Pemeriksaan Fisik Abdomen

Pemeriksaan fisik abdomen dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan abdomen pada pasien. Pemeriksaan fisik abdomen prosedurnya diawali. Memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan. Penderita dipersiklahkan untuk membuka baju seperlunya dan meminta berbaring dengan posisi pemeriksa disebelah kanan pasien. Penderita dibuat rileks dengan menekuk lutut dan mengajak berbicara. Penderita diminta untuk memberikan respon terhadap pemeriksaan (rasa sakit) dll. Prinsip pemeriksaan abdomen yakni: Inspeksi-Auskultasi-Perkusi-Palpasi. Inspeksi dengan posisi berdiri (kulit tidak tampak vena melebar (melebar sindroma Cushing/ Cirhosiss hepatis), umbilikus tidak hernia, contour abdimen datar (membelendung kantung kencing penuh/hamil belendung ascites), dinding abdomen simetri. Perut kembung menandakan adanya gangguan intraluminal. Pasien diminta bernafas lalu inspeksi tidak tampak adanya pembesaran organ atau masa. Inspeksi juga dilakukan terhadap peristaltik dengan membungkuk atau duduk. Auskultasi dilanjutkan dengan diafragma stetoskop adanya bising usus (normalnya 5-12 kali/menit), juga di epigastrium mendengar suara aorta (gangguan pada aneurisma aorta), pada arteri inguinal tidak ada bising. Bising usus bisa disertai bising tambahan yakni borborygmi/suara panjang atau metalic sound (klinkend, oleh adanya resonansi akibat obstruksi). Perkusi dilakukan sebagai orientasi pada keempat kuadran abdomen dominan suara timpani (ada feses/ cairan redup), di kandung kemih (timpani/redup). Perkusi dilakukan pada dada bagian bawah antara paru dan arkus costa (suara redup dikanan karena ada hepar, suara timpani di kiri karena adanya fleksura splenikus kolon) kalo keduanya redup asites (ditandai). Normalnya suara hepar adalah pekak karena adanya tekanan intrabdominal yang hampir negatif yang mengakibatkan organ menempel pada perioteneum, sehingga bila ada udara pekaknya menghilang. Palpasi superficial dilakukan untuk melihat ada ketegangan otot, nyeri tekan lepas atau tidak (prinsipnya dilakukan pada area yang diduga tidak nyeri/normal dulu), masa dengan ujung jari bersamaan dengan lembut semua kuadran. Nyeri pada abdomen ada yang sifatnya visceral (hilang timbul, tidak bisa ditunjuk dengan jelas), ada yang somatik (bisa ditunjuk dengan jelas). Kelainan pada dinding ditandai dengan hilangnya nyeri apabila ada ketegangan perut jika masih nyeri berarti ada kelainan dari dalam dinding perut. Palpasi adanya masa, dilihat konsistensinya apakah padat keras (seperti tulang), padat kenyal (seperti meraba hidung), lunak (seperti pangkal pertemuan jempol dan telunjuk), atau kista (ditekan mudah berpindah seperti balon berisi air, berisi cairan). Adanya tumor pada abdomen diperkirakan dari 9 regio anatominya. Ukuran massa ditentukan dengan pasti yakni dengan meteran/jangka sorong mengenai panjang, lebar, tebal (kalau tidak ada peralatan, bisa dengan ukuran jari penderita). Pada palpasi selain memikirkan organ didalam, dipikirkan pula pembuluh darah di abdomen. Abdomen ditekan kuat-kuat bagian atas sedikit ke sebelah kiri untuk merasakan pulsasi aorta (tumor abdomen bisa keliru dengan aneurisma aorta). Aneurisma aorta ditandai ada pulsasi ke segala arah sedangkan tumor hanya pada 1 arah. Palpasi organ intraperitoneal sifatnya mobile, sedangkan organ retroperitoneal sifatnya fixed (seperti ginjal yang kalau ternyata mobile pada wandering kidney). Untuk pemeriksaan ascites abdomen prosedur tambahannya: (1) Melakukan perkusi dengan Tes suara redup berpindah: Setelah menandai batas suara timpani dan redup, minta penderita miring ke salah satu sisi tubuh dilakukan perkusi lagi (Pada ascites batasnya tidak berubah); (2) Melakukan palpasi dengan Tes Undulasi: Minta asisten menekan kedua tangan pada midline abdomennya (kanan kiri). Ketuklah satu sisi abdomen dengan jari dan rasakan pada sisi yang lain dengan tangan yang lain, adanya getaran yang diteruskan cairan asites. Untuk pemeriksaan hepar prosedur tambahannya yaitu dengan perkusi batas bawah hepar: Mulai dari bawah umbilikus di mcl kanan perkusi dari bawah ke atas sampai suara redup (tidak ada pergeseran ke bawah/ Obstruksi paru kronik). Dilanjutkan perkusi batas atas hepar: daerah paru ke bawah sampai suara redup. Tinggi antara daerah redup (tidak ada pembesaran hepar) diukur. Palpasi hepar dilakukan dengan meletakkan tangan kiri dibelang penderita menyangga costa ke-11/12 sejajar, minta penderita rileks. Hepar didorong ke depan, diraba dari depan dengan tangan kanan (bimanual palpasi). Tangan kanan ditempatkan pada lateral otot rektus kanan, jari di batas bawah hepar dan tekan
1

lembut ke arah atas. jam 9 sebelah kiri. mudah kontraksi. auskultasi. Ada juga yang membagi menjadi 3 kuadran yaitu epigastrium. Oleh karena itu colok dubur dilakukan serileks mungkin menggunakan lubrikasi. Tangan kanan diletakkan dengan lembut pada kuadran kanan atas di lateral otot rectus. maupun knee-chest. perkusi dan palpasi. yaitu kuadran kanan atas. Tangan kiri diletakkan di belakang penderita.masing garis melalui umbilicus. Pasien dalam keadaan rileks. Kandung kemih harus kosong. Penderita diminta untuk memberiksan respons terhadap pemeriksaan bila ada rasa sakit. abdomen dibagi menjadi 4 kuadran. Pasien diminta membuang nafas dan berhenti napas. 2 . Penderita diminta bernafas dalam-dalam merasakan lien dengan ujung jari (lien membesar atau tidak). Jarak letak lien diperkirakan dengan costa kiri terbawah Untuk pemeriksaan ginjal abdomen prosedur tambahannya dengan melakukan palpasi Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien. Secara deskripsi dengan menggunakan 2 garis imajiner yang saling tegak lurus dan masing. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan satu tangan maupun dua tangan (bimanual. Pasien diminta bernafas dalam sehingga terasa sentuhan hepar bergerak ke bawah (tangan dikendorkan agar hepar meluncur dibawah jari sehingga meraba permukaan yang lunak tidak berbenjol. kiri atas dan kiri bawah. Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kanan). minta pasien menarik nafas dalam. Perkusi dilakukan pada daerah redup dari berbagai arah (redup meluas berarti pembesaran limpa) perlu dilakukan palpasi untuk memastikan Palpasi lien dilakukan dengan meletakkan tangan kiri menyangga dan mengangkat costa bagian bawah kiri sebelah penderita. Untuk pemeriksaan lien prosedur tambahannya dengan perkusi daerah ics terbawa di linea axillaris anterior kiri (timpani). tidak ada pembesaran). Colok dubur perlu hati-hati karena sifat anus yang sensitif. Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan pemeriksaan abdomen yaitu : 1. tepi tegas/tajam. untuk memudahkan keadaan tersebut antara lain : a. minta pasien menarik nafas dalam. lithotomi. Sebaiknya penderita kencing terlebih dahulu. Dilanjutkan dengan palpasi Ginjal Kiri: Pindah di sebelah kiri penderita. ujung cari menyentuh sudut costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke depan). umbilical dan hipogastrik/ suprapubik. dan rasakan bagaimana ginjal kembali waktu ekspirasi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien dalam posisi miring (symposisi). Pemeriksaan (palpasi dan perkusi) diulangi pada posisi pasien miring ke kanan dengan tungkai paha dan lutut flexi agar lien mudah teraba. jam 6 ke arah sacrum dan jam 12 ke arah pubis. paralel pada costa ke-12. nyeri tekan ga). Tangan kiri diletakkan dengan lembut pada kuadran kiri atas di lateral otot rectus. kanan bawah. Tangan kanan diletakkan di bawah arcus aorta kemudian tekan ke arah lien. BAB II PEMBAHASAN Pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi. pada puncak inspirasi tekan tangan kanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (tentukan ukuran. lepaskan tangan kanan. dan pemeriksa berdiri di belakang penderita. Tangan kanan untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Pada posisi lithotomi diagnosis letak kelainan menggunakan posisi jam yakni jam 3 sebelah kanan. pada puncak inspirasi tekan tangan kiri dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (normalnya jarang teraba) Untuk pemeriksaan ketok ginjal prosedur tambahannya dengan memperlsilahkan penderita untuk duduk menghadap ke salah satu sisi. satu tangannya di atas pelvis). Pasien diminta menarik nafas panjang lakukan perkusi lagi (kalau redup berarti pembesaran limfe atau bisa normal false positive splenic percussion sign). Pemeriksaan abdomen dapat diakhiri dengan colok dubur (sifatnya kurang menyenangkan sehingga ditaruh paling akhir). Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kiri).

umbilical. coklat. tampak pada dinding abdomen dan bentuk usus juga tampak (darm-contour). Peristaltik. kanan bawah. Perhatikanlah ekspresi dari muka pasien selama pemeriksaan 2. hepatomegali. 1. Pasien berbaring terlentang dengan bantal dibawah kepala dan lutut. pucat. Daerah abdomen mulai dari prosesus xiphoideus sampai simfisis pubis harus terbuka 3. auskultasi. Pulsasi.b. Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas. dan adanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik. Pemeriksaan dengan perlahan-lahan. 3 . Garis vertikal dibuat masing-masing melalui titik pertengahan antara SIAS dan mid-line abdomen. dengan membuat garis vertikal dan horizontal melalui umbilicus. iliaka kanan. splenomegali. d. caranya dengan menggosokkan kedua telapak tangan dan tempelkan stetoskop pada telapak tangan. dan iliaka kiri Pada keadaan normal. kiri atas. gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus. e. striae (gravidarum/ cushing syndrome). Kandung kemih pada retensio urine dan uterus gravid teraba di daerah suprapubik. Terbentuklah daerah hipokondrium kanan. palpasi. Kedua tangan disamping badan atau menyilang dada. Pembagian atas sembilan daerah. perhatikan adanya benjolan local (hernia. sehingga terdapat daerah kuadran kanan atas. lumbal kanan. INSPEKSI Dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. dan perkusi. f. di daerah umbilical pada orang yang agak kurus dapat terlihat dan teraba pulsasi arteri iliaka. kering (dehidrasi). Pembagian atas empat kuadran. rata. jangan meletakkan tangan diatas kepala. Ajaklah pasien berbicara bila perlu dan mintalah pasien untuk menunjukan daerah nyeri. dengan membuat dua garis horizontal dan dua garis vertikal. jaringan parut (tentukan lokasinya). dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen. kista ovarii. pelebaran pembuluh darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensi portal). lumbal kanan. Topografi Anatomi Abdomen: Ada dua macam cara pembagian topografi abdomen yang umum dipakai untuk menentukan lokalisasi kelainan. pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical. menonjol. hidronefrosis). Gunakan tangan dan stetoskop yang hangat. Ginjal yang merupakan organ retroperitoneal dalam keadaan normal tidak teraba. elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi). lembab (asites). g. c. Simetrisitas. warnanya (ikterus. atau scaphoid (cekung). Urutan teknik pemeriksaan pada abdomen ialah inspeksi. Garis horizontal pertama dibuat melalui tepi bawah tulang rawan iga kesepuluh dan yang kedua dibuat melalui titik spina iliaka anterior superior (SIAS). Pemeriksa disebelah kanan pasien. Pembesaran organ atau tumor. Besar dan bentuk abdomen. misalnya kolon sigmoid teraba agak kaku di daerah kuadaran kiri bawah. hipokondrium kiri. Yang perlu diperhatikan adalah: Keadaan kulit. 2. Perhatikan juga gerakan pasien: Pasien sering merubah posisi  adanya obstruksi usus. hipogastrium/ suprapubik. yaitu: 1. kehitaman). dan kiri bawah. kolon asendens dan saecum teraba lebih lunak di kuadran kanan bawah. epigastrium. Beberapa organ dalam keadaan normal dapat teraba di daerah tertentu. ikterus obstruktif).

Pasien sering menghindari gerakan Iritasi peritoneum generalisata. 2. 8. abdomen tampak membesar dan tegang. peristaltic usus akan melemah. atau kedua fase. bentuk. bahkan sampai hilang. AUSKULTASI Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltic usus dan bising pembuluh darah. lalu dipindahkan ke seluruh bagian abdomen. Bila abdomen tampak menegang. Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolic. Suara peristaltic usus terjadi akibat adanya gerakan cairan dan udara dalam usus. Perhatikan ada tidaknya penegangan abdomen. peristaltic lebih tinggi seperti dentingan keeping uang logam (metallic. Persiapan pasien 1. minta pasien agar tidak berbicara. Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala untuk melemaskan/relaksasi otot. dan striae serta bayangan vena dan pergerakan abnormal. ginjal. frekuensinya lambat. Pasien sering melipat lutut ke atas agar tegangan abdomen berkurang/ relaksasi  per itonitis . bila terjadi peningkatan perenggangan abdomen. 2. Mintalah pasien mengangkat kepalanya dan perhatikan adanya gerakan peristaltik atau denyutan aortik. minta pasien untuk berbalik kesamping dan inspeksi mengenai ada tidaknya pembesaran area antara iga-iga dan panggul. Perhatikan pula gerakan permukaan. Mintalah pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan di sisi tubuh. Perhatikan posisi. lakukan monitoring. massa. Mintalah pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi. maka jarak kedua simpul makin menjauh 7. 4 . peristaltic meningkat disertai rasa sakit (borborigmi). Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit. Mendengarkan suara peristaltic usus. bentuk perut. Pasien melipat lutut sampai ke dada. tanyakan kepada pasien apakah abdomen terasa lebih tegang dari biasanya. Buatlah simpul dikedua sisi tali/perban untuk menandai dimana batas lingkar abdomen. ukur lingkar abdomen dengan memasang tali/perban seputar abdomen melalui umbilikus. terdengar bising sistolik (systolic bruit). Inspeksi abdomen untuk gerakan pernapasan yang normal. Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala 2. jaringan parut. dan inflamasi dari umbilikus. terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium. Mendengarkan suara pembuluh darah. Diafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen. Pemeriksaan auskultasi abdomen berguna untuk memperkirakan gerakan usus dan adanya gangguan pembuluh darah. 1). apabila terdapat desiran mungkin suatu aneurisma . iliaka atau femoral. Dilakukan selama 2-3 menit. simetrisitas. Berikan tekanan ringan. Misalnya pada aneurisma aorta. Normal tidak terdengar bunyi vaskuler disekitar aorta. jelaskan pada pasien 3). Cara pemeriksaan: 1. 4. Bila terdapat obstruksi usus. luka. 6. pemeriksa berdirilah pada sisi kanan pasien dan perhatikan kulit dan warna abdomen. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus. Pada hipertensi portal. Letakkan kepala stetoskop sisi diapragma yang telah dihangatkan di daerah kuadran kiri bawah. berayun-ayun maju mundur pada saat nyeri  pankreatitis parah. Cara pemeriksaan 1.otot abdomen. Bila terjadi penegangan abdomen. warna. 3. pola vena. Bila obstruksi makin berat. 5. pembesaran atau penegangan. Bila terjadi peritonitis.sound). Persiapan alat 1. Bunyi usus akan terdengar tidak teratur seperti orang berkumur dengan frekwensi 5 – 35 kali permenit. Stetoskop 2).

PALPASI Beberapa pedoman untuk melakukan palpasi. serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. cara palpasi organ abdomen dimana terdapat asites. palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan. Catat frekuensi bising usus. kecuali di daerah hati (redup. Palpasi hati. 4. tidak ada bising usus dan perhatikan frekwensi/ karakternya. sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul. Dilakukan palpasi dari bawah ke atas pada garis pertengahan antara mid-line & SIAS. untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik. dimana tangan kiri berada di bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangan kanan di bagian depan dinding abdomen Pemeriksaan ballottement. Dengarkan bising usus apakah normal. Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen. adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus. menentukan besarnya hati. sehingga hati dapat teraba. 3.3. 5. maka itu adalah spasme volunteer. Bila bising usus tidak mudah terdengar. lalu ke bagian dalam. lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan dengarkan tiap kuadran abdomen. Prinsipnya adalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang akan diteruskan ke sisi yang lain. 4. konsistensinya. hiperaktif. Bila dinding abdomen tegang. maka bila pasien dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah.Sedangkan untuk menentukan batas tepi organ. ialah: Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring terlentang. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru. pekak hati akan menghilang. Suara perkusi abdomen yang normal adalah timpani (organ berongga yang berisi udara). Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta. Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak tangan. adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista). organ yang padat). minta pasien menarik napas dalam. sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir. dan warna kulit di atasnya. iliaka. ada tidaknya asites. 6. Namun jika otot kaku tegang selama siklus pernapasan. femoral dan aorta torakal. # Cairan bebas dalam rongga abdomen Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suara dullness dominant. Bila ada daerah yang dikeluhkan nyeri. jika muskulus rectus relaksasi. Pembesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa sentimeter di bawah prosesus xiphoideus. 5 . itu adalah spasme sejati. ginjal. tepinya. Setiap ada perabaan massa. hipoaktif. Bedakan spasme volunteer & spasme sejati. dicari ukuran/ besarnya. Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). dengan menekan daerah muskulus rectus. dimana gerakan penekanan pada organ oleh satu tangan akan dirasakan pantulannya pada tangan lainnya. Kemudian gunakan sisi bel stetoskop. hipoaktif atau tidak/ ada bising usus pada kartu status. permukaannya. Cara pemeriksaan asites: o Pemeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave). Pada perforasi usus. PERKUSI Perkusi berguna untuk mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan. Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Teknik ballottement juga dipakai untuk memeriksa ginjal. limpa. untuk mempermudah palpasi maka pasien diminta untuk menekuk lututnya. Cairan asites akan berpindah untuk sementara. fiksasi/ mobilitasnya. Diusahakan agar tidak melakukan penekanan yang mendadak. agar tidak timbul tahanan pada dinding abdomen. Palpasi bimanual. dilakukan dengan satu tangan atau bimanual pada kuadran kanan atas. Caranya dengan melakukan tekanan yang mendadak pada dinding abdomen & dengan cepat tangan ditarik kembali. Sebaiknya digambarkan skematisnya. Palpasi dimulai dari daerah superficial. hiperaktif. nyeri spontan/tekan. bentuknya. Bila perlu pasien diminta untuk menarik napas dalam. # Orientasi abdomen secara umum. lokasinya. digunakan ujung jari.

Lalu pasien diminta tidur miring pada satu sisi. dan perkusi. PERKUSI GINJAL 1. Normal perkusi tidak mengakibatkan rasa nyeri BAB III PENUTUP Pemeriksaan Abdomen digunakan untuk memeriksa keadaan perut si pasien dengan melalui empat cara. usus. tandai batas bawah hati tersebut. pemeriksa meletakkan telapak tangan kiri pada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. tandai tempat peralihan suara timpani ke redup maka akan tampak adanya peralihan suara redup. Posisi pasien tidur terlentang 2. lakukan perkusi lagi. limfa. Urutan teknik pemeriksaan pada abdomen ialah inspeksi. kandung kemih berbunyi timpani. Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri. Pemeriksa dibelakang pasien 3. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien 3. Perkusi sudut kostovertebral di garis skapular dengan sisi ulnar tangan kanan 4. 6 . Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan. Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien 2. 2. 3. Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 – 3 sentimeter 2. Cara Pemeriksaan: Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. palpasi. Pasien tidur terlentang. Organ berongga seperti lambung. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen. auskultasi. geser perlahan keatas. sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak. Posisi pasien duduk atau berdiri. o Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness).Pasien tidur terlentang. Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati. Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpani 3.Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke 5 sampai ke 7. PERKUSI LAMBUNG 1. PERKUSI BATAS HATI 1. lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus. sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati. 4. lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Setiap teknik harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti agar hasil yang kita dapatkan bisa seteliti mungkin dan menghindari setiap kesalahan yang biasanya sering dilakukan oleh setiap perawat. pankreas. ginjal 1. Tangan kiri kan merasakan adanya tekanan gelombang.