You are on page 1of 20

POLIP NASI

Pembimbing : Dr. Yan Yohanes Runtung,Sp.THT Disusun oleh : VIKA 406091051

KEPANITERAAN KLINIK THT RS PELABUHAN JAKARTA PERIODE 6 FEBRUARI 2012 – 10 MARET 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA

Referat Polip Nasi
JAKARTA

Vika (406091051)

KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya referat dengan judul “Polip Nasi” dapat saya selesaikan penyusunannya dalam rangka memenuhi salah satu tugas saya sebagai koass yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di bagian THT di RS Pelabuhan Jakarta Periode 6 Februari 2012 – 10 Maret 2012. Dengan selesainya referat ini, tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Yan Runtung, Sp.THT sebagai pembimbing dalam penyusunan referat juga sebagai pembimbing selama kepaniteraan klinik THT ini. Sepenuhnya saya menyadari bahwa referat ini sangat jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat saya harapkan untuk memperbaiki referat ini maupun untuk pembuatan selanjutnya. Lepas dari segala kekurangan yang ada, semoga referat ini berguna bagi kita semua.

Jakarta, Februari 2012

Penulis

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012

.......................................................................Penatalaksanaan..............................................................11 V.............................................................................................................2 Anatomi dan Fisiologi....... Pendahuluan....................................... II........................................ Polip Nasi I...............................................................................................................10 IV...................................................................................................... III....................................................... Diagnosis banding.....14 VIII.........i Daftar isi..............................................................................16 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 ....15 BAB III...................................................................................13 VII...5 Etiologi..........................................................1 BAB II. Gejala Klinis.....Referat Polip Nasi DAFTAR ISI Vika (406091051) Halaman Kata pengantar..........12 VI.......... Prognosis........................................................................... Patofisiologi............................. Definisi.... Kesimpulan..ii BAB I.................................................................................................................................................................................

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . pemeriksaan dan penatalaksanaan pada polip nasi. Kemudian pasien juga mengeluhkan adanya gangguan penciuman dan sakit kepala. Di dalam referat ini akan dijelaskan mengenai anatomi.Referat Polip Nasi Daftar Pustaka Vika (406091051) BAB I PENDAHULUAN Polip nasi merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di bagian THT. gejala klinis. fisiologi hidung serta patofisiologi. Keluhan pasien yang datang dapat berupa sumbatan pada hidung yang makin lama semakin berat. Untuk mengetahui massa di rongga hidung merupakan polip atau bukan selain perlu dikuasai anatomi hidung juga perlu dikuasai cara pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosa lain.

ANATOMI DAN FISIOLOGI5 Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah : 1. mengkilat.1. DEFINISI Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung. dari usia anakanak sampai usia lanjut.2 Polip kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid. muncul di nasofaring dan disebut polip koanal. suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.Referat Polip Nasi Vika (406091051) BAB II POLIP NASI I. lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Pangkal hidung (bridge) 2. Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu – abuan.4 II. biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning – kuningan atau kemerah – merahan. Bila ada polip pada anak di bawah usia 2 tahun. Polip yang berasal dari sinus maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang.3 Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan . Dorsum nasi Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 .

Nasalis pars transversa dan M. antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar). Nasalis anterior (cabang A. Karotis interna). Nasalis pars allaris. Hidung Luar Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit. Kerja otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Perdarahan : 1. Oftalmika. os maksila Inferior : kartilago septi nasi. cabang dari a. os nasal. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . Lubang hidung (nares anterior) Vika (406091051) Gambar II. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. kartilago nasi lateralis.Referat Polip Nasi 3. kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. yang dibatasi oleh : • • Superior : os frontal. Ala nasi 5.1. A. Puncak hidung 4. Kolumela 6.

cabang dari A. kedudukannya hampir horisontal. Angularis (cabang dari A. korpus sfenoidale dan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . septum nasi dilapisi oleh kulit. Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra). Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini. os lakrima.Referat Polip Nasi Vika (406091051) 2. lamina kribriformis etmoidale. Karotis interna) 3. cabang dari A. bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. os frontal.Sfenopalatinum. os etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Cabang dari N. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. pada bagian bawah apeks nasi. : os nasal. 2. N. Nasalis posterior (cabang A. konka nasalis inferior. Infratroklearis) Cabang dari N. os maksila. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial. A. Supratroklearis. Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal. Batas – batas kavum nasi : Posterior Atap : berhubungan dengan nasofaring sebagian os vomer Lantai : merupakan bagian yang lunak. Fasialis) Persarafan : 1. Konka nasalis suprema. palatum dan os sfenoid. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Oftalmikus (N. sinus sfenoid. Etmoidalis anterior) Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. fossa kranial anterior dan fossa kranial media. A. Maksilaris interna. Maksilaris (ramus eksternus N.

Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A.Kavum Nasi Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri. Oftalmika.Referat Polip Nasi Vika (406091051) Gambar II.2. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 .maksilaris dan A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.

Sfenopalatinus. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu.Referat Polip Nasi Persarafan : Vika (406091051) 1. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel. yaitu sel penunjang. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Palatina mayor menjadi N. palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. sekret kental dan obat – obatan. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . Trigeminus yaitu N. Dengan gerakan silia yang teratur. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Etmoidalis anterior. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet. sel basal dan sel reseptor penghidu. 2. radang. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N.

sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring. Pada ekspirasi. udara masuk melalui nares anterior.Referat Polip Nasi Vika (406091051) Gambar II. Mukosa Hidung Fisiologi hidung 1. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a. Pada musim panas. sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah. 2. Mengatur kelembaban udara. penguapan dari lapisan ini sedikit. udara hampir jenuh oleh uap air. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring.3. sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir.

5. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang. 3.n. Silia Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi c. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. disebut 4. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. d. palatum molle turun untuk aliran udara. b. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri. sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Indra penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung. Mengatur suhu.ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.Referat Polip Nasi Vika (406091051) b. Palut lendir (mucous blanket). 6. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a. lysozime. sehingga terdengar suara sengau. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m.

Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti.6 Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. Dalam jangka waktu yang lama. Biasanya terjadi di sinus maksila. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak – anak. Setelah polip terrus membesar di antrum.7 IV. Refleks nasal Vika (406091051) Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna. ETIOLOGI Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. kardiovaskuler dan pernafasan.2 Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. III.Referat Polip Nasi 7. sinusitis kronik. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus. dan sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka. Bila proses terus berlanjut. Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip.1-4. akan turun ke kavum nasi. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu – raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur. iritasi. lambung dan pankreas. sehingga terbentuk polip. sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler.1 Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain alergi terutama rinitis alergi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. PATOFISIOLOGI Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah meatus medius. Pada anak – anak. mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai. kemudian sinus etmoid. vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa.

maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung. Perbedaannya adalah massa berwarna pucat berasal dari meatus medius. bertangkai. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. Begitu sampai dalam kavum nasi. tidak nyeri bila ditekan.1 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . Stadium III: polip yang masif. polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. mudah digerakkan. terutama pada penderita polip nasi dengan asma. polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media. berupa batuk kronik dan mengi. tidak mudah berdarah dan pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.8 V.1-3 Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lundt (1997) Stadium I: polip masih terbatas di meatus medius Stadium II: polip sudah keluar dari meatus medius. maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore. tampak di ronggga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung. Sumbatan ini tidak hilang – timbul dan makin lama semakin berat keluhannya. Bila penyebabnya adalah alergi. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal. Gejala sekunder yang dapat timbul ialah bernapas melalui mulut. Dapat menyebabkan gejala pada saluran napas bawah.Referat Polip Nasi Vika (406091051) riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. GEJALA KLINIS Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di hidung. suara sengau. halitosis. Pada pemeriksaan fisik. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapatkan post nasal drip dan rinorhea purulen. konsistensi lunak.

4.Referat Polip Nasi Vika (406091051) Gambar II. Polip Hidung Gambar II.5. Stadium Polip Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 .

6.Konka Polipoid Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . DIAGNOSIS BANDING4 Tidak bertangkai Sukar digerakkan Nyeri bila ditekan dengan pinset Mudah berdarah Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin). Polip didiagnosabandingkan dengan konka polipoid. terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati – hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik.Referat Polip Nasi Vika (406091051) VI. maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya. yang ciri – cirinya sebagai berikut : Gambar II.

Etmoidektomi ada dua cara. Prosedur polipektomi dapat mudah dilakukan dengan senar polip setelah pemberian dekongestan dan anestesi lokal. Efek sistemik obat ini sangat kecil. kemudian dosis diturunkan perlahan – lahan (tappering off). tiap 5 – 7 hari sekali.Referat Polip Nasi VII. perlu dilakukan operasi etmoidektomi oleh karena umumnya polip berasal dari sinus etmoid. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid. Oral. Suntikan intrapolip. sampai polipnya hilang. mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip. perlu dilakukan drainase sinus. dapat diberikan pengobatan kortikosteroid : 1.1 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 .2 Untuk polip edematosa. 3. Intranasal 2. misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari. merupakan obat untuk rinitis alergi.5 cc. Oleh karena itu sebelum operasi polipektomi perlu dibuat foto sinus paranasal untuk melihat adanya sinusitis yang menyertai polip ini atau tidak. nyeri di daerah sinus dan adanya perdarahan pembuatan foto sinus paranasal tidak boleh dilupakan. 2. sehingga lebih aman. sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan pengobatn kortikosteroid per oral. pada pasien polip dengan keluhan sakit kepala.5 Untuk polip yang ukurannya sudah besar dilakukan ektraksi polip (polipektomi) dengan menggunakan senar polip. Pada kasus polip yang berulang – ulang. PENATALAKSANAAN Vika (406091051) Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhankeluhan. Ekstranasal Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional).4. Selain itu bila terdapat sinusitis. yakni : 1. Selain itu. misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0.

oleh karena itu pengobatannya juga perlu ditujukan kepada penyebabnya. yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. misalnya alergi.1 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . Terapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. PROGNOSIS Polip hidung sering tumbuh kembali.Referat Polip Nasi Vika (406091051) VIII. Secara medikamentosa. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan hiposensitisasi. dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau tidak.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil pada pemberian vasokonstriktor lokal. Sehingga kemungkinan pasien harus menjalani polipektomi beberapa kali dalam hidupnya. adanya riwayat rinitis alergi. 3. 5. bertangkai.Referat Polip Nasi Vika (406091051) BAB III KESIMPULAN 1. Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif maupun operatif. Pada pasien dengan riwayat rinitis alergi. mudah digerakkan. 4. Etiologi polip di literatur terbanyak merupakan akibat reaksi hipersensitivitas yaitu pada proses alergi. yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari pasien sendiri. sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan adanya rinitis alergi. polip nasi mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk rekuren. Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat dirasakan. anosmia. 2. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak. didapatkan keluhan obstruksi hidung. adanya sekret hidung. 6. Pada anamnesis pasien. keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar mata.

Hal. Available at mercywords. Hal: 113-4. Hidung. Tenggorok. Philadelphia: W. 2001. Lawrence Boies and Peter Hiegler.210-217.wordpress. Hal. Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 . accessed on February 12th. Available at 3. Aminy. dkk. 5. Wardani. Darusman.58.ws.Arif.blogspot. 2011. Polip Hidung.Endang dan Retno S. Polip Hidung. Polip Hidung.Referat Polip Nasi Vika (406091051) DAFTAR PUSTAKA 1.B. Kepala dan Leher edisi VI. George. Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung Tenggorok ed. Soetjipto. Polip Hidung dan Sinus Paranasal (Dewasa) Penatalaksanaan. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Damayanti dan Retno Wardani. Hidung. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2.Kuspuji Triyanti. Hal:118-22. Mansjoer. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. at 6. Adams.com/2011/03. 2012. 2007. 8. www. Guideline Penyakit THT di Indonesia. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia (PERHATI-KL).com . Mangunkusumo. 2008. Polip Hidung. 7. 2012. Kepala dan Leher edisi VI. Raisa Kianti. 123-5. Kapita Selekta Kedikteran ed. 2008. Tenggorok. accessed on February 12th. Available http://luv4all. 1997.geocities. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Hal. Polip Nasi. 2002. Hidung. 2012. 2007. Rhinosinusitis Alergika. 4. accessed on February 12th.VI. Mercy.III jilid 1. Uyunk.Rakhmi Savitri. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Saunders.

Referat Polip Nasi Vika (406091051) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 6 Februari-10 Maret 2012 .