P. 1
Krisis Dan Munculnya Teori Sains (1)

Krisis Dan Munculnya Teori Sains (1)

|Views: 38|Likes:
Published by Rika Aryanti

More info:

Published by: Rika Aryanti on Apr 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

KRISIS DAN MUNCULNYA TEORI SAINS Perubahan yang melibatkan penemuan-penemuan ini semuanya destruktif dan sekaligus

konstruktif. Namun penemuan atau bukan, satu-satunya sumber paradigma destruktif-konstruktif ini berubah. Kita akan mulai meninjau perubahan yang serupa, tetapi biasanya lebih luas, yang disebabkan oleh penciptaan teori-teori baru. Munculnya teori-teori itu pada umumnya didahului pada periode ketidakpastian yang sangat tampak pada profesi. Dalam memahami munculnya teori baru, kita akan memperluas pandangan dan pemahaman kita tentang penemuan. Para filsuf telah berulang-ulang mendemontrsikan bahwa terhadap suatu kelompok data tertentu selalu dapat diberikan lebih dari satu konstruksi teoritis. Sejarah sains menunjukan bahwa, terutama pada tahap-tahap pengembangan suatu paradigm baru, bahkan tidak begitu sulit untuk menciptakan alternative seperti itu. Akan tetapi penciptaan alternatif itu justru jarang dilakukan para ilmuan, kecuali pada tahap paradigma dari perkembnangan sains dan pada peristiwa-peristiwa yang sangat khusus selama evolusi selanjutnya. Selama alat-alat yang disediakan oleh paradigma itu masih tetap mampu memecahkan masalah-masalah yang ditetapkannya, sains maju paling cepat dan menembus paling dalam melalui alat-alat yang disertai keyakinan. Alasannya pada sains tidak berbeda dengan didalam pabrik pembaruan alat merupakan pemborosan yang harus dicadangkan bagi saat-saat yang benar-benar memerlukannya. Pentingnya kritik adalah petunjuk yang diberikannya bahwa saat pembaruan alat sudah tiba. Meskipun demikian kesalinglingkupan itu bukan identitas. Jika kesadaran akan anomaly memainkan peran dalam munculnya jenis-jenus gejala baru, maka tidak akaan mengejutkan bahwa kesadaran yang serupa tetapi lebih mendalam, merupakan prasyarat bagi perubahan teori yang akan diterima, karena menuntut paradigma secara besar-besaran dan perubahanperubahan besar dalam masalah-masalah dan teknik-teknik sains yang normal.

Ketidaksesuaian yang jauh lebih besar pun dari pada yang dialami dalam penerapan lain dari teori itu sama sekali tidak perlu menarik tangapan yang sangat besar. Bahkan yang paling bandel pun biasanya pada akhirnya menanggapi pada praktek yang normal. Ketidakseuaian selalu ada. Kebaanyakan diantaranya cepat atau lambat diluruskan. . Jika suatu anomaly kan meninmbulkan krisis. Selalu ada kesulitan kecocokan paradigm alam. dan mempertimbangkan yang mengakibatkanputusan itu melibatkan perbandingan paradigma-paradigma dengan alam maupan satu sama lain. Artinya mereka tidak melakukan anomaly-anomali sebagaai kasus pengganti meskipun dalam pembendaharaan kata filsafat sains demikina adanya. criteria yang sama sekali tidak bergantung pada apakah kemacetan itu diikuti oleh revolusi. Bagaimana ilmuan menanggapi kesadaran akan anomali dalam kecocokan antara teori dan alam. Transisi kepada paradigm baru yang dihasilkannya adalah revolusi sains normal. Meskipun mereka mungkin kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan aternatif-alternatif. biasanya harus lebih dari pada sekedar sebuah anomali. Putusan untuk menolak sebuah paradigma selalu sekaligus merupakan putusan untuk menerima yang lain. seringkali dengan proses-proses yang tidak mungkin telah diramalkan. mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka ke dalaam krisis.TANGGAPAN TERHADAP KRISIS Krisis itu merupakan prakondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Disamping itu ada alasan kedua untuk meragukan bahwa para ilmuaan menolak paradigm karena dihadapkan kepada anomaly-anomali atau penggantinya. tindakan mempertimbangkan yang menyebabkan para ilmuan menolak teori yang semula diterima itu selalu didasarkan lebih daripada perbandingan teori itu dengan dunia.

.Kadang-kadang sains yang normal akhirnya ternyata mampu menangani masalah yang membangkitkan krisis meskipun ada keputusan pada mereka yang melihatnya sebagai akhir dari suatu paradigma yang ada. Transisi dari paradigm dalam krisis kepada paraadigma yang baru yang daripadanya dapaat muncul dari transisi baru sains yang normal itu jauh dari proses kumulatif yang dicapai dengen artikulasi atau perluasan paradigm yang lama. Antisipasi sebelumnya bisa membantu kita mengenal krisis sebagai pendahuluan yang tepat bagi munclnya teori-teori baru.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->