1.

Pengertian lafadh nikah:
Lafadh nikah yang disepakati oleh para fuqaha‟ akan sahnya nikah adalah: ankahtu &
zawwajtu karena kedua lafadh itu disebutkan dalam al-Qur'an, yaitu firman Allah:
﴿ ^O©ÞU·· _/=/·~ /³uCEe Ogu+g)` -6O·C4Ò
E_·¯E4;_EÒEe ﴾ (QS. al-ahzab:37)
﴿ º4Ò W-O÷·´¯L·> 4` EE·¯4^ ª¬±74.4-47 ﴾ (QS. al-
nisa‟:22)
Adapun lafadh
2
yang disepakati para fuqaha akan tidak sahnya akad nikah bila
menggunakan lafadh tersebut adalah yang tidak menunjukkan kepemilikan benda langsung
ditempat, juga tidak menunjukkan kepemilikan sepanjang hidup, seperti kata
2
:ibahah, ijarah,
i‟arah, mut‟ah, washiyah, rahn, wadi‟ah, dan sebagainya.
Sedangkan lafadh
2
yang para fuqaha‟ berbeda pandangan tentangnya adalah lafadh
yang menunjukkan pemilikan barang langsung ditempat dan kepemilikan sepanjang hidup,
seperti: lafadh bai‟, hibah, shadaqah, „athiyah (pemberian) dan sebagainya.
Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah yang rajih dalam madhab mereka, apabila
akad nikah dilaksanakan dengan menggunakan lafadh
2
di atas maka akadnya terjadi dan
sah, dengan syarat ada niat atau qarinah yang menunjukkan ke arah tersebut, seperti
menjelaskan pemberian mahar, disaksikan orang-orang, serta maksudnya dimengerti oleh
para saksi.
Sedangkan menurut ulama Hanabilah dan Syafi‟iyah tidak terjadi akad kecuali
dengan lafadh nikah atau zawaj karena dalam al-Qur'an hanya dua kata tersebut yang ada
untuk akad nikah.
1


Menurut bahasa nikah artinya عمجلاو مضلا menggabung dan mengumpulkan.
Menurut istilah fuqaha‟ nikah adalah:
“Akad yang mengandung kebolehan berhubungan suami istri (jima‟) dengan lafadh
yang khusus dan syarat-syarat yang khusus”.
2

“Akad antara pihak laki-laki dan wali perempuan yang karenanya hubungan badan
menjadi halal”.
3

Menurut Wahbah al-Zuhaily nikah artinya akad perkawinan. Adapun arti perkawinan
menurut istilah syara‟ adalah: “akad yang mengandung kebolehan bersenang-senang

1
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, h. 37-39
2
Judah Abd al-Ghani Basyuni, al-Ahwal al-Syakhsiyah li al-Muslimin, (Tanta: Jami’ah al-Azhar, Kuliah
Syariah wa al-Qanun, 2006), h. 11
3
Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, diterjemah oleh: M. Abdul Ghoffar. Cet. I, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,
2001), h. 3.
dengan perempuan, baik itu berjima‟, memeluk, mencium, dan lain sebagainya, yaitu
perempuan yang bukan mahramnya karena nasab, radha‟ atau musaharah.
4


2. Macam-macam hak milik

3. Pengertian hak milik dalam akad nikah
Setelah menikah, suami hanya memiliki hak intifa‟ terhadap kehormatan dan seluruh
badan istri untuk bersenang-senang, tapi suami tidak memiliki hak untuk
memanfaatkannya, artinya ia boleh digunakan untuk manfaat sendiri, tapi tidak boleh
dimanfaatkan kehormatan istrinya oleh orang lain sekalipun untuk kepentingan diri suami.
5


4. Perbedaan pendapat ulama ushul tentang definisi nikah
Ulama ushul berbeda pendapat tentang maksud nikah secara syara‟ apakah jima‟ atau
akad. Istilah nikah, menurut ulama ushul dan ulama lughah hakikatnya adalah untuk jima‟
(al-wath‟u) dan majaz untuk akad. Maka apabila ditemukan istilah ini dalam al-Qur'an
ataupun sunnah tanpa ada qarinah-qarinah lain maka maksudnya adalah jima‟,
sebagaimana firman Allah:
﴿ ºº4Ò W-O÷·´¯L·> 4` EE·¯4^ ª¬±74.4-47 ¬;g)`
g7.=Og)4¯- ·º)³ 4` ;³·~ E-ÞUEc _ ﴾
Artinya: “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu,
terkecuali pada masa yang Telah lampau.” (QS.al-Nisa‟: 22).
Dalam ayat itu Allah mengharamkan anak untuk mencampuri istri-istri ayah,
sedangkan keharaman untuk melakukan akad nikah dengan istri-istri ayah ditetapkan
dengan ijma‟. Jika seandainya suami berkata kepada istrinya “Jika aku menikahimu, maka
kamu kucerai” maka syarat itu tergantung (mu‟allaq) kepada jima‟, begitu juga jika
seandainya suami menceraikan istrinya dengan talak ba‟in sebelum ia menggaulinya sama
sekali, kemudian ia menikahinya lagi, maka istrinya itu akan terceraikan dengan jima‟
bukan dengan akad. Adapun „nikah‟dengan perempuan asing (ajnabiyah) maka maksudnya
adalah akad dengannnya. Karena berjima‟ dengan wanita asing tersebut hukumnya haram,
maka maksud „nikah‟ di sini adalah majas yaitu akad.
Adapun maksud „nikah‟ menurut fuqaha‟, termasuk didalamnya ulama madhab yang
empat adalah: „nikah‟ arti sebenarnya adalah akad, dan arti majasnya adalah jima‟, karena

4
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, cet. II. Jil. VII, (Beirut: Dar al-Fikr, 1985), h. 29.
5
al-fiqh ‘ala madhahib al-arba’ah, jil. IV, h. 7-8
yang demikian itu yang masyhur dalam al-Qur'an dan sunnah. al-Zamakhsyari, salah
seorang ulama madhab Hanafiyah berkata “Tidak ada dalam al-Qur'an lafadh „nikah‟
bermakna jima‟ kecuali firman Allah:
﴿ p)¯·· E_·³^U·C ºE·· Og4Ò` N¡·. }g` ÷³u¬4
_/4®EO EE´¯4·> ~}uÒEe +Þ4O¯OEN ¯ ﴾
Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu
tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain” (QS. Al-Baqarah: 230)
Maka maksud (هريغ اجوز خكنت ىتد) dari ayat tersebut di atas adalah akad dan jima‟ sekaligus,
hal ini diketahui dari sabda Rasulullah (وتليسع يقوذت ىتد).
6


5. Kedudukan hukum asli nikah dan dasar hukum pensyariatan nikah
Menikah hukumnya dianjurkan (masyru‟) dalam syari‟at, bagi siapa yang butuh dan
mampu untuk menikah. Hukum asli nikah dinyatakan masyru‟ berdasarkan al-Qur'an,
hadith, dan ijma‟ ulama muslimin.
Nikah disyari‟atkan dengan dalil dari al-Qur'an, sunnah dan ijma‟.
Allah Swt. berfirman:
﴿ W-O÷·´¯^·· 4` =··C ª7¯·¯ =}g)` g7.=Og)4¯-
_/E_u14` E+ÞU¬¦4Ò E74+O4Ò W ﴾ (QS. al-Nisa‟:3)
﴿ W-O÷·´¯^Ò¡4Ò _OE©4C·- ¯¦7¯Lg`
4×-´·)UO¯-4Ò ;}g` ¯7g14:gN
¯ª¬:j*.4`)³4Ò _ p)³ W-O+^O7¯4C 47.-4O·³¬·
Nª)_g4^¯NC +.- }g` ·g¡)-;_·· ¯ +.-4Ò
77´c4Ò _¦1)U4× ﴾
Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian (laki-laki maupun wanita yang belum
menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan
mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-
Nur: 32)

Rasulullah Saw. bersabda:
)) وف ةءابما عاطخسا نم ،بابشما شعم ي ويوعف عطخسي ل نمو ،جرفون نصح أو صبون ضغأ وه اف ،جوتي
ءاجو ل وه اف موصمب (( )يراخبما هاور(

6
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami... h. 30.
Dan kaum muslimin telah sepakat bahwasanya nikah itu disyari‟tkan (masyru‟).
7


6. Hukum nikah ditinjau dari kondisi seseorang
a. Wajib: wajib bagi orang yang mampu dan sudah ingin menikah serta takut
terjerumus ke zina. Karena menjaga dan melindungi diri dari yang haram
hukumnya wajib. Dalam kasus ini tidak ada jalan lain kecuali pernikahan.
b. Sunnah (mustahab): bagi siapa yang butuh untuk menikah dan mampu untuk itu
namun ia sanggup menjaga diri untuk tidak terjerumus kepada perzinaan dan yang
dilarang Allah, maka menikah baginya disunnahkan.

َ
ك
ُ
م
ِ
ّ
ن
ّ
اَف او
ُ
ج
ى
و
َ
ز
َ
ح " :
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع ا
ى
لص
ِ
ا
ُ
لو
ُ
س
َ
ر
َ
لا
َ
ك :
َ
لا
َ
ك ُ و
ْ
نَ ع
ُ
ا
َ
ِ
ض
َ
ر
َ
ة
َ
ما
َ
م
ُ
أ
ِ
ب
َ
أ
ْ
نَ ع
ٌ
ر
ِ
ث
ُ ُ
كِ ب
" ى
َ
را
َ
ص
ى
نما
ِ
ة
ى
ي
ِ
ها
َ
ب ْ ى
َ
ر
َ
ن اوُهو
ُ
ك
َ
ح
َ
ل
َ
و ،
ِ
ة
َ
ما
َ
ي
ِ
ل
ْ
ما
َ
م
ْ
و
َ
ي
َ
م
َ
م
ُ
ْ
لا
Dari Abu Umamah Ra, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda “Menikahlah kalian,
karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlah umatku di hari kiamat, dan
janganlahkalian menjadi rahib layaknya orang Nasrani.” (HR. Baihaqi)
c. Haram: diharamkan menikah bagi orang yang akan menyia-nyiakan hak istri
dengan tidak sanggup memberi nafkah lahir batin, sekalipun ia sangat ingin
menikah.
d. Makruh: bagi orang yang akan menyia-nyiakan hak istrinya baik itu nafkah lahir
maupun nafkah batin, namun istrinya tidak merasa keberatan dengan hal tersebut,
misalnya, istri seorang yang kaya dan tidak sangat butuh kepada hubungan badan.
e. Mubah: mubah hukumnya untuk menikah ketika tidak tidak ada halangan-
halangan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
8



7. Kebolehan poligami
Pada dasarnya dalam suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai
seorang istri, seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami, dan undang-undang di
indonesia menganut asas monogami (Ps. 3 (1) UU No. 1/74). Ini sejalan dengan firman
Allah dalamsurah al-Nisa‟ ayat 3:
﴿ up)³4Ò u®7+^¼´= ·ºÒ¡ W-O7C´O^³¬> O)×
_O4©4-4O^¯- W-O÷·´¯^·· 4` =··C

7
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami... h. 31. Ibnu Qudamah, al-Mughni, jil. IX. h. 340.
8
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami... h. 31-33
ª7¯·¯ =}g)` g7.=Og)4¯- _/E_u14`
E+ÞU¬¦4Ò E74+O4Ò W up)¯·· ¯¦+^¼´=
·ºÒ¡ W-O7¯g³u¬·> EE³gÞ4O·· uÒÒ¡ 4`
;e·¯ÞU4` ¯ª7¯N4E©uCÒ¡ _ Elg¯·O -OE+u1Ò¡
·ºÒ¡ W-O7¯ON¬·> ﴾
Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-
wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut
tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak
yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya.”
Dan juga ayat:
﴿ }·¯4Ò W-EON¬OgC4¯OÞ pÒ¡
W-O7¯g³u¬·> 4×u-4 g7.=Og)4¯-
¯O·¯4Ò ¯ª+;4OEO W ºE·· W-O¬U1g©·> E¬±
÷^1E©^¯- E-Ò+OEO4-··
gO·³^UE¬÷©^¯E _ p)³4Ò W-O÷·)U¯¬>
W-O¬³+-·>4Ò ·])¯·· -.- 4p~E -4OO¬¼EN
V©1gO·O ﴾
Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu),
walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu janganlah kamu terlalu
cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.
dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Nisa‟: 129).
Kedua ayat tersebut di atas menjelaskan kepada kita bahwa asas perkawinan dalam
Islam sebenarnya adalah monogami. Poligami dibolehkan apabila syarat-syarat
yang dapat menjamin keadilan suami kepada isteri-isteri terpenuhi. Namun
demikian, hukum Islam tidak menutup rapat-rapat pintu kemungkinan untuk
berpoligami, sepanjang persyaratan keadilan di antara isteri dapat dipenuhi dengan
baik.
Keadilan yang harus ditunaikan oleh suami yang berpoligami meliputi adil dalam
melayani isteri, seperti dalam urusan nafkah, tempat tinggal, pakaian, giliran dan
segala hal yang bersifat lahiriah, tanpa membedakan antara isteri yang kaya dengan
isteri yang miskin, yang berasal dari keturunan mulia dan dari golongan bawah.
Jika suami khawatir berbuat zalim dan tidak mampu memenuhi semua hak-hak
mereka, maka ia haram melakukan poligami. Bila ia hanya sanggup memenuhi hak-
hak isteri hanya tiga orang, maka ia haram menikahi isteri yang keempat. Bila ia
hanya sanggup memenuhi hak 2 orang isteri, maka ia haram menikahi isteri untuk
yang ke 3, dan begitu seterusnya.
9

Berkenaan dengan ketidak adilan suami terhadap isteri-isterinya, Nabi Saw.
bersabda:

ِ
ب
َ
أ
ْ
نَ ع :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ِ ّ
ِ
ب
ى
نما
ِ
نَ ع ،َ ة
َ
ر
ْ
ي
َ
رُ ى «
ِ
ة
َ
ما
َ
ي
ِ
ل
ْ
ما
َ
م
ْ
و
َ
ي
َ
ءا
َ
ج ،ا
َ
ُ
ها َ د
ْ
ح
ّ
ا
َ
ل
ّ
ا
َ
لا
َ
مَف
ِ
ن َ ت
َ
أ
َ
رْ ما ُ
َ
ل ْ تَه
َ
ك
ْ
ن
َ
م

ٌ
ل
ِ
ئا
َ
م ُ و
ّ
ل
ِ
ش
َ
و »
Dari Abu Hurairah Ra. sesungguhnya Nabi Saw. bersabda “Barangsiapa yang
mempunyai dua orang isteri, lalu condong kepada salah satunya, maka ia akan datang pada
hari kiamat dengan bahu yang miring.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa‟i dan Ibnu
Hibban, hadis shahih)
Mengenai adil terhadap masalah cinta dan kasih sayang, hal ini berada di luar
kesanggupan manusia, sebab cinta berada dalam gengaman Allah yang mampu
mebolak balikkan hati sesuai kehendak-Nya. Begitu pula dengan hubungan seksual,
terkadang suami bergairah dengan isteri yang satu, tetapi tidak bergairah dengan
isteri yang lain. Dalam hal ini apabila tidak disengaja, ia tidak berdosa karena
berada di luar kemampuannya.
10


8. Jumlah istri dalam poligami
Dalam Islam seorang suami hanya dibolehkan menikahi 1 sampai 4 orang isteri saja,
dan dilarang menikahi lebih dari ketentuan tersebut.
Diriwayatkan bahwa di masa Rasulullah ada seorang laki-laki memeluk Islam dan ia
mempunyai 8 orang isteri, kedelapan isterinya itu kemudian turut masuk Islam, lalu
Rasulullah berkata padanya:

9
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia. Cet. I, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995), h. 169. Abd.
Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat. Cet. I, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 129-131.
10
Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat...h. 133.
« ا
ً
ع
َ
ب
ْ
ر
َ
أ
ى
ن
ُ
ْ ن
ِ
م ْ
َ
تْ خا »
“pilihlah empat di antara mereka” (HR. Abu Daud)
Dalam hadith di atas Rasulullah menyuruh orang itu untuk memilih empat
saja dari 8 isterinya dan meceraikan yang lain. Kalau saja kawin lebih dari empat
diperbolehkan, maka Rasulullah tidak akan menyuruh laki-laki tadi menceraikan 4
orang lagi isterinya.

9. Ijab qabul dalam akad nikah
Ijab dan qabul dalam akad nikah adalah salah satu rukun nikah –semua ulama
menyepakatinya–.
Arti ijab menurut ulama hanafiah: apa yang diucapkan pertama sekali oleh salah
satu dari dua orang yang melakukan akad, baik dari pihak calon suami atau calon istri. Dan
qabul menurut mereka adalah yang diucapkan selanjutnya oleh pihak yang lain.
Ijab menurut jumhur: adalah lafadh yang diucapkan oleh wali atau yang mewakilinya,
karena qabul adalah sebagai jawaban terhadap ijab, sehingga jika diucapkan lebih dahulu
maka itu tidak dianggap sebagai qabul karena tidak ada maknanya. Qabul menurut jumhur
adalah lafadh yang menunjukkan keridhaan menikah yang diucapkan dari pihak calon
suami.
11


10. Nikah tanpa wali
Banyak dalil yang menyatakan bahwa wanita tidak boleh melaksanakan akad
pernikahan untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain maupun untuk orang lain.
Tetapi harus dinikahkan oleh walinya atau dengan menghadirkan seorang wali yang
mewakilinya. Jika ada seorang wanita yang melaksanakan akad nikah sendiri (tanpa wali),
maka akad nikahnya batal. Demikian yang dikatakan oleh mayoritas ulama fikih.
Para ulama madhab hanafi mengemukakan, “seorang wanita boleh melakukan akad
pernikahan sendiri, sebagaimana ia boleh melakukan akad jual beli, sewa menyewa, gadai,
dan sebagainya, yang memang tidak ada bedanya dengan akad nikah.
Imam Malik mengatakan “hal itu boleh dilakukan bagi wanita yang hina dan tidak boleh
dilakukan oleh wanita mullia.”

11
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami... h. 37.
Madhab Zhahiriyah menyebutkan “hal itu boleh bagi seorang janda, tidak dibolehkan bagi
gadis.”
Dari Abu Musa, dari Nabi Saw., beliau bersabda:
:
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
ن
َ
أ ، َ سو
ُ
م
ِ
ب
َ
أ
ْ
نَ ع ))
ٍ
ّ
ِ ل
َ
وِ ب
ى
ل
ّ
ا
َ
ح
َ
ك
ِ
ن
َ
ل ((
Hadis ini shahih dengan banyaknya jalan periwayatan.
Dari Aisyah Ra, Nabi Saw. bersabda:
:
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ِ
ى لا
ُ
لو
ُ
س
َ
ر
َ
لا
َ
ك : ْ ت
َ
ما
َ
ك ،
َ
ة َ ش
ِ
ئا
َ
ع
ْ
نَ ع « اَ ُ
ح
َ
ك
ِ
ن
َف ،ا
َ
ي
ِ
ها
َ
و
َ
م
ِ
ن
ْ
ذ
ّ
ا ِ
ْ
يَغِ ب ْ ت
َ
ح
َ
ك
َ
ن
ٍ
ة
َ
أ
َ
رْ ما ا
َ
م
ّ
ي
َ
أ

ٌ
ل
ِ
ط
َ
ب »
ٍ
تا
ى
ر
َ
م
َ
ث
َ
لَث ، «
َ
م
ْ
ماَف ا
َ
ِ ب َ لَ خَ د
ْ
ن
ّ
اَف
ى
ِ ل
َ
و
َ
ل
ْ
ن
َ
م
ّ
ِ ل
َ
و
ُ
نا
َ
ط
ْ
و
ّ
سماَف او
ُ
ر
َ
جا َ ش
َ
ج
ْ
ن
ّ
اَف ،ا
َ
ْ ن
ِ
م
َ
با
َ
ص
َ
أ ا
َ
مِ ب اَي
َ
م
ُ
رْي
ُ
َ
ل . »
“Perempuan mana saja menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal, (Rasulullah menyebutnya
3x). Dan jika laki-laki (yang menikahninya) telah mencampurinya, maka wajib baginya membayar
mahar untuk kehormatan yang telah ia peroleh dari kemaluannya, jika mereka (para wali) bertengkar,
maka hakim adalah wali bagi orang-orang yang tidak mempunyai wali.” (HR. Abu Daud)
Hadith di atas termasuk hadith shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan
Ibnu Majah.
Para pengikut madhab hanafi membolehkan wanita menikahkan dirinya sendiri karena
mereka mengqiyaskan akad nikah dengan akad jual beli, sesungguhnya wanita mempunyai
kemandirian dalam melakukan akad jual beli, maka demikian pula dalam akad nikah.
Abu Tsaur menyebutkan, “jika seorang wanita menikahkan dirinya sendiri dengan izin
walinya, maka nikahnya dianggap sah. Dan jika ia menikahkan dirinya tanpa seizin
walinya, maka nikahnya tidak sah. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah :
“Perempuan mana saja menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal, (Rasulullah menyebutnya
3x)”.
Artinya, harus ada wali yang melaksanakan akad nikahnya atau mengizinkan wanita itu
untuk mewakilkan kepada laki-laki yang dipercaya untuk menikahkannya. Dan jika ia
mewakilkan kepada orang lain tanpa seizin walinya, maka nikahnya batal.
12

Menurut Hanafiyah wanita menikahkan dirinya sendiri sah, menurut jumhur ulama tidak
sah, akad nikahnya batal jika tanpa wali.
13



12
Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, diterjemah oleh: M. Abdul Ghoffar. Cet. I, (Jakarta: Puataka al-Kautsar,
2001), h. 48-50.
13
Wahbah: 193.
11. Pernikahan oleh wali terhadap wanita yang diwalikannya
Jika seorang laki-laki hendak menaikahi wanita, padahal ia merupakan walinya, maka ia
harus menyerahkan semua urusan wanita itu kepada orang yang akan menikahkannya
dengan seizinnya. Maksudnya, bahwa wali seorang wanita yang boleh menikahinya, seperti
anak laki-laki dari paman, atau hakim, atau penguasa, jika mendapatkan izin dari wanita
tersebut untuk menikahinya, maka ia boleh menikahinya. Namun apakah ia boleh mewakili
sendiri untuk dua pihak dalam pernikahan itu?
Mengenai hal ini terdapat dua pendapat ulama:
Pendapat pertama, ia boleh melakukan hal tersebut. Demikian menurut pendapat al-Hasan,
Abu Hanifah, Ibnu Sirin, Ishak, Abu Tsaur, Rubai‟ah, Malik, al-Tsauri, Ahmad, dan Ibnu
Mundzir. Yang demikian itu berdasarkan riwayat Imam Bukhari, ia menceritakan,
Abdurrahman bin „Auf pernah berkata kepada Ummu Hakim binti Farith, “Apakah engkau
menyerahkan urusanmu kepadaku?”
“Ya”, jawabnya. Lebih lanjut Bukhari mengatakan, “Sesungguhnya aku telah menikahimu.”
Karena, ia (wali tersebut) mempunyai kekuasaan untuk melakukan ijab qabul, maka ia
boleh melakukan keduanya, sebagaimana jika ia ia menikahkan budak perempuannya dan
budak laki-lakinya yang masih kecil. Dan karena hal itu merupakan akad yang di dalamnya
terdapat ijab dari wali yang permanen dan qabul dari suami.
Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah diceritakan bahwa beliau pernah memerdekakan
Shafiyyah dan menjadikan pembebasannya itu sebagai mahar.
Apakah ia perlu menyebutkan ijab dan qabul, atau cukup baginya menyebutkan ijab saja?
Mengenai hal ini terdapat dua pendapat yang berbeda dari ulama yang membolehkan wali
menikahi wanita yang diwalikannya:
1. Ia perlu mengucapkan, “Aku nikahkan fulanah binti fulan dengan diriku, dan aku
terima pernikahan ini.” Karena, apa yang membutuhkan kepada ijab maka pasti
membutuhkan qabul, sebagaimana dengan akad-akad lainnya.
2. Cukup bagainya mengatakan “Aku nikahkan diriuku dengan fulanah” atau “Aku
nikahi fulanah.” Yang demikian itu merupakan pendapat Imam Malik dan Abu
Hanifah, hal tersebut berdasarkan pada hadith Abdurrahaman bin „Auf di atas. Dan
karena ijab tersebut sudah mencakup qabul. Oleh karena itu, kami katakan jika wali
mengatakan kepada budak perempuannya “Aku telah memerdekakanmu, dan aku
jadikan kebebasanmu sebagai maharmu.” Maka dengan ucapan itu telah sah akad
nikah tersebut.
Pendapat kedua, ia tidak boleh mewakili dua pihak sekaligus, tetapi ia harus mewakilkan
kepada orang lain untuk menikahkan dirinya dengan wanita tersebut dengan seizin
darinya.
14


12. Ijab qabul sekaligus oleh seorang wali
Menurut ulama Hanafiyah: sah akad nikah yang dilakukan oleh seorang pelaku
akad saja, apabila ia adalah wali dari kedua belah pihak, baik itu perwalian yang asli seperti
perwalian karena kekerabatan, atau perwalian sementara seperti perwakilan, dengan
rincian sebagai berikut:
a. Jika pelaku akad adalah wali dari kedua belah pihak, seperti kakek yang
menikahkan cucu laki
2
nya dengan cucu perempuannya yang masih kecil, atau
saudara laki
2
jika menikahkan keponakan laki
2
dengan keponakan perempuan
dari saudaranya yang masih kecil.
b. Jika anak paman menikah dengan anak pamannya yang lain yang perempuan, di
mana anak paman yang laki
2
itu adalah sebenarnya sebagai wali juga.
c. Atau ia merupakan perwalian dari kedua belah pihak
d. Atau ia sebagai delegasi dari kedua belah pihak
e. Atau ia sebagai pelaku akad yang sebenarnya di satu sisi, dan sebagai wakil di
sisi lain, seperti seorang wanita mewakilkan seorang laki
2
untuk menikahkan
dirinya.
Imam Syafi‟i setuju akan sahnya akad nikah dalam gambaran yang pertama di
atas, yaitu keadaan pelaku akad sebagai wali dari kedua belah pihak, seperti seorang
kakek menikahkan dua cucunya yang laki
2
dan cucu perempuan yang masih kecil.
Dan ulama Malikiyah membolehkan bagi anak paman (di satu sisi ia juga
merupakan wali bagi anak perempuan pamannya yang lain), wakil wali, dan hakim
untuk menikahkan perempuan bagi dirinya sendiri.
Dan tidak sah akad nikah oleh seorang pelaku selain dari gambaran di atas.
Adapun dalil terhadap sahnya akad nikah oleh seorang pelaku akad sepertimana diuraikan
di atas adalah:
a. Riwayat bukhari dari „Abdurrahman bin „Auf ia berkata kepada Ummu Hakim
“apakah kamu melimpahkan urusanmu kepadaku?, ia menjawab “iya”, lalu
Abdurrahman berkata “aku telah menikahimu”. Hadis ini adalah dalil untuk kasus

14
Hasan Ayyub, Fikih Keluarga...h. 58
yang terakhir yaitu, di satu sisi orang itu sebagai pelaku akad yang sebenarnya, dan
di sisi lain ia sebagai wakil.
b. Riwayat Abu Daud dari „Uqbah bin „Amir bahwasanya Rasulullah pernah berkata
kepada seorang laki
2
“apakah kamu ridha aku nikahkan dengan si fulanah?” ia
menjawab “iya”, lalu Rasulullah bertanya kepada perempuan “Apakah kamu ridha
aku nikahkan dengan si fulan?” ia pun menjawab “iya”, lalu Rasulullah menikahkan
keduanya. Hadis ini merupakan dalil bagi gambaran pelaku akad adalah wakil bagi
kedua belah pihak.
15


13. Dua wali menikahkan seorang wanita kepada dua orang yang berbeda
Jika seoarang wanita mempunyai dua orang wali, lalu ia mengizinkan masing-masing
dari keduanya untuk menikahkannya, maka yang demikian itu dibolehkan. Jika kedua wali
tersebut menikahkannya dengan dua orang laki-laki yang berbeda, lalu diketahui wali yang
lebih dahulu menikahkannya, maka pernikahan yang sah adalah pernikahan yang lebih
awal, baik yang kedua itu sudah bercampur dengannya atau belum. Demikianlah pendapat
al-Hasan, al-Zuhri, Qatadah, Ibnu Sirin, Ahmad, al-Auza‟i, al-Tsauri, Syafi‟i, Abu Ubaid dan
para pengikut madhab hanafi.
16

Dalilnya adalah riwayat Samurah dari Nabi Saw., beliau bersabda:
:
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ِ ّ
ِ
ب
ى
نما
ِ
نَ ع ،َ ة
َ
ر
ُ
َ
س
ْ
نَ ع « َ ع
َ
ب ٍ ل
ُ
ج
َ
ر ا
َ
م
ّ
ي
َ
أ
َ
و ،ا
َ
م
ُ
ْ ن
ِ
م ِ ل
ى
وَ
ْ
ل
ِ
م
َ
يِي
َف
ِ
نا
ى
ي
ِ
م
َ
و اَ َ
ج
ى
و
َ
ز
ٍ
ة
َ
أ
َ
رْ ما ا
َ
م
ّ
ي
َ
أ
ا
َ
م
ُ
ْ ن
ِ
م ِ ل
ى
وَ
ْ
ل
ِ
م
َ
وُي
َف ِ
ْ ي
َ
و
ُ
ج
َ
ر
ْ
ن
ِ
م ا
ً
ع
ْ
ي
َ
ب »
“Wanita mana saja yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka wanita itu adalah untuk yang
pertama.” (HR. Abu Daud), hadith ini sahih dengan banyaknya jalan sanad dari perawi-
perawi lain.
Jika ada salah seorang dari para wali menikahkan wanita dengan seizin dari wanita
tersebut, namun tanpa izin dari wali yang lain, maka pernikahan itu sah, meskipun wali
tersebut yang paling muda dari mereka. Yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah:
“Jika ada dua orang wali yang menikahkan, maka wali yang pertamalah yang lebih berhak.‟
Karena tiap-tiap mereka adalah wali, jika mereka saling bertengkar dan semua berkata,
“Aku yang akan menikahkannya tanpa mengedepankan yang lebih tua, yang paling pandai
dan yang paling memahami agama, maka perlu dilakukan undian di antara mereka.
17


15
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami... jil. VII, h. 43-45
16
Hasan Ayyub, Fikih Keluarga...h. 64
17
Hasan Ayyub, Fikih Keluarga...h. 54

14. Hak prioritas wali akrab
Menurut fuqaha‟ perwalian dalam nikah terbagi dua yaitu: wilayah ijbar dan wilayah
ikhtiyar. Wilayah ijbar adalah wali berhak menikahkan gadis yang berada dalam
tanggungjawabnya tanpa perlu mempertimbangkan pendapat siapapun.
Adapun wilayah ikhtiyar adalah wali harus bermusyawarah dan meminta pendapat gadis
yang ingin dinikahkan, karena menurut jumhur wanita tidak boleh menikahkan dirinya
sendiri, sedangkan menurut Hanafiyah boleh.
Wilayah ijbar menurut imam Ahmad dan imam Malik adalah ayah atau orang yang
diwasiatkan untuk menikahkannya. Namun menurut imam Ahmad orang yang
diwasiatkan baru memperoleh hak ijbar yaitu ketika ayah sudah menentukan calon
pengantin pria.
Menurut imam syafi‟i yang memiliki hak ijbar adalah ayah dan kakek. Ini semuanya berlaku
bagi anak kecil laki
2
dan perempuan. Sedangkan untuk orang gila selain dari wali tersebut
ditambah lagi hakim.
Adapun menurut ulama hanafiah wilayah ijbar berlaku bagi semua asabah.
18

15. Status hukum ijab qabul dalam satu majlis
Shighah = Ijab qabul, dan ada 4 syarat yang harus terpenuhi di dalamnya –bil ittifaq–:
1. Dalam majlis yang sama (ittihad al-majlis) apabila kedua pelaku akad hadir, maka
ketika itu akad harus dilakukan dalam satu majlis. Sehingga apabila berlainan
majlis maka akad tidak terjadi, misalnya wali berkata “aku nikahkan kamu
dengan anak perempuanku” lalu pelaku akad ke-2 langsung bangun
meninggalkan majlis tanpa mengucapkan qabul, atau ia melakukan sesuatu yang
menunjukkan ia telah meninggalkan majlis akad, lalu kemudian ia menjawab
“aku terima”, apabila terjadi perkara demikian maka akadnya tidak sah menurut
ulama Hanafiyah.
Sedangkan menurut jumhur ulama: disyaratkan langsung antara ijab dan
qabul, tidak boleh ada pemisah antara keduanya dengan fashil yang panjang.
Dan fashil yang panjang itu kadarnya adalah kira
2
orang akan menyangka ia
berpaling dari qabul. Dan pembicaraan lain yang tidak ada kaitannya dengan
ijab qabul akan merusak akad.
Adapun apabila salah satu dari pelaku akad tidak hadir, dan akad dilakukan
dengan surat atau delegasi, maka menurut ulama Hanafiyah majlis akad tersebut
adalah : dengan membaca surat didepan saksi, atau mendengar penuturan
delegasi dan disaksikan oleh para saksi, karena surat ketika itu posisinya dalah
sama dengan perkataan penulis suratnya, dan penuturan delegasi adalah sama
dengan penuturan pengutusya. Maka kalau begitu kejadiannya, sudah dianggap

18
Muhadarat 154.
satu majlis. Namun jika tidak dibaca surat atau tidak didengarkan penuturan
utusan di depan saksi, maka akad tidak sah, menurut Abu Hanifah dan
Muhammad, karena mereka mensyaratkan saksi dari kedua belah pihak pelaku
akad.
2. Sesuai qabul dengan ijab, jika wali perempuan mengatakan “aku nikahkan
engkau dengan khadijah” lalu dijawab “saya terima nikah dengan fathimah”
maka akad tidak sah.
3. Perkataan Ijab harus tetap dan konsisten tidak boleh dirubah
2
sampai qabul
diucapkan.
4. Ijab harus segera, tidak boleh dimajukan ke depan seperti ucapan “aku nikahkan
engkau dengan putriku besok hari”, atau “aku nikahkan engkau jika abangnya
kembali dari safar” maka akad seperti ini tidak sah.
19


16. Kedudukan hukum ijab qabul dengan surat atau delegasi
Akad nikah dengan surat atau delegasi sah, namun dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jika seandainya kedua orang yang melakukan akad hadir dalam majlis dan
keduanya mampu untuk berbicara, maka tidak sah akadnya dengan surat atau
delegasi, karena asal ijab qabul adalah dengan lafadh.
b. Jika pelaku akad bisa berbicara, namun salah seorang dari keduanya tidak hadir
dalam majlis, maka menurut ulama Hanafiyah akad nikah sah dengan surat atau
delegasi, dengan syarat harus diucapkan qabul ketika surat atau delegasi itu sampai,
saksi harus mengetahui isi kandungan surat, juga harus mendengar qabul yang
diucapkan.
20

Sedangkan menurut ulama Syafi‟iyah, Malikiyah, dan Hanabilah akad nikah dengan
surat bagi orang yang mampu berbicara baik ia hadir atau tidak hadir dalam majlis,
akadnya tidak sah, karena posisi surat adalah seperti kinayah.
21

17. Kekuasaan wali terhadap janda
Wali wajib bermusyawarah dan meminta pendapat ketika hendak menikahkan gadis dan
janda, tidak boleh menikahkannya tanpa izin darinya. Akad yang dilangsungkan sebelum
meminta izin kepadanya dianggap tidak sah, ia memiliki hak untuk menuntut fasakh nikah.
Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah:
22


19
Fiqh islami jil. VII, h. 49-52
20
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami...h. 45. Muhammad Abu Zahrah, Muhadharat fi ‘Aqd Zawaj wa
Atsaruh, (Dar al-fikri al-‘arabi, t.th), h.80-81
21
Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami...h. 46.
22
Fiqh sunnah jil 2: 86
1 .
ى
نَ أ ،
ٍ
سا
ى
بَ ع
ِ
ن
ْ
با
ْ
نَ ع :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما « ا
َ
ُ ن
ْ
ذ
ّ
ا
َ
و ،ا َ ىو
ُ
بَ أ ا َ ى
ُ
ر
ِ
مِأ
َ
خ
ْ
سَي
ُ
ر
ْ
كِ ب
ْ
ما
َ
و ،اَي
ِ
س
ْ
ف
َ
نِ ب ّ ق
َ
حَ أ
ُ
بِ ّيىثما
ا
َ
ُ تا
َ ُ
ص » )ئاسنما هاور (
2 .
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
نَ أ :
ْ
م
ُ
َ ثى د
َ
ح ،َ ة
َ
ر
ْ
ي
َ
رُ ى
َ
بَ أ
ى
نَ أ ،
َ
ة
َ
م
َ
و
َ
س
ِ
بَ أ
ْ
نَ ع :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و «
َ
ل
َ
و ،
َ
ر
َ
مِأ
َ
خ
ْ
س
ُ
ج ى ت
َ
ح ُ
ِ
ّ ي
َ
لا
ُ
ح
َ
ك
ْ
نُث
َ
ل

َ
ن
َ
ذِأ
َ
خ
ْ
س
ُ
ج ى ت
َ
ح
ُ
ر
ْ
كِ بما
ُ
ح
َ
ك
ْ
نُث » :
َ
لا
َ
ك ؟ا
َ
ُ ن
ْ
ذ
ّ
ا َ ف
ْ
ي
َ
ن
َ
و ،
ِ
ى لا
َ
لو
ُ
س
َ
ر
َ
ي :او
ُ
ما
َ
ك « َ ت
ُ
ك
ْ
س
َ
ج
ْ
نَ أ » )يراخبما هاور (
أ بوطي )رمأخسج( .تجوزح ن أ ايم قبس تما هو بيثما )ي

لا( .دعب جوتث ل تما )ركبما( .رواشجو اىرم
]لذ ونو مضو أ ءكب نم ايضفر لع لدث ةنيرك مدعو أ اىاضر لع لدث ةنيرك عم ءايحخسا )تكسج ن أ(

18. Kriteria kegadisan
Menurut ulama Malikiyah, syafi‟iyah, dan hanabilah tidak ada boleh bagi hakim dan
para wali untuk menikahkan anak perempuan kecil dibawah umur 9 tahun.
23

Menurut aisyah ra, anak perempuan sudah dianggap gadis ketika ia berumur 9 tahun
dalam sebuah hadis yang marfu‟ dari ibnu umar dari Aisyah “apabila anak perempuan
sudah berumur 9 tahun maka ia adalah gadis” maksudnya adalah anak perempuan
yang berumur 9 thn sama dengan hukum gadis yaitu ketika hendak dinikahkan harus
dimintai persetujuannya lebih dahulu.
24


19. Ayah menikahkan gadis kecil
Jumhur ulama –termasuk di antara mereka imam madhab yang empat– berpendapat
boleh menikahkan gadis kecil dengan laki-laki yang kufu‟, mereka berdalil dengan firman
Allah Swt. berikut:
1. Firman Allah mengenai „iddah gadis kecil, selama 3 bulan.
﴿ Og*^-¯-4Ò =}¯Oj¯4C =}g` ^*1´·E©^¯- }g`
¯7¯j*.=O)Oe ÷p)³ ¯¦+¯±·>¯O-
O}×g¬¯O³g¬·· ¬O·1ÞUÒ¦ ¯O÷_;-Ò¡
Og*^-¯-4Ò ¯¦·¯ =};_g4·© _ ﴾
“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-
perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka
adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS. al-
Thalaq: 4)

23
Fiqh islami wa adillatuh, jil VII, h. 193.
24
Wahbah: 193.
Dalam ayat di atas Allah Swt. menjelaskan batas ‘iddah gadis kecil yang belum haidh selam
3 bulan, sama dengan ‘iddah wanita yang monopause, dan sebagaimana kita ketahui, „iddah
tidak terjadi kecuali setelah menikah dan bercerai, maka nash tersebut menunjukkan bahwa
gadis kecil juga menikah dan ada kemungkinan dicerai.
2. Perintah untuk menikahi perempuan (al-inats). Allah berfirman:
﴿ W-O÷·´¯^Ò¡4Ò _OE©4C·- ¯¦7¯Lg` ﴾ (QS.al-nur:32)
al-ayimu adalah perempuan yang tidak memiliki suami, yang masih kecil maupun sudah
dewasa.

3. Rasulullah menikah dengan Aisyah ketika ia masih kecil.
:تماك ،ةشئاع نع « ن أو لسو ويوع ا لص بنما نجوزح عسج تنب ن أو ب نبو ،ينس تس تنب
ينس »
(HR. Muslim)
Dan yang menikahkan Aisyah adalah ayahnya Abu Bakar Ra.
Rasulullah juga pernah menikahkan anak perempuan dari pamannya Hamzah dengan anak
laki-laki Abu Salamah, ketika keduanya masih kecil.
25


20. Gadis dewasa dinikahkan tanpa persetujuan
Menurut pendapat Jumhur fuqaha‟ gadis dewasa yang berakal sehat tidak boleh
dinikahkan tanpa persetujuan, akan tetapi walinya harus bermusyawarah dengan
perempuan dewasa tersebut untuk memilihkan calon suami baginya.
26

Dalam hal ini Ibnu Qayyim berkata “tidak boleh seorang ayah membelanjakan
sedikitpun dari harta anak perempuan yang sudah baligh dan sehat akalnya, kecuali dengan
kerelaan darinya, juga tidak ada hak bagi ayah memaksakan anak perempuan tersebut
untuk mengeluarkan hartanya sekalipun sedikit tanpa kerelaannya. Maka bagaiman boleh
bagi seorang ayah untuk menikahkan anak perempuan tadi tanpa kerelaannya,
menyerahkan kehormatannya kepada orang yang tidak ia sukai.”
27

21. Gadis belum dewasa dinikahkan oleh wali selain ayah
Para fuqaha‟ berselisih pendapat tentang pernikahan gadis yang sudah baligh. Menurut
ulama Hanafiyah; gadis yang sudah baligh boleh menikahkan dirinya sendiri, sedangkan

25
Fiqh islami wa adillatuh, jil VII, h. 179-180.
26
Muhadarat, h. 154
27
Muhadarat, h. 157
jumhur fuqaha‟ gadis yang sudah baligh harus dinikahkan oleh walinya, akan tetapi
menurut ulama Hanabilah para wali harus mendapatkan izinnya ketika hendak
menikahkan gadis tersebut, baik itu yang masih perawan ataupun sudah janda. Sedangkan
menurut ulama Malikiyah dan Syafi‟iyyah; harus mendapat izinnya seandainya ia seorang
janda, dan tidak perlu mendapat izinnya seandainya gadis tersebut masih perawan, baik ia
masih kecil ataupun sudah dewasa.
28

Wali selain ayah dan kakek hanya boleh menikahkan gadis yang belum dewasa setelah
mendapatkan izinnya, ia tidak berhak menikahkannya secara paksa. Menurut jumhur
ulama gadis kecil tidak boleh dinikahkan oleh wali selain ayah dan kakek, apabila ia
dinikahkan maka akadnya tidak sah. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan al-awza‟i boleh
bagi semua wali untuk menikahkannya, dan ketika dewasa ia boleh memilih.
29




22. Janda belum dewasa dinikahkan
Wali wajib bermusyawarah dan meminta pendapat ketika hendak menikahkan gadis dan
janda, tidak boleh menikahkannya tanpa izin darinya. Akad yang dilangsungkan sebelum
meminta izin kepadanya dianggap tidak sah, ia memiliki hak untuk menuntut fasakh nikah.
Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah:
30

1 . :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
نَ أ ،
ٍ
سا
ى
بَ ع
ِ
ن
ْ
با
ْ
نَ ع « ا
َ
ُ ن
ْ
ذ
ّ
ا
َ
و ،ا َ ىو
ُ
بَ أ ا َ ى
ُ
ر
ِ
مِأ
َ
خ
ْ
سَي
ُ
ر
ْ
كِ ب
ْ
ما
َ
و ،اَي
ِ
س
ْ
ف
َ
نِ ب ّ ق
َ
حَ أ
ُ
بِ ّيىثما
ا
َ
ُ تا
َ ُ
ص » )ئاسنما هاور (
2 . :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
نَ أ :
ْ
م
ُ
َ ثى د
َ
ح ،َ ة
َ
ر
ْ
ي
َ
رُ ى
َ
بَ أ
ى
نَ أ ،
َ
ة
َ
م
َ
و
َ
س
ِ
بَ أ
ْ
نَ ع «
َ
ل
َ
و ،
َ
ر
َ
مِأ
َ
خ
ْ
س
ُ
ج ى ت
َ
ح ُ
ِ
ّ ي
َ
لا
ُ
ح
َ
ك
ْ
نُث
َ
ل

َ
ن
َ
ذِأ
َ
خ
ْ
س
ُ
ج ى ت
َ
ح
ُ
ر
ْ
كِ بما
ُ
ح
َ
ك
ْ
نُث »
َ
لو
ُ
س
َ
ر
َ
ي :او
ُ
ما
َ
ك :
َ
لا
َ
ك ؟ا
َ
ُ ن
ْ
ذ
ّ
ا َ ف
ْ
ي
َ
ن
َ
و ،
ِ
ى لا « َ ت
ُ
ك
ْ
س
َ
ج
ْ
نَ أ » )يراخبما هاور (
.دعب جوتث ل تما )ركبما( .رواشجو اىرم أ بوطي )رمأخسج( .تجوزح ن أ ايم قبس تما هو بيثما )ي

لا(
]لذ ونو مضو أ ءكب نم ايضفر لع لدث ةنيرك مدعو أ اىاضر لع لدث ةنيرك عم ءايحخسا )تكسج ن أ(
23. Janda dewasa dinikahkan
Wali wajib bermusyawarah dan meminta pendapat ketika hendak menikahkan gadis dan
janda, tidak boleh menikahkannya tanpa izin darinya. Akad yang dilangsungkan sebelum

28
Fiqh islami wa adillatuh, jil VII, h. 193
29
Fiqh sunnah: 86
30
Fiqh sunnah jil 2: 86
meminta izin kepadanya dianggap tidak sah, ia memiliki hak untuk menuntut fasakh nikah.
Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah:
31

1 . :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
نَ أ ،
ٍ
سا
ى
بَ ع
ِ
ن
ْ
با
ْ
نَ ع « ا
َ
ُ ن
ْ
ذ
ّ
ا
َ
و ،ا َ ىو
ُ
بَ أ ا َ ى
ُ
ر
ِ
مِأ
َ
خ
ْ
سَي
ُ
ر
ْ
كِ ب
ْ
ما
َ
و ،اَي
ِ
س
ْ
ف
َ
نِ ب ّ ق
َ
حَ أ
ُ
بِ ّيىثما
ا
َ
ُ تا
َ ُ
ص » )ئاسنما هاور (
2 .
ْ
نَ ع :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
نَ أ :
ْ
م
ُ
َ ثى د
َ
ح ،َ ة
َ
ر
ْ
ي
َ
رُ ى
َ
بَ أ
ى
نَ أ ،
َ
ة
َ
م
َ
و
َ
س
ِ
بَ أ «
َ
ل
َ
و ،
َ
ر
َ
مِأ
َ
خ
ْ
س
ُ
ج ى ت
َ
ح ُ
ِ
ّ ي
َ
لا
ُ
ح
َ
ك
ْ
نُث
َ
ل

َ
ن
َ
ذِأ
َ
خ
ْ
س
ُ
ج ى ت
َ
ح
ُ
ر
ْ
كِ بما
ُ
ح
َ
ك
ْ
نُث » :
َ
لا
َ
ك ؟ا
َ
ُ ن
ْ
ذ
ّ
ا َ ف
ْ
ي
َ
ن
َ
و ،
ِ
ى لا
َ
لو
ُ
س
َ
ر
َ
ي :او
ُ
ما
َ
ك « َ ت
ُ
ك
ْ
س
َ
ج
ْ
نَ أ » )يراخبما هاور (
ن أ( .دعب جوتث ل تما )ركبما( .رواشجو اىرم أ بوطي )رمأخسج( .تجوزح ن أ ايم قبس تما هو بيثما )ي

لا(
]لذ ونو مضو أ ءكب نم ايضفر لع لدث ةنيرك مدعو أ اىاضر لع لدث ةنيرك عم ءايحخسا )تكسج


24. Kedudukan pemberitahuan akad nikah
Pemberitahuan akad nikah merupakan salah satu dari syarat sahnya nikah. Yaitu
hadirnya dua orang saksi dalam akad nikah. Karena para fuqaha‟ bersepakat bahwa tujuan
adanya saksi adalah untuk menampakkan dan mengumumkan pernikahan di kalangan
masyarakat, karena yang membedakan antara yang halal dengan yang haram adalah dari
segi pengumumannya. Rasulullah bersabda:
)فدلاب ولو حاكنلا اونلعأ(
Abu Bakar pernah berkata “tidak boleh nikah sir (sembunyi-sembunyi), haruslah
diumumkan dan dipersaksikan”.
32

Apakah kesaksian 2 orang dianggap cukup untuk pemberitahuan („ilan) akad nikah?
Dalam hal ini terjadi selisih pendapat antara para fuqaha‟ sebagai berikut:
a. Menurut Abu Hanifah kesaksian oleh 2 saksi sudah cukup sebagai „ilan. Hal ini sesuai
dengan hadist Rasulullah:
ٍ ل ْ د
َ
ع
ْ
يَ د
ِ
ىا َ ش
َ
و
ٍ
ّ
ِ ل
َ
وِ ب
ى
ل
ّ
ا
َ
ح
َ
ك
ِ
ن
َ
ل" :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُى لا
ى
ل
َ
ص
ِ
ى لا
َ
لو
ُ
س
َ
ر
ى
ن
َ
أ
َ
ة َ ش
ِ
ئا
َ
ع
ْ
نَ ع
ْ
ن
ِ
م
َ
ن
َ
ك ا
َ
م
َ
و ،

َ
و
َ
ل
ْ
ن
َ
م
ّ
ِ ل
َ
و
ُ
نا
َ
ط
ْ
و
ّ
سماَف ،او
ُ
ر
َ
جا َ ش
َ
ج
ْ
ن
ّ
اَف ،
ٌ
ل
ِ
ط
َ
ب
َ
وُي
َف َ ِ
ل
َ
ذ ِ
ْ
يَغ
َ
ل
َ
ع
ٍ
ح
َ
ك
ِ
ن "ُ
َ
ل
ى
ِ ل
Dengan hadirnya 2 orang saksi serta 2 orang pelaku akad telah terwujud tujuan
pemberitahuan („ilan), sekalipun mereka saling sepakat untuk merahasiakan akad ini.
Karena rahasia tidak terjadi antara 4 orang, akan tetapi kalau rahasia sudah melebihi 2

31
Fiqh sunnah jil 2: 86
32
Muhadarat, h. 91.
orang sudah dianggap pemberitahuan secara terang-terangan. Kemudian, penegasan
Rasulullah bahwa tidak sah nikah tanpa kehadiran saksi merupakan dalil bahwa saksi
adalh keharusan dalam akad nikah, dan dengan kehadiran mereka sudah cukup
sebagai „ilan.
b. Pendapat yang kedua –dan ini yang masyhur menurut pendapat imam Malik–
bahwasanya hadirnya saksi bukanlah syarat sahnya akad nikah. Akan tetapi yang
menjadi syarat sah nikah adalah mutlaq „ilan, sehingga menurut mereka persaksian
tidak cukup sebagai „ilan. Setelah adanya „ilan barulah dibutuhkan hadir saksi,
karena kehadiran saksi menurut mereka adalah syarat halalnya jima‟.
c. „ilan saja cukup untuk sahnya akad, tanpa butuh kepada hadirnya saksi. Karena
tujuan saksi sebenarnya adalah untuk diketahui oleh umum, maka dengan adanya
„ilan sebenarnya maksud tersebut sudah sampai.

25. Cara pemberitahuan akad nikah
Tidak ditemukan ketentuan khusus bagaimana cara memberitahukan akad nikah dalam
literatur
2
fikih, menurut hemat penulis itu semua dikembalikan kepada adat kebiasaan di daerah
masing
2
selama tidak keluar dari koridor syari‟ah.
33

:
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُ
ا
ى
ل
َ
ص
ى
ِ
ب
ى
نما
ى
ن
َ
أ ) ِ ل
َ
ب
ْ
ر
ِ
غ
ْ
م ِ ب
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع او
ُ
ب
ِ
ْ ضا
َ
و
َ
ح
َ
ك
ِ
ّ
نما او
ُ
ن
ِ
وْ عَ
أ –
ى
فّ لا
ِ
ن
ْ
ع
َ
ي – (
Rasulullah Saw. bersabda “umumkanlah pernikahan dan tabuhlah rebana” (HR.
Turmudzi)
Menurut wahbah zuhaili tidak apa
2
mengadakan nyanyian atau pantun
2
yang mubah dalam
pemberitahuan akad nikah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aisyah
ra. bahwasanya ia pernah ikut serta menikahkan seorang gadis yatim dengan seorang laki
2

dari Anshar, ketika itu Aisyah termasuk yang mengantarkan gadis itu kepada suaminya, ia
berkata, ketika kami pulang dari tempat itu Rasulullah bertanya kepada kami “Apa yang
kamu ucapkan wahai Aisyah? Aisyah menjawab; kami beri salam dan mendoakan semoga
diberkati, lalu kami pun pulang. Lalu Rasulullah berkata “Sesungguhnya Anshar adalah
kaum yang suka kepada pantun, kenapa tidak kalian ucapkan “atainakum atainakum,
fahayyana wa hayyakum”
34


26. Kedudukan saksi dalam akad nikah
Dari Aisyah Ra, Rasulullah bersabda:

33
Fiqh sunnah, jil 2, h. 149.
34
Fiqh islami wa adillatuh, jil VII, h. 124.
ٍ ل ْ د
َ
ع
ْ
يَ د
ِ
ىا َ ش
َ
و
ٍ
ّ
ِ ل
َ
وِ ب
ى
ل
ّ
ا
َ
ح
َ
ك
ِ
ن
َ
ل" :
َ
لا
َ
ك
َ
ى
ل
َ
س
َ
و
ِ
و
ْ
ي
َ
و
َ
ع
ُى لا
ى
ل
َ
ص
ِ
ى لا
َ
لو
ُ
س
َ
ر
ى
ن
َ
أ
َ
ة َ ش
ِ
ئا
َ
ع
ْ
نَ ع
ْ
ن
ِ
م
َ
ن
َ
ك ا
َ
م
َ
و ،

َ
جا َ ش
َ
ج
ْ
ن
ّ
اَف ،
ٌ
ل
ِ
ط
َ
ب
َ
وُي
َف َ ِ
ل
َ
ذ ِ
ْ
يَغ
َ
ل
َ
ع
ٍ
ح
َ
ك
ِ
ن "ُ
َ
ل
ى
ِ ل
َ
و
َ
ل
ْ
ن
َ
م
ّ
ِ ل
َ
و
ُ
نا
َ
ط
ْ
و
ّ
سماَف ،او
ُ
ر
“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil, barangsiapa yang menikah
tidak mengikuti aturan tersebut maka nikahnya batal. Jika mereka bertengkar, maka hakim adalah
wali bagi orang yang tidak mempunyai wali.” (HR. Ibnu Hibban, sanadnya hasan)
Yang dimaksud dengan pertengkaran dalam hadith di atas adalah penolakan para
wali terhadap akad nikah yang dilaksanakan. Dan ketika ini terjadi maka perwalian
berpindah kepada hakim.
Orang-orang yang menjadikan persaksian sebagai syarat nikah menjadikan hadith di
atas sebagai dalil. Tirmidzi mengemukakan, “Para ulama dari kalangan sahabat dan para
tabi‟in dan yang lainnya telah mengamalkan hal tersebut.” Mereka berkat “Tidak ada
pernikahan kecuali dengan persaksian”, tidak ada yang berbeda pendapat mengenai hal ini
kecuali bebrapa ulama dari kalangan mutaakkhirin.
Sebagian ulama mengemukakan, “Diperbolehkan kesaksian satu orang laki-laki dan
dua orang perempuan dalam satu pernikahan.” Demikian pendapat Imam Ahmad dan
Ishak.
Namun diriwyatkan dari Imam Malik bahwa ia menganggap tidak diperlukan saksi dalam
pernikahan, cukup hanya dengan mengumumkannya saja.
Namun pendapat kuat adalah yang menyatakan bahwa tidak sah pernikahan tanpa
disaksikan oleh dua orang saksi yang adil sbegaimana disebutkan dalam hadith di atas, dan
hadith-hadith lain yang menjelaskan hal ini. Dan kata nafi dalam sabda Rasulullah “Tidak
ada pernikahan” menjadikan persaksian sebagai syarat dalam pernikahan, karena tanpa
saksi pernikahan dianggap tidak pernah ada.
35


27. Syarat yang sifatnya bertentangan dengan yang dikehendaki oleh akad nikah
Madhab hanafiah: apabila syarat itu shahih dan sesuai dengan konteks akad, tidak
bertentangan dengan syari'at, maka wajib ditunaikan, misalnya wanita mensyaratkan untuk
ditempatkan dalam rumah sendiri tidak bercampur dengan keluarga lain, atau tidak
mengajaknya bermusafir ke tempat yang jauh kecuali dgn izin keluarganya dan sebagainya.
Namun jika syarat fasid, baik itu bertentangan dengan syari'at yaitu yang tidak sesuai
dengan konteks akad atau tidak dibolehkan dalam syari'at, maka akadnya sah dan

35
Hasan Ayyub, Fikih Keluarga...h. 65-66.
syaratnya batal. Seperti syarat untuk menikahinya hanya dalam kurun waktu tertentu saja.
Makruh bagi wanita mensyaratkan bagi calon suaminya untuk menceraikan salah satu dari
istrinya yang dahulu.
Madhab Malikiyah: syarat dalam akad nikah ada 2, shahih dan fasid.
Syarat shahih terbagi 2, makruh dan ghairu makruh.
 Syarat shahih tidak makruh adalah: yang sejalan dengan konteks akad nikah. Seperti
syarat harus menafkahi istri, harus bemuamalah dengan baik, atau istri harus patuh
kepada suami dan tidak keluar rumah tanpa seizin darinya.
 Syarat shahih namun makruh: yang tidak berhubungan dengan akad namun tidak
bertentangan dengan akad, namun sifatnya kadang memberatkan salah stu pihak.
Seperti suami tidak beleh menikahi wanita lain, tidak boleh mengajaknya musafir,
tidak boleh mengeluarkannya dari rumah orangtuanya dan sebagainya.
 Syarat fasid adalah: yang menafikan atau bertentangan dengan substansi dan tujuan
pernikahan, seperti calon istri mensyaratkan suami tidak tinggal di rumah2 istri yang
lain, mengkhususkan suami harus tinggal dirumahnya selama 1 minggu atau setiap
bulannya, dan sebagainya. Suami mensyaratkan istri harus ditanggung nafkahnya oleh
ayah atau walinya, atau suami mensyaratkan istri harus menafkahi diri sendiri, ini
syarat fasid, karena bertentangan dengan maksud dan tujuan pernikahan, karena
aslinya suamilah yang menanggung nafkah istri.
Hukum syarat ini adalah membatalkan akad, dan wajib menfasakhnya selama suami belum
bercampur dengan istri tersebut, apabila ia sudah bercampur maka akad dilanjutkan dan
syarat dibatalkan.
36

Mazhab syafi‟iyyah: syarat ada 2 macam, sahihah dan fasidah.
 Syarat sahih yang terjadi dalam pernikahan adalah yang sesuai dengan akad nikah,
seperti syarat nafakah dan pemerataan giliran antara semua istri, atau syarat yang tidak
sesuai dengan substansi pernikahan, namun tidak merusak tujuan pernikahan seperti
tidak mau makan makanan tertentu.
Hukum syarat seperti gambaran di atas adalah tidak memiliki pengaruh apa2, dan akad
tetap sah .
 Syarat fasid adalah: yang bertentangan dengan kandungan akad nikah namun tidak
merusak maksud asli nikah yaitu jima‟. Misal syarat fasid adalah suami tidak boleh
menikah lagi, tidak ada nafakah baginya, tidak boleh mengajaknya untuk bermusafir,
atau tidak membewanya keluar dari daerahnya.

36
Wahbah: 55.
Hukum syarat ini: akad nikah sah, karena tidak merusak maksud asli nikah yaitu jima‟ dan
istimta‟, dan syarat rusak (fasid) karena bertentangan dengan kandungan akad nikah, baik
itu syarat dari wanita ataupun syarat atas wanita.
 Namun jika syarat itu bertentangan dengan maksud asli pernikahan, seperti syarat:
suami tidak boleh menggaulinya sama sekali, tidak boleh menggaulinya kecuali 1x
dalam setahun, tidak boleh menggaulinya kecuali malam saja atau siang saja, atau
suami harus menceraikannya, maka akad nikah batal. Karena syarat ini bertentangan
dengan maksud pernikahan.
 Namun jika suami yang mensyaratkan untuk tidak menggauli istri kecuali siang, akad
tidak batal, karena menggauli istri adalah hak suami baik itu siang ataupun malam, dan
ia bebas menentukan waktunya. Kalau mensyaratkan untuk tidak saling mewarisi,
nafkah tidak ditanggung suami, maka akad juga batal.
37

Madhab hanbali: syarat menurut mereka sama seperti madhab syafi‟i, sahih dan fasid. Ada
3 macam yaitu:
1. Syarat sahih: yang sesuai dengan akad nikah maupun yang tidak sesuai dengan
akad nikah, namun dalam syarat itu ada manfaat bagi salah satu pelaku akad, dan
tidak kandungan syarat tersebut bukan hal yang dilarang syari'at serta tidak
bertentangan dengan maksud sebenarnya akad nikah.
Hukum syarat ini harus ditunaikan karena ada manfaatnya.
Misal syarat ini: istri mensyaratkan untuk diberikan nafakah dan dipergauli dengan
baik, tidak boleh mamadukannya, tidak mengeluarkannya dari rumah atau
negerinya, atau tidak mengajaknya bermusafir.
Misal syarat di pihak laki: wanita harus yang cantik, terpelajar, tidak ada aib, dan
sebagainya.

28. Syarat yang sejalan dengan akad nikah

37
Wahabah 56.

dengan perempuan, baik itu berjima‟, memeluk, mencium, dan lain sebagainya, yaitu perempuan yang bukan mahramnya karena nasab, radha‟ atau musaharah.4

2. Macam-macam hak milik

3. Pengertian hak milik dalam akad nikah Setelah menikah, suami hanya memiliki hak intifa‟ terhadap kehormatan dan seluruh badan istri untuk bersenang-senang, tapi suami tidak memiliki hak untuk

memanfaatkannya, artinya ia boleh digunakan untuk manfaat sendiri, tapi tidak boleh dimanfaatkan kehormatan istrinya oleh orang lain sekalipun untuk kepentingan diri suami.5

4. Perbedaan pendapat ulama ushul tentang definisi nikah Ulama ushul berbeda pendapat tentang maksud nikah secara syara‟ apakah jima‟ atau akad. Istilah nikah, menurut ulama ushul dan ulama lughah hakikatnya adalah untuk jima‟ (al-wath‟u) dan majaz untuk akad. Maka apabila ditemukan istilah ini dalam al-Qur'an ataupun sunnah tanpa ada qarinah-qarinah lain maka maksudnya adalah jima‟, sebagaimana firman Allah:      ﴿ ﴾      Artinya: “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau.” (QS.al-Nisa‟: 22). Dalam ayat itu Allah mengharamkan anak untuk mencampuri istri-istri ayah, sedangkan keharaman untuk melakukan akad nikah dengan istri-istri ayah ditetapkan dengan ijma‟. Jika seandainya suami berkata kepada istrinya “Jika aku menikahimu, maka kamu kucerai” maka syarat itu tergantung (mu‟allaq) kepada jima‟, begitu juga jika seandainya suami menceraikan istrinya dengan talak ba‟in sebelum ia menggaulinya sama sekali, kemudian ia menikahinya lagi, maka istrinya itu akan terceraikan dengan jima‟ bukan dengan akad. Adapun „nikah‟dengan perempuan asing (ajnabiyah) maka maksudnya adalah akad dengannnya. Karena berjima‟ dengan wanita asing tersebut hukumnya haram, maka maksud „nikah‟ di sini adalah majas yaitu akad. Adapun maksud „nikah‟ menurut fuqaha‟, termasuk didalamnya ulama madhab yang empat adalah: „nikah‟ arti sebenarnya adalah akad, dan arti majasnya adalah jima‟, karena
4 5

Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, cet. II. Jil. VII, (Beirut: Dar al-Fikr, 1985), h. 29. al-fiqh ‘ala madhahib al-arba’ah, jil. IV, h. 7-8

hadith. sunnah dan ijma‟. AlNur: 32)  Rasulullah Saw. Kedudukan hukum asli nikah dan dasar hukum pensyariatan nikah Menikah hukumnya dianjurkan (masyru‟) dalam syari‟at. dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. al-Nisa‟:3) ﴾                ﴿    ﴾  Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian (laki-laki maupun wanita yang belum menikah) diantara kamu. Hukum asli nikah dinyatakan masyru‟ berdasarkan al-Qur'an. . h. Allah Swt. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Al-Baqarah: 230) Maka maksud (‫ )دتى تنكخ زوجا غيره‬dari ayat tersebut di atas adalah akad dan jima‟ sekaligus.yang demikian itu yang masyhur dalam al-Qur'an dan sunnah. bagi siapa yang butuh dan mampu untuk menikah... bersabda: ‫))اي معرش امش باب، من اس خطاع امباءة فويزتوج، فاهو أغض نوبرص وأحصن نوفرج، ومن مل يس خطع فعويو‬ )‫ابمصوم فاهو هل وجاء(( (رواه امبخاري‬ 6 Wahbah al-Zuhayli. 30. Nikah disyari‟atkan dengan dalil dari al-Qur'an. maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain” (QS. salah seorang ulama madhab Hanafiyah berkata “Tidak ada dalam al-Qur'an lafadh „nikah‟ bermakna jima‟ kecuali firman Allah:       ﴿ ﴾     Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua). (QS. hal ini diketahui dari sabda Rasulullah (‫6.)دتى تذوقي عسيلتو‬ 5. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. berfirman:      ﴿ (QS. al-Fiqh al-Islami. dan ijma‟ ulama muslimin. al-Zamakhsyari.

bahwasanya Rasulullah Saw. Mubah: mubah hukumnya untuk menikah ketika tidak halangan sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Ini sejalan dengan firman Allah dalamsurah al-Nisa‟ ayat 3:      ﴿  7 8   Wahbah al-Zuhayli. al-Mughni. Kebolehan poligami Pada dasarnya dalam suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri.. al-Fiqh al-Islami. e. h. Wajib: wajib bagi orang yang mampu dan sudah ingin menikah serta takut terjerumus ke zina.” (HR.. 3 (1) UU No. dan undang-undang di indonesia menganut asas monogami (Ps. al-Fiqh al-Islami. bersabda “Menikahlah kalian. Sunnah (mustahab): bagi siapa yang butuh untuk menikah dan mampu untuk itu namun ia sanggup menjaga diri untuk tidak terjerumus kepada perzinaan dan yang dilarang Allah. Makruh: bagi orang yang akan menyia-nyiakan hak istrinya baik itu nafkah lahir maupun nafkah batin. karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlah umatku di hari kiamat. Haram: diharamkan menikah bagi orang yang akan menyia-nyiakan hak istri dengan tidak sanggup memberi nafkah lahir batin. Karena menjaga dan melindungi diri dari yang haram hukumnya wajib. 31-33 . jil. namun istrinya tidak merasa keberatan dengan hal tersebut. Wahbah al-Zuhayli. IX. istri seorang yang kaya dan tidak sangat butuh kepada hubungan badan.. 340. sekalipun ia sangat ingin menikah.. Hukum nikah ditinjau dari kondisi seseorang a.8 tidak ada halangan- 7. maka menikah baginya disunnahkan. h. Dalam kasus ini tidak ada jalan lain kecuali pernikahan.Dan kaum muslimin telah sepakat bahwasanya nikah itu disyari‟tkan (masyru‟). Baihaqi) c. dan janganlahkalian menjadi rahib layaknya orang Nasrani. b. 31. misalnya. h. seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami. 1/74).7 6. Ibnu Qudamah. ‫ِ َ ُ َ ُ َ َ ُ ُ ِ ى‬ ُُ َ ‫عن َأ ِِب ُأ َما َم َة َرِض هللا ع ْنو كَال: كَال َرسول هللا صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل: " حَ َز ىوجوا فَا ِّّن ُمك ِرِث ٌر ِبُك‬ َْ ُ َ‫ِ َ ى‬ ّ ِ َ ُْ " ‫اْل َم َم ي َ ْوم امْ ِل َيا َمة، َو ََل حَكوهُوا ن َرى َبا ِه ىية امنىصارى‬ َ َ ِ ْ َ ُ Dari Abu Umamah Ra. d.

dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan).” Dan juga ayat:    ﴿                    ﴾ Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu). Poligami dibolehkan apabila syarat-syarat yang dapat menjamin keadilan suami kepada isteri-isteri terpenuhi. tempat tinggal. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. giliran dan .” (QS. tiga atau empat. Maka kawinilah wanitawanita (lain) yang kamu senangi : dua.                   ﴾  Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Keadilan yang harus ditunaikan oleh suami yang berpoligami meliputi adil dalam melayani isteri. sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Namun demikian. Kedua ayat tersebut di atas menjelaskan kepada kita bahwa asas perkawinan dalam Islam sebenarnya adalah monogami. atau budak-budak yang kamu miliki. hukum Islam tidak menutup rapat-rapat pintu kemungkinan untuk berpoligami. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). sepanjang persyaratan keadilan di antara isteri dapat dipenuhi dengan baik. seperti dalam urusan nafkah. pakaian. Maka (kawinilah) seorang saja. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Al-Nisa‟: 129).

Tirmidzi. Fiqh Munakahat. Hukum Islam di Indonesia. hal ini berada di luar kesanggupan manusia. bersabda: ِ َ َ َ َُ ْ َ َ ِ ْ ْ َ َ ‫َ َ ِ ِّ َ ى ُ ِ َ ى‬ ‫عن َأ ِِب ىُرْي َرةَ، عن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: « َمن ََكه َت َُهل ا ْم َر َأَتَ ن فَ َمال اَل احدَ اُها، جاء ي َ ْوم امْ ِل َيا َمة‬ َْ ّ ّ ِ ٌ »‫َوشل ُُّو َمائِل‬ Dari Abu Hurairah Ra. Nasa‟i dan Ibnu Hibban. Rahman Ghazaly.. tetapi tidak bergairah dengan isteri yang lain. hadis shahih) Mengenai adil terhadap masalah cinta dan kasih sayang. sebab cinta berada dalam gengaman Allah yang mampu mebolak balikkan hati sesuai kehendak-Nya.10 8. Jumlah istri dalam poligami Dalam Islam seorang suami hanya dibolehkan menikahi 1 sampai 4 orang isteri saja. 1995). Abu Daud. h. (Jakarta: Kencana. dan begitu seterusnya. Rahman Ghazaly. maka ia haram melakukan poligami. Dalam hal ini apabila tidak disengaja. yang berasal dari keturunan mulia dan dari golongan bawah. dan dilarang menikahi lebih dari ketentuan tersebut. Abd. lalu condong kepada salah satunya. tanpa membedakan antara isteri yang kaya dengan isteri yang miskin. Bila ia hanya sanggup memenuhi hakhak isteri hanya tiga orang.9 Berkenaan dengan ketidak adilan suami terhadap isteri-isterinya. Begitu pula dengan hubungan seksual. Bila ia hanya sanggup memenuhi hak 2 orang isteri. Cet. Fiqh Munakahat. (Jakarta: RajaGrafindo Persada. Nabi Saw. I. 169. Diriwayatkan bahwa di masa Rasulullah ada seorang laki-laki memeluk Islam dan ia mempunyai 8 orang isteri. maka ia haram menikahi isteri untuk yang ke 3. 2003). maka ia haram menikahi isteri yang keempat. lalu Rasulullah berkata padanya: Ahmad Rofiq. I. h. ia tidak berdosa karena berada di luar kemampuannya. 129-131.segala hal yang bersifat lahiriah.h. bersabda “Barangsiapa yang mempunyai dua orang isteri. sesungguhnya Nabi Saw.. Jika suami khawatir berbuat zalim dan tidak mampu memenuhi semua hak-hak mereka. kedelapan isterinya itu kemudian turut masuk Islam. terkadang suami bergairah dengan isteri yang satu. maka ia akan datang pada hari kiamat dengan bahu yang miring. 10 Abd. Cet.” (HR. 133. 9 .

maka Rasulullah tidak akan menyuruh laki-laki tadi menceraikan 4 orang lagi isterinya. . yang memang tidak ada bedanya dengan akad nikah. sebagaimana ia boleh melakukan akad jual beli. Nikah tanpa wali Banyak dalil yang menyatakan bahwa wanita tidak boleh melaksanakan akad pernikahan untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain maupun untuk orang lain.»‫«اخَْت ِمْنْ ُن َأ ْرب ًَعا‬ ‫َْ ى‬ “pilihlah empat di antara mereka” (HR. sehingga jika diucapkan lebih dahulu maka itu tidak dianggap sebagai qabul karena tidak ada maknanya. Abu Daud) Dalam hadith di atas Rasulullah menyuruh orang itu untuk memilih empat saja dari 8 isterinya dan meceraikan yang lain. Dan qabul menurut mereka adalah yang diucapkan selanjutnya oleh pihak yang lain.” 11 Wahbah al-Zuhayli. “seorang wanita boleh melakukan akad pernikahan sendiri. Arti ijab menurut ulama hanafiah: apa yang diucapkan pertama sekali oleh salah satu dari dua orang yang melakukan akad. karena qabul adalah sebagai jawaban terhadap ijab.. h.. Qabul menurut jumhur adalah lafadh yang menunjukkan keridhaan menikah yang diucapkan dari pihak calon suami. maka akad nikahnya batal. al-Fiqh al-Islami. Ijab qabul dalam akad nikah Ijab dan qabul dalam akad nikah adalah salah satu rukun nikah –semua ulama menyepakatinya–. 37. Ijab menurut jumhur: adalah lafadh yang diucapkan oleh wali atau yang mewakilinya. Kalau saja kawin lebih dari empat diperbolehkan. Para ulama madhab hanafi mengemukakan.11 10. gadai. sewa menyewa. 9. dan sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh mayoritas ulama fikih. baik dari pihak calon suami atau calon istri. Tetapi harus dinikahkan oleh walinya atau dengan menghadirkan seorang wali yang mewakilinya. Imam Malik mengatakan “hal itu boleh dilakukan bagi wanita yang hina dan tidak boleh dilakukan oleh wanita mullia. Jika ada seorang wanita yang melaksanakan akad nikah sendiri (tanpa wali).

beliau bersabda: َ َ‫َ ى ى َ ى ُ ِ َ ى‬ ((‫عن َأ ِِب ُموَس، َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: )) ََل ِنكح ا ىَل بِو ٍِّل‬ َْ َ ّ َ َ Hadis ini shahih dengan banyaknya jalan periwayatan.Madhab Zhahiriyah menyebutkan “hal itu boleh bagi seorang janda. Para pengikut madhab hanafi membolehkan wanita menikahkan dirinya sendiri karena mereka mengqiyaskan akad nikah dengan akad jual beli. (Rasulullah menyebutnya 3x). (Rasulullah menyebutnya 3x)”. maka hakim adalah wali bagi orang-orang yang tidak mempunyai wali. maka nikahnya batal.. maka wajib baginya membayar mahar untuk kehormatan yang telah ia peroleh dari kemaluannya. maka nikahnya batal. maka nikahnya batal. Dan jika ia mewakilkan kepada orang lain tanpa seizin walinya. menurut jumhur ulama tidak sah. Fikih Keluarga. dari Nabi Saw.” (HR. sesungguhnya wanita mempunyai kemandirian dalam melakukan akad jual beli. I. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah : “Perempuan mana saja menikah tanpa izin walinya. bersabda: َُ َ ْ ََ ‫عن عَائِشَ َة، كَامَت: كَال َرسول اَّلل صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل: « َأي ُّ َما ا ْم َر َأ ٍة نَكحت ِبغ َِْْي ا ْذن َم َوا ِههيَا، فَ ِنكُحا‬ ِ َْ َ‫ْ َ ُ ُ ى ِ َ ى ُ ِ َ ى‬ ّ ٌ ِ َ ََ ْ ٍ َ ‫َابطل» ، ثَ ََلث َم ىرات «فَان دخل ِبِ َا فَامْ َمي ُْر مَيَا ِب َما َأصاب ِمْنْ َا، فَان جَشَ اج ُروا فَامسوْطان َو ِل َمن ََل َو ِل‬ َ َ ْ ُّ ُ َ ُّ َ ْ ‫ى‬ ّ ّ . Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dan jika laki-laki (yang menikahninya) telah mencampurinya. maka nikahnya dianggap sah. Cet. 13 Wahbah: 193. akad nikahnya batal jika tanpa wali. Nabi Saw. »‫َُهل‬ “Perempuan mana saja menikah tanpa izin walinya. (Jakarta: Puataka al-Kautsar.” Dari Abu Musa. “jika seorang wanita menikahkan dirinya sendiri dengan izin walinya. h. 12 . Artinya. maka demikian pula dalam akad nikah.13 Hasan Ayyub. 48-50. jika mereka (para wali) bertengkar. 2001). Abdul Ghoffar. Dan jika ia menikahkan dirinya tanpa seizin walinya. maka nikahnya tidak sah. Dari Aisyah Ra. Abu Daud) Hadith di atas termasuk hadith shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud.12 Menurut Hanafiyah wanita menikahkan dirinya sendiri sah. Abu Tsaur menyebutkan. tidak dibolehkan bagi gadis. harus ada wali yang melaksanakan akad nikahnya atau mengizinkan wanita itu untuk mewakilkan kepada laki-laki yang dipercaya untuk menikahkannya. diterjemah oleh: M.

“Apakah engkau menyerahkan urusanmu kepadaku?” “Ya”.” Karena. seperti anak laki-laki dari paman. Abdurrahman bin „Auf pernah berkata kepada Ummu Hakim binti Farith. Cukup bagainya mengatakan “Aku nikahkan diriuku dengan fulanah” atau “Aku nikahi fulanah. jika mendapatkan izin dari wanita tersebut untuk menikahinya. . apa yang membutuhkan kepada ijab maka pasti membutuhkan qabul. bahwa wali seorang wanita yang boleh menikahinya. Ishak. kami katakan jika wali mengatakan kepada budak perempuannya “Aku telah memerdekakanmu. dan aku jadikan kebebasanmu sebagai maharmu. Yang demikian itu berdasarkan riwayat Imam Bukhari.” Karena.11. hal tersebut berdasarkan pada hadith Abdurrahaman bin „Auf di atas. 2. maka ia boleh melakukan keduanya. sebagaimana jika ia ia menikahkan budak perempuannya dan budak laki-lakinya yang masih kecil. jawabnya. atau penguasa. Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah diceritakan bahwa beliau pernah memerdekakan Shafiyyah dan menjadikan pembebasannya itu sebagai mahar. maka ia boleh menikahinya. dan aku terima pernikahan ini. ia menceritakan. Ibnu Sirin. Malik. Lebih lanjut Bukhari mengatakan.” Maka dengan ucapan itu telah sah akad nikah tersebut. “Sesungguhnya aku telah menikahimu. Pernikahan oleh wali terhadap wanita yang diwalikannya Jika seorang laki-laki hendak menaikahi wanita. Dan karena ijab tersebut sudah mencakup qabul. Ia perlu mengucapkan. Abu Tsaur. dan Ibnu Mundzir. “Aku nikahkan fulanah binti fulan dengan diriku. al-Tsauri. Rubai‟ah. atau cukup baginya menyebutkan ijab saja? Mengenai hal ini terdapat dua pendapat yang berbeda dari ulama yang membolehkan wali menikahi wanita yang diwalikannya: 1. ia boleh melakukan hal tersebut. sebagaimana dengan akad-akad lainnya. Dan karena hal itu merupakan akad yang di dalamnya terdapat ijab dari wali yang permanen dan qabul dari suami. atau hakim. ia (wali tersebut) mempunyai kekuasaan untuk melakukan ijab qabul. Abu Hanifah. Maksudnya. maka ia harus menyerahkan semua urusan wanita itu kepada orang yang akan menikahkannya dengan seizinnya. Ahmad. Apakah ia perlu menyebutkan ijab dan qabul. Oleh karena itu.” Yang demikian itu merupakan pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah. Demikian menurut pendapat al-Hasan. padahal ia merupakan walinya. Namun apakah ia boleh mewakili sendiri untuk dua pihak dalam pernikahan itu? Mengenai hal ini terdapat dua pendapat ulama: Pendapat pertama.

Fikih Keluarga. Dan tidak sah akad nikah oleh seorang pelaku selain dari gambaran di atas. Jika pelaku akad adalah wali dari kedua belah pihak.14 12.. Riwayat bukhari dari „Abdurrahman bin „Auf ia berkata kepada Ummu Hakim “apakah kamu melimpahkan urusanmu kepadaku?.. baik itu perwalian yang asli seperti perwalian karena kekerabatan. Hadis ini adalah dalil untuk kasus 14 Hasan Ayyub. Jika anak paman menikah dengan anak pamannya yang lain yang perempuan. dan hakim untuk menikahkan perempuan bagi dirinya sendiri. tetapi ia harus mewakilkan kepada orang lain untuk menikahkan dirinya dengan wanita tersebut dengan seizin darinya. seperti seorang kakek menikahkan dua cucunya yang laki2 dan cucu perempuan yang masih kecil. 58 . dengan rincian sebagai berikut: a. seperti seorang wanita mewakilkan seorang laki2 untuk menikahkan dirinya. Atau ia sebagai delegasi dari kedua belah pihak e. dan sebagai wakil di sisi lain. seperti kakek yang menikahkan cucu laki2 nya dengan cucu perempuannya yang masih kecil. Adapun dalil terhadap sahnya akad nikah oleh seorang pelaku akad sepertimana diuraikan di atas adalah: a. c. Atau ia merupakan perwalian dari kedua belah pihak d. Atau ia sebagai pelaku akad yang sebenarnya di satu sisi. ia tidak boleh mewakili dua pihak sekaligus.h. b. atau perwalian sementara seperti perwakilan. wakil wali.Pendapat kedua. Ijab qabul sekaligus oleh seorang wali Menurut ulama Hanafiyah: sah akad nikah yang dilakukan oleh seorang pelaku akad saja. lalu Abdurrahman berkata “aku telah menikahimu”. Dan ulama Malikiyah membolehkan bagi anak paman (di satu sisi ia juga merupakan wali bagi anak perempuan pamannya yang lain). Imam Syafi‟i setuju akan sahnya akad nikah dalam gambaran yang pertama di atas. di mana anak paman yang laki2 itu adalah sebenarnya sebagai wali juga. yaitu keadaan pelaku akad sebagai wali dari kedua belah pihak. apabila ia adalah wali dari kedua belah pihak. atau saudara laki2 jika menikahkan keponakan laki2 dengan keponakan perempuan dari saudaranya yang masih kecil. ia menjawab “iya”.

.. al-Fiqh al-Islami.‟ Karena tiap-tiap mereka adalah wali. lalu Rasulullah menikahkan keduanya.. VII. maka perlu dilakukan undian di antara mereka. maka wanita itu adalah untuk yang pertama.h. Yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah: “Jika ada dua orang wali yang menikahkan.. dan di sisi lain ia sebagai wakil. Abu Daud). beliau bersabda: َ َ ‫َ ْ َ ُ َ ِ ِّ َ ى ُ ِ َ ى‬ َ َ ٍُ ‫عن َس َرةَ، عن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: « َأي ُّ َما ا ْم َر َأ ٍة َز ىوَجا َو ِم ىيان فَيِيَ ِم ْْل ىولِ ِمْنْ ُ َما، َو َأي ُّ َما َرجل َابع‬ ِ ََ َ »‫ب َ ْيعا ِمن َرجوَ ْْي فَي َُو ِم ْْل ىولِ ِمْنْ ُ َما‬ ِ ُ ْ ً “Wanita mana saja yang dinikahkan oleh dua orang wali. Ibnu Sirin. lalu Rasulullah bertanya kepada perempuan “Apakah kamu ridha aku nikahkan dengan si fulan?” ia pun menjawab “iya”. Jika kedua wali tersebut menikahkannya dengan dua orang laki-laki yang berbeda. meskipun wali tersebut yang paling muda dari mereka. maka pernikahan itu sah. hadith ini sahih dengan banyaknya jalan sanad dari perawiperawi lain...yang terakhir yaitu.16 Dalilnya adalah riwayat Samurah dari Nabi Saw. lalu diketahui wali yang lebih dahulu menikahkannya. “Aku yang akan menikahkannya tanpa mengedepankan yang lebih tua. h. maka yang demikian itu dibolehkan. Hadis ini merupakan dalil bagi gambaran pelaku akad adalah wakil bagi kedua belah pihak. Riwayat Abu Daud dari „Uqbah bin „Amir bahwasanya Rasulullah pernah berkata kepada seorang laki2 “apakah kamu ridha aku nikahkan dengan si fulanah?” ia menjawab “iya”. Syafi‟i. Demikianlah pendapat al-Hasan. 64 17 Hasan Ayyub.. al-Auza‟i. al-Tsauri. di satu sisi orang itu sebagai pelaku akad yang sebenarnya.” (HR. maka pernikahan yang sah adalah pernikahan yang lebih awal. 54 . namun tanpa izin dari wali yang lain. Qatadah. yang paling pandai dan yang paling memahami agama. Jika ada salah seorang dari para wali menikahkan wanita dengan seizin dari wanita tersebut. baik yang kedua itu sudah bercampur dengannya atau belum.h.15 13.17 15 16 Wahbah al-Zuhayli. Dua wali menikahkan seorang wanita kepada dua orang yang berbeda Jika seoarang wanita mempunyai dua orang wali. jil. jika mereka saling bertengkar dan semua berkata. Fikih Keluarga. Abu Ubaid dan para pengikut madhab hanafi. lalu ia mengizinkan masing-masing dari keduanya untuk menikahkannya. maka wali yang pertamalah yang lebih berhak. al-Zuhri. b. Fikih Keluarga. 43-45 Hasan Ayyub. Ahmad.

dan ada 4 syarat yang harus terpenuhi di dalamnya –bil ittifaq–: 1. Sehingga apabila berlainan majlis maka akad tidak terjadi. Status hukum ijab qabul dalam satu majlis Shighah = Ijab qabul.18 15. Dalam majlis yang sama (ittihad al-majlis) apabila kedua pelaku akad hadir. Adapun apabila salah satu dari pelaku akad tidak hadir. atau ia melakukan sesuatu yang menunjukkan ia telah meninggalkan majlis akad. Sedangkan menurut jumhur ulama: disyaratkan langsung antara ijab dan qabul. Dan fashil yang panjang itu kadarnya adalah kira2 orang akan menyangka ia berpaling dari qabul. sedangkan menurut Hanafiyah boleh.14. Wilayah ijbar menurut imam Ahmad dan imam Malik adalah ayah atau orang yang diwasiatkan untuk menikahkannya. Hak prioritas wali akrab Menurut fuqaha‟ perwalian dalam nikah terbagi dua yaitu: wilayah ijbar dan wilayah ikhtiyar. Adapun menurut ulama hanafiah wilayah ijbar berlaku bagi semua asabah. Menurut imam syafi‟i yang memiliki hak ijbar adalah ayah dan kakek. Ini semuanya berlaku bagi anak kecil laki2 dan perempuan. atau mendengar penuturan delegasi dan disaksikan oleh para saksi. misalnya wali berkata “aku nikahkan kamu dengan anak perempuanku” lalu pelaku akad ke-2 langsung bangun meninggalkan majlis tanpa mengucapkan qabul. tidak boleh ada pemisah antara keduanya dengan fashil yang panjang. dan akad dilakukan dengan surat atau delegasi. Adapun wilayah ikhtiyar adalah wali harus bermusyawarah dan meminta pendapat gadis yang ingin dinikahkan. apabila terjadi perkara demikian maka akadnya tidak sah menurut ulama Hanafiyah. karena menurut jumhur wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. lalu kemudian ia menjawab “aku terima”. Sedangkan untuk orang gila selain dari wali tersebut ditambah lagi hakim. Maka kalau begitu kejadiannya. maka ketika itu akad harus dilakukan dalam satu majlis. sudah dianggap 18 Muhadarat 154. Wilayah ijbar adalah wali berhak menikahkan gadis yang berada dalam tanggungjawabnya tanpa perlu mempertimbangkan pendapat siapapun. Dan pembicaraan lain yang tidak ada kaitannya dengan ijab qabul akan merusak akad. dan penuturan delegasi adalah sama dengan penuturan pengutusya. Namun menurut imam Ahmad orang yang diwasiatkan baru memperoleh hak ijbar yaitu ketika ayah sudah menentukan calon pengantin pria. . karena surat ketika itu posisinya dalah sama dengan perkataan penulis suratnya. maka menurut ulama Hanafiyah majlis akad tersebut adalah : dengan membaca surat didepan saksi.

22 Fiqh sunnah jil 2: 86 20 19 . Jika pelaku akad bisa berbicara. maka menurut ulama Hanafiyah akad nikah sah dengan surat atau delegasi. al-Fiqh al-Islami. Namun jika tidak dibaca surat atau tidak didengarkan penuturan utusan di depan saksi. al-Fiqh al-Islami. Kedudukan hukum ijab qabul dengan surat atau delegasi Akad nikah dengan surat atau delegasi sah. Muhadharat fi ‘Aqd Zawaj wa Atsaruh.h. Sesuai qabul dengan ijab. (Dar al-fikri al-‘arabi.80-81 21 Wahbah al-Zuhayli. juga harus mendengar qabul yang diucapkan. t. maka akad tidak sah. b. Malikiyah.20 Sedangkan menurut ulama Syafi‟iyah. menurut Abu Hanifah dan Muhammad.19 16. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah:22 Fiqh islami jil..h. ia memiliki hak untuk menuntut fasakh nikah. karena mereka mensyaratkan saksi dari kedua belah pihak pelaku akad. Kekuasaan wali terhadap janda Wali wajib bermusyawarah dan meminta pendapat ketika hendak menikahkan gadis dan janda. Jika seandainya kedua orang yang melakukan akad hadir dalam majlis dan keduanya mampu untuk berbicara. tidak boleh menikahkannya tanpa izin darinya. namun salah seorang dari keduanya tidak hadir dalam majlis. h. dengan syarat harus diucapkan qabul ketika surat atau delegasi itu sampai.. saksi harus mengetahui isi kandungan surat. 2. Ijab harus segera. karena posisi surat adalah seperti kinayah. Akad yang dilangsungkan sebelum meminta izin kepadanya dianggap tidak sah... 3. Perkataan Ijab harus tetap dan konsisten tidak boleh dirubah2 sampai qabul diucapkan. jika wali perempuan mengatakan “aku nikahkan engkau dengan khadijah” lalu dijawab “saya terima nikah dengan fathimah” maka akad tidak sah. tidak boleh dimajukan ke depan seperti ucapan “aku nikahkan engkau dengan putriku besok hari”. karena asal ijab qabul adalah dengan lafadh. 45. Muhammad Abu Zahrah. maka tidak sah akadnya dengan surat atau delegasi. 4. 49-52 Wahbah al-Zuhayli. dan Hanabilah akad nikah dengan surat bagi orang yang mampu berbicara baik ia hadir atau tidak hadir dalam majlis.21 17. akadnya tidak sah. 46. VII.th). h. atau “aku nikahkan engkau jika abangnya kembali dari safar” maka akad seperti ini tidak sah. namun dengan ketentuan sebagai berikut: a.satu majlis.

syafi‟iyah. selama 3 bulan. Firman Allah mengenai „iddah gadis kecil. (جس خأمر) يطوب أمرىا وجشاور. mereka berdalil dengan firman Allah Swt. h. . عن َأ ِِب سوَ َم َة، َأن َأ َاب ىُرْي َرةَ، حدىَثَ ُ ْم: َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: «َل ثُ ْنكح اْل ِ ُّّي حَّت جُس َخأِ َم َر، َوَل‬ َْ َ َ ‫ى‬ ْ ‫ى ى َ ى ُ ِ َ ىَ َ َ َ ُ َ َ ى‬ َ َ ِ‫ُ َ ى‬ )‫ثُ ْنكح ام ِبك ُر حَّت جُس خَأِذن» كَامُوا: َاي َرسول اَّلل، َون ْي َف ا ْذُنُ َا؟ كَال: « َأن جَسكت» ( رواه امبخاري‬ َ ُ ْ ْ َ ََ ْ ‫َُ ْ َى‬ ّ .23 Menurut aisyah ra.     ﴿       ﴾    “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuanperempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya).‫(اْلّي) امثيب ويه اميت س بق ميا أن حزوجت. (امبكر) اميت مل ثزتوج بعد‬ ]‫(أن جسكت) اس خحياء مع كرينة ثدل عَّل رضاىا أوعدم كرينة ثدل عَّل رفضيا من بكء أوحضم وحنو ذكل‬ 18. 193.ِ ُّ َ ُ َ َ‫َ ْ ِ َ ٍ ى ى َ ى ُ ِ َ ى‬ ‫1. jil VII. عن ا ْبن عبىاس، َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: «امث ى ِي ّب َأحق ِبنَ ْفسيَا، َوامْ ِبك ُر ي َس خَأِ ِم ُرىَا َأبُوىَا، َوا ْذُنُ َا‬ ْ ْ ّ َُ )‫ُصاُتُ َا» ( رواه امنسايئ‬ َ ‫2. dan hanabilah tidak ada boleh bagi hakim dan para wali untuk menikahkan anak perempuan kecil dibawah umur 9 tahun. anak perempuan sudah dianggap gadis ketika ia berumur 9 tahun dalam sebuah hadis yang marfu‟ dari ibnu umar dari Aisyah “apabila anak perempuan sudah berumur 9 tahun maka ia adalah gadis” maksudnya adalah anak perempuan yang berumur 9 thn sama dengan hukum gadis yaitu ketika hendak dinikahkan harus dimintai persetujuannya lebih dahulu. alThalaq: 4) 23 24 Fiqh islami wa adillatuh. berikut: 1. Ayah menikahkan gadis kecil Jumhur ulama –termasuk di antara mereka imam madhab yang empat– berpendapat boleh menikahkan gadis kecil dengan laki-laki yang kufu‟.” (QS.24 19. dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan. Wahbah: 193. Kriteria kegadisan Menurut ulama Malikiyah.

26 Dalam hal ini Ibnu Qayyim berkata “tidak boleh seorang ayah membelanjakan sedikitpun dari harta anak perempuan yang sudah baligh dan sehat akalnya. jil VII.Dalam ayat di atas Allah Swt. h. Maka bagaiman boleh bagi seorang ayah untuk menikahkan anak perempuan tadi tanpa kerelaannya. Muhadarat. Gadis belum dewasa dinikahkan oleh wali selain ayah Para fuqaha‟ berselisih pendapat tentang pernikahan gadis yang sudah baligh. Gadis dewasa dinikahkan tanpa persetujuan Menurut pendapat Jumhur fuqaha‟ gadis dewasa yang berakal sehat tidak boleh dinikahkan tanpa persetujuan. sama dengan ‘iddah wanita yang monopause. maka nash tersebut menunjukkan bahwa gadis kecil juga menikah dan ada kemungkinan dicerai. Rasulullah menikah dengan Aisyah ketika ia masih kecil. dan sebagaimana kita ketahui. 3. juga tidak ada hak bagi ayah memaksakan anak perempuan tersebut untuk mengeluarkan hartanya sekalipun sedikit tanpa kerelaannya. Menurut ulama Hanafiyah.”27 21. h. menjelaskan batas ‘iddah gadis kecil yang belum haidh selam 3 bulan. Rasulullah juga pernah menikahkan anak perempuan dari pamannya Hamzah dengan anak laki-laki Abu Salamah. gadis yang sudah baligh boleh menikahkan dirinya sendiri. 2. akan tetapi walinya harus bermusyawarah dengan perempuan dewasa tersebut untuk memilihkan calon suami baginya. 157 . yang masih kecil maupun sudah dewasa. Muslim) Dan yang menikahkan Aisyah adalah ayahnya Abu Bakar Ra. sedangkan 25 26 Fiqh islami wa adillatuh. ketika keduanya masih kecil. 154 27 Muhadarat. Perintah untuk menikahi perempuan (al-inats). ‫عن عائشة، كامت: «حزوجين امنب صَّل هللا عويو وسَّل وأان بنت ست س نْي، وبىن ِب وأان بنت جسع‬ »‫س نْي‬ (HR. 179-180. h.25 20. Allah berfirman: (QS.al-nur:32)﴾   ﴿ al-ayimu adalah perempuan yang tidak memiliki suami. kecuali dengan kerelaan darinya. „iddah tidak terjadi kecuali setelah menikah dan bercerai. menyerahkan kehormatannya kepada orang yang tidak ia sukai.

Janda dewasa dinikahkan Wali wajib bermusyawarah dan meminta pendapat ketika hendak menikahkan gadis dan janda. baik itu yang masih perawan ataupun sudah janda. jil VII. (جس خأمر) يطوب أمرىا وجشاور. عن ا ْبن ع ىباس، َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: «امث ى ِي ّب َأحق ِبنَ ْفسيَا، َوامْ ِبك ُر ي َس خَأِ ِم ُرىَا َأبُوىَا، َوا ْذُنُ َا‬ ْ ْ ّ َُ )‫ُصاُتُ َا» ( رواه امنسايئ‬ َ ‫2.28 Wali selain ayah dan kakek hanya boleh menikahkan gadis yang belum dewasa setelah mendapatkan izinnya. عن َأ ِِب سوَ َم َة، َأن َأ َاب ىُريْ َرةَ، حدىَثَ ُ ْم: َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: «َل ثُ ْنكح اْل ِ ُّّي حَّت جُس خَأِ َم َر، َوَل‬ َ َ ‫ى‬ ْ ‫ى ى َ ى ُ ِ َ ىَ َ َ َ ُ َ َ ى‬ َ َْ َ ِ‫ُ َ ى‬ )‫ثُ ْنكح ام ِبك ُر حَّت جُس َخأِذن» كَامُوا: َاي َرسول اَّلل، َون ْي َف ا ْذُنُ َا؟ كَال: « َأن جَسكت» ( رواه امبخاري‬ َ ُ ْ ْ َ ََ ْ ‫َُ ْ َى‬ ّ . tidak boleh menikahkannya tanpa izin darinya. dan tidak perlu mendapat izinnya seandainya gadis tersebut masih perawan. ia memiliki hak untuk menuntut fasakh nikah. dan ketika dewasa ia boleh memilih. Akad yang dilangsungkan sebelum 28 29 Fiqh islami wa adillatuh. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan al-awza‟i boleh bagi semua wali untuk menikahkannya. ia tidak berhak menikahkannya secara paksa. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah:30 ِ ُّ َ ُ َ َ‫َ ْ ِ َ ٍ ى ى َ ى ُ ِ َ ى‬ ‫1. Akad yang dilangsungkan sebelum meminta izin kepadanya dianggap tidak sah. (امبكر) اميت مل ثزتوج بعد‬ ]‫(أن جسكت) اس خحياء مع كرينة ثدل عَّل رضاىا أوعدم كرينة ثدل عَّل رفضيا من بكء أوحضم وحنو ذكل‬ 23. harus mendapat izinnya seandainya ia seorang janda. Sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Syafi‟iyyah.jumhur fuqaha‟ gadis yang sudah baligh harus dinikahkan oleh walinya. apabila ia dinikahkan maka akadnya tidak sah. 193 Fiqh sunnah: 86 30 Fiqh sunnah jil 2: 86 . akan tetapi menurut ulama Hanabilah para wali harus mendapatkan izinnya ketika hendak menikahkan gadis tersebut. Janda belum dewasa dinikahkan Wali wajib bermusyawarah dan meminta pendapat ketika hendak menikahkan gadis dan janda.‫(اْلّي) امثيب ويه اميت س بق ميا أن حزوجت. Menurut jumhur ulama gadis kecil tidak boleh dinikahkan oleh wali selain ayah dan kakek. 29 22. tidak boleh menikahkannya tanpa izin darinya. baik ia masih kecil ataupun sudah dewasa. h.

Karena para fuqaha‟ bersepakat bahwa tujuan adanya saksi adalah untuk menampakkan dan mengumumkan pernikahan di kalangan masyarakat. Karena rahasia tidak terjadi antara 4 orang. (امبكر) اميت مل ثزتوج بعد. Menurut Abu Hanifah kesaksian oleh 2 saksi sudah cukup sebagai „ilan. (أن‬ ]‫جسكت) اس خحياء مع كرينة ثدل عَّل رضاىا أوعدم كرينة ثدل عَّل رفضيا من بكء أوحضم وحنو ذكل‬ 24. ia memiliki hak untuk menuntut fasakh nikah. عن ا ْبن ع ىباس، َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: «امث ى ِي ّب َأحق ِبنَ ْفسيَا، َوامْ ِبك ُر ي َس خَأِ ِم ُرىَا َأبُوىَا، َوا ْذُنُ َا‬ ْ ْ ّ َُ )‫ُصاُتُ َا» ( رواه امنسايئ‬ َ ‫2. akan tetapi kalau rahasia sudah melebihi 2 31 32 Fiqh sunnah jil 2: 86 Muhadarat.meminta izin kepadanya dianggap tidak sah. h. . Kedudukan pemberitahuan akad nikah Pemberitahuan akad nikah merupakan salah satu dari syarat sahnya nikah. haruslah diumumkan dan dipersaksikan”. عن َأ ِِب سوَ َم َة، َأن َأ َاب ىُرْي َرةَ، حدىَثَ ُ ْم: َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: «َل ثُ ْنكح اْل ِ ُّّي حَّت جُس َخأِ َم َر، َوَل‬ َْ َ َ ‫ى‬ ْ ‫ى ى َ ى ُ ِ َ ىَ َ َ َ ُ َ َ ى‬ َ َ ِ‫ُ َ ى‬ )‫ثُ ْنكح ام ِبك ُر حَّت جُس َخأِذن» كَامُوا: َاي َرسول اَّلل، َون ْي َف ا ْذُنُ َا؟ كَال: « َأن جَسكت» ( رواه امبخاري‬ َ ُ ْ ْ َ ََ ْ ‫َُ ْ َى‬ ّ ‫(اْلّي) امثيب ويه اميت س بق ميا أن حزوجت. 91. Yaitu hadirnya dua orang saksi dalam akad nikah. karena yang membedakan antara yang halal dengan yang haram adalah dari segi pengumumannya. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah:31 ِ ُّ َ ُ َ َ‫َ ْ ِ َ ٍ ى ى َ ى ُ ِ َ ى‬ ‫1. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah: ‫عن عَائِشَ َة َأن َرسول اَّلل صَّل اَّلل عَوَ ْيو َوسَّل كَال: "َل ِنكح ا ىَل بِو ٍِّل َوشاىدَ ي عَدْ لٍ ، َو َما ََكن ِمن‬ ْ ِ َ َ َ َ َ َ َ‫ى ُ َ ى ِ َ ى ى ُ ِ َ ى‬ ْ َ َْ ّ َ َ َ َ "ُ‫ِنكحٍ عََّل غَ ِْْي ذ ِكل فَي َُو َابطل، فَان جَشَ اج ُروا، فَامسوْطان َو ِل َمن ََل َو ِل َهل‬ ْ ُّ ُ َ ُّ َ ْ ٌ ِ ‫ى‬ ّ Dengan hadirnya 2 orang saksi serta 2 orang pelaku akad telah terwujud tujuan pemberitahuan („ilan).32 Apakah kesaksian 2 orang dianggap cukup untuk pemberitahuan („ilan) akad nikah? Dalam hal ini terjadi selisih pendapat antara para fuqaha‟ sebagai berikut: a. Rasulullah bersabda: )‫(أعلنوا النكاح ولو بالدف‬ Abu Bakar pernah berkata “tidak boleh nikah sir (sembunyi-sembunyi). (جس خأمر) يطوب أمرىا وجشاور. sekalipun mereka saling sepakat untuk merahasiakan akad ini.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aisyah ra. ia berkata. kami beri salam dan mendoakan semoga diberkati. penegasan Rasulullah bahwa tidak sah nikah tanpa kehadiran saksi merupakan dalil bahwa saksi adalh keharusan dalam akad nikah. Kemudian. h. tanpa butuh kepada hadirnya saksi. 149. c. Setelah adanya „ilan barulah dibutuhkan hadir saksi. „ilan saja cukup untuk sahnya akad. Fiqh islami wa adillatuh. 124. Lalu Rasulullah berkata “Sesungguhnya Anshar adalah kaum yang suka kepada pantun. jil 2. kenapa tidak kalian ucapkan “atainakum atainakum. Cara pemberitahuan akad nikah Tidak ditemukan ketentuan khusus bagaimana cara memberitahukan akad nikah dalam literatur2 fikih. Rasulullah bersabda: 33 34 Fiqh sunnah. fahayyana wa hayyakum”34 26. ketika itu Aisyah termasuk yang mengantarkan gadis itu kepada suaminya. maka dengan adanya „ilan sebenarnya maksud tersebut sudah sampai. lalu kami pun pulang. Turmudzi) Menurut wahbah zuhaili tidak apa2 mengadakan nyanyian atau pantun2 yang mubah dalam pemberitahuan akad nikah. Kedudukan saksi dalam akad nikah Dari Aisyah Ra. ketika kami pulang dari tempat itu Rasulullah bertanya kepada kami “Apa yang kamu ucapkan wahai Aisyah? Aisyah menjawab. bahwasanya ia pernah ikut serta menikahkan seorang gadis yatim dengan seorang laki2 dari Anshar. Karena tujuan saksi sebenarnya adalah untuk diketahui oleh umum. h. menurut hemat penulis itu semua dikembalikan kepada adat kebiasaan di daerah masing2 selama tidak keluar dari koridor syari‟ah. sehingga menurut mereka persaksian tidak cukup sebagai „ilan. b.33 ِ ‫ى‬ (– ‫َأن امنى ِب صَّل هللا عَوَ ْيو َوسَّل كَال: ) َأع ِو ُنوا ام ِنّكح َواْضبُوا عَوَ ْيو ِابمْ ِغ ْر َابلِ – ي َ ْع ِين ادلُّ ف‬ ْ َ َ‫ى ى َ ى ُ ِ َ ى‬ ِ ْ َ َ Rasulullah Saw. Akan tetapi yang menjadi syarat sah nikah adalah mutlaq „ilan. bersabda “umumkanlah pernikahan dan tabuhlah rebana” (HR. Pendapat yang kedua –dan ini yang masyhur menurut pendapat imam Malik– bahwasanya hadirnya saksi bukanlah syarat sahnya akad nikah. .orang sudah dianggap pemberitahuan secara terang-terangan. karena kehadiran saksi menurut mereka adalah syarat halalnya jima‟. jil VII. dan dengan kehadiran mereka sudah cukup sebagai „ilan. 25.

tidak ada yang berbeda pendapat mengenai hal ini kecuali bebrapa ulama dari kalangan mutaakkhirin. maka wajib ditunaikan. tidak bertentangan dengan syari'at. 65-66. misalnya wanita mensyaratkan untuk ditempatkan dalam rumah sendiri tidak bercampur dengan keluarga lain. atau tidak mengajaknya bermusafir ke tempat yang jauh kecuali dgn izin keluarganya dan sebagainya. . Sebagian ulama mengemukakan. Tirmidzi mengemukakan.” Demikian pendapat Imam Ahmad dan Ishak. Namun jika syarat fasid.” (HR. Ibnu Hibban. cukup hanya dengan mengumumkannya saja. Jika mereka bertengkar. Fikih Keluarga. maka akadnya sah dan 35 Hasan Ayyub.. Namun pendapat kuat adalah yang menyatakan bahwa tidak sah pernikahan tanpa disaksikan oleh dua orang saksi yang adil sbegaimana disebutkan dalam hadith di atas. maka hakim adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali. barangsiapa yang menikah tidak mengikuti aturan tersebut maka nikahnya batal. Namun diriwyatkan dari Imam Malik bahwa ia menganggap tidak diperlukan saksi dalam pernikahan. Syarat yang sifatnya bertentangan dengan yang dikehendaki oleh akad nikah Madhab hanafiah: apabila syarat itu shahih dan sesuai dengan konteks akad.h. Dan kata nafi dalam sabda Rasulullah “Tidak ada pernikahan” menjadikan persaksian sebagai syarat dalam pernikahan. “Diperbolehkan kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan dalam satu pernikahan. Dan ketika ini terjadi maka perwalian berpindah kepada hakim.” Mereka berkat “Tidak ada pernikahan kecuali dengan persaksian”. karena tanpa saksi pernikahan dianggap tidak pernah ada. sanadnya hasan) Yang dimaksud dengan pertengkaran dalam hadith di atas adalah penolakan para wali terhadap akad nikah yang dilaksanakan. dan hadith-hadith lain yang menjelaskan hal ini. baik itu bertentangan dengan syari'at yaitu yang tidak sesuai dengan konteks akad atau tidak dibolehkan dalam syari'at.35 27.‫عن عَائِشَ َة َأن َرسول اَّلل صَّل اَّلل عَوَ ْيو َوسَّل كَال: "َل ِنكح ا ىَل بِو ٍِّل َوشاىدَ ي عَدْ لٍ ، َو َما ََكن ِمن‬ ْ ِ َ َ َ َ َ َ َ‫ى ُ َ ى ِ َ ى ى ُ ِ َ ى‬ ْ َ َْ ّ َ َ َ َ "ُ‫ِنكحٍ عََّل غَ ِْْي ذ ِكل فَي َُو َابطل، فَان جَشَ اج ُروا، فَامسوْطان َو ِل َمن ََل َو ِل َهل‬ ْ ُّ ُ َ ُّ َ ْ ٌ ِ ‫ى‬ ّ “Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil. Orang-orang yang menjadikan persaksian sebagai syarat nikah menjadikan hadith di atas sebagai dalil.. “Para ulama dari kalangan sahabat dan para tabi‟in dan yang lainnya telah mengamalkan hal tersebut.

atau suami mensyaratkan istri harus menafkahi diri sendiri. tidak boleh mengeluarkannya dari rumah orangtuanya dan sebagainya.  Syarat sahih yang terjadi dalam pernikahan adalah yang sesuai dengan akad nikah.  Syarat fasid adalah: yang bertentangan dengan kandungan akad nikah namun tidak merusak maksud asli nikah yaitu jima‟.  Syarat shahih tidak makruh adalah: yang sejalan dengan konteks akad nikah. makruh dan ghairu makruh.36 Mazhab syafi‟iyyah: syarat ada 2 macam. atau syarat yang tidak sesuai dengan substansi pernikahan. apabila ia sudah bercampur maka akad dilanjutkan dan syarat dibatalkan. Seperti syarat harus menafkahi istri. shahih dan fasid. karena bertentangan dengan maksud dan tujuan pernikahan. karena aslinya suamilah yang menanggung nafkah istri. Seperti suami tidak beleh menikahi wanita lain. sahihah dan fasidah. Makruh bagi wanita mensyaratkan bagi calon suaminya untuk menceraikan salah satu dari istrinya yang dahulu. seperti syarat nafakah dan pemerataan giliran antara semua istri. Hukum syarat ini adalah membatalkan akad. 36 Wahbah: 55. namun sifatnya kadang memberatkan salah stu pihak. seperti calon istri mensyaratkan suami tidak tinggal di rumah2 istri yang lain. atau tidak membewanya keluar dari daerahnya. Syarat shahih terbagi 2. harus bemuamalah dengan baik. dan wajib menfasakhnya selama suami belum bercampur dengan istri tersebut. Seperti syarat untuk menikahinya hanya dalam kurun waktu tertentu saja. ini syarat fasid. Misal syarat fasid adalah suami tidak boleh menikah lagi.syaratnya batal. . tidak ada nafakah baginya. atau istri harus patuh kepada suami dan tidak keluar rumah tanpa seizin darinya.  Syarat fasid adalah: yang menafikan atau bertentangan dengan substansi dan tujuan pernikahan. namun tidak merusak tujuan pernikahan seperti tidak mau makan makanan tertentu. Suami mensyaratkan istri harus ditanggung nafkahnya oleh ayah atau walinya. Madhab Malikiyah: syarat dalam akad nikah ada 2. dan sebagainya. Hukum syarat seperti gambaran di atas adalah tidak memiliki pengaruh apa2. mengkhususkan suami harus tinggal dirumahnya selama 1 minggu atau setiap bulannya. tidak boleh mengajaknya musafir. dan akad tetap sah .  Syarat shahih namun makruh: yang tidak berhubungan dengan akad namun tidak bertentangan dengan akad. tidak boleh mengajaknya untuk bermusafir.

Syarat yang sejalan dengan akad nikah 37 Wahabah 56. tidak mengeluarkannya dari rumah atau negerinya. sahih dan fasid. tidak boleh menggaulinya kecuali malam saja atau siang saja. nafkah tidak ditanggung suami. Ada 3 macam yaitu: 1. atau suami harus menceraikannya. Misal syarat ini: istri mensyaratkan untuk diberikan nafakah dan dipergauli dengan baik. karena tidak merusak maksud asli nikah yaitu jima‟ dan istimta‟. karena menggauli istri adalah hak suami baik itu siang ataupun malam. Karena syarat ini bertentangan dengan maksud pernikahan. Misal syarat di pihak laki: wanita harus yang cantik. baik itu syarat dari wanita ataupun syarat atas wanita. dan tidak kandungan syarat tersebut bukan hal yang dilarang syari'at serta tidak bertentangan dengan maksud sebenarnya akad nikah. seperti syarat: suami tidak boleh menggaulinya sama sekali. akad tidak batal. namun dalam syarat itu ada manfaat bagi salah satu pelaku akad. tidak boleh mamadukannya.  Namun jika suami yang mensyaratkan untuk tidak menggauli istri kecuali siang. terpelajar. atau tidak mengajaknya bermusafir. maka akad nikah batal. dan ia bebas menentukan waktunya. maka akad juga batal.Hukum syarat ini: akad nikah sah.37 Madhab hanbali: syarat menurut mereka sama seperti madhab syafi‟i. tidak ada aib. tidak boleh menggaulinya kecuali 1x dalam setahun. Syarat sahih: yang sesuai dengan akad nikah maupun yang tidak sesuai dengan akad nikah. dan syarat rusak (fasid) karena bertentangan dengan kandungan akad nikah. Kalau mensyaratkan untuk tidak saling mewarisi. Hukum syarat ini harus ditunaikan karena ada manfaatnya. dan sebagainya. 28.  Namun jika syarat itu bertentangan dengan maksud asli pernikahan. .