ANATOMI HIDUNG

Hidung dibagi atas: a. Hidung bagian luar b. Hidung bagian dalam c. Sinus paranasalis Hidung bagian luar Bentuk hidung bagian luar menyerupai piramid, puncaknya dikenal sebagai tip atau apex. Dari tip membentang ke atas dan di belakang disebut dorsum nasi, yang kemudian bersatu dengan os frontale membentuk radix nasi. Columella adalah bagian yang turun ke depan bawah tip ke bibir atas. Pada sisi kanan dan kiri, yang dibatasi dari lateral oleh alaenasi, dan dari inferior oleh alaris nasi. Rangka hidung bagian proximal dibentuk oleh rangka tulang, bagian distal oleh rangka tulang rawan, sehingga bagian proximal lebih kokoh dan sukar digerakkan. Kerangka tulang ini merupakan kesatuan dari os nasale dan processus frontalis maxillae. Bagian tulang rawan terdiri dari cartilago septi nasi, yang memegang peranan menentukan tinggi rendahnya hidung seseorang. Sedangkan puncak hidung (tip) dibentuk oleh septalangle dan cartila alaris mayor.

Gambar 1 Kerangka tulang dan tulang rawan ini terikat erat satu sama lain oleh jaringan ikat yang kuat. Otot-otot tipis yang melapisi hidung bagian luar terdiri dari otot-otot dilatator dan otot-otot konstriktor. Kulit yang melapisi hidung bagian proximal lebih tipis dan lebih longgar hubungannya dengan jaringan ikat dan tulang di bawahnya; sedangkan di bagian distal lebih tebal dan lebih erat hubungannya dengan jaringan dan tulang rawan di bawahnya. Bagian distal ini juga banyak mengandung kelenjar-

kelenjar sebaciuus. Vestibulumnasi termasuk hidung bagian luar, karena diisi oleh kulit dan mengandung kelenjar-kelenjar sebacious dan vibrisae. Hidung bagian dalam Terdiri dari cavum nasi yang berbentuk terowongan yang menyerupai piramid, dipisahkan menjadi dua bagian kiri dan kanan oleh septum nasi. Pintu depan dari cavum nasi disebut neres anterior, cavum nasi berhubungan langsung ke belakang dengan nasopharynx melalui choanae atau nares posterior. Cavum nasi itu terdiri dari dinding-dinding lateral, medial, atap dan dasar cavum nasi. a. Dinding lateral. Bagian ini merupakan bagian yang amat penting dan kompleks dari cavum nasi, karena ada hubungan langsung dengan sinus-paranasalis. Pada dinding ini terdapat tiga conchae nasalis, yakni conchae nasalis inferior, conchae nasalis media, dan conchae nasalis superior. Conchae nasalis inferior merupakan tulang yang berdiri sendiri, sedangkan conchae nasalis media dan conchae nasalis superior merupakan bagian dari tulang othmoidalis. Di antara ketiga conchae nasalis ini terbentuk celah-celah yang masing-masing kita kenal sebaai meatus nasi inferior, meatus nasi media yang letaknya antara conchae inferior dan conchae media, dan meatus superior yang letaknya antara conchae media dengan conchae superior.

Gambar 2 Pada meatus inferior terdapat muara dari ductus nasolacrimalis yang menghubungkan saccus lacrimalis dengan cavum nasi. Pada meatus medius dimana terdapat hiatus semilunaris bermuara ketiga ostia dari sinus frontalis, ostium sinus ethmoidalis anterior dan ostium sinus maxillaris. Pada meatus nasi posterior terdapat ostia dari sinus paranasalis kelompok belakang, yakni ostium sinus othmoidalis posterior dan ostium dari sinus

sphenoidalis. Atas dasar hubungan anatomis ini, maka setiap adanya kelainan pada meatus nasi medius, kita harus pikirkan kemungkinan hubungannya dengan kelainan dalam sinus paranasalis kelompok depan sedangkan kelainan pada meatus nasi superior kita harus pikirkan kemungkinan adanya kelainan dalam sinus paranasalis kelompok belakang. b. Dinding medial. Dinding medial cavum nasi adalah septum nasi yang membagi cavum nasi atas dua bagian yang kurang lebih sama besarnya. Septum ini dibentuk oleh lamina perpendicularis ossis ethmoidalis yang merupakan lempeng tulang yang tipis yang menempati bagian belakang atas dari septum nasi; cartilago septi nasi (cartilago quadrilateral) yang terletak di depan, dan vomer yang merupakan tulang yang terletak di belakang bawah dari septum nasi. Kerangka septum ini dilapisi oleh mukosa yang pada umumnya tebalnya tak teratur. Septum nasi pada seorang dewasa jarang yang benar-benar lurus, pada umumnya ada deviasi ringan, yang berupa obstruksi nasi (akan dibicarakan pada bagian patologi).

Gambar 4 c. Atap. Atap cavum nasi merupakan bagian yang tertinggi dan tersempit, dari depan ke belakang terdiri dari os nasale, processus nasalis os frontalis, corpus ethmoidalis, corpus sphenoidalis. Lamina eribrosa dari ethmoid membentuk sebagian besar dari atap cavum nasi, atap dari cavum nasi ini hanya dibatasi oleh tulang yang tipis dengan fossa cranii anterior, sehingga kalau terdapat fraktur pada lamina eribrosa, akan terbuka jalan ke fossa cranii anterior dengan segala akibatnya. d. Dasar cavum nasi. Merupakan atap dari rongga mulut. 2/3 bagian depan dibentuk oleh pars palatina os maxillae, 1/3 belakang oleh pars horizontalis os palatina. Sinus Paranasalis Sinus paranasalis adalah rongga-rongga berisi udara dalam tengkorak, yang dilapisi oleh lanjutan mukosa cavum nasi paranasalis pada kedua sisi kiri dan kanan. Untuk memudahkan pengertian dalam klinik, kita bagi sinus paranasalis dalam dua bagian atau kelompok, yakni kelompok depan dan kelompok belakang. Sinus paranasalis kelompok depan terdiri atas: sinus frontalis, sinus maxillaris dan sinus

pada orang dewasa kurang lebih berukuran 15 cc dan terletak seluruhnya dalam tulang maxilla. maxillaris berjalan dari atas melalui dinding belakang terus ke bawah ke gigi molar atas. kelompok belakang terdiri dari sinus ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis. n. dentalis anterior dan superior. kurang lebih pada umur 6 tahun dimulai dengan extensi langsung dari satu atau lebih sel-sel ethmoidalis anterior. Sinus frontalis ini pembentukannya amat terlambat. a.ethmoidalis anterior. infra orbitalis yang memberi cabang-cabangnya menjadi n. yakni segment depan bawah setinggi meatus nasi inferior dan segment belakang atas setinggi meatus nasi media. Dinding atas atau atap dari sinus maxillaris merupakan dasar dari orbita pada dinding terdapat canalis infra orbitalis. Ostia dari sinus paranasalis kelompok depan bermuara pada hiatus semilunaris dalam meatus nasi media. dibentuk oleh processus alveolaris dan palatum durum. sedangkan kelompok belakang bermuara pada meatus nasi superior. hampir semua sinus paranasalis dimulai sebagai evaginasi (outpocketings) dari selaput lendir meatus nasi. Atas dasar hubungan anatomis ini. Pada anak-anak dasar sinus maxillaris ini setinggi atau sedikit lebih tinggi dari dasar cavum nasi. Dinding belakang dan bawah bersatu. maka sinusitis maxillaris dentogen lebih sering terdapat pada orang dewasa daripada anak-anak. Disebut juga antrum high more merupakan sinus yang terbesar ukurannya. dentalis posteriores yang merupakan cabangcabang dari n. Di bagian atas tengah dari dinding depan kurang lebih 7 – 8 mm garis infra orbitalis terdapat foramen infra orbitalis dimana berjalan n. Dinding depan sedikit cekung dan tipis kita kenal sebagai fossa canina. Dasar sinus maxillaris. tetapi sinus ethmoidalis telah mempunyai bentuk yang paling lengkap. dimana bermuara ostium sinus maxillaris. Sedangkan pada orang dewasa dasar sinus maxillaris sedikit lebih rendah dari dasar cavum nasi sehingga dasar-dasar dari gigi atas kadang-kadang dapat masuk ke dalam sinus maxillaris. kecuali sinus sphenoidalis sebagai hasil penguncupan (contriction) dari bagian posterior superior mukosa cavum nasi. Dari riwayat pembentukannya. . merupakan permukaan yang lengkung. Dinding medial atau dinding naso antral dibagi dalam dua segment. pada bulan ke-3 dan ke-4 dari kehidupan fetus. sedangkan sinus sphenoidalis masih amat kecil dan sinus frontalis masih belum terbentuk waktu bayi lahir. Semua sinus-sinus ini melanjutkan perkembangannya sesudah lahir. diusul oleh sinus maxillaris. Sinus Maxillaris.

Ukuran rata-rata pada orang dewasa sebesar 7 cc. Sinus frontalis ini belum terbentuk waktu anak lahir. Dalam perkembangannya sinus frontalis mempunyai berbagai bentuk. traktus olfaktorius dan lobus frontalis cerebri. pembentukannya dimulai pada anak umur 6 tahun. tetapi jumlahnya lebih banyak. Kedua sinus ini kiri dan kanan biasanya tak simetris. Topografi. Topografi. sedang sinus ethmoidalis posterior ostiumnya bermuara pada meatus nasi superior. Anterior inferior berjalan syaraf-syaraf dan pembuluh darah yang keluar dari foramen sphenopalatina waktu menuju ke septum nasi. opticus bisa amat berdekatan dengan sel-sel sinus othmoidalis posterior.b. Sinus Ethmoidalis. kurang lebih 5% dari orang dewasa yang tak mempunyai sinus frontalis. dan terletak di dalam massa lateral dari tulang ethmoid. sedangkan dasarnya dengan orbita. d. kadang-kadang yang satu lebih besar dan overlapping ke sisi yang lain. misalnya ke tulang frontalis. Cranii terdapat hypophyso. maka sel-sel dari sinus ethmoidalis dapat masuk ke dalam tulang sekitarnya. Sinus Sphenoidalis. opticus. a. kiri kanan jarang simetris dipisahkan oleh septum yang sangat tupis dan kadangkadang septum tak terbentuk dengan baik. Sinus Frontalis. Dinding belakang dan atap dari sinus frontalis berbatasan dengan fosa oranii anterior. c. Bilateral dipisahkan dengan orbita oleh lamina papiracea yang sangat tipi. Terletak di belakang atas cavum nasi di dalam corpus sphenoidalis. Terdiri dari 7 – 15 rongga-rongga yang dibatasi oleh dinding yang sangat tipis. chiasma opticus. Sinus ethmoidalis anterior ostiumnya bermuara pada meatus nasi media. yang hanya dipisahkan oleh tulang yang tipis dari sel ethmoid. Sinus ethmoidalis anterior bentuk sel-selnya lebih kecil. dan sphonoidalis. maxillaris. Kadang-kadang menempati sampai alas sphenoidalis dan processus pterigoideus dari os sphenoidalis. sedangkan n. yakni sinus ethmoidalis anterior dan posterior. sedangkan sinus ethmoidalis posterior sel-selnya lebih besar dan jumlahnya lebih sedikit. Kalau pneumatisasi luas. Batas atas terdapat fosa cranii anterior. carotis interna dan n. yang bentuknya menyerupai sarang tawon. . yang dianggap sebagai extensi langsung dari satu atau lebih sel-sel othmoidalis anterior ke dalam os frontalis. Ostiumnya terletak pada dinding depan atas dari sinus dan bermuara pada meatus nasi superior. Lateral terdapat sinus cavernosus. Sinus ethmoidalis ini kita bagi dalam dua kelompok.

dan seravi petrosus ini bersatu membentuk n. ophthalmicus membawa serabut-serabut afferent ke bagian depan dan bawah cavum nasi. Letak dari ganglion di dalam fossa pterigopalatina berdekatan dengan foramen sphenoplatina. Pada bagianbagian tertentu dari daerah respiratorius amat tebal. Mukosa sinus paranasalis merupakan lanjutan dari mukosa cavum nasi. yang ditempati oleh conchae superior dan bagian septum yang berhadapan. Serabut-serabut offerent dari n. Cabang kedua dari n. vidianus sebelum sampai pada ganglion sphenopalatina (lihat gambar). Daerah respiratorius mengisi seluruh bagian yang terletak di bawah dari daerah olfaktorius. saluran limfe.Histologi Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang berbentuk “columnar pseudostratified cilliated epithelium”. dengan melalui ganglion sphenopalatina. karena . trigeminus. terutama pada conchae inferior. ukurannya lebih tipis dan mengandung lebih sedikit kelenjar-kelenjar. maxillaris membawa serabut-serabut afferent ke bawah dan belakang dari cavum nasi. dan terdiri dari dua bentuk sel yang utama. yakni daerah olfaktorius dan daerah respiratorius. sehingga mudah dicapai dalam pemberian lokal anesthesia. trigemanus yakni n. Persyarafan Persyarafan dari cavum nasi berasal dari cabang pertama dan cabang kedua dari n. Daerah olfaktorius terbatas pada bagian atas dari cavum nasi. Mukosa cavum nasi ini dibagi dalam dua daerah. kecuali dekat pada ostium sinus paranasalis menuju ke ostia masing-masing. Mukosa ini secara langsung berhubungan dengan nasopharynx. Terdapat beberapa kelenjar-kelenjar serous yang dikenal ebagai kelenjar Bowmani yang berbentuk tubuler. dan kaya akan pembuluh darah. yakni sel-sel penyokong dan sel-sel olfaktorius. Ganglion ini mempunyai arti klinik penting pada cavum nasi. Bentuk epithel pada bagian ini adalah “non-cilliated columnar epithelium”. walaupun tak teratur. Ia secara tak langsung berhubungan dengan cavum tympani. trigeminus yakni n. syaraf-syaraf dan kelenjar-kelenjar. petrosius superfacialis mayus. sinus paranasalis. yang kaya akan pembuluh darah. Cabang pertama dari n. maxillaris juga menerima serabut-serabut parasympathis dari n. Oleh karena itu mudah dipahami bagaimana penyebaran infeksi dari satu daerah ke daerah lain mudah terjadi. Kedua daerah ini histologis berbatas jelas.

FISIOLOGI HIDUNG Boies membagi fungsi hidung dalam fungsi Primer dan fungsi Sekunder. A. Aliran Lymfe Gl. Palatina decedens cabang dari a. Gl. kemudian berjalan ke depan septum nasi dan ke lateral ke conchae nasalis. sinus ethmoidalis dan sinus frontalis.foramen sphenopalatina letaknya tepat di belakang atas ujung belakang dari conchae media. Cabang pharyngeal dari a. maxillaris interna yang melewati canalis incisivus beranastomose dengan a. opthalnica yang berasal dari a. Labialis superior merupakan cabang dari a. Sedangkan sinus frontalis dan sinus ethmoidalis diperdarahi oleh a. Vascularisasi A. A. Cervicalis superior profunda menampung cairan lymfe dari cavum nasi bagian belakang. A. hubungannya dengan infeksi pada hidung atau adanya keganasan pada hidung. A. cabang dari a. sphenopalatina. Sphenopalatina cabang dari a. maxillaris interna mensuplai darah ke bagian belakang atas cavum nasi. Submandibularis menampung aliran limfe dari hidung luar dan bagian depan cavum nasi. maxillaris externa. retropharyngeal. carotis internal yang memberi darah pada atap dari cavum nasi. Pembuluh-pembuluh ini beranastomose membentuk plexus Kieselbach yang terletak di anterior inferior septum nasi. ethmoidalis anterior dan posterior. Mukosa sinus paranalis menerima serabut-serabut sensoris melalui ostia sinus paranasalis masing-masing. maxillaris interna memberi darah ke sinus sphenoidalis. . baik secara langsung atau melalui gl. naik dari bibir atas ke bagian depan dari septum nasi dan vestibulum nasi. yang juga disebut Little’s area. Ethmoidalis anterior dan posterior merupakan cabang dari a. maxillaris interna memberi darah ke sinus maxillaris. Pengertian aliran lymfe ini penting untuk menerangkan pembesaran kelenjar regioner. Infra orbitalis dan dentalis superior.

Arah udara yang keluar dan masuk ke dalam sinus paranasalis. Panas yang dibutuhkan bersumber dari penyebaran aliran darah yang cepat dari jaringan sub epithelial pada conchae dan septum nasi. maka udara yang menguap dalam cavum nasi relatif kecil. Aliran udara yang masuk dalam hidung dalam bentuk parabolik yang naik setinggi conchae media kemudian turun ke nasopharynx. bila dibandingkan dengan musim dingin dengan udara yang sangat kering. dimana terjadi penguapan yang lebih besar. Penguapan ini terjadi pada permukaan musoca blanket yang melapisi seluruh cavum nasi. arahnya terbalik dengan aliran udara dan mengalir dalam cavum nasi.000 cc per 24 jam. yang mengatur aliran udara. ini berarti sekitar 1/25 ccc per satu kali respirasi. 2) Pengaturan kelembaban. Tentu saja jumlah udara yang diuapkan berbanding terbalik dengan kelembaban udara di luar. 3) Pengaturan temperatur. Udara dalam cavum nasi itu diproses sedemikian rupa. Misalnya pada waktu musim panas dengan udara yang basah dan lembab. kemudian keluar melalui vestibulum. 1) Aliran udara. pada waktu yang singkat ini kelembaban relatif dari udara setibanya di nasopharynx kurang lebih 75% . Sedangkan udara yang diexpirasi. Pengaturan temperatur terjadi bersamaan dengan pengaturan kelembaban. kelembaban dan pembersihan udara sebelum masuk ke paru-paru. temperatur. Pada umumnya udara yang mengalir itu melalui bidang vertikal dari hidung dan sebagian melalui meatus nasi (lihat gambar). sehingga kelembaban sesuai dengan kebutuhan tubuh. Aliran udara ini amat halus dengan putaran dan gesekan yang minimal. agar pertukaran O2 dan CO2 dapat berlangsung dengan aman di dalam alveoli paru-paru. Air conditioning Rongga hidung dapat dipandang sebagai “air conditioning” dari paru-paru. sebagian kecil terpecah dalam bentuk putaran. Perjalanan udara dalam cavum nasi hanya 1 sekond.80% dikatakan bahwa jumlah air yang diuapkan dalam cavum nasi kurang lebih 1. . a. dibanding dengan 360 sampai 370C pada nasopharynx. Temperatur pada conchae inferior kurang lebih 320C.Fungsi Primer Fungsi primer adalah air conditioning dan penciuman.

maka akan dilemparkan keluar melalui reflex bersin. yang mengatakan bahwa partikel-partikel disebar dengan jalan difusi melalui udara. dapat diubah menjadi sama dengan temperatur badan dan pada waktu yang bersamaan tekanan relatif harus kurang lebih 75% atau 80%. Sel penciuman adalah sel syaraf bipolar yang termasuk dalam susunan syaraf pusat yang sampai pada permukaan tubuh. dengan tekanan relatif yang tak lebih dari 5%.Coba saudara bayangkan sebentar.000000005 ml udara masih tercium oleh manusia. yang terdapat di daerah olfaktorius yang terbentang di atas dari conchae media sampai ke atap dan daerah septum yang berhadapan. Benda-benda asing akan bersentuhan dengan sekret dan melekat pada mucous blanket. karena ketajaman penciuman dipakai untuk mempertahankan diri dan untuk mencari makanan. 2) Theory Undulasi. 4) Pembersihan udara (lihat fungsi sekunder hidung) Pembersihan udara dalam hidung dilakukan oleh vibrisae mucous blanket cillia dan enzym lyzozym. Bila sesuatu benda terlalu merangsang. Pada binatang fungsi penciuman ini amat penting. Pada pokoknya semua benda-benda asing akan diubah dalam mucous blanket. dan berkesimpulan bahwa indera penciuman diperlengkapi dengan stimulus untuk reflex sekresi cairan lambung. dan terjadi reaksi. Kemungkinan ada suatu potensial elektris pada permukaan dari mukosa hidung. Ada dua teori yang dikemukakan mengenai hal ini: 1) Chemical Theory. b. kemudian hanya dalam ¼ detik dalam cavum nasi. kemudian terjadi reaksi kimia waktu tiba pada permukaan epithel olfaktorius. Axon dari sel-sel ini membentuk traktus olfaktorius yang menuju ke otak. dimana udara beberapa derajat di bawah nol dan kering. Walaupun demikian menurut McKenzie vanili dalam jumlah 0. sampai sekarang belum jelas. Jadi kalau ada gangguan dalam . Indera Penciuman Dalam bidang klinik fungsi ini relatif kurang penting bila dibandingkan dengan fungsi pertama. bila pada musim dingin. Proses bagaimana sesuatu bau dapat dicium. Pavlov mengadakan percobaan pada binatang. yang mengatakan bahwa ada satu gelombang energi yang menyerupai cahaya merangsang ujung syaraf olfaktorius. menyebabkan adsobsi dari kuman-kuman dan benda asing lainnya. Axon dari “senso colls” dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk serat syaraf yang melalui lamina cribrosa ke dalam bulbus olfaktorius.

untuk mempersiapkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru. artinya dapat membunuh bakteri dan menghancurkannya. virus-virus dan bahan-bahan patologik lainnya. cilia dan enzym lysozym. sehingga mekanisme pembersihan diri dari hidung tetap berjalan sempurna. Yang memegang peranan dalam mekanisme pembersihan ini adalah selimut lendir (mucous blanket). penemu penicillin. Juga dapat disebabkan adanya tumor yang dapat menekan bulbus olfaktorius atau traktus olfaktorius sehingga transmisi ke otak terhalang. pergerakan ini adalah pergerakan otomatis. Mucous blanket adalah suatu zat yang terdapat pada permukaan mukosa hidung. Mucous blanket dalam hidung dan sinus paranasalis didorong ke nasopharynx oleh cilia. Faktor-faktor yang dapat meruak pergerakan cilia: . Pergerakan cilia adalah fungsi primitif. bakteri-bakteri. Hal ini penting. Aktivitas ini begitu menakjubkan. Beberapa peneliti mengemukakan. pharynx dan seluruh cabang-cabang bronchus. harus bebas dari segala kotoran yang tertimbun pada permukaan mukosa hidung. sinus paranasalis. yang membentuk satu lapisan yang menyeluruh pada setiap ruangan hidung. yang mempunyai sifat bakterialitis. Mucous blanket ini terus bergerak didorong oleh cilia dan amat lengket. Pada pokoknya udara inspirasi harus dipersiapkan dulu secara aman sebelum masuk dalam paru-paru.fungsi penciuman yang disebut hyposmia atau anosmia hal ini dapat disebabkan adanya proses degeneratif pada ujung-ujung syaraf atau karena gangguan transmisi dari partikel-partikel bau-bauan terhalang tak sampai pada area olfaktorius. atau pada choanae praktis steril. Di dalam mucous blanket ini juga terdapat lysozym sejenis enzym yang pertama kali ditemukan oleh Flemming. dan dijaga selalu konstant. bahwa acetylcholine mungkin berperanan mengontrol pergerakan cilia. artinya tak bergantung dari impuls syaraf. Fungsi Sekunder Fungsi ini terutama memberikan perlindungan. bahwa nilai konstant dari pH penting untuk dijaga agar pergerakan cilia terjamin. Di atas telah disinggung. tuba auditivae. karena cilia tak dapat berfungsi baik dalam pH terlalu banyak menyimpang dari 7. sehingga dapat dikatakan bahagian belakang dari hidung. pH dari mucous blanket kurang lebih (7) atau netral. sehingga partikel-partikel dengan sentuhan yang ringan saja dapat melekat dengan baik. dan diperbaharui oleh kelenjar-kelenjar sekurang-kurangnya 2 sampai 3 kali setiap jam.

Misalnya kalau ada penyumbatan hidung dan sinus paranasalis suara akan berubah jadi sengau. Perlangsungannya biasanya cukup singkat dan ringan. maka aroma dari makanan akan hilang. Phonasi Fungsi ini penting dalam mengeluarkan suara. sedangkan over tones dihasilkan oleh hidung dan sinus paranasalis. a. misalnya pada central heating yang berlebihan. Panas yang berlebihan atau dingin yang berlebihan. Penyimpangan setempat dari aliran udara. Adrenalin juga mempunyai efek yang sama. COMMON COLD Common cold adalah peradangan mendadak dari mukosa cavum nasi yang disebabkan oleh filtrable virus. b. Fungsi Sinus Paranasalis Fungi sinus paranasalis belum jelas. Cairan hypotonik atau hypertonik. hal ini kita dapat saksikan bila ada obstruksi nasi. Seperti kita ketahui intialtones dihasilkan oleh getaran pita suara atau chorda vokalis. f. Air conditioning. . Di samping fungsi primer dan sekunder kita kenal juga fungsi lain dari hidung yang mencakup phonasi dan Gustatorius. Berperanan untuk mengatur resonansi suara. Sinus paranasalis memperluas permukaan untuk fungsi primer dari hidung. Keasaman. sekarang dianggap peranan ini kurang penting. atau gangguan turbulensi udara setempat dalam hidung. walaupun peranannya hanya sedikit bila dibandingkan dengan mukosa cavum nasi. d. Gustatorius Fungsi pengecapan juga dipengaruhi oleh hidung. b. b. e. tetapi kalau dipakai lama dapat mengganggu pergerakan cilia. ada beberapa teori yang dikemukakan antara lain: a.a. misalnya cocain suatu anasthetikum dan vasokonstriktor yang baik. c. Obat-obatan. Exposed terhadap udara yang kering. dapat menyebabkan pengeringan setempat sehingga terjadi stase dari cilia.

S) Di antara berbagai macam virus ini. diikuti infeksi sekunder oleh bakteri. Andrews dkk pada tahun 1960. tetapi terutama menyerang pada anak-anak pra sekolah dan pada musim dingin. bersin. bahwa penyebabnya bukan hanya satu jenis virus. menyerang pada setiap umur dan dapat terjadi pada setiap musim. dapat bersifat epidemis. Para influenzal viruses e. tetapi oleh karena kerugian ditinjau dari sudut ekonomi. tetapi oleh berbagai macam virus. atau alat-alat yang tidak bersih. . sekarang telah jelas. Influenza viruses d. Penyakit ini dianggap sangat penting. jari tangan. batuk. dapat menyebarkan sejumlah besar air-bone partikel. Kruse pada tahun 1914 pertama kali menemukan filtrable virus sebagai penyebab common cold. Cara pemindahan Melalui droplet infection. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang tersebar luas di seluruh dunia. telah mengisolir 20 strain virus (mungkin lebih lagi) dari penderita-penderit dengan common cold. yang kita kenal sebagai self limiting. Adeno viruses c.dapat sembuh tanpa pengobatan. Kontak langsung. misalnya sedang bercakap-cakap. Sekarang telah diketahui ada lima kelompok virus patogenik sebagai penyebab common cold: a. makanan. misalnya kissing. bahwa common cold disebabkan oleh infeksi filtrable virus. Picorna viruses 1) 2) 3) 4) Rhino virus Coxsackie virus Reo virus ECHO virus b. Etiologi Telah diterima secara umum. bukan karena beratnya penyakit atau tingginya angka kematian. maka rhino viruslah dianggap sebagai penyebab utama dari common cold. dimana penyakit ini dapat menghilangkan daya dan jam kerja yang cukup besar dari sekian banyak tenaga kerja. Respiratory syncytial viruses (R.

Sedangkan di antara pekerja industri hampir satu juta buruh beristirahat dari pekerjaan dalam setahun di antara 60 juta tenaga kerja. peranan vitamin D terhadap metabolisme calcium dan permeabilitas kapiler.Insiden/frekuensi Di Indonesia kita belum mempunyai data-data mengenai insidens dari common cold. Waktu inkubasi Berkisar satu sampai tiga hari Waktu berjangkit Dapat terjadi beberapa jam sebelum timbulnya gejala-gejala. Misalnya keadaan kedinginan akan terjadi penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi. dapat merendahkan tahanan tubuh. hal ini semua berperanan terhadap pertahanan lokal dari jaringan terhadap infeksi.. Penyakit ini terutama berjangkit pada musim dingin. Dari statistik di Amerika melaporkan. kemudian turun dengan cepat setelah gejala-gejala menurun. umumnya lebih rentan akan common cold. e. Defisiensi Vitamin. d. Iklim. Pada individu-individu tertentu yang hypersensitif terhadap makanan tertentu. suhu dan kelembaban. Masa berjangkit puncaknya terjadi pada 1 – 3 hari pertama. b. bahwa insidens tertinggi pada anak-anak dan terendah pada orang tua 55 tahun ke atas. Di Amerika terutama pada bulan Oktober dan awal bulan Januari. Keadaan lingkungan. Kelelahan atau keletihan. Mereka yang menderita malnutrisi. Di Amerika pada musim dingin. Defisiensi vitamin A dan C dari peranan mereka terhadap proses oxygenerasi jaringan. Diestetis. Dari angka-angka ini kita dapat melihat. ditinjau dari sudut ekonomi. bahwa betapa besarnya kerugian akibat dari penyakit ini.6 hanya terserang common cold empat kali setahun. . sebagai contoh: terdapat 64% dari mereka yang mempunyai fitness 0. Nutrisi. rata-rata 15% penduduk terserang per minggu. Faktor predisposisi Ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya infeksi common cold antara lain: a. f. sehingga lebih rentan terhadap common cold. Dikatakan bahwa kesegaran jasmani amat penting untuk meninggikan tahanan tubuh. c. dan terjadi reflex vasokonstruksi dari mukosa hidung.

masih ada beberapa mekanisme pertahanan dalam hidung untuk menolak infeksi tersebut antara lain (lihat fisiologi hidung): Vibrissae pada vestibulum nasi. Di samping faktor kekebalan ini. tetapi kemudian akan berwarna hijau dan bertambah kental dan mengandung banyak bakteri. setiap penyakit. Kemudian diikuti oleh infiltrasi leukosit pada jaringan dengan pembengkakan dan desquamasi dari sel-sel epithel. pH dari sekret hidung kalau ada penyimpangan ke pihak asam.. Patologi Pada awal infeksi terjadi vasokonstruksi yang kemudian diikuti oleh vasodilatasi oedema dan peningkatan aktivitas dari kelenjar-kelenjar seromusin dan sel Goblet. Ternyata pada orang ini terdapat “specific neutralizing antibodies” dalam darah yang merupakan faktor yang berperanan dalam sistem pertahanan tubuh ini. h. tetapi terutama penderita dengan penyakitpenyakit ginjal.g. yakni suatu protein dasar yang mempunyai efek antivirus. Rhino virus dapat dihancurkan dengan pH rendah (asam). D.M. akibatnya mudah terjadi infeksi. yakni suatu protein dasar yang non spesifik. Adanya sarang infeksi pada sinus paranasalis. hepar. masih ada beberapa hari saja. Lamanya kekebalan setelah infeksi common cold. encer. . daya tahan dari selsel epithel interferon. dapat menurunkan tahanan jaringan sehingga mudah mendapat infeksi common cold. Titer antibodi dapat dipertinggi dengan vaksinasi. Ia dapat menghambat pertumbuhan virus tetapi tak menghancurkannya. Dapat dikatakan sebagai antibiotika dari virus. bahwa kurang lebih 40 – 70% dari penduduk yang kebal terhadap penyakit ini. selimut lendir dengan lisozymnya. malahan ada yang mengatakan dapat tahan sampai dua tahun. kalau basa berarti banyak kuman dalam sekret hidung. Penyakit umum. semuanya dapat menghalangi ventilasi dan aliran udara dalam cavum nasi dan juga dapat menghalangi pengaliran sekret dari mucous blanket. Kekebalan Dari laporan beberapa penulis. Sekret mula-mula jernih. i. nasopharynx. misalnya terjadi obstruksi nasi karena deviasi septi atau sebab lain. sehingga mempermudah infeksi common cold. atau pharynx. menunjukkan kurangnya jumlah bakteri. j. Antibodies ini bersifat spesifik dan tidak ada kekebalan silang dengan jenis lain. tuberkulosa dapat merendahkan tahanan tubuh. Kelainan anatomis hidung. ada yang mengatakan sampai beberapa minggu atau bulan.

otitis media. Sampai sekarang hasil dari vaksinasi belum dapat mencegah terjadinya common cold. Stadium ini ditandai dengan perasaan kering pada nasopharynx. c. rhinitis allergica akuta dan rhinitis exanthematica Pencegahan a. Stadium iritasi atau stadium akut. bersin-bersin. pneumonia. Diagnosa Banding Influenza. rhinorrhoe encer dan obstruksi nasi. Stadium stase vena dan infeksi sekunder. terdapat sedikit gangguan umum dan toxemia ringan berupa subfebril. Terjadi ischaemia dalam mukosa hidung yang ditandai dengan perasaan panas kering pada hidung dan nasopharynx. b. d. c. Gejala-gejala subyektif dan obyektif mulai berangsurangsur mengurang. Setelah hari kedua atau ketiga. nyeri tekan. Komplikasi Nasopharynx dan pharyngitis. b. Pada prinsipnya menghindari penularan baik secara langsung maupun tak langsung. Para ahli telah mencoba memberikan immunitas buatan dengan cara pemberian vaksinasi. proses ini dapat berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Penyembuhannya terjadi setelah berlangsung 5 sampai 10 hari. tonsilitis. . obstruksi nasi lebih menonjol dan gejala toxemia mencapai puncaknya. laryngotracheitis. Stadium penyembuhan. malaise. Vaksinasi ini dapat diberikan secara oral atau parentral. Stadium prodromal atau stadium ischaemia. merupakan serangan lokal.Gambaran Klinik Perjalanan penyakit bersifat selflimiting. Perlangsungannya kita bagi dalam 4 stadia: a. Selaput lendir merah dan oedem. sinusitis. pada anak-anak atau bayi dapat menyebabkan gastro-enteritis dengan gejala diarrhoe dan muntah-muntah. artinya dapat sembuh sendiri dengan tanpa pengobatan. Infeksi yang pada mulanya lokal. Stadium ini berlangsung hanya beberapa jam. tetapi dapat meringankan dan memendekkan perjalanan penyakit dan dapat mencegah terjadinya komplikasi. Vaksinasi. pharyngo-tympanic salphingitis. sekarang menyebar pada selaput lendir sekitarnya melalui cairan lymfe. Mengurangi atau menghilangkan faktor predisposisi. anorexia dan cephalalgia. bronchitis. warna selaput lendir akan lebih gelap dan keabu-abuan. sekret berkurang tetapi kental.

sehingga amat berguna untuk melawan vasokonstruksi perifer pada common cold. Untuk menghilangkan obstruksi nasi dapat dipakai obat tetes hidung sebagai vasokonstriktor.Pengobatan Sampai sekarang belum ada pengobatan spesifik untuk common cold. karena alkohol berkhasiat sebagai sedativa dan dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. dengan menghirup uap air yang merupakan campuran dari 1 pint (= 0. C. misalnya whisky. tak boleh melampaui dua minggu. analgetica antipyretica. Procold. NASAL ALLERGY ATAU RHINITIS ALLERGICA Pendahuluan Allergi adalah suatu keadaan hypersensitif dari seseorang terhadap zat-zat tertentu baik yang berasal dari tubuh maupun yang berasal dari luar. antara lain yang kita kenal adalah A. Mengenai makanan sebaiknya makanan lembek dan hangat-hangat kuku. Protargoli 1 – 2% (lihat syarat-syarat obat tetes hidung).C. Kombinasi dari obat-obat ini bermacammacam.568 l) uap air dengan 1 sendok teh tinct benzoicum. Pengobatan umum terutama ditujukan untuk memperoleh keadaan yang terbaik untuk istirahat. Decolgen. misalnya HCl. Pada seseorang yang normal kontak dengan bahan-bahan tadi tidak menyebabkan/menimbulkan keluhan-keluhan atau kelainan-kelainan. mandi dengan air panas atau steam bath. Pengobatan lokal. Antibiotika dapat diberikan sebagai cadangan untuk mencegah komplikasi. tetapi pada seseorang yang allergia akan menyebabkan keluhan-keluhan atau perubahan-perubahan dalam jaringan tubuh.P. vasokonstriktor dan vit. uap air ini dihirup melalui hidung. tetapi pengobatan baik lokal atau umum yang bersifat symptomatis cukup membantu meringankan dan mencegah komplikasi. . antihistaminica. expectorantia. sedangkan tempat dimana reaksi allergi itu terjadi kita sebut “shock tissues”. Neozep dan lain-lain. Ephedrin 1% dicampur dengan Sol. Obat tetes hidung jangan dipakai terlalu lama. Obat-obatan symptomatis yang sering dipakai untuk melawan common cold biasanya terdiri dari sedativa. Stop Cold. Ada yang menganjurkan minum sedikit alkohol. Bahan-bahan tertentu yang menyebabkan keluhan-keluhan atau kelainankelainan tadi kita sebut allergen.

sebaiknya diingatkan kembali ada tiga jenis utama reaksi hypersensitivitas yang kita kenal sebagai berikut: a. Pada waktu haid. memberikan riwayat adanya allergi pada keluarga. c. yang allergic. 2. Faktor predisposisi 1. Hal ini dapat kita lihat. vitamin C dan D mempertinggi permeabilitas kapiller dan oedems. misalnya sesuatu serangan asthma sering didahului oleh sesuatu infeksi akut. nasal allergy. Keadaan musim. Delayed hypersensitivity. Berbeda dengan kedua jenis di atas. Reaksi ini dapat terjadi pada setiap orang sebagai hasil dari satu reaksi antigen antibodi bila antigen (misalnya dari serum kuda) disuntikkan kepada orang yang sebelumnya telah menjadi peka. 50% dari penderita-penderita. Orang-orang yang telah menjadi peka bila exposed lagi terhadap antigen yang sama akan terjadi manifestasi allergi seperti asthma. bahwa berat ringan reaksi ini pada setiap orang tidak sama. 3. tekanan barometrik. misalnya faktor temperatur. Endoktrin. 4. Faktor ini kurang penting. Atopic hypersensitivity. tetapi kadang-kadang kita jumpai reaksi allergi pada orang post-operatif. Kekurangan calcium. dan dysfungsi ovarium semuanya cenderung mempertinggi reaksi allergi. Trauma. Infeksi dan intoksikasi. b. .Sebelum kita membicarakan nasal allergy. eczema. Hal ini amat penting memegang peranan dalam reaksi allergi. Herediter dan konstitusi. Aksi langsung dari bakteri dan virus. 5. Berbeda dengan keadaan pertama. yang kita akan bicarakan kemudian (Atopic Allergy Disease). kelembaban. dimana reaksi ini tidak bergantung pada antibodi tetapi pada lymphosit yang telah dibuat peka. Reaksi ini dapat menerangkan proses patologik yang terjadi pada TBC. atau produknya dalam sel-sel jaringan. sinar matahari. Resistensi phisik dan kimia dari jaringan. reaksi ini merupakan reaksi tubuh yang normal dan dapat terjadi pada setiap orang walaupun diakui. merupakan faktor predisposisi yang penting. misalnya pembentukan tuberkel. Jenis hypersensitif inilah yang berhubungan dengan nasal allergy. 6. menopause. Anaphylactic hypersensitivity. Reaksi ini timbul pada orang-orang tertentu yang padanya bila exposed terhadap antigen tertentu akan terbentuk “reaginic antibodies”. pergerakan udara dan keadaan ion udara dapat mempengaruhi berat ringannya suatu reaksi allergi misalnya pada asthma dan nasal allergi.

dan bersamaan dengan ini terjadi peninggian permeabilitas kapiler dan dilatasi pembuluh darah. acethylcholine. maka perhatian tertuju pada terbentuknya “reaginic antibodies” yang berhubungan dengan satu jenis immunoglobulin yakni immunoglobulin E (IgE). di samping sel-sel plasma dan lymphosit. dapat menyebabkan gangguan psychis. kadang-kadang merupakan satu-satunya faktor penyebab. bahwa proses sensitisasi mencakup kombinasi dari IgE antibodi dengan sel-sel (misalnya sel-sel basophil. Stanworth pada tahun 1969 mengemukakan. sebagai predisposisi. sedangkan pada penderita dengan allergi menunjukkan konsentrasi IgE meninggi (6 kali). Mungkin kita terlalu banyak mempergunakan istilah nasal . d. b. kadar IgE normal dalam serum rendah.7. atau sebaliknya sebagai akibat dari reaksi allergi yang membawa penderitaan yang lama. pada penderita-penderita allergi. Kalau proses ini berlangsung lama dan berulang-ulang. Satu hal yang menarik pada orang-orang normal. Klasifikasi nasal allergi Sampai sekarang kita masih belum sependapat mengenai terminologi yang tepat dari nasal allergi. terjadi oedema dan kadang-kadang polip. Derajat oedema ini bergantung pada densitas stroma jaringan-jaringan ikat pada anyaman kapiler di bawah membrana basalis. mast sel) dalam sistem R. Dilatasi pembuluh darah dan meningginya permeabilitas kapiller. Mekanisme terjadinya allergi Karena atopic hypersensitivity hanya terjadi pada orang-orang tertentu. yang khas adalah sel-sel eosinophil. menghasilkan “cell-boud reaginic antibodies”. Infiltrasi sel-sel. akan terjadi perubahan-perubahan berupa penebalan jaringan ikat yang permanen.S. menghasilkan sekret yang encer dan jernih seperti air. Perubahan-perubahan patologi apakah yang terjadi akibat suatu allergi dalam hidung? Perubahan-perubahan itu berupa: a. Terjadi infeksi sekunder dengan bakteri sehingga sekret berubah menjadi mukopurulent. brandykinin. Faktor ini memegang peranan penting dalam kebanyakan dari penderita allergi. Faktor psychis. kemudian pada tingkat provokasi allergen berkombinasi dengan cell-bound reaginic antibodies akan menghasilkan satu seri reaksi enzym yang melepaskan histamin dan vasoactive aminos misalnya serotonin. Aktivitas dari kelenjar-kelenjar seromucinosa meninggi. c.E.

a. atas dasar pemeriksaan yang teliti. bulu-bulu binatang. maka kita mencampurbaurkan kedua keadaan ini. Iritasi pada mata yang menimbulkan epiphora. kapuk. telur. kepiting. termasuk debu rumah. rhinorrhoe encer seperti air. staphylococ. hanya dipakai benar-benar ada antigen antibodi reaksi. Allergen-allergen di bawah ini dapat merupakan penyebab dari perenial nasal allergy: 1) Inhalants. Tetapi bagi kita di sini dimana fasilitas laboratorium. termasuk susu. atau bidang allergologi belum ada. pneumococ. Pada orang dewasa biasanya diebabkan oleh inhalants sedang pada anak-anak (early childhood) disebabkan oleh makanan. Adalah nasal allergy yang spesifik terhadap rumput/sari pollen. epidermis manusia dan lain-lain. b. 4) Bakterial allergen. conjunctiva dan bronchus. tetapi etiologinya sangat berbeda. 3) Kontaktans. Perenial nasal allergy Allergy disebabkan oleh faktor exogen (exogenous allergen). 2) Ingestan. mukosa cavum nasi oedema pucat dan basah kadang-kadang hyperaemia. kembang-kembang. obstruksi nasi. Pada pemeriksaan terlihat kemerah-merahan pada vestibulum nasi. kacang-kacangan dan lain-lain. misalnya streptococ. pharynx. Di Eropa penyakit ini menyerang pada bulan-bulan Maret. terutama pada keadaan rumah yang lembab atau ventilasi yang kurang baik. 5) Obat-obatan . udang. April dan Mei. Maka dianjurkan penggunaan istilah nasal allergy. Walaupun kedua keadaan ini secara klinik sukar dibedakan. Bila mukosa disentuh amat sensitif dan terjadi serangan bersin-bersin dan mengeluarkan sekret yang profus. karena di sini dapat mengandung berbagai benda asing seperti jamur-jamur atau mitos (dermatophagoides pteronys sinus). misalnya kosmetika. parfum. Seasonal allergy. selimut. epidermis binatang. Di klinik nasal allergi kita bagi dalam dua type yaitu seasonal type dan perenial type. Gambaran klinik bersifat akut Perasaan gatal pada hidung dan bersin-bersin yang berupa seri yang bersifat paroximal.allergi atau allergic rhinitis terhadap sesuatu keadaan yang kita sebut vasomator rhinitis atau vasomator instability. Allergen dapat terdiri hanya dari satu jenis atau multiple. biji-bijian yang mengenai selaput lendir hidung. Perhatian khusus pada debu rumah.

Gambaran Klinik Kurang lebih sama dengan seasonal nasal allergy. Diagnosa Diagnosa didasarkan atas: a.000 per ml setelah allergen menunjukkan adanya hypersensitivitas. kita mulai dengan pemberian makanan yang mempunyai kemungkinan paling minimal menimbulkan reaksi allergi. tetapi dapat menghasilkan false positif yang cukup tinggi dan kadang-kadang memberikan reaksi yang hebat. hanya di sini pada umumnya tak terlalu akut. 3) Leukopenik Index. Dengan cara eliminasi. Sebagai contoh bila seseorang telah diketahui allergi terhadap makanan udang atau kepiting. b. bahwa umumnya anti histaminika mempunyai efek sedative. termasuk pemeriksaan Ro dari sinus paranasalis. dapat dilakukan pada kulit dengan scratch method (menggores) diteteskan pada mukosa hidung. alkohol sebaiknya dihindarkan pada orangorang yang diberi antihistaminika. rhinoskopia posterior dan pemeriksaan THT yang lengkap. Dapat juga dilakukan provokasi test makanan tertentu. Anamnese yang teliti b. 2) Eliminasi dari allergen. . Cara penggoresan sifatnya lebih spesifik dan lebih aman daripada intradermal dan hasilnya dapat dipercaya khusus untuk inhalants. tetapi tidak untuk ingestant atau injectant. tetapi diingat. Pemeriksaan physis termasuk rhinoskopia anterior. Pemeriksaan dengan test-test khusus: 1) Specific application of the allergen. sebelumnya telah kita singgung bahwa eliminasi mempunyai nilai yang diagnostik. Cara intradermal 100 kali lebih sensitif daripada cara-cara penggoresan. Dengan sendirinya kalau kita telah mengetahui sesuatu allergen. pada conjunctiva. Pengobatan a. c. Index ini dipakai untuk diagnosa allergi terhadap makanan. maka cara pengobatan yang terbaik untuk kasus-kasus allergi adalah menghindarkan diri dari allergen. Pemberian obat-obat antihistaminika. penyuntikan intradermal atau intrakutan. tentu saja orang itu kita larang untuk makan makanan tersebut. Suatu penurunan dari jumlah leukosit lebih dari 2. kemudian setelah dua minggu kita berikan makanan lain dan seterusnya. karena efek sedatif dapat lebih kuat.

diberikan sampai beberapa bulan sampai penderita bebas dari gejala-gejala. baik dengan bahan kimia atau dengan elektris (caranya akan dijelaskan). mulai dengan dosis yang rendah kemudian dinaikkan perlahan-lahan. dosisnya dipertahankan dengan konsentrasi yang sama sampai reaksi hilang. Bila pada penyuntikan timbul reaksi hebat. karena kekaburan mengenai etiologi dan kegagalan dalam pengobatan penderita-penderita dengan R.01 dari extract. Sebab-musabab dari ketidaksesuaian paham dalam istilah ini.1 dari konsentrasi antigen yang dipakai. g. tetapi tidak dapat menyembuhkan secara radikal seperti apa yang dapat dicapai dengan cara spesifik hiposensitisasi pada beberapa kasus (ingat tidak semua dapat disembuhkan dengan pengobatan ini). Pengobatan lokal sebagai tetes hidung. Pendahuluan Istilah vasomator rhinitis dianggap oleh para ahli kurang tepat karena lebih cenderung memberikan pengertian peradangan daripada sesuatu gangguan fungsi. antihistamin.c. yang mengandung vasokonstriktor. e. Steroid “depot” therapy. corticosteroids. . Pada umumnya konsentrasi maksimal kurang lebih 0. d. Pada dasarnya bila kita telah mengetahui sesuatu allergen atau sekelompok allergen dengan skin test atau test-test yang lain sebagai penyebab allergi. yang memberikan reaksi positif pada skin test. sehingga para sarjana lain berpendapat lebih tepat dengan memakai istilah “Vasomator Instability” atau “Vasomator Catarrh”. maka kita dapat mempergunakan allergen terebut sebagai antigen dan disuntikkan subkutan. Penyuntikan ini dapat dilakukan berulang-ulang.1 ml dengan konsentrasi 0. Spesifik hiposensitisasi Walaupun cara-cara pengobatan yang telah dibicarakan sebelumnya dapat meringankan gejala-gejala nasalah allergy. f. Untuk mengurangi oedema atau memperkecil bentuk conchae dapat dilakukan kaustik. RHINITIS VASOMATORIKA Synonim: Vasomator Instability atau Vasomator Catarrh.V. Penyuntikan dengan steroid di bawah mukosa conchae inferior hasilnya cukup baik. dimulai dengan dosis 0.

tetapi mungkin hypothalmus berperanan sebagai pusat integrasi menerima berbagai impuls afferent termasuk stimulus emosi dari pusat-pusat yang lebih tinggi. Atas dasar ini maka dalam keadaan normal kedua sistem parasimpatis dan simpatis harus dalam keadaan seimbang. Pada waktu menstruasi. mungkin kepada mereka sistem keseimbangan ini terus menerus terganggu (biasanya parasymphatetic over activity). kehamilan atau waktu sexual excitement. dapat menghambat pelepasan dari neradrenalin pada ujung syaraf post ganglionik. . preparat yang mengandung obat-obat ini dapat menyebabkan obstruksi nasi. rauwolfia. keseimbangan vasomator bisa terganggu secara temporer oleh faktor emosi dan lain-lain tetapi tidak menyebabkan gangguan pada penderita. yang kemudian hilang sendirinya setelah dewasa. hipersekresi dan bersin-berin. atau menghambat perubahan dopamine ke noradrenalin. bahwa perangsangan pada syaraf parasimpatis atau penghambatan pada syaraf simpatis yang mempersyarafi mukosa hidung. mereka lebih cenderung menggolongkan semua kasus-kasus demikian pada nasal allergy. tension. maka R. misalnya methyldopa. 2. Faktor-faktor yang mengganggu keseimbangan vasomator 1. guanathidin. Dalam keadaan normal. sehingga akhir-akhir ini walaupun telah ditekankan oleh banyak ahli. merupakan sesuatu “clinical entity”. misalnya dihyroergotoxin mosylate. anger.V. Gangguan hormonal. Obat-obatan: obat-obatan anti hypertensi. Obatobatan lain yang bekerja sebagai sympathetic blocking agents menyebabkan vasodilatasi perifer. Patofisiologi Malconson pada tahun 1959. biasa dipakai dalam pengobatan penyakit pembuluh darah perifer dan migraine seperti ergot alkaloids. anxiety. telah membuktikan. Bagaimana pengaturan pengalihan dari sistem autonom ini belum diketahui secara pasti. di samping lebih hypersensitif terhadap berbagai macam stimuli atau rangsangan. misalnya pada masa pubertas terhadap gangguan pada hidung berupa hidung tersumbat. reserpin. dapat menyebabkan vasodilatasi. hostiality atau emosi yang menyenangkan dapat merupakan faktor.V dalam banyak hal lebih menyerupai parenial nasal allergy.Ditinjau dari gejala-gejala klinik. tetapi toh masih banyak ahli lain yang menolak anggapan di atas. akibat oedema pada conchae. bahwa R. Pada penderita-penderita yang menunjukkan gangguan atau keluhan-keluhan. 3. kadang-kadang timbul exacerbasi dari penyakit ini. Psychogenicl stress.

Pengobatan lokal sama dengan nasal allergy Akhir-akhir ini banyak dilakukan pengobatan dengan jalan operasi yang dikenal sebagai Vidian Neurektomi. dengan jalan memotong/memutuskan n.5 mg pada orang dewasa atau phenilpropanolamine sebanyak 25 – 50 mg dikombinasikan dengan antihistamin. infiltrasi sel-sel cosinophyl dan peninggian aktivitas kelenjar-kelenjar seromocous. Gambaran Klinik Lihat parenial nasal allergy Diferensial Diagnose Nasal allergy. dengan anamnese yang teliti dan sensitivity test.4. dapat menimbulkan gangguan keseimbangan vasomator. Patologi Pada pemeriksaan histologis dari mukosa hidung. Tetapi ada yang . asap rokok. Pada kasus-kasus yang telah berlangsung menahun. dilatasi pembuluh darah. jaringan ikat akan bertambah pada submukosa. Faktor physik: unsur-unsur physik tertentu misalnya udara dingin. Anjurkan banyak berolahraga. menunjukkan berbagai derajat oedem. perubahan-perubahan temperatur dan kelembaban. sedangkan infeksi merupakan faktor sekunder. Pada vasomator instability tak ditemukan allergen. Pengobatan dapat diberi ephedrin misalnya 3 x 12. terutama berolahraga di alam terbuka. RHINITIS KRONIKA HYPERTROFIKA Synonim: Rhinitis kronika hyperplastika atau Polipod chronic rhinitis Etiologi Sebagai penyebab dari rhinitis kronika hypertrofika. Pengobatan Pada prinsipnya memperhatikan dan menghindari atau mengurangi faktorfaktor predisposisi. allergen merupakan faktor yang paling penting. Kalau bisa anjurkan untuk merubah kebiasaan atau sikap hidup. vidianus di dalam fossa pterigomaxillaris melalui dinding belakang sinus maxillaris.

karena adanya oklusio tubae. pelebaran pembuluh-pembuluh darah dan pembesaran kelenjarkelenjar. Rhinorrhoe atau post nasal dripping. misalnya cephalgia. dengan sekret yang encer atau kental (mukopurulent). selalu ditemukan adanya riwayat yang berhubungan dengan allergi pada kebanyakan penderita. Patologi Terdapat penebalan dari mukosa hidung dan periostium. yang tampak berbenjol-benjol “mulberry like appearance”. Pada conchae media sering-sering terlihat juga hypertrofi dan kadangkadang terjadi pembentukan polip. Dasar septumnasi terlihat juga adanya penebalan. Mikroskopis. yang kita kenal sebagai “vacum headache”. Sekarang telah disepakati. penebalan dan bertambahnya jaringan sub mukosa. terlihat peradangan menahun. Di samping itu dalam anamnesa. dapat kita bedakan sebagai berikut: . Untuk membedakan apakah mukosa mengalami oedema atau hypertrofi. bahwa baik faktor allergi maupun infeksi kedua-duanya berperanan sebagai penyebab dari rhinitis kronika hypertrofika. atas dasar kenyataan selalu ditemukannya sel-sel cesinophil dalam sekret hidung dalam kasuskasus rhinitis hypertrofika. Bagian yang paling jelas mengalami perubahan hypertrofi adalah pada conchae inferior. terlihat hypertrofi mukosa hidung terutama conchae inferior. Gambaran Klinik Obstruksi nasi merupakan keluhan yang paling menonjol. karena ostium/ostia sinus paranasalis tertutup mengakibatkan tekanan negatif dalam rongga sinus paranasalis. permukaannya berbenjol-benjol “mulberry like appearance”. bahwa perubahan hyperplasia pada mukosa terutama disebabkan oleh faktor infeksi bakteri. Hyposmia terjadi karena gangguan transmisi dari partikel-partikel bau-bauan untuk sampai ke area olfaktorius. akibat dari obstruksi nasi dapat memberikan keluhan-keluhan sekunder.menganggap. Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior. dimana ujung-ujung syaraf olfaktorius berada. Pendapat yang mengatakan bahwa allergi sebagai penyebab. Di samping itu dapat juga memberikan keluhan pendengaran berkurang.

Lindsay Gray (1967) dalam thesisnya berkesimpulan.Pada mukosa yang oedema. dengan akibat terjadi penurunan tekanan cairan ekstravaskuler dan dengan demikian meninggikan pembentukan cairan jaringan sehingga mempermudah terjadinya polip. bila ditetesi dengan vasokonstriktor (misalnya ephedrin HCl 2%). misalnya Bisolvomycin di samping antihistaminika seperti pada nasal-allergy. Etiologi Beberapa teori telah dikemukakan tentang pembentukan polip antara lain: a. kita adakan polipektomi. POLIP HIDUNG Pendahuluan Polip adalah oedema lokal disertai prolaps dari mukosa hidung atau sinus paranasalis dengan membentuk kantong yang bertangkai. sedangkan pada mukosa yang hypertrofis dengan pemberian vasokonstriktor hampir-hampir tak berkhasiat atau hasilnya amat minimal. b. Conchae media yang terlampau besar dapat dilakukan partial conchotomi sedangkan conchae inferior sebaiknya tidak dilakukan conchotomi. Kalau terdapat mukopus dapat diberikan antibiotika dikombinasikan dengan preparat mukolitik. Keadaan ini sering ditemukan. kemudian dikemukakan faktor allergi yang memegang peranan dalam pembentukan polip. tetapi sampai sekarang belum ada persesuaian pendapat mengenai etiologi pembentukan polip. Pengobatan Pada dasarnya hampir sama dengan nasal allergy. Teori lain mengemukakan. malahan sebagai akibat obstruksi mekanis. bahwa dalam cavum nasi dengan deviatio septi. bahwa pembentukan polip hampir selalu sebagai akibat gangguan vaskuler dari mukosa hidung. mukosa akan mengerut. terdapat daerah pengucapan (constriction) pada tempat ini terjadi penurunan tekanan pada jaringan sekitarnya. karena conchae inferior mempunyai peranan yang penting dalam mengatur fungsi hidung. Kalau ada pembentukan polip. Pertama-tama dikemukakan teori infeksi sebagai penyebab pembentukan polip. . setelah itu kedua teori di atas dikawinkan kemudian diambil kesimpulan bahwa pembentukan polip sebagai akibat “bacterial allergy”. c.

kekuning-kuningan dan ada kalanya merah muda. misalnya fibroma. kadang-kadang translusent. stromanya fibriler dengan rongga besar yang diisi dengan cairan intercelluler. dan epinephrin pada groround substance dari mukosa hidung dan sinus paranasalis. Tumor jinak dari cavum nasi. angiofibroma. berakibat deformasi hidung bagian luar (pada kasus-kasus polip yang besar). didapat adanya kelainan pada glucose tolerance test. dan pada anamnesa didapat kurang lebih 50% dari mereka.d. atau sedikit padat. . transilluminasi. Rhinorrhoe encer atau mukopurulent. Mikroskopis. Antral. Insidens menurut umur Polip ethmoidal dapat terjadi pada segala umur. Gambaran klinik Obstruksi nasi merupakan gejala utama. Hypertrofi atau oedema dari conchae b. mempunyai riwayat diabetes mellitus dalam keluarganya. Conchae media. Patologi Makroskopis terdiri dari massa yang halus dan licin dengan warna yang kebanyakan pucat. keluhan-keluhan lain hanya akibat dari obstruksi nasi. yakni ada gangguan keseimbangan antara glukosa. insulin. c. Ada yang menghubungkan pembentukan polip dengan kelainan metabolisme karbohydrat. c. putih opaque. b. Dapat juga terlihat adanya penimbunan sel-sel lymphosit. Hal ini terbukti pada pemeriksaan penderita-penderita dengan polip hidung. diliputi oleh epithel torak bercilia. Konsistensi lunak. terlihat hanya sebagai mukosa oedema dan hypertrofi. sel-sel plasma dan sel-sel eosinofil. Sumber atau lokasi polip Lokasi polip dapat bersumber pada: a. Ethmoidal berasal dari sinus Ethmoidalis. tetapi antral polip yang sering berupa antrochoanal polip lebih sering terdapat pada anak-anak dan orang yang umurnya masih muda. foto sinus paranasalis. Diagnose Atas dasar anamnese Atas dasar hasil pemeriksaan: Rhinoskopi anterior. rhinoskopi posterior. Deformasi tulang-tulang hidung. haemangioma. Diferensial Diagnose a. Tumor ganas cavum nasi dan sinus paranasalis. berasal dari sinus maxillaris.

Operasi ini dikenal dengan dua cara. Keuntungan dari cara ini adalah. yakni: a. b. Dari kasus-kasus ozaena. Pengobatan yang terbaik dari polip adalah dengan jalan operasi. dengan tidak mengangkat polip itu sampai ke dalam sinus paranasalis. corticosteroid. RHINITIS KRONIKA ATROFIKA Ada dua jenis rhinitis atrofika yang kita kenal: a. artinya di samping mengangkat polip yang berada dalam hidung. artinya hanya mengangkat polip yang terdapat dalam cavum nasi saja. berupa antihistaminika. tetapi tidak satu teori pun yang dapat diterima secara umum. Polipektomi radikal (Ethmoidektomi). Polipektomi simplex. istilah Ozaena digunakan untuk penyakit ini. malahan dalam waktu yang singkat dapat terjadi residif. Keuntungan cara operasi ini adalah kans residif lebih kecil dan kalau memang terjadi. kita juga mengangkat polip yang berada dalam sinus paranasalis. maka jangka waktunya cukup lama. untuk menerangkan semua kasus-kasus ozaena. perawatan post operasi singkat. risiko operasi hampir-hampir tidak ada. Rhinitis kronika atrofika sekundaria. Kerugian operasi ini ialah prosedur operasi lebih sukar dan waktu perawatan lebih panjang serta resiko komplikasi post operasi relatif lebih besar. Akan tetapi kerugiannya adalah. Etiologi Telah banyak teori dan hipotesa yang dikemukakan untuk menerangkan sebab terjadinya ozaena. Jadi kita berusaha untuk membersihkan sampai ke akar-akarnya (teknik operasi akan dibicarakan dalam kuliah sinus-chronica). yang berasal dari kata Yunani “Azein” yang berarti “to smell”.Pengobatan Bila saudara sebagai dokter umum menemukan polip hidung yang masih kecil. di . adona (carbazochrome derivat). Rhinitis kronika atrofika primaria. prosedur operasi ini tak membersihkan polip yang berada dalam sinus. dengan sendirinya kans untuk residif besar sekali. bahwa prosedur sederhana. pada umumnya ditemukan pada orang-orang muda masa pubertas dan lebih sering pada wanita. ??? Dari sifat khusus “foeter”. dapat dicoba dengan pengobatan konservatif. b.

mengemukakan.samping itu sering ditemukan pada suatu famili tertentu atau pada ras tertentu sedang pada ras lain tidak ditemukan. karena sekret dari sinusitis supurativa. Coccobacillus foetidus (Peres. Bacillus mucous (Abel. lain halnya dengan ozaena. 1894). 1959). c. 1895). Para penyelidik lain beranggapan. Diphteroid bacillus. Selain itu dikemukakan juga teori gangguan keseimbangan hormon. sehingga dapat mengurangi suplai darah dan mengakibatkan atrofi pada mukosa hidung. menurunkan suplai darah. dapat merangsang baik secara biochemis maupun mekanisme pada sel-sel jaringan yang mengakibatkan proliferasi dan tekanan pada sel-sel jaringan. Tailor dan Young pada tahun 1965. kelenjar-kelenjar mengurang atau menghilang. terakhir terjadi atrofi dari kelenjar-kelenjar dan sel-sel syaraf dan tulang. bahwa terjadinya ozaena sebagai akibat dari banyak faktor yang saling tunjang menunjang. atas dasar kenyataan bahwa lebih sering terdapat pada wanita yang berumur antara 10 – 20 tahun. Dari kenyataan ini. dengan perubahan-perubahan atrofi hanya pada mukosa saja. Coccobacillus (Loewenberg. bahwa mungkin ada faktor endogen yang memegang peranan penting dalam terjadinya ozaena. sehingga terjadi kontraksi dari sel-sel jaringan. Grunwald mengemukakan. ozaena adalah suatu penyakit kekurangan besi (iron deficiancy disease). Tetapi walaupun demikian kuman-kuman ini belum dapat dibuktikan sebagai penyebab utama dari ozaena. Sel-sel torak bercillia berubah menjadi sel berlapis gepeng. Patologi Pada stadium permulaan terdapat gambaran peradangan kronik. dengan akibat perubahan-perubahan atrofi pada mukosa. Gambaran Klinik . Izernat Bernat (1965) mengemukakan bahwa. d. Pada akhirnya kita menganggap. bahwa proses ini terjadi pada rhinitis atrofika sekundaria. selalu ditemukan dalam sekret hidung. b. bahwa infeksi kronik menyebabkan endarteritis. Klebsiella ozaena (Hendrikson dan Gunderson. 1899). maka kita menduga. Kuman-kuman saprofit antara lain: a. perubahan atrofi juga pada struktur tulang dan tidak didahului oleh suatu peradangan kronis atau sinusitis. bahwa penyakit ini sebagai akibat sinusitis supurativa. pada stadium lanjut terjadi penebalan pembuluh darah dan adanya suatu endarteritis obliterans dari arterio.

Atrofi mukosa dan tulang RHINITIS ATROFIKA SEKUNDARIA   Anosmia (-) Atrofi hanya pada mukosa. Perasaan kering pada tenggorok atau pharynx. krustae ini sukar dilepaskan. kadang-kadang sampai ke pharynx. Rhinolith d. kalau dilepaskan biasanya sedikit berdarah. tulang tak mengalami atrofi Arteri masih sehat Epithel sebagian besar masih baik c. Cephalalgia. keluhan ini akibat adanya perubahan-perubahan degeneratif pada sel-sel syaraf penciuman pada stadium ini. . Mukosa tampak kering dan pucat Diagnosa Banding a. sel kelenjar. disebabkan adanya perubahanperubahan atrofi pada pharynx.a. Obstruksi nasi sebagai akibat adanya penimbunan sekret yang kering atau krustae dalam cavum nasi. karena adanya konstruksi pada ostia sinus paranasalis karena penimbunan sekret. tetapi orang di sekitarnya akan dapat mencium bau busuk. Rhinitis sicca b. metaplasia  epithel. b. Rhinitis atrofika non foetida atau rhinitis kronika atrofika sekundaria. f. sehingga orang dengan ozaena dijauhi oleh teman-teman. c. e. Rhinitis caseosa c. Hyposmia atau anosmia. karena adanya atrofi dari conchae nasalis. akibatnya penderita terisolir dari pergaulan mental depresif. Foetor nasi merupakan keluhan utama (pada stadium permulaan). Pada pemeriksaan dengan rhinoskopi anterior terlihat cavum nasi lebar. Keluhan foeter nasi akan hilang. d. adanya penimbunan sekret yang kering atau krustae yang berwarna hijau kehitam-hitaman. Terdapat endarteritis. Anosmia (+) b. d. Penimbunan krustae ini terutama di sekitar conchae media atau dapat meluas di seluruh cavum nasi sampai ke belakang. degenerasi syaraf dan sel. Untuk membedakan ozaena dan rhinitis atrofika sekundaria dapat kita lihat sebagai berikut: OZAENA a. Etiologi belum jelas terdiri dari  Etiologi jelas dari sinusitis kronika multi faktor supurativa atau akibat operasi pengangkatan conchae yang berlebihan.

Pemberian dengan vitamin A dengan dosis tinggi dicoba untuk memperbaiki epithel. a. kemudian krustae dikeluarkan dengan bantuan forceps. obat cuci hidung 1 sendok larutan + 9 sendok air hangat dipakai dua kali sehari cuci hidung. Wilson pada tahun 1946 telah melaporkan. saprofit. Dapat juga dipakai tampon yang dibasahi dengan sol. Karena pada umumnya pengobatan konservatif belum memuaskan. bahwa dengan penyuntikan submukosa suspensi dari teflon powder dalam 50% glycerin pasta. orang mencoba mengadakan pengobatan dengan jalan operasi. Blok pada ganglion stelata yang berulang-ulang telah dicoba dengan hasil yang cukup baik. dapat hasil yang cukup . dengan hasil yang minimal.s. pada dasar cavum nasi. agar foeter nasi dapat dikurangi atau hilang. Paling penting untuk menjaga kebersihan hidung. karena oestradiol mempunyai khasiat vasodilatator. Pengobatan dengan jalan operasi ini pada dasarnya bertujuan untuk memperkecil ruangan cavum nasi dengan jalan menyisipkan teflon strip.Pengobatan Sampai sekarang pengobatan kausal belum ada. atau pada septum nasi. Pemberian vasodilatantia per oral atau perenteral. b.d. ichthyol 10% dimasukkan dalam hidung ditunggu 20 – 30 menit sampai krustae jadi lembek. dengan hasil yang memuaskan. sehingga Sharma dan Sardana (1966) menganjurkan diadakan cervikal sympathectomi. dipakai sebagai nasal spray. polythene. Penyuntikan dengan acethylcholine di bawah mukosa sebagai vasodilator. pengobatan hanya bersifat simptomatik.000 unit per ml. hasilnya kurang memuaskan. Hal ini dapat dianjurkan kepada penderita untuk mencuci hidung dengan larutan campuran dari: R/ Bicarbonas Natricus Chloretum Natricus Chloretum Ammonicus aaa 10 Aqua ad 400 m. Pengobatan ini kita bagi dalam pengobatan konservatif dan operatif. Pengobatan konservatif. atau oestradiol oil 10. atau tulang rawan pada dinding lateral. pemberian antibiotika untuk membasmi kuman-kuman memuaskan. Setelah krustae dikeluarkan dapat diberikan 25% larutan glukose dalam gliserin yang menghambat proteolytic organisme.

Pencabutan gigi atau infeksi pada gigi. yakni sinusitis akuta dan sinusitis kronika. f. Menurut perlangsungannya. Rhinitis ekuta. Berenang dan menyelam dapat juga mempermudah penyebaran langsung melalui ostia ke dalam sinus paranasalis. atau melalui bekuan darah yang terkumpul dalam sinus. dapat pula menyebabkan infeksi ini masuk ke dalam sinus maxillaris (lihat hubungan anatomi sinus maxillaris dan gigi atas).SINUSITIS Pendahuluan (Tinjauan Umum) Sinusitis merupakan penyakit yang tak jarang kita temukan di bidang THT. Umum: . vasomator instability dan septum deviasi. adenoiditis. misalnya tonsilitis. maka tidak akan memberikan gejala-gejala klinik sinusitis. maka setiap rhinitis mempunyai potensi terjadi sinusitis. d. karena perubahan tekanan yang tiba-tiba (sama halnya dengan aero-otitis). Barotrauma atau aerosinusitis dapat terjadi selama penerbangan. Maxillo-facial trauma. rhinitis allergika. Corpus allienum nasi. infeksi dapat masuk secara langsung melalui garis fraktur. penyebarannya secara langsung melalui sistem limfatik pada sub mukosa. misalnya polip hidung. Lokal: 1) Obstruksi nasi dari sebab apa saja. bahwa mukosa sinus paranasalis merupakan lanjutan dari mukosa cavum nasi dan bentuk histologi sama. 2) Infeksi di sekitar hidung. Hal ini dapat dimengerti dengan mengingat. Sinusitis dapat terjadi hanya terbatas pada satu sinus atau beberapa sinus (multisinusitis) atau pada semua sinus paranasalis baik pada satu sisi maupun kedua sisi (pansinusitis unilateral atau bilateral). 3) Sebelumnya pernah mendapat sinusitis yang sama. Penyebaran langsung dapat dipermudah dengan bersin-bersin atau pada waktu membuang ingus dengan menutup kedua hidung. c. Faktor predisposisi a. sinusitis dapat kita bedakan dalam dua macam. e. b. b. terutama pada anak-anak dapat terjadi pada infeksi sekunder ke dalam sinus. Sinusitis Akuta Etiologi a. tetapi bila kelancaran drainage dari ostia sinus paranasalis tidak terganggu.

Walaupun demikian kadang-kadang terjadi resolusi sebelum terjadi supurasi. b. Oedema c. Cephalgia (sifatnya akan diterangkan pada masing-masing sinusitis). N. Hyperemia b. Bacteriologi Mikro organisme yang paling sering menurut urutan sebagai penyebab dari sinusitis adalah pneumococcus. malaise. Rhinorrhoe atau post nasal dripping. sekret ini bersifat kental atau mukopus dan kadang-kadang disertai sedikit darah (blood stained). yang mula-mula serous. d. Patologi Perubahan-perubahan peradangan pada mukosa hidung pada sinusitis adalah sebagai berikut: a.1) Keadaan allergi 2) Kedinginan 3) Keletihan yang berlebihan 4) Malnutrisi. Terjadi exudasi. dengan bertambahnya intensitas infeksi sekret menjadi purulent. Fridlander’s bacillus. Infiltrasi sel-sel radang d. Escheria colli dan anaerobic streptococci sebagai penyebab dari sinusitis maxillaris dentogen. terutama bila kepala ditundukkan atau waktu batuk. . Obstruksi nasi. sebaliknya sebagian proses infeksi berlangsung terus sampai menjadi kronis. penyakit-penyakit kronis 5) Keadaan atmosfir yang ekstrim. influenza. terutama pada anak-anak (gejala ini jarang terlihat). Perasaan nyeri pada sinus yang bersangkutan. c. nausea dan kadang-kadang mental depresi. baik berupa menusuk-nusuk atau dull pain. staphylococcus. disebabkan adanya oedema pada mukosa terutama conchae media. a. e. Gejala-gejala umum: Subfebril. Hyperaktivitas dari kelenjar-kelenjar e. f. atau karena penimbunan sekret yang kental. Oedema dan hyperemia pada dinding depan dari sinus bersangkutan. Gambaran Klinik Bergantung pada intensitas peradangan efisiensi dari drainage ostia sinus paranasalis.

Pemberian sedativa. Diagnosa Banding a. yang mungkin mencakup 2/3 dari kasus-kasus sinusitis kronika merupakan kronik allergic rhino-sinusitis atau chronic vasomator rhino-sinusitis (Simpson dan Robin). karena berat ringannya sinusitis terutama dipengaruhi oleh faktor lancar tidaknya drainage. Neoplasma pada sinus paranasalis e. sebagai faktor utama. Ephedrin: dipakai sebagai obat tetes atau sebagai spray. Sinusitis Kronika Pendahuluan Hubungan rhinitis allergika dan rhinitis vasomatorika atau vasomator instability dengan sinusitis kronika sedemikian seringnya. atau . Larutan decongestan. c. diathermi dengan sinar gelombang pendek. Tregeminal neuralgia d. Menanggulangi infeksi: pemberian antibiotika dengan dosis yang adekuat (kalau bisa setelah dilakukan sensitivity test terhadap kuman penyebab). Erisipelas f. d. agar penderita dapat istirahat dengan baik. Memperbaiki drainage: tindakan ini merupakan pengobatan kausal yang amat penting. misalnya ½ . antara lain: a. atau ada tidaknya obstruksi pada ostium/ostia sinus paranasalis. Pemanasan lokal. Pemberian analgetika. Gigitan serangga Pengobatan Untuk menanggulangi sinusitis akuta. Lakukan infraksi pada conchae media untuk memperlebar meatus nasi media.1% HCl. Penanggulangan terhadap perasaan nyeri: 1.Gejala-gejala obyektif yang terlihat dalam pemeriksaan akan dibicarakan pada pembahasan sinusitis masing-masing. agar dapat dipilih antibiotika yang paling tepat. b. 2. kompres air hangat. dapat mempercepat resolusi peradangan. Perasaan nyeri yang bersumber dari gigi b. 2. maka ada beberapa tindakan pokok yang diperlukan. Migraine c. Tindakan ini dapat dimulai dengan pemberian: 1.

Gambaran klinik a. atau adanya exacerbasi akut. disebabkan oleh gangguan drainage sekret dari dalam sinus ke cavum nasi. Oedema. . streptococci termasuk yang anaerobic. terutama pada sinusitis maxillaris dentogen. Esch. Etiologi Setelah satu serangan atau serangan berulang-ulang dari sinusitis akuta. Bakteriologi Biasanya campuran dari berbagai macam bakteri. B. Fibrosis.malahan sebagai satu-satunya faktor penyebab. Infiltrasi sel-sel radang kronik. Cephalgia. pneumococci. Pembentukan kiste. Sekret bisa berupa purulent atau mukoid. Hyposmia atau anosmia temporer. Robin Ballantine dan Groves dalam bukunya “A synopsis of Otolaryngology” membagi sinusitis kronika dalam: a. Mixed infective and vasomator chronic sinusitis Simple Chronic Infective Sinusitis Pada type ini tidak terdapat allergi atau vasomator instability. Atas dasar ini Simpson. sebagai akibat dari tekanan jaringan. berkisar dari sedikit penebalan dari mukosa sinus sampai pembentukan polip. e. pada stroma submukosa terutama pada bagian yang mengalami peradangan infeksi akut. pada mukosa yang menebal. B. f. Rhinorrhoe atau post nasal dripping. d. c. Simple chronic infective sinusitis b. baik ringan maupun berat. pyocyanae. b. karena dalam pengobatannya atau hasil pengobatannya akan lebih berhasil kalau kita selalu ingat faktor tersebut di atas. Sering terjadi metaplasia epithel dan hypertrofi kelenjar-kelenjar. proteus. b. c. g. Ulcerasi dari epithel. Multipel mikro abses. coli. Sakit kepala biasanya dinyatakan sebagai perasaan berat pada kepala. kadang-kadang terdapat cacosmia. d. mengakibatkan pembentukan jaringan granulasi. Obstruksi nasi. Penting untuk mengetahui hal ini. Patologi a. atau perasaan berat pada daerah sinus yang bersangkutan.

berupa malaise. Kadang-kadang terdapat gangguan pendengaran. infraksi. Prinsip Pengobatan Dasarnya adalah sama dengan pengobatan sinusitis akuta. Bacteriologinya sama dengan simple chronic sinusitis. Mixed Infective and Chronic Vasomator Sinusitis/Chronic Allergic Sinusitis Etiologi Faktor allergi atau faktor vasomator instability. Gangguan umum biasanya ringan. bersamaan dengan sel-sel polymorphonuclear karena ada infeksi sekunder. Misalnya yang paling sederhana kita lakukan. batuk-batuk kronik. d. kita akan melangkah pada tindakan operatif. baik yang amat sederhana maupun yang lebih kompleks atau radikal. disebabkan peninggian permeabilitas kapiler dan terjadi penebalan mukosa. bertujuan memperbaiki drainage. untuk mengadakan pembilasan pada sinus. Sering disertai pembentukan polip c. Fungsi sinus dengan troicart. karena distensi dari ruangan intracelluler di dalam submukosa (cyste polypus). kemudian infeksi sekunder akibat dari obstruksi kronis pada ostia dan poliposis. mungkin merupakan faktor yang paling penting dalam perjalanan penyakit ini.e. karena oklusio tubae. karena post nasal dripping menyebabkan irritasi yang terus menerus pada pharynx dan larynx. mental apathy. Oedema pada mukosa. Patologi Gambaran patologi merupakan kombinasi dari perubahan-perubahan yang kita lihat pada simple chronic sinusitis dan pada keadaan allergi atau pada keadaan vasomator instability. Operasi konservatif untuk memperoleh drainage yang temporer atau permanent. yang amat resistent terhadap pengobatan (bila tidak diingat fokus primer). yakni mengadakan luksatio pada conchae media untuk memperlebar meatus nasi media. Biasanya berupa multi sinusitis atau bilateral pansinusitis. b. Jumlah sel-sel eosinophil bertambah pada sekret hidung. operasi-operasi radikal (dibicarakan pada pengobatan sinusitis masingmasing). anorexia. Pembentukan kiste palsu (kadang-kadang). Keadaan ini berupa perubahan-perubahan: a. . tetapi kalau tindakan-tindakan konservatif seperti pada sinusitis akuta tidak berhasil.

SINUSITIS MAXILLARIS AKUTA Sinusitis maxillaris merupakan sinusitis yang paling sering ditemukan di antara sinusitis lainnya. Mengobati infeksi c. b. Prinsip pengobatan a. Gejala-gejala yang berhubungan dengan allergi (lihat nasal allergi).Gambaran klinik Biasanya cenderung menghinggapi beberapa sinus atau bilateral pansinusitis. Menurut asalnya. Rhinorrhoe. Gambaran Klinik Perasaan sakit pada pipi (fossa canina). dengan sekret kental atau mukorus. Prognosis Pengobatan atau tindakan-tindakan operatif kadang-kadang tidak begitu memuaskan. simple dan radikal (akan dijelaskan pada pembicaraan sinusitis masing-massing). Oedema pada pipi (fossa canina). rhinogen b. . biasanya perasaan sakit ini diproyeksi ke sinus frontalis. a. Hyposmia atau anosmia. dentogen. Menanggulangi keadaan allergi (lihat nasal allergy) b. post nasal dripping. atau ke gigi atas. sinusitis maxillaris dapat kita bagi atas dua jenis. dan hyperemia pada conchae media. tetapi biasanya gejala-gejala dari sinusitis maxillaris dan sinusitis ethmoidalis yang menonjol. Rhirorrhoe dan post nasal discharge. sekret dapat bersifat encer. yakni: a. mukoid atau mukopurulent. c. Pada pemeriksaan dengan rhinoskopia anterior akan terlihat sekret pada meatus nasi media. karena faktor allergi sukar dihilangkan. ke regio temporalis. Operasi. gejala ini jarang terlihat.

dengan pertama-tama membersihkan sekret yang terdapat di meatus nasi media dengan kapas. Trigeminal neuralgia. dengan demikian terjadi evacuasi dari isi sinus maxillaris dan akan keluar melalui ostium sinus maxillaris yang berada di meatus nasi media.G. sinar solux. melalui meatus nasi inferior. dan juga dapat memberikan informasi tambahan mengenai keadaan sinus yang lain. Absces yang berasal dari gigi atas. kami mendapat kesan. Pengobatan lokal Sesuai dengan prinsip penanggulangan sinusitis akuta yang telah dibahas sebelumnya. Palpasi. c. fossa canina terasa nyeri pada bagian yang sakit. U. kemudian dilakukan pembilasan pada sinus dengan larutan garam fisiologi steriel. tetapi menurut pengalaman kami sehari-hari. kemudian penderita disuruh membungkukkan badan sambil memiringkan kepala sedemikian rupa sehingga bagian sinus yang sakit berada di atas. Di Indonesia walaupun belum ada angka-angka yang pasti.V. Transilluminasi.K. atau dapat dibilas dengan larutan antibiotika. lebih dapat dipercaya dari pemeriksaan trans illuminasi. Gambaran foto Ro. sinar infra merah. misalnya aqua penicillin. b.Untuk menguatkan apakah sekret itu berasal dari sinus maxillaris. Khusus untuk sinusitis maxillaris akuta kita tambahkan pengobatan dengan pemanasan lokal pada sinus maxillaris dengan diathormi gelombang pendek. bile sekret memang berasal dari sinus maxillaris (syarat ostium sinus maxillaris cukup terbuka). Pada pemeriksaan ulangan sekret ini akan terlihat lagi di meatus nasi media. cabang kedua dari n. terlihat gelap atau kabur pada sinus yang sakit (teknik pemeriksaan akan dijelaskan). Diagnosa banding a. Sinusitis Maxillaris Akuta Dentogen Di negara-negara yang telah maju jumlah sinusitis maxillaris dentogen kurang lebih mencapai 10% dari semua kasus-kasus sinusitis. kadang terlihat fluid level. bahwa angka-angka ini lebih tinggi dari pada negara-negara yang . terlihat kekaburan pada sinus yang sakit. Tumor rahang atas. Pembilasan sinus ini dapat dilakukan beberapa kali sampai keadaan sinus menunjukkan perbaikan. atau tumor sinus maxillaris. kita lakukan “Posture Test”. Kalau fase akut telah lewat dapat dilakukan pungsi sinus maxillaris dengan troicart.

Keadaan gigi yang dapat menimbulkan sinusitis maxillaris dentogen adalah sebagai berikut: a. maka kita meningkat pada tindakan intranasal antrostomi. Peri-apical absces dari premoler atau molar atas. untuk pembilasan seperti yang telah dijelaskan pada sinusitis maxillaris rhinogen. b. hanya berbeda dalam perlangsungannya yang menahun dan gejala-gejala atau keluhan nyeri amat minimal. merupakan penyebab yang paling sering dari sinusitis maxillaris dentogen. terjadi oroantral fistula. Kalau dengan pembilasan kurang berhasil kita lakukan operasi antrostomi dengan sublabial approach (diterangkan pada sinusitis kronika). Perbedaan yang jelas di antara sinusitis akuta dan kronika terletak dalam penanggulangannya. sehingga dalam pencabutan gigi. Periodental absces. bila dibandingkan dengan sinusitis akuta. Penanggulangannya berturut-turut sebagai berikut: a. Pertama-tama dicoba dengan jalan irigasi atau pembilasan sinus dilakukan beberapa kali. . hal ini dapat dimengerti karena penyakit-penyakit gigi di Indonesia angkanya cukup tinggi. Kadang-kadang tulang di antara socket dan sinus amat tipis.telah maju. sedangkan pada sinuitis maxillaris kronika cara penanggulangannya biasanya operatif. Setelah extraksi gigi premolar atau molar atas. c. Sinusitis Maxillaris Kronika Etiologi dan gambaran klinik dari sinusitis maxillaris kronika dan akuta hampir sama. Pengobatan Pertama-tama kita harus berusaha menghilangkan penyebabnya dari gigi yang diduga sebagai sumber dari infeksi. ini dapat menyebabkan suatu peradangan pada mukosa dasar sinus maxillaris. kalau tindakan ini ternyata tidak berhasil. akar gigi kadang-kadang dapat terdorong atau tertinggal dalam sinus. dimulai dengan periodentitis akuta atau kronik dengan akut exacerbasi. Setelah gigi diadakan canering. kita lakukan pungsi sinus. sehingga terjadi efusi dan supurasi. yakni pada sinusitis akuta biasanya pengobatannya bersifat konservatif. Di samping tindakan ini kita dapat juga tambahkan antibiotika per oral atau parenteral. Caries pada tulang atau processus alveolaris dapat menyebabkan hubungan langsung antara absces dengan rongga sinus (lihat gambar). kemudian penderita dikirim ke bagian gigi untuk pencabutan gigi.

Dengan cara sublabial approach. cara ini sebaiknya kita lakukan pada kasus-kasus dimana proses penyakit itu telah berlangsung lama. sehingga setiap ada pembentukan exudat dalam sinus frontalis dengan mudah dapat disalurkan ke luar ke dalam cavum nasi. memungkinkan kita untuk dapat membersihkan bagian-bagian mukosa yang telah patologis dengan penglihatan secara langsung ke dalam rongga sinus maxillaris (teknik operasi akan dijelaskan). . ini disebabkan oleh perkembangan sinus frontalis yang paling terlambat dan bentuk anatomis dimana ostium dari sinus frontalis terletak di dasar dari sinus frontalis. gejala-gejalanya cukup berat dan perlu mendapat perhatian yang saksama. c. dan telah terjadi perubahan-perubahan patologis pada mukosa maupun pada periostium dari sinus maxillaris. Intranasal antrostomi. Gambaran Klinik Frontal pain (frontal headache). karena kemungkinan komplikasi endokranial lebih mudah dibandingkan dengan sinus-sinus yang lain. Tetapi kalau terjadi suatu sinusitis frontalis akuta. SINUSITIS FRONTALIS Sinusitis Frontalis Akuta Sinusitis frontalis merupakan sinusitis yang amat jarang terjadi. tidak akan terjamin keberhasilannya. atau intra nasal antrostomi. biasanya cukup berat dan bersifat periodik. Sinusitis frontalis biasanya bersamaan dengan sinusitis ethmoidalis = homolateral. mulai beberapa saat setelah bangun pagi dan berakhir kurang lebih jam 2 atau jam 3 petang. sehingga dengan cara operasi antrostomi simplex. Kesukaran pada teknik ini adalah lapangan operasi sempit dan rongga sinus sukar tercapai seluruhnya sehingga kalau tidak berhasil baik dengan cara ini. yakni sublabial antrostomi. kita dapat lakukan dengan cara yang lebih radikal.b. Sublabial antrostomi (Caldwell – Luc Operation). dari jendela ini kita mengadakan kuretage pada sinus atau pembersihan jaringan patologis dari dalam sinus. dibuat suatu jendela pada dinding naso antral pada meatus nasi inferior.

Operasi khusus untuk sinusitis frontalis kronika termasuk: a. biasanya disertai sinusitis maxillaris atau sinusitis ethmoidalis. Transilluminasi: kabur Foto Ro: kabur Diagnosa Banding  Herpezs zoster dari n. Pada keadaan yang ringan. . segera sinus terbuka. sinus frontalis dapat dikontrol dengan tanpa mengadakan operasi. Setelah diadakan trepanasi dengan burr (bor) atau dengan pahat kecil. kemudian sewaktu-waktu diadakan pembilasan dengan larutan ephedrian 1% dalam gram fisiologis steriel. kita dapat lakukan infraksi conchae media dengan maksud memperlebar meatus nasi media. mukosa yang patologik dan polip dibersihkan. dengan jalan mengadakan trepanasi pada dasar dari sinus frontalis yang letaknya pada atap medial dari orbita.Perasaan nyeri pada penekanan pada atap dari orbita. sampai terlihat duktus nasofrontalis terbuka dengan melihat adanya cairan bilasan masuk ke dalam cavum nasi dan bebas dari pus. karena komunikasi antara cavum nasi dan sinus terbuka. Dalam penanggulangan sinusitis frontalis kronika. Terlihat adanya sekret pada meatus medius nasi. tetapi waspada agar duktus nasofrontalis dipertahankan. pada sinus maxillaris. kemudian diadakan drainage dengan memasang tube (plastic tube) yang difiksasi pada kulit. sinus ethmoidalis. dengan cara yang sederhana ini. Setelah itu dimasukkan plastik tube untuk drainage dan difiksasi pada kulit waktu mengadakan penjahitan. Dalam keadaan dimana tindakan tadi tidak berhasil. sering keluhan nyeri spontan akan hilang. maka tindakan operasi perlu dipertimbangkan. bahwa sinusitis frontalis jarang berdiri sendiri. maka segera diadakan trepanasi pada atap dari sinus frontalis. pus atau exudat akan segera keluar dan dibersihkan. supra-orbitalis Pengobatan Bila keadaan amat berat. dimana merupakan dasar dari sinus frontalis dan merupakan dinding tulang yang tipis. Operasi menurut King. rongga sinus akan terlihat jelas. Oedema pada palpebra superior tidak jarang terlihat. Pada prinsipnya memperbaiki drainage dari sinus frontalis. adakalanya dengan hanya mengadakan tindakan operatif. Sinusitis Frontalis Kronika Telah disinggung sebelumnya.

sampai sekret dari dalam sinus bersih. tanpa mengadakan pengobatan khusus pada sinusnya. Kalau kita menemukan kasus demikian. sinus sphenoidalis sekaligus dapat dicapai dengan teknik operasi ini. Sebagai contoh. dimana bentuk dan ukurannya hampir-hampir lengkap waktu anak dilahirkan. larynx. yang ditekankan hanya batuk-batuk telah lama dan telah berobat dimana-mana tanpa hasil. seorang anak dengan batuk-batuk kronis. maka sinusitis ethmoidalis agaknya tak jarang ditemukan pada anak-anak. sinus ethmoidalis. Operasi menurut Howarth Operasi ini mencakup operasi fronto-ethmoido-sphencidektomi. tetapi kurang mendapat perhatian oleh para teman sejawat yang bergerak di bidang disiplin lain. anamnesa terpimpin menunjukkan adanya rhinorrhoe yang kronis atau post nasal dripping (keluhan ini tidak terlihat dan tidak diketahui oleh orang tua si anak). adanya cephalgia (ethmoidal pain) yang letaknya di antara kedua mata dan di daerah frontalis penderita. Pada dasarnya selain sinus frontalis. inilah semua yang menyebabkan batuk-batuk yang tak ada respons terhadap pengobatan biasa. yang terus menerus menyebabkan post nasal dripping. Gambaran klinik Sebagai tambahan gejala-gejala khusus sinusitis ethmoidalis akuta. ingatlah kemungkinan sinusitis ethmoidalis atau sinusitis lainnya. malahan sampai pada traktus respiratorius bagian bawah. bila drainage melalui duktus telah pulih secara normal tube dapat diangkat. iritasi pharynx.Perawatan selanjutnya diadakan pembilasan sinus berulang-ulang melalui tube dengan larutan garam fisiologis steriel atau dengan larutan antibiotika. b. SINUSITIS ETHMOIDALIS Sinusitis Ethmoidalis Akuta Ditinjau dari perkembangan sinus ethmoidalis. Kembalinya fungsi normal dari duktus nasofrontalis dapat terlihat dengan adanya sekret yang keluar dari hidung. .

kemudian menusukkan obat tetes hidung ke dalam sinus. Operasi menurut Morgan atau transantral ethmoidektomi. kemudian diadakan replacement suction menurut Proetz.D. sedangkan sel-sel ethmoidalis anterior dapat dibersihkan dengan intranasal approach. Cara ini pada dasarnya mengisap sekret dari dalam sinus ethmoidalis dengan pertolongan aspirator. optikus. . Pada pemeriksaan. maka setiap ada peradangan pada sinus sphenoidalis.Pada anak-anak yang menderita penyakit ini tampak apatis. sinusitis frontalis akuta). ke lateral dapat merusak lamina papiracea masuk ke orbita. suara sengau. terlihat adanya sekret pada meatus nasi media dan meatus nasi superior. tanpa bantuan foto Ro. obstruksi nasi dan batuk-batuk. maka terjadilah evakuasi exudat dari dalam sinus dan diganti oleh cairan obat masuk ke dalam sinus. dengan teknik ini lapangan penglihatan amat sempit. c. atau conchotomi partial. b. Dengan teknik ini sel-sel sinus ethmoidalis posterior mudah dicapai. dengan mengadakan luksasi pada conchae nasi media. sukar kita tegakkan diagnosa sinusitis sphenoidalis. SINUSITIS SPHENOIDALIS Sinusitis Sphenoidalis Akuta Karena letak sinus sphenoidalis di belakang atas cavum nasi. ostiumnya bermuara pada meatus nasi superior. sehingga harus hati-hati karena dapat merusak lamina cribrosa dan n. kadang-kadang terlihat oedema pada palpebra superior (D. Pengobatan Mula-mula pengobatan bersifat konservatif. Intranasal-Ethmoidektomi. kemudian melalui bulla ethmoidalis dilakukan exentrasi selsel ethmoidalis. Operasi ini adalah operasi dari sinus maxillaris dan sinus ethmoidalis (lihat operasi Caldwell-Luc). External Ethmoidektomi menurut Peterson atau menurut Smith. Sinusitis Ethmoidalis Kronika Pengobatan Khusus a. seperti melebarkan meatus nasi media. rhinorrhoe. konsentrasi berpikirnya berkurang.

Operasi menurut Morgan. atau melalui intra septal approach. karena lapangan operasi terlalu sempit. tetapi karena diagnosa sukar. frontal. Langsung melalui intranasal dengan mengadakan pungsi pada dinding depan sinus sphenoidalis. sebagai lanjutan dari septum reseksi. c. kalau kurang berhasil dapat dilakukan pungsi dengan jarum khusus pada dinding depan sinus ephnoidalis. maka sekarang dapat dikatakan komplikasi sinusitis supurativa amat jarang. pada tulang diploic. kecuali post nasal dripping. 3) Osteoporosis.Mungkin frekuensi sinusitis sphenoidalis lebih sering seperti apa yang kita duga. Penyebaran langsung 1) Dimulai dengan osteitis pada kompakta (caries). Sinusitis Sphenoidalis Kronika Pengobatan khusus a. Teknik operasi ini jarang dilakukan. Cara penyebaran infeksi a. kemudian diadakan pembilasan dengan larutan garam fisiologi steriel. Gejala-gejala Cephalgia di daerah vertex. Pengobatan Dapat dicoba dengan replacement suction menurut Proetz. biasanya pada waktu akut exacerbasi dari sinusitis kronika supurativa. occipital atau dapat diproyeksikan ke regio temporalis seperti pada mastoiditis. Komplikasi Sinusitis Supurativa Dengan kemajuan yang begitu cepat dan pesat dalam bidang antibiotika. b. Melalui external ethmoidektomi menurut Peterson atau menurut Ferris Smith. 2) Osteomyelitis. atau tidak dibuat diagnosa sinusitis sphenoidalis. . Dalam klinik sering kita membuat diagnosa sinusitis sphenoidalis sebagai bagian dari pensinusitis. Rhinorrhoe tak jelas. maka sering-sering diabaikan. akan terlihat adanya sekret di ujung belakang dari conchae nasi media. Kalau komplikasi ini terjadi. dari sinus othmoidalis posterior kita teruskan ke dinding dari sinus sphenoidalis. polip ethmoidal dapat menyebabkan dehiscensi pada lamina papyrecea atau pada dasar dari fossa cranii anterior. pada rhinoskopia posterior.

Tetapi secara keseluruhan komplikasi ini sangat jarang. biasanya cukup berhasil. b. Komplikasi orbital juga jarang. dengan atau tanpa subperiostal absces. Malahan ada hanya dibatasi dengan tulang yang amat tipis seperti lamina papiracea. Pada fundus kopi terlihat oedema dan dibatasi vena-vena dari retina. untuk membentuk subperiostal absces. Komplikasi pada mata. Diagnose Banding 1) Dacrocystis 2) Thrombosis sinus cavernosus 3) Mucocele 4) Intra orbital kiste 5) Osteoma 6) Tumor-tumor maligna dari mata. Chemosis. dan kalau tidak berhasil biasanya telah terjadi subperiostal absces. terutama pada waktu menggerakkan bola mata. jarang akibat dari sinusitis yang lain. Gejala-gejala orbital cellulitis Nyeri pada mata. menyebar ke vena-vena kecil dalam lapisan periostium dari durameter. Perivaskuler limfatik membawa infeksi melalui foramina vaskuler. Diplopia. dengan melalui garis fraktur dari suatu sinus yang sebelumnya sudah ada infeksi atau terjadi setelah trauma. c. Osteomyelitis. baik secara langsung atau secara retrograde.4) Accidental atau surgical trauma. olfaktorius ke rongga subarachnoid. d. Jenis komplikasi yang dapat terjadi berupa: a. Retrograde thrombosis dari vena-vena kecil dalam mukosa sinus. b. sehingga terjadi meningitis. Penyebaran melalui aliran lymfe. Penyebaran melalui spacia perineural dari n. Keadaan ini dahulu sering terjadi akibat sinusitis frontalis. . Penyebaran melalui vena dengan jalan: 1) 2) Septic venous thrombosis. atau oedema dari conjunctiva sampai menutup kelopak mata. tetapi pada anak-anak yang kita kenal sebagai orbital cellulitis. thrombosis dari sinus intracranial dan encephalitis. akibat deri pergeseran letak dari bola mata. Ditinjau dari sudut anatomi semua sinus paranasalis berbatasan dengan mata. Pengobatan Pada orbital cellulitis dengan pemberian antibiotika dosis tinggi. dapat terjadi erosi akibat osteitis.

Pada subperiostal absces diperlukan incisi melalui bagian dalam dari palpebra superior. 2) Bronchiectasis. berhubungan dengan meningitis supurativa difusa. hubungan bronchiectasis dan sinusitis belum begitu jelas. Komplikasi Endokranial. pada keadaan ini suatu operasi radikal dari sinusitis dapat meringankan asthma bronchiale. Kalau hal ini terjadi dapat melalui vena yang berasal dari plexus pterygoideus. Prognosis Pada umumnya sembuh sempurna. juga berhubungan dengan meningitis supurativa difusa. otitis media. kemudian diadakan drainage. akibat sinusitis dapat berupa: 1) Meningitis. maka baik sinus maupun absces diadakan drainage dengan mengadakan incisi pada daerah supraorbital. bahwa komplikasi endokranial. Efek sekunder dari sinusitis supurativa 1) Pharyngitis. dilakukan radikal operasi pada sinus bersangkutan. Sinusitis maxillaris jarang menyebabkan komplikasi intracranial. . berhubungan dengan absces dari lobus frontalis. bahwa setiap sinusitis. Dalam garis besar dapat dikatakan. Perlu dicatat. Sinusitis sphenoidalis. d. tetapi dikatakan bahwa mungkin sinusitis kadang-kadang sebagai penyebab. Komplikasi endokranial tidak akan dibicarakan secara mendetail. thrombosis sinus cavernosus dan thrombosis dari sinus-sinus lain. laryngotracheitis dan bronchitis terutama pada anak-anak. 2) Thrombosis dari sinus cavernosus atau dari sinus longitudinalis. Misalnya sinusitis frontalis. dengan melalui perforasi dekat lamina cribrosa. didahului dengan osteitis dari dinding belakang sinus frontalis. Sinusitis ethmoidalis. Kalau absces ini berasal dari sinusitis frontalis akuta. ada kecenderungan memberikan daerah komplikasi khusus pada otak. Setelah keadaan lebih tenang dengan pemberian antibiotika dosis tinggi. 3) Enchephalitis atau absces cerebri. hubungannya dengan chronis infective allergic sinusitis. tonsilitis. karena nanti akan dibicarakan di bagian neurologi. 3) Asthma bronchiale. dengan atau tanpa extradural atau subdural absces. c. dengan tak ada gangguan fungsi pada mata.

tendosynovitis ternyata ada perbaikan dengan menghilangkan sinusitisnya. . vulnus. jaringan subcutis dan mukosa. TRAUMA HIDUNG Dengan meningginya kecelakaan lalu lintas atau traffic accident. Walaupun akhir-akhir ini hubungan fokus infeksi dengan sinusitis agak diragukan. sinusitis kronika kadang-kadang berperanan sebagai fokus infeksi dari penyakit-penyakit tertentu. Gambaran Klinik Trauma hidung dapat mengenai hidung. kemungkinan besar disertai dengan trauma nasi. dapat berupa contusio jaringan atau tanpa hematoma. Diagnosis Penderita atau pengantar biasanya sudah memberikan penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. Fraktura os nasalis b. corpus allienum yang tertinggal di tempat trauma atau hilangnya bagian-bagian hidung tersebut. ditambah dengan sifat khusus dari hidung yang merupakan bagian tubuh yang paling menonjol serta tak ada bagian tubuh yang lain melindunginya. Trauma frontal Penggolongan ini sangat penting dalam menentukan sikap kita untuk menanggulanginya. mukosa yang meliputi cavum nasi. Atau dapat dikatakan trauma nasi sering bersamaan dengan trauma muka (maxillo facial trauma). abrasi. Pada waktu pemeriksaan penderita dalam keadaan sadar atau setengah sadar atau dalam keadaan tak sadar atau coma (pada contussio cerebri). tetapi pada beberapa keadaan seperti poly arthtritis.4) Fokus infeksi. maka dalam setiap kecelakaan lalu lintas dengan trauma capitis. Trauma lateral b. Trauma naso-orbital Sedangkan menurut arah traumanya dapat dibagi pula atas: a. Trauma kulit. jaringan subcutis. laserasi. Trauma kerangka tulang dan tulang rawan dapat dibagi atas: a. kerangka tulang dan tulang rawan yang membentuk hidung itu sendiri.

kalau terdapat tanda-tanda shock. Epistaxis dihentikan dengan pemasangan tampon. Biasanya oedema tersebut akan hilang pada hari keempat atau hari kelima. apakah sudah mencapai sasarannya serta dapat mengadakan fixasi dengan baik. Keadaan umum penderita harus diawasi dengan saksama. Life saving. segeralah mencari sumber perdarahan tersebut dan cobalah mengatasinya. Fraktura Kerangka Tulang Hidung Prinsipnya tindakan reposisi dilakukan secepat mungkin. hidung dan tenggorok dibebaskan dari bekuan darah atau corpus allienum yang menghalangi jalan pernapasan. perdarahan (lihat epistaxis). Trauma terbuka kulit dan mukosa Luka dibersihkan dan dilakukan “debridement”. c. Reposisi yang dilakukan setelah dua minggu memberikan hasil yang kurang memuaskan. Callus yang mengeras tersebut akan menyukarkan kita melakukan reposisi. kalau keadaan penderita memungkinkan. b. Kalau perdarahan masih ada. Kosmetik. sehingga kita dapat membuat diagnosa dengan tepat dan dapat menilai tindakan kita. Waktu penderita tiba di rumah sakit biasanya sudah oedema. Pertama-tama yang harus diperhatikan ialah jalan pernapasan. Mengembalikan fungsi normal serta mencegah terjadinya komplikasi. Kulit yang hilang dapat dicoba dengan jahitan. kalau tak mungkin dapat dilakukan “skin graft”. Penanggulangan Dalam menghadapi kasus-kasus trauma nasi tujuan kita adalah untuk: a. Kalau terdapat obstruksi larynx dilakukan tracheotomi. Karena itu cukup bijaksana bila kita menunggu sampai oedema hilang.T. Callus yang terbentuk pada tempat fraktur makin lama makin mengeras. hebat atau tidaknya oedema itu bergantung pada berat tidaknya trauma. Oedema yang terjadi dapat menyukarkan palpasi sehingga sukar menentukan dislokasi dan sukar menilai kedudukan tulang yang telah direposisi. Pada luka-luka yang kotor diberi A.S. oedema. kecuali dilakukan open reposisi atau pada .Kadang-kadang masih ditemui darah yang mengalir dari hidung atau adanya bekuan darah dalam cavum nasi. maka sebaiknya reparasi dilakukan pada hari ke-5 – 7. fixasi ini akan jadi longgar setelah dua tiga hari karena oedemanya menurun. Demikian juga kalau diadakan fixasi pada hidung yang ada oedema. tanpa atau disertai hematoma. maka kita segera berusaha mengatasinya. Hampir pada setiap trauma nasi terdapat pembengkakan.

b. sehingga penderita akan mengeluh hyperlakrimasi. Trauma lateral Trauma ini memberikan gejala-gejala sebagai berikut: a. c. karena kita tak dapat melakukan palpasi dengan baik. c. Jarak kedua canthus medialis akan bertambah. Gejala-gejalanya sebagai berikut: a. Pangkal hidung biasanya masih berada di garis tengah.fraktur lama sebaiknya dilakukan medial – lateral osteotomi. dan sering ditemukan gangguan pergerakan bola mata. b. sedangkan pada trauma frontal berguna bila terdapat oedema yang hebat. Pada trauma lateral tak banyak faedahnya. serta hilangnya kesatuan dengan processus frontalis ossia maxillae. Terdapat krepitasi. Kadang-kadang os nasalis mudah digerakkan dengan adanya krepitasi. e. Dari gambaran radiologik dapat ditentukan fraktur. Hidung terletak di garis tengah. . Deviasi septi ke satu sisi. menyebabkan pula hilangnya bentuk hidung itu sendiri. kedudukan tulang. c. Nyeri waktu palpasi. Pada trauma hebat terjadi “commuted fracture” yang mungkin menyebabkan tersumbatnya duktus lakrimalis. b. Pemeriksaan Radiologik Pemeriksaan radiologik dilakukan dalam posisi lateral. Trauma naso orbital Trauma ini mengenai organ-organ intercanthus dengan tulang-tulang ethmoid di bawahnya. Terdapat krepitasi serta os nasalis mudah digerakkan. tetapi lebih mendatar atau cekung. tetapi tak dapat menentukan derajat dislokasi. Terjadi dislokasi ke satu sisi. diplopia karena terlepasnya ligament canthus medialis. Setelah itu fragmenfragmen tulang disusun kembali. Trauma frontal Gejala-gejalanya adalah: a. d. Pada trauma yang hebat bagian-bagian tulang hidung terpisah satu sama lain. occipitomental 30 – 60 derajat.

Tindakan pada trauma lateral Kedudukan os nasalis yang mengalami dislokasi, dapat kita reposisi dengan respatorius, Whalsam forceps, sedangkan septum yang deviasi dapat diluruskan dengan Ache’s forceps. Tindakan pada trauma frontal Walau tindakan reposisi dilakukan seperti yang telah diterangkan os nasalis akan tetap miring ke satu sisi karena adanya dislokasi septum nasi. Oleh karena itu sub mukosa reseksi harus dilakukan lebih dahulu. Tindakan pada trauma naso-orbital Untuk dapat menyusun lagi tulang-tulang yang membentuk pangkal hidung tersebut dilakukan open reduction, serta dengan fixasi dengan lempeng logam. Fixasi. Untuk mempertahankan posisi bentuk yang telah diperoleh dengan jalan reposisi dan untuk menghindarkan dislokasi kembali karena kedudukannya masih labil, maka diperlukan fixasi. Fixasi ada dua macam yakni: a. Fixasi dalam. Berupa tampon hidung yang dibuat dengan kain kasa yang diberi boor zalf atau kemycetin zalf atau dengan solfratule. Tampon ini dipasang 2 x 24 jam, dan kalau perlu boleh dipasang tampon baru. b. Fixasi luar. Dapat digunakan gips seperti plaster of paris atau metal plate, fixasi ini kita pertahankan selama 10 – 12 hari. Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi adalah: a. Cerebrospinal rhinorrhoe, akibat adanya fraktur pada dinding posterior sinus frontalis atau pada lamina cribrosa, sehingga ada hubungan langsung dengan dasar dari fossa cranii anterior. b. Meningitis c. Anosmia.

EPISTAXIS
Definisi Epistaxis adalah perdarahan dari cavum nasi, baik yang ke luar dari nares anterior atau nares posterior turun ke farynx dan dikeluarkan melalui mulut. Etiologi Epistaxis dapat ditimbulkan karena sebab-sebab lokal atau umum. a. Sebab lokal: 1) Trauma, epistaxis dapat terjadi setelah suatu trauma ringan, misalnya karena mengorek-ngorek hidung, atau akibat dari trauma berat, misalnya terpukul, trauma kapitis karena sesuatu kecelakaan dan lain-lain. 2) Infeksi, misalnya diphteria hidung, sinusitis akuta, rhinitis atrofika. 3) Corpus allienum, misalnya terdapat lintah dalam cavum nasi. 4) Tumor-tumor, yang terkenal dalam angiofibroma nasopharynx, haemangioma, tumor-tumor ganas baik dari dalam cavum nasi, sinus paranasalis atau dari nasopharynx. 5) Perubahan tekanan yang tiba-tiba, misalnya waktu menyelam. 6) Idiopathic. 7) Septum deviasi. b. Sebab-sebab umum: 1) Peninggian tekanan arteri, misalnya pada hypertensi yang disebabkan oleh berbagai keadaan, seperti arteriosclerosis, nepheritis kronika, kehamilan pada toxieosis gravidarum. 2) Peninggian tekanan vena, seperti pada decompensatio cordia, penyakit paruparu yang kronis dan pertusis. 3) Penyakit-penyakit darah, seperti leukemia, haemophilia, sickless-cells anemia, defisiensi vitamin K dan C, thrombocytopenia purpura. 4) Infeksi akut, misalnya typhoid fever, influenzae dan morbilli. 5) Perubahan tekanan atmosfir yang tiba-tiba. 6) Gangguan hormonal. Lokasi perdarahan/sumber perdarahan Menurut sumber perdarahan epistaxis dibagi dalam anterior bleeding dan posterior bleeding. Anterior bleeding dapat berasal dari Plexus Kiesselbach (Little’s area) dan dari a. Ethmoidalais anterior. Plexus Kiesselbach merupakan sumber perdarahan yang

paling sering, kira-kira 90% dari epistaxis bersumber dari tempat ini, terutama pada anak-anak dan biasanya dapat berhenti spontan (selflimiting) dan mudah diatasi. Posterior bleeding dapat berasal dari a. sphenopalatina dan a. ethmoidalis posterior, biasanya terjadi pada usia lanjut yang disertai dengan hypertensi, arteriosclrerosis atau pada penyakit cardiovaskuler. Posterior bleeding biasanya tidak berhenti spontan, perdarahan dapat hebat dan sumber perdarahan sukar dideteksi secara langsung, sehingga penanggulangannya pun juga lebih sukar. Penanggulangan Prinsip penanggulangan epistaxis adalah pertama-tama menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaxis. Untuk menghentikan perdarahan, suatu tindakan aktif perlu segera diambil, seperti pemasangan tampon dan kaustik, lebih dapat dipertanggungjawabkan dari pemberian obat-obat haemostatik sambil menunggu epistaxis berhenti. Sebelum kita membahas tindakan penanggulangan epistaxis secara sistematis, sebaiknya diketahui alat-alat apa yang diperlukan untuk menanggulanginya. 1. Lampu kepala 2. Spekulum hidung 3. Bayonet pinset 4. Alat pengisap (aspirator) 5. Penekan lidah 6. Kateter karet 7. Pelilit kapas (cotton applicator) 8. Lampu spiritus 9. Kapas, kain kasa 10. Tampon Bellocq. 11. Boorzalf atau Bipp (Bisthmus iodine parafin paste). 12. Xylocain 2% untuk topical anesthesi atau untuk spray. 13. Sol. Adrenalin 0,001. 14. Sol. Nitras argenti 20 – 30%. Kalau penderita epistaxis datang, maka penderita harus diperiksa dalam keadaan duduk, kecuali penderita sangat lemah atau dalam keadaan shock. Sebelum kita mulai menanggulangi epistaxis sebaiknya si pemeriksa dan si penderita dilindungi dengan pakaian khusus untuk menghindari dari percikan darah. Tindakan pertama adalah membersihkan bekuan darah dari dalam cavum nasi untuk mencari sumber perdarahan, kalau ada aspirator pergunakanlah alat aspirator

dimasukkan dalam hidung. sambil menunggu kurang lebih 5 menit setelah itu tampon dilepaskan dan dicari sumber perdarahan. maka kita mencoba pemasangan ulangan tampon dengan cara yang lebih baik. nitras argenti 20 – 30% dapat juga dipakai larutan trichlor acetic acid 50%. tetapi sebelumnya harus diadakan lokal anesthesi dengan xylocain 2%. Kalau tindakan ini belum berhasil kita masukkan tampon kapas yang sebelumnya telah dibasahi dengan xylocain dan ephedrin atau adrenalin ke dalam hidung.untuk membersihkan darah. perdarahan berhenti spontan. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung. maka kita memasang tampon pada kedua hidung dengan teknik yang sama. Perdarahan anterior Tindakan yang sederhana untuk mengatasi perdarahan dari depan ialah dengan menekan ala nasi ke arah septum selama 5 – 10 menit. Dengan cara ini kita dapat menentukan apakah sumber perdarahan berasal dari depan atau dari belakang. tempat asal perdarahan di kaustik dengan sol. Kalau dengan tindakan ini belum berhasil menghentikan perdarahan. sambil menyuruh penderita bernapas melalui mulut. hal ini disebabkan karena perdarahan biasanya lebih banyak dan sukar terlihat sumber titik perdarahannya. kadang-kadang dengan membersihkan darah. Kalau tak ada aspirator dapat dipakai kapas yang telah dibasahi dengan xylocain dan adrenalin. Tampon boorzalf dapat dipertahankan untuk 1 – 2 hari dan Bipp tampon dapat dipertahankan lebih lama bila perlu. Tampon yang dipasang ini harus dapat menekan tempat asal perdarahan. yaitu dengan boorzalf tampon atau Bipp tampon yang dimasukkan melalui nares anterior. kita menutup choanae atau nares posterior dengan segumpal kain kasa yang telah dipulas dengan Bipp atau boorzalf. karena terjadi reaksi dan kontraksi dari pembuluh darah. ditunggu 5 menit kemudian tampon diangkat. atau dengan electrocauter. Dalam praktek kadang-kadang tidak mungkin untuk menentukan titik perdarahan tersebut. Pada prinsipnya pemasangan Bellocq tampon ini. . maka kita lakukan pemasangan tampon menurut Bellocq (posterior nasal pack). Perdarahan posterior Perdarahan posterior lebih sukar diatasi. Bila belum juga berhasil. Maka pada keadaan ini kita langsung memasang tampon pada cavum nasi yang berdarah. maka diperlukan pemasangan tampon. dan kalau ini pun belum berhasil.

Darkstein (1971) memakai acidum aminocaproicum secara topikal spray dan zat ini berfungsi menghambat fibrinolysis. . Pada gumpalan kain kasa ini kita ikatkan dua utas tali yang sebaiknya terbuat dari kain. Dapat juga dipakai zat-zat thrombin. Beberapa penulis memakai obat-obatan secara lokal/topikal untuk menghentikan perdarahan. Setelah itu kita lanjutkan dengan pemasangan tampon depan seperti telah dibicarakan sebelumnya. maka tindakan akhir adalah pengikatan arteri earotis externa. ada pula yang memakai “rubber pneumatic pack” untuk menghentikan perdarahan. setelah itu kita tarik kateter yang keluar dari hidung sambil menuntun gumpalan kain kasa tersebut masuk ke choanae dengan bantuan dorongan dari jari tangan kita sehingga terletak demikian rupa menutup rapat lubang choanae. pada nares anterior kita letakkan lagi segumpal kain kasa kecil. sehingga ujungnya keluar ke oropharynx dan ditarik keluar melalui mulut. Kemudian dengan kateter karet kita masukkan pada hidung yang berdarah. atau arteri othmoidalis anterior. “oxycel”. dan kedua ujung tali yang bebas yang keluar pada nares anterior diikatkan pada gumpalan kain kasa tersebut (lihat gambar). Obat-obat haemostatik seperti vitamin K. perdarahan biasanya akan dapat diatasi. Dengan teknik pemasangan tampon menurut Bellocq ini. sehingga kalau teknik pemasangan yang baik.Teknik pemasangan Bellocq Tampon Ambillah segumpal kain kasa yang telah dibalutkan sebesar kurang lebih dengan garis tengah 2 – 2 ½ cm (sebesar lubang choanae). sedemikian rupa sehingga pada permukaan lain dari gumpalan kain kasa tersebut terdapat dua ujung tali yang bebas dan pada sisi lain terdapat satu ujung tali yang bebas pula. Kalau dengan tindakan ini masih berdarah. cavum nasi dari belakang sampai ke depan benar-benar padat dengan tampon. Setelah pemasangan tampon depan tersusun dengan baik dari belakang hidung sampai ke depan. Di samping pemasangan tampon dengan kain kasa. Ujung tali satu lainnya yang keluar dari mulut difixasi pada sudut pipi. adona AC 17 dapat diberikan sebagai penunjang di samping pengobatan lokal. Ujung kateter yang keluar dari mulut ini kita sambungkan dengan kedua ujung tali yang bebas yang terikat pada gumpalan kain kasa tadi. anaroxyl. arteri maxillaris interna.

yang menyebabkan dislokasi dari cartilago septi nasi dari dasarnya. Telah dinyatakan sebelumnya dalam pembicaraan anatomi dari septum nasi. insufiensi koroner dan infark myocard. karena itu setiap pemasangan tampon sebaiknya diberikan antibiotika. Perlu juga diperhatikan pada pemasangan Bellocq tampon pada orang tua-tua yang mempunyai penyakit cardiopulmonary yang kronis dapat menyebabkan kematian mendadak. Dalam hal ini pemberian transfusi darah secepacepatnya merupakan tindakan yang paling penting. otitis media dan bahkan septikemia. Turunnya tekanan darah mendadak dapat menimbulkan ischaemia cerebri.Komplikasi Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epistaxis sendiri. hal ini sering terjadi pada anak-anak akibat terjatuh. yakni dari krista maxillaris dan dari tulang vomer. yang memerlukan koreksi dengan jalan operasi. biasanya menyebabkan deviasi di bagian depan dari septum nasi. SEPTUM DEVIASI Septum deviasi merupakan salah satu penyebab dari obstruksi nasi. Kelainan ini biasanya menyebabkan efek di bagian belakang dari . sehingga terjadi ischaemia pada myocard infark. sehingga cukup dapat memberikan keluhan obstruksi nasi. Hanya septum deviasi yang berat dengan keluhan obstruksi nasi. yakni pada cartilago septi nasi. bahwa pada seseorang dewasa jarang yang mempunyai septum yang benar-benar lurus. sehingga tidak memerlukan koreksi. Biasanya terdapat sedikit deviasi tetapi tidak memberikan keluhan. bahwa pertumbuhan tulang-tulang septum nasi terlalu cepat bila dibandingkan dengan kerangka tulang yang terletak di sekitar hidung. karena terjadi hypoxia atau tekanan O2 menurun dalam darah dan meningginya tekanan CO2 dalam darah. Pada keadaan ini septum nasi dapat menonjol ke salah satu sisi. Sebagai akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi shock dan anemia. Kesalahan perkembangan. Pemasangan tampon yang lama dapat menyebabkan sinusitis. sehingga dapat menyebabkan kematian. dikatakan. Etiologi Trauma. atau sebagai akibat usaha dalam penanggulangan epistaxis.

Bentuk deviasi yang hanya ke satu sisi. karena jatuh atau pukulan. Bila deviasi septi dengan keluhan terutama obstruksi nasi.R. b. Patologi Deviasi bisa terjadi pada tulang rawan.) HEMATOMA SEPTI Definisi Hematoma septi adalah penggumpalan darah di bawah mukoperichondrium atau mukoperiostium dari septum nasi. Suatu akibat operasi pada hidung misalnya operasi S. atau koreksi pada septum nasi. baik dalam bentuk spina atau krista septi. kemudian terbentuk callus yang tebalnya tak teratur. kita sebut “simple deviasi”. kadang-kadang terjadi akibat daruptur kapiller pada bagian tulang yang menonjol. sedangkan bentuk deviasi berganda pada kedua sisi kita sebut “sigmoid” atau bentuk “S”.septum nasi. bahwa kompresi pada hidung waktu anak dilahirkan (termasuk trauma lahir). karena kecepatan pertumbuhan antara tulang palatum dan cranium tidak sama.M.M. Deviasi ini juga dapat dalam bentuk penebalan yang tak teratur. maka tindakannya adalah dengan jalan operasi yang kita kenal sebagai “submukous resection” (S. Trauma langsung pada hidung. Pengobatan Pada keadaan yang ringan tidak perlu pengobatan. yang mungkin disebabkan adanya sentuhan antara septum (spina septi) dengan bagian dari dinding lateral. Deformasi hidung luar (pada keadaan yang berat). karena terjadi dislokasi atau fraktur. tulang biasa atau pada kedua-duanya. . Gambaran Klinik Obstruksi nasi merupakan keluhan utama. atau letak anak dalam kandungan mempunyai pengaruh sebagai penyebab terjadinya septum deviasi. biasanya sebagai akibat trauma.R. Ada juga yang mengemukakan. Etiologi Hampir selalu disebabkan oleh trauma dan dapat berupa: a. Epistaxis. Cephalgia atau “Pressure headaches”.

c. berbentuk tube yang kecil. Gambaran Klinik Obstruksi nasi biasanya bilateral dan obstruksi total. Meningitis dan thrombosis sinus cavernosus (jarang). suatu absces biasanya akibat sekunder dari hematoma septi dengan sekunder infeksi. palpasi terdapat fluktuasi. bila hematomanya kecil. akibat nekrosis pada tulang rawan. dengan warna kemerah-merahan pada kedua sisi. obstruksi nasi. terdapat fluktuasi. Tampon hidung. Deformasi hidung luar. sakit kepala. panas. b. Komplikasi a. Blood dyscrasias (jarang). pembengkakan dengan warna kemerah-merahan yang symetris pada septum. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder. atau scarlet fever. Spontan. ABSCES SEPTI Etiologi Trauma. Pengobatan Pengobatan harus segera diberikan setelah diagnosa ditegakkan. cara aspirasi ini dapat diulangi. dalam beberapa hal sebagai komplikasi dari furunkulosis dari vestibulum nasi. . c. Gambaran Klinik Nyeri pada hidung. dapat mencegah penggumpalan darah kembali. Komplikasi Absces septi dapat mengakibatkan nekrosis pada tulang rawan dari septum nasi. pada akhirnya menyebabkan deformasi hidung. kadang-kadang terjadi setelah serangan morbilli. Pengobatan Aspirasi dengan jarum kadang-kadang cukup. Pada septum terlihat pembengkakan. Insisi dan drainage dengan drain karet yang diambil dari guntingan sarung tangan karet. Perforatio septi. karena infeksi sekunder.

Pemberian antibiotika dengan dosis tinggi. b. agar tidak terjadi perforasi. Epistaxis.R. hal ini dilakukan setelah keadaan peradangan tenang. Tumor-tumor ganas. teknik insisi ini harus diperhatikan. biasanya terjadi pada perforasi kecil. PERFORATIO SEPTI Etiologi Trauma. Indiopathic perforasi dapat ditemukan secara kebetulan tanpa adanya riwayat trauma. 4. c. 5. 3. Rhinoplasty untuk mengoreksi deformitas. c. atau penyakit-penyakit lainnya.M. Terasa ada iritasi pada hidung Wistling. e. g. karena suatu operasi S.a. Hematoma atau absces septi dengan nekrose pada tulang rawan. b. Gambaran Klinik 1. Insisi dan drainage seperti pada hematoma. Pada perforasi besar terhadap rhinolatia. Sakit dan foeter. . Penyakit Hanzen. pada rhinolith atau pada stadium aktif dari gumma. d. dapat terjadi kalau terlepas crustae dimana pinggir perforasi ulcus masih aktif. f. Keadaan patologik a. terjadi perforasi pada bagian tulang dari septum nasi (sekarang jarang). Lokalisasi perforasi Syphilis terjadi pada bagian tulang dari septum nasi. Syphilis. rhinitis caseosa. sedangkan sebab penyakit lainnya pada bagian tulang rawan dari septum nasi. 2. terjadi perforasi pada mukoperichondrium pada kedua sisi yang berlawanan. Rhinolith. bila kita mengadakan insisi kiri kanan yang penting garis insisi tidak boleh dalam satu bidang horizontal. Malignant granuloma dan periarteritis nodosa (Wegeneror granulomatosis).

Perlu juga dicatat. Benda-benda inorganik misalnya bahan-bahan metal. untuk mendapatkan pertumbuhan jaringan baru. Sifat benda asing Menurut sifatnya benda asing ini kita bagi dalam dua jenis besar. tulang atau tulang rawan yang nekrotis diexcisi. karet. jaringan granulasi dikaustik dengan Nitras argenti. maka kadang-kadang ditemukan lintah sebagai corpus allienum nasi. secara lokal cavum nasi dibersihkan dengan crustae. CORPUS ALLIENUM NASI Pendahuluan Benda asing dalam hidung sering ditemukan pada anak-anak di antara umur 3 – 5 tahun. kacang tanah atau daun-daunan. Jenis benda apa yang paling sering ditemukan. misalnya kalau si anak suka mandi di sawah atau kali-kali kecil yang terdapat lintah di dalamnya. . yakni bendabenda organik dan benda-benda in organik. Pengobatan lainnya bergantung pada kausa. Sebagai contoh di Ujung Pandang ini. yang sering kita temukan adalah biji buah asam. amat bergantung dari lingkungan si anak itu bermain. manik-manik. tidak perlu pengobatan. kacang tanah dan lain-lain. kalau anak itu datang dari desa. bahwa kadang-kadang corpus allienum nasi itu terdiri dari benda hidup. dalam waktu yang tidak lama terjadi reaksi peradangan dan terjadi penyumbatan dan rhinorrhoe. Penutupan perforasi dengan teknik sliding mucoperichondrial flaps dapat dicoba pada perforasi yang tidak terlalu besar. Benda organik seperti kacang tanah dan biji-bijian lainnya. Benda asing ini pada umumnya dimasukkan ke dalam hidung dengan sengaja melalui nares anterior dan lebih sering ditemukan dalam hidung kanan.Pengobatan Kalau perforasi kecil dan dalam keadaan tenang. Sedangkan anak-anak di kota biasanya kita temukan bahan-bahan plastik. karena si anak memasukkannya dengan tangan kanan. tidak terjadi reaksi atau amat lambat reaksi peradangannya.

bahwa corpus allienum nasi bukan kasus akut. . sisa-sisa makanan dapat masuk ke dalam hidung dan tertinggal di dalamnya. agar jangan bergerak. maka assosiasi pikiran kita pertama-tama kita tujukan ke arah diagnosa corpus allienum nasi. biasanya orang tua si anak agak gelisah dan segera membawa si anak ke dokter. dan seorang pembantu memegang kepala si anak. Melalui nares anterior. b. yang penting kita sebagai dokter tidak perlu terburu-buru. Diagnosa pasti dan tentu harus diperkuat dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior. Bila kita menemukan kasus demikian. Seorang ibu atau ayah menceritakan kepada dokter. Melalui nares posterior. dan pada waktu tidur tampak napasnya sesak.Jalan masuknya corpus allienum nasi a. karena pada waktu itu hidung belum berdarah dan corpus allienum masih terlihat dengan jelas. ketiga gejala ini merupakan gejala yang khusus untuk corpus allienum nasi. dan dengan teknik yang tepat (diterangkan dengan demonstrasi). Setelah itu hidung dibuka dengan spekulum hidung. tetapi pada anak atau bayi dapat tertinggal dalam hidung sebagai corpus allienum nasi. dapat terjadi kalau penderita muntah. Gambaran Klinik Kasus I. corpus allienum itu mudah dikeluarkan. rhinorrhoe dan obstruksi nasi unilateral pada seorang anak. bahwa belum berselang lama anaknya memasukkan sesuatu benda ke dalam hidungnya. sebab usaha pengaitan pertama dari corpus allienum itu amat menentukan. dan ini yang paling sering. kita mendengar keluhan yang berupa: footer nasi. Penanggulangan Pada kasus-kasus corpus allienum nasi yang telah diketahui oleh orang tua si anak. dengan menceritakan. Seorang ibu membawa seorang anak umur kurang lebih 3 tahun. Ingat. Pada kasus pertama sudah jelas diagnosa corpus allienum telah ditegakkan oleh si ibu. Tindakan pertama adalah si anak harus dipegang/dipeluk baik-baik dalam posisi duduk tegak. Sudah selayaknya kita sebagai dokter mendengar keluhan demikian. Pada kasus kedua. Kasus II. pada orang dewasa biasanya dengan mudah dikeluarkan dengan jalan sisi. corpus allienum biasanya terletak di dasar cavum nasi. bahwa sejak beberapa hari ini hidung anaknya berbau busuk dan mengeluarkan ingus dari salah satu lobang hidungnya. Sekali lagi ditekankan. bahwa fiksasi anak penting sekali sebelum kita mencoba mengeluarkan corpus allienum. Jadi harus diusahakan agar pengambilan pertama itu harus berhasil.

warnanya keabu-abuan. coklat atau hitam dan terbuat dari garam-garam yang seperti diuraikan dalam definisi di atas. . 3. sehingga lebih sukar mengeluarkannya. dan corpus allienum tidak terlihat lagi. mukus (endogen). 2. yang terdiri dari garam-garam phospat. dapat menekan struktur di sekitarnya. kadang-kadang sekret bercampur darah. Bersifat radio opaque. Obstruksi nasi. calcium dan magnesium yang biasanya tersusun dalam lapisan. kalau perlu dipecahkan terlebih dahulu dalam keping yang lebih kecil dan kalau jalan ini tidak berhasil dapat dilakukan dengan jalan septum reseksi. Rhinorrhoe unilateral. kalau rhinolith cukup besar. Gambaran Klinik 1. sehingga menyebabkan perforatio septi atau perforatio dari dasar cavum nasi. biasanya dengan pengaitan tadi hidung sudah berdarah. Sifat rhinolith Bersifat rapuh atau keras dan kadang-kadang multiple. bekuan darah. terutama bagi yang belum berpengalaman. RHINOLITH (RHINOLITHIASIS) Definisi Rhinolith adalah suatu pengerasan dalam hidung yang menyerupai batu atau beton yang membungkus suatu corpus allienum (dexogen). carbonat. bersifat mucoid. atau dengan approach rhinotomi lateral. mukopurulent dan foetor. dan biasanya letaknya di dasar cavum nasi.Kalau tindakan pertama tidak berhasil. Pengobatan Rhinolith harus dikeluarkan melalui nares anterior dengan alat khusus.

TUMOR GANAS SINUS MAXILLARIS Pendahuluan Tumor ganas sinus paranasalis adalah tumor ganas yang tumbuh pada mukosa sinus paranasalis. kecuali jenis sacroma sering ditemukan pada umur lebih muda. malignant melanoma. . transitional cells ca. papilary Ca. perbandingannya kurang lebih 2 : 1. malignant neuro ephitelioma dan metastase carcinoma. timbulnya carcinoma rata-rata 12 – 15 tahun setelah instalasi bahan kontrast tersebut ke dalam sinus. thorium. Beberapa sarjana melaporkan adanya hubungan faktor-faktor carcinogenik seperti: bahan kontrast thoratrast. kita sebut sacroma. Pekerja-pekerja kayu (wood workers). kurang lebih hanya 3% dari seluruh keganasan pada traktus respiratorius dan traktus gastro intestinalis. berarti 70%. maka tumor ganas sinus maxillarislah yang paling sering ditemukan. Dari tumor ganas sinus paranasalis. Tumor ganas ini dapat berasal dari epithel yang kita kenal sebagai carcinoma dan yang berasal dari jaringan ikat. Etiologi Seperti halnya tumor ganas di bagian lain dari tubuh. Tumor dapat bersifat primer atau sekunder. muko epidermoid carcinoma. Tumor ganas sinus maxillaris primer adalah lebih banyak dibandingkan dengan tumor ganas sinus paranasalis lain. Insidens Tumor ganas sinus maxillaris termasuk relatif jarang. cyllindroma. yang umumnya bersifat sekunder. atau carcinoma planocellulare. Histo-Patologi Yang paling sering ditemukan adalah jenis squamous cells Ca. Insidens menurut umur Paling banyak ditemukan pada orang tua antara umur 50 – 59 tahun. lainnya adalah adeno arcinoma. Bennet melaporkan dari 60 kasus tumor ganas sinus paranasalis yang diselidikinya dari tahun 1955 s/d 1968 ternyata sinus maxillaris terdiri dari 42 kasus. pekerja-pekerja tambang mungkin ada hubungan sebagai faktor carcinogenik. penyebab tumor ganas sinus maxillaris belum diketahui secara pasti. Sex Insidens Laki-laki lebih sering ditemukan daripada wanita.

diplopia. dan cervikal. g. tanda-tanda destruksi tulang. Gejala-gejala pada mata: epiphora. Hal ini terutama disebabkan karena antrum atau rongga sinus tertutup oleh tulang.N.M. c. bila dibandingkan dengan tumor lain. e. Gejala-gejala metastase: tumor ganas maxillaris relatif lambat terjadi metastase. Distant metastase jarang terjadi. baiklah kita susun sebagai berikut: a. kadang-kadang ada perforasi pada palatum. foeter nasi. Pemeriksaan Ro yang dianjurkan untuk tumor sinus maxillaris adalah: a. ialah obstruksi nasi yang progressif. frontalis. h. Pada umumnya regional metastase terjadi pada stadium T3 (sistem T. perubahan densitas tulang.Sintomatologi Tumor ganas sinus maxillaris pada tingkat permulaan jarang memberikan gejala-gejala. maka prognosa tidak memuaskan. bila tumor mengenai dinding posterior dan superior dari antrum. dapat melalui hematogen ke paru-paru. proptosis. Gejala-gejala neurologis: sakit kepala atau neuralgia pada radio temporalis. yaitu parasthesia atau anasthesia pada pipi. misalnya tumor tonsil. kalau tumor ini keluar dari dalam sinus barulah gejala tampak dari luar. Gejala dalam rongga mulut. dapat menyebabkan oklusio tubae dengan segala akibatnya. terasa ada benjolan pada palatum. . dan adanya bayangan massa jaringan lunak. Untuk mempermudah mengingat gejala-gejala dari tumor ganas sinus maxillaris. Gejala pada muka (fossa canina). tulang dan hepar (amat jarang). Pembengkakan dan rasa sakit yang persistent pada pipi. mungkin hanya ditemukan secara kebetulan. terakhir trismus. b. Pemeriksaan Ro Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dini. d. Plain foto dari berbagai arah. gigi goyah dan tanggal. Gejala pada telinga: kalau terjadi penyebaran ke nasopharynx. adanya kekaburan dalam sinus. malahan pada seluruh bagian dari kepala terasa sakit. Terlihat pembesaran kelenjar regioner pada regio submandibularis. atau dapat dikatakan gejala-gejalanya tidak jelas. Gejala dalam hidung. rhinorrhoe dan epistaxis. pterigoideus internus diinfiltrasi oleh tumor. pada saat ini berarti sudah amat terlambat. bila m. f.). ophtalmoplegia. sehubungan dengan diagnosa dini sukar ditemukan. rasa sakit atau parasthesia pada gigi yang bersifat setempat atau radier.

dan evaluasi hasil dari suatu metode pengobatan. invasi sampai pada kulit dinding depan. pterygoideus. system. Pemeriksaan P. untuk menentukan luas dan lokasi tumor. M0 = Tidak ada distant metastase M1 = Terdapat distant metastase dengan menjelaskan dimana terjadinya distant metastase. para ahli berusaha untuk mendapatkan satu bahasa dalam menentukan staging dari tumor-tumor ganas. adalah vital dalam menentukan diagnosa pada setiap tumor. terutama dalam hubungannya dengan tindakan therapi. Pemeriksaan P.M. Kontras foto. Di samping itu dapat dilakukan antral washing untuk pemeriksaan papaniculeau. N = nudoli lymphatici. T2 = invasi tumor pada dinding lateral. ke kontra lateral dari cavum nasi dan sinus maxillaris. dalam menentukan stadium dari sesuatu tumor ganas. otot bebas. walaupun kriteria dari Sisson ini masih ada kekurangannya. N2 = Teraba kelenjar reginer.U.b.A. Diagnosa Diagnosa didasarkan atas: . N0 = Tak ada pembesaran kelenjar regioner. T3 = Invasi tumor pada n. tetapi masih dapat digerakkan dari dasar. T = tumor. T4 = Invasi pada lamina cribroformis. tetapi tidak sampai pada lamina cribroformis.A. c. N1 = Teraba kelenjar leher. N3 = Pembesaran kelenjar kontralateral.A. Untuk tumor ganas sinus maxillaris. maka dipakai kriteria dari Sisson (1958). tetapi faedahnya lebih banyak. Tomografi untuk menentukan lokasi lebih tepat. M = metastase T1 = invasi tumor pada dinding anterior maxillae atau invasi pada dinding antero medial dari palatum. agar tidak terdapat perbedaan dalam interpretasi. atau pada dinding superior. dan kalau perlu diadakan antrostomi untuk mendapatkan jaringan tumor. dan ke sinus ethmoidalis posterior. orbita bebas. yang dikenal sebagai T. berusaha menyusun suatu sistem.C). Untuk ini International Union Against Cancer (I. fossa pterigomaxillaris. Biopsi harus dilakukan pada setiap bagian tumor yang tampak.N. tetapi tidak dapat digerakkan dari dasarnya. Dalam membahas kasus-kasus tumor ganas. dan pada orbita. cellulae othmoidalis anterior.

Pemeriksaan P. T3 33%. trigeminus neuralgia. tumor-tumor dari gigi misalnya adamantinoma. atau rhinitis chronika.A. Penyinaran atau radiotherapi Bila keadaan tumor pada stadium “T3” dapat dikatakan inoperabel. c.a. Setelah itu diikuti dengan radiotherapi dengan CO 60 atau dengan Cis 137 sebanyak kurang lebih 6. Prognosa Bila pengobatan dilakukan secara adekuat. Bila telah terdapat metastase pada kelenjar leher. Diagnosa Banding Tumor-tumor jinak dari sinus maxillaris atau dari cavum nasi. selama 6 minggu. Gambaran klinik. Pemeriksaan radiologis. epulis dan aspergillosis dari sinus maxillaris. Pemeriksaan transilluminasi.000 rad dalam waktu 6 minggu kemudian diikuti evakuasi jaringan tumor dari dalam sinus. juga dilakukan unilateral atau bilateral partial/radikal neck dissection. dan irradiasi post op. b. d. T2 42%. di samping maxillektomi radikal. disangka hanya suatu sinusitis. dilakukan maxillektomi radikal. Kombinasi a dan b (irradiasi pre-op. ini berarti tumor sudah berada dalam stadium yang lanjut. maka dilakukan penyinaran dengan Co 60 atau dengan Cis 137 sebanyak 6. dan T4 0%. Operasi b. rata-rata 7 bulan setelah timbulnya gejala-gejala permulaan diagnosa ditegakkan. . karena gejala tidak khas.) Operasi Pada prinsipnya tindakan operasi dilaksanakan atas dasar stadium dari tumor. biasanya terlambat. Bila tumor “T1 dan T2” masih operabel. Pengobatan Pada dasarnya pengobatan terdiri dari: a. antral washing. Irradiasi c. maka menurut Gallagher dan Boples dari 56 penderita yang mereka obati didapatkan “5 years survival rate” berturut-turut T1 100%. rhinoskopia anterior.000 rad. dilakukan maxillektomi radikal dengan exenterasi orbita. atau 6 minggu setelah penyinaran terakhir. Menurut para penyelidik.

yakni pembuluh darah dan jaringan ikat. maupun tidak bertangkai yang mempunyai pangkal yang luas. bertangkai. sehingga pertumbuhan tumor ini dapat mengakibatkan komplikasi-komplikasi yang berat. sukar terjadi retraksi dan kontraksi. sehingga kalau terjadi ruptur dari pembuluh darah. karena pendekatan operasi sukar. Ditinjau dari sudut pengobatannya. mungkin karena gangguan keseimbangan hormon oestrogen dan androgen. Pertumbuhan tumor bersifat ekspansif. antara umur 10 – 25 tahun. amat menarik dan merupakan tantangan bagi para ahli THT. Susunan dinding pembuluh darah tidak mempunyai tuniknamuskularis. sehingga persediaan darah sebelum operasi harus benar-benar tersedia.ANGIOFIBROMA NASOPHARYNX Synonim: Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma Pendahuluan Angiofibroma nasopharynx merupakan tumor jinak yang jarang ditemukan. sehingga tampaknya seolah-olah mempunyai asal pertumbuhan yang multiple. ke fossa pteryogoidea. Pertumbuhan tumor sifatnya ekspansif. tumbuh dengan dasar yang lebar atau bertangkai dari lapisan fibreus fascia prevetebralis. ke endokranium. misalnya ke rongga hidung dan sinus paranasalis. . lagipula sifat dari tumor yang dapat menimbulkan perdarahan yang amat hebat selama operasi. tumor ini ada yang single dan ada yang multiple. Patologi Tumor ini terdiri dari dua komponen. Makroskopis. akibatnya perdarahan sukar berhenti. Sex and Age Insidens Lebih banyak terdapat pada laki-laki pada masa pubertas. hanya terdiri dari lapisan endothel. tumor ini sering melekat pada persambungan tulang. tempat asal pertumbuhan tumor tersembunyi dan dikitari oleh struktur-struktur vital. Etiologi Belum diketahui secara pasti. dapat masuk ke dalam rongga-rongga di sekitar nasopharynx. Tumor ini juga tidak mempunyai kapsul yang sejati.

karena dapat menimbulkan perdarahan yang hebat. obstruksi nasi dan epistaxis yang berulang-ulang.. sehingga terjadi deformasi tulang muka. Keluhan berikutnya akibat obstruksi nasi dan infeksi sekunder. d. dan dapat menunjukkan ukuran tumor dan luasnya ekspansi tumor. c. gambaran radiologis penting untuk menetapkan lokalisasi tumor dan luasnya ekspansi tumor tersebut. kalau keadaan yang sudah lanjut disertai dengan deformasi muka. Radiologis. Pengobatan Telah disinggung sebelumnya. Sebagai keluhan yang pertama-tama dirasakan adalah obstruksi nasi. misalnya rhinolalia. terlihat bayangan jaringan lunak yang memenuhi nasopharynx. Angiografy. rhinorrhoe dengan foeter nasi. sehingga terjadi penekanan pada syaraf-syaraf kranium. tampak anemis. Rhinoskopia. dimana tumor belum mencapai ukuran yang besar tidak memberikan keluhan-keluhan. Kadang-kadang juga terjadi ekspansi ke rongga tengkorak. sehingga memberikan gejalagejala sekunder berupa anemia. dalam hal pengikatan cabang arteri dan menentukan approach dari suatu operasi.P. b. tampak “frog face”. deformasi hidung. e.Gambaran Klinik Bergantung dari besarnya dan lokalisasi tumor. kemudian epistaxis baik ringan maupun berat. karena ruptur pembuluh darah dan infeksi sekunder. anosmia. Epistaxis ini dapat berulang-ulang. cavum nasi dan sinus paranasalis. Bila tumor telah mencapai ukuran yang besar dapat mendesak tulang di sekitarnya. Biopsi. bahwa pengobatan terhadap tumor ini. sehingga ada yang mengusulkan kalau gambaran klinis sudah jelas sebaiknya tidak perlu diadakan biopsi preoperatif. sehingga benar-benar membantu dalam persiapan sebelum operasi. khususnya. pada permukaan ada bagian-bagian yang nekrosis. Diagnosa Diagnosa ditegakkan atas dasar: a. dapat menunjukkan configurasi vaskuler. menarik perhatian dan merupakan tantangan bagi para ahli THT. Kalau tumor itu tumbuh ke arah kaudal. tindakan ini harus hati-hati. dapat memberikan gangguan menelan dan gangguan pernapasan. menimbulkan gejala-gejala kelumpuhan syaraf sesuai dengan syaraf mana yang terkena. terlihat massa tumor memenuhi cavum nasi dan nasopharynx yang berwarna keabu-abuan. . Pemeriksaan phisis. Gejala klinis. pada foto lateral maupun A. dalam keadaan dini. yang kita kenal sebagai “frog face”.

Telah banyak cara-cara yang ditemukan sebelumnya untuk menanggulangi kasus-kasus angiofibroma nasopharynx. tumor berubah menjadi lebih fibrotis. bahwa tumor ini dapat terjadi regresi spontan pada orangorang yang berumur di atas 25 tahun. pengikatan. elektro coagulasi. Bila operasi dilakukan dengan persiapan baik dan tumor belum mengadakan expansi yang terlalu luas.17 selama beberapa minggu sebelum operasi. sebagai usaha untuk mengurangi perdarahan. Operasi ini suatu transpalatinal operasi dapat dikombinasikan dengan lateral rhinostomi dan seterusnya. dengan persiapanpersiapan preoperatif seperti pemberian hormon oestrogen preoperatif (diethyl stilbestrol) selama 1 – 2 bulan. dapat mengurangi perdarahan selama operasi. b. baik untuk . seperti: penyinaran. Pada operasi ini juga ada yang mengikat arteri carotis externa. atau arteri maxillaris interna. cryosurgery. Di samping pemberian hormon juga diberikan preparat hemostatik seperti adona A. Tumor ganas nasopharynx menyerang orang-orang yang relatif muda usia. TUMOR GANAS NASOPHARYNX Pendahuluan Tumor ganas nasopharynx merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan di bagian THT di Indonesia. semuanya untuk mengusahakan agar perdarahan selama operasi dapat seminimal mungkin. Ada yang mengatakan. Prognosa Prognosa adalah baik: a. bergantung lokalisasi tumor tersebut. dimana orang-orang ini sebenarnya masih mempunyai vitalitas yang tinggi. Sekarang cara yang dipilih adalah dengan cara operasi. Menurut frekuensinya menduduki salah satu dari lima tumor ganas yang paling sering ditemukan di Indonesia di samping tumortumor payudara.C. dikatakan bahwa dengan pemberian hormon ini tumor menjadi kecil dan vaskularisasi tumor menjadi kurang. carcinoma portio uteri. tumor kelenjar limfe dan tumor kulit. sehingga dalam tindakan operasi selanjutnya perdarahan lebih kurang dan tumor lebih mudah dicapai.

bahwa tumor ganas nasopharynx paling banyak terdapat pada orang Tionghoa dari propinsi Kanton. sebaiknya kita pakai klasifikasi menurut system Broder’s sebagai berikut: 1. tumor ini selain banyak terdapat dari kalangan orang-orang keturunan Tionghoa. yakni 8 tahun. adalah faktor virus (Eustein Barr Virus) mungkin memegang peranan yang penting dalam perkembangan tumor ganas nasopharynx. undifferentiated ca. Di Indonesia dari data-data yang pernah dilaporkan. . tumor ganas nasopharynx menduduki tempat nomor 2 setelah tumor ganas cervix uteri. mungkin terdiri dari multifaktor. Insidens Menurut laporan para peneliti. Ca nasopharynx grade II. 2. tetapi kami pernah temukan pada umur yang lebih muda. Untuk tidak membingungkan. 3. Etiologi Yang paling sering ditemukan adalah jenis epidermoidea. acap kali memakai terminologi yang berbeda. Etiologi Sampai sekarang belum diketahui secara pasti. semuanya ini sebenarnya termasuk ca epidemoid dalam berbagai diferensiasi. Di antara teori-teori yang dikemukakan ialah faktor genetik. Ca nasopharynx grade I. Seperti di Hongkong dimana penduduknya kebanyakan berasal dari Kanton. sehingga penting bagi kita untuk mengenal tanda-tanda tumor ganas nasopharynx secepat mungkin. tetapi dapat ditemukan dari perantau-perantau asal Kanton yang tersebar pada berbagai penjuru dunia. ialah transitional cells ca dengan diferensiasi yang tidak sempurna (Broder grade III). ialah ca epidermoid yang tidak disertai pertandukan (Broder grade II). Hal ini dapat ditemukan bukan hanya di antara Tiongkok sendiri. faktor lingkungan dan terakhir ini.keluarganya maupun untuk masyarakat luas. Ca nasopharync grade III. Ca planocellulare. Lelaki lebih sering dari wanita. Mengenai age insidens. Berbagai centra patologi. misalnya anaplastik carcinoma. juga terdapat dari kalangan Indonesia asli. agar tindakan yang tepat dapat segera diberikan untuk mempertinggi survival rate. ialah ca epidermoid yang disertai dengan pertandukan (Broder grade I). paling banyak di antara umur 30 – 50 tahun. Kurang lebih 2 : 1.

maka gejala pertama yang timbul dapat berupa epistaxis. setinggi angulus mandibularis di bawah belakang sterno-cleido-mastoideus. mungkin gejala pertama adalah sakit kepala atau gejala-gejala kelumpuhan syaraf-syaraf otak. atau terdiri dari beberapa gejala sekaligus.4. Kalau bentuk exophytik. gejala pertama mungkin tinnitus aurium dan pendengaran berkurang. tanpa predileksi khusus. atau tinnitus aurium dan pendengaran berkurang. Kalau bentuk infiltratif lokalisasinya di sekitar fossa Rossen Muller. Gejala-gejala klinik Pada stadium dini tidak memberikan gejala-gejala yang khas. maka untuk mengadakan deteksi tumor ganas nasopharynx kadang-kadang tidak begitu mudah. yang menyebabkan keluhan diplopia. letaknya di sekitar ostium fossa. ialah lymphoepithelioma atau carcinoma anaplastik sesuai dengan klasifikasi (Broder grade IV). kita dapat gambaran. gejala-gejala yang timbul mungkin obstruksi nasi. Dari uraian di atas. gejala-gejalanya bergantung pada lokalisasi tumor primer dan bergantung pada sifat pertumbuhannya. dapat hanya terdiri dari satu gejala tunggal saja (tidak khas). Bila terjadi penyebaran kelenjar-kelenjar lympheriogioner. Lokalisasi pertumbuhan Menurut Simos & Ariel tempat predileksi yang terbanyak adalah di fossa Rossen Muller di dinding lateral nasopharynx. Dioagnosa Sesuai dengan keadaan anatomis nasopharynx. Bentuk elceratif atau bertukak b. Kalau bentuk infiltratif dan terjadi infiltrasi ke endokranium. Bentuk proliferatif atau exophytik c. Bentuk infiltratif atau endophytik. merupakan daerah tersembunyi dari luar. dan sesuai dengan sifat pertumbuhan tumor ganas nasopharynx yang sebagian infiltratif atau sub epithelial. Menurut pertumbuhannya tumor ini dibagi dalam tiga bentuk: a. misalnya yang paling sering kelumpuhan n. Tetapi menurut Yeh tumor ini secara primer dapat terjadi dimana saja di Nasopharynx. maka gejala yang timbul berupa pembesaran kelenjar servicalis. Rossen Muller. Beberapa patokan dapat dipegang sebagai cara untuk mengingatkan kita harus waspada kemungkinan adanya tumor ganas nasopharynx kepada seseorang penderita sebagai berikut: . abducent. bahwa gejala-gejala tumor ganas nasopharynx. Misalnya kalau pertumbuhan tumor dalam bentuk ulceratif. Ca nasopharynx grade IV.

a. Kalau tiga dari gejala-gejala tunggal tadi ditemukan pada seseorang. Sitostatika . untuk melihat destruksi tulang cranium. b. tumor-tumor otak. e. Nasopharyngoskopi d. tumor hidung sinus paranasalis. dan seterusnya. Seseorang dengan cephalalgia (hemicephalalgia) yang persistent. hemichephalalgia. Nasophangogram dengan mempergunakan kontrast. Penyinaran b. Seseorang dewasa setengah umur dengan keluhan epistaxis dan setelah diteliti ternyata suatu posterior nasal bleeding. walaupun belum diadakan biopsi. kita sudah harus cenderung ke arah diagnosa tumor ganas nasopharynx. hemichephalalgia dengan epistaxis. Differensial diagnose Tuberkulose kelenjar. tanpa ada respons terhadap pengobatan. obstruksi nasi dan diplopia atau tumor colli dengan epistaxis homolateral. multiple biopsi pada dinding nasopharynx. Biopsi. Seseorang dengan obstruksi nasi yang progresif. e. Pengobatan Pengobatan terdiri dari: a. Seseorang dengan tumor colli. migraine dan trigenial neuralgia. Seseorang dewasa dengan oklusio tubae. Foto cranium. maka masih perlu pemeriksaan sebagai berikut: a. epistaxis. Palpasi digital c. maka secara klinik kita dapat mendiagnosa tumor ganas nasopharynx. Seseorang dengan keluhan diplopia. Kalau dua dari gejala-gejala tunggal di atas tadi ditemukan pada seseorang penderita. di bawah dan belakang n. yang letaknya setinggi angulus mandibulae. c. Untuk melengkapi diagnosa. tumor colli dan hemichephalalgia. Rhinoskopia posterior b. tanpa didahului rhinitis yang tidak sembuh-sembuh dengan pengobatan biasa. dan pendengaran berkurang. Misalnya: Epistaxis dengan pendengaran berkurang hemolateral. Misalnya: tumor colli. f. d. diplopia dan epistaxis. cervikal syndroma. sternocleido-mastoideus. obstruksi nasi. tumor colli dengan pendengaran berkurang hemolateral. Radiography.

setelah itu radiasi diteruskan pada tahap kedua dengan dosis 2. urethanedan quinone (MMC).000 rad. suatu sitostatika yang berasal dari antibiotika yang mengandung komponen-komponen azuridine. Tahap pertama diberikan 4.5% c. kemudian istirahat selama 3 – 4 minggu.000 rad.7% b. MMC diberikan setelah penyinaran tahap pertama selesai (4. survival rate berturut-turut sebagai berikut: a.000 rad. 3 tahun setinggi 47.000 rad). 10 tahun setinggi 10%. Prognosa Menurut hasil penelitian Shi Mien Tu (1975). . Bila dianggap perlu dapat ditambah kurang lebih 1. 7 tahun setinggi 26. telah dicoba dengan mitomycin C dari Kyowa.Penyinaran Penyinaran diberi dalam dua tahap.9% d. MMC ini diberikan secara intravena sebanyak 2 mg tiap kali sampai dosis total 40 mg. Setelah itu radiasi diteruskan dengan dosis 200 rad. Sitostatika Sitostatika diberikan sebagai tambahan setelah radiasi. 5 tahun setinggi 35.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful