengalami perubahan. Massa
saturasi pengendapan debu rumah terjadi
setelah 54 jam dengan massa debu 30,6
Gram.
5.1 Saran
1. Alat ini dapat ditambahkan sensor debu
untuk mengetahui kadar debu yang
dialirkan dan yang dapat diendapkan
untuk memperoleh nilai eIisiensi.
2. Untuk menjaga agar eIektiIitas alat
pengendap debu tetap, maka perlu
diadakan pembersihan lempengan
alumunium dengan lap atau dengan
menyemprotkan air dan kemudian
dijemur.
3. Proses pembersihan lempengan
sebaiknya dilakukan diluar ruangan agar
debu yang telah diendapkan tidak
kembali ke dalam ruangan dan kembali
menjadi polutan di udara
DAFTAR PUSTAKA
|1| Abduh, S,. Teknik Tegangan Tinggi Dasar
Pembangkitan dan Pengukuran,
Salemba Teknika, Jakarta, 2003
|2| Ajulian. A., Darjat, Buku Afar Rangkaian
Listrik I. Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro, Semarang, 2005
|3| Engineer Savior- Blaze Lab, Experiment
15 Cockcroft Walton Multiple, http://
www.blazelabs.com/e-exp15.asp.htm//,
Desember 2006
|4| Halliday, D., Fisika, Erlangga , Jakarta.
1994.
9
|5| Hutahuruk, J.S., Pengetanahan Netral
Sistem Tenaga Pengetanahan
Peralatan, Erlangga, Jakarta, 1991.
|6| Iwan, T. B., Ion Negatif Penvebab Utama
Sindrom Gedung Rumah Sakit dan
Bukan Pencemaran Mikroorganisme,
http:/www.medikaholistik.com/, Juli
2006
|7| K,Nanang. T.Kurniawan, M.Nugroho,
Perancangan Electrostatistic
Precipitator Pada Cerobong Gas
Buang Boiler sebagai Penangkap
Limbah Debu Di PG. Gempolkerep.
PKMI ITS, Surabaya, 2006.
|8| Lister, U.C, Mesin dan Rangkaian Listrik.
PT. Erlangga, Jakarta, 1988.
|9| Naidu, M.S., Kamaraju, High Joltage
Engineering. Tata McGraw-Hill
Publishing Company Limited, New
Delhi, 1991.
|10| P. Andinto, Sistem Sirkulasi Udara di
Ruang Produksi, http://library.usu.ac.
id/, Agustus 2006.
|11| Pohan, N., Pengaruh Bahan Bahan
Buangan Kimia Industri terhadap
Lingkungan, USU Digital Library,
Medan, 2004.
|12| Pudjiastuti, W., Debu Sebagai Bahan
Pencemar Yang Membahavakan
Kesehatan Kerfa. http://www. Depkes.
go.id www/download/debu.PDF,
Desember 2006
|13| Syakur, A., Bahan Afar Gefala Medan
Tinggi. Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Diponegoro, Semarang, 2004.
|14| ---, M. Facta, Penuntun Praktikum Gefala
Medan dan Tegangan Tinggi.
Laboratorium Konversi Energi dan
Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro, Semarang, 2006.
Menyetujui dan Mengesahkan
Pembimbing I
Ir. Agung Warsito. DHET
NIP. 131 668 485
Tanggal : ........
Pembimbing II
Abdul Syakur , S.T., M.T.
NIP. 132 231 132
Tanggal : ........
NURLAILATI (L2F 003 523)
Lahir di Takengon, 12 Juni
1985, Pendidikan SMU di
SMUN 4 Semarang. Saat ini
sedang menyelesaikan studi S1
di Teknik Elektro UNDIP,
dengan konsentrasi Tenaga
Listrik.
Email : Kcluv¸lala¸yahoo.com

' 6& ( ( ! %7 % & * % & / ! $ # A * " ( ! $ $ ) ! ! 2 & ( & 3 % % ! $ ! % $ B * $ & ' ' ' $ ! #& % $ ' ! 2 $ $ % 2 ! & % $ A $ $ " $ - C ! 6&9& $ %7 % ! ! $ & ! $ % 6 .. ! " ' . ) 8 ! 6& 8& ! $ % % $ . ? . ! % $ ! $ 0& ! ! % ' ! & ! ! % ! !$ $ $ $ $ ! $ $ % ! % $ & " $ $ % ! % * % - ! & % / $ C ! 6& ( % % ! + ! . ) 6> &=> ? .6& 8& 9& ! % # $ -/ ! $ # * " # # $ $ . ) 6> @& . ! && # !& & $ $ " ! % ! ! ! !$ ( ' ! # $ $ ! !$ ! " $ ' ! $ # $ ! " % $ " 0 & ! ! ! ! ! $ ! 6&6& ! $ $ % % $ ( ( ! & < . * ! $ ! ' !$ 3 6& ! ( % ! $ & $ ! $ % & ! $ % % ' ! $ $ ' % $ $! % ! % % + $0 :. 2 &=> ? .

$ $ $ 0 & A $ & % % $ ! * % $ % " % ! ! 6&>& $ % '% 9& ( 3 % $ $ .9 7! 6 7! < 7! ! 6&:& $ %7 8& ( ( % $ % % %7 '% " % $ && / -6 2 7! ! $ $ $ ! 6&@ $ % - /6 C ! 6&=& $ % '% " ! % $ ! ' $ 6 7! $ ( $ % ' 6 7! ) $ # " % ! % ! % ( % $ $ % ! !$ $ & ! $ ! # %! $% * ! ! $ # ! $ ' & ! ! & . % ! % # ' % ! ! & ! ! $ $ % " & '+. -/ 0 $ " " & + " $ )$ % ' ! ! $ )$ # ! ' $ $ & % $ ! * ! ! ! % $ $ ! % ! %* ! ! ! " * / ! !$ % # # ." % % $ # ! 6&D 0 ' ! ) + ! $ % ! % % .' B !$ % ! $ & $ % $ % ) # % $ $ $ $ ' % & % ! ! ! !$ % 5 " ! 6&D ( % 8 .. & ) # 0 # ! ! .

. 1& 0 ! ! !$ ! $ % % + $ % !$ % '!& ! $ ! ! ! ! ( !$ & $ % 66. 0 $ $ )! $ 8! 6 67 ' ! -/ $ $ . ' " ' " '! ! % $ 1 % % ! ' ! $ % ' ' !$ " -111 2 ! ! ! =9:6 = 7 & 7 " 7 & ( $ # ' * * % 9. 0& !$ !$ 9 .48D.. 0& !$ $ % . 5 $ " $ ( 0 ! % ! 8& ! ' * % & 6 5 ! % ' / -/ $ 3111 4. $ % & $ % . # ! 8&D A # ... $ / B " 2" ( # :.. 9 D> $ % $ ! ' & := 7 & ) $ 7 $ ! 8& A ! $ $ & 9. 67 $ 67 & .## ( .. -/ 0 ## " " % & ! ! % ! -/ ' $ & ! $ ! . -/ 0 ! 8&6 * % # !/ ' . ) :. ' 0 $ ! ! " 2" % 9:... 7 ! 8&6 $ ! % . ) :. 0 8&8 A % $ ! -/ #3 ! ..9 4.

2 $ A % ! %! $ $ % -/ # ! " !& $ & % $ 9:=.-/0 % $ & ! ! * " $ ! 8&: A ! 6 7-/ - 4 A ! * ( " $ ! 5 ! !$ % % $ ! !$ $ &A % & $ 9& * % & ! $ & ! ! $ $ % " $ ! % * ! 5 % 2 $ ! % $ $ $ % # $ " ! * / ( -/ $ $ ! D " ! ! ! ! 9&6 ! * $ %* A ! 9:=. ( " % ( % % $ ! ! $ " %* $ $ $ % $ # %* $ & 3 $ % & : .7 & % !$ ' " * -/ ! % & ( $ $ $ $ ! ! ) * ! !$ $ & 7 % -# % ! 9& ! $ 8 ' ' . 6 7 ! $ $ # # & + $ $ ! % * ! 5 $ * 6 ! ! $ 5 $ " ! ! % % * * / $ % % % 2 ! 8&9 ! 6 7-/ $ %* !& " ! $ ! % . 6 7 > > 89 7 ' ' * / ' ' # ! % .

0 " ! $% ! ! # " ! 9&9 # %! % ! -/ * . 0 = .A %* $ $ ! ! " ! ! ! 9&8 # % !! ! -/ * ! ! $ ! ! $ !$ # !$ " % * % !$ ) ! $ ! ! ! $ 9&8 $ ! % $ % ! % %* " ! % % $ E " ! % $ $ $ ! ! % % $ ! %E " ! % ! $ ! % $ $ ! ! %& ! " %* ! % $ ! * % $ ! * $ $ ! $ ! * & $ " % $ % %* $ ' ! % 5 % % $ $ !$ ! ! ! % $ & -% ' ' * / ' 4 ' ' . ! 9&9 % # ! % ! %& * $ $ ! ' * % ! -/ ! !$ $ $ $ % # % & ' ! % ! & ( ) 7 ! $ $ ! * & $ " % %* ! ! $ ' & ! ! $ $ " * ! ! ! ! ! ! $ ! $ !$ ! ! # ! ! " $ $ # ! " ! ! ! ! $ ! ! $ $ ! ! % !$ ! ! " & + $ ! $ $ $ $ ! ! % $ * %& % !$ * ' % ! ! ' ! 7 9&9 ! % ! % $ % % & # % #& -3 *' % * / % ! ( ) $ " $ % # % 9&: * % & ! & & $% ! ! # " .

9 = > D 6 6: 6@ # # ) $ ! ! $ ! $ % $ -9 A $ % # 3 & 9& ( % ! $$ % $ & &' ! ! $ # # 9&: " ! % $ ! ! % -/ & % -/ % %* $ %* !0 % . # $ " ' $ . . 6 8 9 : ! . .+ !0 . 0 ." ! " ! $% ! = > D . :.D 9 6> 86 96 9@ :: =8 > 0 .9 .# .6 . . # # 0 2 D = . @> ! # " '& . . 6D:> @ >: >> >. # # =9 >6 >D D 0 .> . . =8 + " $ ! % # '+' % ! !$ $ $ $ * / ! % ! A % %* ! $ ! ! $ $ & ! ! % % $ % ! $ % # ! ! $ ! ! # ' & !$ $ ! ! ! % ' $ $ ! & " ! !$ . 2 # 0 ! % ' ! % ! " ! % ! ' ' " ! ! ! " $ ! $ ! & * / % % $$ ! 9 6> 86 6 69 : 6> : 6 => 68 D= -: # & $ # ! % * ! $ ! 9&= * % & 9&6 ( % # # $ $ .'0 $ 9&8 ( % $ $ ! # $ ! # ! % $ ! % $ . 6 8 9 : = > D ! . 0 .@ : 8>: = 6@9 D = ====> =8 : @= = 8 .# .9 !0 % .6 .8 # # ) . . ! 9&: .'0( ! ! % ( ! * ! % . .8 . 86 => D= .+ !0 .D # # ) .= .6 . .8 . .@.6 . = 66 6@ 8= :6 .89: :. 6 8 9 : = > D ! . ====> . # ! " # ! " ! !! 0 2 D > 888888 @ =====> @ 8 ! 9&= ! * ! % > .@.+ !0 .> 6= 9@ D8 D 0 .# . . # # !0 % .

& + 5 ) + * 5 + ) 6..! 6. ! $ ! $ B -$ ! 6. = !& $ $ ! % & ! # # $ $ $ ! % !$ ' ! ! :9 ( ! % !$ ! ! ! !$ " ! !$ & !$ ! % 3 =8 $ !$ $ & $ %* % :9 " ! ' ! !$ % ! $ ! ! " ! & ! $ % ! 3 =& ! ! # ! ! % $ & $ $ ! ' ! * !$ ! ' $ . %! * " % " ! ! $ ' ! ! $ % & $ % % $ # 2 $ $ ! ! !$ ! 9&= " ! ! ! 8. % ! $ ! % ! F G " % &) ! & & . + & @@9& D . 6 7 $ $ ! !$ % # & ! " # # $ $ $ ! $ $ ! % !$ ! ! $ ! !$ ! " ! & ( $ ! % !$ ! ! " $ .8 ..: 2A 1 '/ 01 2 # " $ % $344 ***& 1 &' !4 2 ?$ :& $&% !44 . F6G $ & ! % ! % % " $ $ # % ! ! " 3 # $ 8& $ $ 6& $ & A $ ! !$ & ! $ 9:=. " % 0& % ! * " % " ! % ! ! $ ' $ ! ! $ % & $ $ ! % " % :9 " ! ! 8." .. .= -& ( . = !& & ! $ % ! % 4 !$ % $ % %* % % $ % $ $ % % 6& A $ -/ # 8& ( ! & % ! ! % % $ $ $ % ! $ $ $ $ * " $ " !& % % ' * %$ " !)" ! " " % F9G % % * ! ' $ $ % $ F8G .- ! 9&= $ $ $ ! " % ' %* " %! $ 3 ! * % # 9& $ 0& :& 2 2 2 # $ ! % $ # # 3 3 68 D= 3@> $ ! $ ) $ ! ! ' $ .

. ) B 5 -$ ! 6.=& ( ! ! & & & & (& 86 68 86 3 HHHHHHH& @ .9& & 6 % $344 & 6. $ &' !4 & ' # 3 .=& FDG F@G &/ $ .9& & B ' 3 $ ) ) & ! 5 . & A& .F:G F=G * % +& & ) .$ & & ***4 * 4 &(-B . ( &. & 3 % & + ...= & & * ( * 3 3 6. ! + .! & " * & '& ( ! ! 3 ' 5I + % & J % &' ! * @@ & % @D: ( 9 ! .= & * + 3 $ ) & + .. + @DD& & & ! " 4 5 ' & ' *2 ( % / !$ ! . 4 ( % * ( " & 6. B -$ ! 6.! 6.% @@ & (& . 11# 3 #0 6 + & -( F>G * % $34***&! 6.G F G & &. * % F . (& 8 ==D 9D: 3 HHHHHHH& F 6G F 8G F 9G 222 $ & % $344***& .=& * 2* .. ! ( ....