 

 

Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649). Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212). Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157). Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi. Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk : Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein. Sebagai cadangan protein tubuh. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen). Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.

1. 2. 3. 4. 5.

Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen. ETIOLOGI

Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999). Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).

PATOFISIOLOGI Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11). MANIFESTASI KLINIK Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang

dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999). Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut : 1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua 2. Lethargi 3. Irritable 4. Kulit keriput (turgor kulit jelek) 5. Ubun-ubun cekung pada bayi 6. Jaingan subkutan hilang 7. Malaise 8. Kelaparan 9. Apatis PENATALAKSANAAN 1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin. 2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit. 3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat. 4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.

Penanganan KKP berat Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi. Upaya pengobatan, meliputi :
    

Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi. Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik Pengobatan infeksi Pemberian makanan Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.

Menurut Arisman, 2004:105
    

Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi. Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam. Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam. Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi. Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.

Menurut Nuchsan Lubis Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu : 1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.
   

cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya. Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.

2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan
  

Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari. Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan Fisik
  

Mengukur TB dan BB Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter) Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).

2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin. FOKUS INTERVENSI 1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004) Tujuan : Pasien mendapat nutrisi yang adekuat Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Intervensi : a. Dapatkan riwayat diet b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan d. Gunakan alat makan yang dikenalnya e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka f. Sajikan makansedikit tapi sering

g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah 2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140) Tujuan : Tidak terjadi dehidrasi Kriteria hasil : Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik. Intervensi : a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan c. Ukur haluaran urine dengan akurat 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000). Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit Kriteria hasil : kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal Intervesi : a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang d. Alih baring 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh Tujuan : Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi Kriteria hasil: suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal Intervensi : a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi d. Beri antibiotik sesuai program 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004) Tujuan : pengetahuan pasien dan keluarga bertambah Kriteria hasil: Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala. Intervensi : a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien

6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157). Tujuan : Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Kriteria hasil : Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya. Intervensi : a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia. b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan d. Berikan mainan sesuai usia anak. 7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3) Tujuan : Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya. Kriteria hasil : Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas. Intervensi : a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien 8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143). Tujuan : Kelebihan volume cairan tidak terjadi. Kriteria hasil : Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral. Intervensi : a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan.

Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain, seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolic, penyakit ginjal menahun dan juga pada gangguan saraf pusat. Perhatian ibu dan pengasuh yang berlebihan hingga anak dipaksa menghabiskan makanan yang disediakan, walaupun jumlahnya jauh melampui kebutuhannya, dapat menyebabkan anak kehilangan nafsu makannya, atau muntah begitu melihat makanan atau formula yang akan diberikannya. Adakalanya anak demikian menolak segala macam makanan hingga pertumbuhannya terganggu. A. PENGERTIAN Marasmus adalah suatu penyakit kekurangan energi pada makanan, menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi kurus kering (Keperawatan anak untuk SPK : 1996, 139). Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. Pada marasmus ditandai dengan atropi jaringan, terutama lapisan subkuntan dan badan tampak kurus seperti orang tua. (Asuhan Keperawatan pada anak : 2001, 196). B. GEJALA KLINIS MARASMUS 1. Penampilan Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya (gambar 10.15). 2. Perubahan Mental Anak menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar. Kesadaran yang menurun (apatis terdapat pada penderita marasmus yang berat (gambar 10.6). 3. Kelainan pada kulit tubuh Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit serta ototototnya. 4. Kelainan pada rambut kepala Walaupun tidak sering seperti pada penderita kwashiorkor, adakalanya tampak rambut yang kering, tipis dan mudah rontok. 5. Lemak di bawah kulit Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang. 6. Otot-otot Otot-otot atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas (gambar 10.15). 7. Saluran pencernaan Penderita marasmus lebih sering menderita diare atau konstipasi. 8. Jantung Tidak jarang terdapat bradikardi. 9. Tekanan darah Pada umumnya tekanan darah penderita lebih rendah dibandingkan dengan anak sehat seumur. 10. Saluran nafas Terdapat pula frekuensi pernafasan yang mengurang. 11. Sistem darah Pada umumnya ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah. C. KOMPLIKASI Komplikasi dari marasmus meliputi: - Infeksi - Tuberculosis - Parasitosis - Disentri, malnutrisi kronis, gangguan tumbuh kembang (Asuhan Keperawatan anak : 2001, 196) Komplikasi yang mungkin terjadi akibat marasmus meliputi:

- Devisiensi vitamin A - TBC paru-paru - Bronkopnemani - Askariasis atau, - Intoleran Laktosa (Keperawatan anak untuk SPK : 1996, 140) D. ETIOLOGI Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain factor lingkungan, ada beberapa factor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut : 1) Masukan makanan yang kurang Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer. 2) Infeksi Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enternal misalnya infantile gastroenteritis, bronchopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital. 3) Kelainan struktur bawaan Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pylorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas. 4) Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat. 5) Pemberian ASI Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup. 6) Ganguan metabolik Misalnya: renal asidosis, idiophatic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance. 7) Tumor hypothalamus Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang kurang akan menimbulkan marasmus. 8) Penyapihan Penyapihan yang terlalu disini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan menimbulkan marasmus. 9) Urbanisasi Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi berulang terutama gastro enteristis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus. E. PATOFISIOLOGI Sebenarnya malnutrisi marasmus merupakan suatu sindron yang terjadi akibat banyak factor. Factor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga factor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang factor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi factor lain ikut menentukan. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan kaborhidrat, protein dan lemak merupakan hal sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak, gliserol dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai mencegah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.

F. DIAGNOSIS Diagnosis marasmus dibuat berdasarkan gambaran klinis, tetapi untuk mengetahui penyebab harus dilakukan anamnesis makan dan riwayat penyakit yang lalu. G. PENATALAKSANAAN TERAPIUTIK ” Dat tinggi kalori, mineral dan vitamin ” Pemberian terapi cairan elektolit ” Penanganan diare bila ada; cairan, antidiare dan antibiotic H. PROGNOSIS Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, kematian sering disebabkan oleh karena infeksi sering tidak dapat dibedakan antara kematian karena infeksi atau karena malnutrisi sendiri. Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai dilaksanakan. Dalam beberapa hal walaupun kelihatannya pengobatan adekuat, bila penyakitnya progesif kematian tidak dapat dihindari, mungkin disebabkan perubahan yang irreversibel dari sel-sel tubuh akibat under nutrition. I. PENCEGAHAN Tindakan pencegahan penyakit KEP bertujuan untuk mengurangi insidensi KEP dan menurunkan angka kematian sebagai akibatnya. Usaha disebut tadi mungkin dapat ditanggulangi oleh petugas kesehatan tanpa menunggu perbaikan status social dan ekonomi golongan yang berkepentingan. Akan tetapi tujuan yang lebih luas dalam pencegahan KEP ialah memperbaiki pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak Indonesia sehingga dapat menghasilkan manusia Indonesia yang dapat bekerja baik dan memiliki kecerdasan yang cukup. Ada berbagai macam cara intervensi gizi, masing-masing untuk mengatasi satu atau lebih dari satu factor dasar penyebab KEP (Austin, 1981), yaitu : 1. Meningkatkan hasil produksi pertanian, supaya persediaan bahan makanan menjadi lebih banyak, yang sekaligus merupakan tambahan penghasilan rakyat. 2. Penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan tinggi energi untuk anak-anak yang disiplin. Makanan demikian pada umumnya tidak terdapat dalam diet tradisi, tetapi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat pada anak-anak berumur 6 bulan keatas. Formula tersebut dapat diberikan dalam program pemberian makanan suplementer maupun dipasarkan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Pembuatan makanan demikian juga dapat diajarkan pada masyarakat sendiri sehingga juga merupakan pendidikan gizi. 3. memperbaiki infrastruktur pemasaran. Infrastruktur pemasaran yang tidak baik akan berpengaruh negative terhadap harga maupun kualitas bahan makanan. 4. subsidi harga bahan makanan. Interfensi demikian bertujuan untuk membantu mereka yang sangat terbatas penghasilannya. 5. pemberian makanan suplementer. Dalam hal ini makanan diberikan secara cuma-cuma atau dijual dengan harga minim. Makanan semacam ini terutama ditujukan pada anak-anak yang termasuk golongan umur rawan akan penyakit KEP. 6. Pendidikan gizi. Tujuan pendidikan gizi ialah untuk mengajar rakyat mengubah kebiasaan mereka dalam menanam bahan makanan dan cara menghidangkan makanan supaya mereka dan anak-anaknya mendapat makanan yang lebih baik mutunya. Menurut Hofvandel (1983), pendidikan gizi akan berhasil jika: a. Penduduk diikutsertakan dalam pembuatan rencana, menjalankan rencana tersebut, serta ikut menilai hasilnya; b. Rencana tersebut tidak banyak mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun. c. Anjuran cara pemberian makanan yang diulang pada setiap kesempatan dan situasi d. Semua pendidik atau mereka yang diberi tugas untuk memberi penerangan pada rakyat memberi anjuran yang sama e. Mendiskusikan anjuran dengan kelompok yang terdiri dari para ibu serta anggota masyarakat lainnya, sebab keputusan yang diambil oleh satu kelompok lebih mudah dijalankan daripada oleh seorang ibu saja. f. Pejabat kesehatan, teman-teman dan anggota keluarga memberi bantuan aktif dalam mempraktekkan anjuran

tersebut. g. Orang tua nmaupun anggota masyarakat lainnya dapat melihat hasil yang menguntungkan atas praktek anjuran tersebut. 7. Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan: a. Pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu, misalnya di BKIA, Puskesmas, Posyandu. b. Melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya tinggi. c. Memperbaiki hygiene lingkungan dengan menyediakan air minum, tempat membuang air besar (WC); d. Mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat-tempat tertentu atau di tempat yang sudah disediakan, membersihkan badan pada waktu-waktu tertentu, memasak air minum, memakai sepatu atau sandal untuk menghindarkan investasi cacing dan parasit lain, membersihkan rumah serta isinya dan memasang jendelajendela untuk mendapatkan hawa segar. e. Menganjurkan rakyat untuk mengunjungi puskesmas secepatnya jika kesehatannya terganggu. f. Menganjurkan kelarga Berencana. Petros-Barnazian (1970) berpendapat bahwa child spacing merupakan factor yang sangat penting untuk status gizi ibu maupun anaknya. Dampak kumulatif kehamilan yang berturutturut dan dimulai pada umur muda dalam kehidupan seorang ibu dapat mengkibatkan deplesi zat-zat gizi orang tersebut. Intervensi gizi yang berhasil dapat mengurangi jumlah penderita mlnutrisi sehingga merupakan seumbangan yang positif dalam proses perkembangan Negara. Tujuan intervensi gizi meliputi: a. peningkatan kapasitas kerja manusia b. peningkatan kesejahteraan rakyat c. pemerataan pendapatan yang lebih baik.

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kurang kalori protein merupakan salah satu masalah gizi masyarakat yang utama diIndonesia. Upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat telah dilaksanakan melalui berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen Kesehatan bekerja sama dengan masyarakat. Menurut Survai Kesehatan tahun 1986 angka kejadian gizi buruk pada anak balita 1,72% dan gizi kurang sebanyak 11,4. Berbeda dengan survai di lapangan, insiden gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita yang dirawat mondok di rumah sakit masih tinggi. Rani di RSU Dr. Pirngadi Medan mendapat 935 (38%) penderita malnutrisi dari 2453 anak balita yang dirawat. Mereka terdiri dari 67% gizi kurang dan 33% gizi buruk. Penderita gizi buruk yang paling banyak dijumpai ialah tipe marasmus. Arif di RS. Dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan Barus di RS Dr. Pirngadi Medan sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangun dan serta terjadinya krisis ekonomi di ludonesia. Tulisan ini bertujuan untuk membahas sebab-sebab terjadinya marasmus, patofisiologi, diagnosis, pencegahan dan pengobatannya pada anak balita. B. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui tentang marasmus, diantaranya dari pengertian, penyebap, tanda dan gejala, penangananya dan komplikasinya. 2. Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen mata kuliah gizi. C. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan dimana penulis membaca dan mengumpulkan beberapa materi dan artikel - artikel yang berhubungan dengan marasmuz.

BAB II PEMBAHASAN
MARASMUS A. Pengertian Marasmus adalah salah satu bentuk kekurangan gizi yang buruk paling sering ditemui pada balita penyebabnya antara lain karena masukan makanan yang sangat kurang, infeksi, pembawaan lahir, prematuritas, penyakit pada masa neonatus serta kesehatan lingkungan. Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649). Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).

1. 2. 3. 4. 5.

Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk: Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein. Sebagai cadangan protein tubuh. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen). Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.

B. Etiologi Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999). Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116). C. Patofisiologi Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. D. Manifestasi Klinik Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Badan kurus kering tampak seperti orangtua Lethargi Irritable Kulit keriput (turgor kulit jelek) Ubun-ubun cekung pada bayi Jaingan subkutan hilang Malaise Kelaparan Apatis

E. Penatalaksanaan

1.

Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin. 2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit. 3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat. Upaya pengobatan, meliputi : 1. Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi. 2. Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik 3. Pengobatan infeksi 4. Pemberian makanan 5. Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung. 6. Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi. 7. Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam. 8. Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam. 9. Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi. 10. Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100. 11. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV. 12. Cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%. 13. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. 14. Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya. 15. Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari. F. Pemeriksaan Diagnostik 1. Mengukur TB dan BB 2. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter) 3. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita. 4. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak). 5. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin. G. Komplikasi Defisiensi Vitamin A Dermatosis Kecacingan Diare Kronis Tuberkulosis BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Marasmus adalah salah satu bentuk gizi buruk yang sering ditemui pada Balita. Penyebabnya multifaktorial antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan serta ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi dan keadaan ekonomi yang tidak menguntungkan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis; untuk menentukan penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit lain. Pencegahan terhadap marasmus ditujukan kepada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik.

Pengobatan marasmus ialah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein dan penatalaksanaan di rumah sakit yang dibagi atas: tahap awal, tahap penyesuaian dan rehabilitasi B. Saran 1. Diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk dapat memenuhi asupan protein, agar dapat tumbuh dengan sehat. 2. Agar seluruh ibu-ibu memperhatikan gizi anak, terutama asupan proteinnya, agar tidak ada lagi penderita gizi buruk. 3. Kepada tenaga kesehatan untuk dapat mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang gizi, terutama tentang protein. 4. Diharapkan masyarakat atau pun pembaca mau ikut serta menggalakkan program tentang pemberantasan gizi buruk, untuk mencapai Muna sehat 2015

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang. Masalah gizi masih cukup rawan dibeberapa wilayah Indonesia, terutama di wilayah pemukiman kumuh daerah perkotaan, wilayah yang sering dilanda musim kering (NTB dan NTT). Dimana kondisi masyarakat tersebut banyak yang kekurangan gizi, banyak balita yang terkena gizi buruk. Gizi buruk / gizi kurang sering terjadi karena makanan yang tidak seimbang, terutama dalam hal protein. Protein sangat penting untuk membantu pertumbuhan anak-anak, dan meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Dan juga kelebihan protein juga akan menimbulkan penyakit, seperti obesitas. Sehingga dapat menimbulkan penyakit seperti kwasiorkor, marasmus, dan obesitas. Oleh karena itu, selain untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah “dasar-dasar ilmu gizi” ini, penulis mengangkat judul tentang Protein, karena protein merupakan zat paling penting yang harus ada dalam tubuh manusia. Tapi masuh banyak juga kasus kekurangan energi protein (KEP). Disini penulis tertarik untuk lebih mendalami tentang protein. 2. Tujuan a. Tujuan Umum. Agar mahasiswa dan pembaca mengerti tentang pentingnya protein untuk tubuh kita. b. Tujuan Khusus.  Mengemukakan permasalahan tentang protein  Menjabarkan kadar dan fungsi protein bagi manusia  Memberitahu kepada mahasiswa sumber protein  Menjelaskan akibat dan kekurangan protein  Dll BAB II TINJAUAN TEORITIS 1. Pengertian Istilah protein berasal dari bahasa yunani proteos , yang berarti yang utama atau yang di dahulukan. Kata ini di perkenal kan oleh ahli kimia belanda, gerardus mulder (1802-1880). Ia berpendapat bahwa protein adalah zat yang paling penting dalam setiap organisme. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein separohnya ada didalam otot, seperlima dalam tulang dan tulang rawan, spersepuluh dalam kilit dan selebihnya dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon pengengkut zat-zat gizi dan darah. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor, sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekuk esensial untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat kimia lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh. 2. Klasifikasi Protein. Protein terdapat dalam bentuk serabut (fibrous), globular, dan kunjngsi. a. Porotein dalam bentuk serabut. Terdiri atas beberapa rantai peptida berbentuk spiral dan terjalin satu sama lain, sehingga menyerupai batany yang kaku. Karakteristiknya : - Rendah daya larutnya. - Mempnayi kekuatan mekanis yang tinggi. - Tahan terhadap enzim pencernaan.

Contoh protein serabut : Kolagen, elastin, keratin, miosin. b. Protein globular. Karakteristiknya : - Berbentuk bola. - Larut dalam larutan garam dan asam encer. - Mudah berubah dalam pengaruh suhu. - Konsentrasi garam mudah mengalami denaturasi. Contoh : Albumin, globumin, histon, protamin. c. Protein konjungsi. Merupakan protein sederhana yang terikat dengan bahan-bahan non asam amino (gugus prostetik). Contoh : Nukleoprotein, lipoprotein, fosfoprotein, metaloprotein. Jenis-jenis protein : a. Berdasarkan Komponen. 1. Protein Bersahaja. Merupakan campuran yang terdiri atas asam mino. 2. Protein Kompleks. Selain terdiri atas asam amino juga terdapat komponen lain (unsur logam, gugus posfat, dll). 3. Protein. Merupakan ikatan antara intermediet produk sebagai hasil hidrolisa parsial dari protein native. b. Berdasarkan Sumber. 1. Protein Hewani. Berasal dari binatang, contoh : daging, susu, dll. 2. Protein Nabati. Berasal dari tumbuhan, contoh : jagung. Klasifikasi protein dapat pula dilakukan berdasarkan fungsi fisiologiknya, berhubungan dengan adanya dukunagn bagi prtumbuhan badan dan bagi pemeliharan jeringan : a. Protein sempurna. b. Protein setengah sempurna. c. Protein tidak sempurna. 3. Komposisi Kimia Protein. Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino, yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Molekul protein lebih kompleks dari pada karbohidrat dan lemak dalam hal berat molekul dan kanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya. Asam amino terdiri atas atom karbon yang terikat pada satu gugus karboksil (-COOH), satu gugus amino (NH2), satu atom hidrogen (-H) dan satu gugus radikal (-R) atau rantai cabang, sebagaimana tampak pada gambar berikut : Pada umumnya asam amino yang diisolasi dari protein hididroksilat alfa-asam amino, yaitu guguskarboksil dan amino terikat pada atom karbon yang sama. Yang membedakan asam amino satu sama lain adalah rantai cabang atau gugus –R nya.

4. Fungsi, Guna, dan Sumber Protein. Disini dapat kita lihat fungsi protein, antara lain sebagai berikut : a. Untuk pertumbuhan dan pemeliharaan. b. Untuk pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh. c. Untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh. d. Untuk memelihara netralitas tubuh. e. Untuk pembentukan antibodi. f. Untuk mengangkat zat-zat gizi. g. Sebagai sumber energi. Oleh karena itu, protein sangat berperan penting dalam tubuh manusia, karena bial manusia tidak cukup protein, maka mereka akan dapat menderita gizi kurang. Guna protein bagi tubuh manusia : Protein sangat berperan penting untuk pertumbuhan manusia.penting yang terdapat dalam semua makhluk hidup. Jadi tanpa adanya protein tidaklah dapat dibentuk sel makhluk hidup. Secara garis besarnya guna protein bagi manusia adalah sebagai berikut : a. Untuk membangun sel jaringan tubuh seorang bayi yang lahir dengan berat badan 3 kg. b. Untuk mengganti sel tubuh yang aus atau rusak. c. Untuk membuat air susu, enzim dan hormon air susu yang diberikan ibu kepadabayinya dibuat dari makanan ibu itu sendiri. d. Membuat protein darah, untuk mempertahankan tekanan osmose darah. e. Untuk menjaga keseimbangan asam basadari cairan tubuh. f. Sebagai pemberi kalori. Sumber protein. Sumber protein untuk manusia ada 2, yaitu : a. Sumber protein hewani. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. b. Sumber protein nabati. Sumber makanan seperti : kacang, kedelai dan hasilnya seperti tempe, tahu, serta kacang-kacangan lain. 5. Kebutuhan Protein Bagi Manusia. Kebutuhan protein bagi manusia dapat ditentukan dengan cara menghitung jumlah protein yang diganti dalam tubuh. Ini bisa dilakukan dengan menghitung jumlah unsur nitrogn (zat lemas) yang ada dalam protein makanan dan menghitung pula jumlah unsur nitrogen yang dikeluarkan tubuh melalui air seni dan tinja. Penggunaan protein dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga dalam prakteknya jumlahprotein itu belum dapat memenuhi kebutuhan. Sebabnya antara lain : - Kadar protein 18,75 gram itu dalam tubuh akan menyebabkan beberapa reaksi kimia yang tidak bisa berlangsung dengan baik. - Kecernaan protein itu sendiri. Tidak semua bahan makanan yang mengandung serat-serat proteinnya bisa diambil tubuh. Karena adanya serat-serat ini, enzim-enzim tidak bisa masuk untuk memecah protein. Berdasarkan pertimbangan diatas, maka ditetapkan bahwa kebutuhan protein bagi seorang dewasa adalah 1 gram untuk setiap kilogram berat badannya setiap hari. Untuk anak-anak yang sedang tumbuh, diperlukan protein yang lebih banyak, yaitu 3 gram tiap satu kilogram berat badannya. Disamping itu, mengingat adanya protein sempurna dan tidak sempurna berdasarkan jumlah dan macam-macam asam amino yang ada dalam makanan, maka untuk menjamin agar tubuh benar-benar mendapatkan asam amin dalam jumlah dan macam yang cukup, sebaiknya untuk orang dewasa seperlima dari protein yang diperlukan haruslah protein yang berasal dari hewan, sedangkan untuk anak-anak sepertiga dari jumlah protei yang mereka perlukan.

Tabel : Angka kecukupan protein menurut kelompok umur. N O Kelompok umur (tahun) AKP (nilai PST) gram/kg berat badan Laki-laki Perempuan 1 0 – 0,5 1,86 (85 % dari ASI) 1,86 (85 % dari ASI) 2 0,5 – 2,0 1,39 (80 % dari ASI) 1,39 (80 % dari ASI) 3 4 – 5 1,08 1,08 4 5 – 10 1,00 1,00 5 10 – 18 1,96 0,90 6 18 – 60 0,75 0,75 7 60 + 0,75 0,75 8 Ibu hamil + 12 gram / hari 9 Ibu menyusui 6 bulan pertama. + 16 gram / hari 10 Ibu menyusui 6 bulan kedua + 12 gram / hari 11 Ibu menyusui tahun kedua + 11 gram / hari Sumber : FAO/WHO/UNU,1985 PST : Protein Senilai Telur. BAB III PEMBAHASAN 1. Akibat Kekurangan dan Kelebihan Protein. a. Akibat kekurangan protein. Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah. Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan Kwasiorkor pada anak-anak dibawah lima tahun (balita). Kekurangan protein sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan Marasmus. 1. Kwasiorkor. Istilah kwashiorkor pertamakali diperkenalkan oleh Dr. Cecily Williams pada tahun 1933, ketika ia menemukan keadaan ini di Ghana, Afrika. Dimana dalam bahasa Ghana kwashiorkor artinya penyakit yang diperoleh anak pertama, bila anak kedua sedang ditungu kelahirannya. Kwashiorkor lebh banyak terdapat pada usia dua hingga tiga tahun yang sering terjadi pada anak yang terlambatmenyapih, sehingga komposisi gizi makanan tidak seimbang terutama dalam hal protein. Kwashiorkor dapat terjadipada konsumsi energi yang cukup atau lebih. Gejalanya : - pertumbuhan terhambat. - Otot-otot berkurang dan lemah. - Edema. - Muka bulat seperti bulan (moonface) - Gangguan psikimotor. Ciri khas dari kwashiorkor yaitu terjadinya edema di perut, kaki dan tangan. Kehadiran kwashiorkor erat kaitannya dengan albumin serum. Pada kwashiorkor gambaran klinik anak sangat berbeda. Berat badan tidak terlalu rendah, bahkan dapat tertutup oleh adanya udema, sehingga penurunan berat badan relatif tidak terlalu jauh, tetapi bila pengobatan odema menghilang, maka berat badan yang rendah akan mulai menampakkan diri. Biasanya berat badan tersebut tidak sampai dibawah 60 % dari berat badan standar bagi umur yang sesuai. Ciri-ciri :

- Rambut halus, jarang, dan pirang kemerahan kusam. - Kulit tampak kering (Xerosis) dan memberi kesan kasar dengan garis-garis permukaan yang jelas. - Didaerah tungkai dan sikut serta bokong terdapat kulit yang menunjukkan hyperpigmentasi dan kulit dapat mengelupas dalam lembar yang besar, meninggalkan dasar yang licin berwarna putih mengkilap. - Perut anak membuncit karena pembesaran hati. - Pada pemeriksaan mikroskopik terdapat perlemkan sel-sel hati. 2. Marasmus. Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti wasting merusak. Marasmus umumnya merupakan penyakit pada bayi (12 bulan pertama), karena terlambat diberi makanan tambahan. Hal ini dapat terjadi karena penyapihan mendadak, formula pengganti ASI terlalu encer dan tidak higienis atau sering terkena infeksi. Marasmus berpengaruh dalam waku yang panjang terhadap mental dan fisik yang sukar diperbaiki. Marasmus adalah penyakit kelaparan dan terdapat banyak di antara kelompok sosial ekonomi rendah di sebagian besar negara sedang berkembang dan lebih banyak dari kwashiorkor. Gejalanya : - Pertumbuhan terhambat. - Lemak dibawah kulit berkurang. - Otot-otot berkurang dan melemah. - Erat badan lebih banyak terpengaruh dari pada ukuran kerangka, seperti : panjang, lingkar kepala dan lingkar dada. - Muka seperti orang tua (oldman’s face). Pada penderita marasmus biasanya tidak ada pembesaran hati (hepatomegalia) dan kadar lemak serta kholesterol didalam darah menurun. Suhu badan juga lebih rendah dari suhu anak sehat, dan anak tergeletak inaktif, tidak ada perhatian bagi keadaan sekitarnya. b. Akibat Kelebihan Protein. Protein secara berlebihan tidak menguntungkan tubuh. Makanan yang tinggi proteinnya biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. Diet protein tinggi yang sering dianjurkan untuk menurunkan berat badan kurang beralasan. Kelebihan dapat menimbulkan masalah lain, terutama pada bayi. Kelebihan asam amino memberatkan ginjal dan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan nitrogen. Kelebihan protein akan menimbulkan asidosis, dehidrasi, diare, kenaikan amoniak darah, kenaikan ureum darah, dan demam. Ini dilihat pada bayi yang diberi susu skim atau formula dengan konsentrasi tinggi, sehingga konsumsi protein mencapai 6 g/kg BB. Batas yang dianjurkan untuk konsumsi protein adalah dua kali angaka kecukupan gizi AKG) untuk protein. 2. Upaya Penanggulangan. Untuk menanggulangi kekurangan / kelebihan protein, maka dapat dilakukan upaya penanggulangan sebagai berikut : - pemantauan status gizi (PSG) masyarakat. - Pemberian makanan tambahan (PMT). - Pemantauan garam beryodium. - Pemberian kapsul vit. A - Pemberian tablet Fe. - Pengumpulan data KADARZI. BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan. Dari makalah diatas, maka peulis dapat menyimpulkan bahwa protein sangatlah penting, terutama bagi pertumbuhan. Disamping itu protein merupakan zat utama dalam membantu tumbuh kembang anak. Sehingga

apabila anak cukup asupan proteinnya, maka anak akan tumbuh sehta, jauh dari gizi kurang dan tidak terjadinya gangguan tumbuh kembang. Selain itu, protein merupakan penghasil energi terbesar. Dengan adanya protein dalam tubuh, maka tubuh akan merasa tetap segar. Tetapi yang harus diperhatikan asupan protein untuk tubuh haruslah seimbang, tidak boleh kekurangan dan tidak bileh pula kelebihan. Karena kelebihan atau kekurangan asupan protein dapat menimbulkan penyakit, seperti : kwashiorkor, marasmus, dan obesitas. Oleh karena itu, diharapkan kepada pembaca, untuk dapat memanfaat kan apa yang telah disampaikan dalam makalah ini, guna untuk meningkatkan status gizi di masyarakat, sehingga tercipta masyarakat yang sehat. 2. Saran. a. Diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk dapat memenuhi asupan protein, agar dapat tumbuh dengn sehat. b. Agar seluruh ibu-ibu memperhatikan gizi anak, terutama asupan proteinnya, agar tidak ada lagi penderita gizi buruk. c. Kepada tenaga kesehatan untuk dapat mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang gizi, terutama tentang protein. d. Diharapkan masyarakat atau pun pembaca mau ikut serta menggalakkan program tentang pemberantasan gizi buruk, untuk mencapai Indonesia sehat 2010. DAFTAR PUSTAKA 1. Almatsier, S. ”Prinsip Dasar Ilmu Gizi”. Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : 2006. 2. Sediaoetama, Drs. Ahmad Djaeni. ”Ilmu Gizi”. Penerbit : Dian Rakyat. Jakarta : 2006. 3. Moehdi, S. ” Ilmu Gizi”. Penerbit : Papasinar Sinanti. Jakarta : 2002. 4. Kartasapoetra, Drs.G. ”Ilmu Gizi”. Penerbit : Rineka Cipta. Jakarta : 2003. 5. http//www.google.com//gizi buruk//2008. 6. http//www.google.co.id//journal tentang protein.// 2008.

protein

BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212) Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.Penanganan KKP berat Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi. 2.TUJUAN Tujuan dari pembuatan makalah ini asuhan keperawatan ini adalah untuk membahas mengenai cara mendiagnosis dini dan mekanisme terjadinya MARASMUS pada anak. 3. MANFAAT Manfaat dari asuhan keperawatan anak dengan PENYAKIT MARASMUS Ini bermanfaat untuk melakukuan askep yang valid mulai dari pengkajian, diagnose keperawatan, proses kaperawatan, implementasi, evaluasi. BAB II TINJAUAN TEORI

1. 1. KONSEP DASAR TEORI A. DEFINISI Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649). Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212). B. ETIOLOGI Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999). Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116). C.ANATOMI FISIOLOGI Mulut, Tenggorokan & Kerongkongan Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagianbagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. Lambung Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkonan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Rektum & Anus Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon

desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting : lendir asam klorida (HCl) prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein) Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. Usus Halus Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. D. MANIFESTASI KLINIK Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999). Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut : 1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua 2. Lethargi

3. Irritable 4. Kulit keriput (turgor kulit jelek) 5. Ubun-ubun cekung pada bayi 6. Jaingan subkutan hilang 7. Malaise 8. Kelaparan 9. Apatis E. PATOFISIOLOGI Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11). F. PENATALAKSANAAN 1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin. 2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit. 3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat. 4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital. Penanganan KKP berat Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi. Upaya pengobatan, meliputi : - Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.

- Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik - Pengobatan infeksi - Pemberian makanan - Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung. Menurut Arisman, 2004:105 - Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi. - Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam. - Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam. - Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi. - Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100. Menurut Nuchsan Lubis Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu : 1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV. - cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%. - Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. - Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya. - Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari. 2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan - Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari. - Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari. - Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari. G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan Fisik

a. Mengukur TB dan BB b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter) c. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita. 2. KONSEP DASAR ASKEP A. PENKAJIAN I. Biodata a. Identitas pasien b. Identitas penanggungjawab II. Riwyat kesehatan a. Keluhan utama b. Riwayat kesehatan sekarang c. Riwayat kesehatan dahulu Pasien pernah masuk Rs karena alergi d. Riwayat kesehatan keluarga III. Pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi terhadap kesehatan Apabila sakit, klien biasa membeliobat di tko obat terdeat atauapabila tidak terjadi perubahan pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS terdekat. b. Pola aktivitas latihan Aktivitas latihan selama sakit : Aktivitas 0 1 2 3 4 Makan Mandi Berpakaian Eliminasi

Mobilisasi di tempat tidur c. Pola istirahat tidur Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya. e. Pola elimnesi Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, wrna kuning bau khas dan BAK 4-5x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih. f. Pola kognitif perceptual Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan penglihatan normal. g. Pola peran hubungan Klien beragama islam, ibadah dilakukan secara rutin. i. Pola konep diri 1. Harga diri : tidak terganggu 2. Ideal diri : tidak terganggu 3. Identitas diri : terganggu, karena merasa malu akibat penyakit yang dideritanya 4. Gambaran diri : tidak terganggu 5. Peran diri : tidak terganggu j. Pola seksual reproduksi k. Pola koping d. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak). 2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004) 2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140) 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004) 6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157). 7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3) 8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143). C. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004) Tujuan : Pasien mendapat nutrisi yang adekuat Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Intervensi : a. Dapatkan riwayat diet b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan d. Gunakan alat makan yang dikenalnya e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka f. Sajikan makansedikit tapi sering g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah 2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140) Tujuan : Tidak terjadi dehidrasi Kriteria hasil : Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.

Intervensi : a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan c. Ukur haluaran urine dengan akurat 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000). Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit Kriteria hasil : kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal Intervesi : a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang d. Alih baring 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh Tujuan : Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi Kriteria hasil: suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal Intervensi : a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi d. Beri antibiotik sesuai program 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004) Tujuan :

pengetahuan pasien dan keluarga bertambah Kriteria hasil: Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala. Intervensi : a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien 6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157). Tujuan : Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Kriteria hasil : Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya. Intervensi : a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia. b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan d. Berikan mainan sesuai usia anak. 7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3) Tujuan : Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya. Kriteria hasil : Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas. Intervensi :

a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien 8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143). Tujuan : Kelebihan volume cairan tidak terjadi. Kriteria hasil : Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral. Intervensi : a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi caira D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN 1. Mendapatkan riwayat diet 2. Mendorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan 3. Meminta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan 4. Mengunakan alat makan yang dikenalnya 5.. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka 6. Menyajikan makansedikit tapi sering 7. Menyajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah E. EVALUASI KEPERAWATAN Masalah dikatakan teratasi apabila Pasien mendapat nutrisi yang adekuat dan mampu meningkatkan masukan oral. BAB III PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. DAFTAR PUSTAKA Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal. Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis. Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC WHO-SEARO. Laboratory Manual. Department of Vaccines and Biologicals.2001. Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC

KONSEP DASAR MARASMUS
A. Pengertian 1. Marasmus adalah suatu bentuk malgizi protein energi karena kelaparan, semua unsur diet kurang. Hal ini dikarenakan masukan kalori yang tidak adekuat, diet “Faddy”, penyakit usus menahun, kelainan metabolik/infeksi menahun separti tuberkulosis. (Pincus catzel dan Ian roberts, 1991 : 106). 2. Marasmus adalah bila kekurangan kalori dalam diet yang berlangsung lama yang akan menimbulkan gejala undernutrition yang sangat ekstrim. (FKUI, 1985 : 361). 3. Marasmus adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena rendahnya konsumsi energi kalori dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga mengakibatkan tidak adekuatnya intake kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. ( Nelson, 1999 : 298 ). 4. Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. ( http://dokterfoto. com, diperoleh tanggal 4 Juni 2008). B. Etiologi Menurut Behrman (1999: 122) etiologi marasmus antara lain: 1. Pemasukan kalori yang tidak mencukupi, sebagai akibat kekurangan dalam susunan makanan. 2. Kebiasaan-kebiasaan makanan yang tidak layak, seperti terdapat pada hubungan orang tua-anak yang terganggu atau sebagai akibat kelainan metabolisme atau malformasi bawaan. 3. Gangguan setiap sistem tubuh yang parah dapat mengakibatkan terjadinya malnutrisi. 4. Disebabkan oleh pengaruh negatif faktor-faktor sosioekonomi dan budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan oleh diare kronik malabsorpsi protein, hilangnya protein air kemih ( sindrom neprofit ), infeksi menahun, luka bakar dan penyakit hati. C. Tanda dan Gejala Menurut FKUI (1985 : 361), Ngastiyah (2005 : 259) dan Markum (1991 : 166) tanda dan gejala dari marasmus adalah : 1. Anak cengeng, rewel, dan tidak bergairah. 2. Diare. 3. Mata besar dan dalam. 4. Akral dingin dan tampak sianosis. 5. Wajah seperti orang tua. 6. Pertumbuhan dan perkembangan terganggu. 7. Terjadi pantat begi karena terjadi atrofi otot.

8. Jaringan lemak dibawah kulit akan menghilang, kulit keriput dan turgor kulit jelek.. 9. Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas. 10. Nadi lambat dan metabolisme basal menurun. 11. Vena superfisialis tampak lebih jelas. 12. Ubun-ubun besar cekung. 13. Tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol. 14. Anoreksia. 15. Sering bangun malam. D. Patofisiologi Pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai atrofi otot dan manghilangkan lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian merupakan prosesn fisiologis. Untuk kelangsungan hidup jaringan tubuh memerlukan energi, namun tidak didapat sendiri dan cadangan protein digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga untuk memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit esensial lainnya seperti asam amino untuk komponen homeostatik. Oleh karena itu, pada marasmus berat kadang-kadang masih ditemukan asam amino yang normal, sehingga hati masih dapat membentuk cukup albumin. (Ngastiyah, 2005 : 259). E. Pathway

F. Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi menurut (Markum : 1999 : 168) defisiensi Vitamin A, infestasi cacing, dermatis tuberkulosis, bronkopneumonia, noma, anemia, gagal tumbuh serta keterlambatan perkembangan mental dan psikomotor. a. Defisiensi Vitamin A Umumnya terjadi karena masukan yang kurang atau absorbsi yang terganggu. Malabsorbsi ini dijumpai pada anak yang menderita malnurtrisi, sering terjangkit infeksi enteritis, salmonelosis, infeksi saluran nafas) atau pada penyakit hati. Karena Vitamin A larut dalam lemak, masukan lemak yang kurang dapat menimbulkan gangguan absorbsi. b. Infestasi Cacing Gizi kurang mempunyai kecenderungan untuk mudahnya terjadi infeksi khususnya gastroenteritis. Pada anak dengan gizi buruk/kurang gizi investasi parasit seperti cacing yang jumlahnya meningkat pada anak dengan gizi kurang. c. Tuberkulosis Ketika terinfeksi pertama kali oleh bakteri tuberkolosis, anak akan membentuk “tuberkolosis primer”. Gambaran yang utama adalah pembesaran kelenjar limfe pada pangkal paru (kelenjar hilus), yang terletak dekat bronkus utama dan pembuluh darah. Jika pembesaran menghebat, penekanan pada bronkus mungkin dapat menyebabkanya tersumbat, sehingga tidak ada udara yang dapat memasuki bagian paru, yang selanjutnya yang terinfeksi. Pada sebagian besar kasus, biasanya menyembuh dan meninggalkan sedikit kekebalan terhadap penyakit ini. Pada anak dengan keadaan umum dan gizi yang jelek, kelenjar dapat memecahkan ke dalam bronkus, menyebarkan infeksi dan mengakibatkan penyakit paru yang luas. d. Bronkopneumonia Pada anak yang menderita kekurangan kalori-protein dengan kelemahan otot yang menyeluruh atau menderita poliomeilisis dan kelemahan otot pernapasan. Anak mungkin tidak dapat batuk dengan baik untuk menghilangkan sumbatan pus. Kenyataan ini lebih sering menimbulkan pneumonia, yang mungkin mengenai banyak bagian kecil tersebar di paru (bronkopneumonia). e. Noma

Penyakit mulut ini merupakan salah satu komplikasi kekurangan kalori-protein berat yang perlu segera ditangani, kerena sifatnya sangat destruktif dan akut. Kerusakan dapat terjadi pada jaringan lunak maupun jaringan tulang sekitar rongga mulut. Gejala yang khas adalah bau busuk yang sangat keras. Luka bermula dengan bintik hitam berbau diselaput mulut. Pada tahap berikutnya bintik ini akan mendestruksi jaringan lunak sekitarnya dan lebih mendalam. Sehingga dari luar akan terlihat lubang kecil dan berbau busuk. G. Pemeriksaan Penunjang 1.Menurut FKUI (1985:364) pada pemeriksaan laboratorium memperlihatkan : a. Karena adanya kelainan kimia darah, maka : 1) kadar albumin serum rendah 2) kadar globumin normal atau sedikit tinggi 3) peningkatan fraksi globumin alfa 1 dan globumin gama 4) kadar globumin beta rendah 5) kadar globumin alfa 2 menetap 6) kadar kolesterol serum menurun 7) uji turbiditas timol meninggi b. Pada biopsi hati ditemukan perlemahan yang kadang-kadang demikian hebatnya sehingga hampir semua sela hati mengandung vakual lemak besar. Sering juga ditemukan tanda fibosis, nekrosis dan infiltrasi sel mononukleus. c. Pada hasil outopsi penderita kwashiorkor yang berat menunjukan hampir semua organ mengalami perubahan seperti degenerasi otot jantung, osteoporosis tulang dan sebagainya. 2. Menurut Markum (1996:167) pada pemeriksaan a. Laboratorium menunjukan 1) Penurunan badan albumin, kolesterol dan glukosa dalam serum 2) Kadar globumin dapat normal atau meningkat, sehingga perbandingan albumin dan globumin dapat terbalik kurang dari 1. 3) Kadar asam amino esensial dalam plasma relatif lebih rendah daripada asam amino non esensial. 4) Umumnya kadar imunoglubin serum normal atau meningkat. 5) Kadar Ig A serum normal, kadar Ig A sekretori rendah. 6) Uji toleransi glukosa menunjukan gambaran tipe diabetik. 7) Pemeriksaan air kemih menunjukan peningkatan sekresi hidroksiprolin dan adanya aminoasi dunia. b. Pada biopsi hati ditemukan perlemakan ringan sampai berat, fibrosis, nekrosis dan infiltrasi sel mononuklear. Pada perlemakan berat hampir semua selhati mengandung vakual lemak yang besar.

c. Pemeriksaan outopsi menunjukan kelainan pada hampir semua organ tubuh, seperti degenerasi otot jantung, osteoporosis tulang, atrofi virus usus, detrofi sistem limfold dan atrofi kelenjar timus. d. Pada pemeriksaan otopometri berat badan dibawah 90%, lingkar lengan di bawah 14 cm. H. PENATALAKSANAAN Menurut Mansjoer (2000 : 514 – 517) penatalaksanan marasmus adalah : 1. Atasi / cegah hipoglikemia Periksa gula darah bila ada hipotermia (suhu aksila <>oC, suhu rektal 35,5oC). Pemberian makanan yang lebih sering penting untuk mencegah kondisi tersebut. 2. Atasi/cegah hipotermia Bila suhu rektal <>oC a. Segera beri makanan cair/fomula khusus. b. Hangatkan anak dengan pakaian atau selimut sampai menutup kepala. 3. Atasi/cegah dehidrasi Lakukan pemberian cairan infus dengan hati-hati dengan tetesan pelan-pelan untuk mengurangi beban sirkulasi dan jantung. 4. Koreksi gangguan keseimbang elektrolit Pada marasmus berat terjadi kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar natrium plasma rendah. a) Tambahkan Kalium dan Magnesium dapat disiapkan dalam bentuk cairan dan ditambahkan langsung pada makanan. Penambahan 20 ml larutan pada 1 liter formula. 5. Obati / cegah infeksi dengan pemberian antibiotik 6. Koreksi defisiensi nitrien mikro, yaitu dengan : Berikan setiap hari : 1). Tambahkan multivitamin. 2). Asam folat 1 mg/hari (5 mg hari pertama). 3). Seng (Zn) 2 mg/KgBB/hari. 4). Bila berat badan mulai naik berikan Fe (zat besi) 3 mg/KgBB/hari. 5). Vitamin A oral pada hari 1, 2, dan 14.

Umur > 1 tahun : 200 ribu SI (satuan Internasional). Umur 6-12 bulan : 100 ribu SI (satuan Internasional). Umur 0-5 bulan : 50 ribu SI (satuan Internasional). 6). Mulai pemberian makan Pemberian nutrisi harus dimulai segera setelah anak dirawat dan harus dirancang sedemikian rupa sehingga cukup energi dan protein untuk memenuhi metabolisme basal. I. Pencegahan Tindakan pencegahan terhadap marasmus menurut (Lubis, U.N.http: //www.cermin dunia kedokteran. diperoleh
tanggal 4 Juni 2008) dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan

sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi, antara lain : 1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. 2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. 3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan. .4. Pemberian imunisasi. 5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap. 6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang. 7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN MARASMUS
A. Pengkajian 1. Identitas a. Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan & kontak dengan klien tentang : nama perawat, nama klien, panggilan perawat, panggilan klien, tujuan waktu, tempat, pertemuan, dan topik yang akan dibicarakan. b. Usia dan nomor Rekam Medik. c. Mahasiswa menuliskan sumber data yang di dapat. 2. Alasan Masuk a. Tanyakan kepada klien / keluarga yang datang : b. Apa yang menyebabkan klien / keluarga datang ke rumah sakit ini? 3. Focus pengkajian marasmus menurut Mi Ja Kim adalah :

a. Data Subjektif 1) Rasio berat badan a) Kehilangan BB dengan asupan makan yang adekuat. b) BB 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi badan & bentuk tubuh yang normal. 2) Tinggi aktivitas Berkurangnya aktivitas tampak pada kebanyakan kasus marasmus. Anak tampak lesu dan tidak bergairah & pada anak yang lebih tua terjadi penurunan produktivitas kerja. 3) Masukan atau intake nutrisi a) Melaporkan asupan makan yang tidak adekuat kurang dari jumlah harian yang dianjurkan. b) Melaporkan / terlihat kurang makan. 4) Diet Melaporkan perubahan dalam hal merasakan makanan. 5) Pengetahuan tentang nutrisi Memperlihatkan / terobservasi kurangnya pengetahuan dalam perilaku peningkatan kesehatan. b. Data Objektif 1) Data umum a) Perubahan rambut Warnanya lebih muda (coklat, kemerah-merahan dan lurus, panjang, halus, mudah lepas bila ditarik). b) Warna kulit lebih muda Seluruh tubuh / lebih sering pada muka, mungkin menampakan warna lebih muda daripada warna kulit anak sehat. c) Tinja encer Disebabkan gangguan penyerapan makan, terutama gula. d) Adanya ruam “bercak bersepih” Noda warna gelap pada kulit, bila terkelupas meninggalkan warna kulit yang sangat muda / bahkan ulkus di bawahnya. e) Gangguan perkembangan & pertunbuhan f) Hilangnya lemak di otot & bawah kulit karena makanan kurang mengandung kalori dan protein. g) Adanya perut yang membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas. h) Adanya anemia yang berat Kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi, asam folat dan berbagai vitamin. i) Mulut dan gigi Adanya tanda luka di sudut-sudut mulut. j) Kaji adanya anoreksia, mual. B. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi. 3. Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun. 4. Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi. 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, diit, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. C. Fokus Intervensi

gnosa : Ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. NOC : status nutrisi : intake nutrisi dan cairan. Kriteria hasil : a Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan. b Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi. c Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. d Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. Skala Nilai : 1 : tidak pernah menunjukkan 2 : jarang menunjukkan 3 : kadang-kadang menunjukkan 4 : sering menunjukkan 5 : selalu menunjukkan NIC : Nutrition Monitoring Intervensi : 1. BB pasien dalam batas normal. 2. Monitor adanya penurunan berat badan. 3. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi. 4. Monitor turgor kulit. 5. Monitor kekeringan,rambut kusam dan mudah patah. 6. Monitor pertumbuhan dan perkembangan. 7. Monitor kalori dan intake nutrisi.

gnosa : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi. NOC : Tissue Integrity : skin and mucous membranes. Kriteria hasil : a. Integritas kulit yang baik bias dipertahankan. b. Tidak ada luka / lesi pada kulit. c. Perfusi jaringan baik.

d. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang. e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan perawatan alami. Skala Nilai : 1 : tidak pernah menunjukkan 2 : jarang menunjukkan 3 : kadang menunjukkan 4 : sering menunjukkan 5 : selalu menunjukkan NIC : Tissue integrity;skin and mucous. Intervensi : 1. Monitor kulit akan adanya kemerahan. 2. Oeskan lotion pada derah yang tertekan. 3. Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali. 4. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.

gnosa : Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun NOC : Risk Control Kriteria hasil : a. Kenali faktor resiko infeksi b. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko. c. Monitor perubahan status kesehatan. d. Mendorong gaya hidup status kesehatan (dari status kesehatan yang buruk ke status kesehatan yang baik). e. Menunjukan perilaku hidup sehat. Skala Nilai : 1 : tidak pernah dilakukan 2 : jarang dilakukan 3 : kadang dilakukan 4 : sering dilakukan 5 : selalu dilakukan NIC : Infection Protection Intervensi : 1. Monitor tanda dan gejala infeksi. 2. Monitor kerentanan terhadap infeksi. 3. Batasi pengunjung. 4. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan dan panas. 5. Ajarkan cara menghindari infeksi.

6. Instrusikan pasien untuk minum obat antibiotik sesuai resep.

gnosa : Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi NOC : Neglect Recorvery Kriteria hasil : a. Nutrisi adekuat. b. Mendapatkan diet yang dianjurkan. c. Pertumbuhan & perkembangan dalam batas normal. d. Kemampuan kognitif dalam batas yang sesuai. e. Mendapat perawatan yang sesuai. Skala Nilai : 1 : tidak pernah menunjukkan 2 : jarang menunjukkan 3 : kadang menunjukkan 4 : sering menunjukkan 5 : selalu menunjukkan NIC : Management behavior Intervensi : 1.Gunakan suara yang lembut dan pelan dalam berbicara dengan pasien. 2. Tingkatkan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuan. 3. Diskusikan dengan keluarga untuk membuat dasar kognitif prainjury. 4. Buat rutinitas untuk pasien. 5. Hindari untuk menyudutkan pasien. 6. Hindari untuk membantah pasien.

gnosa : Kurang pengetahuan mengenai kondisi, diit, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. NOC : Knowledge : disease process Kriteria hasil : a. Menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, dan program pengobatan. b. Mampu malaksanakan prosedur yang dijelaskan. c. Mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat / tim kesehatan lainnya. Skala Nilai : 1 : tidak pernah dilakukan 2 : jarang dilakukan 3 : kadang dilakukan 4 : sering dilakukan

5 : selalu dilakukan NIC : Teaching ;Disease Process Intervensi : 1.Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit. 2. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit. 3. Gambarkan proses penyakitnya. 4. sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara tepat. 5. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan. D. Evaluasi

gnosa : Ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. Kriteria hasil : a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan. b. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi. c. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. d. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. Skala 5 5 5 5

gnosa : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi. Kriteria hasil : a. Integritas kulit yang baik bias dipertahankan. b. Tidak ada luka / lesi pada kulit. c. Perfusi jaringan baik. d. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang. e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan perawatan alami. Skala 5 5 5 5 5

gnosa : Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun Kriteria hasil : a. Kenali faktor resiko infeksi b. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko. c. Monitor perubahan status kesehatan. d. Mendorong gaya hidup status kesehatan (dari status kesehatan yang buruk ke status kesehatan yang baik). e. Menunjukan perilaku hidup sehat. Skala 5 5 5 5 5

gnosa : Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi

Kriteria hasil : a. Nutrisi adekuat. b. Mendapatkan diet yang dianjurkan. c. Pertumbuhan & perkembangan dalam batas normal. d. Kemampuan kognitif dalam batas yang sesuai. e. Mendapat perawatan yang sesuai.

Skala 5 5 5 5 5

agnosa : Kurang pengetahuan mengenai kondisi, diit, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Kriteria hasil : a. Menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, dan program pengobatan. b. Mampu malaksanakan prosedur yang dijelaskan. c. Mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat / tim kesehatan lainnya. BAB IV PENUTUP Marasmus adalah salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemui pada balita terutama di daerah perkotaan. Penyebabnya merupakan multifaktorial antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan untuk menentukan penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit yang lalu. Skala 5 5 5

Pencegahan terhadap marasmus ditujukan pada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik. Pengobatan marasmus ialah pemberian diet, tinggi kalori dan tinggi protein, dan penatalaksanaan di rumah sakit dibagi atas tahap awal, tahap penyesuaian, dan rehabilitasi. Kian banyaknya temuan kasus gizi buruk, baik kwashiorkor, maramus maupun marasmus kwashiorkor menunjukkan bahwa persoalan gizi di Indonesia belum dapat menorehkan tinta emas. Revitalisasi posyandu dan sosialisasi akan kesadaran gizi masyarakat tampaknya perlu terus digaungkan agar penapisan terhadap status gizi dapat berlangsung lebih dini. (http://dokterfoto.com/2008/04/06/marasmus)

DAFTAR PUSTAKA
Behrman, R. E. 1999. Ilmu Kesehatan Anak:Nelson, Edisi 15, vol 1. Jakarta:EGC Johnson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). Mosby Lubis, N. U. 2002. Penatalaksanaan Busung Lapar Pada Balita. http://www.cermin dunia kedokteran.com. diperoleh tanggal 4 Juni 2008 Mansjoer,Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2. Jakarta: Media Aescullapius. Markum, A, H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 1. Jakarta : FKUI.

McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC). Mosby NANDA .2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi & Klasifikasi, Alih Bahasa: Budi Santoso. Prima Medika Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi . Jakarta : EGC No Name. 2008. Marasmus. http://www.dokterfoto.com. diperoleh tanggal 4 Juni 2008 Staf pengajar ilmu keperawatan anak. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful