You are on page 1of 8

FITRAH : Watak Kesucian Primordial

Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada celupan Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah. Q.S. al-Baqarah (2) :138 Agama memiliki seratus jiwa. Segala sesuatu sekali ia dibunuh, ia mati untuk selama-lamanya, kecuali agama. Sekiranya seratus kali pun ia dibunuh, ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu, ungkap Will Durant, penulis yang cenderung tidak mempercayai agama mana pun, dalam karyanya The Lesson Of History. Tentu saja ungkapan itu dilontarkan berdasarkan berbagai fakta dan data historis yang mengisyaratkan bahwa agama merupakan salah satu fenomena sosial yang selaras dengan keinginan dan kebutuhan sosial manusia, sehingga dengan demikian kehidupan manusia tidak pernah lepas dari agama. Menurut ajaran Islam, hidup beragama adalah tabiat azali manusia, bawaan sejak lahir. Al-Qur`an menyebutnya fithrah (ciptaan asli), di mana Allah mendesain dan menciptakan jati diri manusia sesuai dengan desain penciptaan agama yang hanif yang diciptakan-Nya untuk manusia (Q.S. al-Rum 30:30). Fitrah ini banyak dikaji para mufassir, ahli pendidikan, dan kaum sufi. Di sini kita akan melihat fitrah dari perspektif psiko-spiritual yang dikemukan kaum sufi. Pandangan ini tentu saja bertolak dari asumsi sufi bahwa realitas manusia adalah rohani atau spiritualnya, bukan jasmaninya; jasmani hanyalah rumah bagi ruh. Karenanya segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia harus bertolak dari realitas spiritualnya. Fitrah adalah salah satu bagian penting dari spiritual itu. Lalu, apa itu fitrah? Bagaimana perannya dalam kehidupan manusia? Makna dan Hakikat Fitrah Kata fitrah telah menjadi kosa kata bahasa Indonesia, berarti sifat asal, kesucian, bakat, pembawaan. Sebenarnya kata fitrah itu berasal dari kosa kata Arab, fathara-yafthuru-yafthiru-fithrah, yang berarti membelah, merobek, mengoyak, mencipta, muncul atau terbit, memerah susu dengan ujung jari tangan. Fithrah dipakai pula sebagai sinonim jablah (dibaja juga jiblah, jabalah dan jibilah), thahi`ah, dan sajiyyah, yang berarti tabiat asli yang dibawa sejak lahir. Kata Fithrah dapat pula berarti kesucian lahiriyah (thuhr). Pengertian ini didasarkan pada hadis, Ada lima macam yang termasuk fitrah (kesucian), yaitu 1

berkhitan, menggunting rambut, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. (H.R. Bukhari dan Muslim). Selain itu , kata fitrah dapat pula berarti kesucian batin (ikhlas), seperti diungkapkan dalam hadis, Tiga hal yang menyelamatkan, yaitu ikhlas yang berupa fitrah Allah di mana manusia diciptakan sesuai dengannya, salat yang merupakan tiang agama, dan taat yang berupa benteng penjagaan. (H. R. Ibn Humaid). Istilah fitrah dalam wacana keilmuan, seperti makna kebahasaannya, dipakai untuk beberapa pengertian. Secara umum, pengertian itu dipakai mengacu kepada tabiat alami atau sifat dasar manusia yang dibawanya sejak lahir. Tabiat itu, menurut ajaran nasrani, telah dimuati oleh dosa asal yang diwarisi oleh setiap insan dari dosa Adam. Oleh sebab itu, setiap bayi yang lahir telah membawa beban dosa secara fitri. Untuk menebus dosa asal itu, manusia harus melalui penyelamatan (salvation) dengan penyatuan keimanan bersama Yesus sebagai juru selamat dan penebus dosa. Doktrin dosa asal itu bertolak belakang dengan teori psikologi Behaviorisme yang muncul pada abad ke-20, yang melihat bahwa manusia tidak memiliki suatu kecenderungan asal tertentu (netral). Di samping itu, ada yang berpendapat bahwa fitrah manusia memiliki sejumlah muatan berupa kecenderungan-kecenderungan alami, seperti cenderung beragama, berilmu, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Ada pula yang melihat, fitrah hanya memiliki konotasi agamis, berupa kecenderungan kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan; sementara tabiat-tabiat asasi yang lain mereka sebut gharizah (naluri atau instink). Memang terdapat perbedaan antara fitrah dan instink. Fitrah mungkin lebih mendasar daripada instink. Fitrah menempati dunia ruhaniyah manusia yang terdalam, sementara instink lebih banyak terkait dengan dimensi fisik manusia dalam hubungannya dengan dunia psikis. Pandangan terakhir inilah yang dianut oleh umunya para ulama tafsir dan kalangan sufi. Alasan yang sering dikemukakan adalah bahwa Al-Qur`an dan hadis yang berbicara tentang fitrah dalam kaitannya dengan agama dan tabiat alami manusia. Al-Qur`an mengungkapkan secara eksplisit : Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (yang benar), mengikuti kecenderungan kepada kebenaran; (sesuai dengan) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum 30 : 30). Nabi saw. juga mengungkap tentang fitrah, Setiap anak dilahirkan atas fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau 2

Majusi. (H.R. Muslim). Ketika Abu Hurairah r.a. meriwayatkan hadis ini, ia menghubungkannya dengan ayat di atas sebagai isyarat bahwa fitrah yang ada pada diri manusia adalah tabiat alami yang suci dan inheren dengan agama Allah yang suci. Dengan demikian, kata fitrah akhirnya lebih dominan disebut dalam terminologi ilmu-ilmu agama daripada ilmu-ilmu lain. Akan tetapi, sekalipun Al-Qur`an dan hadis menyebutkan kata fitrah secara eksplisit, pengungkapannya sendiri masih dalam bentuk umum, sehingga memunculkan sederetan penafsiran dan konsep. Tafsiran dan konsep yang paling populer dan dianut oleh mayoritas ulama ialah pandangan positif yang melihat bahwa fitrah manusia adalah tabiat alami yang dibawa sejak lahir dan cenderung kepada kebaikan, kebenaran, dan tauhid. Tetapi, karena berbagai pengaruh, baik dari luar maupun dari dalam, mengakibatkan manusia terasing dari fitrahnya itu. Pengaruh-pengaruh hawa nafsu, setan , dan lingkungan sosial teleh membuat manusia dapat menyeleweng dari fitrahnya, tetapi fitrah yang asli itu akan senantiasa hidup dalam dirinya. Jika disebutkan, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah ( Q.S. al-Rum 30:30), maka berarti tabiat dasar manusia yang suci itu tidak pernah berubah, kendati dia telah terseret jauh dari tabiat universalnya itu. Oleh sebab itu, di saat Fir`un akan meninggal dunia menjelang tenggelam di laut Merah, ia masih tersadar kepada fitrahnya yang suci. (Surat Yunus 10 ayat 90) Fitrah Perspektif Psikospiritual Sufi Kaum sufi melihat manusia terdiri dari dua unsur yang berbeda : Ruhani dan jasmani. Keduanya diciptakan pada waktu yang berbeda. Menurut al-Makki, penciptaan ruhani jauh lebih mendahului jasmani. Ruhani adalah makhluk azali, ia tercipta jauh sebelum jasad dan bahkan sebelum adanya waktu. Ibn `Atha` mengungkapkan bahwa ruh lebih dahulu diciptakan daripada jasad berdasarkan ayat, Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu, lalu Kami bentuk tubuhmu. (Al-A`raf 7:11). Menurut Ibn `Atha`, ungkapan, Kami telah menciptakan kamu dalam ayat itu mengandung makna telah menciptakan ruhmu sedangkan ungkapan lalu Kami bentuk tubuhmu mengandung makna menciptakan jasad, setelah lebih dahulu menciptakan ruh. Jadi, sebelum berada dalam jasad, ruh manusia itu telah merupakan wujud mandiri, yang disebut oleh al-Junaid al-Baghdadi dengan wujud rabbani. Wujud ruhani itu berada di sisi Tuhan dan telah mengenal-Nya secara langsung, seperti diisyaratkan ayat :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (sembari berfirman), Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab, Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Al-A`raf 7:172). Bagi kaum sufi, hakikat manusia ialah wujud ruhaninya. Dengan demikian, insaniyah (kemanusiaan) bukan terletak pada kesempurnaan fisik, tetapi para kesempurnaan ruhani. Oleh sebab itu, betapa pun tidak sempurnanya fisik seseorang, ia masih tetap dipandang memiliki nilai kemanusiaan. Jadi, yang menentukan nilai kemanusiaan adalah ruhani manusia. Kita sering menemui orang-orang yang tuli, buta, lumpuh, dan kekurangankekurangan fisik lainnya, namun mereka tidak dikatakan kekurangan pada kebajikan dan kepribadiannya. Socrates, filosuf Yunani yang masyhur dan sering disejajarkan dengan para Nabi, adalah seorang yang buruk rupa. Akan tetapi, kekurangan itu tidak menafikan keutamaannya. Abu al-Ala al- Ma`arri dan Thaha Husayn adalah dua ilmuan dan sastrawan muslim yang tuna netra, namun kekurangan itu tidak mengurangi kebesaran mereka. Sufi besar Jalal al-Din Rumi (w. 672 H) ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah pada ruhani. Beliau mengundang beberapa tokoh, lalu memanggil salah seorang tabib dan memerintahkan sang tabib agar memotong nadi beliau dan membiarkan darahnya tumpah sampai habis. Sang tabib pun melakukannya, sehingga darah terkuras habis dari tubuh sang Mawlana. Beliau bangkit, lalu berwudhu, kemudian memasuki taman bunganya dan memulai tarian sakralnya. Suatu hal yang menakjubkan. Jadi, bagi kaum sufi, hakikat manusia adalah ruhaninya. Namun demikian, ruh tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi Tuhan secara sempurna, melainkan dengan eksistensi jasmani. Jasmani adalah alat yang melengkapi fungsi-fungsi ruhani. Maka, ketika ruh telah dipanggil meninggalkan jasad, maka manusia telah kehilangan hakikatnya, sehingga tidak memiliki daya apa pun. Karena ruhani yang paling dominan menentukan jalan hidup manusia, maka bagi kaum sufi, corak ruhani yang menentukan tinggi-rendahnya kedudukan manusia. Warna kulit, bentuk wajah, postur tubuh, dan lain sebagainya, hanyalah corak lahiriyah, semuanya bukan hal yang menentukan bagi kepribadian dan kemanusiaan seseorang. Apalagi hal-hal yang lebih semu dari itu, yang hanya melekat buat sementara pada manusia, dia bukan penentu

hakiki bagi manusia, dan fungsinya tidak lebih dari sekedar topeng-topeng yang segera akan ditanggalkan dari kepribadian manusia. Firtah adalah warna dasar ruhani yang tidak pernah hilang dari diri manusia. Lalu bagaimana fitrah asasi itu? Atau bagaimana warna dasar ruhani manusia itu? Fitrah : Desain Ilahi Jasad berasal dari tanah dan ruh langsung ditiupkan Allah dari diri-Nya (Al-Hijr 15 :28-29). Maka, tabiat dasar itu sesuai asal-usulnya. Jasad, karena berasal dari tanah, memiliki tabiat dasar sebagaimana tanah, dan ruh, karena langsung berasal dari ruh Ilahi, maka memiliki tabiat dasar Ilahiyah. Karena jasad terikat oleh tabiat material tanah, maka akan senantiasa akan menyeret manusia kepada hal-hal yang bersifat material dan kasar. Lain halya dengan ruh, karena memiliki tabiat dasar keilahian, maka senantiasa ingin membawa kepada hal-hal yang bersifat spiritual dan halus. Ruh senantiasa cenderung kepada tabuat aslinya, rindu kepada kebenaran, kebaikan, dan kesucian. Al-Qur`an menyebutkan bahwa manusia diciptakan Allah sesuai dengan fitrahnya (Rum 30:30). Dengan kata lain, manusia diciptakan atas desain Ilahi, di mana warna keilahian merupakan warna dasar ruhani manusia, sebagaimana disinyalir oleh Kitab Suci, Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada celupan Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.( Q.S. al-Baqarah (2) :138). Menurut Abu al-Aliyah, yang dimaksud dengan celupan Allah dalam ayat ini adalah fitrah ilahi yang mewarnai ruhani manusia. Fitrah ilahiah yang menjadi warna dasar ruhani manusia itu digambarkan Al-Qur`an sebagai bentuk yang sebaik-baiknya, Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. al-Tin 95:4). Dalam menjelaskan makna ayat ini, Kamal al-Din Husayn al-Kasyifi, sufi abad ke-9 H (15 M) menulis bahwa hal itu berarti Tuhan menciptakan manusia sebagai alamat Tuhan yang paling lengkap dan sempurna, pentas yang paling universal, di mana bermain segala lakon ketuhanan, sehingga dengan begitu ia mampu menjadi pembawa amanat Tuhan dan sumber dari pancaran yang tak terbatas. Fitrah inilah yang menjadi warna dasar ruhani manusia, yang sebenarnya telah didesain oleh Allah mengacu kepada citra-Nya sendiri, sebagaimana disebutkan hadis : sesungguhnya Adam telah didesain oleh Allah mengacu kepada citra-Nya (H.R. Bukhari dan Muslim). Tuhan mendesain manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri karena keinginan-Nya untuk melihat citra diri-Nya di luar diri-Nya, maka diciptakan-Nya manusia sebagai wadah 5

tajalli-Nya (manifestasi) yang paripurna, seperti terungkap dalam hadis qudsi yang populer di kalangan sufi : Aku adalah perbendaharaan terpendam yang belum dikenal; Aku senang (love) untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk; Aku pun memperkenalkan diri kepada mereka, sehingga mereka mengenal-Ku. Jadi, pada diri manusia sebenarnya terdapat potensi-potensi suci di mana Tuhan menampakkan sifat-sifat dan asma-Nya. Dengan demikian, manusia tidak lain adalah pancaran (tajalli) yang menggambar citra Tuhan secara utuh dan paripurna. Akan tetapi, hal itu baru dalam bentuk potensi terpendam yang menyatu dengan ruh manusia. Orang yang mampu mengaktualisasikan potensi inilah yang dipandang oleh kaum sufi sebagai manusia yang paling sempurna Insan Kamil. Ketika Ibn `Arabi menjawab pertanyaan apakah fitrah itu, secara metafor ia mengatakan, fitrah adalah cahaya (nur) yang membelah kegelapan mumkinat (alam yang serba mungkin) dan berfungsi membedakan beragam bentuk. Nur melambangkan kecerahan dan kesucian. Ruhani manusia yang terdalam biasa pula disebut hati nurani yang berarti hati yang bercahaya. Karena, fitrah yang mewarnainya adalah fitrah ilahiah yang suci dan menyinarkan cahaya bagi manusia, sehingga dengan itu manusia dapat menggapai kebenaran. Oleh sebab itu, suara hati nurani adalah suara kebenaran, kejujuran dan itulah manifestasi suara Ialhi. Tertutupnya Suara Hati Nurani Benar, ruhani manusia pada mulanya cerah dan suci, tetapi kecerahan dan kesucian itu dapat tertutup oleh kegelapan atau kotoran-kotoran, terutama setelah ruh suci itu ditempatkan dalam jasad, yang dilengkapi dengan nafsu dan akal, sehingga mewujud menjadi sosok manusia, terdiri atas ruhani dan jasmani. Ketika telah mencapai kesempurnaan wujud demikian, lalu Tuhan mengilhamkan kepada manusia ketakwaan dan kefasikan (al-Syams 91 :7-8). Ketakwaan adalah benteng nurani yang senantiasa menjaga kecerahan dan kesuciannya, sementara kefasikan adalah kegelapan dan kotoran yang akan menutup nurani. Dalam hadis tentang fitrah di atas dijelaskan bahwa manusia dapat tertutup dari fitrahnya karena pengaruh orang tua dan lingkungan sosial, sehingga seseorang berubah menjadi penentang kebenaran. Hal demikian dapat kita saksikan dalam sejarah manusia, terdapat nama, suku, dan umat yang membangkang terhadap kebenaran. Lalu, mereka menerima kehancurannya. Kalau demikian, dapatkah fitrah itu berubah?

Meski telah terperosok kepada kegelapan dan telah berlumur dengan kotoran, suara nurani sebenarnya masih tetap ada. Namun, jeritan nurani itu sering tak terdengar karena ditelan oleh gemuruhnya suara nafsu angkara (alnafsu al-ammarah), sehingga telinga batin tidak mampu untuk menerima dan mendengar getaran jeritan nurani itu. Memang, manusia tidak dapat membohongi suara nuraninya yang suci itu, namun karena telah terbelenggu oleh kehendak-kehendak hawa-nafsu, maka jeritan suci itu dibaikannya. Allah menegaskan bahwa fitrah itu tidak berubah, tidak ada perubahan pada (fitrah) ciptaan Allah. (Al-Rum 30:30). Ingat ketika Yusuf a.s. mendapatkan godaan berat dari Zulaiha yang hampir saja menjerumuskannya kepada perbuatan mesum, sebagaimana diungkapkan Al-Qur`an, Sesungguhnya wanita itu telah berhasrat (melakukan perbuatan mesum) dengan dia (Yusuf), dan dia (Yusuf) telah berhasrat pula (melakukannya). (Yusuf 12:24). Ketika itu, pandangan, pendengaran, dan pikiran Yusuf telah tertutup oleh gelapnya nafsu, sehingga hampir saja dia terjebak ke dalam dosa. Hanya suara suci nurani yang menyadarkannya bahwa dia sedang dalam bahaya, seperti diungkapkan Al-Qur`an, Hanya saja dia (Yusuf) melihat burhan Tuhannya. (sambungan ayat surah Yusuf 12:24), Itulah bisikan suci nurani yang menyimpan fitrah ilahiah. Kembali Kepada Fitrah Fudhayl ibn `Iyadh (w 803 M ) masyhur sebagai seorang perampok ulung yang mengepalai segerombolan perampok di padang pasir antara Abyuward (baward) dan Sarakhs. Suatu malam, ketika dia sedang memanjat rumah kekasihnya, lewatlah suatu kafilah dan di antara mereka ada yang sedang membaca ayat Al-Qur`an. Terdengarlah oleh Fudhayl ayat, Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah? (Al-hadid 57 : 16) Ayat itu bagaikan anak panah menembus jantung Fudhayl, seakan sebuah tantangan yang berseru ke lubuk nuraninya, Wahai Fudhayl, berapa lama lagikah engkau akan membegal para kafilah? Telah tiba saatnya kami akan membegalmu! Fudhayl terjatuh dan berseru, Memang telah tiba saatnya, bahkan hampir terlambat!. Fudhayl merasa bingung dan malu. Ia berlari ke arah setumpuk puing. Ternyata di situ berkemah satu kafilah. Di antara mereka berkata, Marilah kita melanjutkan perjalanan! Tetapi, yang lain mencegah, Tidak mungkin, Fudhayl sedang menunggu dan akan menghadang kita.

Mendengar pembicaraan mereka, Fudhayl berseru, Gembiralah kalian, Fudhayl telah tobat! Dua Program Ilahi :Taklifi atau Takwini Manusia yang telah terasing dari fitrahnya berarti terjauhkan dari jati dirinya yang hakiki dan universal, sehingga tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup. Nuraninya terkubur dalam lumpur hawa nafsu, sehingga hidup dalam kegelapan. Sebenarnya Allah memiliki dua program yang berfungsi agar fitrah manusia tetap terjaga dan sebagai terapi bagi yang telah terasing dari fitrahnya. Kedua program itu adalah program taklifi atau tasyri`i dan program takwini. Program taklifi adalah berupa perintah dan larangan agama yang diturunkan-Nya melalui wahyu yang ditaklifkan (dibebankan) kepada manusia. Dan agama yang dipersiapkan Allah itu, sebagaimana telah disebutkan, memang telah didesain sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian, setiap aturan yang bersumber dari agama Allah senantiasa sesuai dengan fitrah manusia. Maka, dengan menjalankan taklif (perintah dan larangan) agama itu, manusia dapat mempertahankan fitrah kesuciannya, seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya, bahwa Dia menciptakan manusia sebaik-baik bentuk. Lalu mereka terjatuh ke dalam kerendahan. Kecuali, orang yang tetap beriman dan melakukan amal saleh (Q.S. al-Tin 95: 46). Menjalankan taklif agama juga menyadarkan manusia akan fitrahnya, sehingga ia mampu mendengar bisikan nuraninya. Program takwini berupa penciptaan fenomena-fenomena dan peristiwaperistiwa yang terjadi di alam semesta, baik dalam kehidupan sosial maupun pada alam lingkungannya. Segalanya itu adalah untuk menyadarkan manusia agar senantiasa teguh dalam kesucian fitrahnya dan agar orang-orang yang telah terjauhkan dari fitrahnya kembali kepada jati dirinya. Dengan menyadari jati dirilah manusia dapat mengenal Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya dalam hidup, man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu , Barang siapa mengenal dirinya, niscaya dia mengenal Tuhannya. Wallaahu alam bish shawwab