P. 1
86035658-ANATOMI-HIDUNG

86035658-ANATOMI-HIDUNG

|Views: 547|Likes:

More info:

Published by: Ricke Angelina Putri on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

Pendahuluan

Tumor ganas sinus paranasalis adalah tumor ganas yang tumbuh pada mukosa
sinus paranasalis. Tumor dapat bersifat primer atau sekunder. Dari tumor ganas sinus
paranasalis, maka tumor ganas sinus maxillarislah yang paling sering ditemukan.
Tumor ganas ini dapat berasal dari epithel yang kita kenal sebagai carcinoma dan yang
berasal dari jaringan ikat, kita sebut sacroma.

Insidens

Tumor ganas sinus maxillaris termasuk relatif jarang, kurang lebih hanya 3%
dari seluruh keganasan pada traktus respiratorius dan traktus gastro intestinalis. Tumor
ganas sinus maxillaris primer adalah lebih banyak dibandingkan dengan tumor ganas
sinus paranasalis lain, yang umumnya bersifat sekunder.
Bennet melaporkan dari 60 kasus tumor ganas sinus paranasalis yang
diselidikinya dari tahun 1955 s/d 1968 ternyata sinus maxillaris terdiri dari 42 kasus,
berarti 70%.

Insidens menurut umur

Paling banyak ditemukan pada orang tua antara umur 50 – 59 tahun, kecuali
jenis sacroma sering ditemukan pada umur lebih muda.

Sex Insidens

Laki-laki lebih sering ditemukan daripada wanita, perbandingannya kurang

lebih 2 : 1.

Etiologi

Seperti halnya tumor ganas di bagian lain dari tubuh, penyebab tumor ganas
sinus maxillaris belum diketahui secara pasti. Beberapa sarjana melaporkan adanya
hubungan faktor-faktor carcinogenik seperti: bahan kontrast thoratrast, thorium;
timbulnya carcinoma rata-rata 12 – 15 tahun setelah instalasi bahan kontrast tersebut
ke dalam sinus. Pekerja-pekerja kayu (wood workers), pekerja-pekerja tambang
mungkin ada hubungan sebagai faktor carcinogenik.

Histo-Patologi

Yang paling sering ditemukan adalah jenis squamous cells Ca, atau carcinoma
planocellulare; lainnya adalah adeno arcinoma, malignant melanoma, papilary Ca,
cyllindroma, muko epidermoid carcinoma, transitional cells ca, malignant neuro
ephitelioma dan metastase carcinoma.

Sintomatologi

Tumor ganas sinus maxillaris pada tingkat permulaan jarang memberikan
gejala-gejala, atau dapat dikatakan gejala-gejalanya tidak jelas. Hal ini terutama
disebabkan karena antrum atau rongga sinus tertutup oleh tulang, kalau tumor ini
keluar dari dalam sinus barulah gejala tampak dari luar, pada saat ini berarti sudah
amat terlambat, sehubungan dengan diagnosa dini sukar ditemukan, maka prognosa
tidak memuaskan.

Untuk mempermudah mengingat gejala-gejala dari tumor ganas sinus
maxillaris, baiklah kita susun sebagai berikut:
a.Gejala dalam hidung, ialah obstruksi nasi yang progressif, rhinorrhoe dan epistaxis,
foeter nasi.
b.Gejala pada muka (fossa canina), yaitu parasthesia atau anasthesia pada pipi, bila
tumor mengenai dinding posterior dan superior dari antrum.
c.Pembengkakan dan rasa sakit yang persistent pada pipi.
d.Gejala dalam rongga mulut; rasa sakit atau parasthesia pada gigi yang bersifat
setempat atau radier, gigi goyah dan tanggal, terasa ada benjolan pada palatum,
kadang-kadang ada perforasi pada palatum, terakhir trismus, bila m. pterigoideus
internus diinfiltrasi oleh tumor.
e.Gejala-gejala pada mata: epiphora, proptosis, diplopia, ophtalmoplegia.
f.Gejala-gejala neurologis: sakit kepala atau neuralgia pada radio temporalis,
frontalis, malahan pada seluruh bagian dari kepala terasa sakit.
g.Gejala pada telinga: kalau terjadi penyebaran ke nasopharynx, dapat menyebabkan
oklusio tubae dengan segala akibatnya.
h.Gejala-gejala metastase: tumor ganas maxillaris relatif lambat terjadi metastase,
bila dibandingkan dengan tumor lain, misalnya tumor tonsil. Pada umumnya
regional metastase terjadi pada stadium T3 (sistem T.N.M.).
Terlihat pembesaran kelenjar regioner pada regio submandibularis, dan
cervikal. Distant metastase jarang terjadi, dapat melalui hematogen ke paru-paru,
tulang dan hepar (amat jarang).

Pemeriksaan Ro

Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dini, mungkin hanya
ditemukan secara kebetulan, adanya kekaburan dalam sinus, perubahan densitas
tulang, tanda-tanda destruksi tulang, dan adanya bayangan massa jaringan lunak.
Pemeriksaan Ro yang dianjurkan untuk tumor sinus maxillaris adalah:
a.Plain foto dari berbagai arah.

b.Kontras foto, untuk menentukan luas dan lokasi tumor.
c.Tomografi untuk menentukan lokasi lebih tepat.
Dalam membahas kasus-kasus tumor ganas, para ahli berusaha untuk
mendapatkan satu bahasa dalam menentukan staging dari tumor-tumor ganas, agar
tidak terdapat perbedaan dalam interpretasi, terutama dalam hubungannya dengan
tindakan therapi, dan evaluasi hasil dari suatu metode pengobatan. Untuk ini
International Union Against Cancer (I.U.A.C), berusaha menyusun suatu sistem, yang
dikenal sebagai T.N.M. system, dalam menentukan stadium dari sesuatu tumor ganas.
Untuk tumor ganas sinus maxillaris, maka dipakai kriteria dari Sisson (1958),
walaupun kriteria dari Sisson ini masih ada kekurangannya, tetapi faedahnya lebih
banyak.

T = tumor, N = nudoli lymphatici, M = metastase
T1=invasi tumor pada dinding anterior maxillae atau invasi pada dinding antero
medial dari palatum.
T2=invasi tumor pada dinding lateral, otot bebas, atau pada dinding superior, orbita
bebas.
T3=Invasi tumor pada n. pterygoideus, dan pada orbita, cellulae othmoidalis
anterior, tetapi tidak sampai pada lamina cribroformis; invasi sampai pada kulit
dinding depan.
T4=Invasi pada lamina cribroformis, fossa pterigomaxillaris, ke kontra lateral dari
cavum nasi dan sinus maxillaris; dan ke sinus ethmoidalis posterior.
N0=Tak ada pembesaran kelenjar regioner.
N1=Teraba kelenjar leher, tetapi masih dapat digerakkan dari dasar.
N2=Teraba kelenjar reginer, tetapi tidak dapat digerakkan dari dasarnya.
N3=Pembesaran kelenjar kontralateral.
M0=Tidak ada distant metastase
M1=Terdapat distant metastase dengan menjelaskan dimana terjadinya distant
metastase.

Pemeriksaan P.A.

Pemeriksaan P.A. adalah vital dalam menentukan diagnosa pada setiap tumor.
Biopsi harus dilakukan pada setiap bagian tumor yang tampak, dan kalau perlu
diadakan antrostomi untuk mendapatkan jaringan tumor. Di samping itu dapat
dilakukan antral washing untuk pemeriksaan papaniculeau.

Diagnosa

Diagnosa didasarkan atas:

a.Gambaran klinik; biasanya terlambat, karena gejala tidak khas, disangka hanya
suatu sinusitis, atau rhinitis chronika. Menurut para penyelidik, rata-rata 7 bulan
setelah timbulnya gejala-gejala permulaan diagnosa ditegakkan, ini berarti tumor
sudah berada dalam stadium yang lanjut.
b.Pemeriksaan transilluminasi, rhinoskopia anterior, antral washing.
c.Pemeriksaan radiologis.
d.Pemeriksaan P.A.

Diagnosa Banding

Tumor-tumor jinak dari sinus maxillaris atau dari cavum nasi, trigeminus neuralgia,
epulis dan aspergillosis dari sinus maxillaris, tumor-tumor dari gigi misalnya
adamantinoma.

Pengobatan

Pada dasarnya pengobatan terdiri dari:

a.Operasi
b.Irradiasi
c.Kombinasi a dan b (irradiasi pre-op, dan irradiasi post op.)

Operasi

Pada prinsipnya tindakan operasi dilaksanakan atas dasar stadium dari tumor.
Bila tumor “T1 dan T2” masih operabel; dilakukan maxillektomi radikal. Setelah itu
diikuti dengan radiotherapi dengan CO 60 atau dengan Cis 137 sebanyak kurang lebih
6.000 rad, selama 6 minggu.

Penyinaran atau radiotherapi

Bila keadaan tumor pada stadium “T3” dapat dikatakan inoperabel, maka
dilakukan penyinaran dengan Co 60 atau dengan Cis 137 sebanyak 6.000 rad dalam
waktu 6 minggu kemudian diikuti evakuasi jaringan tumor dari dalam sinus, atau 6
minggu setelah penyinaran terakhir, dilakukan maxillektomi radikal dengan exenterasi
orbita.

Bila telah terdapat metastase pada kelenjar leher, di samping maxillektomi
radikal, juga dilakukan unilateral atau bilateral partial/radikal neck dissection.

Prognosa

Bila pengobatan dilakukan secara adekuat, maka menurut Gallagher dan
Boples dari 56 penderita yang mereka obati didapatkan “5 years survival rate”
berturut-turut T1 100%, T2 42%, T3 33%, dan T4 0%.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->