You are on page 1of 11

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 255

.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (AlBaqarah 2 :255)

Ayat 255 atau lebih dikenal dengan Ayat Kursi adalah ayat yang paling agung dalam Al-Qur'an. Sekian banyak riwayat yang bersumber dari Rasul dan sahabat-sahabat beliau yang menginformasikan hal ini. Antara lain dari seorang sahabat Nabi yang bernama Ubaiy bin Ka'ab yang menceritakan bahwa Nabi saw. pernah bertanya kepadanya: "Ayat apakah dalam Al-Qur'an yang paling agung?" "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu" (ini diulang-ulang oleh Ubaiy), kemudian ia berkata ayat Kursi. Rasul saw. membenarkan Ubaiy. (Diriwayatkan oleh Muslim) Ubaiy juga menguraikan dalam kesempatan lain, bahwa ia pernah bertemu dengan jin dan bertanya kepadanya, apakah bacaan yang dapat menjauhkan manusia dari gangguan jin, sang jin menjawab, "Ayat Kursi". Ketika informasi ini disampaikan Ubaiy kepada Rasul, beliau menjawab, "benar (informasi) si jahat itu". (Diriwayatkan oleh al-Hakim) Kasus yang mirip dialami oleh sahabat Nabi yang lain, yaitu Abu Hurairah, ketika diperintahkan Nabi saw. menjaga kurma sedekah. Ayat Kursi dinamai juga ayatul hifz (ayat pemelihara), karena pembaca yang menghayati maknanya dapat memperoleh perlindungan Allah swt. Dalam konteks ini paling tidak ada dua hal yang dapat dikemukakan. Pertama, ayat ini berbicara tentang Allah swt. dan sifat-sifat-Nya. Kandungan uraiannya saja sudah cukup menjadikan ayat ini ayat yang agung. Apalagi ayat Kursi merupakan satu-satunya ayat yang dalam redaksinya ditemukan tujuh belas kali kata yang menunjuk kepada Allah swt. Enam belas di antaranya terbaca dengan jelas dan satu tersirat. Perhatikanlah terjemahan di bawah ini:
1

"Allah (1) Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia (2) Yang Maha Hidup (3) Kekal, (Tuhan) Tuhan yang terus menerus mengurus (4) (makhluk-Nya). Dia (5) tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (6) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah (7) tanpa izin-Nya (8). Allah (9) mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu Allah (10), melainkan apa yang dikehendaki-nya (11). Kursi (pengetahuan/kekuasaan)-Nya (12) meliputi langit dan bumi. Allah (13) tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah (14) Maha Tinggi (15) lagi Maha Besar (16)

Yang menunjuk kepada Allah tetapi tersirat adalah kalimat "hifzuhumaa, karena patron kata semacam ini menyiratkan kalimat "laa yauuduhu an yahfazahumaa huwa" (tidak lelah Dia memelihara keduanya), sehingga kata "Dia" yang nampak dalam terjemahan di atas, pada hakekatnya tersirat dalam redaksi "Hifzuhumaa". Ayat Kursi--demikian pula al-Mu'awwizatain dipilih untuk dibaca--baik dalam konteks tahlil, maupun bukan--karena ayat-ayat tersebut mengandung makna perlindungan, serta kewajaran Allah untuk dimohonkan kepada-Nya perlindungan, baik bagi yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Hal kedua yang dapat dikemukakan dalam konteks pemahaman rasional adalah hal yang berkaitan dengan kandungan pesan ayat ini. Apabila yang membaca ayat Kursi menghayati maknanya dan hadir dalam jiwa dan benaknya kebesaran Allah yang dilukiskan oleh kandungan ayat ini, maka pastilah jiwanya akan dipenuhi pula oleh ketenangan. Allahu laa ilaaha illa huwa (Allah tiada Tuhan selain Dia). Allah adalah Tuhan yang menguasai hidup mati makhluk, yang hanya kepada-Nya saja tertuju segala pengabdian. Seseorang yang menghayati secara benar makna redaksi ini, maka pastilah ia akan merasakan ketenangan dalam hidupnya. Sebagai ilustrasi Al-Qur`an menggambarkan keadaan seorang yang mengabdi kepada Allah dan yang mengabdi kepada selain-Nya. Ilustrasi tersebut kiranya dapat dipahami secara jelas dengan terlebih dahulu memahami firman Allah berikut: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya` 21 : 22). Betapa tidak kacau sampai binasa. Karena jika ada dua Tuhan, maka Tuhan A dapat memerintahkan matahari terbit dari arah timur sedang Tuhan B dari arah barat. Apa yang terjadi jika planet A mengambil jalur yang berlawanan dengan planet B, kemudian bertemu dan bertabrakan? Bagaimana jadinya, bila api satu ketika membakar, dan saat yang lain menyejukkan? Atau hari ini air mengalir ke tempat yang rendah, dan esok mengalir ke tempat yang tinggi? Kalau demikian halnya, bukan hanya kepastian hukum-hukum (alam) yang tiada, tetapi kehancuran yang terjadi. Manusia yang mengarahkan pandangannya kepada dua Tuhan, keadaannya pun demikian.
2

Boleh jadi ketika itu, terlintas di dalam benak si pembaca, bisikan Iblis yang berkata bahwa yang dimohonkan pertolongan dan perlindungannya itu, dahulu pernah ada, tetapi kini telah "mati", maka penggalan ayat berikutnya, meyakinkannya tentang kekeliruan dugaan tersebut, yakni dengan sifat "al-Hayyu" (yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal). Boleh jadi Iblis datang lagi dengan membawa keraguan dengan berkata: "Memang Dia hidup kekal, tetapi apakah Dia tidak pusing dengan urusan manusia, apalagi si "pemohon". Kali ini penggalan ayat berikut menampik kebohongan ini dengan firman-Nya "al-Qayyum" (yang terus menerus mengurus mahkluk-Nya), dan untuk lebih meyakinkan dilanjutkannya uraian sifat Allah itu dengan menyatakan: "laa ta'khuzuhu sinatun wa laa nauwm" (Dia tidak disentuh oleh kantuk atau tidur) sehingga Dia terus menerus dalam keadaan jaga dan siaga. Dengan penjelasan ini hilang keraguan yang dilemparkan iblis itu. Setelah itu boleh jadi iblis datang lagi dengan membisikkan bahwa: "Dia tidak kuasa menjangkau tempat di mana si pemohon berada, atau kalaupun Dia sanggup, jangan-jangan Dia bisa "disogok" oleh yang bermaksud membinasakan si pemohon, maka untuk menampik bisikan jahat ini, penggalan ayat berikut tampil dengan gamblang menyatakan "lahuu maa fis-samawati wa maa fil ardhi (Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi serta keduanya berada di bawah kekuasaan-Nya). Tidak hanya itu, tetapi ini berlanjut dengan firman-Nya: "man zallazi yasyfa'u 'indahu illa biiznihii" (Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali seizinNya) dalam arti tidak ada lagi yang dapat melakukan sesuatu tanpa izin-Nya. Dia demikian perkasa sehingga berbicara di hadapan-Nya pun harus setelah memperoleh restu-Nya, bahkan apa yang disampaikan harus sesuatu yang hak dan benar. Karena itu jangan menduga akan ada permintaan yang bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kini boleh jadi iblis belum putus asa meragukan pembaca ayat ini. Ia berkata lagi: "Musuh anda mempunyai rencana yang demikian rinci sehingga tidak diketahui Tuhan." Lanjutan ayat Kursi menampik bisikan ini : "Ya'lamu maa baina aidiihim wa maaa khalfahum" (Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka). Yakni Allah mengetahui apa yang mereka lakukan dan rencanakan, baik yang berkaitan dengan masa kini dan masa datang maupun masa lampau, dan juga "wa laa yuhithuuna bisya'i-in min 'ilmihi illa bimaasyaa-a" (Mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu Tuhan melainkan apa yang dikehendaki Tuhan untuk mereka ketahui). Ini berarti bahwa apa yang direncanakan Tuhan tidak dapat mereka ketahui kecuali apa yang disampaikan Tuhan kepada mereka. Untuk lebih menyakinkan lagi dinyatakan-Nya: "wasi'a kursiyuhus samawati wal ardhi (kekuasaan dan ilmu-Nya mencakup langit dan bumi) bahkan alam raya seluruhnya. Kini sekali lagi, boleh jadi iblis datang dengan godaan barunya. "Kalau demikian terlalu luas kekuasaan Tuhan dan terlalu banyak jangkauan urusan-Nya, Dia pasti letih dan bosan mengurus semua itu". Penggalan ayat berikut sekaligus penutupnya menampik keraguan ini, dengan firman-Nya "Laa yauuduhuu hifzuhuma
3

wa huwal 'aliyyul 'azhim" (Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung). Demikian ayat Kursi menanamkan dalam jiwa pembacanya kebesaran dan kekuasaan, serta kemampuan Allah swt. memelihara dan melindungi siapa yang tulus bermohon kepada-Nya.


Allaahu laa ilaaha illa huwa Allah, tiada Tuhan selain Dia Kalimat ini atau semacamnya seperti laa ilaaha ilal Allah dinamai oleh AlQur`an dengan kalimatun thayyibah (kalimat yang penuh kebajikan) dan harus menghasilkan buah yang bermanfaat. Allah berfirman, Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim 14 : 24-25). Ayat di atas tidak hanya menuntut pembaca kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, atau yang berkeyakinan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa agar memijakkan kaki di bumi dan mengarahkan pandangan ke langit, tetapi lebih-lebih menuntut setiap mereka menghasilkan buah-buah yang bermanfaat dalam kehidupan nyata. Laa ilaaha illa Allah atau Ketuhanan Yang Maha Esa diibaratkan sebagai matahari kehidupan jiwa manusia. Kalau dalam kehidupan dunia ini ada matahari yang menjadi sumber hidup makhluk, maka Tauhid itu adalah sumber hidupnya. Kalau tanpa cahaya matahari kehidupan makhluk di bumi kita ini akan binasa, maka tanpa Ketuhanan Yang Maha Esa, kehidupan manusia pun akan binasa. Karena itu, Al-Qur`an mewanti-wanti bahwa : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (An-Nisa` 4 : 116). Jadi ketika seseorang mengucapkan kalimat tauhid, atau memberikan kesaksiannya bahwa Asyhadu an laa ilaaha illa Allah (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah) maka saat itu terdapat tiga unsur dalam kesaksian tersebut. Pertama adalah pengakuan tentang wujud dan Esanya Allah swt., yang memiliki segala sifat kesempurnaan. Saat itu pula si pengucap menyadari bahwa dia sangat kecil di hadapan-Nya. Rasa ini melahirkan unsur kedua syahadat (kesaksian) itu, yaitu kehadirannya yang sangat kecil di samping kehadiran Allah Yang Maha
4

Kuasa. Karena itu kalau filosof Perancis Descartes, pernah berkata, saya berfikir maka saya ada, maka seorang muslim dapat berkata, Saya mengucapkan syahadat, maka saya ada. Hanya saja si pengucap syahadat itu, tidak berhenti di sana, dia lanjut dengan keyakinan bahwa keberadaannya bukan tanpa tujuan, sehingga kalau tadinya telah tergambar sebelum ini wujud Tuhan dengan sifat-Nya yang sempurna, maka si pengucap tersebut berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk meneladani sifat-sifat sempurna itu. Unsur ketiga lahir dari ucapan saya bersaksi. Di sini si pengucap sadar bahwa kesaksiannya disaksikan pula oleh pihak lain. Lingkungan, makhluk, baik manusia maupun bukan, sehingga ini mengantarnya untuk mengakui bahwa dia hidup tidak sendirian. Ada pihak bersama dia, yang boleh jadi memerlukan bantuan, atau paling sedikit memerlukan tenggang rasa.


Al-Hayyu Allah Maha Hidup Dalam arti hidup-Nya kekal tiada akhir. Dia yang menganugerahkan hidup untuk makhluk-Nya, dan Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Kehidupan makhluk bertingkat-tingkat. Hidup tumbuhan berbeda dengan hidup binatang, yang juga berbeda dengan hidup manusia serta malaikat. Bahkan boleh jadi ada yang beranggapan bahwa apa yang kita namakan benda-benda tak bernyawa, pada hakikatnya juga hidup. Dunia timur, dalam falsafahnya juga beranggapan bahwa alam memiliki jiwa. Manusia adalah bagian dari alam, dan keduanya manusia dan alam berasal dari zat yang satu, Yang Maha Hidup. Allah berfirman, Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra ` 17: 44). Ketika membaca Al-Hayyu, kita dituntut mampu meneladani sifat hayat Tuhan dengan cara memberi kesempatan hidup kepada orang lain dan atau memelihara kehidupannya. Bukanlah Allah pemberi hidup? Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Al-Maidah 5 : 32)

Meneladani hidup Tuhan Yang Maha Kekal itu, menuntut manusia melakukan amal-amal kebajikan sehingga namanya dikenang sepanjang masa. Dari sini dapat dipahami mengapa Al-Qur`an menyebutkan bahwa ada orang-orang yang masih menarik dan menghembuskan nafasnya, tetapi dinilai sebagai orangorang mati (baca An-Naml 27 : 80) dan ada pula orang-orang yang telah meninggal dunia yang fana ini, tetapi tetap dinilai sebagai orang-orang yang hidup ( Baca AlBaqarah 2 : 154). Hidup dalam pandangan agama adalah perjuangan. Hidup yang sempurna adalah hidup ukhrawi (akhirat). Ini melahirkan bagi seorang muslim visi yang sangat jauh ke depan sehingga pandangannya tidak hanya terbatas pada kehidupan masa kini, tetapi menembus jauh ke depan melebihi hidup generasinya bahkan hidup dunia ini, karena di sanalah kekekalan dan keabadian. Petaka umat manusia adalah visi dekat, visi duniawi, yang biasanya menghasilkan budaya mumpung. Visi muslim adalah ukhrawi dan karena itu, kehidupan bagi seorang muslim tidak berakhir dengan meninggalkan dunia ini, tetapi berlanjut dan berlanjut sampai kekekalan abadi di akhirat kelak.


Al-qayyum, laa takhuzuhu sinat (un) wa laa naum Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, Dia tidak disentuh oleh kantuk atau tidur. Kata al-Qayyum, terambil dari kata Qaama yang maknanya adalah melaksanakan sesuatu secara bersinambung dan dengan baik, benar serta memenuhi ketentuan. Allah memerintahkan kita shalat dengan firman-Nya aqiimuush shalaat dalam arti laksanakanlah shalat secara bersinambung dengan baik dan benar lagi memenuhi ketentuan. Allah adalah Qayyuum sehingga secara bersinambung dan terus meneus melayani makhluk-Nya. Allah tidak membiarkan alam dan penghuninya berjalan sendiri tanpa pengaturan dan pemeliharaan. Allah tidak seperti perusahaan yang membuat jam otomatis, membiarkan jam itu berjalan sendri, tanpa perusahaan mengetahui di mana jam yang dibuatnya berada dan tanpa ingin tahu apakah yang dibuatnya berjalan dengan baik atau macet. Jangan duga Allah seperti itu. Dia adalah Qayyum. Al-Quran melukiskan bahwa : Semua yang ada di langit dan di bumi selalu bermohon kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.(Q.S. ar Rahman 55: 29) Kesibukan Allah itu adalah untuk memenuhi permohonan dan kebutuhan makhluk-Nya. Bukan hanya manusia, tetapi makhluk sekecil apa pun seperti semut dan serangga. Semua diurus dan diperhatikan serta semua diatur untuk mencapai
6

tujuan penciptaan, karena seperti pernyataan-Nya : Tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. adDukhaan 44: 38-39) Jika makhluk termasuk manusia melakukan sesuatu atau mengarah kepada sesuatu yang bertentangan dengan tujuan penciptaan, Allah Swt. dengan sifat Qayyumiyat-Nya, turun tangan untuk meluruskan arah itu, agar tidak membelok dari tujuan penciptaan. Bukankah seperti dikemukakan dalam surat al-Baqarah, bahwa ketika manusia berhasil menciptakan obat-obat anti serangga, Tuhan menciptakan serangga-serangga baru yang kebal terhadap obat-obat tersebut? Mengapa demikian? Karena Allah Qayyum, dan Dia mempunyai tujuan tertentu bagi penciptaan alam raya ini. Sedemikian sempurna Sifat Qayyumiyat-Nya sehingga seperti bunyi lanjutan ayat laa takhuzuhuu sinatun wa laa naum (Dia tidak disentuh oleh kantuk atau tidur) dalam arti Allah terus menerus dalam keadaan jaga dan siaga mengatur alam raya ini, karena begitu Dia mengantuk atau tidur, maka alam raya akan binasa dan kebutuhan makhluk akan terabaikan. Jika ingin beragama dengan baik, teladani pula sifat Allah yang disebut oleh penggalan ayat di atas. berupayalah mengurus makhluk-mahkluk Allah sesuai kemampuan yang dimiliki, isilah waktu dengan kesibukan itu. Benar, kita tidak mampu untuk tidak mengantuk atau tidak tidur, tetapi kiranya kita dapat mengurangi sedikit dari waktu tidur kita dalam rangka pelayanan. Kiranya kita dapat menahan sedikit rasa kantuk demi memberi perhatian kepada makhluk-makhluk-Nya yang lemah. Itulah buah dari kepercayaan tentang penggalan ayat di atas.


Lahu maa fis samaawaati wa maa fil ardh Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada sesuatupun yang berada di alam raya ini, kecuali milik-Nya. Dia yang menciptakan, Dia juga yang memiliki dan mengaturnya. Benda yang berada di tangan selain-Nya adalah amanat yang dititipkan untuk digunakan sesuai dengan kehendak pemilik itu. Q.S. al-Jatsiyah 45 : 13 menegaskan bahwa : Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Kini dapat kita meneladani sifat Tuhan itu. Dalam arti segala yang berada dalam genggaman tangan kita, kita siapkan untuk kepentingan makhluk-mahklukNya. Anda berkata, Yang demikian itu sangat sulit, bahkan boleh jadi di luar kemampuan manusia, karena Allah sendiri telah menanamkan dalam diri manusia sifat kikir. Anda benar! Tuhan pun tahu itu. Allah menjelaskan: Jika Allah meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir (Karena itu yang dimintanya bukan semua dan jika kamu tetap kikir maka Dia akan menampakkan kedengkiannya (kecemburuan sosial diantara kamu).( Q.S. Muhammad 47: 37) Setelah itu Allah mengingatkan pula : Ingatlah bahwa kamu ini, orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (harta yang ada dalam genggaman tanganmu) pada jalan Allah. Siapa yang kikir, sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Jika kamu berpaling (enggan menafkahkan hartamu) maka Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain (yang diberi-Nya rezeki) lalu mereka tidak akan seperti kamu. (Q. S. Muhammad 47: 38)


Manzal lazi yasyfau indahuu illa bi iznihii Siapakah (Tiada) yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizing-Nya Syafaat terambil dari akar kata yang berarti genap. Jika A membutuhkan sesuatu kepada B, tetapi A merasa tidak mampu untuk meraih maksudnya, maka A menuju kepada C agar dia menggenapkan dirinya dengan si C itu dan bersamasama, atau C sendiri membicarakan permintaan/harapan A kepada B. Boleh jadi yang diharapkan si A bertentangan dengan ketentuan dan ketika hal tersebut dibicarakan C kepada B, boleh jadi B mengabulkan harapan itu karena ia segan untuk menolak, atau takut, atau karena mendapat imbalan materi. Ayat di atas menegaskan bahwa Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali atas izin-Nya. Ini berarti siapapun tidak akan mungkin akan dapat mengajukan permohonan kepada Tuhan untuk siapapun, kecuali kalau terlebih dahulu telah memperoleh izin-Nya. Di tempat lain ditegaskan bahwa : Tidak berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh (dan mengajukan) syafaat itu. (Apabila syafaat diajukan setelah memperoleh izin itu, mereka (yang dimohonkan syafaat tidak dapat mengucapkan satu katapun) sampai dihilangkan kecemasan yang meliputi jiwa mereka (dan barulah setelah itu) mereka berkata : Apa yang telah difirmankan (diputuskan) Tuhanmu? Mereka (yang memohonkan syafaat) menjawab: (Putusan) Yang benar. Dialah (Tuhan) Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Saba 34: 23)

Demikian terlihat dari penjelasan di atas bahwa bukan setiap pemohon diizinkan-Nya untuk mengajukan permohonan. Dia tidak segan menolak, tidak takut dan tidak pula mungkin disogok. Karenanya yang diizinkan mengajukan permohonan hanyalah yang cukup beralasan. Di samping itu, kalau Dia memberi izin dan menerima permohonan itu, maka yang demikian itu adalah atas dasar hak dan kebenaan, sehingga putusan yang ditetapkan pun selalu hak dan benar. Tidak ada penyimpangan dari ketentuan, tidak ada juga pilih kasih. Bila seseorang meneladani Allah dalam sikap di atas, maka bukan saja ia akan menolak sogokan, tetapi juga tidak akan segan menghardik dan mengusir yang merayu atau mengancamnya, atau bahkan dia tidak akan mengizinkan seseorang membicarakan hal-hal yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku.


Yalamu maa baina aidiihim wa ma khalfahum. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka Penggalan ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik yang terdahulu, kini, maupun yang akan datang. Tidak ada sesuatu yang tidak dicakup oleh pengetahuan-Nya. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al-An`am 6 : 59). Allah mengetahui juga segala yang berkaitan dengan manusia, jangankan yang nyata, atau yang tersembunyi dan dirahasiakan, yang lebih dari yang dirahasiakan pun (yang telah berada di bawah sadar manusia) diketahui-Nya. Itulah maksud firman-Nya : Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha 20 : 7) Manusia hendaknya mampu meneladani Allah dalam sifat-Nya Maha Mengetahui. Keistimewaan manusia dibanding dengan malaikat bahkan makhlukmakhluk lain adalah dalam bidang pengetahuan. Karena itu, banyak sekali tuntunan Al-Qur`an maupun sunnah yang menganjurkan manusia agar meraih ilmu sebanyak mungkin dan sekuat kemampuannya. Jangankan manusia biasa, terhadap manusia pilihan yakni Nabi Muhammad saw. pun Allah perintahkan untuk berupaya sambil berdoa : Qul Rabii zidnii `ilman (Berdoalah, Ya Allah tambahlah pengetahuanku. (Thaha 20 : 114) Menuntut ilmu hendaknya dimulai sejak dari buaian hingga ke liang lahad, dan seperti sabda Nabi saw., Hikmah adalah milik sang muslim yang hilang, di
9

manapun diperolehnya, maka ia lebih wajar memilikinya. Petunjuk dan tuntunan di atas adalah dalam rangka upaya memperoleh ilmu yang sebanyak-banyaknya untuk meneladani Allah dalam sifat-Nya Yang Maha Mengetahui, sesuai dengan kemampuan manusia.


Walaa yuhiithuuna bi-syai-in min `ilmihi illaa bimaa syaa-a Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Tuhan kecuali apa yang dikehendakiNya. Ilmu manusia apapun macam dan jenisnya bersumber dari Allah semata. Hakikat ini harus disadari oleh setiap orang khususnya para ilmuan, sehingga pengetahuan tidak mengantarnya bersikap angkuh dan meremehkan orang lain. Di sisi lain penggalan ayat ini mengisyaratkan bahwa masih terlalu amat banyak yang diketahui Tuhan yang tidak mampu dijangkau oleh manusia, atau tidak diajarkan kepada manusia. Ini juga berarti ada hal-hal yang dirahasiakan Allah. Dalam konteks meneladani Allah, agaknya kita dapat berkata bahwa dalam hidup manusia pun terdapat hal-hal yang harus dia rahasiakan. Salah satunya adalah rahasia kehidupan rumah tangga.

.
Wasi`a kursiyyuhus samaawaati wal ardhi wa laa yaudduhu hifhzuhumaa wa huwal `aliyyul `adziim Kekuasaan atau ilmu-Nya mencakup seluruh langit dan bumi, dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ayat ini memperkuat penjelasan tentang sifat-sifat Allah, khususnya sifat ilmu dan kekuasaan-Nya. Dia Maha Tinggi sehingga makhluk tidak dapat menjangkau hakikat-Nya dan Dia Maha Agung karena itu, tidak ada sesuatu yang melelahkan atau mengalahkan-Nya. Demikian ayat Kursi menguraikan sifat-sifat Allah dan menjelaskan betapa yang Maha Tinggi lagi Maha Agung itu, wajar untuk disembah dan dimohonkan perlindungan-Nya. Baik perlindungan di dunia maupun di akhirat, terhadap yang membacanya atau terhadap orang yang dibacakan. Karena itu Siapa yang membaca ayat Kursi sebelum tidur, ia akan memperoleh rasa aman terhadap dirinya, dan akan memperoleh pula keamanan tetangganya, tetanggatetangganya dan penguin-penghuni rumah sekitarnya. Demikianlah sabda Nabi saw.
10

Maha Benar Allah dan Rasul-Nya dalam segala apa yang difirmankan dan disabdakan. Wallahu a`lam bish shawab

11