Tugas Mandiri – BIOKIMIA 2012

Vitamin B12 dan Perananya dalam Mencegah Stomatitis Sebagai Gejala Anemia

Disusun oleh :

Joseph Leonardo Cornelia Melinda Nayu Nur Annisa Nabilla Vidiasty Chynthea Paramita Silvi Ahmada C. M.Taufiq Ari S Anastasia Audrey Hillary Dessiree M.Luthfi W. Muhammad Dimas

021111078 021111079 021111080 021111082 021111083 021111084 021111085 021111086 021111087 021111088 021111381

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2012 i

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah s.w.t. karena atas berkat rahmat-Nya, penulis bisa menyelesaikan tugas makalah berjudul “Vitamin B12 dan Peranannya dalam Mencegah Stomatitis Sebagai Gejala Anemia” ini tepat waktu. Makalah ini penulis susun untuk menyelesaikan tugas mandiri Mata Kuliah BIOKIMIA Semester Genap. Pada makalah ini, penulis mendeskripsikan tentang neurotrophins yang berperan dalam perkembangan dan fungsi Neuron. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini, antara lain: 1. Tantiana, drg. M. Kes., selaku pembimbing/dosen mata kuliah Ilmu Biokimia 1 Universitas Airlangga. 2. Orang tua / wali penulis, yang telah memberikan fasilitas untuk menyelesaikan makalah ini. 3. Teman-teman FKG Universitas Airlangga angkatan 2010. 4. Pihak-pihak lain, yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Penulis pun menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam makalah ini, baik penulisan maupun isi materi. Oleh karena itu, penulis memohon maaf. Untuk selanjutnya penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan sedianya memberikan kritik dan saran membangun sebagai perbaikan penulis pada kesempatan lainnya.

Surabaya, 4 April 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………… i KATA PENGANTAR…………………………………………………… ii DAFTAR ISI……………………………………………………………… iii DAFTAR GAMBAR……………………………………………………… v DAFTAR TABEL………………………………………………………… vi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang…………………………………………………… 1 Tujuan…………………………………………………………… 2 Rumusan Masalah…………………………………………...…… 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Vitamin B12 2.1.1 Definisi Vitamin B12…………………………………………… 3 2.1.2 Struktur Kimia Vitamin B12…………………………………… 3 2.1.3 Fungsi Vitamin B12 …………………………………………… 4 2.1.4 Defisiensi Vitamin B12………………………………………… 5 2.2 Anemia 2.2.1 Definisi…………………………………………………………. 6 2.2.2 Penyebab………………………………………………………. 2.2.1.1 Anemia Akibat Kehilangan Darah…………………….. 2.2.1.2 Anemia Akibat Kerusakan Sel Darah…………………. 2.2.1.3 Anemia Akibat Adanya Gangguan dalam Produksi Darah …….…………………………. 2.2.1.3.1 Anemia Megaloblastik……………………… 2.3 Stomatitis 2.3.1 Definisi ………………………………………………………. 2.3.2 Penyebab……………………………………………………… 9 10 8 9 7 7 7

BAB 3 PEMBAHASAN 3.1 Mekanisme terjadinya penyakit anemia akibat defisiensi vitamin B12 13 3.2 Korelasi Defisiensi Vitamin B 12 dengan Anemia dan Stomatitis 14

iii

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan………………………………………………………. 4.2 Saran……………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………. 15 15

16

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Kimia Vitamin B12

Hal 4

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kadar Hb Normal

Hal 7

vi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vitamin B12 merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan merupakan bagian dari vitamin B complex. Vitamin ini disebut juga kobalamin karena terdapat kandungan cobalt di dalamnya. Seperti jenis vitamin lainnya, vitamin B12 tidak diproduksi sendiri oleh tubuh, melainkan hanya diperoleh dari makanan yang berasal dari hewan, seperti daging, telur, ikan, dan ayam. Vitamin ini memiliki peranan penting untuk aktivitas beberapa ezim dalam tubuh, pembentukan materi genetic, fungsi sistem saraf, produksi sel darah merah, dan pemanfaatan asam folat dalam tubuh. Mengingat begitu banyak peranan penting yang dimiliki oleh vitamin B12, maka harus dipastikan bahwa tubuh memiliki cukup asupan vitamin B12, yaitu berkisar antara 2,5 - 3,0 mikrogram perhari. Kekurangan jumlah vitamin B12 dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin B12 yang dapat berdampak buruk pada kesehatan. Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin B12, yaitu faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor ekstrinsik, yaitu kurangnya asupan vitamin B12, sedangkan faktor intrinsik meliputi malabsorbsi dan adanya gangguan metabolisme seluler. Defisiensi vitamin B12 ini banyak dialami oleh manula. Menurut Clarke, et al (2004), prevalensi penderita defisiensi vitamin B12 sekitar 5% pada orang berusia 65-74 tahun, lebih dari 10% pada orang yang berumur 75 ke atas. Defisiensi vitamin ini jarang terjadi pada remaja, kecuali orang yang menjalani diet ketat vegetarian. Salah satu akibat dari defisiensi vitamin B12, yaitu dapat menyebabkan anemia. Defisiensi vitamin B12 akan mengganggu reaksi metionin sintase sehingga menyebabkan terganggunya sintesis DNA yang mempengaruhi pembentukan nukleus pada eritrosit baru. Pada anemia jenis ini, sumsum tulang menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang sedikit, tetapi dengan ukuran yang lebih besar dan abnormal (megaloblas) sehingga digolongkan sebagai anemia megaloblastik. Salah satu gejala anemia yang berdampak pada kesehatan gigi dan mulut, yaitu munculnya stomatitis

1

Dari latar belakang di atas, penulis mencoba lebih lanjut mengenai vitamin B12 dan peranannya dalam mencegah serta menanggulangi stomatitis sebagai gejala dari anemia.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana mekanisme terjadinya penyakit anemia sebagai akibat dari defisiensi vitamin B12? 2. Bagaimana korelasi antara vitamin B12 dengan stomatitis sebagai salah satu gejala anemia?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Menjelaskan mekanisme terjadinya penyakit anemia sebagai akibat dari defisiensi vitamin B12. 2. Memberikan pemahaman mengenai korelasi antara defisiensi viramin B12 dengan gejala stomatitis pada penderita anemia

1.4 Manfaat Penulisan Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat bagi penulis dan pembaca, yaitu memberikan wawasan tentang fungsi vitamin B12 dalam tubuh serta korelasi antara defisiensinya dengan anemia dan stomatitis sehingga didapatkan pemahaman mengenai peranan vitamin B12 dalam

mencegah stomatitis sebagai salah satu gejala anemia .

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Vitamin B12 2.1.1 Definisi Vitamin B12

Vitamin B12 adalah satu dari delapan vitamin B dan merupakan vitamin yang larut dalam air. Secara umum, vitamin B berperan dalam proses metabolisme di dalam tubuh, salah satunya pemecahan karbohidrat hingga menjadi glukosa yang dibutuhkan untuk memproduksi energy. Vitamin B12, yang secara umum dikenal dengan istilah kobalamin, merupakan senyawa yang berperan dalam metabolisme asam, transfer metal, sintesis, dan perbaikan myelin. Kobalamin berperan penting dalam proses biokimia yang disebut sebagai transfer karbon tunggal. Vitamin ini penting untuk pembentukan sel darah merah secara normal dan untuk kesehatan jaringan saraf. Apabila terjadi defisiensi ataupun kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia, kerusakan saraf permanen dan kerusakan otak. (National Institute of Health, 2011) 2.1.2 Struktur kimia

Struktur molekul umum untuk semua senyawa kobalamin adalah jenis cincin heterosiklik yang dikenal sebagai cincin corrin, yang mirip dengan cincin porfirin yang merupakan dasar dari hemoglobin. Namun, sebagian besar bentuk cincin porfirin mengikat ion besi di pusat, sedangkan corrin mengikat ion kobalt (sebuah atom kobalt dengan muatan listrik tidak seimbang). Bentuk kristal dari kobalamin ini dikenal sebagai cyanokobalamin, berwarna merah terang, sehingga sering disebut sebagai vitamin merah. Kobalamin larut dalam air, sehingga tidak dapat disimpan dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama. Vitamin B12 adalah molekul yang sangat kompleks. Selain kobalt, juga mengandung karbon, oksigen, fosfor, dan nitrogen. Kobalamin stabil terhadap panas, meskipun sensitif dalam larutan panas asam atau larutan alkali, sedikit sensitif terhadap cahaya, dan dapat dihancurkan oleh oksidasi, reduksi agen dan oleh beberapa logam berat. Empat jenis kobalamin yang sering digunakan oleh manusia adalah cyanokobalamin, hydrokobalamin, methylkobalamin dan

adenosylkobalamin. Cyanokobalamin ini identik dengan vitamin B12.

3

Hydrokobalamin adalah kobalamin yang sering digunakan di Eropa untuk mengobati kekurangan vitamin B12. Hydrokobalamin juga digunakan baik di Amerika dan Eropa untuk mengobati keracunan sianida.cyanokobalamin dibentuk dengan menggabungan hydrokobalamin dengan kelebihan sianida.Baik

sianokobalamin atau hydrokobalamin dapat digunakan dalam tubuh kita, namun harus diubah terlebih dahulu ke bentuk yang dapat digunakan yaitu methylkobalamin dan adenosylkobalamin. Selain fungsi metabolik, masingmasing bentuk kobalamin memerlukan co-enzim spesifik untuk bekerja. MUT memerlukan methylkobalamin untuk bekerja, dan MTR memerlukan

adenosylkobalamin untuk bekerja. (Ulfah M, 2009)

Gambar 1. Struktur kimia Vitamin B12 (Ulfah M, 2009)

2.1.3

Fungsi Vitamin B 12

Vitamin B12 atau kobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Vitamin B12 merupakan kebutuhan pokok manusia dalam jumlah yang sangat kecil yaitu 2 mikro-gram per hari. Vitamin B12 berperan penting pada saat pembelahan sel. Vitamin B12 juga memelihara lapisan yang mengelilingi dan melindungi serat syaraf dan mendorong pertumbuhan normalnya. Selain itu juga berperan dalam aktifitas dan metabolisme sel-sel tulang. Vitamin B12 juga dibutuhkan untuk melepaskan folat,

4

sehingga dapatmembantu pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin B12 diperlukan dalam fungsi normal metabolisme semua sel, terutama sel-sel saluran pencernaan, sumsum tulang, dan jaringan saraf. Fungsi vitamin B12 adalah membantu bekerjanya enzim

methioninesynthase dan 5-metilmalonil-CoA mutase. Produksi metilkobalamin memerlukan vitamin B12 yang ditemukan pada sistem syaraf pusat dan otak. Hal tersebut merupakan alasan mengapa kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kelainan darah seperti macrocytos dan anemia pernisiosa serta kerusakan syaraf seperti alzheimer. (NIH, 2011) 2.1.4 Defisiensi Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kekurangan darah (anemia) yang sebenarnya disebabkan oleh kekurangan folat. Tanpa vitamin B12, folat tidak dapat berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Kekurangan atau defisiensi vitamin B12 menyebabkan anemia

megaloblastik. Karena defisiensi vitamin B12 akan mengganggu reaksi metioninsintase . Anemia megaloblastik terjadi akibat terganggunya sintesis DNA yang mempengaruhi pembentukan nukleus pada ertrosit yang baru. Keadaan ini disebabkan oleh gangguan sintesis purin dan pirimidin yang terjadi akibat defisiensi tetrahidrofolat. Homosistinuria dan metilmalonat asiduria juga terjadi. Kelainan neurologik yang berhubungan dengan defisiensi vitamin B12 dapat terjadi sekunder akibat defisiensi relatif metionin.Gejala kekurangan / defisiensi vitamin B12 lainnya adalah sel-sel darah merah menjadi belum matang (immature), yang menunjukkan sintesis DNA yang lambat. Kekurangan vitamin B12 dapat juga mempengaruhi sistem syaraf, berperan pada regenerasi syaraf peripheral, mendorong kelumpuhan, serta dapat menyebabkan hipersensitif pada kulit. Defisiensi vitamin B12 jarang terjadi karena kekurangan dalam makanan, akan tetapi sebagian besar sebagai akibat penyakit saluran pencernaan atau pada gangguan absorpsi dan transportasi. Karena vitamin B12 dibutuhkan

untuk mengubah folat menjadi bentuk aktifnya, salah satu gejala kekurangan vitamin B12 adalah anemia karena kekurangan folat.

5

Kekurangan vitamin B12 menimbulkan dua jenis sindroma. Gangguan sintesis DNA (penghambatan pada sintesis purin dan pirimidin) menyebabkan gangguan perkembangan sel-sel, terutama sel-sel yang cepat membelah. Sel-sel membesar (megaloblastosis), terutama prekursor eritrosit dalam sum-sum tulang,dan sel-sel penyerap pada permukaan usus. Megaloblastosis menyebabkan anemia megaloblastik, glositis, serta gangguan saluran pencernaan berupa gangguan absorpsi dan rasa lemah. Sindroma kedua berupa gangguan saraf yang menunjukkan degenerasi otak, saraf mata, saraf tulang belakang dan saraf periper. Tanda-tandanya adalah mati rasa, kesemutan, kaki terasa panas, kaku, dan rasalemah pada kaki. Kekurangan vitamin B12 lebih banyak terjadi pada orang tua karena pola makan yang tidak teratur. (Ulfah M, 2009)

2.2 Anemia
2.2.1 Definisi

Anemia adalah kondisi dimana tubuh tidak mendapatkan suplai eritrosit atau hemoglobin yang cukup. Hemoglobin yang terdapat dalam sel eritrosit sangat penting keberadaannya, karena bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Pada pria, anemia umumnya terjadi ketika jumlah hemoglobin kurang dari 13.5 gram/100ml, dan kurang dari 12.0 gram/100ml pada wanita. Dalam sel darah merah terdapat hemoglobin yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan sel darah merah akan menyebabkan terhambatnya pengangkutan oksigen. Apabila jumlah hemoglobin menurun di bawah batas tertentu, tubuh kita mencoba mengatasinya dengan meningkatkan denyut jantung. Ketika jantung kita berdetak lebih cepat, hal ini memungkinkan lebih banyak darah dan oksigen yang dialirkan ke seluruh tubuh. Paru-paru kita juga dapat menyebabkan kita bernapas lebih cepat untuk membawa oksigen ke tubuh. Pembuluh darah tertentu mengembang untuk memungkinkan lebih banyak darah yang mengandung oksigen masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah lain berusaha untuk menutup, untuk menyimpan oksigen. (Yayasan Spiritia, 2011)

6

Tabel 1. Kadar Hb normal (NIH, 2007) Kadar Hb Normal Pria dewasa Wanita dewasa Ibu hamil Bayi baru lahir Anak-anak 2.2.2 Penyebab 13.5 – 17 g/dl 12 – 15 g/dl 11 – 12 g/dl 14 – 24 g/dl 11 – 16 g/dl

Ada lebih dari 400 jenis anemia, yang kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar: 1. Anemia akibat kehilangan darah 2. Anemia akibat gangguan dalam produksi darah 3. Anemia akibat kerusakan sel darah

2.2.2.1 Anemia Akibat Kehilangan Darah Pada jenis ini, anemia disebabkan oleh adanya kehilangan darah dalam jumlah besar. Kehilangan tersebut tidak hanya disebabkan oleh adanya pendarahan secara langsung dan mendadak seperti pada kecelakaan, persalinan, pembuluh darah pecah, atau pembedahan, namun juga dapat disebabkan oleh adanya pendarahan dalam jangka waktu panjang dan terus menerus dan biasanya tidak terdeteksi. Pendarahan semacam itu dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti adanya gangguan pada pencernaan (ulcer, hemorrhoids, gastritis), penggunaan obat dalam jangka waktu lama, atau pendarahan berlebihan saat menstruasi atau saat melahirkan. (Cooper, 2006)

2.2.2.2 Anemia Akibat Kerusakan Sel Darah Anemia juga dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada sel darah merah. Sel darah merah yang rapuh tidak dapat bertahan dalam sistem peredaran darah, sehingga mudah rusak sebelum waktunya. Hal ini dapat merupakan penyakit bawaan, atau dapat muncul seiring berjalannya waktu dikarenakan

7

adanya infeksi, racun, kerusakan hati dan ginjal, serta kelainan pada system imun tubuh. (Cooper, 2006) 2.2.2.3 Anemia Akibat Adanya Gangguan dalam Produksi Darah Pada anemia jenis ini, tubuh tidak mampu untuk memproduksi cukup sel darah merah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ketidakmampuan ini juga berhubungan dengan pasokan gizi yang diterima penderita. Ada beberapa penyebab ketidakmampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan sel darah merah (Cooper, 2006): 1. Defisiensi zat besi. Dalam proses pembentukan sel darah merah, tubuh membutuhkan zat besi untuk memproduksi hemoglobin. Kekurangan zat besi ini dapat disebabkan oleh kurangnya gizi, menstruasi, donasi darah yang terlalu sering, konsumsi obat-obatan atau kafein, serta karena kehamilan. 2. Masalah sumsum tulang dan sel induk. Anemia ini disebabkan oleh ketidakmampuan sumsum tulang dan sel induk untuk memproduksi sel darah merah karena ada kerusakan pada sel atau karena jumlah sel yang tidak mencukupi. 3. Defisiensi vitamin. Selain dibutuhkannya zat besi dalam proses pembuatan sel darah merah, vitamin juga dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin yang paling berpengaruh dalam proses produksi darah ialah vitamin B12. Anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 meliputi :   Pernicious anemia: penyerapan vitamin B12 yang buruk karena adanya penyakit infeksi, penyakit pencernaan atau HIV. Dietary deficiency: kekurangan vitamin B12 yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi. Vitamin B12 yang terdapat dalam makanan akan hilang apabila makanan tersebut dimasak terlalu lama atau dengan suhu yang terlalu tinggi. Selain itu, penyerapan vitamin B12 juga akan terganggu karena konsumsi alcohol berlebihan dalam waktu lama atau adanya penyakit pada pencernaan  Megaloblastic anemia: defisiensi vitamin B12

8

2.2.1.3.1 Anemia Megaloblastik Timbulnya megaloblastik adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena gangguan sistesis DNA sel-sel eritoblast akibat defisiensi asam folat dan vitamin B12, dimana asam folat dan vitamin B12 berperan dalam pembentukan DNA inti sel dan secara khusus untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada inti eristoblast ini, maka maturasi inti lebih lambat, sehingga kromatin lebih longgar dan sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat. Sel megaloblastik ini memiliki fungsi yang tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang berujung pada terjadinya anemia. (Handayani, 2008) Masalah yang palong sering menjadi penyebab terjadinya anemia megaloblastik adalah defisiensi vitamin B 12 dan asam folat. Defisiensi kobalamin sendiri lebih sering disebabkan karena malabsorbsi vitamin B12 di dalam ileum Karena kurang atau tidak adanya intrinsic factor yan berfungsi mengikat vitamin B12 pada proses penyerapan di ileum terminal. Defisiensi juga dapat terjadi karena kurangnya asupan makanan (veganisme), perubahan metabolik atau adanya bakteri dalam jumlah berlebih. Adapun gejala klinis yang sering muncul pada anemia megaloblastik adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Ikterus ringan akibat pemecahan globin Purpura trombositopeni karena maturasi megakaryosit terganggu Glossitis dengan lidah berwarna merah, stomatitis angularis.

2.3 Stomatitis 2.3.1
Definisi

Stomatitis merupakan istilah untuk menerangkan berbagai macam lesi yang timbul di rongga mulut. Gejalanya berupa rasa sakit atau rasa terbakar satu sampai dua hari yang kemudian bisa timbul luka (ulcer) di rongga mulut. Stomatitis biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan agak cekung, dapat berupa bercak tunggal maupun bercak kelompok. Stomatitis dikatakan sering kambuh jika dalam sebulan 2-3 kali. Proses penyembuhannya

9

juga cukup lama, rata-rata 7-9 hari atau sampai 2 minggu. (Children‟s Healthcare of Atlanta, 2009)
2.3.2 Penyebab

Stomatitis adalah lesi yang timbul di rongga mulut yang disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh yang dapat dipicu oleh beberapa faktor antara lain akibat defisiensi nutrisi, kebiasaan hidup yang kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut, akibat kebiasaan buruk (badhabbit), sehingga virus dan bakteri mudah menyerang jaringan lunak rongga mulut. Penyakit ini sangat mengganggu dengan rasa sakit dan seperti terbakar, membuat penderitanya susah makan dan susah minum. Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stomatitis adalah sebagai berikut (Verheij TJM, 2002): 1. Trauma Pemakaian gigi tiruan Trauma sikat gigi Trauma makanan Prosedur Dental Menggigit bagian dalam mulut

2. Abnormalitas Imunologi Abnormalitas imonologi kemungkinan juga dapat menybabkan ulser. Sirkulasi antibody diduga berhubungan dengan keadaan mukosa dari rongga mulut. Dimana antibody tersebut bergantung pada mekanisme sitoksik atau proses penetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga jika system immunologi mengalami abnormalitas, maka dengan mudah bakteri ataupun virus menginfeksi jaringan lunak disekitar mulut. 3. Penyakit Gastrointestinal Walaupun diketahui bahwa ulser dapat menyebabakn penderitan sukar mencerna makanan, namun hal tersebut jarang dihubungkan dengan penyakit gastrointestinal. Tetapi lebih sering dihubungkan dengan defisiensi vitamin B12. Akan tetapi, ditemukan bahwa 5% pasien dengan penyakit tersebut disebabkan oleh penyakit gastrointestinal. B3 (Niacin), B6 (pyridoxine), B9 (asam folat) atau

10

B12 (Cyanokobalamine). Ketika hal ini juga melibatkan peradangan gingiva, hal itu disebut gingivostomatitis. 4. Faktor Hormonal Pada umumnya penyakit stomatitis banyak menyerang wanita, khususnya terjadi pada fase stres dengan sirkulasi menstruasi. Dalam sebuah penlitian, ditemukan kadar hormon progesteron yang lebih rendah dari normal pada penderita stomatitis. Sementara kadar hormone Estradiol, LH, Prolaktin, FSH pada kedua group adalah normal. Pada wawancara didapat adanya riwayat anggota keluarga yang mengalami stomatitis pada kelompok penderita dibandingkan bukan penderita stomatitis (5% versus 10%, p=0,002). Dari penelitian tersebut dapat disimpukan bahwa penderita stomatitis pada umumnya mempunyai kadar hormon progesteron yang lebih rendah dari normal dan ada salah satu keluarganya yang menderita stomatitis. 5. Stres Faktor stres dapat memicu terjadinya stomatitis sebab stress dapat mengganggu proses kerja dari tubuh sehingga mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan tubuh rentan terhadap serangan penyakit, tidak hanya kejadian stomatitis bahkan gangguan-gangguan lainnya dapat dapat dipicu oleh stres. Biasanya pasien mengalami ulser pada saat stres dan beberapa fakta menunjukkan hal tersebut. Namun, stres sulit untuk diukur dan beberapa penelitian belum dapat menemukan hubungan antara sters dengan munculnya ulser. Faktor psikologis (seperti emosi dan stres) juga merupakan faktor penyebab terjadinya stomatitis. 6. Infeksi HIV Stomatitis dapat digunakan sebagai tanda adanya infeksi HIV, dimana stomatitis memiliki frekuensi yang lebih tinggi pada keadaan defisiensi imun. Infeksi akibat virus HIV biasanya menunjukkan tanda klinis yang sangat jelas, yaitu saat jaringan sudah parah. 7. Defisiensi Hematologi Pasien dengan stomatitis yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12, folat atau besi mencapai 20%. Seperti frekuensi defisiensi pada pasien awalnya

11

akan menjadi lebih buruk pada pertengahan usia. Banyak pasien yang defisiensinya tersembunyi, hemoglobin dengan batasan normal dan ciri utama adalah mikrositosis atau makrositosis pada sel darah merah. Defisiensi hematologi juga dapat disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 atau folat. Anemia atau defisiensi besi yang berat dapat menyebabkan stomatitis. Besi diperlukan untuk meningkatkan replikasi dan perbaikan sel. Kekurangan zat besi dapat menurunkan replikasi dan perbaikan sel, yang mengarah ke perbaikan dan regenerasi sel epitel yang tidak efektif, terutama di mulut dan bibir. Kondisi ini juga lazim pada orang yang memiliki kekurangan vitamin B2 (Riboflavin), B3. Kondisi pada mukosa seperti glossitis, stomattis aphtosa rekuen, infeksi candida, dan stomatitis angular lebih umum dijumpai pada pasien yang menderita anemia. Glossitis bisa menjadi gejala pertama kurangnya asam folat atau vitamin B12.

12

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 Mekanisme terjadinya penyakit anemia sebagai akibat dari defisiensi

vitamin B12 Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kekurangan darah (anemia) yang sebenarnya disebabkan oleh kekurangan folat. Tanpa vitamin B12, folat tidak dapat berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Kekurangan atau defisiensi vitamin B12 menyebabkan anemia

megaloblastik. Karena defisiensi vitamin B12 akan mengganggu reaksi metioninsintase . Anemia megaloblastik terjadi akibat terganggunya sintesis DNA yang mempengaruhi pembentukan nukleus pada ertrosit yang baru . Keadaan ini disebabkan oleh gangguan sintesis purin dan pirimidin yang terjadi akibat defisiensi tetrahidrofolat. Homosistinuria dan metilmalonat asiduria juga terjadi. Kelainan neurologik yang berhubungan dengan defisiensi vitamin B12 dapat terjadi sekunder akibat defisiensi relatif metionin.Gejala kekurangan / defisiensi vitamin B12 lainnya adalah sel-sel darah merah menjadi belum matang (immature), yang menunjukkan sintesis DNA yang lambat. Timbulnya megaloblastik adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena gangguan sistesis DNA sel-sel eritoblast akibat defisiensi asam folat dan vitamin B12, dimana asam folat dan vitamin B12 berperan dalam pembentukan DNA inti sel dan secara khusus untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada inti eristoblast ini, maka maturasi inti lebih lambat, sehingga kromatin lebih longgar dan sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat. Sel megaloblastik ini memiliki fungsi yang tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang berujung pada terjadinya anemia.

13

3.2 Korelasi Defisiensi Vitamin B 12 dengan Anemia dan Stomatitis

Vitamin B 12 atau kobalamin adalah satu dari delapan vitamin B dan merupakan vitamin yang larut dalam air. Secara umum, vitamin B berperan dalam proses metabolisme di dalam tubuh. Vitamin B12 juga dibutuhkan untuk melepaskan folat, sehingga dapat membantu pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin B12 diperlukan dalamfungsi normal metabolisme semua sel, terutama sel-sel saluran pencernaan,sumsum tulang, dan jaringan saraf. Gejala kekurangan / defisiensi vitamin B12 lainnya adalah sel-sel darah merah menjadi belum matang (immature), yang menunjukkan sintesis DNA yang lambat. Adapun gejala klinis yang sering muncul pada anemia megaloblastik salah satunya adalah stomatitis angularis yang merupakan eritema dan maserasi kulit yang berada di dekat sudut mulut. Stomatitis angularis dapat dicegah dengan tersedianya vitamin B12 yang cukup di dalam tubuh sehingga eritrosit dapat diproduksi secara normal . Normalnya eritrosit yang dihasilkan akan mempertahankan tubuh dari penyakit anemia megakaryosit yang dapat menyebabkan stomatitis angular.

14

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan  Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kekurangan darah (anemia) yang sebenarnya disebabkan oleh kekurangan folat. Tanpa vitamin B12, folat tidak dapat berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Salah satu jenis anemia akibat defisiensi vitamin B12 adalah anemia megaloblastik.  Stomatitis angularis dapat dicegah dengan tersedianya vitamin B12 yang cukup di dalam tubuh sehingga eritrosit dapat diproduksi secara normal. Normalnya eritrosit yang dihasilkan akan mempertahankan tubuh dari penyakit anemia megakaryosit yang dapat menyebabkan stomatitis angular.

4.2 Saran Vitamin B12 memiliki begitu banyak fungsi dan berperan penting bagi kesehatan tubuh, terutama peranannya dalam menyembuhkan stomatitis sebagai gejala anemia. Oleh karena itu, disarankan agar selalu mengontrol asupan vitamin B12 agar tidak terjadi defisiensi maupun hipervitaminosis, yang keduanya berdampak buruk pada kesehatan.

15

DAFTAR PUSTAKA
Casiglia JM 2011, Oral Manifestations of Systemic Diseases. Retrieved: April 5 2012, from: http://emedicine.medscape.com/article/1081029-overview Children‟s Healthcare of Atlanta 2009, Stomatitis (Viral). Retrieved: April 5 2012, from: http://www.choa.org/menus/documents/wellness/teachingsheets/stomatitis. pdf Clarke R, Grimley EJ, Schneede J, et al 2004, „Vitamin B12 and folate deficiency in later life‟, Age & Ageing 33(1), 34-41. Retrieved: April 6, 2012, from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14695861 Cooper PG 2006, Anemia. Retrieved: April 8, 2012, from: http://811.novascotia.ca/documents/English%20%20Health%20Informatio n/Anemia.pdf Handayani W 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Hematologi, Salemba Medika: Jakarta. National Institute of Health America 2007, Hemoglobin. Retrieved: April 8, 2012, from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003645.htm National Institute of Health America 2011, Dietary Supplement Fact Sheet: Vitamin B12. Retrieved: April 8, 2012, from: ods.od.nih.gov/factsheets/vitaminb12/ Larsen HR, Summarie of the lastest research concerning vitamin B12. Retrieved: April 5, 2012, from: http://www.yourhealthbase.com/vitamin_B12.html Sascher RA and McPherson RA 2004, Widmann’s Clinical Interpretation of Laboratory test, FA Davis Company: Philadelphia Ulfah M 2009, Keajaiban Vitamin B12: Sumber, Fungsi, Struktur, Reaksi, dan Defisiensi. Retrieved: April 8, 2012, from: http://www.scribd.com/doc/24539707/Makalah-Vitamin-b12 Verheij TJM, 2005, Stomatitis Angularis. Retrieved: April 8, 2012, from: http://download.nhg.org/FTP_NHG/standaarden/FTR/Stomatitis_angularis _text.html

16

Yayasan Spiritia 2011, Anemia. Retrieved: April 8, 2012, from: http://spiritia.or.id/li/pdf/LI552.pdf

17

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful