POLITIK GEMPA GEMPITA 1

Wilson M.A. Therik 2
Di Indonesia, DPR(D) dibangun sebagai wakil paling sempurna dari wajah masyarakat. Kualitas anggotanya diharapkan menjadi cermin paling utuh dari kualitas masyarakat kita. Sifat keanggotaannya haruslah sesuai dengan sifat keanggotaan keluar besar bangsa Indonesia. Pendek kata, apapun yang di lihat dan dirasakan di dalam gedung wakil rakyat, seratus persen sama dengan apa yang dirasakan masyarakat. Bila asumsi di atas dijadikan pijakan untuk membahas kinerja sejumlah lembaga DPRD Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), maka akan kita temui sejumlah kejanggalan. DPRD yang dibentuk oleh Pemilihan Umum, yang secara teoretis dibentuk langsung oleh rakyat, justru lebih sering dicerca oleh rakyatnya sendiri. Akronim 5-D (datang, duduk, diam, dengar, duit) yang melekat pada diri wakil rakyat, merupakan penilaian langsung masyarakat terhadap mereka. Secara teoretis dalam ilmu politik, salah satu kewajiban para wakil rakyat adalah membawa aspirasi masyarakat ke dalam sistem politik. Tegasnya adalah hiruk pikuk politik ada didalam parlemen, sementara masyarakatnya tenang. Hingga bila masyarakatnya ribut sementara DPRD-nya tenang, itu pertanda wakil rakyat yang tidak aspiratif. Namun yang terjadi pada beberapa lembaga DPRD Kabupaten/Kota di NTT menunjukan hal berbeda dan unik. Politik Gempa Gempita Dalam beberapa bulan terakhir NTT tidak pernah sepi dari pemberitaan di media massa tentang kinerja beberapa lembaga DPRD yang memprihatinkan, diantaranya yang cukup menarik perhatian adalah berita seputar perseteruan antara DPRD TTU dengan Bupati dan Wakil Bupati TTU bahkan sampai keluar pernyataan bahwa Kabupaten TTU dipimpin oleh Bupati Ilegal dan Wakil Bupati Ilegal meskipun demikian DPRD TTU pada akhirnya tetap menggelar sidang bersama dengan Bupati dan Wakil Bupati. Lain di TTU lain pula di Kota Kupang, perseteruan internal di dalam tubuh DPRD Kota Kupang maupun perseteruan dengan Pemerintah Kota Kupang yang pada akhirnya selalu berujung pada acara jabat
1 Artikel ini telah dimuat di Harian Kota KURSOR terbit di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur 2 Anggota Forum Academia NTT

makin bebas dalam mengungkapkan aspirasinya. . Negeri ini merindukan politik yang gegap gempita. Bagaimana Selanjutnya? DPRD sebagai sebuah lembaga legislatif harus menjadi lembaga yang bebas. Hal ini dapat terwujud apabila para wakil rakyat dan eksekutif sama-sama berpikir bahwa mereka adalah orang yang bebas. makin merdeka. Realitas buram di atas merupakan cerminan dari politik gempa gempita saja yang tidak memiliki makna apa-apa bagi masyarakat. Anggota masyarakat kini makin cerdas.tangan sebagai tanda bahwa DPRD Kota dan Pemerintah Kota adalah mitra bukanlah berita baru untuk warga kota. Berita lainnya juga datang dari Kabupaten Sabu Raijua di mana sekelompok masyarakat menyegel kantor DPRD dan praktis para anggota dan staf sekretariat DPRD Sabu Raijua tidak bisa beraktifitas bahkan ada rencana untuk menggelar sidang di Kupang namun batal karena kantor yang disegel pada akhirnya dibuka kembali oleh masyarakat. lembaga yang merdeka dalam melaksanakan program pembangunan untuk masyarakat. lembaga yang merdeka untuk menyuarakan kepentingan masyarakat dan menyadari posisinya sebagai mitra dari lembaga pemerintah (eksekutif) dan sebaliknya lembaga eksekutif juga harus menjadi lembaga yang bebas. Realitas politik gempa gempita di atas merupakan pelajaran bagi masyarakat untuk tidak lagi memilih wakil rakyat dan kepala daerah yang tidak bisa memperjuangkan kepentingan publik. orang yang bisa dimerdekakan dari segala kepentingan pribadi untuk memerdekakan kepentingan masyarakat. hal ini justru membuat masyarakat makin lama makin tidak peduli dengan apa yang dilakukan DPRD sebagai sebuah institusi. Ironisnya lagi gambaran kinerja lembaga DPRD di atas justru bertentangan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. rakyat akan tenang kalau wakil rakyat dan pemerintah saling ribut untuk urus rakyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful