P. 1
MPKP

MPKP

|Views: 757|Likes:

More info:

Published by: Sateriya Sigit Jenaka on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2014

pdf

text

original

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (PILAR III DAN PILAR IV

)

Dosen Pembimbing: Ruly andika, S. Kep., Ns.

Oleh : Satrio Sigit Prasojo 108 109 083

S-1 KEPERAWATAN STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP 2012

PILAR III dan PILAR IV

A. Hubungan profesional (profesional realition ship) Hubungan profesional dalam pemberian pelayanan keperawatan

merupakan standar dari hubungan antara pemberi pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dan penerima pelayanan keperawatan (klien dan keluarga) (Cameron, 1997 dalam Elizabeth & Kathleen. 2003, Hal 29). Pada pelaksanaannya hubungan profesional bisa saja terjadi secara internal artinya hubungan yanu terjadi antara pemberi pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat antara perawat dengan tim kesehatan dan lainlain. Sedangkan hubungan profesional secara ekstemal adalah hubungan yang terjadi antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Kedua hubungan tersebut merupakan suatu siklus yang tidak terpisahkan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Fokus dari makalah ini adalah lebih pada hubungan profesional secara internal artinya hubungan yang terjadi antara perawat dengan perawat, perawat dengan tim kesehatan lainnya. Hubungan yang terjadi diantara tim tidak terlepas dari komunikasi secara profesional di dalam bekerjasama secara tim. Menurut Gillies (1994) hubungan profesional yang terjadi di antara tim tergantung pada kemampuan memimpin. Bentuk jaringan dalam komunikasi hubungan profesional ada beberapa cara yaitu: 1. 2. Horisontal yaitu komunikasi yang terjadi antara sesama manajer. Vertikal yaitu komunikasi yang lerjadi antara pimpinan atas dengan bawahan. 3. Diagonal yaitu komunikasi yam: terjadi antara berbagai jenjang dan masih dalam lingkungan yang sama (Cameron. IW7 dalam Elizabeth & Kathleen. 2003).

antar perawat pelaksana. Fokus pembicaraan adalah membahas hasil-hasil kerja keperawatan selama sebulan semua aktivitas ruang MPKP (laporan bulanan). Modul ini akan membahas dengan rinci tentang hubungan profesional yang terjadi di ruang Model Praktek Keperawatan Profesional yaitu : 1. Komunikasi diagonal dilakukan antara perawat dan profesi Iain.Di ruang MPKP komunikasi horizontal dapat terjadi antara Ketua Tim. Rapat perawat ruangan 2. Syarat Rapat keperawatan Ruangan 1) Dipimpin oleh kepala ruangan 2) Peserta rapat adalah seluruh perawat ruangan tanpa mengganggu kegiatan ruangan Waktu : 60 menit . b. sedangkan komunikasi vertikal antara Kepala Ruangan dan Ketua Tim dan Perawat Pclaksana dan antara Ketua Tim dan Perawat Pelaksana. Tujuan Rapat keperawatan Ruangan 1) Mengidentifikasi keberhasilan tindakan keperawatan 2) Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang ditemukan 3) Mendiskusikan penyelesaian masalah 4) Menyusun POA bulan berikut 5) Meningkatkan hubungan antara perawat di ruangan c. Case conference 3. Pengertian Rapat keperawatan Ruangan Yang dimaksud dengan rapat tim keperawatan adalah suatu media komunikasi untuk menyampaikan informasi permasalahan yang ditemukan pada pasien evaluasi hasil kerja secara keseluruhan. Rapat tim kesehatan 4. Visit dokter 1. Rapat Keperawatan Ruangan a. informasi / peraturan / perkembangan IPTEK dan lain-lain.

Memberi pujian atas aspek yang berhasil d) Kepala ruangan meminta masukan dan tanggapan kepada perawat yang hadir tentang masalah yang ada e) Kepala ruangan mendengarkan masukan dan tanggapan dari yang hadir f) Kepala ruangan beserta perawat yang hadir rapat mencari jalan keluar dan memutuskan tindakan bersama tindakan yang dilakukan g) Kepala ruangan menyimpulkan hasil rapat pada pertemuan hari ini h) Kepala ruangan menyampaikan POA bulan berikutnya. pertemuan berikutnya dan permasalahan yang akan dibahas. hubungan profesional. 2) Pelaksanaan a) Acara dimulai dengan pembukaan salam oleh kepala ruangan b) Kepala ruangan menjelaskan tujuan atau agenda rapat keperawatan. Langkah-langkah Rapat keperawatan Ruangan 1) Persiapan a) Kepala ruangan menjadwalkan rapat keperawatan ruangan dan disepakati oleh semua perawat yang ada diruangan b) Menyiapkan kerja bahan untuk rapat sesuai dengan hasil pada bulan sebelumnya yaitu laporan pada bulan dengan sebelumnya. compensatory reward. Masalah yang akan dibahas terkait pilar profesional MPKP yailu pendekatan manajernen. .3) Dilakukan setiap awal bulan setelah evaluasi bulan sebelumnya 4) Bahan rapat: isi laporan bulan sebelumnya 5) Dilakukan di ruangan d. lamanya waktu rapat c) Kepala ruangan membacakan ringkasan laporan bulan sebelumnya tentang permasalahan yang dihadapi. asuhan keperawatan pasien.

Syarat Case Conference Keperawatan 1) Dipimpin oleh ketua tim atau kepala ruangan 2) Peserta adalah seluruh perawat ruangan tanpa menganggu kegiatan ruangan Waktu : 30. sesuai dengan penjadwalan masing-masing tim 4) Bahan : kasus pasien dipersiapkan oleh tim yang bertanggung jawab alternatif penyelesaian masalah asuhan . Topik atau isi dari kasus yang disampaikan adalah : 1) kasus pasien baru 2) kasus pasien yang tidak ada perkembangan 3) kasus pasien pulang 4) kasus pasien yang meninggal 5) kasus pasien dengan masalah yang jarang ditemukan b. Case Conference Keperawatan a.60 menit 3) Dilakukan : 2 kali sebulan atau disesuaikan dengan kondisi dan tingkat urgensi. Dilakukan dua kali per bulan dan kasusnya bergantian antar tim. Tujuan Case Conference Keperawatan 1) Mengenal kasus dan permasalahan 2) Mendiskusikan keperawatan 3) Meningkatkan koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan 4) Meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam menangani kasus c. 2. Pengertian Case Conference Keperawatan Yang dimaksud dengan case conference adalah diskusi kelompok tentang kasus asuhan keperawaian pasien / keluarga.3) Dokumentasi Kepala ruangan melakukan dokumentasi hasil rapat tim dengan dibantu salah satu ketua tim sebagai notulis rapat.

Pengertian Rapat Tim Kesehatan Yang dimaksud dengan rapat tim kesehatan adalah media komunikasi antara tim kesehatan (rapat multidisiplin) untuk membahas manajerial ruang MPKP. Fokus pembicaraan rapat ini adalah membahas hal-hal yang terkait dengan manajerial. . kontrak pertemuan berikut dan menutup kegiatan 3) Dokumentasi a) Ketua tim mendokumentasi hasil dari case conference b) Kepala ruangan menilai kemampuan ketua tim dalam melakukan case conference 3.5) Dilakukan di ruangan d. Langkah Case Conference Keperawatan 1) Persiapan a) Masing-masing ketua tim sudah menjadwalkan kegiatan case conference dan sudah disepakati oleh kedua tim b) Jadual pelaksanaan case conference sudah terjadual c) Ketua tim yang akan menyelenggakan case conference pada waktu yang sudah ditetapkan menyiapkan bahan yang akan disampaikan saat case conference 2) Pelaksanaan a) Acara dimulai dengan pembukaan salam oleh ketua tim b) Ketua tim menyampaikan kasus yang dibahas dan tindakan keperawatan yang sudah dilakukan c) Ketua tim minta masukan kepada perawat tentang permasalahan yang dihadapi d) Ketua tim menyimpulkan hasil secara keseluruhan dari kegiatan case conference secara khusus tindak lanjut untuk kasus yang disajikan e) Ketua tim menyampaikan POA. Rapat Tim Kesehatan a.

b. Adapun balian rapat yang digunakan adalah laporan pada bulan sebelumnya. Masalah yang akan dibahas bisa permasalahan pasien/ keluarga. ataupun anggaran yang diperlukan. Bentuknya bisa berupa kebijakan. prosedur tetap. Langkah Rapat Tim Kesehatan 1) Persiapan a) Kepala ruangan menjadwalkan rapat tim kesehatan ruang MPKP dan disepakati oleh semua perawat dan tim kesehatan yang terlibal di ruangan b) Menyiapkan bahan untuk rapat tim kesehatan. 2) Pelaksanaan a) Acara dimulai dengan pembukaan salam oleh kepala ruangan b) Kepala ruangan menjelaskan tujuan atau agenda rapat tim kesehatan. perawat dan tim kesehatan lainnya atau kerjasama. Syarat Rapat Tim Kesehatan 1) Dipimpin oleh kepala ruangan 2) Peserta: karu. profesi lainya 3) Waktu : 60 menit 4) Dilaksanakan di ruangan 5) Dilakukan : setiap satu bulan sekali 6) Bahan : laporan bulan lalu atau kasus d. Tujuan Rapat Tim Kesehatan 1) Menyamakan persepsi terhadap informasi yang didapatkan dari masalah yang ditemukan. sarana dan prasarana yang terkait dengan pemberian pelayanan kesehatan. khususnya masalah manajerial 2) Meningkatkan kesinambungan pemberian pelayanan kesehatan 3) Mengurangi kwsalahan informasi antar tim kesehatan 4) Meningkatkan koordinasi antara tim kesehatan c. katim. regulasi. koordinasi dan lainnya. lamanya waktu rapat .

c) Kepala ruangan membacakan laporan bulan sebelumnya tentang permasalahan yang dihadapi d) Kepala ruangan meminta masukan dan tanggapan kepada perawat dan tim kesehatan lain yang hadir tentang masalah yang ada e) Kepala ruangan mendengarkan masukan dan tanggapan dari yang hadir f) Kepala ruangan beserta peserta yang hadir mencari jalan keluar dan memutuskan tindakan bersama g) Kepala ruangan menyimpulkan hasil rapat pada pertemuan hari ini h) Kepala ruangan menyampaikan pertemuan berikutnya dan permasalahan yang akan dibahas 3) Dokumentasi Kepala ruangan melakukan dokumentasi hasil rapat tim kesehatan 4. Kolaborasi dengan Dokter Kolaborasi dengan dokter meliputi visite dokter dan kolaborasi yang dilakukan via telephon. Visite Dokter 1) Pengertian Visite Dokter Yang dimaksud dengan visit dokter adalah kunjungan dokter ke ruangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada pasien. 2) Tujuan Visite Dokter a) Meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan . a. dan ketua tim bertanggung jawab melakukan kolaborasi serta mendampingi dokter saat melakukan pemeriksaan dan menyampaikan informasi tentang pasien.

Kolaborasi Via Telephone 1) Pengertian Kolaborasi Via Telephone Konsultasi dengan dokter via telepon adalah melaporkan kondisi pasien kepada dokter melalui telepon.b) Meningkatkan koordinasi dalam pemberian pelayanan kesehatan c) Meningkalkan kesehatan 3) Syarat Visite Dokter a) Penanggung jawab visit dokter adalah ketua tim atau perawat asosiate yang bertanggung jawab terhadap pasien yang mendapat pendelegasian dari ketua tim b) Waktu : disesuaikan dengan kondisi pasien dan kesepakatan waktu jam visit c) Tempat : di ruangan pasien 4) Langkah Visite Dokter a) Ketua tim atau perawat yang didelegasikan yang menjadi penanggung jawab terhadap pasien atau keluarga kesinambungan pemberian pelayanan menyiapkan data-data yang dibutuhkan b) Ketua tim memberikan informasi tentang kemajuan dan masalah pasien. Konsultasi via telepon dilakukan jika menurut perawat pasien membutuhkan tindakan . tindakan yang dilakukan dan hasilnya kepada dokter c) Ketua tim mendampingi dokter saat melakukan pemeriksaan dan meminta dokter memberikan masukan terhadap hasil pemeriksaan d) Ketua tim mendiskusikan rencana tindakan lanjutan untuk pasien e) Ketua tim rnencatatkan hasil pemeriksaan dokter ke dalam catatan keperawatan b.

Untuk ini diperlukan seorang saksi yang ikut mendengarkan "instruksi" tersebut. Patient care delivery system management askep 1. 2) Tujuan Kolaborasi Via Telephone a) Meningkatkan pelayanan kesehatan pada kondisi tertentu b) Memberi pelayanan tim kesehatan jiwa yang segera kepada pasien c) Melaksanakan pendelegasian via telepon 3) Syarat Kolaborasi Via Telephone a) Perawat yang bertanggung jawab pasien hari terhadap pasien memutuskan bahwa kondisi tindakan dokler (pagi membutuhkan Katim. Pada saat berkonsultasi mungkin saja dokter memberikan "instruksi" berupa tindakan yang dilaksanakan oleh perawat.kedokteran. Pengkajian . sore/malam penanggung jawab shift) b) Waktu : setiap saat diperlukan c) Tempat : di ruang tempat pasien dirawat 4) Langkah Kolaborasi Via a) Perawat penanggung jawab pasien mengobservasi pasien b) Perawat menelepon dokter untuk berkonsultasi hasil observasi yang didapatkan c) Jika dokter memberikan instruksi via telepon. Proses Keperawatan Dalam proses keperawatan terdapat empat tahapan yaitu: a. maka satu orang perawat lain ikut mendengar instruksi sebagai saksi d) Perawat menulis instruksi dokter pada rekam medik pasien e) Dokter menuliskan instruksi via telepon dalam waklu 24 jam B.

sosio-ekonomi. (1) Pengumpulan data Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi yang dilakukan secara sistematis dan kontinyu tentang status kesehatan klien untuk menentukan masalah-masalah serta kebutuhan-kebutuhan keperawatan klien. Area yang termasuk respon klien antara lain kegiatan sehari-hari. Dari semua informasi yang terkumpul didapatkan data dasar berupa riwayat kesehatan/ keperawatan. kemampuan dalam mengatasi masalah sehari-hari. (1995) proses pengkajian terdiri atas empat kegiatan. masalah kesehatan dan keperawatan yang mengganggu kemampuan klien. yaitu: pengumpulan data. dan data berupa kontribusi informasi dari tenaga kesehatan lainnya. termasuk hasil laboratorium dan tes diagnostik. organisasi data. pengkajian fisik. validasi data. kultural dan spiritual (Yura & Wals. Tujuan pengumpulan data adalah untuk memperoleh informasi dan menilaii tentang keadaan kesehatan klien. Menurut Kozier et al. dan keadaan sekarang yang berkaitan dengan rencana asuhan keperawatan yang akan dilakukan terhadap klien. dan analisa data. Informasi yang diperlukan adalah segala sesuatu penyimpangan tentang klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual. untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan serta .Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang respon klien agar dapat mengidentifikasi dan mengenali masalah atau kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien. 1988). emosional. riwayat pengobatan dan pemeriksaan fisik.

tekanan darah. mual. yang dapat memberikan informasi yang lengkap tentang masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapinya. perasaan. nilai-nilai. termasuk sensasi klien. Sedangkan sumber data tersier adalah data yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan.. sekunder. Sumber data primer adalah data-data yang dikumpulkan langsung dari klien. kepercayaan. dan lain lain. dan persepsi terhadap status kesehatan dan situasi kehidupan. Sedangkan data objektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengamatan. sebaiknya dilakukan penggolongan atau . (Craven & Hirnle. 1995). dan tersier. Sumber data yang dapat dipergunakan untuk pengumpulan data adalah sumber data primer. analisis diagnostik. misalnya: perubahan warna kulit. Dalam pengumpulan data agar dapat terkumpul dengan baik dan terarah. sakit kepala. dan lain lain. rekam medik dan dari literatur yang relevan. pengetahuan. Sumber data sekunder adalah data-data tidak langsung dari klien yang dikumpulkan dari sumber lain. Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan-keluhan yang disampaikan oleh klien. laboratorium. cemas. Kozier et al. suhu tubuh. pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standar yang diakui (berlaku). 2000. perubahan perilaku. misalnya: rasa nyeri. seperti keluarga. profesional kesehatan lain. rasa kuatir. Jenis data yang dikumpulkan dapat berupa data subjektif dan data objektif.membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkahlangkah berikutnya. teman.

hasil pemeriksaan penunjang seperti laboratorium. Dalam keperawatan tujuan utama dari wawancara adalah untuk mengetahui riwayat kesehatan/ keperawatan. pola kebiasaan. riwayat kesehatan keluarga. riwayat kesehatan sebelumnya. spiritual. serta untuk menjalin hubungan perawat-klien. radiologi. keadaan fisik. 2) Pengamatan (Observasi). Pengamatan adalah mangamati perilaku dan keadaan klien untuk memperoleh data tentang masalah keperawatan. psikologis. dan faktor-faktor spesifik dari perubahan status kesehatan dan pola kehidupan klien. 2) Lakukan seleksi dan interpretasi dari data yang diamati menyangkut aspek bio-psiko-sosio- . Wawancara dapat dilakukan dengan klien langsung atau dengan orang yang terdekat dengan klien. sosial. mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dan faktor-faktor risiko. Cara yang digunakan dalam pengumpulan data adalah: 1) wawancara (Interview/ Anamnese) Menurut Potter dan Perry (1997) wawancara adalah suatu pola dalam memulai komunikasi dengan tujuan yang spesifik dan terarah dalam area tertentu. electrocardiograph.klasifikasi data berdasarkan: keluhan utama. dan keadaan khusus lainnya yang berhubungan. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengamatan: 1) Tidak melakukan stimuli kepada klien/ tidak diketahui oleh klien sehingga data yang diperoleh murni.

Palpasi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara perabaan terhadap bagian-bagian tubuh yang mengalami kelainan. palpasi. penciuman. b. 2000. bunyi jantung. hasil data yang diperoleh misalnya: sclera mata berwarna kuning (icterik). c. 1995). wajah pucat. d. 2000. misalnya: perabaan pada bagian tubuh yang diduga adanya radang. Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi. dan perkusi (Craven & Hirnle. pemeriksaan kehamilan. dan rasa untuk mendeteksi masalah kesehatan klien. dan lain-lain. dan lain-lain. 3) Pemeriksaan fisik. Kozier et al. misalnya: mendengar bising usus. bunyi paru-paru. oedem. Kozier et al. auskultasi. kulit kebiruan (ciyanosis).. pembengkakan. Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan memakai indera penglihatan. 1995). 1997. Auskultasi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan pendengaran dan dibantu dengan penggunaan statescope. a. pendengaran. Inspeksi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. Potter & Perry. Perkusi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mengetuk bagian tubuh yang dilakukan dengan cara menggunakan ujung-ujung jari tangan atau . dan lain-lain.spiritual klien (Craven & Hirnle.

Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien.( Kim et al. dan hasil dari pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik diperlukan untuk keberhasilan pemeriksaan yang merupakan sekumpulan informasi yang berguna untuk menetapkan masalah keperawatan serta meningkatkan intervensi keperawatan yang tepat waktu dan sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan (Doenges. Moorhouse & Burley. prosedur. Hal ini merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa. Diagnosa keperawatan memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti dimana perawat bertanggung jawab di dalamnya.menggunakan alat seperti reflek hammer pada pemeriksaan reflek. Pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik merupakan bagian dari tahap pengumpulan data. Di beberapa negara mendiagnosa diidentifikasikan dalam tindakan praktik keperawatan sebagai suatu tanggung jawab legal dari seorang perawat profesional. 1984). . Diagnosa Keperawatan Adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. 1995). hal ini sangat membantu dalam penatalaksanaan. b. pemeliharaan dan restorasi kesehatan. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi. dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat. 4) Pemeriksaan penunjang. dimana perawat mengidentifikasi respon-respon individu terhadap masalahmasalah kesehatan yang aktual dan potensial. Pengetahuan tentang tujuan.

1987 ). Evaluasi. Analisa. Pengkajian. Implementasi.Proses keperawatan telah diidentikkan sebagai metoda ilmiah keperawatan untuk para penerima tindakan keperawatan disajikan sesuai dengan lima langkah dari proses keperawatan : a. dan "S" menggambarkan sekelompok tanda dan gejala. Menetapkan data dasar seorang klien b. "E" menunjukan etiologi / penyebab dari problem. Menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan keperawatan yang telah dicapai. Perencanaan. Etiologi ditunjukan melalui pengalaman-pengalaman individu yang telah lalu. Kemudian diagnosa-diagnosa tersebut dituliskan dengan cara berikut : " Problem " yang berhubungan dengan "etiologi" dibuktikan oleh "tanda-tanda dan gejala-gejala" ( batasan karakteristik ). Memulai dan melengkapi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan e. Identifikasi kebutuhan perawatan klien dan seleksi tujuan perawatan c. Komponen Diagnosa Keperawatan Ada tiga komponen yang esensial dalam suatu diagnosa keperawatan yang telah dirujuk sebagai bentuk PES. Merencanakan suatu strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan untuk perawatan klien. atau apa yang dikenal sebagai “ batasan karakteristik” ketiga bagian ini dipadukan dalam suatu pernyataan dengan menggunakan “ yang berhubungan dengan ”. Problem dapat diidentifikasikan sebagai respons manusia terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual atau potensial sesuai dengan data-data yang didapat dari pengkajian yang dilakukan oleh perawat. "P" diidentifikasi sebagai masalah / problem kesehatan. pengaruh genetika. faktor-faktor lingkungan yang ada saat . d.( Gordon.

yang Setelah tepat dan pengembangan keperawatan diagnosa perawat menggunakan kemampuan berfikir kritis untuk segera menetapkan prioritas diagnosa keperawatan dan intervensi yang penting sesuai dengan kebutuhan klien (Potter & Perry.ini. Salah satu metode dalam menetapkan prioritas dengan mempergunakan hirarki kebutuhan menurut Maslow. tahap yang sistematis dari proses keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan pemecahan masalah. menurunkan. (1995) perencanaan adalah sesuatu yang telah dipertimbangkan secara mendalam. Tanda dan gejala menggambarkan apa yang klien katakan dan apa yang diobservasi oleh perawat yang mengidentifikasikan adanya masalah tertentu. 1997). dan low priority. 1997). Langkah-langkah dalam membuat perencanaan keperawatan meliputi: penetapan prioritas. perawat menetapkannya berdasarkan hasil pengumpulan data dan rumusan diagnosa keperawatan yang merupakan petunjuk dalam membuat tujuan dan asuhan keperawatan untuk mencegah. menentukan rencana dirumuskan intervensi asuhan secara keperawatan keperawatan. antara lain high priority. Penetapan prioritas dilakukan karena tidak semua masalah dapat diatasi dalam waktu yang bersamaan. penetapan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan. Penetapan prioritas bertujuan untuk mengidentifikasi urutan intervensi keperawatan yang sesuai dengan berbagai masalah klien (Carpenito. Dalam perencanaan keperawatan. c. atau mengeliminasi masalah kesehatan klien. Menurut Kozier et al. spesifik. Dalam menetapkan prioritas perawat juga harus memperhatikan nilai dan . atau perubahan-perubahan patofisiologis. Prioritas dapat diklasifikasi menjadi tiga tingkatan. intermediate priority. Rencana Keperawatan Langkah ketiga dari proses keperawatan adalah perencanaan.

Tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan menentukan efektivitas dari intervensi keperawatan.kepercayaan klien terhadap kesehatan. Terlihat/ dapat diamati. g. h. masalah yang mendesak. 1997). Mencakup kriteria hasil yang merupakan dasar untuk melakukan evaluasi. dan sumber-sumber klien serta sistem pelayanan keperawatan (Bandman & Bandman. Dapat diukur. antara lain: a. Diagnosa keperawatan klien dan penetapan prioritas membantu dalam menentukan tujuan keperawatan. dan rencana pengobatan medis. Tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan merupakan petunjuk untuk intervensi keperawatan pada individu. dalam Potter & Perry. f. prioritas klien. e. pentingnya masalah kesehatan yang dihadapi. . 1995. d. Evaluasi kritis perawat dalam menetapkan tujuan dan ukuran hasil yang diharapkan ditekankan pada diagnosa. 1997). b. 1994. c. Adanya batasan waktu. Tujuan penulisan rencana asuhan keperawatan dan kriteria hasil yang diharapkan adalah: a. Tujuan adalah petunjuk untuk menyeleksi intervensi keperawatan dan kriteria hasil dalam mengevaluasi intervensi yang telah diberikan (McCloskey & Bulechek. sumber yang tersedia untuk klien dan perawat. Berpusat pada klien. Dalam penulisan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan terdapat beberapa petunjuk. dalam Potter & Perry. Merupakan hasil akhir yang ingin dicapai. Realistik. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah dirumuskan. b.

kulit. antara lain: . dan lain-lain. menetapkan jadwal personal. Cognitive implementations. Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori dari implementasi keperawatan. perawat dapat melakukannya sesuai dengan rencana keperawatan dan jenis implementasi keperawatan. mengawasi tim keperawatan. 1997). melakukan meliputi pemberian rutin perawatan aktivitas keperawatan. meliputi koordinasi kegiatankegiatan. kolaborasi. memberikan dukungan spiritual. dalam Potter & Perry. meliputi pengajaran/ pendidikan. b. 1994. c. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon. memberikan umpan balik. mengawasi penampilan klien dan keluarga. Technical kebersihan implementations. dan rujukan. bertindak sebagai advokasi klien. Interpersonal implementations. meningkatkan pelayanan. menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-hari. Sedangkan dalam melakukan implementasi keperawatan. dan lain lain. role model. dan lain lain. membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi. melakukan tindakan keperawatan mandiri. antara lain: a. mengorganisir respon klien yang abnormal. menciptakan komunikasi terapeutik. pengungkapan perasaan. menemukan perubahan dari data dasar klien.d. serta menciptakan lingkungan sesuai kebutuhan. Dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis implementasi keperawatan.

memberikan perawatan diri. adalah tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain. Interdependen/ Collaborative implementations.a. c. Independent implementations. ketepatan dosis pemberian. dosis. perawatan alat invasive yang dipergunakan klien. misalnya dalam hal: pemberian nutrisi pada klien sesuai dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi. seperti dokter. ketepatan jadwal pemberian. ketepatan cara pemberian. latihan fisik (mobilisasi fisik) sesuai dengan anjuran dari bagian fisioterapi. kateter urin. physiotherapies. dan lain-lain. memberikan dorongan motivasi. psikolog dan sebagainya. seperti ahli gizi. misalnya: membantu dalam memenuhi activity daily living (ADL). menciptakan lingkungan yang terapeutik. . infus. jenis obat. pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-spiritual. adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan tim kesehatan lainnya. Keterkaitan dalam tindakan kerjasama ini misalnya dalam pemberian obat injeksi. serta respon klien setelah pemberian merupakan tanggung jawab dan menjadi perhatian perawat. mengatur posisi tidur. Contohnya dalam hal pemberian obat oral. b. dan lain-lain. melakukan dokumentasi. adalah implementasi yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan kebutuhan. Secara operasional hal-hal yang perlu diperhatikan perawat dalam pelaksanaan implementasi keperawatan adalah: (1) Pada tahap persiapan. dan ketepatan klien. Dependent implementations. dan efek samping merupakan tanggungjawab dokter tetapi benar obat. obat injeksi. naso gastric tube (NGT).

kemampuan hubungan antar manusia dan kemampuan teknis keperawatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan oleh perawat.(a) Menggali perasaan. e. (4) Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan tindakan adalah energi klien. . analisis kekuatan dan keterbatasan professional pada diri sendiri. (c) Menguasai keterampilan teknis keperawatan. (2) Beri kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya terhadap penjelasan yang telah diberikan oleh perawat. (i) Penampilan perawat harus menyakinkan. Pada tahap pelaksanaan. (f) Memahami kode etik dan aspek hukum yang berlaku dalam pelayanan keperawatan. privacy. (b) Memahami rencana keperawatan secara baik. kondisi klien. (e) Mengetahui sumber daya yang diperlukan. (1) Mengkomunikasikan/ menginformasikan kepada klien tentang keputusan tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat. (d) Memahami rasional ilmiah dari tindakan yang akan dilakukan. (h) Memahami efek samping dan komplikasi yang mungkin muncul. pencegahan kecelakaan dan komplikasi. rasa aman. respon klien terhadap tindakan yang telah diberikan. (3) Menerapkan pengetahuan intelektual. (g) Memahami standar praktik klinik keperawatan untuk mengukur keberhasilan.

Evaluasi Keperawatan Menurut Craven dan Hirnle (2000) evaluasi didefenisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon prilaku klien yang tampil. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.f. Mendapatkan umpan balik. Perawat menggunakan berbagai kemampuan dalam memutuskan efektif atau tidaknya pelayanan keperawatan yang diberikan. ada beberapa kegiatan yang harus diikuti oleh perawat. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan. Tujuan dari evaluasi antara lain: a. respon klien yang normal. Dalam melakukan proses evaluasi. b. g. (1) Terus memperhatikan respons klien terhadap tindakan keperawatan yang telah diberikan. Sebagai tanggungjawab dan tanggunggugat dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. (3) Rapikan peralatan dan lingkungan klien dan lakukan terminasi. (4) Lakukan pendokumentasian. e. antara lain: . efisiensi. Untuk memutuskan hal tersebut dalam melakukan evaluasi seorang perawat harus mempunyai pengetahuan tentang standar pelayanan. Untuk menilai efektifitas. dan produktifitas dari tindakan keperawatan yang telah diberikan. Pada tahap terminasi. d. dan konsep model teori keperawatan. (2) Tinjau kemajuan klien dari tindakan keperawatan yang telah diberikan. c.

e. Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Area yang menjadi perhatian pada evaluasi proses mencakup jenis informasi yang didapat pada saat wawancara dan pemeriksaan fisik. 2000). Voughan – Wrobel. evaluasi terbagi menjadi tiga jenis. Persediaan perlengkapan. dan sesuai wewenang. Respons prilaku klien merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil. c. Evaluasi proses.a. validasi dari perumusan diagnosa keperawatan. & Erlen (1986. b. c. yaitu: a. dan kemampuan tehnikal perawat. Menurut Ziegler. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan. Evaluasi struktur. Evaluasi struktur difokuskan pada kelengkapan tata cara atau keadaan sekeliling tempat pelayanan keperawatan diberikan. fasilitas fisik. Evaluasi proses berfokus pada penampilan kerja perawat dan apakah perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan merasa cocok. . Aspek lingkungan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi dalam pemberian pelayanan. Evaluasi hasil. tanpa tekanan. Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawatan bila perlu. d. dukungan administrasi. Mengkaji ulang tujuan klien dan kriteria hasil yang telah ditetapkan. b. pemeliharaan dan pengembangan kompetensi staf keperawatan dalam area yang diinginkan. ratio perawat-klien. dalam Craven & Hirnle. Mengukur pencapaian tujuan. Mencatat keputusan atau hasil pengukuran pencapaian tujuan.

9. jangan balas dengan sikap yang serupa. 5. Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan perawat untuk melakukan tindakan keperawatan. Sebagai gantinya pulihkan. Redakan amarah. Jangan mau terlibat dalam adu mulut. Berpikir dulu sebelum melontarkan kata-kata. maafkanlah dia dan ampuni serta lupakan. dan jangan berucap sebelum orang lain usai berbicara. Ungkapkanlah hal-hal yang benar saja. 6. Norman Wright) Jadilah pendengar yang setia. beri semangat dan bangkitkan gairah hidupnya. Jika orang lain menyerang. ini justru membuat orang lain frustrasi. jangan lontarkan kata-kata amarah. Jangan mempersalahkan atau mengeritik orang lain. tetapi gunakanlah nada tidak berselisih. 4. 8. anda boleh tidak setuju.Pedoman Komunikasi (H. Cobalah ikut merasakan kepentingan orang lain. Jika orang lain mengakui kesalahannya. Standar Operasional Prosedur Pengertian SOP 1. 2. akuilah dan minta maaf. Janganlah berbicara tergesa-gesa. Jika anda bersalah. Jelaskan mengapa kata-kata anda tersendat-sendat. 3. Izinkan perbedaan pendapat. 7. Jangan bersikap cengeng. Ucapkan kata-kata yang mudah dipahami. mengeritik atau mempersalahkan anda. Cobalah memahami pendapat orang lain. 1. Jangan diam. SOP merupakan tatacara atau tahapan tindakan keperawatan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses implementasi keperawatan . 2.

Memperlancar tugas perawat dalam melakukan tindakan 2. Sebagai pedoman dalam melaksanakan tindakan keperawatan rutin. Sebagai panduan dalam perawat melakukan tindakan keperawatan 2. Mengarahkan perawat untuk disiplin dalam bejerja 5. 3. pelayanan yang diperlukan klien secara berkelanjutan dan bantuan untuk perawatan berlanjut pada klien dan membantu keluarga menemukan jalan pemecahan masalah dengan baik. pada saat tepat dan sumber yang tepat dengan harga yang terjangkau (Doenges & Moorhouse: 94-95). Discharge planning yang efektif juga . Melindungi perawat dari kesalahan kerja atau malapraktek Fungsi : 1. Kapan SOP diperlukan 1. SOP digunakan untuk menilai apakah tindakan keperawatan tersebut sudah dilakukan dengan baik atau tidak C. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan. Mengetahui dengan jelas tahapan demi tahapan tindakan yang akan dilakukan 4. DISCHARGE PLANING Pengertian Discharge Planning (Perencanaan Pulang) merupakan komponen sistem perawatan berkelanjutan. Tujuan Tujuan utama adalah membantu klien dan keluarga untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.Tujuan SOP 1. Agar mengetahui dengan jelas tahapan – tahapan tindakan keperawatan secara urut 3. SOP harus sudah ada sebelum suatu tindakan keperawatan dilakukan 2.

Discharge Planning harus disesuaikan dengan: 1. penurunan kembali di rumah sakit. tersedianya tim kesehatan Dimulai sejak awal masuk rumah sakit. dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa. Bahan pendokumentasian keperawatan. Menurunkan jumlah kekambuhan. Disusun oleh tim . Selain itu. obat-obatan dan aktivitas yang boleh dilakukan di rumah. 2. 3. Kebutuhan klien. Rencana pulang yang dimulai pada saat pasien masuk rumah sakit dan secara periodik diperbaiki mencapai tahap akhir dan segera dilaksanakan. penting bagi pasien dan keluarga mengetahui apa yang telah dilaksanakan dan bagaimana mereka dapat meneruskan untuk meningkatkan status kesehatan pasien. Periksa apakah pasien/orang terdekat telah mendapat instruksi tertulis atau instruksi verbal tentang penanganan. 3. Hal-hal yang perlu diperhatikan Meskipun pasien telah dipulangkan. Manfaat 1. Tanda dan gejala yang menunjukkan perlunya kontak yang terus-menerus dengan pelayanan kesehatan perlu ditinjau. Membantu klien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan biaya pengobatan. ringkasan pulang tersebut dapat disampaikan oleh perawat praktisi/perawat home care dan mungkin dikirim ke dokter primer/dokter yang terlibat untuk dimasukkan dalam catatan institusi untuk meningkatkan kesinambungan perawatan dengan kerja yang kontinu ke arah tujuan dan pemantauan kebutuhan yang berubah (Doenges & Moorhouse: 126).menjamin perawatan yang berkelanjutan di saat keadaan yang penuh dengan stress. 2.

Data Pribadi c. Perencanaaan: Hasil yang diharapkan Menurut Luverne & Barbara. Environment (Lingkungan) . Ketika melakukan pengkajian kepada klien.Tahap-tahap Discharge Planning Pengkajian Pengkajian mencakup pengumpulan dan pengorganisasian data tentang klien. Kelompok perawat berfokus pada kebutuhan rencana pengajaran yang baik untuk persiapan pulang klien. yaitu: a. 1988. Elemen penting dari pengkajian discharge planning adalah: a. b. Keuangan dan Pelayanan yang dapat mendukung Diagnosa Diagnosa keperawatan didasarkan pada pengkajian discharge planning. yang disingkat dengan METHOD. Keluarga sebagai unit perawatan memberi dampak terhadap anggota keluarga yang membutuhkan perawatan. Klien dan keluarga harus aktif dilibatkan dalam proses discharge agar transisi dari rumah sakit ke rumah dapat efektif. Medication (obat) Pasien sebaiknya mengetahui obat yang harus dilanjutkan setelah pulang. perencanaan pemulangan pasien membutuhkan identifikasi kebutuhan spesifik klien. dikembangkan untuk mengetahui kebutuhan klien dan keluarga. Adalah penting untuk menentukan apakah masalah tersebut aktual atau potensial. Lingkungan e. Pemberi Perawatan d. keluarga merupakan bagian dari unit perawatan. Data Kesehatan b.

perencanaan harus dibuat sehingga seseorang dapat berkunjung ke rumah untuk memberikan keterampilan perawatan. Treatrment (pengobatan) Perawat harus memastikan bahwa pengobatan dapat berlanjut setelah klien pulang. Seperti informasi tentang jenis pembedahan. Pasien juga sebaiknya memiliki fasilitas pelayanan yang dibutuhkan untuk kontinuitas perawatannya.Lingkungan tempat klien akan pulang dari rumah sakit sebaiknya aman. f. factor social yang . pengobatan (termasuk kebutuhan terapi cairan IV di rumah). yang dilakukan oleh klien atau anggota keluarga. Diet Klien sebaiknya diberitahu tentang pembatasan pada dietnya. e. c. Klien dan pemberi perawatan harus memiliki keterbukaan dan melakukannya dengan alat yang akan digunakan di rumah. d. Outpatient referral Klien sebaiknya mengenal pelayanan dari rumah sakit atau agen komunitas lain yang dapat meningkatan perawatan yang kontinu. Ia sebaiknya mampu memilih diet yang sesuai untuk dirinya. Health Teaching (Pengajaran Kesehatan) Klien yang akan pulang sebaiknya diberitahu bagaimana mempertahankan kesehatan. Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan rencana pengajaran dan referral. Demonstrasi ulang menjadi harus memuaskan. Seluruh pengajaran yang diberikan harus didokumentasikan pada catatan perawat dan ringkasan pulang (Discharge summary). Jika hal ini tidak memungkinkan. Instruksi tertulis diberikan kepada klien. status fisik dan mental klien. Termasuk tanda dan gejala yang mengindikasikan kebutuhan pearwatan kesehatan tambahan. Informasi tentang klien dan perawatannya diberikan kepada agen tersebut. Penyerahan home care dibuat sebelum klien pulang.

Jenis-jenis pelayanan yang diperlukan e. atau tidak ada pemberi perawatan) dan kebutuhan yang diharapkan oleh klien. Transportasi harus tersedia pada saat ini Evaluasi Evaluasi terhadap discharge planning adalah penting dalam membuat kerja proses discharge planning. Komplikasi tambahan f. Evaluasi berjalan terus-menerus dan membutuhkan revisi dan juga perubahan. Hasil yang diharapkan dari perawatan c.penting (misalnya kurangnya pemberi perawatan. kuisioner atau kunjungan rumah (home visit). Ketersediaan sumber-sumber . Perencanaan dan penyerahan harus diteliti dengan cermat untuk menjamin kualitas dan pelayanan yang sesuai. Durasi perawatan yang dibutuhkan d. Ini dapat dilakukan melalui telepon. Derajat penyakit b. Evaluasi lanjut dari proses pemulangan biasanya dilakukan seminggu setelah klien berada di rumah. Keberhasilan program rencana pemulangan tergantung pada enam variabel: a.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->