Edisi 14/ Vol.

VI/Desember 2011 - Februari 2012

KAN D A PATD CP NA M E D I S IP 1 SK

PHARMACIST IS A NOBLE JOBS ORIENTASI PADA PENGUATAN PROFESI KEMBALIKAN PROFESI APOTEKER KE FITRAHNYA
CATATAN KONGRES ILMIAH KE XIX & RAKERNAS IAI 2011 DI MANADO
PD IAI BALI

RUMONDANG MARIA

MENYONGSONG WAJAH BARU APOTEKER INDONESIA

DARI REDAKSI

Media Informasi Farmasi Indonesia ISSN : 2088-2610

Majalah MEDISINA Media Infor masi Farmasi Indonesia merupakan media komunikasi yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) melalui PT. ISFI Penerbitan. MEDISINA terbit setiap tiga bulan sekali pada minggu pertama. Pelindung : Drs. M. Dani Pratomo, Apt., Redaktur Kehormatan: Drs. Nurul Falah EP, Apt. Drs. Saleh Rustandi, Apt. Drs. Masrial Mahyudin., Apt. Drs. Pre Agusta Siswantoro, Apt. Drs. Djoko Suyono, Apt Dra. Meinarwati, Apt. Prof. DR. Dachrianus, Apt. Drs Bambang Triwara, Apt. Drs. Zurbandi., Apt, MM Drs. Sukiman Said Umar., Apt. Drs. Wahyudi U. Hidayat., Apt, M.Sc Pemimpin Umum: Nunut Rubbiyanto, S.Si, Apt. Pemimpin Redaksi: Drs. Azril Kimin, Sp.FRS, Apt Sidang Redaksi: Drs. Noffendri, Apt Dra. Sus Maryati, Apt, MM Dra. Chusun, Apt, M.Kes Staf Redaksi: Evita Fitriani,S Farm, Apt., Mittha Lusianti, S Farm, Apt. Keuangan: Dra. Eddyningsih,Apt., Staf Khusus: Drs. Husni Junus, Apt. Layout & Desain: Dani Rachadian. Alamat Redaksi : Jl. Wijaya Kusuma No. 17 Tomang Jakarta Barat, Telp./Fax.: 021-56943842, e-mail: ptisfi penerbitan@yahoo.com. No. Rekening: a/n. PT. ISFI Penerbitan, BCA KC. Tomang : 310 300 9860.

mantan Ketua ISFI yang sudah berusaha mengubah peran dan citra apoteker di masyarakat sejak era 1980an. PT ISFI Penerbitan yang merupakan dapur dari Medisina juga telah berubah direksinya. Sebagai direksi baru, kami mengucapkan terima kasih kepada direksi lama, terutama Bapak Azwar Daris, yang telah merintis penerbitan Medisina dari nomor pertama, sehingga Ikatan Apoteker Indonesia memiliki media komunikasi yang dapat kita banggakan.
(Azril Kimin)

4

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

Istimewa

JLBUBO!BQPUFLFS!JOEPOFTJB

i dunia ini, satu-satunya yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Itulah kalimat tentang perubahan yang sering dikutip, yang dapat menyadarkan kita agar siap menghadapi perubahan. Kalau kita sadar bahwa perubahan merupakan hukum kehidupan, kita tidak akan terlena dengan kebiasaan dan kenyamanan masa lalu dan menganggapnya sebagai hal terbaik. Jika kita memahami makna ini, niscaya kita akan menghadapi perubahan dengan suka cita, karena di dalam perubahan biasanya ada berkah tersembunyi. Para apoteker di Indonesia kini sedang memasuki era baru. Perubahan mendasar tentang peran apoteker di masyarakat, telah dicanangkan lewat seperangkat regulasi seperti UU No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan dan PP 51 tahun 2009. Tujuan perubahan tersebut adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat saat menerima layanan kefarmasian, meningkatkan mutu praktek kefarmasian sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberi kepastian hukum bagi pasien, masyarakat dan tenaga kefarmasian itu sendiri. Implementasi dari regulasi tersebut kini telah dijalani oleh sebagian besar apoteker di Indonesia, dengan dimulainya registrasi apoteker untuk memperoleh STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker). Perubahan itu pula yang menjadi Laporan Utama Medisina kali ini. Segala macam aktivitas menyongsong perubahan, di samping kemungkinan dampak perubahan, kami coba gali dari berbagai sumber. Di antaranya, laporan dari Kongres Ikatan Apoteker Indonesia dan Rakernas IAI di Menado 28-30 Oktober 2011, yang juga sarat membicarakan perubahan. Ada wawancara dengan Ahaditomo,

D

Dunia Kefarmasian Indonesia Menyongsong Perubahan

Cover : Rumondang Maria, S.Si, Apt

DAFTAR ISI
TOPIK KHUSUS Dua Macam Dispepsia, Asam Penyebab Dispepsia, Hubungan H. Pylori dan Dispepsia Fungsional Penghambat Pompa Proton KILAS BERITA Catatan Kongres Ilmiah ke XIX IAI dan Rakernas IAI 2011 Jerih Payah Yang Membawa Hasil Makalah dan Poster Terbaik Kongres Ilmiah Sosialisasi Permenkes 889/ 2011-12-21 HUT IAI di Kupang Manajemen Baru PT. ISFI Penerbitan PENELITIAN Resistensi Antibiotik pada Sputum Penderita ISNB Temu Putih Unggul Atasi Kanker Serviks
Dani Rachadian

23 24 25 27

28 29 30 31 32 34

Dani Rachadian

35 36 37 38 39

DARI REDAKSI Dunia Farmasi Indonesia Menyongsong Perubahan

07
4
Dani Rachadian

TOKOH Rumondang Maria, S.Si, Apt Prof. Dr. Ernawati Sinaga, MS, Apt Sumanto PRAKTEK KEFARMASIAN CPKB Mengatasi Produk Kembalian Kosmetik

INFO TEKNOLOGI Keunggulan Terapi Pisau Ar-He untuk Kanker

28
41 42 58 59 44

40

SURAT PEMBACA 6 PROFIL UTAMA Dr. Ida Paulina Sormin, MSc, Apt Menekuni Farmasi, Agar Memberi Manfaat 7 LAPORAN UTAMA Menyongsong Wajah Baru Apoteker Indonesia 10 Apotek Rakyat: Kembali ke Jalan Lurus 14 Standar Operasional Apoteker Kompeten 15 Apoteker Indonesia: Kompeten di AS 16 WAWANCARA Drs. Ahaditomo, Apt Kembalikan Apoteker ke Fitrahnya AGENDA KOLOM Elza Sustanti, S.Si, Apt, MH Hubungan Hukum Apoteker dan Pasien Dalam Praktek Kefarmasian Nunut Rubiyanto, S.Si, Apt Apoteker dan Pelayanan Kefarmasian di Klinik

INFO SEHAT Sehat dengan Menjaga Keseimbangan Alam dan Kekebalan Tubuh Rokok Pemicu Sakit Kepala dan Migran Minum Teh, Tulang Kuat PROFIL PD PD IAI Bali Orientasi pada Penguatan Profesi PROFIL USAHA Apotek Rini, Tumbuh Bersama Kepercayaan Pelanggan Apotek Keselamatan, Sukses dengan Swamedikasi CPD Gout dan Hiperurisemia INFO PENDIDIKAN Meningkatkan Kompetensi dengan Program Bedsite Teaching and Conference ALBUM

46 48 50

17 19

54 60

20

56

14

FORUM Drs. M. Dani Pratomo, MM., Apt Ketua Umum PP IAI Siapa Berkeberatan dengan PP. 51/2009?

62

BAGI anggota IAI yang berminat untuk mendapatkan Majalah MEDISINA dapat memesan langsung ke PT. ISFI Penerbitan melalui fax. 021-56943842 atau e-mail: ptisfipenerbitan@ yahoo.com, dengan mengirimkan bukti pembayaran + ongkos kirim, atau bisa juga melalui Pengurus Daerah IAI masing-masing secara kolektif.
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

5

Surat Pembaca
SAYA mahasiswa farmasi, baru satu kali membaca majalah MEDISINA dan sangat tertarik dengan rubrik-rubriknya. Selain berlangganan, di mana saya bisa mendapatkan majalah MEDISINA secara langsung? Apakah ada di toko-toko majalah umum? Di majalah, mengapa tidak disediakan ruang tanya jawab tentang masalah obat dengan apoteker? Naura Hanum Jakarta Majalah MEDISINA saat ini baru bisa didapatkan melalui PT ISFI Penerbitan (berlangganan) atau melalui PD IAI. Kami juga mengirimkan majalah ke universitas dan PTF untuk kelengkapan perpusatakaan. Mengenai rubrik tanya jawab dengan apoteker, terutama tentang masalah obat, akan kami pertimbangkan. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan. SAYA baru saja mengurus STRA kolektif melalui PP IAI dan sampai sekarang saya belum menerima STRA tersebut. Kira-kira masih berapa lama lagi, ya? Anni Mirna Jawa Barat YANG melakukan pengurusan STRA melalui PP IAI jumlahnya sangat banyak, dan PP IAI telah mengirimkan semua berkas ke Kemenkes. Baru-baru ini KFN sudah terbentuk, dan kita semua berharap KFN dapat menyelesaikan STRA sesegera mungkin. Melalui website Kemenkes, anda dapat melihat STRA siapa saja yang telah selesai. Saya mau beri usul agar di Medisina juga menyediakan informasi lowongan kerja, bagaimana? Anwar Apoteker- Solo APAKAH STRA belum tersosialisasi ke apotek-apotek Soalnya, apotek saya tidak pernah meminta perubahan tersebut dan tidak pernah ada langkah untuk menambah apoteker. Desvi Rivi Tangerang SOSIALISASI telah dilakukan dari IAI dan PD IAI kepada sejawat apoteker. Saat ini, sejawat apoteker diminta lebih dulu membenahi administrasinya, sambil berjalan sosialisasi juga dilakukan kepada apotek dan mudah-mudahan bisa dilakukan kepada PSA nya. Sosialisasi tidak hanya pekerjaan IAI tapi juga semua sejawat apoteker yang mengetahui tentang perubahan tersebut. Mari kita bekerjasama.

USULAN yang bagus. Mudah-mudahan kami bisa menambahkan rubrik tersebut dalam majalah edisi selanjutnya. SAYA sangat appreciated saat melihat para apoteker berkumpul dan berdiskusi baru-baru ini di televisi, dalam acara Farmasi untuk kita. Selamat atas tayangnya acara tersebut. Semoga tokoh-tokoh apoteker kita akan sering muncul dalam acara-acara serupa. Mirna Annisa Jakarta TERIMA kasih atas appreciatednya. Acara tersebut diusung untuk menginspirasi apoteker dan memberikan pemikiran positif kepada sejawat apoteker. Semoga satu saat kita mendapat kesempatan mengangkat acara serupa.

RALAT
RALAT pada Majalah Edisi 13/ Vol. VI/ Juli-Agustus 2011 pada rubrik Tokoh, Judul: “Letnan Kolonel Dra. Widyati, Sp.FRS, Apt. MILITER KANDIDAT DOKTOR” terdapat kesalahan pada penulisan jabatan beliau pada alinea kedua, dimana tertulis “Kepala Instalasi Farmasi RSAL Dr. Ramelan” seharusnya ditulis Wakil Kepala Instalasi Farmasi RSAL Dr. Ramelan. Sedangkan yang menjadi Kepala Instalasi Farmasi RSAL adalah Drs. Muhammad Sadar, HN, Apt Kolonel Laut (K). Atas kekeliruan tersebut Redaksi meminta maaf.

REDAKSI menyediakan ruang untuk para pembaca untuk menymbangkan tulisan baik itu artikel, berita, kolom, dan sebagainya untuk dimuat di majalah MEDISINA. Tulisan yang dimuat tetap selaras dengan visi dan misi majalah MEDISINA, sehingga kami dari redaksi berhak untuk melakukan pengeditan seandainya dianggap perlu. Naskah dikirim via e-mail ke alamat ptisfipenerbitan@ yahoo.com. untuk informasi hubungi Redaksi MEDISINA telepon: 021-56943842, Untuk setiap tulisan yang dimuat akan mendapatkan imbalan yang pantas dari Redaksi. Selamat berkarya dan terima kasih.

6

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

PROFIL UTAMA
Di usia yang masih relatif muda, Dr. Ida Paulina Sormin, M.Si, Apt berhasil meraih pencapaian yang membanggakan, baik dalam karir maupun pendidikan. Saat ini Ida telah meraih gelar Doktor dari Universitas Hasanuddin Makassar dan menjabat sebagai Manajer Pemasaran di PT. Prodia DiaCRO Laboratories (Prodia the CRO), salah satu perusahaan yang ada di Prodia Grup yang memfokuskan pada pelayanan penelitian untuk uji klinis. Bagaimana upaya dan rahasia sukses dari Ida Paulina Sormin, Medisina berusaha mengungkapkannya untuk pembaca melalui wawancara langsung dengan beliau pada medio September 2011, di kantornya Prodia Pusat di kawasan Kramat Raya Jakarta Pusat.
Dani Rachadian

Dr. Ida Paulina Sormin, M.Si, Apt,
Marketing Manager PT Prodia the CRO Laboratories

APOTEKERYANG BERKARIR DI UJI KLINIK
asa kecil dan remaja Dr. Ida Paulina Sormin, M.Si, Apt dihabiskan di kota kembang Bandung. Karena itulah walaupun dilahirkan dari keluarga Batak, Ida mengaku lebih fasih berbahasa Sunda dibandingkan bahasa Batak. Ida dilahirkan di kawasan yang berudara sejuk, Lembang – Bandung tanggal 22 Desember 1968, Ida menjalani pendidikan dari SD, SMP, SMA hingga kuliah di kota Bandung. Setelah lulus dari SMA Negeri 2 Bandung tahun 1986 Ida Paulina mengambil pendidikan Sarjana Farmasi di Universitas Pajajaran, kemudian melanjutkan pendidikan profesi Apoteker tahun 1992 di almamater yang sama. Ketertarikannya dengan

M

dunia Farmasi dilatarbelakangi karena ketika masa pendidikan SMA Ida sangat menyukai pelajaran Kimia, Ida sangat mengagumi guru Kimia yang mengajarkannya, sehingga membuat Ida tertarik dan memotivasi dia untuk ingin lebih mendalami pelajaran kimia sehingga akhirnya dia mengambil program studi farmasi. Selain itu menurut Ida dunia farmasi sangat erat hubungannya dengan kesehatan manusia, dan dia sangat ingin bisa berkiprah banyak disitu. “Saya ingin lebih mengoptimalkan diri saya agar bisa membantu dan bermanfaat bagi orang lain! tegas Ida” Ketika melakukan tugas penelitian di S1, Ida melakukan penelitian Kimia Klinik dan itu dilakukannya

di Laboratorium Klinik Prodia. Pengalaman penelitian itulah yang awalnya mengantarkan dia bisa meniti karir di Prodia Grup, kebetulan yang menjadi dosen pembimbingnya adalah Andi Wijaya yang juga merupakan salah satu pemilik PT. Prodia Group. “Bahkan ketika melanjutkan pendidikan ke S2 dan S3 di Universitas Hasanuddin Makassar Beliau pula lah yang menjadi salah satu pembimbing saya”, tutur Ida. Saat ini Ida menjabat sebagai Marketing Manager di Prodia the CRO, yang melayani penelitian uji klinis untuk pengembangan obat baru, yaitu untuk menilai efek, khasiat dan kemanfaatan obat baru sebelum mendapat izin edar. Dengan dilakukannya uji klinis yang baik dapat melindungi keamanan,
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

7

PROFIL UTAMA
melakukan apa yang dilakukan oleh Ayah saya”, Ida melanjutkan. Selain sang Ayah juga ada sosok Andi Wijaya yang menjadi pimpinan di Prodia dan pembimbing di masa Ida kuliah tentunya sangat memberikan pengaruh cukup kuat bagi Ida, khususnya dalam menjalankan pekerjaannya, bagaimana pola manajerial, gaya kepemimpinan, dan budaya kekeluargaan yang dicontohkan oleh Andi Wijaya menjadi acuan bagi Ida dalam menjalankan tugasnya hingga saat ini. Harapan Ida sangat sederhana, dia hanya ingin menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain, terutama bagi keluarganya, sehingga sebisa mungkin Ida selalu berusaha agar bisa memiliki waktu luang yang lebih banyak dengan keluarganya, khususnya untuk putranya yang semata wayang yang saat ini sudah menginjak remaja. “Tentunya harus lebih banyak didampingi”, tegas Ida mengakhiri sesi wawancara dengan Medisina. (dra) sina.
Dok. pribadi

Bersama mentor dan atasannya di Prodia, Bapak Andi Wijaya.

keselamatan dan kesehatan masyarakat pengguna. Ida menuturkan bahwa di awal karirnya ketika sudah lulus dari Apoteker Universitas Pajajaran sempat bekerja dua tahun di Laboratorium Klinik Prodia Cabang Yogyakarta, namun ketika sudah menikah maka dia pindah ke Laboratorium Klinik Prodia Cabang Jakarta sebagai Unit Operation Manager. Kemudian pada tahun 2009 beliau menjadi Marketing Manager di Prodia the CRO yang juga merupakan salah satu perusahaan dari Prodia Grup hingga saat ini. Bekerja di satu perusahaan untuk waktu yang sangat lama memang luar biasa, ini pula yang dialami oleh Ida Paulina. Lebih dari 15 tahun Ida meniti karir di Prodia. Ida beralasan hal ini mungkin biasa, karena Ida sudah sangat mencintai pekerjaannya. Apalagi karena Andi Wijaya sebagai salah satu owner yang juga menjadi pembimbing penelitian Ida baik di S1, S2, dan S3 tentunya menjadi figur yang sangat kuat menjadi alasan mengapa Ida sangat mencintai tempat dia bekerja. “Di Prodia kita dituntut untuk tidak pernah berhenti belajar, Prodia memberi kesempatan dan beasiswa untuk karyawannya yang hendak melanjutkan studi di tingkat yang lebih tinggi. Program beasiswa ini pula yang

membantu Ida menyelesaikan studi lanjutannya di S2 dan S3. Saat ini Ida sudah dikaruniai oleh satu orang anak laki-laki yang sudah memasuki usia remaja yaitu 14 tahun. Ida mengaku keinginan untuk memiliki anak lebih dari satu, namun hingga saat ini keinginan untuk menambah anak lagi belum terwujud. Akhirnya Ida menerima keaadaan ini dengan mensyukuri apa yang bisa dimilikinya saat ini. Lagi pula Ida menyadari dengan faktor usia saat ini sangat beresiko untuk hamil dan melahirkan. Pencapaian baik dari pendidikan, karir yang membanggakan ini Ida sadari sebagai anugerah dan kasih karunia dari Tuhan Yang Maha Baik, dan juga hasil keuletan dan semangat pantang menyerah yang Ida yakini untuk terus berusaha mendapatkan cita-citanya. Ida mengakui bahwa sifat ulet dan pantang menyerah itu merupakan teladan dari sang Ayah. Bahkan kekaguman akan semangat sang Ayah terus menjadi kebanggaan dari Ida, “Bapak saya di usia yang sudah mencapai hampir 80 tahun dan sempat pula terserang penyakit stroke, namun masih memiliki semangat yang tinggi dan sanggup mengelola bisnis pertanian dengan 40 karyawan hingga saat ini!”, ujar Ida. “Kalau saya belum tentu bisa

LENGKAPI KOLEKSI REFERENSI ANDA BUKU ISO FARMAKOTERAPI EDISI 1 & 2 TERSEDIA DI TOKO-TOKO BUKU DI KOTA ANDA INFORMASI: PT. ISFI PENERBITAN 021-56943842

8

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

LAPORAN UTAMA
dok. KemKes RI

P
10

Sudahkah masyarakat merasakan keberadaan apoteker? Sudah mampukah apoteker berdiri sejajar dan setara dengan profesi kesehatan lain? Atau masih inferior di depan profesi kesehatan lain?
kesan masyarakat, terutama ketika berinteraksi di apotek komunitas, yang di banyak tempat nyaris tak mendengar peran apoteker. Faktanya, banyak apoteker melakukan pekerjaan kefarmasian secara paruh waktu, bahkan sangat pelit waktu. Apotek yang seharusnya merupakan rumah apoteker untuk melaksanakan praktek kefarmasian, nyatanya menjadi asing bagi sebagian besar apoteker Indonesia. Idealnya, apoteker juga melakukan praktek mandiri seperti halnya dokter – tidak gamang di rumahnya sendiri – dan sadar ia bukanlah orang gajian pemilik apotek yang memanfaatkan ijazahnya saja (datang ke apotek cukup sekali seminggu atau sebulan sekali demi mendapatkan gaji sekadarnya). Kesan ini seakan mendapat pembenaran, karena tanpa kehadiran apoteker apotek tetap jalan – tak beda dengan bisnis retail pada umumnya. Ada yang berpendapat, keterasingan tersebut disebabkan apoteker bingung mau mengerjakan apa di apotek karena perannya sudah diambil alih oleh jajaran tenaga kerja lainnya yang tak jarang merupakan tenaga kerja yang tidak kompeten. Jarangnya kehadiran apoteker di apotek sudah menjadi “penyakit kronis” dan rupanya bukan monopoli apoteker senior saja. Apoteker yang baru menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi pun banyak yang tertular “penyakit” hanya datang ke

MENYONGSONG WAJAH BARU APOTEKER INDONESIA

ertanyaan di atas, sekaligus otokritik terhadap para apoteker Indonesia, sempat dilontarkan oleh Sofiarman, Ketua Majelis Pembina Etik Apoteker (MPEA ) IAI pada pembukaan Kongres Ilmiah dan Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia di Menado 28-30 Oktober 2011. Hampir semua apoteker kelihatannya tak membantah kalau eksistensi apoteker di Indonesia dianggap belum semantap profesi lainnya, seperti dokter dan notaris, yang dalam pekerjaannya selalu berinteraksi dan memberikan manfaat langsung kepada kliennya . Anggapan ini tercermin juga dari

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

LAPORAN UTAMA
apotek kalau mau menandatangani gaji bulanan. Perilaku ini semakin membuat stigma apoteker jarang ada di apotek menjadi semakin kuat. Jarangnya apoteker di apotek menyebabkan beberapa pemilik sarana apotek yang hanya mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya tergoda membeli obat obatan dari jalur tidak resmi , dan tak jarang pula menjual barang-barang ilegal (tak punya izin edar). Tentu saja tindakan ini mengandung resiko dan dapat menyeret apotek ke ranah hukum, dan sedikit banyak apoteker bersangkutan mesti bertanggung jawab, walau kondisi ini terjadi tanpa sepengatahuannya. Asisten apoteker yang selama ini tampil penuh waktu di apotek, seperti yang mencuat pada blog anggota PAFI, tampaknya mahfum bahwa perubahan untuk meningkatkan kualitas dunia farmasi di Indonesia mau tidak mau harus dilaksanakan. Mereka sadar konsep jual beli obat lewat asisten apoteker yang terjadi selama ini harus ditinggalkan. Asisten apoteker tidak boleh lagi melayani pasien atas nama Apoteker, sebab akan ada dampak hukum bagi mereka (melanggar pasal 198 dari UU Kesehatan 2009 dan juga terkait kewenangan profesi sebagaimana diuraikan dalam PP 51/09 ) Namun keadaan ini di beberapa daerah sudah mulai dikoreksi oleh pengurus daerah Ikatan Apoteker Indonesia. Di Yogyakarta misalnya, sudah jarang ditemukan apotek buka tanpa kehadiran apoteker di dalamnya. Di Purwokerto dan sekitarnya, menurut ibu Hindun Apt yang diwawancarai Medisina, sudah sebagian besar apotek tutup bila ada apoteker berhalangan masuk. Dituturkan pula oleh ibu Hindun, ada apotek milik apoteker yang dengan kesadaran sendiri ditutup karena yang bersangkutan akan lama tidak ditempat karena mengikuti program S3 di UGM, Yogyakarta. Beberapa apotek juga tidak lagi menerapkan hanya 1 apoteker yang bekerja di apoteknya, terutama apotek jaringan seperti apotek K24, Kimia Farma. Apotek non jaringan pun mulai menambah apoteker pendamping. Dan yang penting apoteker tersebut selalu “nongkrong” di apotek - tidak lagi pasang papan nama seperti dahulu. Bahkan di di Surabaya ada apotek yang memiliki 5 apoteker pendamping (termasuk apoteker magang). Untunglah dunia farmasi Indonesia akan dibenahi secara mendasar oleh pemerintah. Landasan hukum untuk perubahan tersebut cukup kuat: PP 51 tahun 2009 dan UU Kesehatan no 36 tahun 2009. Pemerintah dan organisasi IAI sudah sepakat, tidak ada lagi kata mundur demi mengembalikan profesi apoteker ke jalan yang benar – seperti praktek kefarmasian di negara maju yang bertujuan melindungi masyarakat dalam mendapat dan menggunakan obat secara benar. Ada baiknya kita simak pernyataan Ketua IAI, Dani Pratomo pada Rakernas IAI 2011: “ Kita harus berinvestasi sejak sekarang. Jika kita bisa memetik buahnya itu baik, tapi kalau pun tidak, anak cucu kita akan mewarisi masa depan yang lebih baik dari kita. Mari berpikir tidak hanya kepentingan di depan mata, tetapi kepentingan generasi yang akan datang “. APOTEKER INDONESIA: BERSIAP MENGHADAPI PERUBAHAN Demi perubahan pula, sejak Juli 2011 para apoteker di tanah air sibuk berbenah. Bersama IAI pusat dan daerah mereka terpacu untuk mempersiapkan diri menjelang dilaksanakannya regulasi baru mengenai praktek maupun pekerjaan kefarmasian. Kesibukan tersebut terjadi setelah terbitnya Permenkes No. 889 tahun 2011 tentang registrasi, izin praktek, dan izin kerja tenaga kefarmasian yang memberikan tenggat hingga 31 Agustus 2011 untuk dilaksanakan - sekaligus sinyal jelas akan diberlakukannya PP 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian dan Undang Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 Regulasi yang akan diterapkan memang akan merubah secara mendasar wajah kefarmasian di Indonesia, di antaranya: • Pelayanan kefarmasian hanya dapat dilakukan oleh apoteker yang terdaftar, memiliki izin dan kompeten. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Dengan demikian apotek hanya dapat beroperasi bila ada apoteker di tempat. Analoginya adalah tempat praktek dokter, yang tak dapat dilangsungkan bila dokter tidak ada. • Praktek kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan (pasal 108 UU no 36 Tentang Kesehatan). Selain apoteker, tenaga yang dimaksud adalah sarjana farmasi, asisten apoteker dan D3 Farmasi yang
Evita Fitriani

Pelayanan Kefarmasian. Berikan informasi yang selengkap-lengkapnya kepada pasien.

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

11

LAPORAN UTAMA
• telah terdaftar dan memilik SIK. Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan dilarang mengadakan, menyimpan, mengolah, mempromosikan, dan mengedarkan obat dan bahan obat yang berkhasiat. Ancaman pidana akan diberlakukan apabila orang tidak berwenang melakukan pekerjaan kefarmasian. Dalam bahasa sederhana, profil apoteker Indonesia masa depan tampaknya adalah apoteker yang berada di garis depan pelayanan kefarmasian. Ia melaksanakan praktek penuh waktu di apotek, melakukan dan mengawasi pekerjaan kefarmasian. Mengawasi semua pekerjaan di apotek sesuai dengan prosedur standar yang telah ditetapkan, dan tidak akan meninggalkan apotek kecuali sudah ada apoteker penggantinya. Ia berkomunikasi langsung dengan pasien lewat penyerahan obat resep – tidak pernah mewakilinya kepada tenaga lain yang tidak kompeten dan berwenang, dan memberikan cara pemakaian yang benar demi efektifnya obat yang diberikan. Ia sangat piawai berkomunikasi karena ia selalu menambah ilmu kefarmasian dan kedokteran secara berkesinambungan, dan sangat akrab dengan teknologi informasi. MENGURANGI RESIKO DI TANJAKAN PERUBAHAN Secara umum para apoteker di Indonesia sangat lega dengan keluarnya peraturan dan Undang Undang yang memberikan peran jelas bagi apoteker untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dalam pelayanan sediaan farmasi, distribusi atau penyaluran sediaan farmasi, produksi sediaan farmasi, dan pengadaan sediaan farmasi. Walau awalnya banyak sikap skeptis tentang peraturan baru ini (mengingat gagalnya peraturan hampir serupa - PP 25 tahun 1980), nada optimis akan lahirnya dunia kefarmasian yang sehat di tanah air kian menggema. Apalagi kalau semua apoteker di tanah air bersatu padu mengawal pelaksanaan regulasi yang akan membenahi dunia kefarmasian di tanah air. Kekuatiran implementasi PP 51 akan bernasib seperti PP 25 tahun 1980 juga ditepis oleh Ahaditomo, mantan Ketua ISFI dan kini anggota KFN seperti yang diutarakannya kepada Medisina “Sebagai anggota KFN, saya sangat optimis atas terlaksananya ketentuan pelayanan kefarmasian mendatang. Menurut saya pribadi, PP 51/09 telah mengisi semua kekurangan yang ada di PP 25/80. PP 51/09 melihat apoteker sebagai subjek hukum yang definitif sehingga semua masalah yang terkait dengan proses farmasi yang berimplikasi hukum menjadi
dok. KemKes RI

Registrasi Apoteker). Dan kegiatan ini telah diikuti ribuan apoteker dengan antusias. Untuk mempercepat, semua jajaran PB IAI dan PD IAI telah melakukan proses pengumpulan dokumen yang diperlukan untuk pembuatan STRA secara berkelompok di daerahnya masing-masing. Ada juga sebagian apoteker yang mengurus STRA langsung ke sekretariat KFN di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta. Sesungguhnya menurut Permenkes 829 kegiatan untuk memperoleh STRA tersebut berakhir 30 Agustus 2011. Namun melihat banyaknya kendala di lapangan, seperti terlambatnya pembentukan KFN (organ yang berwenang menerbitkan STRA, baru

Pelantikan Anggota Komite Farmasi Nasional (KFN).

jelas, siapa subjek hukumnya dan apa objek hukumnya. Ini tentu berbeda dengan pelaksanaan ketentuan PP 25/80 yang tidak memiliki kekuatan hukum yang cukup (bukan UU) dan perangkat pelaksanaan yang tidak lengkap. Kesenjangan pelaksanaan proses kefarmasian Indonesia saat itu, kelemahan konstruksi hukum PP 25/80 serta kelemahan implementasinya oleh semua fihak, mulai sistem birokrasi kesehatan,hukum dan organisasi profesi merupakan faktor dominan kegagalan PP 25 saat itu.” Kegiatan pertama yang harus dilaksanakan untuk melaksanakan regulasi baru tersebut adalah melaksanakan registrasi untuk memperoleh STRA (Surat Tanda

dilantik 22 Agustus 2011) penerbitan STRA turut terlambat pula. Bahkan soal Batas akhir pengurusan STRA akhirnya diundur hingga 31 Desember 2011 (surat edaran Kemenkes tertanggal 7 September 2011). Masalah keterlambatan penerbitan STRA agaknya dapat dimaklumi banyak sejawat apoteker. Namun ada juga yang penasaran karena melihat tidak berurutnya penerbitan STRA. Hal ini mengemuka dalam Konpernas di Menado akhir Oktober 2011. Banyak pertanyaan yang belum terjawab: Mengapa STRA sejawat yang baru belakangan diserahkan ke KFN lebih dahulu terbitnya dibandingkan sejawat yang sudah jauh hari mengurusnya. Mengapa STRA yang dikelola secara

12

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

LAPORAN UTAMA
berkelompok oleh PD IAI belum ada yang diterbitkan? Mengapa STRA si A lebih dahulu terbitnya dibandingkan si B padahal waktu mengurusnya bersamaan? Terlepas dari masalah tersebut, untuk mempercepat penerbitan, penandatangan STRA tidak lagi dilakukan oleh 1 orang saja (ketua KFN), tapi juga dilakukan oleh 4 anggota KFN yang berdomisili di Jakarta. Walau para apoteker sepakat untuk melaksanakan PP 51 dan UU Kesehatan No. 36 tahun 2009, penafsiran yang beragam tentang bagaimana mengimplementasikan pasal pasal pada PP 51 dan UU Kesehatan No. 36 memicu polemik yang cukup ramai juga di kalangan apoteker di tanah air. Polemik hangat terjadi di milis-milis, seperti milis alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Wacana boleh tidaknya pegawai negeri, pegawai RS, dan apoteker di Puskesmas merangkap menjadi apoteker penanggung jawab di apotek swasta mendominasi diskusi tersebut. Pengertian dari pihak regulator dan pengurus IAI di berbagai daerah pun juga tidak seragam sehingga perlu kearifan semua pihak agar implementasi yang seragam dan adil tercipta untuk semua pihak. Menurut Ahaditomo setiap perubahan pasti akan mengalami penolakan terlebih dahulu. Itu hal yang sangat manusiawi. Justru di situlah tantangan untuk kita semua, terutama untuk KFN. Yaitu menghadapi pihakpihak yang melakukan penolakan atau juga cenderung skeptis. Maka, ini juga menjadi pekerjaan rumah untuk profesi IAI, karena tantangan paling besar datangnya dari pihak dalam (apoteker sendiri). Dani Pratomo, ketua IAI, juga menyadari, tak sedikit apoteker yang skeptis dengan perubahan nasib yang akan dialami pasca implementasi PP No 51 tahun 2009, terutama apoteker yang merasa diuntungkan oleh keadaan status quo. Diantara mereka bahkan ada yang terang-terangan menolak PP No 51 tahun 2009 karena dianggap merugikan kepentingan pribadinya. Polemik ini juga mencuat pada Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia di Menado 28-30 Oktober 2011. Ada dua pendapat yang mencuat. Pertama yang menginginkan PP 51 dilaksanakan segera tanpa kompromi, kedua agar implementasi PP 51 dilakukan secara bertahap mengingat banyaknya problema di lapangan. Salah satu problema adalah minimnya tenaga apoteker di kota-kota di Indonesia Timur. Faktanya, hampir semua apoteker tersebut adalah pegawai negeri yang merangkap bekerja sebagai apoteker penanggung jawab di apotek swasta. Bila terhadap apoteker di RS dan puskesmas dilarang menjadi APA
Dani Rachadian

Noffendri, S.Si, Apt. Menjaga Integritas profesi.

di apotek lain , tentulah apotek swasta yang mereka kelola ketika sore hari akan tutup karena ketidak beradaan apoteker. Mengingat pula masih banyaknya penafsiran berbeda terhadap peraturan baru ini, ada pula yang menyarankan agar pelbagai persepsi terhadap peraturan yang ada disamakan dahulu disimulasikan untuk mencegah hal-hal yang dapat merugikan dunia farmasi Indonesia. Kesulitan lain juga akan menimpa banyak apotek di kota besar seperti Jakarta yang tidak segera menyiapkan apoteker penuh waktu dan apoteker pendamping, mengingat Pasal 21 ayat 2 PP 51 menyatakan: Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker. Jika apoteker yang sudah ada tidak bersedia

berpraktek penuh waktu, tentulah akan melanggar hukum bila apotek tetap buka seperti sediakala. Beberapa apotek memang mengandalkan operasionil apotek bukan kepada apoteker penuh waktu, mengingat sulitnya mendapatkan apoteker yang sesuai dengan kesanggupan keuangan apotek (tidak semua apotek memiliki cash flow bagus) Kelompok apotek ini, yang biasanya menggaji apoteker sangat rendah tentu mengalami kesulitan untuk menggaji 2 apoteker full time yang pasti tidak mau dibayar tidak wajar seperti dahulu Diperkirakan akan terjadi eksodus apoteker dari apotek yang selama ini menggaji apoteker dengan nilai di bawah kewajaran. Pihak apoteker kini akan berpikir dua kali menerima gaji yang setara UMR tapi harus 8 jam berpraktek di apotek. Di samping itu, apoteker yang selama ini bekerja paruh waktu di apotek, tetapi waktunya tersita banyak untuk pekerjaan utamanya tentu akan mengundurkan diri pula sebagai apoteker Penanggung Jawab. Noffendri, S.Si, Apt, misalnya. Untuk menjaga integritas dirinya, 1 November 2011 ia melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Kota Serang untuk pencabutan Surat Izin Apotek (SIA) apotek Sumber Sehat di Serang dengan alasan kesibukannya sebagai dosen tidak akan memungkinkannya bisa memenuhi pasal 21 ayat 1 PP 51 (Penyerahan dan Pelayanan Resep dokter harus dilaksanakan oleh Apoteker). Agaknya implementasi PP 51 tersebut perlu dikawal secara bijak, ada cukup banyak apotek, terutama di tempat terpencil, yang mengalami kesulitan menghadirkan apoteker selama jam buka mengingat terbatasnya tenaga di sana, yang rata-rata merangkap sebagai pegawai negeri. Juga akan ada apotek yang “sempoyongan” karena akan mengeluarkan biaya lebih besar, terutama apotek beromset kecil – yang selama ini keteteran bersaing dengan apotek jaringan (margin keuntungan apotek jaringan besar karena mampu mendapatkan diskon besar karena selalu membeli obat dalam partai besar)(ak)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

13

LAPORAN UTAMA

APOTEK RAKYAT:
Dani Rachadian

KEMBALI KE JALAN LURUS?
menjual obat-obat dalam jumlah partai besar. Tengoklah apotek rakyat di pasar Pramuka, banyak sekali yang menjual obat dalam partai besar untuk dijual kembali, tanpa memberikan faktur/ kuitansi penjualan yang benar (tanpa identitas apotek). Menurut pengamatan Medisina, di apotek Rakyat Pramuka siapapun dapat membeli obat daftar G tanpa resep dalam jumlah berapapun. Sehingga patut disimpulkan intensitas pengawasan apoteker di apotek rakyat jauh lebih rendah dari apotek biasa. Seharusnya apoteker di apotek rakyat wajib memeriksa resep dan memeriksa kesesuaian jumlah/dosis obat yang diberikan kepada pembeli. Dan juga menjaga agar obat yang diberikan apotek yang dikelolanya merupakan obat yang baik. PP 51 dan Undang Undang Kesehatan ternyata tidak sedikitpun menyinggung keberadaan apotek rakyat. Dengan demikian “keistimewaan” yang diberikan kepada apotek rakyat (4 apotek berpatungan menggaji 1 apoteker penanggung jawab) tampaknya sudah kehilangan landasan hukumnya dan harus mengikuti ketentuan tentang apotek pada umumnya. Menarik juga untuk menyimak kebijakan apa yang akan diterapkan terhadap apotek rakyat yang sejak awal keluar dari “pakem pelayanan kefarmasian” tersebut. Di samping apotek rakyat, ada yang memperkirakan banyak apotek biasa akan mengalami “seleksi alam”. Pemilik sarana yang tidak nyaman dan sulit menyesuaikan diri dengan regulasi ini akan meninggalkan bisnis apotek. Di sisi lain sudah sewajarnya apoteker sendiri siap dan berperan penuh mengisi kekosongan tersebut, agar kebutuhan rakyat akan obat bermutu dan terjangkau dapat dijaga. (ak)

A

Pasar Pramuka : Perlu keseriusan pemerintah untuk mengawasi distribusi obat di masyarakat.

potek Rakyat mulai hadir di dunia farmasi Indonesia sejak 2007, berdasarkan SK Menteri Kesehatan No. 284/2007, yang saat itu dijabat Siti Fadilah Supari. Pada saat pencanangan apotek rakyat, diumumkanlah bahwa misi apotek rakyat adalah untuk memperluas akses obat murah dan terjamin kepada masyarakat, selain untuk menertibkan peredaran obatobat palsu dan ilegal, serta memberikan kesempatan pada apoteker untuk memberikan pelayanan kefarmasian. Karena itu pemberian izin kepada toko obat yang akan menjadi apotek rakyat dipermudah, beberapa apotek rakyat boleh bergabung menggaji 1 apoteker penanggung jawab, tetapi juga ada larangan, yakni tidak boleh melayani resep racikan, menjual obat dalam partai besar dan tidak boleh menjual psikotropika dan narkotika. Namun banyak pihak menduga, diluncurkannya apotek rakyat sesungguhnya cara pintas untuk melegalkan bisnis ratusan toko obat

yang banyak menyalurkan obatobat daftar G di Pasar Pramuka dan Jatinegara. Apakah kebijakan tersebut tidak senafas dengan peraturan lain yang ada tampaknya dikesampingkan sama sekali saat itu. Berkat kebijakan tersebut lahirlah ratusan apotek rakyat, yang sebagian besar terkonsentrasi di Pasar Pramuka dan Pasar Jatinegara, Jakarta. Apakah keberadaan apotek rakyat pernah dievaluasi? Menurut investigasi Medisina walaupun apotek rakyat memiliki apoteker (umumnya 1 apoteker untuk 4 apotek rakyat), boleh dikatakan hampir tidak ada apoteker yang menunggui apotek tersebut. Seorang apoteker yang menjadi penanggung jawab apotek rakyat terus terang mengakui bahwa ia ke apotek rakyat paling banter 1 bulan sekali, untuk mengambil gaji yang berasal dari 4 apotek yang memakai namanya sebagai penanggung jawab. Dan hampir semua apotek rakyat melakukan penyimpangan dari batasan-batasan yang seharusnya tidak boleh dilakukan, karena masih mewarisi kebiasaan toko obat, terutama

14

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

LAPORAN UTAMA

STANDAR OPERASIONAL

P

APOTEKER KOMPETEN
ekerjaan kefarmasian di Indonesia diharapkan dilaksanakan oleh apoteker yang kompeten. Kompetensi didefinisikan sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugastugas di bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas, 2002). Idealnya, apoteker yang akan melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sudah memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan organisasi profesi. Dalam masa peralihan ini persyaratan lulus uji kompetensi tidak dipersyaratkan untuk memperoleh STRA, namun tidak akan ada kompromi lagi dimasa PP 51 sudah berjalan. Apalagi kalau pemerintah mengeluarkan peraturan tidak diperlukan lagi izin sarana bagi apoteker yang membuka apotek, sebagaimana halnya dokter tak memerlukan izin sarana dalam melakukan praktek pribadi. Tentulah apoteker yang benar-benar kompeten yang dicari banyak orang, karena banyak mendapat manfaat bila berinteraksi dengannya Berbekal kompetensi, apoteker harus mampu melaksanakan keseluruhan pekerjaan yang spesifik yang ditanganinya secara trampil, dan bekerja sesuai standar yang diharapkan dalam pekerjaan, yang biasanya dijabarkan dalam Standar Prosedur Operasional. Searah dengan itu, Pasal 16 PP 51 tahun 2009 menyebutkan keharusan apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian menerapkan SPO, Standar Prosedur Operasional. Disebutkan pula Standar Prosedur Operasional harus dibuat secara tertulis dan diperbaharui secara terus menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. SPO pada dasarnya adalah tata kerja dari suatu kegiatan (suatu set instruksi) yang harus diketahui dan dipatuhi pekerja terkait. SOP merupakan tatacara baku dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Dengan melaksanakan instruksi yang terdapat
Dani Rachadian

baiknya SOP disusun secara sistematis, di runut sesuai alur kerja yang terjadi ditempat pelayanan kefarmasian. SPO sebenarnya sudah dikenal jauh-jauh hari oleh beberapa pelayanan kefarmasian di Indonesia, terutama oleh apotek jaringan seperti Kimia Farma. Namun bagi sebagian besar apotek, SPO memang belum dijadikan acuan dalam bekerja. Untuk mempermudah apoteker di tanah air membuat dan menerapkan SPO di tempat prakteknya, Ikatan Apoteker Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bina

Grup Diskusi : Sesi acara SKPA untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

pada SPO akan dihasilkan produk yang memenuhi standar. Bila terjadi produk yang tak berkualitas, akan cepat dilacak penyebab kesalahan dengan meneliti apakah ada SPO yang dilanggar. SPO juga merupakan dokumen legal yang akan melindungi dan memberi kepastian hukum bagi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian. SPO dari suatu unit pelayanan farmasi tidak harus sama dengan unit pelayanan lainnya. SPO juga harus dievaluasi secara berkala untuk melihat apakah masih sesuai dengan kondisi yang ada. Walau setiap layanan kefarmasian boleh bebas membuat SPO, ada

Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan telah menyelesaikan Draft Final Pedoman Membuat SPO, yang merupakan bagian dari Pedoman Apoteker Praktik di Sarana Pelayanan Kefarmasian (GPP, Good Pharmacy Practice). Pedoman tersebut telah dibagikan ke masingmasing PD pada Rakernas IAI akhir Oktober 2011 kemarin. SPO yang termaktub pada Pedoman tersebut mencakup SPO Pengelolaan Farmasi dan Alat Kesehatan (10 SPO), SPO Pelayanan Kefarmasian, SPO Higiene dan Sanitasi (4 SPO), SPO Tata Kelola Administrasi (3 SPO), dan 7 SPO lainnya (ak)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

15

LAPORAN UTAMA
Ria Widya

Apoteker Indonesia:

D

Kompeten di AS
bagian California. Waktu magang selama 1500 jam, dalam rentang waktu 1 tahun di sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit. Setelah magang selesai, ia harus melalui uji kompetensi yang dilakukan Board of Pharmacy negara bagian California. Pertanyaannya tidak hanya tentang ilmu farmasi , tetapi juga tentang UU yang berlaku di sana. Setelah dinyatakan lulus, Board of Pharmacy negara bagian California mengeluarkan lisensi, yang membolehkannya bekerja sebagai farmasis. Dua tahun sekali, lisensi harus

i hari-hari mendatang, apoteker Indonesia mesti rajin mengupdate diri agar ilmu dan pengetahuan farmasinya tetap selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Apoteker secara berkala akan diuji kemampuannya dalam melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kefarmasian. Dengan kata lain, apoteker harus melewati standar kompetensi yang ditetapkan oganisasi profesi apoteker di tanah air, IAI. Mengenai kemampuan, apoteker Indonesia ternyata tak kalah kompetensinya dengan sejawat dari negara lain. Beberapa apoteker lulusan Indonesia telah bekerja di luar negeri yang tentunya telah lulus uji kompetensi di negara bersangkutan. Salah satu apoteker Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat adalah Ria Widya. Apoteker UI lulusan 1980 ini telah 11 tahun bekerja sebagai clinical pharmacy di UCLA Medical Centre, yang menurut US World & Report termasuk dalam 5 rumah sakit terbaik di Amerika Serikat. Menurut Ria Widya yang diwawancarai Medisina 27 November 2011, sebelum bekerja sebagai pegawai negeri di UCLA Medical Centre, ia harus mengikuti berbagai proses penilaian. Sebagai orang asing , ijazah dan berkas-berkas seperti SIK dari Indonesia divalidasi dulu oleh pemerintah federal AS apakah bisa dipersamakan atau tidak. Setelah dokumen pendidikan dianggap tak bermasalah, Ria diuji kemampuannya tentang ilmu kefarmasian. Setelah dinyatakan lulus, ia harus melakukan praktek magang di negara bagian yang diinginkannya, dalam hal ini di negara

kepada pasien sering bertanya kepada clinical pharmacy, apakah ada dampak buruk bila pasien diberi suatu obat. Diskusi dengan para klinisi sangat intensif. Para perawat dan tenaga rumah sakit sangat menghargai
dok. pribadi

Ria Widya : Kedua dari kanan, berfoto bersama teman kuliah satu angkatan di Universitas Indonesia.

diperbarui dengan syarat apoteker telah mengumpulkan 30 kredit yang diperoleh dari seminar, mengikuti kuis ilmiah secara on line dan menjawab kuis yang diadakan majalah yang telah diakreditasi oleh Board of Pharmacy. Menurut Ria yang sehari-hari bekerja sebagai Clinical Pharmacy di bagian in patient, para dokter di rumah sakitnya sebelum memberikan terapi

apoteker, karena merasakan sekali manfaat clinical pharmacy yang senantiasa mengikuti perkembangan kesehatan pasien dan memberikan pendapat dari sisi farmasi klinis. Beda jauh dengan di Indonesia, dimana apoteker masih berusaha keras diakui eksistensinya oleh tenaga kesehatan lain. (AK)

16

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

WAWANCARA Drs. Ahaditomo, Apt

Kembalikan Profesi Apoteker Ke Fitrahnya
ebagai mantan Ketua Umum ISFI, penasehat IAI dan kini anggota KFN, Ahaditomo memiliki banyak pemikiran tentang seperti apa dan ke mana masa depan apoteker akan dibawa. Dengan terlibatnya dalam keanggotaan KFN, diharapkan Ahaditomo mampu mengembalikan profesi Apoteker ke arah yang benar seperti yang dicitacitakan selama ini. Menariknya, bila berdiskusi dengan Ahaditomo, lebih dulu kita akan diajak untuk menyimak ke belakang tentang pergeseran wajah profesi farmasi Indonesia, yang kaya nuansa ketidakjelasan. Namun, ia mengajak agar kita tidak pesimis dan bersikap skeptis, dan mengingatkan bahwa seberatberatnya masalah masih bisa diperbaiki. Sehubungan dengan momentum perubahan di dunia farmasi Indonesia, Medisina melakukan wawancara khusus dengan Ahaditomo, Rabu, 26 September 2011. Sertifikat kompetensi apoteker, setelah lewat masa transisi menurut Permenkes 889 akan dilaksanakan oleh organisasi profesi. Bagaimana baiknya metode yang harus dilaksanakan organisasi profesi, sebelum memberikan sertifikat kompetensi? Sertifikasi kompetensi nantinya akan menjadi tugas organisasi profesi untuk melaksanakannya. KFN yang menyusun rujukan atau rumusannya. Untuk itu, perlu konsep yang matang. Apa yang akan dilakukan oleh KFN, adalah merumuskan ulang, menyempurnakan dan menetapkan definisi kompetensi apoteker berdasar UU 36/2009 pasal 108, setelah diperkuat oleh amar keputusan MK N0.12/2011.

S

Yang harus disadari, apoteker adalah tenaga kesehatan, bukan sekadar tenaga kerja. Mereka adalah pejabat publik yang disumpah dan diberi wewenang untuk melakukan berbagai tindakan di berbagai jenis pekerjaan keprofesian apoteker. Wewenang apoteker didasari adanya STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker) dan SIPA (Surat Izin Praktek Apoteker), dan dikelompokkannya apoteker sebagai tenaga kesehatan. Merujuk kompetensi apoteker pada UU Kesehatan 36/09 dan PP 51/09, akan diterbitkan rumusan yang lebih rinci tentang format keahlian /ekspertis apoteker terkait pembuatan obat (QA, Produksi dan QC), distribusi obat, pelayanan kefarmasian kepada pasien berdasarkan resep dokter , penelitian tentang obat dan penggunaan obat tradisional, yang mengacu pada ilmu farmasi, profesi, moral dan etik. Rumusan-rumusan di atas merupakan rambu rambu yang nantinya diturunkan menjadi visi dan misi pendidikan dan tujuan belajar-mengajar pendidikan tinggi program apoteker selama 5 tahun. Baru kemudian, dengan panduan rumusan tersebut akan dibuat jenis dan bentuk soal ujian kompetensi di pendidikan tinggi apoteker oleh organisasi profesi apoteker ( IAI), yang berlaku nasional. Dari sinilah konsep pemberian sertifikat kompetensi dijalani nantinya. Mengenai apoteker yang baru lulus, mereka langsung diberi sertifikat kompetensi. Mengingat kualitas pendidikan farmasi yang menghasilkan apoteker sangat beragam, apakah KFN akan berkontribusi di perguruan tinggi farmasi agar apoteker yang dihasilkan memang sudah kompeten?

Evita Fitriani

Pertanyaan ini menarik sekali. Kalau kita bicara soal kualitas yang terkait dengan kompetensi, saat ini yang kita penuhi lebih dulu adalah derajat kompetensi yang minimal, namun mampu menjamin apoteker tersebut dapat melakukan tindakan apoteker dalam proses kefarmasian. Dalam perjalanannya nanti, KFN akan membantu perguruan tinggi farmasi untuk menyesuaikan program belajar mengajar agar sesuai standart kompetensi apoteker yang baru. Program-program terkait kompetensi seperti CPD berkelanjutan dan terstruktur akan digalakkan, juga asistensi PTF akan terus dilakukan oleh IAI, sebagai organisasi profesi. Untuk mempermudah pendaftaran, STRA menurut Permenkes 889 dapat diajukan secara on line.Kapan dapat dilaksanakan? Ya. Prosedur pendaftaran STRA dapat dilakukan secara online untuk tujuan kemudahan bagi pendaftar. Saat ini, kendala utama terletak di ketersediaan dana pembuatan
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

17

WAWANCARA
perangkat lunak, teknologinya sendiri sudah tersedia di pasar. Tapi, saya rasa itu hanya kendala teknis. Kita bisa memulainya kapan saja dengan urutan perencanaan, pengembangan, modeling, uji coba dan peluncuran. Mudah-mudahan tahun 2012, pemerintah sudah dapat menyiapkan RAB khusus. Sampai saat ini, berapa persen permohonan STRA yang sudah selesai? Apa kendala penerbitan STRA masa transisi? Persentase penyelesaian STRA sudah melewati 50%. Kendalanya adalah masa pendaftaran yang pendek, dan beban administrasi proses penerbitannya yang juga sangat pendek. Sekarang kami berusaha menyelesaikan masalah ini secepatnya. Apakah KFN ikut berperan dalam meningkatkan kualitas tenaga menengah kefarmasian? KFN juga bertanggung jawab terhadap tenaga tehnis kefarmasian melalui aplikasi STRTTK sebagaimana ketentuan PP 51/09. Implikasinya adalah,KFN juga akan merumuskan rentang ketrampilan yang harus dikuasai TTK melalui kisi kisi KKNI. Dalam penatalaksanaanya nanti melalui apoteker yang telah memiliki STRA. Sebagai anggota KFN, apakah Bapak merasa bahwa komposisi yang ada saat ini sudah ideal? Apakah sudah cukup mewakili bidangnya masing-masing? Saya rasa cukup untuk pertama kali, tetapi belum ideal. Nantinya, keperluan tambahan untuk meningkatkan kinerja dapat dilakukan dengan membuat team ad hoc. Saya piki, KFN tidak boleh terperangkap pada kata perwakilan, karena di KFN yang ada adalah apoteker yang bekerja untuk masa depan profesi apoteker. Tim ad hoc sendiri nantinya akan berfungsi untuk melakukan audit terhadap pelaksanaan ketentuan UU 36/09 dan PP 51/09 yang dilakukan oleh KFN Tentang keberadaan apotek rakyat, masih relevankah keberadaanya setelah PP-51? Simple saja. Kita tahu bahwa UU 36/09, PP 51/09 dan UU Obat Keras 419/49 serta UU Narkotika dan Psikotropika merupakan legislasi yang diperintahkan negara kepada pemerintah. Dan ini harus dijalankan. Terlebih saat ini definisi apotek menjadi lebih sempurna, yaitu sebagai tempat bagi apoteker untuk menyelenggarakan praktek. Apotek sama seperti sarana kesehatan lainnya, yang memiliki syarat dan standar yang ditetapkan. Legislasi apotek rakyat adalah Permenkes, dan saat ini ada aturan baru di atas Permenkes yaitu UU 36/09 dan PP 51/09. Tentu, apotek rakyat harus mengikuti ketentuan yang baru karena lebih kuat posisinya. Sebagai anggota KFN, saya sangat optimis atas terlaksananya ketentuan pelayanan yang baru ini. Menurut sayai, PP 51/09 telah mengisi semua kekurangan yang ada di PP 25/80. PP 51/09 melihat apoteker sebagai subjek hukum yang definitive, sehingga semua masalah yang terkait dengan proses farmasi yang berimplikasi hukum menjadi jelas, siapa subjek hukumnya dan apa objek hukumnya. Ini berbeda dengan pelaksanaan ketentuan PP 25/80 yang tidak memiliki kekuatan hukum yang cukup (bukan UU) dan perangkat pelaksanaan yang tidak lengkap. Kesenjangan pelaksanaan proses kefarmasian Indonesia selama sekitar 30-tahun, kelemahan konstruksi hukum PP 25/80 serta kelemahan implementasinya oleh semua fihak,
dok. pKemkes

Ahaditomo : Berdiri paling kiri berfoto bersama dengan anggota Komite Farmasi Nasional (KFN).

Tapi, saya tidak akan mengatakan bahwa apotek rakyat akan dibubarkan. Kita harus tetap memberi ruang untuk membimbing. Saya lebih suka mengatakan memberikan kesempatan untuk mereka memperbaiki diri. Caranya? Ya, kita undang apoteker dan pengusahanya, kita sosialisasikan mengenai UU dan PP ini. Langkah selanjutnya, perlu audit ulang untuk untuk apotek rakyat tersebut. Menurut bapak, apa kendala pelaksanaan PP 51? Dan apakah bapak optimis PP. 51 tidak bernasib seperti PP 25 tahun 1980?

mulai sistem birokrasi kesehatan,hukum dan organisasi profesi, merupakan faktor dominan kegagalannya. Banyak apotek terutama di perifer yang kesulitan untuk menggaji wajar lebih dari 1 apoteker. Bagaimana jalan keluar terbaik agar beban apotek tidak bertambah berat? Ini yang dimaksud konsep apotek berbasis ekonomi. Apotek menjual obat melalui sistem “mark up”. Tidak didukung infrastruktur pelayanan yang memadai. Hal ini menyebabkan deformasi apotek menjadi toko obat

18

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

AGENDA
komersial. Tanpa disadari, terjadi kompetisi yang tidak etis di antara apotek melalui HET yang beragam, tanpa adanya kendali pelayanan apotek. Permisifisme pelayanan oleh sistem birokrasi, telah membuat apotek tidak mampu membiayai dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan. Titik beratnya adalah, konsumsi obat Indonesia yang tumbuh dan menghasilkan besaran ekonomi obat keras senilai Rp.25-30 triliun HET. Dan Obat bebas sejumlah kurang lebih sama. Ini berakibat kelemahan cash flow apotek, karena omzet apotek kecil dan biaya operasional pelayanan yang besar. Untuk membiayai apoteker, perlu sekitar 2-3 % dari seluruh biaya konsumsi obat di atas. Seharusnya tidak perlu ada kekhawatiran, karena nilai tersebut akan cukup rasional untuk memberikan pendapatan bagi apoteker. Yang diperlukan saat ini adalah penataan yang lebih produktif dan rasional, agar pelayanan farmasi oleh apoteker bisa berjalan baik dan dinikmati oleh pasien. Biaya operasional apotek selama ini tidak pernah dihitung dan diperhitungkan, kecuali dengan cara berbasis konsep toko. Sudah saatnya kita mengubah fungsi apotek sebagai sarana dan proses pelayanan kesehatan dan apoteker adalah profesi yang bertanggung jawab, yang perlu meluruskan perhitungan ekonomi keuangan apotek. Jika sudah begitu, selanjutnya bisa diproyeksikan secara kuantitatif, bagaimana perhitungan baya pelayanan apotek akan diselenggarakan. Caranya yaitu dengan melihat rasio jumlah apoteker yang akan melayani masyarakat, dan berapa jumlah pasien/ yang memerlukan obat perbulannya di satu kawasan. Jumlah apotek diarahkan kepada dipenuhinya rasio keekonomian dari apotek, yang sekaligus menjamin keberlajutan pelayanan. Konsep apotek sebagai pelayanan kesehatan, diharapkan akan memberi pendapatan bagi apoteker sebesar sekitar 2 kali PDB dan tidak berbasis UMR seperti saat ini.
(ak, vit)

Forum Apoteker Indonesia
TEMA : Pharmacist Update : Management Terkini dan Peran Baru Apoteker TANGGAL DAN TEMPAT: Jakarta : 3-4 April 2012, Hotel Bidakara Surabaya : 10-11 Mei 2012, Hotel Shangrila Bandung : 15-16 Mei 2012, Hotel Horison Yogyakarta : 22-23 Mei 2012, Hotel Sheraton Mustika TUJUAN KEGIATAN: Sebagai forum dan media pengembangan yang berkualitas untuk peningkatan kualitas peran dan tanggung jawab apoteker secara luas. LINGKUP BAHASAN: 1. Pendekatan terintegrasi dan solusi kefarmasian di masa yang akan dating 2. Peran apoteker dalam manajement Farmaceutical Care 3. Penerapan Undang-undang mengenai kefarmasian 4. Terapi banyak obat dan daya beli pasien 5. Keterampipaln dalam pengelolaan dan pengembangan usaha Apotek PESERTA: Apoteker yang memiliki tantangan dalam berperan lebih jauh bagi peningkatan dan pelayanan kualitas hidup pasien, yakni apoteker pengelola apotek, apoteker rumah sakit, apoteker di sarana industry farmasi dan pemerintah. Peserta kurang lebih 500 apoteker. INFORMASI: Sekretariat Ikatan Apoteker Indonesia Jalan Wijaya Kusuma No. 17, Tomang, Jakarta Barat Telp: 021-56962581

Seminar Nasional Kefarmasian Apoteker dan HIMASI UHAMKA
Tema : Farmasis Kreatif, Farmasis Kompetitif Judul : Kiprah Farmasisi dalam Membangun Negeri Tanggal Tempat Waktu : 07 Januari 2012 : Gedung C Aula Badan POM RI : 08.30 - selesai

Contact Person: Nopiyansyah : 085279168745/085788293689 Roja : 08979769699

2012 FAPA CONGRESS
Theme : Culture and Medicine “Transforming from Traditional to Modern Pharmacy” Date : 13-16 September 2012 Place : Bali Nusa Dua Convention Hall EARLY BIRD FREE International Delegate : 300 USD Pharmacist : 300 USD Pharmacist Student : 100 USD Accompanying Person : 150 USD Contact : Sekretariat Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia Tlp: 021-56962581/021-5671800 www.ikatanapotekerindonesia.net www.fapa2012.com
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

19

KOLOM
dok. pribadi

HUBUNGAN HUKUM APOTEKER DAN PASIEN DALAM PRAKTIK KEFARMASIAN
poteker sebagai salah satu bagian tenaga kesehatan, memiliki peran penting dalam pembangunan kesehatan, karena terkait langsung dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat, melalui praktik kefarmasian. Praktik kefarmasian sebagaimana diatur dalam pasal 108 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai ketentuan peratuan perundang-undangan, yang dalam hal ini adalah tenaga kefarmasian. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kefarmasian, disertai meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya efektif, telah terjadi transformasi besar dalam paradigma pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian yang semula hanya berorientasi pada pengelolaan obat sebagai komoditi (drug oriented), berubah menjadi pelayanan yang komprehensif berbasis pasien (patient oriented), dengan mengacu pada filosofi pharmaceutical care. Peran apoteker berubah dari compounder dan dispenser menjadi “drug theraphy manager”. Secara lebih luas, apoteker bertanggung jawab terhadap efek terapetik dan keamanan suatu obat agar mencapai efek optimal. Memberikan pelayanan kefarmasian secara paripurna dengan memperhatikan faktor keamanan pasien, antara lain dalam proses pengelolaan sediaan farmasi, penyediaan informasi obat, melakukan monitoring dan mengevaluasi keberhasilan terapi, memberikan pendidikan dan konseling serta bekerjasama dengan pasien dan tenaga kesehatan lain, sebagai suatu upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.(Wiedenmayer, K. et al, 2006). Dalam penyelenggaraan praktik kefarmasian di sarana kesehatan, terjadi hubungan antara pelaku pemberi pelayanan (apoteker) dengan pasien sebagai pengguna pelayanan kefarmasian. Hubungan ini erat kaitannya dengan upaya penyembuhan pasien. Hubungan inilah yang akan saya bahas selanjutnya. Hubungan kepercayaan Ketika pasien secara sukarela datang ke apotek atau fasilitas pelayanan kefarmasian lain, telah terjadi suatu

A

Oleh : Elza Gustanti, S.Si, Apt, MH
hubungan hukum secara sukarela antara apoteker dan pasien. Di mana pun apotek berada, pasien percaya bahwa ketika mereka datang ke sana, pasti akan mendapatkan obat yang berasal dari sumber resmi, yang terjamin mutu, kemanan dan khasiatnya. Disamping itu pasien percaya, apoteker akan memberi informasi dan edukasi tentang obat yang diterimanya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa dasar hubungan apoteker dan pasien dalam praktik kefarmasian, adalah rasa percaya. Hubungan Perdata Apoteker Pasien Ketika pasien datang ke apotek untuk memperoleh obat berdasarkan resep dokter atau obat non resep, saat itu sebetulnya telah terjadi hubungan hukum antara apoteker dan pasien. Menurut Pane, A.H. (2008), dalam perspektif hubungan hukum, keberlakuan aturan-aturan umum untuk perikatan, dapat diterapkan dalam hubungan apoteker dan pasien. Perikatan atau persetujuan atau kontrak, yaitu hubungan timbal balik antara dua pihak yang bersepakat dalam satu hal. Pihak pertama mengikatkan diri untuk memberikan pelayanan, sedangkan pihak kedua menerima pemberian pelayanan tersebut. Ketika seorang pasien secara sukarela datang kepada apoteker untuk memperoleh obat, maka sikap batin keduanya adalah: pasien berkehendak agar dia mendapatkan obat yang benar dan informasi obat yang tepat. Di lain pihak, apoteker berkehendak untuk melayani pasien sebaikbaiknya dan berharap pasien patuh dalam mengonsumsi obat. Pasien mempunyai hak atas Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) obat dan apoteker wajib memberikannya. Ketika persetujuan terjadi, maka apoteker mengikatkan diri untuk bertekad dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan ilmu pengetahuan dan kompetensinya untuk melayani pasien secara penuh. Dengan demikian, akibat persetujuan ini terjadi “perikatan” antara kedua pihak. Hubungan hukum ini diberi nama perikatan (verbentennis), yang disebut perikatan / transaksi kefarmasian. Menurut M. Nasser (2010), perikatan antara apoteker dan pasien ini unik. Berbeda dengan perikatan biasa, karena ada unsur kepercayaan yang besar dari pasien. Dalam hal hukum perikatan sebagaimana diatur KUHP

20

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

KOLOM
Perdata, dikenal adanya dua macam perikatan : 1. Inspanningsverbintennis, yaitu perjanjian upaya. Ini berarti bahwa kedua belah pihak yang berjanji, berdaya upaya secara maksimal untuk mewujudkan apa yang diperjanjikan 2. Resultaatverbintennis, yaitu perjanjian bahwa pihak yang berjanji memberikan suatu resultaat atau hasil yang nyata sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Perikatan kefarmasian antara apoteker dan pasien, dapat dikategorikan ke dalam perikatan memasang tekad (inspanningsverbentennis) atau perikatan upaya. Dalam konsep ini, pelaku pemberi pelayanan kefarmasian hanya berkewajiban untuk melakukan pelayanan kefarmasian dengan penuh kesungguhan, dengan mengarahkan seluruh kemampuan dan perhatiannya sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan, untuk meningkatan kualitas hidup pasien sesuai dengan filosofi pharmaceutical care. Objek perjanjian bukanlah hasil akhir dari praktik kefarmasian yang dilakukan apoteker, melainkan upaya sungguh-sungguh dari apoteker dalam memberikan pelayanan kefarmasian. Kesungguhan apoteker memberi pelayanan yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan kompetensinya, adalah tolak ukur utama. Ukuran “upaya sungguh-sungguh” bagi apoteker dalam hubungan hukum apoteker – pasien, dalam hal ini adalah standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur dan prinsip-prinsip umum profesional apoteker. Tanggung Jawab Hukum Perdata Apoteker dalam Praktik Kefarmasian Hubungan hukum antara pasien dan apoteker, melahirkan hak dan kewajiban bagi para pihak. Apoteker berkewajiban memberikan pelayanan kefarmasian yang sebaik-baiknya bagi pasien, baik pelayanan atas obat atau berupa konseling. Pelayanan kefarmasian yang diberikan apoteker harus sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan dan standar prosedur operasional. Adanya upaya maksimal yang dilakukan apoteker, bertujuan untuk memenuhi hak pasien yaitu memperoleh kesembuhan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Hubungan hukum antara apoteker dan pasie, menempatkan kedua belah pihak sebagai subjek hukum yang sederajat. Dengan posisi yang demikian, hukum menempatkan keduanya memiliki tanggung jawab dan tanggung gugat. Tanggung jawab hukum apoteker adalah suatu “keterikatan” apoteker terhadap ketentuan-ketentuan hukum dalam menjalankan profesinya. Dalam hal ini, seorang apoteker dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian apabila tidak bertindak sesuai dengan kewajibankewajiban yang timbul dari profesinya, serta berperilaku tidak sesuai dengan patokan umum mengenai kewajaran yang dilakukan apoteker, dalam praktik kefarmasian. Apabila setelah mendapatkan pelayanan kefarmasian yang sesuai standar, pasien tidak sembuh, tidak dapat dijadikan alasan adanya dugaan kelalaian bagi apoteker. Karena, hubungan apoteker-pasien bukan hubungan yang memuat dan menuntut kewajiban hukum bagi apoteker, yang ditujukan pada hasil (resultaats) pelayanan kefarmasian. Dalam hal ini, sepanjang praktik kefarmasian telah dilakukan secara benar dan patut menurut standar profesi, standar pelayanan dan standar prosedur operasional, maka meski pun tanpa hasil penyembuhan yang diharapkan, tidak melahirkan kelalaian dari sudut hukum. Apabila setelah pemberian pelayanan kefarmasian terjadi keadaan tanpa hasil atau tanpa penyembuhan, atau bahkan keadaan pasien menjadi lebih parah, karena perlakukan apoteker yang menyalahi standar profesi, standar pelayanan dan standar prosedur operasional, apoteker dapat dianggap melakukan kesalahan dan kelalaian atau medication error dalam praktik kefarmasian. Dua keadaan ini benar-benar sebagai akibat langsung (causal verband) dari salah perlakuan oleh apoteker. Jika syarat ini ada, apoteker dapat diduga melakukan kelalaian, sehingga pasien berhak menuntut kerugian atas kesalahan yang dilakukan apoteker tersebut. Segala tanggung jawab hukum apoteker, bertujuan agar apoteker dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, yang menimbulkan kerugian pada pasien akibat kesalahan prosedur yang dilakukan dengan memberikan kompensasi ganti rugi kepada pasien atau keluarganya. Dalam pertanggungjawaban atas kelalaian Apoteker, maka pasien haruslah dapat membuktikan adanya kelalaian yang dilakukan apoteker tersebut dalam praktik kefarmasian. Gugatan ganti rugi oleh pasien kepada apoteker yang diduga melakukan kelalaian dalam praktik kefarmasian, berdasarkan pada pasal 58 ayat (1) UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. “Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan /atau penyelengggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan.”
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

21

KOLOM
Kerugian-kerugian yang disebabkan kelalaian apoteker dan dapat dibuktikan oleh pasien, dapat pula dituntut oleh pasien atau ahli waris kepada apoteker berdasarkan ketentuan dalam pasal 1366 KUHPerdata: “Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga yang disebabkan kelalaian atau kekuranghati-hatian” Tuntutan ini dapat pula ditujukan kepada rumah sakit tempat apoteker berkerja memberikan pengobatan, seperti ketentuan dalam pasal 46 UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. “Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditumbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit” Sementara itu ,kerugian idill (Immateriil), seperti kehilangan harapan kesembuhan, kesakitan yang berkepanjangan, rusaknya organ-organ di dalam tubuh, luka-luka sampai pada kematian pasien, bukan kerugian yang dapat atas dasar kelalaian, akan tetapi dapat dituntut atas dasar perbuatan melawan hukum (orechtmatige daad) sebagaimana ketentuan pasal 1365 KUHPerdata. “Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut” Pasien dapat menggugat seorang apoteker oleh karena apoteker tersebut telah melakukan perbuatan melawan hukum. Undang-undang sama sekali tidak memberikan batasan tentang perbuatan melawan hukum, yang harus ditafsirkan oleh peradilan. Semula dimaksudkan segala sesuatu yang melanggar Undang-undang, jadi suatu perbuatan melawan hukum. Sejak tahun 1919, yurisprudensi tetap (Putusan Hoge Raad) telah memberikan pengertian perbuatan melawan hukum, yaitu tindakan atau kelalaian baik yang: 1. Bertentangan dengan hak orang lain 2. Bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri, atau 3. Bertentangan dengan kesusilaan baik, atau 4. Bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian serta kehati-hatian yang harus dipatuhi dalam pergaulan masyarakat mengenai orang lain atau benda. Berdasar pengertian perbuatan melawan hukum dan rumusan pasal 1365 KUH Perdata, ada 4 (empat) syarat yang harus dipenuhi untuk menuntut kerugian adanya perbuatan melawan hukum, yaitu : 1. adanya perbuatan (daad) yang termasuk kualifikasi perbuatan melawan hukum 2. adanya kesalahan (doleus maupun culpa) si pembuat 3. adanya akibat kerugian 4. adanya hubungan perbuatan dengan akibat kerugian pada orang lain. Hal ini berarti, jika apoteker diduga melakukan kesalahan, harus terdapat hubungan erat antara kesalahan apoteker dan kerugian yang ditimbulkan terhadap pasien. Dasar menentukan apoteker melakukan perbuatan melawan hokum, dapat diartikan dengan perbuatan apoteker yang bertentangan atau tidak sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang berlaku, bagi pengemban profesi dibidang kefarmasian. Jika kesalahan/kelalaian dalam praktik kefarmasian diperbuat oleh bawahan apoteker (apoteker pendamping atau tenaga teknis kefarmasian), maka menjadi tanggung jawab apoteker atau pengelola apotek tersebut. Walau pun apoteker hanya sebagai pengelola apotek, dan apotek dimiliki oleh seorang pemilik sarana apotek (PSA), kesalahan yang dilakukan oleh apoteker pendamping atau tenaga teknis kefarmasian dalam menjalankan praktik kefarmasian, akan menjadi tanggung jawab apoteker, bukan kepada Pemilik Sarana Apotek (PSA). Karena apoteker pendamping atau tenaga teknis kefarmasian tersebut merupakan perpanjangan tangan apoteker (verlengende arm van de geneesher), dalam melakukan praktik kefarmasian di apotek. Ketentuan ini diatur dalam pasal ini 1367 KUH Perdata. “Seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barangbarang yang berada di bawah pengawasannya.” Uraian di atas menunjukan bahwa dalam menjalankan praktik kefarmasian, apoteker memiliki tanggung jawab hukum yang sama dengan tanggung jawab hukum warga negara lain, sehingga memenuhi azas persamaan kedudukan di dalam hukum.
*) Makalah ini intisari dari tesis dengan judul yang sama, telah diuji dan dipertahankan pada 24 Februari 2011, di depan Tim Penguji Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makasar.

22

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

TOPIK KHUSUS

Dua Macam Dispepsia
Dispepsia merupakan keluhan saluran cerna terbanyak di masyarakat. Ada dua macam dyspepsia: organik dan fungsional. Keduanya memiliki penyebab yang berbeda.
anny memegang perut sambil mengerutkan dahinya. Ia merasakan sakit yang bukan kepalang pada ulu hatinya. Itu bukan yang pertama kali. Berkali-kali yang wanita berkulit putih ini merasa nyeri di ulu hati, terutama kalau dia sedang stress atau mengalami tekanan mental. Pernah suatu kali, dia sakit di ulu hatinya karena dikejar deadline. Sakitnya sedemikian rupa, yang membuatnya tidak bisa menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. “Kalau lagi stress, pasti perut saya sakit, “ ujarnya. Dia tidak mengira kalau itu termasuk gejala maag. “Saya pikir, sakit maag hanya terjadi pada orang yang sering telat makan,” kata anak bontot dari empat bersaudara. Selain sakit, dia merasa perutnya penuh walau tidak banyak makan, mual dan kembung setelah makan. Kelainan ini sudah lima tahun dia alami. Awalnya dianggap wajar, tetapi karena sering terjadi secara berulang, dia mulai khawatir. Pada enam bulan terakhir, gejalagejala itu tidak menghilang meski ia sudah mengonsumsi berbagai jenis obat sakit maag yang dijual di warung. Teman kos menganjurkan untuk pergi ke dokter umum. Dari pemeriksaan, Fanny didiagnosa mengalami dispepsia fungsional akibat depresi yang dideritanya, pasca ditinggal kekasihnya. Oleh dokter, ia diberi obat penurun asam dan dirujuk ke psikiater untuk mengatasi depresi yang menderanya. Dispepsia atau penyakit maag adalah rasa sakit di bagian lambung, yang terjadi secara episodik atau berulang. Gejala yang sering muncul berupa kembung, rasa mual, muntah, cepat kenyang, rasa penuh dan sakit di abdomen bagian atas atau ulu hati.

F

Meski prevalensinya beragam, sebagian besar penelitian menunjukkan, hampir 25% orang dewasa pernah mengalami gejala dispepsia pada suatu waktu dalam hidupnya. Suatu survey menunjukkan, sekitar 30% orang yang berobat ke dokter umum mengeluhkan gangguan saluran cerna, terutama dispepsia. “Sebanyak 40-50% yang datang ke spesiali,s disebabkan gangguan pencernaan terutama dispespia,” kata dr. Murdani Abdullah, SpPD dari Rumah Sakit CiptoMangunkusumo. Sementara, dari sebuah survey di DKI Jakarta, hampir 60% orang yang disurvey pernah mengalami dispepsia. Dua tipe dispepsia Dispepsia dibedakan menjadi dispepsia organik dan dispepsia fungional. Dispepsia organik, jika keluhan yang timbul disebabkan karena kelainan organ tubuh seperti tukak lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan sebagainya. Obat-obatan

rematik, beberapa obat antibiotik, penyakit diabetes melitus dan penyakit jantung, juga dapat menimbulkan dispepsia organik. Ada pun dispepsia fungsional berupa keluhan dispepsia yang telah berlangsung beberapa minggu, tanpa ada kelainan atau gangguan struktural organ tubuh, berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi dan endoskopi. Pada dispepsia organik, keluhan yang dialami akibat kelainan pada organ tubuh (karena itu dinamakan organik), terutama kelainan pada organorgan di rongga perut. Penyebabnya bermacam-macam; yang sering infeksi tipus perut yang berulang (dalam bahasa kedokteran disebut relaps), infeksi oleh malaria, virus hepatitis, dan infeksi kuman-kuman lain. Infeksi oleh kuman Helycobacter pylori yang bisa hidup di lambung manusia, juga dapat menyebabkan tukak lambung atau tukak pada usus dua belas jari. Pada dispepsia fungsional, tidak didapatkan ada kelainan organ, melainkan terjadi karena kenaikan produksi asam lambung dan gangguan dari gerakan organ saluran cerna. Biasanya akibat faktor psikis misalnya stress, marah, sedih dan lain-lain. “Disebut fungsional karena kalau dilakukan pemeriksaan medis, dengan prosedur diagnostic, umumnya tidak ditemukan adanya kelainan obyektif. Jadi sifat kelainannya adalah fungsional, yang. tidak selalu dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik atau USG,” kata Prof. dr. Aziz Rani Sp.PD-KGEH dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Kelainan fungsional adalah kelainan yang menyebabkan gangguan fungsi. Misalnya, fungsi untuk menampung makanan. “Jika terjadi gangguan, baru terisi sedikit, lambung sudah terasa penuh, karena mungkin lambung menjadi sensitive,” kata Prof. Aziz. Bisa timbul nyeri, akibat makan dan minum disebabkan adanya faktor hipersensitif. Atau, mungkin, gangguan fungsi lambung yang menyebabkan tidak bisa menahan makanan dalam waktu yang cukup. Jadi terlalu cepat disalurkan ke saluran cerna bagian bawah. ***
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

Istimewa

23

TOPIK KHUSUS

Asam Penyebab Dispepsia
Hipersensitifitas terhadap asam dan gangguan motilitas berberan pada gejala dispepsia. Terapi penekanan asam bermanfaat untuk mengurangi gejala.
Istimewa

ada beberapa penderita dispepsia, dengan hasil pemeriksaan endoskopi yang normal dan memenuhi kriteria dispepsia fungsional, terapi penekan asam dapat mengurangi gejala. Meski begitu, pada beberapa pasien terapi ini tidak memberi manfaat dalam menurunkan gejala. Untuk memahami bagaimana asam menyebabkan nyeri pada individu dengan dispepsia fungsional, penting untuk mengenali peran asam pada penyakit ulkus. Pada penyakit ulkus, diperkirakan H. pylori atau penggunaan NSAID atau asam, menyebabkan ulserasi. Asam lambung kemudian mengaktifkan kemoreseptor nosiseptif lokal, dan menyebabkan nyeri. Pada pasien tanpa ulkus, penyebab nyeri tidak jelas. Sedangkan, gejalagejala pada penderita dispepsia fungsional, sering identik dengan penderita ulkus. Ini menunjukkan kemungkinan adanya persamaan mekanisme terjadinya rasa nyeri. Pasien dengan ulkus pada usus dua

P

belas jari, peningkatan asam maksimal. Sedangkan, pada penderita yang terinfeksi H.pylori, ada peningkatan pelepasan gastrin, menyebabkan peningkatan massa sel parietal dan output asam. Sementara, sekresi asam mengalami kelainan pada pasien dengan dispepsia fungsional. Ada beberapa penelitian mengenai hal ini. Hasilnya terlihat bahwa orang dengan H. pylori positif memiliki konsentrasi gastrin basal yang lebih tinggi, dan output asam basal yang lebih tinggi, dibandingkan pasien H. pylori negatif. Output asam basal pada pasien ulkus dua belas jari, meningkat 6x lipat. Sementara, dispepsia non ulkus dengan H. pylori positif dan subyek kontrol sehat H. pylori positif mengalami peningkatan asam 3x lipat. PERSEPSI VISERAL SAAT INFUS ASAM Peningkatan kadar asam intraluminal bukan penyebab nyeri pada beberapa pasien dispepsia fungsional. Ada kemungkinan,

peningkatan sensitivitas saraf viseral terhadap asam menjadi penyebab nyeri. Hampir 20 tahun lalu, Joffe dan Primrose meninjau kemungkinan ini dengan mempelajari pasien dengan ulkus dua belas jari, duodenitis dan dispepsia nonulkus. Mereka memberikan infus secara langsung sebesar 100ml 0,1 N asam hidroklrorik, 8,5% sodium bikarbonat, atau larutan garam ke dalam duodenal bulb pada ketiga kelompok pasien. Semua pasien dengan dispepsia nonulkus (n=8), infus asam tidak mereproduksi gejala. Sedangkan, pasien dengan ulkus duodenitis atau duodenal, secara tipikal mengalami nyeri dengan infus asam. Misra dan Broor melakukan penelitian serupa, pada pasien dispepsia fungsional. Hasilnya menunjukkan, sekitar 20% (n=11) pasien dengan dispepsia nonulkus mengalami nyeri dengan infus asam, sementara pada pasien yang diberi infus larutan garam tidak terjadi. Dari 11 pasien dengan hasil positif, 91% mendapatkan hasil positif ketika diberi asam. Tidak ada satu pun pada kelompok kontrol yang mengalami gejala, baik dengan infus asam atau larutan garam. ABNORMALITAS MOTILITAS DIPERCEPAT OLEH ASAM Berdasarkan data, pada banyak pasien dispepsia fungsional, nyeri tidak berhubungan dengan peningkatan sekresi asam atau meningkatnya sensitivitas asam. Hipotesis lainnya adalah adanya efek sekunder dari asam. Seperti, kemampuan untuk mengganggu motilitas saluran gastrointestinal bagian atas, yang dapat menyebabkan nyeri pada pasien dengan dispepsia. Hal ini dipelajari oleh Houghton dan kawan-kawan yang melakukan penelitian terhadap 18 sukarelawan sehat, yang kemudian diberi infus larutan garam atau 0,1 M asam

24

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

TOPIK KHUSUS
hidroklorik ke dalam usus dua belas jari. Peneliti menemukan, infus secara berulang dengan asam menyebabkan gangguan kontraktilitas antral dan perubahan kontratilitas dari usus dua belas jari. Selain itu, terdapat peningkatan gelombang tekanan pilorik terisolasi. Perubahan motor ini berpotensi menyebabkan tertundanya pengosongan gastrik yang bersifat asam. Samson dan kawan-kawan menemukan, setelah infus asam ke dalam bulb saat puasa, jumlah gelombang tekanan dan pH dalam duodenum proksimal secara signifikan lebih rendah pada pasien dispepsia fungsional, daripada subyek kelompok kontrol sehat. Perbedan ini tidak terlihat setelah pemberian makanan standar. Disimpulkan, pasien dengan dispepsia fungsional mengalami kelainan klirens asam dari usus halus proksimal. Lamanya waktu keasaman di lokasi tersebut, berkontribusi pada gejala yang pasien rasakan. PENGHAMBAT RESEPTOR H2 DAN PPI Karena asam berperan penting pada beberapa pasien dengan dispepsia fungsional, terapi penekan asam telah diteliti. Sebuah metaanalisa terbaru yang dilakukan Finney dan kawankawan, menilai semua penelitian yang menggunakan cimetidine atau ranitidine, untuk pengobatan dispepsia fungsional. Tiga dari enam penelitian menunjukkan superioritas obat-obatan yang digunakan, dibanding plasebo. Proton pump inhibitor juga telah diteliti dalam penelitian klinis. Dalam penelitian BOND dan OPERA, hampir 1300 pasien secara acak diberi omeprazole 20mg, omeprazole 10mg, atau plasebo difollow up sampai 4 minggu. Peneliti memperlihatkan adanya perbaikan gejala pada 38% pasien yang menggunakan omeprazole 20mg, 36% pasien menggunakan omeprazpole 10mg dan 28% pasien yang menggunakan plasebo. ***

Hubungan H. Pylori dan Dispepsia Fungsional
Sebagian besar penderita dispepsia fungsional terinfeksi H. pylori. Walau tidak bergejala, pengobatan harus ditawarkan pada penderita.
Istimewa

eranan infeksi Helikobakter pylori dalam patogenesis dispepsia fungsional, masih belum jelas. Infeksi H. pylori menyebabkan gastritis kronis, yang ditandai infiltrasi neutrofilik dari mukosa gastrik dan produksi mediator inflamasi, yang dapat mengganggu sekresi asam gastrik, menyebabkan dismotilitas gastrik dan mempengaruhi persepsi visceral. “Infeksi H. pylori dikaitkan dengan keluhan DF. Banyak tulisan yang menyebutkan bahwa pada penderita, sebagian besar mengalami infeksi ini,” ujar dr. Murdani Abdullah, Sp.PD dari RSCM. “Bila infeksi ini diobati, sebagian besar pasien akan mengalami

P

perbaikan, paling tidak untuk setahun pertama. Lebih dari setahun, sudah tidak ada bedanya dengan kelompok yang tidak diobati,” imbuhnya. “H pylori selalu menimbulkan respon inflamasi, misalnya gastritis. Gastritisnya tergantung dari lokasi infeksi. Kalau di bagian anterum, bagian bawah dari lambung, akan menyebabkan produksi asam tinggi sehingga terjadi inflamasi dan umumnya menyebabkan tukak,” kata Prof. dr. Aziz Rani, Sp.PD-KGEH. Kalau lokasinya agak di atas, di mana umumnya asam sudah relatif berkurang, selain menyebabkan tukak lambung bisa mengarah pada kanker lambung.
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

25

TOPIK KHUSUS
Konsensus menyebutkan, infeksi H. pylori berhubungan dengan gangguan pengosongan gastrik. Terlebih lagi, akomodasi gastrik terhadap konsumsi makanan menurun pada pasien dengan dispepsia, tanpa menghiraukan status H. pylori. Gangguan akomodasi dihubungkan dengan peningkatan persepsi stimulus distensi, pada pasien H. pylori positif atau negatif. Tidak ada keluhan dispepsia spesifik yang mengindikasikan infeksi gastritis oleh H. pylori. Kenyataannya, 50-60% pasien dengan dispepsia fungsional adalah H. pylori positif. Infeksi ini juga terjadi pada 25% pasien asimptomatik. Karena itu, cukup beralasan mengatakan bahwa sekelompok pasien dengan dyspepsia, akan mengalami gejala karena infeksi H. pylori. “Sudah cukup bukti, infeksi H. pylori lebih banyak ditemukan pada penderita dispepsia fungsional, dibanding orang tanpa masalah lambung,” kata Prof. Aziz. Jadi, sebagian besar yang terinfeksi, hanya akan mengalami dispepsia fungsional atau tanpa gejala sama sekali. “Pertanyaannya, perlukah mengobati penderita dispepsia fungsional dengan
Istimewa

infeksi H. pylori? Para ahli cenderung mengatakan, sebaiknya diobati. Karena berdasarkan penelitian bisa mencegah penyakit-penyakit yang lebih serius,” tambah Prof. Aziz. Bagaimana dengan yang tanpa gejala? Mereka mungkin tidak memeriksakan diri, sehingga tidak terdiagnosa kecuali mereka menjalani general check up. Di Indonesia, guideline-nya sudah ada. Umumnya tidak dianjurkan untuk segera diobati, berdasarkan pertimbangan cost efektriveness. Kalau semua orang terinfeksi H. pylori diobati, biayanya besar sekali. Menurut Prof. Aziz, ada beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, dokter sudah memeeriksa dan ternyata positif. Memang, kalau tidak ada gejala, tidak harus diobati. Tetapi, untuk kepentingan pasien pengobatan harus ditawarkan. “Katakan pada pasien bahwa dia berisiko mengalami tukak dan kanker, meski risikonya kecil. Tapi, kalau mau diobati itu hak pasien,” kata Prof. Aziz. Membuktikan adanya infeksi Untuk kuman, ada pemeriksaan diagnostik yang non invasif. Pemeriksaan non invasif yang pasif adalah tes darah (serologi). Sebetulnya, ada infeksi aktif atau tidak, hanya menunjukkan reaksi imunologisnya saja. Jadi, belum tentu ada kumannya. Pemeriksaan non invasif

yang aktif, membuktikan ada kuman yang masih hidup atau aktif. Contohnya adalah dengan urea breath test (UBT). Ini dianggap gold standar untuk menilai infeksi, sebelum pengobatan atau untuk memonitor hasil pengobatan. Pemeriksaan invasive aktif lainnya adalah dengan memeriksa feses atau stool test. Pada anak-anak, cara ini sangat menguntungkan. Cara invasive adalah dengan mengambil jaringan melalui endoskopi. Pengobatan Kalau terbukti ada kuman, harus diberi kombinasi antibiotik dengan obat penekan asam untuk menekan asam lambung. Pilihannya adalah PPI, seperti omeprazole, esomeprazol, lanzoprazole. Kombinasikan PPI dan 2 antibiotik (terapi tripel). Standar dalam guideline nasional adalah amoxicilline 2 gram/hari plus clarotromycine 2x500mg/hari dengan salah satu PPI. Lama pemberian seminggu. Efektivitasnya cukup bagus, dengan angka keberhasilan 80-90%. Sebanyak 10% yang gagal, harus mengulang pengobatan dengan dosis yang ditingkatkan, atau dengan kombinasi. Misalnya, dengan 4 macam obat atau waktu pemberiannya lebih lama. Kalau seminggu ternyata gagal, bisa diberikan selama 2 minggu.

Istimewa

26

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

TOPIK KHUSUS

Penghambat Pompa Proton
arget pengobatan pada dispepsia fungsional, adalah mencapai dan mempertahankan ph>6. Caranya dengan pemberian obat yang dapat menekan asam, seperti antasida, antagonist reseptor H2 dan proton pump inhibitor. “Untuk kelainan mukosa lambung, pilihan obatnya adalah yang menetralkan asam. Yang paling ringan dan popular adalah antasid,” kata Prof. dr. Aziz Rani, Sp.PD-KGEH. Tahun 1980-an, keluar obat-obatan yang menekan sekeresi asam lambung, H2 reseptor antagonist. Obat ini cukup efektif, tapi ada masalah dengan toleransi. Pada pemakaian beberapa waktu, seminggu atau 10 hari, efektivitasnya akan menurun. Obat generasi 1990-an adalah proton pump inhibitor, lebih kuat dan lebih konsisten sehingga merupakan pilihan utama untuk menekan asam lambung. Sejak diperkenalkan pada 1980-an, PPI menunjukkan keunggulan dalam menekan asam lambung dibandingkan penyekat reseptor H2. Penghambat ini memungkinkan peningkatan pengobatan berbagai gangguan asam peptik, termasuk penyakit refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease/GERD), penyakit ulkus peptik, dan gastropati yang disebabkan penggunaan OAINS. PPI efek sampingnya minimal, interaksi dengan obat lain kecil, dan secara umum dianggap aman untuk pengobatan jangka lama. Meski efek samping tetap ada, seperti sakit kepala, diare, nyeri perut, dan mual, secara umum PPI dapat ditoleransi dengan baik. Insidennya kurang dari 5%. Berdasar beberapa penelitian, keamanan jangka pendek (kurang dari 12 minggu pengobatan) PPI terdahulu, Omeprazole dan Lansoprazole, terbukti baik. Sedangkan

T

Menekan asam lambung merupakan target terapi dispepsia fungsional. PPI, obat penekan asam terbaru, bekerja pada sel parietal lambung yang memompa asam.
profil keamanan PPI lebih baru, Rabeprazole dan Pantoprazole, tak jauh beda dengan kedua pendahulunya. Walau lebih mahal daripada penyekat H2, PPI lebih unggul dalam supresi asam, angka penyembuhan dan peredaan gejala. Dari segi biaya, PPI lebih efektif ketimbang penyekat H2, terutama pada pasien dengan gangguan asam peptik lebih berat, karena dosis yang diberikan lebih rendah dan pemberiannya tidak sesering penyekat H2, dan secara komparatif durasi terapi yang dibutuhkan lebih pendek. Ketika memutuskan menggunakan PPI, dokter harus mempertimbangkan usia pasien, medikasi, diagnosis, dan biaya. Kelima jenis PPI (omeprazole, lansoprazole, esomeprazole, pantoprazole dan rabeprazole), tampaknya memiliki efikasi sama dalam pengobatan berbagai gangguan asam peptik. PPI lebih baru, rabeprazole dan pantoprazole, mempunyai interaksi obat lebih sedikit. Hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan, terutama jika akan digunakan pada pasien lansia yang sudah menggunakan beberapa obat lain. Mekanisme Aksi Lambung menghasilkan asam untuk membantu menghancurkan makanan, agar lebih mudah dicerna. Pada keadaan tertentu, asam dapat mengiritasi lapisan lambung dan duodenum, menyebabkan salah cerna, bahkan ulserasi dan perdarahan. Aksi PPI secara ireversibel memblok sistem enzim hydrogenpotassium adenosine triphosphatase (K+H+ATPase, atau disebut pompa proton) dari sel parietal lambung. Pompa proton adalah fase terakhir dari sekresi asam lambung, yang secara langsung bertanggung jawab dalam pengeluaran ion-ion H+ ke lumen lambung. Maka, pompa proton menjadi target ideal
Istimewa

untuk penghambatan sekresi asam. Dengan sasaran langsung pada terminal akhir dalam produksi asam, menjadikan PPI lebih efektif daripada antagonis reseptor H2, agen yang sebelumnya dianggap lebih manjur ketimbang antasida, dan dapat mengurangi sekresi asam lambung hingga 99%. Berkurangnya asam di dinding lambung akan membantu menyembuhkan tukak dan mengurangi nyeri akibat salah cerna dan rasa panas di lambung (heartburn), yang timbul akibat berlebihannya asam dalam lambung. PPI dapat dikombinasi dengan antibiotik tertentu (misalnya, amoxycillin dan clarithromycin) untuk menghindari infeksi Helicobacter pylori, yang dianggap menjadi penyebab utama kekambuhan tukak lambung. PPI juga merupakan terapi lini pertama untuk sindrom ZollingerEllison. Pada sindrom ini, tumor di pankreas menyebabkan berlebihannya produksi asam lambung, dan menyebabkan ulserasi lambung yang parah. PPI untuk mengobati PPI digunakan untuk pencegahan dan pengobatan kondisi-kondisi yang terkait dengan asam lambung, seperti tukak, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), dan sindrom Zollinger-Ellison. PPI juga digunakan dalam kombinasi dengan antibiotik untuk membasmi Helicobacter pylori, bakteri yang bersama dengan asam menyebabkan tukak lambung dan duodenum. Penyakit lain yang biasa diobati dengan PPI, antara lain dispepsia, penyakit tukak peptik, dan tukak yang timbul akibat penggunaan OAINS.
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

27

KILAS BERITA
Dani Rachadian

CATATAN KONGRES ILMIAH KE XIX IAI DAN RAKERNAS IAI 2011 DI MENADO

K

ongres Ilmiah ke-XIX dan Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia telah dilangsungkan di Menado 28-30 Oktober 2011. Kongres ini mengangkat tema “ Sinergitas peran IAI dan PFT dalam membangun budaya pendidikan berkelanjutan. Kongres ilmiah yang digelar di setiap tahun ini dihadiri lebih 750 peserta dari seluruh tanah air. Kongres yang berlangsung di hotel Sintesa Peninsula ini dihadiri juga oleh Dra. Sri Indrawaty, Apt., M.Kes., Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Dra. Sri Indrawaty juga membawakan makalah “Kebijakan Dan Strategi Kementerian Kesehatan Dalam Menjamin Pelayanan Kefarmasian Sesuai Peraturan Perundang-undangan”. Sebagai pembicara tamu dalam Kongres Ilmiah ini adalah Burkhard Kleuse Kepala Bagian Farmakologi dan Toksikologi Pharmacology and Toxikologi Universitas Postdam. Ia membawakan paper yang berjudul Sphingolipids: A novel class of bioactive molecules. Dijajaran pejabat Sulawesi Utara hadir Wagub DR Djouhari Kansil, yang mengharapkan momentum

Kongres IAI bisa melahirkan ide-ide cemerlang yang dapat memberikan pencerahan, sekaligus menjanjikan harapan baru bagi perkembangan dunia farmasi di Indonesia, terutama untuk meneguhkan komitmen dan semangat pengabdian dan profesi dalam mengarsiteki pembangunan kesehatan melalui jalur farmasi. Selanjutnya Bpk Djauhari Kansil menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Pusat IAI memberikan kesempatan Kongres ini dilaksanakan Menado, karena melalui kongres ini Sulut mendapatkan kesempatan mempromosikan kekayaan wisatanya. Dan ini memberikan dampak positif: pendapatan masyarakat/ sektor pariwisata meningkat . Kongres Ilmiah dan Rakernas IAI ini merupakan kali ke dua secara berturutan dilangsungkan di Indonesia Timur, setelah tahun 2010 dilangsungkan di Ujung Pandang. Para apoteker dari seluruh Indonesia sangat antusias dengan kongres kali ini, selain dapat menampilkan makalah ilmiah hasil penelitian , mereka juga dapat menerima penjelasan langsung tentang perkembangan mutakhir kefarmasian Indonesia. Tentu saja alam Menado

yang terkenal indah menambah daya tarik tersebut. Kongres Ilmiah dan Rakernas IAI kali ini momentumnya bertepatan dengan perubahan mendasar yang akan dialami dunia farmasi Indonesia sehubungan akan diterapkannya PP 51 dan UU Kesehatan tahun 2009. Karena itu, topik tentang wajah baru apoteker di tahun mendatang mendominasi pembicaraan di ruang paripurna: Drs. M Dani Pratomo, ketua IAI, dalam kongres tersebut menekankan: tahun 2012 adalah tahun di mana PP No 51/2009 harus dilaksanakan secara total. Ia menyatakan kesadaran apoteker akan nilai profesi dan peran yang seharusnya dimainkan semakin meningkat. Sehubungan dengan hal tersebut Praktek kefarmasian mau tidak mau akan memperlihatkan unjuk kerjanya. Positioning IAI sebagai satu-satunya organisasi profesi apoteker akan semakin mantap dan akan menjadi pusat perubahan menuju apoteker profesi yang sesungguhnya. Nurul Falah Eddy Pariang, Sekjen IAI yang baru ditunjuk sebagai Anggota KFN (Komite Farmasi Nasional) menjelaskan dalam presentasinya hal-hal yang berkaitan

28

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

KILAS BERITA
dengan Komite Farmasi Nasional: KFN adalah badan baru yang dibentuk untuk menjamin apoteker di Indonesia melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai peraturan perundang-undangan. Nurul Falah pada kesempatan itu menerangkan mengenai tugas-tugas KFN, antara lain: menyiapkan rancangan cetak biru sertifikasi dan registrasi apoteker, menyusunan pedoman dan tata laksana sertifikasi dan registrasi, melaksanakan registrasi, menyusun rancangan cetak biru pengembangan pendidikan berkelanjutan, menyusunan pedoman pengembangan pendidikan berkelanjutan, dan menetapkan angka satuan kredit profesi (skp) dr. Lily S. Sulistyowati, MM, Kepala Pusat Promosi Kesekatan Setjen. Depkes dalam presentasi nya di aula Kongres banyak menekankan orientasi kepentingan penderita merupakan bentuk pelayanan farmasi yang memberi peluang bagi apoteker untuk berinteraksi secara rutin dengan dokter, pasien dan anggota profesional kesehatan lainnya dalam proses penggunaan obat yang bertujuan menjamin keamanan, efektivitas, ketepatan dan kerasionalan penggunaan obat dengan penerapan ilmu pengetahuan dan fungsi dalam perawatan penderita. Interaksi aktif dalam proses penggunaan obat ini sebagai Praktek Pelayanan Farmasi yang Baik yang didasarkan pada konsep Pharmaceutical Care. Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) adalah suatu bentuk layanan langsung seorang apoteker kepada konsumen obat (pasien) dalam menetapkan, menerapkan dan memantau pemanfaatan obat agar menghasilkan outcome terapetik yang spesifik. Melalui penerapan pelayanan kefarmasian yang memadai diharapkan masyarakat yang mengonsumsi obat mendapat jaminan atas keamanannya. Presentasi yang banyak menarik perhatian peserta adalah presentasi dari KETUA Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) /Staf Ahli Mensos Bid.OTODA, DR Chazali H Situmorang pada hari ke dua Kongres. Ia memaparkan kontribusi apoteker pada sistem jaminan sosial yang akan diterapkan dan memaparkan proyeksi kebutuhan apoteker untuk 3 tahun kedepan (UC JK 2014) yang secara kuantitatif dijabarkan sebagai berikut: • kebutuhan apoteker untuk puskesmas : 6.000 orang • kebutuhan apoteker untuk rumah sakit : 1000 orang • kebutuhan apoteker untuk verifikator bpjs, pendampingan pelayanan bpjs : 1.000 orang • kebutuhan tenaga apoteker oleh bpjs untuk setiap kabupaten : 500 • orang kebutuhan apoteker bpjs untuk propinsi : 33 orang

Di samping itu, disela-sela acara kongres IAI, telah ditanda tangani MOU antara IAI dengan PT Pfizer Indonesia, oleh Ketua Umum IAI Dani Pratomo dengan Widyaretna Buenastuti (Legals, Public Affairs and Communication Directors PT Pfizer Indonesia). Tujuan kerja-sama tersebut adalah untuk memudahkan para apoteker di seluruh Indonesia meningkatkan kompetensi lewat Continuing Profesional Development (CPD) secara on line yang akan difasilitasi oleh PT Pfizer. Dimanakah kongres Ilmiah tahun 2012 akan dilaksanakan?. Menurut ketua IAI Dani Pratomo, berhubung ada kegiatan PAFA di Bali bulan September 2011, kongres ilmiah tahun 2012 IAI ditiadakan. Bagi sejawat yang akan membawakan makalah ilmiah pada kongres PAFA tersebut dapat menghubungi Panitia Kongres PAFA di Jl. Wijayakusuma, Jakarta (Kantor PP IAI). Mengenai Rakernas IAI 2012, tempat dan waktunya akan ditentukan kemudian, dengan acara utama membahas regulasi lanjutan tentang praktek kefarmasian diumumkan pemerintah.(ak) bidang Farmakognosi-FitokimiaMikrobiologi-Obat Bahan Alam. Efek ekstrak Etanol Daun Murbei (Morus alba var. Multicaulis p.) terhadap aktivitas Enzim Xantin Oksidase Berdasarkan Perubahan Farmakokinetik Kofein pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Makalah ini dipresentasikan oleh Usmar, Kus Haryono, Andiny Mutia Kusady dan Gemini Alam, dari Fakultas Farmasi Universitas Hassanuddin Makassar. Makalah ini mendapatkan penghargaan sebagai makalah terbaik dalam bidang farmakologi Toksikologi.
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

MAKALAH DAN POSTER TERBAIK KONGRES ILMIAH:
ongres ilmiah yang berlangsung di Menado ini telah menampilkan 185 makalah ilmiah dan poster.Panitia Kongres Ilmiah, lewat tim khusus, juga menilai makalah yang dipresentasikan untuk mencari pemakalah terbaik. Kriteria penilaian yang dipakai adalah : Keaslian, keterbaruan, kemanfaatan, keilmuan, ketatabahasaan dan tampilan. Berdasarkan kriteria tersebut, tim penilai telah menetapkan beberapa

K

mekalah oral dan makalah poster yang berhak mendapatkan penghargaan, yaitu sebagai berikut: MAKALAH ORAL: Deklorofiliasi Ekstrak Etanolik Daun Mangga (Mangifera indica, L.) dengan metode Elektrokoagulasi. Makalah ini dipresentasikan oleh Hadianti Nurfitri, Andayana Puspitasari dari FF. Universitas Gadjah Mada. Makalah ini mendapatkan penghargaan sebagai makalah terbaik dalam

29

KILAS BERITA
Evaluasi Penggunaan Haloperidol pada Pasien Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Grhasia Yogyakarta Periode Februari-April 2011. Makalah ini dipresentasikan oleh Putri Damai Lestari, Woro Harjaningsih, FF. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dinobatkan sebagai makalah terbaik bidang Farmakoterapi-Farmasi KlinikFarmasi Rumah Sakit. Formulasi Tablet Hisap Campuran Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.) dan kencur (Kaemferia galangal L) menggunakan kombinasi Bahan Pengisi ManitolGlukosa. Makalah ini dipresentasikan oleh Anggi Kusuma Dewi, Mufrod, Sri Mulyani, Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dinobatkan sebagai makalah terbaik dalam bidang FarmaseutikaFarmasi Fisika-Teknologi Farmasi. MAKALAH POSTER Pengembangan dan Validasi Metode Analisis Untuk Penetapan Kadar PEG-400 dalam Enema secara Kromatografi Gas Makalah ini dipresentasikan oleh Benny Permana, Lia Yuliawati, Haryono Hadi Tjahyono dan Slamet Ibrahim Surantaatmadja dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Dinobatkan sebagai makalah poster terbaik pertama. Uji efek Antiinflamasi Infus Daun Rambut Jagung (Zea mays L.) Ditinjau dari penurunan Udem pada Telapak Kaki Tikus Jantan yang diinduksi Karegenan. Makalah poster ini dipresentasikan oleh Juhaeni Amin, Syafrida Siregar, Ginarti Ekawati dari Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia Jakarta. Dinobatkan sebagai Makalah poster terbaik kedua. Kultur Kuman Dari Berbagai Specimen Pasien-Pasien Sepsis Makalah poster ini dipresentasikan oleh Ivan Suya Pradipta dari Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran Bandung. Dinobatkan sebagai Makalah Poster Terbaik Ketiga. (ak)

Drs. G.C. Parera, Apt : Ketua Pelaksana Kongres Ilmiah & Rakernas IAI tahun 2011 Menado

JERIH PAYAH YANG MEMBAWA HASIL
Ratulangi (baru mendapat izin Dikti 2010) dan jurusan Farmasi Universitas Kristen Tomohon, yang saat ini sudah meluluskan sarjana tapi belum meluluskan apoteker. Namun tekad kuat PD IAI Sulut di bawah Ketua PD Lily Ranty, telah membalikkan semuanya. Suksesnya acara dapat dilihat dari banyaknya jumlah peserta, meningkatnya makalah ilmiah dan lancarnya pelaksanaan kongres. Menurut Parera, yang menjabat Kepala Bidang Bagian Penunjang RS Dr. Mandouw Menado, para apoteker Sulut boleh berbangga di hadapan sejawat apoteker Indonesia, karena dengan serba keterbatasanya PD IAI Sulut mampu dan berhasil melaksanakan even yang bergengsi dan besar . Fakta ini menunjukkan, keberadaan apoteker Sulut dapat diandalkan untuk mengadakan kegiatan yang lebih besar di masa datang. “Even ini merupakan kesempatan langka. Tidak semua daerah di Indonesia mampu dan mau melaksanakan acara bergengsi ini,” ujar penggemar diving dan cycling ini. Keberhasilan kongres tak lepas dari dukungan Pemda Sulawesi Utara, Universitas Sam Ratulangi, dan jurusan farmasi Universitas Kristen Tomohon. Apoteker Sulawesi Utara juga boleh berbangga karena mampu menghadirkan banyak orang ke Sulawesi Utara, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat Menado. Selama kongres, puluhan perahu motor bolak balik Menado Bunaken, membawa ratusan apoteker dan keluarga, yang ingin menikmati keindahan taman laut yang sangat kondang di manca negara itu.(ak)
Dani Rachadian

rs. G.C. Parera, Apt adalah apoteker lulusan Universitas Hasanuddin tahun 1987 boleh berbangga. Kongres Ilmiah Ikatan Apoteker Indonesia ke XIX dan Rakernas IAI, 28-30 Oktober 2011 di hotel Sintesa Peninsula, Menado, berlangsung sukses dan banyak menimbulkan kenangan dari para peserta yang jumlahnya mencapai 800 orang. Maklum, selama ini Menado bukan tempat yang terpikirkan untuk melaksanakan event bertaraf nasional seperti Kongres IAI, mengingat jaraknya jauh dari Jakarta, di samping minimnya SDM pendukung terlaksananya kongres seperti keberadaan Fakultas Farmasi yang kuat. Di Sulawesi Utara hanya ada 2 pendidikan tinggi farmasi yang umurnya relatif muda, yakni jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sam

D

30

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

KILAS BERITA
akan diterima apoteker seiring dengan munculnya PP. 51 dan peraturan pendukungnya. Ia mengingatkan mengenai munculnya masalah praktek apotek panel, yang baru-baru ini terjadi. Dani berharap, praktek seperti itu bisa menjadi pelajaran bagi semua agar tidak lagi menjadikan obat sebagai produk komersial semata. “Praktek apotek panel di Batam, adalah pelajaran bagi kita agar berhati-hati terhadap komersialisasi obat. Apoteker diharapkan mampu berperan sesuai PP.51 dan peraturan pendukung yang menyertainya,” kata Dani. Ibu Engko M. Sosialine dari Dir. Bina Pelayanan Kefarmasian Kementrian Kesehatan RI, menjelaskan pasal demi pasal dalam Permenkes No.889 tahun 2011. Komite Farmasi Nasional menjadi pembahasan yang hangat. Apa itu Komite Farmasi Nasional Komite Farmasi Nasional (KFN) ditetapkan oleh Menteri Kesehatan atas rekomendasi Dirjen Bina Farmasi dan Alkes. KFN diketuai seorang apoteker dan akan memangku masa bakti selama 3 tahun sampai dipilih kembali. Anggota KFN terdiri dari orang-orang Kemenkes, BPOM, IAI, PAFI, APTFI dan Diknas. Pada dasarnya KFN akan banyak menjalankan tugasnya untuk menjalankan amanah PP. 51 dan menerapkan Permenkes No.889 dengan baik. Peraturan Menkes No. 889/ MENKES/PER/V/2011 telah menunjuk KFN yang diketuai Drs. Purwadi, Apt., MM.ME, dengan anggota dr. Faiq Bahfen, SH, Dra. Augustine Zaini, Apt, M.Si., Dr. Tutus Gusnidar Kartawinata, Apt., dr. Umi Athiyah, Apt. MS, Drs. Ahaditomo, Apt., MS, Drs. Bambang Triwara, Apt., Drs. Nurul Falah Eddy
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012
Evita Fitriani

SOSIALISASI PERMENKES No.889 SIAP LAKUKAN PERBAIKAN TOTAL
Hadiah Baru Untuk Apoteker Munculnya PP.51 tahun 2009, diharapkan menjadi angin segar bagi profesi apoteker. Walau terbilang baru, banyak apoteker yang telah mencoba mengaplikasikan PP. 51 itu dalam tugas kesehariannya. Tidak hanya di apotek dan rumah sakit (RS), saat ini apoteker mulai memberanikan diri berkolaborasi dengan dokter di luar apotek dan RS. PP. 51/2009 diharapkan dapat menjadi tonggak, dalam mewujudkan jati diri apoteker yang sesungguhnya. Juni 2011 yang lalu, apoteker kembali diberi ‘hadiah’ berupa Permenkes No.889/2022. Permenkes ini adalah bagian pendukung PP. 51/2009. Kehadiran Permenkes ini telah lama ditunggu-tunggu, namun kehadirannya tetap mengejutkan pada sebagian apoteker. Termasuk sejawat apoteker yang tergabung dalam kepengurusan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Terkejutnya karena dengan begitu, IAI harus bergerak super cepat mensosialisasikan Permenkes ini kepasa sejawat apoteker di seluruh Indonesia. Pada 18 Juni 2011, bertempat di Hotel Twin Plasa, Jakarta Barat, IAI mengadakan acara Sosialisasi Permenkes No.889 tahun 2011 kepada seluruh Pengurus Daerah IAI dan utusan tambahan lainnya. Dalam acara ini hadir 6 orang perwakilan pengurus pusat dan 59 dari perwakilan pengurus daerah. Menurut Ketua Panitia Sosialisasi Permenkes, Drs. Nofendri, Apt, sosialisasi yang diadakan mendadak ini membawa agenda yang cukup penting. Selain memutuskan program penting untuk profesi apoteker di masa datang, sosialisasi ini juga mewadahi IAI untuk berhubungan dan menggali informasi ke Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian, yang dalam kesempatan ini dihadiri Ibu Engko M. Sosialine. “Harapan saya, dalam kesempatan ini akan ada kesepakatan untuk mengambil langkah strategis, dalam mensosialisasikan Permenkes,” kata Nofendri dalam sambutannya. Ketua Umum IAI, M. Dani Pratomo, menekankan pada kesempatan dan peluang positif yang

31

KILAS BERITA
Pariang, Apt., dan Dra. Suzana Indah Astuti, M.Si. Apt. Ada tiga divisi yang dibentuk KFN, yaitu: Divisi Registrasi dan Sertifikasi, Divisi Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan dan Divisi Pembinaan dan Pengawasan. Masingmasing divisi akan melakukan tugas mulai dari registrasi ulang apoteker, sampai mengawasi jalannya pelayanan kefarmasian. KFN diberi wewenang untuk membentuk tim ad hoc, yang bertugas menyelesaikan masalah jika ada pelanggaran kedisiplinan Menyongsong Deadline Walau waktu yang diberikan singkat untuk melakukan pembenahan, pengurus IAI dan Ibu Engko optimis bahwa hal ini mungkin dilakukan. “Kita tahu, banyak regulasi yang bentrok satu sama lain. Tapi, kita akan bantu melakukan advokasi ke sejumlah kabupaten/ kota, agar Permenkes No.889 dapat diterima dengan baik dan diaplikasikan secepatnya,” katanya menjawab pertanyaan dari pengurus daerah. PP IAI menyatakan. akan banyak pekerjaan rumah mengiringi keluarnya Permenkes ini. Permintaan dari apoteker di daerah agar sosialisasi segera dilakukan, menjadi point penting utama. PP IAI berusaha memenuhi hal tersebut bersama Kemenkes, sehingga dalam melakukan sosialisasi nanti lebih mudah dan materinya cepat sampai ke apoteker di daerah secara merata. Kenyataannya, sejawat apoteker sangat peka dengan munculnya Permenkes No.889 ini. Terlihat dari antusias mereka untuk segera melakukan registrasi ulang apoteker, sesuai waktu yang dijadwalkan. Untuk itu, Juli 2011 lalu, PP IAI menfasilitasi sejawat apoteker yang ingin melakukan registrasi kolektif. (vit)

HUT IAI di Kupang

S

SATU HATI SATU SUARA UNTUK APOTEKER YANG LEBIH BAIK
diadakan seminar. Bukan hanya untuk memperingati HUT IAI; seminar ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan kembali pekerjaan rumah profesi apoteker, yaitu mengimplementasikan PP. 51. Mengingat sebulan sebelum acara ini berlangsung, Kemenkes mengeluarkan Permenkes 889 untuk mendukung pelaksanaan PP. 51, maka acara ini dijadikan ajang sosialisasi Permenkes 889, kepada sejawat apoteker di Kupang. Antusias peserta seminar begitu tinggi. “Sekitar 246 orang mengikuti seminar ini, mereka itu sejawat apoteker, mahasiswa dan asisten apoteker,” kata Bobbi. Tentunya, ini menjadi pointers yang baik bagi sejawat apoteker, bahwa keingintahuan untuk mengenaili PP-51 dan Permenkes 889 cukup besar. Perubahan di profesi apoteker diharapkan bisa terwujud. Apoteker = Legal Driven Profesi Kesehatan Ada yang menarik dari wacana yang diangkatkan Ahaditomo, mantan Ketua Umum IAI. Hal ini memang senantiasa mengingatkan peran dan fungsi apoteker yang sesungguhnya. Daya tarik selanjutnya bukan hanya dari bagaimana PP. 51 bisa berjalan, melainkan peluang apa yang bisa diambil di balik munculnya PP. 51 tersebut. Sejauh ini, peluang di balik PP.51 masih tertutup dengan banyaknya kontra akan pelaksanaan PP. 51. Ahaditomo dalam materi presentasinya mengajak berpikir jauh ke depan. Apoteker tidak lagi sekadar tenaga kerja biasa, namun profesi tenaga kesehatan. Apoteker masa kini dan akan datang memiliki kompetensi

ehati sesuara untuk Apoteker yang lebih baik. Itulah tema yang diangkat Pengurus Daerah IAI NTT, dalam memperingati ulang tahun IAI beberapa waktu yang lalu. Banyak wacana yang bisa diangkatkan untuk membangun apoteker yang lebih baik di masa datang, terutama setelah keluarnya PP-51 tahun 2009 diikuti dengan Permenkes 889 tahun 2011. Acara bermuatan positif ini dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, 18 Juli 2011 diselenggarakan kegiatan jalan santai. Acara ini dilakukan di alun-alun kediaman gubernur NTT. Acara jalan santai diharapkan mampu meningkatkan rasa kebersamaan apoteker. Dan bukan hanya kebersamaan sesama profesi, karena IAI juga mengajak profesi lain seperti dokter dan para stakeholder untuk ikut meramaikan acara. Sekitar 1000 orang dari beragam profesi antusias mengikuti acara ini. Menurut ketua pelaksana PPHUT IAI, Lettu Ckm Bobbi Hemriyanton, Apt, diselenggarakannya acara ini mengusung banyak tujuan. Selain meningkatkan silaturahim dengan rekan se profesi, juga meningkatkan silaturahim dengan tenaga kesehatan lainnya. Hal ini karena dalam menjalankan peran dan fungsi di bidang kesehatan, satu profesi kesehatan saling terkait erat dengan profesi lainnya, agar tercipta masyarakat sehat yang ideal. “Ikut sertanya 1000 orang tenaga kesehatan adalah sebuah pencapaian yang di luar dugaan kami. Ini menjadi motivasi bagi kami, untuk terus menyelenggarakan acara serupa,” tuturnya. Acara kedua, pada 23 Juli 2011, bertempat di Hotel Kristal Kupang,

32

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

INFO TEKNOLOGI
yang terukur, memiliki moral profesi, teregristasi dan memiliki izin praktek. Karenanya, apoteker harus menjadi profesi yang mandiri. Dan inilah yang ditawarkan oleh Ahaditomo: skema baru apoteker sebagai profesi mandiri. Sejauh ini, tugas apoteker di area pelayanan apotek memang terlihat tidak berfungsi. Padahal, pekerjaan aporteker sangat kompleks. Apoteker bukan sekadar menandatangi SP narkotik dan psikotropik, seperti yang selama ini terjadi. Tindakan apoteker mencakup penyusunan SOP pelayanan farmasi, melakukan analisis permintaan atas dasar resep dokter, menyusun standar coumpounding dan dispensing, jurai (menjelaskan dan menguraikan) terapi yang harus dilakukan pasien, dan melakukan monitoring terapi pasien. Pekerjaan tersebut tidak selesai dalam semalam, tapi membutuhkan proses panjang. Dengan kemampuan dan kompetensinya, apoteker bisa men-setting pelayanan farmasi dan hal ini bisa disebut sebagai produk jasa apoteker, di mana di dalamnya terlibat liability ilmu dan profesi. Harapan Ahaditomo akan menjadi perjalanan baru bagi apoteker, untuk kembali ke jati diri yang sesungguhnya. “Hhal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, jika apoteker komitment melakukan perubahan,” ujar Ahaditomo. Continuing Education: Patofisiologi dan Farmakoterapi Hipertensi Setelah suasana dibuat panas dengan ide dan pemikiran Ahaditomo, di sesi kedua audiens diajak untuk meningkatkan dan menambah ilmu melalui continuing education. Tema yang diangkatkan adalah mengenai Patofisiologi dan Farmakoterapi Hipertensi. Materi ini dibawakan Sylvi Irawati, M. Pharm-Klin, Apt, (staff pengajar Universitas Surabaya) dan dr. Leonora Tiluata, Sp JP, dari Rumah Sakit W. Z. Johannez, Kupang. Dr. Leonora menceritakan tentang kasus sekitar hipertensi di masyarakat, dan penatalaksanaan yang biasa dipakai dokter. Kasus Hipertensi terbilang sering ditemui, namun proses perawatannya sering disepelekan. Beberapa kasus pasien dengan hipertensi juga dimunculkan Sylvi Irawati. Menurut Sylvit, dalam melakukan drug review, apoteker harus lebih dulu melihat bagaimana gaya hidup pasien sebelumnya. Faktor yang penting diketahui oleh apoteker adalah: riwayat penyakit, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, adanya alergi obat, latar belakang keluarga dan social dan, tentunya, data pemeriksaan lab dan fisik dari dokter. Hal – hal ini penting bagi apoteker dalam mengambil keputusan atas monitoring obat bagi pasien. Saat memberi masukan pun, apoteker harus pintar mempertimbangkan masukannya. Jangan sampai ada hal-hal yang justru bertentangan dengan saran dokter, karena hal tersebut akan membuat pasien bingung saat menjalani terapi. Jika ada hal-hal yang dirasa bertolak belakang, di sanalah peran KIE antar profesi dijalankan. Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan dokter untuk membahas masalah pasien, lalu bersama-sama mengambil jalan terbaik. (vit)

SAYA BERMINAT BERLANGGANAN MAJALAH

6 Edisi = Rp.90.000,-

**Boleh di Fotocopy

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

33

KILAS BERITA

MANAJEMEN BARU PT. ISFI PENERBITAN PERIODE KEDUA MENGEMBANGKAN USAHA
Dani Rachadian

dan Pengurus Pusat IAI.

MANAJEMEN BARU, HARAPAN BARU
PT. ISFI Penerbitan merupakan perusahan yang didirikan tahun 2006 oleh organisasi profesi apoteker ISFI (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia) sekarang bernama IAI (Ikatan Apoteker Indonesia). Jika dahulu PT. ISFI Penerbitan hanya menerbitkan ISO Indonesia sekarang juga menerbitkan ISO Farmakoterapi dan buku ajar kefarmasian lainnya. Selain itu juga menerbitkan Majalah Medisina serta Jurnal Farmasi Indonesia. Periode 2006 sampai dengan 2011 merupakan tahap awal perusahaan ini membangun fondasi dasar. Periode mendatang merupakan tahap pengembangan, artinya perseroan mulai menata kembali sistem tata kelola perusahaan

erdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. ISFI Penerbitan pada tanggal 12 Juli 2011 telah disetujui adanya perubahan susunan manajemen perseroan. Perubahan tersebut adalah ditunjuknya Drs. Wahyudi U. Hidayat, M.Sc, Apt sebagai Komisaris Utama menggantikan Prof. Dr. Haryanto Dhanutirto, DEA, Apt. RUPS menetapkan pula anggota komisaris PT. ISFI Penerbitan yang baru yakni Drs. Arel St. Iskandar, MM, Apt, Drs. Anung B. Mahatma, MSc, Apt, Dra. Azizah Nuraini, MM, Apt dan Nunut Rubiyanto, S.Si, Apt. Perubahan juga terjadi pada Dewan Direksi PT. ISFI Penerbitan, yaitu Dra. Sus Maryati, MM, Apt sebagai Direktur Utama menggantikan Drs Suhatsjah Syamsuddin, MBA, Apt, Drs. Azril Kimin, Sp.FRS, Apt sebagai Direktur Operasional menggantikan Drs. Azwar Daris, M.Kes, Apt dan Dra. Eddyningsih, Apt tetap menjabat sebagai Direktur Keuangan. Juga ditetapkan masa jabatan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi selama Lima tahun.

B

Tindak lanjut dari RUPS tersebut telah dilakukan acara serah terima jabatan PT. ISFI Penerbitan pada 26 Oktober 2011 di kantor PT. ISFI Penerbitan Jl. Wijaya Kusuma No. 17 Tomang - Jakarta. Serah terima jabatan
Dani Rachadian

Manajemen lama dan baru PT. ISFI Penerbitan berfoto bersama seuai acara serah terima jabatan.

itu dilakukan melalui penandatanganan surat serah terima oleh Komisaris Utama dan Direktur Utama PT. ISFI Penerbitan. Turut hadir dalam acara tersebut adalah Dra. Ita Hutagalung, Apt selaku perwakilan dari yayasan IAI

agar lebih baik, efisien dan efektif dan memproduksi buku yang lebih banyak dan bermanfaat bagi dunia kefarmasian Indonesia. (dra)

34

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

PENELITIAN

RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA SPUTUM PENDERITA ISNB
nfeksi Saluran Napas Bawah (ISNB) sering diabaikan oleh penderitanya. Terkadang, mereka menganggap penyakit ini tidak memerlukan perawatan penuh. Kenyataanya, penyakit ISNB paling sering ditemukan di masyarakat, baik rawat jalan mau pun rawat inap. Penyakit ini dikategorikan sebagai infeksi paru, yang persentasenya mencapai 60-80% dari seluruh penyakit paru, isanya 20-40% adalah penyakit non infeksi. Penyakit ISNB umumnya akan menyerang bronkus, bronkeolus dan paru. Manifestasi klinisnya bisa akut atau kronis. Penyakit ini disebabkan oleh virus pada anak-anak, namun ada juga yang disebabkan bakteri. Sedangkan pada orang dewasa, penyakit ini lebih banyak disebabkan oleh bakteri. Menurut data di Kementrian Kesehatan RI, penyakit bronkhitis kronis, enfisema dan paru obstruktif menempati urutan ke 14 dengan persentase kunjungan 1,2%. Wala pneumonia lebih dikhawatirkan pada usia tua karena dapat menimbulkan kematian, tetap perlu diwaspadai pada usia yang relatif muda. Shirly Kumala menurunkan tulisan berjudul “Pola Resistensi Antibiotik Terhadap Isolat Bakteri Sputum Penderita Tersangka Infeksi Saluran Nafas Bawah”, dimuat dalam Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No. 2 tahun 2010. Dalam mengatasi ISNB, diperlukan spektrum antibiotik yang sangat luas. Agar didapat hasil ideal, pengobatan ISNB sebaiknya

I

menunggu hasil isolasi agen penyebab dan uji resistensinya. Beberapa pihak mengatakan hal ini tidak praktis, karena pasien akan menunggu untuk mendapatkan terapi. Sisi baiknya, hal ini mencegah terjadinya pola resisten terhadap antibiotik di masyarakat. Shirly Kumala melakukan penelitian menggunakan sampel sputum dari Labolatorium Uji Mikrobiologi FKUI. Untuk uji resistensi bakteri, digunakan difusi metoda difusi cakram menurut CSLI. Penelitian dilakukan dalam jangka tiga bulan, Februari-April 2008.

Dalam penelitiannya, Shirly menjelaskan, dari 30 sampel sputum yang digunakan menunjukkan 124 sampel bakteri, yang terdiri dari bakteri gram positif dan negatif. Jumlah bakteri gram negatif lebih banyak, terdiri dari Klebsiella pnumoniae (23%) Pseudomonas aeroginosa (11%) dan Acinetobacter anitratus (10%). Penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan tahun 2007, di mana Psudomonas aeroginosa menempati tempat pertama untuk bakteri yang

paling banyak ditemukan. Dilakukan juga penelitian berdasarkan pengambilan spesimen. Bakteri yang ada di LMK FKUI, yang diambil dari pelayanan rawat inap Rumah Sakit, menunjukkan nilai Klebsiella pnumoniae (37,5%) Pseudomonas aeroginosa (17,5%) dan Acinetobacter anitratus (22,5%). Tidak jauh berbeda dengan rawat jalan, di mana hasilnya adalah Klebsiella pnumoniae (36%) Pseudomonas aeroginosa (24%). Dari dua tempat pengambilan spesiemen ini, Klebsiella pnumonia masih menduduki peringkat atas bakteri penyebab ISNB. Sama dengan hasil penelitian yang dilakukan tahun 2007, Klebsiella pneumonia dikatakan sensitif terhadap antibiotik golongan aminoglikosida yaitu amikasin (88,9%) dan gentamisin (69%). Walau pun kepekaannya dinyatakan menurun dari tahun sebelumnya, penggunaan amikasin dan gentamisin masih disarankan. Klebsiella dinyatakan memiliki resistensi yang tinggi terhadap antibioti beta-laktam jenis tikarsilin (75,9%). Berbeda dengan Klebsiella penumoniae, Acinetobacter anitratus ternyata 100% resisten terhadap amikasin, dan 100% resisten terhadap kotrimoksazol dan tikarsilin. Hal ini menyebabkan, bakteri ini sudah tidak dapat diobati lagi dengan aminoglikosida mau pun beta laktam. Sedangkan Pseudomonas Aeroginosa kepekaannya menurun pada penggunaan golongan kuinolon, dan memiliki keresistenan sebesar 83,3% terhadap klortimoksazol.(vit)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

35

PENELITIAN

P

TEMU PUTIH UNGGUL ATASI KANKER SERVIKS
herbal. Berbagai macam bahan alam telah diteliti, mulai dari jamur sampai tumbuhan tingkat tinggi seperti Penicillium brevicompactum, Streptomyces peucetius, ekstrak buah strawberry, blueberry dan rasberry. Para peneliti banyak menekankan apa adanya untur alkaloida, terpenoida, flavonoida dan resin, yang biasanya banyak beraktivitas antikanker dan antioksidan. Ada penelitian Maksum Radji dkk dengan judul “Uji Sitotoksisitas serviks). Penelitiannya mengarahkan pada hasil yang cukup nyata. Ketiga tumbuhan tersebut memang memperlihatkan aktivitas yang sangat bagus, untuk menghambat sel kanker serviks. Dalam penelitian tersebut, terlihat adanya kematian sel hela akibat pengaruh ekstrak uji. Dari ketiga tumbuhan tersebut, ekstrak temu putih memiliki kemampuan yang paling kuat menghambat pertumbuhan sel kanker, jika diukur dari pengukuran serapan ekstrak uji dengan Elisa plate reader. Pada masa inkubasi 24 jam dan 48 jam, didapatkan kematian sel sebesar: temu putih 500 ug/ml 92,4% dan 97,0%; buah merah 500 ug/ ml sebesar 71,3% dan 80,2%, dan mahkota dewa 500 ug/ ml sebesar 48,0% dan 58,6%. Hambatan pertumbuhan sel kanker semakin meningkat seiring dengan penambahan dosis dan lamanya waktu inkubasi. Sama halnya dengan perbandingan nilai LC50, ektrak temu putih juga memiliki aktivitas paling kuat dalam mematikan sel kanker serviks. Untuk masa inkubasi 48 jam, ekstrak temu putih memiliki nilai LC50 58,9 ug/ ml. Ekstrak buah merah 421 ug/mg dan ekstrak mahkota dewa 835 ug/ml. Menurut Maksum Radji, kandungan minyak atsiri yang terdapat dalam temu putih, seperti epikurzerenona dan kurdiona, dapat mempengaruhi proses apoptosis sel kanker manusia. Apoptosis sendiri adalah mekanisme penting dalam strategi melawan kanker.(vit)

enelitian tentang penggunaan obat herbal untuk mengatasi penyakit kanker, telah banyak dilakukan. Sayangnya, hingga sekarang banyak peneliti yang belum mengungkapkan tentang aspekaspek obat herbal. Obat herbal telah menjadi konsumsi komunitas atau etnis tertentu, sementara bagi sebagian orang obat herbal masih perlu dibuktikan aktifitas farmakologisnya secara eksperimental. Para penggali ilmu pengetahuan lebih menginginkan penelitian sampai pada tahap isolasi zat murni, yang dianggap memiliki aktivitas biologis. Untuk pasien yang menderita kanker menahun, obat herbal mungkin tidak asing lagi. Tingkat kebosanan pada penggunaan obat kimia membuat mereka mencoba alternatif baru. Terlebih untuk pasien kanker yang telah beberapa kali menjalankan kemoterapi, dan merasakan efek tidak enak dari kemoterapi. Jenis kanker yang saat ini berkembang di Indonesia adalah kanker serviks. Kanker ini menempati posisi kedua, setelah kanker payudara. Di dunia, diperkirakan terdapat 466.000 kasus/ tahun, diperkirakan 231.000 orang meninggal/tahun. Di Indonesia sendiri, menurut data RS Kanker Dharmais, sekitar 147 kasus dari total 859 kasus adalah kanker serviks (2002) Tingkat kepatuhan pasien penderita kanker serviks diperkirakan mengalami penurunan, seiring dengan efek samping dari obat-obatan yang digunakan. Tak jarang, pasien kanker serviks mencoba alternatif pendukung terapi, yaitu

Buah Merah, Mahkota Dewa dan Temu Putih Terhadap Sel Kanker Serviks”, yang termuat dalam Jurnal Farmasi Indonesia (JFI) Volume 5 nomor 1, Januari 2010. Dinyatakan, ada tiga buah tumbuhan yang memiliki aktivitas sitotoksik. Tumbuhan tersebut adalah buah merah, temu putih, dan mahkota dewa. Tumbuhan ini memang telah banyak diteliti, dan dinyatakan memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan sel kanker. Dalam tulisan ilmiahnya, Maksum Radji mengungkan bahwa tujuan penelitiannya adalah untuk meninjau, sejauh mana tiga tumbuhan ini berkhasiat mengatasi kanker, terutama kanker serviks, yang diambil dari kultur sel hela (model in vitro untuk kanker

36

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

TOKOH

Pharmacist is a Noble Job!
satu kesamaan yaitu kesungguhan dalam menjalankan perannya. Mondang sangat mensyukuri dirinya dilahirkan sebagai perempuan, karena dia berpendapat bahwa gender bukan halangan untuk berhasil, “Semua bisa karena kita mau dan yakin! Just do my best, and God will do the rest” ujar Mondang. Gadis yang sangat suka jalan-jalan, bahkan mengidamkan bisa berkeliling dunia ini adalah alumnus tahun 2007 dari Farmasi Universitas Indonesia. Ditanya tentang profesi apoteker, Mondang berpendapat apoteker itu harus bisa memberikan pelayanan kesehatan yang baik, karena pada dasarnya harus berorientasi kepada kebutuhan pasien (patient oriented). Informasi yang diberikan harus lengkap dan bisa memberikan alternatif solusi bagi pasien yang memiliki kondisi yang berbedabeda. Mondang menyukai profesi ini, karena dia bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda. Bisa memberi bantuan pada orang lain tentunya bisa menyalurkan jiwa sosial yang dia miliki didasari atas kepeduliannya pada kesehatan, Pharmacist is a noble job!, tegas Mondang. Mondang yang saat ini mulai tertarik dengan fotografi merasa bahwa peran apoteker belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu pencapaian menjelang akhir tahun 2011 ini Mondang akan berusaha mendekatkan profesi apoteker ke masyarakat, sehingga apoteker tidak terasa asing lagi dan bisa berada dalam benak pmasyarakat khususnya pasien ketika mereka sakit dan membutuhkan layanan kesehatan, tidak hanya dokter saja. Makanya Mondang pun mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk mensukseskan sosialisai ini bersama-sama, “So, let’s move on together. Dream, learn, and take an action!” Resolusi tahun 2012, Mondang berharap bahwa dalam pikiran masyarakat sudah terbentuk pemahaman “Ketika orang sakit, langsung mencari Apoteker di apotek” karena apoteker harus menjadi tujuan pertama untuk konsultasi dalam bidang kesehatan. Inilah cita-cita saya, menjadi apoteker sukses karena bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai bidangnya masingmasing. Mondang berprinsip kesuksesan itu bisa diraih bila kita menyukai dan mencintai profesi ini. I’m enjoy it, coz I LuV it! Yeah. (dra)

RUMONDA RUMONDANG MARIA, S.Si., Apt

umondang artinya sinar atau cahaya dan Maria adalah nama dari Bunda Maria. Itulah nama gadis bersuku Batak yang akrab dipanggil Mondang atau Monchie yang wajahnya menghiasi sampul majalah Medisina edisi ini. Orang tuanya memberi nama tersebut dengan harapan sang anak bisa menjadi seseorang yang penuh keberkahan dan bisa memberikan sinar atau cahaya bagi semua orang. Saat ini Mondang berprofesi sebagai Apoteker Penanggung jawab apotek (APA) di Kimia Farma 319 - Metro Bandung. Lahir tanggal 15 Juli 1985 di Jakarta, anak pertama dari tiga bersaudara tentunya membentuk karakter yang kuat dari Mondang, apalagi nama yang diberikan orang tuanya menaruh harapan besar agar dia bisa menjadi sosok yang bisa memberi keberkahan kepada orang lain. karena sebagai anak pertama tentunya dia harus bisa menjadi panutan bagi adik-adiknya dan tentunya harus bisa memberikan kebanggan kepada kedua orang tuanya. Karena itulah Mondang sangat mengidolakan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki karakter yang kuat dan tangguh seperti Bunda Teressa (Pejuang Kaum Miskin), Sri Mulyani (Mantan Menteri Keuangan RI), dan Agnes Monica (Artis). Menurut Mondang mereka adalah tokoh-tokoh perempuan dari latar belakang dan generasi yang berbeda namun punya

R

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

37

TOKOH
esibukan yang seabrek ternyata tidak membuat wanita ini menjadi letih. Justru, kesibukan membuatnya tambah menikmati hari-harinya. Prof. Ernawati Sinaga, Apt, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Nasional dan Ketua Dewan Redaksi Jurnal Farmasi Indonesia, mengaku sangat senang menjalani rutinitasnya sebagai peneliti. “Melakukan penelitian sama sekali tidak membosankan, justru mengasyikkan. Kalau tidak pandai mengatur waktu, bisa membuai dan memabukkan,” ia tertawa. Dunia penelitian, utamanya di bidang Biokimia dan Biomolekuler telah digelutinya sekian lama. “Saya melakukan penelitian di bidang drug delivery atau penghantaran obat di dalam tubuh. Sangat menarik, karena banyak sekali senyawa obat baru ditemukan. Tantangannya adalah, bagaimana senyawa obat tersebut dapat sampai di target site,” kata wanita yang juga dosen di beberapa universitas di Indonesia ini. Ernawati tidak bekerja sendiri dalam menuntaskan

K

PROF. DR ERNAWATI SINAGA, MS.,APT

Peneliti yang Hobi Menulis
38 38
Edisi XIV De ember 2011 Februari 2012 Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012 Edisi XI Desember 011 eb uar 0 2 isi IV s ber brua ar

penelitiannya. Dia bergabung dengan sekelompok teman dari Departement of Pharmaceutical Chemistry di Kansas University, AS, ketika melakukan penelitian drug delivery. “Saya mengonstruksi peptida-peptida sintesis yang sekuennya diturunkan dari protein kadherin yang ada di permukaan sel, sehingga bisa meningkatkan drug delivery melintasi berbagai biological barriers.” Hasil penelitian Ernawati dan tim, telah dipublikasikan dalam Jurnal Moleculer Pharmaceutics Vol. 8 No. 1 tahun 2011, dengan judul “Enhancement of Drug Absorbtion Trouhg the BloodBrain Barrier and Inhibition of Intercellular Tight Junction Resealing by E-Cadherin peptides” Selain tentang Drug Delivery, Ernawati senang meneliti tumbuhan obat. Tumbuhan yang diteliti adalah kelompok jahe-jahean (family Zingiberaceae). “Kami, sekelompok peneliti, telah membuktikan aktivitas antikanker, hepatoprotektif dan antioksidan dari beberapa tumbuhan suku Zingiberaceae, antara lain temulawak, temu mangga, temu giring, lempuyang gajah dan bengel hantu,”katanya. Penelitian terakhir tentang bangel hantu akan ditindaklanjuti lebih jauh, mengingat tanaman tersebut mudah dibudidayakan. Sudah puas sampai di situ? Ternyata tidak. Walau ketika berhasil melakukan penelitian terasa menggembirakan, Ernawati merasa belum final. Dia sangat berharap suatu saat hasil penelitiannya bisa ditindak lanjuti, dan bisa sampai ke tahapan uji klinis. Ia bersyukur, kesibukannya sebagai peneliti mendapat dukungan besar dari keluarga. Ia merasa tidak punya masalah dalam mengatur waktu untuk keluarga. “Berkarir bukan berarti melepas tanggung jawab sebagai ibu,” kata ibu yang senang mengunjungi pelosok-pelosok Indonesia, sekalian menjalankan hobi fotografinya. Di Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Ernawati mendapat tugas yang tidak mudah, yaitu menjadi pimpinan redaksi Jurnal Farmasi Indonesia. Sejak awal, ia optimis untuk membawa Jurnal Farmasi Indonesia, sehingga bisa diakreditasi oleh Dikti. Impiannya terjawab tahun 2009, di mana JFI dihadiahi akreditasi oleh Dikti. Target selanjutnya adalah mencoba membawa JFI masuk ke dalam Jurnal bertaraf Internasional. “ Saya sadar, masih banyak yang harus dilakukan untuk Jurnal Farmasi kita. Ke depan, mudah-mudahan kerja tim dapat terus ditingkatkan, sehingga JFI bisa menjadi jurnal kebanggaan para apoteker Indonesia,” tuturnya. Menjadi wanita peneliti berprestasi tentulah membanggakan. Dan, hal ini tidak pernah terpikirkan olehnya semasa kecil. “Dulu saya ingin jadi wartawan terkenal, yang bisa melanglang buana dam bertemu banyak orang pintar dan bijaksana,” kata wanita yang memang hobi menulis ini. Seperti diketahui beberapa tahun lalu Pof. Erna mengasuh rubrik kesehatan di Harian republika. Ernawati bersyukur atas jalan yang hidup diambilnya. “Allah memutuskan saya menjadi peneliti, penulis dan pendidik, dan saya menikmatinya.” (vit)

Da

ni

Ra c

ha

dia

n

TOKOH

Buku Itu Harta Karun
T
ak banyak yang mengenal sosok laki-laki ini. Namun, mereka yang pernah ke Sekretariat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) di Tomang, Jakarta, sosok ini pasti familiar. Dia adalah juru kunci gedung sekretariat PP IAI. Tugas Manto, begitu akrap disapa, adalah menjaga gedung PP IAI agar selalu aman. Apa yang unik dari laki-laki berkulit sawo matang ini? Ternyata, ia orang yang senantiasa melakukan pendidikan berkelanjutan. Jika apoteker memanfaatkan moment seminar atau kongres untuk mendapatkan pendidikan berkelanjutan, lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA) ini menambah wawasan dengan banyak membaca buku. Kecintaanya pada buku, membuatnya tidak tahu lagi, di lemari mana ia harus menyimpan buku-bukunya yang jumlahnya ratusan. “Bagi saya, buku adalah pintu untuk kita mengerti tentang konsep Ketuhanan. Dari buku apa pun, kita bisa mendapatkan banyak ilmu. Dengan memiliki ilmu, kita bisa menghargai diri sendiri dan orang lain,” tuturnya. Kecintaan Manto pada buku sudah sejak lama, dan minat membacanya makin tumbuh selepas dari bangku sekolah. Dulu, kesempatan belajar didapat melalui guru dan sekolah, buku hanya sebagai pendamping. “Sekarang, karena sudah tidak sekolah, buku adalah tempat belajar utama saya,” kata pecinta tennis meja ini. Yang dibaca Manto bukan hanya buku-buku agama. Ia gemar membaca buku pengembangan diri, filsafat, perbandingan agama, pemasaran, novel dan manajemen. Ia juga membaca terjemahan dari pengarang Iran, Kairo, Arab Saudi, dll. Ia mengeluarkan Rp 300.000-1.000.000 untuk belanja buku, jika berkunjung ke toko buku. Manto juga memanfaatkan moment book fair untuk menambah koleksi bukunya. Diakui, membaca buku ia tak cukup sekali. “Buku itu jika dibaca sekali, akan didapatkan sebanyak “X” ilmu. Ketika kita baca kedua kalinya, akan ada arti dan makna baru yang kita dapatkan. Begitu pula jika dibaca lagi, pasti masih ada ilmunya. Jadi membaca buku tidak saya batasi, karena nanti pemikiran kita terbatas,” tuturnya. Baginya,

SUMANTO

buku itu seperti harta karun, yang ketika kita semakin gigih mencari atau kedalaman, kita akan semakin kaya. Siapa pengarang? “Saya suka karya Quraisy Sihab, Amiruddin Syah, Ahmad Qoshim, Alwi Sihab.” Menjadi pengajar atau guru, adalah cita-cita Manto kecil. Inilah yang mendasarinya gemar membaca buku, “Kita harus pintar dan berwawasan, baru bisa mengajar orang lain. Kalau sekarang, saya menjadi guru untuk diri saya,” katanya tertawa. Yang pasti, pria yang gemar bepergian dengan sepeda ontelnya ini menjalani hidup tanpa neko-neko. Ia mengaku tidak memiliki target untuk hidupnya ke depan, karena ia percaya semua sudah di atur oleh Allah SWT. “Saya hanya belajar mencintai dan menghargai apa yang telah saya pilih. Profesi apa yang digeluti, cintailah pilihan tersebut,” katanya. Keunikan Manto ini membuat Ketua Umum IAI tertarik agar MEDISINA meliput tentang dia. Ada yang mau mengenal Manto lebih jauh? Sering-seringlah berkunjung ke Gedung PP IAI, Tomang. (vit)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

39

PRAKTEK KEFARMASIAN

CPKB Mengatasi Produk Kembalian

Kosmetik
Istimewa

keluhan-keluhan menyangkut penggunanaan bahan baku berbahaya yang datang dari masyarakat. Dalam CPKB kosmetik, jaminan mutu juga mencakup produk kembalian dari masyarakat yang mendapatkan keluhan. Produk Kembalian = Belum Bermutu Tugas dari bagian pengawasan mutu produk kosmetik adalah bertanggung jawab pada keluhan. Keluhan biasanya memiliki indikasi adanya produk kembalian dari masyarakat, baik secara langsung atau melalui badan-badan tertentu. Biasanya, keluhan pelanggan tidak hanya mencakup adanya efek samping produk secara langsung, tapi juga hal lain terkait produk, misalnya kerusakan produk, bau yang telah berubah, kadaluarsa, kerusakan kemasan, atau hal lainnya yang menimbulkan keraguan atas mutu produk. Dalam tugasnya, bagian pengawasan mutu harus melakukan evaluasi pada produk kembalian. Langkah yang bisa dilakukan pertama kali adalah, menganalisa mana saja dari produk kembalian yang perlu dilakukan pengujian kembali. Tidak semua produk kembalian perlu dilakukan pengujian kembali, terlebih produk-produk yang sejak diterima kembali telah mengalami kerusakan seperti kadaluarsa atau ada perubahan bentuk dan bau. Produk-produk kembalian yang masih memenuhi spesifikasi yang ditentukan, setelah mengalami pengujian kembali, boleh saja dipindahkan statusnya menjadi produk jadi yang diluluskan. Produkproduk seperti ini boleh dilakukan pengemasan ulang, dengan diberi nomor bets baru dan kode tertentu, yang bisa dibaca bagian pengawasan, bahwa produk tersebut pernah menjadi produk kembalian. Untuk menjaga keamanan produk kembalian yang dilempar lagi ke

P

ada Medisina edisi yang lalu, telah dikupas tuntas mengenai pasar bebas kosmetik. Kesiapan pabrik kosmetik dalam menghadapi pasar bebas kosmetik sangat tergantung pada kesiapan mereka menerapkan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). Dengan penerapan CPKB, kosmetik dalam negeri dianggap memiliki daya saing yang tinggi di pasar domestik atau internasional. CPKB membuat kosmetik memiliki jaminan mutu dan aman digunakan. CPKB dan Penunjang Harmonisasi ASEAN Dalam CPKB, pengawasan mutu produk kosmetik adalah bagian yang penting. Seperti yang lama diwacanakan, pengawasan mutu adalah upaya pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan sebelum, selama dan setelah pembuatan kosmetik, untuk menjamin agar kosmetik yang diproduksi memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Keterbatasan

fasilitas pengujian terkadang menjadi kendala bagi pabrik farmasi, namun hal tersebut bisa diatasi dengan menunjuk labolatorium yang telah terakreditasi untuk melakukan pengujian. Walau pun tidak serumit pengawasan mutu pada produksi obat, pengawasan mutu kosmetik tidak biasa diabaikan. Sistem pengawasan mutu harus lengkap dan langkah-langkahnya sesuai dengan prosedur. Perlu diperhatikan permasalahan mengenai prosedur pengambilan contoh, pengujian, pemeriksaan terhadap bahan awal, kelaikan bangunan, personalia, peralatan yang digunakan, reagen yang dipakai, SOP untuk evaluasi pengujian dan sebagainya. Saat ini, harmonisasi ASEAN untuk kosmetik tengah disosialisasikan. Maka, hal-hal yang berhubungan dengan peredaran kosmetik, yang dianggap membahayakan akan dievaluasi setelah di lempar ke pasar. Pengawasan ini disebut Pre Market Evaluation. Dengan evaluasi pre market ini, banyak kemungkinan

40

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

pasar, produk-produk kembalian ini hendaklah dievaluasi secara berkala oleh bagian pengawasan mutu perusahaan kosmetik, agar tidak lagi menjadi keluhan di masyarakat. Hal-hal yang terkait dengan produk kembalian,ini hendaklah dicatat dan diarsipkan rapi, lalu dikirimkan juga ke bagian terkait pengawasan mutu lainnya. Hal-hal yang penting untuk

dicatat adalah: alasan pengembalian, jumlah yang dikembalikan, tanggal perbaikan (bila diperbaiki), tanggal pemusnahan, dan metoda pemusnahan. Pada institusi pendidikan, tidak terlalu dipelajari mendalam mengenai produk kembalian ini. Padahal, dalam sistem pre market evaluation nanti, di mana sosialisasi tentang kosmetik

yang aman ke masyarakat mulai gencar disosialisasikan, kemungkinan adanya produk kembalian ini akan semakin besar. Karenanya, setiap bagian dalam pengawasan mutu harus berperan agar produk-produk kosmetik sebelum dilempar ke pasar, benar-benar terjamin mutu dan kualitasnya, untuk meminimalisir munculnya keluhan dan produk kembalian.(vit)

INFO TEKNOLOGI Keunggulan Terapi Pisau Ar-He untuk Kanker
ara praktisi yang terlibat dalam penanganan kanker, bisa mencoba teknologi baru. Rumah sakit biasanya mengambil tiga langkah penanganan untuk penyakit kanker yaitu: kemoterapi, operasi dan radioterapi. Saat ini, banyak teknologi baru yang dikembangkan. Salah satunya terapi pisau Ar-He. Metoda ini biasa disebut juga sebagai Modern Ar-He Cryosurgery Therapy (membekukan tumor sampai mati). Ada dua istilah dalam metoda ini, yaitu Pisau Ar-He (Argon-Helium), berasal dari hak paten teknologi kedirgantraan Amerika Serikat, yaitu dengan menusuk tumor menggunakan “percutaneous puncture” (sebagai salah satu tindakan invasif minimal), sehingga tumor mati dalam beberapa detik tanpa merusak organ lain, pada suhu di bawah -160ºC. Sedangkan Cryosurgery adalah penggunaan suhu ekstrim (sangat dingin) untuk memusnahkan jaringan yang sakit. Ini bukanlah teknik baru. Terapi ini berlangsung dalam waktu kurang dari 10 detik. Keuntungan dengan menggunakan metoda ini adalah bekas luka yang ditinggalkan relatif kecil, perdarahan sedikit dan hasil pengobatan yang nyata. Di RS Kanker Moderen Guangzhou, Prof. Wang Rong Hua sudah berpengalaman menggunakan metoda terapi pisau Ar-He. Dinyatakan bahwa

P

teknologi pisau Ar-He dapat membunuh satu per satu lesi penyebaran. Pisau Ar-He sangat efektif untuk pengobatan kanker paru-paru, kanker hati, kanker prostat dan kanker lain. Pisau Argon + Pisau Ar-He dapat mengobati kanker yang posisinya di tengah organ tubuh, pisau Ar-He + radioterapi kemoterapi atau penanaman

radio partikel, dapat mengobati tumor solid dan sebagainya. Pengobatan kanker konvensional adalah menggunakan kemoterapi dan radioterapi, yang dianggap tidak cukup. Terlebih, banyak penderita kanker yang diketahui penyakitnya sudah stadium lanjut. Kemoterapi dan radioterapi perlu

biaya tinggi, pengobatan panjang dan efek sampingnya menggangu psikologi pasien. Seperti rambut rontok, tubuh kurus, fungsi pencernaan terganggu, mual, muntah, demam, sama seperti peran sel kanker yang dapat merusak fungsi kekebalan tubuh dan fungsi organ tubuh penting. Ada pun metoda pisau Ar-He, menggunakan cara pengobatan fisioterapi, di bawah panduan USG atau CT melalui teknologi pembekuan untuk membunuh kanker secara tuntas dan tepat. Para pakar kesehatan mencermati efisiensi pengobatan ini >95%. Keuntungan lain, pengobatan ini tidak menyebabkan kanker menyebar, pengobatan dengan menggunakan minimal invasif sehingga pasien tidak menderita, pemulihan yang cepat, tidak merusak organ normal lain, tidak ada efek samping, dapat mengontrol gen kanker dan meningkatkan antibodi. Setelah menjalankan pengobatan ini, pasien mengalami perbaikan fungsi kekebalan tubuh dibanding sebelum pengobatan, dan memperpanjang tingkat kelangsungan hidup. Teknologi baru pisau Ar-He menduduki posisi terdepan secara internasional saat ini. Banyak pasien stadium lanjut yang telah divonis tidak dapat diobati lagi, dengan terapi pisau Ar-He mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Beberapa rumah sakit di Indonesia sudah membuka konsultasi tentang metoda penanganan kanker pisau Ar-He. Semoga, bisa menjadi harapan baru bagi penderita kanker. (Vit-dsb)

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

41

INFO SEHAT

SEHAT DENGAN MENJAGA KESEIMBANGAN ALAM DAN KEKEBALAN TUBUH
Oleh : Drs. Azwar M Daris, M.Kes, Apt
dan dalam kol menurun dari 80 mg ke 41 mg. Penurunan kandungan mineral ditemukan pada banyak sayur dan buah-buahan. Karenanya, petani disarankan tetap menggunakan pupuk organic, agar sisa mineral pada dedaunan dikembalikan ke alam. Tidak hanya pupuk anorganik. Penggunaan insektisida, fungisida dan herbisida menyebabkan rusaknya keseimbangan sistem ekologis. Sama halnya dengan penggunaan antibiotika untuk membunuh kuman, yang kadang merusak keseimbangan flora usus. Lingkungan yang rusak akan menumbuhkembangkan jenis tertentu mikroba dan menimbulkan penyakit. elain manusia, di planet bumi terdapat mikroorganisme yang jumlahnya begitu besar dan jenis yang beragam. Pada 1 gram tanah subur, terdapat sekitar 100 juta– 1 milyar mikroba. Sekitar 100 triliun mikroba hidup dalam usus seorang manusia. Hal tersebut tidak bisa terlihat, karena fisiknya yang teramat kecil. Ukuran satu mikroorganisme bakteri adalah 1 per 500–2.000 milimeter, ukuran khamir (jamur) 1 per 5.000 milimeter, dan ukuran virus 1 per beberapa puluh ribu sampai ratusan ribu millimeter. Demikian Dr. Hiromi Shinya dalam bukunya “Mukjizat Mikroba”. Kesehatan manusia kadang masih dikendalikan makhluk hidup yang tidak kasat mata. Makhluk kecil ini menghuni dari dasar lautan sampai puncak gunung, bahkan di dalam tubuh manusia. Mahluk tidak kasat mata dibagi dua kelompok, salah satunya ada yang tidak bisa hidup
Istimewa

S

mandiri dan tidak punya sel, sehingga untuk hidup harus menjadi parasit pada makhluk hidup lain, termasuk untuk berkembang biak. Itulah kelompok virus. Banyak faktor yang menyebabkan berkembangnya mahluk hidup sejenis bakteri dan virus. Salah satunya, ketidakseimbangan ekosistem. Misalnya pada penggunaan pupuk NBK, yang menyebabkan produksi tanaman meningkat, tapi dalam waktu lama akan menyebabkan rusaknya keseimbangan mineral dalam tanah. Menurut UNCED 1992 (Earth Summit), kandungan mineral tanah pertanian di berbagai kawasan dunia telah merosot 55–85% dalam 100 tahun terakhir. Dari tabel standar komposisi bahan pangan Jepang, kandungan besi dalam bayam tahun 1950 kadarnya 13 mg/100 gram bayam. Tahun 2000, kadarnya tinggal 2 mg/100 gram. Vitamin C dalam wortel menurun dari 10 mg ke 4 mg,

Perkembangan Wabah Virus dan Bakteri di Dunia Pada abad ke 14, muncul wabah penyakit pes (sampar) di Eropa. Sebanyak 30% dari 100 juta penduduk Eropa saat itu, menjadi korban Pestvirus dari family Toga virus. Gejala virus yang mematikan ini antara lain demam tinggi, pembengkakan kelenjer getah bening, pneumonia dan bintik-bintik hitam karena perdarahan dalam, sehingga disebut juga Si Maut Hitam (Black Death). Virus ini hilang, setelah orang Eropa membuang kotorannya di WC, dan tidak minum dari sungai. Namun, diduga virus ini berulang setiap beberapa ratus tahun sekali. Pada pertengahan abad ke-19, pes ini menyerang Cina dan India, menyebabkan kematian 12 juta orang. Antara tahun 1918-1920, Spanyol dan daratan Eropa diserang virus influenza jenis H1N1. Di Amerika Serikat, terdata korban meninggal sekitar 675.000 orang, dan korban di

42

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

INFO SEHAT
seluruh dunia diperkirakan 100 juta. Serangan kedua virus influenza terjadi tahun 1957-1958, dikenal dengan virus influenza H2N2 dan muncul di Cina. Virus ini kemudian menyebar ke negara Asia lain, sehingga dikenal dengan Flu Asia. Virus ini membawa korban sekitar 1 juta jiwa. Serangan virus influenza ketiga terjadi tahun 1968-1969, disebabkan virus type H3N2. Muncul di Cina dan paling banyak korban di Hongkong, terkenal dengan nama “flu Hongkong”. Ketiga jenis virus ini awalnya berjangkit pada hewan sebelum menular ke manusia. Korban ternak peliharaan yang paling banyak adalah unggas. Tahun 2004, terjadi kasus ke empat menyebar pada ternak unggas di Jepang, kemudian menyebar ke negara Asia lain, dikenal dengan Flu Burung. Korban terbanyak adalah ternak unggas,penyebabnya virus influenza type H5N1. Serangan ke lima terjadi di Mexico tahun 2009–2010 pada babi dan menular ke manusia. Virus ini dari Mexico menyebar ke negara lain, dikenal sebagai Flu Babi. Penyebabnya virus H1N1. Pada abad ke-19, pernah muncul virus cacar yang menyerang Eropa, Asia dan Indonesia. Tidak mematikan tapi meninggalkan bekas seumur hidup. Virus lain yang juga mendunia dan belum ditemukan obatnya adalah virus HIV/ AIDS. Sebelum menular pada manusia, virus ini ditemukan pada kera. Bakteri juga masih menjadi masalah. Penyakit yang disebabkan bakteri yang belum punah dari negara kita yaitu TBC, yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis, dan lepra yang disebabkan Mycobacterium leprae. Mengatasi Wabah Virus dan Bakteri Saat perang dunia kedua, dibutuhkan banyak obat pencegah dan penyembuh infeksi. Tahun 1944 diproduksilah penicillin, yang ditemukan Alexander Flemming (1928), secara besar-besaran. Sejak itu, jumlah angka kesakitan dan kematian akibat infeksi bisa ditekan. Setelah perang dunia kedua, dengan sanitasi yang baik dan penggunaan antibiotik, infeksi penyakit menular turun. Kelemahannya, kekebalan manusia menjadi lebih lemah dan rentan terhadap penyakit menular fatal. Antibiotik tidak hanya membunuh kuman yang diincar, tapi juga membunuh bakteri yang bermanfaat. Perkembangan penicillin spektrum luas, menimbulkan masalah resistensi. Para ahli mencari antibiotik baru. Produksi antibiotik kejar mengejar dengan munculnya mikroba baru. Contohnya adalah kejar-kejaran antara tuberculosis dengan antibiotik. Vaksinasi munculnya wabah cacar. Akibat serangan cacar pada masa Hindia Belanda, pemerintah Kolonial Belanda membuat pabrik vaksin cacar di Batavia. Saat ini, pengembangannya dilakukan di Institut Pasteur Bandung (sekarang PT Bio Farma). Dengan vaksinasi, penyakit cacar bisa dicegah, penderita terakhir ditemukan di Somalia tahun 1977. Meningkatkan Kekebalan Tubuh Satu-satunya cara agar menang melawan penyakit adalah dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan dengan meningkatkan jumlah newzim (tidak sama dengan enzim pencernaan). Newzim, selain melawan infeksi, juga mendetoksifikasi tiap sel dalam tubuh. Menurut penelitian Dr. Hiromi Shinya, beberapa cara meningkatkan kerja newzim adalah dengan mengonsumsi buah, air putih dan melakukan puasa kecil. Dengan berpuasa akan terjadi kelaparan dan dengan lapar, kegiatan newzim meningkat dan protein cacat didaur ulang menjadi zat gizi. Dengan begitu, kita dapat memperoleh kembali kebugaran alami. Dari data Kementerian Kesehatan R.I, penyebab kematian balita (0 – 60 bulan) yang paling banyak adalah virus dan bakteri (ISPA, Diarhe, Typhoid dll), sedang pada orang dewasa adalah penyakit jantung dan kanker. Penyakit jantung berasal dari kadar gula darah atau kadar kolesterol tinggi, atau tekanan darah tinggi. Ketiganya dapat dicegah atau diperbaiki dengan memperbaiki gaya hidup (life style). Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan bahwa musuh yang paling berat bukan yang kelihatan di depan mata, tapi berasal dari dalam diri sendiri. Menurut ahli, penyakit kanker sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Keduanya sangat tergantung dari gaya hidup, atau musuh dari dalam diri sendiri. (Sumber: The Microbes
Factor, Dr. Hiromi Shinya , dll).

BCG dinilai tidak efektif, antibiotika Strepromisin diganti Rifampisin. Konon banyak orang telah kemasukan basil tuberculosis, tapi hanya 1 dari 10 orang yang mengalami gejala tuberculosis. Hal ini tentu mengkhawatirkan. Memang, langkah preventif dengan vaksinasi dapat mencegah bahkan menghilangkan beberapa penyakit, seperti cacar dan beberapa penyakit lain. Namun, vaksinasi hanya menimbulkan kekebalan untuk satu macam penyakit sesuai dengan jenis vaksin. Di Indonesia, perkembangan produksi vaksin telah dilakukan sejak

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

43

PROFIL PD
dok. pribadi

Orientasi pada Penguatan Profesi
enjadi pengurus daerah yang bertanggung jawab pada kelancaran acara PAFA September 2012, membuat PD IAI Bali berbangga hati. Ajang Internasional PAFA merupakan ajang yang dinanti masyarakat farmasi dunia. I Made Wartana, MM., Apt, Ketua PD IAI Bali menyatakan siap mendukung penuh kegiatan PAFA. “PAFA sudah diambang pintu. Persiapan menuju ke sana masih dalam proses pembicaraan, dan belum final. Namun, PD IAI Bali siap melaksanakan tugas yang diamanatkan PP IAI,” tuturnya. Rencananya, PD IAI Bali akan mengangkat dan mempromosikan kekayaan lokal Bali pada ajang PAFA nanti, di antaranya mempromosikan jamu dan kosmetik hasil industri

PD IAI BALI

M

farmasi rumah tangga di Bali. Made pun siap untuk unjuk gigi dalam memperlihatkan apotek percontohan Pharmaceutical Care. “Yang pasti, kami di Bali siap mendukung suksesnya acara ini,” tuturnya saat di temui di Hotel Lumire Jakarta 21 Oktober 2011. PP. 51 MEMBAWA BANYAK PERBAIKAN Apa yang dikhawatirkan banyak apoteker mengenai kehadiran PP. 51, tidak terjadi di Bali. Walau di beberapa daerah apoteker pesimis dengan kesuksesan PP. 51, tidak begitu dengan apoteker di Bali. Menurut I Made Wartana, apoteker di Bali menyambut PP. 51 dengan antusias. Namun, saat ini kendalanya adalah proses penerbitan STRA yang

tertunda, sehingga langkah untuk mengurus SIPA ikut tertunda. “ Saya melihat banyak perbaikan saat PP. 51 mulai digemakan. Salah satunya adalah presentase apoteker yang take up mulai berkurang jumlahnya,” katanya. Perbaikan ini membuat anggota PD IAI Bali optimis dengan kesuksesan PP. 51. Terlebih, kondisi apoteker di Bali sangat memungkinkan untuk menerapkan PP. 51. Bali diuntungkan dengan banyaknya jumlah lulusan apoteker di daerahnya. Tentu, kondisinya berbeda dengan beberapa daerah lain, yang sampai saat ini masih kekurangan tenaga apoteker. “Jumlah apoteker di Bali banyak. Bali merupakan salah satu tempat tujuan apoteker bekerja. Tdak semuanya berjalan lancar. Mungkin ada juga yang merasa tidak terpenuhi

44

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

PROFIL PD
mereka akan dicari oleh masyarakat,” tutur Made. Program PD IAI Bali memang berorientasi pada pengutan profesi. Karenanya, program lain seperti pendidikan berkelanjutan terus dilakukan, baik di pengurus daerah mau pun pengurus cabang IAI Bali. Dan untuk mendukung stabilitas PP. 51, PD IAI Bali membuat MOU kerjasama pengawasan dengan BPOM. “Jika BPOM menemukan masalah terkait apoteker, tembusannya akan diteruskan ke PD IAI Bali. PD akan memberi beberapa kali peringatan. Yang terberat adalah rekomendasi pencabutan STRA,” tutur I Made. Masih banyak program lain PD kepentingannya saat menjalankan PP. 51,” tuturnya. Walau ada keluhan, I Made tetap optimis pada adanya perbaikan. Tidak terpenuhinya kepentingan apoteker selama ini, juga akibat kurang pedulinya apoteker pada tugas dan fungsinya. “Ke depan, PD Bali akan menyusun konsep fee profesi, yang rencananya akan dibahas di Rakerda ke-2 setelah Rakernas IAI. Menurut I Made, praktisi apoteker di Apotek Vita Bali, seharusnya apoteker merasa diuntungkan dengan adanya PP. 51. Hal ini terkait dengan pengakuan wewenang dan kompetensi apoteker. Dengan PP. 51, sesungguhnya apoteker diberi wewenang secara hukum untuk mengelola obat-obatan yang ada. Untuk menjalankan prosesnya, apoteker harus meningkatkan kompetensinya. Ada tiga unsur yang harus selalu ditingkatkan oleh Apoteker, dan ketiganya menjadi unsur pendukung kompetensi, yaitu: knowledge, skill dan attitude. Menurut Made, apoteker sudah jelas memiliki knowledge. Attidute menyangkut sikap dan kepribadian. “Skill harus terus diasah, karena profesi apoteker harus long life learner,” katanya. Untuk mendukung kompetensi tersebut, peran Pengurus Daerah IAI sangat dibutuhkan. PD IAI berupaya untuk memfasilitasi rekan-rekan apoteker untuk mengupdate diri menjadi lebih baik. PROMOSI PROFESI APOTEKER Program ini terdengar sama dengan program diskusi profesi, seperti yang selama ini berjalan di beberapa daerah. Pengurus Daerah melakukan penyuluhan kepada masyarakat, mengenai pentingnya obat diawasi penggunaannya oleh apoteker, atau mengadakan temu wawancara seputar profesi apoteker. PD IAI Bali bukan ingin mengangkatkan tentang bagaimana obat itu aman di mata masyarakat, melainkan bagaimana agar masyarakah sadar bahwa apoteker yang akan membantu mereka merasa aman pada pengobatannya. Ini yang dinamakan promosi keprofesian apoteker. Dampak promosi apoteker sudah terlihat. Di beberapa apotek di Bali, masyarakat mulai menanyakan apotekernya ketika menebus obat. Lewat program ini, PD IAI Bali berharap apoteker perlahan-lahan mulai dikenal. “ Kalau sudah dikenal,
dok. pribadi Dani Rachadian

Sebagai peserta presentasi implementasi PP 51 pada acara Rakernas IAI tahun 2010.

Drs. I Made Wartana, MM, Apt. Ketua PD IAI Bali

IAI Bali. Selain konsep jasa profesi dan perumusan gaji apoteker, PD IAI menggerakkan anggota untuk berpikir membuat apotek sendiri. Untuk mewujudkannya diperlukan proses dan dukungan penuh dari IAI pusat. I Made ungun agar IAI Pusat terus meningkatkan silaturahmi dan komunikasi dengan seluruh PD IAI, sehingga informasi yang diterima merata dan sinkron dan demi kemajuan profesi apoteker juga nantinya. “Kita kan menjalankan organisasi. Yang dibutuhkan adalah ketulusan, idelaisme dan dedikasi,” katanya. (vit)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

45

PROFIL USAHA

APOTEK RINI

TUMBUH BERSAMA KEPERCAYAAN PELANGGAN
evita fitriani

S

aya janji bertemu dengan apoteker dan salah satu owner Apotek Rini, Rawamangun, Jakarta Timur, Ibu Meta Pramana pada pagi hari. Pikir saya, pagi hari apotek pasti belum ramai, jadi wawancara akan lebih santai. Namun, hal ini menjadi pengecualian untuk Apotek Rini. Apotek yang berdiri sejak tahun 1968 ini ternyata tidak pernah sepi pengunjung. Antrian kendaraan yang parkir, ditambah banyaknya pasien memadati ruang tunggu membuat saya bertanya, ada apa dibalik kesuksesan Apotek Rini? Tidak hanya terkesima melihat pengunjung yang memadati ruang tunggu apotek. Pandangan saya terfokus pada salah satu tulisan besar yang terpajang di ruang tunggu, “Apotek Rini, buka 19 Desember 1968. Perjalanan panjang ini, Anda mengenal kami, kami mengenal Anda. Menjadikan

43 Tahun. Pelayanan yang maksimal menjadi kekuatan dari apotek Rini untuk menjaga kesetiaan para pelanggannya.

kita satu keluarga besar Apotek Rini”. Sebagai pengunjung, membaca tulisan ini membuat saya merasa, bahwa Apotek Rini memang paham betul bagaimana cara yang terbaik untuk membuat pelanggan puas dengan pelayanan apotek ini. Bermula dari kepemimpinan Ibu Murdiana Baskoro, seorang asisten apoteker, yang dengan gigih membangun Apotek Rini, yang dikenal menyediakan obat lengkap dengan harga murah. Peran tersebut kini didelegasikan kepada keponakannya, Meta Pramana. Di tangan lulusan apoteker Universitas Indonesia ini, Apotek Rini makin berjaya, di tengah

kepungan apotek, termasuk apotek jaringan, yang terus menjamur. “Kalau berbicara tentang bagaimana Apotek Rini bisa sukses, kita akan bicara mengenai sejarah panjang Apotek Rini. Ada beberapa point yang mendukung kesuksesan. Yaitu: melayani dengan setulus hati, mengedepankan hal-hal bersifat sosial dan mau memberi solusi pada pelanggan,” tutur Meta. Hanya saja, menurut Meta, di tengah persaingan bisnis apotek saat ini, sebagai pengelola ia harus mampu membuat Apotek Rini tetap bertahan. Terbukti, Apotek Rini tidak ditinggalkan pelanggannya.

46

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

PROFIL USAHA
Empati Pada Pelanggan Sukses apotek Rini merebut simpati pelanggan, tidak lepas dari kerja sama tim. Apotek Rini yang memperkerjakan kurang lebih 80 pegawai, selalu menjaga kerjasama masing-masing bagian agar bisa berfungsi dengan baik. “Tidak hanya dengan pegawai apotek, kami bersikap bersahabat dengan sales dan PBF,” katanya. Meta mewajibkan agar setiap pegawai Apotek Rini tersenyum saat melayani pelanggan. Baginya, sikap ramah tamah adalah salah satu modal kesembuhan pasien. “Saya membiasakan diri melayani dengan senyum, dan hal tersebut ditiru oleh yang lain,” katanya. Apotek ini pernah juga dikomplain pelanggan. Tidak semua obat yang disediakan murah, adakalanya harganya lebih mahal . Hal itu terjadi karena beberapa obat membutuhkan perhatian khusus. Seperti, obat-obat yang harus disimpan di kulkas. “Untuk obat yang disimpan di suhu dingin, jika mati lampu, kami menyediakan genset. Jadi kalau mati lampu, obat tetap tersimpan dalam kondisi yang semestinya. Apotek Rini sangat memperhatikan mutu dan kualitas produk yang dijual. Kami berusaha untuk mencarikan solusi untuk pelanggan,” katanya. Karyawan dibiasakan untuk mengelola rasa empati kepada pelanggan, yang akan membeli obat. Jika ada pelanggan komplain, diutamakan untuk minta maaf lebih dulu. “Mereka datang dalam keadaan sakit. Kita yang melayani harus lebih sabar. Jadi, kalau ada komplain, minta maaf. Dengarkan keluhan mereka, baru beri solusi. Tanamkan rasa empati di hati kita,” katanya. Mengikuti Standar GPP Munculnya PP. 51 tidak membuat Meta Pramana pusing. Apotek Rini telah memperkerjakan lebih dari 1 apoteker selama ini. Mengenai standar GPP, apotek Rini berusaha memenuhinya. Mulai dari tata ruang, kebersihan, peralatan dan pelayanan. Untuk Pharmaceutical Care, Meta menyerahkanya pada kebutuhan pasien. “Saya selalu bertanya, sejauh mana kebutuhan pasien akan informasi. Kembalikan sepenuhnya
evita fitriani

Sebagai apotek yang pernah mendapat penghargaan Menkes sebagai penyedia obat generik terlengkap, peran pegawai dalam menyampaikan informasi mengenai obat generik sangat diutamakan. “Orientasi pengenalan generik penting untuk masyarakat, terlebih untuk kelas sosial menengah ke bawah. Hal ini untuk mendorong agar mereka melanjutkan terapi obat dan tidak putus di tengah jalan,” kata Meta. Banyak hal positif yang terjadi di apotek dengan mengikuti standar GPP. Salah satunya, pembelajaran bagi mahasiswa yang melakukan praktek kerja apoteker. Menurut Meta, apoteker yang praktek tidak hanya membutuhkan pengetahuan menyangkut apotek, tapi juga support untuk meningkatkan rasa percaya diri sebagai apoteker. “Saya memberi kebebasan pada mahasiswa untuk belajar apa pun di sini. Mereka harus pintar dan lebih pintar dari asistennya,” tutur Meta. Harus Update Diri Sebuah profesi tidak akan maju, jika para pelaku profesi tersebut malas mengembangkan diri. Itulah yang terus dibiasakan oleh manajemen Apotek Rini. Mulai asisten apoteker sampai apotekernya, diharapkan terus menggali informasi secara mandiri sebanyakbanyaknya tentang dunia perapotekan dan kefarmasian. “Bagaimana mungkin sebuah profesi akan maju, tanpa didukung personal yang mau mengupdate diri sendiri,” kata Meta. Apotek Rini yang dibanjiri pasien, senantiasa menekankan hal tersebut. Pasien yang datang tidak sekadar ingin mendapatkan obat, tapi juga menerima solusi untuk masalah mereka. Itulah sebabnya semua harus terus belajar secara mandiri, juga melalui keluhan pasien. “Saya optimis, jika apoteker selalu mengupdate keterampilan dirinya, akan berimbas pada income yang didapat di kemudian hari,” kata Meta di penghujung wawancara. (Vit)

Meta Pratama. Generasi penerus pengelolaApotek Rini.

kepada mereka. Tanya kepada mereka, sejauh mana informasi yang mereka butuhkan mengenai pengobatan,” katanya. Kadang, ada pasien yang menginginkan banyak informasi. Meta tidak segan melakukan browsing untuk menggali informasi yang dibutuhkan tersebut. “Saya tidak ingin pasien bingung dengan informasi yang terlalu banyak, padahal mungkin mereka belum membutuhkan,” katanya. Disamping informasi atas resep, Meta senang memberikan informasi di luar hal tersebut. “Saya lebih sering memberikan tips mengenai perbaikan gaya hidup, pencegahan penyakit, kepatuhan, dan bagaimana agar lekas sembuh,” katanya. Disadari, dalam mengonsumsi obat, khususnya obat bebas, pasien cenderung percaya pada iklan.

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

47

PROFIL USAHA
APOTEK KESELAMATAN

Sukses dengan Swamedikasi
evita fitriani

M

enjadi apoteker merangkap pemilik apotek, pastilah berbeda daripada hanya sekadar menjadi apoteker di apotek milik PSA lain. Itulah yang dirasakan Dra. Azizahwati, MSi., Apt, pemilik Apotek Keselamatan, di kawasan Tebet, Jakarta. Apotek Keselamatan memang bukan apotek besar dan memiliki jaringan, namun kehadiran apoteker yang menjalankan konsep profesinya, membuat apotek ini memiliki cirri khas tersendiri. Apotek ini terletak di kawasan pemukiman penduduk. Tak dipungkiri, pelanggan utama apotek adalah penduduk sekitar perumahan. Untuk membuat apotek ini dipercaya oleh masyarakat sekitar, Azizahwati mengedepankan sosialisasi dengan tetangga. Menurutnya, bukan lokasi yang menjadikan apotek tidak

berjalan, tapi tidak bisa mencari solusi atas lokasi yang ada. “Jika Apotek Keselamatan berada di sekitar jalanan Casablanka, belum tentu akan maju. Di sana ada fly over dan lebih banyak saingan,” tutur Azizah. Manajemen Apotek Kecil Dalam mendirikan apotek, kemampuan manajerial tak bisa diabaikan. Apoteker pengelola apotek, harus terus bereksperimen. Apotek ini bisa menyiasati keadaan, walau tidak terletak di lokasi yang ramai dilewati kendaraan. Apotek ini tetap didatangi pelanggan. Bahkan, akhir-akhir ini, pelanggan tetap Apotek Keselamatan adalah Puskesmas yang letaknya tidak jauh dari apotek. Ternyata, pasien Puskesmas merasa puas ketika datang ke Apotek Keselamatan. “Selain mendapatkan informasi tentang obat,

mereka mendapat obat yang murah. Membayar sedikit dengan pelayanan yang berbeda,” tutur Azizah. Konsep pharmaceutical care bukan satu-satunya kunci untuk memajukan apotek. Apotek ini didukung manajemen yang cukup baik. Hal yang dilakukan apotek pertama kali adalah menjaga standar GPP, agar tetap bisa berjalan. Apotek Keselamatan sangat memperhatikan masalah kebersihan, seperti wastafel dan penggunaan mortir yang dipisahkan antara obat luar dan dalam. Azizah juga menerapkan display yang berbeda. Tampak pada bagian depan apotek, display obat-obatan tidak asal-asalan. “Saya selalu memperhatikan konsep warna kemasan. Kemasan yang warnanya sama, mengapit kemasan lain yang warnanya berbeda. Dengan begitu,

48

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

PROFIL USAHA
akan terlihat bagus dan rapi di mata pelanggan,” ujarnya. Tentang manajemen keuangan, walau berada di rumah, semua hal yang terkait keuangan apotek selalu dipisahkan dari keuangan rumah tangga. Mulai dari pembayaran telepon dan rekening listrik memiliki kavling tersendiri. Menurut Azizah, dengan begitu apoteknya bisa mengontrol penggunaan biayanya dengan baik. “Jangan lupa, anggota keluarga yang mengambil barang dari apotek, harus dicatat dan dibayar sesuai harganya,” tambah Azizah. Swamedikasi “Tidak semua dokter bertanya, bagaimana kondisi finansial pasiennya, “ tutur Azizahwati saat diwawancara. Kejadian di mana pasien gagal mendapatkan obat, karena obat yang diresepkan mahal kerap terjadi. Jika apoteker ada di apotek, hal seperti ini bisa diminimalisir. Azizahwati akan memberi alternatif. “Kami berusaha agar pasien tetap menjalankan terapi sebaik mungkin. Kami memberikan alternatif sebagai pengganti obat yang mahal tersebut,” katanya. Biasanya, pelanggan yang sudah mengenal apoteker, memilih untuk mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan apotekernya. Azizah biasa meluangkan waktu untuk menerima pasien secara langsung, bahkan di malam hari. Pelayanan di apotek ini didasarkan pada dua hal. Yang pertama bersifat sosial, lainnya berbasis pada kompetensi Apoteker. Bersifat sosial maksudnya, jangan lupa untuk menyarankan penggunaan obat murah pada pasien tidak mampu. Walau keuntungan apotek mungkin berkurang, namun dapat memberikan kepuasan berupa pelayanan yang baik. Sedangkan pelayanan berbasis kompetensi, adalah dengan melakukan swamedikasi. Azizah kerap melakukan pelayanan swamedikasi. Khususnya pada pasien yang datang untuk membeli obatobat bebas, seperti vitamin. Dengan ilmunya, Azizah memberikan info mengenai vitamin apa yang cocok, apakah perlu ada tambahan obat untuk masalah pasien atau apakah perlu mengubah vitamin. Pelayanan ini membuat pelanggan senang dan kembali lagi ketika obat mereka habis. Hubungan Baik dengan Apotek & Dokter Apotek Keselamatan berusaha menghindari menolak resep. Sebisa mungkin, walau tidak tersedia stok, apotek akan mencarikannya di apotek lain. Keuntungan bagi apotek adalah, kecil. Pengadaan obat pareto B dan C cenderung hanya membuat tumpukan obat dan mempersulit stok opname. Untuk mengetahui obat mana yang pareto A, tinggal melihat resep yang masuk. Azizah belajar dari pengamatan dengan melakukan skrining resep. “Biasanya, pasien yang menebus obat berasal dari dokter di sekitar sini. Jadi, mudah untuk membaca pergerakan obat,” katanya. Selain itu, hubungan baik dengan dokter terus ditingkatkan. Tak jarang, dokter memberikan obat yang mahal kepada pasien. Ketika Azizahwati menyarankan untuk diganti obatnya, dokter bisa memberikan dengan bijaksana.
evita fitriani

Azizahwati. Berusaha membantu pasien agar bisa mendapatkan obat berkualitas dengan harga terjangkau.

stok obat tidak perlu terlalu banyak. “Tapi kita harus pintar menjalin kerjasama dengan apotek lain, agar bisa mendapatkan harga diskon,” katanya. Apotek Keselamatan memang lebih mengutamakan pengadaan obat-obat pareto A. Menurutnya, ini penting diketahui para apoteker, terutama yang apoteknya terbilang

Kreatif dan Berani Azizahwati memberi pesan kepada apoteker. Menurutnya, seorang apoteker harus berani memiliki apoteknya sendiri. Modal utamanya adalah berani dan mau meningkatkan kompetensi diri. “Yang penting berani. Jangan hanya terbentur masalah modal, karena pasti ada solusinya,” katanya optimis. (vit)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

49

CPD

GOUT DAN HIPERURISEMIA
Gout merupakan salah satu jenis arthritis yang disebabkan adanya deposit kristal monosodium urat pada cairan synovial dan jaringan lain. Gout erat kaitannya dengan kondisi hiperurisemia, yang merupakan faktor risiko terjadinya gout. Bila tidak terkontrol, hiperurisemia dapat menyebabkan terjadinya gout.
EPIDEMIOLOGI Insidensi terjadinya gout lebih banyak dialami pria, karena pada wanita terdapat hormon estrogen yang memiliki efek urikosurik ringan. Pada pria, kadar asam urat mulai naik pada usia pubertas dan mencapai puncak pada usia 40-60 tahun. Pada wanita, kadar asam urat meningkat saat menopause dan mencapai puncak pada usia 60-80 tahun. ETIOLOGI dan PATOFISIOLOGI Progresi hiperurisemia menjadi gout dapat dijelaskan dalam empat tahap pada tabel 1. Asam urat merupakan produk Tabel 1 akhir dari degradasi purin pada manusia. Hiperurisemia terjadi bila konsentrasi asam urat melebihi solubilitas urat. Hal ini dapat terjadi karena produksi berlebih dan atau ekskresi yang kurang dari asam urat. Hiperurisemia merupakan abnormalitas yang umum, tetapi

Stage 1. Hiperurisemia asimptomatik Kadar asam urat >6,8 mg/dL. Kristal urat mulai terdeposit Stage 2. Gout akut Deposit kristal memenuhi sendi, jika ada trauma dapat merangsang pelepasan kristal menuju area antar sendi, dan pasien akan merasa kesakitan saat serangan akut. Kristal masih tersimpan dengan kadar rendah di jaringan, dapat berperan pada serangan berikutnya. Deposit kristal mulai terakumulasi, sendi pasien kaku dan bengkak. Tahap ini dapat dicegah dengan terapi.

Stage 3. Periode Intercritical

Stage 4. Gout lanjut

tidak menimbulkan gout bila tidak terjadi deposit kristal monosodium urat. Cairan tubuh manusia memiliki keterbatasan dalam melarutkan asam urat. Faktor risiko terjadinya gout, antara lain: · Penggunaan obat-obatan seperti diuretik thiazide, ciclosporin, dan aspirin dosis rendah. · Resistensi insulin. · Sindrom metabolic. · Obesitas. · Insufisiensi renal. · Hipertensi. · Gagal jantung kongesti. · Pola makan dengan banyak konsumsi daging dan seafood. · Transplantasi organ. Gout merupakan gangguan metabolisme dengan adanya asam urat terakumulasi di dalam darah dan jaringan. Jaringan yang menjadi jenuh, menyebabkan presipitasi asam urat sehingga membentuk kristal. Kristal monosodium urat juga dapat terbentuk melalui kondisi predisposisi asidosis. Kristal monosodium urat juga dapat ditemui pada jaringan synovial. Pada gout akut, kristal monosodium urat telah melewati fagositosis yang mengaktivasi inflammasome NLRP3, sehingga menstimulus sekresi interleukin. Sekresi tersebut dapat menginduksi produksi interleukin dan mediator inflamasi lain lebih lanjut, serta mengaktivasi sel-sel synovial dan fagosit. Bertemunya interleukin dengan reseptornya menginduksi berkumpulnya neutrofil, yang menjadi motor utama terjadinya inflamasi hebat pada gout. Pada gout kronis dengan sinovitis grade rendah dan seringnya serangan berulang, proses inflamasi terus berjalan dengan pelepasan mediator inflamasi terus menerus, termasuk interleukin dan kristal monosodium urat. Gambaran proses inflamasi dapat dilihat pada gambar berikut.

50

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

CPD
Kumpulan kristal urat pada jaringan lunak. Tophi dapat muncul pada telinga bagian luar, jari tangan, mata kaki. Gambaran tophi dapat dilihat pada gambar berikut. 3. Pemeriksaan kristal urat Pemeriksaan kristal urat dilakukan dengan mengambil cairan synovial yang mengandung kristal monosodium urat dan dilihat di bawah mikroskop. Gambaran kristal urat terlihat seperti jarum. 4. Pemeriksaan kadar asam urat Pemeriksaan kadar asam urat dapat digunakan untuk mengevaluasi pasien gout, setelah 2 minggu terkena serangan. Peningkatan kadar asam urat pada periode intercritical, juga dapat menunjukkan kemungkinan serangan kemudian. 5. Gambaran radiologi Gambaran radiologi biasa dilakukan pada pasien gout kronis. MANAJEMEN TERAPI Terapi farmakologis untuk serangan akut gout (lihat tabel2) PENEGAKAN DIAGNOSIS Penegakan diagnosis gout dapat dilakukan melalui beberapa kriteria berikut. 1. Gejala Demam, nyeri sendi, bengkak, rasa nyeri muncul tiba-tiba. Gejala muncul pada satu atau beberapa sendi. Mata kaki, lutut atau pergelangan kaki merupakan bagian-bagian yang sering terkena. Rasa sakit berlangsung tibatiba, biasanya muncul saat malam hari dan sering didefinisikan sebagai rasa seperti berdenyut dan nyeri yang luar biasa. Persendian terasa hangat dan kemerahan. Biasanya, daerah persendian yang terkena sangat lunak dan perih. Serangan dapat menghilang dalam beberapa hari, tetapi dapat juga kembali menyerang. 2. Tanda · Erythema (kemerahan) · Podagra (nyeri pada jari-jari kaki) · Tophi

Gambaran tophi

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

51

CPD

Tabel2
Obat NSAID Regimen Terapi

Piramida Makanan untuk Pasien Gout
Regimen alternatif untuk Resolusi serangan lengkap Perhatian

Hindari pada pasien dengan insufisiensi renal atau hepar, gangguan perdarahan, gagal jantung kongesti, alergi. Dapat diberikan bersama dengan proton pump inhibitor. 500 mg 2x sehari selama 5 hari 50 mg 3x sehariselama 2 hari kemudian 25 mg 3x sehari selama 3 hari 1,2 mg pada saat serangan pertama, diikuti dengan 0,6 mg 1 jam kemudian 375-500 mg 2x sehari selama 3 hari, kemudian 250-375 mg 2x sehari selama 4-7 hari, atau hingga serangan hilang. 50 mg 3x sehari selama 3 hari, kemudian 25 mg 3x sehari selama 4-7 hari atau hingga serangan hilang Pertimbangkan regimen gout akut tambahan untuk mengatasi serangan 12-24 jam setelah regimen colchicine (NSAID atau glukortikoid hingga serangan hilang) Prednison 30-60 mg sehari selama 2 hari(bergantung pada keparahan serangan), kemudian diturunkan 5-10 mg tiap 2 hari dengan penurunan dosis selama 10 hari Hindari (atau gunakan dosis rendah) pada usia lanjut dan dengan insufisiensi renal, disfungsi hepar atau memiliki riwayat gangguan GI.

Naproxen

Indomethacin

Colchicin

Glukortikokoid (prednison atau prednisolon)

Prednisolon 30-35 mg sehari selama 5 hari

Gunakan hatihati pada pasien hiperglikemia atau gagal jantung kongesti

Terapi farmakologis untuk gout kronis Pemberian agen penurun asam urat menggunakan xanthine oxidase inhibitor, atau agen urikosuric untuk pasien dengan dua kali serangan gout per tahun. Pasien dengan tophi, serta pada pasien dengan kerusakan sendi yang terlihat pada gambaran radiografi. Target asam urat yang diharapkan <6 mg/ dL dengan titrasi dosis hingga mencapai target. Terapi penurun kadar asam urat dapat dilihat pada tabel 3. Terapi non farmakologis o Hindari diet tinggi protein dan rendah karbohidrat. Pasien obesitas harus

52

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

CPD
TERAPI DAN DOSIS Allopurinol 50-300 mg sehari (dosis maksimum 800 mg sehari) PERHATIAN Waspada efek samping rash ringan, hipersensitivitas. Hindari penggunaan bersama dengan azathioprin atau warfarin. KETERANGAN · Jangan gunakan pada 4-6 minggu setelah serangan gout akut · Penggunaan bersama dengan colchicines dapat mencegah serangan · Titrasi dosis hingga kadar asam urat <6 mg/dL · Lanjutkan terapi selama fase serangan · Pertahankan hidrasi (2L per hari) · Hindari penggunaan bersama aspirin dosis rendah · Tidak efektif pada pasien dengan kreatinin klirens <50 mL/min

ProbenecidDosis awal 250 mg 2x sehari. dititrasi bertahap hingga 500-2 g perhari

Waspada efek samping gangguan GI, rash; gunakan hati-hati pada penggunaan bersama heparin.

mengatur pola makan, agar dapat mencapai bobot ideal. o Batasi asupan makanan dari daging merah, sarden, bayam, jamur, kacang polong. o Perbanyak minum air putih, 2L per hari Terapi non farmakologi secara ringkas dapat dilihat pada piramida makanan untuk pasien gout. Referensi 1. Jordan KM, Cameron JS, Smith M, Zhang W, Doherty M, Seeki J, et al. British Society for Rheumatology and British Health Professionals in Rheumatology Guideline for the Management of Gout. Rheumatology 2007;46:1372–1374 2. Mandell BF. Clinical manifestations of hyperuricemia and gout. CLEVELAND CLINIC JOURNAL OF MEDICINE VOLUME 75 • SUPPLEMENT 5 JULY 2008 3. Saag KG, Choi H. Epidemiology, risk factor, and lifestyle

4.

5.

6.

7.

medications for gout. Arthritis Research & Therapy 2006, 8(Suppl 1):S2 Zhang W, Doherty M, Pascual E, Bardin T, Barskova V, Canaghan P, et al. EULAR evidence based recommendations for gout. Part I: Diagnosis. Report of a task force of the standing committee for the international clinical studies including therapeutics (ESCISIT). Ann Rheum Dis 2006;65:1301– 1311 Zhang W, Doherty M, Pascual E, Bardin T, Barskova V, Canaghan P, et al. EULAR evidence based recommendations for gout. Part II: Management. Report of a task force of the standing committee for the international clinical studies including therapeutics (ESCISIT). Ann Rheum Dis 2006;65:1301– 1311 Eggebeen AT. Gout: An Update. Am Fam Physician 2007;76:8018,811-2 Neogi T. Gout. N Engl J Med 2011;363:443-52

PERTANYAAN 1. Daging merah harus dibatasi penggunaan pada penderita hiperurisemia (B-S) 2. Pilihan pertama agen penurun asam urat adalah probenecid (B-S) 3. Gout biasa menyerang persendian di jari tangan. (B-S) 4. Buah-buahan tidak dianjurkan untuk pasien gout karena banyak mengandung purin. (B-S) 5. Hiperurisemia tidak terkontrol pasti berkembang menjadi gout. (B-S) 6. Pasien hiperurisemia dianjurkan untuk membatasi asupan cairan.(B-S) 7. Obesitas tidak berhubungan dengan gout. (B-S) 8. Pria dan wanita memiliki risiko yang sama berkembangnya gout.(B-S) 9. Pilihan utama terapi serangan akut gout adalah glukortikoid. (B-S) 10.Prednisolon merupakan pilihan terapi gout pada pasien diabetes mellitus.(B-S)
Daftar pengirim jawaban CPD I dan mendapatkan 1 SKP dari IAI
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Tri Kaloko, S.Farm., Apt. Irma Ahmad, S.Farm., Apt. Lina Pasapan, S.Si., Apt. Marlina Tomasoa, S.Si., Apt Yenuna, S.F., Apt. Novi Indriastutik, S.Si., Apt. Bertha, S.Si., Apt. Ester Mbewu, S.Si., Apt. Jenni Padallingan, S.Farm., Apt. Jarlinton Lingga, S.SI., Apt. Muhimmatun Ni’mah, S.Si., Apt. Rusnadi Baktiat, S.Si., Apt. Yuliani Patabang., S.Si., Apt. Agus Budi Santoso, S.Si., Apt. Drs. Edy Paundanan, Apt. Susanti Juni Wulansari, S.Si., Apt. Kasmawati Halim, S.Si., Apt. Anugrah, S.Farm., Apt. Reni Arung Tasik, S.Si., Apt. Hela Rukmana, S.F., Apt Rani S. Pakiding, S.Si., Apt.

KUPON CPD
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

MEDISINA 002
53

INFO PENDIDIKAN
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

Meningkatkan Kompetensi dengan Program Bedsite Teaching and Conference
istimewa

i usianya yang ke 47 tahun, Fakultas Farmasi Universitas Andalas (UNAND) telah banyak menghasilkan apoteker. Walau terbilang baru lepas dari Fakultas MIPA, sepak terjang Farmasi Universitas Andalas dalam dunia pendidikan kefarmasian tidak dapat diabaikan. Status terakreditasi A telah lama diraih dan saat ini tengah dilakukan pembenahan di segala aspek dan bidang, untuk memenuhi standar kurikulum dan kebutuhan pasar akan hadirnya apoteker yang kompeten di bidangnya. Perubahan status menjadi Fakultas Farmasi dalam tiga tahun belakangan ini, telah menciptakan iklim baru. FF UNAND memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menciptakan lulusan

D

yang baik dan kompeten. Memang, kegiatan akademik tidak terlalu banyak berubah, hanya penyesualian kurikulum perlu terus dilakukan. Perubahan justru terasa pada alur pengelolaan dan penggunaan dana, yang sejak menjadi fakultas alur pendanaan menjadi lebih pendek. Hal ini menguntungkan karena bisa mempercepat perkembangan FF UNAND. KURIKULUM KOMPETENSI LULUSAN KOMPETEN Prof. Dr. Dachriyanus, Apt, dosen sekaligus guru besar yang pernah menjabat Dekan FF UNAND, menyempatkan diri menjawab pertanyaan MEDISINA. Menurutnya, yang penting diperhatikan oleh FF UNAND adalah penyesuaian

kurikulum dengan kebutuhan pasar. “ Saat ini kurikulum program S-1 dibuat inline dengan program profesi,” katanya. “Fakultas harus benar-benar paham, akan dibawa kemana lulusan FF UNAND nantinya.” Kerap diadakan seminar yang berkaitan dengan perkembangan kefarmasian. “Kami mengundang stakeholder dalam rangka memberikan informasi mengenai perkembangan dunia kefarmasian,” ujar Dachriyanus. Selain memperhatikan kompetensi mahasiswa, FF UNAND melakukan pendekatan pada kompetensi staff pengajar. Dikembangkan kompetensi staff dengan menyekolahkan dan mengajukan mereka untuk mengikuti pelatihan berskala nasional dan internasional, termasuk workshop. Diharapkan, dengan melakukan

54

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

INFO PENDIDIKAN
pendidikan berkelanjutan pada staff pengajar, FF UNAND dapat mengikuti perkembangan arah farmasi dunia saat ini. Menurut Dachriyanus, saat ini kurikulum FF UNAND mengikuti kurikulum standar APTFI, juga mengacu pada kebijakan FIP yaitu penekanan pada pharmaceutical care. Hal ini perlu, mengingat peran farmasi di bidang pelayanan dan klinis sangat dibutuhkan, tidak hanya sebatas pengembangan produk. FF UNAND juga berusaha untuk memenuhi fasilitas belajar mengajar. Dalam waktu dekat, akan dibangun gedung fakultas yang baru; batu pertamanya sudah diletakkan Dekan FF UNAND. Dr. Muslim Suwardi, Apt, 13 Sepetember 2011. Selain fasilitas bangunan baru, FF UNAND akan mendapat peralatan yang baru. “Mudah-mudahan hal ini akan meningkatkan dan menunjang fasilitas PBM yang sudah ada,” tambah Dachriyanus. BEDSITE TEACHING AND CONFERENCE Dalam pelaksanaan program kompetensi dan mendukung berjalannya pharmaceutical care, dibuat metoda pembelajaran baru. Inilah yang membuat FF UNAND berbeda dari yang lain. Bedsite Teaching and Conference adalah sejenis pembelajaran bersama bersama dokter muda. Praktek dilakukan di RS M. Jamil, Padang. Konsep pharmaceutical care tidak lepas dari peran farmasi yang tertera dalam seven star farmasi. Proses pelayanan tidak hanya menyangkut hubungan antara apoteker dan pasien, tapi juga bagaimana menciptakan hubungan berkesinambungan dengan profesi lain yang terlibat dalam terapi pasien. Tak bisa dipungkiri, setiap tenaga kesehatan memiliki cara pandang berbeda dalam melihat permasalahan pasien. Maka, sedari dini perlu dibiasakan dengan memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melihat suatu permasalahan dari banyak sudut pandang ilmu. “Ini memang hal baru bagi mahasiswa FF UNAND. Perlu dilakukan agar nanti setelah lulus, tidak lagi canggung menghadapi suasana kerja. Apalagi jika berada di area pelayanan klinis,” kata Dachriyanus. Dosen pembimbing juga ikut berinteraksi dengan tenaga kesehatan, melalui visite dan conference dengan dokter, ketika melakukan pembimbingan pada mahasiswa. “FF UNAND melakukan ini, agar kualitas lulusnya sesuai dengan yang diharapkan Kemenkes dan WHO,” tambahnya. Walau gema pharmaceutical tengah hangat-hangatnya, terlebih dengan keluarnya PP. 51 tahun 2009 dan Permenkes 889 tahun 2011, FF UNAND tidak ingin melupakan cirri khas yang selama ini membesarkan namanya di dunia pendidikan farmasi, yaitu pengembangan obat tradisional/ herbal medicine. FF UNAND mendukung para dosen yang tengah melakukan penelitian, mengikuti kompetisi dan berpacu mendapatkan dana hibah dari Dikti dan sumber lain. Dukungan lain dalam bidang penelitian adalah mengajak para dosen muda untuk mengikuti pelatihan pembuatan proposal dan sistem pembimbingan dari dosen senior. Kini sudah disediakan blok grand untuk mendukung penelitian, khususnya
istimewa

untuk dosen muda yang melibatkan mahasiswa. TANTANGAN MENGHADAPI PERUBAHAN Menghadapi perubahan bukan hal yang mudah. Akan ada pro kontra menjelang semuanya siap diaplikasikan. Perubahan orientasi dunia kefarmasian yang diusung Kemenkes dan WHO, pasti berimbas pada PTF di Indonesia. Juga berimbas pada mindset mahasiswa dan dosen. Perubahan kulikulum telah memancing opini mahasiswa dan staff pengajar. Yang pertama kali dilakukan FF UNAND adalah, bagaimana meningkatkan kompetensi dan kesiapan dosen dalam menghadapi perubahan paradigma dunia farmasi. Dikatakan Dachriyanus, hal ini menjadi tantangan utama. Ketika staf pengajar telah meningkatkan kompetensi dan kesiapannya, sistem belajar mengajar akan lebih mudah mencapai tujuannya. Yang pasti, FF. UNAND senantiasa mendukung peningkatan kompetensi farmasi dari aspek apa pun. Termasuk, mendukung kegiatan IAI dalam meningkatkan kompetensi. Sarannya, agar IAI segera melakukan uji kompetensi seperti halnya fakultas kesehatan (baca: kedokteran), karena tidak ada sertifikat kompetensi tanpa uji kompetensi. (vit)

Peletakan Batu pertama pembangunan gedung farmasi universitas Andalas.

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

55

KOLOM

APOTEKER DAN PELAYANAN

KEFARMASIAN DI KLINIK
Oleh : Nunut Rubiyanto, S.Si, Apt

eraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, pasal 19 menyebutkan bahwa Fasilitas Pela-yanan Kefarmasian berupa: a. Apotek; b. Instalasi farmasi rumah sakit; c. Puskesmas; d. Klinik; e. Toko Obat; atau f. Praktek bersama. Kemudian dalam Permenkes No 028 tahun 2011 tentang klinik, pasal 1, Ketentuan Umum; Klinik didefinisikan sebagai Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau spesialistik diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kese-hatan dan dipimpin oleh seorang tenaga medis. Pada pasal 8 Permenkes No. 028 tahun 2010 tersebut, disebutkan bahwa; Bangunan klinik paling sedikit terdiri atas: 1. Ruang pendaftaran/ruang tunggu; 2. Ruang konsultasi dokter; 3. Ruang tindakan; 4. Ruang administrasi 5. Ruang farmasi 6. Kamar mandi/WC 7. Ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan. Dari pasal tersebut secara eksplisit bahwa, untuk sebuah klinik, ruang farmasi merupakan salah satu persyaratan minimal yang harus dipe-nuhi sebagaimana ruang konsultasi dokter. Kemudian pada pasal 24 dalam permenkes tersebut juga menyebutkan bahwa : (1) Klinik menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan kefarmasian melalui ruang farmasi yang dilaksanakan oleh apoteker yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk itu. (2) Apabila klinik berada di daerah yang tidak terdapat apoteker sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelayanan kefarmasian dapat dilaksanakan oleh tenaga teknis kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Ruang farmasi sebagaimana di-maksud pada ayat (1) hanya dapat melayani resep dari tenaga medis yang bekerja di klinik yang bersangkutan Dalam ketentuan peralihan juga ditegaskan bahwa

P

kewajiban bagi klinik yang telah memiliki ijin berdasarkan permenkes No 920 tahun 1986 harus menyesuaikan dengan peraturan menteri kesehatan tersebut selambat-lambatnya 2 tahun sejak diundangkan (diundangkan tanggal 10 Januari 2010). Sedang untuk perijinan klinik setelah diterbitkannya Peraturan menteri tersebut harus mengikuti ketentuan dalam permenkes tersebut. Dengan demikian legal standing yang mewajibkan semua klinik mempekerjakan apoteker merupakan hal yang tak terbantahkan lagi. Selama ini klinik yang diatur dalam permenkes 920 tahu 1986 dapat dimiliki baik oleh swasta maupun lembaga pemerintah. Lembaga pemerintah yang mengelola klinik dapat berupa lembaga pemerintah, misalnya sekolah atau perguruan tinggi, klinik untuk karyawan suatu departemen atau kementerian atau bahkan sampai rumah tahanan atau lembaga pemsyarakatan. Demikian juga badan usaha milik negara (BUMN). Lembaga swasta yang memiliki sarana pelayanan kesehatan berupa klinik antara lain perusahaan yang memiliki jumlah karyawan yang cukup banyak, lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan terutama dasar kepada komunitasnya. Bahkan banyak organisasi keagamaan dan tempat ibadah juga memiliki klinik untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan bagi jama’ahnya. Penyelenggaraan klinik baik milik swasta maupun lembaga pemerintah dikelola oleh tenaga medis (dokter atau dokter gigi) dan dibantu oleh tenaga keperawatan. Pelayanan yang dilakukan antara lain pelayanan medis maupun pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian berupa penyediaan obat untuk baik obat bebas/bebas terbatas maupun obat keras. Pertanyaannya adalah darimana selama ini klinik mendapatkan obat? Siapa penanggungjawab layanan kefarmasian di klinik? Bagaimana kualitas layanan mereka? Pada umumnya klinik baik yang menyediakan layanan medis dasar maupun spesialistis mendapatkan obat dari apotek di mana surat permintaan obat harus ditandatangani oleh dokter/dokter gigi penanggungjawab klinik. Namun banyak juga klinik yang mendapatkan obat dari sumber yang tidak legal baik melalui tenaga penjual farmasi (salesman) ataupun langsung dari pabrik tanpa dokumen yang legal.

56

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

KOLOM
Bahkan banyak juga yang mendapatkan obat (termasuk obat keras) dari toko obat, di mana seharusnya toko obat dilarang memiliki apalagi menjual obat keras. Dalam hal klinik mendapatkan obat dari sumber yang tidak legal tersebut maka sesungguhnya keselamatan dan keamanan pasien dipertaruhkan. Karena ketika obat didapatkan dari sumber yang tidak jelas (ilegal) maka dapat dipastikan tidak ada satupun dokumen yang menjamin dari mana sumber obat dan bagaimana mutu, khasiat dan keamanan obat tersebut. Tidak adanya jaminan dari pihak manapun bahwa obat yang digunakan dalam pelayanan memenuhi persyaratan kualitas, keamanan dan khasiat sehingga adalah sebuah tindakan sembrono dan beresiko ketika klinik menggunakan obat dari sumber yang tidak legal dalam pelayanannya. Namun demikian karena kepercayaan yang begitu besar kepada tenaga kesehatan dan juga tingkat pendidikan masyarakat yang relatif rendah, pasien jarang mempertanyakan bagaiamana legalitas dan kualitas obat yang digunakan dalam layanan kesehatannya. Demikian pula untuk pelayanan kefarmasian, bagaimana orang yang tidak memahami tugas pokok, peran, fungsi wewenang dan kewajiban serta hak praktik kefarmasian melakukan praktik kefarmasian? Sebagai contoh bagaimana orang yang tidak memahami tata cara penyimpanan vaksin, diberi tanggungjawab untuk untuk menyimpan vaksin? Dengan apa dia menjamin bahwa vaksin yang disimpan tetap memenuhi persyaratan untuk stabilitas sehingga vaksin tersebut terjamin kualitas, keamanan dan khasiatnya sementara dia tidak pernah memahami apa itu vaksin, bagaimana sifat fisiko-kimianya serta bagaimana stabilitasnya? Belum lagi ketika bicara masalah kewenangan untuk melakukan praktik kefarmasian antara lain menyerahkan obat kepada pasien disertai jaminan kebenaran obat yang diterima dan kebenaran informasi tentang penggunaan obat tersebut sehingga memberikan jaminan kualitas, keamanan dan khasiat obat yang digunakan oleh pasien termasuk monitoring penggunaan obat. Praktik kefarmasian sebagaimana di atur dalam pasal 108 Undang Undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dijelaskan bahwa Praktik Kefarmasian yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan peraturan perundang undangan. Di mana dari pasal tersebut pasca putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2011 (menjawab gugatan judicial review pasal tersebut) bahwa tenaga kesehatan yang dimaksud adalah tenaga kefarmasian. Dalam hal tenaga kefarmasian, Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 menegaskan bahwa Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. Dengan demikian jelas bahwa selama ini kebenaran pelayanan kefarmasian menjadi tidak terukur dan tidak ada yang menjamin karena dilaksanakan oleh bukan tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya. Maka ketika Peraturan perundang-undangan secara eksplisit mengatur bagaimana pelayanan kefarmasian harus dilakukan di semua setting pelayanan kesehatan (termasuk klinik) tentunya harus ditaati dan dilaksanakan dengan sungguhsungguh serta konsisten oleh semua pihak terutama pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (propinsi maupun kabupaten/ kota) sehingga kewibawaan pemerintah dapat terjaga. Kesungguhan untuk melaksanakan peraturan perundangan tersebut bukan sekedar retorika maupun jargon, tetapi harus sampai ke tataran riil yaitu di samping kemauan politik (political will) juga aksi nyata melalui kebijakan implementasi yang tidak saling bertentangan. Apalagi berdalih tidak tahu kalau ada peraturan perundangan yang telah mengatur. Bukankah setiap lembaga/institusi negara memiliki organ berupa biro atau bagian hukum yang bertugas melakukan sinkronisasi peraturan perundangan yang memiliki keterkaitan? Yaa…kita berharap, negara ini efektif dan produktif bukan hanya dalam memproduksi peraturan perundangan tetapi juga efektif mengimplementasikannya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana dimuat dalam pembukaan Undang Undang Dasar tahun 1945 yaitu “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan Memajukan kesejahteraan umum…………” termasuk dalam bidang kesehatan. Semoga ini bukan sekedar harapan.***
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

57

INFO SEHAT
remaja yang merokok 50% lebih mungkin terserang sakit kepala kronis, sedangkan remaja yang kurang berolahraga hanya 20%nya kemungkinan mengalami sakit kepala kronis. Karenanya, pelajaran mengenai gaya hidup sehat makin disosialisasikan di AS. Menurut pakar Andrew D. Hersley MD, PHD, dari University of Cincinnati College of Medicine, penelitian-penelitian mengenai gaya hidup sehat di kalangan remaja, adalah langkah penting menuju pemahaman yang lebih baik, dan untuk mengetahui tindakan pencegahan potensial yang bisa diambil. Penelitian berikutnya dilakukan di Sydney, Australia, dan telah dipublikasikan di Konfrensi Internasional Asia Pasifik mengenai tembakau dan kesehatan. Penelitian dilakukan kepada anak-anak mulai prenatal sampai usia 15 tahun. Menurut hasil penelitian ini, anak-anak yang menjadi korban sebagai perokok pasif, memiliki kecenderungan jauh lebih tinggi mengidap gangguan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD), yang salah satunya adalah sakit kepala kronis. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur kandungan nikotin dalam darah anak-anak. Dalam pemaparan pranatal, didapatkan hasil anak-anak usia 4-11 tahun dan remaja usia 12-15 tahun yang menjadi perokok pasif, telah dua kali lipat dalam tingkat ADHD, dan penderita sakit kepalanya adalah sebesar 14,2%. Pada usia remaja, sakit kepala justru lebih tinggi yaitu 26,5%. Menurut peneliti Wendi Max, Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas California, San Fransisco, pengaruh rokok dan sakit kepala yang ditimbulkan berpotensi menurunkan semangat belajar anak dan menurunkan tingkat kesejahteraan keseluruhan. Sayangnya, di negara berkembang isyu tentang buruknya pengaruh rokok pada anak masih dikesampingkan. Anak yang menjadi korban (perokok pasif) tidak ditanggulangi secara khusus dan secara baik oleh pemerintah. (vit, dsb)

enelitian tentang pengaruh rokok terhadap kemungkinan munculnya sakit kepala dan migrain, masih berlanjut. Namun, indikasinya sudah banyak dibicarakan para pakar dan ahli kesehatan dunia. Melalui berbagai konferensi internasional, masalah ini kerap dibahas. Seperti diketahui, sakit kepala dan migrain kerap dianggap sebagai masalah sepele oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, jika dibiarkan, hal tersebut bisa memacu dampak buruk bagi keseharian penderita. Makanan, kegemukan, kurang olahraga dan stress, dinilai sebagai pemicu terjadinya sakit kepala dan migrain. Namun, penelitian akhir-akhir ini mengatakan bahwa polusi udara, polusi suara dan terutama rokok, adalah penyebab yang cukup besar. Dailymail yang tertera pada medicalera.com London, menyatakan bahwa rokok adalah agen yang dapat membantu meningkatkan ketenangan saraf. Tapi, ini bersifat sementara. Efek setelahnya ternyata membahayakan kesehatan. Selain berpotensi menyebabkan gangguan paru-paru dan jantung, rokok memicu sakit kepala berulang dan semakin hari tingkat rasa sakit semakin buruk.

P

ROKOK Pemicu Sakit Kepala dan Migrain
Hal ini diungkapkan para peneliti dari Universitas Salamanca, Spanyol. Menurut para peneliti, kandungan nikotin dalam rokok menyebabkan pembuluh darah di otak menyempit, sehingga memicu sakit kepala. Sebuah penelitian lain dilakukan terhadap penderita sakit kepala kronis yang merokok. Dalam penelitian tersebut didapatkan hasil, perokok yang mengurangi konsumsi rokok sebanyak setengah bungkus sehari, dapat mengurangi frekuensi sakit kepala hingga 50%. Tentunya, lebih baik jika pasien berhenti merokok secara total. Selain itu, 53% pasien migrain yang berhenti merokok dan mengonsumsi makanan pemicu migrain, migrainnya berhenti total. Penelitian lain dilakukan di Amerika pada komunitas remaja dengan gaya hidup yang kurang sehat, seperti merokok. Hasil penelitian yang di-publish di online neurologi dalam jurnal medis American Academy of Neurologi. Dinyatakan bahwa remaja dengan gaya hidup merokok, kurang olahraga dan kelebihan berat badan, mungkin terserang sakit kepala 4-5 kalinya, dibanding remaja dengan gaya hidup sehat. Disebutkan dalam jurnal tersebut,

58

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

INFO SEHAT
Taiwan Journal of Family Medicine. Penelitian dipimpin Dr. Chang Yingfan, melibatkan 368 wanita dewasa berusia sekitar 65 tahun. Dari 368 wanita ini, 60 orang memiliki kebiasaan meminum teh. Dari hasil pemeriksaan tulang, 46,7% wanita yang rajin minum teh ternyata baru akan terkena osteoporosis di usia lanjut, sedangkan wanita lain yang tidak minum teh rentan mendapat osteoporosis di usia relatif muda. Bagaimana caranya teh mampu mengatasi osteoporosis masih terus diteliti. Menurut Ying-fan, sekurangnya ada 2 komponen dalam teh yang bermanfaat yaitu fluoride dan flavonoid. Fluoride berfungsi menghambat pengeroposan tulang dan gigi, sedang flavonoid mampu meningkatkan kepadatan massa tulang. Ada pun senyawa polifenol dan tannin dianggap mampu berperan dalam menjaga kepadatan massa tulang. Manfaat teh bagi tulang, pernah dibahas ahli kesehatan dari Chinese University of Hongkong. Saat itu fokus penelitian pada teh hijau, yang mengandung 3 bahan aktif yang bisa menjaga kepadatan tulang: epigallochatechin (EGC), gallocathechin (GC) dan gallocathechin gallate (GCG). Efek menguatkan tulang akan lebih kuat jika diimbangi dengan olahraga. Dan olahraga yang cocok adalah latihan tai chi. Ketika diteliti lebih lanjut oleh Chwan-Li Shen, dari Texas Tech University Health Science Centre, konsumsi teh hijau yang dibarengi tai chi, kesehatan tulang mampu meningkat dalam tiga bulan. Cara menikmati the, saat ini mulai berbeda. Di beberapa negara, untuk mensosialisasikan pentingnya minum teh, kerap diadakan pesta minum teh. Dalam pesta tersebut dibaha berbagai isu tentang kesehatan tulang dan hubungannya dengan minum teh. Mungkin kita bisa mencoba. (vit, dll)
Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

ulang adalah organ tubuh yang penting. Namun, pentingnya nilai tulang kadang tidak diiringi dengan proses menjaga kesehatan tulang yang baik. Banyak yang mengabaikan kesehatan tulangnya. Keropos tulang masih dianggap sebagai penyakit yang hanya diderita orang usia lanjut. Kurang olahraga dan konsumsi makanan yang salah, dapat memicu pengeroposan tulang dini. Tak jarang, banyak yang di usia muda sudah terkena pengeroposan tulang. Pada wanita, cepatnya pengeroposan tulang terjadi dengan berkurangnya hormon estrogen pada usia di atas 35 tahun. Sebenarnya, banyak cara untuk mengatasi pengeroposan tulang. Susu kalsium yang saat ini banyak beredar bisa menjadi alternatif. Ada cara lain yang menurut banyak ahli, dapat membantu menjaga kesehatan tulang,

T

Minum Teh, Tulang Kuat
yaitu dengan rutin mengonsumsi teh. Minum teh sambil bercengkrama dengan sahabat atau keluarga, adalah suatu hal yang menyenangkan. Di samping mendatangkan rileks, teh bisa menghilangkan penat setelah beraktivitas. Dengan minum teh, kita juga membiasakan hidup sehat. Selama ini, manfaat teh yang diketahui adalah sebagai antioksidan, di mana zat aktif di dalam teh mampu menghambat pertumbuhan kanker dan memperlambat penuaan. Para ahli dan peneliti telah melakukan reseach lebih dalam, dan mengatakan bahwa teh juga punya manfaat lain, salah satunya: mencegah tulang keropos. Sebuah penelitian di Taiwan menyebutkan bahwa perempuan yang rajin mengonsumsi the, lebih sedikit kemungkinannya terkena osteoporosis. Penelitian ini dilakukan para ahli dari Cheng Kung University, dan telah dipublikasikan dalam

59

ALBUM

FAPA-WHO-Workshop Strengthening Pharmacist’s Role Through Enchanced CPD and Pharmacy Curriculum Realighment. Dilaksanakan di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta-Indonesia tanggal 16 September 2011.

Peluncuran Buku karya Ahmad Fuad Afdhal, Ph.D tentang Farmasi Sosial dan Farmakoekonomi serta Seminar Meredefinisi Sarana Pelayanan Kesehatan. Diselenggarakan di Hotel Borobudur - Jakarta, tanggal 27 September 2011.

Lustrum XIII dan Reuni VIII Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada pada tanggal 30 September s/d 1 Oktober 2011.

Workshop dan acara halal bil halal Ikatan Apoteker Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tema Aplikasi Standar Prosedur Operasional (SOP) dalam Praktek Kefarmasian pada tanggal 15 September 2011 di Yogyakarta.

Rapat Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) pada acara kongres Ilmiah dan Rakernas IAI di Hotel Sintesa Penninsula Menado tanggal 28-30 Oktober 2011.

Acara Silaturahmi dan Halal Bil Halal Pengurus Pusat IAI dan seluruh Stakeholder di Hotel Athlete Century pada tanggal 12 September 2011.

60

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

ALBUM

Pengukuhan Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Prof. Dr. Shirly Kumala M. Biomed, Apt di kampus Universitas Pancasila - Jakarta pada tanggal 5 Oktober 2011.

Rapat Penyusunan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
Diselenggarakan oleh Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Sertifikasi Kompetensi Profesi Apoteker Pengurus Daerah Kalimantan Selatan diselenggarakan tanggal 24-25 September 2011 di Banjarmasin.

Koordinasi Lintas Sektor dalam Rangka Peningkatan Mutu Pelayanan Kefarmasian oleh Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. di Jogjakarta September 2011.

SKPA PD IAI Kalimantan Timur dengan tema Peningkatan Kompetensi Apoteker dan Pelayanan Kefarmasian di Kalimantan Timur diselenggarakan tanggal 19-20 November 2011 di Samarinda.

Pengucapan Sumpah Apoteker Universitas Surabaya Angkatan XL di Laguna Ballroom, Surabaya tanggal 29 November 2011. Apoteker yang disumpah berjumlah 90 orang.

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

61

FORUM

Siapa Berkeberatan dengan PP. 51/2009 ?
eraturan Pemerintah no 51 tahun 2009 sudah efektif berlaku. Sekarang setiap apoteker yang akan praktek mesti memiliki Surat TandaRegistrasi Apoteker (STRA). Banyak tanggapan seputar STRA. Dari yang serius maupun sekedar berkelakar. Saya pernah baca di status facebook seorang teman yang memelesetkan STRA sebagai Surat Tanda Ribet (sebagai) Apoteker. Gara-gara PP 51 jadi apoteker sekarang malah ribet. Nggak usah saya eksplorasi lebih jauh karena saya yakin sejawat mahfum adanya. Memahami PP 51 memang perlu waktu dan butuh penghayatan. Ibarat memahami Pancasila. Saya percaya kita sepakat bahwa Pancasila sangat baik dan ideal. Bahwa karena masih banyak anggota masyarakat yang tingkah lakunya tidak sejalan dengan Pancasila tentu bukan berarti Pancasilanya yang keliru. Sesuai dengan definisinya, Apoteker adalah seorang sarjana farmasi yang telah menyelesaikan program pendidikan profesi apoteker. Jabatan publik sebagai apoteker dengan sendirinya akan melekat kepada mereka yang telah selesai menempuh pendidikan apoteker dan mengucapkan sumpah. Maknanya, negara mengakui bahwa apoteker memiliki kewenangan dan bertanggung jawab terhadap semua keputusan (tindakan) profesinya. Bila kemudian negara mensyarat-

P

Drs. M. Dani Pratomo, MM., Apt Ketua Umum PP IAI
kan kepada seorang apoteker yang akan menjalankan praktek kefarmasian untuk memiliki STRA dan memiliki surat ijin praktek atau surat ijin kerja hal tersebut menunjukkan bahwa negara peduli terhadap kepentingan masyarakat. Negara menghendaki hanya apoteker yang terdaftar saja yang boleh praktek. Tujuannya agar maBegitu juga bagi mereka yang menjadi pegawai bank atau pegawai pajak. Apalagi bagi mereka yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Jadi jelaslah bahwa bahwa praktek kefarmasian adalah domain bagi apoteker yang konsekuen untuk menjalankan amanah profesinya. Dengan mengelaborasi secara kontekstual seperti diatas maka rasanya saya yakin bahwa sejawat yang keberatan dengan PP 51/2009 sebenarnya adalah mereka yang selama ini sudah mapan dengan mata pencahariannya tetapi “mengkapitalisasi” ijazah apotekernya di apotek. Bagi mereka aturan dalam PP 51/2009 memang akan mengusik zona kenyamanannya. Tapi tidak demikian bagi sejawat yang benar-benar menjiwai makna keprofesian dan secara sadar memahami makna lafal sumpah/janji yang mereka ucapkan sewaktu dilantik sebagai apoteker. Oleh sebab itu ijinkanlah saya menggarisbawahi bahwa PP 51/2009 memang hanya ditujukan bagi apoteker yang akan berpraktek. Bagi sejawat yang tidak setuju dengan PP 51/2009, sejawat masih tetap berhak menyandang jabatan publik sebagai apoteker namun tidak diperkenankan menyelenggarakan praktek kefarmasian. Bila sejawat melanggar, maka akan terkena sangsi sebagaimana tertuang dalam pasal 198 UU 36/2009 tentang kesehatan. Jadi, silahkan sejawat tentukan pilihannya…

syarakat yang menjadi objek praktek kefarmasian seorang apoteker terlindungi dari resiko negatif yang mungkin muncul. Negara berkepentingan untuk memakai infrastruktur yang dimilikinya untuk menjamin bahwa masyarakat memperoleh kebenaran pelayanan kefarmasian dari seorangapoteker yang diketahui latarbelakangnya. Tetapi, bagi seorang apoteker masih mempunyai kebebasan memilih untuk tidak menggunakan haknya untuk menjalankan praktek kefarmasian. Mereka yang menjadi dosen, bekerja di Badan POM atau Depkes, bekerja di industri farmasi tetapi bukan sebagai penanggungjawab produksi atau quality control atau quality assurance, mereka terbebas dari aturan PP 51/2009.

62

Edisi XIV Desember 2011 - Februari 2012

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful