P. 1
Efektivitas Bmt

Efektivitas Bmt

|Views: 1,866|Likes:

More info:

Published by: Purnama Hambayangbersyukur on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. PENDAHULUAN
  • 1.1. Latar Belakang
  • 1.2. Rumusan Masalah
  • 1.3. Tujuan Penelitian
  • 1.4. Manfaat Penelitian
  • 1.5. Ruang Lingkup Penelitian
  • II. TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1. Tinjauan Teori
  • 2.1.1. Sistem Pembiayaan Bank Syariah
  • Gambar 2.1. Jenis-Jenis Pembiayaan
  • 2.1.1.2. Efektivitas Pembiayaan
  • 2.1.2. Usaha Kecil dan Mikro
  • 2.1.3. Baitul Maal wat Tamwil (BMT)
  • 2.2. Penelitian Terdahulu
  • Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu
  • III. KERANGKA PEMIKIRAN
  • 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
  • 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
  • Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Operasional
  • 3.3. Hipotesis Penelitian
  • IV. METODE PENELITIAN
  • 4.1. Lokasi dan Waktu penelitian
  • 4.2. Jenis dan Sumber Data
  • Tabel 4.1. Jenis dan Sumber Data
  • 4.3.Metode Pengumpulan Data
  • 4.4. Metode Pengambilan Sampel
  • 4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data
  • 4.5.1. Analisis Statistik
  • 4.5.1.1. Uji Multikolinearitas
  • 4.5.1.2. Uji Heteroskedastisitas
  • 4.5.1.3.Uji Autokorelasi
  • 4.5.1.4.Uji F untuk Model Secara Keseluruhan
  • 4.5.1.5. Uji t untuk Koefisien Model Regresi
  • 4.5.1.6.Uji Koefisien Determinasi (R2
  • 4.5.2. Analisis Deskriptif
  • 4.6. Definisi Operasional
  • V. GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM
  • 5.1. Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem
  • 5.2. Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem
  • 5.3. Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem
  • Gambar 5.1. Struktur Organisasi KJKS BMT BUS
  • 5.4. Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem
  • 5.5. Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem
  • Gambar 5.2. Proses Seleksi Pembiayaan
  • Gambar 5.3. Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS
  • VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Tabel 6.1. Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB
  • 6.2.Analisis Efektivitas Pembiayaan
  • 6.2.1. Prosedur Pembiayaan
  • 6.2.1.1. Prosedur Pengajuan Pembiayaan
  • 6.2.1.2. Prosedur Pencairan Pembiayaan
  • 6.2.1.3. Prosedur Pengembalian Pembiayaan
  • 6.2.2. Dampak Pembiayaan
  • Tabel 6.5. Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS
  • Tabel 6.6. Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU
  • 6.3. Implikasi Kebijakan
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN
  • Lampiran 3. Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha
  • Lampiran 4. Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGAMBILAN PEMBIAYAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO SYARIAH
(Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera, Lasem, Jawa Tengah)

OLEH SHOLIKHA OKTAVI K. H14050914

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

RINGKASAN

SHOLIKHA OKTAVI K. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera, Lasem, Jawa Tengah). Dibimbing oleh BUNASOR SANIM.

Aset perbankan syariah (tidak termasuk BPRS) selalu tumbuh di atas 30 persen, sedangkan perbankan konvensional hanya sekitar 10 persen. Saat ini perbankan syariah mengelola aset sebesar Rp 47.2 trilyun atau dengan share sebesar 2.05 persen dari total aset perbankan nasional (November 2008). Perkembangan perbankan syariah seiring dengan berkembangnya lembaga keuangan mikro yang mempunyai peran yang sangat besar bagi kelangsungan usaha kecil di Indonesia. Seperti yang diketahui, usaha kecil di Indonesia selalu terkendala masalah modal karena itulah peran lembaga keuangan mikro dibutuhkan. KJKS BMT BUS Lasem merupakan salah satu lembaga keuangan mikro yang telah lama berdiri. Kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan dan efektivitas penyaluran pembiayaannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan oleh KJKS BMT BUS Lasem dalam mendukung sektor usaha kecil khususnya perdagangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan. Selain itu, untuk menilai keefektifan pembiayaan usaha kecil pada KJKS BMT BUS. Sampel dari penelitian ini diambil dari usaha kecil khususnya di bidang perdagangan sebanyak 40 responden/ anggota yang melakukan pembiayaan di KJKS BMT BUS. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Semua data yang diperoleh diolah dengan menggunakan software eviews 4.1. Metode analisis yang digunakan yaitu: (1) regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan dan dampak pembiayaan, (2) deskriptif untuk melihat keefektifan pembiayaan berdasarkan penilaian anggota responden. Variabel yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) adalah biaya peminjaman (BC), pendapatan usaha (SB), jangka waktu angsuran (CR), lama menjadi anggota (A), tingkat pendidikan (DP), jenis usaha (DU), ada tidaknya agunan (DA). Hasil penelitian ini menunjukkan variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap pengambilan pembiayaan adalah biaya peminjaman, jangka waktu angsuran, dan adanya agunan. Variabel yang paling besar pengaruhnya adalah biaya peminjaman yaitu sebesar 1.09 persen. Akan tetapi, pendapatan usaha (SB) tidak signifikan pengaruhnya terhadap pengambilan pembiayaan. Hal ini disebabkan oleh

kebutuhan anggota yang sangat besar sehingga dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha anggota tidak terasa pengaruhnya. Efektivitas pembiayaan dinilai dengan melihat tanggapan responden mengenai prosedur pembiayaan dan dengan melihat dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha dan keuntungan usaha. Dari tanggapan responden mengenai prosedur pembiayaan, pembiayaan usaha kecil di KJKS BMT BUS tergolong cukup efektif. Akan tetapi, dinilai dari dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha dan keuntungan usaha, tujuan pembiayaan belum sepenuhnya tercapai. Hal ini disebabkan besarnya pembiayaan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perubahan pendapatan dapat diartikan bahwa peranan pembiayaan belum menunjukkan pengaruh yang besar dalam meningkatkan pendapatan usaha anggota. Pengaruh yang rendah ini menunjukkan efektivitas pembiayaan belum sepenuhnya tercapai. Implikasi kebijakan yang seharusnya diambil oleh KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap tiga variabel diantaranya biaya peminjaman lebih tepatnya biaya administrasi, jangka waktu angsuran, dan ada tidaknya agunan. Selain itu, KJKS BMT BUS Lasem harus lebih memperhatikan kelangsungan usaha kecil khususnya mengenai pendapatan usaha yaitu dengan cara melakukan pendampingan dan mengikutsertakan usaha kecil dalam kerja sama dengan BMT. Keterbatasan penelitian ini terlihat pada sedikitnya variabel yang signifikan pada persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan. Selain itu, bidang yang diteliti dalam penelitian ini juga hanya bidang perdagangan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih luas lagi bidang usaha kecil yang diteliti dengan jumlah sampel yang lebih besar. Diharapkan juga penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauhmana alokasi pemanfaatan pembiayaan oleh responden.

Jawa Tengah) OLEH SHOLIKHA OKTAVI K. H14050914 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 . Lasem.ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGAMBILAN PEMBIAYAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera.

Prof. M. 19451216 196902 1 001 Mengetahui. Rina Oktaviani. Ir. Dr. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Institut Pertanian Bogor. Dosen Pembimbing. Nama Mahasiswa Nomor Register Pokok Program Studi Judul Skripsi : Sholikha Oktavi K. : H14050914 : Ilmu Ekonomi : Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan Pembiayaan Usaha Kecil dan Efektivitas pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera Lasem. Menyetujui.Sc NIP. MS NIP. Jawa Tengah) dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Dr. Ir. 19641023 198903 2 002 Tanggal Kelulusan : . Bunasor Sanim.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh.

H14050914 . Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Agustus 2009 Sholikha Oktavi K.

Penulis adalah putri pertama dari empat bersaudara. Jenjang pendidikan penulis lalui tanpa hambatan. . penulis aktif di beberapa organisasi seperti IKMT (Ikatan Keluarga Muslim TPB) (2005-2006). Penulis masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Rembang dan lulus pada tahun 2005. Selama menjadi mahasiswa. dari pasangan Jumanto dan Rufi’ah. Selain aktif di berbagai organisasi. Penulis menamatkan sekolah dasar pada SDN Soditan 1 Lasem. serta aktif menjadi asisten dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Tingkat Persiapan Bersama (TPB). sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah. FORMASI (Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam) FEM IPB (2006-2008). Pada tahun 2005 penulis mengikuti seleksi USMI di IPB dan akhirnya diterima.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Sholikha Oktavi Khalifaturofi’ah lahir pada tanggal 09 Oktober 1987 di Sragen. kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 2 Rembang dan lulus pada tahun 2002. SES-C (Sharia Economics Student Club) IPB (2006-2007). penulis juga aktif di berbagai kepanitiaan.

yaitu: 1. M. Widyastutik. Ir. Jawa Tengah)”. kesabaran. . Oleh karena itu. Prof. adik-adik penulis yaitu dik Furqon. dan arahan yang sangat bermanfaat untuk penyempurnaan skripsi ini. penelitian ini secara tidak langsung akan memperlihatkan bagaimana kinerja KJKS BMT BUS Lasem terhadap kelangsungan usaha kecil. M. Lasem.Sc selaku dosen pembimbing atas waktu. masukan. Jaenal Effendi.Si selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan masukan dalam perbaikan tata bahasan dan penulisan untuk penyempurnaan skripsi ini. dik Uma yang selalu dapat menghibur di saat gundah. Robbul Izzati yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini sehingga penyusunan skripsi ini dapat tepat waktu. Umi dan Abi. MA selaku dosen penguji utama atas segala masukan.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. segala puji hanya untuk Allah. 3. 4. Shalawat serta salam tak lupa selalu tercurah pada Rasulullah SAW. Orang Tua tercinta penulis yang tak henti-hentinya mensupport penulis. Dr. Inti dari skripsi ini adalah penjelasan mengenai faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengambilan pembiayaan anggota dan pembuktian seberapa efektif pembiayaan usaha kecil yang dilakukan oleh lembaga keuangan mikro syariah. Skripsi ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera. Bunasor Sanim. arahan selama bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. dik Izza. 2. Sebagaimana diketahui bahwa kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif. saran. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan skripsi ini.

Iqbal. Demy.5. Rifi. Fiya. Agustus 2009 Sholikha Oktavi K. Serta teman-teman IE 42 lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Anis. mbak Riana. Diana. sharing. Teman-teman di kosan Tiara tercinta yang sudah memberikan semangat untuk terus maju dan tidak menyerah (Riyant. terima kasih atas segala bantuannya. rekan-rekan penulis di FEM (Fuji. Terima kasih atas doa. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan. Ayiz. H14050914 . Gerry. Pihak KJKS BMT BUS Lasem yaitu pak Yenny dan pak Agus yang telah membantu dan memudahkan penulis dalam pencarian data. Lala. Eti. serta keceriaan selama proses menuju “impian”. bantuan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi para civitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sahabat-sahabat penulis di IE 42. Lela. Mbak Risma. Mbak Ade. Dina). Tias Arum. Nada. Mbak dedeh. dll). Uci. Teman bimbingan penulis. Triyanti. Listiana. Atika. Veni. Bogor. 6. Maryam. Nazrul. Wiji. 8. 7. Echa. Ryza. teman-teman di Alfarabi (Siti. dan Arie) terima kasih atas segala bantuannya saat penulis sakit. Saudara-saudara penulis. dll. Syelvia. Heni. Wina. Putri. Fitri. semangat.

.................. 17 2.............................. .........1 1.................................................... .......3. 27 3.... KERANGKA PEMIKIRAN...........3.....28 4...............1.......3........1.1................ Metode Pengolahan dan Analisis Data......31 .....6 1.....................................5........................................ ......................7 1.......1 1...... 25 3..............................9 2..................................................................... Manfaat Penelitian..... ................................................ Usaha Kecil dan Mikro..1..............4..... ........................2...........................1............7 1..........................iv DAFTAR GAMBAR. ....................2...........................9 2....................................... Lokasi dan Waktu Penelitian..........1......................... 30 4......28 4......2...................................................9 2................1............. Jenis dan Sumber Data.......... METODE PENELITIAN.......25 3.........1... .... TINJAUAN PUSTAKA............................1............. Tinjauan Teori........................... Kerangka Pemikiran Teoritis..........5........................................................ ............... 28 4. ......................................................... .................................................... ............ Baitul Maal wat Tamwil (BMT)........... ............................................. ................................................1...................... Efektivitas Pembiayaan........................................... v DAFTAR LAMPIRAN.......... 29 4................. Kerangka Pemikiran Operasional.... .......................................................11 2.........19 2........................................ ..........20 III.......................1......................vi I. .......... Latar Belakang............................................ Produk-Produk Sistem Syariah dan Ketentuan-Ketentuannya .................. Metode Pengambilan Sampel ....... Metode Pengumpulan Data..............................................................1.. ........ ........8 II........ Rumusan Masalah.................. ...................i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL..................... Tujuan Penelitian......4............2........ ............ Hipotesis Penelitian.. PENDAHULUAN................... Sistem Pembiayaan Bank Syariah............... ... ...........2..... ................. ......16 2....................... Ruang Lingkup Penelitian................................... ....1......... Penelitian Terdahulu.27 IV.....3...2.....

.............. ....1...........1.....................1..........52 VI.. Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem......................................... Uji t untuk Koefisien Model Regresi...........2....... ....... 66 6......................45 5.......................... Uji F untuk Model Secara Keseluruhan............. .. .....................35 4... Dampak Pembiayaan terhadap Pendapatan Usaha... Uji Autokorelasi......................4................. Implikasi Kebijakan...........2.....1..........2.........2.........2..69 6..............54 6....... Uji Multikolinearitas............ Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem.... ......4..3.......................40 V....2.........1.1..5....................35 4.. Analisis Statistik......... 59 6......2.............. .........1.......... Indikator Kesehatan KJKS BMT BUS Lasem. Prosedur Pengajuan Pembiayaan........ 54 6........ ....... ...5.................................. .....................1....5..........2..5.....5..... .......... .............................. 38 4.... Dampak Pembiayaan..42 5.2.................... .. Analisis Deskriptif.............6...........................32 4.....1.......................... 38 4............44 5............... ........48 5........................... ............. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................... GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM. ........3............66 6.....3...... Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem......................1... ... Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan.. 39 4.2...............2.42 5...5........ Dampak Pembiayaan terhadap Keuntungan Usaha................ Uji Koefisien Determinasi (R2).......5...1......... 59 6...6... Definisi Operasional.....37 4.71 ...1..... Uji Heteroskedastisitas..6........ ...............5......... Prosedur Pencairan Pembiayaan..........1...........1.5..... ...... Prosedur Pembiayaan............................. ... Prosedur Pengembalian Pembiayaan......................... Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem........2.......ii 4............ ........42 5...2........................2...... 63 6................ 59 6.....1.2................. Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem.......................................3...............................1...2.. .......36 4..... Analisis Efektivitas Pembiayaan........ 61 6.......5.....

..... 74 DAFTAR PUSTAKA..............................................2..................... 73 7.............................. ......................... ...........1... ....... Kesimpulan............................. 73 7.iii VII...................................................................... KESIMPULAN DAN SARAN............................................ 75 LAMPIRAN.. ...................................................................................77 ................ ........................ Saran...........................

...................................................6...... ...... Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU...........2..70 ........... Menengah........................ Jenis dan Sumber Data... dan Besar terhadap PDB Berdasarkan Lapangan Usaha tahun 2003-2006....... Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pencairan Pembiayaan di KJKS BMT BUS...... Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengajuan Pembiayaan di KJKS BMT BUS.....................1....... ...1...... ...........2.... 62 6....................1........ .5...52 6............... Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengembalian Pembiayaan di KJKS BMT BUS......22 4.........29 5............ ..........3..... 60 6................ Penelitian Terdahulu......1............4..... Perkembangan Aset dan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem........ Kontribusi Usaha Kecil.......55 6. Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank (November 2008-Miliar Rupiah) . Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS....67 6...............iv DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1.............. 64 6...1............... Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB..........3 1......5 2.......... ... ..................

................................ ......... Skema Ba’i Al-Murabahah.. Jenis-Jenis Pembiayaan..................1.....v DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1...... Perkembangan dan Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah di Indonesia (Tahun 2007-2008)... Proses Seleksi Pembiayaan. ..............10 2.2..............................2 2............3......... ....... ............. .......... .................... Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS..15 3......... .........................50 ........................................... 27 5...........1..... Struktur Organisasi KJKS BMT BUS..14 2............................2.................................. .........................................................................3........ 45 5........................ Skema Al-Musyarakah.......................13 2................4...................1......................... ........ Skema Al-Mudlorobah............................................. Kerangka Pemikiran Operasional.....1.............49 5....................

......................................................... Kuesioner Penelitian.................................................................... ..... 91 8............. 86 6..... . ...89 7....... ................. Hasil Estimasi Model Persamaan Pengambilan Pembiayaan........................... 84 4...... Data Besarnya Pembiayaan yang Diambil Responden.... . Data Identitas Responden..... Komposisi Aktiva dan Pasiva KJKS BMT BUS Lasem. ................. Analisa Rasio KJKS BMT BUS Lasem................ 85 5..........vi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha............................. 93 9............ Komposisi Pendapatan dan Beban KJKS BMT BUS Lasem.......... 95 .. .. 94 10................ Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha..... . 83 3........ Lembar Permohonan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem...................78 2................... .......... ..............

Industri perbankan syariah pada saat ini telah menyalurkan pembiayaan sebesar 38 triliun rupiah atau sekitar 3 persen dari total pembiayaan .1 I. Berdasarkan Gambar 1. 2007). sedangkan perbankan konvensional masih 54 persen (Desember 2003). Begitu juga perbandingan antara Financing to Deposite Ratio (FDR) perbankan syariah dan Loan to Deposite Ratio (LDR) perbankan konvensional. Pertumbuhan aset perbankan syariah jauh melampaui pertumbuhan aset pada perbankan konvensional.05 persen dari total aset perbankan nasional. Aset perbankan syariah (tidak termasuk BPRS) selalu tumbuh di atas 30 persen. Pada tahun 2002. PENDAHULUAN 1.74 persen setahun. Pada bulan November 2008.2 triliun rupiah atau dengan share sebesar 2. Hal ini berarti tingkat intermediasi perbankan syariah jauh lebih tinggi dari perbankan konvensional (Agustianto.. Pada tahun 2000- 2003 pertumbuhan bank syariah di Indonesia meningkat mencapai 54 persen . sedangkan perbankan konvensional hanya sekitar 10 persen (Rizky. Pertumbuhan perbankan syariah tersebut cukup menggembirakan. yaitu pertumbuhan kelembagaan. 2008). Perbankan syariah sekitar 105 persen.1.1. pertumbuhan sumber dana dan pertumbuhan aset produktif. diketahui bahwa pertumbuhan aset perbankan syariah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. pertumbuhan bank syariah 74 persen setahun dan pada tahun 2003 sebesar 70 persen setahun. pertumbuhan aset. perbankan syariah mengelola aset sebesar 47. Latar Belakang Perkembangan bank syariah dimulai sejak tahun 1992.

Selain itu. Sementara rasio pembiayaan perbankan syariah mencapai di atas 100 persen (sekitar 103.2 yang diberikan (PYD) dengan total kantor layanan sebanyak 1470 kantor.1. 2008). Sumber: Bank Indonesia. Statistik Perbankan Syariah. Akan tetapi. Akan tetapi. Perkembangan dan Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah di Indonesia (Tahun 2007-2008) Pangsa perbankan syariah terhadap total bank masih relatif kecil.64 persen) (Bank Indonesia. fungsi intermediasi perbankan dapat lebih efektif dijalankan oleh perbankan syariah. yang paling menarik adalah pangsa perbankan syariah terhadap kredit atau pembiayaan yang diberikan lebih besar daripada pangsanya terhadap aset. 2008. Dengan kata lain. share total aset perbankan syariah terhadap total perbankan yang masih kecil menyebabkan perbankan syariah harus meningkatkan . kredit bermasalah terlihat lebih kecil. namun terus meningkat. Gambar 1.

179 2.7 Keterangan : FDR=Financing to Depocit Ratio LDR=Loan to Deposit Ratio NPFs=Non Performing Financings NPLs=Non Performing Loans Sumber : Bank Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari perannya dalam hal penyaluran dana (khususnya pada sektor UKM (Usaha Kecil dan Mikro)). . BMT juga bisa secara langsung bergerak di bidang usaha sektor riil. Pertumbuhan perbankan syariah ternyata seiring dengan pertumbuhan lembaga keuangan mikro (Aryati.3 sharenya. BMT ialah lembaga ekonomi masyarakat yang bertujuan untuk mendukung kegiatan usaha ekonomi rakyat bawah dan kecil.95 7. 2008. peternakan. Salah satu lembaga keuangan mikro syariah yang memberikan pembiayaan kepada usaha mikro dan kecil adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Statistik Perbankan Syariah. Hal tersebut masih dapat tercapai mengingat selama ini pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah cukup pesat.323 FDR/LDR (%) 111.707.362 DPK 34. Selain unit simpan pinjam. perikanan. 2006).422 2.325.60 NPFs/NPLs (%) 3. Tabel 1. yang dijalankan berdasarkan syariat Islam. Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank (November 2008) (Miliar Rupiah) Perbankan Syariah Total Bank Nominal Share (pangsa) (%) Total Aset 47.1. seperti toko serba ada.05 2.91 1. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan modal yang dibutuhkan oleh usaha kecil yang kebanyakan merupakan masyarakat berpenghasilan rendah.529 2.93 77.876 Kredit/Pembiayaan 38.02 1. BMT berintikan dua kegiatan usaha yang mencakup Baitul Maal dan Baitul Tamwil.303.

Sebagian besar BMT berbadan hukum koperasi. Jumlah lembaga keuangan mikro (LKM) saat ini diduga sekitar 9000 LKM. 9 Tahun 1995. Secara sektoral aktivitas UKM ini didominasi oleh sektor pertanian. Dengan melihat kondisi ini diperkirakan masih diperlukan sekitar 8000 unit LKM baru. kontraktor dan sebagainya. dan Mikro) dan hanya menyediakan dana sekitar 6 persen dari kebutuhan pembiayaan UMKM. Mengingat kotribusi UKM yang sangat besar inilah maka kebutuhan permodalan . ekspor impor. Secara individual. Tidak sedikit BMT yang mengelola aset di atas 10 miliar rupiah dengan jumlah nasabah di atas 3.307 unit dengan aset sekitar 1. BMT sangat bervariasi terkait dengan aset yang dikelola. sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.8 juta unit usaha atau 99. Jika dari kontribusinya.000 ribuan orang. Oleh karena itu. UKM memegang posisi yang terbesar yaitu sekitar 53. hampir separuh dari LKM nasional adalah BMT.4 jasa wartel. LKM hanya mampu melayani 2. Menurut data Menteri Negara Koperasi tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah populasi Usaha Kecil Mikro (UKM) pada tahun 2007 mencapai 49. bangunan.5 juta dari 39 juta entitas UMKM (Usaha Menengah.5 triliun rupiah. perdagangan.6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. dan restoran. Kecil. Artinya. Jumlah BMT di seluruh Indonesia diperkirakan sebayak 3. leveransir. Peran BMT cukup besar untuk mendorong perkembangan usaha kecil dan mikro. BMT tidak mempunyai peluang untuk menyalurkan pinjaman kepada nonanggota.99 persen terhadap total unit usaha di Indonesia. Berdasarkan kajian Kantor Mennegkop dan UKM. meskipun juga banyak BMT yang asetnya kurang dari 50 juta rupiah dan nasabahnya kurang dari 500-an orang. hotel.

7 38.9 36.8 20.9 7.2.1 0. usaha kecil dan mikro dapat terbantu dan berkembang. dan Air Bangunan Perdagangan. 2008).9 17.7 4. dan Jasa Jasa-jasa PDB PDB tanpa migas Usaha Kecil 87. Sewa.1 52. pembiayaan dari BMT . 2007.1 Sumber: Badan Pusat Statistik dan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. sebagian besar LKM beroperasi dalam wilayah yang terbatas. Selain itu.3 39.3 75.5 bagi pengusaha kecil dan mikropun harus terpenuhi untuk kelangsungan usahanya.2 13. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri pengolahan Listrik.3 88. Diharapkan dengan adanya pembiayaan dari BMT.9 7. 1988 dalam Arsyad. atau pada ceruk pasar (market niche) tertentu dimana dimungkinkan untuk mengenal peminjam secara pribadi (Ghate. Menengah.7 45.5 44.0 91.8 24. dan Besar terhadap PDB Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2003-2006 (persen) Rata-rata tahun 2003-2006 Usaha Usaha Jumlah Menengah Besar 8.3 8.0 100 3.0 39. Tabel 1. Gas.6 100 11.4 45. Kondisi ini memungkinkan BMT lebih banyak mendorong perkembangan usaha mikro dan kecil.8 43. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Hal ini disebabkan oleh layanan keuangan syariah BMT yang mudah diakses berbagai pelaku bisnis usaha mikro dan kecil yang unbankable.9 17. Selain itu. Oleh karena itu.3 100 100 100 100 100 100 100 100 100 No.5 29.7 21.2 46.6 75.9 15.9 3. Kontribusi Usaha Kecil.7 33. Hotel. sektor usaha mikro dan kecil memang merupakan wilayah yang dapat dicapai oleh BMT.

LKM membantu meningkatkan kepercayaan diri masyarakat miskin untuk terus berusaha karena LKM dapat melayani usaha yang unbankable.2. Rumusan Masalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) adalah suatu gerakan swadaya masyarakat di bidang ekonomi yang sejak awal kehadirannya fokus untuk melayani kebutuhan finansial usaha mikro dan kecil. pembiayaan yang diberikan oleh BMT terhadap usaha kecil ternyata . BMT juga yang telah menyelamatkan banyak usaha mikro dan kecil dari cengkraman lintah darat. BMT yang sebagian besar berbadan hukum koperasi mampu mengatasi kendala-kendala yang dimiliki lembaga keuangan formal seperti Bank. Kedua. Oleh karena itu. Pertama. 1. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) khususnya BMT sangat penting untuk masyarakat miskin. Ketiga. terdapat tiga alasan mengapa LKM penting bagi masyarakat miskin. Adanya keterbatasan modal yang dialami oleh usaha mikro dan kecil merupakan sebuah tantangan besar yang harus ditangani oleh BMT. Menurut Robinson (2000). adanya kredit (pembiayaan) yang memudahkan masyarakat menggunakannya untuk keperluan usaha.6 juga dapat mengurangi adanya kemiskinan karena pembiayaan BMT berdasarkan prinsip syariah. Dimulai sejak tahun 1992 yang merupakan respon atas kemiskinan dan pengangguran serta kurangnya permodalan dan pendampingan terhadap para pengusaha mikro dan kecil. Akan tetapi. dibutuhkan pembiayaan yang dilakukan oleh BMT terhadap usaha kecil. adanya tabungan yang memfasilitasi masyarakat menginvestasikan uangnya untuk penggunaan dalam jangka panjang.

dapat memberikan manfaat bagi pemerintah. 2. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu: 1. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas dapat diambil tujuan penelitian yaitu untuk: 1.4. masyarakat serta akademisi yang mendalami masalah ekonomi yang sering mewarnai negara Indonesia. Seberapa efektifkah pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem? 1. Manfaat Penelitian Diharapkan melalui penulisan ini.3. . 1. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem.7 dipengaruhi oleh beberapa hal. Membantu memberikan bahan masukan bagi pemerintah untuk perumusan suatu kebijakan bagi pengembangan UMKM khususnya BMT. Kinerja BMT dapat dikatakan baik apabila kinerja setiap bagian pada BMT juga baik khususnya kinerja BMT dalam hal pembiayaan. Menganalisis efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem. Faktor-faktor apa yang memengaruhi pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem? 2. 1.

4. Sebagai bahan referensi bagi penelitian lebih lanjut dalam bidangnya dan untuk pengembangan IPTEKS. Menambah informasi bagi masyarakat mengenai manfaat LKMS bagi usaha kecil.5. . Nasabah yang menjadi objek penelitian juga merupakan nasabah yang melakukan proses pembiayaan. Kinerja pembiayaan didasarkan pada efektivitas penyalurannya yang diukur berdasarkan persepsi nasabahnya. Dalam penelitian ini hanya akan mengkaji sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan oleh Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Umat Sejahtera.8 2. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil pada LKMS khususnya di bidang perdagangan. Memberi informasi dan masukan bagi lembaga keuangan mikro khususnya KJKS BMT BUS Lasem demi perkembangannya di masa mendatang. 3. 1. Pengambilan nasabah sebagai sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling yaitu dengan cara purposive sampling terhadap 40 nasabah yang menjadi responden. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan usaha kecil pada LKMS dan seberapa besar efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS.

2. Pembiayaan produktif. yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi. baik usaha produksi. Pembiayaan modal kerja.1. pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua: 1. b. . Menurut Antonio (2001). yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan a. yaitu: 1. sifat penggunaan pembiayaan dapat dibagi menjadi dua. yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan. yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal/capital goods serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan investasi. yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.9 II. Pembiayaan investasi. 2. yaitu jumlah hasil produksi. Peningkatan produksi. TINJAUAN PUSTAKA 2. perdagangan maupun investasi.1. Menurut keperluannya. yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas. maupun secara kualitatif. Sistem Pembiayaan Bank Syariah Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank. Pembiayaan konsumtif.1. baik secara kuantitatif. Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang. Tinjauan Teori 2. yaitu untuk peningkatan usaha.

Pembiayaan dilihat dari segi tujuan a. Pembiayaan jangka menengah : pembiayaan dengan jangka waktu antara 1-3 tahun. Pembiayaan jangka pendek : pembiayaan dengan jangka waktu maksimal satu tahun. b. jenis-jenis pembiayaan baik di perbankan konvensional maupun di perbankan syariah terbagi menurut tiga macam dilihat dari pembiayaannya. produktif investasi Gambar 2. 2. c. Pembiayaan produktif : pembiayaan yang dimanfaatkan untuk kegiatan produksi yang menghasilkan suatu barang dan jasa. Pembiayaan konsumtif : pembiayaan yang diberikan untuk tujuan konsumtif yang hanya dinikmati pemohon. Pembiayaan dilihat dari jangka waktu a. yaitu: 1. 2001.1. b. . Pembiayaan perdagangan : pembiayaan yang diberikan untuk pembelian barang sebagai persediaan untuk dijual kembali. Jenis-Jenis Pembiayaan Menurut Laksmana (2009).10 pembiayaan konsumtif Modal kerja Sumber: Antonio.

1.1. Pembiayaan modal kerja b. Adapun operasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan permodalan dan memberikan pembiayaan. bukan hubungan debitur dengan kreditur. Al Mudlorobah yaitu sistem kerja sama antara dua belah pihak yang terdiri dari pemilik modal (shohibul maal) dengan pengelola (mudlorib) baik . tidak hanya berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil untuk pemegang saham. 3. Sistem Bagi Hasil Dalam sistem bagi hasil ini KJKS BMT Bina Umat Sejahtera menggunakan perangkat syariah yang disebut Al Mudlorobah dan Al Musyarakah (Jumanto dkk. melainkan hubungan kemitraan (partnership) antara penyandang dana (shohibul maal) dengan pengelola dana (mudlarib).11 c.1. Pembiayaan multiguna 2. 2007). Produk-Produk Sistem Syariah dan Ketentuan-Ketentuannya Dalam lembaga keuangan syariah hubungan antara lembaga dan nasabahnya/ anggota.1. Oleh karena itu. Pembiayaan investasi c. lembaga menggunakan piranti atau perangkat syariah sebagai berikut (Jumanto dkk. Pembiayaan jangka panjang : pembiayaan dengan jangka waktu lebih dari tiga tahun. Pembiayaan dilihat dari penggunaannya a. tetapi juga berpengaruh pada bagi hasil yang diberikan kepada nasabah/ anggota penyimpan dana. 2007) : a. tingkat laba lembaga.

selama bukan akibat kelalaian pengelola. e. Keuntungan. apabila mendapat keuntungan dibagi untuk kedua belah pihak sesuai dengan bagian masing-masing (nisbah) yang telah . untuk mengusahakan modalnya dengan mendapat bagian dari sebagian keuntungan (hasil) yang telah disepakati bersama. Keduanya disyaratkan harus cakap hukum artinya secara hukum pantas melakukan transaksi (akad) tersebut. 2002): a. c. bentuk uang atau barang yang dinilai secara tunai bukan piutang. maka pengelola harus bertanggung jawab atas kelalaian tersebut. Ketentuan-ketentuan yang harus ada pada mudlorobah (BMT Network. b. d. Adanya usaha. Adanya modal dengan ketentuan jelas jumlahnya. bukan usaha yang diharamkan. Sedangkan jika rugi. ditanggung oleh pemilik modal. apabila kelalaian tersebut disebabkan oleh pengelola. Adanya kedua belah pihak yaitu shohibul maal dan mudlorib. Namun.12 bersifat keuangan atau institusi (lembaga) dengan ketentuan bagi hasil yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada waktu transaksi (akad). pengelola hanya sebagai wakil (wakalah) dari pemilik modal. apabila mendapat hasil atau keuntungan. yaitu ikatan kerja atau kesepakatan bersama antara dua belah pihak dengan ketentuan secara eksplisit menunjukkan tujuan akad dan semua kesepakatan dilakukan saat membuat kontrak. Dengan kata lain dalam mudlorobah. Usaha hak eksklusif pengelola (mudlorib) dan yang sesuai syariah. Adanya akad.

dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana. c. 2007. hal 65. b. Negosiasi 2. Adanya akad (ikatan kerja sama) antara pihak akad secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak. Akad mudlorobah Anggota/ calon anggota Usaha/ proyek Skill/usaha Modal KJKS BMT BUS Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan MODAL Sumber: Jumanto dkk.2. Modal dengan jumlah yang jelas.13 disepakati bersama waktu akad. Al Musyarakah atau syirkah. Sedang apabila ada kerugian karena usaha ditanggung pemilik dana. Skema Al Mudlorobah 2. Ketentuan-ketentuan Al Musyarakah: a. dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Kesepakatan-kesepakatan dilakukan saat kontrak. yaitu sistem kerja sama antara dua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Adanya pihak-pihak yang melakukan kontrak dengan syarat cakap hukum bagi yang melakukan kontrak. 1. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan seperti barang-barang . bentuk uang atau barang yang dinilai. Gambar 2.

Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar musyarakah atas nama pribadi dan wakil mitranya. d. Jika modal berbentuk aset harus terlebih dulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra (anggota). dalam sistem ini lembaga menggunakan perangkat syariah yang disebut Ba’i murabahah. Adanya kerja. Skema Al Musyarakah b. f. . Negosiasi 2. Negosiasi 4. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. e.14 properti. Akad Musyarakah Sumber: Jumanto dkk. Sistem Jual Beli Sistem jual beli ini dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang. Keuntungan dan kerugian dibagikan secara proporsional sesuai dengan besarnya modal dan kontribusi masing-masing sesuai dengan kesepakatan. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. Keuntungan yang didapat oleh lembaga keuangan ditentukan di depan dan menjadi bagian dari harga barang yang dijual.3. Akad Musyarakah KJKS BMT BUS Anggota/calon anggota kontribusi Usaha/ proyek kontribusi 3. hal 68. 2007. Gambar 2. 1.

Ketentuan umum ba’i murabahah (BMT Network. Akad atau transaksi bebas dari riba b. Skema Ba’i Al Murabahah . Lembaga keuangan membeli barang atas nama lembaga dengan sah bebas riba d. beli barang Toko/produsen Sumber: Jumanto dkk.15 Ba’i murabahah yaitu jual beli barang dengan menyebutkan harga asal ditambah keuntungan yang disepakati antara kedua belah pihak yaitu antara lembaga dengan anggota. 2002): a. Boleh mengadakan perjanjian khusus misalnya meminta jaminan dan lain sebagainya 1. Lembaga keuangan harus jujur tentang harga pokok pembelian e. Akad Ba’i murabahah KJKS BMT BUS Anggota/ calon anggota 5. terima barang 3. Negosiasi 2. Anggota membayar harga yang telah disepakati dan dalam waktu yang telah disepakati pula f.4.bayar 4. Gambar 2. Pada prakteknya anggota membeli barang dengan pembayaran angsuran sehingga sistem murabahah dalam KJKS BMT BUS disebut Bai’bitsamanajil (BBA) artinya jual beli dengan pembayaran harga angsuran (tangguh). hal 69. Barang yang dijualbelikan tidak barang haram c. 2007.

yaitu: a.1. prosedur peminjaman. 2008).2. besar kecilnya biaya administrasi. lokasi bank. menurut Hidayat (2004) menyatakan bahwa efektif atau tidaknya suatu penyaluran pembiayaan pada BMT dapat dinilai berdasarkan beberapa parameter antara lain: persyaratan peminjaman. Peningkatan pendapatan b. Efektivitas Pembiayaan Pembiayaan adalah istilah dalam syariah untuk lembaga keuangan syariah baik itu mikro maupun makro untuk menyalurkan dananya. pelayanan petugas bank. Dalam penulisan ini penulis akan lebih sering menuliskan pembiayaan daripada penyaluran dana. pembiayaan yang diberikan dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan . Kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif (Arsyad. realisasi kredit.1. Sedangkan. Mekanisme pengembalian pembiayaan 2. Mekanisme penyaluran pembiayaan c. Dampak pembiayaan terhadap kondisi usaha nasabah. yaitu: a. Peningkatan keuntungan Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah untuk modal atau tambahan modal usaha dikatakan efektif apabila prosedur pembiayaan tergolong mudah. Mekanisme pengajuan pembiayaan b. jaminan/agunan. Dalam penelitian ini efektivitas pembiayaan dilihat dari: 1.16 2. pengetahuan dan partisipasi nasabah/calon nasabah. Prosedur pembiayaannya.

Sedangkan usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. 2. UU No.000. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. 3. 40/KMK. Usaha Kecil dan Mikro Definisi usaha kecil dan mikro menurut beberapa undang-undang dan institusi adalah sebagai berikut : 1.5 miliar rupiah.000.2.000. 20 Tahun 2008 Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki aset maksimal 50 juta rupiah dan omset maksimal 300 juta rupiah.000.00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan.000. dikuasai. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang mempunyai aset lebih dari 50 juta rupiah sampai 500 juta rupiah dan omset lebih dari 300 juta rupiah sampai 2. 9 Tahun 1995 Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil dengan kekayaan bersih maksimal Rp 200. UU No. Keputusan Menkeu No.17 usaha nasabah. 2. penjualan tahunan maksimal Rp 1.00 .1.06/2003 Usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia yang memiliki hasil penjualan paling banyak 100 juta rupiah per tahun. Analisis keefektifan pembiayaan ini dilakukan untuk menilai sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan KJKS BMT BUS Lasem.

5. Lokasi/ tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindahpindah. Jenis barang/ komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah. b. Sedangkan usaha kecil adalah usaha yang mempekerjakan 5 sampai 10 orang. Usaha mikro mendapatkan kredit mikro hingga 50 juta rupiah. 2008) : a. c. Sedangkan usaha kecil adalah usaha yang memiliki aset hingga 200 juta rupiah di luar tanah dan bangunan dengan omset 1 miliar rupiah dan menerima kredit mulai 50 juta rupiah hingga 500 juta rupiah. Dalam usaha mikro. diantaranya (Suharto. Bank Indonesia (BI) Usaha mikro adalah usaha yang dilakukan orang miskin atau hampir miskin yang merupakan milik keluarga dengan sumber daya lokal dan menggunakan teknologi sederhana. masyarakat dapat dengan bebas masuk dan keluar dari usaha ini. sudah membuat neraca usaha. 4. Badan Pusat Statistik (BPS) Usaha mikro adalah usaha yang mempekerjakan lima orang termasuk pekerja keluarga yang tidak dibayar. keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana. .18 (satu miliar rupiah) dan milik Warga Negara Indonesia (WNI) serta berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan. Ciri-ciri usaha kecil.

Peternakan ayam. LKM merujuk keuangan mikro sebagai upaya penyediaan jasa keuangan. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal. terutama simpanan dan kredit. industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan. f. 2. LKM pada dasarnya memiliki definisi yang sama dari beberapa pakar dan organisasi. 2008) : a. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP. yaitu (Suharto. kayu dan rotan. e. Pengrajin industri makanan dan minuman. Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja.1. itik dan perikanan. Contoh usaha kecil. d. Koperasi berskala kecil. 2005). industri alat-alat rumah tangga. industri meubelair. dan juga jasa keuangan lain bagi .19 d. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah lembaga yang terlibat dalam penyaluran kredit mikro (Wijono. Sedangkan menurut Arsyad (2008).3. e. b. g. Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwiraswasta. Pedagang di pasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning. c.

kemudian dalam perkembangannya menjadi Baitul Maal wat Tamwil yang disingkat menjadi BMT. Sedangkan pembinaannya di bawah Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). Salah satu lembaga keuangan mikro adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT). infak. Legalitas BMT diberikan oleh Departemen Koperasi dan Usaha Kecil.2. BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang berbentuk syariah. Sedangkan Baitut Tamwil (bait=rumah. Penelitian Terdahulu Penelitian skripsi yang dilakukan oleh Kurnialestari (2007) tentang “Analisis Tingkat Kesehatan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman” menyimpulkan bahwa Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi besar pembiayaan mitra kelompok KBMT Ibbadurrahman adalah pendapatan bersih mitra per bulan.20 keluarga miskin dan berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses terhadap bank komersial. Penggunaan istilah BMT diambil dari kata-kata Baitul Maal wa Baitul Tamwil. sadaqah dan sekaligus menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. lama . maal=harta) merupakan lembaga penerima zakat. Baitul Maal wat Tamwil mempunyai dua bagian definisi yang keduanya memiliki fungsi dan pengertian yang berbeda. Menurut asal kata. 2. baitul maal (bait=rumah. at-Tamwil=pengembangan harta) adalah lembaga keuangan yang berorientasi bisnis dengan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi masyarakat terutama masyarakat dengan usaha skala kecil.

tingkat pendidikan dan jenis usaha. Muhammad Syafar (2006) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Efektivitas Pembiayaan Sistem Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor” menyimpulkan bahwa Penerapan program UPK ikhtiar di desa Ciaruteun merupakan daerah agribisnis yang sangat efektif.21 menjadi mitra. Sedangkan secara negatif permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agunan dan biaya peminjaman nasabah. TPL (tenaga pendamping lapangan) merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi efektivitas pembiayaan. dan dummy jenis kelamin mitra. Metode yang dilakukan oleh Kurnialestari adalah metode regresi log-linier berganda (double log). Aryati (2006) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Permintaan Dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah. dummy pinjaman lain. dummy usaha lain. Aryati menyimpulkan bahwa permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi secara positif dengan skala usaha yang direpresentasikan oleh pendapatan per hari dari nasabah KBMT. Dengan Studi Kasus KBMT Khidmatul Ummah” melakukan penelitian dengan metode OLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran dana pada Koperasi Baitul Maal wat Tamwil sangat dipengaruhi oleh peningkatan penghimpunan dana . Partisipasi anggota dalam mengikuti program UPK ikhtiar dapat meningkatkan jumlah tabungan. Sebuah penelitian juga dilakukan oleh Wardhana (2005) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT”. periode angsuran. lama nasabah menjadi anggota KBMT.

dummy pinjaman lain. lama menjadi mitra. Hal ini menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat sehingga masyarakat ingin menyimpan dananya di BMT. Faktor yang memengaruhi jumlah pengambilan pembiayaan oleh nasabah di BMT koppontren hubbul wathon yaitu besar tunggakan. Analisis Permintaan pembiayaan regresi linier KBMT dipengaruhi berganda secara positif dengan (OLS) dan skala usaha yang Aryati (2006) Analisis Permintaan Dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil Pada Lembaga .22 BMT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan pembiayaan menurut nasabah telah efektif. dan dummy jenis kelamin mitra. Tabel 2. Yayat Hidayat (2004) dalam skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil Pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Hubbul Wathon” menggunakan metode cobb douglass. dummy usaha lain.1. jangka waktu angsuran pada koefisien keyakinan 90 persen. Hal ini disebabkan oleh frekuensi peminjaman yang rendah serta tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat. efektivitas pembiayaan secara keseluruhan belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan KBMT. Namun. Sedangkan faktor pendapatan usaha keluarga dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang diambil pada koefisien keyakinan 85 persen. Penelitian Terdahulu Kurnialestari Analisis Tingkat (2007) Kesehatan dan FaktorFaktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman Metode Regresi loglinier Berganda (double log) Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi besar pembiayaan mitra kelompok KBMT Ibbadurrahman adalah pendapatan bersih mitra per bulan.

Partisipasi anggota dalam mengikuti program UPK ikhtiar dapat meningkatkan jumlah tabungan. tingkat pendidikan dan jenis usaha. Secara keseluruhan pembiayaan menurut nasabah telah efektif. Penerapan program UPK ikhtiar di desa Ciaruteun merupakan daerah agribisnis yang sangat efektif. Sedangkan secara negatif permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agunan dan biaya peminjaman nasabah. TPL (tenaga pendamping lapangan) merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi efektivitas pembiayaan. Penyaluran dana pada Koperasi Baitul Maal wat Tamwil sangat dipengaruhi oleh peningkatan penghimpunan dana BMT. Dengan Studi Kasus KBMT Khidmatul Ummah. analisis deskriptif Muhammad Syafar (2006) Analisis Efektivitas Metode Pembiayaan Sistem AHP Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor direpresentasikan oleh pendapatan per hari dari nasabah KBMT.23 Keuangan Mikro Syariah. lama nasabah menjadi anggota KBMT. Hal ini menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat sehingga masyarakat ingin menyimpan dananya di BMT. Namun. periode angsuran. efektivitas pembiayaan secara Wardhana (2005) Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT Metode regresi linier berganda dan OLS Yayat Hidayat (2004) Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil Pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Koperasi Metode cobb douglass .

Sedangkan faktor pendapatan usaha keluarga dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang diambil pada koefisien keyakinan 85 persen.24 Pondok Pesantren (Koppontren) Hubbul Wathon keseluruhan belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan KBMT. . jangka waktu angsuran pada koefisien keyakinan 90 persen. Faktor yang memengaruhi jumlah pengambilan pembiayaan oleh nasabah di BMT koppontren hubbul wathon yaitu besar tunggakan. Hal ini disebabkan oleh frekuensi peminjaman yang rendah serta tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat.

dibutuhkan LKM yang dapat melayani masyarakat berpenghasilan rendah di daerah-daerah Negara Sedang Berkembang (NSB) (Ghate. Hal ini sejalan dengan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) yang memudahkan peminjam dalam hal pembiayaan (penyaluran kredit). ditemukan setidaknya dua keunggulan komparatif LKM dalam melayani masyarakat berpenghasilan rendah di daerah-daerah pedesaan NSB. Pembiayaan usaha kecil pada LKMS memberikan pengaruh yang positif bagi kinerja usaha kecil apabila kinerja pembiayaan pada LKMS baik. Dalam sebuah literatur. pihak pengelola BMT menerapkan persetujuan serta pengawasan pembiayaan yang ketat untuk memastikan kualitas pembiayaan yang sehat. dikatakan bahwa masyarakat yang berpenghasilan rendah umumnya mempunyai jenis usaha yang berskala kecil. Menyikapi hal ini.1. Menurut Ghate (1992b) dalam Arsyad (2008). Kelenturan LKM dalam persoalan agunan membuat LKM tersebut dapat membiayai sejumlah besar kegiatan jasa tanpa harus ada agunan. 1992b dalam Arsyad. yaitu kelenturan prosedur kredit LKM dan penyediaan pinjaman kecil dan jangka pendek. 2008). Oleh karena itu. Kerangka Pemikiran Teoritis Lembaga Keuangan Mikro (LKM) telah berkembang sebagai alat pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Permasalahannya adalah hingga saat ini dukungan modal terhadap usaha kecil tergolong kurang. Pengelola BMT juga melakukan survey ke nasabah yang mengajukan pembiayaan .25 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.

26

sebelum pencairan dilakukan. Pembiayaan yang dilakukan BMT diberikan dalam bentuk mudharabah dan musyarakah kepada usaha kecil. Menurut Rachmawan (2008), terdapat beberapa prinsip pembiayaan yang diberlakukan beberapa institusi keuangan, yaitu: (1) Character (kepribadian), (2) Capacity/ capability (kemampuan), (3) Capital (modal), (4) Condition of Economy (kondisi perekonomian baik makro maupun mikro), (5) Cholateral (jaminan). Dari prinsip pembiayaan tersebut diduga besarnya pembiayaan yang diberikan oleh LKMS dipengaruhi oleh jenis dan skala usaha, ada tidaknya agunan, biaya peminjaman, status keanggotaan, pendidikan, dan jangka waktu angsuran. Efektivitas pembiayaan pada LKMS diukur berdasarkan persepsi nasabahnya dalam menilai pembiayaan yang diberikan.

27

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Biaya peminjaman n pendidikan Status keanggotaan Jangka waktu angsuran Pembiayaan LKMS Analisis regresi linier berganda dan deskriptif Keberlangsungan usaha kecil Efektivitas pembiayaan:  Prosedur pembiayaan  Peningkatan pendapatan usaha  Peningkatan keuntungan usaha

Ada tidaknya agunan Jenis dan skala usaha

Usaha kecil

Hipotesis Kesimpulan
Keterangan : : lingkup penelitian : variabel dependen : variabel independen : metode analisis yang digunakan

Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Operasional 3.3. Hipotesis Penelitian Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Pembiayaan usaha kecil pada KJKS BMT BUS Lasem cukup efektif. 2. Pengambilan pembiayaan (AB) berhubungan positif dengan pendapatan (PS) dan keuntungan usaha (PU). 3. Pendapatan usaha (SB), biaya peminjaman (BC), jangka waktu angsuran (CR), lama menjadi anggota (A), dan ketiga varibel dummy (tingkat

pendidikan (DP), ada tidaknya agunan (DA), dan jenis usaha(DU)) berhubungan positif dengan besarnya pengambilan pembiayaan (AB).

28

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Umat Sejahtera (BUS), Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pemilihan KJKS BMT BUS Lasem ini dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa KJKS BMT BUS Lasem telah lama berdiri dan berkembang pesat serta banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di wilayah Lasem. Waktu penelitian dilakukan pada pertengahan bulan Februari sampai bulan Maret 2009.

4.2. Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer untuk mengukur seberapa efektif pembiayaan usaha kecil dan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan pada usaha kecil yang dilakukan oleh LKMS. Sedangkan data sekunder untuk melengkapi data primer dalam penulisan skripsi ini. Sumber data dari penelitian ini berasal dari data responden yaitu anggota KJKS BMT BUS yang mempunyai usaha dalam lingkup kecil. Selain itu, sumber data yang digunakan berasal dari pembukuan pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem. Sumber data lain sebagai pendukung kelengkapan data dalam penelitian ini didapatkan melalui Bank Indonesia, buku, jurnal, skripsi, dan internet.

Data primer Karakteristik anggota Keragaan usaha Besarnya pembiayaan (rupiah) Rata-rata pendapatan perhari (rupiah) Jangka waktu angsuran (hari/bulan/tahun) Biaya transportasi (rupiah) Lama menjadi nasabah (tahun) Tingkat keuntungan (rupiah) Lama menekuni usaha/ skala usaha (tahun) Ada tidaknya agunan II.29 Tabel 4. Karakteristik anggota pembiayaan yang dibiayai KJKS BMT BUS Lasem b. Jenis dan Sumber Data Jenis Data I. Penilaian tentang efektivitas pembiayaan usaha kecil yang dilakukan terhadap nasabah responden KJKS BMT BUS Lasem dilakukan dengan instrumen kuesioner. Anggota tersebut juga termasuk ke dalam anggota pembiayaan yang melaksanakan usaha dalam lingkup kecil. data diambil dengan metode studi kasus (case study) melalui wawancara yang dilakukan oleh pihak KJKS BMT BUS yang berwenang dengan menggunakan kuesioner kepada anggota (responden).3.Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini.1. Data sekunder Neraca keuangan LKMS Status keanggotaan Aset dan outstanding BMT Sumber Data Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota KJKS BMT BUS KJKS BMT BUS KJKS BMT BUS              4. Tanggapan anggota mengenai pembiayaan yang disalurkan KJKS BMT BUS Lasem . Kuesioner tersebut berisi tentang: a.

.30 c.4. Sampel yang diambil berasal dari anggota pembiayaan KJKS BMT BUS yang mempunyai usaha di bidang perdagangan. 2007). Keberlangsungan usaha kecil/ perkembangan usaha kecil dengan adanya pembiayaan dari KJKS BMT BUS Lasem 4. artinya prosedur yang dilakukan dalam memilih sampel berdasarkan pertimbangannya tentang beberapa karakteristik yang berkaitan dengan anggota sampel yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian (Juanda. metode yang paling memungkinkan adalah dengan metode purposive sampling.000). Responden adalah nasabah KJKS BMT BUS Lasem yang telah diberikan pembiayaan minimal 2 kali. Dengan metode ini artinya anggota pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem memiliki peluang yang tidak sama untuk dijadikan sampel sehingga hanya anggota yang telah ditentukan yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Jumlah keseluruhan anggota pembiayaan KJKS BMT BUS di bidang perdagangan mencapai 588 orang dengan karakteristik pembiayaan yang berbedabeda (jumlah pembiayaan dari Rp 0 – Rp 50. Jumlah badan pengurus KJKS BMT BUS sebanyak 5 orang. Pertimbangan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut: 1. Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pengambilan sampel non probabilitas (non acak). Bidang perdagangan dipilih karena untuk memudahkan analisis permodelan dan penyetaraan akad dalam transaksi. Oleh karena itu. Jumlah anggota sebagai respon yang diamati sebanyak 40 orang untuk memudahkan dalam analisis dengan asumsi kenormalan.000.

retail. Untuk pengolahan data menggunakan eviews 4.1. 4. Sebelum diolah dan dianalisa. 3. 6.31 2. dilakukan beberapa prosedur pendahuluan terhadap data yang diperoleh yaitu membuat pengkodean dan penggolongan beberapa kategori jawaban. tenaga. 5.000 – Rp 30. dan lain-lain. 4.000.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan statistik. dan siap pakai) dengan jumlah pembiayaan antara Rp 500. Metode-metode tersebut dapat dijelaskan berikut ini: . Keterbatasan dalam pengambilan sampel yang berhubungan dengan waktu. Anggota yang diambil datanya adalah anggota yang melakukan pembiayaan di bidang perdagangan (siap saji. Data yang diperoleh merupakan data kualitatif dan kuantitatif. Analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian dilakukan dengan dua metode. Anggota yang menjadi responden adalah anggota yang pembiayaannya digunakan untuk tujuan yang produktif. biaya. Anggota mudah ditemui dan bersedia diwawancarai serta diminta penjelasan terkait dengan kuesioner yang diberikan. Pengambilan sampel berdasarkan data yang direkomendasikan oleh pimpinan KJKS BMT BUS Lasem mengenai anggota yang dapat diwawancarai baik berupa saran dan alamat nasabah.000.

Penggunaan logaritma natural (ln) dalam penelitian ini untuk memudahkan interpretasi dalam pemodelan dan untuk menyamakan satuan dalam model..5.. Rancangan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a..1. Analisis Statistik Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda.1) Dimana: ABi BCi SBi CRi Ai DPi = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = biaya peminjaman nasabah ke-i (rupiah) = besar pendapatan per hari nasabah ke-i (rupiah) = jangka waktu angsuran (hari) = lama menjadi nasabah ke-i (bulan) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar DAi a0 = dummy agunan nasabah ke-i DA bernilai 1 jika ada agunan dan 0 jika tidak ada agunan = intersep .(4.32 4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan LnABi=a0+b1LnBCi+b2LnSBi+b3LnCRi+b4LnAi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+ d1DU1i+d2DU2i+e1DAi+ei ………………………………………….

.……………………………………………………….2) Dimana : PSi ABi KUi DPi = besar pendapatan nasabah per hari ke-i (rupiah) = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = profit (keuntungan) usaha per hari nasabah ke-i (rupiah) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar a0 ei = intersep b1-d2 = koefisien = eror ke-i c.(4. Pengaruh Pembiayaan terhadap Tingkat Pendapatan Nasabah LnPSi=a0+b1LnABi+b2LnKUi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+d1DU1i+ d2DU2i+ ei ………………... Pengaruh Pembiayaan terhadap Tingkat Keuntungan Usaha LnPUi=a0+b1LnABi+b2LnSUi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+d1DU1i+d2DU2i+ei ……………….33 b1-e1 ei = koefisien = eror ke-i b..………………………………………………………(4.3) Dimana : PUi ABi SUi DPi = keuntungan usaha nasabah per hari ke-i (rupiah) = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = besar pendapatan per hari nasabah ke-i (rupiah) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain .

(5) pada regresi linier berganda tidak terjadi hubungan antar variabel bebas (multicolinearity) (Departemen Ilmu Ekonomi. Model regresi linier berganda ini akan baik dan sesuai dengan kaidah statistik apabila dilakukan pengujian supaya dapat memenuhi asumsi BLUE. Selain pengujian untuk memenuhi asumsi BLUE. (4) tidak ada korelasi serial antara error (no autocorrelation). 2005). Pengujian untuk memenuhi asumsi BLUE di atas adalah uji multikolinearitas.34 DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar a0 ei = intersep b1-d2 = koefisien = eror ke-i Pengujian model di atas dilakukan dengan menggunakan model regresi linier berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square). uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) ini yaitu (1) nilai harapan dari rata-rata kesalahan adalah nol. (2) variansnya tetap (homoskedasticity) atau dengan kata lain tidak ada heteroskedastisitas. (3) tidak ada hubungan antara variabel bebas dan error term. juga dilakukan pengujian statistik terhadap model penduga melalui uji F dan pengujian untuk parameter-parameter regresi melalui .

1. Uji Heteroskedastisitas Suatu model regresi linear harus memiliki varians yang sama. tetapi kesalahan standarnya cenderung semakin besar dengan meningkatnya korelasi antara variabel. di antaranya: (1) meskipun penaksir OLS mungkin bisa diperoleh. Gejala multikolinearitas dalam suatu model akan menimbulkan beberapa konsekuensi (Gujarati.1. . 4. 4.8|. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model adalah melalui correlation matrix. maka akan terdapat masalah heteroskedastisitas. 1995). Jika asumsi ini tidak dipenuhi.35 uji t serta melihat berapa persen variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabelvariabel independen melalui koefisien determinasi (R2). Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan linear di antara variabel-variabel bebas dalam model regresi. (3) jika korelasinya tinggi.5. yaitu jika nilai VIF kurang dari 10 maka tidak terdapat multikolinieritas. (4) kesalahan standar akan semakin besar dan sensitif bila ada perubahan data.5. kemungkinan probabilitas untuk menerima hipotesis yang salah menjadi besar. Selain melalui correlation matrix. (5) tidak mungkinnya mengisolasi pengaruh individual dari variabel yang menjelaskan. maka terdapat gejala multikolinearitas. dapat juga melalui nilai Variance Inflation Factor (VIF). di mana jika terdapat koefisien korelasi yang lebih besar dari |0.1.2. (2) standard error dari parameter dugaan akan sangat besar sehingga selang keyakinan untuk parameter populasi yang relevan cenderung lebih besar.

1995). b.1.3. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya > taraf nyata (α) yang digunakan. maka persamaan tidak mengalami heteroskedastisitas. Pengujian yang dapat dilakukan untuk melihat gejala ini adalah dengan menggunakan uji White Heteroskedastisitas dengan hipotesis: H0 : γ = 0 (tidak terdapat heteroskedastisitas/ homoskedastisitas) H1 : γ ≠ 0 (terdapat heteroskedastisitas) Kriteria uji yang digunakan: a. Nilai statistik-d yang berada di kisaran angka dua . Uji yang sering digunakan untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji-d (Durbin Watson Statistic). Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya < taraf nyata (α) yang digunakan. 2003). Masalah heteroskedastisitas menjadi lebih akut pada data cross section karena tidak samanya besaran unit observasi (Lains.Uji Autokorelasi Autokorelasi merupakan gejala adanya korelasi antara serangkaian observasi yang diurutkan menurut deret waktu (time series) (Gujarati. tetapi penaksir yang dihasilkan tidak lagi mempunyai varians minimum (efisien). Akibatnya hasil dari uji-F dan uji-t menjadi tidak sah dan penaksir regresi akan menjadi sensitif terhadap fluktuasi penyampelan.5. maka terdapat heteroskedastisitas dalam persamaan tersebut. 4. Adanya gejala autokorelasi dalam suatu persamaan akan menyebabkan persamaan tersebut memiliki selang kepercayaan yang semakin lebar dan pengujian menjadi kurang akurat.36 Heteroskedastisitas tidak merusak sifat ketakbiasan dan konsistensi dari penaksir OLS.

5.4. 4. Pengujian lain untuk mendeteksi gejala autokorelasi dapat dilakukan juga dengan menggunakan uji Breusch and Godfrey Serial Correlation Lagrange Multiplier Test dengan hipotesis (Hipotesa.37 menandakan tidak terdapat autokorelasi. maka peluang terjadinya autokorelasi semakin besar. yaitu: a. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya < taraf nyata (α) yang digunakan. . maka tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa minimal ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependennya. maka persamaan tidak mengalami autokorelasi. Sebaliknya jika semakin jauh dari angka dua.Uji F untuk Model Secara Keseluruhan Uji-F digunakan untuk menguji pengaruh seluruh variabel independen terhadap variabel dependennya secara parsial dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : b1 = b2 = b3 =…= bk = 0 (tidak ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependen) H1 : minimal ada salah satu bi ≠ 0 (ada variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel dependen) Kriteria uji yang digunakan. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya > taraf nyata (α) yang digunakan. 2005): H0 H1 : ρ = 0 (tidak terdapat serial korelasi) : ρ ≠ 0 (terdapat serial korelasi) Kriteria uji yang digunakan: a. Jika probability F-statistic < taraf nyata (α). b. maka terdapat autokorelasi dalam persamaan tersebut.1.

Uji Koefisien Determinasi (R2) Uji keragaman digunakan untuk melihat besarnya keragaman yang dapat diterangkan oleh variabel independen terhadap variabel dependen (Thomas. maka tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa variabel independen-k berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya. b. Jika probability t-statistic < taraf nyata (α). 1985). maka terima H0 dan dapat disimpulkan bahwa variabel independen-k tidak memengaruhi variabel dependennya secara signifikan.6.38 b.1.5. juga dapat digunakan untuk melihat kuatnya variabel yang . yaitu: a. Jika probability F-statistic > taraf nyata (α). 4. Jika probability t-statistic > taraf nyata (α). 4.1.5. Uji t untuk Koefisien Model Regresi Pengujian parsial atau uji t digunakan untuk menguji pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependennya dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : bk = 0 (variabel independen-k tidak memengaruhi variabel dependen (tidak sinifikan)) H1 : bk ≠ 0 atau bk < 0 atau bk > 0 (variabel independen-k memengaruhi variabel dependen (signifikan)) Kriteria uji yang digunakan.5. Selain itu. maka terima H0 dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependen.

dan tidak efektif. lama. berat.39 dimasukkan ke dalam model dapat menerangkan model. sulit. mampu. tidak ramah. Keefektifan ini dilihat dari prosedur pembiayaan yang meliputi pengajuan pembiayaan. biasa. yaitu efektif. kecil. Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh anggota. ringan. Formula untuk menghitung R2 adalah : 𝑅2 = Dimana : 𝐽𝐾𝑅 𝐽𝐾𝑇 …………………………………………………………(4. kurang efektif. cukup efektif. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk melihat seberapa besar efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS. kurang aktif) diberi skor 2 sedangkan jawaban “c” (lama. dan pengembalian pembiayaan. aktif) diberikan skor 3. Nilai skor untuk masing-masing prosedur antara 160-480 (berdasarkan pengalian skor terendah dan . jawaban “b” (sedang. Terdapat empat kategori penilaian tanggapan responden terhadap efektivitas pembiayaan ini. tidak mampu. kecil. besar. akan dapat ditentukan seberapa besar keefektifan pembiayaan usaha kecil yang dilakukan KJKS BMT BUS. Metode ini digunakan dengan instrumen kuesioner yang ditujukan untuk anggota yang terpilih. kurang mampu.2. pencairan pembiayaan. Jawaban yang mendukung pernyataan “a” (mudah. cepat. tidak aktif) diberi skor 1.4) JKT : Jumlah Kuadrat Total JKR : Jumlah Kuadrat Regresi 4.5. Koefisien determinasi mengukur persentase atau proporsi total varians dalam variabel dependen yang dijelaskan model regresi. besar. ramah.

Dari selang tersebut akan didapatkan : a. 2. Biaya peminjaman adalah biaya yang dikeluarkan nasabah responden dalam pengajuan pembiayaan yang meliputi biaya materai.239 b. biaya administrasi. Sedangkan faktor-faktor yang merupakan variabel independen dari persamaan 4. Jangka waktu angsuran adalah selang waktu pengembalian pembiayaan dimana nasabah harus mengangsur dan melunasi pinjamannya (hari) yang sesuai dengan akad yang telah disepakati di awal oleh pihak BMT dan nasabah. Kurang efektif bila skor total antara 240 . 30. Variasi besarnya pembiayaan dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah pembiayaan KJKS BMT kepada nasabah sebesar Rp. dan biaya transportasi (rupiah). 500. Jumlah pembiayaan yang diambil nasabah merupakan realisasi pembiayaan yang diberikan oleh KJKS BMT kepada nasabah (rupiah) untuk digunakan sebagai modal usaha kecil. Tidak efektif bila skor total antara 160 .399 d.40 tertinggi dengan jumlah pertanyaan dalam setiap prosedur dan jumlah responden).319 c.000-Rp. yaitu: 1. Efektif bila skor total antara 400 – 480 4.000. . Definisi Operasional Variabel dependen yang diteliti adalah besarnya pembiayaan atau jumlah pembiayaan.000.1. Cukup efektif bila skor total antara 320 .6.

Jenis dan skala usaha adalah jenis usaha yang dilakukan oleh nasabah (siap pakai.000 karena dalam koperasi terdapat batas maksimum pemberian pembiayaan pada usaha kecil yaitu Rp 50. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal nasabah yang meliputi pendidikan SD. . 4. Adanya agunan yaitu jaminan atau persyaratan yang harus dipenuhi nasabah untuk menghindari adanya adverse selection dan moral hazard. Oleh karena itu. Sarjana atau yang lainnya.41 3. Dalam penelitian ini akan sedikit sekali menggunakan kata „nasabah‟ karena dalam koperasi tidak mengenal kata nasabah.000 tetapi untuk mempersempit ruang lingkup penulis menggunakan batas maksimum Rp 30.000-Rp 30. SMP. SMA. 5. Status keanggotaan yaitu riwayat nasabah yang sudah terdaftar menjadi anggota KJKS BMT (lama atau tidaknya beserta karakteristik nasabah yang mengajukan pembiayaan) 6. dan siap saji) sedangkan skala usaha nasabah berdasarkan pendapatannya per hari dari total penjualan (rupiah). retail.000.000.000. penulis akan menggunakan kata anggota dalam penelitian ini.000. Penulis mengambil sampel 40 orang responden dengan selang besaran pembiayaan antara Rp 500. nasabah dianggap sebagai anggota. Dalam lingkup koperasi.

KJKS BMT . Rasa keprihatinan terhadap kondisi ekonomi dan tuntutan masyarakat untuk memperbaiki sistem ekonomi merupakan landasan idiil pendirian LKMS ini. Dengan semboyan sebagai “Wahana Kebangkitan Ekonomi Umat.2. Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil Bina Ummat Sejahtera diinisiasi dan diprakarsai oleh Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ORSAT Rembang. Di antaranya adalah dari investor yang meliputi pengurus. Dari Umat Untuk Umat Sejahtera Untuk Semua”. Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem KJKS BMT BUS sangat berkepentingan dalam rangka mewujudkan umat yang beriman dan bertakwa. Pendirian KJKS BMT BUS tidak terlepas dari tangan-tangan para pengurus dan pengelola. sebagai bagian dari gerakan amal usaha secara nasional untuk membangkitkan ekonomi islam khususnya ekonomi mikro dan kecil sesuai dengan syariah islam. Modal untuk mendirikan KJKS BMT BUS ini berasal dari modal sendiri. KJKS BMT BUS didirikan pada tanggal 10 November 1996 oleh ICMI dengan tujuan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat lapis bawah dalam bidang ekonomi. pengurus dan pengelola.1. pengelola. GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM 5.42 V. dan anggota. 5. Atas dasar semangat Isy Kariman Au Mut Syahidan (hidup sejahtera atau mati syahid) KJKS BMT BUS mengumpulkan modal awal sebesar dua juta rupiah yang didapatkan dari para pendiri.

sehingga mampu membangun tatanan ekonomi yang penuh kesetaraan dan keadilan.43 BUS mempunyai visi “Menjadi Lembaga Keuangan Mikro Syariah Terdepan dalam Pendampingan Usaha Kecil yang Mandiri”. dan segenap potensi umat. Menjadikan lembaga jasa keuangan mikro syariah yang tumbuh dan berkembang melalui kemitraan yang sinergi dengan lembaga syariah yang lain. . infak. untuk disalurkan ke pembiayaan ekonomi kecil dan menengah serta mendorong terwujudnya manajemen zakat. sehingga terbebas dari dominasi ekonomi ribawi. sehingga mengantarkan umat islam sebagai khoera umat. 4. 5. Membangun Lembaga jasa keuangan mikro syariah yang mampu memberdayakan jaringan ekonomi mikro syariah. Mengupayakan peningkatan permodalan sendiri. anggota. membebaskan. guna mempercepat proses mensejahterakan umat. Visi KJKS BMT BUS akan tercapai jika melaksanakan misi lembaga sebagai berikut: 1. pengelola. Mengutamakan mobilisasi pendanaan atas dasar ta’awun dari golongan aghniya. dan membangun keadilan ekonomi umat. melalui penyertaan modal dari para pendiri. 2. 3. Visi misi itulah yang menyebabkan KJKS BMT BUS Lasem bergerak dalam cakupan usaha kecil dan memberdayakan masyarakat melalui usahanya. sehingga menjadikan umat yang mandiri. sehingga menjadi lembaga jasa keuangan mikro syariah yang sehat dan tangguh. dan shodaqah. Mewujudkan lembaga yang mampu memberdayakan.

Selanjutnya mengalami perubahan anggaran dasar menjadi Koperasi Simpan Pinjam Syariah pada tanggal 1 Juli 2002 menurut Keputusan Gubernur Nomor 03/BH/PAD/KDK. Pada tanggal 4 April 2006 menurut keputusan gubernur Nomor 04/PAD/KDK.11/IV/2006 Koperasi Simpan Pinjam Syariah diubah menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah. pengurus bertindak sebagai policy maker dalam menjalankan organisasi.11/VII/2002. KJKS BMT BUS telah menerapkan manajerial sistem dalam menjalankan kelembagaannya. Oleh karena itu.11/III/ 1998. Beberapa pengurus dalam KJKS BMT BUS ditunjuk sebagai pengawas atau supervise sesuai dengan sistem yang telah diterapkan oleh lembaga. Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem KJKS BMT BUS Lasem diresmikan pada tanggal 10 November 1996 oleh ICMI (Orsat Kabupaten Rembang). .3. 5. Badan hukum pertama dari lembaga ini adalah koperasi serba usaha “Unit Simpan Pinjam” dengan nomor badan hukum 13801/ BH/ KWK. Hal tersebut tercermin dalam rapat anggota tahunan (RAT) sebagai kekuasaan tertinggi untuk memilih pengurus dan pengawas dari anggota untuk masa jabatan lima tahun. Lembaga yang mempunyai motto “Wahana Kebangkitan Ekonomi Ummat” ini mengalami perkembangan badan hukum sebelum menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah.44 Pemberdayaan masyarakat dijembatani oleh kelembagaan dan struktur organisasi dalam BMT.

Gambar 5. produk baitul maal atau layanan amil zakat. pengawas syariah. 2009. produk penghimpunan dana atau simpanan. Struktur Organisasi KJKS BMT BUS 5.45 Struktur organisasi dari KJKS BMT BUS Lasem meliputi ketua. dan keempat produk/ jasa lainnya. . pada dasarnya menghasilkan empat jenis produk/ jasa layanan.4. dan general manager serta manager cabang. produk penyaluran dana atau pembiayaan. Pengurus General Manager Manager Region Manager Region Manager SPI Kepala Bagian Kepala Seksi Manager Operasional Kepala Bagian Kepala Seksi Manager Pemasaran Kepala Bagian Kepala Seksi Manager cabang Anggota KJKS BMT BUS Sumber : KJKS BMT BUS Lasem.1. wakil bendahara. ketiga. Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem Kegiatan operasional BMT saat ini. bendahara. wakil sekretaris. sekretaris. yaitu: pertama. kedua.

sistem penyetoran dan pengambilannya dapat dilakukan setiap saat. yaitu: a) Simpanan Sukarela Lancar (Si Rela) Simpanan lancar.46 A. yaitu simpanan dimana penyimpan berhak mendapat bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh lembaga sesuai nisbah (presentase pembagian) yang telah ditentukan. Mudlorobah. Dalam hal ini ada beberapa macam simpanan dengan nisbah yang berbeda sesuai dengan karakter masingmasing. Penyetoran Si Rela dapat dilakukan melalui sistem jemput bola yakni pengelola/ petugas akan mendatangi anggota yang hendak menitipkan dana. dan 1 tahun. . 6 bulan. Jenis simpanan Si Suka dapat digolongkan Si Suka 1 bulan. Produk Penghimpunan Dana/ Produk Jasa Layanan I Produk simpanan dalam KJKS BMT BUS meliputi: a. Jasa atau bagi hasil diperhitungkan dengan nisbah 35 persen : 65 persen b) Simpanan Sukarela Berjangka (Si Suka) Simpanan berjangka dengan sistem setoran dapat dilakukan setiap saat dan pengambilannya disesuaikan dengan tanggal valuta. 3 bulan. lembaga dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan anggota dan lembaga dengan suka rela berhak memberikan bonus kepada penyimpan. b. yaitu titipan dana tanpa mengharapkan bagi hasil. Wadiah Yad Dlomanah.

B. c. Pembiayaan di BMT ini meliputi: a. Mudlarabah. Produk Penyaluran Dana/ Produk Jasa Layanan II Produk KJKS BMT BUS yang kedua yaitu produk penyaluran dana atau pembiayaan. yaitu akad pembelian barang dengan penambahan margin keuntungan atas kesepakatan bersama. Simpanan haji menggunakan prinsip wadiah yadlomanah dan ijaroh Bittamlik sehinga memberikan kemudahan dan manfaat dalam menunaikan ibadah haji serta mempunyai nilai dakwah bil jama’ah. yaitu akad pembiayaan melalui sistem pengadaan barang dan di dalamnya terdapat kesepakatan besarnya pemberian keuntungan . yaitu pembiayaan modal usaha bagi anggota dan calon anggota dengan sistem bagi hasil dari keuntungan sesuai kesepakatan di depan. Ba’i Bitsaman Ajil (BBA). d) Simpanan Haji Bentuk simpanan yang ditujukan bagi umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji. Murabahah. dengan pembayaran secara angsuran. b.47 c) Simpanan Siswa Pendidikan (Si Sidik) Simpanan yang dipersiapkan sebagai penunjang khusus untuk biaya pendidikan dengan cara penyetorannya setiap bulan dan pengambilannya pada saat siswa akan masuk perguruan tinggi.

Produk Baitul Maal dilakukan dalam kegiatan operasional yang sama dengan Baitut Tamwil. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka .48 (mark up). Qordul Hasan (QH). C. Akan tetapi. Dalam bidang teknologi informasi.5. Produk layanan lainnya/ Produk Jasa Layanan IV KJKS BMT BUS mengembangkan produk di luar ketiga jenis produk yang telah diuraikan di atas. dan shadaqah serta menjalankannya sesuai dengan ketentuan dan amanahnya. yaitu pembiayaan untuk kepentingan sosial. Produk Baitul Maal/ Produk Jasa Layanan III Produk KJKS BMT BUS yang ketiga yaitu Produk baitul maal. bahkan saat ini akan memiliki fasilitas ATM yang akan melaksanakan program online sistem antara cabang dan pusat pada tahun 2009 ini. d. D. pertumbuhannya belum seperti yang terjadi dalam perbankan konvensional. infak.7 Tahun 1992 tentang perbankan adalah penyediaan uang/tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. yaitu seperti produk penghimpunan dana dan penyaluran dana yang diuraikan di atas. KJKS BMT BUS telah menggunakan sistem komputerisasi baik bidang administrasi umum maupun keuangan. 5. Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem Kredit atau pembiayaan menurut UU No. lembaga tidak mengambil keuntungan. dan pelunasannya dapat diangsur atau jatuh tempo sesuai kesepakatan. Sebagai baitul maal. BMT menerima titipan zakat.

Unsurunsur pembiayaan yaitu kepercayaan. SIUP (Surat Ijin Umum Perusahaan). fotocopy KK. 2009. waktu sesuai dengan yang diperjanjikan. tingkat resiko (Degree of Risk) (semakin lama jangka waktu semakin besar resiko yang dihadapi). Proses pembiayaan dalam BMT meliputi pengajuan. TDP (Tanda Daftar Perusahaan). Proses Seleksi Pembiayaan Jaminan diperlukan untuk menghindari adanya moral hazard dari anggotaanggota yang mengajukan pembiayaan. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) bagi perusahaan. P en gaju an S u rvey dan an alis a D ok u m en tas i/P en gik atan D itolak P en c airan P em bin aan Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. nisbah atau pembagian hasil keuntungan. kredit yang disalurkan bisa kembali. pencairan. slip gaji terakhir untuk PNS dan pegawai swasta. survey dan analisa anggota. Dalam pembiayaan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi anggota jika ingin mengajukan pembiayaan diantaranya yaitu fotokopi KTP. surat keterangan domisili dari kelurahan jika tidak mempunyai KTP. Gambar 5. Jaminan merupakan salah satu syarat . dan realisasi. surat pernyataan bersedia dijadikan agunan apabila sertifikat bukan atas nama sendiri.2.49 waktu tertentu dengan bunga. surat pernyataan potong gaji bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap.

Gambar 5. dimana dalam BMT terdapat konsep ta’awun dan kemudahan dalam prosedur pengajuan pembiayaan. Sektor ini merupakan prioritas utama dalam KJKS BMT BUS. perdagangan. Untuk lebih jelasnya akan diperlihatkan pada gambar di bawah ini. dan nelayan. Akan tetapi. Pembiayaan yang dilakukan oleh BMT mencakup beberapa sektor. jika KJKS BMT BUS sudah mengenal karakter anggota dan karakter usahanya. Hal ini menunjukkan kemudahan dari BMT kepada anggota dalam hal pengajuan pembiayaan. jasa. industri kecil. Sektor perdagangan merupakan sektor yang paling besar diberikan pembiayaan oleh BMT. Diantaranya yaitu sektor pertanian. Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat Lasem bekerja pada sektor ini.3. Inilah yang membedakan BMT dengan perbankan.50 direalisasikannya suatu pengajuan pembiayaan. 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Persentase(%) 43% 23% 14% 12% 8% perdagangan pertanian nelayan industri kecil jasa Sektor Pembiayaan Anggota Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. maka jaminan dapat tidak diberlakukan. 2009. Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS .

Produk Pembiayaan Industri Dan Jasa Produk ini dikhususkan bagi para pengusaha yang bergerak dalam bidang pengembangan jasa. produk ini sangat fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat nelayan berupa pemupukan modal nelayan dan pengadaan sarana penangkapan ikan. Produk Pembiayaan Nelayan Jenis pembiayaan yang diperuntukkan bagi masyarakat nelayan. atau jatuh tempo yang telah disepakati kedua belah pihak. c. dan industri. b. Produk Pembiayaan Pedagang Sasaran pembiayaan usaha kecil mikro. jumlah modal yang dibutuhkan disesuaikan dengan luas lahan garapan. d. PNS melalui sistem angsuran ataupun jatuh tempo yang telah disepakati kedua belah pihak.51 Produk pembiayaan anggota yang dilakukan oleh KJKS BMT BUS terdiri dari lima jenis pembiayaan berdasarkan lapangan usaha. . dan bulanan dengan jangka waktu pembayaran sesuai kesepakatan kedua belah pihak. dengan sistem angsuran yang telah ditentukan oleh KJKS BMT BUS dan mudhorib. pembiayaan ini dengan sistem musiman. Produk Pembiayaan Pertanian Sasaran pembiayaan pertanian dititikberatkan pada modal tanam dan pemupukan. yaitu: a. mingguan. utamanya pedagang kecil yang membutuhkan permodalan untuk pengembangan usahanya dengan sistem angsuran harian.

1.089.226 40.330 65.908.202 77.179 24. Pembiayaan yang dilakukan oleh KJKS BMT BUS dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan.341.).550 379.924. Pertumbuhan BMT yang pesat ini dapat dilihat dari banyaknya cabang KJKS BMT BUS di beberapa daerah.915.400 139.519. Saat ini KJKS BMT BUS sudah memiliki 44 cabang di berbagai daerah. Hal ini terjadi mengingat pertumbuhan BMT yang cukup pesat.601.780 25. .066 30.615. Dalam hal ini repayment rate berhubungan dengan pembiayaan.407.559 13.846.044.558.6.180 7.900 853. Perkembangan Aset dan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem (dalam Rupiah) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TAHUN 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 ASET 8.127.650.819.214.900 2. Menurut Arsyad (2008) indikator kinerja yang paling penting bagi LKM adalah tingkat pengembalian pinjaman (repayment rate) karena indikator tersebut merupakan prasyarat utama agar sebuah LKM mampu mandiri dan sustainable dalam jangka panjang.524. Tabel 5.077 5.625 114.100 2.541.710 32.760.349.709 21.721. pertumbuhan aset dan outstanding BMT setiap tahun mengalami peningkatan (Lihat Tabel 5.000 1.058.246.097 PEMBIAYAAN 6.600 80.035 Sumber : KJKS BMT BUS Lasem.384.941.107.448. Indikator Kesehatan Operasional KJKS BMT BUS Lasem Suatu lembaga keuangan akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila kondisi lembaga keuangan tersebut juga baik.660 52.464.827.589.413.1.377 97. Selain itu.200 88.026.571.148.450 437.437.733.254.505.976.865.643.450. 2009.544.023 15.52 5.

Akan tetapi.846.094 dan lending sebesar Rp 77. KJKS BMT BUS melakukan RAT (Rapat Anggota Tahunan) setiap tahun untuk mengevaluasi dan mengetahui kinerjanya selama setahun.760. NPF tidak dapat penulis ketahui karena terdapat data-data yang tidak untuk dipublikasikan. besarnya funding yang dihasilkan per 31 Desember 2008 yaitu Rp 65. lending. dan FDR. Besarnya Financing to Depocit Ratio (FDR) sebesar 117. terdapat juga NPF (Non Performing Financing) yang merupakan tingkat pembiayaan bermasalah.63 persen.906. Selain funding.885. . Secara keseluruhan dari total KJKS BMT BUS yang ada.53 KJKS BMT BUS Lasem merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang tergolong sangat pesat perkembangannya di wilayah Lasem. Untuk lebih jelasnya telah dilampirkan laporan keuangan BMT per 31 Desember 2008 yang mencakup jumlah aktiva dan pasiva selama tahun 2008.035.

Uji autokolinearitas dengan menggunakan uji Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test menunjukkan bahwa prob dari obs*R-squared lebih besar dari () 0. Hal ini terlihat karena nilai prob dari obs*R-squared adalah 0. HASIL DAN PEMBAHASAN 6. Berikut ini akan dijelaskan hasil dan analisis yang dicapai dari estimasi model.1. Uji multikolinieritas dilakukan dengan correlation matrix. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan metode white heteroskedasticity dan didapatkan prob dari obs*R-squared statistic lebih besar dari taraf nyata () maka hasilnya tidak tolak H0.31 lebih besar dari taraf nyata 5 persen yaitu 0. Hasil akhir estimasi persamaan 4.1. dan multikolinieritas menunjukkan bahwa model bersih dari masalah heteroskedastisitas. autokorelasi. dan multikolinieritas.05.54 VI.05. Terdapat beberapa variabel bebas yang tidak signifikan terhadap variabel tak bebas yaitu pendapatan dan jenis usaha. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan Sumber data yang digunakan adalah data primer dari 40 responden yang merupakan anggota pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem. sehingga penelitian ini tidak mengandung autokorelasi. dan tingkat pendidikan. autokorelasi.1 dalam penelitian ini berikut analisis pembahasannya dapat dilihat pada Tabel 6. Uji asumsi klasik untuk metode regresi yaitu pengujian heteroskedastisitas. lama menjadi anggota. Hal ini dapat dipahami karena terdapat faktor lain yang memengaruhi variabel tak bebas yang tidak dimasukkan dalam objek penelitian dan kondisi lingkungan pada tempat penelitian. dimana batas terjadinya korelasi antara sesama .

640460 Prob(t-stat) 0.1345* 0.91 persen.3277* 0.0000*** 0.014068 -0.004506 -0.1175* 0.8008* 0.1.027783 -0.000000 0.2218* 0.8459* 0.017710 0.094461 -0.0000*** 0. Berdasarkan lampiran dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak mengandung gejala multikolinieritas sehingga dapat dilakukan analisis lebih lanjut karena model memenuhi asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator). Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB Variable LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA C Coefficient 1. Nilai R-squared sebesar 0.1).999122 0.056068 0. sedangkan sisanya 0.0000 0.998778 (Tabel 6.240332 2. Dari uji serentak melalui uji-F menunjukkan pula hasil .026501 0.0665* 0.052512 0.55 variabel bebas adalah tidak lebih dari 0.005428 0.09 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.999122 ini menunjukkan bahwa uji ketepatan perkiraan (goodness of fit) dari model adalah baik.314248 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan : *** = sangat signifikan pada taraf 5 persen ** = signifikan pada taraf 5 persen * = tidak signifikan pada taraf 5 persen Nilai koefisien determinasi R-squared sebesar 0. Artinya model tersebut mampu dijelaskan oleh variabel-variabel bebas di dalamnya sebesar 99.148507 0.021921 -0.998778 2.5019* 0.80. Tabel 6.0407** 0.014913 0.999122 dan nilai Adjusted R-Squared 0.

Biaya Peminjaman (BC) Berdasarkan hasil pendugaan parameter menunjukkan bahwa BC (Biaya Peminjaman) berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen. Analisis hasil estimasi persamaan pengambilan pembiayaan di atas akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Artinya adanya pendapatan usaha tidak memengaruhi besarnya . Uji parsial atau uji statistik-t memperlihatkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi besarnya pembiayaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen adalah biaya peminjaman. 2. ceteris paribus. jangka waktu angsuran. Hal ini dilihat dari angka probabilitas statistik F sebesar 0. lama menjadi anggota.56 yang baik. Koefisien variabel BC sebesar 1. Semakin besar biaya peminjaman yang dikeluarkan oleh anggota maka semakin besar pula pembiayaan yang diberikan oleh BMT (pembiayaan yang diambil oleh anggota). dan tingkat pendidikan tidak memengaruhi besarnya pengambilan pembiayaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. dan ada tidaknya agunan.09 persen. Artinya. Sedangkan pendapatan dan jenis usaha. Pendapatan usaha (SB) Variabel SB (Pendapatan Usaha) tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen.09 artinya besarnya biaya peminjaman sebesar satu persen menunjukkan besarnya pengambilan pembiayaan sebesar 1. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian. dari semua variabel penjelas dalam model regresi pengambilan pembiayaan (AB) ini minimal ada satu variabel yang berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5 persen.00 yang lebih kecil daripada taraf nyata (α) 5 persen.

Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa lama menjadi anggota berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan pembiayaan. Koefisien negatif pada variabel ini berarti . Lama menjadi anggota (A) Variabel lama menjadi anggota tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen. 3. anggota yang baru memulai usaha (pengalaman usahanya belum terlalu lama tetapi prospek usahanya bagus) mengajukan pembiayaan dalam jumlah yang besar dibandingkan dengan anggota yang sudah mapan. Jangka waktu angsuran (CR) Variabel jangka waktu angsuran (CR) berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pendapatan usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap taraf nyata 5 persen. Koefisien variabel jangka waktu angsuran sebesar 0. Hal ini menunjukkan kemudahan mengangsur dari BMT karena anggota mempunyai waktu yang lebih lama untuk memanfaatkan pembiayaan dari BMT untuk kebutuhan modal kerja.57 pembiayaan yang diambil pada taraf nyata 5 persen. Koefisien yang negatif menunjukkan bahwa anggota yang mempunyai pendapatan lebih tinggi tidak selalu mengambil pembiayaan dalam jumlah yang tinggi.02 persen. Hal ini mengandung arti bahwa BMT tidak membeda-bedakan antara anggota baru dan anggota lama. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian.02 berarti bahwa jika terjadi peningkatan lama angsuran sebesar 1 persen maka akan meningkatkan pengambilan pembiayaan sebesar 0. 4. Menurut kondisi di lapangan pada saat penelitian.

Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa jenis usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan pembiayaan pada taraf nyata 5 persen. KJKS BMT BUS dalam memberikan pembiayaannya tidak mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Tingkat pendidikan (DP) Variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. .58 semakin lama seseorang menjadi anggota maka besarnya pengambilan yang diambil akan menurun.03. Kondisi ini diduga karena adanya pendampingan dari BMT terhadap para anggota sehingga kesejahteraan para anggota dapat meningkat. Pengambilan pembiayaan terbesar pada jenis usaha siap saji karena jenis usaha ini mudah mengambil keuntungan dalam jumlah yang besar. 6. lebih besar daripada perbedaan pembiayaan jenis usaha siap saji dan retail. Besarnya pengambilan pembiayaan tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang karena menurut BMT yang terpenting adalah ketekunan seseorang tersebut dalam menjalani usaha. Jenis usaha (DU) Jenis usaha baik siap saji dan siap pakai maupun siap saji dan retail berpengaruh positif terhadap pengambilan pembiayaan tetapi pengaruhnya tidak nyata secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. Perbedaan pengambilan pembiayaan jenis usaha siap saji dan siap pakai sebesar 0. 5.

Dalam penelitian ini menggunakan 40 responden yang berhasil diambil datanya. Prosedur Pembiayaan Prosedur pembiayaan yang dianalisis berdasarkan penilaian responden dalam penelitian ini adalah prosedur pengajuan pembiayaan. artinya prosedur pengajuan . 6. Penilaian efektivitas pembiayaan dilihat dari prosedur pembiayaan dan dampak pembiayaan terhadap peningkatan pendapatan dan keuntungan.Analisis Efektivitas Pembiayaan Efektivitas pembiayaan diukur berdasarkan persepsi dari responden yang diwawancarai. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian.1. Adanya agunan memengaruhi pengambilan pembiayaan dalam jumlah yang besar.2. pencairan pembiayaan dan pengembalian pembiayaan. terdapat pengecualian dalam hal ini yaitu pada anggota yang mempunyai kredibilitas baik di mata BMT mendapatkan keringanan untuk tidak menyertakan agunan jika pengajuan pembiayaannya masih kurang dari 2 juta rupiah.2. Hal ini disebabkan kehatihatian BMT untuk menghindari adanya moral hazard dari anggota.2.1. 6.59 7. Akan tetapi. Prosedur Pengajuan Pembiayaan Berdasarkan Tabel 6. diperoleh keterangan bahwa proses pengajuan pembiayaan di KJKS BMT BUS tergolong efektif. Ada tidaknya agunan (DA) Ada tidaknya agunan berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen.1.2. 6. Hal ini menunjukkan kemudahan pada BMT karena BMT dapat melayani pembiayaan tanpa agunan.

SIUP.5 Skor 2 Orang 5 Persen 12. 38 95 Total Skor 2 5 0 0 118 403 Keterangan : Skor 3 untuk jawaban mudah. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh anggota dalam mengajukan pembiayaan adalah fotokopi KTP.2. surat pernyataan bersedia dijadikan agunan apabila sertifikat bukan atas nama sendiri. slip gaji terakhir untuk PNS dan pegawai swasta. biasa Skor 1 untuk jawaban lama. Tabel 6. 38 95 2 5 0 0 118 3. surat keterangan domisili dari kelurahan jika tidak mempunyai KTP.2. sulit. Aspek Kemudahan proses prosedur awal pembiayaan Persyaratan awal pembiayaan Nilai jaminan dengan besarnya pembiayaan Pelayanan petugas BMT Skor 3 Orang 35 Persen 87. Hal ini memudahkan anggota dalam mengajukan pembiayaan dan menyebabkan ketertarikan kepada anggota baru untuk melakukan pembiayaan di BMT. surat pernyataan potong gaji bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengajuan Pembiayaan di KJKS BMT BUS No 1. Berdasarkan Tabel 6. tidak ramah . ringan. fotokopi KK. TDP. 2 5 8 20 30 75 52 4. ramah Skor 2 untuk jawaban sedang. dapat diketahui bahwa 87.60 pembiayaan dapat diterima oleh anggota. berat.5 Skor 1 Orang 0 Persen 0 Total Skor 115 2. NPWP (bagi perusahaan).5 persen responden menyatakan bahwa proses prosedur awal pembiayaan tergolong mudah. Efektivitas proses pengajuan dapat dilihat dari kemudahan prosedur pembiayaan yang ditetapkan.

1. Sebelum dicairkan. Responden yang mengatakan sedang cukup beralasan karena sebagian besar responden tersebut pernah mengalami penangguhan pembayaran pengembalian pembiayaan sehingga BMT harus menganalisis lebih terhadap responden tersebut.5 persen mengatakan sedang. KJKS BMT BUS memang mensyaratkan adanya jaminan bagi anggota yang mengajukan pembiayaan dalam skala tinggi.61 Nilai jaminan dengan besarnya pembiayaan menurut sebagian besar responden tergolong besar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya moral hazard karena KJKS BMT BUS tergolong BMT yang sudah mempunyai nama di daerah sehingga manajemennya sangat teratur dengan peningkatan aset dan pembiayaan setiap tahun. Berdasarkan Tabel 6. jika anggota sudah mempunyai catatan perilaku baik dan pihak BMT sudah mengenali anggota tersebut maka pihak BMT tidak akan mensyaratkan adanya jaminan. Sebagian besar anggota menilai bahwa biaya administrasi yang ditetapkan BMT .3. diperoleh keterangan bahwa tanggapan anggota responden terhadap lamanya realisasi pembiayaan yaitu sebesar 87. Lamanya pencairan pembiayaan antara dua sampai dengan lima hari karena bagian pembiayaan harus mensurvey dan menganalisis anggota tersebut.2. pengajuan pembiayaan dari anggota akan diperhitungkan dan dianalisis apakah anggota layak diberikan pembiayaan atau tidak. Prosedur Pencairan Pembiayaan Pencairan pembiayaan akan dilakukan setelah disetujui dan ditandatangani oleh manajer pembiayaan. 6. Akan tetapi.2.5 persen mengatakan cepat dan sisanya sebesar 12.

3. 39 97. kurang mampu Skor 1 untuk jawaban lama.62 sedang yaitu sebesar 95 persen.3. Apabila melihat dari besarnya pembiayaan yang diberikan.5 1 6 2. sulit.5 persen) merasa puas atas jumlah pembiayaan yang diberikan karena besarnya pembiayaan sedang (sesuai) dengan apa yang diajukan oleh anggota. mudah.5 2. sebagian besar anggota (82. Tabel 6.5 0 0 38 33 95 82.5 1 1 2.5 15 Total Skor 115 80 75 4. Aspek Realisasi Pembiayaan Biaya Administrasi Besar pembiayaan yang diberikan Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan Skor 3 Orang Persen 35 87. Hal ini disebabkan biaya administrasi yang ditetapkan BMT pada setiap tingkatan plafond rata-rata sebesar 2 persen dari jumlah pembiayaan. Hal ini disebabkan perkembangan KJKS BMT BUS yang sangat pesat dengan melakukan ekspansi ke berbagai daerah dengan mendirikan cabangcabang baru dari KJKS BMT BUS. 2. mampu Skor 2 untuk jawaban sedang.5 0 0 119 Total Skor Keterangan : Skor 3 untuk jawaban cepat.5 Skor 2 Skor 1 Orang Persen Orang Persen 5 12. tidak mampu 389 Pembiayaan yang diberikan oleh KJKS BMT BUS mencapai seratus juta rupiah.5 1 2. kecil. besar. KJKS BMT BUS dalam memberikan . Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pencairan Pembiayaan di KJKS BMT BUS No 1. Besarnya persentase ini diduga menyebabkan tingginya biaya peminjaman sehingga dapat disadari bahwa semakin tinggi biaya peminjaman maka besarnya pembiayaan akan semakin tinggi pula.

Jangka waktu angsuran adalah selang waktu anggota harus mengangsur dan melunasi pinjamannya. Secara keseluruhan berdasarkan total skor yang didapat yaitu sebesar 389. Dalam KJKS BMT BUS sendiri terdapat dua macam cara mengangsur pembiayaan. .2. Anggota yang mempunyai pengalaman usaha baik dan keuntungan usahanya meningkat akan diutamakan oleh BMT untuk diberikan pembiayaan. kemudian pada saat jatuh tempo baru memberikan pokoknya. maka KJKS BMT BUS dapat dikatakan cukup efektif dalam hal prosedur pencairan pembiayaan.63 pembiayaan kepada anggotanya dilakukan secara bertahap. maka jumlah modal yang diberikan akan semakin besar. anggota hanya memberikan bagi hasilnya saja. 6.3. Semakin sering anggota melakukan pembiayaan dengan catatan anggota tersebut „baik‟ selama meminjam. demikian juga sebaliknya. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat aset BMT pada tahun 2008 yang mencapai 97. Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi permohonan pembiayaan yang diajukan tergolong mampu.1. Prosedur Pengembalian Pembiayaan Jangka waktu pembayaran angsuran dan pelunasan pembiayaan oleh anggota ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antara pihak BMT dan anggota. Sedangkan cara yang kedua yaitu jatuh tempo.9 miliar rupiah. yaitu pertama secara angsuran dan kedua secara jatuh tempo. Cara yang pertama yaitu secara angsuran akan menguntungkan KJKS BMT BUS karena setiap bulan/ hari anggota harus mengangsur angsuran pokok sekaligus bagi hasilnya.

Jangka waktu mengangsur secara jatuh tempo biasanya tiga sampai lima bulan. lama.4. Aspek Besar angsuran Jangka waktu angsuran Keaktifan petugas di lapang Keuntungan bagi BMT Skor 3 Orang Persen 3 7. Anggota yang kemampuannya relatif tinggi akan lebih memilih membayar pelunasan pembiayaan secara jatuh tempo dibandingkan anggota yang mempunyai kemampuan relatif rendah. tidak aktif . efektivitas pengembalian pembiayaan menjadi tujuan utama bagi sebuah lembaga keuangan manapun.5 8 20 103 4.4.5 0 0 Total Skor 82 80 3. Oleh karena itu. Beberapa aspek yang memengaruhi efektivitas pengembalian pembiayaan dapat dilihat pada Tabel 6. aktif Skor 2 untuk jawaban sedang. Lama angsuran ini telah disepakati bersama dengan pihak KJKS BMT BUS. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengembalian Pembiayaan KJKS BMT BUS No 1. cepat. 1 2. Setiap lembaga keuangan baik lembaga keuangan bank maupun bukan bank pasti berusaha untuk menghindari adanya kemacetan dalam pembiayaannya. 2. 31 77.5 39 97. kurang aktif Skor 1 untuk jawaban besar.5 0 0 81 346 Total Skor Keterangan : Skor 3 untuk jawaban kecil. Tabel 6.5 1 2.64 Penetapan jangka waktu mengangsur ini diserahkan sepenuhnya kepada anggota sesuai dengan kemampuannya dalam membayar.5 0 0 Skor 2 Orang Persen 36 90 40 100 Skor 1 Orang Persen 1 2.

Hal ini berarti anggota memiliki keleluasaan dalam mengembalikan pembiayaan dan dapat memanfaatkan pembiayaan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini membuktikan bahwa anggota masih dapat menjangkau besarnya angsuran sesuai dengan kemampuan anggota itu sendiri. sebesar 20 persen responden mengantarkan angsuran sendiri ke BMT. anggota mempunyai cukup banyak waktu untuk meningkatkan capital dari usaha kecilnya. Hal ini mempunyai nilai plus sendiri bagi BMT. KJKS BMT BUS sangat memperhatikan kemampuan setiap anggota dalam membayar angsurannya. semua responden menyatakan jangka waktu mengangsur tergolong sedang. Akan tetapi. Hal ini . sebagian besar responden yaitu sebesar 77.4. yaitu antara BMT dengan anggota. Di samping itu. karena itulah BMT dapat memberikan penangguhan pembiayaan bagi anggota jika alasannya sesuai dengan kondisi usahanya. hal ini dapat meminimalisir terjadinya penangguhan pembayaran pembiayaan. sebagian besar responden menyatakan bahwa besar angsuran tergolong sedang (90 persen). Sedangkan dari aspek besar angsuran.5 persen menyatakan bahwa pembiayaan di BMT menyebabkan masing-masing pihak untung. Mengenai keuntungan yang didapatkan BMT. Selain mengetahui kondisi responden yang sedang meminjam. Sebagian besar lokasi usaha responden berada tidak jauh dari lokasi berdirinya BMT. bukan karena moral hazard anggota yang ingin mengulur-ulur waktu pelunasan pembiayaan. sebagian besar responden yaitu sebesar 97.5 persen menyatakan bahwa petugas BMT yang aktif menagih angsurannya ke lokasi usaha. Oleh karena itu.65 Berdasarkan Tabel 6.

05.2.Dampak Pembiayaan Terhadap Pendapatan Usaha Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengunakan metode white heterokedasticity dengan nilai Prob dari Obs*R-Squared sebesar 0. Uji multikolinieritas dilakukan dengan menggunakan correlation matrix menunjukkan bahwa persamaan pendapatan usaha tidak mengandung gejala multikolinieritas (lihat di lampiran).39 persen dan sisanya 53.1. Berdasarkan Tabel 6. Durbin-watson stat menunjukkan nilai 2. dan dummy pinjaman lain. maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak tolak H0 artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas atau asumsi homoskedastisitas terpenuhi pada model ini. Nilai R-squared yang kecil ini disebabkan oleh adanya variabel-variabel independen yang tidak dimasukkan dalam model. Saran bagi penelitian lebih lanjut agar memasukkan variabel-variabel misalnya dummy pendampingan anggota.115255 lebih besar dari taraf nyata () 0. Hal ini berarti bahwa model pendapatan usaha kecil dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya sebesar 46. 6.2. Selain itu. koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 46. Nilai .5.66 membuktikan bahwa pelaksanaan pembiayaan di BMT menurut persepsi anggota memberikan dampak yang cukup baik bagi kelangsungan usaha kecil anggota.505998 yang lebih besar dari 2. Dampak Pembiayaan 6. besarnya tanggungan. sehingga model persamaan pendapatan usaha tidak menunjukkan gejala autokorelasi.61 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.2. Secara keseluruhan berdasarkan skor yang didapat yaitu 346 menunjukkan bahwa prosedur pengembalian pembiayaan pada BMT BUS cukup efektif.39.2.

3356* 0. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pembiayaan KJKS BMT BUS memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan usaha.260001 0.245504 -0.006993 menunjukkan bahwa minimal terdapat satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tak bebas.325646 2.5188* 0.158540 7. Variabel keuntungan usaha adalah variabel yang paling signifikan pada taraf nyata 5 persen terhadap pendapatan usaha.0170** 0.5.390851 0.1701* 0. Kondisi ini dimungkinkan disebabkan oleh besarnya tanggungan atau kebutuhan lain-lain yang harus dipenuhi oleh anggota sehingga pembiayaan yang diberikan tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatan usaha anggota. Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS Variable LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C Coefficient 0. Nilai elastisitas sebesar 0.519191 -0.728150 -0.171214 Prob(t-stat) 0.67 probability (F-statistic) sebesar 0. Tabel 6.463975 0.006993 0.0990* 0.115255 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan:***= sangat signifikan pada taraf nyata 5 persen **= signifikan pada taraf nyata 5 persen *= tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen Pembiayaan yang diberikan kepada usaha kecil tidak berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 5 persen terhadap pendapatan usaha kecil.0029*** 0.83 .505998 0.829948 -0.5968* 0.172173 0.345124 0.0038 0.5066* 0.

pendapatannya dapat melebihi anggota yang berpendidikan lebih tinggi. Hal ini disebabkan anggota yang berpendidikan lebih rendah umumnya langsung bekerja sehingga mempunyai pengalaman kerja yang lebih banyak daripada anggota yang berpendidikan tinggi. Perbedaan pendapatan untuk anggota yang tidak berpendidikan dan SD jauh lebih tinggi dibandingkan antara tidak sekolah dan SMP.15.68 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) keuntungan usaha sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) pendapatan usaha sebesar 0.73. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara mutlak terhadap pendapatan seseorang.83 persen. Hasil estimasi di atas menunjukkan bahwa pembiayaan tidak memengaruhi pendapatan usaha secara signifikan pada taraf 5 persen. tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan usaha anggota. sedangkan perbedaan pendapatan untuk jenis usaha siap saji dan retail sebesar -0. Sesuai dengan kondisi anggota yang sebagian besar berpendidikan antara SD dan SMP. SMA atau PT. Hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata jenis usaha siap pakai mendapatkan pendapatan yang jauh lebih besar daripada jenis usaha siap saji. Hal ini dapat dijelaskan demikian karena jenis usaha siap pakai (pakaian) pada umumnya memiliki strategi door to door (dari pintu ke pintu) dalam menjual produknya sehingga dapat memasarkan produknya secara lebih ke konsumen dan lebih mengetahui keinginan konsumen. Jenis usaha siap saji dan siap pakai berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha. Oleh karena . Perbedaan pendapatan untuk jenis usaha siap saji dan siap pakai sebesar 0. Akan tetapi.

2. Selain itu.05. menurut uji autokorelasi dengan menggunakan breusch-godfrey serial correlation LM test didapatkan nilai sebesar 0.2. . dan dummy pinjaman lain. koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 58. Hal ini berarti bahwa model pendapatan usaha kecil dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya sebesar 58.95 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.2. 6. maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak tolak H0 artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas atau asumsi homoskedastisitas terpenuhi pada model ini.Dampak Pembiayaan Terhadap Keuntungan Usaha Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengunakan metode white heteroskedasticity dengan nilai Prob dari Obs*R-Squared sebesar 0.6. besarnya tanggungan.824922 sehingga dapat dibuktikan bahwa model juga tidak menunjukkan adanya autokorelasi sehingga dapat dianalisis lebih lanjut.05. tujuan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha belum sepenuhnya tercapai. Saran bagi penelitian lebih lanjut agar memasukkan variabel-variabel misalnya dummy pendampingan anggota.000283 menunjukkan bahwa minimal terdapat satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tak bebas.05 persen dan sisanya 41.69 itu.351066 lebih besar dari taraf nyata () 0. Nilai R-squared yang kecil ini disebabkan oleh adanya variabel-variabel independen yang tidak dimasukkan dalam model. Berdasarkan Tabel 6. Nilai probability (F-statistic) sebesar 0. Uji multikolinieritas yang dilakukan dengan menggunakan correlation matrix menunjukkan bahwa persamaan keuntungan usaha tidak mengandung gejala multikolinieritas.

108475 -0. Nilai elastisitas variabel pembiayaan sebesar 0.3850* 0.031651 Prob(t-stat) 0.33 persen.1870* 0.0023*** 0.327669 0. Hal ini dapat dimengerti karena peningkatan pendapatan seiring dengan peningkatan keuntungan anggota dalam mengelola usahanya.33 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) pendapatan sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) keuntungan usaha sebesar 0.055063 0.291584 0.7975* 0. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembiayaan untuk meningkatkan keuntungan anggota tercapai.000283 0. Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU Variable LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C Coefficient 0.351066 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan : ***= sangat signifikan pada taraf nyata 5 persen **=signifikan pada taraf nyata 5 persen *= tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen Pembiayaan yang diberikan kepada usaha kecil berpengaruh secara positif dan signifikan pengaruhnya terdapat keuntungan usaha kecil anggota pada taraf nyata 5 persen.0939* 0.326285 2.4342* 0.33 persen.251633 -0. .0212** 0.824922 0.328185 -0.6.33 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) pembiayaan sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) keuntungan usaha sebesar 0. Variabel skala pendapatan usaha signifikan pengaruhnya terhadap keuntungan usaha pada taraf nyata 5 persen.70 Tabel 6.3507 0.472192 2.580460 0. Nilai elastisitas variabel pendapatan sebesar 0.408475 -0.3734* 0.239755 -0.

Sedangkan menurut hasil estimasi model keuntungan usaha menunjukkan pembiayaan berpengaruh positif . Anggota yang mempunyai pengalaman usaha yang lebih lama biasanya akan mendapatkan keuntungan dalam jumlah yang besar. 6. SMP. Faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan secara signifikan adalah biaya peminjaman. Hasil estimasi model pendapatan usaha menunjukkan bahwa secara signifikan pembiayaan tidak memengaruhi pendapatan usaha pada taraf nyata 5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa usaha siap saji dan retail akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.32). dan jenis usaha siap pakai berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha. Variabel tingkat pendidikan tidak signifikan terhadap variabel keuntungan.3.71 Perbedaan keuntungan untuk anggota yang berpendidikan tinggi (PT/ sarjana) mempunyai elastisitas yang jauh lebih tinggi daripada SD. jangka waktu angsuran. walaupun usaha siap pakai penjelasan di atas mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada usaha lainnya. dan ada tidaknya agunan. dan SMA. Implikasi Kebijakan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua variabel dalam penelitian ini memengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) secara signifikan.41) daripada jenis usaha siap saji dan retail (-0. keuntungan berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha. Perbedaan keuntungan untuk jenis usaha siap saji dan siap pakai mempunyai elastisitas yang lebih rendah (-0. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak memengaruhi peningkatan keuntungan anggota. Ini dapat dimengerti karena peningkatan keuntungan usaha pada kenyataannya tergantung pada pengalaman usaha anggota itu sendiri.

Hal ini akan lebih memudahkan anggota-anggota yang mempunyai tingkat pendapatan relatif rendah untuk mengajukan pembiayaan di BMT untuk memajukan usaha kecilnya. KJKS BMT BUS Lasem perlu menentukan tingkat persentase ideal bagi biaya administrasi sesuai dengan kemampuan anggota masing-masing sehingga besarnya biaya administrasi yang ditetapkan dapat fleksibel tergantung pada kemampuan anggota (skala pendapatan) dalam mengajukan pembiayaan. Adapun implikasi kebijakan yang sebaiknya diambil oleh lembaga keuangan mikro syariah dalam hal ini KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap variabel biaya peminjaman khususnya biaya administrasi yang berpengaruh terhadap pengambilan pembiayaan (AB). Artinya. . perubahan yang kecil saja pada biaya peminjaman akan menyebabkan perubahan signifikan pada total pengambilan pembiayaan yang dilakukan oleh para anggota.72 pada keuntungan usaha dan pendapatan usaha berpengaruh positif pada keuntungan usaha pada taraf nyata 5 persen. Selain itu. Implikasinya. manajemen KJKS BMT BUS Lasem perlu melakukan kebijakan-kebijakan untuk mengevaluasi kembali tujuan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha anggota. Hasil pembahasan dalam penelitian ini juga memperlihatkan bahwa variabel biaya peminjaman merupakan variabel yang memberikan pengaruh terbesar terhadap pengambilan pembiayaan (AB). tujuan pembiayaan untuk meningkatkan kemandirian usaha kecil akan tercapai.

Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perubahan pendapatan disebabkan oleh besarnya kebutuhan anggota yang harus dipenuhi sehingga pembiayaan yang diberikan hanya untuk menutupi modal yang dibutuhkan tetapi belum menyebabkan peningkatan pendapatan. yang paling besar pengaruhnya adalah biaya peminjaman. 2. Efektivitas pembiayaan pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem berdasarkan hasil penilaian responden dapat dikategorikan cukup efektif. . Hal ini disebabkan besarnya pembiayaan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan.73 VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7. karena belum adanya dampak positif pembiayaan terhadap peningkatan pendapatan usaha anggota. Faktor-faktor yang memengaruhi secara signifikan pengambilan pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem adalah biaya peminjaman.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) dan efektivitas pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem maka dapat disimpulkan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. jangka waktu angsuran. Dari ketiga variabel yang memengaruhi pengambilan pembiayaan. dan ada tidaknya agunan. Sedangkan pencapaian tujuan pembiayaan usaha kecil masih belum sepenuhnya tercapai.

. Kabupaten Rembang supaya tingkat kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Pemerintah dan KJKS BMT BUS harus bekerja sama dalam mengembangkan usaha kecil di daerah Lasem. KJKS BMT BUS Lasem harus lebih memperhatikan dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha kecil dari anggota khususnya dengan cara melakukan pendampingan dan mengikutsertakan usaha kecil dalam kerja sama ketika ada event-event yang dapat mengembangkan usaha kecil. Oleh karena itu. jangka waktu angsuran. Hal ini dapat dilakukan dengan edukasi dalam hal pembiayaan syariah harus dilakukan kepada masyarakat sekitar supaya tidak terjerumus ke dalam lintah darat. 2. Selain itu. Selain itu. Oleh karena itu. dan adanya agunan. penting bagi KJKS BMT BUS dalam mengatur dan menetapkan biaya administrasi yang terjangkau oleh anggota sehingga kemudahan dalam mengajukan pembiayaan dapat tercapai.74 7. diantaranya biaya peminjaman lebih tepatnya biaya administrasi. Implikasi kebijakan yang sebaiknya diambil oleh KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap tiga variabel yang memengaruhi faktor pengambilan pembiayaan. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada efektivitas pembiayaan usaha kecil khususnya di bidang perdagangan. bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih luas lagi bidang usaha kecil yang diteliti.2. 3. Saran 1. diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk menganalisis alokasi pemanfaatan pembiayaan usaha kecil yang digunakan oleh anggota.

M. Yogyakarta Aryati. Ekonometrika Dasar. [Skripsi]. Lasem. D. Kecamatan Cilamaya. Bogor. Bank Indonesia. “Mewujudkan Ekuilibrium Sektor Finansial”. Hipotesa FEM IPB. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Fakultas Ekonomi.com/index. Gujarati. 2005. UII Press. Bogor. Universitas Indonesia. Arsyad. 2004. 1995. Bogor. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Hipotesa. 2008. E-Views Training 2005. Lembaga Keuangan Mikro. Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik. J. Gema Insani. Y. Jakarta. Ikhtiar Tiada Batas: Refleksi Perjalanan Pemikiran Manajemen Qur’ani H. Bogor. 2007. B.php?option=com_content&view=a rticle&id=1165:mewujudkan-equilibrium-sektor-finansial&catid=8:kajianekonomi&Itemid=60 [2 Desember 2008] Antonio. Jakarta. Penerbit Andi. 2008. Juanda. Departemen Ilmu Ekonomi. Yogyakarta. 2008. 2001.75 DAFTAR PUSTAKA Agustianto. Bogor) [Skripsi]. Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Hubbul Wathon. Jakarta. 2005. dan A. . IPB Press. Basic Econometrics. 2007. BUS Graphic Lasem. S. Zain dan Sumarno [penerjemah]. Bank Indonesia. Kabupaten Karawang. Hidayat. Erlangga.pesantrenvirtual. Jumanto. Konsep dan Kebijakan Perbankan Syariah. Jawa Barat. Aplikasi Konsep Syariah untuk Lembaga Keuangan Syariah. 2002.Mustofa. Ungaran. BMT Network. Fakultas Pertanian. Analisis Permintaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus: KBMT Khidmatul Ummah.Supeno. 2006. BMT Network. Metodologi Penelitian Ekonomi & Bisnis. Ilmi. Abdullah Yazid. L. 2002. http://www. Teori dan Praktek Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Institut Pertanian Bogor.

Longman Inc. Jurnal Kajian Ekonomi Keuangan. Lains. Bogor. Ekonomerika Teori dan Aplikasi Jilid I. S. Lasem. Edisi Khusus. Introductory Econometrics. Thomas. 2006. 2007. Pustaka LP3ES Indonesia. PT Elex Media Komputindo. The Microfinance Revolution. Institut Pertanian Bogor. 2003. Company Profile KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera. Analisis Pembiayaan Usaha Mikro Bagi Lembaga Keuangan. M. Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT [Skripsi]. Tanya Jawab Cara Mudah Mendapatkan Pembiayaan di Bank Syariah. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Bogor. RL. BMT BUS. http://hndwibowo. Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya Konkrit Memutus Mata Rantai Kemiskinan. “Peran Permodalan BMT dalam Pemberdayaan Sektor UKM”. Jakarta. BMT Fakta dan Prospek Baitul Maal wat Tamwil. Laksmana. Y. .76 KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera. Jakarta. 2008. Wijono. Rachmawan. Kurnialestari. Washington DC. Bogor. Analisis Tingkat Kesehatan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman [skripsi]. Suharto.html [4 Desember 2008] Syafar. Wardhana. Fakultas Pertanian.blogspot. W. 2005. 2005. 2000. Analisis Efektivitas Pembiayaan Sistem Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor [Skripsi]. Institut Fellow Emeritus. Theory and Applications. Robinson. UCY Press.com/2008/06/peranan-permodalan-bmtdalam. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. 1985. [Presentasi Direktur Bank Biru] Rizky. Yogyakarta. A. A. November 2005. A. New York. 2009. 2009. 2008. 2007. M. Jakarta. Institut Pertanian Bogor.

77 LAMPIRAN .

Tamat SMP 4.. Karakteristik Anggota (Responden) Nomer responden : Alamat responden : Jenis kelamin : a. Janda/ duda Data keluarga : a. Jarak lokasi usaha ke BMT : ………………. 8. Jawa Tengah) Kuesioner ini digunakan dalam rangka pengambilan data untuk penyusunan bahan penelitian skripsi oleh Sholikha Oktavi K. Laki-laki b.. Anak yang menikah………………. Pengisian yang jujur dan objektif sangat membantu keberhasilan penelitian ini. Institut Pertanian Bogor. 11.. Pedagang pakaian b. Anak………………………………. 6. Terima Kasih banyak atas perhatiannya. Perempuan Umur : ………….Lainnya. . 7. Istri/ suami…………………………. Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera.km Biaya transportasi yang dikeluarkan menuju BMT : Rp……………………… 4.orang b. tahun Pendidikan : 1.tidak sekolah 2. 2. Mahasiswi Ilmu Ekonomi. sebutkan…………. Lasem.tamat SD 3. Pedagang sembako c. 5.78 Lampiran 1. Menikah c. Pedagang lainnya. 10. Belum menikah b.. 3. sebutkan…………… Status : a.Tamat SMA 5.. 1. tahun Jenis usaha yang dilakukan : (mohon ditandai bidang usaha yang dilakukan) a.orang Lama menjadi anggota : …………. 9.orang c.. Mohon Bapak/ Ibu berkenan mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya dan kondisi yang sebenar-benarnya. I.

kali Jangka waktu pembiayaan………………hari Lama mengangsur pembiayaan………………. listrik.. anak. Pernah b.. per bulan sebesar Rp……………………… Pernahkah Anda menangguhkan pembayaran dalam pembiayaan? a. Kebutuhan modal kerja b...bulan. 14. Lain-lain.. 22.bulan Rata-rata pendapatan yang diperoleh per hari berdasarkan pengalaman usaha Rp………. Peningkatan sarana/ peralatan rumah tangga c.. 13. pengeluaran yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (untuk memenuhi konsumsi. 25.. . 17. apakah fasilitas pembiayaan dari BMT mempunyai manfaat terhadap perkembangan/ kemajuan usaha Anda? a. 15.. Biaya administrasi pembiayaan sebesar Rp……………… Lama menekuni usaha (dihitung sebelum menerima pembiayaan). Tidak Bila ya. pendidikan.. sebutkan…………………….79 II. Lain-lain.. apakah kesejahteraan hidup Anda dan keluarga meningkat seiring dengan kemajuan usaha Anda? a. Keuntungan usaha per hari Rp………………. Perbaikan/ renovasi rumah b. 20. Menurut Anda.tahun…. 12. 16. Tidak Bila ya. telepon. Ya b. 24. 23. Dari pendapatan yang diperoleh. sebutkan……………………………. Ya b. dll) Rp…………………… Sudah berapa kali mendapatkan fasilitas pembiayaan dari BMT…………. 21. Tidak pernah Tujuan fasilitas pembiayaan yang diterima untuk: a. Karakteristik Usaha Lama menjadi anggota pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem……………tahun Fasilitas pembiayaan yang diperoleh saat ini Rp…………………. 19. Peningkatan volume usaha d. peningkatan kesejahteraan keluarga meningkat dalam bentuk: a. 18.. Investasi usaha c. 26.

Lama (berbelit-belit/ prosesnya panjang dan lambat) 3. mengisi formulir permohonan pembiayaan. Besar (apabila melebihi dari kebutuhan pembiayaan) b. mengisi formulir persetujuan suami istri. Proses pembiayaan Menurut Anda. tergolong : a. Kecil (jaminan lebih kecil daripada pinjaman) b. ketentuan yang harus dimiliki (fotokopi KTP suami istri. Berat (sulit dipenuhi oleh nasabah) 2. Lama (jangka waktu melebihi 1 bulan sejak pengajuan pembiayaan) 4. melampirkan fotokopi jaminan berupa sertifikat tanah-bangunan. tergolong : a. BKB kendaraan motor/ mobil) ketika mengajukan pembiayaan di BMT. Sedang (jangka waktu 1 minggu-1 bulan sejak pengajuan pembiayaan) c. Sedang (ada item yang tidak bisa dipenuhi) c. Besar (jaminan lebih besar nilainya dari pinjaman) 6.80 III. Ringan (mudah dipenuhi oleh nasabah) b. Sedang (jaminan sebanding dengan nilai pinjaman) c. tergolong : a. fotokopi KK. Sedang (nasabah mengalami kesulitan untuk mencari dana awal) c. Realisasi pembiayaan Cairnya pembiayaan setelah pengajuan disetujui . Sedang (tidak berbelit-belit tapi prosesnya lambat) c. Persyaratan awal pembiayaan Menurut Anda. Tanggapan Anggota mengenai Pembiayaan di BMT 1. Jaminan Jaminan yang umumnya diberlakukan pada anggota pembiayaan dengan melampirkan sertifikat/ akta jual beli tanah/ bangunan. Lama angsuran yang telah disepakati bersama oleh pihak nasabah dengan BMT. Ringan (tidak memberatkan nasabah) b. Cepat (jangka waktu paling lambat 7 hari sejak pengajuan pembiayaan) b. Besar pembiayaan Pembiayaan yang diberikan tergolong : a. tergolong : a. tergolong : a. Sedang (apabila cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan) c. BPKB kendaraan (mobil/ motor). Biaya administrasi pembiayaan Biaya yang dikeluarkan selama proses permohonan pembiayaan hingga direalisasikan. Kecil (apabila tidak mencukupi sebagai tambahan modal usaha) 5. Berat (memberatkan nasabah) 7. tahapan yang harus dilalui dari proses permohonan pembiayaan sampai realisasi pembiayaan kepada anggota. Mudah (tidak berbelit-belit/ terlalu banyak tahapan pencairan dana) b. Jangka waktu angsuran Jangka waktu angsuran adalah selang waktu anggota harus mengangsur dan melunasi pinjamannya (hari). tergolong : .

81

8.

9.

10.

11.

12.

a. Lama b. Sedang c. Cepat Besar angsuran Besar angsuran yaitu jumlah angsuran pembiayaan yang harus dibayar anggota pembiayaan dengan jumlah yang disesuaikan dengan akad yang disepakati. Besar angsuran ini telah disepakati kedua belah pihak dengan mempertimbangkan kemampuan nasabah dalam mengangsur, tergolong : a. Kecil (angsuran tidak memberikan) b. Sedang (angsuran masih terjangkau namun terkadang telat dibayar) c. Besar (angsuran memberatkan) Pelayanan petugas KJKS BMT BUS Pelayanan petugas KJKS BMT BUS yaitu penilaian responden pada saat pertama kali mengajukan pembiayaan. Hal ini merupakan kesan pertama responden terhadap KJKS BMT BUS, tergolong : a. Ramah b. Biasa saja c. Tidak ramah Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan Batasan terhadap kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan adalah pihak KJKS BMT BUS selalu menyetujui permohonan pembiayaan yang diminta, tergolong : a. Mampu (besar pengajuan sama dengan realisasi pembiayaan) b. Kurang mampu (besar pembiayaan yang terealisasi kurang dari besar pengajuan) c. Tidak mampu (besar pembiayaan jauh dari pengajuan) Keaktifan petugas dalam menagih di lapang Petugas KJKS BMT BUS dalam menagih angsuran pembiayaan tergolong : a. Aktif (selalu datang untuk mengambil angsuran) b. Kurang aktif (terkadang tidak datang untuk mengambil angsuran) c. Tidak aktif (angsuran diantarkan sendiri oleh nasabah, pihak BMT tidak pernah mengambil angsuran di lapang) Keuntungan bagi KJKS BMT BUS Biaya yang harus dibayar anggota sebagai bentuk dukungan operasional kegiatan bagi pengelola BMT. Menurut Anda, besarnya nisbah dari pembiayaan tergolong : a. Ringan (nasabah tidak merasa dirugikan) b. Sedang (sama-sama untung) c. Berat (nasabah merasa rugi)

82

IV. Keberlangsungan Usaha Kecil (Dampak Pembiayaan terhadap Kondisi Nasabah) 13. Bagaimana kelangsungan usaha kecil Anda setelah mendapatkan pembiayaan dari KJKS BMT BUS? a. Meningkat b. Tetap c. Turun 14. Bagaimana tingkat pendapatan anda setelah mendapatkan pembiayaan? a. Meningkat b. Tetap c. Turun Sebelum pembiayaan (Rp) Setelah pembiayaan (Rp) Keuntungan Pendapatan 15. Untuk apa saja alokasi pembiayaan usaha kecil dari BMT? a. Untuk usaha b. Untuk pengeluaran rumah tangga c. Untuk konsumsi d. dll, sebutkan…

83

Lampiran 2. Hasil Estimasi Model Persamaan Pengambilan Pembiayaan
Dependent Variable: LNAB Method: Least Squares Date: 06/23/09 Time: 07:08 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA C R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 1.094461 -0.014913 0.021921 -0.027783 -0.005428 0.014068 -0.004506 -0.056068 0.026501 0.017710 0.240332 2.640460 0.999122 0.998778 0.034697 0.033708 84.82058 2.148507 Std. Error 0.008942 0.009675 0.010218 0.022235 0.021310 0.020679 0.022975 0.029367 0.016410 0.017778 0.031195 0.143860 t-Statistic 122.3936 -1.541374 2.145317 -1.249519 -0.254731 0.680285 -0.196136 -1.909232 1.614954 0.996180 7.704204 18.35435 Prob. 0.0000 0.1345 0.0407 0.2218 0.8008 0.5019 0.8459 0.0665 0.1175 0.3277 0.0000 0.0000 15.08111 0.992396 -3.641029 -3.134365 2897.933 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Pengujian Heteroskedastisitas
White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.192027 17.07758 Probability Probability 0.340606 0.314248

Pengujian Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.246335 5.893442 Probability Probability 0.125925 0.052512

Pengujian Multikolinieritas
LNAB LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA LNAB 1.000000 0.997823 0.057392 0.316475 0.453185 -0.354413 0.200345 -0.046694 0.095961 -0.072585 -0.378634 0.458578 LNBC LNSB LNCR LNA DP1 0.997823 0.057392 0.316475 0.453185 -0.354413 1.000000 0.056518 0.297873 0.468083 -0.336290 0.056518 1.000000 0.286933 0.231653 0.226252 0.297873 0.286933 1.000000 0.155136 0.077356 0.468083 0.231653 0.155136 1.000000 -0.003279 -0.336290 0.226252 0.077356 -0.003279 1.000000 0.185309 0.226643 -0.093228 0.028543 -0.427353 -0.059532 -0.196405 0.072440 -0.031688 -0.307941 0.105398 -0.514040 -0.060328 -0.191003 -0.175371 -0.097516 0.187911 0.072095 -0.057760 -0.307814 -0.364785 -0.155553 -0.244376 -0.331710 0.338551 0.410493 0.026512 0.300555 0.073789 -0.372500 DP2 0.200345 0.185309 0.226643 -0.093228 0.028543 -0.427353 1.000000 -0.346944 -0.197583 0.316239 -0.118235 0.159189 DP3 -0.046694 -0.059532 -0.196405 0.072440 -0.031688 -0.307941 -0.346944 1.000000 -0.142374 0.320256 -0.119737 0.114708 DP4 0.095961 0.105398 -0.514040 -0.060328 -0.191003 -0.175371 -0.197583 -0.142374 1.000000 -0.197583 0.073872 0.065326 DU1 -0.072585 -0.097516 0.187911 0.072095 -0.057760 -0.307814 0.316239 0.320256 -0.197583 1.000000 -0.373878 0.159189 DU2 -0.378634 -0.364785 -0.155553 -0.244376 -0.331710 0.338551 -0.118235 -0.119737 0.073872 -0.373878 1.000000 -0.425778 DA 0.458578 0.410493 0.026512 0.300555 0.073789 -0.372500 0.159189 0.114708 0.065326 0.159189 -0.425778 1.000000

0990 0.081786 2.325646 0.378634 0.829948 -0.239915 -0.185234 -0.197583 1.200345 -0.343331 -0.427353 -0.346944 -0.354413 1.054264 -0.373878 DU2 -0.221452 -0.054264 0.390851 0.084109 LNKU 0.307941 -0.072342 0.3356 0.399642 0.307941 -0.072585 -0.142374 1.832390 15.345124 0.48337 0.671924 2.171214 0.000000 .263138 0.404589 -0.245504 -0.329522 0.000000 -0.006993 Mean dependent var S.307814 0.598517 -0.266001 0.142374 0.63571 2.338551 DP2 0.095961 -0.338551 -0.518507 Probability Probability 0.073872 -0.369639 0.072585 -0.463975 0.354140 0.0038 12. Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha Dependent Variable: LNPS Method: Least Squares Date: 07/23/09 Time: 22:07 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C R-squared Adjusted R-squared S.5188 0.118235 DP3 -0.099020 0.000000 0.5968 0.175371 -0.359019 0.84 Lampiran 3.185234 -0.197583 -0.513635 0.000000 -0.97460 -32.064615 -0.D.598517 1.522813 -0.172173 Pengujian Multikolinearitas LNPS LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 LNPS 1.115255 Pengujian Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 1.046694 0.505998 Std.000000 -0.127079 Prob.095961 -0.700580 1.461783 3.313728 0.320256 -0.221452 -0.1701 0.313728 -0.320256 -0.239915 0.E.48808 Probability Probability 0.175371 -0.000000 0.329522 -0.376134 0.621512 11.119737 DP4 -0.084109 -0.756843 2.398472 3.064615 0. 0.373878 1.256908 0.135669 -0.156418 0.534468 3.172900 -0.118235 -0.359019 -0.346944 1.378634 DP1 0.354413 0.427353 1.200345 -0.046694 -0.5066 0.652704 -0.978002 0.728150 -0.288626 0.000000 -0.000000 -0.197583 0. Error 0.307814 0.072342 0.073872 DU1 0.088059 -0.316239 0.158540 7.119737 0.293263 t-Statistic 3.000000 -0.172900 LNAB -0.135669 -0.343331 1.0170 0.230527 -1. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.296631 2.088059 -0.316239 -0.519191 -0.0029 0.197583 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Pengujian Heteroskedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.

118235 -0.300203 0.074401 0. Error 0.824922 Pengujian Multikolinearitas LNPU LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 LNPU 1. 0.119737 0.0939 0.187911 -0.330892 0.0023 0.197583 0.0212 0.175371 -0.196405 -0.296969 0.869172 0.320256 -0.514040 0.349272 0.005735 0.140894 0.408475 -0.419045 0.226252 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Pengujian Heteroskedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.665513 2.427353 -0.046694 -0.330657 -0.504728 7.605371 0.000000 -0.226252 -0.373878 DU2 -0.580460 0.386847 0.200345 -0.046694 0.307941 -0.236392 0.142374 1.4342 0.378634 0.031651 0.197583 0.3507 10.073872 -0.361310 0.307941 -0.321486 -0.118235 DP3 -0.205831 -0.000000 -0.E.373878 1.694735 1.427109 3.057392 0.316239 -0.427353 1.111520 11.346944 1.150808 -0.072585 -0.200345 -0.205831 0.108475 -0.000000 0.196405 -0.307814 0.354413 0.135004 0.000000 -0.000283 Mean dependent var S.897256 -24.035896 -0.7975 0.330657 LNSU 0.197583 -0.057392 1.045511 5.142374 0.073872 DU1 -0.328185 -0.175371 -0.2586 0.1870 0.D.005735 -0.947542 Prob.85 Lampiran 4.345476 -0.320256 -0.08328 Probability Probability 0.31026 2.119737 DP4 0.000000 0.000000 -0.072585 -0.881205 0.327669 0.239755 -0.384933 Probability Probability 0.338551 DP2 -0.326285 2.074401 -0.302613 0. Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha Dependent Variable: LNPU Method: Least Squares Date: 06/23/09 Time: 08:35 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C R-squared Adjusted R-squared S.727952 -1. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.226643 -0.000000 -0.3850 0.258863 -1.095961 -0.378634 DP1 -0.258680 -0.605371 -0.296969 1.155553 -0.187911 -0.095961 -0.354413 1.291584 0.346944 -0.338551 -0.000000 -0.155553 LNAB 0.226643 0.000000 .258680 0.241823 2.316239 0.144128 t-Statistic 2.197583 1.351066 Pengujian Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 0.514040 0.792281 -1.75523 0.055063 Std.098807 0.307814 0.035896 -0.472192 0.

297.60 5.91 Lampiran 7.00 0.01 0.220.09) 3.633.00 (391.981.00 5.442.305.534.581.32 2.00 (1.89) 394.906.00 62.700.44 94.56 96.305.33 97.790.118.00 86.770.750.38 (1.659.140.015.00 533.062.028.12 0.00 3.40 96.377.413.519.150.215.865.105.00 .971.154.00 321.93 0.035.01 0.49 (0.25 1.00 393.590.105.000.810.750.339.00 764.800.181.124.319.282.00 5.48 77.00 1.000.24 (0.700.874.502.60 0.580.890.294.067.00 1.00 52.62 1. Komposisi Aktiva dan Pasiva KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.150.60 81.78 0.38) 364.40) 0.29 100.097.00 (262.00 644.413.086.00 588.03 % 31 Desember 2007 Rp 10.470.67) 3.878.800.11 15.455.590.80 0.00 2.31) 3.62 % 16.15 0.22 0.526.000.000.412.REMBANG KOMPOSISI AKTIVA DAN PASIVA PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Piutang Usaha Piutang Lain-Lain Penyisihan Piutang Tak Tertagih Biaya Dibayar Dimuka Total Aktiva Lancar INVESTASI JANGKA PANJANG Simpanan pada Koperasi Simpanan pada Non Koperasi Total Aktiva Lancar AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Kendaraan Peralatan Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku TOTAL AKTIVA 31 Desember 2008 Rp 16.398.222.00 4.655.00 857.993.06 (1.822.782.000.643.764.189.00 65.000.00 234.162.023.890.413.54 79.00 0.00 (851.566.12 583.13 1.413.295.75 100.36 1.55 79.398.221.54 4.40) 0.99 0.739.139.LASEM KAB.

29 0.38 0.29 6.380.31 0.643.143.00 199.751.92 Lampiran 7.255.47 0.40 1.05 0.00 4.306.739.283.604.32 0.00 1.46 0.296.561.43 44.97 39.37 % 31 Desember 2007 Rp 13.121.00 190.36 0.00 % KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Hutang Bank 17.716.18 6.88 0.00 349.65 5.054.00 199.564.01 4.206.801.810.388.000.11 0.816.00 90.32 6.62 0.10 68.225.178.00 248.119.09 0.00 .320.000.000.25 0.842.834.36 0.319.312.92 12.519.902.946.560.446.056.77 0.00 5.74 24.846.595.00 98.878.049.196.70 100.632.37 105.84 208.934.27 5.00 3.311.750.205.000.00 245.377.295.869.282.82 23.45 65.000.957.344.428.795.149.915.818.00 68.716.00 44.05 0.465.364.206.00 29.00 19.80 217.564. Lanjutan KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.958.00 18.097.16 100.000.31 6.00 Total Hutang Jangka Panjang EKUITAS Simpanan Pokok Simpanan Wajib Modal Penyertaan Modal Donasi Cadangan SHU Tahun Berjalan Total Ekuitas TOTAL PASIVA 24.712.00 15.726.100.12 0.372.548.892.000.17 20.696.28 66.653.REMBANG KOMPOSISI AKTIVA DAN PASIVA PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007 PASIVA KEWAJIBAN LANCAR Simpanan Si Rela Simpanan Si Suka Simpanan Si Sidik Simpanan Si Sidik Plus Simpanan Resiko Kredit Hutang Dana Bagian Usaha Baitul Maal Biaya Masih Harus Dibayar Total Hutang Lancar 31 Desember 2008 Rp 25.610.00 1.28 44.583.93 0.260.581.07 0.65 97.00 305.00 260.06 38.773.815.169.310.71 25.93 1.00 752.162.21 0.612.593.33 288.89 30.389.413.LASEM KAB.276.331.001.00 50.532.000.00 77.820.00 Hutang Jangka Panjang Lainnya 6.000.100.33 8.028.10 68.865.

40 0.160.32 1.544.283.927.00 100.405.62) (68.57) 288.422.LASEM KAB. Komposisi Pendapatan dan Beban KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.60) 2.121.00 100.898.60 2.613.612.00 % Tahun 2007 Rp 11.814.97 (11.405.468.696.00 0.00 (97.409.422.384.00 (15.927.160.00 0.40) 387.568.273.93 0.81 217.60 0.00 (97.04) 285.345.726.045.955.83 .878.00 % 387.049.43 185.65 1.REMBANG KOMPOSISI PENDAPATAN DAN BEBAN Tahun yang Berakhir 31 Desember 2008 dan 2007 Tahun 2008 Rp Pendapatan Usaha Beban Usaha Hasil Usaha Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain SHU Sebelum Pajak Penghasilan Taksiran Pajak Penghasilan SHU Setelah Pajak Penghasilan 15.57) 2.93 2.00 0.93 Lampiran 8.548.28) (0.40 (98.00 0.28) (0.43 0.

07% 100% = 13.957. Operational Margin Ratio SHU Penjualan dan Pendapatan c.57% .273.001.049.56% : 100% = 24.Panjang 24.468. RASIO RENTABILITAS a.118.03 X 66.Panjang Aktiva Tetap : 3.001. Acid Ratio Kas+Bank+Piutang Hutang Lancar c.36 X Total Hutang 91.REMBANG ANALISA RASIO TAHUN 2008 I.LASEM KAB.468. Current Ratio Aktiva Lancar Hutang Lancar b.345.00 100% = 4.215.097.260.94 Lampiran 9. RASIO LIKUIDITAS a. Rentabilitas Modal Sendiri SHU Modal b.139.045. Rasio Aktiva dengan Hutang Jk.643. RASIO SOLVABILITAS a.915. Analisa Rasio KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.71 16.00 100% = 107.260.380. Cash Ratio Kas dan Bank Hutang Lancar : 94.915.32 X 6.273.36% II.001.18% III.696.782.915.398.139.32 X 15.561.297.561.058.71 100% = 140.062.957. Operational Ratio HPP+Beban Usaha Penjualan dan Pendapatan : 288.865.40 X 15.33 c.71 b.817.382.65 288.40% : 100% = 1.19% 100% = 204.00 15.48 X 66.205.566.696.304.65 X Aktiva Tetap 3. Rasio Modal dengan Aktiva Tetap Modal : 6.57% : 100% = 140.955. Rasio Total Aktiva dengan Total Hutang Total Aktiva : 97.890.81% : 100% = 97.71 94.934.049.48 X 66.33 X Hutang Jk.568.118.389.957.891.215.205.955.736.

95 Lampiran 10. Lembar Permohonan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem .

96 .

97 .

98 .

Data Besarnya Pembiayaan Yang Diambil Responden NR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 AB BC 20000000 406000 30000000 607000 3000000 69000 3000000 68000 5000000 109000 6000000 127000 10000000 207000 20000000 410000 20000000 411000 20000000 409000 5000000 108000 10000000 208000 1000000 28000 3000000 68000 2000000 47000 1000000 27000 10000000 208000 1500000 37000 5000000 109000 4000000 87000 3000000 67000 5000000 109000 SB CR A DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA 66700 600 84 0 0 0 1 0 0 1 800000 300 132 0 1 0 0 0 0 1 133500 250 48 0 0 1 0 0 0 1 400000 300 60 0 0 0 0 0 0 1 70000 100 60 0 1 0 0 0 0 1 50000 100 24 0 0 0 1 0 1 1 1000000 600 60 0 1 0 0 1 0 1 200000 600 60 0 0 0 0 0 0 1 500000 100 72 0 0 0 0 0 0 1 1000000 100 48 0 1 0 0 0 0 1 500000 600 48 1 0 0 0 0 0 1 1500000 600 60 1 0 0 0 0 0 1 250000 250 36 0 0 0 1 0 0 1 500000 600 96 1 0 0 0 0 0 1 1000000 250 60 0 1 0 0 0 0 1 300000 250 36 1 0 0 0 0 0 1 117000 500 60 0 0 1 0 0 0 1 400000 300 36 0 0 0 0 0 0 1 800000 600 36 1 0 0 0 0 0 1 600000 300 48 0 1 0 0 1 0 1 500000 250 48 0 1 0 0 1 0 1 1000000 600 60 0 0 1 0 1 0 1 86 .Lampiran 5.

Lampiran 5. Lanjutan 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 2000000 2000000 2000000 8000000 500000 2000000 2000000 2000000 1500000 4000000 5000000 3000000 2000000 2000000 500000 3000000 1000000 4000000 49000 47500 47000 168500 17000 46500 46500 46500 37000 87000 108000 69000 47000 47000 17000 67000 28000 87000 300000 600000 400000 800000 300000 300000 300000 300000 400000 400000 500000 600000 400000 100000 400000 600000 500000 400000 300 300 250 600 300 250 250 250 250 250 600 300 250 100 50 300 100 600 60 60 48 48 36 36 36 36 48 60 48 72 36 48 60 48 60 48 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 Keterangan : NR : Nomor responden AB : Besar pengambilan pembiayaan BC : biaya Peminjaman SB : Besarnya pendapatan usaha CR : jangka waktu angsuran A : lama menjadi anggota DP : Dummy Pendidikan 87 .

DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan Sarjana muda/ sarjana dan 0 untuk yang lain DU : Dummy jenis usaha DU1 : bernilai 1 jika siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 : bernilai 1 jika retail dan 0 untuk yang lain DA : Dummy Jenis Agunan bernilai 1 jika ada agunan dan 0 jika tidak ada agunan 88 .

Data Identitas Responden Kategori penggolongan Status Range Belum menikah Sudah menikah Janda/ duda Laki-laki Perempuan 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-72 tahun <5 tahun 5-10 tahun >10 tahun <3 tahun 3-5 tahun 6-11 tahun <3 hari 3-5 hari >5 hari 1 orang 2 orang 3 orang 4 orang ≤ Rp 100.000 Jumlah Responden (orang) 40 28 12 2 19 14 4 7 31 2 1 33 6 7 29 4 9 14 14 3 7 10 11 12 Jenis Kelamin Umur Lama Usaha Lama anggota Jangka waktu pembiayaan Tanggungan (tidak termasuk dirinya) Besar pendapatan per hari 89 .000 Rp 433.Rp 400.000 Rp 120.000 .000 .000.500 – RP 1.Lampiran 6.000 Rp 300.Rp 250.

000 Rp 2.000.500.000 Rp 6. Lanjutan Besar pembiayaan Rp 500.000.000.000.000.000 Rp2.000.000 16 14 5 5 90 .000 Rp 30.000 Rp 10.000 Rp5.000 Rp 20.Lampiran 6.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->