STUDI ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENDAPAT SATRIA EFFENDI M.

ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON S K R I PS I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Dalam Ilmu Hukum Islam

Oleh:

BAABULLAH
NIM. 04531001 AL-AHWAL ASY-SYAKHSYIYYAH FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2008

STUDI ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Dalam Ilmu Hukum Islam

Oleh:

BAABULLAH
NIM. 04531001 AL-AHWAL ASY-SYAKHSYIYYAH FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2008

i

NOTA PEMBIMBING
Hal : Persetujuan Munaqosyah Skripsi Kepada Yth. Bapak Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Setelah secara cermat kami baca/teliti kembali dan telah diadakan

perbaikan/penyempurnaan sesuai dengan petunjuk dan arahan kami, maka kami berpendapat bahwa skripsi Saudara: Nama NIM Fakultas Jurusan Judul : BAABULLAH : 04531001 : FAKULTAS AGAMA ISLAM : AL-AHWAL ASY-SYAKHSYIYYAH : STUDI ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam Sidang Ujian Munaqosyah Skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya. Untuk itu kami ikut mengharapkan agar dapat segera dimunaqosyahkan. Atas perhatian Bapak, kami sampaikan terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Surabaya, Pembimbing,

Drs. MIFTAHUL ARIFIN

ii

LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan dalam Sidang Ujian Munaqosyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya pada: Hari Tanggal Tempat : Rabu : 20 Agustus 2008 : Kampus FAI UMSurabaya Jl. Gadung III-7

Dan sidang telah menerima sebagai pelengkap tugas dan salah satu syarat Ujian Akhir Program Strata Satu (S-1) guna memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Hukum Islam (Syari’ah) pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya. Maka dengan ini kami sahkan hasil Sidang Ujian Munaqosyah di atas.

Mengesahkan: FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA Dekan,

Drs. MAHMUDI Tim Penguji Skripsi : Ketua : Drs. Miftahul Arifin ( ( ( ) ) )

Sekretaris : Drs. Syamsuddin, M.Ag Penguji : Drs. Sueb, M.Pd.I

iii

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puja puji dan lantun syukur hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam hanya patut untuk Rasulullah Muhammad SAW. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana (S-1) pada jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya. Adapun skripsi ini mengambil judul “ANALISIS HUKUM ISLAM MENGENAI PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON”. Dengan selesainya masa penelitian, penulisan dan penyusunan skripsi yang berlangsung kurang lebih 4 (empat) bulan ini, penulis menghaturkan ucapan terima kasih teruntuk: 1. Drs. Mahmudi, selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas

Muhammadiyah Surabaya. 2. Drs. Syueb, MPd.I., selaku Ketua Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya. 3. Drs. Miftahul Arifin, selaku Dosen Pembimbing Skripsi atas arahan dan panduannya dalam penyusunan skripsi. 4. Jajaran dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya, terutama jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah yang telah memberi ilmu yang bermanfaat kepada penulis. 5. Jajaran pegawai di lingkungan Kampus Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya atas bantuan, motivasi dan dukungannya. 6. Kedua orangtua atas cinta kasihnya; Kakak dan adik atas dukungannya yang tak ternilai. iv

7. Kontributor utama yang tidak mau disebut namanya, atas pemberian buku rujukan utama secara sukarela yang menjadi sumber utama skripsi ini. 8. Rekan-rekan mahasiswa atas sumbangsih tenaga dan pikirannya. 9. Kontributor lain baik langsung maupun tidak langsung yang membantu proses penyusunan skripsi ini. 10. Dan semua pihak yang tidak disebut namanya dengan tetap mengingat jasa dan perannya bagi penulis. Semoga segala bantuan yang telah diberikan oleh para pihak tersebut diatas dihitung di hadapan Allah SWT kelak. Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Sebab itu kritik dan saran membangun penulis harapkan dan terima dengan lapang dada. Besar harapan penulis agar karya ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi khalayak ramai. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Surabaya, Agustus 2008 Penyusun

BAABULLAH

v

ABSTRAK
STUDI ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON Oleh NIM Fakultas Jurusan Dosen Pembimbing : BAABULLAH : 04531001 : Agama Islam : Al-Ahwal As-Syakhsyiyyah (Syariah) : Drs. Miftahul Arifin

Penelitian ini adalah sebuah studi analisis berdasarkan hukum Islam yang mencoba menguak apa dan bagaimana pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai hukum Akad Nikah melalui telepon berdasarkan putusan No. 1751/P/1989 pada Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Pendapat Satria Effendi M. Zein yang dimaksud adalah pendapat tertulis beliau yang tertuang dalam bukunya Analisis Yurisprudensi Mengenai Masalah Keluarga Islam Kontemporer Indonesia. Pendapat tertulis Satria Effendi M. Zein ini dikaji oleh peneliti dari segi dasar dan metode yang dipakai oleh Satria Effendi M. Zein sekaligus kesimpulan beliau berdasarkan dasar dan metode yang beliau pakai. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Satria Effendi M. Zein menawarkan dua pendapat yang bertentangan, selama belum ada kekuatan hukum tetap, yakni madzhab Syafi'i yang tidak mengesahkan praktek akad nikah melalui telepon, dan madzhab Hanafi dan Hambali yang membolehkan, walau beliau cenderung memilih pendapat kedua dengan alasan demi mengembangkan praktek akad nikah yang lebih mengikuti zaman. Selain itu, terungkap bahwa beliau menggunakan metode komparatif vertikal, dalam arti beliau memperbandingkan antara pendapat para ulama madzhab yang empat, kemudian menyimpulkan dengan berpegang teguh pada maqasid syariah. Dan dasar-dasar yang beliau pakai, selain pendapat ulama' juga qaidah ushuliyah dan alasan-alasan pensyariatan ala madrasah moderat. Kata Kunci : Hukum Islam, Satria Effendi, Akad Nikah melalui telepon

vi

PEDOMAN TRANSLITERASI
ARAB ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ VOKAL PENDEK َُِa i u b t ts j ħ kh d dz r z s sy sh dh LATIN ARAB ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫ههه‬ ‫ء‬ ‫ي‬ ‫ـة‬ LATIN th zh ' gh f q k l m n w h ' y t DIFTONG m‫أ َي‬ ‫أ َو‬ m ai au

VOKAL PANJANG ‫ـــأـ‬ ‫ــِي‬ m ‫ـ‬ m ‫ــو‬ â î û

vii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................i NOTA PEMBIMBING.........................................................................................ii LEMBAR PENGESAHAN................................................................................iii KATA PENGANTAR..........................................................................................iv ABSTRAK..........................................................................................................vi PEDOMAN TRANSLITERASI........................................................................vii DAFTAR ISI.....................................................................................................viii BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH..........................................................1 B. RUMUSAN MASALAH.........................................................................4 C. KAJIAN PUSTAKA.................................................................................4 D. TUJUAN PENELITIAN..........................................................................5 E. KEGUNAAN HASIL PENELITIAN.......................................................6 F. DEFINISI OPERASIONAL.....................................................................7 G. METODE PENELITIAN.........................................................................8 1. Data yang Dikumpulkan.....................................................................8 2. Sumber Data........................................................................................8 3. Teknik Pengumpulan Data..................................................................9 4. Teknik Analisis Data...........................................................................9 H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN..........................................................10

viii

BAB II KAJIAN TEORITIS HUKUM PERKAWINAN ISLAM A. PENGERTIAN PERKAWINAN............................................................12 1. Pengertian Nikah secara Bahasa.......................................................12 2. Pengertian Nikah secara Istilah.........................................................13 B. NASH-NASH PENSYARIATAN PERKAWINAN...............................17 C. HUKUM PERKAWINAN......................................................................19 1. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Maliki.................................19 2. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Hanafi.................................22 3. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Syafi'i..................................25 4. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Hambali..............................26 D. RUKUN PERKAWINAN.......................................................................28 1. Menurut Madzhab Maliki.................................................................29 2. Menurut Madzhab Syafi'i..................................................................30 E. SYARAT PERKAWINAN......................................................................30 1. Menurut Madzhab Hanafi.................................................................31 2. Menurut Madzhab Syafi'i..................................................................35 3. Menurut Madzhab Hambali..............................................................39 4. Menurut Madzhab Maliki.................................................................40 F. HIKMAH PERKAWINAN.....................................................................44

BAB III PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON

ix

A. BIOGRAFI SATRIA EFFENDI M. ZEIN..............................................48 1. Riwayat Pendidikan...........................................................................48 2. Profesi dan Jabatan yang Pernah Diemban.......................................49 3. Hasil Pemikiran dan Karya Tulis.......................................................50 B. PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON..................................................50 1. Hakikat dan Kedudukan Ijab Kabul dalam Akad Nikah...................51 2. Dua Pendapat mengenai Tafsiran dari Ittihad Al-Majelis.................52 3. Kesimpulan Satria Effendi M. Zein..................................................60 C. DASAR YANG DIPAKAI OLEH SATRIA EFFENDI M. ZEIN..........63 1. Dari As-Sunnah.................................................................................63 2. Dari Literatur.....................................................................................64 3. Dari Peraturan atau Undang-Undang................................................65 D. METODE YANG DIPAKAI OLEH SATRIA EFFENDI M. ZEIN.......65

BAB IV ANALISIS A. ANALISIS SECARA UMUM................................................................67 1. Kerangka Pendapat Satria Effendi M. Zein......................................67 2. Karakteristik Pendapat Satria Effendi M. Zein.................................68 3. Kelebihan Pendapat Satria Effendi M. Zein......................................70 4. Kekurangan Pendapat Satria Effendi M. Zein..................................72 B. ANALISIS ATAS DASAR SATRIA EFFENDI M. ZEIN ....................73

x

C. ANALISIS ATAS METODE SATRIA EFFENDI M. ZEIN..................73

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN.......................................................................................77 B. SARAN...................................................................................................78

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

xi

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH Urusan perkawinan di Indonesia dipayungi oleh Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 serta diatur ketentuannya dalam Kompilasi Hukum Islam. Saripati aturan-aturan Islam mengenai perkawinan, perceraian, perwakafan dan pewarisan ini bersumber dari literatur-literatur fikih Islam klasik dari berbagai madzhab yang dirangkum dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Kedua dasar hukum mengenai perkawinan dan urusan keluarga tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan hukum bagi rakyat Indonesia yang akan melaksanakan perkawinan. Namun dalam praktek pelaksanaan perkawinan yang berlaku di masyarakat, banyak muncul hal-hal baru yang bersifat ijtihad, dikarenakan tidak ada aturan yang tertuang secara khusus untuk mengatur hal-hal tersebut. Kurang lebih satu dekade yang lalu, muncul peristiwa menarik dalam hal pelaksanaan akad nikah yang dilakukan secara tidak lazim dengan menggunakan media telepon. Kemudian status pernikahan ini dimohonkan pengesahannya melalui Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan status hukumnya dikukuhkan dengan dikeluarkannya Surat Putusan No. 1751/P/19891. Meski Pengadilan Agama Jakarta Selatan mengesahkan praktek
Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Kencana, Jakarta, 2004, hal. 2
1

1

2 semacam ini, namun putusan ini tetap dianggap riskan. Kabarnya, Mahkamah Agung menegur hakim yang memeriksa perkara tersebut karena dikhawatirkan menimbulkan preseden yang tidak baik2. Peristiwa yang serupa dengan itu terulang kembali. Kali ini praktek akad nikah tertolong dengan dunia teknologi yang selangkah lebih maju dengan menggunakan fasilitas video teleconference. Teknologi video teleconference lebih mutakhir dari telepon, karena selain menyampaikan suara, teknologi ini dapat menampilkan gambar/citra secara realtime melalui jaringan internet. Hal ini seperti yang dipraktekkan oleh pasangan Syarif Aburahman Achmad ketika menikahi Dewi Tarumawati pada 4 Desember 2006 silam. Ketika pelaksanaan akad nikah, sang mempelai pria sedang berada di Pittsburgh, Amerika Serikat. Sedangkan pihak wali beserta mempelai wanita berada di Bandung, Indonesia. Kedua belah pihak dapat melaksanakan akad nikah jarak jauh berkat layanan video teleconference dari Indosat3. Hal ini tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pasangan Sirojuddin Arif dan Iim Halimatus Sa'diyah. Dengan memanfaatkan teknologi ini, mereka melangsungkan akad nikah mereka pada Maret 2007 silam. Hanya perbedaannya adalah, kedua mempelai sedang berada di aula kampus Oxford University, Inggris, sedangkan wali mempelai berada di Cirebon, Indonesia ketika akad nikah dilangsungkan4.
2 3

“Seputar Ijab Kabul & Perceraian Jarak Jauh”, http://hukumonline.com/,15 April 2007 “Nikah Jarak Jauh Via “Teleconference”, http://www.pikiran-rakyat.com/,5 Des 2006 4 “Inggris-Cirebon Bersatu Dalam Pernikahan”,http://www.pikiran-rakyat.com/,26 Maret 2007

3 Fenomena seperti ini menggelitik untuk dikaji dan dikomentari oleh para pakar hukum keluarga Islam di Indonesia. Oleh sebab praktek akad nikah jarak jauh dengan menggunakan media teknologi ini belum pernah sekalipun dijumpai pada jaman sebelumnya. Praktek akad nikah pada jaman Nabi dan para Salafus shalih hanya menyiratkan diperbolehkannya metode tawkil, yakni pengganti pelaku akad apabila pihak pelaku akad (baik wali maupun mempelai pria) berhalangan untuk melakukannya. Satria Effendi M. Zein sebagai salah satu pakar yang membidangi masalah hukum keluarga Islam di Indonesia ini dalam bukunya “Analisis Yurisprudensi Mengenai Masalah Keluarga Islam Kontemporer Indonesia” memberikan analisis yurisprudensi yang cukup mendalam mengenai perkawinan melalui media telepon sebagaimana dikukuhkan Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1751/P/ 1989. Dalam pendapatnya, Satria Effendi M. Zein menyatakan bahwa ada dua macam putusan yang dapat dipilih oleh majelis hakim mengenai masalah ini, yaitu membolehkan sesuai dengan kecenderungan Madzhab Hanafi ataupun melarang sesuai dengan kecenderungan Madzhab Syafi'i. Di sini Satria Effendi M. Zein menyerahkan putusan yang diambil sesuai dengan dasar yang dipakai majelis hakim, dan memberikan penekanan bahwa keduanya boleh dipakai selama belum ada undang-undang yang secara jelas mengatur mengenai hal ini. Untuk itulah, di sini penulis berusaha mengedepankan permasalahan ini, menjelaskan bagaimana metode ijtihad yang dipakai oleh Satria Effendi M. Zein dalam mengkritisi Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1751/P/1989,

4 dasar-dasar yang menjadi alasannya menentukan hukum yang sesuai, cara pandang ia melihat permasalahan ini dan pertimbangan-pertimbangan rasional dan ushuliyah yang ia pakai.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, penulis mengajukan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai hukum akad nikah melalui telepon? 2. Apa dasar-dasar yang dipakai Satria Effendi M. Zein dalam menentukan hukum akad nikah melalui telepon? 3. Bagaimana metode ijtihad Satria Effendi M. Zein dalam menentukan hukum akad nikah melalui telepon?

C. KAJIAN PUSTAKA Untuk menemukan jawaban atas masalah yang diajukan, penulis mengkaji pendapat Satria Effendi M. Zein dalam bukunya yang berjudul “Analisis Yurisprudensi Mengenai Masalah Keluarga Islam Kontemporer Indonesia”, yang kemudian menjadi sumber primer. Kemudian untuk memperkaya dan mendukung atas sumber primer, penulis juga mengkaji dalil-dalil yang dimuat dalam AlQur'an dan Al-Hadits, literatur-literatur fikih baik klasik maupun kontemporer

5 yang berkenaan dengan perkawinan Islam, fatwa-fatwa Ulama' dunia mengenai hukum akad nikah melalui telepon, juga Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) untuk kemudian dijadikan sumber sekunder. Hingga saat ini tulisan-tulisan mengenai permasalahan perkawinan Islam memang banyak dijumpai. Namun, tulisan-tulisan tersebut secara umum bukanlah merupakan suatu penelitian mengenai permasalahan akad nikah melalui telepon, melainkan lebih banyak membahas persoalan perkawinan dari sisi lain. Hal ini seperti yang terdapat pada buku karya Drs. K.H. Miftah Faridl (1999) berjudul 150 Masalah Nikah dan Keluarga. Sedangkan buku-buku lain yang mengupas permasalahan akad nikah, secara umum bukanlah sebuah analisis atas pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai akad nikah melalui telepon. Oleh karena sepanjang penelusuran penulis, tidak ada satupun karya tulis yang secara khusus membahas tentang pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai akad nikah, maka penulis berkeyakinan bahwa keaslian karya tulis ini dapat dipertanggungjawabkan.

D. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menelaah lebih lanjut pandangan Satria Effendi M. Zein mengenai hukum akad nikah melalui telepon. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap:

6 1. Pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai hukum akad nikah melalui telepon. 2. Dasar-dasar yang dipakai Satria Effendi M. Zein dalam menentukan hukum akad nikah melalui telepon. 3. Metode ijtihad Satria Effendi M. Zein dalam menentukan hukum akad nikah melalui telepon.

E. KEGUNAAN HASIL PENELITIAN Penelitian ini diharapkan berguna dan memberi sumbangsih pemikiran bagi pemerintah Indonesia selaku regulator serta para insan hukum, baik hakim, advokat atau pengacara, pengamat dan pakar hukum, pun praktisi hukum Islam. Penelitian ini ditujukan untuk memberi stimulus yang berakibat pada pembaharuan perundang-undangan di bidang hukum keluarga Islam Indonesia agar senantiasa mengikuti dan bergerak secara dinamis sesuai dengan pergerakan dan perkembangan jaman modern. Penelitian ini juga mengharapkan bangkitnya kembali budaya analisa yurisprudensi kritis di bidang hukum Islam di Indonesia, sehingga memacu perkembangan dan khazanah dunia hukum keluarga Islam di Indonesia.

7 F. DEFINISI OPERASIONAL Berikut ini adalah variabel yang tekandung dalam judul penelitian ini, yaitu “Studi Analisis Hukum Islam terhadap Pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai Hukum Akad Nikah melalui Telepon”. Variabel tersebut adalah: 1. Studi Analisis Maksudnya adalah penelitian ilmiah5 yang dilakukan dengan

menyelenggarakan penyelidikan terhadap obyek penelitian untuk mengungkap keadaan yang sebenarnya, baik duduk perkara maupun sebabnya6. 2. Hukum Islam Maksudnya adalah peraturan yang secara resmi dianggap mengikat7 yang diajarkan oleh Allah dan Nabi Muhammad Saw. 3. Pendapat Satria Effendi M. Zein Maksudnya adalah buah pemikiran atau kesimpulan8 Satria Effendi M. Zein yang termuat dalam bukunya yang berjudul “Analisis Yurisprudensi Mengenai Masalah Keluarga Islam Kontemporer Indonesia”. 4. Hukum Akad Nikah melalui Telepon Maksudnya adalah keputusan yang ditetapkan oleh hakim9 mengenai
5 6

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, 18 April 2008 Ibid. 7 Ibid. 8 Ibid. 9 Ibid.

8 perjanjian10 perkawinan menurut agama Islam11 melewati telepon.

G. METODE PENELITIAN Berikut ini adalah metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam menyusun karya tulis ini:

1. Data yang Dikumpulkan Sesuai dengan permasalahan yang diajukan penulis di bagian sebelumnya, maka data yang hendak dikumpulkan adalah data-data yang berkenaan dengan pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai hukum akad nikah melalui telepon, dasar-dasar yang dipakai serta cara berijtihad yang beliau tempuh.

2. Sumber Data Untuk memenuhi data seperti yang disinggung di atas, maka diperlukan sumber primer dan sekunder. Sumber primer sebagai sumber pokok dalam studi analisis ini adalah buah karya Satria Effendi M. Zein yang berjudul “Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer”. Sedangkan sumber sekunder sebagai sumber pendukung adalah kitab-kitab fikih klasik maupun kontemporer, buku yang menyinggung tentang perkawinan Islam dan lain sebagainya.
10 11

Ibid. Ibid.

9 3. Teknik Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, penulis membaca dan menelaah buku yang memuat pendapat Satria Effendi M. zein mengenai akad nikah melalui telepon. Selain itu, untuk memperdalam ketajaman studi analisis ini, penulis juga membaca dan menelaah kitab, buku maupun tulisan yang secara umum berkenaan dengan perkawinan Islam di samping yang secara khusus berkenaan dengan akad nikah melalui telepon pula.

4. Teknik Analisis Data Dalam studi analisis ini, data-data yang terhimpun akan dianalisis secara mendalam dengan menggunakan metode deskriptif, deduktif, dan kualitatif. Berikut pengertian tiga metode yang dipakai tersebut:

a. Metode Deskriptif Yaitu metode yang bertujuan untuk menyajikan deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta secara apa adanya sesuai temuan yang didapatkan12.

b. Metode Deduktif Yaitu metode di mana studi analisis dilakukan dengan cara memberi alasan berpikir dan bertolak dari pernyataaan umum yang bersifat umum secara teoritis kemudian ditelusuri untuk menghasilkan kesimpulan yang bersifat khusus dari
12

Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988, hal. 63

10 obyek yang diteliti13.

c. Metode Kualitatif Yaitu metode di mana studi analisis akan mengeluarkan hasil berbentuk temuantemuan non statistik sesuai dengan proses yang telah dilalui.

H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN Dalam karya tulis ini, penulis menyajikan hasil studi analisis mengenai pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai hukum akad nikah melalui telepon dalam bentuk bab demi bab, yang terdiri dari lima bab. Bab-bab tersebut adalah sebagai berikut: Bab pertama adalah Pendahuluan, yang berisi Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Kajian Pustaka, Tujuan Penelitian,

Kegunaan Hasil Penelitian, Definisi Operasional, Metode Penelitian dan sistematika pembahasan. Bab kedua adalah bab yang berisi Kajian Teoritis mengenai Hukum Perkawinan menurut Islam, meliputi Pengertian Perkawinan, Nash-nash mengenai Pensyariatan Perkawinan, Hukum

Perkawinan, Rukun dan Syarat Perkawinan serta Hikmah Perkawinan. Bab ketiga
13

berisi permasalahan yang dibahas, yang terdiri dari Biografi

Ibid., hal. 197

11 Satria Effendi M. Zein, pendapat beliau mengenai hukum akad nikah melalui telepon, dasar yang menjadi acuan pendapat beliau mengenai hukum akad nikah melalui telepon serta metode beliau dalam berijtihad. Bab keempat berisi analisis mengenai pendapat Satria Effendi M. Zein mengenai hukum akad nikah melalui telepon, dalil-dalil yang dipakai oleh beliau serta metode ijtihad yang diterapkan. Bab kelima adalah Penutup, yaitu kesimpulan yang didapat dari hasil studi analisis ini, berikut saran yang hendak disampaikan oleh penulis.

12

BAB II KAJIAN TEORITIS HUKUM PERKAWINAN ISLAM
A. PENGERTIAN PERKAWINAN Perkawinan atau nikah, adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab (‫ )نكح‬yang mempunyai sinonim kata (‫ )خجأ(, )دحم(, )باضع‬dan (‫.1)تزوج‬ Berikut ini adalah pengertian kata (‫ )نكح‬secara bahasa dan secara istilah:

1. Pengertian Nikah secara Bahasa Para ulama' berbeda pendapat mengenai pengertian nikah secara bahasa. Al-'A'sya' berpendapat bahwa kata (‫ )نكح‬bermakna (‫ .)تزوج‬Al-Azhary menguatkan pendapat ini dengan menyatakan bahwa makna kata (‫ )نكح‬adalah (‫ .) تزوج‬Seperti dalam Firman-Nya: ...‫ أو مشرك‬H ‫ل زا‬J ‫...الزاني ل ينكح إل زانية أو مشركة والزانية ل ينكحها‬ ‫إ ن‬ Sehingga takwil ayat tersebut menjadi seperti ini: ...‫ل زان‬J ‫ل زانية وكذلك الزانية ل يتزوجها‬J ‫...ل يتزوج الزاني‬ ‫إ‬ ‫إ‬ Dijumpai pula pendapat yang menyatakan bahwa makna (‫ )الن كاح‬yang terdapat pada ayat ini adalah (‫ .)الوطء‬Sehingga takwilnya menjadi seperti ini: ...‫ل زان‬J ‫ل زانية والزانية ل يط 0ها‬J T ‫...ل يط‬ ‫ؤ إ‬ ‫أإ‬
1

Ibnu Mandzur, Lisaan Al-Arab, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0, jilid 2 hal. 625

13 Tapi menurut Al-Azhary pendapat tersebut harus dijauhi, karena setiap ayat dalam Al-Quran yang memuat kata (‫ )الن كاح‬ini selalu bermakna (‫.)التزو يج‬ Seperti dalam Firman-Nya pula: ...‫...و7ن5 4 0وا اليامى منكم‬ ‫أ كح‬ Tidak ada keraguan mengenai pengertian kata (‫ )الن كاح‬di sini yang bermakna (‫ .)التزويج‬Al-Azhary juga menyatakan bahwa secara asal memang orang Arab memakai kata (‫ )الن كاح‬untuk maksud (‫ .)ا لوطء‬Dan sebaliknya, kata (‫ج‬c ‫) تز‬ ‫و‬ bermakna (‫ )نكاح‬karena dengan melaksanakan akad (‫ج‬c ‫ )تز‬menjadi sebab halalnya ‫و‬ bersenggama (‫.)الوطء‬ Lalu ada pendapat lain yang datang dari Al-Jauhary. Menurut beliau, makna (‫ )الن كاح‬adalah (‫ .)ا لوطء‬Sedangkan makna (‫د‬g‫ )الع ق‬dipakai apabila konteks kalimatnya memberikan qarinah kepada makna tersebut. Seperti contoh dalam kalimat (‫- )هي ناكح في بني فلن‬dia perempuan adalah mempelai di bani fulan yang di sini bermakna (‫- )ذات زوج منهم‬mempunyai suami dari kalangan mereka. Lalu Ibu Saidah berpendapat bahwa kata (T ‫كا‬p ‫ )ال‬bermakna (T g‫ ض‬T ‫ .)ال‬Hanya ‫ن ح‬ ‫ب ع‬ saja makna (T g‫ض‬T ‫ )ال‬ini khusus dipakai untuk manusia saja2. ‫ب ع‬

2. Pengertian Nikah secara Istilah Secara istilah, pengertian nikah masih terbagi menjadi dua, yakni pengertian secara ushul (syariah) dan pengertian secara fikih.
2

Ibid.

14 a. Pengertian secara Ushul Dalam pengertian secara ushul, ulama' berbeda pandangan dalam memberikan pengertian nikah. Perbedaan pandangan itu terbagi menjadi tiga, dean penjelasannya seperti yang terpapar berikut ini: Golongan pertama berpendapat bahwa makna hakikat bagi kata (‫)الن كاح‬ adalah (‫ ,)الوطء‬sedangkan makna majaznya adalah (‫د‬g‫ .)الع ق‬Oleh karena itu, apabila dijumpai dalam Al-Quran ataupun Al-Hadits kata (‫ )الن كاح‬maka pastilah makna yang dipakai adalah (‫ )الوطء‬selama tidak ada qarinah (indikasi) yang menuju pada pemakaian arti (‫د‬g‫ .)العق‬Pendapat ini dipegang oleh golongan Hanafiyah3. Pengertian seperti ini dapat ditemukan dalam Al-Qur'an surat An-Nisa' ayat 22: ‫ول تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء إل ما قد سلف‬ "Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau..." Golongan kedua mempunyai pendapat yang berlawanan dengan golongan pertama. Mereka menyatakan bahwa makna hakikat dari (‫ )الن كاح‬adalah (‫د‬g‫,)الع ق‬ sedangkan makna majaznya adalah (‫ ,)ا لوطء‬dan pendapat ini rajih (lebih kuat). Pendapat ini dipakai oleh Syafi'iyah dan Malikiyah4. Pengertian semacam ini dapat dijumpai dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 230:
3

Al-Jaziri, Al-Fiqh 'Ala Madzahib Al-Arba'ah, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0, jilid 4 Ibid.

hal. 6
4

15 ...‫حتى تنكح زوجا غيره‬ "...Hingga dia kawin dengan suami yang lain..." Sedangkan Golongan ketiga menyatakan bahwa makna hakikat dari (‫)النكاح‬ adalah musytarak (makna ganda/sinonim) dari makna (‫د‬g‫ )الع ق‬dan (‫ .)ا لوطء‬Sebab mereka mendasarkan pemakaian kata ini dalam Al-Quran dan Al-Hadits yang kadang-kadang bermakna (‫ )الوطء‬dan (‫د‬g‫.5)العق‬ Kemudian dalam pengertian secara fikih, ulama' juga berselisih paham. Berikut adalah pendapat para Imam Madzhab tentang pengertian nikah: Golongan Hanafiyah berpendapat bahwa pengertian nikah adalah: ‫النكاح بأنه عقد يفيد ملك المتعة قصدا‬ "Nikah itu adalah akad yang berguna untuk menguasai dan bersenangsenang dengan sengaja". Lalu golongan Syafi'iyah mendefinisikan nikah sebagai: ‫النكاح بأنه عقد يتضمن ملك وطء بلفظ إنكاح أو تزويج أو معناهما‬ "Nikah adalah akad yang mengandung hak watha' dengan lafaz nikah atau tazwij atau kata yang semakna dengan dua kata tersebut". Kemudian golongan Malikiyah memberikan pengertian nikah sebagai: ‫النكاح بأنه عقد على مجرد متعة التلذذ...الخ‬ "Nikah adalah akad yang semata-mata membolehkan bersenang-senang (dengan wanita)...dst"
5

Ibid.

16

Selanjutnya golongan Hanabilah memberikan definisi nikah sebagai: ‫هو عقد بلفظ إنكاح أو تزويج على منفعة الستمتاع‬ "Nikah adalah akad (dengan memakai) lafaz nikah atau tazwij atas guna bersenang-senang/ menikmati (wanita)6". Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama' zaman dahulu memandang nikah hanya dari satu segi saja, yaitu kebolehan hukum antara seorang laki-laki dengan seorang wanita untuk berhubungan yang semula dilarang. Mereka tidak memperhatikan tujuan, akibat atau pengaruh nikah tersebut terhadap hak dan kewajiban suami isteri yang timbul7. Berbeda pula dengan ulama' mutaakhirin. Mereka mendefinisikan nikah dengan memasukkan unsur hak dan kewajiban suami isteri8. Selain itu, mereka juga memasukkan unsur tujuan pernikahan, yaitu membentuk keluarga dan memperoleh keturunan. Seperti pengertian yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Ishrah berikut ini: ‫عقد يفيد حل عشرة بين الرجل و المرأة و تعاونهما و يجد مالكيهما من حقوق و ما عليه من واجبات‬ "Nikah adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami isteri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong-menolong serta memberi batas hak bagi pemiliknya dan pemenuhan kewajiban masing-masing9". Dan pengertian yang dilontarkan oleh Syaikh Shalih Al-Utsaimin berikut ini:
6 7

Ibid. Djamaan Nuur, Fiqh Munakahat, Dina Utama, Semarang, tt, hal. 3 8 Ibid. 9 Ibid.

17 ‫عقد يقصد به الزدواج بين رجل و امرأة للستمتاع و العشرة و اليلد‬ "Nikah adalah akad yang bertujuan untuk mengumpulkan/ menjodohkan antara laki-laki dan wanita untuk saling menikmati, membangun keluarga dan memperoleh keturunan10". Selain pengertian tersebut di atas, Undang-undang Perkawinan Nomer 1 tahun 1974 juga memberikan definisi tentang perkawinan sebagai berikut: "Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa11".

B. NASH-NASH PENSYARIATAN PERKAWINAN Ulama' bersepakat tentang pensyariatan perkawinan dalam Islam. Berikut ini adalah nash-nash dari Al-Quran dan Al-Hadits yang memiliki kandungan syariat perkawinan dalam Islam: ‫و من آياته أن خ لق لكم من أنف سكم أزوا جا لت سكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذ لك ل يات ل قوم‬ ‫يتفكرون‬ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya, kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(QS. Ar-Ruum:21)

10 11

Al-Utsaimin, At-Tafsir wa Ushuluhu, Wizarah At-Ta'lim Al-Aly, Riyadh, 1980, hal. 63 Depag RI, Bahan Penyuluhan Hukum, 2004, hal. 117

18 ‫وإن خف تم أل تق سطوا في الي تامى فانكحوا ما طاب لكم من الن ساء مث نى وثلث ور باع فإن خفتم أل ت عدلوا‬ ‫فواحدة أو ما ملكت أيمانكم ذلك أدنى أل تعولوا‬ “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanitawanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budakbudak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”(QS. An-Nisaa':3) ‫وأنكحوا اليامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم ال من فضله وال واسع عليم‬ “Dan kawinilah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orangorang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur:32) ‫يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء‬ “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sanggup untuk menikah, maka menikahlah. Dan barangsiapa yang tidak sanggup maka berpuasalah, karena (puasa) itu (adalah sebagai) penahan baginya”. (HR. Bukhary No. 4778) ‫... لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني‬ “Sedangkan aku shalat, aku tidur, aku puasa, aku berbuka, aku menikahi wanita, maka barangsiapa yang membenci sunnahku bukanlah termasuk umatku.” (HR. Muslim No. 1401) ‫تزوجوا الودود الولود فإني مكاثر بكم المم‬ “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, karena aku akan menjadi umat yang paling banyak dengan kalian.” (HR. Abu Daud No. 2050)

19 C. HUKUM PERKAWINAN Pada umumnya, hukum perkawinan dalam Islam ada lima macam: wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah12. Kelima macam hukum ini jatuh dan mengikuti keadaan yang terjadi. Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengapa latar belakang keadaan menjadi sebab bervariasinya hukum yang jatuh, berikut akan dihadirkan pendapat tentang hukum perkawinan ini menurut 4 (empat) madzhab Islam.

1. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Maliki Berikut hukum perkawinan menurut kalangan Malikiyah:

a. Wajib Hukum perkawinan menjadi wajib bagi orang yang takut terjatuh pada perbuatan zina, tidak mampu menahan nafsunya dengan puasa dan tidak mampu memiliki budak. Apabila keadaan tersebut ada pada seseorang, maka hukum perkawinan baginya adalah wajib. Kesimpulannya adalah, memenuhi tiga unsur berikut:

hukum perkawinan menjadi wajib harus

Kekhawatiran atas jatuh kepada perbuatan zina. Tidak mampu berpuasa untuk menghindarkan dari zina, atau mampu berpuasa tapi tetap merasa tidak cukup.
12

Al-Jaziri, Op.cit., jilid 4 hal. 8

20

Tidak mampu memiliki budak. Dan sebagian kalangan berpendapat dengan perlu ditambahkan 1 (satu)

unsur lagi yaitu:

Mempunyai penghasilan yang halal. Bagi orang yang mampu menikah, tapi ia mampu berpuasa dan membeli

budak sekaligus, maka hukum baginya adalah mukhayyar (boleh memilih antara ketiganya). Tetapi yang lebih diutamakan adalah menikah. Sedangkan mengenai unsur tambahan yaitu memiliki penghasilan yang halal, maka misal yang dapat dipakai adalah sebagai berikut: Apabila dijumpai keadaan seseorang takut berbuat zina, namun tidak mampu berpuasa dan memiliki budak belian, maka belum jatuh hukum wajib kepadanya hingga ia mempunyai penghasilan yang halal.

b. Haram Jatuh hukum haram menikah bagi laki-laki yang tidak khawatir terjerumus pada perbuatan zina, sedangkan ia tidak mampu memberikan nafkah dari penghasilan yang halal atau tidak sanggup melakukan hubungan seksual. Tapi apabila calon istri tahu dan rela atas ketidakmampuan calon suami untuk berhubungan seksual, maka hukum menikah berubah menjadi mubah. Begitu pula bila calon istri tahu dan rela atas ketidakmampuan calon istri memberi nafkah, maka mubah pula hukum menikahnya.

21 Dan bila calon istri tahu dan rela bahwa si laki-laki menafkahinya dengan sesuatu yang haram maka hukum menikah menjadi haram.

c. Sunnah Hukum menikah menjadi sunnah manakala seseorang tidak mempunyai kekhawatiran jatuh pada perbuatan zina. Selain itu ia berkehendak memiliki keturunan dan mampu untuk memenuhi kewajiban nafkah dengan halal serta mampu melakukan hubungan seksual. Apabila hal-hal tersebut tidak dipenuhi, maka jatuh hukum haram seperti yang disinggung di bagian sebelumnya.

d. Makruh Hukum nikah menjadi makruh bagi seseorang yang tidak mempunyai desakan untuk menikah, namun ia takut tidak dapat menanggung beberapa kewajiban umum dalam perkawinan. Dan hukum ini jatuh tidak memandang lakilaki maupun perempuan. Dan hukum makruh tidak berubah walaupun seseorang itu mempunyai keinginan mempunyai keturunan.

e. Mubah Hukum nikah menjadi mubah apabila seseorang tidak terlalu

menginginkan nikah, dan tidak pula menginginkan keturunan, tapi ia mampu melaksanakannya, dan mampu menanggung kewajiban nafkah13.

13

Ibid.

22 2. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Hanafi Berikut hukum perkawinan menurut kalangan Hanafiyah:

a. Fardhu Berbeda dengan madzhab lainnya, madzhab ini membedakan hukum fardhu dan hukum wajib. Hukum fardhu jatuh bila syarat-syarat berikut terpenuhi pada diri seseorang:

Keyakinan akan terjatuh pada perbuatan zina jika tidak menikah. Ketidakmampuan untuk berpuasa. (hukum fardhu menjadi mukhayyar bila mampu berpuasa).

Ketidakmampuan memiliki budak. (hukum fardhu menjadi mukhayyar bila mampu memiliki budak).

Mampu memberi mahar dan nafkah secara halal.

b. Wajib Sedangkan hukum wajib (tapi tidak fardhu) jatuh bagi orang yang memenuhi syarat-syarat berikut:

Ada keinginan menikah. Adanya kekhawatiran jatuh pada perbuatan zina. Adanya kemampuan memberi nafkah halal.

23 c. Sunnah Muakkadah Hukum menikah bagi seseorang menjadi sunnah muakkadah apabila terpenuhi syarat-syarat berikut:

Adanya keinginan untuk menikah, namun sedang-sedang saja. Tidak ada kekhawatiran atas jatuh pada perbuatan zina. Apabila seseorang yang memenuhi syarat-syarat ini kemudian tidak

melaksanakan perkawinan, maka ia berdosa. Namun karena hukum yang jatuh padanya adalah hukum sunnah muakkadah, maka dosa yang ia dapatkan adalah dosa yang ringan, lebih ringan dari dosa apabila meninggalkan nikah dalam keadaan hukum wajib. Sedangkan beberapa kalangan menyatakan bahwa keadaan hukum sunnah muakkadah dan wajib sebenarnya sama saja serta tidak ada perbedaan di antara keduanya. Dan apabila melihat keterangan di atas, hukum wajib dan sunnah muakkad dibedakan dengan dua hal:

Apabila ada keinginan yang sangat atas pernikahan karena rasa takut terjatuh pada zina, maka menjadi wajib.

Apabila keinginan yang ada hanya sedang-sedang saja, maka menjadi sunnah muakkadah. Dan kedua hukum tersebut masih terikat dengan syarat kemampuan

memberi nafkah yang halal. Dalam arti apabila kedua unsur tersebut terpenuhi tapi kemampuan memberi nafkah yang halal tidak terpenuhi, maka hukum sunnah

24 dan wajib tidak akan jatuh. Lalu apabila perkawinan yang berhukum sunnah muakkadah ini bila diniati untuk menghindarkan diri sekaligus pasangan dari dosa dan perilaku haram, maka akan mendapatkan pahala. Namun apabila sebaliknya, tidak diniati untuk menghindarkan diri dan pasangan dari perbuatan dosa, maka tidak akan mendapat pahala. Sebab tidak ada pahala tanpa niat.

d. Haram Hukum nikah menjadi haram bila seseorang yakin bahwa profesi yang ia jalani adalah sebuah keharaman, karena mengandung sifat aniaya dan dzalim kepada orang lain. Sebab pada dasarnya nikah oleh Islam disyariatkan untuk mewujudkan kemaslahatan, membersihkan jiwa dan menghasilkan pahala bagi pelakunya. Jadi bila nikah dilakukan dengan didukung perbuatan aniaya atas orang lain, maka pernikahan semacam ini menjadi berdosa, karena tujuan kemaslahatan yang dikehendaki dalam perkawinan justru malah menghasilkan kemafsadatan.

e. Makruh Hukum makruh melaksanakan perkawinan jatuh pada seseorang yang takut apabila dengan nikah justru menimbulkan kedzaliman dan aniaya, tapi kadar keyakinannya tidak terlalu kuat.

25 f. Mubah Dan yang terakhir, hukum perkawinan menjadi mubah bila terpenuhi syarat-syarat berikut:

Adanya keinginan untuk menikah. Tidak adanya kekhawatiran jatuh kepada zina. Adanya niat menikah hanya untuk pelampiasan syahwat saja. Karena apabila syarat yang terakhir berubah menjadi nikah diniatkan untuk

menghindarkan diri dari zina atau memiliki keturunan, maka hukumnya menjadi sunnah. Maka perbedaan antara jatuh hukum sunnah atau mubah adalah dari niat si pelaku14.

3. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Syafi'i Berikut macam hukum perkawinan menurut kalangan Syafi'iyah:

a. Mubah Menurut kalangan ini, hukum asal nikah adalah mubah. Dan ini adalah hukum yang jatuh bagi orang yang berniat dan menjalani perkawinan hanya untuk menikmati dan bersenang-senang dengan istrinya.

b. Sunnah Hukum asal mubah dapat menjadi sunnah, apabila diniati oleh si pelaku
14

Ibid.

26 perkawinan untuk menjaga kehormatan dirinya atau menghendaki keturunan dari perkawinan yang ia laksanakan.

c. Wajib Hukum asal mubah berubah menjadi wajib, bilamana perkawinan oleh si pelaku diniati untuk menolak dan menjauhkan diri dari perbuatan haram.

d. Makruh Dan hukum asal mubah dapat pula menjadi makruh bila seseorang takut dan khawatir tidak dapat mendirikan hak dan kewajiban rumah tangga dan sebagai suami istri. Dalam hal ini dapat diambil contoh semisal: seorang perempuan yang tidak sedang ingin menikah, dan si calon suami tidak memiliki kemampuan memberikan mahar dan nafkah halal, maka makruh bagi keduanya untuk melangsungkan perkawinan15.

4. Hukum Perkawinan menurut Madzhab Hambali Dan berikut ini adalah hukum perkawinan menurut kalangan Hanabilah:

a. Fardhu Kalangan Hanabilah berpendapat bahwa perkawinan berhukum fardhu atas orang yang takut berzina bila tidak melaksanakan pernikahan, walau itu hanya
15

Ibid.

27 sekedar persangkaan. Hal ini sama saja bagi pria maupun wanita. Dan hal ini tidak dipisahkan dengan kemampuan memberi nafkah atau tidak. Maka apabila seseorang mampu menikah untuk menghindarkan dirinya dari keharaman, maka jatuhlah hukum fardhu ini. Dan hukum fardhu juga jatuh pada seseorang untuk mencari pekerjaan yang halal untuk memperoleh rejeki darinya, dan meminta pertolongan kepada Allah. Jadi, ketika seseorang takut berzina, maka fardhu baginya untuk menikah sekaligus mencari pekerjaan halal sebagai konsekwensi menikah.

b. Haram Nikah menjadi haram pada darul harb (medan perang), kecuali dijumpai kedaruratan. Dan apabila kedaruratan itu diangkat (dalam artian tidak ada), maka melangsungkan perkawinan pada darul harb tidak dibolehkan sama sekali dalam keadaan apapun.

c. Sunnah Perkawinan menjadi sunnah bila seseorang ingin melaksanakannya, tapi tidak ada kekhawatiran jatuh kepada zina. Dan hukum ini jatuh baik untuk lakilaki maupun perempuan. Dan perkawinan dalam keadaan seperti ini menjadi perbuatan sunnah yang afdhal (sangat diutamakan dan dianjurkan) karena bertujuan untuk menjaga jiwa, menjaga pasangan, menghasilkan keturunan yang dengannya memperbanyak

28 umat Muhammad, dan menjadi salah satu pilar pembangun masyarakat Islam.

d. Mubah Sedangkan hukum mubah jatuh bila seseorang tidak sedang ingin menikah, seperti orang yang sudah renta dan tak sanggup melakukan hubungan badan. Hukum ini muncul dengan syarat bahwa tidak muncul kemudaratan oleh sebab pernikahan tersebut dan tidak merusak akhlaknya. Bila kemudaratan dan rusaknya akhlak muncul dari perkawinan semacam ini, maka hukumnya berubah menjadi haram16.

D. RUKUN PERKAWINAN Pada dasarnya, sebuah perkawinan terbangun atas dua hal, yang tanpa dua hal ini maka sebuah perkawinan tidak akan sempurna dan terwujud. Hal yang pertama adalah ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau orang yang mewakilinya. Dan yang kedua adalah qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh calon suami atau yang mewakilinya. Dan ini menurut kalangan Hanafy17. Kedua hal ini memerlukan lagi satu hal, sehingga sebuah akad perkawinan terdiri dari tiga unsur, dua yang pertama adalah unsur yang kongkrit dan nampak, yaitu ijab dan qabul, sedangkan unsur terakhir yang abstrak dan tak nampak
16 17

Ibid. Ibid., hal. 11

29 adalah keterikatan antara ijab dan qabul. Sebelum memaparkan rukun perkawinan, perlu diberikan arti dari rukun itu sendiri. Pengertian rukun adalah: ‫ما ل توجد الماهية الشرعية إل به‬ “Sesuatu yang hakikat syariat tidak terwujud kecuali dengannya18”. Kemudian, berikut ini adalah berbagai pendapat mengenai rukun perkawinan:

1. Menurut Madzhab Maliki Menurut madzhab Maliki, rukun perkawinan terdiri dari lima perkara, yaitu: 1. Wali si perempuan. Sehingga, sebuah perkawinan tidak sah tanpa wali. 2. As-Shadaq (mahar). Yaitu pemberian sukarela yang mutlak dan harus ada dalam sebuah perkawinan. Tapi penyebutannya tidak disyaratkan ketika dilangsungkannya akad. 3. Calon suami. 4. Calon istri yang terbebas dari larangan syariat. Semisal: ihram dan iddah. 5. Sighat, yaitu kalimat ijab qabul. Jadi, sebuah akad perkawinan haruslah terdiri atas 'aaqidain (dua pelaku

18

Ibid.

30 akad); yakni calon suami dan wali si perempuan, maq'ud alaihi (obyek yang diakadkan); yakni si perempuan dan mahar -walaupun tidak mengapa apabila tidak disebutkan, karena mahar adalah sebuah kelaziman sebuah perkawinandan yang terakhir adalah sighat yang berupa lafadz khusus yang dengannya akad sebuah perkawinan diwujudkan menurut syariat Islam. Ada pula dijumpai pendapat yang menyatakan bahwa shadaq (mahar) tidak termasuk rukun, juga tidak termasuk syarat, karena sebuah akad tetap sah tanpa keberadaannya19.

2. Menurut Madzhab Syafi'i Sedangkan menurut kalangan Syafi'iyah, mereka berpendapat bahwa rukun perkawinan ada lima, yaitu: calon suami, calon istri, wali calon istri, dua saksi dan sighat Dan ada pula pendapat yang menganggap bahwa dua saksi adalah syarat, bukan rukun, dengan beralasan bahwa keberadaan dua saksi itu keluar dari hakikat akad20.

E. SYARAT PERKAWINAN Perkawinan mempunyai syarat-syarat tertentu. Kadangkala keberadaan syarat ini dihitung sebagai rukun bagi sebagian madzhab dan kadang-kadang
19 20

Ibid., hal. 11 Ibid., hal. 11

31 sebagian madzhab memasukkannya sebagai syarat. Penjelasan lebih lanjut akan dipaparkan berikut ini:

1. Menurut Madzhab Hanafi Menurut kalangan Hanafiyah, perkawinan mempunyai syarat-syarat yang terkait dengan tiga hal, yakni sighat, pelaku akad dan saksi.

1. Syarat Sighat Akad Menurut madzhab Hanafy, nikah dianggap sah bila sighat akad memenuhi kriteria sebagai berikut:

Memakai lafadz khusus, baik sharih (kata yang jelas) atau kinayah (kata kiasan). Lafadz sharih yang jamak dipakai dalam sebuah perkawinan adalah kata (‫ )تزو يج‬atau (‫ .)ان كاح‬Sedangkan apabila memakai lafadz kinayah, maka disyaratkan lafadz tersebut terucap dibarengi niat dan maksud untuk menikahkan, serta ada qarinah (bukti) atas niat tersebut. Dan disyaratkan pula para saksi paham maksud lafadz kinayah tersebut. Berikut ini adalah empat macam dan jenis kinayah:

Lafadz kinayah tanpa perselisihan atas keabsahan akad dengannya, yaitu katakata (‫ )الهبة(, )الصدقة( )التمليك‬dan (‫.)الجعل‬

Lafadz kinayah dengan perselisihan atas keabsahan akad dengannya, yaitu kata-kata (‫ )الشراء‬dan (‫.)البيع‬

Lafadz kinayah dengan perselisihan atas kebatilan akad dengannya, yaitu kata-

32 kata (‫ )الوصية‬dan (‫.)اليجارة‬

Lafadz kinayah tanpa perselisihan atas kebatilan akad dengannya, yaitu katakata (‫ )العارة(, )الخلع(, )القالة(, )التمتع(, )الرهن(, )الحلل‬dan (‫.)الباحة‬ Lalu syarat sighat selanjutnya adalah:

Sighat akad berupa ijab qabul harus ada dalam satu majelis. Tidak ada perselisihan antara konteks ijab dan qabul. Misal: Seorang wali mengucapkan akad, “Aku nikahkan engkau dengan putriku dengan mahar 1000 dirham”, lalu si calon suami menjawab, “Aku terima nikahnya, dan aku tidak menerima mahar sejumlah itu”, maka akad seperti ini tidak sah.

Sighat akad harus bisa didengar oleh kedua pelaku akad. Harus ada kepastian bahwa kedua pihak pelaku akad mendengar lafadz masing-masing secara hakikat (berbentuk suara bila si pelaku akad hadir) atau secara tertulis (bila si pelaku akad ghaib). Karena pembacaan akad tertulis dapat menjadi ganti lafadz yang diucapkan/ dibunyikan.

Sighat tidak boleh terikat waktu. Misal: bila seorang laki-laki mengucapkan, aku nikahi kamu sebulan dengan mahar sekian, lalu si perempuan menjawab, aku kau nikahi, maka hal ini batil, dan ini adalah nikah mut'ah.

2. Syarat untuk Pelaku Akad

Berakal. Dengan ini maka tidak sah akad orang gila atau anak kecil. Baligh dan merdeka.

33

Khusus untuk calon istri, sedang dalam keadaan halal dinikahi dan melakukan akad. Misal: tidak sedang berakad dengan orang lain, tidak dalam keadaan iddah, tidak berstatus sebagai istri orang.

Untuk suami dan istri, disyaratkan jelas identitasnya. Misal: Seorang bapak mempunyai dua putri, lalu ia menikahkan salah satu putrinya tanpa menyebutkan nama, maka akad seperti ini tidak sah. Kecuali bila salah satu nya sudah menikah, maka yang dimaksudkan tentu putrinya yang belum menikah. Misal lain: Seorang bapak yang mempunyai putri bernama Fatimah, tapi ketika mengakadkan putrinya tersebut dengan nama Aisyah, maka akad tidak sah.

Menyandarkan sighat kepada kata perempuan atau bagian tubuh yang mewakili seluruh tubuh (semisal kepala atau leher). Selain itu maka tidak sah. Misal: Seorang wali berakad dengan kalimat “Aku nikahkan engkau dengan tangan anakku”, maka akadnya tidak sah.

3. Syarat untuk Saksi

Saksi harus berjumlah dua orang, tidak sah bila kurang dari itu. Tidak disyaratkan harus dua laki-laki, tapi sah bila saksinya satu laki-laki disertai dua perempuan. Hal ini karena sebuah perkawinan tidak sah bila disaksikan dengan dua perempuan saja, karena itu harus ada seorang laki-laki yang menyertai dua perempuan itu.

Tidak disyaratkan saksi tidak sedang ihram. Maka akad tetap sah bila saksi

34 sedang ihram.

Saksi secara personal harus memenuhi kriteria berikut, yakni: berakal, baligh, merdeka dan beragama Islam. Maka akad tidak sah dengan kesaksian orang gila atau anak kecil maupun budak. Akad tidak sah pula bila disaksikan kafir dzimmy, kecuali saksi kafir dzimmy tersebut perempuan, maka tidak mengapa selama ada saksi laki-laki yang muslim. Bila hal ini terjadi maka akad sah, baik dua saksi kafir dzimmy tersebut mempunyai agama yang sama atau berbeda.

Akad boleh disaksikan oleh orang buta atau orang yang mendapat had akibat menuduh atau berzina.

Akad nikah seorang perempuan boleh disaksikan oleh dua anak kandungnya. Dan dengan dikiaskan dengan hal ini, maka boleh pula disaksikan dengan hubungan ke atas anak (bapak/kakek) dan ke bawah (cucu). Perlu diketahui bahwa saksi dihadirkan untuk menyaksikan dua hal: keberadaan akad dan hal isbat. Mengenai keberadaan akad, maka kesaksian dapat dilakukan oleh orang buta, orang fasik maupun bapak dan anak. Tapi kesaksian untuk pengisbatan nikah tidak dapat dipenuhi oleh orang-orang tersebut di atas, dan harus dilakukan oleh orang lain. Misal: bila seorang lakilaki mewakilkan nikahnya pada orang lain, maka si wakil yang melakukan akad ini dapat dianggap merangkap sebagai saksi (saksi isbat akad), dan si wali dapat dianggap merangkap sebagai saksi pula (saksi keberadaan akad),

35 maka akad semacam ini sah.

Saksi harus mampu mendengar ucapan akad kedua pihak. Maka kesaksian orang tidur tidak sah.

Akad juga sah bila disaksikan orang bisu selama mereka mendengar dan paham. Tidak disyaratkan bagi para saksi tersebut untuk paham lafadz akad secara khusus, selama mereka mengetahui bahwa yang sedang mereka dengar adalah lafadz yang dimaksudkan untuk akad.

Perkawinan orang Arab sah dengan saksi orang 'Ajam (non Arab), selama mereka mengerti lafadz ijab qabul. Bahkan kesaksian orang mabuk atas sebuah akad dianggap sah, bila ia tahu yang sedang ia saksikan adalah akad.

Khiyar dalam perkawinan bukan merupakan syarat. Akad tetap sah walau ada perasaan tidak suka dari suami atau istri. Perkawinan mempunyai sifat yang sama seperti perceraian dan memerdekakan budak, tidak membutuhkan kerelaan dan kesungguh-sungguhan. Jadi akad dianggap sah walau dilakukan dengan bercanda21.

2. Menurut Madzhab Syafi'i Menurut kalangan Syafi'iyah, syarat-syarat perkawinan terkait dengan empat hal, yakni sighat, wali, kedua mempelai dan saksi-saksi.

21

Ibid., hal. 13

36 1. Syarat untuk Sighat Syarat untuk sighat ada tiga belas macam seperti dalam sighat jual beli, diantaranya adalah:

Tidak bergantung dengan syarat lain. Misal: sighat akad “Aku nikahkan kamu dengan putriku bila kamu memberiku rumah”, maka akad semacam ini tidak sah.

Tidak boleh terikat dengan waktu. Misal: sighat akad “Aku nikahi kamu sekian bulan”, maka akad ini tidak boleh karena termasuk dalam nikah mut'ah. Perkawinan ini jelas terlarang seperti yang tercantum dalam hadits muttafaq alaihi.

Tambahan syarat yang membedakan sighat jual beli dengan sighat akad nikah yakni keharusan pemakaian lafadz (‫ )تزو يج‬atau (‫ .)ان كاح‬Seperti dalam sighat berikut: (‫ )أنكح تك موك لتي‬dan (‫ .)زوج تك اب نتي‬Tapi pemakaian dua lafadz tersebut tidak boleh dalam bentuk mudhari' (kata kerja sedang/akan), karena mengandung unsur janji di dalamnya. Hal ini seperti yang terdapat dalam sighat berikut: (‫ .)أزوجك ابنتي‬Tapi bila kata tersebut ditambah keterangan waktu semisal (‫ )أزوجك ابنتي الن‬maka boleh. Boleh pula jika memakai bentuk isim fail (kata ganti subyek) disertai kata taukid (peneguhan) semisal: (‫.)إني مزوجك ابنتي‬ Karena hakikat isim fail pada kalimat ini tidak mengandung unsur janji.

Sah berakad dengan bahasa asing, walaupun saksi mengerti bahasa Arab, dengan syarat selama para saksi paham maknanya.

37

Sighat tidak boleh menggunakan kalimat-kalimat seperti yang tertera berikut ini: (‫ )أحللت لك ابنتي(, )بعتها لك(, )وهبتها لك(, )ملكتك إياها‬dan semisalnya. Walau hal ini menurut kalangan Hanafiyah dianggap sah, tapi menurut kalangan Syafi'iyah tidak sah, dan harus menggunakan kata (‫ )ان كاح‬atau (‫ .)تزو يج‬Dan menurut Syafi'iyah inilah yang dimaksud dari “kalimat Allah” seperti yang terdapat dalam hadits: ... ‫...واستحللتم فروجهن بكلمة ال‬ Kemudian karena semua kalimat Allah yang dijumpai dalam Al-Quran hanyalahkata (‫ )ان كاح‬atau (‫ ,)تزو يج‬maka tidak dibenarkan mengkiaskannya dengan kata lain, dan tidak pula dengan kinayah. Sebab kinayah membutuhkan niat, sedangkan niat adalah hal yang abstrak.

Untuk kalimat qabul, maka haruslah dengan ucapan (‫,)قب لت ف يه زوا جه أو نكاح ها‬ atau (‫ )ر ضيت نكاح ها(, )أحبب ته‬dan (‫ .)أرد ته‬Tapi bila yang diucapkan qabiltu saja lalu diam, maka tidak sah.

Qabul boleh didahulukan dari ijab.

2. Syarat untuk Wali

Orang yang dikehendaki, bukan orang yang dibenci. Laki-laki. Tidak sah bila perempuan ataupun khunsa (berkelamin ganda). Mahram si perempuan.

38

Baligh. Berakal, tidak gila. Adil, tidak fasik. Tidak mahjur (terhalang wali lain). Tidak buta. Tidak berbeda agama. Merdeka, bukan budak.

3. Syarat untuk Kedua Mempelai

Syarat untuk suami, adalah:

Bukan mahram si perempuan. Tidak sah bila berhubungan darah, semenda ataupun susuan dengan si calon istri.

Orang yang dikehendaki. Mu'ayyin (nampak), dalam arti identitas jelas.

Syarat untuk istri, adalah:

Bukan mahram si laki-laki. Terbebas dari halangan nikah, semisal: sedang iddah atau berstatus istri orang.

39 4. Syarat untuk Saksi-Saksi

Berjumlah dua, bukan budak, bukan perempuan dan bukan orang fasik. Wali tidak bisa merangkap sebagai saksi walaupun ia memenuhi kualifikasi sebagai saksi. Ini berlawanan dengan pendapat kalangan Hanafiyah.

Disunnahkan saksi dalam keadaan rela dan tidak terpaksa, sehingga tidak ada pengingkaran atas akad yang terjadi22.

3. Menurut Madzhab Hambali Sedang menurut kalangan Hanabilah, perkawinan mempunyai empat syarat, yakni:

Syarat pertama: Ta'yiin (tertentu/pasti). Untuk syarat pertama ini, berikut penjelasan yang menyertainya: Misal: sighat akad sah bila memakai kalimat (‫ .)زوجتك ابنتي فلنة‬Namun bila

memakai kalimat (‫ )زوج تك اب نتي‬padahal si wali mempunyai lebih dari satu putri, maka tidak sah. Penyebutan sifat atau nama untuk membedakan calon suami atau istri adalah sebuah keharusan untuk mencapai keabsahan akad. Untuk kalimat ijab, madzhab ini sepakat dengan pendapat Syafi'iyah, tapi untuk kalimat qabul cukup dengan kata (‫ )ر ضيت‬atau (‫ .)قب لت‬Tidak disyaratkan melengkapi kalimat qabul seperti pendapat Syafi'iyah. Dan bertentangan dengan Syafi'iyah, qabul tidak boleh mendahului ijab.

22

Ibid., hal. 13

40 Disyaratkan kesinambungan dalam ijab qabul. Bila terputus dan terpisah maka akad tidak sah.

Tidak diwajibkan menggunakan bahasa Arab selama bahasa yang dipakai dimaksudkan untuk makna ijab dan qabul. Dan tidak boleh menyampaikannya dengan isyarat, kecuali bagi orang bisu, dan isyarat yang disampaikan dapat dipahami.

Syarat kedua: Ada kemauan dan kerelaan dari kedua pihak. Syarat ketiga: Syarat khusus bagi wali, yaitu: laki-laki, sehat akal, baligh, merdeka, beragama sama, lurus beragama dan paham atas akad tersebut.

Syarat keempat: Syarat khusus bagi saksi, yaitu: berjumlah dua orang, lakilaki, baligh, sehat akal, adil (walau dzahirnya saja), tidak mesti merdeka (boleh budak), mampu berbicara, muslim, mampu mendengar (tidak boleh orang tuli, kafir), bukan dari keluarga bergaris keturunan ke atas dan ke bawah, tidak harus mempunyai penglihatan.

Syarat kelima: Tidak ada halangan syar'i antara si laki-laki dan si perempuan dalam melangsungkan perkawinan23.

4. Menurut Madzhab Maliki Menurut kalangan Malikiyah, setiap rukun nikah mempunyai syarat-syarat tersendiri, seperti yang terpapar berikut ini:

23

Ibid., hal. 13

41 1. Syarat untuk Sighat

Menggunakan lafadz khusus, misal: (‫ )أنكحت بنتي‬dan (‫)زوجني فلنة‬ Qabul tidak mesti dengan lafadz khusus, semisal kalimat-kalimat berikut ini: (‫ )قبلت(, )رضيت(, )نفذت‬dan (‫.)أتممت‬

Tidak disyaratkan berucap qabul dengan (‫ ,)قب لت نكاح ها أو زواج ها‬berlawanan dengan pendapat Syafi'iyah terdahulu.

Selain menggunakan kata (‫ )التزو يج‬dan (‫ )الن كاح‬maka akad tidak sah. Perkecualian untuk kata (‫ )اله بة‬boleh dengan disyaratkan penyebutan shadaq (mahar) seperti dalam kalimat (‫.)وهبت لك ابنتي بصداق كذا‬

Adapun bila menggunakan kata lain yang berarti memindahkan kepemilikan semisal (‫ )ب عت(, )من حت(, )ت صدقت(, )أعط يت(, )أحل لت‬dan (‫ )مل كت‬dengan disertai penyebutan mahar, maka hal ini masih diperselisihkan. Tapi pendapat yang rajih adalah akad tidak sah. Bila kata-kata di atas tidak disertai penyebutan mahar, maka tidak ada perselisihan tentang kebatilan akad tersebut.

Disyaratkan ijab qabul harus berkesinambungan dan segera (‫ .)ال فور‬Bila terpisah antara ijab dan qabul namun hanya sebentar maka tidak mengapa. Semisal semisal terpisah dengan khutbah pendek.

Kemudian akad tidak boleh tertentu batasan waktunya, dan bila terjadi, maka nikah termasuk nikah mut'ah yang telah diharamkan pelaksanaannya.

Tidak mengandung syarat yang menyalahi akad seperti pendapat Syafi'iyah.

42 2. Syarat untuk Wali

Laki-laki Merdeka Sehat akal Baligh Tidak dalam keadaan ihram Beragama Islam Tidak bodoh (bila ternyata bodoh tapi mempunyai penglihatan, maka kebodohannya tidak membatalkan hak perwaliannya).

Tidak fasik Mempunyai hak paksa atas perempuan yang berada dalam perwaliannya.

3. Syarat untuk Mahar

Mahar adalah barang yang berhak dimiliki secara syar'i. Misal: Akad tidak sah bila mahar yang diberikan adalah khamr, atau bangkai.

Mahar adalah barang yang dibolehkan diperjualbelikan menurut syar'i. Misal: Akad tidak sah bila mahar yang diberikan adalah seekor anjing.

Bila akad terjadi dengan dua jenis mahar tersebut di atas, maka perkawinan wajib di fasakh (batal) sebelum hubungan intim terjadi. Bila hubungan intim terlanjur terjadi, maka si suami wajib memberikan mahar mistly (mas kawin

43 yang umum di kalangan masyarakat).

4. Syarat untuk Saksi

Sunnah menghadirkan saksi pada saat pelaksanaan akad. Bila tidak hadir, maka tidak mengapa.

Bila pada saat akad tidak ada saksi, maka ketika dukhul wajib menghadirkan saksi. Bila dukhul terjadi tanpa saksi, maka perkawinan tersebut harus fasakh dengan talak ba'in. Dan ini untuk menghindari terbukanya pintu zina.

Kesaksian boleh berupa syahadatul abdaad (saksi silang), dan akad yang terjadi sah. Misal: Seorang wali berakad dengan seorang laki-laki tanpa saksi, lalu keduanya berpisah. Kemudian si wali menemui dua orang yang hendak ia jadikan saksi dengan cara menyatakan kesaksiannya atas terjadinya akad dengan kalimat seperti berikut: (‫)أشهدكما بأنني زوجت فلنا لفلنة‬ “aku bersaksi pada kalian bahwa aku telah mengawinkan si Polan dengan si Polanah.” Di tempat lain, si laki-laki yang berakad dengan wali tersebut bertemu pula dengan dua orang yang hendak ia jadikan saksi dengan cara menyatakan kesaksiannya atas terjadinya akad dengan kalimat seperti berikut: (‫)أشهدكما بأنني تزوجت فلنة‬ “aku bersaksi pada kalian bahwa aku dikawinkan dengan si Polanah. “

44

Bila hal seperti di atas terjadi, namun orang yang dijadikan saksi oleh si wali dan si suami adalah orang yang sama, maka akad juga sah. Tapi kesaksian tidak lagi bernama syahadatul abdaad. Dan jumlahnya cukup dengan dua orang saja.

Bila pada perkawinan yang akadnya tanpa saksi, kemudian si suami melakukan dhukul kepada istrinya tanpa saksi, maka jatuh had zina atas keduanya.

5. Syarat untuk Mempelai Untuk mempelai, disyaratkan bagi keduanya terbebas dari larang melakukan perkawinan, semisal: bagi calon istri tidak sedang ihram, bukan istri orang, tidak sedang iddah. Dan bagi keduanya tidak mempunyai hubungan darah, hubungan susuan dan semenda24.

F. HIKMAH PERKAWINAN Bila ditilik lebih jauh, banyak sekali hikmah yang terkandung dalam suatu ikatan perkawinan, baik dari segi sosial, psikologi maupun kesehatan. Berdasarkan ayat-ayat dalam Al-Qur'an dan nash-nash dari Al-Hadits, dapat disimpulkan bahwa hikmah perkawinan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Sarana penyaluran hasrat seksual Tidak dapat ditampik bahwa sesungguhnya hasrat seksual adalah naluri
24

Ibid., hal. 13

45 yang paling kuat dan paling dasar pada diri manusia yang membutuhkan penyaluran yang tepat. Apabila penyaluran kebutuhan biologis ini tidak memuaskan, maka manusia yang mempunyai hasrat ini dapat terlanda kegoncangan dan kekacauan dalam jiwanya. Kegoncangan dan kekacauan dalam jiwanya tersebut dapat mendorongnya untuk berperilaku jahat dan bermaksiat kepada Allah. Perkawinan adalah jalan yang paling alamiah dan sesuai untuk memuaskan dan memberi jalan penyaluran dari kebutuhan yang satu ini. Dengan perkawinan maka tidak dapat dipungkiri seseorang akan mendapatkan badan yang sehat, memperoleh jiwa yang tenang, mendapatkan pandangan yang terpelihara dari halhal yang haram, memperoleh anugerah dengan berhak menikmati sesuatu dengan halal sesuai dengan apa yang tersirat pada ayat dan hadits pada bagian sebelumnya25.

2. Sarana mendapatkan keturunan Perkawinan adalah jalan utama dan terbaik untuk mendapatkan keturunan. Dengan berketurunan, maka seseorang memuliakan dirinya sendiri, memberi andil melestarikan manusia, menjaga dan memelihara kesucian garis keturunan dan memperbanyak umat Muhammad26.

25 26

Djamaan Nuur, Op. Cit., hal. 10 Ibid., hal. 11

46 3. Sarana menumbuhkan naluri kebapakan dan keibuan Seseorang yang telah melangsungkan perkawinan, kemudian memperoleh buah hati, maka tumbuhlah naluri kebapakan atau keibuan dalam dirinya. Lalu kedua naluri itu terus berkembang dan saling melengkapi sehingga menghasilkan dan membentuk kehidupan berkeluarga yang penuh dengan perasaan yang ramah, saling mencintai, saling mengasihi dan sayang-menyayangi antara anggota keluarga27.

4. Sarana menumbuhkan rasa tanggungjawab Seseorang yang telah mengarungi bahtera rumahtangga dan memperoleh keturunan, akan timbul rasa tanggungjawab dan dorongan yang kuat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai orangtua. Rasa tanggungjawab dan dorongan yang kuat ini akan mematangkan dan mendewasakan jiwa seseorang, sehingga ia akan mempunyai kekuatan untuk bekerja keras melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya tersebut28.

5. Sarana mendirikan sendi-sendi rumahtangga yang kokoh Berdirinya sebuah keluarga dari suatu perkawinan akan menimbulkan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami dan istri dengan berimbang. Sehingga hal ini mewujudkan sinergi antara kedua insan tersebut. Perwujudan pembagian tugas semisal istri sebagai pengatur dan pengurus masalah
27 28

Ibid., hal. 12 Ibid.

47 rumahtangga, pemelihara dan pendidik anak, dan suami sebagai pencari nafkah dan kepala rumahtangga, akan menciptakan suasana yang sehat dan serasi bagi para anggota keluarga dan membentuk rumahtangga yang kokoh29.

6. Sarana mendirikan sendi-sendi masyarakat yang kokoh Melalui sebuah perkawinan akan timbul ikatan persaudaraan dan kekeluargaan antar keluarga istri dan suami. Ikatan ini akan memperteguh rasa saling mencintai antar keluarga yang terjalin di dalamnya. Hal ini juga berarti memperteguh hubungan masyarakat Islam yang kokoh dan diridhai oleh Allah30.

29 30

Ibid. Ibid.

48

BAB III PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON
A. BIOGRAFI SATRIA EFFENDI M. ZEIN 1. Riwayat Pendidikan Prof. Dr. H. Satria Effendi M. Zein, MA. (Alm), adalah putra daerah yang terlahir di Kuala Panduk, Riau, pada 16 Agustus 1949. Beliau mengenyam pendidikan dasarnya di sebuah Sekolah Dasar di Kuala Panduk Riau. Sedangkan pendidikan tingkat menengah beliau tempuh di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung Sumatra Barat. Selepas menuntaskan pendidikan tingkat menengahnya, beliau merantau ke luar negeri untuk melanjutkan studinya. Dalam perantauannya beliau berhasil memperoleh gelar Lc dari Universitas Damaskus Syiria dan gelar MA dari Universitas King Abdul Aziz Mekkah. Sedangkan gelar Doktoral dalam bidang Ushul Fikih dengan yudisium cumlaude beliau peroleh dari Universitas Ummul Qura Mekkah setelah mempertahankan disertasi yang bertajuk “Al-Majmu' Wa Dilalatuhu 'Ala Al-Ahkam”, sebuah studi kritis yang beliau lakukan atas pemikiran hukum Sirajuddin Al-Ghaznawi dalam kitabnya Syarah Al-Mughni Fi Ushul Al-Fiqh Li Al-Khabbazi. Selain itu, beliau juga dianugerahi gelar sebagai guru besar madya dalam bidang ilmu Ushul Fikih yang ditetapkan pada tanggal 29 Desember 2000. Namun

49 sebelum beliau dikukuhkan sebagai seorang guru besar, beliau wafat terlebih dahulu pada hari Jumat, 2 Februari 2000.1

2. Profesi dan Jabatan yang Pernah Diemban Kesibukan beliau semasa hidupnya adalah sebagai dosen pascasarjana di berbagai IAIN di Indonesia, seperti IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN), IAIN Yogyakarta, IAIN Riau, IAIN Padang dan IAIN Ujung Pandang. Selain itu, beliau menjadi dosen pula di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, Fakultas Syariah dan pascasarjana IIQ, Institut Agama Islam Darurrahman dan Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA). Selain kesibukan beliau menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi tersebut di atas, beliau juga pernah memegang jabatan di beberapa bidang yang sesuai dengan kompetensi beliau, seperti Ketua Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Fatwa MUI, Wakil Ketua Dewan Pengurus Arbitrase MUI (BAMUI), Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN MUI), Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Asuransi MAA dan wakil negara Indonesia pada Lembaga Pengkajian Hukum Islam (Majma' Al-Fiqh AlIslamy) di Organisasi Konferensi Islam (OKI).2

Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Kencana, Jakarta, 2004, hal. 539 2 Ibid.

1

50 3. Hasil Pemikiran dan Karya Tulis Sebagai seorang yang memiliki tingkat keilmuan yang memadai, beliau aktif memberikan ceramah agama dan seminar, serta cukup banyak karya ilmiah yang beliau hasilkan. Di antara karya beliau adalah “Fikih Umar Bin Khattab”, dalam kajian Islam tentang berbagai masalah kontemporer, 1988; “Elastisitas Hukum Islam”, dalam buku Metode Mempelajari Islam, 1992, “Fikih Mu'amalat (suatu upaya rekayasa sosial umat Islam Indonesia)”, dalam buku Aktualisasi Pemikiran Islam, “Wawasan Al-Qur'an tentang Hubungan Manusia dengan Alam Sekitarnya”, dalam buku Al-qur'an – Iptek dan Kesejahteraan Umat dan “Metodologi Hukum Islam”, dalam buku Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pengembangan Hukum Nasional.3

B. PENDAPAT SATRIA EFFENDI M. ZEIN MENGENAI HUKUM AKAD NIKAH MELALUI TELEPON Pendapat Satria Effendi tentang hukum akad nikah melalui telepon ini adalah sebuah analisis yurisprudensi kritis yang beliau lakukan terhadap putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1751/P/1989 tentang pengesahan praktik akad nikah melalui telepon. Beliau melakukan analisisnya dengan pendekatan ushuliyah sesuai dengan kompetensinya selama ini. Lebih jauh, beliau menyatakan bahwa persoalan semacam ini di kemudian hari dapat muncul dalam bentuk lain. Semisal media komunikasi yang dapat didengar suaranya sekaligus
3

Ibid., Hal. 540

51 dapat dilihat gambar yang sedang berbicara.4 Untuk memperoleh jawaban atas hukum akad nikah ini, beliau meninjaunya dengan cara memeriksa literatur-literatur fiqh yang dapat beliau jangkau. Karena masalah ini merupakan persoalan baru di bidang Fiqh Islam, pada awal uraian pendapatnya beliau menyatakan bahwa kesimpulan yang diperoleh dapat bervariasi.5

1. Hakikat dan Kedudukan Ijab Kabul dalam Akad Nikah Pada bagian awal uraian pendapatnya, beliau memberikan penjelasan singkat mengenai kedudukan ijab dan kabul dalam akad nikah. akad nikah menurut beliau adalah berdasarkan perasaan suka sama suka atau rela sama rela. Oleh karena perasaan semacam ini adalah sesuatu yang abstrak, maka perwujudan keabstrakan akad ini diwakili oleh ijab dan kabul. Maka karena itulah ijab dan kabul adalah unsur mendasar bagi keabsahan akad nikah. Ijab diucapkan oleh wali mewakili pernyataan rela menyerahkan anak perempuannya kepada si calon suami, dan kabul diucapkan oleh calon suami, sebagai pernyataan rela menyunting calon istrinya. Lebih jauh lagi, ijab berarti lambang penyerahan amanat Allah dari wali perempuan kepada calon suami, dan kabul berarti sebagai lambang bagi kerelaan menerima amanah Allah tersebut.6 Untuk menguatkan uraian ini, beliau mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut:
4 5

Ibid., Hal. 2 Ibid. 6 Ibid., Hal. 3

52 Rasulullah bersabda: “Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita. Mereka (perempuan) di tangan kalian sebagai amanah dari Allah, dan dihalalkan bagi kalian dengan kalimat Allah”.7 Beliau menyatakan makna “Kalimat Allah” dalam hadits yang beliau kutip tidak lain adalah ucapan ijab dan kabul itu sendiri. Sebab begitu pentingnya arti ijab dan kabul bagi keabsahan akad nikah, maka tersebutlah persyaratanpersyaratan ketat yang harus dipenuhi untuk mencapai keabsahan tersebut. Diantaranya adalah ittihad al-majelis (bersatu majelis) dalam melakukan akad seperti yang disepakati para ulama'. Hanya saja, dijumpai permasalah tentang tafsiran dari ittihad al-majelis itu sendiri di kalangan para ulama'. Yang kemudian setelah beliau telusuri berujung pangkal pada dua penafsiran yang berbeda.8

2. Dua Pendapat mengenai Tafsiran dari Ittihad Al-Majelis Berikut adalah hasil penelusuran Satria Effendi atas dua pendapat mengenai tafsiran dari syarat Ittihad Al-Majelis:

a. Pendapat Pertama Dalam temuan beliau, pendapat pertama atas tafsiran ittihad al-majelis adalah bahwa ijab dan kabul harus dilakukan dalam jarak waktu yang terdapat dalam satu upacara akad nikah, bukan dilakukan dalam dua jarak waktu secara terpisah.
7 8

Ibid. Ibid.

53 Misalkan bila ijab diucapkan dalam satu upacara, kemudian setelah upacara tersebut selesai kabul diucapkan pula pada upacara berikutnya, maka hal ini tidak sah. Walaupun dua upacara tersebut dilakukan dalam satu tempat yang sama secara berturut-turut, namun karena kesinambungan antara keduanya tidak terwujud maka tidak sah. Dalam hal ini beliau berkesimpulan bahwa persyaratan ittihad al-majelis menyangkut kesinambungan waktu ijab dan kabul, bukan kesatuan tempat.9

Uraian Maksud dari Pendapat Pertama Untuk menguatkan pendapat ini, beliau mengutip contoh yang

dikemukakan oleh Al-Jaziri tentang penjelasan pengertian ittihad al-majelis (bersatu majelis) dalam mazhab Hanafi. Misal, seorang calon suami mengirim surat berisi akad nikahnya kepada pihak perempuan yang dikehendakinya. Sesampai surat tersebut dan kemudian isinya dibacakan dalam satu majelis, lalu si wali calon istri langsung mengucapkan penerimaannya. Praktik akad nikah semacam ini menurut kalangan Hanafiyah sah, dengan alasan bahwa pembacaan ijab calon suami yang tertulis di surat dan pengucapan kabul dari wali calon istri, didengar oleh dua orang saksi dalam majelis yang sama, tidak dalam dua upacara berturut-turut yang terpisah dari segi waktunya. Sesuai contoh di atas, ijab diucapkan oleh calon suami, sedangkan kabul diucapkan oleh wali calon istri. Dan menurut Hanafiyah hal ini boleh. Karena ucapan akad yang diucapkan terlebih dahulu, disebut ijab, baik diucapkan oleh
9

Ibid.

54 wali, maupun oleh calon suami. Sedangkan ucapan akad yang disebut kemudian disebut kabul, baik diucapkan oleh calon suami, maupun oleh wali calon istri.10 Yang beliau tekankan dalam keterangan ini adalah bentuk akad yang dicontohkan ini bukan salah satu bentuk tawkil, karena yang didengar oleh para saksi adalah redaksi tertulis dalam surat calon suami yang dibacakan didepannya, dan pembaca surat bukanlah wakil dari si calon suami karena surat tersebut tidak menyatakan hal yang demikian. Pendapat di atas beliau anggap sejalan dengan penjelasan Sayid Sabiq bahwa akad nikah ghaib mempunyai dua macam cara: pertama dengan mengutus wakil, dan kedua dengan menulis surat kepada pihak lain untuk menyampaikan akad nikahnya. Bagi si penerima surat yang setuju atas isi surat itu, hendaknya mendatangkan para saksi kemudian dibacakanlah redaksi surat itu di hadapan mereka. Praktik semacam ini sah, selama pengucapan kabulnya dilakukan langsung dalam satu majelis. Dalam praktik ini jelas bahwa dua orang saksi itu hanya mendengar redaksi surat yang dibacakan, bukan dalam bentuk tawkil. 11 Demi memperinci dan mengarahkan gagasan yang beliau sarikan dari pendapat pertama ini, beliau menyatakan bahwa syarat ittihad al-majelis (bersatu majelis) yang harus dipenuhi dalam suatu akad, bila hanya dimaksudkan untuk kesinambungan waktu, maka bersatu tempat bukan satu-satunya cara untuk mewujudkan kesinambungan waktu ini.

10 11

Ibid., Hal. 4 Ibid.

55 Berikut adalah permisalan yang beliau hadirkan untuk menjelaskan uraian di atas. Bila wali calon istri mengucapkan ijab dan calon suami mengucapkan kabul di ruangan yang berbeda pada upacara dan waktu yang satu, dibantu oleh alat pengeras suara, maka kesinambungan ijab dan kabul jelas terwujud. Konsekuensi dari pendapat ini adalah para saksi tidak harus dapat melihat pihak-pihak pelaku akad nikah. Beliau menguatkan uraiannya dengan mengutip pendapat Ibnu Qudamah, seorang fuqaha' Hanabilah dalam kitab Al-Mughni yang menegaskan bahwa kesaksian dua orang buta dalam akad nikah sah. Selama si saksi buta dapat memastikan dengan yakin bahwa suara yang ia dengar sungguhsungguh diucapkan para pelaku akad nikah. Pendapat Ibnu Qudamah ini diikuti oleh Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqh As-Sunnah.12

Kesimpulan Satria Effendi atas Pendapat Pertama Kemudian beliau menyimpulkan bahwa sebenarnya esensi dari persyaratan ittihad al-majelis (bersatu majelis) adalah menyangkut keharusan kesinambungan antara ijab dan kabul. Kesinambungan ini adalah untuk mewujudkan kepastian bahwa ijab dan kabul itu betul-betul sebuah manifestasi perasaan kedua belah pihak yang menyelenggarakan akad nikah. Dalam arti bahwa kabul yang segera diucapkan oleh wali setelah ijab mengisyaratkan kerelaan calon suami. Dan sebaliknya, bila terentang jarak waktu antara ijab dan kabul, memunculkan kesempatan berkurangnya tingkat kerelaan calon suami maupun wali calon istri. Maka menurut beliau, demi menghindari hal
12

Ibid., Hal. 5

56 inilah kesinambungan antara ijab dan kabul itu disyaratkan.13 Lalu beliau menyatakan bila pendapat keabsahan berijab kabul melalui surat dan keabsahan kesaksian dua orang buta digabungkan, maka syarat saksi dapat melihat pelaku ijab kabul bukan lagi hal yang penting. Dengan demikian, ketentuan kedua pelaku akad untuk hadir dan melaksanakan akad dalam satu ruangan agar dapat dilihat kedua saksi, bukanlah syarat bagi keabsahan akad nikah.14

b. Pendapat Kedua Pendapat kedua atas tafsiran ittihad al-majelis menurut beliau adalah pendapat yang menyatakan bahwa bersatu majelis disyaratkan, untuk menjaga kesinambungan antara ijab dan kabul, sekaligus harus mewujudkan pemenuhan tugas dua orang saksi. Karena menurut pendapat ini, kedua saksi harus mampu melihat dengan mata kepalanya bahwa ijab dan kabul itu betul-betul diucapkan oleh kedua pelaku akad.15

Uraian Maksud dari Pendapat Kedua Berikut uraian beliau untuk menjelaskan maksud dari pernyataaan di atas. Salah satu syarat sah akad nikah adalah dihadiri oleh dua orang saksi. Dan tugas dua orang saksi itu adalah untuk memastikan keabsahan ijab kabul dari segi redaksi dan pelaku akad, dan ini yang disepakati oleh para ulama.
13 14

Ibid. Ibid., Hal. 6 15 Ibid.

57 Kemudian beliau menyatakan bahwa keabsahan suatu redaksi memang dapat dipastikan cukup dengan mendengarkannya. Tetapi kepastian bahwa redaksi sungguh-sungguh diucapkan oleh yang bersangkutan hanya bisa ditentukan dengan melihat secara langsung. Pendapat inilah yang diyakini oleh kalangan Syafi'iyah.16 Maka konsekuensi dari pendapat ini membuat kesaksian orang buta tidak lagi sah. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami, salah satu fuqaha Syafi'iyah dalam kita Tuhfatul Muhtaj. Ibnu Hajar menolak kesaksian orang buta dengan alasan bahwa kesaksian atas akad haruslah berdasarkan penglihatan dan pendengaran. Sebab kesaksian orang buta sama saja seperti kesaksian seseorang yang berada dalam keadaan gelap. Kedua macam kesaksian ini tidak sah, sebab para saksi tidak mampu melihat para pelaku akad. Dengan ketidakmampuan para saksi melihat para pelaku akad, maka tidak akan timbul kepastian bahwa ijab dan kabul sungguh-sungguh dilakukan kedua pelaku akad. Kemudian beliau menyertakan pendapat Ibnu Hajar tersebut dengan penjelasan dari Syekh Abdul Hamid Asy-Syarwani terhadap pendapat Ibnu Hajar sebagaimana berikut: “Kesaksian orang dalam gelap tidak sah, karena tidak dapat mengetahui kedua orang yang sedang melakukan akad. Sedangkan berpegang kepada suara saja tidaklah memadai. Seandainya kedua orang saksi mendengar ijab dan kabul, tetapi tidak melihat kedua orang yang mengucapkannya, meskipun dua orang
16

Ibid.

58 saksi mengetahui betul bahwa ijab dan kabul adalah suara dari kedua belah pihak, namun akad nikahnya tetap dianggap tidak sah, dengan alasan tidak dilihat dengan mata kepala (al-mu'ayanah).”17 Lalu beliau menyimpulkan nukilan di atas, bahwa ada satu tingkat keyakinan yang perlu dicapai dalam kesaksian akad nikah untuk mewujudkan keabsahan. Dalam artian bahwa tingkat keyakinan atas suatu redaksi tidak sebanding antara didengarkan saja dengan didengar dan dilihat. Dan dalam akad nikah, tingkat keyakinan inilah yang dikehendaki. Menurut beliau, pandangan semacam ini adalah implementasi dari sikap para ulama' Syafi'iyah yang selalu bersikap hati-hati (ihtiyat) dalam menghukumi sesuatu, lebih-lebih dalam masalah akad nikah. Karena akad nikah berdampak pada halalnya sesuatu yang awalnya diharamkan. Beliau juga menambahkan pendapat Imam Nawawi dalam kitab AlMajmu' yan mencontohkan sebuah permisalan seperti berikut: jika wali calon istri mengucapkan ijabnya dengan cara berteriak yang tak terlihat, kemudian teriakan tersebut didengar calon suami dan segera mengucapkan kabulnya, maka akad nikah seperti itu tidak sah.18 Lalu, beliau menyimpulkan bahwa persyaratan bersatu majelis, oleh kalangan Syafi'iyah bukan hanya dimaksudkan untuk menjaga kesinambungan waktu, tapi masih menghendaki pemenuhan syarat lain, yaitu al-mu'ayanah. Yakni
17 18

Ibid., Hal. 7 Ibid.

59 kedua pelaku akad hadir di tempat yang sama. Sebab dengan cara itu syarat almu'ayanah ketika ijab kabul terjadi dapat terwujud. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa dalam pandangan Syafi'iyah, akad nikah tergolong perbuatan bernilai ta'abbudi. Karena bersifat demikian, maka tata laksananya harus bersifat tauqifiyah, harus terikat dengan apa yang diwariskan oleh Nabi Muhammad, tidak ada peluang untuk mengadakan cara-cara selain yang diwariskan oleh Nabi Muhammad. Dan itulah sebab mengapa kalangan Syafi'iyah tidak membolehkan sighat akad selain lafal nikah atau tazwij.19

Kesimpulan Satria Effendi atas Pendapat Kedua Untuk lebih menekankan uraian di atas, beliau menyimpulkan hal-hal yang menjadi pokok pedoman kalangan Syafi'iyah ini: a. Kesaksian harus didasarkan atas penglihatan dan pendengaran. Untuk memenuhi persyaratan itu disyaratkan bersatu majelis, dalam arti bersatu tempat secara fisik. Karena dengan itu persyaratan al-mu'ayanah dengan arti dapat dilihat secara fisik, dapat dipenuhi. Pandangan ini berhubungan dengan sikap hati-hati Syafi'iyah dalam masalah akad nikah. b. Akad nikah mengandung arti ta'abbud. Maka pelaksanaannya harus terikat dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Sebab itu jalan qiyas (analogi) tidak dapat diterima di ranah ini.20
19 20

Ibid., Hal. 8 Ibid.

60 3. Kesimpulan Satria Effendi M. Zein Kemudian secara obyektif beliau menyimpulkan uraiannya yang terangkum dalam poin-poin berikut: a. Keputusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan no. No. 1751/P/1989 bila dicocokkan dengan tafsiran pendapat pertama maka telah absah. Dalam perkara ini, para saksi formal yang ada di Indonesia dapat memastikan terjadinya akad nikah dengan cara melihat wali calon istri mengucapkan ijabnya. Begitu pula para saksi nonformal di Amerika yang memastikan terjadinya akad nikah dengan melihat calon suami mengucapkan kabulnya secara langsung. Dengan demikian, persyaratan kesinambungan waktu dan persyaratan para saksi harus secara yakin dan melihat pelaku akad telah terpenuhi. Walaupun terdapat dua kelompok saksi di tempat yang berbeda. Adanya kekhawatiran pemalsuan suara sudah menjadi tidak berarti, ketika para saksi formal yang ada di Indonesia dan para saksi non formal yang di amerika sama-sama dapat dihadirkan oleh pengadilan agama jakarta selatan, dan serentak memastikan terjadinya ijab dan kabul antara kedua belah pihak, dan kedua belah pihak pun tidak mengingkari kesaksian tersebut.21 b. Bila dilihat dari pandangan pendapat kedua, maka jelas praktik akad nikah melalui telepon itu tidak sah. Berikut perbandingan antara praktik akad nikah melalui telepon dengan pokok-pokok pedoman kalangan syafi'iyah sebagai berikut:
21

Ibid., Hal. 9

61 POKOK-POKOK PEDOMAN KALANGAN SYAFI'IYAH Para saksi harus dapat melihat pelaku Para berhadap-hadapan secara fisik. saksi akad nikah, (al-mu'ayanah) dalam arti mendengar PRAKTIK AKAD NIKAH YANG TERJADI di suara Indonesia calon hanya di suami

Amerika tanpa dapat melihatnya, begitu juga sebaliknya.

Persyaratan

bersatu

majelis

harus Syarat al-mu'ayanah tidak tercapai kelompok saksi Indonesia-Amerika.

dengan cara bersatu tempat untuk kecuali menggabungkan kesaksian dua mencapai al-mu'ayanah.

Masalah akad nikah berunsur ta'abbud, Praktik penyaksian akad dengan dua karena itu harus sesuai dengan contoh kelompok saksi yang berbeda tidak Nabi Saw. pernah terjadi pada zaman Nabi Saw.

c. Mengenai cara akad nikah yang sesuai dengan contoh Nabi Muhammad Saw, maka yang dikenal hanya dua macam. Yang pertama adalah calon suami hadir dengan wali calon istri dalam satu tempat untuk melaksanakan akad, yang kedua calon suami mengutus wakil yang dipercaya untuk mengakadkan dirinya bila ia tidak dapat menghadiri akad tersebut. Contoh berwakil terdapat dalam beberapa hadits, diantaranya sebagai berikut: Hadits pertama: Hadits riwayat Abu Daud, dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah pernah berkata kepada seorang lelaki, “Apakah engkau rela untuk saya kawinkan dengan perempuan fulanah?” Lelaki itu menjawab, “Bersedia”. Kemudian Rasulullah berkata pula kepada perempuan yang dimaksudkan, “Apakah kamu

62 bersedia untuk saya kawinkan dengan lelaki fulan? Perempuan itu menjawab, “Bersedia”. Kemudian Rasulullah menikahkan keduanya.22 Hadits kedua: Hadits riwayat Abu Daud yang menceritakan bahwa Ummu habibah termasuk diantara kelompok yang berhijrah ke Habsyah, setelah suaminya bernama Abdullah bin Jahasy wafat, dikawinkan oleh An-najasyi dengan Rasulullah.23 d. Bila mengikuti pendapat Syafi'iyah, maka bila ada peristiwa akad nikah jarak jauh di kemudian hari, dapat para pihak dapat didengar suaranya sekaligus gambarnya, tentu tetap dinyatakan tidak sah. Sebab syarat al-mu'ayanah atau berhadap-hadapan secara fisik tidak terpenuhi. Karena pada permisalan ini yang dilihat hanyalah gambarnya, bukan fisik jasmani.24 e. Beliau secara jujur mengakui bahwa pemahaman Syafi'iyah dalam permasalahan ini terasa amat kaku, sehingga dengan demikian tata laksana akad nikah tidak berpeluang untuk dikembangkan f. Kekakuan dan keketatan Syafi'iyah dimaklumi sebagai sikap kehati-hatian (ihtiyat), agar tidak muncul praktik akad nikah yang tidak pasti.25 g. Dua kesimpulan hukum tersebut di atas, dapat dijadikan alternatif selama belum ada ketegasan pendapat mana yang diberlakukan di peradilan agama. Bila sudah ada ketegasan pendapat mana yang disepakati untuk diberlakukan
22 23

Ibid., Hal. 11 Ibid., Hal. 12 24 Ibid., Hal. 13 25 Ibid.

63 (baik berwujud undang-undang atau peraturan), maka umat Islam wajib terikat dengan undang-undang atau peraturan yang disepakati. Hal ini sesuai dengan kesepakatan ulama, bahwa bila suatu ketetapan berlaku di pengadilan, maka selain ketetapan itu tidak berlaku lagi.26 h. Beliau mengakui belum menemui adanya peraturan yang secara tegas mengatur praktek semacam ini. Dasar-dasar hukum pada PP RI No. 9 Tahun 1975 pasal 10 ayat 3 yang berbunyi: “Dengan mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-masing hukum agamanya dan kepercayaan itu, perkawinan dilaksanakan di hadapan pegawai pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi” menurut beliau masih berpeluang menghasilkan berbagai penafsiran. Maka perlu penegasa apakah tidak harus dihadiri secara fisik (sesuai dengan pendapat pertama) atau harus dihadiri secara fisik (sebagaimana yang diyakini pendapat kedua).27

C. DASAR YANG DIPAKAI OLEH SATRIA EFFENDI M. ZEIN 1. Dari As-Sunnah Untuk menghasilkan analisis kritis tentang hukum akad nikah melalui telepon, Satria Effendi M. Zein mendasarkan pendapatnya pada satu hadits riwayat muslim yakni: Rasulullah bersabda: “Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita. Mereka (perempuan) di tangan kalian sebagai amanah dari Allah, dan dihalalkan
26 27

Ibid., Hal. 14 Ibid.

64 bagi kalian dengan kalimat Allah”. Beliau juga dua hadits riwayat Abu Daud tentang tawkil. Yang pertama dari Uqbah bin Amir yakni: ‫عن عقبة بن عامر أن النبي صلى ال عليه وسلم قال لرجل " أترضى أن أزوجك فلنة ؟ " قال نعم وقال‬ ...‫للمرأة " أترضين أن أزوجك فلنا ؟ " قالت نعم فزوج أحدهما صاحبه‬ dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah pernah berkata kepada seorang lelaki, “Apakah engkau rela untuk saya kawinkan dengan perempuan fulanah?” Lelaki itu menjawab, “Bersedia”. Kemudian Rasulullah berkata pula kepada perempuan yang dimaksudkan, “Apakah kamu bersedia untuk saya kawinkan dengan lelaki fulan? Perempuan itu menjawab, “Bersedia”. Kemudian Rasulullah menikahkan keduanya (HR. Abu Daud No. 2117)

dan yang kedua tentang perkawinan Nabi dengan Ummu Habibah yakni. ‫عن عروة بن الزبير عن أم حبيبة أنها كانت عند ابن جحش فهلك عنها وكان فيمن هاجر إلى أرض الحبشة‬ ‫فزوجها النجاشي رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ Dari Urwah bin Zubari, bahwasannya Ummu Habibah adalah istri dari Ibnu Jahasy, kemudian suaminya meninggal, dan dia termasuk kelompok yang berhijrah ke Habsyah, kemudian Najasyi menikahkannya dengan Rasulullah SAW. (HR. Abu Daud No. 2086)

2. Dari Literatur Selain itu beliau merujuk kepada pendapat para Ulama' dalam kitab-kitab fiqh klasik dan modern, berikut rinciannya:28

28

Ibid., Hal. 16

65 JUDUL KITAB PENGARANG KETERANGAN Lintas mazhab Syafi'iyah Hanabilah Syafi'iyah Lintas mazhab Syafi'iyah

Al-Fiqh 'Ala Mazahibil Arba'ah Abdurrahman Al-Jaziri Al-Majmu' Al-Mughni Al-Muhazzab Fiqh As-Sunnah Tuhfatul Muhtaj Muhyiddin An-Nawawi Ibnu Qudamah Al-Maqdisy Abdul Khaliq As-Suyuthy Sayid Sabiq Ibnu Hajar Al-Haitsami

3. Dari Peraturan atau Undang-Undang Tak lupa pula beliau menyertakan hukum positif yang berlaku di Indonesia, utamanya PP RI No. 9 Tahun 1975 pasal 10 ayat 3 yang berbunyi: “Dengan mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-masing hukum agamanya dan kepercayaan itu, perkawinan dilaksanakan di hadapan pegawai pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi”.

D. METODE YANG DIPAKAI OLEH SATRIA EFFENDI M. ZEIN Dalam menentukan pendapatnya, Satria Effendi M. Zein menggunakan metode komparatif vertikal29, yakni metode perbandingan yang

memperbandingkan antara produk hukum yang dihasilkan oleh PA Jakarta Selatan No. 1751/P/1989 tentang pengesahan praktik akad nikah melalui telepon dengan Hadits Nabi, pendapat Ulama' madzhab yang empat, dan hukum atau peraturan yang berlaku di Indonesia.
29

Ibid., Hal. xliii

66 Karena praktik akad nikah seperti ini pada jaman sebelumnya tidak dikenal dan dijumpai, beliau menggunakan metode qiyas, salah satu metode istinbat hukum yang disepakati para Ulama' mujtahid dan menjadi salah satu sumber hukum Islam selain Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma' Ulama'.

67

BAB IV ANALISIS
A. ANALISIS SECARA UMUM 1. Kerangka Pendapat Satria Effendi M. Zein Satria Effendi M. Zein menyusun uraian pendapatnya tentang hukum akad nikah melalui telepon secara cermat dan sistematis. Pada bagian awal, beliau membuka pendapatnya dengan penguraian latar belakang masalah yang menjadi obyek yang akan ia analisis. Yakni bagaimana Pengadilan Agama Jakarta Selatan mengesahkan praktik akad nikah melalui telepon dalam putusan No. 1751/P/1989. Beliau juga memberikan alasan pentingnya mengomentari putusan ini, karena beliau menduga akan muncul media komunikasi yang lebih maju dari telepon, yakni dapat didengar suaranya sekaligus dilihat gambar yang berbicara, yang pada masa sekarang terwujud dalam teknologi teleconference. Kemudian beliau melanjutkan pembahasannya dan memfokuskannya kepada hakikat dan kedudukan ijab kabul dalam akad nikah. Dengan ditambahkannya hadits riwayat Muslim, uraian ini akhirnya membawa kesimpulan bahwa ijab kabul dalam akad nikah sangat penting. Oleh karena begitu pentingnya, ijab kabul mempunyai syarat-syarat yang ketat untuk dianggap sah. Dan salah satunya adalah syarat Ittihad Al-Majelis seperti yang disepakati para ulama' empat madzhab.

68 Dari situ, beliau mengarahkan pembaca kepada ulasan-ulasan yang perlu untuk menjelaskan lebih dalam maksud dari ittihad al-majelis yang jadi inti permasalahan akad nikah semacam ini. Ulasan yang beliau hadirkan nampak sedapat mungkin meliputi semua pendapat dari empat madzhab yang ada disertai alasan yang mendasarinya.Lalu beliau menyimpulkan pendapat-pendapat tersebut, mengkomparasikannya dengan putusan pengadilan yang sedang beliau komentari.

2. Karakteristik Pendapat Satria Effendi M. Zein Dalam menelusuri sebuah permasalahan, Satria Effendi terlebih dahulu mencari dan menyajikan dalil nash, kemudian membandingkan pendapatpendapat ulama' yang ada yang dikutipkan dari berbagai sumber, setelah itu ia melakukan qiyas dan menguji maslahat serta Maqasid As-Syari'ah yang ada dalam masalah itu, barulah kemudian ia menyimpulkannya.1 Di sinilah letak kedalaman, originalitas, dan kontribusi pemikiran Satria Effendi mengenai hukum keluarga Islam di Indonesia. Meskipun dalam kehidupannya sehari-hari secara pribadi Satria Effendi dikenal oleh para koleganya sebagai pengikut mazhab Syafi'i, tetapi dalam analisisnya ia sangat dinamis memilih pendapat mazhab yang dinilainya paling kuat argumentasinya.2

Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Kencana, Jakarta, 2004, hal. xxxix 2 Ibid.

1

69 Dalam membuahkan pendapatnya, Satria Effendi M. Zein mempunyai karakter dan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Mengacu kepada Maqashid As-Syari'ah.3 Satria Effendi M. Zein berusaha dalam berpendapat berusaha menjangkau tujuan ditetapkan hukum dalam Islam. Dalam hal ini, terlihat jelas bagaimana beliau menyatakan “...dengan demikian masalah pelaksanaan akad nikah tidak bisa berkembang...”4 ketika mengomentari kekakuan pemahaman Syafi'iyah sesuai temuannya. Komentar semacam ini adalah bentuk kepeduliannya kepada pengembangan pelaksanaan akad nikah dengan mengikuti perkembangan jaman.

b. Bercorak komparatif.5 Satria Effendi M. Zein dalam mengomentari masalah ini, membandingkan dua pendapat yang beredar dalam menafsiri Ittihad Al-Majelis. Pendapat yang ia bandingkan adalah pendapat madzhab Hanafy dan Hambaly di satu sisi dengan madzhab Syafi'iy di sisi lain. Selain itu, corak komparatif ini juga nampak dalam pemilihan kitab yang beliau rujuk, yakni Al-Fiqh 'Ala Mazahibil Arba'ah karya Abdurrahman Al-Jaziri. Pembahasan masalah fikih dengan model perbandingan bukanlah sesuatu yang asing lagi, terutama pada periode modern ini. Berbagai literatur fikih disajikan dalam bentuk studi perbandingan dengan memperhatikan apa yang
3 4

Ibid., hal. 529 Ibid., hal. 13 5 Ibid., hal. 529

70 menjadi inti persoalannya, dan yang mempeloporinya adalah Ibnu Rusyd dalam kitab bidayatu Al-Mujtahidnya.6

c. Berupaya membangun Fiqh Lintas Madzhab.7 Upaya untuk membangun fikih lintas mazhab terlihat jelas dalam analisis satria Effendi terhadap berbagai masalah dalam buku ini. Yang menjadi menarik manakala beliau mengungkap pendapat secara qauly sesuai dengan Ulama yang berpendapat, dan kadangkala secara manhajiy.8 Hal ini bisa dilihat dalam mengungkapkan pendapat Ibnu Qudamah secara pribadi, dan mengumpulkan pendapat Ulama' Syafi'iyah dan mengungkapkannya dalam bentuk pendapat kelompok secara manhaj.

d. Menggunakan pendekatan Ta'abbudi dan Ta'aqquli.9 Pendekatan ini tampak jelas ketika Satria Effendi berusaha membedakan pendapat Syafi'iyah dengan pendapat Hanabilah dan Hanafiyah dalam menyikapi akad nikah, apakah tergolong Ta'abbudi atau Ta'aqquli. Pendekatan semacam ini menjadikan kesimpulan yang beliau tawarkan lebih tajam, berbobot dan variatif.

3. Kelebihan Pendapat Satria Effendi M. Zein Tak dapat disangkal apabila Satria Effendi adalah kelompok intelektual muslim yang menganut paham Madrasah Moderat, suatu istilah yang digunakan oleh Yusuf Qaradhawi dalam menjuluki kelompok penengah antara literal dan
6 7

Ibid. Ibid. 8 Ibid. 9 Ibid.

71 liberal. Berikut adalah ciri-ciri penganut Madrasah Moderat menurut Qaradhawi: 1. Mencari maksud syariat sebelum mengeluarkan hukum10. Ini yang dilakukan Satria Effendi dalam menggali maksud dari ittihad al-majelis. 2. Memahami teks dalam bingkai sebab dan kondisinya11. Ini terlihat ketika beliau mengomentari ketidakjelasan uraian keputusan PA Jakarta Selatan tentang hadits riwayat Abu Daud dari Uqbah bin Amir tentang praktik tawkil. 3. Membedakan antara maksud-maksud yang mapan dan wasilah-wasilah yang berubah12. Hal ini nampak dalam kejelian beliau mengidentifikasi bahwa ittihad al-majelis adalah wasilah, bukan maksud dari akad nikah. 4. Menyesuaikan dengan yang telah mapan dan yang akan senantiasa berubah.13Ini terlihat dari anggapan beliau bahwa putusan akad nikah melalui telepon perlu dan mendesak untuk dianalisis, karena bisa jadi di kemudian hari muncul problem serupa. 5. Melihat perbedaan makna dalam ibadah dan muamalah14. Ini tidak lain adalah pendekatan Ta'abbudi dan Ta'aqquli yang beliau anut yang telah disinggung di bagian sebelumnya. Kelebihan lain dari pendapat Satria Effendi adalah pemahamannya atas hukum positif dan sistem hukum sipil yang dianut di Indonesia. Satria
Yusuf Qaradhawi, Fiqih Maqashid Syariah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2004, hal. 539 Fiqh maqashid syariah hal 160 11 Ibid., 167 12 Ibid. 13 Ibid., hal 214 14 Ibid., hal 217
10

72 menyatakan bahwa hakim berhak untuk rechtsvinding15. Seperti dalam pernyataannya “...dua kesimpulan hukum tersebut di atas, dapat dijadikan alternatif selama belum ada ketegasan pendapat mana yang diberlakukan di peradilan agama...” ketika memberikan dua alternatif kesimpulan kedudukan akad nikah melalui telepon.

4. Kekurangan Pendapat Satria Effendi M. Zein Beberapa kekurangan dapat dijumpai dari pendapat Satria Effendi. Di antaranya adalah beliau tidak merujuk kepada peraturan perundang-undangan tentang hukum keluarga yang berlaku di negeri-negeri muslim di dunia modern sekarang ini, di luar Indonesia. Padahal perbandingan seperti itu amat diperlukan, agar supaya para pemikir hukum Islam tidak sendirian di dalam melakukan terobosan-terobosan pemikiran hukumnya. Inilah yang dapat disebut dengan kajian komparatif horizontal. Sedangkan apa yang telah dilakukan oleh Satria Effendi pada dasarnya adalah kajian komparatif vertikal, yaitu membandingkan masalah hukum yang dihadapi dengan apa yang terdapat dalam kitab-kitab fikih.16 Selain itu, Pendapat Satria Effendi hanyalah bersifat catatan dan komentar dalam kemasan keilmuan. Sebab putusan pengadilan yang beliau komentari adalah mengikat, maka catatan dan komentar atas putusan tersebut hanya berperan memberikan alternatif-alternatif untuk pengembangan hukum selanjutnya,17 dan tidak berdampak hukum apa-apa.
15 16

Satria Effendi, Op. Cit., hal. xviii-xix Ibid., hal. xliii 17 Ibid., hal. xxiv

73 B. ANALISIS ATAS DASAR SATRIA EFFENDI M. ZEIN Satria Effendi tidak meletakkan kitab-kitab filsafat hukum Islam sejajar atau bahkan lebih penting dari kitab fiqh. Meskipun demikian, nampak bahwa Satria Effendi mengutamakan Maqasid As-Syari'ah dan kemaslahatan, yang menjadi dua topik penting dalam ilmu ushul fiqh.18 Pemilihan hadits yang beliau bawa untuk pembahasan pendapatnya telah tepat. Satu hadits riwayat Muslim tentang keagungan akad nikah dan dua hadits riwayat Abu Daud tentang tawkil. Lalu dalam pemilihan kitab rujukan, nampak keseimbangan yang hendak beliau jaga, dan maksud membangun fiqh lintas madzhab yang betul-betul toleran dan dinamis. Kitab lintas madzhab yang diwakili oleh Fiqh As-Sunnah dan Fiqh 'Ala Madzahib Arba'ah, kemudian kitab yang mewakili pendapat pertama diwakili oleh kitab Al-Mughni dan kitab yang mewakili pendapat kedua diwakili oleh kitab Tuhfatul Muhtaj dan Al-Muhazzab beserta syarahnya, Al-Majmu'. Kesesuaian ini berlanjut ketika beliau menyajikan PP RI No. 9 tahun 1975 sebagai penambah keterangan bahwa undang-undang tersebut masih berpeluang multitafsir.

C. ANALISIS ATAS METODE SATRIA EFFENDI M. ZEIN Satria Effendi M. Zein menggunakan metode komparatif vertikal, yaitu metode di mana beliau membandingkan perkara yang dihadapi yakni tentang

18

74 hukum akad nikah melalui telepon menggunakan hadits, pendapat ulama dan peraturan perundangan yang ada. Metode komparatif vertikal ini adalah metode yang tepat dimana peristiwa akad nikah melalui telepon yang bersifat dinamis, untuk mengetahui kedudukan hukumnya maka perlu melihat dalil dan pendapat yang sifatnya tetap. Pengujian ini tidak berhenti di sini. Satria Effendi melakukan metode qiyas, di mana permasalahan akad nikah melalui telepon yang kontemporer, diambilkan titik-titik kesamaan dengan pendapat-pendapat ulama' terdahulu tentang berbagai macam pelaksanaan akad nikah. Titik-titik kesamaan yang beliau tentukan adalah: 1. Calon suami dengan wali calon istri tidak berkumpul dalam satu tempat ketika berakad , yang pencarian hukumnya beliau kiaskan dengan akad melalui surat ala Hanafiyah. 2. Para saksi tidak melihat pelaku akad secara langsung, yang pencarian hukumnya beliau kiaskan dengan diterimanya kesaksian orang buta menurut Hanabilah atau penolakan kesaksian dalam gelap. Kemungkinan salah atau keliru dalam putusan hakim tetap ada, karena itu pada tempatnya pula jika penulis melakukan analisis terhadap putusan-putusan hakim tersebut. Kemungkinan salah atau keliru pada hasil analisis penulis dalam karyanya juga tetap ada. Hal ini karena menyangkut karakteristik fiqh muamalah

75 (ijtihadiyat) yang dikajinya, yaitu a). memiliki kebenaran yang sifatnya relatif, b). keberlakuannya bisa tidak universal dan boleh jadi tidak permanen, dan c) bersifat ta'aqquli. (‫)معقول المعنى‬ Baik para hakim yang telah memutus perkara maupun penulis dalam buku ini telah melakukan ijtihad dalam kategori ijtihad tatbiqi (‫ )إجت هاد ت طبيقى‬yang pijakannya bukan hanya nash-nash al-quran dan as-sunnah serta pendapat para ulama, namun juga situasi dan kondisi pihak-pihak yang berperkara (‫.)الظروف‬ Dalam kasus ini pemikiran penulis sangat kental dengan pertimbangan maslahat sebagai tujuan utama disyariatkannya hukum Islam dengan indikator utamanya, yaitu: a) memberikan manfaat (‫ )الج لب الن فع‬dan b) dan kemudian menghindarkan madharat (‫)دفع الضرر‬ Nash-nash Al-Quran dan atau As-Sunnah yang secara jelas dan tegas menyatakan suatu ketentuan hukum, itulah acuan utama penulis. Undang-undang atau hukum positif merupakan alternatif utama bilama seputar kasus yang dianalisisnya terdapat perbedaan pendapat para ulama. Hal ini sesuai dengan kaidah (‫)حكم الحاكم ملزم يرفع الخلف‬ “Keputusan hakim/penguasa menghilangkan perbedaan pendapat”. Kapasitas penulis dalam berbagai kajiannya dapat digolongkan sebagai pakar hukum Islam yang berpegang kepada prinsip:

76 (‫)المحافظخة على القديم الصالح والخذا بالجديد الصلح‬ “memelihara produk pemikiran klasik yang masih relevan dan mengambil produk pemikiran baru yang lebih relevan”.

77

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Satria Effendi M. Zein berpendapat bahwa hukum akad nikah melalui telepon mempunyai dua macam hukum, yakni boleh menurut kalangan Hanafiyah dan Hanabilah, serta tidak boleh menurut kalangan Syafi'iyah selama belum ada kekuatan hukum tetap dari hakim. Namun Satria Effendi M. Zein mempunyai kecenderungan mengambil pendapat kalangan Hanafiyah dan Hanabilah yang membolehkan praktik semacam ini, karena beliau berpendapat bahwa praktik perkawinan perlu mengikuti perkembangan zaman. 2. Satria Effendi M. Zein berpendapat berdasarkan hadits-hadits tentang tawkil terpilih, didukung dengan kitab-kitab yang membahas persoalan secara lintas madzhab seperti Fiqh Sunnah karya Sayid Sabiq, Al-Fiqh Ala Madzahib AlArba'ah karangan Al-Jaziri. Di samping itu beliau juga menyertakan kitabkitab perwakilan dari masing-masing madzhab untuk memperkuat analisis. Juga menimbangnya dari sisi hukum positif yang berlaku di Indonesia melalui PP. No. 9 th. 1975. 3. Satria Effendi M. Zein melakukan metode komparasi vertikal, dalam arti beliau hanya memperbandingkan permasalahan yang terjadi yang bersifat tidak tetap dan dapat berubah (dalam hal ini praktek akad nikah melalui

78 telepon) dengan dalil dan pendapat ulama yang bersifat tetap. Kemudian, beliau juga menguji masalah tersebut secara qiyas (ketika memadukan pendapat atas praktik akad nikah melalui surat dan kesaksian orang buta) dan mewarnainya dengan maslahat sesuai dengan pilar-pilar maqasid syariah.

B. SARAN Setelah menyimpulkan hal-hal tersebut di atas, penulis perlu memberikan saran sebagai berikut: 1. Perlu adanya pengujian lebih lanjut atas pendapat Satria Effendi M. Zein terutama dari konsekuensi hukum yang akan terjadi apabila dua pendapat yang ditawarkan Satria Effendi M. Zein diberlakukan, baik melalui yang telah terjadi di Indonesia ataupun di negeri-negeri Islam lain. 2. Perlu adanya dasar-dasar dan rujukan dari kitab-kitab tentang ushul fikih baik klasik ataupun modern, juga undang-undang perkawinan di negeri-negeri Islam lain untuk menajamkan analisis yang telah diberikan oleh Satria Effendi M. Zein. 3. Perlunya diadakan pengujian pendapat secara horizontal, dalam arti menilik hukum praktik akad nikah melalui telepon itu dari kacamata hukum Islam di negeri-negeri Islam lain yang memberi gambaran dan perbandingan untuk pemberian hukum atas praktik yang terjadi di Indonesia.

79

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhary, Abu Abdullah Al-Ju'fy, Al-Jami' As-Shahih Al-Mukhashar (Shahih Bukhary), Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. Abu Daud Sulaiman bin Asy'ats, Sunan Abi Daud, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. Al-Haitsami, Ibnu Hajar, Tuhfatul Muhtaj, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. Al-Jaziri, Abdurrahman, Al-Fiqh 'Ala Madzahib Al-Arba'ah, Al-Maktabah AsSyamilah Ver. 1.0. An-Nawawi, Muhyiddin, Al-Majmu' (Syarah Al-Muhazzab), Al-Maktabah AsSyamilah Ver. 1.0. Al-Utsaimin, Shalih, 1980, At-Tafsir wa Ushuluhu, Riyadh, Wizarah At-Ta'lim AlAly. As-Suyuthy, Abdul Khaliq, Al-Muhazzab, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. Djazuli, H.A. Prof., 2005, Kaidah-Kaidah Fikih, Jakarta, Kencana. Depag RI, 2004, Bahan Penyuluhan Hukum, Jakarta. Djazuli H.A., Prof., 2006, Kaidah-Kaidah Fikih, Jakarta, Kencana. Ibnu Mandzur, Lisaan Al-Arab, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Al-Mughni, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. Muslim bin Hujjaj An-Nisabury, Shahih Muslim, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. M. Zein, Satria Effendi, Prof. MA, 2004, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Jakarta, Kencana. Nazir, Moh., 1988, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia.

80 Nuur, Djamaan, tt, Fiqh Munakahat, Semarang, Dina Utama. Qaradhawi, Yusuf, 2007, Fiqih Maqashid Syariah, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar. Sabiq, Sayid, Fiqh As-Sunnah, Al-Maktabah As-Syamilah Ver. 1.0. “Inggris-Cirebon Bersatu Dalam Pernikahan”, http://www.pikiran-rakyat.com/, 26 Maret 2007. “KBBI Online”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, 18 April 2008. “Nikah Jarak Jauh Via “Teleconference”, http://www.pikiran-rakyat.com/, 5 Desember 2006. “Seputar Ijab Kabul dan Perceraian Jarak Jauh”, http://hukumonline.com/, 15 April 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful