P. 1
86035658-ANATOMI-HIDUNG

86035658-ANATOMI-HIDUNG

|Views: 547|Likes:

More info:

Published by: Ricke Angelina Putri on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

Sinusitis Sphenoidalis Akuta

Karena letak sinus sphenoidalis di belakang atas cavum nasi, ostiumnya
bermuara pada meatus nasi superior, maka setiap ada peradangan pada sinus
sphenoidalis, tanpa bantuan foto Ro, sukar kita tegakkan diagnosa sinusitis
sphenoidalis.

Mungkin frekuensi sinusitis sphenoidalis lebih sering seperti apa yang kita
duga, tetapi karena diagnosa sukar, maka sering-sering diabaikan, atau tidak dibuat
diagnosa sinusitis sphenoidalis.
Dalam klinik sering kita membuat diagnosa sinusitis sphenoidalis sebagai

bagian dari pensinusitis.

Gejala-gejala

Cephalgia di daerah vertex, frontal, occipital atau dapat diproyeksikan ke regio
temporalis seperti pada mastoiditis.
Rhinorrhoe tak jelas, kecuali post nasal dripping, pada rhinoskopia posterior,
akan terlihat adanya sekret di ujung belakang dari conchae nasi media.

Pengobatan

Dapat dicoba dengan replacement suction menurut Proetz, kalau kurang
berhasil dapat dilakukan pungsi dengan jarum khusus pada dinding depan sinus
ephnoidalis, kemudian diadakan pembilasan dengan larutan garam fisiologi steriel.

Sinusitis Sphenoidalis Kronika

Pengobatan khusus

a.Operasi menurut Morgan, dari sinus othmoidalis posterior kita teruskan ke dinding
dari sinus sphenoidalis.
b.Melalui external ethmoidektomi menurut Peterson atau menurut Ferris Smith.
c.Langsung melalui intranasal dengan mengadakan pungsi pada dinding depan sinus
sphenoidalis, atau melalui intra septal approach, sebagai lanjutan dari septum reseksi.
Teknik operasi ini jarang dilakukan, karena lapangan operasi terlalu sempit.

Komplikasi Sinusitis Supurativa

Dengan kemajuan yang begitu cepat dan pesat dalam bidang antibiotika, maka
sekarang dapat dikatakan komplikasi sinusitis supurativa amat jarang. Kalau
komplikasi ini terjadi, biasanya pada waktu akut exacerbasi dari sinusitis kronika
supurativa.

Cara penyebaran infeksi

a.Penyebaran langsung
1)Dimulai dengan osteitis pada kompakta (caries).
2)Osteomyelitis, pada tulang diploic.
3)Osteoporosis, polip ethmoidal dapat menyebabkan dehiscensi pada lamina
papyrecea atau pada dasar dari fossa cranii anterior.

4)Accidental atau surgical trauma, dengan melalui garis fraktur dari suatu sinus
yang sebelumnya sudah ada infeksi atau terjadi setelah trauma.
b.Penyebaran melalui vena dengan jalan:
1)

Septic venous thrombosis, baik secara langsung atau secara retrograde.

2)

Retrograde thrombosis dari vena-vena kecil dalam mukosa sinus,
menyebar ke vena-vena kecil dalam lapisan periostium dari durameter,
sehingga terjadi meningitis, thrombosis dari sinus intracranial dan encephalitis.
c.Penyebaran melalui aliran lymfe. Perivaskuler limfatik membawa infeksi melalui
foramina vaskuler, untuk membentuk subperiostal absces.
d.Penyebaran melalui spacia perineural dari n. olfaktorius ke rongga subarachnoid.

Jenis komplikasi yang dapat terjadi berupa:

a.Osteomyelitis. Keadaan ini dahulu sering terjadi akibat sinusitis frontalis,
jarang akibat dari sinusitis yang lain. Tetapi secara keseluruhan komplikasi ini
sangat jarang.
b.Komplikasi pada mata. Ditinjau dari sudut anatomi semua sinus paranasalis
berbatasan dengan mata. Malahan ada hanya dibatasi dengan tulang yang amat
tipis seperti lamina papiracea, dapat terjadi erosi akibat osteitis. Komplikasi orbital
juga jarang, tetapi pada anak-anak yang kita kenal sebagai orbital cellulitis, dengan
atau tanpa subperiostal absces.

Gejala-gejala orbital cellulitis

Nyeri pada mata, terutama pada waktu menggerakkan bola mata.
Chemosis, atau oedema dari conjunctiva sampai menutup kelopak mata. Diplopia,
akibat deri pergeseran letak dari bola mata. Pada fundus kopi terlihat oedema dan
dibatasi vena-vena dari retina.

Diagnose Banding

1)Dacrocystis
2)Thrombosis sinus cavernosus
3)Mucocele
4)Intra orbital kiste
5)Osteoma
6)Tumor-tumor maligna dari mata.

Pengobatan

Pada orbital cellulitis dengan pemberian antibiotika dosis tinggi, biasanya
cukup berhasil, dan kalau tidak berhasil biasanya telah terjadi subperiostal absces.

Pada subperiostal absces diperlukan incisi melalui bagian dalam dari
palpebra superior, kemudian diadakan drainage.
Kalau absces ini berasal dari sinusitis frontalis akuta, maka baik sinus
maupun absces diadakan drainage dengan mengadakan incisi pada daerah
supraorbital.

Setelah keadaan lebih tenang dengan pemberian antibiotika dosis tinggi,
dilakukan radikal operasi pada sinus bersangkutan.

Prognosis

Pada umumnya sembuh sempurna, dengan tak ada gangguan fungsi pada

mata.
c.Komplikasi Endokranial. Komplikasi endokranial tidak akan dibicarakan
secara mendetail, karena nanti akan dibicarakan di bagian neurologi.
Dalam garis besar dapat dikatakan, bahwa komplikasi endokranial; akibat

sinusitis dapat berupa:
1)Meningitis, dengan atau tanpa extradural atau subdural absces.
2)Thrombosis dari sinus cavernosus atau dari sinus longitudinalis.
3)Enchephalitis atau absces cerebri.
Perlu dicatat, bahwa setiap sinusitis, ada kecenderungan memberikan
daerah komplikasi khusus pada otak. Misalnya sinusitis frontalis, berhubungan
dengan absces dari lobus frontalis, didahului dengan osteitis dari dinding belakang
sinus frontalis.

Sinusitis ethmoidalis, berhubungan dengan meningitis supurativa difusa,
dengan melalui perforasi dekat lamina cribrosa.
Sinusitis sphenoidalis, juga berhubungan dengan meningitis supurativa
difusa, thrombosis sinus cavernosus dan thrombosis dari sinus-sinus lain.
Sinusitis maxillaris jarang menyebabkan komplikasi intracranial. Kalau hal
ini terjadi dapat melalui vena yang berasal dari plexus pterygoideus.
d.Efek sekunder dari sinusitis supurativa
1)Pharyngitis, tonsilitis, otitis media, laryngotracheitis dan bronchitis terutama
pada anak-anak.
2)Bronchiectasis; hubungan bronchiectasis dan sinusitis belum begitu jelas, tetapi
dikatakan bahwa mungkin sinusitis kadang-kadang sebagai penyebab.
3)Asthma bronchiale, hubungannya dengan chronis infective allergic sinusitis,
pada keadaan ini suatu operasi radikal dari sinusitis dapat meringankan asthma
bronchiale.

4)Fokus infeksi, sinusitis kronika kadang-kadang berperanan sebagai fokus
infeksi dari penyakit-penyakit tertentu. Walaupun akhir-akhir ini hubungan
fokus infeksi dengan sinusitis agak diragukan, tetapi pada beberapa keadaan
seperti poly arthtritis, tendosynovitis ternyata ada perbaikan dengan
menghilangkan sinusitisnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->