Sastra dalam Masyarakat Pluralistik-multikultural: Tinjauan dari Perspektif Dominasi Budaya Oleh: Fatchul Mu‘in FKIP Unlam

Banjarmasin e-mail: muin_sihyar@yahoo.com Indonesian society is a pluralistic-multicultural one. Sociculturally, the literary works are created from such society. When pluralismmulticulturalism covers dichotomy of powerfull-powerless groups, elite-ordinary citizen groups, black-white groups etc., the pluralistic-multicultural condition will be represented in literary works. In pluralistic-multicultural society, a certain group regards itself as having dominant position. Cultural domination may occur in all the aspects of life. As a consequence, there will be prejudice (negative attitude), discrimination, segregation, and the other negative or unfair treatments from one toward another. This article will discuss the literary works form the viewpoint of pluralism— multiculture and the values that can be adopted from it. \Key words: pluralistic society, domination, literary work. Pengantar Bila karya sastra dipandang sebagai ―dunia kecil‖ –atau miniatur- yang dikonstruksi dari ―dunia besar‖ (Abrams menyebutnya Universe), maka peristiwaperistiwa yang terungkap di dalamnya merupakan refleksi dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam ―dunia besar‖ itu. Dalam kaitan ini, (karya) sastra) pada hakikatnya adalah tanggapan seseorang (pengarang) terhadap situasi dalam masyarakat sekelilingnya. Dengan demikian karya sastra itu merupakan refleksi atau cerminan kehidupan dalam masyarakat, yang diamati oleh pengarang, dibumbui respon atau tanggapan dan imaginasi pengarang terhadap kehidupan itu. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat pluralistik (beragam), dan oleh karena itu, pada saat yang sama, merupakan masyarakat multikultur (multibudaya). Masyarakat majemuk, seperti halnya di Indonesia, ditandai dengan banyaknya etnis, agama, bahasa, dan budaya dalam arti luas. Secara sosiokultural, karya sastra terlahir dari masyarakat yang majemuk dan multibudaya. Secara historis, sebelum Indonesia memperoleh kemerdekaan, misalnya, keberagaman itu telah disadari dan lalu diantisipasi oleh para pemuda kita. Kita semua tahu bahwa pada tahun 1928 (tepatnya tanggal 28 Oktober 1928), dalam keberagaman itu para pemuda kita telah mengangkat sumpah untuk (1) menjadi bangsa yang satu, yakni bangsa Indonesia, (2) bertanah air yang satu, yakni tanah air Indonesia, dan (3) menjunjung tinggi bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Ketika Indonesia merdeka, kesadaran akan keberagaman masih tampak kental, sebagaimana tercermin pada semangat para pendiri negara ini, yang kemudian secara eksplisit mengukir kata persatuan dalam Dasar Negara dan Undang Undang Dasar 1945 kita. Dan, mereka

1

atau akibat dari anggapan akan adanya dikotomi superioritas-inferioritas. bercerai berai kita runtuh’. Mungkin timbul pertanyaan : ―Sudahkan kita mengimplementasikan ungkapanungkapan di atas dalam kehidupan bermasyarakat. dalam pandangan penulis pribadi. Hal itu masih dilihat dari skala yang sangat kecil.. Slogan Satu Nusa. berbangsa. Sebagai bukti? Sejumlah daerah di negeri ini ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia . slogan yang mengajak kita untuk hidup dalam kebersamaan. tampaknya. berat sama dipikul’. ungkapan-ungkapan itu hanyalah sekedar ungkapan yang perlu diajarkan di sekolah sebagai bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia tanpa dicobajabarkan dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga. berat sama dipikul’?. tataran yang mungkin paling kecil dalam kehidupan bermasyarakat. Ungkapan-ungkapan itu. slogan. kata-kata mutiara. tanpa melihat latar belakang etnis. dan sejenisnya. Atau. Lalu. Tampaknya. tetap menjadi rangkaian kata-kata yang kandungan maknanya seperti halnya rangkaian kata-kata lain. senasib seperjuangan dalam kerangka untuk mencapai satu tujuan bersama. yakni tercapainya masyarakat adil dan makmur. atau akibat dari gagasan orang atau kelompok orang tertentu ditolak oleh orang atau kelompok orang yang lain. dan kultur masing-masing. semboyan dimunculkan ke permukaan untuk menyadarkan kita akan keberagaman. tanpa saling usik. belum dari skala yang lebih besar. penduduk asli-pendatang. misalnya. Ungkapan-ungkapan di atas. dan bernegara.warga bangsa ini. duduk sama rendah’?. ketua RT-nya bukan orang mereka. berbangsa. ungkapan bijak. tanpa saling curiga. bercerai berai kita runtuh‘?. misalnya. banyak pula kata-kata bijak. atau akibat dari ketidak/kekurangpedulian kita terhadap pentingnya kebersamaan.mewakili segenap bangsa ini menciptakan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang mirip dengan E Pluribus Unum-nya Amerika. pribuminon pribumi. dan ‘Bersatu kita teguh. sering dijumpai semacam aksi boikot oleh orang atau kelompok orang tertentu terhadap kegiatan kerukuntetanggaan akibat dari. masih sering terdengar adanya purbasanga (prejudice) dan diskriminasi (discrimination) dan sejenisnya di antara kita. mayoritas-minoritas. Atau. tidak asing lagi bagi telinga kita sewaktu kita mendengar kata-kata bijak seperti ‗Bediri sama tinggi. Satu Bangsa dan Menunjung Tinggi Satu Bahasa yang diikrarkan oleh para pemuda kita puluhan tahun silam tidak sepenuhnya kita pegang teguh.merupakan orang-orang yang benarbenar seperti yang diisyaratkan oleh ungkapan ‗Berdiri sama tinggi. dan bernegara dalam arti yang sebenar-benarnya?. (a) kita benar-benar saling memandang bahwa kita. berbangsa. agama. seiring sejalan. apakah semboyan kita Bhineka Tunggal Ika hanya akan menjadi semboyan 2 . Sekedar contoh. (b) beban berat yang ada pada bangsa ini dipikul atau ditanggulangi secara bersama seperti yang diisyaratkan oleh ungkapan ‗Ringan sama dijinjing. tanpa saling cakar atau sejenisnya seperti yang diisyaratkan oleh ungkapan ‗Bersatu kita teguh. mesra. Tentu. Atas dasar kesadaran akan keberagaman itu kita membuat komitmen untuk menjalani kehidupan dan menjalin hubungan yang harmonis. dan bahkan bernegara. tidak banyak implikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. semboyan. Di samping itu. di samping mengisyaratkan kesamaan derajat antar kita yang beragam ini. pada tataran Rukun Tetangga (RT). dan (c) kita bersatu padu. duduk sama rendah’’ ‘Ringan sama dijinjing. juga mengimplikasikan akan pentingnya kebersamaan dan/atau kesatuan dan persatuan.

Menurut pilihan penulis. setting dan bahasa-bahasa yang digunakan (multikultural). adalah penggunaan Bahasa Melayu Tinggi. Y. pengarang novel itu menyadari bahwa ―manusia‖ yang diamatinya dan dijadikan obyek karangannya tidak berasal dari komunitas tutur yang 3 . kantor kita tanpa upaya kongkrit untuk menggalang kebersamaan sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri negara. karya sastra yang ―terpinggirkan‖ umumnya mengungkap isu-isu dominatif pihak ―arus utama‖ seperti karya-karya Harriet Becker Stove (Uncle Tom’s Cabin). yang salah satu cirinya. Gejala tersebut dapat dilihat dari segi tokoh-tokoh yang latar belakang sosial-budayanya berbeda-beda (pluralistik).Di dalamnya. Karena begitu kompleksnya masalah yang ingin disampaikan atau diungkapkan oleh pengarang lewat karyanya itu. dipengaruhi oleh tradisi Balai Pustaka. misalnya. misalnya. Ralph Ellsion (Invisble Man). yang banyak bergaul dengan orang-orang Belanda. ada tokoh pembantu rumah tangga yang tak berpendidikan. Artinya. membeda-bedakan. Richard Wright (Native Son). Di samping itu. yang menjadi hiasan rumah. kita akan tahu betapa kompleksnya masalah yang disampaikan oleh pengarangnya. sedangkan Larasati harus mampu menggunakan istilah khusus (register) biologi. unsur-unsur dominasi seperti : menganggap remeh. 2000). yang salah satu cirinya. penulis mencoba mencari-cari karya sastra yang sekiranya memunculkan gejala tersebut. ada tokoh yang ―konon‖ keturunan kaum bangsawan. ada tokoh yang berpendidikan. atau bahkan memisahkan karya sastra non-arus utama dari Kesastraan Indonesia. agar masalah-masalah yang hendak disampaikan tampak wajar. Bila kita membaca Burung-Burung Manyar. sedangkan sastra marginal tidak mengikuti tradisi Balai Pustaka. Dengan demikian rumitnya masalah dalam novel itu menuntut penggunaan lebih dari satu bahasa. yang harus dihafal oleh anak-anak murid kita. adalah penggunaan Bahasa Melayu Rendah (Faruk dkk. Burung-Burung Manyar: Sebuah novel Pluralistik-Multikultural? Apakah karya sastra Indonesia menunjukkan gejala pluralistik. Terhadap sikap dikotomis ini. Hal ini menunjukkan bahwa ada upaya kelompok tertentu yang menganggap karya tertentu lebih tinggi dari karya yang lain. karya sastra Indonesia yang memunculkan gejala tersebut adalah novel (pengarangnya. ada pihak-pihak yang menyatakan bahwa terdapat diskriminasi terhadap karya-karya sastra yang dianggap tidak sesuai dengan ―ketentuan‖ yang berlaku dalam ―karya sastra arus utama‖. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam karya itu berasal dari sejumlah kelas sosial yang berbeda.B. dalam tradisi sastra terdapat juga dikotomi antara ―sastra arus utama‖ dan ―sastra marginal‖. dan Toni Morrison (Sula).Tokoh Setadewa. ada tokoh yang ―mewakili‖ masyarakat kelas bawah dan sebagainya. Karya sastra ini melibatkan berbagai tokoh dengan karakter yang berbeda-beda.. Sastra Indonesia arus utama. misalnya. dan dominasi budaya? Dalam kaitan ini.belaka.. dan budaya (atau unsur budaya) yang dominan dari budaya (atau unsur budaya) lain (dominasi budaya). pendahulu kita dan tentu oleh kita semua? Seperti dalam kehidupan masyarakat plural-multikultural. Mangunwijaya menyebutnya roman) Burung-Burung Manyar. harus mampu berbahasa Inggris dan berbahasa Belanda. gedung. maka digunakanlah lebih dari satu bahasa dalam karya sastra itu. multikultural. Dalam tradisi sastra Amerika.

Perbedaan penggunaan bahasa asing pada bagian pertama dan bagian ketiga ini justru merupakan penggunaan bahasa yang diperhitungkan oleh pengarangnya. khususnya pada bagian pertama. sehingga untuk membedakan karakter tokoh yang satu dengan yang lainnya digunakanlah ciri pembeda. Sebab. dan off the record) . mengingat novel itu merupakan karya sastra Indonesia. misalnya. pertama menyangkut macam atau jenis bahasa yang digunakan dalam novel tersebut. Verdomme dan sorry). dan sir).sama. Bahasa Belanda pada masa itu dipelajari dan digunakan sebagai bahasa asing di Indonesia. penggunaan bahasa Belanda dalam novel itu. never mind). Cara yang pertama adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara langsung dalam diskripsi peristiwa. itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. dan bagian ketiga peristiwa cerita berkisar antara tahun 1968 sampai dengan tahun 1978. yang tentu saja memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai mediumnya. jelas setting bagian pertama cerita ini adalah masa penjajahan Belanda di mana peristiwa perang mewarnai masa itu. Penggunaan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia dalam novel Burung-Burung Manyar dilakukan oleh pengarang dengan macam cara.. kemudian menempuh studi komputer di Amerika hingga memperoleh gelar doktor. Pada bagian ketiga. Pada bagian ketiga. Dengan demikian. di samping berkesesuaian dengan setting historis juga berkesesuaian dengan speech act antara sang anak dan ibunya. Dengan demikian. Penggunaan bahasa Belanda oleh tokoh Setadewa yang konon ibunya berasal dari negeri Belanda. (3) bahasa Belanda. Cara menggunakan bahasa semacam ini dinamakan cara eksplisit. Setadewa pergi ke negeri Belanda. Penggunaan bahasa Inggris dinilai logis.walaupun konon salah seorang nenek canggah atau gantung siwur 4 . bagian kedua peristiwa cerita berikisar antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1950. bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. setting dan sebagainya atau dalam percakapan antar tokoh dalam novel itu. Penggunaan bahasa Jawa. yang dapat dilihat dalam kutipan berikut: ―…. Dengan demikian. bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. (3) frasa (misalnya: mampir ngombe. masuk akal dan berdasar pada pertimbangan ketika mempergunakannya. dan (4) bahasa Inggris. Bahasabahasa yang digunakan dalam novel tersebut adalah (1) (yang dominan) bahasa Indonesia. loitenent. Bahasa Belanda yang dulu dia kuasai sedikit demi sedikit tertutup oleh bahasa Inggris. sehingga cerita atau novel itu banyak diilhami oleh peristiwa perang antara Indonesia dan Belanda. Secara historis. penggunaan bahasa Belanda dalam novel itu adalah wajar dan berkesesuaian dengan setting historis. Diskusi tentang multibahasa dalam novel Burung-Burung Manyar. loitenent eeste. penggunaan bahasa itu dapat ditelusuri maksud penggunaannya. peristiwa cerita berkisar tahun 1934 sampai dengan tahun 1944. Dengan demikian lingkungan dan situasi di mana Setadewa belajar menuntut yang besangkutaan untuk menggunakan bahasa Inggris. tokoh. Setelah perang selesai. yaitu: bahasa yang digunakan. Pada bagian pertama. Belanda dan Inggris hanya terbatas pada tingkat (1) kata (misalnya: Gusti. (2) bentuk sapaan (misalnya: Den Rara. dan (4) klausa atau kalimat (misalnya: Nyuwun pangapunten. ketika berbicara tentang ilmu dan pekerjaan dia sering melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. (2) bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Belanda oleh tokoh Setadewa pada bagian pertama cerita dalam Burung-Burung Manyar itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Daar bij de ouwe molen dan Okay.

bahasa Jawa. 3). Faktor-faktor non-kebahasaan yang mempengaruhi masuknya unsur-unsur bahasa daerah atau bahasa asing dalam suatu speech act sebagaimana disarankan oleh Istiati Soetomo (1985) adalah: (1) faktor-faktor dalam sistem budaya (di mana bahasa dipandang sebagai (a) tata lambang konstitusi. ―Anak-anak itu melongo mendengarkan percakapan dalam bahasa asing itu‖(BBM. Dalam bahasa Belanda (BBM.berkedudukan selir Keraton Mangkunegaran‖ (BBM. Setadewa digambarkan sebagai tokoh yang menggunakan bahasa Indonesia. ―Ia bertanya dalam bahasa Inggris berlogat Perancis‖ (BBM. dia bisa saja menyelipkan unsur-unsur bahasa Jawa. 172). dan Istiati Soetomo di atas. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut: ―Hanya secarik surat dari Mami yang kutemukan. dan (d) tata lambang ekspresi. Dalam kaitan ini. tokoh ini teridentifikasi sebagai tokoh keturunan Jawa-Belanda. (Soetomo. Dengan demikian. melibatkan persoalan siapa yang bertutur (who speaks). 33). kepada siapa seseorang itu bertutur (to whom). topik pembicaraan. dan (3) faktor-faktor dalam psikologi penutur ( di mana penggunaan bahasa asing mungkin dilatarbelakangi oleh persepsi. Atas dasar sudut pandang peserta tutur (penutur) dengan topik pembicaraan tertentu dan dialamatkan kepada lawar tutur tertentu. Dengan alat bantu unsur cerita lain. Multibahasa. 172). (c) tata lambang evaluasi. 1985:2-3). dan waktu/tempat tutur itu disampaikan. atau bahkan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Jawa untuk tokoh ini mengimplikasikan bahwa setidak-tidaknya dia ‗memahami‘ bahasa Jawa. Cara menggunakan bahasa semacam ini disebut cara implisit. bila topik yang dibicarakan menghendaki penggunaan bahasa- 5 . ―Dalam bahasa Belanda ia tenang berkata padaku‖ (BBM. 61). ―Bagaimana old fellow. Cara yang kedua adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara tidak langsung. 205). (2) faktor-faktor dalam sistem sosial (di mana penggunaan bahasa harus berkesesuaian dengan status dan peranan sosial manusia pemakai bahasa itu. dan waktu/tempat Dari sudut pandang peserta dalam sejumlah speech act. Multibahasa dalam novel Burung-Burung Manyar dapat dijelaskan melalui faktor-faktor non-kebahasaan sebagaimana yang disarankan oleh Fishman. elegan ya istriku berjalan‖ (BBM. ayahnya keturunan Jawa sedangkan ibunya berdarah Belanda. Tokoh Setadewa ini menggunakan atau menyelipkan unsur-unsur bahasa Jawa atau bahasa Belanda. sosial. bahasa apa yang digunakan (what language). 1972:244). Multilibahasa ditinjau dari pesera tutur. dan bahasa Inggris. (b) tata lambang kognisi. Pride & Holmes. topik. 152). ― Beginilah dear Seta‖ (BBM. penggunaan bahasa Jawa oleh tokoh ini adalah wajar dan diperhitungkan oleh pengarang novel itu. dalam pandangan sosiolinguistik. pengalaman dan hal-hal yang pribadi sifatnya. bahasa Belanda. motivasi. bahasa Belanda. identitas. kapan dan di mana tutur itu disampaikan (when and where) (Fishman. penulis hanya menjelaskan gejala multibahasa dari (a) faktor-faktor peserta tutur (penutur dan lawan tuturnya). dan kepribadian penutur. dan (b) faktor-faktor dalam sistem budaya.

Janakatamsi. dia menyelipkan kata-kata loitenant. Ketika dia kembali ke Indonesia. canggah. sosial. maka dia harus belajar dan lalu menggunakan bahasa itu untuk keperluan studi dan komunikasi di sana. 29). Inlandar (bahasa Belanda). dia menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya. dan John Briendley. sinyo londo (bahasa Jawa). Multibahasa ditinjau dari faktor budaya. selir. dan kata-kata gantung siwur. namun unsur-unsur bahasa Inggris masih mewarnai tuturannya. ketika dia membicarakan seputar masa kecilnya. up and down.bahasa itu. Karena lingkungan Amerika menuntut dia untuk memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Di lingkungan sosial itu bahasa Jawa digunakan. Oleh karena bahasa pertama ini tertanam kuat. Misalnya. menggariskan bahwa bahasa 6 . dia menggunakan bahasa Belanda bila dia berkomunikasi dengan ibunya (BBM. yakni: tingkah laku berbahasa dengan menggunakan lebih dari satu bahasa. Misalnya. sehingga dia harus belajar dan lalu menggunakan bahasa itu dalam upayanya untuk berkomunikasi dengan orang-orang di Keraton dan Magelang. Atas dasar cerita dalam novel itu. bahwa setelah Belanda kalah perang. yang antara lain. Tingkah laku berbahasa ini dapat ditelusur (1) melalui sistem budaya. yakni bahasa Jawa. multilingualisme dipandang sebagai bagian dari tingkah laku manusia. Dorongan lain yang menyebabkan Setadewa mempelajari bahasa lain adalah karena keinginannya untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang hanya dapat dipelajari lewat bahasa lain itu sendiri. bahwa bahasa itu diperoleh oleh seseorang (anak) melalui lingkungan sosial (terutama lingkungan keluarga. Setadewa dibawa oleh ayahnya ke Magelang dan Keraton. Dia belajar komputer di Amerika. Karena bahasa Inggris telah menjadi bagian dari hidupnya. Dia menggunakan bahasa Belanda karena dia memiliki kemampuan berbahasa Belanda dan keturunan Belanda (dari pihak ibu). Hal ini didasarkan pada teori pemerolehan bahasa pertama. Vadeland. Excellency. dan kepribadian Dalam tinjauan dari sudut pandang faktor-faktor non-kebahasaan ini. khususnya sang ibu). Ibu lah orang yang paling berperan dalam proses belajar bahasa pertama bagi anak(-anak)-nya. Kemampuan bahasa Jawanya diperoleh dari lingkungan keluarga dari garis ayahnya. maka kondisi ini menuntut dia untuk belajar bahasa lain. Bahasa (Belanda) yang diajarkan oleh orang tuanya itu tertanam kuat (well-established) dalam ingatannya sebab bahasa itu lah yang dipakai untuk komunikasi di lingkungan keluarganya. maka ketika dia berbicara tentang pekerjaan atau ilmu pengetahuan dengan lawan tutur tertentu dia menggunakan bahas Inggris. yakni bahasa Belanda. bila berkomunikasi dengan Larasati. Kemudian dia melanjutkan studi ke Amerika. Setelah Setadewa menginjak usia yang memungkinkan untuk bergaul dengan orang-orang di luar keluarganya yang tidak berbahasa sebagaimana yang dia kuasai. Bagi dia. bahasa Belanda diduga sebagai bahasa pertamanya. maka ketika berkomunikasi dengan siapapun Setadewa kecil berusaha untuk menggunakan bahasa pertamanya itu. dia menyelipkan kata-kata safe. detail. multinational (bahasa Inggris). Setadewa pergi ke Belanda. Berdasarkan cerita dalam novel itu. Penggunaan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia itu dapat dijelaskan bahwa Setadewa menggunakan bahasa Jawa karena dia memiliki kemampuan berbahasa Jawa dan keturunan suku Jawa (dari pihak ayah). Faktor lawan tutur juga turut menentukan tokoh ini dalam memilih bahasa-bahasa yang akan digunakan.

biting. dan motivasi). 131) (bahasa Jawa). dan togog (lambang keburukan) (BBM. (1) adanya usaha mistik atau kebatinan sebagai usaha pendalaman batin untuk memperoleh ilmu mistik demi dua tujuan: (1) untuk mencapai pengertian dan kesadaran tentang sangkan paran atau asalusul manusia. karena kemampuan batin yang diperoleh diarahkan kepada tindakan-tindakan yang jahat dan merugikan orang lain (Suseno. 5) (bahasa Belanda). evaluasi. Lambang-lambang kebaikan dan keburukan diungkapkan lewat istilah atau kata bahasa Jawa (istilah pewayangan) seperti pendowo (lambang kebaikan). identitas. (2) melalui sistem sosial (khususnya yang berkaitan dengan status dan peranan sosial). yang antara lain. 1980). Usaha pendalaman batin yang pertama bersifat positif. Penggunaan lebih dari satu bahasa dalam novel Burung-Burung Manyar dapat ditelusur melalui sistem sosial.. 7). karena jika diungkapkan dalam bahasa Indonesia akan kurang tepat atau memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. dan sebagainya). Y. 173) (bahasa Inggris)). 11) (bahasa Jawa).itu –setidak-tidaknya. yang dalam hal ini. dan nyadran (BBM. dan Cobra-Fire of the moluccan Inlands (BBM. ilmu klenik. seperti primbon. bahasa Belanda. dan (3) melalui sistem kepribadian (khususnya yang berkaitan dengan sikap. Mangunwijaya menyelipkan sejumlah istilah bahasa Jawa yang melambangkan kepercaryaan ―manusia‖ terhadap kekuatan supernatural.mencakup empat tata lambang: konstitusi. 42) (bahasa Jawa). dan (2) untuk memiliki kemampuan menjalankan praktek-praktek jahat yang didorong oleh nafsu-nafsu rendah demi benda-benda dunia dan kekuatan iblis (setan). roh halus. dan ramalan nasib dalam primbon-primbon (Koentjaraningrat. asu (BBM. ilmu pengetahuan. bersifat negatif. sedangkan tokoh Larasati diposisikan sebagai seorang priyayi. trisno margo kulino. Khemeente (BBM. fanfare. Tokoh yang pertama memiliki hak dan kewajiban sesuai 7 . verdomme (BBM. dan ekspresi yang secara berturutan melambangkan kepercayaan (manusia terhadap Tuhan dan/atau kekuatan supernatural di luar dirinya). 184:182). (BBM. 193) dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada aspek budaya Jawa. perasaan marah lewat istilah verrekt. Dalam sistem budaya Jawa dikenal. dan pengungkapan perasaan manusia. Tokoh Mbok Naya dan Mbok Ranu ditempatkan dalam kelas atau golongan wong cilik. 12). dan bahasa Inggris juga dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada aspek budaya Jawa yang berkaitan dengan tata lambang pengetahuan manusia tentang alam sekelilingnya. Lambang ekspresif untuk mengungkapkan perasaan cinta antara pria dan wanita diungkapkan lewat istilah kama dan ratih. Penyebutan istilahistilah kejawen. laras ing ati (BBM. persepsi. Sedangkan usaha batin yang kedua disebut klenik. onde-onde ceplus. penilaian (baikburuk. gaib di luar kekuatan manusia. yang berkaitan dengan tata lambang kepercayaan terhadap kekuatan (gaib) di luar kekuatan manusia atau terhadap roh-roh halus. 31 dan 49) (bahasa Belanda). nyadran (selamatan yang dilakukan di pekuburan). antara lain.B. Penggunaan bahasa tertentu dimaksudkan untuk membedakan kelaskelas sosial tokoh-tokoh yang ditampilkan. kognisi. Penggunaan istilah-istilah dari bahasa Jawa. pantas-tak pantas. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan istilah takir. berkaitan dengan status dan peranan sosial penuturnya. wijen (BBM. Dalam novel Burung-Burung Manyar. karena kemampuan batin yang diperoleh tidak dimanfaatkan untuk tujuan jahat. (2) macam-macam selamatan (slametan).

sebagai abdi. Inc. 2001. Penggunaan ungkapan ‘ngono ya ngono ning mbok ja ngono’(BBM. dengan menggunakan ungkapan-ungkapan dari bahasa Jawa kromo (BBM. (2) pluralistiknya tokoh-tokoh yang ditampilkan. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. Novel ini ―mengharuskan‖ adanya kemajemukan/ke-multibudaya-an karena beberapa hal: (1) kompleksnya masalah yang ingin disampaikan. Vintage Books Edition. Penggunaan lebih dari satu bahasa dalam novel Burung-Burung Manyar dapat ditelusur melalui sistem kepribadian penutur. (Thesis S-2). Secara kebahasaan. yang muliputi masalah lokal. New York: Random House. tokoh Setadewa adalah tokoh yang kaya akan pengalaman. benere dhewe. benar sendiri. Yogyakarta : Gadjah Mada 8 . Karena pengalamannya itu. dia banyak menggunakan unsur-unsur asing dalam tuturannya sesuai dengan status dan peranannya. Ralph. di mana dia bertutur. bekerja atau bertindak karena pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingan diri sendiri saja dengan tidak menghiraukan kepentingan-kepetingan masyarakat. bahasa Indonesia dalam novel ini memang digunakan secara dominan. Secara sosial pamrih itu selalu mengacu karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap keselarasan sosial. Penutup Masyarakat yang pluralistik-multikultural tercermin dalam Novel Burung-Burung Manyar. Fatchul Mu‘in. DAFTAR PUSTAKA Abrams. dan memperhatikan kepentingan sendiri). Faktor lain yang menyebabkan digunakannya unsurunsur dari bahasa asing (selain bahasa Indonesia) dalam novel Burung-Burung Manyar ini adalah faktor pengalaman seseorang (tokoh). The Mirror and the Lamp. Orang ber-pamrih selalu ingin menange dhewe. dan perlune dhewe (ingin menang sendiri. sepi ing pamrih. Oxford : Oxford University Press. 110) harus menjadi sikap pemilik ungkapan dari bahasa itu yang terpancar dalam perilakunya yang rame ing gawe. 10). Penggunaan istilah dari bahasa Jawa dan Belanda oleh tokoh Setadewa dapat ditanggapi sebagai memberikan penekanan pada identitas-nya sebagai tokoh yang berdarah Jawa dan Belanda (BB. Ellison. kepada siapa dia bertutur dan kapan tutur itu dilakukan. Dalam sistem kepribadian Jawa. yang meliputi tokoh kampung yang tak berpendidikan hingga tokoh kelas nasional bahkan internasional. dan (3) adanya usaha yang gagal untuk mencari padanan istilah-istilah atau kata-kata dari bahasa selain bahasa Indonesia sehingga pengarang menggunakan istilah atau kata dari bahasa lain. Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain dalam karya sastra Indonesia sama-sama memiliki arti penting dalam pencipataan karya sastra Indonesia itu sendiri. dari segi penceritaan penggunaan istilah atau kata dari bahasa lain itu adalah untuk memperjelas ide atau konsep sosial-budaya secara utuh dan tepat sasaran. 3). tetapi secara kultural. 1992. nasional. konsep-konsep budaya dinyatakan dengan menggunakan konsep-konsep/istilah-istilah dari bahasa lain (Bahasa Jawa. dan internasional. Belanda atau Inggris). Dalam perilaku berbahasa. Sebagai ilustrasi. Invisible Man (Novel). 1971. mereka memperlihatkan sikap hormatnya terhadap tuannya.H.dengan status dan peranan sebagai pembantu rumah tangga (abdi). M.

Jakarta:Djambatan. Morrison. Uncle Tom’s Cabin.Banjarbaru : Scripta Cendekia Fishman. Jakarta : Sinar Harapaan.B.V. Middlesex. Telaah Sosial-Budaya Terhadap Interferensi. J. Istiati.(Editor). Wright. 9 . Fudiat. Suseno. Brace & World. Jakarta: PN Balai Pustaka Lewis.Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa Stowe. Martin‘s Press. Y. Mangunwijaya. 1982. New York : Harper & Row Publishers. First Plume Printing. Banjarmasin: Unlam. 1984. Ltd. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafati tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Poedjosoedarmo. 1982. Soetomo. California:Stanford University Press. Sejumlah Masalah Sastra. New York : Harcourt.Alih-Kode dan Tunggal Bahasa dalam Masyarakat Gandabahasa. Yakop. 1852. 1979. Sula (Novel). Jakarta: UI. Soepomo. Satyagraha. 1972. Native Son. 1981. Franz Magnis. Leary.A.(Disertasi). Koentjaraningrat. 1966. Hariet Beecher. . Nur Cahaya. 2009. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. 1980. 1976. Sumarjo. 1985a. unda dan Banjar. Toni. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Maungkai Budaya. Yogyakarta : C. Language in Sociocultural Change. Kebudayaan Jawa. 1982. Sistem Perkawinan dan Istilah Kekerabatan pada Orang Jawa. Jakarta: Gramedia. Inc.University Fatchul Mu‘in. Suryadikara. 1989. England: Penguin Books. American Literature: A Study and Research Guide. Richard. Hoerip. New York: St. Inc. Burung-Burung Manyar. Hormondworth.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful